Nenek saya (adik perempuan dari ayah dari ayah saya = great-aunt) meninggal pada usia 95 tahun beberapa hari sebelum saya kembali ke Australia. Dia adalah kedua terakhir dari semua keturunanan neneknya yang masih hidup, sehingga tinggal satu saudara sepupu yang belum meninggal. Dia sendiri adalah seorang janda. Suaminya meninggal pada Perang Dunia Kedua di Singapura, dan kedua anak yang dia lahirkan meninggal sebelum mencapai usia 5 hari (ya, hari!). Di hadapan kekecewaan yang sangat itu, nenek saya dapat memegang iman kepada Kristus dan ternyata menjadi terlibat dalam banyak kegiatan, sebagian yang tidak terduga oleh keluarga dan baru terungkap setelah dia meninggal!
Kalau orang Barat keturunan Inggris meninggal, biasanya ada acara paling satu minggu kemudian. Acara itu bisa sekuler (semacam acara mengenang orangnya) tetapi seringkali ada kebaktian di dalamnya, walaupun keluarga jarang beribadah pada waktu yang lain. Tetapi untuk orang percaya seperti nenek saya, jemaatnya mengadakan kebaktian, biasanya satu saja dan paling dua kalau ada acara terpisah pada pemakaman (atau kremasi).Berapa peserta akan mengikuti acara itu? Bagi orang yang meninggal muda, beberapa ratus tidak mustahil. Tetapi bagi orang yang sudah pensiun, apalagi kalau usia yang sangat lanjut seperti nenek saya, puluhan lebih biasa. Malah, belum tentu akan genap 10! Nenek saya ramai mengingat usianya. Kurang lebih 50 orang ikut, baik keluarga, jemaat, maupun dari beberapa lembaga lain yang di dalamnya nenek saya terlibat. Mungkin ada 10 orang lagi yang berminat tetapi berhalangan. Sekali lagi, kami senang melihat bahwa acara itu cukup ramai!
Yang menarik juga, nenek saya adalah penganut aliran Ortodoks, yang mengklaim sebagai keturunan gereja mula-mula (dan memang kurang lebih begitu). Saya pernah mengikuti acara pernikahan ala Ortodoks Yunani, dan seluruh acara diadakan dalam bahasa Yunani sehingga tidak banyak yang saya tangkap! Tetapi jemaat nenek saya adalah jemaat Ortodoks yang misioner. Pastornya (atau pendeta, saya tidak tahu mana yang cocok untuk gereja Ortodoks) menyapa kami dengan ramah dan menjelaskan apa yang akan terjadi, dengan demikian menghargai bahwa kami adalah tamu yang mungkin belum terlalu biasa dengan gaya Ortodoks. Liturginya dalam bahasa Inggris, sehingga dapat dimengerti. (Oleh kami yang hadir, maksudnya.:)
Hanya, isi liturgi kayaknya tidak diupdate sama sekali. Selama kurang lebih 100 menit kami mendengarkan berbagai Mazmur dan nyanyian kuno Ortodoks dinyanyikan sambil berdiri terus. Dari satu segi saya menikmati ibadah itu. Hampir seluruhnya diambil langsung dari Alkitab atau syair yang Alkitabiah. Dan suasana dari kemenyan yang dibakar terus serta cara menyanyi cukup meditatif! Dalam rangka menjangkau orang yang belum percaya, ada bagian penduduk Australia yang bisa saja responsif terhadap cara begitu. Namun, ada satu perbedaan dengan acara Protestan yang cukup mencolok. Jelas bahwa ritus itu bukan ucapan syukur saja, tetapi dianggap sebagai bagian dari penyelamatan jiwa. Kebaktian Protestan merayakan bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus sudah istirahat di dalam Kristus. Mereka berdoa (7 kali, kalau tidak salah) supaya dosa almarhumah diampuni supaya diterima oleh Allah. Dalam rangka itu semangatnya dekat Katolik Roma. Saya tidak tahu apakah secara pribadi atau dalam konteks pastoral mereka akan menunjukkan keyakinan akan keselamatan yang lebih kuat.
Yang terakhir, setelah ibadah ada snack (bukan makan siang!) yang diikuti (bukan SMP–soalnya kalau orang Barat lapar konsentrasinya terganggu sehingga dianggap lebih baik kalau makan dulu) oleh beberapa refleksi singkat. Tahu-tahu, banyak dari jemaat nenek saya tahu kalau ada cucunya yang menjadi misionaris di Indonesia. Surat doa saya dia sebarkan kepada mereka. Dalam percakapan informal setelah refleksi saya menikmati persekutuan dengan mereka.
Ditulis oleh abuchanan