Mzm 112 Perintah Tuhan sebagai alasan untuk berbuat baik (15 Apr 2012)

April 11, 2012

Dalam kuliah, saya banyak berbicara tentang pentingnya menafsir dalam rangka Kisah Agung Alkitab, apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan Allah. Tetapi mazmur ini menyampaikan pola yang sering terdapat juga dalam kitab Amsal, yaitu, orang baik akan berhasil, orang jahat akan gagal, suatu pola yang sepertinya lepas dari karya Allah dalam sejarah, dan hanya merupakan implikasi dari pemeliharaan Allah yang berjalan secara umum. Hal itu tentu tidak salah, hanya, pemeliharaan Allah merujuk pada stabilitas, hal perubahan terjadi dalam kaitan dengan karya-karya-Nya. Makanya, jemaat yang hanya mengenal pemeliharaan Allah belum siap menjadi jemaat yang misioner. Alkitab dengan jelas menguraikan kedua pola itu (stabilitas dengan pembaruan), dan ternyata karya Allah penting juga dalam mazmur ini.

Penggalian Teks

Mazmur ini mulai dengan seruan untuk memuji Tuhan. Karena seruan itu biasanya diikuti oleh pujian tentang Tuhan, kita harus menganggap bahwa yang berikut ini juga memuji Tuhan. Topiknya adalah manusia, yakni, orang yang berbahagia, tetapi Tuhan yang dimuliakan di dalamnya.

Hal itu tampak pertama kali dalam a.1b, di mana takut akan Tuhan dilihat dari segi menyukai perintah-perintah Tuhan. Perintah-perintah itu tidak ditaati karena ada berkat sebagai upah, melainkan karena dunia yang dibayangkan dalam perintah-perintah itu adalah dunia yang didambakan. Apa maksudnya, “dunia yang dibayangkan dalam perintah”? Jika kita melihat kesepuluh firman saja, dunia yang dibayangkan adalah Israel yang menomorsatukan Allah dalam ibadah, perkataan dan siklus bekerja, sehingga ada keharmonisan dalam struktur masyarakat (orangtua dihargai), hidup, pernikahan, milik dan nama orang dihargai, dan semua puas dengan pemberian Tuhan masing-masing. Andaikan perintah-perintah itu diikuti dengan sungguh-sungguh, dunia seperti itu yang akan diciptakan. Sebaliknya, dalam dunia seperti itu, perintah-perintah itu sudah ditaati. Jadi, orang dalam a.1 takut akan Tuhan bukan karena ancaman hukuman jika melanggar, melainkan takut mengecewakan Sumber dunia itu karena bertindak berlawanan dengan tatanan yang diharapkan di dalam perintah-perintah itu.

Jika demikian, berkat-berkat yang berikut bukanlah “upah” tetapi akibat. Karena perintah-perintah Tuhan begitu disukai, dunia dambaan Allah mulai terwujud di sekitar orang ini, sehingga keturunannya menjadi sumber berkat bagi orang-orang benar di sekitarnya (a.2). Dia berhasil, dan hasilnya menjadi pangkal untuk berbuat baik bagi sesama, sehingga kebajikannya menjadi peringatan kekal (a.3). Dia bahkan menjadi terang bagi orang benar (a.4).

Dalam a.5 satu segi dari perintah-perintah Allah disoroti, yaitu, kemurahan kepada sesama. Akibatnya bahwa dia kokoh. Namanya akan diingat, dan dia tenang menghadapi perlawanan karena yakin akan pertolongan Tuhan kepadanya (aa.6-8). Aa.9-10 memberi kesimpulannya. Orang yang berbahagia hidup sesuai dengan dunia dambaan Tuhan, sehingga hidupnya berbagian dalam kemuliaan dunia itu. Dunia orang fasik ternyata lain sekali: dambaan mereka adalah berjaya atas orang benar, tetapi keinginan itu akan hancur. Sungguh Allah layak dipuji, karena Dia akan mewujudkan dunia dambaan itu.

Semuanya itu menjadi lebih jelas, jika kita membandingkan mazmur ini dengan mazmur sebelumnya. Kedua mazmur ini merupakan mazmur akrostik, di mana setiap baris (setengah ayat, kecuali aa.9-10 yang mengandung tiga baris masing-masing) dimulai dengan huruf abjad Ibrani berturut-turut. Kesamaan itu menunjukkan bahwa kedua mazmur dikarang bersamaan. Jika demikian, Mazmur 111 menempatkan Mazmur 112 dalam konteks perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan yang juga “disukai” (111:2). Tuhan membuat perjanjian dengan Israel (111:5) dan memberi mereka rezeki (111:5), tanah (111:6) dan hukum yang adil dan benar (111:7). Takut akan Tuhan berarti takut akan Tuhan yang telah melakukan hal-hal ini (111:10). Dalam kedua mazmur ini, jalan hikmat berdasarkan Kisah Agung: apa yang telah dilakukan Allah, sehingga kita dapat meyakini apa yang sedang dan akan Dia lakukan.

Perjanjian Allah menciptakan relasi yang kuat antara Tuhan dengan umat-Nya, dan hal itu mendapat pemaknaan dalam dari perbandingan kedua mazmur ini. 111:2-4 menyampaikan kebajikan Tuhan, sama seperti 112:2-4 menyampaikan kebajikan orang yang diberkati. (“Keadilannya tetap untuk selamanya” dalam 111:3 adalah sama dalam bahasa aslinya dengan “kebajikannya tetap untuk selamanya” dalam 112:3.) A.4 masing-masing berakhir dengan “pengasih dan penyayang”, suatu kombinasi kata yang selalu merujuk pada Allah kecuali dalam Mzm 112 ini. Kemurahan hati orang dalam 112:5 mirip dengan kemurahan hati Allah dalam 111:5. Silakan, cari kesejajaran yang lain. Intinya bahwa orang yang berbahagia dalam Mzm 112 adalah orang yang sedang menjadi seperti Tuhan yang dia takuti, Tuhan yang telah menyelamatkan dan sedang memelihara dia.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur 112 mau memberi dorongan bagi pembaca untuk memuji Tuhan, dengan mencintai dan menerapkan perintah-perintah Tuhan yang menunjukkan bagaimana menikmati keselamatan Allah yang diuraikan dalam Mzm 111. Dengan demikian, dia akan menjadi terang dan berkat bagi masyarakat, termasuk orang miskin dan orang benar.

Makna

Yang belum terlalu jelas dalam penguraian di atas ialah masa depan “dunia dambaan Allah”. Aa.2-4 pasti benar, tetapi seringkali tidak nyata. Bahkan, jika kita menerima ayat-ayat ini dengan terlalu kaku, Yesus dan Paulus tidak termasuk orang yang berbahagia, karena mereka mati tanpa keturunan dan harta, dan kabar celaka justru bermuara pada celaka, dalam bentuk salib bagi Yesus, dan dalam bentuk banyak penganiayaan bagi Paulus. Memang, dalam Mazmur 112 sendiri ada petunjuk bahwa tidak semua orang senang dengan orang yang takut akan Tuhan, tidak semua orang mendambakan dunia dambaan Tuhan. Tetapi bagi Yesus dan Paulus, hal itu menjadi prinsip. Kita berbahagia ketika dianiaya (Mt 5:10-12); kita akan menderita bersama-sama dengan Kristus sebelum dibangkitkan bersama-sama dengan Kristus (Rom 8:17). Bukankah itu realita dunia sekarang?

Apakah dengan demikian, harapan dalam Mzm 112 itu ditiadakan dalam PB? Sama sekali tidak. Harapan itu dimaknai ulang. Ketika Kristus datang, “dunia yang dibayangkan” itu terwujud dalam kasih dan kuasa-Nya kepada orang yang berdosa, terpinggir dan tersesat. Kita menyukai perintah-perintah Yesus untuk mengampuni, berdoa untuk musuh dsb karena perwujudannya dalam kehidupan Yesus begitu indah. Kita mau menjadi sumber berkat dan terang bagi sesama. Dan dari mazmur ini, kita bisa yakin bahwa hal itu akan terwujud dalam dua tahap. Pembagian berkat, peneguhan nama, kasih, keteguhan, itu semuanya kita miliki dan terapkan sekarang dengan kuasa Roh Kudus. Harta dan kekayaan mungkin juga ada, dalam artian rohani, tetapi dalam dunia baru semuanya akan terwujud seluruhnya. Kebangkitan Yesus menjamin kedatangan-Nya kembali untuk mewujudkan kebenaran dan keadilan, dunia dambaan Allah, sehingga jerih payah kita sekarang tidaklah sia-sia.

Jadi, mazmur ini didasarkan pada apa yang telah dan sedang dilakukan Allah, pada saat itu bagi Israel, lebih lagi bagi kita sekarang dalam Yesus Kristus. Dan mazmur itu tetap relevan karena apa yang akan dilakukan Allah, yaitu mewujudkan kebenaran dan keadilan dalam dunia baru.

Semoga kita tidak hanya mengandalkan pemeliharaan Allah tetapi tetap menjadi terang bagi orang benar, pengasih dan penyayang seperti Yesus Kristus sendiri.


Daniel 12:1-4 “Yang akan bercahaya itu orang-orang bijaksana” [25 September 2011]

September 20, 2011

Nas ini dari satu segi sederhana: jadilah orang bijaksana karena itulah masa depan menurut Allah. Tetapi Daniel adalah kitab yang kaya tentang rencana Allah, jadi saya mencoba untuk menempatkannya dalam konteks rencana Allah itu.

Penggalian Teks

Daniel membayangkan serangkaian kerajaan yang akhirnya diganti dengan kerajaan kekal, yakni, kerajaan Allah. Daniel 7 menguraikan harapan itu, tetapi pp.8-11 mengisahkan masa-masa pergumulan saja. Perikop kita akhirnya menunjukkan bagaimana caranya Allah mendatangkan kerajaan-Nya.

Penglihatan yang di dalamnya nas kita termasuk mulai pada awal p.10. Waktunya tahun ketiga pemerintahan Koresh, yaitu, dua tahun setelah rombongan pertama kembali dari pembuangan ke tanah Israel (Ezra 1). P.10 menunjukkan bahwa di balik peristiwa-peristiwa dunia ada kuasa-kuasa yang lain, termasuk Mikhael, disebut sebagai “seorang pemimpin terkemuka” tetapi ternyata malaikat seperti malaikat yang berbicara kepada Daniel (mungkin Gabriel, 9:21). Malaikat Mikhael itu membela orang-orang Israel. P.11 menggambarkan sejarah di bawah kuasa orang Yunani (10:20), yaitu anak-anak Aleksander Agung yang saling merebutkan kerajaannya. Sejarah itu berpuncak pada suatu masa yang sangat sulit, yang di dalamnya orang-orang bijaksana akan teruji sampai tewas (11:33), dan akan ada raja penghujat (11:36).

Perikop kita merupakan puncak dari pergumulan itu. Dalam a.1 ada sesuatu dari bahasa aslinya yang berguna. Mikhael, yang disebut dalam p.10, “berdiri” (harfiahnya). Dia disebut kembali sebagai pemimpin yang besar, dan tugasnya disebut sebagai “berdiri di atas” bangsa Daniel (‘am, kata yang dipakai untuk bangsa Israel). Terjemahan LAI menangkap maksudnya, tetapi bahwa kata yang sama dipakai lebih memperlihatkan bahwa Mikhael muncul dalam rangka membantu Israel yang sedang tertekan. Tekanan itu disebut sebagai kesesakan terdahsyat sejak ada bangsa (goy, kata yang dipakai untuk bangsa-bangsa secara umum). Mengapa sejak Kejadian 10 (adanya bangsa-bangsa), bukan Kejadian 1 (penciptaan dunia)? Mungkin air bah (Kejadian 6) lebih dahsyat lagi, tetapi adalah lebih pokok bahwa kesesakan ini adalah masalah antar bangsa (itulah perspektif seluruh kitab Daniel). Namun, bangsa Daniel (‘am) akan luput. Yang luput lebih diperjelas sebagai orang yang namanya tertulis dalam Kitab. Dalam Kel 32:32-33 Musa dan Allah merujuk pada suatu Kitab yang sepertinya memuat nama-nama orang yang diterima Allah. Dalam konteks itu Musa sedang berseru kepada Allah untuk mengampuni umat-Nya yang baru membuat anak lembu emas. Jadi, Kitab itu menjadi suatu petunjuk bahwa tidak semua anggota bangsa Israel diterima Allah. Karena akhir Daniel 11 baru saja berbicara tentang orang Israel yang setia dan yang tidak, hal itu juga dimaksud di sini—bangsa Israel, yaitu, mereka yang setia kepada Allah.

Tetapi bagaimana dikatakan mereka akan luput jika dalam p.11 sudah jelas ada orang setia yang meninggal? Hal itu juga adalah pertanyaan dari p.7. Kerajaan Allah akan berdiri, tetapi bagaimana dengan orang-orang yang sudah mati sebelumnya? Aa.2-3 memberi jawaban. Fokus dalam ayat-ayat ini, pada hemat saya, adalah pembalikan nasib, sehingga hanya “banyak” yang bangun, bukan semua seperti dalam PB. Satu kelompok akan mendapat hidup yang kekal, yaitu mendapat bagian dalam kerajaan Allah. Satu kelompok lagi akan mendapat kehinaan. Yang mendapat hidup yang kekal termasuk orang-orang bijaksana yang telah mati syahid dalam 11:33, yang juga digambarkan sebagai orang-orang yang menuntun orang lain kepada kebenaran (a.3). Mereka dulunya dihina tetapi sekarang mendapat kemuliaan yang sangat. Yang mendapat kehinaan dalam a.2b pasti termasuk yang dulunya menghina orang-orang bijak ini.

Daniel disuruh untuk memeteraikan Kitabnya sampai pada akhir zaman (a.4; bdk. 8:26, yang menunjukkan bahwa yang dimeteraikan adalah penglihatan-penglihatan Daniel, bukan Kitab nama-nama orang). Meterai dipakai oleh juru tulis sebagai bukti bahwa apa yang telah ditulis tidak diubah lagi. Akan ada saatnya Kitab ini dibuka lagi dan banyak diteliti.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini mendorong pembaca untuk tetap menempuh jalan hikmat dan kebenaran, sekalipun dihina atau dibunuh, karena kehinaan sekarang akan diganti dengan kemuliaan ketika kerajaan Allah terwujud.

Makna

Kebangkitan muncul sebagai jawaban terhadap pertanyaan tentang janji Allah. Tulisan apokaliptik seperti kitab Daniel menekankan bahwa dunia ini rusak, dan hanya campur tangan Allah yang akan memulihkannya dengan pendirinya kerajaan Allah. Tetapi jika Allah adalah Allah Abraham, Ishak dan Yakub, apakah mereka tidak mendapat bagian dalam kerajaan itu? Termasuk orang-orang bijaksana yang menuntun sesama kepada kebenaran dan yang setia sampai mati? Jika dalam Dan 12:2 belum tegas bahwa semua akan dibangkitkan, dalam PB hal itu menjadi jelas. Semua akan bangkit, dan keputusan Allah tentang setiap orang seringkali akan bertentangan dengan penilaian manusia, lebih lagi manusia yang dikendalikan oleh kepentingan.

PB juga memperjelas caranya. Kristus boleh dikatakan membuka kembali kitab Daniel yang dimeteraikan, sehingga kita menyelidikinya dalam terang baru. Anak Manusia telah bangkit, dimuliakan dan berkuasa di sorga (bdk. p.7), sehingga kerajaan Allah sudah datang di dalam-Nya, tetapi kebangkitan semua yang lain masih ditunggu. Yang namanya tertulis dalam Kitab itu bukan hanya dari bangsa Israel tetapi semua yang bergabung dengan Anak Manusia itu, yakni semua yang percaya kepada Kristus. Mereka luput bukan dari pergumulan sekarang, melainkan dari kehinaan kekal. Jika neraka sering digambarkan sebagai tempat penyiksaan, ayat ini dapat memperjelas bahwa siksaan itu muncul dari dalam, merupakan kesadaran akan hidup yang dibuang dengan menyelepekan atau membelakangi Allah Mahapengasih dan Mahapengampun (bdk. p.9). Sedangkan yang selamat itu mendapat kemuliaan besar. Jika Dan 12:3 dikaitkan dengan Why 21:23, Allah dan Kristus menggantikan matahari dan bulan, sedangkan umat-Nya menggantikan bintang-bintang. Dalam Kej 1:14-18 penerang-penerang itu berkuasa atas waktu dan ruang ciptaan, dan Dan 7:27 sudah menyebutkan pemerintahan umat Allah. Yang tertindas menjadi penguasa dunia baru.

Harapan itu mendorong kita untuk menempuh jalan hikmat dan kebenaran. Bagaimana? Dengan membongkar pemahaman dunia tentang status. Dalam kitab Daniel, merujuk pada banyak pengalaman bangsa Israel dianiaya, yang ditindas belum tentu dihukum Allah. Dalam konteks kita, konsep yang menjunjung tinggi pendidikan, kekayaan, dan jabatan akan dibongkar. Yang berpendidikan belum tentu yang bijaksana, yang kaya belum tentu menuntun orang kepada kebenaran, yang memiliki jabatan tinggi sering menjadi penindas. Mereka yang dianggap bercahaya sekarang, tetapi Allah akan menyingkapkan status mereka yang sebenarnya pada kebangkitan pada akhir zaman. Sebaliknya, jika kita setia pada jalan hikmat walaupun diejek orang banyak, kita bisa yakin bahwa Allah akan menyingkapkan hal itu juga.


Amsal 17:7-15 “Cara Hikmat Bekerja” [18 September 2011]

September 15, 2011

Kitab amsal tidak memakai perikop, dan saya tidak yakin bahwa “struktur” yang saya temukan di bawah sungguh disengajakan ketika amsal-amsal dikumpulkan. Tetapi paling sedikit struktur itu memperhadapkan ayat-ayat yang menarik untuk dipertimbangkan bersama, dan prosesnya menggugah pikiran saya.

Penggalian Teks

A.7 adalah pertentangan yang dibangun atas kesamaan. Sama-sama tidak layak jika sifat orangnya bertentangan dengan sifat kata-katanya. Dalam aslinya bahasanya lebih enak: “Tidak cocok bagi orang bebal (nabal) bibir kelebihan; lebih lagi bagi orang mulia (nadib) bibir dusta”.

A.8 menggangu, karena sepertinya memuji suap. Mestika secara harfiah adalah “batu khen”. Khen berarti sikap berkenan atau suka, sehingga menjadi salah satu kata untuk anugerah Tuhan. Di sini, maksudnya batu yang membuat orang berkenan atas atau menyukai kita, semacam jimat. Kata “beruntung” (hashkil) memiliki konotasi “berhasil karena kejeliannya”, dan bentuk nominanya sering dipakai dalam kitab Amsal dengan terjemahan “orang yang berakal budi”. “Memalingkan muka” mungkin menonjolkan sukses di hadapan orang lain. Jadi, seakan-akan ada sindiran terhadap amsal-amsal biasa: anugerah membawa sukses di depan orang, hanya, anugerah ini bukan anugerah Tuhan melainkan efek “magik” dari suapan. Adakah petunjuk dalam ayat ini bahwa yang disindir bukan anugerah Tuhan melainkan suapan sendiri?

Aa.9-15 mungkin dapat dilihat dalam pola kiasmus, sebagai berikut. Aa.9, 15 membahas kejahatan yang tidak dihukum. Dalam a.9 hal itu merupakan pengampunan yang memulihkan relasi, dalam a.15 ketidakadilan yang menjadi kekejian bagi Tuhan.

Aa.11, 13 memakai kata ra’/ra’ah yang dapat diterjemahan “kejahatan” atau “kemalangan”. Dengan demikian, apa yang dicari orang durkaha (kejahatan = kemalangan) ternyata ditemukan dari utusan yang kejam itu. Dalam a.13 makna berganda itu bisa juga dipikirkan.

A.12 secara harfiah berarti, “Berjumpa beruang betina yang kehilangan anak dengan orang, tetapi jangan orang bebal dengan kebodohannya”. Kebodohan sejajar (pada hemat saya) dengan beruang itu, dan orang bebal sejajar dengan orang malang itu. Dari baris pertama, perjumpaan itu dahsyat. Tetapi, dari kata “jangan”, yang sekiranya dapat dihapus dari dunia itu perjumpaan kedua. Ternyata orang bodoh lebih dihancurkan oleh kebodohannya daripada orang yang berjumpa dengan beruang yang gusar itu. Ayat ini cocok sebagai suatu inti kiasmus, karena secara menyolok mengungkapkan bahaya kebodohan yang mendasari ayat-ayat yang lain.

Maksud bagi Pembaca

Aa.9-15 mengalir jika a.12 dilihat sebagai kuncinya. Aa.9-11 dapat dilihat dalam konteks persahabatan. Pemulihan atau pertahanan relasi dalam a.9 sangat dibantu jika berurusan dengan orang pengertian yang dapat menerima tegoran (a.10), tetapi jika berurusan dengan orang durhaka, kita hanya dapat menunggu akibatnya bagi mereka (a.11). Dalam a.13 kebodohannya malah meningkat, dengan tidak sekadar mencari kejahatan (a.11) melainkan membalas kebaikan dengan kejahatan (a.13). Jika a.10 menunjukkan bahwa tidak semua bisa menerima hardikan, a.14 menunjukkan akibatnya jika hardikan disampaikan kepada orang bebal: akibatnya perkara (diterjemahkan “perbantahan”). Konteks pengadilan itu yang tidak boleh memutarbalikkan keadilan dengan menyatakan tidak bersalah orang yang bersalah. Jadi, a.15 bukan soal menutupi pelanggaran dalam relasi pribadi tetapi membenarkan kefasikan dalam konteks pengadilan.

Lalu, bagaimana dengan aa.7-8? Di atas bibir seorang bebal, kata-kata bagus akan tetap membangkit-bangkit perkara, menangkis hardikan, dan menyembunyikan kejahatan. A.8 merupakan contoh yang tepat. Suapan, sama seperti semua jimat dsb dalam PL, menduakan Allah, dan menunjukkan keinginan untuk mencari muka, bukan menguntungkan sesama. Kita mau mengampuni orang seperti itu, andaikan mereka dapat disadarkan. Tetapi jangan lembaga memaafkan mereka, sehingga korban mereka diinjak dua kali.

Makna

Ada ketegangan tertentu antara a.9 dan a.15 yang merujuk ke sesuatu yang dalam, yakni, masalah pengampunan dan keadilan. A.15 berbunyi seperti Kel 23:9, “sebab Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah”. (Andaikan terjemahan dalam Ams 17:15 itu sama, bunyinya enak: “Membenarkan orang yang bersalah dan mempersalahkan orang benar”.) Bahasa itu disinggung Paulus ketika dia menyebut Allah sebagai “Dia yang membenarkan orang durhaka” (Rom 4:5). Dalam Kristus, a.9 diterapkan dalam relasi ilahi. Kebingungan banyak orang Kristen tentang anugerah berasal dari ketegangan yang sejajar dengan ketegangan antara a.9 dengan a.15, yaitu, Allah menutupi dosa padahal Dia adalah Hakim yang harus menegakkan keadilan. Makanya, anugerah ditafsir sebagai izin untuk berdosa, atau, sebaliknya, demi menakuti jemaat dikatakan bahwa keselamatan tergantung pada respons mereka.

Dengan cara yang detilnya melampaui jangkauan akal kita, Allah bisa mencampurkan hal-hal itu dengan menawarkan diri-Nya dalam Kristus sebagai pengganti kita. Dia melanggar a.15 dalam diri-Nya sendiri (makanya penting bahwa Kristus bukan pihak ketiga melainkan ada pada pihak Allah sendiri karena sama-sama Allah) supaya kita bisa diselamatkan, tetapi oleh Roh-Nya mengubah kita menjadi orang berpengertian yang siap menerima hardikan dan mau berubah. Dengan demikian, kita yang dibenarkan sebagai orang bersalah akhirnya menjadi orang benar, serupa dengan Kristus, sang Hikmat itu.

Namun, dalam kehidupan manusia kedua hal itu harus tetap terpisah. Secara pribadi kita tidak boleh main hakim, tetapi hakim (yaitu, jabatan atau kelompok yang kompeten untuk memutuskan perkara di dalam sebuah kelompok, entah gereja atau negara) harus berperan sebagai hakim. Lembaga kristen rawan mengampuni orang yang perlu ditindaki demi kesehatan seluruh tubuh Kristus, dan pengadilan negara lebih pemaaf lagi bagi orang kaya / berada.


Ams 15:20-24 Anak Yang Bijak Membahagiakan Orang Tua [11 September 2011]

September 6, 2011

Kita kembali pada lima amsal. Karena dipilih untuk hari anak-anak, saya memberi fokus pada aa. 20-21.

Penggalian Teks

Susunan amsal mulai p.10 pada umumnya tidak jelas, tetapi seringkali ada kata kunci dari amsal yang satu ke amsal berikut. Dalam lima ayat yang dipilih di sini, kata “sukacita” muncul tiga kali (diterjemahkan “menggembirakan” dalam a.20, dan “kesukaan” dalam a.21). Kemudian, jika a.20 mau diangkat sebagai tema, ayat-ayat berikut menggambarkan “anak yang bijak” dan “orang yang bebal” itu.

A.20 menunjukkan kesejajaran pertentangan, yaitu, antara dua sifat, “bijak” dan “bebal”, dan dua akibat, “menggembirakan” dan “menghina”. Kata-kata yang lain sejajar dengan maksud yang sama. Antara “anak” dan “orang” tidak ada perbedaan rujukan, karena masing-masing berurusan dengan orang tua, tetapi kata “orang” (aslinya adam yang berarti “manusia”) menunjukkan bahwa ayat ini tidak hanya berlaku pada masa muda orang. “Ayah” dan “ibu” juga tidak bisa dipertentangkan, tetapi bersama-sama berarti “orangtua”. Dua macam orang menimbulkan dua macam akibat pada orangtuanya. Namun, dapat dipikirkan, apakah sukacita lebih terasa oleh ayah? Apakah kehinaan anak bebal lebih berdampak bagi ibu?

A.21 juga merupakan kesejajaran pertentangan, antara “yang tidak berakal budi” dan “orang yang pandai” serta sifatnya masing-masing, yakni “kebodohan adalah sukacita” dan “berjalan lurus” (untuk yang mengenal istilahnya, ayat ini berbentuk kiasmus: sifat-orang: orang-sifat). Kebodohan macam apa yang bisa dipertentangkan dengan berjalan lurus? Apakah kurang pintar menghitung adalah jalan yang tidak lurus? Apakah menipu dengan cerdik adalah jalan yang lurus?

Jika dipikir lebih jauh, apakah ayah yang tidak berakal budi akan gembira atas anaknya yang bijak?

A.22 membandingkan banyak rancangan tanpa pertimbangan dengan satu rancangan yang bisa berdiri karena banyak penasihat.

Dalam a.23a, sukacita di sini karena jawaban sendiri. Jawaban bagaimana? Jika jawaban yang bodoh, kita kembali ke a.21! Tetapi a.23b lebih optimis. Jawaban yang tepat pada waktunya sangat baik.

A.24 mengangkat tujuan hidup—apakah hidup di atas, atau mati di bawah.

Maksud bagi Pembaca

Kelima amsal ini merupakan pernyataan atau pengamatan saja. Tidak ada perintah atau janji langsung di antaranya. Malah, sebagai pernyataan amsal-amsal sering menimbulkan pertanyaan daripada memberi jawaban yang tuntas, seperti saya coba menggambarkan di atas. Pertanyaan itu lebih berguna mengembangkan hikmat daripada jawaban siap saji.

Kalau begitu, apa tujuannya? Kita diajak untuk menempatkan diri di dalam amsal-amsal ini. Apakah saya menggembirakan orangtua atau membawa rasa malu bagi mereka, apakah yang saya sukai itu kebodohan atau memang jalan saya lurus, dsb. Kita juga dimampukan untuk menilai ulang orang lain. Mungkin kita menjadi plin-plan tentang suatu kebodohan karena disukai orang, tetapi a.21 memberanikan kita untuk tetap pada jalan yang lurus.

Singkat kata, amsal-amsal ini tidak bisa diterapkan, jika penerapan dimengerti sebagai serangkaian tindakan konkret. Hikmat adalah soal karakter. Hanya, dampaknya bukan hanya pada diri sendiri, melainkan juga orang lain (a.20).

Makna

Kitab Amsal mengklaim untuk mengajarkan dan mengembangkan hikmat yang dengannya Allah menciptakan dunia (Ams 8:22 dst). Jadi, amsal-amsal merupakan jendela pada manusia dan dunia. Dalam a.20 kita melihat sifat sosial manusia, khususnya dalam keluarga. Cara hidup anak mau tidak mau berdampak pada orang tua. Hal itu berlaku bagi keluarga secara harfiah, tetapi banyak kelompok bisa disamakan dengan keluarga. Misalnya, jika kita menerima gagasan yang mengatakan Allah sebagai Bapa dan gereja sebagai Ibu kita, maka amsal ini tetap berlaku. Menarik juga jika kita coba membandingkan Sang Bijak Yesus Kristus (1 Kor 1:30) dengan si Adam (mengingat bahwa kata Ibrani untuk “orang” di sini itu adam). Jelas Yesus menggembirakan Bapa-Nya di sorga. Adakah ibu yang dihina oleh Adam? Dalam Kej 2:7 Adam (haadam) dibuat dari tanah (haadamah). Jelas manusia sekarang menghina tanah. Maksud saya di sini bukan bahwa amsal ini berbicara langsung tentang Kristus dan krisis ekologi, melainkan bahwa di mana saja ada kelompok yang terikat satu dengan yang lain, yaitu, semacam keluarga, kita bisa mengartikan amsal ini.


Pkh 4:7-12 “Bersama-sama di dalam dunia yang sia-sia” [14 Agustus 2011]

Agustus 8, 2011

Kitab Pengkhotbah mau meniadakan khayalan yang terjadi ketika teori kita tentang dunia menjadi lebih penting daripada realitas. Oleh karena itu, dia biasanya melawan anggapan umum dengan contoh lain. Nas kita menarik, karena dia mau mendukung suatu anggapan umum, yakni, pentingnya kebersamaan.

Penggalian teks

Ayat 7 menghubungkan nas ini dengan kata kunci kitab ini, yakni, “kesia-siaan”. Kata hebel pada dasarnya berarti “nafas, angin”, tetapi biasanya dipakai dalam Alkitab secara kiasan. Berhala tidak lebih dari sehembusan nafas, dan kata hebel menjadi istilah untuk berhala. Mzm 144:4 membandingkan manusia dengan angin (hebel) dan bayang-bayang. Kitab Pengkhotbah mengambil alih kata hebel yang fleksibel ini untuk menyatakan jarak antara apa yang semestinya dan apa yang terjadi. Sebagai contoh, pengetahuan membawa terang, tetapi juga membawa susah hati (1:18).

A.8 memaparkan satu contoh lagi hebel ini. Orang ini tidak memiliki pewaris, yaitu, saudara laki-laki atau anak laki-laki. Dia kelihatan rajin mengumpulkan kekayaan, tetapi karena tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimiliki. Di balik kegiatan itu ada pertanyaan yang menghantuinya. Tidak ada pewaris yang akan menikmati kekayaannya, dan dia juga menolak kesenangan dalam mengejar kekayaan itu. Jadi, kerja keras itu untuk siapa? Kerja keras semestinya dinikmati (bdk. 3:22) dan juga membawa kesejahteraan yang bagi orang lain, tetapi dalam kasus ini kedua sasaran itu tidak terjangkau sehingga dinilai “kesia-siaan dan hal yang menyusahkan”.

Aa.9-12 merupakan refleksi umum terhadap kasus itu. Kemitraan atau kebersamaan menguntungkan dalam pekerjaan (a.9), kesusahan (a.10), kehidupan bersama (a.11), dan perang (a.12). Dengan gaya sastra hikmat, angka dua menjadi tiga pada akhir a.12, untuk menunjukkan bahwa kemitraan tidak hanya terbatas pada dua orang.

Maksud bagi pembaca

Dengan berbagai contoh konkret Pengkhotbah mau mendorong pembaca untuk menghargai kebersamaan. Jika pertanyaan si kaya dalam a.8 dianggap terjadi setelah lama mengikuti pola yang digambarkan, contoh pertama dapat dilihat sebagai sebuah cerita pendek, di mana secara tragis kesadaran muncul belakangan dengan penilaian baru terhadap pola kehidupan selama itu. Hal itu mengungkapkan kebodohan hidup sendirian. Contoh-contoh berikut menunjukkan keuntungan kebersamaan. Kebersamaan termasuk hanya sedikit hal dalam kitab Pengkhotbah yang luput dari penilaian “sia-sia”.

Makna

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang juga berdiri sendiri di hadapan Tuhan. Keberdosaan membuat hati manusia cenderung membelokkan individualisme yang sejati itu menjadi kemandirian yang fasik dan egois. Tetapi tidak kebetulan bahwa orang yang sendiri dalam a.8 itu kaya. Orang miskin diperhadapkan dengan kebergantungan mereka pada orang lain dan pada Tuhan terus-menerus. Hanya orang kaya yang bisa mengejar mimpi keluar dari kebergantungan. (Dalam rangka itu, menarik bahwa dalam budaya-budaya dunia, yang paling kuat korelasinya dengan individualisme ialah kekayaan.)

Mungkin hanya sedikit orang yang mau sungguh sendirian, dan keegoisan lebih sering muncul dalam satu dua bidang kehidupan saja. Misalnya, banyak laki-laki Barat senang bermitra dalam pekerjaan (a.9), tetapi lebih sulit membagikan masalah (a.10).  


Kej 41:37-45 Siap berperan besar dalam misi Allah

Juni 15, 2011

Peristiwa yang diceritakan ini merupakan titik balik dalam kehidupan Yusuf, di mana tahap pertama untuk penggenapan mimpi-mimpi Yusuf terjadi, yakni Yusuf menjadi seorang penguasa. Pasal-pasal berikut menceritakan tahap kedua, yaitu ketika saudara-saudara Yusuf bersujud di hadapan Yusuf (mimpi pertama), kemudian Yakub sekeluarga bersujud (mimpi kedua). Pada akhirnya, semuanya itu dinyatakan sebagai rencana Allah untuk menyelamatkan umat-Nya (45:5; 50:20).

Penggalian teks

Yusuf telah mengartikan mimpi Firaun, lengkap dengan usul tentang bagaimana tujuh tahun kelimpahan itu dipakai untuk menangani ketujuh tahun kelaparan. Dalam perikop kita dilaporkan tanggapan Firaun serta semua pegawainya (a.37-38), kemudian usul Firaun (aa.39-40), kemudian pelantikan Yusuf (aa.41-43), kemudian beberapa peneguhan lagi oleh Firaun (aa.44-45). Yusuf menjadi pelaku dalam perikop sesudahnya, tetapi di sini Firaun adalah pelaku. Semangat Firaun untuk Yusuf nampak dalam pelantikannya, yang diceritakan secara terperinci, termasuk pakaian, cincin, dan memperkenalkan Yusuf kepada rakyat. A.44 menekankan lengkapnya kuasa Yusuf, dan a.45 bahwa dia menjadi terintegrasi dalam jaringan para pengauasa.

Namun, di balik keputusan Firaun ada tangan Allah, yakni Roh Allah. Roh (diterjemahkan “hati” dalam LAI) Firaun digelisahkan oleh mimpinya (41:8), tetapi pengartian serta usulan Yusuf yang begitu masuk akal menunjukkan adanya roh di dalam diri Yusuf yang hanya dapat disebut ilahi (a.38). Roh itu yang mendasari akal budi dan kebijaksanaan Yusuf (a.39), sehingga Firaun merasa sangat membutuhkan jasa Yusuf untuk menghadapi masalah yang akan datang.

Maksud bagi pembaca

Mimpi Yusuf (p.37) menimbulkan ketegangan dalam pembaca / pendengar kisah Yusuf, karena setiap saat dia mulai berhasil, ada bencana lagi yang tidak adil yang memaksa Yusuf untuk bersabar lagi. Yusuf mewakili orang bijak yang takut akan Tuhan namun tidak dapat penghargaan yang semestinya. Dalam perikop ini ketegangan itu hilang, karena dia mendapat pengangkatan yang dahsyat dan tak terduga. Dia mengalami pembalikan nasib yang diharapkan oleh semua orang bijak dalam kesusahan, bahkan dia mewakili nasib yang semestinya dari bangsa Israel, yaitu menjadi penguasa yang menyelamatkan atas bangsa-bangsa. Tetapi hal itu tidak lepas dari kebijaksanaannya yang diberikan oleh Roh Kudus. Yusuf menjadi berguna di mana saja dia ditempatkan, dan dia dilantik bukan hanya untuk menyelamatkan Israel tetapi juga Mesir. Sepanjang sejarah Israel dia adalah teladan kegunaan orang bijaksana, dan lebih lagi ketika Israel mulai tinggal di tengah bangsa-bangsa setelah pembuangan, dia menunjukkan bahwa kebijaksanaan itu memuliakan sumbernya, Allah, karena berguna bagi semua.

Makna

Dalam perikop ini kita melihat bagaimana Yusuf mulai berperan besar dalam misi Allah oleh karena kebijaksanaan dari Roh Allah.

Roh Allah dalam PL hanya diberikan kepada orang-orang tertentu, termasuk orang-orang yang memerlukan hikmat untuk suatu tugas, termasuk Bezaleel (Kel 31:3), Musa dan tua-tua Israel (Bil 11:17, 29) serta para nabi dan para raja. Musa menyatakan harapan supaya seluruh umat Allah boleh menikmati Roh Allah (Bil 11:29), dan nubuatan Yoel 2:28-32 yang terkenal itu meneguhkan harapan itu. Orang percaya di dalam Kristus telah menikmati penggenapan nubuatan itu, sehingga memiliki hikmat oleh Roh, suatu hikmat yang berpusat pada salib Kristus (1 Kor 1-2). Oleh karena itu, Paulus dapat berdoa bagi jemaat supaya dengan segala macam pengertian mereka penuh dengan buah kebenaran dan memuliakan Allah (Fil 1:9-11).

Tentu, pemahaman tentang Roh Allah masih samar dalam PL dibanding dengan pemahaman PB tentang Roh sebagai Penghibur pengganti Kristus. Lebih lagi pemahaman Firaun. Dia seorang politeis, dan pada saat ini sama sekali belum mengenal Yusuf atau Allah yang dipercayai Yusuf. Kemungkinan besar yang dia maksud ialah “roh dari dewa-dewa” atau “roh ilahi”, mengingat bahwa kata ’elohim (Allah) berbentuk jamak sehingga dapat berarti “dewa-dewa”. Namun, kita memahami apa yang dirujuk oleh Roh di sana dalam terang penyataan seluruh Alkitab. Yang memampukan Yusuf menjadi orang bijak tidak lain dari Roh Kudus yang turun ke atas Yesus dan kemudian ke atas kita, murid-murid-Nya, sejak hari Pentakosta. Makanya, kita dapat mengangkat Yusuf sebagai teladan.

Teladan bukan hanya dalam soal bertindak bijak. Kisah Yusuf mencerminkan pola yang terdapat dalam seluruh Alkitab yang berbentuk “U”. Yusuf berjalan dari anak emas menjadi budak menjadi penguasa Mesir. Dunia berjalan dari taman Eden masuk ke dalam dosa kemudian akan dipulihkan pada akhir zaman. Yesus yang mencakup pola ini: turun dari sorga sampai pada salib, baru diberi nama di atas segala nama (Fil 2:6-11). Nasib Yusuf setelah begitu lama bersabar adalah harapan semua pengikut Kristus untuk dunia mendatang, bdk. 2 Tim 2:12. Dalam kesabaran dia berbuat bijak selama kesusahannya, sehingga siap ketika diangkat.

Namun, dia diangkat bukan supaya tidak bersusah lagi melainkan supaya berperan dalam misi Allah untuk menyelamatkan umat-Nya—akhirnya supaya dari umat itu Juruselamat dunia dapat lahir. Kesusahan yang tetap dia rasakan dalam kejayaannya dapat dilihat dalam 41:51-52. Demi misi itu dia juga akhirnya harus mengampuni saudara-saudaranya, suatu tugas yang juga diceritakan panjang lebar dan berat baginya. Tetapi karena masa persiapannya, dia siap untuk berperan dengan cara yang akan memuliakan Allah.

Jadi, dalam meneladani Yusuf kita akan memikirkan peran kita dalam misi Allah sekarang, yang belum tentu menjadi wakil presiden Indonesia: dalam Kisah Para Rasul Roh Kudus menjadi pokok bagi berperannya gereja dalam misi Allah supaya semua bangsa mengenal berkat Allah di dalam Kristus. Peran itu dapat kita lakukan bukan karena kita mengucapkan semboyan “damai sejahtera bagi semua” terus-menerus, tetapi karena kita menemukan dan mengembangkan karunia-karunia Roh Kudus yang memampukan kita menjadi berguna bagi sesama. Sejauh mana hikmat kita sesuai dengan salib Kristus dilihat antara lain dengan sejauh mana kita tetap bertumbuh dalam hikmat dalam kesusahan sambil menunggu Allah mengangkat dan memakai kita, sama seperti Yusuf. Sejauh mana kita telah belajar dari masa kesusahan dilihat pada saat kita menerima tanggung jawab, kadangkala juga secara mendadak dan tak terduga, yaitu apakah kita siap untuk melakukannya demi kemuliaan Allah.


Ams 19:18-29 Didikan yang bertujuan

April 28, 2011

Pendidikan menyangkut pengajara dan pelajar, suatu proses yang terjadi di antara mereka, dan terutama suatu tujuan pada para pelajar. Jika tujuannya tidak jelas, maka prosesnya juga tidak akan jelas, baik untuk pendidikan formal maupun yang non-formal (seperti di rumah tangga).

Dalam bacaan kita, kata dasar “didik” (YSR dalam bahasa Ibrani) terjadi 3 kali, yaitu di a.18 (diterjemahkan “hajar”), a.20 dan a.27. Walaupun bacaan kita tidak dapat disebut sebuah perikop, karena Amsal 10:1-22:16 merupakan koleksi amsal yang tidak tersusun secara tematis, namun ayat-ayat yang lain juga bisa dikaitkan, karena akan menyinggung tujuan pendidikan dalam Amsal, yaitu menjadi orang berhikmat.

Menyangkut tujuan itu, mungkin aa.22-23 menyampaikan suatu inti. “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya”, kata a.22a. Hal itu sering kurang disadari. Pemuda menganggap bahwa yang diinginkan pada seseorang adalah gaya yang keren; orangtuanya menganggap bahwa yang diinginkan pada seseorang adalah kesemarakan. Makanya, kita mau menjadi orang yang bersifat keren atau kaya. Tetapi ayat ini menyatakan apa yang sesungguhnya: yang kita butuh dalam diri orang lain dan yang mereka butuhkan dalam diri kita adalah kesetiaan, bukan gaya keren dan bukan kekayaan. Makanya, “lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong”, karena pembohong yang kaya sebenarnya tidak berguna. Sama halnya dengan siswa atau mahasiswa yang mendapat nilai tinggi karena mencontek.

Selain gengsi, orang berbohong karena mencari aman. A.23 menyampaikan sumber keamanan yang sebenarnya: takut akan Allah. Ayatnya tidak berjanji bahwa orang yang takut akan Allah tidak akan pernah menderita (gaya bahasa Amsal tidak dimaksud sebagai janji mutlak ataupun perintah mutlak, tetapi sebagai pengarahan), tetapi menunjukkan sesuatu yang nyata. Orang yang beriman dapat mengandalkan Allah dalam keadaan yang menantang, sedangkan orang yang mengandalkan diri gelisah bahkan dalam keadaan yang aman.

Jadi, jika kedua amsal ini sungguh disadari, maka banyak dorongan untuk mengambil jalan potong akan hilang. Oleh karena itu, adalah penting orangtua menginginkan hidup bagi anaknya dengan memberi mereka didikan. Tidak mendidik anak berarti mengingingkan kematian bagi mereka. Didikan dalam a.20 dan a.27 menyangkut perkataan yang didengarkan, tetapi jika pelajar (anak, murid) mengabaikan nasihat itu, maka tegoran yang lebih tegas dibayangkan (aa.18, 29). Kekerasan di sini bukan luapan amarah (justru cepat marah dikritik dalam a.19), tetapi terfokus pada perbaikan orangnya. Tegoran (secara fisik atau lisan) yang tidak jelas alasannya tentu tidak mengajarkan hikmat, melainkan kebodohan.


Ams 6:32-35 Kebodohan zinah

Februari 14, 2011

Amsal 1-9 merupakan pendahuluan yang maksudnya menjunjung tinggi pentingnya hikmat yang dapat diperoleh melalui kitab Amsal ini. Adalah penting memahami bedanya antara hikmat dengan ketaatan. Ketaatan merupakan wujud kesetiaan kepada Allah yang menyangkut kesucian tetapi juga misi. Di dalam ketaatan kita mengakui hikmat Allah sebagai Pencipta kita, dan juga kepentingan Allah sebagai Penebus. Jika Allah mengatakan “jangan berzinah”, dalam ketaatan kita mengakui bahwa Allah lebih tahu tentang relasi antar jenis daripada kita. Jika dalam PB Allah mengatakan supaya sedapat mungkin kita menikah dengan orang seiman (mengingat bahwa dalam banyak budaya pemuda/pemudi tidak ada pilihan), dalam ketaatan kita melakukan apa yang akan membantu kita menjadi alat Allah, daripada memilih pasangan yang akan menghambat kita dipakai dalam misi Allah.

Namun, ketaatan kepada perintah hanya dapat memberi kerangka. Orang yang berhikmat tidak hanya tahu perintah-perintah Tuhan, tetapi juga mengapa perintah-perintah itu baik, dan bagaimana menerapkannya. Kita Amsal tidak memberi hikmat yang lengkap dalam artian ada solusi untuk setiap masalah di dunia langsung dalam salah satu amsal, tetapi menggugah kemampuan kita untuk berhikmat. Hikmat dalam Amsal banyak diambil dan disesuaikan dengan hikmat dari budaya-budaya di sekitarnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa soal hikmat adalah titik temu yang paling kentara antara Injil dengan kearifan lokal. Sayangnya, dalam konteks seperti Toraja dalam dampak perubahan pesat yang disebabkan modernisasi yang diiringi dengan kedatangan Injil, kearifan lokal sering dikesampingkan sedangkan hikmat Alkitabiah belum diserap.

Nas kita tidak berfungsi untuk menyampaikan perintah yang belum dikenal, tetapi untuk menunjukkan kebodohan melanggar perintah itu. Intinya bahwa perzinahan sangat merusak kedamaian. Dirinya dirusak (a.32), harga diri di depan umum terhapus (a.33), dan kekerasan balas dendam dipicu (a.34). Lebih lagi, kedamaian itu tidak dapat diraih kembali dengan cara-cara biasa (a.35). Jadi, perzinahan, selain melanggar perintah Tuhan, adalah tindakan yang sangat bodoh. Orang yang sudah memahami hal itu akan tertolong untuk menghindarinya. Orang yang belum memahaminya akan lebih rentan.

Jika perintah menimbulkan bahasa “harus”, hikmat menimbulkan bahasa “alangkah baiknya”. Semoga hikmat Allah dalam perintah tentang perzinahan menjadikan lebih berhikmat dalam soal ini.


Yak 1:1-8 Ingin menjadi berhikmat supaya pencobaan bermanfaat

Januari 17, 2011

Bagian pertama dari surat Yakobus, adik Kristus itu, berujung pada a.18. Atas kehendak, keputusan, rencana Allah Bapa, Dia telah “melahirkan” (harfiahnya) kita untuk menjadi buah sulung (harfiahnya) pembaruan ciptaan-Nya (LAI mungkin was-was dengan konsep “Allah melahirkan kita” sehingga dirumus kembali sebagai “menjadikan kita…untuk menjadi anak sulung”). Hal itu dihasilkan oleh “firman kebenaran”-Nya, yang menjadi pokok berikut (lihat aa.19 dst: dalam a.21 firman yang menyelamatkan diterima, dalam aa.22 dst dipraktekkan). Ayat ini menyampaikan bahwa Allah mengambil keputusan atau memiliki rencana yang jelas, sehingga mengubah kita secara mendalam pada titik tertentu (bnd. Yoh 3:6-7, “dilahirkan kembali”). Itulah dasar anugerah, bahwa keselamatan kita diprakarsai oleh Allah sendiri. Tetapi anugerah menjadi landasan untuk suatu proses yang di dalamnya kita makin diperbaharui sebagai perintisan (“buah sulung”) pembaruan seluruh ciptaan Allah. Jadi, dalam ayat ini kita melihat makna paling dalam dari pembahasan sebelumnya tentang pencobaan. Pencobaan ikut serta dalam proses pembaharuan itu. Perhatikan bahwa hal itu tidak hanya secara perorangan. Allah melahirkan kita (jamak) untuk kita menjadi buah sulung.

Para pendengar pertama surat ini mengalami langsung keburukan dunia yang membutuhkan pembaruan itu, karena pada umumnya mereka tergolong miskin (Yak 2:5-6). Bagian 1:1-18 ini menunjukkan kepada mereka bahwa walaupun mereka mengalami banyak masalah (aa.2-4), dianggap bodoh (aa.5-8), dan rendah kedudukannya (1:9-11), mereka sebenarnya berbahagia jika mereka bertahan dalam pencobaan (1:12) dengan tidak diseret oleh nafsu yang menyesatkan (aa.13-15) tetapi tetap mengharapkan apa yang baik hanya dari tangan Allah Bapa (aa.16-17). Mereka berbahagia karena sudah memiliki status yang tinggi di hadapan Allah (1:9) dan akan menerima mahkota kehidupan (a.12), yaitu pengakuan oleh Allah (“mahkota”) dan bagian dalam dunia yang sudah diperbaharui (“kehidupan”).

Jadi, perikop kita menunjukkan bagaimana pencobaan dapat membantu kita dalam proses pembaruan itu, yaitu membantu kita “menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun” (a.4). Kata “matang” dan “sempurna” dalam a.4 sama (Yunani teleios; mungkin terjemahan “kamu menjadi matang” tepat juga dalam konteks ini), dan Yakobus melihat bahwa tanpa kesulitan yang menguji, yang menuntut ketekunan, kita tidak bisa matang. Semua manusia menghadapi masalah, tetapi yang cepat menyerah tidak memetik hasil yang semestinya dari masalahnya. Sebaliknya, yang bertekun dalam iman kepada Kristus dapat bersukacita di tengah masalahnya, karena di dalamnya dimatangkan sehingga menjadi bagian dari pembaruan Allah, bukan penghalang.

“Tak kekurangan suatu apapun” tidak merujuk pada materi, tetapi pada karakter, dan ciri khas karakter yang matang ialah hikmat. Menghadapi pencobaan dengan baik dapat menghasilkan hikmat, tetapi juga membutuhkan hikmat! Jadi, kepada pendengar yang masih bergumul untuk bertekun dalam pencobaan (saya rasa itu kita semua!), Yakobus memberitahukan bahwa Allah akan mengabulkan doa untuk mendapat hikmat. Allah tidak akan mencari kesalahan kita sebagai alasan untuk menolak permintaan itu, tetapi dengan murah hati akan memberi kita hikmat yang begitu dibutuhkan itu.

Hanya, ada syarat, yaitu, jangan bimbang. Ada yang menafsir syarat itu bahwa peminta harus merasa sungguh yakin bahwa doa ini akan dikabulkan, baru boleh berharap bahwa doanya akan dikabulkan. Tetapi di sini keyakinan iman adalah soal tindakan bukan perasaan. Sebagai contoh, saya bisa merasa yakin bahwa pesawat terbang aman, tetapi jika saya selalu naik kapal apakah itu keyakinan yang sejati? Sebaliknya, jika saya merasa takut tetapi tetap menaiki pesawat itu (seperti beberapa kali penumpang di samping saya terdiam dan agak pucat ketika mau lepas landas), saya tidak bimbang dalam artian yang disampaikan dalam a.6. Bimbang berarti diombang-ambingkan, tidak memiliki pendirian yang jelas, minta pendapat teman tentang penerbangan tetapi ketika ke travel membeli tiket kapal. Bimbang berarti orangnya memohon hikmat kepada Allah, mungkin dengan semangat, teriakan dan puasa, tetapi dalam hati tidak ingin menjadi orang yang berhikmat, karena tahu bahwa hikmat membawa akibat perubahan sikap, misalnya tidak bisa lagi melemparkan tanggung jawab atas kegagalan dan dosa sendiri kepada keadaan atau Allah yang berkuasa atas keadaan itu.

Jadi, bimbang adalah mendua hati: memohon hikmat sebagai jalan keluar, tetapi tidak menginginkan hikmat dari Allah yang akan membawa pada pembaruan diri. Orang itu masih penghalang bagi rencana pembaruan Allah. Orang itu perlu bertobat dengan menerima firman kebenaran dengan jelas dan tegas, baru orang itu menjadi mitra Allah sehingga pasti akan dibekali dengan hikmat untuk berperan dalam rencana Allah.


Yoh 1:9 Terang yang sesungguhnya

Desember 16, 2010

Manusia takut akan kekacauan dan rindu akan keteraturan, tatanan dunia yang stabil. Tentu dunia bisa terlalu stabil sampai membosankan, tetapi kekacauan layak ditakuti: kekacauan bumi berbentuk bencana alam, kekacauan masyarakat berbentuk anarki, kekacauan dalam batin diri, semuanya mengancam kehidupan dan merusak rencana dan cita-cita. Makanya, semua budaya memiliki suatu konsep tentang tatanan dunia, mencakup bumi, masyarakat dan pribadi. Bagi orang Toraja masa lampau ada aluk to dolo. Bagi orang Yunani ada logos (firman), rasio yang semestinya mengatur dunia politik dan pribadi. Bagi orang Yahudi, Allah menciptakan dunia dengan berfirman, kemudian mengatur kehidupan umat-Nya dengan Taurat.

Mengancam kehidupan artinya berpihak pada maut. Merusak rencana dan cita-cita artinya membuat gelap. Jadi, Yohanes menjelaskan bahwa firman itu wadah kehidupan dan terang (a.4). Kegelapan mengancam terus, tetapi terang itu tetap ada (a.5), karena memang firman itu berakar dalam Yang Ilahi sendiri (a.1).

Sampai di situ bahasa perikop menyambung dengan mungkin hampir semua filsafat dunia. Tetapi dalam a.6 kita mulai melihat sesuatu yang konkret: ada saksi tentang terang ini. Dari satu segi adanya saksi tentang terang tidak masuk akal. Terang adalah hal yang paling mudah dilihat! Tetapi banyak filsafat dan agama sadar tentang kebutaan manusia yang justru sulit mengenali firman yang mendasari kehidupan ini. Saksi ini adalah Yohanes (disebut Pembaptis dalam Injil-Injil yang lain). Yang menarik, penulis Injil (yang menurut tradisi gereja juga bernama Yohanes, tetapi lain orangnya) membantah kalau Yohanes ini adalah terang. Bukankah seorang utusan Allah (a.6) yang membawa umat percaya pada firman Allah (a.7) itu layak dianggap sendiri sebagai pembawa terang? Seperti para nabi dalam PL, atau para filsuf Yunani, atau, mungkin (saya kurang tahu), to minaa dalam aluk, dia menerangi jalan hidup. Tetapi dia ditempatkan sebagai saksi saja. Terang yang sesungguhnya datang pada saat Yohanes bersaksi (itu maksudnya kata “sedang” dalam a.9, bukan masa kita tetapi masa Yohanes), tetapi Yohanes bukan terang itu.

Sebelum penulis Injil menjelaskan teka-teki itu, dia bercerita tentang penerimaan terang itu. Aa.10-11 menegaskan apa yang dikatakan di atas, bahwa banyak orang sulit mengenali firman yang mendasari hidup mereka. Nabi-nabi PL membuktikan bahwa Israel sulit hidup sesuai dengan terang Taurat, padahal mereka merupakan “kepunyaan” Taurat, artinya mereka dibentuk oleh Taurat itu sebagai umat Allah. Tersirat di dalam pernyataan ini adalah pemahaman bahwa firman itu tidak dapat diterima secara formal saja, tetapi perlu dipercayai, malah dihayati. Hal itu menjadi jelas dalam aa.12-13, yang menggambarkan orang yang menerima firman itu. Mereka dapat menjadi anak-anak Allah, artinya memiliki relasi yang akrab dengan Allah, bukan karena soal keturunan tetapi karena Allah membawa hidup baru ke dalam kehidupan mereka. Dengan mengenali tatanan dunia yang sebenarnya, yang menjadi dasar keteraturan dalam diri dan masyarakat, orangnya berubah pada tingkat paling mendasar dalam dirinya.

Gagasan itu sudah menantang agama seperti aluk to dolo, yang tidak banyak mencita-citakan relasi dengan yang ilahi (kecuali mungkin dalam bentuk leluhur yang sudah menjadi ilahi), dan lebih mementingkan kuasa untuk mengatur dunia ini daripada kuasa menjadi anak Allah yang diatur oleh firman Allah. Sebagian besar penganut agama apa saja juga demikian. Namun, dalam banyak agama ada aliran “mistis” yang mau memiliki hubungan yang erat dengan yang ilahi. Ayat berikut mengandung berita yang dahsyat bagi mereka: firman itu menjadi manusia tertentu, sehingga bisa dikenal dengan sangat jelas.

Secara harfiah, a.14 mengatakan bahwa firman itu menjadi daging. Tatanan dunia, wadah kehidupan, terang manusia, telah menjadi satu sosok manusia. Gagasan itu memang sulit diterima, entah dalam rangka kehormatan, bahwa firman terlalu mulia untuk menjadi manusia, atau dalam rangka rasio, bahwa yang universal tidak mungkin menjadi satu orang tertentu. Tetapi maknanya luar biasa. Terang itu diam di antara kita, dan ternyata terang itu bukan sekadar terang tentang tatanan dunia melainkan terang itu adalah kemuliaan Allah sendiri! Di dalam Dia yang disaksikan oleh Yohanes (a.15), maksudnya Yesus Kristus, kita melihat prinsip dunia dan sekaligus pribadi Allah. Dia menjadi perwujudan firman Allah, bagaimana Allah mengatur dunia yang diciptakan, dan menyatakan Allah sendiri sama seperti seorang anak menyatakan Bapanya. Dengan demikian, Allah sendiri hadir di dalam Kristus, dan kita diberi kuasa untuk sungguh-sungguh menjadi anak-anak Allah karena kita percaya dalam nama Sang Anak sejati itu.

Tantangan bagi kita ialah sejauh mana terang itu menjadi dasar kehidupan kita. Setiap kali seseorang pergi ke dukun, dia mencari keteraturan bukan dari Kristus tetapi dari kuasa yang lain. Setiap kali seseorang serakah, dia menjadikan duit itu sebagai pengatur kehidupan dan pencegah kekacauan dalam hidupnya. Orang yang menentang pembaruan lupa bahwa terang yang sesungguhnya mengubah air menjadi anggur. Orang yang khawatir tentang makanan dan minuman lupa bahwa Sang Sumber Hidup sanggup memberi makan 5.000 orang. Orang yang mengejar gengsi lupa bahwa terang ilahi—kemuliaan Allah—dinyatakan ketika Yesus naik salib yang hina. Mengenal Allah dalam terang yang sesungguhnya membawa dampak besar bilamana dijadikan dasar kehidupan kita.

Bagi pembaca yang melanjutkan pelayanan Yohanes, yaitu menjadi saksi tentang terang yang sesungguhnya pada musim Natal ini, kita mau supaya jemaat menjadikan Kristus terang mereka. Sumber kekacauan dalam kehidupan jemaat (secara kelompok dan individu) ialah bahwa Pengatur yang sesungguhnya masih sekadar embel-embel, formalitas. Daripada hanya menegor kekacauan itu terus-menerus sampai semua bosan, marilah kita menemukan cara untuk bersaksi tentang Kristus sampai jemaat dapat memahami apa artinya menerima-Nya sebagai Terang dan Hidup. Semoga banyak yang menerima-Nya Natal ini sehingga mulai menikmati hidup yang sesungguhnya sebagai anak-anak Allah dalam Sang Anak.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.