Mt 5:17-26 Taurat ala Yesus sebagai sarana misi Allah

Februari 13, 2009

Tempat hukum Taurat kadangkala menjadi pergumulan bagi orang Kristen, lebih lagi bagi orang Toraja jika Taurat dianggap sebagai pengganti Kristen dari aluk sola pemali (adat serta tabunya). Ajaran Yesus lebih halus. Taurat tidak tertinggal, tetapi juga harus dipahami melalui Kristus yang menggenapinya. Aa.17-20 memaparkan prinsip ini, kemudian aa.21-26 menyampaikan contoh pertama Taurat ala Kristus.

Contoh ini menarik, karena Yesus membantah tafsiran ‘hukum positif’ bahwa pembunuhan itu tindakan membunuh saja. Yesus mengajarkan bahwa memarahi dan meremehkan juga tercakup oleh perintah itu. Dasar hukum untuk jangan membunuh adalah Kej 9:6, yaitu karena manusia adalah gambar Allah. Memarahi dan meremehkan orang juga menghina gambar itu (bnd. Yak 3:9). Kemudian, dalam dua cerita pendek yang mengejutkan Yesus mengusulkan jalan lain jika bertentangan dengan orang: berdamai. Hal itu berlaku bagi saudara (aa.23-24) bahkan bagi lawan (aa.25-26). Cerita pertama mengejutkan karena perdamaian diprioritaskan di atas ibadah! Cerita kedua mengejutkan karena lawan itu adalah penagih, yang seringkali tergolong penindas di Galilea. Saya duga bahwa maksud Yesus bukan untuk membenarkan penagih melainkan untuk mengatakan bahwa permusuhan sama dahsyatnya dengan utang kepada penindas. Lebih baik menghargai sesama sebagai gambar Allah dan berdamai.

Nah, jika kita kembali ke posting kemarin, tidaklah sulit untuk mengaitkan ajaran ini dengan perselisihan dan percekcokan yang tidak asing dalam kehidupan sehari-hari di Toraja (dan tentu manusia yang lain—lihat saja komentar di berbagai blog atau koran di internet, bagaimana orang begitu cepat marah dan saling meremehkan). Tetapi hermeneutik misi yang diusulkan kemarin mau memberi kerangka misi Allah bagi nasihat etis ini. Dan saya rasa kerangka ini sangat perlu, karena pada umumnya ajaran etis Yesus dianggap indah tetapi tidak praktis. Hanya jika pengumuman Yesus tentang Kerajaan Allah (KA) dipahami, maka ajaran etis Yesus mulai masuk akal. (Itu bagian kognitif [cara berpikir] dari pertobatan.)

Kedatangan KA menyangkut pembaruan Israel yang bermuara pada keselamatan bagi bangsa-bangsa (lihat misalnya Yes 49:6) serta pemulihan seluruh ciptaan (mis. Yes 35). Kedatangan itu serta respons terhadapnya diangkat sebagai tema utama Yesus dalam Mt 4:17. Langsung Matius menceritakan bahwa ada beberapa orang yang dipanggil Yesus untuk menjadi inti dari Israel yang diperbaharui, seperti Yes 49:6a itu.

Kemudian, dari 4:23 sampai dengan 9:35 (yang sama dengan 4:23) Matius menggambarkan pelayanan Yesus dalam rangka KA itu. Ajaran Yesus dipaparkan dalam pp.5-7 (disebut khotbah di bukit karena 5:1), sedangkan tindakan-Nya digambarkan dalam pp.8-9. P.10 kembali ke para murid, yang diutus untuk melanjutkan pelayanan Yesus itu.

Jadi, khotbah di bukit menyangkut kedatangan Kerajaan Allah melalui Yesus. Itulah tempatnya dalam misi Allah. Yesus mau membentuk mereka supaya cocok untuk KA itu. Jadi, sifat-sifat murid Yesus digambarkan dalam 5:3-12. Perhatikan bahwa intinya adalah sifat yang cocok dengan KA yang akan datang. Tugas mereka digambarkan dalam 5:13-16. Garam dalam PL melestarikan perjanjian (Bil 18:19), jadi para murid Yesus yang sifatnya seperti aa.3-12 menjadi pertanda bahwa perjanjian Allah dengan Israel berlanjut (a.13). 5:14-16 menerapkan misi Israel untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa kepada para murid Yesus. Jadi, Yesus mengikuti pola seperti dalam Yes 49:6, yaitu pembaruan Israel sebagai dasar untuk misi Israel. Kita sebagai Israel plus (Israel ditambah bangsa-bangsa seperti Australia dan Toraja) harus tetap mengikuti pola ini—pembaruan ke dalam dan misi ke luar. Itulah bagian kita dalam misi Allah untuk mewujudkan Kerajaan Allah sampai Kristus datang.

Tetapi apa ukuran pembaruan itu? Bagi Israel dalam PL itu hukum Taurat, dan Tauratlah yang menjadi topik dari 5:17 sampai dengan kesimpulannya dalam 7:12. Dasar pemikiran Yesus disampaikan dalam 5:17-20. Yesus menanggapi kesan bahwa Dia meremehkan Taurat itu (a.17) dengan meneguhkan Taurat sebagai dasar umat Allah (aa.18-19). Hanya, Taurat harus dimengerti dalam rangka kedatangan Yesus sendiri (a.17b). Yesuslah yang akan mewujudkan harapan Taurat akan berkat bagi bangsa-bangsa (Kej 12:3) serta menjadi satu-satunya manusia yang hidup-Nya kudus seperti dituntut Taurat. Tetapi hanya Yesus juga yang sungguh memahami maksud yang sebenarnya dari Taurat, suatu pemahaman yang berlawanan dengan pemahaman para pengajar Taurat yang lain (a.20).

Kemudian, Yesus mengartikan kedua pemahaman ini sebagai dua versi kebenaran, dan 5:21-48 merupakan serangkaian pertentangan antara tafsiran pengajar Taurat dengan tafsiran Yesus. Yang bermunculan ialah pertentangan antara ‘hukum positif’ dengan etika karakter, misalnya antara jangan melakukan tindakan membunuh saja dengan menghargai manusia sebagai gambar Allah. Di balik pemaknaan itu adalah janji para nabi akan hati dan batin yang baru (Yeh 36:26-27; Yer 31:33). Datangnya KA dalam Kristus berarti bahwa umat Allah sudah siap untuk hidup baru, untuk hidup dalam kasih (7:12).

Barangkali, Allah memanggil orang Toraja untuk percaya kepada Yesus supaya mereka juga dapat ikut serta dalam pembaruan (kemudian misi) umat Allah menuju kedatangan Yesus kembali. Kematian dan kebangkitan Yesus meneguhkan janji KA, dan pencurahan Roh Kudus memperjelas bagaimana pembaruan itu dapat terwujud. Tetapi pembaruan itu akan terhambat jika ketaatan kepada Allah tidak dipahami dengan tepat. Jika Taurat ditafsir sebagai pemali (tabu) Kristen yang menjadi alat untuk mencegah musibah dan mendatangkan berkat, maka pembaruan diri dan pembaruan umat tidak akan dipahami. Yang diperlukan adalah mengalihkan harapan dari ketaatan ke janji Allah. Jika janji-janji KA dalam Mt 5:3-8 didambakan, jika ada kerinduan untuk mendapat Kerajaan Allah, untuk dipuaskan dengan kebenaran, untuk melihat Allah, maka ajaran Yesus menjadi cara untuk dibentuk dan diperbaharui, bukan alat untuk selamat.


Hermeneutik Misi

Februari 10, 2009

Sebuah hermeneutik melukiskan suatu pendekatan untuk menafsir Alkitab, kurang lebih pertanyaan apa saja yang harus diajukan terhadap sebuah perikop untuk menafsirnya dengan tepat. Hermeneutik mendasar mau memahami teks dalam dirinya sendiri, misalnya membaca sebuah surat Paulus sebagai satu kesatuan, sebagaimana dimaksud Paulus sendiri. Tetapi di atas keterampilan mendasar itu, ada banyak pendekatan yang dipakai untuk memaknai Alkitab sekarang. Hermeneutik yang saya pakai dalam renungan di blog ini mungkin bisa disebut hermeneutik teosentris, karena saya bertanya pertama-tama tentang peran Allah dalam sebuah perikop, baru tentang peran manusia. Contoh lain, hermeneutik kecurigaan akan bertanya tentang ketimpangan kuasa yang dinyatakan dalam sebuah teks, dan hermeneutik feminis akan bertanya tentang implikasinya bagi perempuan.

Belakangan ini ada sekelompok sarjana yang mengembangkan hermeneutik misi. Begini empat pertanyaan yang disimpulkan oleh George Hunsberger dari empat penekanan penelitian ini (diterjemahkan dengan agak bebas):

  1. Apa kisah seluruh naratif Alkitab dan bagaimana implikasinya bagi kita? [Terkait dengan missio Dei, yakni misi Allah yang dinyatakan dalam Alkitab]
  2. Apa tujuan dari sebuah tulisan Alkitab dalam kehidupan pendengarnya? [Terkait dengan kita dibentuk dan diperlengkapi untuk berperan dalam misi Allah itu]
  3. Bagaimana gereja dapat membaca Alkitab dengan setia dalam konteks kini dan di sini? [Karena misi terjadi dalam konteks konkret, bukan di awan-awan]
  4. Bagaimana kita dapat menghubungkan tradisi Alkitab dengan konteks kini dan di sini melalui Injil?

Tanggapan Michael Barram menempatkan pertanyaan satu (#1) sebagai kerangka, #2 sebagai tujuan, #3 sebagai pendekatan, dan #4 sebagai lensa (matrix). #3 mau memberi ruang bagi konteks lokal, mengingat bahwa rumusan, program atau tindakan yang cocok di satu tempat (misalnya dunia Barat) belum tentu serba cocok di tempat yang lain (misalnya Toraja). #4 mau melihat Injil sebagai kriterium dalam proses itu. Injil memanggil kita untuk setia kepada Allah; Injil mengaku umum dan universal; Injil menunjukkan kematian dan kebangkitan Kristus sebagai jalan. Kriteria itu dapat membimbing kita untuk memakai Alkitab dengan tepat.

Tanggapan James Brownson menanggapi soal perbedaan yang menurut kaum post-modern akan ditiadakan jika ada kisah besar seperti diandaikan dalam #1. Dia mengusulkan bahwa hermeneutik misi justru menempatkan perbedaan di pusat, karena dalam Kristus ada kesatuan yang tidak meniadakan perbedaan-perbedaan.

Saya rasa tradisi gereja Barat (termasuk yang saya lihat dari keturunannya di Indonesia) pada umumnya sudah biasa dengan #1 dan #2 (di Toraja lebih pada #2, sebenarnya). Akibatnya mengabaikan #3 ialah khotbah yang hanya mengulang jawaban masa lampau. Tetapi jika #3 dilakukan tanpa #4, maka ada relevansi tanpa Injil.

Satu implikasi dari usulan Brownson adalah bahwa tafsiran orang Toraja bagi to toraya sama derajatnya dengan tafsiran orang Barat bagi orang Barat, karena dalam Kristus ada ruang untuk kemajemukan umat Allah.


Zak 13:1-6 Tulisan Apokaliptik

Januari 23, 2009

Zak 9-14 agak sulit dipahami, karena tergolong tulisan apokaliptik, seperti yang juga ditemukan dalam kitab Wahyu (kata wahyu adalah terjemahan dari bahasa Yunani apokalypsis dalam Why 1:1) atau kitab Daniel. Sulitnya kadangkala bukan dalam gambaran yang dipakai, tetapi lebih pada persoalan rujukan. Misalnya, Zak 13:2-6 menyampaikan gambaran yang tidak terlalu sulit dibayangkan. Nama-nama berhala, serta nubuatan yang berkaitan dengannya, akan hilang karena sikap umat Israel yang sudah begitu berubah sehingga apa saja yang terkait dengannya dianggap memalukan. Seruan Hukum Taurat untuk melenyapkan nabi palsu (Ul 18:20) akan dijalankan oleh orang tua sendiri (a.3). Para nabi sendiri akan malu untuk mengaku bahwa mereka pernah terlibat dalam kegiatan itu, meskipun bekas lukanya mencurigakan (bnd. apa yang dilakukan nabi palsu dalam 1 Raj 18:28).

Sama juga, tidak terlalu sulit mengaitkan Zak 13:1 dengan salib Kristus, lebih lagi karena Yesus mengutip a.7 (lihat Mk 13:27). Tetapi, apa hubungan aa.2-6 dengan salib Kristus? Tidak jelas bahwa pada saat kematian Kristuslah hal-hal itu terjadi!

Seperti nubuatan PL yang lain, apokaliptik tidak digenapi pada saat tertentu saja, tetapi dapat digenapi berulang kali. Apokaliptik lebih memberi gambaran tentang sifat waktu daripada kronologi waktu. Sifat waktu yang ditekankan adalah perlindungan umat Allah di tengah dunia yang menentang Allah, seperti dilihat dalam Zak 12:1-9 dan p.14. Tetapi nubuatan Alkitab selalu mengakui keberdosaan umat Allah sendiri. Jadi, 12:10-13:9 membahas pemurnian umat Allah. Mereka akan menyesali kejahatan mereka (12:10-14), sehingga dosa dan noda dapat dihapus (13:1). Hal itu akan bermuara pada pertobatan yang meninggalkan pemberhalaan dengan tegas. Namun, akan tetap ada penderitaan untuk pemimpin dan para pengikutnya untuk menguji mereka (13:7-9).

Pola itu mungkin saja digenapi dalam berbagai gerakan pembaruan dalam sejarah Israel. Tentu, puncaknya terdapat dalam Yesus Sang Gembala, yang telah membuka sumber pembasuhan yang sungguh menanggapi soal dosa. Perhatikan bagaimana kedatangan-Nya dipersiapkan oleh seruan Yohanes untuk bertobat, dan dimulai dengan panggilan para murid Yesus yang diajar untuk meninggalkan berhala-berhala seperti uang dan kehormatan (lihat khotbah di bukit, Mt 6). Yesus sendiri memberi mereka ajaran yang bersifat apokaliptik sebelum Dia mati (lihat Mk 13), dan penangkapan dan pengadilan-Nya merupakan pengujian bagi murid-murid-Nya sesuai dengan semangat Zak 13:7-9.

Ajaran apokaliptik Yesus itu menunjukkan bahwa pola seperti Zak 13 ini masih berlaku bagi para pengikut-Nya sekarang. Jadi, “pada waktu itu” dalam aa.1, 2 & 4 merujuk pada waktu apa saja yang menuntut pertobatan umat Allah karena telah menyeleweng dari jalan-Nya. Dasarnya selalu adalah sumber pembasuhan seperti Zak 13:1, yaitu, kita berani bertobat karena Kristus telah mati bagi dosa kita. Yang mungkin paling tajam bagi kita adalah ketegasan pertobatan itu. Dosa terhadap Allah dianggap yang paling memalukan, dan begitu dibenci sehingga keluarga sendiri tidak luput. Ketika pengampunan Allah dianggap biasa saja dan rasa malu (jika masih ada) tertuju kepada keluarga dan masyarakat daripada Allah, perikop ini menjadi peringatan yang diperlukan.


Yes 60-62 Harapan dunia

November 27, 2008

Maaf, posting ini agak panjang karena dua perikop (60:1-14 dan p.62) ditempatkan dalam konteks kitab Yesaya dan penggenapannya dalam Kristus. Soalnya, saya mau menghargai teksnya sebagai hasil seorang nabi Israel yang dikarang bagi Israel, sekaligus nubuatan dasar bagi iman Kristen. Bagi saya, dengan demikian kekayaan penyataan Allah justru menjadi lebih nampak. Hanya, penjelasannya agak lebih rumit juga…

Pesan kitab Yesaya diperkenalkan secara ringkas dalam 1:1-2:4, yaitu pembaruan Sion sebagai pusat hadirat Allah dengan manusia. P.1 menggambarkan keberdosaan Sion, yang akan dipulihkan oleh pemurnian (1:21-26) sehingga Sion menjadi pusat dunia yang membawa berkat Allah kepada seluruh dunia (2:1-4). Dalam kitab selanjutnya, pemurnian dilaksanakan oleh Hamba Tuhan (pp.40-55), yang menjadi korban penebus salah (p.53). Hasilnya bagi Sion digambarkan dalam pp.60-62 ini. Jadi, dalam pasal-pasal ini kita melihat rencana Allah sebagaimana dinyatakan bagi Israel sebelum Kristus datang.

Bagian ini mulai dengan penyataan Tuhan atas Sion (60:1-2), sehingga bangsa-bangsa tertarik datang (a.3). Dalam aa.4-14 kedatangan bangsa-bangsa itu menyangkut tiga tema. Yang pertama adalah pengembalian orang-orang Israel yang dibuang, yang disebut anak-anak Sion. Yang kedua mereka membawa serta kekayaan bangsa-bangsa. Hal itu disampaikan dua kali, dalam aa.4-7 dan lebih lengkap dalam aa.8-14 dengan penambahan tema ketiga, yaitu penukaran keadaan Israel dan bangsa-bangsa. Israel yang dibuang akan menjadi tuan atas bangsa-bangsa (10-12); penindas-penindas Israel akan tunduk kepadanya (14).

Di balik pemulihan keadaan Israel adalah hadirat Allah, sehingga Allah dimuliakan di dalam pemulihan Israel itu, bahkan oleh bangsa-bangsa (6, 9). Allah adalah sumber terang Israel (1-2, 14), dan hadirat-Nya merupakan pusat Israel (7, 13). Pemulihan Israel adalah akibat dari perubahan sikap Allah, dari murka sampai kasihan (10). Hadirat Allah dan perubahan keadaan Israel menjadi tema aa.15-22.

Dalam p.61 kabar baik dari p.60 mau diberitakan kepada Israel yang tertindas. Jadi, perhatian beralih dari hasil yang dijanjikan Allah ke proses pewujudannya. Dalam p.62 pemulihan Israel digambarkan dalam rangka relasi yang baru dengan Allah (1-7), diiring seruan bagi nabi dan semua yang berdoa untuk berseru kepada Allah (1, 6-7). Atas dasar itu ada seruan untuk berjalan, yang dalam konteks aslinya bagi Israel yang dibuang berarti kembali dan menikmati janji-janji Tuhan. Jadi, pemberitaan, doa dan pengembalian kepada hadirat Tuhan merupakan proses dalam terwujudnya janji Tuhan itu.

Meskipun pembaca-pembaca awal nubuatan Yesaya mungkin berpikir bahwa semuanya akan terwujud ketika Israel kembali dari pembuangan pada akhir abad ke-6 sM, namun kenyataan lain, dan ketika Yesus datang memberitakan Kerajaan Allah, janji-janji itu masih menantikan penggenapan. Yesus memakai p.61 sebagai deskripsi tugas-Nya sendiri (Lk 4:18dst), dan kemudian menunaikan tugas Hamba Tuhan dengan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan (Mk 10:45). Dengan demikian, kerajaan Allah mulai terwujud. Perwujudan sepenuhnya digambarkan dalam Why 21-22, yang memakai gambaran Sion dalam p.60 sebagai salah satu latar belakangnya, termasuk masuknya kekayaan bangsa-bangsa dan hadirat Allah sebagai penerang yang mengganti bulan dan matahari. Demikianlah rencana Allah yang disampaikan kepada Israel disampaikan juga kepada jemaat dalam terang Kristus.

Kemudian, apa bagian kita di dalamnya? Ketika Yesus berbicara tentang terang dan kota yang terletak di atas gunung (Mt 5:14) kemungkinan besar Dia memikirkan nas-nas seperti 60:1-3. Jemaat yang di tengahnya Kristus diam oleh Roh-Nya adalah Sion yang di dalamnya Tuhan hadir. Melalui pemberitaan, doa dan pengembalian kepada Tuhan (pertobatan), jemaat menghayati terang dalam Kristus dan menarik bangsa-bangsa. Barangkali, masuknya kekayaan bangsa-bangsa sudah mulai dengan kekayaan budaya-budaya menjadi bagian dari ibadah dan pujian jemaat (bnd. 60:6-7).

Jadi, kita diingatkan tentang identitas kita di tengah, dan misi kita kepada, semua orang di dunia ini, berdasarkan rencana Allah yang sudah lama berkembang. Oleh karena itu, sukacita yang mewarnai pp.60-62 ini selayaknya bagian kita juga.


10. Mazmur Permohonan

Juni 27, 2008

Pernah ada anggota jemaat yang sangat bergumul karena berbagai keburukan dalam hidupnya. Untuk menghiburnya, beberapa sahabat dalam jemaat membagikan Mazmur pujian kepadanya, sekiranya dia memuji Allah untuk mendapat kekuatan. Saya memilih jalan yang lain. Saya membuka Mzm 13 yang mengeluh kepada Allah bahkan tentang Allah sendiri—”Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?”. Saya menjelaskan bahwa ini juga cara berdoa yang berkenan di hadapan Tuhan. Saya terkesan dengan tanggapannya, “Doa begini bisa saya doakan.” Yang dia perlukan bukan bahasa untuk berpura-pura ceriah melainkan sarana untuk berbicara dengan Tuhan di tengah pergumulan hati yang berat. Yang berikut melacal beberapa segi dari mazmur permohonan.

Baca entri selengkapnya »


9. Nubuatan keselamatan

Juni 20, 2008

Nubuatan keselamatan membawa kita untuk mengarahkan kehidupan kita berdasarkan kebangkitan Kristus. Bagaimana caranya?

Di balik hukuman Allah semua kitab nabi menyampaikan suatu harapan. Nubuatan hukuman terdiri atas dua bagian: alasan dan akibat. Soal akibat, tentu nubuatan keselamatan merupakan janji, bukan ancaman. Tetapi soal alasan, tidak ada yang berasal dari pihak Israel sendiri! Misalnya, sembilan pasal nubuatan hukuman dalam kitab Amos berakhir dengan Amos 9:10 yang berbicara tentang orang berdosa yang akan mati terbunuh. Ayat berikut mulai bukan dengan cerita tentang pertobatan dsb melainkan dengan janji mutlak, “Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh”. Cara itu berbeda dengan cara Hukum Taurat. Janji berkat dalam Ul 28 bersyarat (“Jika engkau baik-baik mendengarkan suara Tuhan, Allahmu…”). Kalaupun pertobatan disebutkan dalam nabi-nabi, hal itu adalah karya Allah:

Baca entri selengkapnya »


8. Nubuatan hukuman

Juni 13, 2008

Dalam nubuatan PL ada dua golongan besar: nubuatan hukuman dan nubuatan keselamatan. Nubuatan hukuman memperingatkan Israel akan akibat tidak taat kepada Allah. Banyak nubuatan demikian digenapi ketika Israel (kerajaan utara) kemudian Yehuda (kerajaan selatan) dibuang. Tetapi para nabi tidak menganggap bahwa Allah sudah meninggalkan Israel, sehingga selalu ada juga nubuatan keselamatan, bahwa Allah akan bertindak setelah hukuman untuk mengembalikan bahkan memperbaharui Israel. Tentu, setiap nabi bernubuat dalam konteks tertentu yang perlu dipahami (biasanya ayat 1:1 menyampaikan informasi terpenting soal itu). Komentar ini memberi suatu garis besar untuk mengarahkan pemahaman dalam konteks Kisah Agung Alkitab.

Baca entri selengkapnya »


7. Menafsir sejarah (2)

Juni 4, 2008

Sejarah Israel (khususnya Yosua sampai Raja-Raja) memperlihatkan bagaimana Allah bergaul dengan umat-Nya berdasarkan perjanjian di Sinai. Nubuatan (sebagai lanjutan dari penyataan Allah dalam Taurat) menjadi cara Dia berkomunikasi dengan Israel dan juga mengendalikan sejarahnya. Sejarah itu meliputi berkat dan kutuk, sesuai dengan “sanksi” perjanjian (Im 26, Ul 28). Oleh karena kegagalan Israel maka Yesus menanggung kutuk itu supaya berkat itu sampai kepada bangsa-bangsa (Gal 3:13-14).

Baca entri selengkapnya »


6. Menafsir Sejarah (1)

Mei 29, 2008

Naratif (cerita) merupakan bentuk sebagian besar Perjanjian Lama. Jika kita mendengarkan atau membaca cerita, kita cenderung menempatkan diri pada salah satu tokoh di dalamnya. Naratif dalam Alkitab juga berfungsi demikian, dengan satu kelebihan: jika kita membacanya sebagai jemaat, sebagai anggota umat Kristus, maka kita membaca dalam kesinambungan dengan tokoh-tokoh Alkitab seperti Abraham dan orang-orang Israel. Kesinambungan mencakup kesamaan—sama-sama umat Allah, dan ketidaksamaan—kita harus selalu mempertimbangkan perkembangan Kisah Agung dan khususnya datangnya Kristus. Berikutnya beberapa usulan untuk menerapkan pemahaman itu.

  1. Allah adalah tokoh utama dalam sejarah Alkitab. Kita cenderung asyik dengan tokoh-tokoh manusia yang dengannya kita dapat beridentifikasi. Tetapi Allah muncul atau melatarbelakangi hampir semua cerita PL, dan sifat dan karya-Nya adalah fokus utama di dalamnya. Jika Allah mengatakan kepada Yosua, “Janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau” maka Allah yang menyertai perlu menjadi fokus utama sebagai dasar bagi penerapan yang menyangkut keberanian. Kalau Allah tidak menjadi fokus utama maka keberanian akan menjadi kepahlawanan manusia, bukan iman.
  2. Allah itu dikenal melalui rumusan dan naratif yang saling melengkapi. Misalnya, Allah menyatakan diri kepada Musa dengan rumusan, “yang mengampuni kesalahan…tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman” (Kel 34:7). Ada ketegangan di sini, apakah Allah mengampuni atau tidak. Secara logis hal itu sulit dipahami, tetapi secara naratif hal itu justru jelas dalam pengalaman Israel! Kel 32-34 menggambarkannya dengan Israel tidak dimusnahkan setelah membuat anak lembu emas, tetapi toh ada tulah (Kel 32:35). Kisah Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu memperlihatkan ketegasan dan kemurahan Allah yang berjalan bersama dengan cara yang tidak dapat dirumuskan, karena Allah dalam Alkitab dianggap sebagai tokoh pribadi, bukan sebagai prinsip atau mesin. Maka cerita-cerita Alkitab memperkenalkan Allah (apalagi cerita-cerita tentang Yesus).
  3. Yesus menggenapi tokoh-tokoh Penyelamat. Ingkatkah cerita tentang Daud dan Goliat (1 Sam 17)? Siapa saja tokoh penting? Ada Daud, Goliat, tentara Israel (termasuk raja Saul) dan tentara Filistin. Dengan siapa kita menempatkan diri ketika cerita itu didengarkan? Kalau dengan Goliat atau tentara Filistin, bertobatlah! Biasanya, pengkhotbah mengangkat Daud sebagai teladan iman, dan asal peran Allah ditekankan, boleh saja. Tetapi terus terang saya seringkali lebih seperti tentara Israel—takut terhadap tantangan sampai ada yang merintis kemenangan. Daud berperan di sini sebagai penyelamat yang melaluinya Allah mendapatkan kemenangan bagi umat-Nya yang tidak berdaya. Bukankah Allah melakukan hal yang sama melalui Yesus (anak Daud!) terhadap Iblis, dosa dan maut? Dengan demikian cerita Daud dan Goliat ini memperlihatkan dengan konkrit dinamika peperangan rohani dalam PB—Allahlah yang sudah mengalahkan Iblis di dalam Yesus, kita hanya berdiri dalam kemenangan Dia (bnd. Ef 6:11-14 “bertahan…tetap berdiri…berdirilah tegap”).

Pemahaman demikian menjadi cara untuk memaknai Perang Suci dalam PL. Kembali ke Yosua, kita mau berani dalam apa? Jangan sampai Yosua menjadi teladan bagi laskar Kristiani yang memakai senjata fisik! Jika perkembangan Kisah Agung Alkitab tidak diperhatikan maka orang tidak akan sadar bahwa “perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging” (Ef 6:12) karena memang kerajaan Kristus “bukan dari dunia ini” (Yoh 18:36). Yosua berani dalam memperjuangkan Kerajaan Allah, dalam bentuk yang cocok untuk Israel. Kita harus berani dalam melawan Iblis. Mingingat bahwa Yosua berperan sebagai Juruselamat, sehingga penaklukan tanah Israel sudah digenapi dalam kemenangan Kristus pada salib! Penginjilan pun jangan dianggap sebagai perang terhadap musuh!

Seri Pemahaman PL


Kis 7:1-53 Menafsir Sejarah Israel

Mei 27, 2008

Seperti dijelaskan di sini, Stefanus berkhotbah atas dorongan Roh Kudus sebagai pengikut Kristus yang sejati. Namun, jika dicermati Roh bekerja dengan hemat—Stefanus sudah sangat mengenal hasil Roh yang sebelumnya yakni Perjanjian Lama sehingga Roh tidak harus menyatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang telah Dia nyatakan, melainkan Dia menyatakan makna yang baru dari PL dalam terang Kristus. Hasilnya dianggap penting oleh Lukas, karena khotbah ini adalah yang paling panjang dalam kitab Kisah Para Rasul.

Tuduhan yang ditanggapi Stefanus itu dua: 1) Yesus akan merubuhkan Bait Allah; dan 2) Yesus akan mengubah adat istiadat orang Yahudi (6:14). Kedua hal itu dilihat sebagai hujatan. Stefanus tidak membantah tuduhan itu langsung, melainkan berusaha membuka pemahaman mereka tentang makna sejarah Israel. Pokok-pokok yang diangkat Stefanus dimulai dengan panggilan Abraham, kemudian Yusuf, Musa dan Israel di Mesir dan padang gurun, Daud dan Salomo, sampai dengan pembuangan (7:43). yang terakhir adalah Yesus sendiri. Kedua pokok ditanggapi demikian:

  • Soal Bait Allah dia menunjukkan bagaimana Allah bekerja di luar Israel. Abraham dipanggil di Mesopatamia dan dia bersama dengan keturunannya tinggal sebagai pendatang (2-5). Allah menyertai Yusuf di Mesir (9-10), mendidik Musa dengan hikmat Mesir (22) dan menampakkan diri-Nya kepadanya di padang gurun sehingga tempat itu menjadi kudus (30, 33). Tema ini berpuncak dengan Stefanus mengutip Yes 66:1-2 untuk menegaskan bahwa Allah jauh lebih besar daripada Bait Allah (49-50).
  • Soal Hukum Taurat dia menempatkan para penuduhnya pada aliran dalam sejarah Israel yang melawan Allah. Bapa-bapa leluhur Israel menjual Yusuf (9), dan Israel menolak Musa (35) yang menubuatkan Yesus sendiri (37), dan tidak taat setelah dia menjadi pemimpin Israel (38-39) sehingga membuat anak lembu (40-41). Tema ini berpuncak dengan tuduhan balik Stefanus bahwa mereka telah membunuh Yesus sama sepert para nabi sebelumnya (51-52). Maka merekalah yang tidak taat kepada Hukum Taurat (53).

Dengan demikian, kecaman Stefanus mirip dengan kecaman Yesus. Soal tempat bnd. Lk 4:16-30 yang menekankan Allah bekerja di luar Israel serta p.20 (penyucian Bait Allah). Soal Hukum Taurat bnd. Lk 11:37-54 serta perselisihan-Nya yang terus-menerus dengan orang Farisi soal penafsiran Hukum Taurat.

Apa bedanya antara Yesus dan Stefanus dengan orang-orang Yahudi yang lain? Sepertinya para penafsir Yahudi cenderung menafsir Kitab Suci (PL) sebagai seperangkat hukum yang tetap dan tidak bisa berubah. Sedangkan Yesus melihat Kisah Agung Kitab Suci sebagai intinya, yaitu apa tujuan Allah untuk dunia ini. Dengan demikian pemahaman Yesus dan Stefanus melihat peluang untuk perluasan misi Allah yang tidak mengutamakan lagi Bait Allah sebagai tempat dan Hukum Taurat sebagai aturan. Pemahaman itu yang meletakkan dasar untuk penyebaran Injil kepada bangsa-bangsa.

Mungkinkah jemaat-jemaat sekarang hilang semangat misinya karena Alkitab menjadi sumber aturan daripada Kisah tentang karya dan rencana Allah yang Agung?