Ams 31:10-31 Memuji (perempuan yang ber-)hikmat

November 30, 2009

Kitab Amsal banyak menggambarkan hikmat sebagai perempuan, sehingga cocok jika kitabnya diakhiri dengan gambaran perempuan yang mengejawantahkan hikmat itu. Lebih lagi, p.31 seluruhnya berasal dari seorang perempuan, yakni ibu dari raja Lemuel (31:1; John Goldingay, New Bible Commentary, menunjukkan bahwa setiap kali ada perubahan pengarang ada judulnya, jadi a.10 tidak memulai koleksi yang baru). Jadi, seorang perempuan yang bijak menggambarkan hikmat dalam diri seorang perempuan.

Gambaran itu disampaikan dalam 22 ayat, dengan setiap ayat dimulai dengan huruf berikut dalam abjad Ibrani (pola itu disebut akrostik). Pola itu menunjukkan keutuhan penguraian topik. Dalam syair ini ada macam-macam hal. Istri itu berharga (a.10), relasi mereka sebagai suami-istri baik (aa.11-12), dia terlibat dalam usaha-usaha kecil di luar rumah (aa.13-19) sehingga keluarga makmur (aa/24-25), dia berbuat baik kepada masyarakat (a.20) dan kepada rumah tangganya (aa.21-22) termasuk membawa hormat bagi suaminya di masyarakat (a.23). Bukan hanya itu, dia adalah sumber hikmat dan pengajaran dalam perkataan (a.26) dan kehidupan rumah tangga (a.27).

Gambaran ini dapat menimbulkan berbagai reaksi. Dalam berbagai budaya perempuan itu akan dinilai terlalu bebas, sedangkan dalam budaya Australia akan ada yang mempersoalkan bahwa hanya laki-laki yang berperan dalam bidang politik (a.23) sementara perempuan berpusat di rumah. Mungkin juga ada perempuan yang merasa kurang mampu ketimbang perempuan yang serba mampu ini. Semua reaksi ini salah tafsir, menurut saya. Maksud gambaran ini bukan untuk menentukan pola atau standar untuk kaum perempuan, melainkan untuk menggambarkan hikmat. Gambaran itu menjadi contoh konkrit (contoh terpanjang dalam kitab Amsal) yang secara tersirat membuktikan gunanya hikmat dalam semua bidang kehidupan, sehingga hikmat dimuliakan.

Jika ada pesan tentang perempuan, intinya supaya hikmat juga diakui dan dipuji dalam diri seorang perempuan. Itulah tema aa.28-31. Anak-anaknya menghargai dia dan suaminya memuji dia dengan sangat (aa.28-29). Penutur syair mengusulkan supaya perempuan dihargai karena memiliki dasar hikmat, yaitu takut akan Tuhan, bukan karena nilainya sebagai hiasan bagi suami (a.30). Akhirnya ada satu-satunya perintah dalam syair ini, yaitu supaya hikmat dalam perempuan diakui bukan hanya oleh keluarga melainkan juga oleh masyarakat, atau lebih tepatnya oleh kaum laki-laki yang berkuasa (a.31).

Kita rugi kalau kita menganggap bahwa hanya satu dua kelompok yang memiliki hikmat, misalnya pendeta atau cendekiawan. Hikmat layak dipuji di mana saja ia terdapat sebagai pemberian Tuhan yang baik.


Ams 23:19-28 Nasihat seorang teladan

Oktober 18, 2009

Bagian 22:17-24:34 merupakan koleksi amsal dari “orang-orang bijak”, yang ternyata mirip dengan koleksi amsal dari Mesir (Pesan-pesan Amenemope). Kemiripan tidak berarti disalin, karena jelas berwarna iman Israel. Koleksi ini memakai nama Tuhan (YHWH), dan bertujuan iman kepada-Nya (22:19). Tetapi kita melihat dalam bagian ini dengan paling jelas bahwa hikmat bukan milik satu kelompok saja.

Bagian ini juga berbeda dari bagian yang mulai pada p.10, karena setiap amsal mencakup beberapa ayat. Dalam perikop kita, ada tiga amsal, yaitu aa.19-21, aa.22-25 dan aa.26-28 (sehingga renungan ini tidak dipotong pada a.26). Yang pertama menyangkut nafsu yang tak terkendali. Adalah menarik bahwa bukan hanya anggur yang disebut tetapi juga daging. Saya menduga bahwa dalam dunia kuno, sama seperti di Indonesia, daging dimakan pada pesta saja, kecuali yang kaya. Selain menjadi mahal, gaya hidup itu juga membuat orang kantuk, artinya tidak lagi terfokus pada perjuangan hidup.

Amsal yang pertama mulai dengan seruan kepada anak untuk mendengarkan ayahnya, tetapi dalam amsal yang kedua (aa.22-25) orang tua adalah sumber hidup, dan menyenangkan orang tua menjadi motivasi untuk berhikmat (a.24-25). Seruan ini adalah untuk memperoleh kebenaran, hikmat dsb (a.23). Seandainya hal-hal itu bisa dijualbelikan, maka semestinya dibeli dan dipegang terus.

Dalam amsal yang ketiga (aa.26-28), si ayah mengajak anaknya untuk melihat contohnya sendiri (a.26). Peringatan di sini menyangkut nafsu berahi yang di luar batas nikah.

Adalah terlalu gampang jika kita menyoroti kesukaan beberapa pemuda untuk bermabok-mabokan, tanpa bertanya, siapakah dari generasi ayah mereka yang layak mengajak mereka untuk memperhatikan jalannya (a.26)? Sering yang dijunjung tinggi adalah pelahap gengsi dan uang. Pendidikan dianggap komoditas yang bisa dibeli secara harfiah—saya membayar uang sekolah dan diberi ijazah lepas dari apakah saya sudah memperoleh pengertian atau tidak. Di berbagai kalangan dianggap biasa saja jika laki-laki yang berjalan jauh main pelacur. Maksud saya, perikop ini menyangkut ayah yang bijak yang mau meneruskan hikmatnya kepada anak, bukan ayah yang kacau yang mengeluhkan kekacauan anaknya.

Yang sudah pada jalan belajar hikmat, tolong diteruskan kepada generasi muda yang membutuhkan banyak bimbingan dalam dunia ini. Yang belum, jadilah anak kembali untuk mempelajari jalan yang benar.


Pkh 11:1-6 Jaminan dan keberanian

Juli 6, 2009

Bagian ini mengandung serangkaian amsal yang merupakan semacam teka-teki. Ada suatu gambaran yang daripadanya kita mau mengambil hikmat untuk kehidupan. Oleh karena itu, maknanya bisa berganda, ada berbagai hal yang mungkin dapat dipetik. Dalam yang berikut saya coba memaparkan proses saya dalam mengartikan ayat-ayat ini. Tetapi usulan saya tidak menutup kemungkinan-kemungkinan yang lain.

A.1 kedengaran aneh. Melemparkan roti ke air berarti rotinya cepat hancur. Andaikan rotinya bertahan (dibungkus?), gambarannya mungkin bahwa ada usaha yang ujungnya tidak jelas, tetapi akan ada hasilnya juga. Satu tafsiran yang mungkin mempertajam usulan ini mengaitkan roti dengan harta atau rezeki, dan air dengan kapal (“Kirimkanlah rotimu di atas permukaan air…”). Barang yang diekspor perlu waktu yang lama untuk mendapatkan keuntungannya. Artinya melangkah dalam ketidakpastian.

A.2 merujuk ke pembagian sesuatu, dengan usul supaya banyak yang dapat karena ancaman malapetaka. Banyak yang dapat berarti banyak teman yang bisa membantu ketika malapetaka yang tak terduga itu menimpa. Apa yang dibagikan tidak jelas, dan tidak perlu jelas karena dengan demikian bisa diterapkan dengan luas. Tafsiran saya yang semula melihat ayat ini sebagai contoh dari a.1, yaitu membagikan kepada banyak orang akan ada hasilnya kelak. Setelah refleksi lebih lama, saya melihat perlawanan juga. Jika a.1 mengusulkan melangkah dengan berani, ayat ini mengusulkan membuat jaringan sebagai jaminan. Menarik bahwa keberanian diusulkan terkait dengan air yang berbahaya, sedangkan jaminan dicari dalam konteks bumi yang dianggap aman (mis. Mzm 104:5-7).

A.3 adalah contoh amsal yang menyampaikan fakta yang sederhana dan tidak terlalu berarti dalam sendirinya. A.4 yang memperjelas maksudnya. Awan dalam a.4b dengan jelas merujuk ke a.3a. Adakah kaitan antara a.4a dengan a.3b? Usulan saya bahwa angin dalam a.4a yang menumbangkan pohon dalam a.3b. Seorang petani tentu mau mengambil waktu yang tepat untuk menabur dan menuai, tetapi jika selalu menunggu waktu yang paling tepat, dia tidak akan bergerak. Dalam a.5 praduga Pengkhotbah dikemukakan. Kejadian-kejadian seperti dalam a.3 terjadi atas kehendak Tuhan, dan semuanya di luar jangkauan pemahaman kita, sama seperti perkembangan janin. Dalam ketidaktahuan kita bertindak secara berani dan aman (a.6). Kita melangkah saja dalam pekerjaan utama (bnd. a.4). Tetapi ada juga pekerjaan sampingan sebagai jaminan, seperti dalam a.2.

Jadi, dalam aa.1-6 ada berbagai refleksi tentang pentingnya bertindak dalam ketidakpastian dunia yang dikendalikan oleh Allah. Kuasa Allah adalah suatu misteri, tetapi juga mendasari berbagai harapan, seperti kembalinya roti dan kesempatan untuk menuai. (Aa.8-9 dalam perikop LAI memulai bagian yang baru tentang masa muda dan tua yang berlanjut dalam aa.10dst.)

Penerapan dalam kehidupan sehari-hari mudah-mudahan jelas, walaupun tidak semua pembaca adalah petani! Tetapi amsal-amsal seperti ini tidak harus diterapkan hanya dalam satu bidang kehidupan saja. Bukankah banyak perumpamaan Yesus merujuk ke pertanian seperti di sini? Soal keberanian jelas dibutuhkan jika kita akan berguna bagi Tuhan. Banyak usaha kita bagi Tuhan–apakah usaha penginjilan, sosial atau yang lain-lain–tidak akan jelas ujungnya, dan kita sering membuang waktu dengan menunggu waktu yang paling tepat. Tetapi jaminan juga diperlukan. Kita harus membangun kerja sama supaya jangan bergantung pada kita saja, sambil membangun bermacam-macam usaha supaya jika satu tidak efektif, yang lain akan efektif.


Ams 5:1-14 Kerugian kebodohan

Juni 8, 2009

Jalur Amsal 5:1-14 tidak sulit. Perikopnya mulai dengan anjuran untuk mengarahkan telinga pada nasihatnya (a.1) dan berakhir dengan ratapan tentang akibat dari tidak mengarahkan telinganya (a.13). Aa.3-5 menggambarkan “perempuan jalang” sebagai sesuatu yang menarik (a.3) tetapi sebenarnya merupakan jalan ke dunia orang mati. Akibat dari mengikutinya disampaikan dalam aa.9-10, yaitu hal-hal yang baik yang dimiliki jadi dinikmati orang lain. Selain kerugian hasil, ada juga kerugian hormat di depan orang (a.14). Semuanya karena tidak mau mendengarkan nasihat (aa.12-13).

Pemicu kerugian ini disebut perempuan jalang dalam a.3. Bahwa perempuan demikian termasuk apa yang diperingatkan adalah jelas. Tetapi melihat bahwa hikmat dan kebodohan menjadi dua perempuan yang bersaing dalam p.9, saya duga bahwa perempuan jalang menjadi kiasan tentang penggodaan. Banyak kebodohan dilihat sebagai sesuatu yang menarik, menggiur, tetapi hasilnya merugikan, memalukan dan akhirnya membawa maut bukan kehidupan.

Perhatikan bahwa walau berzinah adalah dosa, tekanan di sini bukan pada soal pelanggaran hukum Allah melainkan akibat dari kebodohan. Kedua perspektif itu saling melengakapi. Memang perlu disadari bahwa dosa menyedihkan hati Allah. Tetapi menaati Allah tidak membawa kerugian karena kehendak Allah adalah jalan hikmat. Dosa sebagai kebodohan yang membawa kerugian. Jika saya melihat ketaatan sebagai kerugian, maka saya akan melihatnya sebagai pemberian kepada Allah. Tetapi jika saya menyadari bahwa ketaatan membawa keuntungan, maka saya akan melihatnya sebagai pemberian dari Allah yang menyatakan jalan hikmat kepada saya dan memampukan saya untuk mengikutinya.


Ams 4:1-13 (2) Meneruskan hikmat

April 27, 2009

Ams pp.1-9 berbicara sebagai ayah kepada anaknya. Malah, dalam perikop ini sang ayah menyebutkan ayahnya sendiri (aa.3-4). Sang ayah meneruskan hikmat dari leluhurnya kepada generasi berikut. Posting yang lalu saya menjelaskan hikmat sebagai kemampuan untuk belajar dari pengalaman. Tetapi sebagai manusia yang berbahasa, kita bisa juga belajar dari pengalaman orang lain, dan tradisi hikmat adalah endapan dari pengalaman banyak orang berhikmat.

Satu pengamatan di Toraja (berdasarkan beberapa skripsi mahasiswa) ialah bahwa hanya sedikit keluarga yang mengajarkan iman di rumah, dengan misalnya ayah/ibu membaca Alkitab dan keluarga berdoa bersama. Tidak ada penerusan hikmat kepada generasi berikut. Satu usulan mengapa begitu ialah bahwa pada tahun 50an dan 60an banyak orang masuk ke dalam Gereja Toraja, tetapi program pembinaan warga gereja yang baru terhambat. Sehingga banyak ayah dan ibu tidak mengenal imannya pada tingkat yang cukup untuk meneruskannya kepada anak-anaknya, yang pada gilirannya tidak mampu meneruskannya kepada generasi berikut. Pengajaran iman dipercayakan kepada gereja saja, sehingga yang dipelajari adalah doktrin-doktrin atau prinsip-prinsip umum saja, bukan hikmat kristiani yang dipelajari dalam seluk-beluk kehidupan sehari-hari.

Tentu, gambaran ayah dan anak dalam perikop ini tidak terbatas pada keluarga jasmani. Salomo merintis birokrasi di Israel, dan kemungkinan besar penulisan tradisi hikmat yang selama itu lisan dilakukan untuk mendidik para birokrat. Dalam konteks itu ayah berarti mentor, dan anak berarti kadernya. Rasul Paulus juga menggambarkan hubungannya dengan jemaat di Tesalonika sebagai ayah/ibu dengan anak-anaknya (1 Tes 2:7-12). Dia membagi bukan saja Injil tetapi hidup, sehingga mereka tidak hanya mempelajari doktrin-doktrin melainkan juga pola hidup seorang percaya. Yang mendasari semuanya ialah Yesus sebagai Anak Allah yang oleh Bapa-Nya diajar (lihat Yoh 5:19-20) dan dididik dengan penderitaan (Ibr 5:7-9), sehingga kita sebagai saudara-saudara Yesus ikut dididik oleh Allah (Ibr 12:5-6). Jika Yesus diajarkan Bapa-Nya, betapa lebih lagi kita memerlukan pembinaan.

Dalam rangka itu ada yang mencoba menerapkan kelompok kecil, dan yang saya dengar ada yang sukses, ada yang tidak. Saya duga yang sukses itu karena ada anggota di dalam kelompok yang mampu menjadi ayah/ibu rohani kepada anggota-anggota yang lain (belum tentu pemimpin yang ditunjuk). Pola itu saya dorong, karena saya sendiri besar dalam keluarga kristen yang tidak membagikan iman di dalam keluarga. Saya mulai belajar beriman dan berhikmat secara beriman dalam kelompok kecil pemuda di gereja, kemudian dalam pelayanan mahasiswa. Namun, dalam tradisi Calvinis perkunjungan pelayan kepada warga jemaat memiliki tujuan yang sama, yaitu pelayan menjadi ayah/ibu rohani (biasa disebut gembala) kepada warga jemaat. Namun, ada kesulitan yang sama seperti di atas jika pelayan sendiri belum dewasa dalam iman.

Gereja yang tidak berhikmat lagi perlu merenungkan peringatan Yesus tentang garam yang tawar. Jalan keluar tercantum dalam perikop ini, saya rasa. Kita perlu orang tua rohani yang siap mendidik (a.1), memberikan ilmu (a.2) dan mengajarkan jalan hikmat (a.11). Sebagai orang yang ditunjuk oleh gereja sebagai pelayan, keperluan itu menjadi tantangan bagi saya. Kita semua juga perlu menjadi seperti anak, siap mendengarkan dan memperhatikan supaya beroleh pengertian (a.1 dst). Adakah sarana dalam budaya Toraja yang dapat membantu proses yang medesak ini?


Ams 4:1-13 (1) Pentingnya hikmat

April 27, 2009

Amsal pp.1-9 mengkhotbahkan pentingnya memperoleh hikmat. Pasal-pasal ini berbentuk nasihat seorang ayah kepada anaknya, dan segi itu saya bahas di posting berikut. Posting ini berfokus pada hikmat sendiri.

Maksud hikmat dapat digambarkan dari lebah berjenis sphex yang bertelur di sarangnya, kemudian menyengat serangga sehingga lumpuh tetapi masih hidup. Lebah menyeret serangganya ke ambang sarang, lalu memeriksa di dalam lalu membawa serangga itu ke dalam untuk menjadi makanan bagi anak-anaknya setelah menetas. Tingkah laku lebah itu pintar, tetapi tidak berhikmat. Soalnya, jika serangganya digeser beberapa sentimeter dari sarang, ketika lebah keluar dari lobang sarang lebah akan mengulang tindakannya. Lebah akan kembali membawa serangganya ke ambang sarang, lalu masuk untuk memeriksanya. Ada peneliti yang mengulang menggeser serangga itu sampai 40 kali, dan setiap kali tindakan lebah sama. Lebah tidak dapat belajar dari pengalaman. Lebah tidak berhikmat, sama seperti manusia (jemaat, pelayan) yang membuat kesalahan yang sama dalam cara kerja dan berelasi berulang kali tanpa berubah.

Maka kita dianjurkan untuk memperoleh hikmat (aa.5, 7). Dengan demikian kita akan dipelihara (a.6), lebih lagi ditinggikan (a.8-9). Hikmat akan memberi kita kemampuan untuk belajar dari pengalaman dan dari orang lain (a.1) sehingga apa yang kita usahakan dapat terwujud (a.12). Hikmat membawa hidup (a.13). Dalam a.10 ada janji umur yang panjang seperti dalam hukum kelima. Salah satu alasan untuk menghormati orang tua adalah belajar dari hikmat mereka.

Tentu, kita harus selalu menempatkan janji hikmat dalam konteks perlawanan dunia terhadap Allah. Dalam Dan 11:33 orang berhikmat “jatuh oleh karena pedang dan api” karena setia kepada Allah. Yesus menegaskan bahwa kita akan mendapat perlawanan sama seperti Dia dilawan. Namun, janji hidup tetap berlaku. Dalam Dan 12:2-3 ada nubuatan bahwa orang bijaksana itu akan bangkit dari antara orang mati, dan kebangkitan Yesus menjamin hal itu juga. Untuk sementara, hikmat membantu kita untuk bertekun dalam kesusahan (Yak 1:2-5) dan untuk mengasihi sesama (Fil 1:9).

Sekarang, di Indonesia sama seperti di dunia Barat, banyak masyarakat kurang berhikmat. Di Toraja saya duga bahwa hikmat dalam aluk (adat lama Toraja) hilang, sementara penggantinya dalam kekristenan tidak dicari. Sehingga misalnya, gengsi mengganti hormat sebagai tujuan, rakyat gampang terpancing dan tertipu, dsb (tambahlah dengan keluhan favorit masing-masing :). Respons yang diperlukan saya bahas dalam posting berikut.


Bagaimana caranya saya mengetahui sesuatu?

Maret 30, 2009

Jawaban yang paling sederhana (paling sedikit untuk budaya Barat sejak Pencerahan) adalah karena saya melihatnya (empirisisme) atau karena saya memikirkannya (rasionalisme). Saya melihat halilintar, saya mendengar guntur, saya mengetahui bahwa ada badai. Saya memikirkan satu ditambah satu dan mengetahui bahwa hasilnya dua.

Persoalannya menjadi lebih rumit ketika disadari bahwa dunia luar yang saya alami tidak dialami di luar melainkan di dalam akal saya. Jadi, empirisisme dan rasionalisme harus berpadu (begitu penemuan filsuf Immanuel Kant). Ketika halilintar bercahaya sekejap, ada sinar yang mengenai mata yang dikonversi menjadi aliran dalam saraf yang diproses dalam otak sampai ada kesadaran bahwa halilintar terjadi. Halilintar terjadi di luar, kesadaran terjadi di dalam. Pengalaman dimungkinkan oleh indera kita, tetapi juga dibatasi olehnya. Misalnya, mata tidak dapat melihat sinar inframerah.

Ketika budaya Eropa berhadapan dengan budaya-budaya yang lain, muncullah kesadaran bahwa pengalaman juga dimungkinkan (dan dibatasi) oleh budaya. Orang dari budaya yang belum mengenal huruf memang mampu melihat adanya coret-coretan pada suatu kertas, tetapi tidak dapat memaknainya. Karena tidak dapat dimaknai, kemungkinan kecil coret-coretan itu akan diperhatikan. Demikian juga saya melihat kerbau belang sebagai binatang yang besar, sedangkan orang Toraja terperangah oleh keindahannya. Kerbau yang dilihat satu, tetapi pemaknaan masing-masing berbeda.

Jadi, sejauh mana pengetahuan terletak di luar akal (di dunia nyata) dan sejauh mana di dalam akal? Untuk dunia fisik (seperti kerbau dan halilintar) pertanyaan ini tidak usah terlalu dipermasalahkan. Kerbau ada di luar otak saya, dan otak saya yang dibentuk oleh budaya dan pengalaman memperhatikan dan memaknai sebagian dari data yang sampai di mata. Pandangan ini disebut realisme, yaitu bahwa ada dunia yang real (nyata) yang melandasi pengalaman saya akan dunia itu. Epistemologi realisme eksternal menganggap bahwa kenyataan itu sudah lengkap, sehingga tinggal akal mengenali ciri-cirinya yang benar. Realisme kritis menganggap bahwa kenyataan itu cukup rumit sehingga berbagai rumusan diperlukan untuk mengetahuinya. Sebagai contoh, sebuah kota begitu rumit sehingga ada berbagai peta. Ada peta angkutan umum, peta batasan bagian-bagian pemerintahan, peta jalan, peta tempat wisata dsb. Semua peta berkaitan dengan kenyataan kota itu, tetapi semuanya juga tidak menangkap seluruhnya.

Tetapi bagaimana dengan hal-hal di luar dunia fisik dan logika, seperti etika, keindahan, ataupun iman? Alkitab tidak bermaksud untuk memberitahu manusia tentang dunia fisik ataupun logika, tetapi banyak berbicara tentang Allah dan tentang manusia sebagai makhluk yang beriman dan bertindak. Sampai sekarang di dunia Barat ada yang membatasi pengetahuan yang sejati pada dunia fisik (kurang lebih yang dapat diukur oleh ilmu sains) dan yang dapat dipikirkan secara logis (logika dan matematika). Hal-hal yang lain ditaruh pada kotak “nilai”, hal-hal yang berlaku bagi orang atau budaya, tetapi bukan pengetahuan yang sejati (berlaku untuk semua). Kalau (pra-)anggapan itu benar, maka Alkitab tidak usah dianggap kebenaran mutlak. Saya ambil nilai kerajinan sebagai contoh.

Jelas bahwa saya menilai apakah orang tertentu rajin atau malas berdasarkan ukuran dalam akal saya, yang dibentuk oleh budaya dan pengalaman. Adalah fakta sosial bahwa sikap rajin dihargai baik dalam budaya Barat maupun dalam budaya Indonesia, walaupun bentuknya berbeda juga di antara kedua budaya itu. (Contoh klasik dari fakta sosial adalah uang. Kertas yang bergambar itu hanya berlaku sebagai uang karena pemerintah mengesahkannya sebagai uang dan masyarakat percaya kepada pengesahan itu.) Ilmu seperti sosiologi meneliti hal-hal seperti nilai sebagai fakta sosial, atau dalam kata lain secara fenomenologis (= sebagaimana nampak dalam sebuah masyarakat). Epistemologi realisme konseptual mengatakan bahwa nilai tidak berada di luar akal, tetapi bermakna dalam jaringan ide-ide yang lain. Misalnya, kerajinan berkaitan dengan nilai seperti pentingnya menghidupi keluarga, berkontribusi kepada masyarakat dsb. Epistemology nonrealisme lebih radikal lagi, dan mengatakan bahwa hal-hal seperti nilai dipaksakan kepada kita oleh budaya dan/atau yang berkuasa. Misalnya, nilai kerajinan adalah cara bisnis untuk memaksimalkan keuntungan dari para buruh. Kedua epistemology ini akan cenderung ke relativisme. Jadi, sains (dan matematika) adalah benar secara mutlak, tetapi etika dan agama adalah benar per budaya atau kelompok.

Namun, ada argumentasi bahwa kerajinan dan berbagai nilai yang lain adalah nyata, di luar manusia. Faktanya, hampir semua budaya menghargai kerajinan (paling sedikit untuk sebagian masyarakatnya). Soalnya, adalah sulit membayangkan masyarakat yang sejahtera jika kemalasan dijunjung tinggi. Memang cara kerajinan itu adalah nyata lebih mirip dengan kebenaran matematika daripada kerbau atau halilintar. Tetapi masyarakat yang mengabaikan nilai itu akan mengalami akibat etisnya, sama seperti masyarakat yang memakan ikan yang beracun akan mengalami akibat fisiknya, lepas dari apa yang ada dalam akalnya. Kitab Amsal mengatakan hal yang sama. Dalam Ams 8:22-31 hikmat terlibat dalam penciptaan, artinya nilai-nilai hikmat tertanam di dunia, di luar manusia. Oleh karena itu, manusia mendapatkan hidup dalam dunia ini dengan mendapatkan hikmat (8:35).

Jika demikian, epistemologi yang cocok untuk nilai adalah realisme kritis. Perlu banyak pendekatan dan peta untuk menangkap kenyataan nilai-nilai, seperti (dalam Alkitab) amsal, perumpamaan, cerita dan ajaran. Realisme kritis juga membuka peluang untuk penafsiran dalam konteks, karena sebuah penafsiran kontekstual merupakan peta tentang Alkitab, bukan satu-satunya penjelasan.

Sumber: Kirk, J. Andrew, and Kevin J Vanhoozer. To Stake a Claim : Mission and the Western Crisis of Knowledge. 1999.


Amsal 10:3-5

November 13, 2008

TUHAN tidak membiarkan orang benar menderita kelaparan,
tetapi keinginan orang fasik ditolak-Nya.

Tangan yang lamban membuat miskin,
tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.

Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi;
siapa tidur pada waktu panen membuat malu.

A.3 mengandung permainan kata, karena baris pertama dapat juga diterjemahkan “Tuhan tidak membiarkan hampa nafsu yang benar”. Ketika baris pertama didenger (dalam bahasa aslinya), mungkin maksud terjemahan LAI yang ditangkap, tetapi ketika dilanjutkan dengan baris kedua, maka maksud dari usulan tadi akan muncul. Dengan demikian, pendengar tergugah untuk memikirkan hubungan antara nafsu makan dan keinginan yang lain. Itulah maksud sebuah amsal: bukan jawaban siap saji tetapi bahan perenungan, karena hikmat dibangun melalui latihan memikirkan, bukan dengan informasi saja. Kalau saya merenungkan ayat ini, saya teringat bahwa kelimpahan makanan tidak membahagiakan. Banyak orang fasik yang kaya tetapi tidak berbahagia karena nafsunya bengkok sehingga tidak pernah puas. Sebaliknya, orang yang puas dengan makanan yang secukupnya sebagai pemberian Allah adalah berbahagia.

Aa.4-5 jelas satu tema, mengusulkan sikap rajin. Maksudnya jelas, saya rasa? Satu hal yang hilang dalam terjemahan a.5 adalah munculnya kembali anak. Yang berakal budi atau membuat malu adalah anak (kata yang terdapat dalam a.1). Hal itu agak memperjelas soal membuat malu, saya rasa, dan menjadi satu contoh dari a.1.

Bagaimana kalau a.4-5 dibaca bersama dengan a.3? Hal itu tidak selalu berguna, karena kumpulan amsal tidak selalu terurut. Tetapi kali ini menarik. Bukankah kemalasan adalah salah satu bentuk keinginan orang fasik yang berdampak negatif? Bukankah pemeliharaan Tuhan dialami melalui kerja keras orang benar? Salah satu hal yang dapat kita pelajari dari kitab Amsal adalah bahwa Tuhan bekerja di tengah dan melalui usaha kita.

Kalau pikiran Anda tergugah oleh amsal-amsal ini, silakan dikomentari…


Amsal 10:2 Mengapa orang bijak berbuat benar

November 11, 2008

Harta benda yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna,
tetapi kebenaran menyelamatkan orang dari maut.

Jika ayat pertama berbicara tentang bijak/bebal (terkait dengan hikmat), maka ayat kedua ini berbicara tentang benar/jahat. Hikmat tidak sama dengan kebenaran—hikmat terkait dengan kemampuan/keterampilan mencapai tujuan, sedangkan kebenaran terkait dengan cara hidup dengan sesama dan Tuhan yang tepat. Namun, orang yang benar akan mengejar hikmat supaya perbuatannya makin berguna, dan orang yang sungguh berhikmat akan memahami pentingnya berbuat benar.

Betulkah bahwa orang bijak/berhikmat akan berbuat benar? Soalnya, cukup banyak orang yang memiliki keterampilan dalam berencana, membuat jaringan, dan berelasi yang menggunakannya untuk mengejar harta benda. Malah dianggap bodoh jika kesempatan untuk menjamin kesejahteraan keluarga dilewati demi menjaga kebenaran.

Klaim yang mengejutkan dari baris pertama ialah bahwa harta benda demikian tidak menguntungkan. Sepintas lalu klaim itu tidak masuk akal. Jika ada harta benda (bagaimanapun caranya diperoleh) masakan dibilang bahwa tidak ada gunanya? Baris kedua yang menjelaskan. Hikmat yang sejati melihat ke jangka panjang, bukan hanya jangka pendek. Percuma menjadi kaya kalau kemudian mati. Perumpamaan Yesus tentang orang kaya yang bodoh menggambarkan hal itu (Lk 12:16-21).

Jadi, kuncinya baris kedua. Bagaimana kebenaran menyelamatkan dari maut? Hal itu dapat dilihat dari berbagai segi. Paling praktis, masyarakat yang hidup benar/adil akan mengurangi ketidakadilan yang mematikan dan juga akan menghadapi ancaman bersama dalam solidaritas. Tetapi banyak ancaman maut yang hanya dapat dilewati dengan pertolongan Tuhan. Perhatikan kesalehan mendadak yang muncul pada orang jahat ketika dilanda musibah yang tidak dapat diatasi dengan uang! Pada dasarnya, hidup menurut kehendak Allah menuju ke hidup yang selamat dan sejahtera.

Namun, ketika kita membaca ayat-ayat demikian dalam kitab Amsal, kita harus mengingat perspektif lebih luas. Seperti diakui bahkan dalam kitab Amsal sendiri (13:23), dunia ini tidak selalu berjalan sebagaimana semestinya. Dalam kitab Daniel kematian kaum berhikmat karena dibunuh bermuara pada harapan kebangkitan (Dan 12:1-3). Dalam PB, keselamatan dari maut bukan soal tidak pernah akan mati muda, melainkan janji akan kebangkitan setelah mati. Lebih lagi, kebenaran yang menyelamatkan adalah anugerah dari Allah (Rom 5:9). Perspektif PB ini tidak meniadakan hal-hal praktis tadi, melainkan meneguhkannya, karena meskipun banyak orang fasik kelihatan beruntung sampai mati tua kita tahu bahwa keadilan Allah akan berlaku.


Amsal 10:1 Hikmat yang diteruskan

November 11, 2008

Amsal-amsal Salomo.

Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya,
tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya.

Sebagaimana ditandai oleh judul “Amsal-amsal Salomo”, pada ayat ini kumpulan amsal dimulai. Pasal-pasal sebelumnya merupakan pendahuluan tentang pentingnya hikmat.

Namun, amsal ini cocok sebagai amsal yang pertama, karena pp.1-9 banyak membicarakan pendidikan dari orang tua kepada anaknya. Hasil pendidikan itu sangat menentukan bagi orang tua. Maksud ayat ini dapat diperluas untuk merujuk pada generasi. Setiap generasi harus belajar bijak (berhikmat), dan pengajar (seperti saya) paling bersukacita ketika generasi berikut bukan hanya menangkap ilmu tetapi mulai dewasa dan terampil dalam menggunakannya.

Ayat ini memperlihatkan beberapa ciri puisi Ibrani. Baris pertama mengalir, dengan kata sifat dan kata kerja. Baris kedua adalah serangkaian kata benda, “Seorang anak, orang bebal, dukacita ibunya”. Suasana dukacita tercermin dalam susunan kalimat yang kaku. Perhatikan juga “ayah” dan “ibu” yang merupakan pasangan kata. Tentu, maksudnya “orang tua”, bukan bahwa ayah hanya bersangkut paut dengan anak yang bijak dan ibu dengan anak yang bebal. Seperti biasa dalam puisi Alkitab, baris pertama dan kedua sejajar, dan harus diartikan bersama.