2 Kor 5:11-21 Menghayati dan melayankan pendamaian dalam Kristus [2 Oktober 2011]

September 28, 2011

Perikop ini adalah perikop yang kaya dengan makna bagi para pelayan, seperti sebagian besar pembaca blog saya. Isinya jauh melebihi apa yang dapat disampaikan dalam satu kali khotbah. Jadi, saya menghimbau pembaca untuk mengambil kesempatan ini untuk merenungkan pelayananya sendiri bersama dengan Rasul Paulus. Allah mau berfirman terlebih dulu kepada saudara. Kemudian, di bagian makna ada usaha sederhana untuk mengkontekskan teologi Paulus bagi budaya Toraja.

Penggalian Teks

Hubungan Paulus dengan jemaat di Korintus penuh ketegangan, sebagaimana dilihat dalam kedua surat yang kita miliki yang dia tulis kepada mereka. Dalam bagian pertama surat kedua ini (sampai p.7) Paulus menjelaskan pelayanannya, supaya jemaat di Korintus dapat lebih mengerti mengapa dia tidak menepati suatu janji untuk mengunjungi mereka (1:17). Masalah itu menjadi bahan untuk satu kelompok di jemaat yang menganggap Paulus tidak layak sebagai rasul. Yang ditegaskan Paulus bukan kelayakannya melainkan kemuliaan pelayanannya, yaitu pelayanan perjanjian baru dalam Roh (p.3), yang di dalamnya kemuliaan Allah dinampakkan dalam kelemahan para pelayan-Nya (p.4, bdk. 4:7 yang terkenal itu tentang bejana liat). Kemudian, Paulus membahas ujung atau cakrawala dari pelayanannya, yaitu harapan untuk berada bersama dengan Kristus dan pengadilan terakhir (5:7-10). Perikop kita merupakan inti dari apa yang dilakukan Paulus, diikuti oleh seruan kepada mereka untuk menerimanya (6:11; 7:2).

Alur penguraian Paulus dalam perikop kita diberi topik, “kami…meyakinkan orang”, dan mulai dengan komentar tentang relasi Paulus dengan mereka (11-13), yang dijelaskan (“sebab”) sebagai akibat dari kasih Kristus (14-15). Dua implikasi disampaikan, yang pertama tentang manusia baru (16-17), kemudian tentang pelayanan yang meyakinkan untuk membawa kepada pembaruan itu (18-21).

A.11 mulai dengan satu motivasi mendasar Paulus, yaitu takut akan Allah. Aa.11-13 membandingkan penilaian Allah dengan penilaian manusia. Bagi Paulus yang pokok ialah penilaian Allah. Di depan takhta pengadilan Kristus itu hati kita semua akan dinyatakan [fanerothenai, LAI “menghadap”] (10). Dia berharap bahwa jemaat sepaham dengan penilaian Allah [pefanerosthai, LAI “hati kami nyata dengan terang”] (11b), dan dia menjelaskan bagian surat ini sebagai usaha supaya mereka bisa kuat di hadapan kelompok penentang itu (12), suatu kelompok yang melihat lahir (harfiahnya, “muka”), bukan batin (“hati”). Kegiatan pokok Paulus adalah meyakinkan orang (11); jika dalam melakukan pelayanan itu ada yang sepertinya kurang waras, hal itu karena Paulus melayani Allah, jika Paulus menyesuaikan diri dengan harapan mereka, hal itu demi melayani mereka (13). Paulus diarahkan oleh penilaian Allah sekarang yang akan dinyatakan pada akhir zaman, bukan oleh pendapat orang.

Bagaimana bisa ada orang yang begitu bebas (13a) sekaligus terikat (13b)? Kasih Kristus sudah memegang Paulus dengan erat (14). Kasih Kristus berarti bahwa Kristus telah mati bagi semua orang, sehingga mereka telah mati bagi dosa untuk hidup bagi Kristus yang mati dan bangkit itu (menafsir aa.14-15 dalam terang Rom 6:3-4). Paulus tidak hanya menangkap kebenaran itu, ia ditangkap olehnya, karena di dalamnya ada implikasi penting bagi semua orang.

Implikasi pertama ialah Paulus sudah melihat manusia dengan mata baru. Jika dia pernah melihat Kristus sebagai penyesat, dan manusia berdosa sebagai sampah (16), sekarang dia melihat Kristus sebagai perintis ciptaan baru, dan semua orang di dalam-Nya sebagai bagian dari ciptaan itu (17).

Implikasi kedua menyangkut pelayanan Paulus. Paulus berubah karena dia sendiri telah didamaikan dengan Allah yang sekaligus mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepadanya (18; bdk. Kisah Para Rasul p.9). A.19 memperluas a.18: Allah mendamaikan bukan hanya Paulus atau “kita”, tetapi dunia. Yesus bukan hanya sarana [dia + genitif, LAI “dengan perantaraan”] tetapi wadah atau tempat [en, LAI “oleh” tetapi dalam banyak versi bahasa Inggris “di dalam”]. Caranya dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Jika dikaitkan dengan a.14 (“semua” = “dunia”), maksudnya sepertinya bahwa di dalam Kristus dunia telah mati sehingga pelanggaran mereka tidak berlaku lagi. Dengan demikian ada damai: pelanggaran kita bukan lagi penghalang dalam relasi dengan Allah, baik bagi Allah maupun bagi kita yang sadar akan keberdosaan kita. Itulah berita pendamaian yang dipercayakan kepada Paulus.

Kesimpulannya [oun, LAI “jadi”) bahwa Paulus (bersama dengan rekan-rekannya, paling sedikit Timotius, bdk. 1:1) adalah utusan Kristus (20). Seperti digambarkan Paulus di sini, seorang utusan menjadi penyambung lidah dari pengutusnya. Pesannya supaya jemaat di Korintus menerima pendamaian itu. Dua kali Paulus mengatakan “demi Kristus” [pertama kali tersirat dalam “utusan Kristus”, kedua kalinya “dalam nama Kristus”], dan a.21 memperjelas hal itu. Kristus tidak mengenal dosa, tetapi Allah memperhitungkan-Nya sebagai orang berdosa demi kita, supaya kita dapat diperhitungkan sebagai orang benar. Demikian kasih Kristus yang mendorong Paulus untuk meyakinkan bahkan jemaat di Korintus untuk didamaikan dengan Allah.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Korintus tetap menerima wibawa kerasulannya, dan demi tujuan itu dia menjelaskan bagaimana kematian dan kebangkitan Kristus mendorong dia untuk memandang manusia sebagai orang yang dipanggil untuk didamaikan dengan Allah.

Allah juga mau supaya kita menerima wibawa rasul Paulus, dalam bentuk surat-suratnya. Jika kita sudah ditangkap oleh kasih Kristus itu, kita juga akan memandang manusia sama seperti Paulus, walaupun peran kita tidak persis sebagai rasul. Bagi para pelayan, intinya mungkin bisa disampaikan begini: apakah saudara mencari damai dengan jemaat (tidak ada keluhan, ribut-ribut dsb, tafsiran utama “damai sejahtera bagi semua”, kadangkala), atau mencari jemaat didamaikan dengan Allah (intisari dari damai sejahtera yang sesungguhnya)? Apakah saudara mencari muka di hadapan manusia atau di hadapan Allah yang melihat ke dalam hati? Paulus mau memberi jemaat di Korintus alasan untuk memegahkannya, yaitu alasan bahwa dia semata-mata digerakkan oleh takut akan Tuhan dan kasih Kristus. Bukan alasan S.2nya, bukan dekatnya dengan pimpinan gereja.

Makna

Apa yang menjadi dasar hidup yang setia kepada Kristus? Kata Paulus, kasih Kristus. Kasih Kristus itu bagaimana? Jawab banyak pelayan dan anggota jemaat yang saya dengar, kasih Kristus dikenal dalam keseharian hidup, bahwa saya telah bangun, bahwa saya dapat makan, menikmati keluarga dsb. Apa jawab Paulus? Kasih Kristus dikenal karena Kristus telah mati dan bangkit. Mengapa saya menganggap jawaban Paulus jauh lebih unggul? Karena pemeliharaan Allah tidak menentu. Hari ini semuanya baik-baik saja, besok musibah melanda. Kalau begitu, kasih Kristus itu ke mana? Paulus tidak meragukan kasih Allah dalam keseharian hidupnya, tetapi selalu dalam surat-suratnya landasan harapannya ialah Kristus yang telah mati dan/atau bangkit. Hanya dengan landasan itulah kita boleh dengan mata terbuka dan tidak berpura-pura mengimani kebaikan Allah dalam duka sama seperti dalam suka. Landasan yang lain hanya merupakan basa-basi saja. Makanya, banyak jemaat yang lekas tergoyang oleh masalah.

Lalu, mengapa kematian dan kebangkitan Kristus dilihat sebagai tindakan kasih? Satu aspek adalah pengorbanan Yesus. Biasanya hal itu dilihat dari perspektif penderitaan Kristus, dan perspektif itu memang betul (misalnya, Rom 8:17). Tetapi dalam a.21 kita melihat Yesus masuk dalam keadaan yang pasti sangat menjijikkan, yaitu dibuat menjadi dosa. Yesus ditempatkan dengan, dan diperlakukan oleh Allah sebagai, orang berdosa, orang najis, orang yang layak disingkirkan dengan mati.

Aspek yang lain ialah bahwa ada hasil dari pengorbanan itu, yaitu pendamaian dengan Allah dan status sebagai ciptaan baru. Saya coba memikirkan hal it dari konteks adat lama Toraja, dan mohon perbaikan atau tambahan usul dari yang lebih tahu. Di berbagai tempat di Toraja, ada proses pendamaian yang disebut massuru’ (menyisir). Unsur pertama di dalamnya adalah pengakuan yang disebut dipassaluan (dalam Kamus Toraja-Indonesia), menyebut satu per satu pelanggaran. Setelah semua yang terkait sudah mengaku pelanggarannya dan semuanya sudah terungkap (paling sedikit menurut imamnya, to minaa) maka bisa juga ada kurban ditentukan. Dengan demikian kekacauan dipulihkan (seperti kutu disisir dari rambut). Tetapi, bagaimana jika pelanggaran terungkap oleh penelaahan to minaa, tetapi dibantah oleh yang bersangkutan? Apakah pembangkang itu harus dikeluarkan untuk memulihkan kekacauan?

Pola seperti itu tidak asing dalam banyak budaya, termasuk PL. Im 4:27-28 membayangkan dosa yang tidak disengajakan tetapi kemudian diberitahukan (terungkap lewat undi imam?) kemudian ada kurban. Dalam Yosua p.7 ada dosa yang sengaja yang diungkapkan melalui serangkaian petunjuk dari Tuhan (mungkin undi Urim dan Tumim itu), kemudian ada pengakuan dan kurban, dalam kasus ini pelanggar sendiri (Akhan). Bahkan pembuangan Israel dapat dilihat dalam perspektif pola itu. Tuhan mengungkapkan pelanggaran-pelanggaran Israel melalui nabi-nabi, tetapi hal itu ternyata tidak berhasil memulihkan kekacauan Israel. Dengan demikian Israel sendiri harus dibuang. Dalam Daniel p.9 pemulihan (pengembalian ke tanah Israel) bisa terjadi setelah ada pengakuan dosa dengan penghapusan kesalahan (Dan 9:24). Pola yang saya lihat di dalamnya, yang ada di dalam massuru’ juga, ialah perlunya dosa (kekacauan) diperjelas, dengan kurban sebagai penghapus dosa atau pelurus kekacauan itu.

Jelas dalam perikop kita bahwa kurban itu kematian Kristus. Malah, fungsi kurban itu diperjelas dalam perikop ini. Dalam pola yang satu tadi, kekacauan ditangani dengan disingkirkan—manusia diusir dari taman Eden, Israel dibuang dari tanah perjanjian, lebih umum lagi manusia mati. Kurban itu berfungsi sebagai wakil yang menggantikan. Jika Akhan harus dimatikan, orang Israel pada umumnya dapat menawarkan kurban penebus salah. Jadi, Yesus mati bagi semua orang—dosa dihapus di dalam dirinya. Kalau begitu, di mana dosa diperjelas, dipassaluan? Tuntasnya pada takhta pengadilan Kristus (a.10, ingat tadi usul artian “hati dinyatakan”). Pada saat itu akan ada dipassaluan yang lengkap, menyeluruh, dan serba betul dan adil. Setelah itu, kekacauan menjadi masa lampau dalam dunia baru, dengan semua di dalam Kristus dibenarkan (a.21), dan semua di luar Kristus dihancurkan (bdk. 1 Kor 15:20-24). Tetapi dengan bergabung dengan Kristus (“siapa yang ada di dalam Kristus”), kita bisa masuk dunia baru itu sekarang juga (“ia adalah ciptaan baru”, a.17). Melihat a.15 dan a.20, berada di dalam Kristus mengandaikan bahwa kita sudah mulai sadar tentang kekacauan dalam diri dan berubah haluan. Bertobat mengandaikan dipassaluan secara pribadi, paling sedikit di hadapan Allah, tetapi saya duga juga di depan sesama, seperti pengakuan dosa dalam baptisan (Yak 5:16 sepertinya juga mendukung intisari dari dipassaluan itu, tetapi itu cerita lain). Kita menjadi bagian dari penyisiran kekacauan dunia, hidup bagi Allah, bukan lagi pengacau yang hidup untuk dirinya sendiri.


Mal 3:6-12 Pertobatan melalui persembahan

Juli 6, 2011

Maleakhi menulis pada waktu kecemasan rohani. Israel sudah lama kembali dari pembuangan, dan Bait Allah telah dibangun kembali, tetapi ritus dilakukan dengan setengah hati (1:8, 12), Israel merasa kurang diberkati (2:13). Di balik itu, umat meragukan kasih (1:2), kuasa (1:5, 14) dan perhatian Tuhan (2:17; 3:14). Di balik tanggapan Tuhan adalah rencana-Nya. Dia telah memilih Yakub (1:2-3) dan akan bertindak dengan tegas dengan memurnikan umat-Nya (3:1-3; 4:1) supaya rencana-Nya terwujud, yaitu umat yang berkenan di hadapan-Nya (4:2). Dalam rangka itu Allah berfirman tentang persembahan, sebagai salah satu gejala iman, sekaligus pintu masuk untuk pertobatan.

Penggalian Teks

Banyak bagian dalam kitab ini merupakan dialog. Aa.6-7 mengungkapkan perlunya pertobatan, dan berakhir dengan pertanyaan tentang bagaimana caranya bertobat. Aa.8-12 menjawab pertanyaan itu dengan satu dialog lagi yang berfokus pada soal persembahan.

Sama seperti kitab ini secara keseluruhan (bdk. 1:2), perlunya pertobatan dilandasi bukan pertama-tama pada dosa manusia melainkan anugerah Allah. A.6 merujuk pada rencana Tuhan: karena Tuhan tidak berubah, yaitu karena tujuan-Nya tetap, maka Israel masih memiliki masa depan dengan Tuhan, walaupun mereka sejak dahulu tidak taat (a.7a). Dasar pembaruan Israel adalah anugerah Tuhan, bukan inisiatif manusia. Namun, anugerah Tuhan bertujuan berkat untuk manusia, sehingga manusia harus terlibat di dalamnya. Itulah maksud dari seruan untuk kembali kepada Tuhan dalam a.7b. Dengan demikian Tuhan akan kembali kepada Israel, bukan dalam artian akan mulai peduli tentang mereka, tetapi dalam artian bisa mencurahkan berkat atas mereka. Dengan pertanyaan Israel (tulus atau tidak), Tuhan menunjukkan satu bidang hidup yang paling erat kaitannya dengan iman.

Tuhan memulai jawaban-Nya dengan tuduhan menipu. Ketika ditanya, cara penipuan menyangkut persepuluhan dan persembahan khusus. Mal 1:7-8, 13-14 mempersoalkan kualitas binatang yang dibawa sebagai kurban, tetapi persepuluhan dan persembahan khusus menyangkut seberapa banyak yang diberi. Penipuan terjadi dalam persepuluhan jika yang diberi itu di bawah 10 persen. Oleh karena penipuan itu, mereka mengalami berbagai masalah yang mewarnai seluruh kitab ini. Masalah-masalah itu dimaksud sebagai peringatan, tetapi peringatan itu tidak dihiraukan (a.9). Jadi, seruan yang berikut adalah untuk membawa persepuluhan yang utuh, sehingga ada kecukupan untuk imam-imam yang hidup dari persediaan itu (a.10a).

Dengan demikian mereka diminta untuk menguji apakah Tuhan adalah penipu atau tidak. Jika mereka taat dalam soal persepuluhan, maka akan ada berkat tercurah (a.10b), dan hama terhalang (a.11). Mereka akan mengalami berkat, dan menjadi perhatian bagi bangsa-bangsa (a.12). Jadi, cara bertobat adalah memberi persepuluhan sepenuhnya, dan dengan demikian Israel dapat mengalami berkat Allah dalam penghasilan mereka.

Maksud untuk pembaca

Dalam perikop ini Allah mau mengajak jemaat untuk bertobat melalui persembahan supaya menerima berkat Allah. Adalah penting dimengerti bahwa pertobatan lebih mendasar daripada persembahan, tetapi sebaliknya kadar iman tidak bisa dilepaskan dari persembahan. Tujuan perikop ini adalah persembahan sebagai pernyataan atau penghayatan pertobatan, atau dengan kata lain, pertobatan yang bermuara pada tanggung jawab yang jelas untuk urusan Tuhan.

Cara dialog dipakai untuk membongkar sikap Israel yang belum sadar tentang andil mereka dalam kondisi mereka. Dengan cara itu kita melihat juga bahwa Allah tidak hanya menegor mereka, tetapi juga mengungkapkan isi hati-Nya, karena tujuan-Nya memulihkan relasi dengan mereka, bukan memaksakan ketaatan formalistik.

Makna

Pertobatan dengan mudah dimengerti sebagai cara manusia meraih berkat dari Tuhan. Jika kalimat “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu” dibaca di luar konteks yang dijelaskan di atas, bisa saja ditafsir demikian. Tetapi prioritas anugerah secara umum dilihat dalam beberapa hal. Tentu, yang pertama ialah bahwa Tuhan menciptakan manusia. Kemudian, rencana keselamatan dimulai dengan Abraham yang dipanggil secara tiba-tiba, bukan sebagai respons terhadap kebaikan ataupun pertobatan Abraham tetapi atas inisiatif Allah belaka. Israel juga diselamatkan dari Mesir karena rencana Allah, bukan karena mereka sudah bertobat. Baru setelah diselamatkan, hukum Taurat disampaikan supaya keselamatan itu dapat mereka hayati.

Kita sudah melihat bahwa penyusunan kitab Maleakhi dan perikop kita sejalan dengan itu. Ada satu hal lagi. Fungsi Maleakhi sebagai nabi adalah wujud inisiatif Allah. Karena sudah memiliki relasi dengan Israel dalam perjanjian, Allah mengungkapkan isi hati untuk memulihkan relasi itu.

Dalam PB unsur anugerah menjadi makin jelas dalam kematian dan kebangkitan Kristus bagi kita, tetapi unsur berkat dan penghayatan anugerah mengalami pergeseran. Kata Paulus dalam Gal 3:14, intisari berkat Allah adalah pemberian Roh Kudus. Dalam konteks-konteks yang cukup berat, seperti bencana atau penganiayaan, tinggal berkat itu sebagai sumber sukacita kita, dengan berkat Allah yang sepenuhnya sebagai janji untuk dunia baru. Jadi, setelah ditangkap Yesus menderita, haus dan akhirnya mati. Namun, dalam konteks yang lain Yesus mengalami apa yang Dia ajarkan, yaitu bahwa makanan dan pakaian ditambahkan kepada orang yang mencari Kerajaan Allah (Mt 6:33). Bentuk janji Maleakhi bagi Israel pada saat itu, yaitu kelimpahan panen dan pencegahan hama, spesifik untuk pendengarnya. Tetapi yang diungkapkan di dalamnya adalah kemurahan Allah. Allah mau supaya kita mengalami berkat yang berpusat pada Dia. Jemaat yang bertobat dan mencari Allah akan mengalami tingkap-tingkap langit terbuka, dan masalah-masalah mengecil, entah apa persisnya bentuk berkat itu.


Yes 63:7-14 Mengingat kasih setia Tuhan sebagai dasar doa yang sungguh-sungguh [26 Jun 2011]

Juni 22, 2011

Israel pasca-pembuangan mengalami krisis iman. Yesaya menyampaikan janji-janji yang luar biasa, tetapi sikap Israel belum juga berubah (Yes 63:17). Sang nabi kemudian berdoa bagi umat-Nya, suatu doa yang penuh pengajaran bagi kita yang diperhadapkan dengan keadaan yang tidak jauh beda.

Penggalian teks

Dalam posting ini saya menggambarkan kitab Yesaya secara keseluruhan. Hamba Tuhan dalam p.53 adalah kunci keselamatan Sion, simbol untuk umat Allah itu, dan keselamatan itu digambarkan dalam pp.60-62, tentang Yerusalem baru yang di dalamnya hamba Tuhan memulihkan (p.61). Keselamatan itu ditopang dengan hukuman Allah terhadap bangsa-bangsa dalam 63:1-6, pas sebelum perikop kita.

Perikop kita memulai sebuah doa yang berlangsung sampai akhir p.64, dan dibalas dengan janji-janji Tuhan pada pp.65-66. Perikop kita mengingat dasar kasih setia Tuhan sebagaimana dilihat dalam sejarah keselamatan. Berdasarkan perenungan itu, Yes 63:15-64:12 membawa doa yang penuh semangat dan desakan, seperti mazmur-mazmur protes. Perikop kita menjadi lebih tajam jika kita melihatnya sebagai dasar untuk doa yang sungguh-sungguh itu.

Aa.7-9 menceritakan asal usul hubungan Tuhan dengan Israel. “Kasih setia” (khesed) mengawali dan mengakhiri a.7, dalam bentuk jamak sehingga artinya “perbuatan-perbuatan yang menyatakan kasih setia”. Kasih sayang yang dengannya kasih setia itu dinyatakan menjadi dasar permohonon dalam 63:15. Dalam aa.8-9 kasih setia itu disampaikan sebagai kisah. A.8 adalah keputusan Tuhan untuk menjadi Juruselamat sehingga berulang kali menyelamatkan mereka dari kesesakan, mulai dengan zaman Musa. Israel disebut sebagai anak-anak-Nya, yang menjadi dasar permohonan kepada Tuhan sebagai Bapa (63:16; 64:8). Kembali perasaan Tuhan digambarkan dengan kata “kasih” dan “belas kasihan”. Soal relasi disoroti, bahwa “wajah” Tuhan (diterjemahan “Ia sendiri”) yang menyelamatkan Israel. Makanya, 64:7 mengeluh bahwa wajah Tuhan disembunyikan.

Sayangnya, kisah itu menemukan titik balik yang buruk (a.10). Titik balik itu digambarkan dengan bahasa militer / politik: Israel memberontak, sehingga Tuhan berperang melawan mereka. Tetapi ada juga unsur lain, yaitu Roh Kudus Tuhan yang didukakan. Roh Tuhan telah disebut dalam 59:21 sebagai janji, dan dalam 61:1 terkait dengan pelayanan hamba Tuhan dalam rangka keselamatan (bdk. Yes 11:2), tetapi belum dalam konteks masa lampau.

Aa.11-14 menggambarkan respons Israel. “Teringat” dalam a.11 memakai kata dasar yang sama dengan “menyebut-nyebut” dalam a.7. Sang nabi mau mengingatkan Israel tentang perbuatan-perbuatan Tuhan, tetapi dalam a.11 justru permusuhan Tuhan yang menjadikan mereka sadar. Yang diingat adalah masa Musa. Pada saat itu Roh Kudus berkarya di antara mereka, khususnya di dalam mujizat-mujizat yang dilakukan melalui Musa (a.12-13a) sampai Israel mencapai tempat perhentian, yaitu tanah Israel. Terhadap karya itulah Israel memberontak, sehingga Roh Kudus didukakan. Aa.12 & 14 juga mengangkat nama Tuhan sebagai tujuan Tuhan dalam menyelamatkan Israel. Nama itu menjadi satu dasar lagi dalam doa yang berikut, karena keadaan buruk yang dialami Israel bertentangan dengan tujuan itu. Pada akhir a.14 Tuhan mulai menjadi alamat langsung (“Engkau”) untuk mengantarkan doa itu.

Maksud bagi pembaca

Bagaimana semestinya mengartikan sebuah doa? Tentu ada makna teologis di dalamnya yang harus digali, tetapi doa sang nabi direkam untuk mengajar pembaca juga bagaimana berdoa. Ketika Israel merasa dijauhi oleh Allah, Israel harus mengingat dosanya tetapi lebih lagi mengingat kasih setia Tuhan, kemudian berdoa dengan semangat supaya Tuhan bertindak. Dalam Kristus harapan Yesaya 60-62 mulai terwujud, sehingga ada jaminan akan penggenapannya ketika Kristus kembali. Namun, gereja pun sering menjadi kacau karena mendukakan Roh Kudus. Semangat rohani akan dipicu jika kita mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan itu.

Menghadapi keadaan gereja yang sering memprihatinkan, kesimpulan itu perlu digarisbawahi. Solusi bagi masalah-masalah gereja jangan diawali dengan rencana, semboyan dan kecaman, melainkan dengan mengingat kembali dasarnya: kita adalah orang berdosa yang harapan satu-satunya ialah kasih setia Allah yang diwujudkan dalam Kristus. Mengingat hal itu, mungkinkah kita akan mulai dengan doa yang sungguh-sungguh? Bukan doa formalistik, bukan semangat yang mengada-ada, tetapi doa karena hanya jika Allah bergerak maka gereja bisa kembali menjadi alat yang membuat nama yang agung bagi Allah.

Makna

Banyak yang dapat dikatakan dari perikop yang kaya ini, tetapi hanya dua akan disoroti, yaitu soal relasi dengan Tuhan dan soal Roh Kudus.

Istilah “kasih setia” biasanya merujuk pada perbuatan di dalam relasi yang melampaui kewajiban tetapi menjawab kebutuhan. Misalnya, dalam Kej 47:29 Yakub meminta supaya dikuburkan di tanah Kanaan, bersama dengan nenek moyangnya. Yakub meminta dalam konteks relasi keluarga (“setia”), tetapi permintaan itu melampaui kewajiban (“kasih”). Yakub tentu tidak bisa memenuhi permintaan itu sendiri, sehingga membutuhkan kerja sama Yusuf. Tuhan memanggil Israel dalam sebuah perjanjian, dan menyebut mereka “anak-anak” yang disayangi dan digendong, sebuah relasi yang kuat dan akrab. Dalam relasi itu Dia terus-menerus berbuat lebih dari kewajiban-Nya dalam menyelamatkan mereka dari musuh yang terlalu kuat bagi mereka. Doa yang berikut menegaskan relasi itu dengan istilah “Bapa”, dan memohon kasih setia lebih lagi, yaitu pengampunan dan pemulihan.

Roh Tuhan muncul dengan paling jelas dalam kisah keluaran Israel terkait dengan Musa dan tua-tua (Bil 11:25). Kaitan Roh dengan tangan Tuhan yang menyertai Musa mungkin dapat dilihat dalam angin dalam Kel 14:21 dan Bil 11:31, karena kata ruakh dapat berarti roh, nafas atau angin. Apakah Yes 63:11 mengatakan bahwa Roh Kudus ada juga dalam setiap orang Israel? Bahasa aslinya berarti “di tengahnya” (beqirbo, “-nya” merujuk pada Israel). “Di tengah” dapat berarti di tengah setiap orang masing-masing (tafsiran LAI), atau juga “di antara mereka” (misalnya, NIV “among them”). Dalam Bil 11:29 dikatakan dengan jelas bahwa tidak pada seluruh umat Roh Tuhan itu ada, paling sedikit dalam artian yang sama dengan Musa dkk. Oleh karena itu, saya sepaham dengan terjemahan NIV itu. Israel mendukakan Roh Kudus yang berkarya di tengah mereka melalui Musa (dan pemimpin-pemimpin berikutnya). Penting diamati bahwa Roh disebut kudus dalam a.10 ini. Pemberontakan Israel menajiskan Israel sehingga menimbulkan reaksi Tuhan.

Namun, terjemahan LAI cocok untuk kita yang hidup pasca-Pentakosta. Roh Kudus berkarya di dalam hati setiap kita. Jika kita memberontak, kita mendukakan bukan hanya kebajikan Allah yang dinyatakan dalam karya Kristus, tetapi juga belas kasihan-Nya yang dicurahkan ke dalam hati kita (bdk Rom 5:5). Hubungan Allah yang akrab dengan Israel menjadi lebih akrab lagi dalam perjanjian baru yang diadakan Yesus. Karena Roh Kudus berada di dalam kita, kekudusan yang dituntut juga lebih dalam: Paulus mengutip istilah “mendukakan Roh Kudus” dalam Ef 4:30 di tengah nasihat tentang cara berkata-kata. Perkataan yang merendahkan mendukakan Roh yang membuat kita satu (Ef 4:4); sikap hati yang kacau mendukakan Roh yang berkarya di dalam hati kita (Ef 3:16).

Tentu, mendukakan Roh berbeda dengan menghujat Roh. Dalam Mt 12:32, hujat terhadap Roh Kudus merujuk pada keadaan orang Farisi yang menafsir karya Roh Kudus dalam perbuatan-perbuatan belas kasihan Yesus sebagai karya Iblis. Hujat ini tidak akan diampuni bukan karena dosa itu ekstra jahat, melainkan karena orang yang demikian tidak akan bertobat. Mendukakan Roh Kudus dapat diampuni, ketika kita menjadi sadar dan memohon pengampunan dan pembaruan. Bahkan, kesadaran bahwa kita mendukakan Roh Kudus dapat memicu semangat untuk berdoa demi pemulihan, seperti dalam perikop Yesaya itu. Tetapi tidak ada kesadaran tentang menghujat Roh Kudus. Orang-orang Farisi itu justru menganggap bahwa mereka benar.  


Kis 2:37-40 Bergabung dengan rencana keselamatan Allah

Juni 7, 2011

Dengan pencurahan Roh Kudus karya Kristus telah siap dilanjutkan dalam pelayanan gereja. Khotbah Petrus menunjukkan bagaimana caranya orang bergabung dengan rencana Allah pada tahap baru ini.

Penggalian Teks

Bagian ini adalah puncak dari khotbah Petrus. Khotbah itu beranjak dari peristiwa Pentakosta (2:14-15), yaitu mendengar dalam masing-masing bahasa, untuk menjawab pertanyaan orang banyak, “Apakah artinya ini?” (2:12). Kata Petrus, peristiwa itu menggenapi nubuatan Yoel tentang pencurahan Roh pada akhir zaman, yang dikutip sampai dengan janji bahwa “barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan [kurios] akan diselamatkan” (2:21). Ayat-ayat berikut berbicara tentang Yesus, dan menunjukkan dari Mzm 16:8-11 bahwa kebangkitan membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias (2:22-32). Kemudian, dari Mzm 110:1 Petrus menunjukkan bahwa kenaikan Yesus ke sorga menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan (kurios; kata itu di balik baik “Tuhan” maupun “Tuan” dalam Kis 2:34).

Perikopnya sendiri merupakan tanya jawab. Orang banyak sangat terharu (a.37; harfiahnya: “tertusuk hatinya”) mendengar bahwa Yesus yang mereka salibkan (sebagai bagian dari bangsa Israel) itu dibuat Kurios dan Mesias oleh Allah (2:26). Petrus menawarkan jalan keluar dalam a.38 dengan bertobat dan dibaptis, sama seperti Yohanes Pembaptis kepada Israel di awal pelayanan Yesus (Luk 3). Baptisan diperkuat dengan tambahan “masing-masing”, yaitu, pertobatan harus ditunjukkan oleh setiap orang. Hasilnya pengampunan dan Roh Kudus, sesuai dengan janji Yoel itu (a.39). A.40 meringkas maksud Petrus yang disampaikan dengan berbagai cara, yakni supaya mereka selamat dari angkatan yang jahat, sesuai dengan janji Yoel (2:21), karena Yesus adalah Tuhan yang menyelamatkan itu.

Seruan Petrus diberkati Tuhan, dan banyak yang bertobat (2:41). Dengan kuasa Roh Kudus mereka menjadi komunitas yang tampil beda (2:42-47), suatu alternatif bagi angkatan yang jahat itu.

Maksud bagi pembaca

Maksud Petrus dalam a.40 diringkas sebagai “memberi kesaksian” (diamarturomai) dan “mengecam dan menasihati” (parakaleo). Unsur kesaksian dilihat antara lain dalam soal bukti: pendengar Petrus tahu tentang mujizat Yesus (2:22), para rasul adalah saksi kebangkitan Yesus (2:32), dan pencurahan Roh yang dialami semua pada saat itu membuktikan kenaikan Yesus ke sorga (2:33). Kata mengecam adalah tafsiran LAI dari konteks, tetapi paling sedikit Petrus menasihati pendengarnya dengan desakan yang keras. Pembunuhan Yesus menempatkan Israel sebagai angkatan yang jahat, dan mereka harus bertindak dengan tegas untuk diselamatkan (2:40).

Pertanyaan mereka dalam a. 37 menunjukkan kesadaran akan hal itu, tetapi apa yang dapat diharapkan jika Israel telah membunuh Mesiasnya? Jawaban Petrus tidak hanya mengecam tetapi juga memberi harapan. Janji Allah dalam Yoel itu masih berlaku, meskipun Israel telah berdosa. Jangankan pengampunan, karunia Roh Kudus masih ditawarkan kepada orang-orang yang siap bertobat di depan umum dengan dibaptis.

Lukas menunjukkan bahwa maksud Petrus masih berlaku bagi pembaca non-Yahudi kitab ini dalam a.39, yang menerapkan “semua manusia” dalam 2:17 kepada “orang yang masih jauh”. Bukan hanya Israel yang menyalibkan Yesus, karena tangan “bangsa-bangsa durhaka” juga terlibat (2:23). Reaksi Israel terhadap Mesiasnya hanya menunjukkan bagaimana seluruh manusia adalah angkatan yang jahat. Jadi, Yesus adalah Kurios dan Mesias bagi semua yang mau bertobat dan menerima pengampunan dan pembaruan Roh Kudus.

Makna

Apa yang dinyatakan tentang Allah dalam seruan Petrus ini? Yang pertama, rencana Allah untuk memulihkan dunia memiliki dua segi. Segi yang satu adalah hukuman. Setelah perikop yang dikutip Petrus, Yoel berbicara tentang bangsa-bangsa, yaitu bagaimana bangsa-bangsa yang melawan Allah akan dihakimi (misalnya, Yoel 3:12). Penghakiman Allah dapat dilihat sebagai cara Allah memulihkan kekacauan akibat pemberontakan manusia. Tetapi ada segi lainnya, yaitu keselamatan yang terdapat di gunung Sion, tempat Bait Allah di Yerusalem (Yoel 2:32). Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan menempatkan diri pada keselamatan itu, sehingga terlepas dari hukuman Allah. Seperti biasa dalam Alkitab ada dua pilihan pada dasarnya: tetap menjadi bagian dari dunia yang melawan Allah, atau melarikan diri ke tempat keselamatan yang disediakan Allah. Yoel 2:12-17 memberi kita satu gambaran tentang proses pertobatan itu.

Yang kedua, rencana Allah itu berpusat pada Kristus. Dalam kitab Yoel mungkin tidak jelas apakah orang dari bangsa-bangsa dapat berseru dan diselamatkan (namun jika teologi PL dilihat secara umum pasti mereka bisa, Kej 12:3; Yesaya dll). Tetapi dalam khotbah Petrus, dalam terang Kristus, rujukan Yoel menjadi jelas. Yesus adalah tempat keselamatan, sebagai tempat Allah hadir (Bait Allah) dan umat Allah yang sejati (Yerusalem). Siapa saja dari mana saja dari angkatan manusia yang jahat dapat diselamatkan—diampuni dan menerima Roh Kudus—dengan berseru kepada Yesus.

Kalau begitu, siapakah Yesus itu? Kurios dan Mesias ditafsir dalam Gereja Toraja dengan rumusan “Tuhan dan Juruselamat”. Tafsiran itu tepat, asal diingat bahwa seorang kurios memiliki hamba, bukan penyembah. Ketuhanan Yesus merujuk pertama-tama pada otoritas-Nya atas kehidupan hamba-hamba-Nya, dan bertobat pertama-tama berarti menempatkan diri sebagai hamba-Nya. Bertobat tidak hanya berarti menyucikan diri dari berbagai dosa yang menodai kehidupan kita, tetapi juga berarti memberi diri diarahkan oleh kepentingan Yesus sebagai Kurios kita. Keilahian Yesus memang penting, antara lain karena kuasa seperti itu hanya cocok untuk Allah, tetapi adalah rancu percaya pada keilahian Yesus tanpa mencari kerajaan-Nya. Karya Roh Kudus adalah membentuk komunitas yang diarahkan demikian: bersatu dan berani bersaksi.

Pada hemat saya, kelemahan gereja di Indonesia sering terdapat pada titik itu. Tentu di mana saja di dunia ada yang belum sempat mendengar penawaran Petrus yang luar biasa itu, dan ada juga yang tetap melawan atau mengabaikan Yesus. Tetapi pertobatan sering lemah karena orang berbalik kepada Yesus sekadar sebagai Allah pelindung dan Juruselamat yang dapat membantu dalam pergumulan. Hal itu memang penting, bahwa kita mengandalkan Allah. Tetapi bahwa Allah memiliki rencana, bahwa kepentingan Tuhan Yesus tidak identik dengan kepentingan diri, kurang disadari. Soal kepentinganlah yang mendorong (wakil-wakil) Israel dan bangsa-bangsa untuk membunuh Yesus, dan hampir seluruh umat untuk ikut dengan mengolok-olok dsb. Soal kepentinganlah yang membuat orang sekarang tidak segan mencemarkan diri dengan dosa, tidak peduli tentang sesama dan acuh tak acuh terhadap rencana Allah supaya semua bangsa mendengar berita keselamatan itu. Yesus dapat meyelamatkan hamba-hamba-Nya yang berseru kepada-Nya itu dari hukuman Allah terhadap kepentingan-kepentingan yang jahat itu, sehingga kita menerima Roh Kudus yang memampukan kita menjadi saksi dalam perbuatan dan perkataan (2:42-47). Dengan demikian kita menjadi bagian dari rencana keselamatan Allah, bukan lagi lawan.


Mt 27:32-56 Raja menunaikan tugas-Nya

April 20, 2011

Perikop ini menceritakan kisah yang penuh perasaan yang tidak akan diuraikan di sini lagi. Untuk menangkap makna dari apa yang terjadi, kita akan melihat apa yang dikatakan, walaupun sebagiannya sangat ironis. Di atas semuanya adalah tulisan yang terpasang, bahwa Yesus adalah raja orang Yahudi (a.37). Apa tugas seorang raja?

Masyarakat umum yang kebetulan lewat menyumbang pemahaman mereka dalam a.40, “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu.” Bait Suci memang termasuk urusan raja. Tetapi apa gunanya raja yang tidak bisa menyelamatkan diri? Daud, anak Allah selaku raja Israel (bnd. 2 Sam 7:14; Mzm 2:7), mulai memikirkan pembangunan Bait Suci ketika “Tuhan telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling” (2 Sam 7:1), artinya, pembangunan Bait Allah adalah buah dari keselamatan yang telah dia hasilkan bagi Israel. Andaikan Yesus dapat turun dari salib secara ajaib, klaimnya mulai masuk akal. Pertimbangan itu diulang oleh imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat dalam a.42, kemudian dikuatkan dalam a.43, “Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.” Nasib Yesus sepertinya adalah bukti bahwa Allah menolak Yesus sebagai Anak-Nya. Harapan Yesus adalah harapan yang semu.

Tetapi tunggu dulu. Siapakah Yesus menurut Injil Matius? Petunjuk pertama dilihat dalam perikop ini sendiri. “Orang yang lewat” dan “menggelengkan kepala” dalam a.30 terdapat juga dalam Rat. 2:15. Pada saat itu, Bait Suci telah roboh karena serangan orang Babel pada tahun 586 sM, sehingga Yerusalem menjadi sasaran penghinaan bangsa-bangsa. Yesus di salib adalah Bait Suci yang telah roboh. Bagaimana bisa disebut “Bait Suci”? Ingat bahwa malaikat menyampaikan kepada Yusuf bahwa Yesus merupakan Imanuel, “Allah menyertai kita” (1:23). Bait Suci adalah simbol hadirat Allah; Yesus adalah wujud nyatanya. Sebagai raja Israel (Matius p.2 sudah menegaskan benarnya gelar itu) Yesus tidak mengurus Bait Suci, Dia membawanya.

Namun, masalah keselamatan itu masih mendesak. Bukankah malaikat juga menyampaikan kepada Yusuf bahwa Yesus “akan menyelamatkan umat-Nya” (1:21). Tetapi dari apa? Dari “dosa mereka”. Memang, karena penjajahan Israel sering ditafsir sebagai hukuman Allah, keselamatan dari dosa bisa saja ditafsir sebagai keselamatan dari akibat dosa, yaitu penjajahan Israel. Namun, ternyata dalam rencana Allah, perkataan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat persis benar. Untuk menyelamatkan orang lain, Yesus tidak bisa menyelamatkan diri-Nya. Sebagai Anak Allah yang membawa hadirat Allah ala Bait Suci, Yesus harus dirobohkan supaya dibangun kembali sebagai wujud nyata bahwa pemulihan umat Israel telah mulai. Dengan demikian Dia mewujudkan tugas-Nya sebagai Anak Allah, raja Israel, untuk menyelamatkan umat-Nya dari yang paling mengancam keberadaan mereka, yakni dosa mereka.

Dengan demikian, kita dapat memahami ungkapan Yesus pada salib, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (a.46) Pada salib, Yesus mengambil tempat Israel yang dibuang, sungguh ditinggalkan Allah. Mzm 22:2 yang dikutip menunjukkan bahwa hal itupun termasuk tugas Mesias. Yesus mengambil tempat umat yang berdosa untuk membebaskan mereka dari dosa itu. Hasilnya dilihat dalam aa.51-52. Tabir Bait Suci terbelah dua, menunjukkan bahwa fungsinya telah roboh, diambil alih oleh Yesus. (Ada juga yang menafsirnya dalam rangka Ibr 9:1-10, di mana tabir menunjukkan bagaimana manusia terhalang menghadapi Allah karena dosanya, tetapi halangan itu tidak ada lagi karena pengorbanan Kristus.) Orang-orang kudus bangkit, menunjukkan bahwa maut, akibat dosa, telah dikalahkan. Oleh karena itu, seorang wakil dari bangsa-bangsa dapat mengaku bahwa Yesus sungguh adalah Anak Allah (a.54). Yesus tidak hanya menjalani tugas-Nya sebagai raja Israel untuk Israel, tetapi juga untuk segenap umat manusia yang dibuang dari hadirat Allah oleh karena dosanya.


Luk 22:1-6 Jatuhnya seorang murid ke dalam pencobaan (3 Apr 2011)

Maret 28, 2011

Aa.1-2 merupakan latar belakang yang penting untuk aa.3-6. Dari pp.20-21 ternyata sudah cukup banyak orang di Yerusalem, dan mereka terpesona dengan Yesus. Mendekatnya hari H, yakni Paskah (yang langsung disusuli dengan hari raya Roti Tidak Beragi), makin mendesak pimpinan Yahudi, karena jika Yesus berencana menentang kuasa kafir, yakni orang Roma, pada hari itu jumlah dan semangat perjuangan orang banyak akan memuncak. Tetapi karena orang banyak terpesona dengan Yesus mereka tidak bisa menangkap Yesus langsung di depan umum. Mereka membutuhkan jalan yang lain. Hal itu yang diberikan kepada mereka oleh Yudas (a.6).

Jadi, penawaran Yudas datang pas pada waktunya, dan mungkin saja mereka menganggap bahwa hal itu adalah pemeliharaan Tuhan sendiri. Tetapi menurut Lukas yang mengatur bukan Allah melainkan Iblis. Tentu, Iblis tidak di luar kuasa Tuhan—sebaliknya semuanya ini termasuk rencana-Nya—tetapi Iblis yang menggerakkan hati Yudas. Bahasa “masuklah Iblis ke dalam Yudas” terjadi juga dalam Yoh 13:27, dengan terjemahan yang lain, yaitu, “ia kerasukan Iblis”. Jika gambaran orang kerasukan di Toraja adalah orangnya berteriak dan bergerak-gerak dengan tidak sadar, maka jelas Yudas tidak kerasukan. Dalam Yoh 13:2 Iblis sudah “membisikkan rencana dalam hati” (harfiah: “melemparkan ke dalam hati”) untuk menyerahkan Yesus, dan dalam Yoh 13:27 Iblis masuk untuk meneguhkan bisikan itu. Jadi, Iblis yang memberanikan Yudas untuk melakukan sesuatu yang sangat menantang—mengkhianati guru tercinta. Ternyata tidak semua kebetulan yang cocok dengan rencana kita datangnya dari Tuhan, dan tidak semua semangat yang datang dari luar datangnya dari Roh Kudus, sekalipun tidak ada gejala-gejala kerasukan.

Tidak jelas seberapa jauh Yudas menganggap bahwa dia melakukan sesuatu yang baik atau yang perlu ketika dia pergi kepada para pemimpin Yahudi. Saya duga Suharto sungguh percaya bahwa jika dia tidak memegang kuasa, Indonesia akan runtuh dan hancur. Aparat di bawahnya yang mengatur pembunuhan para aktivis mungkin saja menganggap bahwa mereka berjuang untuk mempertahankan kedamaian yang dijamin oleh penguasa yang kuat itu. Yudas ditanggapi dengan serius oleh para pemimpin Yahudi, dan aparat (pengawal Bait Allah) dilibatkan untuk membahas strategi penangkapan Yesus (a.4). Paling sedikit, mereka percaya bahwa mereka melakukan kehendak Allah. Hanya, ketika kesepakatan mereka sampai pada soal uang, suatu anggapan bahwa Yudas (dan mereka) memiliki prinsip menjadi sulit dipertahankan. Yudas tidak digerakkan oleh uang, dia digerakkan oleh Iblis. Tetapi penawaran uang itu bisa mengobati gejolak hati yang masih ada di dalam dirinya, sehingga dia dengan tekun mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Dalam perikop sebelumnya (yang dibahas beberapa minggu yang lalu) dikatakan bahwa kita harus berjaga-jaga sambil berdoa (Luk 21:36). Menghadapi pencobaan terkait dengan kehadiran Kristus di Yerusalem, Yudas adalah yang pertama yang jatuh. Penerimaan uang itu menjadi gejala atau tanda akan suatu hati yang dengan mudah dipengaruhi oleh Iblis sendiri.


Luk 4:1-13 Yesus telah mengalahkan Iblis

Maret 3, 2011

Walaupun kita dapat belajar dari pencobaan Yesus, ada sesuatu yang lebih dalam lagi di dalamnya. Setelah dibaptis dalam Roh dan diutus oleh Bapa-Nya di sorga (Luk 3:21-22), Yesus, sebagai anak Daud (3:31) harus melawan musuh umat Allah yang terlalu kuat untuk umat Allah, sama seperti Daud melawan Goliat. Sebagai anak Abraham (3:34) ketaatan-Nya harus diuji sama seperti Abraham diuji (Kej 22:1; cerita itu disinggung dalam 3:22 dalam kata “Anak-Ku yang Kukasihi”). Pencobaan pada dasarnya adalah keadaan dari dalam atau dari luar yang menjadi alasan (dalih) untuk tidak taat kepada Allah. Sebagai anak Manusia (3:38), musuh yang harus Dia lawan tidak lain dari si Pemfitnah, si Iblis, yang menggoda Adam dan Hawa. Semuanya dilakukan di padang gurun selama 40 hari, tempat Israel dicobai selama 40 tahun dan gagal. Bagaimana hasilnya Mesias yang baru diurapi ini?

Dari pemakaian present tense untuk kata “dicobai” ada kesan bahwa pencobaan itu berlangsung selama 40 hari. Bagaimanapun juga, setelah 40 hari Yesus lapar. Katanya kalau berpuasa lama, setelah beberapa hari pertama rasa lapar itu hilang selama hanya lemak yang dibakar untuk kebutuhan tubuh. Tetapi jika lemak dalam tubuh sudah habis, ototlah yang mulai dimakan tubuh, dan rasa lapar yang dahsyat muncul, dahsyat karena menyangkut hidup dan mati. Rasa lapar itu yang melanda Yesus pada saat ini. Selain bahwa hal itu menjadi pintu masuk untuk pencobaan yang pertama, kita melihat bahwa Yesus sudah masuk ke ranah paling rawan untuk dicobai, yaitu pada keadaan lemas dan terganggu oleh kebutuhan yang besar. Dalam konteks seperti itu saya dengan paling mudah membenarkan kegagalan saya. Dalam konteks itulah ketaatan Yesus dicobai.

Pencobaan pertama menyangkut kelaparan tadi. Yesus mengutip dari Ul 8:3, di mana dijelaskan bahwa Allah menguji Israel selama 40 tahun di padang gurun, termasuk membiarkan mereka lapar supaya mereka sadar bahwa dasar kehidupan adalah firman Allah, bukan makanan. Kita menganggap bahwa jika orang bisa makan dia bisa hidup. Tetapi Allah mau Israel belajar bahwa jika Israel taat kepada firman Allah baru Israel bisa hidup. Hawa gagal di situ: buah pohon dianggap “baik untuk dimakan” (Kej 3:6) walaupun dilarang. Kelaparan mewakili semua nafsu, hal-hal yang baik pada tempatnya tetapi ketika mendesak bisa membenarkan banyak hal. Yesus membuktikan bahwa manusia bukanlah budak dari nafsu-nafsunya.

Pencobaan kedua dalam urutan Lukas adalah penawaran kuasa duniawi kepada Yesus. Karena si Iblis adalah pembohong, tidak usah dipercaya bahwa dia berhak untuk memberikan kerajaan-kerajaan dunia kepada Yesus. Yang diperlihatkan adalah kemuliaan kerajaan-kerajaan. Jika pencobaan pertama menyangkut pribadi, pencobaan ini menyangkut ranah sosial. Yang tidak diperlihatkan ialah sisi gelap kerajaan-kerajaan itu, tanggung jawab sebagai pemimpin dsb, yang menuntut jalan lain, yaitu salib. Tetapi yang memang muncul adalah syaratnya, yaitu Iblis disembah. Ul 6:13 menjadi tangkisan Yesus. Dengan demikian, kita melihat bahwa mengejar kesemarakan adalah penyembahan berhala. Sejak Hawa melihat bahwa buah pohon itu “sedap kelihatannya” hal itu menjadi penggodaan manusia. Tetapi Yesus membuktikan bahwa manusia dapat menyembah Allah saja.

Pencobaan ketiga menyangkut apakah Yesus akan mencobai Allah. Yesus mengutip dari Ul 6:16, di tengah penegasan Musa tentang pentingnya beribadah kepada Tuhan saja seperti di atas, bukan kepada ilah-ilah yang lain. Ul 6:16 merujuk pada peristiwa di Masa yang diceritakan dalam Kel 17:1-7. Israel baru diselamatkan dari tentara Mesir (Kel 15), dan juga sudah mulai menerima berkat manna sebagai makanan (Kel 16). Air yang dipersoalkan dan dijawab Tuhan pada awal p.17. Dalam kesimpulan Kel 17:7, inti mencobai adalah pertanyaan, “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” Orang yang mempertanyakan kehadiran Allah, ia sudah siap pindah kepada ilah lain. Itulah inti pencobaan dalam ranah religius: beranjak dari keraguan yang mau membuktikan kehadiran Allah. Di tengah kelaparan yang dahsyat Yesus tetapi yakin bahwa Allah hadir dan menyertai-Nya.

Jadi, sebagai Anak Allah, Mesias, Yesus telah mengalahkan musuh besar umat Allah. Ternyata Iblis tidak berkuasa mutlak atas kerajaan-kerajaan manusia, karena ada satu manusia, Yesus, yang dalam kuasa Roh Kudus telah mengalahkannya. Kita ikut di dalam kemenangan Kristus itu. Sebagai anak Abraham, Yesus sudah menempuh ketaatan dalam jalan yang berat menuju salib. Di mana Israel, bahkan seluruh Israel, gagal, Yesus berhasil.

Setelah gagal tiga kali Iblis mundur, menunggu waktu yang baik. Dalam Luk 22:3 Satan masuk ke dalam Yudas. Menghadapi salib Yesus dicobai kembali. Tetapi Dia sudah diuji dan menang pada awal pelayanan-Nya. Semoga dalam kuasa Roh Kudus kita ikut dalam jejak-Nya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 939 pengikut lainnya.