Zef 3:9-20 Hukuman dan Keselamatan

Desember 7, 2009

Zefanya bernubuat tentang hukuman Allah terhadap seluruh bumi, baik bangsa-bangsa (p.2) maupun Israel (3:1-7). Keduanya akan dihukum Allah (3:8).

Namun, di balik hukuman itu ada keselamatan, baik untuk bangsa-bangsa (aa.9-10) maupun Israel (aa.11-13). Hukuman itu berupa pemurnian. Untuk bangsa-bangsa pemurnian itu merupakan pembersihan bibir sehingga mereka beribadah kepada Tuhan, bukan pada dewa-dewi (a.9). Untuk Israel pemurnian itu merupakan penyingkiran orang-orang yang ria congkak (a.11). Yang luput dari penyingkiran itu adalah yang rendah hati dan lemah (a.12) sehingga berbuat baik (a.13). Kata-kata “yang rendah hati” dan “lemah” itu sering merujuk kepada kaum orang yang miskin atau tak berdaya, sehingga mencari perlindungan pada Tuhan. Sikap itulah yang cocok dengan Kerajaan Allah (bnd. Mt 5:3).

Di dalam Kristus hukuman yang merupakan pemurnian itu bertahap dua. Pada tahap pertama Allah menjatuhkan hukuman di atas Kristus, sehingga ada umat dari bangsa-bangsa yang telah berbalik dari dewa-dewi untuk beribadah kepada Allah, sehingga bibirnya sedang dibersihkan. Itulah kedatangan Kristus yang pertama. Tahap kedua terjadi ketika Kristus datang kembali. Pada saat itu akan ada penyingkiran orang-orang yang menolak keselamatan Allah dan tidak berlindung pada Kristus. Kedua kedatangan Kristus itulah yang dirayakan pada masa Adven. Peringatan di sini ialah bahwa yang diterima Allah bukan orang yang aktivis atau berjabatan di lembaga gereja, melainkan orang yang sadar dalam hati bahwa mereka tidak memiliki apa-apa di hadapan Allah, dan dalam kerendahan hati itu bertobat dari kejahatan.

Oleh karena keselamatan itu, ada pujian yang seru dan penuh semangat kepada Tuhan. Ada seruan untuk memuji Allah (a.14), disertai alasan (a.15), perkataan yang menguatkan (aa.16-18a), dan janji dari Allah (aa.18b-20). Keadaan yang diandaikan di sini adalah Israel dalam pembuangan (“membawa kamu pulang”, a.20). Pembuangan adalah hukuman yang perlu disingkirkan itu (a.15) dan alasan Sion / Yerusalem menjadi takut dan lesu (a.16). Yang menjadi dasar pujian dan pengharapan adalah Tuhan. Dia adalah raja di antara umat-Nya (a.15) dan pahlawan yang memberi kemenangan (a.17). Dia juga bergirang atas dan mengasihi umat-Nya (a.18).

Nubuatan ini digenapi dalam Sang Israel yang sejati, yakni Kristus. Pembuangan Israel tercakup dalam kematian-Nya, dan kepulangan Israel tercakup dalam kebangkitan-Nya (bnd. Nubuatan keselamatan). Hukuman maut (dibuang dari hadirat Allah) sudah disingkirkan karena ditanggung Kristus. Musuh dosa dan maut telah dikalahkan. Tentu, penggenapan nubuatan ini juga bertahap dua—malapetaka dan kejahatan belum dilenyapkan. Namun, dalam Kristus kita telah dibawa pulang, dan pada masa Adven ini selayaknya kita memuji Allah yang telah dan akan menyelamatkan kita.


Mzm 37:1-9 Menantikan kedatangan Yesus

November 22, 2009

Yang menonjol dalam perikop ini ada anjuran untuk tidak emosi terhadap orang yang berbuat jahat: jangan marah, jangan iri hati (a.1), jangan marah (a.7b), berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah (a.8). Tekanan berulang kali itu perlu karena memang kejahatan, kecurangan dsb menyakiti hati. Saya kira kuatnya reaksi di sekitar KPK sekarang adalah contoh aktual. Anjuran seperti itu tidak asing dalam sebagian besar budaya Indonesia, dengan alasan yang tidak jauh dari alasan dalam a.8b, yaitu bahwa emosi membawa kepada reaksi-reaksi yang memperburuk keadaan. Alasan itu adalah buah banyak pengalaman, tetapi tidak memuaskan ketika perasaan keadilan terganggu.

Mazmur ini menyampaikan alasan yang lebih dalam dari itu. Berulang kali dalam Mazmur ini ada ucapan tentang orang yang akan mewarisi negeri (a.9 orang-orang yang menantikan Tuhan, a.11 orang-orang yang rendah hati [bnd. Mt 5:5], a.22 orang-orang yang diberkati-Nya, a.29 orang-orang benar, a.34 engkau yang menantikan Tuhan dan mengikuti jalan-Nya). Negeri yang dimaksud ialah tanah Israel sebagai tanah perjanjian, tempat yang dijanjikan Allah kepada umat-Nya. Dalam pengharapan nabi-nabi tempat itu dipahami sebagai pusat pembaharuan seluruh bumi, sampai diharapkan akan ada bumi yang baru (Yes 65:17 dyb). Harapan itu yang diteguhkan dalam kebangkitan Yesus dan yang disyukuri pada masa Adven yang dimulai hari Minggu mendatang.

Harapan itu dibandingkan dengan nasib orang jahat. Kejayaan mereka adalah hal sementara (a.2). Hukuman Allah akan menimpa mereka (a.9). Tidak usah kita mendahului hukuman Allah itu dengan reaksi yang gegabah.

Bagaimana kebenaran itu kita hayati? Aa.3-7a menunjukkan caranya. Intinya seruan untuk percaya. Dalam aa.3-4 percaya berarti diam di negeri. Diam di negeri untuk orang Israel berarti tidak cari nasib di tempat yang lain, tetapi berharap hanya pada apa yang dijanjikan Allah. Mungkin untuk kita yang menuju negeri kita (dunia yang baru) artinya bahwa janji-janji Injil tetap sebagai landasan dan hidup kita. Sifat yang sesuai dengan diam di negeri adalah berbuat baik dan setia, dan bergembira karena Tuhan. Jika kita mendambakan Tuhan dan janji-janji-Nya di atas segalanya, maka keinginan itu akan dipenuhi. Dalam aa.5-6 percaya berarti menyerahkan nasib hidup kita kepada Tuhan. Jika kita difitnah, biar Tuhan yang membenarkan kita (a.6), bukan kita yang memaksa hak kita.

Menarik bahwa Yakobus mengatakan bahwa “amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yak 1:20). Perlawanan terhadap kejahatan dibutuhkan, dan amarah adalah sikap Allah sendiri terhadap semua yang merusak ciptaan-Nya yang baik. Tetapi kemarahan yang panas, dicampur iri hati, tidak berguna. Kita perlu mengingat—dan mempercayai—janji bahwa ketika Yesus datang kembali kejahatan akan lenyap dan kita akan “mewarisi negeri”.


Ef 1:3-14 Menghayati berkat-berkat Allah

November 9, 2009

Perikop ini kaya, sangat kaya. Jadi saya minta maaf jika “renungan” ini agak panjang dan sarat dengan ide. Dalam pendahuluan ini saya coba membahas satu dua hal yang mungkin mencegah kita memuji Allah sesuai dengan isi perikop ini. Kemudian ada komentar per bagian.

A.3 mengangkat tema utama perikop ini, yaitu berkat-berkat rohani yang menjadi alasan untuk memuji Allah. Berkat-berkat itu termasuk kekudusan (4), menjadi anak Allah (5), pengampunan (7), pengetahuan rencana Allah (9) dan Roh Kudus (13). Apakah berkat-berkat ini menarik bagi semua jemaat (termasuk sebagian yang berpendidikan teologi)? Untuk sebagian, saya dapat membayangkan tuduhan (dalam hati) bahwa “rohani” berarti “tidak praktis”, “tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari” dsb. Coba ada uang sekolah, penyembuhan, pemberantasan korupsi dsb, baru berkat dianggap berlimpah-limpah.

Bahwa pandangan itu ada benarnya cukup jelas dari gambaran berkat/kutuk dalam PL (misalnya Ul. 26). Ada yang mengatakan bahwa harapan yang “materialistis” itu sudah diganti dengan harapan yang “rohani”. Pembahasaan itu berbahaya. Jauh lebih tepat mengatakan bahwa harapan yang materialistis itu ditunda. Ketika semua dipersatukan dalam Kristus sebagai Kepala, keadaannya akan seperti dalam Why 21, dengan bumi yang baru yang di dalamnya tidak ada yang merusak kehidupan lagi.

Namun, dalam PL pun berkat utama adalah pengenalan akan Allah. Mengapa Israel dibebaskan dari Mesir? Supaya “menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu” (Kel 6:6). Berkat-berkat rohani yang diuraikan menyangkut berkat utama itu. Kita bisa menjadi anak Allah karena ditebus oleh darah Kristus sehingga kita memiliki jaminan atas warisan (LAI “bagian”) yang dijanjikan. Mengapa hal-hal itu terasa abstrak, terasa tidak menyentuh kehidupan nyata? Saya duga jawabannya dalam a.13. Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat itu bagian dari kehidupan kita, kebutuhan nyata. Sama seperti orang dari luar Toraja sulit memahami keasyikan pesta orang mati di Toraja [maaf kepada pembaca dari luar Toraja :)], orang tanpa Roh Kudus sulit memahami mengapa Allah begitu layak dipuji karena berkat-berkat-Nya dalam Kristus. (Mungkin perlu dicatat bahwa harapan dari Injil yang ditanam Roh Kudus ternyata sangat membantu kita untuk memaksimalkan keadaan yang ada, entah baik atau buruk, sehingga ada gunanya untuk sekarang. Khususnya, kita dimampukan untuk berjuang dalam kasih, seperti dalam pp.4-6.)

Dalam komentar di bawah, saya menebalkan kata-kata tentang kedaulatan Allah, menggarisbawahi kata-kata tentang kemuliaan Allah dan pujian, dan memiringkan kata-kata tentang anugerah (kasih karunia). Perikop ini dimulai dan diakhiri dengan panggilan untuk memuji Allah, dan inti perikop ini adalah anugerah Allah yang terwujud dalam Kristus (aa.7-8). Bagaimana dengan kedaulatan Allah? Orang suka pusing menghadapi pernyataan seperti dalam a.11 bahwa keputusan orang “dari semula ditentukan” dan bahwa Allah “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”. Di mana lagi kebebasan manusia kalau demikian? Sebagai jawaban, perlu diingat bahwa Allah adalah Pencipta, bukan salah satu kuasa di antara banyak kuasa yang lain dalam dunia ini. Jadi, dari satu segi semua kuasa dan kemampuan, termasuk kehendak kita, bergantung pada kuasa Allah yang menopang segala sesuatu. (Jadi, yang menjadi misteri ialah bahwa kita memiliki kehendak bebas, bukan bahwa Allah berdaulat.) Tetapi hal itu bukan fokus Paulus di sini. Rencana Allah diwujudkan dalam Kristus dan diterapkan oleh Roh Kudus. Kedaulatan Allah adalah pelayan rencana Allah itu. Jadi, kedaulatan Allah bukan suatu kehendak yang kabur (sehingga menakutkan), tetapi melayani rencana Allah yang sudah dinyatakan dalam Kristus (a.9).

Jadi, selayaknya perikop ini menjadi bahan untuk kita memuji Allah. Jika kita dimeteraikan dengan Roh Kudus sehingga berada di dalam Kristus maka semua berkat ini adalah milik kita, milik kita yang sangat berharga.

(3) Terpujilah Allah dan Bapa [dari] Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

Kata Bapa tidak merujuk ke Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan Allah adalah juga Bapa dari Tuhan Yesus Kristus [satu artikel (ho) dipakai untuk kedua kata Allah (theos) dan Bapa (pater)]. Perikop ini bersifat ketritunggalan, karena kata rohani merujuk ke karya Roh Kudus, atau paling sedikit dalam a.14 Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat rohani ini nyata dalam kehidupan.

(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, (6) supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

A.4 adalah pernyataan mendasar; a.5 memberi keterangan [kata kerjanya adalah partisip, bukan indikatif]; a.6 adalah tujuannya. Bahasa “kudus”, “tak bercacat” dan “anak” adalah bahasa yang dipakai dalam PL untuk umat Allah, sama seperti “menjadikan kita milik Allah” dalam a.14.

(7) Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, (8) yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. (9) Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus (10) sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

Aa.7-8 adalah pernyataan mendasar; a.9 memberi keterangan [juga partisip], mungkin atas kelimpahan kasih karunia Allah—bukan hanya bahwa kita ditebus oleh darah Kristus tetapi juga kita diberitahu mengenai rencana agung Allah; a.10 adalah tujuannya. Kali ini tujuannya bukan pujian melainkan pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Darah Kristus dalam a.7 adalah caranya untuk a.4, dan bagian ini (khususnya a.7 dan a.10) menjelaskan mengapa ada “di dalam Dia” terus-menerus dalam perikop ini. Kristus adalah pewujud rencana Allah.

(11) Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– (12) supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

Kata kami adalah tafsiran—dalam bahasa Yunani (dan Ibrani dan Inggris) tidak dibedakan anatara kita dan kami. Tafsiran itu tepat, tetapi bagi pembaca asli baru akan jelas dalam a.12 dalam perkataan “yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus” bahwa “kita/kami” merujuk pada kelompok Paulus, bukan pembaca. “Kami” adalah orang-orang Yahudi (lihat juga 2:1-3 dan 2:11-12), yang memang menjadi yang pertama percaya. Mereka adalah tahap pertama dalam pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Tujuannya pujian kembali (a.12b).

(13) Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. (14) Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Tahap berikut dalam pemersatuan segala sesuatu adalah orang non-Yahudi yang jadi percaya (bnd. 2:11-22). Kedua ayat ini adalah dasar ringkas untuk suatu urutan keselamatan (ordo salutis). Yang pertama adalah pendengaran Injil tentang keselamatan, sehingga ada yang percaya. Yang percaya dimeteraikan dengan Roh Kudus (yang menunjukkan bahwa mereka adalah milik Allah) yang menjadi jaminan bahwa mereka akan menerima segala yang dijanjikan Allah pada akhir zaman itu. Jadi, pemberitaan menjadi pintu masuk untuk keselamatan eskatologis (hidup kekal). Roh Kuduslah yang menerapkan dalam kehidupan orang percaya rencana Allah yang terwujud dalam Kristus. Namun, perlu diperhatikan apakah tujuan Allah. Bukan keselamatan saya saja (sebagai individu), melainkan kita sebagai umat milik Allah.


Mk 5:35-43 Maut dikalahkan

Oktober 13, 2009

Musibah seperti yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia mengingatkan kita bahwa maut adalah musuh. Jika kita berdukacita atas meninggalnya orang yang sudah lanjut usia, lebih lagi ketika ada orang yang masih muda. Jadi, kita langsung beridentifikasi dengan Jairus yang mendekati Yesus dengan harapan yang besar bahwa Yesus bisa menyembuhkan anaknya yang sakit parah (aa.22-23). Cerita berikut cukup dikenal, bagaimana Yesus dihalangi oleh perempuan yang sakit (aa.24-34) sehingga anak itu sudah meninggal, tetapi Yesus sanggup membangkitkannya. Juga cukup jelas bagaimana pembawa berita maupun para peratap tidak percaya kepada Yesus, sedangkan Jairus percaya, atau cukup percaya sehingga dia menerima semua usulan Yesus. Kepercayaan mungkin didukung oleh melihatnya perempuan yang sakit parah itu disembuhkan, tetapi tentu membangkitkan orang mati melebihi menyembuhkan.

Tema yang akan saya soroti adalah kebangkitan itu. Tema itu disinggung dalam perkataan Yesus bahwa anak itu hanya tidur. Yesus ditertawakan karena sepertinya orang menafsir-Nya secara harafiah. Dugaan saya bahwa Yesus merujuk ke Dan 12:2. Walaupun dalam pasal-pasal awal kitab Daniel kita melihat Allah menyelamatkan Daniel dan teman-temannya dari maut, dalam Dan 11:33-35 tidak semua orang bijaksana yang selamat. Tetapi dalam Dan 12:2 Allah akan membangkitkan mereka. Dengan dibangkitkan mereka tidak kehilangan bagian mereka dalam pembaruan pada akhir zaman. Banyak orang Yahudi menerima harapan itu. Tetapi harapan itu menyangkut akhir zaman, bukan masa kini.

Apakah Yesus memajukan kebangkitan pada akhir zaman menjadi hal yang masa kini? Bukan dalam peristiwa ini. Anak itu bangkit dari kematian, tetapi akan mati kembali. Kebangkitan ini hanya mendapat artian yang sebenarnya ketika Yesus sendiri bangkit, bukan untuk mati kembali melainkan memulai hidup kekal. Mujizat ini adalah pertanda bahwa Dia berkuasa atas maut, pertanda yang merujuk ke kebangkitan-Nya di mana kuasa itu terbukti dan digenapi. Cukup banyak cerita dalam Markus mengandung pesan yang sama, misalnya pada awal p.5 orang yang kerasukan itu tinggal di pekuburan, tempat orang mati.

Karena maknanya hanya akan jelas pada kebangkitan, Yesus melarang peristiwa ini diceritakan. Sama seperti identitas-Nya sebagai Mesias, orang banyak belum sanggup menafsirnya dengan tepat. Mereka akan rindu supaya keluarga mereka yang sudah meninggal dibangkitkan, daripada menaruh pengharapan pada zaman mendatang. (Apakah Dia mengatakan kepada orang banyak bahwa perempuan itu hanya tidur supaya peristiwa itu ditafsir sebagai penyembuhan saja? Jika demikian, menurut Mt 9:26 usaha itu tidak berhasil.)

Menurut tafsiran yang saya paparkan di atas, penerapan dari peristiwa ini adalah percaya pada janji pembaruan pada akhir zaman berdasarkan kebangkitan Yesus. Cerita ini mengingatkan kita akan kepedihan kematian sehingga kita memahami bahwa kebangkitan Yesus menjawab masalah utama dalam dunia ini. Anggaplah tafsiran ini adalah tafsiran “eskatologis”, yaitu menyangkut akhir zaman (yang mulai dengan kebangkitan Yesus). Saya juga bisa membayangkan tafsiran “kuasa” dan juga tafsiran “etis”. Tafsiran kuasa mengatakan bahwa percaya berarti mengharapkan mujizat sekarang juga. Tafsiran etis mengatakan bahwa percaya berarti melawan kuasa-kuasa maut dalam dunia ini sama seperti Yesus. Kedua tafsiran ini adalah implikasi yang sejati dari perikop ini, asal dilihat dalam rangka eskatologis tadi, yaitu dengan harapan yang terbatas untuk zaman ini. Maksudnya bahwa tidak semua yang percaya akan luput dari kesakitan dan maut sebelum kebangkitan pada akhir zaman, dan juga bahwa betapa kuat perlawanan kita terhadap kuasa-kuasa maut (misalkan perdagangan perempuan atau materialisme) kemenangan hanya akan lengkap dan kokoh ketika Yesus datang kembali. Jadi, jika ada mujizat atau perlawanan yang ada hasilnya (misalnya keadilan bagi rakyat kecil dalam perkara tertentu—itu juga sebuah mujizat!), hal itu juga merupakan pertanda akan harapan eskatologis itu.

Mari kita percaya akan kebangkitan Yesus, supaya kita siap untuk berjuang dalam harapan kita, dan menyaksikan kuasa Allah dalam perjuangan kita.


Mk 14:12-16 Menghadapi panggilan-Nya dengan sengaja

Agustus 3, 2009

Perikop ini merupakan satu adegan dalam alur cerita kesengsaraan Kristus. Dalam nubuatan Yesus pada p.13, Dia berbicara tentang berbagai unsur terkait dengan kedatangan Kerajaan Allah, seperti siksaan terberat serta pemuliaan Anak Manusia, yang antara lain mengungkapkan makna kematian dan kebangkitan-Nya (untuk penjelasan lebih lanjut lihat bagian akhir dari Mt 24 Bait Allah dirobohkan). Yesus menuju puncak dari panggilan-Nya untuk “memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mk 10:45). Salah satu tema dalam penceritaan Markus ialah bahwa bahwa Yesus menuju puncak itu dengan sengaja, bukan sebagai korban yang tidak berdaya. Perikop ini mendukung tema itu.

Kematian Yesus mulai dikaitkan dengan Paskah pada 14:1, dengan Markus menyampaikan keputusan pimpinan Yahudi untuk membunuh Yesus, dua hari sebelum Paskah. Pengurapan Yesus dengan minyak oleh seorang perempuan mendukung bahwa Yesus melihat kematian-Nya mendekat (14:8), dan sepertinya menggerakkan Yudas untuk pergi untuk mengkhianati Yesus (14:10). Karena penawaran Yudas itu, rencana pembunuhan itu dapat dipercepat (a.2, 11).

Pada a.12 sudah tiba waktunya untuk merayakan Paskah. Domba-domba Paskah disembelih pada siang hari di Bait Allah, kemudian dibawa pulang untuk dimakan di rumah antara petang dan tengah malam. Paskah itu harus dimakan di dalam tembok Yerusalem. Ternyata Yesus sudah merencanakannya dengan tepat. Ada penghuni Yerusalem yang sudah diminta untuk mempersiapkan suatu tempat. Ada lambang yang sudah diatur, yaitu seorang (laki-laki) yang membawa kendi berisi air. (Biasanya perempuan yang membawa air.) Yesus mengatur semuanya tanpa sepengetahuan murid-murid-Nya, kemungkinan besar karena Dia tidak mau supaya si pengkhianat mengetahui tempatnya (bahwa Yesus tahu Dia akan diserahkan jelas dalam a.18; bnd. Mk 9:31 dan 10:33). Paskah harus dirayakan dengan murid-murid-Nya tanpa halangan, baru setelah itu Yesus akan membiarkan diri-Nya ditangkap.

Salah satu maksud utama Markus dalam p.14 ini adalah pengajaran tentang makna kematian Yesus, termasuk bahwa Yesus menujunya dengan sengaja. Tetapi mungkin dalam a.16 tema kemuridan muncul juga. Para murid tidak mempertanyakan pesan Yesus melainkan melakukannya. Dengan demikian rencana Yesus, termasuk penyampaian ajaran tentang makna kematian-Nya (aa.22-25), dapat terwujud. Semoga ketaatan kita juga ikut serta dalam rencana-rencana-Nya sekarang.


Dan 6:1-10 Integritas karena kerajaan Allah

Juni 15, 2009

Apakah perkataan dalam a.6 berlaku bagi kita? Satu-satunya titik lemah dalam diri Daniel adalah bahwa dia beribadah kepada Allah. Tidak ada korupsi, pelecehan atau kelalaian selama berpuluh-puluh tahun Daniel berkecimpung dalam pemerintahan. Dalam pasal ini, setelah dipojokkan oleh muslihat para musuhnya yang mencemburuinya, Allah menyelamatkannya sehingga Allah dimuliakan oleh raja Darius. Integritas Daniel dalam kerja dan ibadah bermuara pada kemuliaan Allah sendiri.

Teladan Daniel bukan sekadar bahwa dia adalah orang yang baik. Kitab Daniel pp.2-7 menyangkut kehidupan dalam kerajaan asing (sebagai to mentiruran). Dalam pp.2 & 7 ada nubuatan tentang empat kerajaan besar yang bermuara pada kerajaan Allah. Dalam pp.3 & 6 ada saksi-saksi iman yang setia kepada Allah walaupun menghadapi maut. (Dalam p.12 janji kebangkitan menunjukkan bahwa Allah dapat menyelamatkan dari maut bahkan orang yang sudah mati.) Dalam pp.4 & 5 ada raja Babel yang direndahkan oleh Allah. Jadi, pasal-pasal ini menunjukkan bahwa orang percaya bertahan karena percaya bahwa Allah berdaulat atas raja-raja dan juga hidup dalam harapan bahwa Allah akan mendatangkan kerajaan-Nya untuk menggantikan kerajaan-kerajaan itu.

Dalam konteks itu, menarik untuk diperhatikan bahwa kata yang diterjemahkan “ibadah” dalam a.6 berarti hukum. Kata itu dipakai untuk hukum (misalnya dalam a.8 diterjemahkan “undang-undang”, dan Ezra 7:14 “hukum”). Bagi orang Media yang berbicara dalam a.6 kesetiaan Daniel kepada Allah bernuansa politik. Ada ketaatan Daniel yang melebihi ketaatannya kepada raja.

Jadi, Daniel adalah teladan orang beriman. Dia mengimani Allah yang di atas raja-raja dan sedang mengarahkan sejarah sampai kerajaan-Nya terwujud. Sekarang kita memiliki alasan yang lebih kuat lagi untuk memiliki iman seperti Daniel, karena Allah sudah mulai mewujudkan kerajaan-Nya dalam Kristus. Kemungkinan besar kita tidak sehebat Daniel dalam hikmat dan keterampilan, tetapi Allah itu sama. Dia tetap berdaulat untuk mewujudkan kerajaan-Nya. Oleh karena itu, integritas Daniel masuk akal bagi kita juga.


Rom 15:1-13 Penerimaan dan Pengharapan

Mei 20, 2009

Mungkin penerimaan dan pengharapan adalah dua hal yang tidak biasa dikaitkan. Mungkin juga ada jemaat yang menganggap bahwa penerimaan itu praktis dan penting, sedangkan pengharapan adalah hal yang teologis saja sehingga tidak terlalu praktis. Sebaliknya, mungkin ada yang menganggap bahwa penerimaan itu kurang teologis sehingga kurang penting. Rasul Paulus tidak jatuh ke dalam dualisme seperti itu yang memisahkan praktik dari teori, kasih dari iman.

Perikop ini adalah kesimpulan dari seluruh penjelasan Injil yang dimulai pada awal surat (1:16-17), karena dalam perikop berikut Paulus kembali ke soal rencana untuk mengunjungi jemaat di Roma yang diangkat dalam pendahuluan surat (bnd. 1:11 dan 15:22). Perikop ini juga mengakhiri bagian penerapan (mulai pada 12:1-2) yang menjelaskan bagaimana mempersembahkan seluruh hidup berdasarkan pembaruan akal budi dalam kemurahan Allah yang telah diuraikan dalam pp.1-11 itu. Inti bagian ini ialah 13:8-14. Perikop itu mengutarakan kasih dalam terang akhir zaman, yaitu dalam terang pengharapan. Kemudian, p.14 menguraikan satu masalah aktual dalam jemaat di Roma, yaitu bahwa ada (barangkali dari latar belakang Yahudi) yang membedakan makanan dan hari, dan ada yang memahami bahwa di dalam Kristus semuanya itu tidak apa-apa. Jadi, perikop 15:1-13 menyimpulkan diskusi tentang orang yang kuat dan tidak kuat yang merupakan contoh aktual tentang kasih sebagai penghayatan Injil.

A.1 memperluas diskusi dalam p.14 dengan berbicara tentang kelemahan secara umum. Contoh orang lemah sekarang seperti jemaat yang tidak tahu diri sehingga agak susah bergaul. Kalau tujuannya menyenangkan diri mungkin saja orangnya dihindari atau dipinggirkan, tetapi kata Paulus yang kuat wajib menanggung kelemahannya. Tetapi perhatikan a.2. Kita mencari kesenangan sesama demi kebaikannya untuk membangunnya. Menyenangkan di sini tidak berarti asal senang! Sehingga jemaat yang susah bergaul tadi jangan dibiarkan dalam keegoisan! Kita bergaul dengannya dan berupaya untuk mengoreksi dia dengan sabar dalam kasih. Asal senang tidaklah membawa kesenangan yang membangun.

Mengapa kita akan menerapkan penerimaan yang begitu sulit itu? Ada serangkaian alasan dalam aa.3-6. Yang pertama, Kristus sendiri rela menanggung penderitaan, yang tentu Dia lakukan bukan untuk kesenangan diri melainkan untuk kita. Penderitaannya sama dengan pemazmur dalam PL, yaitu dicerca karena setia kepada Allah (a.3). Dengan demikian kita dapat melihat pola ketekunan dalam PL yang digenapi dalam Kristus, sehingga kita dihibur (karena tidak sendirian di dalam kesusahan) dan tidak putus asa bahwa Allah meninggalkan kita (a.4). Tujuan penerimaan disampaikan dalam aa.5-6, yaitu kerukunan akibat saling menerima yang bermuara pada kesatuan dalam memuliakan Allah. Ringkasnya bahwa teladan Kristus dan Kitab Suci mendorong kita untuk rela berkorban, dan kita juga ditarik oleh tujuan untuk memuliakan Allah bersama-sama.

Hal itu dikembangkan dalam aa.7-12. A.7 meringkas aa.1-6, karena Kristus menerima kita untuk kemuliaan Allah. Kemudian Paulus menjelaskan bagaimana Kristus menerima kita. Sesuai dengan pembahasannya dalam pp.9-11, Paulus menjelaskan bahwa Kristus datang untuk mengokohkan janji-janji Allah kepada Israel, dan juga supaya bangsa-bangsa memuliakan Allah. Hal itu dibuktikan dengan beberapa kutipan PL yang menunjukkan bahwa bangsa-bangsa selalu dipanggil dan diharapkan memuliakan Allah (aa.9-11). Bangsa-bangsa diterima karena rahmat saja, karena walaupun tidak ada perjanjian dengan mereka Allah tetap bertujuan supaya mereka diterima dalam sang Mesias (= taruk dari pangkal Isai, a.12). Penerimaan dalam Kristus yang membawa pengharapan bagi bangsa-bangsa.

Jadi, dalam a.12 Kitab Suci kembali membawa kita ke soal pengharapan. Kesimpulan Paulus dalam a.13 mengaitkan iman sebagai dasar, sukacita dan damai sejahtera (hasil penerimaan?) sebagai suasana, dan Roh Kudus sebagai kuasa, dengan pengharapan. Ternyata pengharapan bukan sesuatu yang dimiliki seorang diri. Penerimaan sesama yang lemah mencerminkan penerimaan Allah yang mendasari pengharapan dan juga membangun kesatuan yang menopang pengharapan. Sejauh saya berhasil mendalami perikop yang kaya ini, dalam Kristus, penerimaan dan pengharapan akan bangkit atau jatuh bersama.


Yer 29:1-9 Keadaan sebagai perantau

Mei 11, 2009

“Kesejahteraan kota adalah kesejahteraanmu” (Yer 29:7) adalah pesan yang kadangkala dilupakan oleh gereja yang mementingkan dirinya daripada masyarakat. Namun, jangan sampai pesan itu diartikan bahwa tugas seorang percaya sekadar menjadi warga yang baik. Pesan Yeremia ini menyiratkan suatu ketegangan, yaitu ketegangan antara harapan akan kerajaan Allah (yaitu bagi pembaca surat Yeremia kembali ke Israel, tanah perjanjian) dan keadaan dalam dunia sementara (bagi pembaca surat itu menetap di Babel).

Yeremia menubuatkan kehancuran Yerusalem oleh karena dosa Israel. Pada saat peristiwa yang diceritakan dalam a.2, hal itu belum terjadi, dan banyak yang yakin bahwa Tuhan akan mengalahkan kuasa Babel sehingga orang-orang yang diangkut ke Babel dapat kembali, termasuk beberapa nabi di Babel (aa.8-9). (Pembuangan dalam a.2 terjadi pada tahun 597 sM, sedangkan kehancuran Yerusalem terjadi pada tahun 587 sM.) Oleh karena itu, firman Tuhan disampaikan kepada Yeremia untuk disampaikan melalui surat kepada mereka.

Jika sebentar lagi Babel akan dikalahkan dan Israel dipulihkan, seperti nubuatan palsu itu, maka tentu kegiatan yang diusulkan dalam aa.4-7 tidak masuk akal. Yeremia berpesan kepada mereka untuk menetap dengan mendirikan rumah dan keluarga di Babel. Alasannya muncul dalam a.10, yaitu bahwa pembuangan akan berlangsung 70 tahun. Angka 7 menyimbolkan kegenapan, dalam konteks ini kegenapan hukuman. Dalam sejarah berikut, orang-orang buangan baru diperbolehkan kembali ke Israel pada tahun 539 sM.

Menetap di Babel dengan mendirikan rumah berarti menerima nubuatan Yeremia bahwa dosa Israel harus dihukum Allah sebelum keselamatan dapat diharapkan kembali. Yeremia tidak menyangkal bahwa Allah akan mewujudkan kerajaan-Nya di tanah Israel, bukan di Babel. Hanya waktunya yang dipersoalkan. Orang-orang buangan harus bersabar menunggu waktu Tuhan.

Perjanjian Baru menempatkan kita sebagai to mentiruran, perantau. Artinya bahwa harapan kita bukan dunia ini (Babel) melainkan langit dan bumi yang baru (Yerusalem), pemulihan segala sesuatu ketika Kristus kembali. Tanpa harapan itu, pesan Yeremia gampang saja. Jika harapan kita adalah untuk hal-hal sementara saja, sudah barang tentu kita akan mencari kesejahteraan kota. Hanya jika kita tidak puas dengan dunia ini maka kita harus diingatkan untuk mencari kesejahteraannya.

Tetapi menjadi perantau juga berarti bahwa kita belum sampai di dunia baru, sama seperti orang-orang buangan yang disurati Yeremia. Jadi, keadaan kita ada di dunia sekarang. Bukannya kita akan luput dari segala penyakit, masalah dan bencana, seperti janji nabi palsu modern. Oleh karena itu kita berdoa untuk kota (dan negara), supaya pemerintah, ekonomi, prasarana dan masyarakat berfungsi dengan baik. Dengan demikian kita dapat bertumbuh dan berhasil, sambil menunggu janji yang lebih baik.


Ams 4:1-13 (1) Pentingnya hikmat

April 27, 2009

Amsal pp.1-9 mengkhotbahkan pentingnya memperoleh hikmat. Pasal-pasal ini berbentuk nasihat seorang ayah kepada anaknya, dan segi itu saya bahas di posting berikut. Posting ini berfokus pada hikmat sendiri.

Maksud hikmat dapat digambarkan dari lebah berjenis sphex yang bertelur di sarangnya, kemudian menyengat serangga sehingga lumpuh tetapi masih hidup. Lebah menyeret serangganya ke ambang sarang, lalu memeriksa di dalam lalu membawa serangga itu ke dalam untuk menjadi makanan bagi anak-anaknya setelah menetas. Tingkah laku lebah itu pintar, tetapi tidak berhikmat. Soalnya, jika serangganya digeser beberapa sentimeter dari sarang, ketika lebah keluar dari lobang sarang lebah akan mengulang tindakannya. Lebah akan kembali membawa serangganya ke ambang sarang, lalu masuk untuk memeriksanya. Ada peneliti yang mengulang menggeser serangga itu sampai 40 kali, dan setiap kali tindakan lebah sama. Lebah tidak dapat belajar dari pengalaman. Lebah tidak berhikmat, sama seperti manusia (jemaat, pelayan) yang membuat kesalahan yang sama dalam cara kerja dan berelasi berulang kali tanpa berubah.

Maka kita dianjurkan untuk memperoleh hikmat (aa.5, 7). Dengan demikian kita akan dipelihara (a.6), lebih lagi ditinggikan (a.8-9). Hikmat akan memberi kita kemampuan untuk belajar dari pengalaman dan dari orang lain (a.1) sehingga apa yang kita usahakan dapat terwujud (a.12). Hikmat membawa hidup (a.13). Dalam a.10 ada janji umur yang panjang seperti dalam hukum kelima. Salah satu alasan untuk menghormati orang tua adalah belajar dari hikmat mereka.

Tentu, kita harus selalu menempatkan janji hikmat dalam konteks perlawanan dunia terhadap Allah. Dalam Dan 11:33 orang berhikmat “jatuh oleh karena pedang dan api” karena setia kepada Allah. Yesus menegaskan bahwa kita akan mendapat perlawanan sama seperti Dia dilawan. Namun, janji hidup tetap berlaku. Dalam Dan 12:2-3 ada nubuatan bahwa orang bijaksana itu akan bangkit dari antara orang mati, dan kebangkitan Yesus menjamin hal itu juga. Untuk sementara, hikmat membantu kita untuk bertekun dalam kesusahan (Yak 1:2-5) dan untuk mengasihi sesama (Fil 1:9).

Sekarang, di Indonesia sama seperti di dunia Barat, banyak masyarakat kurang berhikmat. Di Toraja saya duga bahwa hikmat dalam aluk (adat lama Toraja) hilang, sementara penggantinya dalam kekristenan tidak dicari. Sehingga misalnya, gengsi mengganti hormat sebagai tujuan, rakyat gampang terpancing dan tertipu, dsb (tambahlah dengan keluhan favorit masing-masing :). Respons yang diperlukan saya bahas dalam posting berikut.


Luk 22:39-46 Menang atas pencobaan

Maret 26, 2009

Setelah diutus oleh Bapa-Nya ketika dibaptis dalam air dan oleh Roh Kudus (Lk 3:21-22), yang pertama-tama dihadapi Yesus bukan manusia (keagamaan Yahudi yang korup, penindasan kekaisaran Romawi) melainkan Iblis. Iblis tentu adalah makhluk, bukan ilah yang bersaing dengan Allah. Tetapi dalam ciptaan ada dua lapisan. Di balik yang kelihatan ada yang tidak kelihatan (Kol 1: 16). Istilah yang dipakai Paulus (singgasana, kerajaan, pemerintah, penguasa) menempatkan yang tidak kelihatan ini di dalam struktur-struktur kekuasaan manusia. Hal-hal seperti pemerintahan, perusahaan, sistem ekonomi dan politik sering menuntut kesetiaan yang selayaknya kepada Allah saja. Oleh karena itu, yang setia kepada Allah akan menghadapi pencobaan, apakah setia kepada Duit, Kuasa dalam berbagai bentuknya, atau kepada Allah.

Jadi, doa yang diajarkan Yesus memohon keselamatan dari pencobaan (Lk 11:4), dan ajaran-Nya tentang kehidupan pada akhir zaman menunjukkan pentingnya doa dan sikap waspada (Lk 21:34-36). Tetapi Yesus sendiri harus mengalahkan pencobaan untuk membuka jalan keluarnya. Pada babak pertama di padang gurun (tempat Israel dicobai) Yesus menang. Menjelang kematian-Nya, Dia harus menghadapi pencobaan untuk menyimpang dari jalan Bapa-Nya, dan juga mengajar murid-murid-Nya bagaimana menghadapi pencobaan.

Murid-murid-Nya mengikuti Yesus (a.39) ke taman Getsemane itu. Mereka disuruh untuk berdoa supaya tidak jatuh ke dalam pencobaan. Perhatikan bahwa kata yang dipakai adalah “jatuh” bukan “terjatuh” (aslinya “masuk”, jadi aktif). Artinya bahwa akan ada pilihan, akan ada unsur kesengajaan, meskipun keadaan juga berpengaruh. Kemudian Yesus sendiri berpisah untuk menerapkan nasihat-Nya sendiri. Dia mengakui kedaulatan Allah yang bisa mengubah keadaan apapun, kemudian berserah pada kehendak Allah (a.42). Kehendak Allah berarti meminum cawan murka Allah (bnd. Yes 51:17 dan Yer 25:15; piala sama dengan cawan dalam bahasa aslinya). Aa.43-44 menggambarkan beratnya pencobaan ini, karena menghadapi murka Allah adalah menghadapi neraka. Setelah berdoa, Yesus berdiri dan sudah siap menghadapi apa yang akan terjadi. Tetapi murid-murid-Nya malah ketiduran. Mereka bisa mengikuti Yesus ke suatu tempat, tetapi belum sanggup mengikuti Yesus dalam menghadapi pencobaan. Sama seperti Israel, mereka gagal. Alhasil, banyak melarikan diri dan Petrus menyangkal Yesus.

Ketaatan kepada Allah bisa berarti bahwa kita akan menghadapi pencobaan yang berat. Dalam Kisah Para Rasul Lukas menunjukkan bahwa oleh kuasa Roh Kudus seorang murid bisa berani dan setia. Tetapi di sini kita belajar bahwa dasar harapan kita bukan kemampuan kita melainkan kemampuan Yesus, Juruselamat kita. Dia yang telah mengalahkan Iblis dan sebagai manusia sejati menempuh jalan ketaatan. Dia yang sudah meminum cawan murka Allah sebagai ganti kita. Oleh karena itu, kita berani belajar taat dan setia dalam menghadapi berbagai penguasa yang dipengaruhi oleh kuasa Iblis dan mencobai. Kemungkinan bahwa kita akan sering seperti Petrus yang menyangkali daripada Petrus pada Kis 5:41. Tetapi dalam kemenangan Yesus kita diampuni, dipulihkan dan dikuatkan untuk tetap berjuang dalam harapan.