Ul 6:1-9 “Belajar bersama keesaan Allah” (6 Mei 2012)

Mei 3, 2012

Teks ini (mudah-mudahan) lumayan terkenal, karena mengandung nas yang sentral dalam PL, yaitu aa.4-5. Kali ini, saya akan coba menafsirnya melalui lensa budaya Toraja, khususnya apa yang disebut “teologi tongkonan”, seperti ada dalam karya Th. Kobong, Injil dan Tongkonan. Tongkonan adalah rumah adat Toraja, yang menjadi pusat ritus-ritus keluarga besar, seperti yang terkait dengan pernikahan dan kematian. Kobong melihat Kristus sebagai pangala tondok Gereja, yaitu perintis atau cikal bakal keluarga yang berpusat di suatu tempat. Perintisan tongkonan mungkin terjadi ketika sang pangala tondok membawa keluarganya ke tempat yang baru, seperti Abraham membawa keluarganya ke Kanaan. Di situlah dia menjadi pemelihara dan penopang kehidupan keluarga (uainna ditimba [airnya ditimba] dsb), dan juga penentu adat (alukna dipoaluk [adat/agamanya dianut]), sama seperti Abraham menentukan ibadah kepada Allah serta sunat bagi keluarganya.

Penggalian Teks

Jika keluaran Israel dari Mesir dicermati, kita melihat pola yang sama. Setelah menyelamatkan mereka dari Mesir (Ul 5:6), Allah mengikat Israel menjadi satu keluarga besar/persekutuan tongkonan dengan Dia melalui perjanjian di gunung Sinai/Horeb (5:2). Dia menentukan aluk mereka (5:6-21), kemudian memelihara mereka sambil membawa mereka ke tempat baru, tanah perjanjian. Dalam perikop ini, Musa (yang ditunjuk sebagai perantara antara Israel dan Allah, karena Israel ketakutan melihat Allah, 5:23-33) sedang berbicara kepada umat Israel yang ada di pelataran Moab, di seberang sungai Yordan dari tanah yang dijanjikan Allah.

Makanya, dalam aa.1-3, Musa mengingatkan Israel tentang tujuannya, “suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya”. Ketetapan, peraturan, perintah dan kata-kata sejenisnya tidak merujuk pada suatu hukum positif, melainkan menunjukkan bagaimana Israel akan hidup dalam karapasan (kedamaian) dengan Allah di tanah perjanjian itu (aa.2-3). Karena ikatan perjanjian itu, karena Israel telah dijadikan tongkonan Allah oleh anugerah, Israel dan Allah telah menjadi senasib. Ketaatan dan kesejahteraan Israel membawa kesenangan dan kemuliaan bagi Allah sendiri. Pada saat Musa berbicara, mereka belum sampai di tanah perjanjian itu, tetapi mereka dituntut untuk hidup sesuai dengan tujuan itu, bukan sesuai dengan bangsa-bangsa di sekitar mereka di Moab.

Dalam aa.4-5, Musa mengingatkan Israel tentang pusat kesejahteraan mereka, yaitu Allah sendiri. Jika kita berbicara tentang masyarakat Toraja, sebenarnya ada beberapa persekutuan yang di dalamnya seseorang dapat menemukan dukungan dan kepentingan bersama, dan dalam kepercayaan lama ada juga beberapa sumber ilahi: nenek moyang, dan berbagai dewa. Bilamana kehidupan manusia bergantung pada beberapa sumber, maka kesetiaan dan kasih manusia pasti akan terbagi juga. Tetapi Allah itu tunggal, esa. Makanya, seluruh eksistensi orang Israel dituntut untuk terarah pada Dia saja. Sebagai Pangala tondok, Allah bukan sekadar penopang kehidupan, tetapi juga pusat kehidupan. Rencana dan tujuan (“hati”) disesuaikan dengan rencana dan kehendak Allah. Seluruh hayat dan hasrat (“jiwa”) dikaitkan dengan Allah. Kita rindu akan firman-Nya, suka beribadah kepada-Nya, dan ingin untuk menikmati segala pemberian yang baik sebagai anugerah daripada-Nya (Yak 1:17). Karena seluruh kehidupan kita berpusatkan Allah, seluruh tenaga dan tingkah laku (“kekuatan”) ditujukan kepada Dia.

Semuanya itu begitu pokok bagi kehidupan Israel sehingga Musa menyampaikan bebarapa langkah supaya pemahaman itu dapat membudaya (aa.6-9). Harus ada perhatian, pengajaran kepada generasi berikut, pembicaraan di mana saja, serta berbagai tanda yang dapat menjadi pengingat. Kegenapan dalam a.5 tidak akan terjadi dengan introspeksi diri, tetapi akan terwujud dalam saling mendorong.

Maksud bagi Pembaca

Musa mau supaya Israel menikmati dan menghayati relasi dengan Tuhan di tanah perjanjian yang lebih erat daripada relasi antara pangala tondok dengan persekutuan tongkonan-nya. Dia mau supaya Allah menjadi satu-satunya Penopang kehidupan mereka, dan satu-satunya Penentu dan Pengarah kehidupan mereka. Untuk mencapai tujuan itu, dia menyuruh mereka untuk saling mengajar dan menguatkan.

Makna

Ada manfaat tertentu dari usaha teologi kontekstual ini yang saya rasakan, walaupun saya tidak lahir dan besar di Toraja, yaitu, adanya gambaran yang konkret tentang solidaritas Allah dengan umat-Nya. Banyak orang memperlakukan Allah dengan semacam penipuan. Mereka menghadapi Allah dengan ratapan dan tangisan ketika bergumul (konon, orangtua Toraja sangat susah menolak permintaan yang demikian dari anak-anaknya), tetapi rencana, cita-cita dan tenaga tetap berpusat pada diri sendiri. Mereka belum menangkap bahwa tanah yang dijanjikan Allah itu baik, lebih baik daripada berhala-berhala yang mereka kejar seperti gengsi. Kelebihan itu terutama bahwa Allah sendiri ada di pusat tanah itu. Dialah yang paling layak dikasihi.

Tentu, jika kita memikirkan perjalanan menuju tanah perjanjian dalam konteks PB, kita akan memikirkan jalan kita menuju langit dan bumi baru, dan Ibrani 4 dengan jelas menyejajarkan kedua hal itu. Tetapi hidup kekal dapat dinikmati sekarang juga, dengan mengenal Allah Bapa dan Yesus Kristus (Yoh 17:3) oleh kehadiran Roh Kudus (Yoh 14:15-20). Bahasa Paulus agak lain—Roh Kudus adalah karunia sulung dari ciptaan baru (Rom 8:23; bdk. Gal 3:14)—tetapi maksudnya sama. Dalam PB, kelimpahan juga ditafsir ulang. Buah kita adalah buah Roh (Gal 5:22-23), perubahan hidup, serta orang-orang yang dituai bagi Tuhan (Mt 9:35-38). Tetapi prinsipnya sama. Kita mengasihi Allah dengan segenap hati sejauh mana kita melihat bahwa hidup bersama dengan Tuhan adalah hidup yang paling baik, ketika Allah bukan di pinggir melainkan di pusat kehidupan kita.

Namun, ada satu aspek dari teologi tongkonan itu yang dapat dipertanyakan. Bukankah budaya Toraja dan banyak budaya sejenis merupakan budaya timbal-balik, do ut des, “saya memberi supaya kauberi”? Bukankah budaya itu akan dibawa masuk ke dalam kehidupan bergereja jika teologi seperti itu dipakai? Pertanyaan itu adalah penting, tetapi harus didasarkan pada analisis yang tepat. Yang disebut “timbal-balik” bisa saja sesuatu yang hakiki dalam sebuah relasi, bukan bukti akan sikap do ut des. Orangtua membantu anaknya ketika masih kecil dan tidak berdaya, dan anaknya pada gilirannya membantu orangtuanya ketika mereka sudah tua dan tidak berdaya. Apakah itu do ut des? Pada hakikatnya, tidak, sekalipun unsur seperti itu bisa masuk. Dua keluarga dalam sebuah tongkonan masing-masing membawa hewan ke upacara keluarga yang lainnya, sehingga masing-masing mencapai tingkat upacara yang tidak akan terjangkau jika setiap keluarga berusaha sendiri. Apakah itu do ut des? Pada hakikatnya, tidak, walaupun mungkin agak sering unsur itu masuk. Sebenarnya, do ut des dapat mencemari semua relasi manusia berdosa. Dalam budaya modern, do ut des menjadi paling canggih, karena segala do dan des diukur dengan uang, sehingga dapat dibanding-bandingkan dengan sangat persis. Namun, Alkitab berani menyebut Allah sebagai Raja, meskipun budaya kerajaan dalam PL dan PB sarat juga dengan do ut des. Alkitab berani melakukan hal itu karena Allah tidak sekadar Raja atau Pangala tondok, Dia juga adalah Penebus yang menyelamatkan Israel sebelum mereka berbuat apa-apa, yang menyelamatkan kita ketika kita masih musuh (Rom 5:8-10). Tidak ada pemberian kita yang layak dibandingkan dengan pemberian Allah itu, anugerah menghancurkan semua perhitungan do ut des itu. Namun, kita diselamatkan supaya berelasi dengan Dia, dan untuk hal itu harus ada timbal-balik, kebergantungan dan ketaatan dari kita kepada Allah yang dibalas juga dengan pemberian-pemberian Allah, terutama kedekatan dengan Dia, tetapi juga banyak hal yang lain. Dengan demikian, makin lama, makin kuat relasi kita dengan Pangala Tondok kita.

Sebenarnya, kasih kepada Allah yang Esa adalah solusi yang paling ampuh terhadap masalah do ut des itu. Yang diharapkan dan didambakan ialah Allah, sehingga manusia tidak usah terlalu dituntut. Do ut des adalah gejala manusia berdosa yang belum mengasihi Allah sepenuhnya.

Sikap seperti itu tidak terjadi secara spontan, sehingga Musa berbicara tentang Israel sebagai semacam masyarakat pembelajaran, community of learning. Fokusnya adalah anak-anak, tetapi jangan sampai ada anggapan bahwa orangtua sudah tahu. Cara yang paling cepat untuk jemaat dewasa bertumbuh dalam pengetahuan firman Allah ialah bila dalam setiap keluarga orangtua rajin mengajar anaknya. Perlu juga diingat apa yang disebut kurikulum tersembunyi. Anak yang melihat orangtuanya berdoa di gereja tetapi tidak berdoa di rumah menarik kesimpulan yang logis saja tentang wilayah kuasa Allah. Bahkan, penelitian di dunia Barat memberi bobot yang lebih tinggi pada peran ayah dalam keluarga. Jika anak-anak melihat iman yang nyata dari ayah dalam seluruh aspek kehidupannya, kemungkinan lebih besar mereka juga akan memiliki iman yang jelas.


Kejadian 49:1-18 Berkat melalui Sang Mesias [27 November 2011] (Adven I)

November 23, 2011

Adven adalah masa penantian. Kita merayakan kedatangan Kristus untuk pertama kalinya yang mendapatkan keselamatan bagi kita, dan menantikan kedatangan-Nya kembali untuk menyempurnakan keselamatan itu. Dalam perikop ini kita belajar bahwa kedatangan itu bukanlah rencana mendadak dari Tuhan.

Penggalian Teks

Menjelang wafatnya Yakub di Mesir (48:21), ke mana dia bersama dengan seluruh keturunannya pindah karena Yusuf berada di sana sebagai penguasa, Yakub memanggil anak-anaknya. Dalam a.1 dia berjanji akan menyampaikan petunjuk tentang masa depan mereka sebagai kepala suku. Urutannya Ruben (3-4), Simeon dan Lewi (5-7), Yehuda (8-12), Zebulon (13), Isakhar (14-15), yaitu anak-anak Yakub dari Lea, kemudian Dan (16-17), Gad (19), Asyer (20), Naftali (21), yaitu anak-anak Yakub dari kedua gundik, kemudian Yusuf (22-26) dan Benyamin (27), anak-anak Yakub dari Rahel. Di antara Dan dan Gad, Yakub mengucapkan harapan akan keselamatan (18). Dalam a.28 ucapan-ucapan ini disebut sebagai pemberkatan. Jika a.1 melihat ke depan, dan a.18 mengharapkan keselamatan, a.28 ini juga merujuk ke belakang. Berkat adalah tema besar dalam kitab Kejadian, mulai dengan penciptaan manusia (1:28) dan dilanjutkan sebagai puncak dari janji Allah kepada Abraham (12:3).

Jika disebut sebagai berkat, justru ketiga anak pertama, Ruben, Simeon dan Lewi, mendapat tegoran (lihat Kej 35:22 & Kejadian 34). Hanya mulai dengan Yehuda maka nada menjadi lebih positif pada umumnya. Jika dicermati, Yehuda mendapat porsi yang lebih panjang, hanya diungguli oleh porsi Yusuf (sama-sama lima ayat, tetapi agak lebih panjang untuk Yusuf). Pada Yusuf tema berkat menonjol—dialah yang menjadi saluran berkat bagi keturunan Yakub. Tetapi ternyata masa depan ada pada Yehuda. Dalam a.8, mimpi Yusuf bahwa saudara-saudaranya akan sujud kepadanya diterapkan kepada Yehuda. Dari Yehuda akan datang seorang raja yang bahkan bangsa-bangsa akan takluk kepadanya (10). Ada hal-hal lain yang juga disebutkan melalui anak-anak lainnya, seperti keadilan dari Dan (16). Tetapi ketika Yakub mengharapakan keselamatan sebagai wujud nyata berkat dari Tuhan, Yehuda adalah saluran utama.

Melihat secara terperinci, nas tentang Yehuda itu mencakup dua bagian. Aa.8-10 memaparkan kejayaannya. Dia akan dipuji oleh Israel, akan berjaya atas musuh, dan berkuasa atas Israel (8). Dia akan berjaya seperti singa yang ditakuti semua binatang tetapi tidak takut akan binatang apa saja; mungkin kenaikannya menyinggung Yerusalem (kota Daud) sebagai kota yang tinggi (9). A.10 jelas memaparkan harapan mesianis. Daud adalah awal dari Yehuda sebagai suku para raja Israel, dan ucapan “sampai dia datang yang berhak atasnya” mengandaikan seorang raja keturunan Daud lagi. Ketika raja itu datang, bangsa-bangsa akan takluk. Itulah cara mesianis bangsa-bangsa akan masuk ke dalam ranah berkat Israel, sesuai dengan Kej 12:3 tadi. Aa.11-12 menggambarkan kesejahteraannya. Dia akan memiliki begitu banyak pohon anggur sehingga dipakai untuk menambatkan keledainya, dan buahnya dipakai untuk mencuci (11). A.11b bisa juga merujuk pada kegiatan mengirik anggur, di mana baju pasti kena percikan anggur itu. A.12 versi LAI sepertinya menggambarkan bahwa dia akan minum anggur dan susu sepuasnya; tafsiran lain (seperti sebagian versi modern bahasa Inggris) mengaitkan warna mata dan giginya dengan warna anggur dan susu.

Maksud bagi Pembaca

Bagi Israel, selain memberi petunjuk tentang setiap suku, perikop ini menempatkan raja Daud, atau kemudian Mesias, sebagai saluran keselamatan bagi Israel. Masa depan umat Allah sebagai saluran berkat terjamin karena kedatangan singa dari suku Yehuda. Respons umat Allah ditunjukkan dalam a.18, yaitu menanti-nantikan keselamatan dari Tuhan.

Makna

Berkat Allah terjamin akan mengalir melalui keturunan Abraham, sesuai dengan janji Allah kepada Abraham. Yakub adalah penerima berkat itu—dia sekeluarga sedang menikmati kelimpahan di tanah Mesir oleh karena Yusuf—dan dalam pesan terakhir ini dia meneruskan berkat itu kepada generasi berikut sebagai asal-usul keduabelas suku Israel. Harapan akan keselamatan itu terwujud berulang kali. Ketika ada firaun yang tidak lagi mengenal Yusuf, Allah menyelamatkan Israel dari Mesir. Ketika Israel terpuruk dan tertekan di bawah para hakim, Allah mengangkat para raja, khususnya raja Daud, dari suku Yehuda, yang di bawahnya Israel mengalami kesejahteraan yang besar (2 Sam 7:1). Beberapa kali lagi ada raja yang bisa memulihkan keadaan Israel, seperti Hizkia dan Yosia. Sejak Yehuda dibuang pada abad ke-6, mereka tidak pernah merdeka secara politik, bahkan ketika mereka kembali dari pembuangan, seperti diceritakan dalam kitab Ezra dan Nehemia. Maka muncullah harapan mesianis, yakni bahwa nubuatan Yakub yang sudah berulangkali digenapi (dan diteguhkan oleh berbagai nubuatan para nabi, seperti Yesaya 9 & 11; Mikha 5 dsb) akan digenapi satu kali lagi.

PB ternyata berbagi dalam harapan Yakub ini, dan memahami bahwa singa dari suku Yehuda itu Kristus. Adalah penting untuk diamati bagaimana tema kejayaan itu ditafsir ulang. Dalam Why 5:5-6, singa dari suku Yehuda itu ternyata tampak sebagai “seekor Anak Domba seperti telah disembelih”. Bandingkan Mk 8:29-31 (“Engkau adalah Mesias…Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan”); PB selalu memadukan Mesias yang berjaya dengan Hamba yang menderita. Hal itu dapat dilihat jika kita melihat setiap pernyataan dalam Kej 49:8-12 dalam terang Kristus. Kepada Yesus ada pujian dan sujud dari keduabelas suku Israel dalam wujud murid-murid Yesus, setelah Dia mengalahkan dosa dan maut pada penyaliban dan kebangkitan-Nya (8). Dia telah mematahkan musuh-musuh itu dan naik ke sebelah kanan Allah (Yerusalem sorgawi) untuk menikmati kerajaan-Nya (9). Dari situ bangsa-bangsa ditaklukkan melalui pemberitaan Injil yang mengundang semua manusia untuk menjadi murid Yesus (10). Ketika Dia mau masuk ke Yerusalem (Mk 11:1-11), Yesus merujuk pada Zak 9:9 yang sepertinya sudah menafsir kembali soal keledai dari Kej 49:11 sebagai kelemahlembutan (ada kombinasi kata dalam Zak 9:9 dan Kej 49:11 yang hanya terdapat pada kedua ayat itu dalam seluruh PL). Soal minum anggur menjadi cara Yesus menjangkau orang-orang berdosa dalam Luk 7:34. Kejayaan Kristus tidak dikurangi (Dia mengirik anggur dalam rangka penghukuman di Why 19:15), tetapi caranya melalui penderitaan dan kerendahan.

Jadi, bagi kita sekarang, janji Allah dalam pernyataan Yakub ini makin teguh. Kristus telah datang, telah memperlihatkan Kerajaan Allah dalam pelayanan-Nya, dan telah bangkit dari antara orang mati. Tidak ada alasan untuk ragu-ragu bahwa Dia akan datang kembali untuk menyempurnakan berkat yang telah Dia datangkan bagi kita. Itulah pesan Adven yang khas. Sejauh mana janji itu menjadi harapan utama kita, kehidupan kita akan bersifat penantian. Penantian itu tidak pasif tetapi aktif: kita giat membawa berkat karena kita adalah bagian dari pengaliran berkat sama seperti Yakub.

Namun, saya dapat membayangkan ada pelayan yang mengambil tema pengharapan dan berbicara tentang berbagai harapan sementara: harapan sembuh, harapan anak lulus ujian dsb. Mengapa? Karena konon orang Toraja berpikir “praktis” dan tidak mau pusing dengan harapan yang muluk-muluk. Peduli amat jika Tuhan akan meyelamatkan dunia suatu kelak, yang penting bagaimana hasil panen tahun ini. Sejauh mana pengamatan itu benar, dapat dikaitkan dengan padangan siklis, yaitu bahwa manusia lahir untuk mati dan menjadi sumber berkat bagi keturunannya. Hal itu mungkin juga diperkuat oleh banyaknya janji yang muluk-muluk dari para calon orang besar. Bagaimana memberitakan harapan Adven kepada orang yang berpandangan wajar saja seperti ini? Dalam yang berikut pikiran saya ditolong oleh beberapa rekan yang kepadanya saya mengajukan pertanyaan itu.

Perhatikan bahwa kita tetap berbicara tentang berkat (dalam rangka perikop yang sebenarnya, yaitu sampai 49:28, meskipun uraian tentang berkat terdapat di luar batas bacaan yang ditentukan). PL juga melihat berkat dalam rangka ternak, panen, dan keturunan. Tetapi makin lama makin diperhatikan bahwa berkat itu rawan. Tahun ini panen bagus, tahun berikut belum tentu. Lebih lagi ketika ketidakadilan menjadi pengalaman umum dalam kerajaan Israel yang justru makmur; orang miskin yang tidak bersalah menderita karena keserakahan orang kaya, dan orang benar rugi jika mempertanyakan keadaan itu. Jadi, jika suatu pengharapan atau cita-cita disebut duniawi, hal itu belum tentu berarti salah, tetapi sudah pasti berarti sementara dan terbatas. Hal-hal itu adalah fondasi yang sangat lemah untuk bertahan dalam kesusahan yang melanda semua orang.

Sebaliknya, dalam Kristus ada janji berkat yang kokoh dan pasti. Ketika Dia datang kembali, semua yang melawan Kerajaan-Nya akan lenyap (nasib Ruben dan Simeon menjadi peringatan di sini karena mereka kehilangan berkat karena dosanya, tetapi menarik bahwa Lewi yang kemudian menjadi suku imam karena Pinehas [Bil 25:12-13] menunjukkan bahwa penolakan itu bukan takdir tetapi selalu ada kesempatan untuk bertobat), dan kita akan mengalami kesejahteraan yang tak terbatas. Janji itu kokoh karena berulangkali Allah menggenapinya kepada Israel, dan penggenapan terakhir adalah kebangkitan Yesus, buah sulung dari pembaruan seluruh dunia. Ketika kita mengalami berkat-berkat sementara, kita dapat menikmatinya sebagai cicipan dari berkat kekal itu. Ketika kita mengalami kesusahan, kita dapat bertahan dalam pengharapan, sambil bersukacita karena tetap ada cikal bakal dunia mendatang, yaitu pengampunan di dalam Kristus, penyertaan Allah, dan persekutuan gerejawi di dalam Roh Kudus.

Kiranya kita menanti-nantikan keselamatan itu, bukan hal-hal yang terbatas saja.


1 Samuel 7:2-14 Mengalami Pertolongan Tuhan [20 November 2011] (Akhir Tahun Gerejawi)

November 16, 2011

Dalam cerita yang klasik ini, saya menyempatkan diri untuk memberi contoh agak terperinci akan tafsiran kristologis. Intinya (seperti biasa) dapat ditemukan di bawah alinea pertama “Maksud bagi Pembaca”. Selebihnya semoga bermanfaat; soli Deo gloria.

Penggalian Teks

Setelah Samuel dipanggil dan diakui oleh Israel sebagai nabi Tuhan (1 Sam 3:20), tabut perjanjian dirampas oleh orang Filistin ketika dipakai oleh orang Israel kurang lebih sebagai jimat. Israel direndahkan, tetapi orang Filistin, khususnya ilah terutama mereka, Dagon, juga jadi direndahkan: patungnya Dagon terjatuh di depan tabut perjanjian (5:1-5), dan orang-orang Filistin kena banyak tulah (pp.5-6). Sehingga tabut perjanjian dikembalikan ke daerah Israel tanpa andil sedikit pun dari orang Israel sendiri. Dengan demikian Allah telah membuktikan kuasa-Nya, tetapi keadaan Israel belum juga pulih.

Kemudian, kita masuk pola yang berulang kali terjadi dalam kitab Hakim-Hakim. Israel lama menderita di bawah musuh sehingga mengeluh (2) dan bertobat dari penyembahan ilah-ilah yang lain (3-6). Maka Allah mengangkat seorang hakim (6) yang mengalahkan musuh Israel (7-12) sehingga Israel dapat hidup damai (13-14). Aa.15-16 juga merupakan penutup yang cocok untuk seorang hakim.

A.2 merupakan pendahuluan cerita ini, dengan mengangkat intisari dari kondisi Israel sebagaimana dilihat dalam pasal-pasal sebelumnya (karena cerita ini adalah satu peristiwa di dalam kisah yang lebih besar). Yang menggerakkan cerita ini ialah keluhan Israel (2). Tuhan menjawab melalui Samuel (status Samuel sebagai nabi sudah jelas dari 3:20) bahwa mereka perlu menjauhkan ilah-ilah asing (3). Dalam budaya Israel yang masih kolektif, pertobatan itu dinyatakan melalui perubahan ritus. Secara harfiah mereka menjauhkan patung-patung yang disembah dan kembali kepada ritus-ritus yang diizinkan oleh Taurat (4).

Kemudian, Israel disuruh berkumpul—bukan di Kiryat-Yearim tempat tabut perjanjian ada melainkan di Mizpa. Di sana, sebagai nabi (bdk. Kej 20:7), Samuel akan berdoa bagi Israel (5). Di sana, pertobatan yang sudah dinyatakan dengan perubahan ritus juga dinyatakan dengan pencurahan air (tanda penyucian atau pertobatan?), acara puasa dan pengakuan dosa (6). Di sana, Samuel juga menjadi hakim (pemimpin) di atas mereka (6c). Dengan demikian, Israel sudah utuh kembali sebagai umat Allah.

Kiryat-Yearim terletak 22 km dari Ekron, kota Filistin yang paling dekat wilayah Israel. Mizpa berada 12 km lebih jauh, di tengah pegunungan Israel sedikit sebelah Selatan dari Betel, pada persimpangan dua jalan raya. Tempatnya mungkin lebih terjangkau oleh orang-orang Israel dari berbagai daerah, tetapi ternyata juga terjangkau oleh orang Filistin. Mereka mungkin tidak akan berani menuju tabut perjanjian di Kiryat-Yearim, tetapi sepertinya Mizpa dianggap aman (7a). Orang Israel tentu takut, tetapi tanpa “jimat” tabut perjanjian mereka hanya dapat mengandalkan janji Samuel untuk berdoa (8). Samuel pun berdoa melalui ritus yang kelihatan, yaitu korban bakaran, dan Tuhan menjawab doanya (9).

Andil Tuhan ditonjolkan dalam a.10, lebih lagi dalam bahasa aslinya yang mengatakan bahwa orang Filistin “terpukul kalah di hadapan orang Israel” (bukan “oleh orang Israel”). Setelah langkah yang menentukan dari Allah, Israel ikut berperang sampai Bet-Kar (a.11; letaknya tidak diketahui). Nama batu peringatan menyimpulkan pesannya bagi Israel, “Tuhan menolong kita” (12; Eben = batu, Ha = sang [dalam konteks ini], Ezer = penolong). “Sampai di sini” dapat berarti “sejauh tempat ini” (ruang) atau “sampai sekarang” (waktu).

Kemenangan itu cukup menentukan selama Samuel hidup (bdk. Hak 2:18). Ekron sampai Gat berjarak 5 km di perbatasan wilayah Filistin dengan Israel, pada salah satu jalan raya yang dipakai untuk perdagangan internasional.

Maksud bagi Pembaca

Cerita ini menuntun pembaca dalam proses keselamatan. Yang pertama adalah kesadaran bahwa Tuhanlah harapan orang yang berkeluhkesah (2). Kemudian, ada dua tahap pertobatan: menjauhkan sumber-sumber harapan yang lain (3-4), lalu disucikan di hadapan Tuhan (5-6, 9). Kemudian, kuasa Tuhan akan ditampakkan dengan perantaraan utusan-Nya sehingga musuh akan dikalahkan, sehingga umat yang suci dapat beribadah dalam damai.

Dalam cakupan lebih luas, untuk pembaca pada zaman pembuangan dan seterusnya, cerita ini membuktikan Samuel sebagai utusan Allah, sehingga pengurapan Daud, asal usul Mesias itu, jelas berasal dari Allah (1 Sam 16). Mesias itu yang akan menyelamatkan Israel kembali sehingga ibadah Israel tidak lagi terancam oleh musuh, jika Israel bertobat.

Makna

Saya sudah mengusulkan di atas bahwa perikop ini akan dibaca secara mesialogis oleh Israel pasca-pembuangan. Lebih lagi, kita yang mengenal kuasa Allah dalam penyaliban (1 Kor 1:23-24) dan kebangkitan Kristus (Ef 1:19-20) akan menafsir perikop ini secara kristologis. Musuh kita adalah dosa, Iblis, dan maut, dan Juruselamat kita adalah Kristus yang memperlihatkan kuasa Allah yang mengalahkan musuh-musuh itu. Cerita ini memberi gambaran konkret akan keselamatan yang tidak langsung kelihatan itu. Keselamatan itu bersifat eskatologis, yakni, hanya dalam dunia baru musuh tidak ada lagi sehingga kita beribadah kepada Allah dengan sempurna dan tanpa ancaman. Namun, PB melihat keselamatan secara berganda. Kita sudah memiliki jaminannya dalam bentuk Roh Kudus (Ef 1:14), sehingga keselamatan itu mulai terwujud dan dialami dalam kehidupan berjemaat (Efesus 4). Makanya, ada perjuangan rohani sekarang (Efesus 6), yang mengandaikan perang suci dalam PL, hanya bukan lagi melawan darah dan daging.

Namun, cerita ini tetap memiliki integritas sebagai firman Allah, sehingga kita harus tetap belajar dari perincian cerita ini. Jika harapan PB ialah bahwa semangat rohani kita selalu kuat (Rom 12:11), pada kenyataannya kita sering merosot sehingga tidak lagi menghadapi dunia dengan sukacita dalam Tuhan melainkan dengan sikap mengeluh. Pada saat itu, selayaknya kita memeriksa hati kita untuk mengetahui apa yang menjadi andalan atau penyelamat kita selain Allah. Hal itu bisa saja dalam bentuk fisik seperti jimat atau perkunjungan ke dukun, tetapi juga dalam bentuk lebih halus. Ketika Yesus memperingati kita tentang menduakan Allah, konteks langsungnya itu harta benda (Mt 6:24), sehingga Paulus menyamakan orang serakah dengan penyembah berhala (Ef 5:5). Tetapi Yesus juga baru selesai berbicara tentang ritus yang dilakukan untuk manusia, bukan Allah (Mt 6:1-18). Mamon dan Gengsi merupakan dua ilah besar di konteks Toraja, yang harus dijauhkan jika jemaat Tuhan di sini mau pulih. Kuncinya di sini “beribadah hanya kepada Tuhan” (4). Israel selalau memberi sebagian penyembahan mereka kepada Tuhan, tetapi Tuhan meminta segenap hati, jiwa dan akal budi kita.

Kemudian, penafsiran kristologis menegaskan bahwa mediator yang mendoakan kita sehingga selamat bukanlah si pendeta, dan bukanlah pimpinan gereja (lebih lagi bukanlah pemerintah!). Kristus yang menjadi Pembela kita di hadapan Allah (Rom 8:33). Pada hemat saya, jemaat sekarang lumayan menyadari bahwa mereka adalah orang berdosa (6). Saya tidak tahu sejauh mana jemaat sungguh mengandalkan Yesus sebagai Anak Domba yang disembelih untuk menyucikan mereka (9). Tetapi sepertinya masih kurang ketakutan yang menandai bahwa jemaat memahami besarnya tantangan yang dihadapi, seperti perpecahan, penyakit sosial, bahkan semua yang menuju ke ranah maut, bukan kehidupan. Secara pribadi sebagian jemaat sudah mengalami doa yang sungguh-sungguh. Tetapi secara berjemaat doa kita kepada Allah dalam nama Yesus Sang Mediator sering bersifat dangkal. Kita berdoa supaya hidup jemaat nyaman, bukan untuk melihat kuasa Allah membawa perubahan yang nyata.

Belum tentu jawaban Tuhan akan seperti dalam a.10, tetapi Tuhan tetap berkuasa sekarang. Sebagai contoh: pada waktu pembangkitan rohani di Inggris pada akhir abad ke-18, ada banyak tempat miras dan perjudian yang menjadi sepi karena pelanggannya bertobat dan menjadi sibuk dengan kegiatan rohani. Untuk waktu yang singkat fenomena Meko juga berdampak begitu, hanya, akarnya tidak terlalu kuat, mungkin karena sebagian orang hanya bertobat dari beberapa kebiasaan buruk, bukan berpaling dalam hati kepada Kristus sebagai satu-satunya harapan mereka. Perhatikan bahwa kedua fenomena ini tidak berasal dari program gereja pada tingkat apapun. Allah bekerja dalam kedaulatan-Nya, gereja hanya ikut serta (dan soal Meko, dengan kurang efektif, pada hemat saya, karena alasan tadi).

Gereja ikut serta sama seperti orang Israel dalam a.11: setelah kemenangan diraih mereka keluar berperang (11). Itulah pola Efesus 6 juga; kalau dilacak, perlengkapan senjata Allah berasal dari kemenangan Kristus (Ef 6:14-17), dan tugas kita adalah berdiri melawan serangan Iblis. Jadi, seluruh jemaat harus bertobat (a.5, “segenap orang Israel”), bukan hanya majelis, bukan hanya isteri-isteri yang pergi bergereja. Kemudian, seluruh jemaat akan berperan dalam melawan muslihat-muslihat Iblis, bukan hanya si pendeta, bukan hanya pimpinan gereja. Adalah penyakit ketika jemaat meng-Samuel-kan pendeta atau pimpinan gereja (menjadikannya juruselamat), dan lebih lagi ketika jemaat juga malas ikut berperan. Pembangkitan rohani di Inggris berdampak lama karena orang awam sangat terlibat; Meko berdampak singkat karena orang awam sudah puas dengan penyembuhan fisik.

Hasilnya bahwa Tuhan yang kepada-Nya kita mengeluh dan berbalik itu kita jadi kenal sebagai Penolong (12). Hasil dalam aa.13-14 akan bergantung pada masalah yang dihadapi. Ketika perpecahan dikalahkan, ada kesatuan di dalam jemaat. Ketika penyakit sosial diatasi melalui pertobatan para pendalangnya, ada damai di dalam masyarakat. Hasil-hasil itu selalu bersifat sementara. Israel akan menghadapi orang Filistin lagi, dan berbagai musuh lain lagi, dan akhirnya mereka menjadi jenuh bertobat sehingga mengalami pembuangan. Nasib satu lembaga seperti Gereja Toraja bisa saja demikian, tetapi selalu akan ada tubuh Kristus di bumi yang di hadapannya Tuhan menunjukkan kuasa-Nya, sampai Kristus datang kembali dan kita menikmati damai sejahtera yang kekal.


Yeh 18:25-32 Bertobatlah dan hidup [30 Oktober 2011]

Oktober 27, 2011

Setelah menegaskan bahwa nasib satu angkatan bergantung pada angkatan itu sendiri, bukan angkatan di atasnya, nubuatan dalam p.18 ini beralih dalam a.21 ke soal perubahan di dalam satu angkatan. Intinya bahwa Allah melihat akhir dari riwayat hidup, bukan awal. Ternyata prinsip itu adalah prinsip anugerah, bukan amal. (Untuk penjelasan tentang konteks pasal ini lihat posting ini tentang Yeh 18:1-13.)

Penggalian Teks

Aa.25-29 adalah bagian dari kiasmus dalam aa.21-28: A. Orang fasik bertobat (aa.21-22) + komentar Allah (a.23); B. Orang benar berbalik dari kebenaran (a.24); C. Penilaian Allah dan Israel (a.25); B’. Orang benar berbalik dari kebenaran (a.26); A’. Orang fasik bertobat (aa.27-28) + komentar (a.29, sama dengan C, a.25). Jadi, penilaian Allah dan Israel pertama-tama menyangkut a.24 dan a.26, yaitu, orang benar yang berbalik dari kebenaran. Israel tidak setuju bahwa “segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi” (a.24). Allah menjelaskan bahwa prinsip itu setara dengan prinsip yang membawa harapan, yaitu bahwa orang fasik dapat bertobat dan hidup, tetapi Israel belum puas (a.29).

Dalam aa.25 & 29, Allah menyerang balik Israel. Mereka menilai bahwa tindakan Tuhan tidak tepat. Kata “tindakan” menerjemahkan Ibrani derek yang secara harfiah berarti “jalan”. Bukan hanya satu tindakan Tuhan yang dipersoalkan tetapi cara-Nya. Sebaliknya, Tuhan menilai tidak tepat jalan-jalan (jamak) Israel. Kata yang diterjemahkan “tepat” dipakai untuk menimbang. Jadi, Israel menuduh bahwa Tuhan main curang: orang fasik yang bertobat luput dari hukuman, sedangkan jasa orang benar yang berbalik dari kebenaran dilupakan. Semestinya, perbuatan dihitung secara rata: dosa pada awal, pertengahan dan akhir kehidupan sama bobotnya, dan sama juga perbuatan baik. Tetapi Tuhan menuduh Israel balik. Jalan-jalan mereka, cara hidup mereka, adalah main curang. Seperti banyak dijelaskan dalam kebanyakan pp.1-24, mereka menduakan Allah. Sepertinya, Israel menganggap diri sebagai orang benar yang belum berbalik dari kebenaran, tetapi sebenarnya mereka telah berbalik dari kebenaran tetapi belum “insaf” (a.28), yaitu, belum melihat [ra’ah] kondisinya yang sebenarnya.

Oleh karena itu, mereka akan dihukum (a.30). Namun, masih ada tawaran untuk Israel menempatkan diri sebagai orang fasik dan berubah haluan, berdasarkan keinginan Allah supaya mereka hidup (aa.31b-32a). Kata “bertobat” berarti kembali [syub], dan kata “berpaling dari” [syub hifil] berarti berhenti dari kedurhakaan yang membuat mereka bersalah sehingga layak dihukum. Kata durhaka menangkap unsur pemberontakan melalui pelanggaran dalam kata pesya’, sehingga bukan hanya tindakan dipersoalkan tetapi juga sikap. Makanya, Israel memerlukan hati dan roh yang baru (a.31).

Maksud bagi Pembaca

Tujuan nubuatan ini adalah supaya Israel bertobat. Kendalanya bahwa Israel menganggap diri benar, dan diancam hukuman karena dosa ayah-ayahnya. Dalam bagian awal p.18 Allah menegaskan bahwa mereka akan dihukum karena dosanya sendiri. Mulai a.21 Allah menyerang pemahaman “amal” yang mereka anut: bahwa yang penting ialah kebenaran melebihi dosa. Dosa mereka sebenarnya jauh melebihi anggapan mereka, tetapi pengampunan Allah juga jauh melebihi anggapan mereka. Jalan hidup bukan mempertahankan kebenaran diri melainkan mengaku dan berubah haluan.

Makna

Banyak anggota jemaat menganut pemahaman amal dan pemahaman pertobatan yang sempit. Pemahaman amal yang saya maksud ialah pemahaman yang seakan-akan memberi bobot terhadap setiap perbuatan baik dan jahat sehingga dapat dijumlah menjadi total yang positif atau negatif. Tentu hanya Allah yang sanggup melakukan perhitungan itu, dan dapat diharapkan ada kelonggaran, tetapi yang penting totalnya positif. Dengan demikian, dosa besar pada masa lampau sulit ditutupi, dan sebaliknya banyak perbuatan baik pada masa lampau membuat keadaan sekarang lebih aman. Gejalanya bahwa banyak anggota jemaat merasa diri cukup benar (walaupun tentu ada kelemahan-kelemahan), tetapi jika ada yang pernah membuat pelanggaran yang besar, dia tidak akan diterima untuk suatu jabatan, meskipun dia menunjukkan pertobatan yang jelas.

Dengan demikian, pertobatan dikerdilkan menjadi sebatas meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Sedangkan yang dimaksud Yehezkiel adalah berubah haluan. Hidup yang dulunya terarah pada berhala-berhala, terutama diri sendiri tetapi dalam bentuk uang, harta, gengsi dsb, menjadi hidup yang terarah kepada Tuhan. Makanya, yang dibicarakan bukan hanya tindakan tetapi juga hati dan roh. Di balik konsep pertobatan itu ada konsep anugerah. Dosa kita ternyata jauh lebih dalam dari dugaan atau pengamatan kita. Yang kita anggap sebagai dosa kecil ternyata merupakan kedurhakaan, penyataan sikap masa bodoh ataupun marah terhadap Allah. Hal itu sepertinya terlalu berat untuk dihadapi, tetapi dapat dihadapi karena Allah tidak menghitung amal melainkan menghapus dosa masa lampau.

Jika konsep anugerah dan pertobatan yang menyeluruh ditangkap, maka penilaian kita terhadap orang lain akan berbeda. Kita akan melihat bagaimana perkembangan terakhir mereka, bukan bagaimana pencitraan diri mereka selama ini. Kita akan bisa menerima diri sendiri, karena percaya pada janji bahwa orang yang bertobat akan hidup.

Mengenai a.31, penting diamati bahwa dalam 36:25-27, yang disampaikan Allah setelah hukuman pembuangan sudah jatuh atas Israel, Allah sendiri yang akan membaharui hati dan roh Israel oleh Roh Allah sendiri. Jadi, a.31 bukan usaha kita, tetapi kerja sama kita dengan prakarsa Allah dalam kehidupan kita.

Semuanya diperjelas di dalam Kristus. Kematian Kristus menunjukkan bagaimana Allah dapat dengan adil mengampuni dosa masa lampau (bdk. Rom 3:25). Oleh karena pembenaran oleh iman itu, Paulus dapat melihat ke depan, tidak lagi terbelenggu oleh masa lampaunya (lihat Filipi p.3). Kemudian, Roh Kudus dicurahkan ke dalam hati kita sehingga ada hidup baru (Roma pp.5-8).

Satu catatan lebih teknis. Dalam perikop ini, Allah berbicara pertama-tama tentang nasib Israel, apakah Israel akan mati (Yerusalem dihancurkan dan umat dibuang) atau hidup (kembali berjaya di tanah perjanjian). Yang terjadi tentu adalah Israel dibuang. Namun, ada kesadaran bahwa Israel tidak seragam, ada yang setia kepada Allah dan yang tidak setia, bahkan dalam kitab Keluaran sudah ada kitab dengan nama-nama tercatat (Kel 32:32-33). Tetapi individualisme keselamatan hanya menjadi jelas ketika pemahaman tentang kebangkitan muncul, karena dengan demikian apa saja nasibnya sekarang, orang yang setia kepada Allah akan mendapat bagian dalam dunia baru yang dijanjikan berkaitan dengan pemulihan Israel, suatu janji yang dibuktikan dan diteguhkan dengan kebangkitan Yesus. Jadi, dalam terang Kristus kita boleh, malah harus, membaca perikop ini dalam rangka keselamatan individu. Hanya, pemahaman kolektif juga layak dipikirkan. Misalnya, lembaga gerejawi yang sudah menjadi duniawi karena mengandalkan kebenaran para pendirinya perlu bertobat, supaya tidak dibuang sebagai ranting yang tidak berbuah.


2 Kor 5:11-21 Menghayati dan melayankan pendamaian dalam Kristus [2 Oktober 2011]

September 28, 2011

Perikop ini adalah perikop yang kaya dengan makna bagi para pelayan, seperti sebagian besar pembaca blog saya. Isinya jauh melebihi apa yang dapat disampaikan dalam satu kali khotbah. Jadi, saya menghimbau pembaca untuk mengambil kesempatan ini untuk merenungkan pelayananya sendiri bersama dengan Rasul Paulus. Allah mau berfirman terlebih dulu kepada saudara. Kemudian, di bagian makna ada usaha sederhana untuk mengkontekskan teologi Paulus bagi budaya Toraja.

Penggalian Teks

Hubungan Paulus dengan jemaat di Korintus penuh ketegangan, sebagaimana dilihat dalam kedua surat yang kita miliki yang dia tulis kepada mereka. Dalam bagian pertama surat kedua ini (sampai p.7) Paulus menjelaskan pelayanannya, supaya jemaat di Korintus dapat lebih mengerti mengapa dia tidak menepati suatu janji untuk mengunjungi mereka (1:17). Masalah itu menjadi bahan untuk satu kelompok di jemaat yang menganggap Paulus tidak layak sebagai rasul. Yang ditegaskan Paulus bukan kelayakannya melainkan kemuliaan pelayanannya, yaitu pelayanan perjanjian baru dalam Roh (p.3), yang di dalamnya kemuliaan Allah dinampakkan dalam kelemahan para pelayan-Nya (p.4, bdk. 4:7 yang terkenal itu tentang bejana liat). Kemudian, Paulus membahas ujung atau cakrawala dari pelayanannya, yaitu harapan untuk berada bersama dengan Kristus dan pengadilan terakhir (5:7-10). Perikop kita merupakan inti dari apa yang dilakukan Paulus, diikuti oleh seruan kepada mereka untuk menerimanya (6:11; 7:2).

Alur penguraian Paulus dalam perikop kita diberi topik, “kami…meyakinkan orang”, dan mulai dengan komentar tentang relasi Paulus dengan mereka (11-13), yang dijelaskan (“sebab”) sebagai akibat dari kasih Kristus (14-15). Dua implikasi disampaikan, yang pertama tentang manusia baru (16-17), kemudian tentang pelayanan yang meyakinkan untuk membawa kepada pembaruan itu (18-21).

A.11 mulai dengan satu motivasi mendasar Paulus, yaitu takut akan Allah. Aa.11-13 membandingkan penilaian Allah dengan penilaian manusia. Bagi Paulus yang pokok ialah penilaian Allah. Di depan takhta pengadilan Kristus itu hati kita semua akan dinyatakan [fanerothenai, LAI “menghadap”] (10). Dia berharap bahwa jemaat sepaham dengan penilaian Allah [pefanerosthai, LAI “hati kami nyata dengan terang”] (11b), dan dia menjelaskan bagian surat ini sebagai usaha supaya mereka bisa kuat di hadapan kelompok penentang itu (12), suatu kelompok yang melihat lahir (harfiahnya, “muka”), bukan batin (“hati”). Kegiatan pokok Paulus adalah meyakinkan orang (11); jika dalam melakukan pelayanan itu ada yang sepertinya kurang waras, hal itu karena Paulus melayani Allah, jika Paulus menyesuaikan diri dengan harapan mereka, hal itu demi melayani mereka (13). Paulus diarahkan oleh penilaian Allah sekarang yang akan dinyatakan pada akhir zaman, bukan oleh pendapat orang.

Bagaimana bisa ada orang yang begitu bebas (13a) sekaligus terikat (13b)? Kasih Kristus sudah memegang Paulus dengan erat (14). Kasih Kristus berarti bahwa Kristus telah mati bagi semua orang, sehingga mereka telah mati bagi dosa untuk hidup bagi Kristus yang mati dan bangkit itu (menafsir aa.14-15 dalam terang Rom 6:3-4). Paulus tidak hanya menangkap kebenaran itu, ia ditangkap olehnya, karena di dalamnya ada implikasi penting bagi semua orang.

Implikasi pertama ialah Paulus sudah melihat manusia dengan mata baru. Jika dia pernah melihat Kristus sebagai penyesat, dan manusia berdosa sebagai sampah (16), sekarang dia melihat Kristus sebagai perintis ciptaan baru, dan semua orang di dalam-Nya sebagai bagian dari ciptaan itu (17).

Implikasi kedua menyangkut pelayanan Paulus. Paulus berubah karena dia sendiri telah didamaikan dengan Allah yang sekaligus mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepadanya (18; bdk. Kisah Para Rasul p.9). A.19 memperluas a.18: Allah mendamaikan bukan hanya Paulus atau “kita”, tetapi dunia. Yesus bukan hanya sarana [dia + genitif, LAI “dengan perantaraan”] tetapi wadah atau tempat [en, LAI “oleh” tetapi dalam banyak versi bahasa Inggris “di dalam”]. Caranya dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Jika dikaitkan dengan a.14 (“semua” = “dunia”), maksudnya sepertinya bahwa di dalam Kristus dunia telah mati sehingga pelanggaran mereka tidak berlaku lagi. Dengan demikian ada damai: pelanggaran kita bukan lagi penghalang dalam relasi dengan Allah, baik bagi Allah maupun bagi kita yang sadar akan keberdosaan kita. Itulah berita pendamaian yang dipercayakan kepada Paulus.

Kesimpulannya [oun, LAI “jadi”) bahwa Paulus (bersama dengan rekan-rekannya, paling sedikit Timotius, bdk. 1:1) adalah utusan Kristus (20). Seperti digambarkan Paulus di sini, seorang utusan menjadi penyambung lidah dari pengutusnya. Pesannya supaya jemaat di Korintus menerima pendamaian itu. Dua kali Paulus mengatakan “demi Kristus” [pertama kali tersirat dalam “utusan Kristus”, kedua kalinya “dalam nama Kristus”], dan a.21 memperjelas hal itu. Kristus tidak mengenal dosa, tetapi Allah memperhitungkan-Nya sebagai orang berdosa demi kita, supaya kita dapat diperhitungkan sebagai orang benar. Demikian kasih Kristus yang mendorong Paulus untuk meyakinkan bahkan jemaat di Korintus untuk didamaikan dengan Allah.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Korintus tetap menerima wibawa kerasulannya, dan demi tujuan itu dia menjelaskan bagaimana kematian dan kebangkitan Kristus mendorong dia untuk memandang manusia sebagai orang yang dipanggil untuk didamaikan dengan Allah.

Allah juga mau supaya kita menerima wibawa rasul Paulus, dalam bentuk surat-suratnya. Jika kita sudah ditangkap oleh kasih Kristus itu, kita juga akan memandang manusia sama seperti Paulus, walaupun peran kita tidak persis sebagai rasul. Bagi para pelayan, intinya mungkin bisa disampaikan begini: apakah saudara mencari damai dengan jemaat (tidak ada keluhan, ribut-ribut dsb, tafsiran utama “damai sejahtera bagi semua”, kadangkala), atau mencari jemaat didamaikan dengan Allah (intisari dari damai sejahtera yang sesungguhnya)? Apakah saudara mencari muka di hadapan manusia atau di hadapan Allah yang melihat ke dalam hati? Paulus mau memberi jemaat di Korintus alasan untuk memegahkannya, yaitu alasan bahwa dia semata-mata digerakkan oleh takut akan Tuhan dan kasih Kristus. Bukan alasan S.2nya, bukan dekatnya dengan pimpinan gereja.

Makna

Apa yang menjadi dasar hidup yang setia kepada Kristus? Kata Paulus, kasih Kristus. Kasih Kristus itu bagaimana? Jawab banyak pelayan dan anggota jemaat yang saya dengar, kasih Kristus dikenal dalam keseharian hidup, bahwa saya telah bangun, bahwa saya dapat makan, menikmati keluarga dsb. Apa jawab Paulus? Kasih Kristus dikenal karena Kristus telah mati dan bangkit. Mengapa saya menganggap jawaban Paulus jauh lebih unggul? Karena pemeliharaan Allah tidak menentu. Hari ini semuanya baik-baik saja, besok musibah melanda. Kalau begitu, kasih Kristus itu ke mana? Paulus tidak meragukan kasih Allah dalam keseharian hidupnya, tetapi selalu dalam surat-suratnya landasan harapannya ialah Kristus yang telah mati dan/atau bangkit. Hanya dengan landasan itulah kita boleh dengan mata terbuka dan tidak berpura-pura mengimani kebaikan Allah dalam duka sama seperti dalam suka. Landasan yang lain hanya merupakan basa-basi saja. Makanya, banyak jemaat yang lekas tergoyang oleh masalah.

Lalu, mengapa kematian dan kebangkitan Kristus dilihat sebagai tindakan kasih? Satu aspek adalah pengorbanan Yesus. Biasanya hal itu dilihat dari perspektif penderitaan Kristus, dan perspektif itu memang betul (misalnya, Rom 8:17). Tetapi dalam a.21 kita melihat Yesus masuk dalam keadaan yang pasti sangat menjijikkan, yaitu dibuat menjadi dosa. Yesus ditempatkan dengan, dan diperlakukan oleh Allah sebagai, orang berdosa, orang najis, orang yang layak disingkirkan dengan mati.

Aspek yang lain ialah bahwa ada hasil dari pengorbanan itu, yaitu pendamaian dengan Allah dan status sebagai ciptaan baru. Saya coba memikirkan hal it dari konteks adat lama Toraja, dan mohon perbaikan atau tambahan usul dari yang lebih tahu. Di berbagai tempat di Toraja, ada proses pendamaian yang disebut massuru’ (menyisir). Unsur pertama di dalamnya adalah pengakuan yang disebut dipassaluan (dalam Kamus Toraja-Indonesia), menyebut satu per satu pelanggaran. Setelah semua yang terkait sudah mengaku pelanggarannya dan semuanya sudah terungkap (paling sedikit menurut imamnya, to minaa) maka bisa juga ada kurban ditentukan. Dengan demikian kekacauan dipulihkan (seperti kutu disisir dari rambut). Tetapi, bagaimana jika pelanggaran terungkap oleh penelaahan to minaa, tetapi dibantah oleh yang bersangkutan? Apakah pembangkang itu harus dikeluarkan untuk memulihkan kekacauan?

Pola seperti itu tidak asing dalam banyak budaya, termasuk PL. Im 4:27-28 membayangkan dosa yang tidak disengajakan tetapi kemudian diberitahukan (terungkap lewat undi imam?) kemudian ada kurban. Dalam Yosua p.7 ada dosa yang sengaja yang diungkapkan melalui serangkaian petunjuk dari Tuhan (mungkin undi Urim dan Tumim itu), kemudian ada pengakuan dan kurban, dalam kasus ini pelanggar sendiri (Akhan). Bahkan pembuangan Israel dapat dilihat dalam perspektif pola itu. Tuhan mengungkapkan pelanggaran-pelanggaran Israel melalui nabi-nabi, tetapi hal itu ternyata tidak berhasil memulihkan kekacauan Israel. Dengan demikian Israel sendiri harus dibuang. Dalam Daniel p.9 pemulihan (pengembalian ke tanah Israel) bisa terjadi setelah ada pengakuan dosa dengan penghapusan kesalahan (Dan 9:24). Pola yang saya lihat di dalamnya, yang ada di dalam massuru’ juga, ialah perlunya dosa (kekacauan) diperjelas, dengan kurban sebagai penghapus dosa atau pelurus kekacauan itu.

Jelas dalam perikop kita bahwa kurban itu kematian Kristus. Malah, fungsi kurban itu diperjelas dalam perikop ini. Dalam pola yang satu tadi, kekacauan ditangani dengan disingkirkan—manusia diusir dari taman Eden, Israel dibuang dari tanah perjanjian, lebih umum lagi manusia mati. Kurban itu berfungsi sebagai wakil yang menggantikan. Jika Akhan harus dimatikan, orang Israel pada umumnya dapat menawarkan kurban penebus salah. Jadi, Yesus mati bagi semua orang—dosa dihapus di dalam dirinya. Kalau begitu, di mana dosa diperjelas, dipassaluan? Tuntasnya pada takhta pengadilan Kristus (a.10, ingat tadi usul artian “hati dinyatakan”). Pada saat itu akan ada dipassaluan yang lengkap, menyeluruh, dan serba betul dan adil. Setelah itu, kekacauan menjadi masa lampau dalam dunia baru, dengan semua di dalam Kristus dibenarkan (a.21), dan semua di luar Kristus dihancurkan (bdk. 1 Kor 15:20-24). Tetapi dengan bergabung dengan Kristus (“siapa yang ada di dalam Kristus”), kita bisa masuk dunia baru itu sekarang juga (“ia adalah ciptaan baru”, a.17). Melihat a.15 dan a.20, berada di dalam Kristus mengandaikan bahwa kita sudah mulai sadar tentang kekacauan dalam diri dan berubah haluan. Bertobat mengandaikan dipassaluan secara pribadi, paling sedikit di hadapan Allah, tetapi saya duga juga di depan sesama, seperti pengakuan dosa dalam baptisan (Yak 5:16 sepertinya juga mendukung intisari dari dipassaluan itu, tetapi itu cerita lain). Kita menjadi bagian dari penyisiran kekacauan dunia, hidup bagi Allah, bukan lagi pengacau yang hidup untuk dirinya sendiri.


Luk 24:44-49 Meneruskan pelayanan Yesus

Mei 16, 2011

Injil Lukas memberi perhatian pada soal bukti tentang kebangkitan Kristus. Dalam 24:36-43 Dia harus membuktikan bahwa Dia bukan hantu (apakah mereka mengira hantu itu datang untuk membalas dendam terhadap pengkhianatan mereka?) melainkan darah dan daging. Tetapi lebih penting lagi adalah membuktikan bahwa apa yang terjadi sesuai dengan tujuan Allah mengutus-Nya, bahwa Dia tidak hanya orang yang sama tetapi juga memiliki misi yang sama.

Dia mulai dengan mengingatkan mereka bahwa sebenarnya Dia sudah memberitahu bahwa Dia harus mati dan bangkit (9:22). Salah satu kata kunci di sini adalah kata “harus” (dei), yang dalam Injil-Injil merujuk pada rencana Allah. Yesus “harus” di rumah Bapa-Nya (2:49). Dia “harus” memberitakan Kerajaan Allah di kota-kota yang lain (4:43). Tetapi kata kunci itu juga terkait dengan kata “tertulis”. Rencana Allah bukan hal yang baru muncul dengan Yesus tetapi sudah tertuang dalam PL. Dalam a.44 Yesus merujuk pada ketiga bagian Alkitab dalam pembagian orang Yahudi, yakni kitab Taurat Musa (Kejadian-Ulangan), kitab nabi-nabi (Yosua-2 Raja-raja dan Yesaya-Maleakhi) dan kitab Mazmur (sebagai kitab pertama dari semua kitab yang lain).

Yang disampaikan dalam seluruh PL adalah pertama-tama penderitaan dan kebangkitan Mesias (a.46). Memang, dalam PL ada konsep yang jelas tentang seorang raja yang akan muncul menggenapi janji Allah kepada Daud bahwa akan ada keturunan Daud di takhta Israel selama-lamanya (2 Sam 7:12-16). Buku-buku sejarah, nabi-nabi dan Mazmur semua sering menyinggung konsep ini, dan Taurat dalam beberapa aspek melihat ke depan ke raja Daud, seperti nubuatan tentang Yehuda dalam Kej 49:10. Tetapi jika kita melihat bahwa Mesias adalah wakil umat Allah, maka riwayat Yesus menjadi jelas. Dalam kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus melaksanakan pembuangan dan kebangkitan Israel. Yesaya 53 menyatakan hal itu dengan paling jelas, tetapi pasal itu sesuai dengan apa yang tersirat lebih luas. Bahkan Taurat melihat pembuangan dan pemulihan Israel, terutama dalam Ulangan 28-30, termasuk janji akan hati yang baru (Ul 30:6). Jadi, selain menggenapi beberapa nubuatan Mesianis, Yesus menggenapi seluruh nasib umat Allah sebagai wakil umat manusia. Dia mengikuti manusia ke dalam ranah maut—keterpisahan dari Allah—supaya Dia bisa merintis jalan ke ranah hidup dalam kebangkitan-Nya.

Jika Mesias diperlakukan demikian, apa respons manusia terhadap hal itu? Dalam beberapa nabi, khususnya Yes 40-66, pelayanan hamba adalah dasar pengampunan bagi umat Allah (mis. Yes 40:2). Bangsa-bangsa sebagai tujuan juga jelas dalam seluruh Alkitab. Semua bangsa akan diberkati dalam Abraham; banyak nabi melihat berkat bagi semua bangsa (mis. Am 9:12); Mazmur juga sering menyerukan semua bangsa untuk memuji nama Tuhan (mis. 117). Perhatian Allah bagi semua bangsa bukan sesuatu yang dimulai dengan Yesus, tetapi berakar dalam pemahaman tentang Allah sebagai Pencipta semesta alam. Menurut Lukas 4:16dst pelayanan Yesus memiliki dasar yang sama, yaitu sebagai hamba Tuhan sesuai Yesaya 61. Yerusalem sebagai titik tolak pemberitaan dapat dilihat dalam Yes 2:1-4, dan juga Yesaya 60, 62, di sekitar Yesaya 61 itu.

Begitulah kerangka pemahaman yang disampaikan oleh Yesus kepada mereka, yang menunjukkan bahwa Yesus yang ada di depan mereka adalah hamba Tuhan yang memberitakan kabar baik kepada orang miskin sejak awal pelayanan-Nya (Luk 4:18). Yesus membuka pikiran mereka akan rencana Allah dalam seluruh PL (a.45), tetapi juga mengingatkan mereka bahwa mereka menjadi saksi bahwa rencana Allah itu terwujud dalam Yesus. Dia akan pergi, tetapi mereka akan meneruskan pelayanan Yesus dengan berita tentang puncak dari pelayanan-Nya, yakni kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam hal itu mereka tidak akan sendirian. Sama seperti Yesus dikuasai oleh Roh Kudus, mereka juga akan menerima kekuasaan dari tempat tinggi.

Kita bukan saksi mata sama seperti mereka, tetapi perintah Yesus tentang perlunya memberitakan pertobatan dan pengampunan tidak dikaitkan dengan kesaksian mereka melainkan dengan adanya bangsa-bangsa yang belum mendengar. Jadi, dua hal dapat menghalangi gereja meneruskan kesaksian para murid itu. Yang pertama, jika pikiran belum dibuka untuk melihat bahwa pemberitaan Kristus mewujudkan rencana Allah bagi bangsa-bangsa, kita akan malas merepotkan diri dengan misi ke luar. Pertobatan dan pengampunan sepertinya sepadan dengan baptisan dan pengajaran dalam Mt 28:19-20, saluran berkat bagi bangsa-bangsa. Yang kedua, kalaupun pikiran sudah dibuka, tanpa kekuasaan dari tempat tinggi, kita tidak dapat bertahan dalam misi itu. Roh Kudus yang akan menyertai para pemberita Kristus dalam Injil Lukas. Hal itu tidak bertentangan dengan penyertaan Kristus dalam Mt 28:20, karena Roh itu Roh Kristus. Dengan penyertaan Roh Kudus, sebagaimana dilihat dalam Kisah Para Rasul, pemberita Kristus akan meneruskan pelayanan Yesus sendiri.


Pkh 5:7-17 Kerja keras dalam dunia yang rusak

Agustus 16, 2010

Dalam kitab Pengkhotbah kita melihat segi lain dari hikmat. Amsal mau memaparkan hikmat Allah yang tertanam dalam dunia yang Dia ciptakan. Pengkhotbah lebih hati-hati. Kita sebagai manusia terbatas, dan dunia ini tidak selalu berjalan sebagaimana semestinya. Perbedaan itu jangan dilebih-lebihkan. Amsal juga menyadari bahwa, misalnya, ketidakadilan merusak, dan Pengkhotbah juga ada pesan positif. Untungnya bagi umat Allah ialah bahwa dalam firman Allah kita diperhadapkan dengan dunia riil: bukan hanya hal-hal yang memberi semangat seperti anjuran untuk rajin dan janji bahwa jalan akan lurus bagi orang yang percaya akan Tuhan, tetapi juga kenyataan bahwa hasil yang semestinya dari kerajinan dirusak oleh keserakahan dalam diri, dan juga oleh ketidakadilan dari pihak lain. Istilah “kesia-siaan” merujuk ke ketidaksinambungan ini antara usaha dan hasil yang semestinya dari usaha itu.

Aa.7-8 membahas ketidakadilan. Sepertinya, dalam a.7 si pengkhotbah mengamati keadaan yang sama dengan jenjang korupsi yang konon ada dalam beberapa aparat Indonesia, di mana bawahan disuruh untuk main korupsi dan menindas rakyat dengan sebagian besar hasilnya distor ke atas. Artian a.8 tidak jelas (ada beberapa kemungkinan untuk terjemahannya), tetapi mungkin maksudnya adalah bahwa walaupun ada penindasan, paling sedikit pemerintah membawa kestabilan yang disimbolkan dalam hormat kepada raja. Bagaimanapun juga, si miskin tertindas, meskipun dia rajin. Hikmat yang semestinya (bahwa orang rajin berhasil) tidak berlaku sebagaimana semestinya baginya.

Aa.9-16 membahas malangnya orang yang mencintai uang. Kelompok itu termasuk penindas tadi, tetapi menjadi peringatan untuk kita semua. Jika Yesus melihat soal mencintai uang dari perspektif pemberhalaan (Mt 6:19dst), Pengkhotbah melihatnya dari perspektif kesia-siaan. Orang yang mencintai uang tidak pernah puas (a.9), menjadi sorotan orang banyak yang ada keperluan (a.10), dan susah tidur (a.11). Uang itu bisa hilang sehingga tidak ada warisan bagi anaknya (aa.12-13). Bagaimanapun juga, si pencinta uang akan mati, dan pada saat itu tidak ada yang dapat dia bawa (aa.14-15), padahal dia sudah banyak menderita karena cintanya akan uang (a.16). Hal itu layak disoroti. Dari segi materi pencinta uang bisa saja berhasil, tetapi saking cintanya dia selalu tidak puas, sehingga kesal terhadap apa yang dia anggap sebagai halangan untuk memuaskan keserakahannya yang tak terpuaskan itu. Juga, dia takut kehilangan uang itu, dan di dalam lubuk hati dia sadar bahwa uang tidak berarti sebagai tujuan hidup. Bukankah tepat gambaran si pengkhotbah bahwa inilah “menjaring angin” (a.15)? Cinta akan uang merusak hasil yang semestinya dari uang sebagai hasil jerih payah.

Tetapi ada alternatifnya, yang disampaikan dalam aa.17-19, yaitu bahwa orang menikmati pekerjaannya sebagai pemberian Allah. Dia rajin bukan untuk meraih uang, tetapi karena “itulah bahagiannya” (a.17). Petani (ataupun penambang) dapat menikmati keajaiban alam yang menghasilkan banyak-banyak untuk menghidupi manusia. Orang yang melayani, entah dalam pemerintahan atau swasta, dapat menikmati kesempatan untuk berdampak baik bagi yang dilayani. Lebih lagi orang yang melayankan firman Tuhan yang menghidupkan. Jika jerih payah itu berhasil, kekayaan itu juga dinikmati sebagai pemberian Allah (a.18), sehingga jika hilang lagi, hal itu bukan musibah. Malah, menurut ajaran Alkitab di bagian lain, orang kaya itu akan sanggup memberikan sebagian dari kekayaannya kepada orang lain. Kemudian, orang itu terlalu sibuk untuk mencemaskan kematiannya yang memang menunggunya (a.19).

Jika dipikirkan, uang sering menyimbolkan atau mewakili status. Ada yang mengaku masa bodoh terhadap uang tetapi haus akan status, malah menjadi murah hati demi status itu. Hal itupun akan merupakan “menjaring angin” yang sia-sia.

Dua catatan penutup. Yang pertama, kita tahu bahwa Kristus datang supaya ciptaan dapat dimerdekaan dari kesia-sian bersama dengan anak-anak Allah (Rom 8:19-22). Kadangkala, kita mengutip ayat seperti Rom 8:28 (bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia”) seakan-akan bagi orang percaya dunia sudah dimerdekakan dari masalah. Tetapi kemerdekaan itu masih kita tunggu. Kebaikan yang dimaksud dalam Rom 8:28 adalah menjadi serupa dengan Kristus (Rom 8:29). Ajaran si Pengkhotbah untuk menikmati pekerjaan kita sebagai bagian kita dari Allah akan membantu kita untuk menjadi serupa dengan Kristus, karena sangat cocok dengan ajaran Yesus untuk jangan mencintai uang dan jangan mengkhawatirkan hari esok (Mt 6:19).

Yang kedua, pembaca yang cermat mungkin sudah memperhatikan bahwa tafsiran saya di atas melampaui apa yang dikatakan dalam teks. Alasannya ialah bahwa tulisan hikmat merenungkan pengalaman manusia. Untuk menangkap maksudnya, mau tidak mau kita harus mengaitkannya dengan pengalaman kita, sehingga tafsiran kita menjadi campuran teks dan konteks. Untuk jenis sastra yang lain proses seperti itu juga terjadi, tetapi dalam, misalnya, tulisan sejarah kita berusaha untuk membedakan apa yang terjadi dengan implikasinya untuk sekarang. Dengan tulisan hikmat, proses perenungan pembaca adalah maksudnya. Makanya, pembaca blog ini rugi kalau sekadar membawa pikiran-pikiran saya. Semestinya, pembaca dipicu untuk membaca ulang ucapan-ucapan perikop ini untuk dikaitkan dengan konteks pribadi dan jemaat. Semoga dengan demikian banyak yang dimerdekakan dari cinta-cinta yang sia-sia.


Gal 1:11-17 Pelajaran dari pertobatan Paulus

Juli 23, 2010

Dalam perikop ini Paulus menceritakan perubahan drastis yang terjadi ketika Kristus berjumpa dengan dia di jalan menuju ke Damsyik. Si penganiaya jemaat menjadi rasul yang mendiri-dirikan jemaat. Si pilar agama Yahudi memberitakan Mesias kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Perubahan itu begitu drastis sehingga kita bisa tertarik untuk menjadikannya sebagai pola pertobatan secara umum. Masalahnya, Paulus tidak mengangkat kisah hidupnya di sini sebagai contoh. Di beberapa tempat Paulus mengangkat berbagai aspek kehidupannya sebagai contoh (mis. 1 Kor 10:33), tetapi di sini dia mau membuktikan bahwa Injil yang dia beritakan berasal dari Allah. Hal itu penting oleh karena tempat Paulus dalam Kisah Agung Alkitab, dalam rencana Allah untuk menyelamatkan bangsa-bangsa. Jadi, kita perlu lebih dulu memahami tempat Paulus dalam rencana Allah, baru melacak relevansinya untuk kita.

Paulus dipanggil sebagai rasul kepada bangsa-bangsa (aa.15-16). Apa artinya seorang rasul? Dari argumentasi Paulus di sini, satu ciri seorang rasul ialah bahwa rasul tidak meneruskan tradisi melainkan menyampaikan penyataan baru tentang Kristus. Seperti disinggung Paulus dalam a.1, penyataan itu terkait dengan kebangkitan Kristus. Rasul-rasul yang lain menjadi rasul sebagai saksi kebangkitan Kristus; Paulus diperjumpakan dengan Kristus yang telah bangkit di jalan menuju ke Damsyik. Jadi, penyataan yang dimaksud bukan penyataan umum, seperti hikmat yang terdapat dalam setiap budaya dsb, melainkan penyataan khusus, tentang karya Allah dalam Yesus Kristus, puncak dari seluruh rencana keselamatan Allah.

Cerita Paulus di sini mengajar kita bahwa Injil bukan suatu filsafat yang dapat kita temukan sendiri, melainkan berita yang harus diberitahu. Kita dapat bersyukur bahwa Allah memanggil Paulus untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa, dan bahwa ada yang meneruskan pelayanan itu sampai Injil datang ke Australia dan Indonesia.

Paulus juga dipanggil di tengah giatnya sebagai penganut agama Yahudi. Agama Yahudi memiliki tempat yang khusus dalam rencana Allah. Dasarnya adalah Taurat dan seluruh PL yang dinyatakan Allah kepada Israel supaya Israel menunjukkan hidup yang sejati di bawah kerajaan Allah. Namun, Taurat itu tidak menghasilkan budaya yang baik, karena dilumpuhkan oleh dosa (3:21-22), sampai Kristus datang (3:23-24). Paulus sendiri membuktikan buruknya budaya Yahudi karena sebagai orang yang maju di dalamnya dia menganggap baik menganiaya jemaat-jemaat Kristus. Pertobatannya tidak membuktikan buruknya Taurat melainkan keberdosaan Paulus (serta angkatannya).

Budaya-budaya dunia pada umumnya tidak memiliki dasar sekuat Taurat, kecuali mau diklaim bahwa budaya Eropa didasarkan pada Injil. Tetapi budaya Eropa juga banyak menyatakan keberdosaan orang-orang Eropa, sama seperti semua budaya yang lain. Jadi, masalahnya bukan budaya (walaupun semua budaya ada segi buruknya) melainkan keberdosaan orangnya. Yang diperlukan adalah Injil, Injil tentang Kristus “yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita” (a.4).


Im 27:1-13 Gambaran Penebusan

Juli 16, 2010

Perikop ini menyangkut peraturan yang sepintas lalu hanya menyangkut kebiasaan dan budaya Israel, sehingga relevansinya untuk kita sekarang kelihatan kurang jelas. Perlu diingat bahwa relevansi ditemukan melalui Kisah Agung Alkitab. Siapakah Allah, bagaimana manusia dan dunia yang Dia ciptakan, dan apa yang Dia lakukan, itulah yang menjadi dasar kehidupan kita. Dalam perikop tertentu, tahap pertama adalah memahami apa yang tertulis. Kemudian, kita berupaya untuk memahami kaitannya dengan Kisah Agung Alkitab. Dengan demikian, kita dapat memahami relevansi untuk kita. Dalam perikop ini, baik isinya maupun hubungannya dengan Kisah Agung kurang jelas. Makanya, untuk menggali kedua hal itu, renungan ini agak panjang.

Tahap pertama adalah memahami apa yang disampaikan untuk konteksnya sendiri. A.2 menyebutkan nazar tentang orang. Contohnya seperti Hana, yang bernazar untuk menyerahkan anaknya kepada Tuhan apabila dia melahirkan (1 Sam 1:11). Biasanya, orang bernazar karena menghadapi kesulitan, dan mau menunjukkan keseriusannya waktu minta tolong kepada Tuhan. Hanya, jika apa yang dijanjikan itu orang, hal itu dapat menimbulkan masalah. Contoh terburuk adalah Yefta, yang bernazar untuk mempersembahkan siapa (bukan apa) yang pertama muncul dari rumahnya jika dia menang. Tetapi, dalam kasus Hana pun, seandainya semua perempuan mandul berjanji untuk menyerahkan anaknya untuk melayani di tempat suci, akan ada masalah! Jadi, sistem ini ditetapkan untuk menebus orang yang dijanjikan dengan nilai tertentu.

Nilai penebusan itu jelas bukan nilai sebagai manusia, karena untuk orang yang tua nilainya lebih kurang daripada orang muda, sedangkan orang yang tua justru lebih dihormati di Israel. Jadi, nilainya nilai sebagai pekerja, mungkin dihitung seandainya orangnya akan bekerja di tempat suci. Bagaimanapun juga, nilai itu tinggi—satu syikal perak kurang lebih gaji satu bulan. Namun, dalam a.8 ada peringanan untuk orang miskin; imam diberi wewenang untuk menetapkan harga penebusan yang terjangkau.

Dalam aa.9-13 ada hewan yang dijanjikan kepada Tuhan. Sebagai contoh, seseorang bisa bernazar kepada Tuhan bahwa anak domba yang lahir berikutnya akan diberikan kepada Tuhan. Hewan itu tidak dapat ditukar dengan yang lebih jelek, seandainya anak domba yang muncul kelihatan sangat baik. Hewan itu juga tidak dapat ditebus, kecuali hewan itu haram.

Dalam aa.14 dst ada milik orang yang diberikan kepada Tuhan, bukan dalam rangka nazar, tetapi sebagai pemberian saja. Harga penebusan untuk ladang dihitung menurut berapa kali panen sebelum tahun Yobel yang berikut. Pada saat tahun Yobel ladangnya menjadi milik imamat, kecuali tanah yang merupakan warisan kaum yang lain. Hal itu menarik. Artinya bahwa Tuhan menghargai tahun Yobel (a.24). Ingat bahwa pada tahun Yobel tanah yang dijual dikembalikan kepada pemilik aslinya. Jika si A menjual ladangnya kepada si B, pada tahun Yobel ladang itu kembali kepada si A (atau keturunannya). Seandainya si B menguduskan ladang itu kepada Tuhan, ladang itu tetap kembali kepada si A pada tahun Yobel. Hanya kalau si A menguduskan ladangnya sendiri, ladang itu menjadi milik imamat seterusnya.

Demikian ringkasan peraturan dalam Im 27:2-24. Apa artinya? Menurut Mary Douglas (Leviticus as Literature), kitab Imamat bermakna secara analogis. Maksudnya bahwa satu bagian diterangkan oleh bagian-bagian yang lain yang mirip. Tahun Yobel hanya muncul dalam p.25 dan p.27, dan dalam kitab Imamat konsep penebusan juga hanya muncul di situ. Jika p.27 dibandingkan dengan p.25, p.25 menyangkut penebusan dari hutang kepada sesama karena miskin, sedangkan p.27 menyangkut penebusan dari hutang kepada Allah, barangkali karena menghadapi masalah sehingga bernazar. Kita melihat bahwa soal agama dalam p.27 tidak menjadi alasan untuk meniadakan prinsip keadilan dalam p.25. Orang miskin tetap dipikirkan (a.8), dan Allah sendiri menghargai tahun Yobel (a.24).

Bagaimana dengan p.26, di antara p.25 dan p.27? Di sini kita menemukan hubungannya dengan Kisah Agung. P.26 berbicara tentang berkat jika Israel taat, dan kutuk jika Israel tidak. Kutuk itu termasuk pembuangan, supaya tanah dapat menikmati tahun-tahun Sabat (26:43). Namun, Tuhan akan menebus mereka. Kata “menebus” tidak dipakai, tetapi konsepnya ada. Sama seperti Dia menebus mereka dari Mesir (Kel 6:5; 15:13), Allah akan menyelamatkan umat-Nya dari pembuangan (26:45). Jadi, dalam Imamat pp.25-27, penebusan oleh Allah dibandingkan dengan penebusan oleh manusia. Perbandingan dengan p.25 menunjukkan bahwa Allah menjadi Penebus Israel, yang menyelematkan mereka dari perbudakan. P.27 agak lain. Di sini orang menebus miliknya sendiri, entah orang atau barang yang dinazarkan atau barang yang dikuduskan. Israel adalah milik Allah sendiri. Pembuangan Israel seakan-akan menjadikan Israel sebagai kurban untuk dosanya sendiri. Tetapi Allah menebus mereka supaya mereka tetap milik-Nya sendiri.

Maksudnya bahwa apa yang diperintahkan sebagai aturan untuk Israel tentang soal nazar dan hal yang dikuduskan juga dimaksudkan oleh penyusun kitab Imamat sebagai gambaran penebusan Allah, yaitu bahwa Allah menebus Israel sebagai milik-Nya sendiri. Hal itu menguatkan kita sama seperti Israel dikuatkan. Kita adalah “kepunyaan Allah sendiri” (1 Pet 2:9) yang ditebus dari dosa dan maut oleh Yesus sendiri.

Hubungan antara p.27 dan p.26 itu berarti juga bahwa Allah mempraktekkan keadilan dan kepedulian bagi yang lemah yang Dia perintahkan kepada kita. Nilai-nilai itu bukan soal budaya Israel saja, tetapi berasal dari Kisah Agung, dari watak Allah yang ditunjukkan dalam karya-karya keselamatan-Nya. Sebagai milik Allah yang ditebus, semoga kita berjalan sesuai dengan penebusan itu.


Yoh 19:16b-30 & 20:1-10 Kematian dan Kebangkitan

Maret 29, 2010

Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan pusat iman Kristiani. Peristiwa yang memiliki dua sisi ini memperjelas semua pemahaman gereja perdana tentang Allah dan kerajaan-Nya yang terdapat dalam PL, dan menjadi kerangka untuk teologi PB sendiri. Hal itu karena harapan PL tentang pemulihan dunia digenapi dalam kematian dan kebangkitan Kristus itu. Dalam kedua perikop kita (untuk Jumat Agung kemudian Paskah) soal penggenapan muncul dua kali. Yesus dimusuhi dan bangkit sesuai dengan isi Kitab Suci.

Soal Yesus dimusuhi muncul dengan kutipan dari Mzm 22:18 dalam Yoh 19:24 tentang pembagian pakaian Yesus. Dalam a.28 tentang Yesus haus, ayat 15 dari mazmur yang sama juga disinggung. Soal Yesus dibangkitkan sesuai dengan isi Kitab Suci muncul dalam Yoh 20:9. Tidak ada nas yang dikutip, tetapi mungkin Mazmur 22 masih dipikirkan (lihat juga posting ini). Dalam mazmur itu Daud membawa pergumulannya karena permusuhan dan kemudian pujiannya karena keselamatan dari tangan Tuhan. Yesus mengalami hal yang sama: dimusuhi musuh-musuh Allah, kemudian diselamatkan oleh Allah. Hanya, Yesus mengalaminya sampai mati dan dibangkitkan. Dia mencakup dan memaknai seluruh pengalaman PL tentang orang benar yang menderita dan dibenarkan Allah. Hal itu membawa keberanian bagi kita juga. Menderita karena kebenaran bukan pertanda kutuk, dan bukan alasan untuk malu. Kita juga dapat yakin akan pembenaran Allah, entah dalam kehidupan sekarang atau pada kebangkitan kelak.

Daud, tentu, menjadi raja Israel, dan menjadi contoh figur Mesias yang diharapkan kemudian. Kita mungkin akan membayangkan bahwa Yesus akan diakui sebagai raja ketika Dia sudah bangkit. Tetapi dalam kedua perikop ini kita melihat bahwa Yesus diakui sebagai raja ketika Dia disalibkan (Yoh 19:19-22). Pengakuan itu memang terjadi secara ironis. Pilatus mungkin hanya mau mengganggu orang Yahudi yang sudah berhasil membujuknya untuk menyalibkan Yesus. Tetapi yang tertulis di atas kayu salib itu benar. Yesus adalah raja Israel yang mengalahkan musuh-musuhnya, terutama dosa dan maut. Dia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh 1:29). Pada salib Dia ditinggikan, menjadi seperti ular Musa yang membawa pemulihan bagi setiap orang yang memandangnya (Yoh 3:14-15). Dia ditinggikan untuk menarik orang dari semua bangsa kepada-Nya (Yoh 12:23-33), dibantu (secara simbolis) oleh ketiga bahasa yang di dalamnya pengumuman itu tertulis. Ketika Dia mau mati, karya keselamatan-Nya sudah selesai (Yoh 19:30).

Jadi, kebangkitan Yesus pertama-tama berfungsi untuk membuktikan bahwa karya keselamatan Yesus memang terjadi. Murid yang dikasihi Yesus “melihat dan percaya” (Yoh 20:8). Tanpa ada kebangkitan akan sulit percaya bahwa penyaliban Yesus lain dari ribuan penyaliban yang lain yang terjadi pada zaman itu. Jadi, kebangkitan tidak bisa dilepaskan dari penyaliban. Sebagaimana dilihat dalam narasi selanjutnya, Yesus yang bangkit masih menanggung bekas-bekas penyaliban-Nya. Percaya bahwa Dia bangkit menurut isi Kitab Suci adalah percaya bahwa Dia harus mati untuk keselamatan kita, dan bahwa kita harus siap menempuh jalan yang sama sebagai pengikut-Nya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.