Yes 1:15-20 “Pertobatan yang sejati” (4 Mar 2012) [Sengsara III]

Februari 29, 2012

Pernah ada anjing yang dengan bangga membawa hasil buruannya kepada pemiliknya. Jika hasilnya berupa tikus mati belum tentu pemiliknya senang! Tetapi, maklum itu anjing. Lebih sulit diterima adalah pasangan yang membeli kado bagi pasangannya untuk menutupi perselingkuhan. Kado itu akan memperparah keadaannya daripada memulihkannya. Demikianlah ibadah Israel pada masa nabi Yesaya. Persembahan dan perayaan mereka tidak dapat mengelabui Tuhan mengenai keadaan mereka yang sebenarnya.

Penggalian Teks

Dalam Yes 1:2-2:4 pesan seluruh kitab Yesaya disampaikan secara ringkas. Pesan itu dimulai dengan sebuah peringatan. Yes 1:2-9 merujuk pada sebuah peristiwa (kemungkinan penyerangan Sanherib pada tahun 701sM yang diceritakan dalam pp.36-37) di mana Yerusalem nyaris hancur. Nasib Yerusalem hampir seperti Sodom dan Gomora (a.9), dan aa.10-20 menasihati umat Israel yang sifatnya ternyata sama dengan Sodom dan Gomora (a.10). Kemudian, rencana Allah disampaikan, yakni pemurnian Sion melalui hukuman (aa.21-31) sampai terwujudlah keadaan baru (keselamatan eskatologis) yang digambarkan dalam 2:1-4. Keselamatan itu yang menjadi alasan untuk bertobat (2:5).

Jadi, perikop 1:10-20 (dimulai pada a.15 karena di situlah disebutkan soal tangan berlumuran darah yang menjadi tema berdasarkan Ams 6:17) mau menyadarkan Israel akan keadaan mereka yang sesungguhnya. Aa.11-14 menyebutkan dosa Israel sedikit, tetapi yang disoroti ialah tanggapan Allah. Allah jemu dan tidak suka (a.11), jijik (a.13), benci dan payah (a.14) akan persembahan dan perayaan mereka. Mereka sepertinya rajin beragama, tetapi hal itu tidak berkenan di hadapan Allah. Justru sebaliknya, dengan menghadap kepada Allah dalam ritus, mereka membawa kejahatan mereka ke dalam hadirat-Nya. Oleh karena itu, hukuman Allah dinyatakan dalam a.15, yakni memalingkan muka-Nya.

Bagaimana semestinya respons Israel terhadap pernyataan sikap Allah itu? Aa.16-17 berbicara tentang pertobatan, mulai dengan yang paling umum sampai yang lebih konkret. Yang paling umum adalah perlunya Israel menjadi bersih. Hal itu secara prinsip berarti menjauhkan kejahatan dan memegang kebaikan. Secara konkret, keadilan yang paling hilang dalam masyarakat mereka, terutama dalam perlakuan terhadap yang tidak berdaya (yatim dan janda).

Pertobatan itu diteguhkan dengan janji dan akibat. Janji itu adalah janji anugerah: tangan mereka yang ternoda merah karena darah kekerasan dapat menjadi bersih (a.18). Janji yang mengejutkan itu merujuk pada karya Allah dalam memurnikan Sion (aa.25, 27), yang dalam keseluruhan kitab Yesaya dilaksanakan oleh Hamba Tuhan (pp.40-55, khususnya p.53). Janji itu menunjukkan bahwa masih ada kesempatan, bukannya sudah terlambat. Kemudian akibatnya disampaikan dalam aa.19-20. Berkat perjanjian Allah dengan Israel (bnd. Ul 28:1-14) diwakili oleh memakan hasil baik dari negeri perjanjian (a.19), sedangkan kutuk perjanjian (bnd. Ul 28:14dst) diwakili oleh dimakan pedang (a.20). Dalam konteks Yes 1:2-2:4, yang bertobatlah yang mengambil bagian dalam keselamatan eskatologis (2:1-4).

Maksud bagi Pembaca

Tujuan pemberitaan Yesaya pada saatnya adalah menawarkan pertobatan kepada Israel supaya bangsa Israel dapat hidup dan tidak mati dihukum pembuangan. Nubuatan Yesaya mulai diterima luas sebagai firman Tuhan ketika hukuman Allah memang terjadi, lebih dari 100 tahun kemudian (Yesaya bernubuat pada paruh kedua abad ke-7 SM, Yerusalem dihancurkan 587 SM). Perikop ini tetap berfungsi untuk menjelaskan pertobatan yang sejati sehingga kita bisa terlibat dalam rencana keselamatan Allah, bukan disingkirkan sebagai timah (a.25).

Makna

Tahap Israel dan kita dalam rencana keselamatan Allah itu tidak sama. Israel adalah bangsa di sebuah tempat tertentu, dan dasar untuk pengampunan baru disimbolkan dengan kurban-kurban di Bait Allah, kenyataannya dalam Kristus belum datang. Jadi, kita perlu meninjau ulang keempat unsur pemberitaan Yesaya, yaitu: perincian dosa, pertobatan, janji pengampunan dan akibat.

Inti dari perincian dosa (aa.11-14 yang disimpulkan dalam a.15) adalah semangat dalam ritus yang tidak dibarengi dengan kebenaran dan keadilan. Hal itu menjadi masalah pada zaman Yesus, dan tetap sampai sekarang. Tangan yang penuh dengan darah tidak sekadar oknum yang melakukan kekerasan. Suharto sebagai presiden mungkin tidak pernah langsung membunuh orang, tetapi tangannya tetap penuh darah. Ayat-ayat berikut juga melihat berbagai bentuk ketidakadilan. Kita bisa membayangkan betapa Allah jijik terhadap sebuah syukuran atas hasil korupsi, betapa Dia tidak berkenan pada pelayanan dari seorang majelis atau pendeta yang suka memukuli keluarganya, betapa Dia berduka atas perayaan kaum elit yang menerapkan kebijakan yang mengalihkan hasil orang miskin kepada orang kaya.

Aa.16-17 berbicara tentang tindakan nyata sebagai wujud pertobatan. Kejahatan tidak hanya dihentikan, tetapi juga kebaikan dipelajari dan keadilan diusahakan. Ini bukan sekadar kesadaran bahwa ada yang kurang, tetapi perubahan sikap. Dulunya orang miskin/kelas bawah/perempuan atau siapa lagi yang menjadi korban kekerasan, dianggap tidak layak, sampah, ancaman dsb. Sekarang, mereka dihargai sehingga diperlakukan dengan baik. Saya tertarik dengan ucapan “belajar berbuat baik”. Seringkali pertobatan menuntut hal-hal yang baru yang harus dipelajari. Jika dulu si suami menangani frustrasi dengan kekerasan, sekarang dia harus belajar cara-cara yang lain. Jika dulu orang besar pintar memeras rakyat, dia harus belajar bagaimana memerintah untuk kepentingan bersama. Pertobatan menyiratkan merendahkan diri—bukan hanya pengakuan akan kesalahan, tetapi juga menjadi orang bodoh yang harus belajar cara yang baik, yang sekarang didambakan oleh karena perubahan sikap adalah intisari pertobatan. Alasan untuk bertobat diperdalam dalam Kristus, tetapi sifat pertobatan tidak berubah.

Pengampunan yang digambarkan dengan begitu dramatis dalam a.18 justru digenapi di dalam Kristus. Jika Allah beperkara, semestinya Israel hancur. Tetapi yang ditawarkan adalah pembenaran: bukan untuk mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah tidak terlalu buruk, tetapi untuk menyampaikan berita yang luar biasa bahwa dosa mereka yang begitu berat dapat dihapus sehingga mereka diterima oleh Allah. Itulah yang dihasilkan oleh pengorbanan Kristus, sehingga Paulus berbicara tentang pembenaran oleh iman.

Di dalam Kristus, akibat yang akan dialami Israel juga mengalami perkembangan. Berkat Allah yang dijanjikan untuk jemaat dalam Kristus adalah Roh Kudus (Gal 3:14), termasuk buah-Nya seperti kasih, sukacita, damai dsb. Itulah yang hilang dalam jemaat yang tenggelam dalam kemunafikan. Tetapi dalam konteks lebih luas, jemaat yang munafik akan kehilangan keselamatan eskatologis, sehingga tidak menikmati pengenalan akan Allah yang sudah sempurna, melainkan kehancuran kekal yang di dalamnya tidak ada berkat apapun. Kalau menjemukan Allah tidak apa-apa bagi kita, mungkin hanya ancaman begitu yang dapat menerobos kedegilan hati kita!


Mazmur 53 Berharap karena Allah menindak kejahatan [11 Desember 2011] (Adven III)

Desember 7, 2011

Penggalian Teks

Mazmur 53 hampir sama dengan Mazmur 14. Ada dua perbedaan yang bermakna yang mendukung usul bahwa Mazmur 14 mempersoalkan penindas di dalam umat Allah, sedangkan Mazmur 53 mempersoalkan penindas dari luar. Mazmur 14 beberapa kali memakai kata Tuhan yang menerjemahkan nama Allah (“Yahweh”), sedangkan Mazmur 53 hanya memakai kata Allah (“Elohim”), istilah yang bukan milik Israel saja. Kemudian, Mzm 14:5-6 dan Mzm 53:6 cukup berbeda. Mzm 53:6 memperjelas pelaku kejahatan dalam 53:5 sebagai “para pengepungmu”, yaitu, tentara, yang ditolak oleh Allah. Mzm 14:5-6 tidak ada tambahan informasi tentang penjahat, dan menyoroti perlindungan Tuhan bagi orang yang benar. Usul perbedaan latar belakang ini tidak pasti, dan mungkin yang paling pokok adalah yang belakangan: Mazmur 53 lebih keras tentang nasib penjahat, sedangkan Mazmur 14 lebih menonjolkan perlindungan Tuhan.

Mazmur ini dapat dibagi tiga. Aa.2-4 menceritakan kejahatan manusia (a.2 dan a.4 merupakan inklusio dengan “tidak ada yang berbuat baik”); aa.5-6 menceritakan respons Allah; dan a.7 menyatakan doa akan pemulihan.

Kelompok yang dikeluhkan tergambar dalam a.2, pertama-tama dengan istilah “orang bebal” (nabal). Kata itu merujuk pada orang yang tidak berguna karena tidak peduli terhadap apa yang semestinya dipedulikan (seperti norma, atau Allah). Kelompok itu adalah ateis praktis. Ateis ideologis mengaku bahwa Allah tidak ada, dan bahkan memberitakan hal itu (paling sedikit demikian di dunia Barat). Tetapi dalam dunia agamawi seperti Israel (ataupun Indonesia), seorang ateis praktis tetap mengaku dengan mulutnya sebagai orang beragama, paling sedikit sebagai kedok atas kejahatannya. Tetapi tingkah lakunya menyiratkan bahwa dalam hati dia percaya bahwa Allah tidak ada—entah dalam artian tidak berada atau dalam artian praktis alpa dari dunia ini. Kata orang Toraja, “Siapa melihat ayam kencing?” (Indan tiroi tu manuk kattene?), artinya, Allah terlalu jauh atau tinggi untuk peduli, atau terlalu sibuk untuk memperhatikan, tingkah laku manusia. Alhasil, kelompok ini melakukan kecurangan yang membuat mereka busuk dalam hakikatnya dan jijik bagi sesama atau Allah. Tidak ada kebaikan yang mereka hasilkan.

A.3 langsung membantah anggapan ateis praktis itu. Ternyata Allah melihat. Dia memang tinggi, sehingga harus memandang ke bawah. Tetapi ada serangan balik. Jika orang bebal bertanya tentang adanya Allah, Allah bertanya tentang adanya orang yang berakal budi, yang mencari Allah. Yang dicari Allah di sini kebalikan dari orang bebal dalam a.2. Tetapi a.4 meragukan adanya orang yang dicari Allah itu. Semua telah menyimpang, sekaliannya bejat, tidak ada seorang pun yang berbuat baik. A.2 mulai dengan orang menilai Allah itu alpa, tetapi a.4 berakhir dengan Allah menilai manusia itu jahat.

A.5 menarik perhatian pembaca dengan mengusulkan adanya pengetahuan yang belum disadari oleh kelompok itu. Dosa mereka diperjelas, termasuk bahwa umat Allah yang ditindas, dan Allah tidak dipanggil. Dalam a.6 kita diberitahu apa yang belum disadari itu. Intinya bahwa Allah telah bertindak dengan “menghamburkan tulang-tulang para pengepungmu” dan “menolak mereka”. “Di sana” mungkin merujuk pada peristiwa tertentu di mana tentara yang mengepung kota Israel dikalahkan, seperti ketika Sanherib mengepung Yerusalem pada zaman raja Hizkia (2 Raj 18:13-19:37). Memang raja Asyur itu banyak membual terhadap Tuhan (misalnya, 2 Raj 18:33-35). Kemudian, dia mendengar isu yang mungkin boleh dikatakan membuatnya takut tanpa alasan (2 Raj 19:7-9), lalu, malaikat Tuhan keluar dan tulang-tulang tentara Asyur dihamburkan (2 Raj 19:35). Jika demikian, mungkin saja Mazmur 14 dari Daud diubah untuk memperingati peristiwa ini. Namun, dasar dalam sejarah tidak menutup tafsiran lebih luas tentang siapakah pengepung itu.

Berdasarkan tindakan Allah, a.7 menyampaikan doa untuk Tuhan bertindak. Sion disebut sebagai tempat Allah hadir dalam Bait Suci. Doa itu disertai dengan harapan bahwa Israel akan bersukacita atas karya Allah bagi mereka.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur mau menuntun umat yang merasa tertindas oleh penjahat untuk mengingat karya Allah bagi umat-Nya, sehingga berdoa untuk keselamatan. Karena umat Allah perlu diselamatkan dari ancaman orang jahat, mazmur ini juga dapat berfungsi seperti nubuatan, sebagai peringatan keras bahwa cara hidup mereka jijik dan nasib mereka buruk. Namun, idealnya jemaat siap kembali untuk menantikan keselamatan dari Kristus. oleh karena sudah yakin akan hukuman Allah terhadap kejahatan.

Makna

Pada masa Adven kita mengingat bahwa keselamatan bagi Israel telah datang dari Sion. Kristus datang sebagai Mesias Israel, menyucikan Bait Allah, mati bagi dosa Israel dan bangkit mengalahkan maut. Kita menunggu penyempurnaan kemenangan itu ketika Dia datang kembali. Dalam penggenapan tahap pertama ini, misi Allah yang dalam PL terfokus pada Israel diperluas untuk menjangkau semua bangsa, sesuai dengan janji Allah kepada Abraham (Kej 12:3). Makanya, kita menafsir Israel sebagai umat Allah yang sekarang terwujud dalam jemaat-jemaat, dan menafsir Sion, sumber keselamatan, sebagai Kristus.

Kita juga dapat melihat bagaimana Kristus sendiri mengalami mazmur ini. Dia berhadapan dengan, dan banyak mengecam, kemunafikan yang mengaku Allah tetapi hatinya jauh dari Allah, sehingga menindas orang kecil. Oleh karena itu, Dia dikepung, dan malah kelihatan sudah kalah ketika mati pada salib. Tetapi, ada kejutan besar. Kuasa Iblis dihamburkan, dan manusia yang melawan Dia dipermalukan, ketika Dia dibangkitkan. Dia menjadi sumber pertolongan dari Sion sorgawi sampai Dia datang kembali untuk menyempurnakan kemenangan-Nya.

Banyak umat Kristus juga mengalami serangan yang justru terlalu dekat dengan istilah pengepungan dalam a.6. Di Indonesia, kelompok-kelompok seperti FPI masih ringan ketimbang kondisi orang kristen di beberapa tempat di dunia. Yang menindas mereka termasuk orang ateis ideologis, seperti beberapa tempat rawan di Cina, tetapi juga orang beragama yang sudah pandai membuat agama sebagai kedok kepentingan pribadi. Jadi, komunitas kristen dikepung, kadangkala sampai mati. Tetapi, biar mereka mati, musuh-musuh mereka tetap akan dipermalukan, ketika Juruselamat dari Sion itu datang kembali. Pada saat itu, sukacita umat Allah tidak akan berkesudahan.

Jika tidak ada musuh dari luar yang terlalu jelas, kita tetap dapat menafsir “para pengepung” dalam rangka orang munafik di dalam gereja, misalnya, orang yang mengaku kristen tetapi terlibat secara tegas (bukan sewaktu-waktu tergoda) dalam berbagai penyakit sosial. Bahkan pelayan yang merusak jemaat diperingati Paulus dalam 1 Kor 3:16-17. Dalam konteks perlawanan kita bisa yakin akan hukuman Allah terhadap semua yang buruk, sehingga menantikan keselamatan dari Kristus itu.

Yang tidak diubah dengan kedatangan Kristus adalah perlunya hukuman itu. Memang, di dalam Kristus menjadi lebih jelas bahwa ada masa untuk pertobatan yang berlaku untuk semua manusia. Tetapi, akhirnya Allah akan bertindak demi pemulihan umat-Nya, bahkan seluruh dunia-Nya. Ketegangan yang mungkin terasa antara “menghamburkan” atau “dipermalukan” dalam a.6 dengan “memulihkan” dalam a.7 adalah hal biasa dalam Alkitab, karena dunia dianggap sangat rusak sehingga perlu cara yang keras untuk memperbaikinya. Proses itu digambarkan (dengan bahasa apokaliptik) dalam Wahyu 19-20, terkait dengan kedatangan Kristus kembali pada akhir zaman.


Daniel 12:1-4 “Yang akan bercahaya itu orang-orang bijaksana” [25 September 2011]

September 20, 2011

Nas ini dari satu segi sederhana: jadilah orang bijaksana karena itulah masa depan menurut Allah. Tetapi Daniel adalah kitab yang kaya tentang rencana Allah, jadi saya mencoba untuk menempatkannya dalam konteks rencana Allah itu.

Penggalian Teks

Daniel membayangkan serangkaian kerajaan yang akhirnya diganti dengan kerajaan kekal, yakni, kerajaan Allah. Daniel 7 menguraikan harapan itu, tetapi pp.8-11 mengisahkan masa-masa pergumulan saja. Perikop kita akhirnya menunjukkan bagaimana caranya Allah mendatangkan kerajaan-Nya.

Penglihatan yang di dalamnya nas kita termasuk mulai pada awal p.10. Waktunya tahun ketiga pemerintahan Koresh, yaitu, dua tahun setelah rombongan pertama kembali dari pembuangan ke tanah Israel (Ezra 1). P.10 menunjukkan bahwa di balik peristiwa-peristiwa dunia ada kuasa-kuasa yang lain, termasuk Mikhael, disebut sebagai “seorang pemimpin terkemuka” tetapi ternyata malaikat seperti malaikat yang berbicara kepada Daniel (mungkin Gabriel, 9:21). Malaikat Mikhael itu membela orang-orang Israel. P.11 menggambarkan sejarah di bawah kuasa orang Yunani (10:20), yaitu anak-anak Aleksander Agung yang saling merebutkan kerajaannya. Sejarah itu berpuncak pada suatu masa yang sangat sulit, yang di dalamnya orang-orang bijaksana akan teruji sampai tewas (11:33), dan akan ada raja penghujat (11:36).

Perikop kita merupakan puncak dari pergumulan itu. Dalam a.1 ada sesuatu dari bahasa aslinya yang berguna. Mikhael, yang disebut dalam p.10, “berdiri” (harfiahnya). Dia disebut kembali sebagai pemimpin yang besar, dan tugasnya disebut sebagai “berdiri di atas” bangsa Daniel (‘am, kata yang dipakai untuk bangsa Israel). Terjemahan LAI menangkap maksudnya, tetapi bahwa kata yang sama dipakai lebih memperlihatkan bahwa Mikhael muncul dalam rangka membantu Israel yang sedang tertekan. Tekanan itu disebut sebagai kesesakan terdahsyat sejak ada bangsa (goy, kata yang dipakai untuk bangsa-bangsa secara umum). Mengapa sejak Kejadian 10 (adanya bangsa-bangsa), bukan Kejadian 1 (penciptaan dunia)? Mungkin air bah (Kejadian 6) lebih dahsyat lagi, tetapi adalah lebih pokok bahwa kesesakan ini adalah masalah antar bangsa (itulah perspektif seluruh kitab Daniel). Namun, bangsa Daniel (‘am) akan luput. Yang luput lebih diperjelas sebagai orang yang namanya tertulis dalam Kitab. Dalam Kel 32:32-33 Musa dan Allah merujuk pada suatu Kitab yang sepertinya memuat nama-nama orang yang diterima Allah. Dalam konteks itu Musa sedang berseru kepada Allah untuk mengampuni umat-Nya yang baru membuat anak lembu emas. Jadi, Kitab itu menjadi suatu petunjuk bahwa tidak semua anggota bangsa Israel diterima Allah. Karena akhir Daniel 11 baru saja berbicara tentang orang Israel yang setia dan yang tidak, hal itu juga dimaksud di sini—bangsa Israel, yaitu, mereka yang setia kepada Allah.

Tetapi bagaimana dikatakan mereka akan luput jika dalam p.11 sudah jelas ada orang setia yang meninggal? Hal itu juga adalah pertanyaan dari p.7. Kerajaan Allah akan berdiri, tetapi bagaimana dengan orang-orang yang sudah mati sebelumnya? Aa.2-3 memberi jawaban. Fokus dalam ayat-ayat ini, pada hemat saya, adalah pembalikan nasib, sehingga hanya “banyak” yang bangun, bukan semua seperti dalam PB. Satu kelompok akan mendapat hidup yang kekal, yaitu mendapat bagian dalam kerajaan Allah. Satu kelompok lagi akan mendapat kehinaan. Yang mendapat hidup yang kekal termasuk orang-orang bijaksana yang telah mati syahid dalam 11:33, yang juga digambarkan sebagai orang-orang yang menuntun orang lain kepada kebenaran (a.3). Mereka dulunya dihina tetapi sekarang mendapat kemuliaan yang sangat. Yang mendapat kehinaan dalam a.2b pasti termasuk yang dulunya menghina orang-orang bijak ini.

Daniel disuruh untuk memeteraikan Kitabnya sampai pada akhir zaman (a.4; bdk. 8:26, yang menunjukkan bahwa yang dimeteraikan adalah penglihatan-penglihatan Daniel, bukan Kitab nama-nama orang). Meterai dipakai oleh juru tulis sebagai bukti bahwa apa yang telah ditulis tidak diubah lagi. Akan ada saatnya Kitab ini dibuka lagi dan banyak diteliti.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini mendorong pembaca untuk tetap menempuh jalan hikmat dan kebenaran, sekalipun dihina atau dibunuh, karena kehinaan sekarang akan diganti dengan kemuliaan ketika kerajaan Allah terwujud.

Makna

Kebangkitan muncul sebagai jawaban terhadap pertanyaan tentang janji Allah. Tulisan apokaliptik seperti kitab Daniel menekankan bahwa dunia ini rusak, dan hanya campur tangan Allah yang akan memulihkannya dengan pendirinya kerajaan Allah. Tetapi jika Allah adalah Allah Abraham, Ishak dan Yakub, apakah mereka tidak mendapat bagian dalam kerajaan itu? Termasuk orang-orang bijaksana yang menuntun sesama kepada kebenaran dan yang setia sampai mati? Jika dalam Dan 12:2 belum tegas bahwa semua akan dibangkitkan, dalam PB hal itu menjadi jelas. Semua akan bangkit, dan keputusan Allah tentang setiap orang seringkali akan bertentangan dengan penilaian manusia, lebih lagi manusia yang dikendalikan oleh kepentingan.

PB juga memperjelas caranya. Kristus boleh dikatakan membuka kembali kitab Daniel yang dimeteraikan, sehingga kita menyelidikinya dalam terang baru. Anak Manusia telah bangkit, dimuliakan dan berkuasa di sorga (bdk. p.7), sehingga kerajaan Allah sudah datang di dalam-Nya, tetapi kebangkitan semua yang lain masih ditunggu. Yang namanya tertulis dalam Kitab itu bukan hanya dari bangsa Israel tetapi semua yang bergabung dengan Anak Manusia itu, yakni semua yang percaya kepada Kristus. Mereka luput bukan dari pergumulan sekarang, melainkan dari kehinaan kekal. Jika neraka sering digambarkan sebagai tempat penyiksaan, ayat ini dapat memperjelas bahwa siksaan itu muncul dari dalam, merupakan kesadaran akan hidup yang dibuang dengan menyelepekan atau membelakangi Allah Mahapengasih dan Mahapengampun (bdk. p.9). Sedangkan yang selamat itu mendapat kemuliaan besar. Jika Dan 12:3 dikaitkan dengan Why 21:23, Allah dan Kristus menggantikan matahari dan bulan, sedangkan umat-Nya menggantikan bintang-bintang. Dalam Kej 1:14-18 penerang-penerang itu berkuasa atas waktu dan ruang ciptaan, dan Dan 7:27 sudah menyebutkan pemerintahan umat Allah. Yang tertindas menjadi penguasa dunia baru.

Harapan itu mendorong kita untuk menempuh jalan hikmat dan kebenaran. Bagaimana? Dengan membongkar pemahaman dunia tentang status. Dalam kitab Daniel, merujuk pada banyak pengalaman bangsa Israel dianiaya, yang ditindas belum tentu dihukum Allah. Dalam konteks kita, konsep yang menjunjung tinggi pendidikan, kekayaan, dan jabatan akan dibongkar. Yang berpendidikan belum tentu yang bijaksana, yang kaya belum tentu menuntun orang kepada kebenaran, yang memiliki jabatan tinggi sering menjadi penindas. Mereka yang dianggap bercahaya sekarang, tetapi Allah akan menyingkapkan status mereka yang sebenarnya pada kebangkitan pada akhir zaman. Sebaliknya, jika kita setia pada jalan hikmat walaupun diejek orang banyak, kita bisa yakin bahwa Allah akan menyingkapkan hal itu juga.


Gal 3:10-14 Kristulah yang membuka jalan iman dengan menanggung kutuk hukum Taurat

Oktober 25, 2010

Dalam suratnya kepada jemaat-jemaat di Galatia, Paulus menghadapi ancaman yang besar terhadap Injil yang dia beritakan, yaitu kelompok yang mau supaya anggota-anggota jemaat menyunatkan diri dan menanggung hukum Taurat (HT). Paulus melihat bahwa hal itu mengancam kebenaran Injil. Kristus “telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” (1:4), tetapi mereka “begitu lekas berbalik” dari Injil anugerah itu (1:5), sehingga anugerah Allah ditolak (2:21) dan kelimpahan Roh Kudus diganti dengan usaha kekuatan sendiri (3:2-5). Alhasil, mereka saling membinasakan (5:15, bnd. 5:26) dan terancam binasa kekal (6:8).

Intisari penguraian Paulus melawan ajaran sesat itu terdapat dalam p.3 ini, di mana dia membuktikan bahwa “jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah” (a.29). Abraham penting karena dia diakui, oleh kelompok pengacaupun, sebagai asal usul orang Israel dan penerima janji yang mendasari perjanjian-perjianjian berikutnya dalam PL. Menjadi anak Abraham berarti berada dalam rencana Allah untuk memberkati dunia ini, menanggapi kutuk yang didatangkan oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa. Makanya, alur penguaraian Paulus mulai dengan Abraham dibenarkan oleh iman (a.6) sehingga berkat datang kepada orang-orang beriman (a.9). Sebaliknya, HT mendatangkan kutuk (aa.10-12), yang daripadanya Kristus meraih penebusan (a.13), sehingga berkat itu datang dalam Kristus (a.14). Janji kepada Abraham itu mendahului HT (aa.15-8), dan fungsi HT terkait dengan mengekang pelanggaran sampai Kristus datang (aa.19-22), seperti fungsi pengawal (a.23) atau penuntun bagi anak-anak (a.24-25). Makanya, cara sekarang menjadi anggota keluarga Allah bukan dalam HT melainkan dalam Kristus (aa.26-28).

Jadi, unsur baru yang dikembangkan dalam perikop kita ialah bahwa Kristulah yang membuka jalan iman itu dengan menanggung kutuk HT. Kutuk HT dijelaskan dalam aa.10-12. Frase “yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat” (a.10a) merujuk pada orang yang menjadikan HT dasar kehidupannya. Kelompok ini menganggap bahwa yang menjadi anak-anak Abraham adalah orang yang bersunat dan berusaha untuk menaati seluruh HT, termasuk menghindari makanan yang najis. Ada dua masalah pokok dengan pendirian mereka. Yang pertama ialah bahwa mereka tidak menaati HT secara menyeluruh (a.10b). Hal itu tidak berarti bahwa orang-orang Yahudi hampir sempurna tetapi gara-gara satu dua cacat HT mengutuk mereka. HT menyediakan penghapusan dosa melalui kurban-kurban untuk pelanggaran-pelanggaran kecil. Masalahnya bahwa ada maksud-maksud pokok dari HT yang diabaikan saja. Khususnya, dalam konteks surat ini, semangat dalam janji Allah supaya berkat-Nya sampai pada bangsa-bangsa alpa di antara mereka. Hal itu nampak dalam 2:11-14, di mana makanan menjadi pemisah antara orang-orang Yahudi dan orang-orang non-Yahudi. Contoh paling parah ialah Paulus sendiri yang sebagai orang yang dulu begitu bersemangat dalam agama Yahudi justru mau membinasakan gereja yang mencakup bangsa-bangsa (1:13-14). (Bandingkan juga kritikan Yesus terhadap kaum Farisi bahwa mereka menyempitkan artian “sesama”, Lk 10:25-37 dan meniadakan perintah-perintah Allah demi kepentingan adat-istiadat, Mk 7:13). HT menjadikan keberdosaan sikap hati mereka kentara (bnd. 3:22), dan menyatakan kutuk Allah atas keberdosaan itu. Masalah pokok kedua ialah bahwa HT tidak dimaksud sebagai ganti iman (aa.11-12), justru karena keberdosaan manusia itu (3:21-22). Untuk orang-orang Yahudi yang beriman, HT bisa saja menjadi cara untuk menghayati iman itu (seperti orang-orang Israel yang menyambut Yesus dengan baik dalam Lukas 1-2). Tetapi kelompok penyesat menjadikan ketaatan kepada aturan-aturan HT sebagai hal pokok, bukan lagi sebagai cara untuk menyatakan iman.

Kemudian, a.13 menjawab masalah pertama, yaitu keberdosaan manusia yang diungkapkan tetapi tidak dipecahkan oleh HT. (Masalah kedua adalah contoh keberdosaan itu, yaitu mengabaikan iman, tetapi juga dikembangkan dalam 3:19-25.) Kristus dikutuk HT bukan karena sikap hati yang mengabaikan semangat HT (seperti dalam a.10b), melainkan karena pada salib itu dia dihitung sebagai pemberontak yang layak dihukum mati. Ul 21:22-23 yang dikutip Paulus di sini mungkin membatasi kebiasaan di mana orang-orang yang dianggap sungguh jahat digantung dan tidak dikuburkan, supaya jangan roh mereka mendapat istirahat. Hal itu sama seperti jika dalam adat lama Toraja upacara Rambu Solo’ tidak diadakan supaya arwah orangnya dikutuk. Kristus tergolong dengan pendosa berat dan menanggung kutuk HT itu “karena kita” atau “demi” (huper) kita. Gambarannya mungkin bahwa kutuk itu terserap oleh Kristus, sehingga tidak lagi mengancam kita yang berlindung pada-Nya. Kutuk berada dalam wilayah maut, dan termasuk semua yang melawan damai sejahtera (bnd. Ul 28:1-14 dengan Ul 28:15dst). Kutuk yang diperjelas HT itu melatarbelakangi bahasa Paulus tentang “dunia jahat yang sekarang ini” (1:4), dan Kristuslah yang menebus kita dengan menetralisir kutuk itu. Korban-korban dalam adat Toraja memiliki fungsi yang searah dengan tafsiran ini.

Hasilnya, dalam a.14, ialah bahwa berkat Abraham itu sampai kepada bangsa-bangsa, terutama dalam hadirat Roh Kudus yang melakukan mujizat (3:5), berbuah kasih, sukacita dan damai sejahtera di dalam jemaat (5:22), dan menghasilkan hidup yang kekal (6:8).

Bagaimana penguraian Paulus ini dapat diterapkan dalam konteks sekarang? (Dalam bahasa homiletika, bagaimana sampai pada amanat khotbah?) Dari pembahasan di atas, berkat Roh Kudus dapat dimaknai baik untuk kehidupan sekarang (3:5, 5:22) maupun untuk keselamatan eskatologis (6:8). Lebih rumit adalah soal HT, karena sekarang tidak banyak yang mengusulkan sunat! Tetapi hidup dari perbuatan menjadi hal yang lebih luas daripada HT saja dalam Ef 2:8-9 dan Tit 3:4, sehingga bersama dengan para Reformator kita bisa melihat semua bentuk agama yang mementingkan aturan di atas iman sebagai hal yang mengancam anugerah di dalam Kristus. Termasuk aturan gereja. Kemudian, kita juga melihat sikap-sikap pada masa kini yang menyempitkan jangkauan anugerah Allah dalam Kristus hanya pada kelompok tertentu, atau merendahkan golongan tertentu walaupun mereka sama-sama berada di dalam Kristus. Kedua hal itu bisa saja bersatu. Gereja seringkali menganggap bahwa pemberitaan Kristus bermaksud untuk menjadikan orang sama seperti kita, dalam pola bergereja yang kebarat-baratan dan mengandaikan tingkat pendidikan yang lumayan. Tetapi bisa saja iman kepada Kristus yang sejati daapt dinyatakan dalam bentuk yang lebih kontekstual. Jangan sampai kekakuan bergereja menghambat berkat iman kepada Kristus sampai pada semua bangsa.

Penebusan Kristus juga perlu dikontekskan, bukan dalam artian mencari padanannya dalam konteks sekarang melainkan mencari penjelasannya dari konteks sekarang. Penebusan Kristus bukan sebuah contoh pendamaian antara Allah dan manusia melainkan kenyataan yang kepadanya contoh-contoh pendamaian yang lain merujuk, apakah itu sistem kurban dalam HT, ataupun pemahaman tentang pendamaian dalam budaya setempat sejauh mana itu dapat membantu jemaat untuk memahami peristiwa kunci ini. Penebusan Kristus semestinya menjadi pokok amanat khotbah, dengan tujuan supaya jangan kita mengandalkan usaha kita yang lain. Paulus heran bahwa jemaat berbalik dari anugerah Allah, dan semestinya setelah mendengar bagaimana Kristus menebus kita dari kutuk HT jemaat juga menghindari apapun yang menjadikan kematian Kristus sia-sia.


Yeh 18:1-13 Kemungkinan untuk bertobat dan selamat

September 13, 2010

Yehezkiel, seperti sebagian besar nabi-nabi yang lain, berbicara tentang hukuman Israel karena memberontak terhadap Tuhan, dan keselamatan kemudian karena kesetiaan Tuhan di hadapan pemberontakan itu. Misalnya, dalam p.16 ada perumpamaan tentang Israel sebagai gadis yang diselamatkan dan dinikahi, kemudian berzinah dengan orang lain, sebagai gambaran Israel yang setelah diselamatkan dari Mesir mengandalkan bangsa-bangsa yang lain bukan Tuhan. Tentu, perumpamaan itu berbicara tentang Israel sebagai bangsa, artinya sebagai kolektif, yang di dalamnya semua orang senasib. Hal itu menarik perhatian karena kita tahu dalam PB bahwa manusia harus memberikan pertanggungjawaban kepada Allah secara perorangan (2 Kor 5:10). Namun, dalam sindiran yang dikutip dalam 18:3 yang dipersoalkan adalah soal perjalanan waktu, bahwa Israel dihukum sebagai bangsa yang ada berabad-abad. Mereka mengeluh bahwa nenek moyang berdosa, tetapi keturunannya yang dihukum. Dan memang, kalau kehancuran Yerusalem, hanya satu angkatan yang mengalaminya. Israel (atau golongan atas) di bawah raja Manasye, misalnya, hidup cukup tenteram walaupun di bawah pemerintahannya ada banyak pemberhalaan dan kejahatan (lih. 2 Raj 21).

Allah menjawab keluhan itu dengan pernyataan bahwa setiap orang akan mati karena dosanya sendiri (a.4). Contoh yang berikut menyangkut tiga generasi, yaitu perjalanan waktu. Yang satu baik, yang kedua jahat, yang ketiga baik, diukur oleh hukum Taurat yang merujuk ke kasih kepada Allah (makan daging persembahan, melihat kepada berhala-berhala) maupun berbagai aspek kasih kepada sesama. Karena p.17 berbicara tentang raja-raja Israel (secara tersirat Yoyakim dan Zedekia), mungkin saja contoh yang akan muncul dalam pikiran pendengar adalah Yosia (raja yang baik), Yoyakim (raja yang jahat), dan pertanyaan ialah, apakah Zedekia akan baik? Maksudnya bahwa seandainya Zedekia serta bangsa Israel bertobat, mereka tidak akan dihukum. Mereka dihukum karena mereka ikut dalam dosa nenek moyangnya, bukan karena dosa nenek moyangnya ditimpakan kepada mereka dengan sembarangan. (Kel 20:5 barangkali bermaksud sama, yaitu bahwa Allah membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya yang meniru dosa bapanya.)

Pemahaman tentang dosa yang diteruskan kepada generasi berikut masih penting bagi kita. Dosa yang paling tidak diperhatikan adalah dosa yang kita tiru dari orangtua dan budaya. Misalnya, sebagian cara berkorupsi yang sebenarnya merampas tidak dianggap salah karena dianggap biasa saja. Kelalaian terhadap yang lapar dan telanjang juga bisa tertanam dalam pola masyarakat sehingga tidak disadari sebagai dosa. Tetapi walaupun tidak disadari, hal-hal itu tetap bertentangan dengan kehendak Tuhan, sehingga seluruh bangsa atau budaya bisa saja berada di bawah hukuman Allah. Gerejapun berada di bawah hukuman Allah sejauh budaya gereja itu membiarkan dosa.

Dalam bagian berikut dalam pasal 18 ini (seluruh pasal sebenarnya merupakan satu bagian utuh yang sulit dipotong pada a.13) soal tanggung jawab secara perorangan muncul dengan jelas. Jika satu generasi dapat berbalik dari jalan generasi sebelumnya, satu orang pun bisa berubah haluan (bertobat) dan dengan demikian selamat (18:21-22). Tidak jelas bagi saya bagaimana seorang penduduk Yerusalem dapat selamat ketika Yerusalem dikepung dan dihancurkan. Tetapi dalam perkembangan teologi Alkitab, pemahaman tentang keselamatan secara perorangan itu bermuara pada pemahaman tentang keselamatan eskatologis, yaitu bahwa keselamatan tidak bisa hanya dalam kehidupan ini. Harus ada kebangkitan dari antara orang mati supaya orang yang setia kepada Allah tetapi mati sebelum pembaruan dunia terwujud tidak kehilangan bagiannya. Pengharapan itu yang diteguhkan oleh kebangkitan Yesus.

Kadangkala orang memakai budaya atau contoh orangtua sebagai alasan untuk membenarkan diri. Kalau di atas dijelaskan bahwa budaya bisa berada di bawah hukuman Allah, di sini kita melihat tetapi jalan menuju keselamatan bukan dengan membenarkan diri melainkan dengan bertobat. Sebenarnya, Yehezkiel pesimis tentang kemampuan orang Israel untuk bertobat, hanya dengan campur tangan Allah maka orang dapat memiliki hati yang baru (Yeh 18:31; 36:26-27). Tetapi kita hidup dalam zaman perjanjian yang baru, sehingga kita sudah diberi hati yang baru dan Roh Kudus.


Yesaya 33 Politik Kerajaan Allah

April 20, 2010

Yesaya 33 menyangkut harapan bahwa keadaan Sion yang masih dikuasai perusak dan penggarong akan dipulihkan (a.1, bnd. Yes 1:21-26). Hal itu akan merupakan hukuman bagi yang jahat, sekaligus keselamatan bagi umat Tuhan yang tertindas (“ya, selamatkan kami”), sehingga nabi berdoa kepada Tuhan untuk hal itu (a.2). Dia bernubuat bahwa hal itu akan terjadi, karena “Tuhan tinggi luhur” (aa.5-6), sampai Sion sudah pulih bukan hanya dari penindasan tetapi juga dari dosa dan penyakit (a.24).

Jadi, pasal ini menyangkut harapan eskatalogis (= hal-hal terakhir), yaitu bagaimana Allah akan mengakhiri zaman ini dengan mengintervensi dalam dunia untuk menghukum dan menyelamatkan. Dalam konteks itu, ekonomi dan keamanan, dua fungsi politik yang terutama, berjalan beda dari yang biasa. Dalam a.6, “kekayaan yang menyelamatkan ialah hikmat dan pengetahuan”, dan “harta benda Sion”, yaitu kota umat Tuhan, ialah “takut akan Tuhan”. Setelah Tuhan bangkit untuk bertindak (aa.7-13), “orang-orang yang berdosa terkejut” (a.14). Harta benda mereka tidak berguna menghadapi hukuman Allah. Jadi, dalam aa.15-16 orang yang aman adalah “orang yang hidup dalam kebenaran dsb”. Dia aman seperti orang yang tinggal di benteng di tempat yang tinggi (a.16). Setelah hukuman itu, Tuhan sendiri akan puas karena tidak lagi menghadapi bangsa yang biadab (a.19).

Jadi, kekayaan yang kita kejar tergantung pada politik apa yang kita percayai. Apakah politik Indonesia yang paling nyata, yang di dalamnya korupsi dan kepentingan kalangan sendiri dianggap yang paling masuk akal? Atau, apakah Kristus telah bangkit dan akan datang kembali, sehingga politik Kerajaan Allah yang paling nyata, yang di dalamnya kebenaran dan kejujuran yang paling masuk akal? Aa.21-22 mengatakan bahwa Tuhan mulia, Hakim kita dan Raja kita. Keamanan siapa yang akan kita andalkan, dunia atau Allah?


Zef 3:9-20 Hukuman dan Keselamatan

Desember 7, 2009

Zefanya bernubuat tentang hukuman Allah terhadap seluruh bumi, baik bangsa-bangsa (p.2) maupun Israel (3:1-7). Keduanya akan dihukum Allah (3:8).

Namun, di balik hukuman itu ada keselamatan, baik untuk bangsa-bangsa (aa.9-10) maupun Israel (aa.11-13). Hukuman itu berupa pemurnian. Untuk bangsa-bangsa pemurnian itu merupakan pembersihan bibir sehingga mereka beribadah kepada Tuhan, bukan pada dewa-dewi (a.9). Untuk Israel pemurnian itu merupakan penyingkiran orang-orang yang ria congkak (a.11). Yang luput dari penyingkiran itu adalah yang rendah hati dan lemah (a.12) sehingga berbuat baik (a.13). Kata-kata “yang rendah hati” dan “lemah” itu sering merujuk kepada kaum orang yang miskin atau tak berdaya, sehingga mencari perlindungan pada Tuhan. Sikap itulah yang cocok dengan Kerajaan Allah (bnd. Mt 5:3).

Di dalam Kristus hukuman yang merupakan pemurnian itu bertahap dua. Pada tahap pertama Allah menjatuhkan hukuman di atas Kristus, sehingga ada umat dari bangsa-bangsa yang telah berbalik dari dewa-dewi untuk beribadah kepada Allah, sehingga bibirnya sedang dibersihkan. Itulah kedatangan Kristus yang pertama. Tahap kedua terjadi ketika Kristus datang kembali. Pada saat itu akan ada penyingkiran orang-orang yang menolak keselamatan Allah dan tidak berlindung pada Kristus. Kedua kedatangan Kristus itulah yang dirayakan pada masa Adven. Peringatan di sini ialah bahwa yang diterima Allah bukan orang yang aktivis atau berjabatan di lembaga gereja, melainkan orang yang sadar dalam hati bahwa mereka tidak memiliki apa-apa di hadapan Allah, dan dalam kerendahan hati itu bertobat dari kejahatan.

Oleh karena keselamatan itu, ada pujian yang seru dan penuh semangat kepada Tuhan. Ada seruan untuk memuji Allah (a.14), disertai alasan (a.15), perkataan yang menguatkan (aa.16-18a), dan janji dari Allah (aa.18b-20). Keadaan yang diandaikan di sini adalah Israel dalam pembuangan (“membawa kamu pulang”, a.20). Pembuangan adalah hukuman yang perlu disingkirkan itu (a.15) dan alasan Sion / Yerusalem menjadi takut dan lesu (a.16). Yang menjadi dasar pujian dan pengharapan adalah Tuhan. Dia adalah raja di antara umat-Nya (a.15) dan pahlawan yang memberi kemenangan (a.17). Dia juga bergirang atas dan mengasihi umat-Nya (a.18).

Nubuatan ini digenapi dalam Sang Israel yang sejati, yakni Kristus. Pembuangan Israel tercakup dalam kematian-Nya, dan kepulangan Israel tercakup dalam kebangkitan-Nya (bnd. Nubuatan keselamatan). Hukuman maut (dibuang dari hadirat Allah) sudah disingkirkan karena ditanggung Kristus. Musuh dosa dan maut telah dikalahkan. Tentu, penggenapan nubuatan ini juga bertahap dua—malapetaka dan kejahatan belum dilenyapkan. Namun, dalam Kristus kita telah dibawa pulang, dan pada masa Adven ini selayaknya kita memuji Allah yang telah dan akan menyelamatkan kita.


Hag 1:1-11 Membangun jemaat

Juli 27, 2009

Bayangkan jemaat yang sedang mengumpulkan uang untuk membangun gedung gereja. Ada orang yang sebenarnya mampu tetapi pemberiannya tidak seperti yang diharapkan. Kemudian dia ditimpa musibah keuangan. Lalu, jemaat membaca perikop ini dan sepertinya langsung mendapat penjelasannya. Sama seperti Israel pasca-pembuangan pelit terhadap Tuhan dalam bentuk tidak membantu pembangunan Bait Allah sehingga mengalami kekurangan oleh karenanya, orang itu juga dihukum Allah. Benarkah tafsiran itu?

Perikopnya memang memberitahu kita bahwa Israel mengalami kekurangan karena belum membangun Bait Allah. Pada saat Hagai bernubuat, gelombang pertama orang yang kembali dari pembuangan sudah hampir 20 tahun di Yerusalem. Menurut Ezra 3:1-3 mezbah sudah didirikan, tetapi Ezra 4:1-5 menceritakan perlawanan dari penduduk aslinya sehingga pembangunan gedung terhambat. Dengan meninggalnya raja Koresh (10 tahun sebelum Hagai, yakni 530 sM), pembangunan mandek sama sekali. Tetapi pada saat Hagai bernubuat seorang raja yang lain sudah naik takhta yang sama sifat terbukanya dengan Koresh, yaitu raja Darius (a.1). Tujuan semula adalah membangun Bait Allah, seperti mereka sendiri ketahui (a.2), dan keadaan dengan jelas sudah memungkinkan karena mereka bisa membangun rumah masing-masing (aa.4, 9b). Tetapi umat Allah belum bergerak. Jadi, sebagaimana dinyatakan Allah melalui nabi Hagai, kekurangan yang dialami (aa.5-6, 9-11) adalah usaha Allah untuk menyadarkan mereka. Usaha Allah melalui keadaan itu disertai firman Allah melalui nubuatan Hagai. Firman itu bertanya (a.4), menantang (aa.5, 7) dan memerintah (a.8a). Tanpa firman itu, keadaan masih kabur.

Di pertengahan firman itu ada janji Allah (a.8b). Janji di sini bukan bahwa Allah akan berkenan kepada mereka dengan menghentikan kekeringan dsb (lihat 2:19-20 untuk janji seperti itu). Janji di sini ialah bahwa Allah akan berkenan pada Bait Allah yang dibangun. Soalnya, kemampuan mereka jelas tidak sepadan dengan kemampuan Salomo pada puncak kejayaan Israel, dan memang hasil mereka kemudian tidak seperti Bait Allah yang pertama (2:4). Tetapi Allah tetap berjanji bahwa Dia akan berkenan kepada apa yang mereka bangun sehingga Dia dimuliakan olehnya. Jika itulah janji Allah, maka semestinya itulah kerinduan mereka. Dalam ayat-ayat berikut ternyata demikian, karena mereka tergerak dan pembangunan dimulai.

Bagaimana firman itu bagi kita umat Allah dalam Kristus? Satu hal yang perlu diingat ialah bahwa bentuk janji Allah sudah berubah. Dalam PL janji Allah kepada Israel termasuk keturunan, hasil bumi dsb (misalnya Ul 28:1-14). Namun dalam PB, janjinya baik lebih mulia maupun lebih susah. Kita dijanjikan dunia tanpa kesusahan sama sekali kelak, tetapi untuk sementara janjinya sekadar pencukupan untuk mencari Kerajaan Allah (Mt 6:33), disertai berbagai kesusahan (Kis 14:22). Kesusahan bisa saja pertanda bahwa kita setia, bukan hukuman karena dosa. Oleh karena itu, saya cukup meragukan absahnya kesimpulan jemaat di atas. Saya juga meragukannya karena gedung gereja tidak sepadan dengan Bait Allah. Kristus adalah Bait Allah (Yoh 2:21), dan tubuh-Nya, yaitu jemaat, ikut juga sebagai Bait Allah (Ef 2:21-22). Gedungnya hanya sarana.

Jadi, firman ini mempertanyakan sikap kita terhadap kemuliaan Allah sebagaimana dinyatakan dalam jemaat. Jika kita menyimak kehidupan jemaat kita akan sadar bahwa kita tidak layak sebagai tubuh Kristus, tempat Allah hadir oleh Roh Kudus-Nya. Hanya perkenan Allah–yang disampaikan dalam firman Injil–sehingga kita berani mengharapkan bahwa Allah akan dimuliakan dalam jemaat. Sekali lagi, janji itu semestinya kerinduan kita. Kita membangun jemaat dalam pengharapan bahwa Allah akan berkenan dan menyatakan kemuliaan-Nya. Semoga kita juga tergerak oleh firman Allah ini.


Zef 1:1-7 Hukuman umat Allah

Juni 1, 2009

Kita suka akan harapan bahwa orang fasik akan dihukum, karena seringkali mereka sepertinya luput dari akibat yang semestinya dalam dunia ini. Zefanya mulai dengan pengumuman bahwa Allah akan menghukum seluruh dunia (aa.2-3). Gambarannya mengingatkan kita akan air bah, yang di dalamnya manusia yang fasik dan hewan sama-sama lenyap oleh karena murka Allah (lih. Kej 6). Mungkin saja pendengar Zefanya senang bahwa bangsa-bangsa kafir di sekitarnya akan dihukum dan membayangkan bahwa mereka sebagai umat Allah akan seperti Nuh yang diselamatkan. Ternyata tidak demikian.

Zefanya bernubuat dalam pemerintahan raja Yosia yang berkuasa selama 640-609 sM. Ayah dan kakeknya adalah raja yang fasik. Hal-hal yang membudaya selama kedua raja jahat itu seperti yang digambarkan dalam aa.4-6. Bukannya Yahweh, Allah Israel, ditolak seluruhnya (a.5), tetapi Dia hanya salah satu dewa yang disembah, malah bukan dewa yang utama ketika orang mau mengambil keputusan (a.6). Keadaan itu mirip dengan orang kristen sekarang yang menyembah Allah dalam Kristus pada hari Minggu di gereja tetapi menyembah kekuasaan di tempat kerja, gengsi di tengah masyarakat, dan mencari dukun ketika menghadapi masalah yang sulit dipecahkan.

Oleh karena itu, Yehuda akan ikut dihukum. Hukuman itu dikaitkan dengan hari Tuhan, dan digambarkan sebagai perjamuan korban. Perjamuan korban biasanya adalah waktu untuk bersyukur, karena ada hewan yang disembelih dan keluarga makan bersama daging korban itu. Hanya, di sini korbannya Yehuda sendiri. Para undangannya dalam perkembangan sejarah merujuk ke tentara Babel yang menghancurkan Yerusalem. Justru bukan bangsa-bangsa yang pertama-tama dihukum melainkan umat Allah sendiri (bnd. 1 Pet 4:17).

Hukuman Allah kepada Israel yang dinubuatkan di sini adalah permulaan dari hukuman seluruh manusia. Syukur bahwa hukuman itu telah ditanggung Kristus sebagai pengganti kita, sehingga Dia menjadi tempat keselamatan seperti Nuh (1 Pet 3:20-21)! Pertanyaannya ialah apakah kita sudah berlindung pada Kristus, atau apakah kita berharap bahwa Kristus akan menyelamatkan kita dari penghakiman terakhir, tetapi menghadapi masalah duniawi kita bergantung pada hal-hal yang lain yang justru bertentangan dengan Kristus. Kita tahu dan berharap bahwa Tuhan akan menyapu bersih dunia yang kotor ini. Jangan sampai kita jadi tersapu karena hanya berpura-pura berlindung pada Kristus.


Yer 29:1-9 Keadaan sebagai perantau

Mei 11, 2009

“Kesejahteraan kota adalah kesejahteraanmu” (Yer 29:7) adalah pesan yang kadangkala dilupakan oleh gereja yang mementingkan dirinya daripada masyarakat. Namun, jangan sampai pesan itu diartikan bahwa tugas seorang percaya sekadar menjadi warga yang baik. Pesan Yeremia ini menyiratkan suatu ketegangan, yaitu ketegangan antara harapan akan kerajaan Allah (yaitu bagi pembaca surat Yeremia kembali ke Israel, tanah perjanjian) dan keadaan dalam dunia sementara (bagi pembaca surat itu menetap di Babel).

Yeremia menubuatkan kehancuran Yerusalem oleh karena dosa Israel. Pada saat peristiwa yang diceritakan dalam a.2, hal itu belum terjadi, dan banyak yang yakin bahwa Tuhan akan mengalahkan kuasa Babel sehingga orang-orang yang diangkut ke Babel dapat kembali, termasuk beberapa nabi di Babel (aa.8-9). (Pembuangan dalam a.2 terjadi pada tahun 597 sM, sedangkan kehancuran Yerusalem terjadi pada tahun 587 sM.) Oleh karena itu, firman Tuhan disampaikan kepada Yeremia untuk disampaikan melalui surat kepada mereka.

Jika sebentar lagi Babel akan dikalahkan dan Israel dipulihkan, seperti nubuatan palsu itu, maka tentu kegiatan yang diusulkan dalam aa.4-7 tidak masuk akal. Yeremia berpesan kepada mereka untuk menetap dengan mendirikan rumah dan keluarga di Babel. Alasannya muncul dalam a.10, yaitu bahwa pembuangan akan berlangsung 70 tahun. Angka 7 menyimbolkan kegenapan, dalam konteks ini kegenapan hukuman. Dalam sejarah berikut, orang-orang buangan baru diperbolehkan kembali ke Israel pada tahun 539 sM.

Menetap di Babel dengan mendirikan rumah berarti menerima nubuatan Yeremia bahwa dosa Israel harus dihukum Allah sebelum keselamatan dapat diharapkan kembali. Yeremia tidak menyangkal bahwa Allah akan mewujudkan kerajaan-Nya di tanah Israel, bukan di Babel. Hanya waktunya yang dipersoalkan. Orang-orang buangan harus bersabar menunggu waktu Tuhan.

Perjanjian Baru menempatkan kita sebagai to mentiruran, perantau. Artinya bahwa harapan kita bukan dunia ini (Babel) melainkan langit dan bumi yang baru (Yerusalem), pemulihan segala sesuatu ketika Kristus kembali. Tanpa harapan itu, pesan Yeremia gampang saja. Jika harapan kita adalah untuk hal-hal sementara saja, sudah barang tentu kita akan mencari kesejahteraan kota. Hanya jika kita tidak puas dengan dunia ini maka kita harus diingatkan untuk mencari kesejahteraannya.

Tetapi menjadi perantau juga berarti bahwa kita belum sampai di dunia baru, sama seperti orang-orang buangan yang disurati Yeremia. Jadi, keadaan kita ada di dunia sekarang. Bukannya kita akan luput dari segala penyakit, masalah dan bencana, seperti janji nabi palsu modern. Oleh karena itu kita berdoa untuk kota (dan negara), supaya pemerintah, ekonomi, prasarana dan masyarakat berfungsi dengan baik. Dengan demikian kita dapat bertumbuh dan berhasil, sambil menunggu janji yang lebih baik.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.