Hag 1:1-11 Membangun jemaat

Juli 27, 2009

Bayangkan jemaat yang sedang mengumpulkan uang untuk membangun gedung gereja. Ada orang yang sebenarnya mampu tetapi pemberiannya tidak seperti yang diharapkan. Kemudian dia ditimpa musibah keuangan. Lalu, jemaat membaca perikop ini dan sepertinya langsung mendapat penjelasannya. Sama seperti Israel pasca-pembuangan pelit terhadap Tuhan dalam bentuk tidak membantu pembangunan Bait Allah sehingga mengalami kekurangan oleh karenanya, orang itu juga dihukum Allah. Benarkah tafsiran itu?

Perikopnya memang memberitahu kita bahwa Israel mengalami kekurangan karena belum membangun Bait Allah. Pada saat Hagai bernubuat, gelombang pertama orang yang kembali dari pembuangan sudah hampir 20 tahun di Yerusalem. Menurut Ezra 3:1-3 mezbah sudah didirikan, tetapi Ezra 4:1-5 menceritakan perlawanan dari penduduk aslinya sehingga pembangunan gedung terhambat. Dengan meninggalnya raja Koresh (10 tahun sebelum Hagai, yakni 530 sM), pembangunan mandek sama sekali. Tetapi pada saat Hagai bernubuat seorang raja yang lain sudah naik takhta yang sama sifat terbukanya dengan Koresh, yaitu raja Darius (a.1). Tujuan semula adalah membangun Bait Allah, seperti mereka sendiri ketahui (a.2), dan keadaan dengan jelas sudah memungkinkan karena mereka bisa membangun rumah masing-masing (aa.4, 9b). Tetapi umat Allah belum bergerak. Jadi, sebagaimana dinyatakan Allah melalui nabi Hagai, kekurangan yang dialami (aa.5-6, 9-11) adalah usaha Allah untuk menyadarkan mereka. Usaha Allah melalui keadaan itu disertai firman Allah melalui nubuatan Hagai. Firman itu bertanya (a.4), menantang (aa.5, 7) dan memerintah (a.8a). Tanpa firman itu, keadaan masih kabur.

Di pertengahan firman itu ada janji Allah (a.8b). Janji di sini bukan bahwa Allah akan berkenan kepada mereka dengan menghentikan kekeringan dsb (lihat 2:19-20 untuk janji seperti itu). Janji di sini ialah bahwa Allah akan berkenan pada Bait Allah yang dibangun. Soalnya, kemampuan mereka jelas tidak sepadan dengan kemampuan Salomo pada puncak kejayaan Israel, dan memang hasil mereka kemudian tidak seperti Bait Allah yang pertama (2:4). Tetapi Allah tetap berjanji bahwa Dia akan berkenan kepada apa yang mereka bangun sehingga Dia dimuliakan olehnya. Jika itulah janji Allah, maka semestinya itulah kerinduan mereka. Dalam ayat-ayat berikut ternyata demikian, karena mereka tergerak dan pembangunan dimulai.

Bagaimana firman itu bagi kita umat Allah dalam Kristus? Satu hal yang perlu diingat ialah bahwa bentuk janji Allah sudah berubah. Dalam PL janji Allah kepada Israel termasuk keturunan, hasil bumi dsb (misalnya Ul 28:1-14). Namun dalam PB, janjinya baik lebih mulia maupun lebih susah. Kita dijanjikan dunia tanpa kesusahan sama sekali kelak, tetapi untuk sementara janjinya sekadar pencukupan untuk mencari Kerajaan Allah (Mt 6:33), disertai berbagai kesusahan (Kis 14:22). Kesusahan bisa saja pertanda bahwa kita setia, bukan hukuman karena dosa. Oleh karena itu, saya cukup meragukan absahnya kesimpulan jemaat di atas. Saya juga meragukannya karena gedung gereja tidak sepadan dengan Bait Allah. Kristus adalah Bait Allah (Yoh 2:21), dan tubuh-Nya, yaitu jemaat, ikut juga sebagai Bait Allah (Ef 2:21-22). Gedungnya hanya sarana.

Jadi, firman ini mempertanyakan sikap kita terhadap kemuliaan Allah sebagaimana dinyatakan dalam jemaat. Jika kita menyimak kehidupan jemaat kita akan sadar bahwa kita tidak layak sebagai tubuh Kristus, tempat Allah hadir oleh Roh Kudus-Nya. Hanya perkenan Allah–yang disampaikan dalam firman Injil–sehingga kita berani mengharapkan bahwa Allah akan dimuliakan dalam jemaat. Sekali lagi, janji itu semestinya kerinduan kita. Kita membangun jemaat dalam pengharapan bahwa Allah akan berkenan dan menyatakan kemuliaan-Nya. Semoga kita juga tergerak oleh firman Allah ini.


Zef 1:1-7 Hukuman umat Allah

Juni 1, 2009

Kita suka akan harapan bahwa orang fasik akan dihukum, karena seringkali mereka sepertinya luput dari akibat yang semestinya dalam dunia ini. Zefanya mulai dengan pengumuman bahwa Allah akan menghukum seluruh dunia (aa.2-3). Gambarannya mengingatkan kita akan air bah, yang di dalamnya manusia yang fasik dan hewan sama-sama lenyap oleh karena murka Allah (lih. Kej 6). Mungkin saja pendengar Zefanya senang bahwa bangsa-bangsa kafir di sekitarnya akan dihukum dan membayangkan bahwa mereka sebagai umat Allah akan seperti Nuh yang diselamatkan. Ternyata tidak demikian.

Zefanya bernubuat dalam pemerintahan raja Yosia yang berkuasa selama 640-609 sM. Ayah dan kakeknya adalah raja yang fasik. Hal-hal yang membudaya selama kedua raja jahat itu seperti yang digambarkan dalam aa.4-6. Bukannya Yahweh, Allah Israel, ditolak seluruhnya (a.5), tetapi Dia hanya salah satu dewa yang disembah, malah bukan dewa yang utama ketika orang mau mengambil keputusan (a.6). Keadaan itu mirip dengan orang kristen sekarang yang menyembah Allah dalam Kristus pada hari Minggu di gereja tetapi menyembah kekuasaan di tempat kerja, gengsi di tengah masyarakat, dan mencari dukun ketika menghadapi masalah yang sulit dipecahkan.

Oleh karena itu, Yehuda akan ikut dihukum. Hukuman itu dikaitkan dengan hari Tuhan, dan digambarkan sebagai perjamuan korban. Perjamuan korban biasanya adalah waktu untuk bersyukur, karena ada hewan yang disembelih dan keluarga makan bersama daging korban itu. Hanya, di sini korbannya Yehuda sendiri. Para undangannya dalam perkembangan sejarah merujuk ke tentara Babel yang menghancurkan Yerusalem. Justru bukan bangsa-bangsa yang pertama-tama dihukum melainkan umat Allah sendiri (bnd. 1 Pet 4:17).

Hukuman Allah kepada Israel yang dinubuatkan di sini adalah permulaan dari hukuman seluruh manusia. Syukur bahwa hukuman itu telah ditanggung Kristus sebagai pengganti kita, sehingga Dia menjadi tempat keselamatan seperti Nuh (1 Pet 3:20-21)! Pertanyaannya ialah apakah kita sudah berlindung pada Kristus, atau apakah kita berharap bahwa Kristus akan menyelamatkan kita dari penghakiman terakhir, tetapi menghadapi masalah duniawi kita bergantung pada hal-hal yang lain yang justru bertentangan dengan Kristus. Kita tahu dan berharap bahwa Tuhan akan menyapu bersih dunia yang kotor ini. Jangan sampai kita jadi tersapu karena hanya berpura-pura berlindung pada Kristus.


Yer 29:1-9 Keadaan sebagai perantau

Mei 11, 2009

“Kesejahteraan kota adalah kesejahteraanmu” (Yer 29:7) adalah pesan yang kadangkala dilupakan oleh gereja yang mementingkan dirinya daripada masyarakat. Namun, jangan sampai pesan itu diartikan bahwa tugas seorang percaya sekadar menjadi warga yang baik. Pesan Yeremia ini menyiratkan suatu ketegangan, yaitu ketegangan antara harapan akan kerajaan Allah (yaitu bagi pembaca surat Yeremia kembali ke Israel, tanah perjanjian) dan keadaan dalam dunia sementara (bagi pembaca surat itu menetap di Babel).

Yeremia menubuatkan kehancuran Yerusalem oleh karena dosa Israel. Pada saat peristiwa yang diceritakan dalam a.2, hal itu belum terjadi, dan banyak yang yakin bahwa Tuhan akan mengalahkan kuasa Babel sehingga orang-orang yang diangkut ke Babel dapat kembali, termasuk beberapa nabi di Babel (aa.8-9). (Pembuangan dalam a.2 terjadi pada tahun 597 sM, sedangkan kehancuran Yerusalem terjadi pada tahun 587 sM.) Oleh karena itu, firman Tuhan disampaikan kepada Yeremia untuk disampaikan melalui surat kepada mereka.

Jika sebentar lagi Babel akan dikalahkan dan Israel dipulihkan, seperti nubuatan palsu itu, maka tentu kegiatan yang diusulkan dalam aa.4-7 tidak masuk akal. Yeremia berpesan kepada mereka untuk menetap dengan mendirikan rumah dan keluarga di Babel. Alasannya muncul dalam a.10, yaitu bahwa pembuangan akan berlangsung 70 tahun. Angka 7 menyimbolkan kegenapan, dalam konteks ini kegenapan hukuman. Dalam sejarah berikut, orang-orang buangan baru diperbolehkan kembali ke Israel pada tahun 539 sM.

Menetap di Babel dengan mendirikan rumah berarti menerima nubuatan Yeremia bahwa dosa Israel harus dihukum Allah sebelum keselamatan dapat diharapkan kembali. Yeremia tidak menyangkal bahwa Allah akan mewujudkan kerajaan-Nya di tanah Israel, bukan di Babel. Hanya waktunya yang dipersoalkan. Orang-orang buangan harus bersabar menunggu waktu Tuhan.

Perjanjian Baru menempatkan kita sebagai to mentiruran, perantau. Artinya bahwa harapan kita bukan dunia ini (Babel) melainkan langit dan bumi yang baru (Yerusalem), pemulihan segala sesuatu ketika Kristus kembali. Tanpa harapan itu, pesan Yeremia gampang saja. Jika harapan kita adalah untuk hal-hal sementara saja, sudah barang tentu kita akan mencari kesejahteraan kota. Hanya jika kita tidak puas dengan dunia ini maka kita harus diingatkan untuk mencari kesejahteraannya.

Tetapi menjadi perantau juga berarti bahwa kita belum sampai di dunia baru, sama seperti orang-orang buangan yang disurati Yeremia. Jadi, keadaan kita ada di dunia sekarang. Bukannya kita akan luput dari segala penyakit, masalah dan bencana, seperti janji nabi palsu modern. Oleh karena itu kita berdoa untuk kota (dan negara), supaya pemerintah, ekonomi, prasarana dan masyarakat berfungsi dengan baik. Dengan demikian kita dapat bertumbuh dan berhasil, sambil menunggu janji yang lebih baik.


Rom 2:17-24

Mei 4, 2009

Perikop ini menarik perhatian karena gambaran yang tajam terhadap kesombongan agama dalam aa.17-20. Namun, saya dapat membayangkan suatu tafsiran demikian: 1) Paulus mengecam kesombongan agama; 2) cara untuk tidak sombong adalah mengakui keabsahan agama lain; maka 3) semua agama sama martabatnya. Padahal, pada ayat sebelumnya Paulus sudah menempatkan hari kiamat dalam rangka Injil dan Yesus Kristus, dan dalam p.1 sudah mengecam kebanyakan manusia yang menyembah berhala. Maka, apa maksud Paulus yang sebenarnya?

Tujuan dari Paulus dalam bagian surat ini adalah menempatkan semua manusia di bawah kuasa dosa (3:20). Hal itu tidak sulit bagi bangsa-bangsa yang hidup dalam keberhalaan sehingga mengalami segala bentuk kekacauan hidup (Rom 1:18-31). Tetapi bagaimana dengan orang Yahudi? Pada awal pasal 2, Paulus membuktikan bahwa mengecam dosa (2:1) tidak meluputkan manusia dari hukuman Allah jika tetap melakukan dosa (2:2-16). Allah tidak memandang bulu (2:11).

Jadi, pada aa.17-23 Paulus menerapkan 2:1 kepada orang Yahudi. Aa.17-20 adalah cara orang Yahudi menghakimi orang lain, sedangkan aa.21-23 menyebutkan apa yang mereka lakukan yang sama. Cara orang Yahudi menghakimi itu halus. Aa.17-18 menyampaikan hal-hal yang justru baik. Paulus sendiri mengajar kita untuk bermegah dalam Allah (5:11) dan tahu akan kehendak-Nya (12:2). Memang dia bersandar kepada Kristus, bukan Taurat, tetapi dia mengakui Taurat sebagai firman Allah (7:12). Jadi, tidak ada keraguan Paulus terhadap penyataan Allah. Inti masalah muncul dalam aa.19-20. Mereka bukan hanya yakin akan Allah, tetapi juga akan diri sendiri. Firman Allah dianggap miliknya sendiri, dan mereka seakan-akan berbagi dalam keunggulan Firman itu.

Dalam aa.21-23 sikap sombong itu disertai kemunafikan. Walau tidak semua orang Yahudi melakukan semua dosa ini, Paulus tahu bahwa kehidupan mereka juga tidak beres. Pada a.24 dia mengutip bagian PL yang ditulis untuk Israel yang dihukum oleh pembuangan ke Babel (Yes 52:5, bnd. Yeh 36:20) untuk menunjukkan bahwa sejak lama Israel tidak sanggup melakukan Taurat. Orang Yahudi tidak berbeda dari Israel yang dibuang karena dosanya.

Jadi, Paulus bermaksud untuk membuktikan bahwa orang Yahudi termasuk manusia berdosa. Apakah dengan demikian tidak ada relevansi bagi kita? Tentu ada, tetapi kita sebagai jemaat Kristus semestinya terdapat bukan dalam perikop ini tetapi dalam ayat-ayat berikut, yaitu kelompok yang melakukan hukum Taurat walaupun tidak disunat (2:27-29). Kelompok itu yang menggenapi janji Allah dalam PL bahwa Dia akan memperbaharui hati umat-Nya oleh Roh Kudus (misalnya Yer 31:33 dan Ul 30:6). Kelompok itu tidak lain dari jemaat Kristus, yang hatinya diperbaharui (p.6) sehingga oleh kuasa Roh (pasal 8) dapat melakukan Taurat, yakni hidup dalam kasih (13:8).

Jadi, ketika jemaat menyombongkan diri seakan-akan berbagi dalam keunggulan Kristus, dia sebenarnya menempatkan diri dengan Israel dalam pembuangan, dengan Israel yang hatinya belum diubah oleh Roh Kudus. Sama halnya ketika jemaat menghakimi orang lain, sedangkan hidupnya sendiri tidak beres. Akibatnya sekarang mungkin juga sama dengan apa kata Paulus pada a.24, yakni nama Allah dihujat oleh karena kesombongan dan kemunafikan itu.

Hanya, jalan keluarnya bukan keraguan terhadap kebenaran iman kristen, melainkan pembaharuan hati dengan menyerap sikap Injil sendiri. Ketika Paulus berbicara tentang bermegah dalam Allah, hal itu disertai dua kemegahan yang lain, yaitu bermegah dalam pengharapan (5:2) dan bermegah dalam kesengsaraan (5:3). Dalam kata lain, kemegahan yang dimaksud Paulus adalah siap menderita bersama-sama dengan Kristus, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia (8:17). Hati yang demikian sudah bosan dengan kesombongan, dan sudah jijik terhadap kemunafikan.


Mt 16:21-28 Misi secara misi Yesus

Februari 20, 2009

Perkataan Yesus tentang menyangkal diri, memikul salib dsb mengganggu. Sebagai manusia kita mencari yang aman, nyaman dan nikmat. Kita juga mencari ilah yang bisa menjamin hal-hal itu, alias dewa pelindung.

Soalnya, dunia itu rusak. Kesetiaan kepada Allah dalam dunia yang demikian melibatkan penderitaan. Mencari aman adalah menghindari kenyataan.

Tetapi, bukankah Yesus adalah Mesias? Demikian pengakuan Petrus pas sebelum awal perikop ini. Harapan PL adalah kehancuran semua perlawanan terhadap Allah sehingga umat-Nya berbahagia dalam dunia yang baru. Jika ada masa penderitaan, bukankah itu hanya seketika, sampai Kerajaan Allah terwujud dan berjaya?

Ternyata jalan Yesus menuju kemuliaan adalah melalui penderitaan dan kematian, baru kebangkitan (a.21). Dari beberapa penjelasan kemudian (seperti Mt 20:28 dan Mt 26:26-28) kematian-Nya terjadi supaya jalan keselamatan terwujud dari kehancuran perlawanan itu melalui pengampunan dosa. Kerusakan manusia begitu dahsyat sehingga tidak ada jalan lain untuk manusia luput.

Petrus mewakili kekagetan kita bahwa Allah hanya dapat mengalahkan kejahatan melalui penderitaan yang begitu berat (a.22). Tetapi bukan hanya Mesias yang harus siap menderita. Pengikut-pengikut-Nya harus mengikuti-Nya dalam jalan penderitaan itu. Cita-cita untuk berjaya menurut ukuran dunia ini harus diganti dengan kerelaan untuk memikul penderitaan dan penghinaan sama seperti Yesus (a.24). Menyangkal diri dan memikul salib terjadi karena melawan dosa dalam diri, karena melawan dosa dalam orang lain, dan karena mengasihi sesama korban dosa.

Alasan untuk nasihat yang tidak nyaman ini disampaikan dalam aa.25-27. Sebenarnya, Yesus mendukung pemahaman PL, malah dalam a.27 Dia sebagai anak manusia (bnd. Dan 7:13-14) yang akan melaksanakan hukuman Allah. Sehingga yang sesungguhnya paling aman ialah yang setia kepada Yesus, walaupun dia kehilangan segalanya pada zaman ini. Seperti kata Paulus, “kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Rom 8:17)

Jadi, Allah bukan dewa pelindung tetapi Allah yang bermisi. Misi Allah melalui Yesus hanya dapat terwujud melalui penderitaan, dan misi Allah melalui pengikut Yesus tidak akan lain. Bergabung dengan misi-Nya bukan hanya yang aman, tetapi dalam anugerah Allah menjadi jalan untuk memperoleh hidup.


Kebakaran di Australia

Februari 15, 2009

Sepertinya berita tentang kebakaran di Australia sampai di Indonesia. Lebih lagi, ada sejuta dolar dari pemerintah Indonesia yang dijanjikan untuk membantu korban. Banyak orang di Australia terperangah atas musibah ini. Saya sendiri kaget akan reaksi itu sampai saya membaca bahwa musibah ini yang terbesar sepanjang sejarah (orang putih di) Australia di luar masa perang. Mungkin saya terlalu lama di Indonesia, karena 200 lebih orang tergolong musibah sedang di Indonesia, sayangnya. Artinya bagi saya bahwa kedahsyatan yang dialami sekarang di Australia dialami berulang kali di Indonesia.

Musibah seperti ini menimbulkan pertanyaan tentang tangan Tuhan di dalamnya. Di antara orang sekuler (seperti dunia Barat) orang berbicara tentang korban yang tidak bersalah, kemudian menuding Tuhan sebagai tidak adil (jika Tuhan disebutkan). Di antara orang beragama ada anggapan bahwa korbannya justru dihukum Tuhan.

Untuk memecahkan masalah ini, nas yang paling penting bagi saya adalah Lk 13:1-5. Menanggapi dua musibah—yang satu karena kejahatan manusia, yang satu karena kecelakaan—Yesus membantah kedua pendapat di atas. “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain?”, kata-Nya. Pengandaian-Nya bahwa di hadapan Tuhan semua orang di Galilea adalah orang berdosa. Tidak ada korban yang tidak bersalah dalam artian tidak layak mati karena dosa. (Dalam artian tidak bertanggung jawab atas musibahnya, tentu ada korban tak bersalah.) Keadaan dunia yang secara umum sulit adalah akibat dosa manusia secara umum (demikian pesan Kej 3:17-19). Secara ekologis, teknologi manusia sudah menjadikan dosa kita (keserakahan, nafsu berkonsumpsi yang tak terkendali) penyebab langsung dari berbagai masalah bumi.

Tetapi yang dialamatkan Yesus di sini ialah orang beragama yang menganggap orang lain lebih berdosa karena kena musibah. Seakan-akan saya orang benar karena tidak kena! (Seringkali anggapan itu berlaku untuk musuh atau “orang lain”.) Tetapi menurut perkataan Yesus, mereka adalah orang berdosa, sama seperti kita. Hanya karena anugerah Tuhan sehingga kita masih diberi kesempatan untuk bertobat sebelum kita juga meninggal (a.3).

Pesan kitab Wahyu sama, walaupun bentuknya lebih mengerikan. Malapetaka demi malapetaka digambarkan di dalamnya. Salah satu kunci terdapat dalam Why 9:20—”Tetapi manusia lain, yang tidak mati oleh malapetaka itu, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan mereka”. Malapetaka bukan hukuman khusus untuk korbannya, melainkan peringatan bagi yang tersisa untuk kembali ke Tuhan.

Oleh karena itu, kasihan kepada korban itu tepat. Kita tidak layak untuk menambahkan hukuman kita atas hukuman Allah. Sebaliknya, semestinya kita tersadar, kemudian bertobat dan mulai mengasihi sesama, biar dia adalah musuh.


Gal 4,1-11 Setelah genap waktunya…

Desember 22, 2008

Kristus membawa kemerdekaan untuk menjadi anak-anak Allah yang dewasa, yang tidak harus dikawal oleh Hukum Taurat lagi karena dosa sudah diatasi. Sayangnya, kita lebih suka aman daripada merdeka, sehingga sistem-sistem keagamaan lebih dipentingkan di atas pengenalan akan Allah. Sifat itu pada gilirannya menghancurkan misi. Kita menjadi terlalu repot mengerjakan sistem untuk menjangkau sesama, dan terlalu kaku menuruti sistem untuk menerima orang yang berbeda dari kita.

Baca entri selengkapnya »


1 Raj 13:1-10 Mengabaikan peringatan Allah

Desember 19, 2008

Israel dipilih Allah untuk menjadi wakil bangsa-bangsa supaya sebagai bangsa yang kudus berkat Allah dapat mengalir kepada bangsa-bangsa. Puncak tema itu dalam PL dilihat ketika ratu Syeba berziarah untuk melihat Salomo (1 Raj 10). Namun, pada kenyataannya, Israel menjadi wakil bangsa-bangsa dalam keberdosaan. Hal itu nampak pada Salomo sendiri, dan p.12 menceritakan perpecahan kerajaan Israel sebagai akibatnya. Raja-raja Israel, baik dari kerajaan utara maupun selatan, berbagian dalam keberdosaan itu. Jadi, ketika disampaikan kepada Yeroboam bahwa dia diberi kerajaan utara, disampaikan pula janji seperti kepada Daud (11:38). Tetapi dia juga tidak sanggup menaati Allah.

Soalnya, Allah sudah memilih Yerusalem sebagai tempat Israel akan menyembah Dia. Tetapi Yeroboam takut kalau Israel (bagian utara) pergi ke Yerusalem (bagian selatan) untuk menyembah (12:27). Bukankah fungsi agama adalah menopang pemerintahan negara? Jadi, Yeroboam membuat agama sendiri untuk diikuti Israel.

Ternyata Allah tidak setuju dengan fungsi agama itu. Dalam p.13 sikap Allah dinyatakan dengan jelas, ketika Yeroboam ditegor, mezbahnya terpecah, dan nubuatan akan kehancurannya disampaikan. Ketegasan Allah dilihat ketika abdi Allah yang menyampaikan firman Allah itu kena hukuman Allah ketika dia sendiri menyimpang dari jalan-Nya (13:11dst)! Agama Israel semestinya berpusat pada Allah, bukan negara. Sekalipun hukuman Allah tertunda—Yosia yang dinubuatkan baru muncul tiga abad kemudian (2 Raj 23:15-16)—sikap Allah terhadap pemberontakan jelas.

Ketika kita membahas hukuman terhadap Israel, kita semestinya mengingat bahwa Yesus datang sebagai Mesias Israel untuk menanggung hukuman itu di atas salib. Israel mewakili bangsa-bangsa dalam hal keberdosaan, dan Yesus mewakili Israel dan bangsa-bangsa dalam hal hukuman terhadap keberdosaan itu. Hal itu tidak berarti bahwa sikap Allah terhadap dosa itu kabur. Jika seperti Yeroboam kita hanya mengaku adanya dosa terhadap Allah tanpa ada perubahan sikap yang berarti, maka nasib kita sama dengan mezbah yang dihancurkan itu, sekalipun hukuman itu ditunda sampai akhirat.

Semoga perayaan kedatangan Yesus yang lalu dan yang akan datang mendapat sambutan yang baik dalam hati kita.


Why 2:12-17 Yesus memakai pedang

Juli 16, 2008

Dalam perikop ini Yesus menyampaikan alasan berganda untuk kembali setia kepada-Nya, yakni ancaman pedang (a.16) dan janji berkat (a.17). Cocokkah gambaran ini dengan Injil anugerah?

Yang pertama, kitab Wahyu memang didasarkan pada Injil. Dalam 1:5-6 Yesus adalah Saksi yang setia yang mengasihi kita dan melepaskan kita dari dosa oleh darah-Nya, sekaligus yang pertama bangkit dan menjadi penguasa atas raja-raja. Penglihatan Yesus dalam 1:9-21 menjadi dasar untuk ketujuh surat kepada jemaat, dan banyak lagi dalam kitab ini. Kemudian, seluruh kitab memuncak pada gambaran tentang langit dan bumi yang baru yang menjadi pusat harapan. Jadi, Kristus ada di pusat kitab ini, dan kematian, kebangkitan dan kedatangan-Nya kembali menjadi kerangka yang mendasarinya.

Kerangka Injil itu yang mengilhami perikop ini. Pedang yang dipakai Yesus keluar dari mulut-Nya (1:16), sama seperti Hamba Tuhan dalam Yes 49:2. Maksudnya, pedang yang akan menghukum dalam a.16 itu Firman Kristus. Ancaman hukuman itu disampaikan karena jemaat yang setia (a.13) terancam oleh ajaran palsu (aa.14-15). Kemungkinan Nikolaus adalah terjemahan dari Bileam (kedua-duanya berarti mengalahkan umat), dan a.14 memberi gambaran tentang gerakan Nikolaus/Bileam itu. Israel yang dilindungi Allah dari ancaman kutuk Bileam tergiur oleh perempuan Moab untuk menyembah berhala dan berbuat zinah (Bilangan 24-25). Jadi, gerakan Nikolaus barangkali mengajak jemaat untuk berkompromi dengan budaya setempat, khususnya dalam hal mengikuti acara berhala yang kadangkala disertai percabulan. Jemaat yang kokoh ketika dianiaya—sampai ada anggota dibunuh (a.13)—terancam dirongrong dari dalam karena tidak tegas terhadap gerakan kompromi ini. Firman Kristus siap untuk menghukum mati kaum yang mengancam itu. Perhatikan bahwa jemaat (“engkau”) harus bertobat, tetapi Dia datang untuk memerangi “mereka” yang menyesatkan.

Kemudian, janji yang disampaikan dalam a.17 menyangkut Injil. Manna yang tersembunyi adalah Kristus sendiri (Yoh 6:35), sebagai ganti makanan berhala yang disediakan pada upacara-upacara pemberhalaan. Batu putih mungkin merujuk pada warna batu yang dipakai dalam pengadilan untuk menyatakan terdakwa tidak bersalah. Nama yang baru merujuk dalam Yes 65:15 pada identitas yang baru dari orang yang setia kepada Allah. Yang dijanjikan adalah hidup dalam Allah, dan itulah yang terancam oleh gerakan tadi. Ancaman itu mau melindungi anugerah Allah yang sudah dipegang jemaat.

Kristus tetap mau memerangi hal-hal yang mengancam kesetiaan jemaat sekarang. Di Indonesia makin banyak kesempatan untuk bertahan di bawah penganiayaan, tetapi juga makin banyak orang yang tergiur oleh budaya gengsi yang mengutamakan pemilikan barang dan menghalalkan KKN. Jemaat sekarang perlu memasang telinga yang mendengar a.17 sebagai janji Injil yang lebih manis dari semua itu.


Yes 1:10-20 Mengapa menjemukan Allah?

Juli 11, 2008

Pernah ada anjing yang dengan bangga membawa hasil pemburuannya kepada pemiliknya. Jika hasilnya berupa tikus yang mati belum tentu pemiliknya senang! Namun, maklum itu anjing. Lebih sulit diterima adalah pasangan yang membeli kado bagi pasangannya untuk menutupi perselingkuhan. Kado itu akan memperparah keadaannya daripada memulihkannya. Demikianlah ibadah Israel pada masa nabi Yesaya. Persembahan dan perayaan mereka tidak mengelabui Tuhan mengenai keadaan mereka yang sebenarnya.

Baca entri selengkapnya »