Ef 1:3-14 Menghayati berkat-berkat Allah

November 9, 2009

Perikop ini kaya, sangat kaya. Jadi saya minta maaf jika “renungan” ini agak panjang dan sarat dengan ide. Dalam pendahuluan ini saya coba membahas satu dua hal yang mungkin mencegah kita memuji Allah sesuai dengan isi perikop ini. Kemudian ada komentar per bagian.

A.3 mengangkat tema utama perikop ini, yaitu berkat-berkat rohani yang menjadi alasan untuk memuji Allah. Berkat-berkat itu termasuk kekudusan (4), menjadi anak Allah (5), pengampunan (7), pengetahuan rencana Allah (9) dan Roh Kudus (13). Apakah berkat-berkat ini menarik bagi semua jemaat (termasuk sebagian yang berpendidikan teologi)? Untuk sebagian, saya dapat membayangkan tuduhan (dalam hati) bahwa “rohani” berarti “tidak praktis”, “tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari” dsb. Coba ada uang sekolah, penyembuhan, pemberantasan korupsi dsb, baru berkat dianggap berlimpah-limpah.

Bahwa pandangan itu ada benarnya cukup jelas dari gambaran berkat/kutuk dalam PL (misalnya Ul. 26). Ada yang mengatakan bahwa harapan yang “materialistis” itu sudah diganti dengan harapan yang “rohani”. Pembahasaan itu berbahaya. Jauh lebih tepat mengatakan bahwa harapan yang materialistis itu ditunda. Ketika semua dipersatukan dalam Kristus sebagai Kepala, keadaannya akan seperti dalam Why 21, dengan bumi yang baru yang di dalamnya tidak ada yang merusak kehidupan lagi.

Namun, dalam PL pun berkat utama adalah pengenalan akan Allah. Mengapa Israel dibebaskan dari Mesir? Supaya “menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu” (Kel 6:6). Berkat-berkat rohani yang diuraikan menyangkut berkat utama itu. Kita bisa menjadi anak Allah karena ditebus oleh darah Kristus sehingga kita memiliki jaminan atas warisan (LAI “bagian”) yang dijanjikan. Mengapa hal-hal itu terasa abstrak, terasa tidak menyentuh kehidupan nyata? Saya duga jawabannya dalam a.13. Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat itu bagian dari kehidupan kita, kebutuhan nyata. Sama seperti orang dari luar Toraja sulit memahami keasyikan pesta orang mati di Toraja [maaf kepada pembaca dari luar Toraja :)], orang tanpa Roh Kudus sulit memahami mengapa Allah begitu layak dipuji karena berkat-berkat-Nya dalam Kristus. (Mungkin perlu dicatat bahwa harapan dari Injil yang ditanam Roh Kudus ternyata sangat membantu kita untuk memaksimalkan keadaan yang ada, entah baik atau buruk, sehingga ada gunanya untuk sekarang. Khususnya, kita dimampukan untuk berjuang dalam kasih, seperti dalam pp.4-6.)

Dalam komentar di bawah, saya menebalkan kata-kata tentang kedaulatan Allah, menggarisbawahi kata-kata tentang kemuliaan Allah dan pujian, dan memiringkan kata-kata tentang anugerah (kasih karunia). Perikop ini dimulai dan diakhiri dengan panggilan untuk memuji Allah, dan inti perikop ini adalah anugerah Allah yang terwujud dalam Kristus (aa.7-8). Bagaimana dengan kedaulatan Allah? Orang suka pusing menghadapi pernyataan seperti dalam a.11 bahwa keputusan orang “dari semula ditentukan” dan bahwa Allah “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”. Di mana lagi kebebasan manusia kalau demikian? Sebagai jawaban, perlu diingat bahwa Allah adalah Pencipta, bukan salah satu kuasa di antara banyak kuasa yang lain dalam dunia ini. Jadi, dari satu segi semua kuasa dan kemampuan, termasuk kehendak kita, bergantung pada kuasa Allah yang menopang segala sesuatu. (Jadi, yang menjadi misteri ialah bahwa kita memiliki kehendak bebas, bukan bahwa Allah berdaulat.) Tetapi hal itu bukan fokus Paulus di sini. Rencana Allah diwujudkan dalam Kristus dan diterapkan oleh Roh Kudus. Kedaulatan Allah adalah pelayan rencana Allah itu. Jadi, kedaulatan Allah bukan suatu kehendak yang kabur (sehingga menakutkan), tetapi melayani rencana Allah yang sudah dinyatakan dalam Kristus (a.9).

Jadi, selayaknya perikop ini menjadi bahan untuk kita memuji Allah. Jika kita dimeteraikan dengan Roh Kudus sehingga berada di dalam Kristus maka semua berkat ini adalah milik kita, milik kita yang sangat berharga.

(3) Terpujilah Allah dan Bapa [dari] Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

Kata Bapa tidak merujuk ke Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan Allah adalah juga Bapa dari Tuhan Yesus Kristus [satu artikel (ho) dipakai untuk kedua kata Allah (theos) dan Bapa (pater)]. Perikop ini bersifat ketritunggalan, karena kata rohani merujuk ke karya Roh Kudus, atau paling sedikit dalam a.14 Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat rohani ini nyata dalam kehidupan.

(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, (6) supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

A.4 adalah pernyataan mendasar; a.5 memberi keterangan [kata kerjanya adalah partisip, bukan indikatif]; a.6 adalah tujuannya. Bahasa “kudus”, “tak bercacat” dan “anak” adalah bahasa yang dipakai dalam PL untuk umat Allah, sama seperti “menjadikan kita milik Allah” dalam a.14.

(7) Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, (8) yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. (9) Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus (10) sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

Aa.7-8 adalah pernyataan mendasar; a.9 memberi keterangan [juga partisip], mungkin atas kelimpahan kasih karunia Allah—bukan hanya bahwa kita ditebus oleh darah Kristus tetapi juga kita diberitahu mengenai rencana agung Allah; a.10 adalah tujuannya. Kali ini tujuannya bukan pujian melainkan pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Darah Kristus dalam a.7 adalah caranya untuk a.4, dan bagian ini (khususnya a.7 dan a.10) menjelaskan mengapa ada “di dalam Dia” terus-menerus dalam perikop ini. Kristus adalah pewujud rencana Allah.

(11) Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– (12) supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

Kata kami adalah tafsiran—dalam bahasa Yunani (dan Ibrani dan Inggris) tidak dibedakan anatara kita dan kami. Tafsiran itu tepat, tetapi bagi pembaca asli baru akan jelas dalam a.12 dalam perkataan “yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus” bahwa “kita/kami” merujuk pada kelompok Paulus, bukan pembaca. “Kami” adalah orang-orang Yahudi (lihat juga 2:1-3 dan 2:11-12), yang memang menjadi yang pertama percaya. Mereka adalah tahap pertama dalam pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Tujuannya pujian kembali (a.12b).

(13) Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. (14) Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Tahap berikut dalam pemersatuan segala sesuatu adalah orang non-Yahudi yang jadi percaya (bnd. 2:11-22). Kedua ayat ini adalah dasar ringkas untuk suatu urutan keselamatan (ordo salutis). Yang pertama adalah pendengaran Injil tentang keselamatan, sehingga ada yang percaya. Yang percaya dimeteraikan dengan Roh Kudus (yang menunjukkan bahwa mereka adalah milik Allah) yang menjadi jaminan bahwa mereka akan menerima segala yang dijanjikan Allah pada akhir zaman itu. Jadi, pemberitaan menjadi pintu masuk untuk keselamatan eskatologis (hidup kekal). Roh Kuduslah yang menerapkan dalam kehidupan orang percaya rencana Allah yang terwujud dalam Kristus. Namun, perlu diperhatikan apakah tujuan Allah. Bukan keselamatan saya saja (sebagai individu), melainkan kita sebagai umat milik Allah.


Mk 7:24-30 Mencari tempat di meja Yesus

September 24, 2009

Cerita ini mendapat tempat yang menarik dalam alur cerita Markus. Yesus baru berdebat dengan para Farisi tentang kenajisan, dan Yesus mengajar mereka bahwa dosa yang menajiskan, bukan hal-hal lahiriah (7:14-23). Dalam perikop ini, ternyata kebangsaanpun tidak menajiskan, karena permohonan perempuan non-Yahudi ini bisa dikabulkan. Hanya, jika maksud Yesus adalah mengajarkan hal itu, mengapa Yesus sendiri menyusahkan pendekatan perempuan itu?

Dalam perikop yang sejajar dalam Injil Matius (15:21-28) soal kebangsaan memang menonjol. Kebangsaan perempuan adalah informasi pertama yang disebut tentang orangnya, dan Yesus mengabaikannya serta mengulang apa yang Dia katakan pada para murid sebelum mereka diutus ke desa-desa Israel bahwa Dia datang untuk domba-domba yang hilang dari bangsa Israel (Mt 10:5-6; 15:24). Sikap-Nya terhadap perempuan itu adalah soal fokus, tetapi oleh karena imannya yang kuat Yesus bisa memberi pengecualian baginya. Dalam Injil Matius fokus itu menyangkut sejarah keselamatan. Berdasarkan nas seperti Yes 49:5-6 Yesus harus memulihkan Israel dulu, baru menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Jadi, dalam kematian dan kebangkitan-Nya, sang Israel sejati, yaitu Yesus, memulihkan Israel. Baru setelah itu Yesus menyuruh murid-murid-Nya pergi ke seluruh dunia. Sebagai catatan, bagi saya harapan yang luas dalam PL (dan dalam kalangan orang Yahudi juga, bnd. Mt 23:15) bahwa bangsa-bangsa akan masuk ke dalam Kerajaan Allah membuat satu tafsiran yang populer kurang meyakinkan, yaitu tafsiran bahwa Yesus baru menjadi sadar dalam peristiwa ini bahwa Kerajaan Allah dapat merangkul orang-orang non-Yahudi. Sikap Yesus adalah soal strategi teologis, bukan kekurangan kesadaran.

Dalam penyampaian Injil Markus yang pertama muncul tentang perempuan itu adalah soal anaknya yang kerasukan. Soal kebangsaan muncul hanya sebagai latar belakang untuk jawaban Yesus yang mengejutkan itu. Soal anak dan anjing memang merujuk ke Israel dan bangsa-bangsa, tetapi tema yang menonjol dalam Injil Matius itu hanya sedikit dalam Injil Markus. Mungkin yang lebih relevan dalam Injil Markus adalah redefinisi Yesus tentang “keluarga Allah” pada akhir p.3, di mana keluarga Yesus adalah orang-orang yang duduk belajar daripada-Nya untuk melakukan kehendak Allah. Dengan demikian pernyataan Yesus tentang hak anak untuk mendapat makanan bermaksud untuk menguji iman perempuan itu. Apakah dia bertanya sekadar untuk mendapatkan sesuatu, atau apakah dia menganggap diri bagian dari keluarga yang dibentuk Yesus? Jawabannya cerdik. Tanpa menyangkali statusnya sebagai non-Yahudi dia menempatkan diri sebagai anjing peliharaan yang tetap adalah bagian dari keluarga (dan dalam versi Markus mendapat sisa dari bagian anak-anak). Yesus yang melihat imannya dalam kata-kata itu mengabulkan permintaannya.

Memang, untuk kita pasca-kebangkitan jelas bahwa Injil terbuka untuk semua bangsa. Tinggal apakah kita datang kepada Yesus sekadar untuk mendapatkan sesuatu, atau karena kita mau mendapat tempat di meja-Nya, biarpun kedudukan kita di dalam-Nya serendah anjing.


Hag 1:1-11 Membangun jemaat

Juli 27, 2009

Bayangkan jemaat yang sedang mengumpulkan uang untuk membangun gedung gereja. Ada orang yang sebenarnya mampu tetapi pemberiannya tidak seperti yang diharapkan. Kemudian dia ditimpa musibah keuangan. Lalu, jemaat membaca perikop ini dan sepertinya langsung mendapat penjelasannya. Sama seperti Israel pasca-pembuangan pelit terhadap Tuhan dalam bentuk tidak membantu pembangunan Bait Allah sehingga mengalami kekurangan oleh karenanya, orang itu juga dihukum Allah. Benarkah tafsiran itu?

Perikopnya memang memberitahu kita bahwa Israel mengalami kekurangan karena belum membangun Bait Allah. Pada saat Hagai bernubuat, gelombang pertama orang yang kembali dari pembuangan sudah hampir 20 tahun di Yerusalem. Menurut Ezra 3:1-3 mezbah sudah didirikan, tetapi Ezra 4:1-5 menceritakan perlawanan dari penduduk aslinya sehingga pembangunan gedung terhambat. Dengan meninggalnya raja Koresh (10 tahun sebelum Hagai, yakni 530 sM), pembangunan mandek sama sekali. Tetapi pada saat Hagai bernubuat seorang raja yang lain sudah naik takhta yang sama sifat terbukanya dengan Koresh, yaitu raja Darius (a.1). Tujuan semula adalah membangun Bait Allah, seperti mereka sendiri ketahui (a.2), dan keadaan dengan jelas sudah memungkinkan karena mereka bisa membangun rumah masing-masing (aa.4, 9b). Tetapi umat Allah belum bergerak. Jadi, sebagaimana dinyatakan Allah melalui nabi Hagai, kekurangan yang dialami (aa.5-6, 9-11) adalah usaha Allah untuk menyadarkan mereka. Usaha Allah melalui keadaan itu disertai firman Allah melalui nubuatan Hagai. Firman itu bertanya (a.4), menantang (aa.5, 7) dan memerintah (a.8a). Tanpa firman itu, keadaan masih kabur.

Di pertengahan firman itu ada janji Allah (a.8b). Janji di sini bukan bahwa Allah akan berkenan kepada mereka dengan menghentikan kekeringan dsb (lihat 2:19-20 untuk janji seperti itu). Janji di sini ialah bahwa Allah akan berkenan pada Bait Allah yang dibangun. Soalnya, kemampuan mereka jelas tidak sepadan dengan kemampuan Salomo pada puncak kejayaan Israel, dan memang hasil mereka kemudian tidak seperti Bait Allah yang pertama (2:4). Tetapi Allah tetap berjanji bahwa Dia akan berkenan kepada apa yang mereka bangun sehingga Dia dimuliakan olehnya. Jika itulah janji Allah, maka semestinya itulah kerinduan mereka. Dalam ayat-ayat berikut ternyata demikian, karena mereka tergerak dan pembangunan dimulai.

Bagaimana firman itu bagi kita umat Allah dalam Kristus? Satu hal yang perlu diingat ialah bahwa bentuk janji Allah sudah berubah. Dalam PL janji Allah kepada Israel termasuk keturunan, hasil bumi dsb (misalnya Ul 28:1-14). Namun dalam PB, janjinya baik lebih mulia maupun lebih susah. Kita dijanjikan dunia tanpa kesusahan sama sekali kelak, tetapi untuk sementara janjinya sekadar pencukupan untuk mencari Kerajaan Allah (Mt 6:33), disertai berbagai kesusahan (Kis 14:22). Kesusahan bisa saja pertanda bahwa kita setia, bukan hukuman karena dosa. Oleh karena itu, saya cukup meragukan absahnya kesimpulan jemaat di atas. Saya juga meragukannya karena gedung gereja tidak sepadan dengan Bait Allah. Kristus adalah Bait Allah (Yoh 2:21), dan tubuh-Nya, yaitu jemaat, ikut juga sebagai Bait Allah (Ef 2:21-22). Gedungnya hanya sarana.

Jadi, firman ini mempertanyakan sikap kita terhadap kemuliaan Allah sebagaimana dinyatakan dalam jemaat. Jika kita menyimak kehidupan jemaat kita akan sadar bahwa kita tidak layak sebagai tubuh Kristus, tempat Allah hadir oleh Roh Kudus-Nya. Hanya perkenan Allah–yang disampaikan dalam firman Injil–sehingga kita berani mengharapkan bahwa Allah akan dimuliakan dalam jemaat. Sekali lagi, janji itu semestinya kerinduan kita. Kita membangun jemaat dalam pengharapan bahwa Allah akan berkenan dan menyatakan kemuliaan-Nya. Semoga kita juga tergerak oleh firman Allah ini.


Dan 6:1-10 Integritas karena kerajaan Allah

Juni 15, 2009

Apakah perkataan dalam a.6 berlaku bagi kita? Satu-satunya titik lemah dalam diri Daniel adalah bahwa dia beribadah kepada Allah. Tidak ada korupsi, pelecehan atau kelalaian selama berpuluh-puluh tahun Daniel berkecimpung dalam pemerintahan. Dalam pasal ini, setelah dipojokkan oleh muslihat para musuhnya yang mencemburuinya, Allah menyelamatkannya sehingga Allah dimuliakan oleh raja Darius. Integritas Daniel dalam kerja dan ibadah bermuara pada kemuliaan Allah sendiri.

Teladan Daniel bukan sekadar bahwa dia adalah orang yang baik. Kitab Daniel pp.2-7 menyangkut kehidupan dalam kerajaan asing (sebagai to mentiruran). Dalam pp.2 & 7 ada nubuatan tentang empat kerajaan besar yang bermuara pada kerajaan Allah. Dalam pp.3 & 6 ada saksi-saksi iman yang setia kepada Allah walaupun menghadapi maut. (Dalam p.12 janji kebangkitan menunjukkan bahwa Allah dapat menyelamatkan dari maut bahkan orang yang sudah mati.) Dalam pp.4 & 5 ada raja Babel yang direndahkan oleh Allah. Jadi, pasal-pasal ini menunjukkan bahwa orang percaya bertahan karena percaya bahwa Allah berdaulat atas raja-raja dan juga hidup dalam harapan bahwa Allah akan mendatangkan kerajaan-Nya untuk menggantikan kerajaan-kerajaan itu.

Dalam konteks itu, menarik untuk diperhatikan bahwa kata yang diterjemahkan “ibadah” dalam a.6 berarti hukum. Kata itu dipakai untuk hukum (misalnya dalam a.8 diterjemahkan “undang-undang”, dan Ezra 7:14 “hukum”). Bagi orang Media yang berbicara dalam a.6 kesetiaan Daniel kepada Allah bernuansa politik. Ada ketaatan Daniel yang melebihi ketaatannya kepada raja.

Jadi, Daniel adalah teladan orang beriman. Dia mengimani Allah yang di atas raja-raja dan sedang mengarahkan sejarah sampai kerajaan-Nya terwujud. Sekarang kita memiliki alasan yang lebih kuat lagi untuk memiliki iman seperti Daniel, karena Allah sudah mulai mewujudkan kerajaan-Nya dalam Kristus. Kemungkinan besar kita tidak sehebat Daniel dalam hikmat dan keterampilan, tetapi Allah itu sama. Dia tetap berdaulat untuk mewujudkan kerajaan-Nya. Oleh karena itu, integritas Daniel masuk akal bagi kita juga.


Iman dan Ilmu Pengetahuan

Mei 27, 2009

Pertanyaan tentang hubungan antara iman dan ilmu pengetahuan menjadi pertanyaan klasik. Biasanya kalau diajukan maksudnya apakah hubungan antara iman yang subjektif (terletak dalam akal budi atau hati manusia) dan ilmu pengetahuan yang objektif (terletak dalam dunia nyata). Iman digolongkan dengan selera dan nilai sebagai pendapat orang, sedangkan ilmu pengetahuan menyangkut fakta. Jadi, matahari sebagai bintang dalam galaksi dsb adalah fakta, tetapi kesukaan sama ayam goreng dan keputusan untuk beriman kristiani adalah pendapat. Paling sedikit itu pola berpikir Barat sejak Pencerahan, pola yang berakar dalam filsafat Yunani mulai dengan Plato.

Akhir-akhir ini ada gerakan filsuf ilmu pengetahuan yang mempertanyakan pembedaan yang tegas antara fakta dan nilai, objektif dan subjektif. Soalnya, untuk melakukan penelitian tentang dunia alam, kita harus percaya bahwa dunia alam teratur dan pada dasarnya tidak berubah terus. Misalnya, satu bagian dalam metode bereksperimen adalah melakukan eksperimen berulang kali untuk membuktikan bahwa hasilnya tidak kebetulan saja. Apa gunanya mengulang eksperimen jika dunia tidak tetap? Apa gunanya mencari hukum alam jika dunia tidak teratur?

Hal itu tidak jelas dalam semua budaya. Misalnya, budaya Hindu mengganggap bahwa dunia alam adalah maya yang tidak nyata, seperti film bioskop pada layar. Kalau begitu, kita justru tidak mau meniliti dunia alam melainkan mau menerobos ke kenyataan yang di balik dunia yang kelihatan. Budaya animisme menganggap bahwa segala yang terjadi terjadi karena disebabkan oleh pribadi, apa itu manusia atau roh atau Allah. Jadi, tidak ada aturan (hukum alam) yang dapat diteliti, hanya kuasa-kuasa yang harus ditanggapi.

Ilmu pengetahuan berkembang dalam budaya kristiani karena ada kepercayaan bahwa dunia diciptakan oleh Allah. Dunia itu bukan Allah atau sebagian dari Allah, jadi ada keberadaan tersendiri yang dapat diteliti. Juga, Sang Pencipta setia dan teratur, sehingga dunia juga setia dan teratur. Lihat saja Mazmur 19 yang membandingkan dunia alam dengan hukum Taurat. Banyak ilmuwan dulu-dulu (abad ke-17 sampai ke-19) berbicara tentang dua buku yang membawa penyataan, yaitu Kitab Suci dan dunia alam (secara kiasan dilihat sebagai buku). Sains berkembang sebagai cara untuk lebih memahami Pencipta alam semesta.

Jadi, butir pertama ialah ilmu pengetahuan berdasarkan kepercayaan tertentu, dan ternyata kepercayaan yang cocok dengan iman kristiani. Butir kedua menanggapi masalah ketika hasil-hasil ilmu pengetahuan sepertinya bertentangan dengan ajaran Alkitab. (Butir ketiga yang tidak dibahas di sini yaitu iman kristiani memiliki dasar dalam fakta sejarah, khususnya kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus.)

Inti jawaban saya ialah dunia alam dan Firman Allah tidak akan bertentangan, karena keduanya berasal dari Allah. Namun, baik ilmu pengetahuan maupun tafsiran Alkitab bisa saja bertentangan, karena manusia yang melakukannya keliru. Sebagai contoh saya mengangkat teori evolusi yang sepertinya bertentangan dengan cerita Alkitab dalam Kejadian 1-3.

Teori evolusi menyangkut sejarah perkembangan makhluk-makhluk di bumi. Dukungannya secara garis besar kuat dan didukung oleh banyak cabang biologi yang lainnya. Mungkin saja teori itu bukan kata terakhir dari penelitian biologi, tetapi jika mau berkecimpung dalam bidang biologi teori itu harus diandaikan. Apa masalahnya dari segi ajaran Kristen?

Ada ilmuwan ateis yang mau mengatakan bahwa evolusi meniadakan perlunya pencipta karena makhluk dapat berkembang berdasarkan hukum-hukum alam saja. Ada juga yang mengatakan bahwa teori itu menunjukkan bahwa manusia adalah binatang saja. Ada juga (dulu-dulu ketika teori ini diterbitkan oleh Darwin) yang menganggap bahwa teori itu mendukung cara sosial yang membuang yang lemah dan mendukung yang kuat. Tetapi apa kesimpulan-kesimpulan itu adalah sains? Mustahilkah Allah menciptakan melalui proses evolusi? Benarkah bahwa gen manusia yang 99% sama dengan monyet harus menjadikan kita sederajat dengan monyet? Apakah kehidupan sosial harus berpatron cara singa di hutan? Tidak. Orang ateis menyalahgunakan sains untuk mendukung agenda sendiri. Jadi tafsiran mereka akan sains itu salah.

Bagaimana dengan Alkitab, khususnya Kej 1-3? Banyak yang tetap menerima Alkitab sebagai Firman Allah mencermati ulang Kej 1-3 dan menyimpulkan bahwa tujuannya bukan untuk menyampaikan sejarah secara terperinci tentang asal-usul dunia melainkan secara garis besar. Jadi, pesannya bahwa dunia diciptakan secara teratur dengan manusia sebagai puncaknya yang bertanggung jawab kepada Allah tetapi akhirnya membelakangi Allah. Jika tafsiran itu benar maka kita menyalahgunakan Alkitab juga membuat Kej 1-3 menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sains seperti apakah bumi di pusat jagad raya atau apakah evolusi terjadi.

Hal itu tidak berarti bahwa kita “percaya” akan evolusi atau penemuan-penemuan sains yang lain. Kita percaya akan Alkitab untuk mengenal Allah dan cara hidup, dan menggunakan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan untuk tujuan itu.


Yoh 6:60-66 Misteri ketidakpercayaan

Mei 24, 2009

Seluruh p.6 terkait dengan peristiwa Yesus memberi makan 5.000 orang serta akibatnya dalam pembahasan berikut. Serangkaian peristiwa ini adalah yang terakhir yang diceritakan di Galilea dalam Injil Yohanes, karena menunjukkan bagaimana Galilea diterangi oleh Yesus dan banyak yang memiliki kegelapan. Pasal-pasal berikut pindah ke Yerusalem, dengan hasil yang sama. Kadangkala pelayanan–bahkan kebenaran–diukur oleh keramaian. Adalah penting kita mengingat bahwa Yesus sendiri menimbulkan pemisahan antara orang yang menerima dan menolak. Walaupun kita tentu berupaya menerima semua orang, ternyata ada yang lebih penting dari keramaian.

Soalnya, mujizat memberi makan itu kelihatan puncak kejayaan Yesus, dengan banyak orang ikut bahkan mau menjadikan Yesus raja (6:15). Tetapi dalam a.26-27 Yesus memberitahu bahwa orang banyak tidak mencari Dia untuk hidup kekal yang dapat diberikan Yesus kepadanya melainkan untuk makanan jasmani saja. Namun, ketika Yesus mengajar tentang makanan rohani, yaitu bahwa orang harus makan daging dan darah Yesus untuk mendapat hidup kekal, orang banyak bingung dan tersinggung (a.60). Alhasil, banyak murid yang mengundurkan diri (a.66), walaupun ada sebagian yang tetap mengikuti Yesus (a.67dst). Yesus lebih memilih supaya ada sebagian yang sungguh mengenal Dia daripada ada banyak yang ramai-ramai saja.

Penolakan murid-murid yang dibahas dalam perikop ini. Keluhan mereka (a.60) ternyata diketahui Yesus, karena seperti biasa Dia mengenal hati orang (a.61). Dalam tanggapan-Nya, Yesus menunjukkan bahwa mereka belum memahami siapakah Dia. Andaikan mereka dapat melihat Dia naik kembali ke sorga mereka dapat lebih terima bahwa Dia adalah roti hidup yang turun dari sorga (a.35, 38), kunci pengenalan akan Allah yang berada di sorga (a.62).

Namun, masalahnya bukan bahwa mereka tidak melihat sesuatu, karena bukankah mereka sudah melihat Yesus memberi makan 5.000 orang? Masalahnya bahwa mereka tidak percaya akan apa yang dikatakan Yesus (a.64). Perkataan Yesus membawa hidup baru bagi manusia dalam kegelapan sama seperti roh manusia membawa hidup bagi tubuhnya (a.63). Sekali lagi, kita baca bahwa Yesus mengenal hati mereka, yaitu siapa yang percaya dan yang tidak (termasuk Yudas sebagai yang akan menyerahkan-Nya). Akhirnya, Yesus memberi jawaban-Nya terhadap keluhan mereka. Allah Bapa-lah yang memberikan kemampuan untuk datang kepada Yesus (a.65), seperti yang sudah Dia katakan (a.37 yang juga menjelaskan ketidakpercayaan dalam a.36). Yang sanggup mendengarkan perkataan Yesus ialah orang yang dimampukan oleh Allah.

Memang adalah misteri bagi saya mengapa Allah tidak menarik semua orang kepada Yesus. Perikop ini tidak menjelaskan misteri itu, tetapi menegaskan bahwa manusia menolak Yesus karena tidak percaya. Yang dapat menerima Yesus hanya dapat demikian karena anugerah Allah. Hal itu meniadakan kebanggaan diri, tetapi juga menguatkan jika dikaitkan dengan janji bahwa siapa saja yang diberikan kepada Yesus tidak akan hilang (a.39). Hal itu juga menunjukkan bahwa semestinya kita bersukacita atas orang-orang yang setia karena anugerah Allah daripada kecewa terhadap orang-orang lain yang tidak.

Kadangkala ada pelayan (atau aliran) yang mau memisahkan orang yang sungguh percaya dari yang tidak. Menarik bahwa walaupun Yesus mengetahui siapa yang tidak percaya, Dia membiarkan kebenaran membedakannya. Lebih lagi kita yang tidak mengenal hati orang. Namun, adalah bahaya juga jika kita mengaburkan kebenaran supaya keramaian tidak terganggu. Walaupun cara itu mungkin disebut cara damai, cara Yesus tidak demikian. Kita mau membawa orang kepada hidup, dan tidak ada cara yang lain kecuali melalui perkataan Yesus, betapapun kerasnya.


1 Yoh 5:6-12 Kesaksian Allah tentang Yesus

April 8, 2009

Bahwa hidup setia kepada Allah dalam dunia ini adalah sulit tidak usah saya uraikan panjang lebar. 1 Yoh 5:4-5 menyampaikan janji bahwa yang dapat menang atas dunia (artinya hidup dalam kasih, 5:1-3) adalah orang yang beriman, yaitu percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Yesus yang dimaksud adalah yang dibaptis Yohanes Pembaptis (“air”) dan kemudian disalibkan (“darah”, lihat catatan 1). Tetapi apakah dasar untuk iman itu?

Dalam aa.6-12 Yohanes berbicara tentang kesaksian. Yang percaya kepada Kristus dan menang atas dunia adalah yang menerima kesaksian Allah bahwa hidup kekal ada dalam Kristus (aa.9, 11). Kesaksian itu terdapat di dalam (hati atau batin) setiap orang yang percaya (a.10), karena Roh Kudus (a.6) sudah meyakinkannya tentang makna air dan darah Yesus (a.8), yaitu baptisan Yesus yang merujuk kepada identitas-Nya sebagai Anak Allah, dan kematian-Nya yang menjadi dasar persekutuan kita dengan Allah. Mungkin Yohanes juga memikirkan baptisan dan perjamuan kudus yang menjadi peringatan kita sekarang akan kedua kejadian itu. Pada hari kebangkitan Yesus mungkin juga tidak salah menyebutkan bahwa tema kesaksian Allah itu menyiratkan kebangkitan Yesus sebagai pembenaran Yesus, walaupun tersirat saja.

Penerimaan kesaksian itu dalam hati orang bukan sekadar usulan dari Yohanes, karena dia menegaskan adanya dua kemungkinan saja: menerima kesaskian itu sehingga memiliki Anak dan hidup, atau menolak kesaksian Allah sehingga tidak memiliki Anak ataupun hidup. Menerima kesaksian itu berarti memahami bahwa Yesus itu riil, lebih riil daripada perselisihan dengan tetangga atau kebutuhan mencari nafkah. Sehingga percaya kepada Kristus bukan sekadar pengakuan otak atau mulut, tetapi arah seluruh hidup. Yohanes menulis supaya kita menerima kesaksian itu (a.13) dan menikmati hidup bersama dengan Allah.

Catatan:

  1. Dalam a.6 “Dia yang telah datang dengan air dan darah”, makna air dan darah banyak diperdebatkan. Selain 5:6, 8 darah hanya disebutkan dalam 1 Yoh 1:7 dan merujuk ke kematian Yesus. Air tidak disebut dalam kitab 1 Yohanes di luar 5:6, 8. Tempat berikut untuk dicarikan ialah Injil Yohanes, karena penulisnya sama atau dari kalangan yang sama (terkait dengan rasul Yohanes). Dalam Injil Yohanes, kesaksian dan air dikaitkan pada Yoh 19:34-35 yang menceritakan keluarnya darah dan air sebagaimana disaksikan seorang saksi. Banyak penafsir dari abad-abad pertama gereja yang menafsir 1 Yoh 5:6, 8 demikian, walaupun urutan darah dan air terbalik. Tempat yang lain ialah baptisan Yesus pada Yoh 1:29-34. Bagian ini lebih kuat karena ada Roh Kudus turun (1:32, bnd. 1 Yoh 5:6-8) dan juga kesaksian Yohanes (Pembaptis) bahwa Yesus adalah Anak Allah (1:34), seperti dalam 1 Yoh 5:5. Dengan demikian, air merujuk ke awal pelayanan Yesus, ketika Dia dinyatakan Anak Allah, dan juga akhir pelayanan-Nya, ketika Dia menjadi pendamaian bagi kita. Tekanan bahwa bukan hanya air tetapi air dan darah mungkin untuk menegaskan kemanusiaan Yesus di hadapan ajaran sesat yang menyangkalinya.
  2. Bagian dalam tanda kurung persegi (“di dalam sorga: … di bumi”) tidak asli, dan tidak dimuat dalam tafsiran modern seperti NIV dan NRSV. Bagian itu tidak terdapat dalam naskah bahasa Yunani sebelum abad ke-16, dan juga tidak terdapat dalam semua terjemahan kuno. Lebih lagi, dalam kontroversi tentang doktrin tritunggal pada abad ke-2 dan ke-3, bagian ini tidak pernah dipakai, walaupun akan sangat relevan! Bagian ini pertama muncul dalam naskah bahasa Latin pada abad ke-4, dan diduga bahwa ada tafsiran tentang tritunggal ditulis di pinggir halaman, yang dianggap sebagai koreksi ketika naskah itu disalin. Mengingat bahwa bagian ini tidak dipakai dalam perdebatan tentang tritunggal, jelas bahwa doktrin tritunggal tidak bergantung padanya.

Berita duka mengenai Ibu Barbara Hopwood

Desember 22, 2008

Pembaca dari kalangan Gereja Toraja barangkali sudah tahu bahwa Ibu Barbara meninggal beberapa hari yang lalu di AS. Dia berjasa 30 tahun lebih di Indonesia, di Surabaya, Sumatera Utara, di Toraja dan akhirnya di Jakarta. Saya mengenalnya sebagai rekan dosen di STT Rantepao (yang menjadi STAKN Toraja). Sebagai sesama dosen asing yang sudah banyak berpengalaman mengajar di Indonesia, saya belajar banyak daripadanya. Saya juga makin menghargai dan belajar dari imannya. Dia membangun kerohanian yang kokoh dengan kesetiaan berdoa dan merenungkan firman untuk membangun hidupnya atas iman kepada Kristus. Salah satu buahnya adalah kasih, sehingga dia menjadi seorang ibu bagi banyak anak, walaupun dia sendiri tidak menikah.

BJH menyanyi waktu perpisahannya dari STAKNDi pertengahan tahun ini, tugasnya di Indonesia selesai dan dia kembali ke AS untuk tinggal bersama dengan ibunya. Tidak lama kemudian dia didiagnosa kanker yang ganas. Dia menghadapi penderitaan dan kehilangan masa depan dengan iman yang teguh. Kita berduka sebagai orang yang memiliki harapan yang sama dengan Ibu Barbara dalam Tuhan Yesus Kristus yang telah bangkit.

Yang juga diberkati oleh kehidupan Ibu Barbara, silahkan berkomentar.


Gal 4,1-11 Setelah genap waktunya…

Desember 22, 2008

Kristus membawa kemerdekaan untuk menjadi anak-anak Allah yang dewasa, yang tidak harus dikawal oleh Hukum Taurat lagi karena dosa sudah diatasi. Sayangnya, kita lebih suka aman daripada merdeka, sehingga sistem-sistem keagamaan lebih dipentingkan di atas pengenalan akan Allah. Sifat itu pada gilirannya menghancurkan misi. Kita menjadi terlalu repot mengerjakan sistem untuk menjangkau sesama, dan terlalu kaku menuruti sistem untuk menerima orang yang berbeda dari kita.

Baca entri selengkapnya »


Kej 16:1-6 Pencobaan mengenai janji Allah

Desember 4, 2008

“Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak.” (a.1) Pas sebelum ayat ini Tuhan telah mengadakan perjanjian dengan Abraham yang meneguhkan janji-janji-Nya semula, yaitu janji tanah, keturunan dan nama (Kej 12:1-3). Lebih lagi, janji keturunan diteguhkan pada 15:4-5 dan diterima Abraham dengan iman (15:6). Namun, imannya langsung teruji.

Soalnya, janji itu tinggal janji. Hal itu pasti pahit bagi Sarai. A.1 dengan lebih harfiah berbunyi, “Adapun Sarai…tidak melahirkan baginya” (maksudnya bagi Abraham). Sarai belum menjadi isteri seutuhnya. Biar ada janji Allah tentang masa depan, masa kini sudah ada rasa pahit. Untuk menguranginya, Sarai mengambil langkah yang mungkin saja masuk akal menurut budaya setempat. Namun, penutur cerita tidak menganggapnya baik. Perhatikan dalam a.1 dan a.3 bagaimana status mereka sebagai suami-isteri disebut-sebut. Hal itu bukan informasi baru melainkan tekanan. Yang tersirat dalam tekanan itu adalah bahwa Sarai sebagai isteri Abraham adalah yang cocok untuk menjadi sarana penggenapan janji keturunan itu, dan juga bahwa semestinya pernikahan itu dua orang saja (sesuai dengan Kej 2:24).

Lebih lagi, usaha Sarai disejajarkan dengan usaha Hawa. Baik Abraham maupun manusia (Adam) “mendengarkan perkataan” isterinya (3:17; 16:2). Kemudian, baik Hawa maupun Sarai “mengambil” dan “memberikan” kepada suaminya (3:6; 16:3). Baik Sarai maupun Abraham tergoda untuk mengandalkan usaha sendiri daripada menunggu janji Allah.

Tahu-tahu, usaha Sarai berhasil, dan justru membawa kepahitan yang dia takutkan. Hamba Sarai yang subur memandang rendah nyonyanya yang tidak. Bukan hanya itu, Sarai mempersalahkan Abraham, yang pada gilirannya mengizinkan perlakuan sewenang-wenang oleh Sarai kepada Hagar, yang kemudian melarikan diri. Hanya campur tangan Tuhan yang memperbaiki sikap Hagar (16:7-13) sehingga ada damai kembali.

Kadangkala kita berpikir tentang usaha yang tidak beriman seperti penipuan atau memakai jimat atau gosip yang menjatuhkan dalam rangka apakah mencapai tujuan mengurangi rasa pahit (seperti miskin, sakit, iri hati). Dan bisa saja berhasil dalam rangka itu, meskipun sering juga ada akibat yang pahit. Tetapi jika kita mau lebih mengenal Allah, maka jalan satu-satunya adalah beriman: menerima dan berharap akan janji Allah. Jalan yang lain merupakan pencobaan belaka.