Rom 5:1-5 Bermegah dalam Allah karena Kristus [25 Desember 2011] (Natal Malam)

Desember 22, 2011

Perikop ini bukan perikop biasa untuk Natal. Namun, pada Natal kita perlu tidak hanya terharu oleh kelahiran Kristus yang sederhana serta bermakna, tetapi juga dikuatkan dalam makna bahwa Dia mengambil bagian dalam dunia kita. Perikop ini berbicara tentang harapan dan penderitaan, pengalaman biasa manusia dalam dunia ini.

Penggalian Teks

Struktur perikop ini harus mencakup aa.1-11. Dalam aa.1-2 kita bermegah dalam pengharapan; aa.3-5 meringkas mengapa kita bermegah dalam kesengsaraan; aa.6-10 menjadi bukti dari aa.1-5 tadi berdasarkan kematian Kristus; dan a.11 memberi kesimpulan bahwa kita bermegah dalam Allah. Bermegah dalam konteks ini merujuk pada apa yang paling berarti dalam kehidupan orang. Orang Yahudi bermegah dalam Allah karena memiliki Hukum Taurat (2:17, 23). Orang Toraja bermegah dalam tongkonan karena ada upacara orang mati yang hebat. Paulus bermegah dalam Allah dalam Kristus karena melalui kesengsaraannya dia akan mencapai kemuliaan Allah. Untuk memahami perikop ini lebih dalam, kita perlu melihat perikop ini dalam konteks lebih luas.

Rom 1:18-3:20 telah mengangkat dosa sebagai masalah mendasar manusia. Masalah dosa bisa dilihat dari tiga aspek: karena dosa berarti membelakangi Allah, dosa menimbulkan murka-Nya (1:18); dosa merugikan sesama (mis., 3:10-18); dan dosa berarti merusak gambar Allah di dalam dirinya sendiri (3:23, “kehilangan kemuliaan Allah”). Cara hidup yang tidak merugikan sesama akan dibahas dalam pp.12-15; pembaruan diri menjadi tema pp.6-8 (mis., 8:29 “menjadi serupa dengan Kristus”). Tetapi, yang pertama dibahas Paulus adalah pembenaran dalam 3:21-4:25, yaitu, bagaimana manusia berdosa diterima Allah sebagai orang benar. Bahasa Paulus mengejutkan: Allah “membenarkan orang durhaka”, “orang yang tidak bekerja, namun percaya” (4:5). Itulah cara Paulus untuk menegaskan bahwa amal manusia tidak ada sangkut paut dengan pembenarannya—pembenaran oleh iman adalah anugerah kepada orang yang tidak layak berdasarkan kasih karunia, yaitu, perkenan atau sikap baik Allah. Pemberian itu diterima dengan dipercayai, bukan diraih melalui perbuatan-perbuatan baik.

Jadi, perikop ini berfungsi sebagai peralihan dari soal pembenaran oleh iman ke soal implikasinya, yaitu, pembaruan diri. Implikasi itu mencakup soal kasih karunia yang mengalahkan dosa (5:12-8:16) serta penderitaan yang ditanggung dalam pengharapan (8:17-39).

Aa.1-2 menyimpulkan hasil dari pembenaran tadi: sebagai ganti dimurkai Allah, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Hal itu terjadi oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus, yang juga memungkinkan kita masuk ke kasih karunia, dan tidak hanya masuk tetapi juga berdiri di dalamnya. Kasih karunia diibaratkan zona aman di mana kita telah berdamai dengan Allah. Lebih lagi, di zona aman kasih karunia itu, kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah (2b). Jika aa.1-2a meringkas bagian sebelumnya, gagasan baru itu mengantarkan tema pp.6-8. Kerusakan gambar Allah akan dipulihkan di dalam orang-orang yang berdiri di zona kasih karunia yang dibentuk oleh Kristus.

Ayat yang berikut (3) pada awalnya mengejutkan: kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita. Ternyata pengharapan itu terjangkau melalui rangkaian di dalam aa.3-4: kesengsaraan, ketekunan, dan tahan uji. Pengharapan dapat merujuk pada apa yang diharapkan (pengharapan objektif) atau sifat berharap (pengharapan subjektif), dua segi yang tentunya tak terpisahkan. Dalam a.2 segi objektif yang dimaksud: kita bermegah dalam pengharapan akan perubahan yang akan terjadi (objektif), bukan dalam kemampuan kita untuk berharap akan perubahan (subjektif). Tetapi aa.3-5 berbicara tentang pewujudan segi subjektif, bagaimana pengharapan menjadi daya gerak yang kuat dalam kehidupan orang percaya. Pada umumnya kesengsaraan membuat manusia merasa dikutuk oleh Allah, hancur dalam dirinya, dan dibenarkan melakukan berbagai dosa untuk luput daripada sengsara itu. Dengan kata lain, kesengsaraan meneguhkan manusia dalam masalah dosa tadi. Tetapi dalam Kristus, kesengsaraan menjadi kesempatan untuk bertekun dalam zona kasih karunia itu, dan bertekun demikian membentuk karakter, kata lain untuk tahan uji, yakni sifat-sifat yang kuat di dalam diri seseorang. Dengan karakter seperti itu, pengharapan subjektif menjadi suatu daya gerak yang efektif, karena orangnya akan bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan, yakni, menjadi serupa dengan Kristus, bukan sesuai dengan kesusahan yang dihadapi.

Namun, membentuk pengharapan subjektif hanya berguna jika segi objektifnya layak diharapkan. Paulus menjawab soal itu dengan pembuktian tentang kasih Allah, tema yang muncul dengan jelas untuk pertama kalinya dalam kitab Roma di sini. Kasih itu dikenal dalam hati kita (secara subjektif) karena Roh Kudus yang diberikan kepada kita (5). Tetapi bukti objektifnya ada dalam pengorbanan Kristus (6-10). Dalam ayat-ayat ini Paulus meringkas apa yang sudah disampaikan dalam pasal-pasal sebelumnya, tetapi dalam rangka membuktikan kasih Allah, bukan keadilan-Nya sebagai Hakim. Kristus mati bagi orang berdosa yang tidak berdaya (6). Dia mati bagi bagi orang yang tidak layak, berbeda dengan kasih manusia yang membalas budi (7-8). Itulah dasar pembenaran. Dan karena kita sudah dibenarkan sekarang oleh darah-Nya, kita dapat yakin bahwa kita akan diselamatkan dari murka Allah pada penghakiman terakhir (9). Dengan kata lain, jika musuh telah menjadi sahabat karena kematian Kristus, lebih lagi Dia yang hidup akan membawa kita sampai selamat (10). Kematian Kristus, yang menjadi sarana Allah yang adil untuk membenarkan orang durhaka dalam pp.3-4, di sini menjadi bukti kasih Allah yang akan membawa orang sampai keselamatan eskatologis. Jadi, ada dasar untuk pengharapan bahwa kita akan mencapai kemuliaan Allah, sehingga bermegah dalam kesengsaraan yang menguatkan pengharapan itu masuk akal, lebih lagi mengingat bahwa Kristus telah berbagi dalam penderitaan kita di sini (tema itu menjadi lebih jelas dalam 8:17-18).

Oleh karena itu, Paulus mengajukan alasan untuk orang percaya bermegah dalam Allah: bukan karena Hukum Taurat menjadi landasan hidupnya melainkan karena Kristus telah membuka jalan pendamaian dengan Allah (a.11). Pp.6-8 akan menguraikan hal itu lebih lanjut.

Maksud bagi Pembaca

Setelah meyakinkan para pendengar surat di Roma bahwa status benar diterima sebagai anugerah di dalam Kristus (3:21-4:25), dalam perikop kita Paulus mau supaya mereka bermegah dalam Allah sesuai dengan dasar anugerah itu, bukan atas dasar yang lain. Ada dua segi yang diangkat Paulus. Yang pertama, dia mengajukan harapan akan pemulihan kerusakan gambar Allah dalam diri kita. Kerinduan yang dimiliki baik oleh orang Yahudi maupun oleh sebagian orang non-Yahudi untuk menjadi manusia yang baik itu akan diwujudkan dalam ranah kasih karunia, bukan Hukum Taurat (ataupun berbagai cara yang diajukan para filsuf Yunani). Yang kedua, dia menempatkan kesengsaraan sebagai bagian dari proses pemulihan itu. Yang khas di sini bukan bahwa penderitaan membentuk karakter, melainkan bahwa kasih Allah yang dialami oleh Roh dan terbukti dalam kematian Kristus menjadi penjamin pengharapan yang dikuatkan oleh kesengsaraan itu. Dengan demikian, Paulus secara ringkas telah menunjukkan bagaimana Injil kasih karunia adalah dasar untuk menjadikan Allah sebagai hal paling penting dan menarik dalam kehidupan kita, sekalipun di tengah berbagai pergumulan.

Makna

Soal bermegah adalah hal yang kunci dalam psikologi manusia. Sesuatu yang dimegahkan akan mengendalikan kehidupan kita, sesuatu yang tidak dimegahkan akan diabaikan jika dianggap mengganggu kepentingan kita. Adalah berguna kita bertanya, sejauh mana jemaat bermegah dalam adat, atau materi, atau gengsi, atau sesuatu yang lain. Perikop ini menyampaikan alasan yang kuat untuk bermegah dalam Allah melalui Kristus. Namun, saya melihat beberapa masalah dalam menyampaikan penguraian Paulus.

Yang pertama, di dalam jemaat ada yang sepertinya tidak rindu untuk mengenal Allah, dan tidak peduli tentang jarak antara keadaannya sebagai orang berdosa dan kemuliaan Allah yang diharapkan dalam a.2. Jika sikap itu muncul dalam sikap atau tindakan yang tidak disukai, pengkhotbah bisa tergoda untuk mengecam jemaat ketimbang membawa mereka kepada Kristus. Misalnya, pengkhotbah mengangkat kekurangan jemaat dibandingkan dengan standar kemuliaan Allah, dan menegor jemaat karena kurang saling mengasihi, menyumbang, atau entah apa lagi yang sedang mengganggu pengkhotbah. Padahal, dasar Paulus adalah Injil, berita tentang Kristus, dengan fokus di sini pada kematian-Nya sebagai dasar pembenaran dan bukti kasih Allah. Dia percaya bahwa berita kasih karunia itu menawarkan pengharapan yang kokoh akan kemuliaan Allah, dan di dalam kesusahan dan oleh kuasa Roh Kudus pengharapan itu akan menjadi daya yang kuat untuk mengubah kehidupan manusia sekarang. Pada hemat saya, tugas utama kita adalah menguatkan jemaat yang rindu akan Allah dengan pengharapan berdasarkan pengorbanan Kristus. Biar dengan kasih Allah dalam Kristus dijunjung tinggi, jemaat yang belum rindu akan dijamah oleh kuasa Roh Kudus sehingga bermegah dalam Kristus, bukan gengsi dsb. Hal itu tentu lebih mudah jika penghkotbah sendiri bermegah dalam Allah.

Yang kedua, soal bermegah itu menyangkut kemampuan untuk berpikir jangka panjang. Dalam budaya tradisional, orang Toraja yang sudah dewasa juga sudah mulai memikirkan upacara kematian-Nya, walaupun sisa hidupnya kemungkinan masih berpuluh-puluh tahun. Generasi muda mungkin lebih sulit berpikir jauh, tetapi dalam budaya Toraja bukannya tidak mungkin untuk orang bertindak berdasarkan suatu harapan yang masih jauh-jauh hari ke depan. Jadi, masalah dalam bertekun dalam pengharapan lebih terletak pada apa yang dimegahkan. Jika kasih Allah belum dirindukan, tentu kita tidak akan bertekun dalam kesengsaraan jika ada jalan pintas keluar. A.5 penting dalam konteks ini. Jika dalam Roh Kudus kita mencicipi kasih Allah sekarang, kita akan mencari lebih, walaupun dalam kesusahan. Seperti dikatakan di atas, hal itu akan terjadi karena orang menangkap kasih Allah dalam kematian Kristus. Seperti biasa, ketika Paulus berbicara tentang kasih Allah, bukan pemeliharaan Allah yang dia tonjolkan. Bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita (yakni, menjadi serupa dengan Kristus dan dimuliakan, bdk. 8:28-30 dalam rangka 8:17-18) hanya layak dipercayai karena 5:6-10 ini, dan hanya akan diimani dalam kesengsaraan jika 5:5 telah dialami.

Semoga peringatan masa Natal bahwa Allah Anak menjadi manusia sejati bagi kita membangkitkan kerinduan kita untuk menerima kemuliaan Allah.


Mazmur 53 Berharap karena Allah menindak kejahatan [11 Desember 2011] (Adven III)

Desember 7, 2011

Penggalian Teks

Mazmur 53 hampir sama dengan Mazmur 14. Ada dua perbedaan yang bermakna yang mendukung usul bahwa Mazmur 14 mempersoalkan penindas di dalam umat Allah, sedangkan Mazmur 53 mempersoalkan penindas dari luar. Mazmur 14 beberapa kali memakai kata Tuhan yang menerjemahkan nama Allah (“Yahweh”), sedangkan Mazmur 53 hanya memakai kata Allah (“Elohim”), istilah yang bukan milik Israel saja. Kemudian, Mzm 14:5-6 dan Mzm 53:6 cukup berbeda. Mzm 53:6 memperjelas pelaku kejahatan dalam 53:5 sebagai “para pengepungmu”, yaitu, tentara, yang ditolak oleh Allah. Mzm 14:5-6 tidak ada tambahan informasi tentang penjahat, dan menyoroti perlindungan Tuhan bagi orang yang benar. Usul perbedaan latar belakang ini tidak pasti, dan mungkin yang paling pokok adalah yang belakangan: Mazmur 53 lebih keras tentang nasib penjahat, sedangkan Mazmur 14 lebih menonjolkan perlindungan Tuhan.

Mazmur ini dapat dibagi tiga. Aa.2-4 menceritakan kejahatan manusia (a.2 dan a.4 merupakan inklusio dengan “tidak ada yang berbuat baik”); aa.5-6 menceritakan respons Allah; dan a.7 menyatakan doa akan pemulihan.

Kelompok yang dikeluhkan tergambar dalam a.2, pertama-tama dengan istilah “orang bebal” (nabal). Kata itu merujuk pada orang yang tidak berguna karena tidak peduli terhadap apa yang semestinya dipedulikan (seperti norma, atau Allah). Kelompok itu adalah ateis praktis. Ateis ideologis mengaku bahwa Allah tidak ada, dan bahkan memberitakan hal itu (paling sedikit demikian di dunia Barat). Tetapi dalam dunia agamawi seperti Israel (ataupun Indonesia), seorang ateis praktis tetap mengaku dengan mulutnya sebagai orang beragama, paling sedikit sebagai kedok atas kejahatannya. Tetapi tingkah lakunya menyiratkan bahwa dalam hati dia percaya bahwa Allah tidak ada—entah dalam artian tidak berada atau dalam artian praktis alpa dari dunia ini. Kata orang Toraja, “Siapa melihat ayam kencing?” (Indan tiroi tu manuk kattene?), artinya, Allah terlalu jauh atau tinggi untuk peduli, atau terlalu sibuk untuk memperhatikan, tingkah laku manusia. Alhasil, kelompok ini melakukan kecurangan yang membuat mereka busuk dalam hakikatnya dan jijik bagi sesama atau Allah. Tidak ada kebaikan yang mereka hasilkan.

A.3 langsung membantah anggapan ateis praktis itu. Ternyata Allah melihat. Dia memang tinggi, sehingga harus memandang ke bawah. Tetapi ada serangan balik. Jika orang bebal bertanya tentang adanya Allah, Allah bertanya tentang adanya orang yang berakal budi, yang mencari Allah. Yang dicari Allah di sini kebalikan dari orang bebal dalam a.2. Tetapi a.4 meragukan adanya orang yang dicari Allah itu. Semua telah menyimpang, sekaliannya bejat, tidak ada seorang pun yang berbuat baik. A.2 mulai dengan orang menilai Allah itu alpa, tetapi a.4 berakhir dengan Allah menilai manusia itu jahat.

A.5 menarik perhatian pembaca dengan mengusulkan adanya pengetahuan yang belum disadari oleh kelompok itu. Dosa mereka diperjelas, termasuk bahwa umat Allah yang ditindas, dan Allah tidak dipanggil. Dalam a.6 kita diberitahu apa yang belum disadari itu. Intinya bahwa Allah telah bertindak dengan “menghamburkan tulang-tulang para pengepungmu” dan “menolak mereka”. “Di sana” mungkin merujuk pada peristiwa tertentu di mana tentara yang mengepung kota Israel dikalahkan, seperti ketika Sanherib mengepung Yerusalem pada zaman raja Hizkia (2 Raj 18:13-19:37). Memang raja Asyur itu banyak membual terhadap Tuhan (misalnya, 2 Raj 18:33-35). Kemudian, dia mendengar isu yang mungkin boleh dikatakan membuatnya takut tanpa alasan (2 Raj 19:7-9), lalu, malaikat Tuhan keluar dan tulang-tulang tentara Asyur dihamburkan (2 Raj 19:35). Jika demikian, mungkin saja Mazmur 14 dari Daud diubah untuk memperingati peristiwa ini. Namun, dasar dalam sejarah tidak menutup tafsiran lebih luas tentang siapakah pengepung itu.

Berdasarkan tindakan Allah, a.7 menyampaikan doa untuk Tuhan bertindak. Sion disebut sebagai tempat Allah hadir dalam Bait Suci. Doa itu disertai dengan harapan bahwa Israel akan bersukacita atas karya Allah bagi mereka.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur mau menuntun umat yang merasa tertindas oleh penjahat untuk mengingat karya Allah bagi umat-Nya, sehingga berdoa untuk keselamatan. Karena umat Allah perlu diselamatkan dari ancaman orang jahat, mazmur ini juga dapat berfungsi seperti nubuatan, sebagai peringatan keras bahwa cara hidup mereka jijik dan nasib mereka buruk. Namun, idealnya jemaat siap kembali untuk menantikan keselamatan dari Kristus. oleh karena sudah yakin akan hukuman Allah terhadap kejahatan.

Makna

Pada masa Adven kita mengingat bahwa keselamatan bagi Israel telah datang dari Sion. Kristus datang sebagai Mesias Israel, menyucikan Bait Allah, mati bagi dosa Israel dan bangkit mengalahkan maut. Kita menunggu penyempurnaan kemenangan itu ketika Dia datang kembali. Dalam penggenapan tahap pertama ini, misi Allah yang dalam PL terfokus pada Israel diperluas untuk menjangkau semua bangsa, sesuai dengan janji Allah kepada Abraham (Kej 12:3). Makanya, kita menafsir Israel sebagai umat Allah yang sekarang terwujud dalam jemaat-jemaat, dan menafsir Sion, sumber keselamatan, sebagai Kristus.

Kita juga dapat melihat bagaimana Kristus sendiri mengalami mazmur ini. Dia berhadapan dengan, dan banyak mengecam, kemunafikan yang mengaku Allah tetapi hatinya jauh dari Allah, sehingga menindas orang kecil. Oleh karena itu, Dia dikepung, dan malah kelihatan sudah kalah ketika mati pada salib. Tetapi, ada kejutan besar. Kuasa Iblis dihamburkan, dan manusia yang melawan Dia dipermalukan, ketika Dia dibangkitkan. Dia menjadi sumber pertolongan dari Sion sorgawi sampai Dia datang kembali untuk menyempurnakan kemenangan-Nya.

Banyak umat Kristus juga mengalami serangan yang justru terlalu dekat dengan istilah pengepungan dalam a.6. Di Indonesia, kelompok-kelompok seperti FPI masih ringan ketimbang kondisi orang kristen di beberapa tempat di dunia. Yang menindas mereka termasuk orang ateis ideologis, seperti beberapa tempat rawan di Cina, tetapi juga orang beragama yang sudah pandai membuat agama sebagai kedok kepentingan pribadi. Jadi, komunitas kristen dikepung, kadangkala sampai mati. Tetapi, biar mereka mati, musuh-musuh mereka tetap akan dipermalukan, ketika Juruselamat dari Sion itu datang kembali. Pada saat itu, sukacita umat Allah tidak akan berkesudahan.

Jika tidak ada musuh dari luar yang terlalu jelas, kita tetap dapat menafsir “para pengepung” dalam rangka orang munafik di dalam gereja, misalnya, orang yang mengaku kristen tetapi terlibat secara tegas (bukan sewaktu-waktu tergoda) dalam berbagai penyakit sosial. Bahkan pelayan yang merusak jemaat diperingati Paulus dalam 1 Kor 3:16-17. Dalam konteks perlawanan kita bisa yakin akan hukuman Allah terhadap semua yang buruk, sehingga menantikan keselamatan dari Kristus itu.

Yang tidak diubah dengan kedatangan Kristus adalah perlunya hukuman itu. Memang, di dalam Kristus menjadi lebih jelas bahwa ada masa untuk pertobatan yang berlaku untuk semua manusia. Tetapi, akhirnya Allah akan bertindak demi pemulihan umat-Nya, bahkan seluruh dunia-Nya. Ketegangan yang mungkin terasa antara “menghamburkan” atau “dipermalukan” dalam a.6 dengan “memulihkan” dalam a.7 adalah hal biasa dalam Alkitab, karena dunia dianggap sangat rusak sehingga perlu cara yang keras untuk memperbaikinya. Proses itu digambarkan (dengan bahasa apokaliptik) dalam Wahyu 19-20, terkait dengan kedatangan Kristus kembali pada akhir zaman.


Kejadian 49:1-18 Berkat melalui Sang Mesias [27 November 2011] (Adven I)

November 23, 2011

Adven adalah masa penantian. Kita merayakan kedatangan Kristus untuk pertama kalinya yang mendapatkan keselamatan bagi kita, dan menantikan kedatangan-Nya kembali untuk menyempurnakan keselamatan itu. Dalam perikop ini kita belajar bahwa kedatangan itu bukanlah rencana mendadak dari Tuhan.

Penggalian Teks

Menjelang wafatnya Yakub di Mesir (48:21), ke mana dia bersama dengan seluruh keturunannya pindah karena Yusuf berada di sana sebagai penguasa, Yakub memanggil anak-anaknya. Dalam a.1 dia berjanji akan menyampaikan petunjuk tentang masa depan mereka sebagai kepala suku. Urutannya Ruben (3-4), Simeon dan Lewi (5-7), Yehuda (8-12), Zebulon (13), Isakhar (14-15), yaitu anak-anak Yakub dari Lea, kemudian Dan (16-17), Gad (19), Asyer (20), Naftali (21), yaitu anak-anak Yakub dari kedua gundik, kemudian Yusuf (22-26) dan Benyamin (27), anak-anak Yakub dari Rahel. Di antara Dan dan Gad, Yakub mengucapkan harapan akan keselamatan (18). Dalam a.28 ucapan-ucapan ini disebut sebagai pemberkatan. Jika a.1 melihat ke depan, dan a.18 mengharapkan keselamatan, a.28 ini juga merujuk ke belakang. Berkat adalah tema besar dalam kitab Kejadian, mulai dengan penciptaan manusia (1:28) dan dilanjutkan sebagai puncak dari janji Allah kepada Abraham (12:3).

Jika disebut sebagai berkat, justru ketiga anak pertama, Ruben, Simeon dan Lewi, mendapat tegoran (lihat Kej 35:22 & Kejadian 34). Hanya mulai dengan Yehuda maka nada menjadi lebih positif pada umumnya. Jika dicermati, Yehuda mendapat porsi yang lebih panjang, hanya diungguli oleh porsi Yusuf (sama-sama lima ayat, tetapi agak lebih panjang untuk Yusuf). Pada Yusuf tema berkat menonjol—dialah yang menjadi saluran berkat bagi keturunan Yakub. Tetapi ternyata masa depan ada pada Yehuda. Dalam a.8, mimpi Yusuf bahwa saudara-saudaranya akan sujud kepadanya diterapkan kepada Yehuda. Dari Yehuda akan datang seorang raja yang bahkan bangsa-bangsa akan takluk kepadanya (10). Ada hal-hal lain yang juga disebutkan melalui anak-anak lainnya, seperti keadilan dari Dan (16). Tetapi ketika Yakub mengharapakan keselamatan sebagai wujud nyata berkat dari Tuhan, Yehuda adalah saluran utama.

Melihat secara terperinci, nas tentang Yehuda itu mencakup dua bagian. Aa.8-10 memaparkan kejayaannya. Dia akan dipuji oleh Israel, akan berjaya atas musuh, dan berkuasa atas Israel (8). Dia akan berjaya seperti singa yang ditakuti semua binatang tetapi tidak takut akan binatang apa saja; mungkin kenaikannya menyinggung Yerusalem (kota Daud) sebagai kota yang tinggi (9). A.10 jelas memaparkan harapan mesianis. Daud adalah awal dari Yehuda sebagai suku para raja Israel, dan ucapan “sampai dia datang yang berhak atasnya” mengandaikan seorang raja keturunan Daud lagi. Ketika raja itu datang, bangsa-bangsa akan takluk. Itulah cara mesianis bangsa-bangsa akan masuk ke dalam ranah berkat Israel, sesuai dengan Kej 12:3 tadi. Aa.11-12 menggambarkan kesejahteraannya. Dia akan memiliki begitu banyak pohon anggur sehingga dipakai untuk menambatkan keledainya, dan buahnya dipakai untuk mencuci (11). A.11b bisa juga merujuk pada kegiatan mengirik anggur, di mana baju pasti kena percikan anggur itu. A.12 versi LAI sepertinya menggambarkan bahwa dia akan minum anggur dan susu sepuasnya; tafsiran lain (seperti sebagian versi modern bahasa Inggris) mengaitkan warna mata dan giginya dengan warna anggur dan susu.

Maksud bagi Pembaca

Bagi Israel, selain memberi petunjuk tentang setiap suku, perikop ini menempatkan raja Daud, atau kemudian Mesias, sebagai saluran keselamatan bagi Israel. Masa depan umat Allah sebagai saluran berkat terjamin karena kedatangan singa dari suku Yehuda. Respons umat Allah ditunjukkan dalam a.18, yaitu menanti-nantikan keselamatan dari Tuhan.

Makna

Berkat Allah terjamin akan mengalir melalui keturunan Abraham, sesuai dengan janji Allah kepada Abraham. Yakub adalah penerima berkat itu—dia sekeluarga sedang menikmati kelimpahan di tanah Mesir oleh karena Yusuf—dan dalam pesan terakhir ini dia meneruskan berkat itu kepada generasi berikut sebagai asal-usul keduabelas suku Israel. Harapan akan keselamatan itu terwujud berulang kali. Ketika ada firaun yang tidak lagi mengenal Yusuf, Allah menyelamatkan Israel dari Mesir. Ketika Israel terpuruk dan tertekan di bawah para hakim, Allah mengangkat para raja, khususnya raja Daud, dari suku Yehuda, yang di bawahnya Israel mengalami kesejahteraan yang besar (2 Sam 7:1). Beberapa kali lagi ada raja yang bisa memulihkan keadaan Israel, seperti Hizkia dan Yosia. Sejak Yehuda dibuang pada abad ke-6, mereka tidak pernah merdeka secara politik, bahkan ketika mereka kembali dari pembuangan, seperti diceritakan dalam kitab Ezra dan Nehemia. Maka muncullah harapan mesianis, yakni bahwa nubuatan Yakub yang sudah berulangkali digenapi (dan diteguhkan oleh berbagai nubuatan para nabi, seperti Yesaya 9 & 11; Mikha 5 dsb) akan digenapi satu kali lagi.

PB ternyata berbagi dalam harapan Yakub ini, dan memahami bahwa singa dari suku Yehuda itu Kristus. Adalah penting untuk diamati bagaimana tema kejayaan itu ditafsir ulang. Dalam Why 5:5-6, singa dari suku Yehuda itu ternyata tampak sebagai “seekor Anak Domba seperti telah disembelih”. Bandingkan Mk 8:29-31 (“Engkau adalah Mesias…Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan”); PB selalu memadukan Mesias yang berjaya dengan Hamba yang menderita. Hal itu dapat dilihat jika kita melihat setiap pernyataan dalam Kej 49:8-12 dalam terang Kristus. Kepada Yesus ada pujian dan sujud dari keduabelas suku Israel dalam wujud murid-murid Yesus, setelah Dia mengalahkan dosa dan maut pada penyaliban dan kebangkitan-Nya (8). Dia telah mematahkan musuh-musuh itu dan naik ke sebelah kanan Allah (Yerusalem sorgawi) untuk menikmati kerajaan-Nya (9). Dari situ bangsa-bangsa ditaklukkan melalui pemberitaan Injil yang mengundang semua manusia untuk menjadi murid Yesus (10). Ketika Dia mau masuk ke Yerusalem (Mk 11:1-11), Yesus merujuk pada Zak 9:9 yang sepertinya sudah menafsir kembali soal keledai dari Kej 49:11 sebagai kelemahlembutan (ada kombinasi kata dalam Zak 9:9 dan Kej 49:11 yang hanya terdapat pada kedua ayat itu dalam seluruh PL). Soal minum anggur menjadi cara Yesus menjangkau orang-orang berdosa dalam Luk 7:34. Kejayaan Kristus tidak dikurangi (Dia mengirik anggur dalam rangka penghukuman di Why 19:15), tetapi caranya melalui penderitaan dan kerendahan.

Jadi, bagi kita sekarang, janji Allah dalam pernyataan Yakub ini makin teguh. Kristus telah datang, telah memperlihatkan Kerajaan Allah dalam pelayanan-Nya, dan telah bangkit dari antara orang mati. Tidak ada alasan untuk ragu-ragu bahwa Dia akan datang kembali untuk menyempurnakan berkat yang telah Dia datangkan bagi kita. Itulah pesan Adven yang khas. Sejauh mana janji itu menjadi harapan utama kita, kehidupan kita akan bersifat penantian. Penantian itu tidak pasif tetapi aktif: kita giat membawa berkat karena kita adalah bagian dari pengaliran berkat sama seperti Yakub.

Namun, saya dapat membayangkan ada pelayan yang mengambil tema pengharapan dan berbicara tentang berbagai harapan sementara: harapan sembuh, harapan anak lulus ujian dsb. Mengapa? Karena konon orang Toraja berpikir “praktis” dan tidak mau pusing dengan harapan yang muluk-muluk. Peduli amat jika Tuhan akan meyelamatkan dunia suatu kelak, yang penting bagaimana hasil panen tahun ini. Sejauh mana pengamatan itu benar, dapat dikaitkan dengan padangan siklis, yaitu bahwa manusia lahir untuk mati dan menjadi sumber berkat bagi keturunannya. Hal itu mungkin juga diperkuat oleh banyaknya janji yang muluk-muluk dari para calon orang besar. Bagaimana memberitakan harapan Adven kepada orang yang berpandangan wajar saja seperti ini? Dalam yang berikut pikiran saya ditolong oleh beberapa rekan yang kepadanya saya mengajukan pertanyaan itu.

Perhatikan bahwa kita tetap berbicara tentang berkat (dalam rangka perikop yang sebenarnya, yaitu sampai 49:28, meskipun uraian tentang berkat terdapat di luar batas bacaan yang ditentukan). PL juga melihat berkat dalam rangka ternak, panen, dan keturunan. Tetapi makin lama makin diperhatikan bahwa berkat itu rawan. Tahun ini panen bagus, tahun berikut belum tentu. Lebih lagi ketika ketidakadilan menjadi pengalaman umum dalam kerajaan Israel yang justru makmur; orang miskin yang tidak bersalah menderita karena keserakahan orang kaya, dan orang benar rugi jika mempertanyakan keadaan itu. Jadi, jika suatu pengharapan atau cita-cita disebut duniawi, hal itu belum tentu berarti salah, tetapi sudah pasti berarti sementara dan terbatas. Hal-hal itu adalah fondasi yang sangat lemah untuk bertahan dalam kesusahan yang melanda semua orang.

Sebaliknya, dalam Kristus ada janji berkat yang kokoh dan pasti. Ketika Dia datang kembali, semua yang melawan Kerajaan-Nya akan lenyap (nasib Ruben dan Simeon menjadi peringatan di sini karena mereka kehilangan berkat karena dosanya, tetapi menarik bahwa Lewi yang kemudian menjadi suku imam karena Pinehas [Bil 25:12-13] menunjukkan bahwa penolakan itu bukan takdir tetapi selalu ada kesempatan untuk bertobat), dan kita akan mengalami kesejahteraan yang tak terbatas. Janji itu kokoh karena berulangkali Allah menggenapinya kepada Israel, dan penggenapan terakhir adalah kebangkitan Yesus, buah sulung dari pembaruan seluruh dunia. Ketika kita mengalami berkat-berkat sementara, kita dapat menikmatinya sebagai cicipan dari berkat kekal itu. Ketika kita mengalami kesusahan, kita dapat bertahan dalam pengharapan, sambil bersukacita karena tetap ada cikal bakal dunia mendatang, yaitu pengampunan di dalam Kristus, penyertaan Allah, dan persekutuan gerejawi di dalam Roh Kudus.

Kiranya kita menanti-nantikan keselamatan itu, bukan hal-hal yang terbatas saja.


Mt 28:1-10 Dari Kecemasan sampai Pengharapan

April 22, 2011

Kedua Maria pergi ke kubur Yesus dalam dunia yang kita kenal, yaitu dunia yang di dalamnya kebenaran ditindas oleh kepentingan kuasa dan pengharapan hanya mengecewakan. Dalam dunia seperti ini, tinggal tindakan-tindakan kecil yang masih bermakna, seperti menengok kubur pemimpin rohani kekasih yang sudah menjadi korban dunia itu. Berbuat baik dalam dunia seperti ini sulit dipertahankan, karena kebaikannya lenyap dalam kegelapan, seperti dilambangkan oleh kegelapan yang meliputi bumi sambil Yesus di atas salib (27:44). Memang Matius sudah melaporkan dua petunjuk bahwa Yesus justru telah berhasil menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka, tetapi perempuan-perempuan itu belum tahu—yang satu terjadi di dalam Bait Allah, yang satu terjadi setelah kebangkitan Yesus.

Tetapi mereka pergi ke kubur menjelang menyingsingnya fajar (a.1) pada hari pertama, seakan-akan kita ada pada hari pertama penciptaan menunggu Allah berfirman, “Jadilah terang”. Dan itulah yang terjadi. Matius tidak memakai ketegangan seperti ketiga Injil yang lain, sehingga dia melewatkan bagian di mana penengok kubur melihat dulu kubur yang kosong baru diberitahu oleh malaikat (pedoman Gereja Toraja memuat penguraian tentang perbedaan-perbedaan antara keempat Injil soal kebangkitan Yesus). Dia langsung menceritakan suatu pertunjukan yang hebat dari Allah, lengkap dengan kuasa dan terang (aa.2-3). Dengan demikian, keadaan tiba-tiba terbalik. Para penjaga, wakil kepentingan-kepentingan yang membunuh Yesus, tidak dapat bicara lagi dan malah tergolong dengan orang mati (a.4). Sebagai lawan dan musuh Yesus, kebangkitan Yesus bukan kabar baik. (Jika kita melihat 28:16-20, satu hal yang menarik ialah bahwa kepada musuh Yesus ditawarkan kesempatan untuk bertobat, bukan pembalasan langsung.) Yang berada dan yang hidup adalah kedua perempuan itu, dan mereka tidak usah takut karena mereka tergolong orang yang mau menemukan Yesus, bukan meniadakan Dia (a.5).

Namun, mereka takut. Mengapa? Mereka mencari Yesus yang disalibkan, bukan yang telah bangkit; mereka lupa bahwa Dia sudah mengatakan bahwa Dia akan bangkit. Matius memperlihatkan suatu ironi di sini. Musuh-musuh Yesus mengingat pemberitahuan Yesus itu (27:63), tetapi teman-teman-Nya tidak. Namun, buktinya ada di depan mata mereka—tempat dia dibaringkan kosong (a.6). Jika sebagai Raja Israel Yesus harus mengalami pembuangan Israel dalam bentuk penghinaan dan kematian di kayu salib sebagai pengganti bagi orang berdosa, sekarang jelas bahwa Allah sudah menuntaskan proses keselamatan itu dengan membangkitkan Dia. Yesus masuk ke dalam ranah maut supaya semua yang bergabung dengan-Nya bisa dibawa keluar ke dalam hidup yang baru (bnd. Rom 6:4). Kegelapan sudah menjadi terang, kecemasan sudah dikalahkan oleh pengharapan baru: Allah tidak alpa dari dunia ini, tetapi sudah bertindak merintis pembaruannya dan menyelamatkan manusia di dalamnya. Makanya, mereka disuruh untuk mengabarkan berita itu kepada murid-murid Yesus, bahwa mereka dapat melihat Yesus kembali (a.7).

Mereka keluar dengan sukacita yang besar, dan semangat yang tinggi untuk mengabarkan berita ini, tetapi mengapa masih ada ketakutan (a.8)? Dugaan saya bahwa kita melihat bagaimana kecemasan itu sulit dilepaskan sepenuhnya. Kabar itu “too good to be true”, terlalu baik untuk dipercayai. Jangan sampai mereka dikecewakan kembali. Hanya dalam perjumpaan dengan Yesus, ketika mereka dapat memegang dan menyembah-Nya, berita tentang kebangkitan-Nya menjadi utuh. Pesan Yesus kepada mereka hanya ringkasan dari pesan malaikat, tetapi mereka mulai mengalami berkat utama dari kebangkitan, yaitu persekutuan dengan Yesus sendiri.

Dunia mereka tidak pernah sama lagi, dan jika kita menerima berita ini dan membiarkan diri berjumpa dengan Yesus, dunia kita juga tidak akan sama. Yesus adalah Raja Juruselamat: di dalam-Nya Allah sudah bertindak untuk memulihkan dunia ini, sehingga di tengah kegelapan yang teramat buruk ada pengharapan bahwa fajar mau menyingsing. Yesus adalah Bait Suci yang dibangun kembali: dengan kenaikan Yesus dan pengutusan Roh Kudus, kita semua bisa menyembah Yesus dan menikmati hadirat Allah langsung melalui-Nya. Tetapi, di manakah kita dalam cerita ini? Tentu bukan pada musuh Yesus. Tetapi apakah masih mencari Yesus yang disalibkan sehingga larut dalam kecemasan? Atau sudah menerima kabar kebangkitan-Nya, tetapi belum masuk hati sehingga plin-plan antara sukacita dengan kecemasan? Atau sudah bersekutu dengan Kristus sehingga siap memberitakan-Nya kepada orang lain?

Selamat merayakan harapan hari kebangkitan, dan persekutuan dengan Kristus yang telah bangkit.


Mt 27:32-56 Raja menunaikan tugas-Nya

April 20, 2011

Perikop ini menceritakan kisah yang penuh perasaan yang tidak akan diuraikan di sini lagi. Untuk menangkap makna dari apa yang terjadi, kita akan melihat apa yang dikatakan, walaupun sebagiannya sangat ironis. Di atas semuanya adalah tulisan yang terpasang, bahwa Yesus adalah raja orang Yahudi (a.37). Apa tugas seorang raja?

Masyarakat umum yang kebetulan lewat menyumbang pemahaman mereka dalam a.40, “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu.” Bait Suci memang termasuk urusan raja. Tetapi apa gunanya raja yang tidak bisa menyelamatkan diri? Daud, anak Allah selaku raja Israel (bnd. 2 Sam 7:14; Mzm 2:7), mulai memikirkan pembangunan Bait Suci ketika “Tuhan telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling” (2 Sam 7:1), artinya, pembangunan Bait Allah adalah buah dari keselamatan yang telah dia hasilkan bagi Israel. Andaikan Yesus dapat turun dari salib secara ajaib, klaimnya mulai masuk akal. Pertimbangan itu diulang oleh imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat dalam a.42, kemudian dikuatkan dalam a.43, “Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.” Nasib Yesus sepertinya adalah bukti bahwa Allah menolak Yesus sebagai Anak-Nya. Harapan Yesus adalah harapan yang semu.

Tetapi tunggu dulu. Siapakah Yesus menurut Injil Matius? Petunjuk pertama dilihat dalam perikop ini sendiri. “Orang yang lewat” dan “menggelengkan kepala” dalam a.30 terdapat juga dalam Rat. 2:15. Pada saat itu, Bait Suci telah roboh karena serangan orang Babel pada tahun 586 sM, sehingga Yerusalem menjadi sasaran penghinaan bangsa-bangsa. Yesus di salib adalah Bait Suci yang telah roboh. Bagaimana bisa disebut “Bait Suci”? Ingat bahwa malaikat menyampaikan kepada Yusuf bahwa Yesus merupakan Imanuel, “Allah menyertai kita” (1:23). Bait Suci adalah simbol hadirat Allah; Yesus adalah wujud nyatanya. Sebagai raja Israel (Matius p.2 sudah menegaskan benarnya gelar itu) Yesus tidak mengurus Bait Suci, Dia membawanya.

Namun, masalah keselamatan itu masih mendesak. Bukankah malaikat juga menyampaikan kepada Yusuf bahwa Yesus “akan menyelamatkan umat-Nya” (1:21). Tetapi dari apa? Dari “dosa mereka”. Memang, karena penjajahan Israel sering ditafsir sebagai hukuman Allah, keselamatan dari dosa bisa saja ditafsir sebagai keselamatan dari akibat dosa, yaitu penjajahan Israel. Namun, ternyata dalam rencana Allah, perkataan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat persis benar. Untuk menyelamatkan orang lain, Yesus tidak bisa menyelamatkan diri-Nya. Sebagai Anak Allah yang membawa hadirat Allah ala Bait Suci, Yesus harus dirobohkan supaya dibangun kembali sebagai wujud nyata bahwa pemulihan umat Israel telah mulai. Dengan demikian Dia mewujudkan tugas-Nya sebagai Anak Allah, raja Israel, untuk menyelamatkan umat-Nya dari yang paling mengancam keberadaan mereka, yakni dosa mereka.

Dengan demikian, kita dapat memahami ungkapan Yesus pada salib, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (a.46) Pada salib, Yesus mengambil tempat Israel yang dibuang, sungguh ditinggalkan Allah. Mzm 22:2 yang dikutip menunjukkan bahwa hal itupun termasuk tugas Mesias. Yesus mengambil tempat umat yang berdosa untuk membebaskan mereka dari dosa itu. Hasilnya dilihat dalam aa.51-52. Tabir Bait Suci terbelah dua, menunjukkan bahwa fungsinya telah roboh, diambil alih oleh Yesus. (Ada juga yang menafsirnya dalam rangka Ibr 9:1-10, di mana tabir menunjukkan bagaimana manusia terhalang menghadapi Allah karena dosanya, tetapi halangan itu tidak ada lagi karena pengorbanan Kristus.) Orang-orang kudus bangkit, menunjukkan bahwa maut, akibat dosa, telah dikalahkan. Oleh karena itu, seorang wakil dari bangsa-bangsa dapat mengaku bahwa Yesus sungguh adalah Anak Allah (a.54). Yesus tidak hanya menjalani tugas-Nya sebagai raja Israel untuk Israel, tetapi juga untuk segenap umat manusia yang dibuang dari hadirat Allah oleh karena dosanya.


Yes 11:1-10 Allah memulihkan dunia dalam Raja yang Dia utus

Desember 11, 2010

Perikop ini menyampaikan gambaran yang luar biasa tentang sebuah dunia yang sudah berdamai, yang akan terjadi melalui tunas dari tunggul Isai, yakni Mesias. Namun, jika mau dipahami sebagai janji Allah yang akan digenapi, dan bukan hanya sebagai semacam perumpamaan yang memaparkan suatu ideal, ada beberapa hal yang membingungkan. Kita memahami bahwa perikop ini digenapi dalam Kristus, dan hal itu jelas dalam aa.1-4a & 5. Tetapi a.4b dan aa.6-10 sepertinya belum terwujud dengan jelas. Bagaimana hal itu mau dipahami?

Yang pertama, nubuatan ini dialamatkan kepada Israel, kemungkinan di bawah raja Ahas yang menjadi sorotan dalam p.7. Dia adalah raja yang takut akan manusia bukan Tuhan, dan nubuatan Mesianis dalam 8:23-9:6 memaparkan raja yang lain dari Ahas, raja damai yang kerajaan-Nya berlandasan keadilan. Kemudian, pp.9-11 menyampaikan kisah selanjutnya, kisah tentang hukuman kepada Israel yang diikuti oleh penyelamatan. Hukuman kepada Efraim (Israel Utara) diceritakan dalam 9:7-10:4. Keselamatan dimulai dengan alat hukuman itu, Asyur, dihukum pada gilirannya karena caranya yang jahat (Yes 10:5-19), sehingga sisa Israel dapat diselamatkan (10:20-27a). Cara hal itu terjadi mungkin digambarkan dalam 10:27b-34, di mana Aysur maju untuk menyerang Yerusalem tetapi menjadi seperti pohon besar yang ditebang. Nubuatan-nubuatan itu pertama-tama menyangkut hal-hal yang terjadi pada masa Yesaya, yaitu Israel Utara jatuh k.l. 722 sM (bnd. 2 Raj 17), dan Asyur gagal menyerang Yerusalem pada tahun 701 sM karena sesombongannya (bnd. Yes 36-37).

Dalam konteks itu, Allah menjanjikan dalam perikop kita raja yang sangat lain dari raja-raja Asyur: sebuah tunas (bukan pohon besar) yang takut akan Tuhan dan menghakimi dengan keadilan. Walaupun kelihatan tidak apa-apa, tetapi Roh Allah ada padanya dan dia justru membawa pembaruan dunia. Perikop berikut (11:11-16) bercerita tentang Israel (bagian utara) pulang dari pembuangan, sama seperti dulu Israel diselamatkan dari Mesir, sehingga Israel bisa bersatu kembali. P.12 menutup pasal-pasal ini dengan pujian oleh karena keselamatan itu.

Jadi, perikop ini memberi Israel janji bahwa Allah akan memulihkan Israel bahkan seluruh bumi melalui seorang raja keturunan Daud yang dalam kuasa Roh Tuhan akan menegakkan keadilan dengan meningkatkan kaum tertindas dan meniadakan orang fasik.

Nubuatan seperti itu sering memiliki penggenapan berganda. Hizkia, raja ketika Asyur gagal mengalahkan Yerusalem, mungkin diharapkan menggenapi bagian-bagian lain dari nubuatan ini, tetapi dia meninggal dan yang mengikutinya jahat kembali. Kemudian, setelah Yehuda (Israel Selatan) dibuang dan kembali dari pembuangan dan belum ada raja, harapan itu harus tertunda lagi. Konsep Mesias merujuk pada harapan bahwa akhirnya Tuhan akan mengutus raja ini untuk memulihkan Israel dan membarui dunia. Ketika Kristus datang menggenapi janji itu, ternyata yang dianggap di sini satu rangkaian peristiwa juga berproses. Kristus menunjukkan sifat seperti aa.1-4a dalam pelayanan-Nya, tetapi pembaruan dunia menantikan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya. Sifat nubuatan itu sering digambarkan seperti melihat puncak gunung. Dari jauh, ada dua puncak yang kelihatan bertepatan, tetapi ketika sampai yang pertama puncak kedua ternyata masih jauh. Masa Adven menangkap bahwa kedua kedatangan Kristus merupakan satu kesatuan dari perspektif rencana Allah, walaupun waktunya ternyata lama di antaranya.

Apakah dengan demikian, gambaran yang begitu luar biasa tentang keadilan dan damai hanya sebuah janji masa depan yang belum memiliki relevansi untuk sekarang, atau sebatas suatu idealisme yang tidak dapat dianggap bersentuhan dengan dunia riil? Kita bisa saja digerakkan oleh sebuah idealisme, tetapi janji-janji Alkitab menyampaikan harapan eskatologis. Jika yang ideal melayang-layang di sorga, harapan eskatologis percaya bahwa yang di sorga akan terwujud di bumi, sehingga semestinya mulai diterapkan sekarang. Orang yang mengusahakan keadilan dan damai sekarang bertindak sesuai dengan masa depan dunia, walaupun untuk sementara semua usaha itu tidak berhasil sepenuhnya, dan kadangkala kelihatan gagal. Sebagai contoh, karena pembangkitan listrik dapat jauh lebih bersih daripada membakar minyak, ada gagasan untuk memakai listrik, bukan BBM, untuk menggerakkan mobil. Seandainya itu satu ideal saja, mungkin akan dianggap kurang praktis, dan mobil listrik hanya akan dibeli oleh peminat yang kaya. Tetapi, karena produksi minyak di bumi kemungkinan sudah berpuncak, harga BBM akan meningkat pesat. Oleh karena itu, di AS dan beberapa negara yang lain, mobil yang memakai listrik adalah masa depan mobil. Mobil itu mulai laku bukan hanya karena suatu idealisme, tetapi karena melihat bahwa arah dunia memang ke sana.

Saya duga bahwa pemimpin-pemimpin Yahudi yang percaya pada pemberitaan Yesaya ini didorong untuk melaksanakan tugasnya dengan keadilan, melihat arah dunia yang dijanjikan Allah. Lebih lagi kita, sebab dalam kedatangan Kristus yang pertama, janji Allah itu sudah mulai digenapi. Kita bukan raja damai yang dipakai Tuhan untuk memulihkan dunia, tetapi kita berada di dalam-Nya, sehingga hidup kita diarahkan oleh masa depan itu.


Yer 31:21-26 Meresponsi harapan

Oktober 19, 2010

Aa.21-22 secara sederhana dapat diartikan sebagai seruan untuk berani mengambil dengan tidak ragu-ragu (22a) kesempatan yang diciptakan Tuhan (22b) dengan memperhatikan jalan yang telah ditempuh (21). Pertanyaan ialah, kesempatan apa yang dimaksud? Atau apakah kita dengan bebas mengartikannya sesuai dengan kebutuhan kita, misalnya, “berikan uang banyak-banyak untuk pendirian gedung gereja karena IMB sudah ada”. Memperhatikan konteks akan memberi kita pemahaman yang lebih tajam dan dalam dari sekadar seruan untuk berani.

Yeremia 30-31 merupakan serangkaian nubuatan keselamatan. Setelah pembuangan, Allah akan membawa Israel pulang dari pembuangan (30:10; 31:8) dan memulihkan mereka di hadapan musuh-musuh (30:16) sehingga keadaan mereka pulih (mis. 31:11-14), luka-luka batin diobati (mis. 30:17; 31:15-17) dan ada kesadaran dan pertobatan yang baru (31:18-20). Alasannya supaya relasi perjanjian terwujud, yaitu bahwa Tuhan menjadi Allah Israel dan Israel menjadi umat-Nya (30:22; 31:1, 33b). Setelah sela dalam a.26, pasal 31 berakhir dengan serangkaian nubuatan tentang zaman baru, ditandai dengan frase “waktunya akan datang” (31:27, 31, 38). Bagian itu mungkin bermaksud bukan lagi akan proses keselamatan melainkan akan keadaan yang terwujud olehnya.

Jadi, seruan aa.21-22 ini merupakan seruan untuk masuk ke dalam zaman baru itu, satu-satunya seruan dalam pp.30-31 untuk bertindak (yang lain adalah seruan untuk mendengar dan tidak takut). Israel dipanggil untuk mengingat jalan ke dalam pembuangan supaya kembali ke kota-kotanya di Israel (21). Kota-kota di sini berarti hidup sebagai komunitas, alias umat Allah. Untuk hal itu, tidak usah ragu-ragu, karena keadaan berubah, Tuhan menciptakan sesuatu yang baru. Apa persis yang dimaksud dengan “perempuan merangkul laki-laki” tidak jelas. Beberapa kemungkinan dicantumkan di bawah.[1] Tetapi dari konteks (atau koteks, teks di sekitarnya), yang baru yang diciptakan Tuhan ialah keselamatan, seperti digambarkan dalam aa.23-25 dan seluruh pp.30-31. Artinya bahwa karya keselamatan Tuhan bagi Israel yang menjadi landasan untuk Israel berencana dan berani pulang ke tanah suci.

Lalu, bagaimana dengan kita yang bukan orang Israel dalam pembuangan? Memang, kata keselamatan, yang dipakai dalam koteks (30:7, 10, 11; 31:7) bisa langsung kita maknai sebagai pengikut Kristus. Perlu diingat bahwa pemaknaan itu tidak sembarang. Sebagaimana saya uraikan di sini, pembuangan Israel sejajar dengan pengusiran manusia dari taman Eden dan kematian Kristus, sehingga pengembalian dari pembuangan sejajar dengan hidup dan kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus memecahkan keterasingan Israel dari Allah yang melambangkan keterasingan manusia dari Allah. Jadi, seruan ini mengajak kita sebagai orang-orang berdosa untuk kembali kepada Tuhan dengan bergabung kembali dengan persekutuan orang percaya.

Apakah dengan demikian perikop ini hanya berbicara tentang jiwa kembali kepada Tuhan? Tidak. Gambaran-gambaran PL tentang syalom yang dijanjikan Tuhan tetap melatarbelakangi harapan PB tentang kehidupan jemaat yang terarah oleh harapan ciptaan baru. Syalom dalam jemaat yang sedang ditindas belum tentu mengalami kelimpahan materi—mungkin untuk hal itu ciptaan baru harus ditunggu—tetapi soal menikmati persekutan sebagai umat Allah semestinya sudah dialami, dan peningkatan ekonomi jemaat searah dengan harapan itu sejauh dimungkinkan, seperti di Indonesia pada umumnya. Tetapi banyak yang mundur maju dalam iman, tidak menolak tetapi tidak siap untuk menjadikan keselamatan Allah pengarah dan tujuan hidupnya. Apakah hal itu karena harapan jemaat masih kabur? Saya menghitung 44 ayat tentang harapan sebagai landasan seruan dalam aa.21-22. Landasan seruan untuk kembali dan tidak ragu berada bukan dalam semangat penyeruan melainkan dalam karya keselamatan Allah yang disampaikan secara panjang lebar.

[1] Kata “merangkul” menerjemahkan kata yang berarti “berada di sekitar”. Tafsiran tradisional mengartikannya sebagai nubuatan Maria mengandung Yesus. Dari perspektif PB tafsiran itu masuk akal, tetapi tidak ada petunjuk bahwa kalimat ini adalah nubuatan Mesias. Ada juga yang mengaitkan perempuan dengan Rahel (31:15) yang dapat kembali merangkul anak-anaknya yang dibuang (yaitu, Efraim, Manasye dan Benyamin) karena sudah pulang. Satu alternatif lagi beranjak dari kemiripan “tidak taat” dan “merangkul” dalam bahasa aslinya, sehingga mungkin ada permainan kata. Dengan demikian, anak dara Israel yang tidak taat adalah perempuan yang kembali merangkul Tuhan sebagai pahlawan yang sudah menyelamatkannya (kata geber sering berarti laki-laki yang gagah perkasa, dan dalam rangka itu dapat dipakai untuk Tuhan). Tidak satupun tafsiran tanpa kelemahan yang signifikan.


Titus 2:1-10 Pelayan, ajaran dan jemaat yang sehat

September 20, 2010

Titus 1 menugasi Titus untuk menghadapi masalah ajaran yang tidak sehat dalam jemaat-jemaat di Kreta (1:5). Ajaran itu berdampak pada kekacauan (1:10) dan jemaat yang rentan terhadap penipu (1:11). Dalam p.2 Paulus memberitahu Titus apa yang harus diajarkan untuk menanggapi ajaran yang tidak sehat itu (lihat “beritakanlah” dalam a.1 dan a.15 untuk membuktikan bahwa aa.1-15 merupakan satu kesatuan). Nasihat Paulus terbagi dua. Perikop kita (aa.1-10) menguraikan gambaran tentang hidup yang tertib untuk berbagai kelompok: laki-laki yang tua (a.2); perempuan yang tua (aa.3-4a); perempuan yang muda (aa.4b-5); pemuda (a.6) dan hamba (aa.9-10). Dalam penguraian itu kelompok pertama (a.2) menunjukkan pola mendasar, karena beberapa kali kemudian ada kata “demikian…demikian” (aa.3, 5). Jadi, nasihat mendasar adalah hidup sederhana (secara harfiah bukan peminum, tetapi secara kiasan bukan seperti peminum yang tidak dapat mengendalikan diri), terhormat (karena kebaikannya), bijaksana dan akhirnya sehat dalam iman, kasih dan ketekunan (wujud nyata dari pengharapan, artinya, jika kita berpengharapan kita dapat bertekun). Yang terakhir ini menunjukkan bahwa yang diharapkan bukan sifat saja, tetapi sifat yang berasal dari Injil. Hal itu menjadi jelas dalam bagian kedua, yaitu aa.11-14, yang mendasarkan sifat baik dalam a.12 pada karya Allah dalam Kristus (aa.11, 13-14). Jadi, Titus harus menanggapi ajaran yang tidak sehat itu dengan nasihat tentang sifat hidup yang tertib serta dasar teologisnya.

Nasihat itu mendasari Injil, tetapi juga memperhatikan konteks. Dalam a.2 kata “terhormat” merujuk pada sesuatu yang dianggap sangat layak dikagumi, dan dipakai untuk dewa dan kaisar selain juga untuk manusia biasa yang dianggap terhormat. Artinya bahwa nilai-nilai setempat berperan dalam tingkah laku orang percaya. Bukan menentukan, karena Injil yang menentukan, tetapi kita hendak menghayati nilai-nilai Injil sedemikian rupa sehingga orang-orang di sekitar kita dapat melihat bahwa cara hidup itu terhormat. Makanya, nasihat kepada perempuan dan kepada hamba disesuaikan dengan budaya setempat, agar Firman Allah jangan dihujat orang (a.5) melainkan dimuliakan (a.10). Belum tentu di budaya modern bahwa hanya perempuan yang mengatur rumah tangga, atau bahwa karyawan harus taat dalam segala hal, karena karyawan bukan hamba. Tetapi kita tetap mau menunjukkan rumah tangga yang dapat dilihat sebagai sesuatu yang terhormat oleh orang di sekitar kita, dan menjadi karyawan yang memuliakan ajaran Allah.

Jika jemaat mau dijadikan wujud nyata Firman Allah bagi masyarakat di sekitarnya, pelayan juga harus menjadi teladan pemberitaannya kepada jemaat (aa.7-8). Menarik bagi saya bahwa soal keteladanan diangkat pada bagian tentang pemuda. Apakah pada saat itu juga pemuda lebih memperhatikan cara hidup daripada wacana? Tentu, soal keteladanan penting untuk semua kelompok.

Nasihat kepada kelompok-kelompok tidak sulit untuk disampaikan, tetapi apa relevansinya nasihat kepada Titus sebagai pelayan bagi jemaat biasa? Yang pertama, sebagian mereka melayani, entah sebagai majelis atau dalam salah satu OIG. Yang kedua, orang tua semestinya melayani dalam rumah tangga, dan kita semua dapat melayani teman-teman. Tetapi juga, jemaat dapat belajar dan memahami bagaimana semestinya pelayanan kepada mereka. Apakah pendeta dan majelis menjadi teladan firman yang dia sampaikan, contoh orang yang sehat dalam iman, kasih serta ketekunan? Jika tidak, mengapa dipilih?

Singkatnya, amanat teks dapat dirumuskan begini: Cara menghadapi dampak buruk ajaran yang tidak sehat pada kesaksian jemaat ialah pemberitaan nasihat yang dihayati oleh pelayan untuk hidup tertib berdasarkan Injil dan sesuai dengan konteks. Dengan kata lain, pelayan yang sehat memberitakan ajaran yang sehat supaya jemaat menjadi sehat dan membawa kemuliaan bagi firman Allah di masyarakat. Amanat khotbah dapat berfokus pada soal kualitas pelayanan ataupun pada penghayatan iman oleh jemaat.


Rom 13:8-14 Kasih dalam Pengharapan

Februari 8, 2010

Satu pola agama, seperti yang saya pahami tentang aluk to dolo (agama nenek moyang orang Toraja), adalah ketaatan kepada sistem aturan tingkah laku (pemali alias tabu) dan ritus untuk mendatangkan berkat (kesejahteraan) dan mencegah kutuk (musibah). Mungkin ada jemaat yang menerapkan pola yang sama. Jika kesepuluh Firman ditaati dan ibadah rajin diikuti ada harapan bahwa hidup akan berjalan mulus; jika tidak ditaati ada ketakutan bahwa suatu musibah akan terjadi. Perikop ini menunjukkan peran yang sebenarnya dari aturan hidup dan sumber berkat yang sebenarnya.

Roma 1-11 menguraikan “kemurahan Allah” yang menjadi dasar perubahan hidup (12:1). Kemurahan itu bukan bahwa Allah masa bodoh terhadap kesalahan dan dosa kita, melainkan bahwa dalam Kristus hukuman (kutuk) dari dosa kita sudah ditanggung Kristus (3:25), dan bahwa dalam Roh Kudus dosa sedang dimatikan (8:13). Lebih lagi, ciptaan Allah yang di bawah perbudakan kebinasaan (dikutuk) akan dimerdekakan (8:21).

Atas dasar itu, perubahan hidup dikerjakan dalam konteks tubuh Kristus (12:3-8), dan intinya adalah kasih (12:9; 13:8). Kasih itu digambarkan dalam 12:9-13:7, termasuk kasih kepada musuh dan hormat kepada pemerintah. Dalam perikop kita, hubungan kasih dan hukum Taurat dijelaskan. Mengasihi sesama berarti memenuhi hukum Taurat (13:8). Sebaliknya, kesepuluh Firman menguraikan kasih (13:9-10). Kesepuluh Firman serta “firman lain manapun” (tentu sebagaimana ditafsirkan dalam ajaran Yesus dan juga oleh Paulus, seperti 12:9 dst tadi) tetap memberitahu batas-batas tingkah laku kita, karena jika kita langgar kita tidak lagi bertindak dalam kasih. Tetapi kita taat bukan untuk mencegah musibah melainkan demi kebaikan sesama, bukan karena takut melainkan karena kasih.

Jika motivasi untuk berbuat baik adalah kasih kepada sesama, apa motivasinya untuk kasih? Jawaban Paulus adalah “karena kamu mengetahui keaadaan waktu sekarang”, yaitu bahwa keselamatan lebih dekat (13:11). Keselamatan itu menyangkut akhir zaman, saat ciptaan akan “masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (8:21). Untuk banyak jemaat soal akhir zaman sepertinya terasa kurang konkret, karena menyangkut masa depan sedangkan mereka hidup dalam masa kini saja. Tetapi bagi Paulus akhir zaman adalah sangat praktis, karena merupakan puncak dari sesuatu yang sudah berjalan. Kutuk sudah diambil dari orang percaya sekarang juga, karena sudah ditanggung Kristus pada salib. Sekarang juga “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (8:28). Penderitaan dan pergumulan bukan lagi pertanda kutuk melainkan pertanda persekutuan dengan Kristus (8:17), yang dipakai Allah untuk menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya (8:29). Keselamatan pada akhir zaman adalah puncak dari berkat Allah kepada kita, yang terjamin karena Allah “tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua” (8:32). Dengan sikap optimis bahwa kita sedang diberkati Allah itu, kita disuruh untuk menggantikan perbuatan kegelapan dengan senjata terang. Selain ada perlawanan antara gelap dan terang, ada juga antara perbuatan dengan senjata. Perbuatan bisa pasif dalam artian terbawa arus, sedangkan senjata menunjukkan bahwa ada niat untuk melawan arus.

Untuk memakai senjata terang, keinginan harus terkendali (aa.13-14). Hukum yang kesepuluh ialah “jangan mengingini”, dan hal-hal yang disebut dalam a.13 menunjukkan keinginan yang tidak lagi pada batasnya, tidak lagi sopan dan tertib. Caranya untuk hidup tertib dijelaskan dalam a.14. Mengenakan Kristus mengulang konsep mengenakan perlengkapan senjata terang dari a.12 (“sebagai perlengkapan senjata terang” adalah tambahan oleh LAI dalam a.14). Perlengkapan senjata adalah janji-janji Allah dalam Kristus dan hidup yang makin serupa dengan Kristus, sehingga mengenakan perlengkapan itu adalah mengenakan Kristus. Hal itu berarti bahwa harapan kita tertuju pada Kristus sehingga keinginan-keinginan kita akan diatur oleh harapan itu. Dengan demikian kita bisa melawan dosa dalam kedagingan (“tubuh” menerjemahkan sarx yang merujuk kepada keinginan-keinginan yang melawan Allah) dengan tidak berpikir-pikir kapan kita bisa berdosa lagi.

Jika kita masih terperangkap dalam pemahaman “agamawi”, yaitu keinginan untuk menyelamatkan diri melalui keagamaan kita, maka kita perlu mengingat bahwa keselamatan adalah anugerah Allah dalam Kristus yang mengubah hidup kita menjadi berkat. Jika sudah diingat, mari kita mewujudkan pemahaman itu dengan kasih kepada sesama bukan sebagai amal / jaminan melainkan demi kebaikan sesama.


Ibr 10:19-27 Menikmati Karya Kristus

Januari 13, 2010

Ibr 10:19-25 merupakan klimaks dari seluruh penguraian khotbah sebelumnya, dan khususnya penguraian tentang Kristus sebagai Imam Besar yang berkembang dalam pp.7-10. Kerangkanya adalah tiga seruan dalam aa.22-24 (“marilah”) yang menyangkut iman (a.22), pengharapan (a.23) dan kasih (a.24). Seruan etis itu mungkin saja bisa ditafsir lepas dari dasar teologisnya, tetapi jika demikian tafsirannya tidak lagi benar. Argumentasi dalam pp.7-10 disampaikan supaya ketiga seruan ini mempunyai dasar yang kuat. Dengan kata lain, ketiga seruan adalah implikasi dari ayat-ayat sebelumnya (bnd. kata “jadi” dalam a.19).

Sebagian argumentasi sebelumnya diringkas dalam aa.19-20 dan a.21. Di balik aa.19-20 ada penggenapan Kristus terhadap tempat kudus dan ibadah Israel. Tempat kudus terdiri atas dua kemah, dan yang paling inti mewakili hadirat Allah, tetapi jalan ke dalamnya terbatas (9:1-10). Kristuslah yang telah merintis (6:19-20) jalan ke dalam tempat kudus di sorga dengan darah-Nya sendiri (9:12, 23). A.21 merujuk ke 3:1-6, yaitu bahwa kita termasuk umat di bawah Kristus, sama seperti Israel berada di bawah Musa. Artinya bahwa apa yang dirintis oleh Yesus berlaku untuk kita. Iman, pengharapan dan kasih kita adalah respons terhadap karya Allah dalam Kristus.

Seruan pertama (a.22) adalah untuk menghadap Allah. Artinya sama dengan 4:16 “menghampiri takhta kasih karunia”, yaitu menggunakan jalan yang dirintis Kristus itu. Syaratnya memang hati yang tulus dan iman yang teguh. Tetapi langsung penulis menyampaikan dasar untuk sifat-sifat itu. Hati kita bisa tulus ikhlas karena “dibersihkan dari hati nurani yang jahat”. Hal itu merujuk ke 9:14 (hati nurani disucikan), yang mewujudkan janji Allah dalam 8:10 (=Yer 31:33) tentang pembaruan hati. Pembasuhan tubuh pada akhir a.22 kemungkinan besar merujuk ke pembaptisan, yang melambangkan bahwa kita termasuk umat Allah di dalam Kristus. Jadi, keyakinan kita bukan bahwa kita telah berbuat baik ataupun sudah mengaku dosa dengan tangisan yang dahsyat, melainkan bahwa darah Kristus telah meresap ke dalam lubuk hati untuk membersihkan noda dosa yang mencemarkannya.

Menghadap Allah adalah seruan inti, karena umat-Nya berada bersama Allah adalah tujuan-Nya dalam rencana keselamatan (8:10b, bnd. 8:11 “karena mereka semua…akan mengenal Aku”). Tetapi untuk menikmati janji itu kedua seruan berikut sangat penting. Kita harus berpegang pada pengakuan kita (a.23). Sekali lagi, dasarnya bukan semacam optimisme yang dibuat-buat dalam hati kita, melainkan janji Allah. Janji Allah dilihat dalam kutipan dari Yer 31:31-34 dalam 8:8-12, dan penggenapannya sudah dijelaskan dalam 9:1-10:18. Jadi, Kristus menjadi alasan untuk tetap berharap kepada Allah. Juga, kita harus saling mendorong dalam wujud praktis dari hati yang baru, yaitu kasih kepada sesama (a.24). Kedua seruan ini tidak bisa dilakukan sendiri, sehingga ditambahkan dengan nasihat untuk berkumpul supaya saling menasihati, dan juga peringatan tentang hari Tuhan (a.25). Tema itu juga merujuk ke peringatan dalam 3:12-13 dalam konteks menuju ke keselamatan.

Dengan demikian, saya berharap pembaca sudah dapat melihat betapa seruan tentang iman, pengharapan dan kasih ini berakar dalam Kisah Agung Allah, yaitu janji keselamatan dalam PL yang diwujudkan dalam Kristus dan akan berakhir ketika Kristus datang kembali (9:28). Namun, keselamatan itu tidak otomatis. Seruan itu begitu bersemangat karena ada alternatifnya, yaitu nasib yang mengerikan bagi orang yang tidak berpegang pada pengakuan dengan saling menguatkan sehingga tidak lagi menghadap Allah. Kita harus menafsir “sengaja berbuat dosa” dalam a.26 sesuai dengan 6:6 (“murtad”). Maksudnya orang yang mengaku percaya tetapi kemudian menolak keselamatan dalam Kristus, bukan orang yang jatuh ke dalam dosa tertentu tetapi tetap mau bertobat. Penulis tidak menganggap bahwa pembaca akan demikian. Jika saya berada di atas kapal di tengah badai ada dua bahaya. Jika kapalnya tidak kuat saya bisa mati tenggelam, dan jika saya panik dan melompat ke dalam laut saya juga bisa mati tenggelam. Kristus adalah kapal yang serba aman, dan jika saya berada di dalam-Nya tidak ada kuasa yang bisa melemparkan saya ke dalam laut. Penguatan dalam aa.19-25 dan peringatan dalam aa.26dst supaya kita tidak panik dan melompat keluar.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.