Yes 32:15-20 Hasil dari pencurahan Roh Allah (20 Mei 2012)

Mei 19, 2012

Perikop ini berbicara tentang suatu harapan, dan beberapa nilai yang penting di tengah harapan itu. Jika cara saya menerangi hubungan antara kedua hal itu belum jelas, saya berharap Pembaca dapat menemukan cara yang lebih tepat (silakan dibagikan dalam komentar). Tetapi pemberitaan kita akan kurang jika salah satu unsur itu hilang.

Penggalian Teks

Perikop kita adalah lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya, yang berbicara tentang hukuman atas Israel, dilihat dari perspektif perempuan-perempuan yang hanya melihat ketenteraman di sekitarnya (32:9-14). Kota-kota tempat bergirang-girang akan menjadi kegirangan keledai hutan (32:13-14). Kemungkinan, peristiwa yang dirujuk di sini adalah penyerangan Sanherib pada tahun 701 SM, yang mengalahkan semua kota di Yudea kecuali Yerusalem (36:1). Meskipun Tuhan meluputkan Yerusalem, seperti telah disinggung dalam p.31 dan diceritakan secara terperinci dalam pp.36-37), akibatnya tetap berat. Perempuan-perempuan itu menganggap ada damai, tetapi kedamaian itu semu.

Mulai a.15, ada nubuatan tentang serangkaian peristiwa yang akan mengakhiri hukuman Allah (“sampai”) dan akan membawa damai yang sejati. Yang pertama ialah Roh dari atas, yang membawa pembaruan alam (a.15). Hal itu diiringi kebenaran dan keadilan (a.16, kedua hal itu dikaitkan dengan pembaruan pimpinan dalam 36:1), yang akan membawa damai sejahtera yang sejati (a.17) untuk seluruh umat Allah (a.18). Pemulihan alam dan pemulihan manusia berpadu untuk menciptakan damai sejahtera.

Kedua ayat berikut kurang jelas, tetapi mungkin terjemahan NIV yang cocok: “(19) Walaupun hutan akan runtuh dsb (20) namun berbahagialah kamu dsb”, artinya, di balik musibah yang akan terjadi di bawah Sanherib, Tuhan akan memberi Israel kelegaan. A.20 dapat dilihat sebagai keadaan yang bebas bahaya.

Maksud bagi Pembaca

Yesaya mau supaya Israel memahami sifat ketenteraman yang sejati, yaitu damai sejahtera (keadilan dan kebenaran serta pemulihan alam) yang disebabkan oleh karya Allah yang mencurahkan Roh-Nya.

Makna

Dalam PB, kedatangan Roh Kudus menjadi tanda bahwa zaman baru, yaitu, zaman keselamatan, sudah mulai. Tentu, tidak semua yang dijanjikan dalam perikop ini digenapi sekaligus. Pemulihan alam masih menunggu kebangkitan anak-anak Allah (Rom 8:21). Tetapi, pemulihan umat sudah mulai. Walaupun istilahnya tidak persis sama dalam bahasa aslinya, Ef 5:9 menyebutkan kebenaran dan keadilan sebagai buah terang, ciri jemaat yang telah dimeteraikan oleh Roh Kudus (Ef 1:13; Ef 4:30). Dalam harapan akan dunia baru (karena Roh Kudus adalah jaminan akan seluruhnya, Ef 1:14), kita hidup sekarang menurut dunia mendatang itu, yakni, dalam kebenaran dan keadilan. Dengan demikian ada damai sejahtera, yang dicicipi sekarang di dalam jemaat, dan yang akan dialami secara tuntas dalam dunia baru.

Sebagian orang tidak jauh dari perempuan-perempuan itu, terlalu puas karena tidak ada masalah yang besar, walaupun belum ada kebenaran yang jelas. Sebagian orang lain sadar akan kurangnya keadilan dan kebenaran, dan dapat melihat bahwa hal itu berdampak negatif pada kesejahteraan jemaat dan masyarakat. Namun, orang-orang itu menunggu “mereka” (pemerintah, pimipinan gereja, entah siapa lagi) untuk memperbaiki masalah itu, baru orang-orang itu akan berani ikut berlaku benar dan adil. Kondisi dunia yang belum tuntas dipulihkan menjadi dalih untuk hidup dalam kepentingan kelompok sendiri. Tetapi jika Allah sendiri telah mencurahkan Roh-Nya, zaman hidup menurut keadilan dan kebenaran ala perikop kita telah tiba. Yes 32:15-20 menggambarkan dunia baru untuk kita tangkap dengan mata iman supaya kita hidup di dalamnya.


Ef 5:1-21 “Mempergunakan waktu dalam kasih, kekudusan dan terang” (13 Mei 2012)

Mei 8, 2012

Kitab Efesus memuat teologi Paulus yang telah dirumuskan untuk konteks Asia Kecil (sekarang Turki) yang budayanya miriplah dengan Toraja lama, termasuk banyak roh, magis dsb. Dalam budaya siklis itu, Paulus tetap berbicara tentang rencana Tuhan, bahwa Tuhan menciptakan dunia dan mau membawa dunia itu kepada satu tujuan, dengan menempatkan segala sesuatu di bawah Kristus sebagai Kepala (1:10). Cara manusia bergabung dengan rencana itu ialah manusia bergabung dengan Kristus oleh iman (1:13-14), sehingga dihidupkan kembali (2:1-10) dan diperdamaikan di dalam tubuh Kristus (2:11-22). Dalam pasal 4, Paulus menguraikan tubuh Kristus itu (4:1-16), kemudian manusia baru yang dihasilkan oleh keselamatan di dalam Kristus (4:17-32).

Makanya, jangan sampai perikop ini dikerdilkan menjadi semacam tiruan Mario Teguh, tips-tips tentang bagaimana memakai waktu dengan efisien. Gaya Mario Teguh dilihat juga dalam kitab Amsal, dan tips-tips ada tempatnya, tetapi jika kita bertanya, “Waktu dipergunakan untuk apa?”, jawabannya harus terletak dalam Injil yang begitu ditekankan dalam surat ini. Bagi Paulus, implikasi Injil ada pertama-tama bukan pada tips-tips atau perintah-perintah, melainkan pada berbagai gambaran identitas kita. Jika identitas itu telah ditangkap, cara hidup yang semestinya akan menyusul.

Penggalian Teks

Ciri-ciri kehidupan baru dalam perikop ini ialah kasih (aa.1-2), kesucian (aa.3-7), dan terang/buah/bangun (aa.8-14). Itulah kerangka yang di dalamnya Paulus berbicara tentang hidup yang berhikmat (aa.15-17). Hikmat itupun tidak berdiri sendiri, tetapi perlu ditopang dengan saling berbagi dalam firman Tuhan oleh kuasa Roh Kudus (aa.18-21).

Soal kasih menyimpulkan penguraian tentang cara berbicara dan berelasi dalam tubuh Kristus dalam 4:25-31, sekaligus menjadi dasar untuk penguraian dalam perikop kita. Dasar kasih adalah Allah, terutama kasih Allah yang dilihat dalam pengorbanan Kristus. Pengorbanan itu adalah teladan (a.1, TB ed. 2 memakai terjemahan “teladanilah Allah”) bagi kita, tetapi jika kita meninjau penguraian Paulus, kita akan melihat bahwa maknanya lebih dalam dari itu. Selain kita berada di dalam Kristus, Kristus juga diam di dalam hati kita (3:17) sehingga dasar spiritualitas kristiani ialah menangkap besarnya kasih Kristus itu (3:18). Makanya, kita meneladani Allah bukan dengan kasih diri sendiri (suatu tuntutan yang mustahil), melainkan dengan kasih Kristus yang ada dalam hati kita. Kasih itu tertanam, antara lain, dengan merenungkan pengorbanan Kristus (a.2).

Jika Kristus adalah persembahan yang harum, kita juga harus menghindar dari kenajisan, hal-hal yang bertentangan dengan kekudusan. Dalam Paulus, kekudusan adalah pertama-tama kedudukan orang percaya yang telah dijadikan milik khusus Allah, sama seperti dalam PL. Tetapi implikasinya sudah dibatinkan, sehingga kekudusan menjadi cara untuk memandang martabat manusia yang hatinya bebas dari kekacauan, yang hawa nafsunya ada pada tempatnya. “Rupa-rupa kecemaran” dalam a.4 berarti maksud hati yang kacau, sehingga martabat orang itu anjlok. Contohnya dalam a.3 & a.5 adalah nafsu berahi dengan nafsu materi yang sudah melampaui batas. Contohnya dalam a.4 adalah berbagai cara berbicara yang meneguhkan “kewajaran” kekacauan itu. Mengapa orang suka perkataan yang kotor? Bukankah untuk membenarkan nafsu berahi yang tidak dikendalikan dengan baik? Mengapa orang suka omongan kosong? Bukankah untuk menjatuhkan sesama sehingga menutupi kelemahan diri dengan tampil lebih baik? Perkataan sembrono merujuk pada orang yang lidahnya fasih tetapi kepintarannya dipakai untuk merendahkan sesama atau tampil pintar. Lawan dari semua cara berkata itu ialah ucapan syukur. Ucapan syukur menjunjung tinggi Allah, dan mengakui semua pemberian-Nya yang baik di dalam dunia ini.

Sama juga dengan PL, kekudusan yang dilanggar menimbulkan murka Allah (a.6), sehingga pelanggar tidak akan ikut dipersatukan di bawah Kristus sebagai Kepala (a.5b). Tentu, maksudnya bukan orang yang sekali jatuh ke dalam sikap yang tidak baik. Jika kurban dalam PL membawa penghapusan dosa bagi orang Israel, lebih lagi kurban Kristus (a.2). Maksudnya bahwa Allah sudah turun tangan dalam Kristus untuk memulihkan dunia dari hal-hal yang demikian, sehingga adalah aneh dan sama sekali tidak menyambung jika orang percaya tetapi mau ikut di dalamnya (a.7, bdk. “sepatutnya bagi orang-orang kudus” a.3; “tidak pantas” a.4). Orang-orang yang didiami Kristus akan menyambut dengan gembira pemulihan Kristus dalam batin sehingga hidupnya dapat lebih baik.

Israel dipanggil untuk menjadi bangsa yang kudus, supaya dapat menjadi terang bagi bangsa-bangsa (Yes 42:6; 49:6). Paulus melanjutkan penguraiannya tentang identitas kita di dalam Kristus dengan tema itu (aa.8-14). Identitas kita di dalam Tuhan adalah terang (a.8). Terang berbuahkan kebaikan dsb (a.9), tetapi kegelapan tidak berbuah (a.11). Oleh karena itu, terang menelanjangi kegelapan. Misalnya, ternyata orang bisa setia kepada satu orang seumur hidup. Ternyata orang bisa bertahan hidup tanpa berkorupsi. Hidup kudus, hidup dalam kasih, membawa terang ke dalam tempat-tempat yang gelap (entah keluarga, kantor, dsb, a.13). Jadi, kata Paulus, kita harus bangun dari tidur sebagai manusia baru yang dibangkitkan dari kematian dalam dosa (2:1-10), supaya kita mengalami terang Kristus itu (a.14, yang mengartikan Yes 60:1 tentang pembaruan umat Allah).

Atas dasar itulah, aa.15-17 menganjurkan cara hidup yang arif dan mengerti kehendak Tuhan. Kejahatan hari-hari ini adalah bahasa lain untuk kegelapan tadi. Jika kita mau menjadi terang, kita harus mempergunakan kesempatan-kesempatan yang ada. Waktu banyak dipergunakan dunia untuk bertindak dalam kegelapan, dan kita harus mempergunakan waktu yang sama untuk membawa terang. Karena besarnya tantangan itu, Paulus menganjurkan untuk memperhatikan dengan saksama, karena dengan mudah kita akan dibawa ke dalam kebebalan dunia ini.

Bagaimana semuanya itu mungkin? Adalah fatal jika yang di atas dibebankan kepada jemaat untuk dilakukan seorang diri. Dalam aa.18-21 Paulus kembali ke soal persekutuan, bukan persekutuan yang terisi dengan perkataan yang kosong (seperti ketika orang kumpul minum-mimum), melainkan persekutuan yang dipenuhi oleh Roh, sehingga firman Allah, termasuk tentang kasih Kristus dan rencana Allah, dibagikan dengan berbagai cara.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Efesus menerapkan identitas mereka di dalam Kristus dengan menjadi kudus dalam kasih, sehingga menjadi terang. Dalam rangka itu, dia menasihati mereka untuk mempergunakan waktu yang ada dengan arif, dan saling menguatkan dalam kebenaran firman. Dengan demikian, mereka akan menjadi bagian dalam rencana Allah untuk mempersatukan segala sesuatu dalam Kristus, karena mereka sendiri ada di dalam Kristus, dan terang itu dapat membawa orang lain juga kepada Kristus.

Makna

Sepertinya, banyak jemaat memahami bahwa orang percaya “wajib” melakukan kasih kepada sesama, tetapi bagi mereka Allah adalah teladan di luar mereka, bukan Pribadi yang ada di dalam. Jika demikian, “kewajiban” itu akan dilakukan dengan bersungut-sungut dan menghitung-hitung. Jika muncul dari diri yang didiami Kristus, kasih itu akan seperti kasih Allah, berprakarsa dalam berbuat baik dan tidak reaktif. Tanpa kasih seperti itu, kekudusan juga akan menjadi semu. Orang Farisi, sebagaimana diceritakan dalam keempat Injil, mengejar kekudusan, tetapi dengan cara yang menajiskan orang banyak dan membanggakan diri. Jangan sampai “kekudusan” di dalam gereja juga demikian.

Pemahaman tentang kekudusan di atas dapat dikembangkan dengan mengatakan bahwa kecemaran itu semestinya menjadi pemali batin. Bagi saya, ini penting. Di dunia Barat, banyak orang, bahkan yang tidak bertuhan, tidak sampai hati berkorupsi, karena mereka akan merasa menjadi manusia kerdil jika melakukannya. (Tentu, ada banyak yang lain yang tega saja.) Di Indonesia, banyak orang yang tidak akan sampai hati mencuri dari orang miskin, tidak melihat ada masalah dengan mencuri uang negara, atau menyontek. Pertimbangan etis tentang hal-hal itu terlalu besar dan abstrak untuk mereka tangkap, sepertinya. Jadi, korupsi kecil hanya akan berkurang kalau hal-hal seperti itu menjadi pemali batin.

Ada banyak hal yang dapat dipikirkan tentang mempergunakan waktu. Pada satu segi, ada momen-momen keputusan: apakah saya membubuhkan tandatangan atau tidak, apakah saya masuk kamar calon selingkuhan ini atau tidak. Tetapi juga ada soal prioritas. Di dalam keluarga, ibadah keluarga, atau berdoa bersama, adalah penggunaan waktu yang baik yang sering dipinggirkan. Di dalam kantor, kejujuran hanya tahap pertama dalam menjadi terang. Kita juga perlu menjadi bawahan atau atasan yang berusaha untuk mengasihi sesama, melayani klien dengan baik, dsb.

Di dalam gereja, pendeta dan majelis ditempatkan di atas jemaat yang perlu didorong dan dikuatkan untuk menjadi kudus dan terang. Bagian mana dari pelayanan yang paling berguna untuk tujuan itu? Adakah pola-pola baru yang harus dipikirkan? Jika pendeta tenggelam dalam rutinitas, sehingga kehidupan rohaninya mati lemas, apakah itu penggunaan waktu yang baik? Banyak pendeta mengeluh bahwa mereka terpaksa sibuk dalam hal-hal yang tidak berguna, seakan-akan majelis dan jemaat menyewa preman atau tentara untuk mengawasi mereka. Sebenarnya, mereka takut akan jemaat. Padahal, bukan jemaat yang menjadi kurban bagi dosa Saudara.

Kembali perlu ditegaskan bahwa perjuangan ini (dan 6:10-12 jelas menggambarkan nasihat ini sebagai perjuangan) bukan sesuatu yang dapat dilakukan seorang diri. Semestinya OIG (kelompok pemuda, wanita, bapak dsb.) menjadi wadah untuk orang saling menguatkan dalam perjuangan ini. Pertemuan pendeta juga semestinya diisi bukan hanya dengan hal-hal administratif, tetapi saling menguatkan dalam pelayanan yang arif, yang mengerti kehendak Tuhan. Jangan sampai kita tidak membawa jemaat ke dalam terang, sehingga Allah memakai orang lain untuk menggenapi rencana-Nya.


Ul 6:1-9 “Belajar bersama keesaan Allah” (6 Mei 2012)

Mei 3, 2012

Teks ini (mudah-mudahan) lumayan terkenal, karena mengandung nas yang sentral dalam PL, yaitu aa.4-5. Kali ini, saya akan coba menafsirnya melalui lensa budaya Toraja, khususnya apa yang disebut “teologi tongkonan”, seperti ada dalam karya Th. Kobong, Injil dan Tongkonan. Tongkonan adalah rumah adat Toraja, yang menjadi pusat ritus-ritus keluarga besar, seperti yang terkait dengan pernikahan dan kematian. Kobong melihat Kristus sebagai pangala tondok Gereja, yaitu perintis atau cikal bakal keluarga yang berpusat di suatu tempat. Perintisan tongkonan mungkin terjadi ketika sang pangala tondok membawa keluarganya ke tempat yang baru, seperti Abraham membawa keluarganya ke Kanaan. Di situlah dia menjadi pemelihara dan penopang kehidupan keluarga (uainna ditimba [airnya ditimba] dsb), dan juga penentu adat (alukna dipoaluk [adat/agamanya dianut]), sama seperti Abraham menentukan ibadah kepada Allah serta sunat bagi keluarganya.

Penggalian Teks

Jika keluaran Israel dari Mesir dicermati, kita melihat pola yang sama. Setelah menyelamatkan mereka dari Mesir (Ul 5:6), Allah mengikat Israel menjadi satu keluarga besar/persekutuan tongkonan dengan Dia melalui perjanjian di gunung Sinai/Horeb (5:2). Dia menentukan aluk mereka (5:6-21), kemudian memelihara mereka sambil membawa mereka ke tempat baru, tanah perjanjian. Dalam perikop ini, Musa (yang ditunjuk sebagai perantara antara Israel dan Allah, karena Israel ketakutan melihat Allah, 5:23-33) sedang berbicara kepada umat Israel yang ada di pelataran Moab, di seberang sungai Yordan dari tanah yang dijanjikan Allah.

Makanya, dalam aa.1-3, Musa mengingatkan Israel tentang tujuannya, “suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya”. Ketetapan, peraturan, perintah dan kata-kata sejenisnya tidak merujuk pada suatu hukum positif, melainkan menunjukkan bagaimana Israel akan hidup dalam karapasan (kedamaian) dengan Allah di tanah perjanjian itu (aa.2-3). Karena ikatan perjanjian itu, karena Israel telah dijadikan tongkonan Allah oleh anugerah, Israel dan Allah telah menjadi senasib. Ketaatan dan kesejahteraan Israel membawa kesenangan dan kemuliaan bagi Allah sendiri. Pada saat Musa berbicara, mereka belum sampai di tanah perjanjian itu, tetapi mereka dituntut untuk hidup sesuai dengan tujuan itu, bukan sesuai dengan bangsa-bangsa di sekitar mereka di Moab.

Dalam aa.4-5, Musa mengingatkan Israel tentang pusat kesejahteraan mereka, yaitu Allah sendiri. Jika kita berbicara tentang masyarakat Toraja, sebenarnya ada beberapa persekutuan yang di dalamnya seseorang dapat menemukan dukungan dan kepentingan bersama, dan dalam kepercayaan lama ada juga beberapa sumber ilahi: nenek moyang, dan berbagai dewa. Bilamana kehidupan manusia bergantung pada beberapa sumber, maka kesetiaan dan kasih manusia pasti akan terbagi juga. Tetapi Allah itu tunggal, esa. Makanya, seluruh eksistensi orang Israel dituntut untuk terarah pada Dia saja. Sebagai Pangala tondok, Allah bukan sekadar penopang kehidupan, tetapi juga pusat kehidupan. Rencana dan tujuan (“hati”) disesuaikan dengan rencana dan kehendak Allah. Seluruh hayat dan hasrat (“jiwa”) dikaitkan dengan Allah. Kita rindu akan firman-Nya, suka beribadah kepada-Nya, dan ingin untuk menikmati segala pemberian yang baik sebagai anugerah daripada-Nya (Yak 1:17). Karena seluruh kehidupan kita berpusatkan Allah, seluruh tenaga dan tingkah laku (“kekuatan”) ditujukan kepada Dia.

Semuanya itu begitu pokok bagi kehidupan Israel sehingga Musa menyampaikan bebarapa langkah supaya pemahaman itu dapat membudaya (aa.6-9). Harus ada perhatian, pengajaran kepada generasi berikut, pembicaraan di mana saja, serta berbagai tanda yang dapat menjadi pengingat. Kegenapan dalam a.5 tidak akan terjadi dengan introspeksi diri, tetapi akan terwujud dalam saling mendorong.

Maksud bagi Pembaca

Musa mau supaya Israel menikmati dan menghayati relasi dengan Tuhan di tanah perjanjian yang lebih erat daripada relasi antara pangala tondok dengan persekutuan tongkonan-nya. Dia mau supaya Allah menjadi satu-satunya Penopang kehidupan mereka, dan satu-satunya Penentu dan Pengarah kehidupan mereka. Untuk mencapai tujuan itu, dia menyuruh mereka untuk saling mengajar dan menguatkan.

Makna

Ada manfaat tertentu dari usaha teologi kontekstual ini yang saya rasakan, walaupun saya tidak lahir dan besar di Toraja, yaitu, adanya gambaran yang konkret tentang solidaritas Allah dengan umat-Nya. Banyak orang memperlakukan Allah dengan semacam penipuan. Mereka menghadapi Allah dengan ratapan dan tangisan ketika bergumul (konon, orangtua Toraja sangat susah menolak permintaan yang demikian dari anak-anaknya), tetapi rencana, cita-cita dan tenaga tetap berpusat pada diri sendiri. Mereka belum menangkap bahwa tanah yang dijanjikan Allah itu baik, lebih baik daripada berhala-berhala yang mereka kejar seperti gengsi. Kelebihan itu terutama bahwa Allah sendiri ada di pusat tanah itu. Dialah yang paling layak dikasihi.

Tentu, jika kita memikirkan perjalanan menuju tanah perjanjian dalam konteks PB, kita akan memikirkan jalan kita menuju langit dan bumi baru, dan Ibrani 4 dengan jelas menyejajarkan kedua hal itu. Tetapi hidup kekal dapat dinikmati sekarang juga, dengan mengenal Allah Bapa dan Yesus Kristus (Yoh 17:3) oleh kehadiran Roh Kudus (Yoh 14:15-20). Bahasa Paulus agak lain—Roh Kudus adalah karunia sulung dari ciptaan baru (Rom 8:23; bdk. Gal 3:14)—tetapi maksudnya sama. Dalam PB, kelimpahan juga ditafsir ulang. Buah kita adalah buah Roh (Gal 5:22-23), perubahan hidup, serta orang-orang yang dituai bagi Tuhan (Mt 9:35-38). Tetapi prinsipnya sama. Kita mengasihi Allah dengan segenap hati sejauh mana kita melihat bahwa hidup bersama dengan Tuhan adalah hidup yang paling baik, ketika Allah bukan di pinggir melainkan di pusat kehidupan kita.

Namun, ada satu aspek dari teologi tongkonan itu yang dapat dipertanyakan. Bukankah budaya Toraja dan banyak budaya sejenis merupakan budaya timbal-balik, do ut des, “saya memberi supaya kauberi”? Bukankah budaya itu akan dibawa masuk ke dalam kehidupan bergereja jika teologi seperti itu dipakai? Pertanyaan itu adalah penting, tetapi harus didasarkan pada analisis yang tepat. Yang disebut “timbal-balik” bisa saja sesuatu yang hakiki dalam sebuah relasi, bukan bukti akan sikap do ut des. Orangtua membantu anaknya ketika masih kecil dan tidak berdaya, dan anaknya pada gilirannya membantu orangtuanya ketika mereka sudah tua dan tidak berdaya. Apakah itu do ut des? Pada hakikatnya, tidak, sekalipun unsur seperti itu bisa masuk. Dua keluarga dalam sebuah tongkonan masing-masing membawa hewan ke upacara keluarga yang lainnya, sehingga masing-masing mencapai tingkat upacara yang tidak akan terjangkau jika setiap keluarga berusaha sendiri. Apakah itu do ut des? Pada hakikatnya, tidak, walaupun mungkin agak sering unsur itu masuk. Sebenarnya, do ut des dapat mencemari semua relasi manusia berdosa. Dalam budaya modern, do ut des menjadi paling canggih, karena segala do dan des diukur dengan uang, sehingga dapat dibanding-bandingkan dengan sangat persis. Namun, Alkitab berani menyebut Allah sebagai Raja, meskipun budaya kerajaan dalam PL dan PB sarat juga dengan do ut des. Alkitab berani melakukan hal itu karena Allah tidak sekadar Raja atau Pangala tondok, Dia juga adalah Penebus yang menyelamatkan Israel sebelum mereka berbuat apa-apa, yang menyelamatkan kita ketika kita masih musuh (Rom 5:8-10). Tidak ada pemberian kita yang layak dibandingkan dengan pemberian Allah itu, anugerah menghancurkan semua perhitungan do ut des itu. Namun, kita diselamatkan supaya berelasi dengan Dia, dan untuk hal itu harus ada timbal-balik, kebergantungan dan ketaatan dari kita kepada Allah yang dibalas juga dengan pemberian-pemberian Allah, terutama kedekatan dengan Dia, tetapi juga banyak hal yang lain. Dengan demikian, makin lama, makin kuat relasi kita dengan Pangala Tondok kita.

Sebenarnya, kasih kepada Allah yang Esa adalah solusi yang paling ampuh terhadap masalah do ut des itu. Yang diharapkan dan didambakan ialah Allah, sehingga manusia tidak usah terlalu dituntut. Do ut des adalah gejala manusia berdosa yang belum mengasihi Allah sepenuhnya.

Sikap seperti itu tidak terjadi secara spontan, sehingga Musa berbicara tentang Israel sebagai semacam masyarakat pembelajaran, community of learning. Fokusnya adalah anak-anak, tetapi jangan sampai ada anggapan bahwa orangtua sudah tahu. Cara yang paling cepat untuk jemaat dewasa bertumbuh dalam pengetahuan firman Allah ialah bila dalam setiap keluarga orangtua rajin mengajar anaknya. Perlu juga diingat apa yang disebut kurikulum tersembunyi. Anak yang melihat orangtuanya berdoa di gereja tetapi tidak berdoa di rumah menarik kesimpulan yang logis saja tentang wilayah kuasa Allah. Bahkan, penelitian di dunia Barat memberi bobot yang lebih tinggi pada peran ayah dalam keluarga. Jika anak-anak melihat iman yang nyata dari ayah dalam seluruh aspek kehidupannya, kemungkinan lebih besar mereka juga akan memiliki iman yang jelas.


Mzm 112 Perintah Tuhan sebagai alasan untuk berbuat baik (15 Apr 2012)

April 11, 2012

Dalam kuliah, saya banyak berbicara tentang pentingnya menafsir dalam rangka Kisah Agung Alkitab, apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan Allah. Tetapi mazmur ini menyampaikan pola yang sering terdapat juga dalam kitab Amsal, yaitu, orang baik akan berhasil, orang jahat akan gagal, suatu pola yang sepertinya lepas dari karya Allah dalam sejarah, dan hanya merupakan implikasi dari pemeliharaan Allah yang berjalan secara umum. Hal itu tentu tidak salah, hanya, pemeliharaan Allah merujuk pada stabilitas, hal perubahan terjadi dalam kaitan dengan karya-karya-Nya. Makanya, jemaat yang hanya mengenal pemeliharaan Allah belum siap menjadi jemaat yang misioner. Alkitab dengan jelas menguraikan kedua pola itu (stabilitas dengan pembaruan), dan ternyata karya Allah penting juga dalam mazmur ini.

Penggalian Teks

Mazmur ini mulai dengan seruan untuk memuji Tuhan. Karena seruan itu biasanya diikuti oleh pujian tentang Tuhan, kita harus menganggap bahwa yang berikut ini juga memuji Tuhan. Topiknya adalah manusia, yakni, orang yang berbahagia, tetapi Tuhan yang dimuliakan di dalamnya.

Hal itu tampak pertama kali dalam a.1b, di mana takut akan Tuhan dilihat dari segi menyukai perintah-perintah Tuhan. Perintah-perintah itu tidak ditaati karena ada berkat sebagai upah, melainkan karena dunia yang dibayangkan dalam perintah-perintah itu adalah dunia yang didambakan. Apa maksudnya, “dunia yang dibayangkan dalam perintah”? Jika kita melihat kesepuluh firman saja, dunia yang dibayangkan adalah Israel yang menomorsatukan Allah dalam ibadah, perkataan dan siklus bekerja, sehingga ada keharmonisan dalam struktur masyarakat (orangtua dihargai), hidup, pernikahan, milik dan nama orang dihargai, dan semua puas dengan pemberian Tuhan masing-masing. Andaikan perintah-perintah itu diikuti dengan sungguh-sungguh, dunia seperti itu yang akan diciptakan. Sebaliknya, dalam dunia seperti itu, perintah-perintah itu sudah ditaati. Jadi, orang dalam a.1 takut akan Tuhan bukan karena ancaman hukuman jika melanggar, melainkan takut mengecewakan Sumber dunia itu karena bertindak berlawanan dengan tatanan yang diharapkan di dalam perintah-perintah itu.

Jika demikian, berkat-berkat yang berikut bukanlah “upah” tetapi akibat. Karena perintah-perintah Tuhan begitu disukai, dunia dambaan Allah mulai terwujud di sekitar orang ini, sehingga keturunannya menjadi sumber berkat bagi orang-orang benar di sekitarnya (a.2). Dia berhasil, dan hasilnya menjadi pangkal untuk berbuat baik bagi sesama, sehingga kebajikannya menjadi peringatan kekal (a.3). Dia bahkan menjadi terang bagi orang benar (a.4).

Dalam a.5 satu segi dari perintah-perintah Allah disoroti, yaitu, kemurahan kepada sesama. Akibatnya bahwa dia kokoh. Namanya akan diingat, dan dia tenang menghadapi perlawanan karena yakin akan pertolongan Tuhan kepadanya (aa.6-8). Aa.9-10 memberi kesimpulannya. Orang yang berbahagia hidup sesuai dengan dunia dambaan Tuhan, sehingga hidupnya berbagian dalam kemuliaan dunia itu. Dunia orang fasik ternyata lain sekali: dambaan mereka adalah berjaya atas orang benar, tetapi keinginan itu akan hancur. Sungguh Allah layak dipuji, karena Dia akan mewujudkan dunia dambaan itu.

Semuanya itu menjadi lebih jelas, jika kita membandingkan mazmur ini dengan mazmur sebelumnya. Kedua mazmur ini merupakan mazmur akrostik, di mana setiap baris (setengah ayat, kecuali aa.9-10 yang mengandung tiga baris masing-masing) dimulai dengan huruf abjad Ibrani berturut-turut. Kesamaan itu menunjukkan bahwa kedua mazmur dikarang bersamaan. Jika demikian, Mazmur 111 menempatkan Mazmur 112 dalam konteks perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan yang juga “disukai” (111:2). Tuhan membuat perjanjian dengan Israel (111:5) dan memberi mereka rezeki (111:5), tanah (111:6) dan hukum yang adil dan benar (111:7). Takut akan Tuhan berarti takut akan Tuhan yang telah melakukan hal-hal ini (111:10). Dalam kedua mazmur ini, jalan hikmat berdasarkan Kisah Agung: apa yang telah dilakukan Allah, sehingga kita dapat meyakini apa yang sedang dan akan Dia lakukan.

Perjanjian Allah menciptakan relasi yang kuat antara Tuhan dengan umat-Nya, dan hal itu mendapat pemaknaan dalam dari perbandingan kedua mazmur ini. 111:2-4 menyampaikan kebajikan Tuhan, sama seperti 112:2-4 menyampaikan kebajikan orang yang diberkati. (“Keadilannya tetap untuk selamanya” dalam 111:3 adalah sama dalam bahasa aslinya dengan “kebajikannya tetap untuk selamanya” dalam 112:3.) A.4 masing-masing berakhir dengan “pengasih dan penyayang”, suatu kombinasi kata yang selalu merujuk pada Allah kecuali dalam Mzm 112 ini. Kemurahan hati orang dalam 112:5 mirip dengan kemurahan hati Allah dalam 111:5. Silakan, cari kesejajaran yang lain. Intinya bahwa orang yang berbahagia dalam Mzm 112 adalah orang yang sedang menjadi seperti Tuhan yang dia takuti, Tuhan yang telah menyelamatkan dan sedang memelihara dia.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur 112 mau memberi dorongan bagi pembaca untuk memuji Tuhan, dengan mencintai dan menerapkan perintah-perintah Tuhan yang menunjukkan bagaimana menikmati keselamatan Allah yang diuraikan dalam Mzm 111. Dengan demikian, dia akan menjadi terang dan berkat bagi masyarakat, termasuk orang miskin dan orang benar.

Makna

Yang belum terlalu jelas dalam penguraian di atas ialah masa depan “dunia dambaan Allah”. Aa.2-4 pasti benar, tetapi seringkali tidak nyata. Bahkan, jika kita menerima ayat-ayat ini dengan terlalu kaku, Yesus dan Paulus tidak termasuk orang yang berbahagia, karena mereka mati tanpa keturunan dan harta, dan kabar celaka justru bermuara pada celaka, dalam bentuk salib bagi Yesus, dan dalam bentuk banyak penganiayaan bagi Paulus. Memang, dalam Mazmur 112 sendiri ada petunjuk bahwa tidak semua orang senang dengan orang yang takut akan Tuhan, tidak semua orang mendambakan dunia dambaan Tuhan. Tetapi bagi Yesus dan Paulus, hal itu menjadi prinsip. Kita berbahagia ketika dianiaya (Mt 5:10-12); kita akan menderita bersama-sama dengan Kristus sebelum dibangkitkan bersama-sama dengan Kristus (Rom 8:17). Bukankah itu realita dunia sekarang?

Apakah dengan demikian, harapan dalam Mzm 112 itu ditiadakan dalam PB? Sama sekali tidak. Harapan itu dimaknai ulang. Ketika Kristus datang, “dunia yang dibayangkan” itu terwujud dalam kasih dan kuasa-Nya kepada orang yang berdosa, terpinggir dan tersesat. Kita menyukai perintah-perintah Yesus untuk mengampuni, berdoa untuk musuh dsb karena perwujudannya dalam kehidupan Yesus begitu indah. Kita mau menjadi sumber berkat dan terang bagi sesama. Dan dari mazmur ini, kita bisa yakin bahwa hal itu akan terwujud dalam dua tahap. Pembagian berkat, peneguhan nama, kasih, keteguhan, itu semuanya kita miliki dan terapkan sekarang dengan kuasa Roh Kudus. Harta dan kekayaan mungkin juga ada, dalam artian rohani, tetapi dalam dunia baru semuanya akan terwujud seluruhnya. Kebangkitan Yesus menjamin kedatangan-Nya kembali untuk mewujudkan kebenaran dan keadilan, dunia dambaan Allah, sehingga jerih payah kita sekarang tidaklah sia-sia.

Jadi, mazmur ini didasarkan pada apa yang telah dan sedang dilakukan Allah, pada saat itu bagi Israel, lebih lagi bagi kita sekarang dalam Yesus Kristus. Dan mazmur itu tetap relevan karena apa yang akan dilakukan Allah, yaitu mewujudkan kebenaran dan keadilan dalam dunia baru.

Semoga kita tidak hanya mengandalkan pemeliharaan Allah tetapi tetap menjadi terang bagi orang benar, pengasih dan penyayang seperti Yesus Kristus sendiri.


Mt 26:69-75 Gagal karena belum mengenal Yesus (1 Apr 2012) [Sengsara VII]

Maret 30, 2012

Banyak perikop Alkitab menyampaikan cerita yang menarik perhatian karena di dalamnya kita melihat seorang tokoh dalam pergumulan hidup. Perikop ini termasuk salah satunya. Namun, adalah salah jika kita hanya berfokus pada orangnya sendiri, sehingga kita sampai pada moralisme yang tidak salah tetapi agak dangkal, “jangan menjadi pengecut”, “jangan berdusta”; dangkal karena Allah menjadi mubazir dalam pesan khotbah seperti itu. Tokoh-tokoh Alkitab selalu bertindak dalam konteks lebih luas, yaitu, apa yang dilakukan Allah dalam dunia. Dalam rangka itulah berhasil tidaknya iman mereka harus diukur, dan dalam rangka itulah kita dapat belajar dari tokoh-tokoh tentang iman kita.

Penggalian Teks

Perikop tentang Petrus ini sebenarnya mulai dari a.58. Berbeda dari murid-murid yang lain, Petrus tetap mengikuti Yesus sampai ke halaman Imam Besar, sesuai dengan janjinya dalam a.33 (“Biarpun mereka semua tergoncang…aku sekali-kali tidak”). Matius mengatakan bahwa dia ke sana “untuk melihat kesudahan perkara itu”. Istilah “kesudahan” (telos = akhir atau tujuan) menarik karena dalam 24:14 Yesus telah berkata, “orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Hal itu dikatakan dalam konteks perjuangan akhir zaman, tetapi para penulis Injil melihat pengadilan dan penyaliban Yesus sebagai peristiwa pertama dalam rangka perjuangan itu, di mana perlawanan terhadap Allah menimbulkan aniaya dan penderitaan bagi orang-orang yang setia.

Dalam aa.59-68 kita melihat cara Yesus menghadapi penganiayaan, kemudian dalam perikop ini cara Petrus. Kedua peristiwa ini berjalan agak sejajar. Yesus diminta jawaban terhadap kesaksian palsu tetapi diam (aa.62-63). Petrus diperhadapkan dengan pernyataan yang benar tetapi menjawab dengan berdusta (a.70). Kemudian, Yesus diminta dengan sumpah untuk menjawab sebuah tuduhan yang benar, bahwa Dia adalah Mesias. Pada saat itulah Dia menyampaikan kesaksian yang kuat tentang diri-Nya (a.64). Sedangkan Petrus, dia sendiri yang bersumpah, untuk menguatkan dustanya sendiri (a.74). Dengan demikian, kita melihat bagaimana Yesus bertahan sampai kesudahannya, sedangkan Petrus tidak.

Hasilnya penting diamati. Yesus disalibkan. Ketakutan Petrus bukan tidak beralasan. Petrus tetap aman, hanya, ternyata hatinya hancur. Hanya setelah kebangkitan Yesus serta penerimaan-Nya yang menyiratkan pengampunan (28:7, 16-20), maka Petrus serta murid-murid yang lain menjadi siap menghadapi tantangan zaman.

Maksud bagi Pembaca

Matius memperbandingkan kesetiaan Yesus dengan kegagalan Petrus supaya pembaca Injil tidak mengandalkan antusiasme sendiri tetapi belajar dari perspektif Yesus, yang melihat sampai ke kesudahannya, yaitu penggenapan rencana Allah melalui karya Yesus sendiri. Yesus bertahan karena Dia menangkap maksud Allah yang melampaui apa yang kelihatan; Petrus gagal karena dia belum menangkap hal itu.

Makna

Petrus adalah yang paling berani dari para murid. Pengingkaran janjinya muncul bukan karena dia adalah seorang pembohong, melainkan karena dia tidak mengerti dunia seperti digambarkan Yesus dalam pp.24-25, yaitu bahwa dunia sangat melawan Allah, tetapi Allah akan menang. Karena dia belum memahami dunia, dia menganggap bahwa keberanian itu cukup. Itulah salahnya moralisme. Biar banyak mengucapkan kata “dengan kuasa Roh Kudus”, seorang moralis menganggap bahwa pada dasarnya manusia sanggup melakukan kebenaran, dan tinggal diingatkan untuk melakukannya. Tetapi ternyata, ketika orang dengan niat baik masuk ke dalam tempat kerja, mereka setengah mati mempertahankan kebenaran; ketika orang dengan semangat tinggi menjadi pimpinan lembaga-lembaga masyarakat, yang semuanya adalah pemberian Allah, yang sekaligus diilhami oleh Iblis karena diisi dengan manusia berdosa (bdk. Ef 2:1-3), mereka setengah mati menerapkan keadilan; ketika masyarakat dan budaya mengecam iman kepada Yesus, kita setengah mati bersaksi. Itulah yang dilihat—dan dicemaskan oleh gereja—terus-menerus. Dalam sosok Petrus kita melihat bahwa hal itu tidak aneh—dunia dalam perlawanannya terhadap Allah memang kuat, tidak mungkin kita melawan dengan semangat kita saja.

Jawaban yang saya usulkan di atas, yaitu pentingnya kita menangkap apa yang dilakukan Allah, tidak berasal langsung dari perikopnya, melainkan dari tempatnya dalam cerita Injil Matius. Di sini Petrus gagal, tetapi setelah kebangkitan Yesus, dia diutus untuk menjadi pemberita Injil yang berdampak besar. Apa bedanya? Dalam Injil Matius, kematian dan kebangkitan Kristus. (Tentu, Lukas menyoroti peran Roh Kudus juga tetapi Matius tidak.) Dengan berjumpa dengan Yesus yang telah dibangkitkan, mereka mulai menangkap bahwa penderitaan karena kebenaran bukan sesuatu yang aneh, tetapi justru merupakan jalan menuju kebangkitan, bahwa kecaman manusia bukan kata akhir, karena Allah akan mengakhiri segalanya, bahwa Yesus yang tetap lemah lembut adalah sekaligus Tuhan dan Juruselamat. Dalam perikop kita, iman Petrus memang lemah. Tetapi imannya dibangun bukan dengan fokus pada dirinya sendiri, melainkan dengan melihat kebenaran tentang Kristus. Semoga perayaan Paskah membawa berkat itu bagi kita semua.


Ef 6:10-20 Kesiapan Memberitakan Injil (25 Mar 2012) [Sengsara VI/Puncak Pekan PI]

Maret 23, 2012

Perikop ini merupakan kesimpulan penguraian Paulus kepada jemaat-jemaat di kawasan Efesus. Jika pada umumnya konteks penting diperhatikan, dalam perikop ini setiap kalimat merujuk pada hal-hal yang telah dibahas dalam surat ini. Makanya, ada banyak ayat rujukan yang, jika dibaca, dapat memperjelas maksud Paulus. Saya memberi fokus pada satu nas, yaitu a.15, cocok dengan tema Pekabaran Injil dalam Gereja Toraja.

Penggalian Teks

Bahwa perikop ini adalah kesimpulan dilihat dalam kata awal, “akhirnya”. Aa.10-12 menyampaikan bahwa kita berada dalam sebuah perjuangan. Apa perjuangan itu? Ternyata bukan melawan manusia melainkan “pemerintah-pemerintah” dsb. Kata “pemerintah”, “penguasa” dan “penghulu dunia” biasanya dipakai untuk pemerintah dan lembaga-lembaga yang lain yang berpengaruh dalam masyarakat. Tetapi dalam a.11, Paulus berbicara tentang tipu muslihat Iblis. Hubungannya dapat dilihat dalam 2:2. Iblis bekerja melalui kehidupan “orang-orang durhaka”. Lembaga-lembaga duniawi adalah pemberian Allah untuk kebaikan kita (bdk. Rom 13), tetapi karena terdiri atas manusia, selalu terpengaruh oleh kuasa jahat. Hal itu jelas ketika kita melihat pemimpin yang baik tetap tidak berdaya untuk membersihkan pemerintahannya sendiri. Jadi, kita melawan bukan oknum-oknum melainkan kejahatan yang tersistem karena kepentingan manusia yang diilhami kuasa Iblis. Dilihat demikan, adalah jelas mengapa kita tidak bisa berhasil dalam kuasa sendiri.

Jika perjuangan itu melawan kuasa Iblis, apa tujuannya? Dalam 1:10 Paulus memberitahu rencana Allah untuk “mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu”. Kita menjadi bagian dari rencana itu dengan percaya pada berita Injil (1:13) sehingga dimeteraikan di dalam Kristus oleh Roh Kudus (1:14). Dengan demikian, ada kuasa kebangkitan Kristus yang bekerja di dalam kita yang memegang harapan di dalam Kristus (1:18-21). Halangan untuk rencana itu adalah dosa, dosa karena dunia, Iblis dan hawa nafsu sendiri (2:1-3). Tetapi Kristus telah menyelamatkan kita oleh kasih karunia (2:8), sehingga kita diperdamaikan dengan Allah dan seorang dengan yang lain (2:11-22). Dengan Kristus diberitakan, hikmat Allah diperlihatkan kepada penguasa-penguasa dalam jemaat sebagai hasil penginjilan (3:10). Oleh karena semuanya itu, Paulus berdoa supaya mereka dikuatkan dengan mengenal kasih Kristus (3:14-21), kemudian memberitahu bagaimana hidup sebagai tubuh, hidup jujur sesuai kebenaran di dalam Kristus (p.4:25), dan berjuang terhadap kegelapan (p.5).

Jadi, seluruh surat berbicara tentang Injil dan implikasinya, sehingga tidak kebetulan jika perlengkapan senjata dalam aa.13-17 menyangkut Injil: kebenaran, keadilan, Injil, iman, keselamatan, dan firman Allah. Kita berperan di dalam rencana Allah dengan senjata Allah sendiri; kita melawan semangat Iblis yang muncul melalui hawa nafsu pribadi dan kepentingan sosial/politik, dengan cara Allah sendiri melawannya, yakni, dengan Kristus sebagai pusat.

Dari segi penyusunan kalimat dalam bahasa aslinya, ada dua kata kerja utama yang menyangkut perlengkapan senjata Allah itu. Yang pertama adalah “berdirilah” (a.14). Pada perintah ini tergantung empat partisip: berikatpinggangkan, berbajuzirahkan, berkasutkan dan pergunakan. Ketiga kata kerja yang berbentuk “ber…kan” menyangkut tiga pakaian yang dikenakan pada dirinya sendiri (makanya bentuknya aoris midel, antara aktif dan pasif), atau dengan kata lain, sifat orang. Mengatakan apa yang benar (LAI “kebenaran” = aletheia, dipakai dalam 4:25) dan melakukan apa yang benar (LAI “keadilan” = dikaiosune, biasanya diterjemahkan “kebenaran”) menjadi dasar untuk kesiapan (LAI “kerelaan”, tetapi kata hetoimasia menyangkut persiapan atau perlengkapan, bukan sekadar kerelaan) pergi memberitakan Injil (a.15). Tetapi sifat-sifat itu akan percuma kecuali dengan iman kita menangkis godaan-godaan Iblis, seringkali dalam bentuk tuduhan dan keraguan yang merongrong semangat dan fokus.

Kata kerja kedua adalah “terimalah” (a.16). Keselamatan (bdk. 2:8) dan firman Allah (bkd. 3:3-5) bukanlah sifat kita melainkan pemberian dari Allah. Keselamatan kita tidak bergantung pada keberhasilan kita dalam perjuangan ini; rencana Allah juga tidak bergantung pada keberhasilan kita. Namun, jika kita percaya kepada Kristus, kita menjadi sasaran Iblis—apakah dalam bentuk hawa nafsu yang tidak mau diam, atau kepentingan politik/sosial yang terancam oleh kebenaran di dalam Kristus. Tanpa keyakinan tentang keselamatan dalam Kristus, kita akan rentan. Akhirnya, senjata kita adalah firman Allah—bukan koneksi politik, bukan uang, bukan kedudukan dalam masyarakat. Senjata ini mulai dengan kebenaran dan berakhir dengan sumber kebenaran, yaitu firman Allah.

Adalah cocok bahwa kesimpulan yang mulai dengan seruan untuk kuat di dalam Tuhan berakhir dengan seruan untuk berdoa (aa.18-20). Allah melibatkan manusia dalam rencana-Nya untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus, dengan memakai mulut manusia untuk memberitakan Injil. Tidak semua dapat pergi, tetapi semua dapat berdoa. Doa di sini bukan manusia membujuk Allah untuk memajukan kepentingan manusia, melainkan manusia bekerja sama dengan Allah untuk memajukan kepentingan Allah, baik dalam pertumbuhan gereja (a.18 “untuk segala orang Kudus”) maupun untuk para penginjil (aa.19-20). Tentu, maksud saya adalah kepentingan manusia yang diilhami Iblis (hawa nafsu, dunia), karena dalam Kristus kepentingan manusia yang sejati justru ditemukan.

Maksud bagi Pembaca

Dalam konteks rencana Allah untuk segala sesuatu, yakni dipersatukan di dalam Kristus, Paulus menyampaikan gambaran yang mencolok tentang peran kita. Iblis melawan rencana Allah, dan mau tidak mau kita terlibat. Dibungkus kekuatan Allah dan doa, diperlengkapi dengan implikasi-implikasi Injil, kita akan dimampukan untuk terlibat dengan baik dalam kemajuan rencana Allah itu dengan memberitakan Kristus, walaupun diganggu terus-menerus oleh tipu muslihat Iblis.

Makna

Satu latar belakang untuk a.15 adalah Yes 52:7. Yesaya membayangkan seorang pembawa berita yang memberitakan bahwa Allah itu Raja, karena Israel akan segera kembali dari pembuangan. Pembuangan Israel itu karena dosa, dan PB memahami bahwa semua dosa adalah pembuangan, penjauhan dari Allah. Yesus sendiri merujuk pada nas ini ketika Dia memberitakan bahwa Kerajaan Allah itu dekat. Efesus 2 yang dibahas tadi menunjukkan bagaimana Allah telah mengalahkan dosa sehingga Kerajaan Allah sedang diwujudkan di dalam Kristus.

Jadi, “kerelaan [kesiapan] untuk memberitakan Injil” menyangkut dua hal. Yang pertama ialah hidup yang telah diubah oleh Injil sehingga dicirikan oleh perkataan dan tingkah laku yang benar, seperti dibahas di atas. Yang kedua adalah hati yang menganggap berita itu indah, seperti dalam Yes 52:7.

Satu aspek lagi dalam rangka kesiapan adalah kemampuan untuk menjelaskan Injil. Terlalu banyak orang terbatas pada kesaksian hidup karena tidak sanggup menguraikan iman mereka, dan jika demikian, ada kemungkinan bahwa kesaksian hidup mereka juga tidak terlalu jelas. Satu jawaban terhadap masalah itu ialah program pembinaan seperti Kambium, yang sedang dikembangkan di kalangan Gereja Toraja.


Yes 1:15-20 “Pertobatan yang sejati” (4 Mar 2012) [Sengsara III]

Februari 29, 2012

Pernah ada anjing yang dengan bangga membawa hasil buruannya kepada pemiliknya. Jika hasilnya berupa tikus mati belum tentu pemiliknya senang! Tetapi, maklum itu anjing. Lebih sulit diterima adalah pasangan yang membeli kado bagi pasangannya untuk menutupi perselingkuhan. Kado itu akan memperparah keadaannya daripada memulihkannya. Demikianlah ibadah Israel pada masa nabi Yesaya. Persembahan dan perayaan mereka tidak dapat mengelabui Tuhan mengenai keadaan mereka yang sebenarnya.

Penggalian Teks

Dalam Yes 1:2-2:4 pesan seluruh kitab Yesaya disampaikan secara ringkas. Pesan itu dimulai dengan sebuah peringatan. Yes 1:2-9 merujuk pada sebuah peristiwa (kemungkinan penyerangan Sanherib pada tahun 701sM yang diceritakan dalam pp.36-37) di mana Yerusalem nyaris hancur. Nasib Yerusalem hampir seperti Sodom dan Gomora (a.9), dan aa.10-20 menasihati umat Israel yang sifatnya ternyata sama dengan Sodom dan Gomora (a.10). Kemudian, rencana Allah disampaikan, yakni pemurnian Sion melalui hukuman (aa.21-31) sampai terwujudlah keadaan baru (keselamatan eskatologis) yang digambarkan dalam 2:1-4. Keselamatan itu yang menjadi alasan untuk bertobat (2:5).

Jadi, perikop 1:10-20 (dimulai pada a.15 karena di situlah disebutkan soal tangan berlumuran darah yang menjadi tema berdasarkan Ams 6:17) mau menyadarkan Israel akan keadaan mereka yang sesungguhnya. Aa.11-14 menyebutkan dosa Israel sedikit, tetapi yang disoroti ialah tanggapan Allah. Allah jemu dan tidak suka (a.11), jijik (a.13), benci dan payah (a.14) akan persembahan dan perayaan mereka. Mereka sepertinya rajin beragama, tetapi hal itu tidak berkenan di hadapan Allah. Justru sebaliknya, dengan menghadap kepada Allah dalam ritus, mereka membawa kejahatan mereka ke dalam hadirat-Nya. Oleh karena itu, hukuman Allah dinyatakan dalam a.15, yakni memalingkan muka-Nya.

Bagaimana semestinya respons Israel terhadap pernyataan sikap Allah itu? Aa.16-17 berbicara tentang pertobatan, mulai dengan yang paling umum sampai yang lebih konkret. Yang paling umum adalah perlunya Israel menjadi bersih. Hal itu secara prinsip berarti menjauhkan kejahatan dan memegang kebaikan. Secara konkret, keadilan yang paling hilang dalam masyarakat mereka, terutama dalam perlakuan terhadap yang tidak berdaya (yatim dan janda).

Pertobatan itu diteguhkan dengan janji dan akibat. Janji itu adalah janji anugerah: tangan mereka yang ternoda merah karena darah kekerasan dapat menjadi bersih (a.18). Janji yang mengejutkan itu merujuk pada karya Allah dalam memurnikan Sion (aa.25, 27), yang dalam keseluruhan kitab Yesaya dilaksanakan oleh Hamba Tuhan (pp.40-55, khususnya p.53). Janji itu menunjukkan bahwa masih ada kesempatan, bukannya sudah terlambat. Kemudian akibatnya disampaikan dalam aa.19-20. Berkat perjanjian Allah dengan Israel (bnd. Ul 28:1-14) diwakili oleh memakan hasil baik dari negeri perjanjian (a.19), sedangkan kutuk perjanjian (bnd. Ul 28:14dst) diwakili oleh dimakan pedang (a.20). Dalam konteks Yes 1:2-2:4, yang bertobatlah yang mengambil bagian dalam keselamatan eskatologis (2:1-4).

Maksud bagi Pembaca

Tujuan pemberitaan Yesaya pada saatnya adalah menawarkan pertobatan kepada Israel supaya bangsa Israel dapat hidup dan tidak mati dihukum pembuangan. Nubuatan Yesaya mulai diterima luas sebagai firman Tuhan ketika hukuman Allah memang terjadi, lebih dari 100 tahun kemudian (Yesaya bernubuat pada paruh kedua abad ke-7 SM, Yerusalem dihancurkan 587 SM). Perikop ini tetap berfungsi untuk menjelaskan pertobatan yang sejati sehingga kita bisa terlibat dalam rencana keselamatan Allah, bukan disingkirkan sebagai timah (a.25).

Makna

Tahap Israel dan kita dalam rencana keselamatan Allah itu tidak sama. Israel adalah bangsa di sebuah tempat tertentu, dan dasar untuk pengampunan baru disimbolkan dengan kurban-kurban di Bait Allah, kenyataannya dalam Kristus belum datang. Jadi, kita perlu meninjau ulang keempat unsur pemberitaan Yesaya, yaitu: perincian dosa, pertobatan, janji pengampunan dan akibat.

Inti dari perincian dosa (aa.11-14 yang disimpulkan dalam a.15) adalah semangat dalam ritus yang tidak dibarengi dengan kebenaran dan keadilan. Hal itu menjadi masalah pada zaman Yesus, dan tetap sampai sekarang. Tangan yang penuh dengan darah tidak sekadar oknum yang melakukan kekerasan. Suharto sebagai presiden mungkin tidak pernah langsung membunuh orang, tetapi tangannya tetap penuh darah. Ayat-ayat berikut juga melihat berbagai bentuk ketidakadilan. Kita bisa membayangkan betapa Allah jijik terhadap sebuah syukuran atas hasil korupsi, betapa Dia tidak berkenan pada pelayanan dari seorang majelis atau pendeta yang suka memukuli keluarganya, betapa Dia berduka atas perayaan kaum elit yang menerapkan kebijakan yang mengalihkan hasil orang miskin kepada orang kaya.

Aa.16-17 berbicara tentang tindakan nyata sebagai wujud pertobatan. Kejahatan tidak hanya dihentikan, tetapi juga kebaikan dipelajari dan keadilan diusahakan. Ini bukan sekadar kesadaran bahwa ada yang kurang, tetapi perubahan sikap. Dulunya orang miskin/kelas bawah/perempuan atau siapa lagi yang menjadi korban kekerasan, dianggap tidak layak, sampah, ancaman dsb. Sekarang, mereka dihargai sehingga diperlakukan dengan baik. Saya tertarik dengan ucapan “belajar berbuat baik”. Seringkali pertobatan menuntut hal-hal yang baru yang harus dipelajari. Jika dulu si suami menangani frustrasi dengan kekerasan, sekarang dia harus belajar cara-cara yang lain. Jika dulu orang besar pintar memeras rakyat, dia harus belajar bagaimana memerintah untuk kepentingan bersama. Pertobatan menyiratkan merendahkan diri—bukan hanya pengakuan akan kesalahan, tetapi juga menjadi orang bodoh yang harus belajar cara yang baik, yang sekarang didambakan oleh karena perubahan sikap adalah intisari pertobatan. Alasan untuk bertobat diperdalam dalam Kristus, tetapi sifat pertobatan tidak berubah.

Pengampunan yang digambarkan dengan begitu dramatis dalam a.18 justru digenapi di dalam Kristus. Jika Allah beperkara, semestinya Israel hancur. Tetapi yang ditawarkan adalah pembenaran: bukan untuk mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah tidak terlalu buruk, tetapi untuk menyampaikan berita yang luar biasa bahwa dosa mereka yang begitu berat dapat dihapus sehingga mereka diterima oleh Allah. Itulah yang dihasilkan oleh pengorbanan Kristus, sehingga Paulus berbicara tentang pembenaran oleh iman.

Di dalam Kristus, akibat yang akan dialami Israel juga mengalami perkembangan. Berkat Allah yang dijanjikan untuk jemaat dalam Kristus adalah Roh Kudus (Gal 3:14), termasuk buah-Nya seperti kasih, sukacita, damai dsb. Itulah yang hilang dalam jemaat yang tenggelam dalam kemunafikan. Tetapi dalam konteks lebih luas, jemaat yang munafik akan kehilangan keselamatan eskatologis, sehingga tidak menikmati pengenalan akan Allah yang sudah sempurna, melainkan kehancuran kekal yang di dalamnya tidak ada berkat apapun. Kalau menjemukan Allah tidak apa-apa bagi kita, mungkin hanya ancaman begitu yang dapat menerobos kedegilan hati kita!


2 Pet 1:3-11 “Mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (5 Feb 2012)

Februari 2, 2012

Perikop ini sangat kaya, baik dalam teologinya dalam aa.3-4 dan aa.8-11, tetapi juga dalam daftar sifat-sifat manusia yang perlu dikembangkan dalam aa.5-7. Kala memberitakannya, kita bisa menjadi asyik membahas rencana Allah, atau membahas pertumbuhan karakter manusia, tetapi adalah penting bahwa keduanya mendapat tempat, karena saling mengisi. Bahkan, pada akhir bagian makna, saya mencatat bagaimana khotbah bisa beranjak dari aa.5-7 saja (cocokkah untuk jemaat yang konon berpikir praktis?), untuk menunjukkan bagaimana etika dan teologi saling menopang. Jika “buta dan picik” menggambarkan perasaan Pembaca tentang sebagian gereja sekarang, perikop ini akan membawa banyak hikmat.

Penggalian Teks

Dalam bagian salam (aa.1-2) Petrus telah menyinggung dua aspek dari para pendengar surat ini.[1] A.1 mencirikan penerima surat sebagai orang beriman. Iman adalah cara menjadi bagian dari “keadilan” Allah, yaitu, niat-Nya untuk memulihkan (sebagai “Juruselamat”) dunia ini. Hasil iman adalah “kasih karunia dan damai sejahtera” (a.2), yang dialami “oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus”. Pengenalan akan Allah dan Yesus adalah wadah yang di didalamnya kita akan mengalami anugerah dan damai sejahtera. Banyak isi dari surat ini akan membahas berbagai ancaman terhadap damai sejahtera ini dari ajaran yang sesat, tetapi dalam p.1 Petrus menyampaikan pola yang benar. Dasarnya, apa yang diimani, adalah kesaksian para rasul dan nabi-nabi (1:12-21).

Tetapi yang pertama diuraikan dalam perikop kita ialah pengenalan yang membawa kepada keselamatan. Pengenalan akan Kristus dibahas dalam aa.3-9 dalam rangka hidup yang berhasil (perhatikan bahwa kata pengenalan dipakai dalam a.3 dan a.8). Dalam aa.10-11 Petrus berfokus kembali pada tujuannya, yaitu memasuki Kerajaan kekal yang untuknya kita dipanggil. Strukturisasi itu membuat kiasmus dengan bagian salam: A) Keselamatan (a.1); B) Pengenalan (a.2); B’) Pengenalan (aa.3-9); A’) Keselamatan (aa.10-11). Tetapi ada strukturisasi yang lain yang beranjak dari kata “sungguh-sungguh” (mewakili kata dasar spoud-) dalam a.5 dan a.10, dan melihat bahwa a.4 juga menyangkut tujuan hidup: A) Pengenalan dan Panggilan (aa.3-4); B) Mengusahakan pengenalan akan Kristus (aa.5-9); C) Mengusahakan panggilan Kristus (aa.10-11). Jika Pembaca (maksudnya, Anda sebagai Pembaca blog) berusaha menangkap dan membandingkan kedua struktur ini, Pembaca akan terhindar dari tafsiran yang dangkal dan melupakan Tuhan. Aa.5-7 yang berbicara tentang pengembangan karakter terletak dalam rencana Tuhan untuk dunia. Etika berakar dalam teologi (etos dalam mitos, untuk Pembaca yang biasa dengan bahasa seperti itu).

Aa.3-4 menonjol karena istilah “ilahi”. “Kuasa ilahi” Allah/Yesus bermuara pada “bagian dalam kodrat ilahi”. Untuk menangkap maksud Petrus, kita perlu mengamati bahasanya. Dalam a.3, tujuannya “hidup yang saleh”.[2] Tujuan itu hanya dimungkinkan dengan “segala sesuatu yang berguna”, yang sumbernya adalah kuasa ilahi dan salurannya adalah pengenalan akan Allah/Yesus. Kata “pengenalan” menerjemahkan epignosis yang berarti pengetahuan yang dalam. Kesalehan kristiani terjadi bukan dengan mengetahui berbagai hal tentang Allah, tetapi dengan menjadi mengenal Allah. Bagaimana kita mengenal Allah? Karena Dia telah memanggil kita. Hal itu terjadi “oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib”. Secara harfiah, frase itu berarti “dengan/oleh kemuliaan [doxa] dan kebajikan yang mengagumkan [arete]“. Kata arete memang dapat dipakai untuk mujizat, sebagai suatu kebajikan yang mengagumkan, tetapi fokusnya tetap pada unsur kekaguman bukan kuasa. Jadi, baik kata doxa maupun arete mengarah kepada kehormatan yang melekat pada Allah/Yesus sehingga kita menerima panggilan-Nya untuk beriman kepada-Nya. Walaupun kemuliaan Allah dilihat dalam ciptaan-Nya, Petrus hampir pasti merujuk pada kemuliaan Allah sebagaimana dilihat dalam kehidupan Yesus, seperti dia ceritakan dalam 1:16-18, dan sesuai dengan tekanan pada Yesus dalam 1:1-2,[3] Yesus memungkinkan orang percaya untuk mengenal Allah secara dalam, sehingga ada kuasa ilahi yang dilepaskan dalam kehidupannya, sehingga hidup mereka tampil saleh.

Tetapi kesalehan bukan tujuan akhir bagi manusia di dalam Kristus. Dalam a.4, “dengan jalan itu”, artinya, melalui (dia + genitif) doxa dan arete Yesus itu, Allah juga menyampaikan janji-janji-Nya. Janji-janji itu juga sangat layak dihormati, karena “berharga” dan “sangat besar”. Melalui janji-janji itu, kita sampai pada mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Frase itu memakai bahasa yang lazim pada zaman itu untuk menyatakan harapan bahwa jiwa akan luput dari dunia yang kotor atau fana ini dan mencapai kesempurnaan di dunia surgawi (dipahami sebagai dunia yang di luar lingkaran bulan). Pemahaman tradisional budaya Toraja tidak jauh beda: seorang leluhur yang sudah diupacarakan dengan tepat menjadi semacam dewa sehingga menjadi sumber berkat bagi keturunannya. Tetapi maksud Petrus lain. Masalah dengan dunia bukan kefanaannya melainkan dosa, “nafsu duniawi yang membinasakan dunia”. Kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi dengan menjadi makin seperti Yesus, Allah dan Juruselamat kita. Dengan kata lain, kita tidak luput dari kemanusiaan dengan menjadi ilah, tetapi kita luput dari dosa sehingga menjadi suci. Hal itu terjadi karena di dalam Yesus kita mengenal Allah, dan dikuatkan oleh janji-janji Injil sehingga kita makin seperti Yesus.

Dalam aa.5-7 Petrus mendaftar serangkaian sifat yang akan mempraktekkan pemahaman tersebut. Iman adalah dasarnya, dan kasih adalah hasilnya. Di antaranya, Petrus menyebut kebajikan (arete kembali), yaitu, sifat-sifat yang layak dihormati, serta pengetahuan. Kedua hal itu adalah bagian dari kedewasaan umum, tetapi dibangun kembali atas dasar iman. Dengan kedua hal itu kita dimampukan menguasai diri, baik dalam menghindar dari hawa nafsu yang tidak baik, maupun dalam bertekun dalam penderitaan. Dengan demikian, kita akan menunjukkan sikap dan tingkah laku yang cocok sebagai orang yang taat kepada Allah. Di atas itu, Petrus melihat sifat utama yang mencirikan orang percaya, yaitu, kasih, dilihat dari perspektif kasih di dalam persekutuan, dan kasih akan semua orang (“akan semua orang” adalah tambahan dari LAI, tetapi cocok dalam konteksnya). Perlu diingat bahwa daftar ini tidak berdiri sendiri, tetapi terdapat dalam pembahasan tentang kuasa ilahi dan janji sebagai sumber dan dasar iman.

Aa.8-9 memberi motivatsi dengan menawarkan dua akibat, yaitu berhasil dalam pengenalan akan Yesus Kristus, atau menjadi buta dan picik. Frase “dengan berlimpah-limpah” merujuk pada aa.5-7 sebagai proses. Sifat-sifat itu tidak jadi dengan tiba-tiba, dan juga tidak jadi satu per satu, tetapi akan berkembang bersama. Karena selalu berkembang, kita selalu segar dalam hidup beriman kita. Pengenalan akan Yesus tidak mandek, tetapi mengalir ke dalam seluruh kehidupan dan relasi kita. Alternatifnya buta dan picik. Dari akhir a.9, adalah jelas bahwa Petrus tidak melihat keselamatan itu bergantung pada keberhasilan dalam pertumbuhan, karena dosanya tetap dihapuskan. Hanya, dia melihat kehidupan yang picik itu sebagai akibat bahwa penghapusan itu tidak diingat dan tidak menjadi landasan kehidupan seseorang. Kembali kita melihat bahwa bagi Petrus, sumber perubahan hidup adalah anugerah Allah, usaha manusia adalah respons belaka.

Aa.10-11 melihat lebih luas, yaitu pada rencana keselamatan Allah. Usaha dalam aa.5-7 akan membuat panggilan dan pilihan Allah akan kita makin teguh–bukan bagi Allah, melainkan bagi kita sendiri, karena perubahan hidup sudah nyata. Kita akan kurang rentan digoyang oleh pencobaan dan tantangan. Terjemahan a.11 agak sulit. Kata kerja utama yang diterjemahkan “dikaruniakan” (epikhoregeo) adalah sama dengan kata kerja yang diterjemahkan “menambahkan” dalam a.5. Kata itu dipakai untuk pemberian, khususnya dalam rangka membekali atau membiayai. Dalam a.5, iman ibarat rumah yang masih kosong yang harus dibekali dengan berbagai sifat yang lain. Dalam a.11, yang dibekali adalah kita, dan kita dibekali dengan hak memasuki Kerajaan kekal. Hak di sini berarti izin yang dikaruniakan, bukan hak karena layak secara hukum. Bekal yang kita tambahkan pada iman kita dibalas dengan bekal untuk masuk ke surga, bukan sebagai upah tetapi karena Kerajaan itu makin menjadi kerinduan dan tujuan kita.

Maksud bagi Pembaca

Di hadapan berbagai tantangan, termasuk ajaran sesat, Petrus mau mempersiapkan para penerima surat supaya mereka mengambil bagian yang berguna dalam rencana keselamatan Allah. Pengenalan akan Kristus yang mulia memungkinkan kuasa Allah mengubah kehidupan kita sehingga usaha yang tepat dalam perkembangan karakter berhasil, dan kita mencapai Kerajaan Kristus tanpa hambatan. Jadi, hasil yang diharapkan Petrus adalah perkembangan karakter. Untuk memotivasi tujuan itu, dia menjelaskan 1) bekal Allah berupa kuasa dan janji-janji; lalu 2) akibat, yakni: a) akibat sementara, berbuah atau picik, dan b) akibat kekal, tersandung atau masuk Kerajaan Tuhan dengan lancar.

Makna

Satu analisis dari lemahnya gereja di daerah seperti Toraja adalah bahwa etos budaya yang ditopang dengan kuat oleh mitos lama telah runtuh karena mitosnya runtuh, tetapi etos baru yang berakar dalam Injil belum menghasilkan etos budaya yang baru. Dulunya, konon, orang Toraja rata-rata saleh, patuh terhadap nilai-nilai yang dilindungi oleh adat dan tabu (aluk sola pemali). Kedatangan kekristenan serta modernisasi merongrong kepercayaan lama, sehingga banyak tabu dan nilai lama tidak lagi kuat, tetapi Injil belum ditangkap dengan jelas untuk menopang nilai-nilai baru (yang dalam banyak hal akan mirip dengan nilai lama, hanya memang akan lebih fleksibel untuk dunia modern).

Makanya, saya tertarik untuk melihat sejauh mana aa.5-7 dapat dikaitkan dengan Injil. Ayat-ayat itu jelas terletak dalam konteks Injil, tetapi sejauh mana sifat-sifat itu masing-masing dapat dilihat berakar dalam Injil? Yang saya temukan, seluruh perikop dapat disampaikan beranjak dari ayat-ayat ini. Yang pertama, iman, jelas berarti iman kepada Kristus. Iman adalah respons kita terhadap panggilan Allah (a.3), dan aa.5-7 menunjukkan bagaimana caranya panggilan Allah dapat diteguhkan (a.10). Kebajikan kita akan mencontoh kebajikan (arete) Yesus yang dipakai Allah untuk menarik kita kepada Kristus; kita mau menjadi seperti Kristus yang mulia itu (a.3). Pengetahuan jelas termasuk pengetahuan akan Injil Kristus; bagaimana mengenal Kristus (aa.3, 8) jika pengetahuan isi Alkitab sangat minim? Penguasaan diri jelas menjadi lebih menantang dalam iman kepada Kristus ketimbang budaya Yunani pada umumnya ataupun budaya lama Toraja, karena motivasi dan pikiran juga harus dikendalikan, bukan hanya tindakan dan perasaan yang meluap. Tetapi karena anugerah Allah dalam penghapusan dosa, dan dengan memandang kemuliaan Kristus, hawa nafsu duniawi tidak lagi terasa cocok, sehingga kuasa ilahi dicari untuk membangun keserupaan dengan Kristus dan luput dari hawa nafsu duniawi (a.4). Ketaatan kepada Allah juga menjadikan ketekunan lebih sering diperlukan. Namun, janji Allah (a.4) membuat ketekunan masuk akal, karena ada harapan yang mulia, yakni, bergabung dengan Kristus dalam Kerajaan-Nya (a.11). Hal-hal itu memungkinkan hidup yang saleh (a.3), karena kita tidak mudah terpeleset oleh nafsu dari dalam atau tekanan dari luar. Tetapi, kesalehan bukan hal terakhir. Di dalam kasih kita berbagi dalam kodrat ilahi dengan menjadi serupa dengan Kristus. Dari seluruh perikop, tinggal dijelaskan bahwa semua sifat-sifat ini adalah pemberian kuasa ilahi (a.3), dan akibatnya jika sifat-sifat ini diusahakan atau tidak (aa.8-11).

Satu pintu masuk untuk membicarakan soal itu adalah soal kemuliaan dalam a.3. Sebagian warga jemaat sangat asyik dengan kesemarakan upacara orang mati, jauh lebih asyik daripada Yesus yang mulia dan layak dikagumi. Sebagian yang lain asyik dengan harta benda, sebagian pemuda asyik dengan menjadi “keren”, dsb. Pokoknya, apa yang kita kagumi, yang kita anggap mengasyikkan, yang membuat hidup kita berarti dan tidak tawar, bagi Petrus adalah pertama-tama Yesus.

Melangkah lebih jauh dari maksud perikop, menarik untuk mengamati bahwa Petrus juga berpikir secara Tritunggal, jika “kuasa ilahi” merujuk pada kuasa Roh Kudus. Allah adalah sumber, pengenalan akan Yesus adalah sarana, dan Roh yang bekerja di tengah usaha kita. Kita juga dapat melihat ketiga “kebajikan teologis” di sini, yakni, iman, kasih dan pengharapan. Di sini pengharapan (aa.3, 11) adalah kerangka yang di dalamnya iman (a.5) bekerja dalam kasih (a.7).

[1] Ingat bahwa hanya segelintir orang yang dapat membaca, sebagian besar jemaat akan mendengarkan surat ini dibacakan dalam perkumpulan.

[2] Kesalehan (eusebeia) pada dasarnya menggambarkan sikap religius seperti terdapat dalam agama Yunani tradisional, dan juga agama/adat tradisional orang Toraja, yaitu, ketaatan yang teliti terhadap ritus dan tabu karena menghargai kuasa ilahi. Kata itu jarang ditemukan dalam terjemahan Yunani dari PL, karena kepada Allah yang esa penyerahan seluruh diri dituntut, bukan sekadar ketaatan terhadap berbagai aturan. Namun, dalam surat-surat Penggembalaan (1 Timotius – Titus) dan surat 2 Petrus, kata itu dipakai untuk menegaskan bahwa iman yang sejati akan kelihatan dalam tingkah laku. Iman kepada Kristus semestinya lebih efektif daripada keyakinan yang lain.

[3] A.1 adalah salah satu dari hanya beberapa ayat yang langsung menggelari Yesus “Allah” (theos). A.2 memakai pola yang lebih biasa, yaitu membedakan oknum Allah (theos) dengan Yesus sebagai Tuhan (kurios). Jadi, rujukan “Nya” dan “Dia” dalam a.3 bisa Allah atau Yesus. Ingat bahwa kurios dan theos bukanlah sinonim seperti Allah dan Tuhan. Theos adalah jenis–oknum yang ilahi, sedangkan kurios adalah jabatan, tuan atau yang dipertuan. Bahwa a.1 langsung menggelari Yesus sebagai Allah diperdebatkan, tetapi penyusunan kalimat persis sama dengan a.11 yang jelas hanya merujuk pada satu oknum, Yesus Kristus.


Fil 3:1-16 Supaya Memperoleh Kristus (22 Januari 2012)

Januari 20, 2012

Kesaksian Paulus dalam perikop ini luar biasa, dan bentuknya menantang dua kesalahan umum dalam menafsir. Kesalahan pertama mencari kebenaran teologis yang kemudian menjadi rumusan umum, padahal kita melihat bahwa dampaknya sangat besar pada seluruh hidup Paulus. Kesalahan kedua terbalik. Kebenaran teologis dianggap kulit saja, yang penting adalah suatu pengalaman iman. Tetapi pengalaman Paulus adalah berjumpa dengan Kristus yang sungguh telah bangkit, sehingga dia diterima (dibenarkan) dengan cuma-cuma, dan mengikuti pola hidup yang terpola oleh kematian dan kebangkitan-Nya. Teologi Alkitabiah semestinya begitu. Kita memang mau menarik kebenaran teologis dari perikop ini, bukan hanya pengalaman pribadi Paulus. Tetapi kebenaran itu hanya berguna bila kita juga mau memperoleh Kristus yang lebih mulia daripada segalanya.

Penggalian Teks

Setelah bercerita tentang Injil, dalam 3:1 Paulus memulai nasihatnya dengan seruan untuk bersukacita. Hal itu dilanjutkan dalam 4:1, setelah penguraian p.3. Oleh karena itu, pasal ini dapat memberi kesan sebagai interupsi. Hanya, penjelasannya begitu jelas tentang pembenaran dan tujuan hidup sehingga anjuran untuk bersukacita justru terasa lebih berdasar.

Dalam p.3 ini Paulus menanggapi kelompok yang dia sebut sebagai “penyunat palsu” (2). Kata yang dia pakai, katatome (pemotongan sampai hancur), merupakan sindiran terhadap kata peritome, sunat. Mereka memotong daging, tetapi menghancurkan orangnya. (Tidak disepakati antara para pakar, dan tidak terlalu penting, apakah kelompok ini adalah orang Yahudi yang melawan Injil seperti dalam 1 Tes 2:15, atau orang Kristen yang mau memaksakan sunat kepada orang-orang non-Yahudi seperti dalam kitab Galatia.) Paulus langsung membandingkan mereka dengan jemaat (3). Jemaatlah yang layak menyandang berbagai sifat yang mencirikan umat Allah. Jemaatlah yang disunat dalam hati (Rom 2:28-29), yang didiami oleh Roh Kudus sehingga merupakan Bait Allah (tempat ibadah) yang sebenarnya, yang bermegah bukan dalam hal-hal lahiriah seperti sunat dan tidak makan daging babi, melainkan dalam Kristus.

Dalam aa.18-21 Paulus akan kembali membandingkan kedua kelompok ini secara lebih dalam, setelah dalam aa.4-16 dia menyampaikan kesaksian hidupnya untuk diperhatikan (17). Kesaksian itu disampaikan dalam tiga tahap. Aa.4-6 menceritakan hidupnya yang dahulu dalam hukum Taurat, aa.7-10 perubahan setelah berjumpa dengan Kristus, dan aa.12-16 sikap melihat ke depan karena Kristus itu.

Dalam aa.4-6 Paulus mendaftar berbagai hal yang menjadi andalan untuk membuktikan keanggotaan dalam umat Allah. “Hal-hal lahiriah” menerjemahkan kata sarx yang berarti daging, di sini dalam artian apa yang kelihatan di depan semua (bdk. 1 Sam 16:7). Di sini sunat dan keturunan adalah langsung soal daging, tetapi keanggotaan dalam sekte Farisi juga merupakan sesuatu yang jelas dapat diandalkan sebagai bukti bahwa dia adalah bagian dari umat yang berkenan di hadapan Allah. Lebih lagi, Paulus membuktikan sikapnya terhadap Allah dengan menganiaya jemaat. “Kegiatan” menerjemahkan kata zelos yang menunjukkan suatu perasaan yang sangat kuat terhadap sesuatu, bisa rasa cemburu atau minat dan perhatian. Pinehas yang menjadi contoh utama zelos itu, ketika ia membunuh orang yang sedang berdosa sehingga rasa cemburu (zelos) Allah terhadap umat Israel yang sedang mengamuk itu berhenti (Bil 25:11). Paulus juga konsekuen, sama seperti Pinehas. Menganiaya orang harus tega, tetapi demi hormat Allah Paulus berani. Bahkan, dalam segala sesuatu Paulus pra-Kristus merasa menaati Hukum Taurat tanpa cacat. Hal itu tidak berarti bahwa dia merasa tidak pernah berdosa, hanya bahwa dia konsekuen dalam memperhatikan aturan-aturan Hukum Taurat, mempersembahkan kurban jika ada dosanya, dan mendapat bagian dalam penghapusan dosa umum pada Hari Pendamaian (Imamat 16). Ringkasnya, kelayakannya sebagai anggota umat Allah jelas di depan Allah maupun manusia.

A.7 mulai dengan kata “tetapi”, yang diulang dengan lebih keras pada awal a.8 (“tetapi sebaliknya”, LAI “malahan”). A.7 menyatakan intinya, perubahan sikap terhadap keuntungan lama karena Kristus. A.8 mempertegas semangat itu. Alasan karena Kristus diperjelas sebagai pengenalan akan Kristus. Tentu, ketika Paulus berjumpa dengan sosok yang harus disapa “Tuhan” (kurie), yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Yesus, menganiaya jemaat terungkap sebagai dosa besar. Tetapi bukan hanya dosa itu tetapi semua yang lain, yang tidak bersifat dosa, dianggap bukan hanya rugi melainkan sampah. Mengenal Kristus tidak hanya mengungkapkan kesalahannya, tetapi juga membawa sesuatu yang lebih mulia ke dalam hidupnya.

Makanya, mulai akhir a.8 sampai a.11 Paulus menjelaskan orientasi hidupnya yang baru, yaitu “supaya memperoleh Kristus” yang mulia itu. Memperoleh Kristus menyangkut pintu masuk dan proses. Pintu masuk, “berada dalam Dia”, adalah pembenaran oleh iman (9). Paulus telah meninggalkan cara lama, yaitu kebenaran yang melekat pada orangnya karena dia taat kepada Hukum Taurat, seperti Paulus pada akhir a.6. Kebenaran itu merujuk pada berbagai ciri yang nampak bagi manusia dan Allah sebagai bukti kelayakan sebagai anggota umat Allah yang diterima Allah. Tetapi sekarang kebenaran Paulus itu “karena kepercayaan kepada Kristus”, dan berasal dari Allah bagi orang yang percaya. Satu tafsiran lagi untuk “karena kepercayaan kepada Kristus” adalah “melalui kesetiaan Kristus”; tafsiran itu membuat jelas bahwa kelayakan ada bukan pada orangnya melainkan pada Kristus. Dari satu segi, pencarian Paulus tidak berubah; dia mau berkenan kepada Allah. Tetapi caranya berubah drastis. Dia menerima kebenaran itu sebagai anugerah dengan percaya kepada Kristus. Dengan demikian, semua bukti lama akan penerimaan Allah tidak lagi berarti.

Tetapi pembenaran itu hanya landasannya. Memperoleh Kristus juga berarti mengenal-Nya, dan dalam aa.10-11 kematian dan kebangkitan Kristus menjadi kerangkanya. Kebangkitan Kristus dikenal dalam bentuk kuasa dalam kehidupan Paulus. Hal itu mungkin termasuk mujizat (bdk. Gal 3:5), pasti termasuk kuasa Injil mengubah kehidupan orang (Rom 1:16), dan juga termasuk kuasa untuk bertahan dalam penderitaan (2 Kor 4:7-11). Pada titik terakhir itu persekutuan dengan Kristus mencapai titik paling kenal (10). Melalui kuasa yang dialami dalam kesusahan, Paulus menjadi serupa dengan kematian Kristus, artinya, Paulus menjadi sosok yang mencari kemuliaan melalui kerendahan (2:6-11) dan kuasa dalam kelemahan (2 Kor 12:9). Dengan demikian, Paulus akan ikut dibangkitkan (11). Dalam aa.20-21 menjadi jelas bahwa kebangkitan itu menjadi puncak kemuliaan dan persekutuan dengan Kristus.

Dalam aa.12-14 Paulus menjelaskan sikapnya terhadap tujuan yang mulia itu. Karena dasarnya adalah anugerah, “aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (12), Paulus tidak pusing dengan kekurangan masa lampau, tetapi tetap mengejar pengenalan akan Kristus itu, yang disebut sebagai panggilan sorgawi karena Kristus ada di sorga dan akan datang dari sana pada saat kebangkitan (21). Dalam aa.15-16 Paulus menerima perbedaan tingkat kedewasaan (“sempurna” berarti dewasa dalam konteks a.15). Yang penting bukan apa yang telah tercapai (itulah cara hukum) melainkan arah hidup yang ingin mengenal Kristus.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Filipi tidak mundur dengan jatuh ke dalam cara kebenaran diri sendiri melainkan maju di dalam pengenalan akan Kristus. Orang di Filipi diperhadapkan dengan Taurat sebagai cara untuk mamasang hal-hal lahiriah sebagai bukti nyata dari status sebagai anggota umat Allah. Reformasi melihat bahwa hal-hal gerejawi dapat berfungsi demikian juga. Orang mengandalkan status sebagai pastor atau biarawan, persembahan yang dianggap membeli pengurangan waktu di api penyucian untuk yang telah meninggal, atau kehadiran dalam ritus-ritus seperti misa, sebagai hal-hal nyata untuk membuktikan kelayakan sebagai anggota jemaat. Tetapi gereja-gereja reformatoris tidak luput dari masalah itu. Begitu sebuah gereja menjadi mapan, orang akan mencari hal-hal nyata yang menjadi andalan sebagai ganti mengenal Kristus. Hal itu selalu ada kemunduran, sedangkan Kristus yang mulia jauh lebih layak menjadi landasan dan tujuan hidup orang percaya.

Makna

Pembenaran oleh iman mengandaikan konteks pengadilan. Kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah/Kristus pada akhir zaman (Rom 14:10; 2 Kor 5:10). Dasar pengadilan itu adalah perbuatan, apakah orang mencari kemuliaan atau kepentingan diri sendiri (Rom 2:6-8). Dosa bisa berbentuk pemberhalaan (orang-orang kafir dalam Rom 1:18-25) atau kemunafikan (orang-orang Yahudi dalam Rom 2:17 dst). Pembenaran adalah keputusan “tidak bersalah” dari Hakim. Pembenaran oleh iman kepada Kristus berarti bahwa kematian Kristus yang dipercayai menjadi dasar keputusan “tidak bersalah” itu. Penting diamati bahwa selalu 3:10-11 menyusul 3:9, artinya, pembenaran dikaitkan dengan pertobatan, Yesus diterima sebagai Juruselamat dan juga sebagai Tuhan (kurios = tuan, penguasa). Tetapi perubahan hidup terjadi karena perubahan hati. Bagi Paulus, Yesus menjadi lebih mulia dari segala yang lain. Makanya, dia menerima penderitaan yang luar biasa dalam rangka pelayanan oleh karena persekutuan dengan Kristus yang ada di dalamnya.

Dalam gereja yang sudah mapan, ada banyak hal-hal lahiriah yang dapat membuat kita giat mendukung gereja itu, seperti Paulus dahulu. Kita memiliki surat baptisan dan sidi, sehingga dapat diberkati dan menerima surat nikah. Gereja Toraja (tempat saya melayani) adalah salah satu gereja suku, sehingga menjadi wadah untuk menyatakan kesukuan. Untuk warga gereja yang suka main aturan, tata gerejanya tebal dan—katanya—lebih mudah dimengerti daripada Alkitab. Kegiatan warganya memang bukan menganiaya, melainkan serangkaian kebaktian serta rapat, cukup untuk seseorang merasa bahwa dia berjasa untuk Tuhan. Di mana Kristus di dalam semuanya itu? Jika ditanya, Apakah tujuan hidup saudara adalah memperoleh Kristus?, berapa warga jemaat yang akan bingung saja? Tidak semua, puji Tuhan. Tetapi sebagai pelayan kita kadang-kadang kecolongan. Kita melihat kesibukan jemaat dan merasa puas, padahal akarnya belum tentu Kristus. (Perhatikan bahwa pola itu bukan kesalahan kemapanan gereja melainkan kesalahan orang-orang di dalamnya. Sukses selalu membawa bahaya pengandalan diri.)

Tentu, introspeksi itu harus mulai dengan diri sendiri. Dalam persiapan, saya tergelitik dengan frase “supaya memperoleh Kristus”. Dalam perikop ini, Paulus bukan teladan hidup etis melainkan teladan penerimaan anugerah yang mencetuskan tujuan baru, yaitu mengenal Kristus. Sejauh saya dapat menangkap ajaran Paulus, itulah intisari keteladanan Injili. Bukan, “lihatlah betapa baik hidup saya”, melainkan, “lihatlah betapa berharga Kristus”. Saya dapat membayangkan pengkhotbah yang mencari-cari penerapan “praktis” dari perikop ini, tetapi dampak dari perikop ini semestinya adalah penyegaran iman. Dengan demikian, banyak hal praktis akan dilakukan, tetapi atas dasar yang kokoh, yaitu karena Kristus lebih mulia dari segalanya.

Apa kemuliaan Kristus? Pertama, pengorbanan-Nya sehingga ada pembenaran oleh iman. Secara paradoks, pengorbanan itu menyangkut hal yang paling hina, yaitu mati pada salib (2:8). Tetapi, Kristus juga dibangkitkan dan diberi nama di atas segala nama (2:9). Paulus berjumpa dengan Dia dengan “tubuh-Nya yang mulia” itu (3:21). Jadi, ada dua segi, penderitaan dan kemuliaan. Pada hemat saya, hal yang paling sulit diterima dalam budaya apa pun adalah berita bahwa kedua segi itu tidak dapat dipisahkan. Yesus yang mulia sepadan dengan banyak konsep ilahi, seperti dewa pelindung atau leluhur yang menjadi ilahi dan membawa berkat. Tetapi bahwa Dia menunjukkan jalan ke sana itu melalui disalibkan—itulah yang tidak diterima banyak orang, termasuk orang Kristen. Tetapi apa lagi yang diharapkan—seperti kejujuran menghadapi korupsi, atau pelayanan yang merugikan pelayan—jika salib belum siap dipikul? Kemudian, untuk apa salib dipikul, kecuali untuk mengenal Kristus yang disalibkan itu?


Yak 4:13-17 Tuhan Sang Penentu (1 Jan 2012)

Desember 30, 2011

Manusia diciptakan untuk berada, dan ingin berada secara nyata. Namun, manusia berdosa mau berada lepas dari Penciptanya. Dengan demikian dia menjadi justru tidak berada, dilihat dari perspektif kekekalan. Sikap itu yang dicap kecongkakan dalam perikop kita.

Penggalian Teks

Perikop 4:13-16 dan 5:1-6 diawali dengan seruan “Jadilah sekarang” (age nun). Seruan yang unik dalam kitab Yakobus itu dipakai karena kedua perikop ini dialamatkan bukan kepada jemaat melainkan kepada orang kaya yang menindas jemaat (2:6). A.17 diletakkan di antara kedua perikop ini sebagai peringatan bagi mereka.

Age nun secara harfiah berarti “datanglah sekarang”, dan dipakai untuk secara retoris mengajak kelompok yang dialamatkan untuk mendekat (“datanglah”) secara urgen (“sekarang”). Siapa kelompok itu? A.13 dan a.14a menyampaikan dua gambaran. A.13 menyampaikan suatu ucapan yang dianggap lazim dan mencirikan kelompok itu. Dilihat frase demi frase, mereka mampu melakukan perjalanan dan biasa berencana setahun dalam rangka berdagang, dengan harapan yang kuat akan keuntungannya. Begitulah konsep diri kelompok itu.

A.14a menyampaikan gambaran dari penulis, dengan alasannya dalam a.14b, yang ternyata lain. Jika mereka biasa berencana dengan penuh keyakinan, sebenarnya besok pun tidak diketahui dengan pasti. Kemudian, penulis menjelaskan bahwa mereka seperti uap. Kata atmis itu sering merujuk pada asap. Misalnya, Hos 13:3 (dalam terjemahan LXX) menggunakan kata itu untuk menggambarkan umat Allah seperti “asap dari tingkap”, kelihatan sebentar tetapi kemudian hilang. Dengan penjelasan dalam a.14b ini, tersirat bahwa kelompok ini menganggap diri “berada”. Mereka adalah orang yang berbobot secara materi dan kegiatan (“berada”) sehingga boleh dikatakan eksis (“berada”). Tetapi dalam dirinya sendiri manusia adalah uap, tidak memiliki bobot atau kuasa apa-apa.

Dalam a.15, penulis mengusulkan ucapan yang sesuai dengan pemahaman yang sebenarnya. Manusia “uap” mengaku bahwa Tuhan adalah penentu, baik penentu kelanjutan hidup maupun kegiatannya. Karena Tuhan diabaikan dalam ucapan a.13, dalam a.16 ucapan itu dicap sebagai kecongkakan. Kemegahan dalam ke-berada-an diri itu jahat. (Ayat ini adalah satu-satunya tempat kata poneros diterjemahkan dengan kata “salah”, padahal di hampir semua tempat yang lain diterjemahkan oleh LAI dengan kata “jahat”.)

A.17 berfungsi sebagai peringatan bagi mereka. Ucapan itu senada dengan 1:22 (“hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja”) dan 2:26 (“iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”), tetapi bahasanya lepas dari soal apakah mereka adalah orang percaya atau tidak. Mereka sekadar “tahu”, bukan beriman atau mendengar firman. Namun, pengetahuan itu cukup untuk membuktikan keberdosaan mereka.

Maksud bagi Pembaca

Yakobus mengalamatkan kaum orang berada secara retoris dengan dua tujuan: untuk menguatkan jemaat yang rendah kedudukannya; dan juga sebagai peringatan bagi jemaat yang mungkin tergoda untuk mengikuti atau mengejar kedudukan dan kekayaan sebagai ganti Tuhan. Jika 5:1-6 didengar dalam rangka perikop kita, maka jemaat akan dikuatkan bahwa hidup para penindas seperti uap di hadapan hukuman Tuhan. Tetapi bahkan di dalam jemaat yang rata-rata miskin, ada yang menganggap diri di atas yang lain (4:1-3). Mereka perlu diingatkan tentang sumber sebenarnya dari keberadaan manusia, yakni Tuhan, dan bahwa sikap yang menyangkal itu adalah dosa.

Makna

Adalah penting perikop ini ditafsir secara keseluruhan, karena jika hanya a.13 yang ditafsir, bisa saja kita sampai anggapan bahwa jalan-jalan, berencana, atau berdagang itu jahat. Yang jahat adalah sikap yang melihat dirinya berada di luar Tuhan, sehingga kehidupan dilihat berada dalam kendali tangan sendiri. Orang seperti itu tidak merasa dikendalikan oleh Tuhan, sehingga dengan mudah jatuh ke dalam kejahatan seperti dalam 5:1-6. Tetapi sikap yang baik dalam a.15 juga mengandaikan adanya rencana dan kegiatan. Bedanya bahwa orang itu sadar bahwa semuanya itu berasal dari Tuhan.

Pada hemat saya, sangat cocok dengan konteks di Indonesia jika perikop kita dikaitkan dengan perikop yang berikutnya, khususnya “mendapat untung” (a.13) dengan soal penindasan (5:4-6), karena bukan untung dari perdagangan yang sehat yang dipersoalkan. Tetapi mungkin dalam konteks budaya tradisional yang diambil alih oleh gengsi, ada ucapan-ucapan lain yang dapat juga menyatakan sikap bahwa sumber keberadaan kita di luar Tuhan: “Tahun ini atau tahun depan kita akan mengadakan pesta besar selama dua minggu sehingga keluarga termasyhur dan desa beroleh pemasukan banyak.”

Perikop ini merujuk pada satu tema besar dalam Alkitab, yaitu, kerapuhan keadaan manusia. 4:13-5:6 sudah disampaikan secara ringkas dalam 1:10-11 dengan kiasan manusia seperti bunga rumput. Yang membuat manusia berada dalam artian sebenarnya adalah Injil, firman kebenaran yang membuat kita menjadi anak sulung dari ciptaan Allah (1:18). Jika ciptaan itu adalah ciptaan baru (karena manusia justru muncul belakangan dalam ciptaan pertama), kita sudah masuk ke dalam ranah yang tidak fana lagi oleh Injil. Kita memiliki ke-berada-an yang sebenarnya, bukan berdasarkan hasil kita melainkan anugerah Allah.

Kehendak Tuhan dalam a.15 merujuk pada kedaulatan-Nya, bukan perintah-Nya. Maksudnya bukan suatu nazar untuk mencari apa kehendak Tuhan sebelum saya bertindak, melainkan suatu pengenalan bahwa segala sesuatu berada di bawah kendali Tuhan. Tafsiran itu jelas karena yang pertama-tama disebutkan adalah “hidup”. Kita tidak mencari petunjuk dari Tuhan apakah hari ini kita tetap hidup atau tidak. Jadi, ayat ini juga tidak berbicara tentang mencari petunjuk dari Tuhan tentang apa yang akan kita berbuat. Tentu saja, orang yang rendah hati di hadapan Allah akan mau bertindak sesuai denga perintah-perintah-Nya, tetapi biar kita melangkah dalam rencana yang sangat baik atau sangat buruk, hal itu hanya akan terlaksana jika Tuhan dalam kedaulatan-Nya mengizinkannya.

Pertanyaan yang kemudian muncul (tetapi sudah agak jauh dari perikop kita) ialah, Mengapa Allah mengizinkan rencana yang jahat terjadi? A.16 (serta 5:1-6) mempersalahkan niat manusia yang jahat itu, bukan Allah yang memberi ruang bagi kehendak manusia. Andaikan Allah membuat kejahatan mustahil, tanpa mengubah niat pelakunya, maka kehendak manusia sudah ditiadakan. Jadi, cara Allah menghadapi dosa adalah memulihkan pendosa yang bertobat dan menghukum penjahat yang tidak bertobat (4:6), suatu proses yang akan dituntaskan ketika Kristus datang kembali (5:7). Soal kehendak manusia, dari 4:6-8 itu, keputusan manusia yang paling penting adalah apakah dia tunduk di hadapan Allah atau tidak; soal ke kota mana dan kapan adalah hal yang sangat sepele ketimbang itu. Soal adanya penindasan, kita tidak mengerti mengapa kadangkala kejahatan digagalkan oleh Tuhan, dan kadangkala justru kelihatan berhasil.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.