Mt 26:69-75 Gagal karena belum mengenal Yesus (1 Apr 2012) [Sengsara VII]

Maret 30, 2012

Banyak perikop Alkitab menyampaikan cerita yang menarik perhatian karena di dalamnya kita melihat seorang tokoh dalam pergumulan hidup. Perikop ini termasuk salah satunya. Namun, adalah salah jika kita hanya berfokus pada orangnya sendiri, sehingga kita sampai pada moralisme yang tidak salah tetapi agak dangkal, “jangan menjadi pengecut”, “jangan berdusta”; dangkal karena Allah menjadi mubazir dalam pesan khotbah seperti itu. Tokoh-tokoh Alkitab selalu bertindak dalam konteks lebih luas, yaitu, apa yang dilakukan Allah dalam dunia. Dalam rangka itulah berhasil tidaknya iman mereka harus diukur, dan dalam rangka itulah kita dapat belajar dari tokoh-tokoh tentang iman kita.

Penggalian Teks

Perikop tentang Petrus ini sebenarnya mulai dari a.58. Berbeda dari murid-murid yang lain, Petrus tetap mengikuti Yesus sampai ke halaman Imam Besar, sesuai dengan janjinya dalam a.33 (“Biarpun mereka semua tergoncang…aku sekali-kali tidak”). Matius mengatakan bahwa dia ke sana “untuk melihat kesudahan perkara itu”. Istilah “kesudahan” (telos = akhir atau tujuan) menarik karena dalam 24:14 Yesus telah berkata, “orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Hal itu dikatakan dalam konteks perjuangan akhir zaman, tetapi para penulis Injil melihat pengadilan dan penyaliban Yesus sebagai peristiwa pertama dalam rangka perjuangan itu, di mana perlawanan terhadap Allah menimbulkan aniaya dan penderitaan bagi orang-orang yang setia.

Dalam aa.59-68 kita melihat cara Yesus menghadapi penganiayaan, kemudian dalam perikop ini cara Petrus. Kedua peristiwa ini berjalan agak sejajar. Yesus diminta jawaban terhadap kesaksian palsu tetapi diam (aa.62-63). Petrus diperhadapkan dengan pernyataan yang benar tetapi menjawab dengan berdusta (a.70). Kemudian, Yesus diminta dengan sumpah untuk menjawab sebuah tuduhan yang benar, bahwa Dia adalah Mesias. Pada saat itulah Dia menyampaikan kesaksian yang kuat tentang diri-Nya (a.64). Sedangkan Petrus, dia sendiri yang bersumpah, untuk menguatkan dustanya sendiri (a.74). Dengan demikian, kita melihat bagaimana Yesus bertahan sampai kesudahannya, sedangkan Petrus tidak.

Hasilnya penting diamati. Yesus disalibkan. Ketakutan Petrus bukan tidak beralasan. Petrus tetap aman, hanya, ternyata hatinya hancur. Hanya setelah kebangkitan Yesus serta penerimaan-Nya yang menyiratkan pengampunan (28:7, 16-20), maka Petrus serta murid-murid yang lain menjadi siap menghadapi tantangan zaman.

Maksud bagi Pembaca

Matius memperbandingkan kesetiaan Yesus dengan kegagalan Petrus supaya pembaca Injil tidak mengandalkan antusiasme sendiri tetapi belajar dari perspektif Yesus, yang melihat sampai ke kesudahannya, yaitu penggenapan rencana Allah melalui karya Yesus sendiri. Yesus bertahan karena Dia menangkap maksud Allah yang melampaui apa yang kelihatan; Petrus gagal karena dia belum menangkap hal itu.

Makna

Petrus adalah yang paling berani dari para murid. Pengingkaran janjinya muncul bukan karena dia adalah seorang pembohong, melainkan karena dia tidak mengerti dunia seperti digambarkan Yesus dalam pp.24-25, yaitu bahwa dunia sangat melawan Allah, tetapi Allah akan menang. Karena dia belum memahami dunia, dia menganggap bahwa keberanian itu cukup. Itulah salahnya moralisme. Biar banyak mengucapkan kata “dengan kuasa Roh Kudus”, seorang moralis menganggap bahwa pada dasarnya manusia sanggup melakukan kebenaran, dan tinggal diingatkan untuk melakukannya. Tetapi ternyata, ketika orang dengan niat baik masuk ke dalam tempat kerja, mereka setengah mati mempertahankan kebenaran; ketika orang dengan semangat tinggi menjadi pimpinan lembaga-lembaga masyarakat, yang semuanya adalah pemberian Allah, yang sekaligus diilhami oleh Iblis karena diisi dengan manusia berdosa (bdk. Ef 2:1-3), mereka setengah mati menerapkan keadilan; ketika masyarakat dan budaya mengecam iman kepada Yesus, kita setengah mati bersaksi. Itulah yang dilihat—dan dicemaskan oleh gereja—terus-menerus. Dalam sosok Petrus kita melihat bahwa hal itu tidak aneh—dunia dalam perlawanannya terhadap Allah memang kuat, tidak mungkin kita melawan dengan semangat kita saja.

Jawaban yang saya usulkan di atas, yaitu pentingnya kita menangkap apa yang dilakukan Allah, tidak berasal langsung dari perikopnya, melainkan dari tempatnya dalam cerita Injil Matius. Di sini Petrus gagal, tetapi setelah kebangkitan Yesus, dia diutus untuk menjadi pemberita Injil yang berdampak besar. Apa bedanya? Dalam Injil Matius, kematian dan kebangkitan Kristus. (Tentu, Lukas menyoroti peran Roh Kudus juga tetapi Matius tidak.) Dengan berjumpa dengan Yesus yang telah dibangkitkan, mereka mulai menangkap bahwa penderitaan karena kebenaran bukan sesuatu yang aneh, tetapi justru merupakan jalan menuju kebangkitan, bahwa kecaman manusia bukan kata akhir, karena Allah akan mengakhiri segalanya, bahwa Yesus yang tetap lemah lembut adalah sekaligus Tuhan dan Juruselamat. Dalam perikop kita, iman Petrus memang lemah. Tetapi imannya dibangun bukan dengan fokus pada dirinya sendiri, melainkan dengan melihat kebenaran tentang Kristus. Semoga perayaan Paskah membawa berkat itu bagi kita semua.


Ef 6:10-20 Kesiapan Memberitakan Injil (25 Mar 2012) [Sengsara VI/Puncak Pekan PI]

Maret 23, 2012

Perikop ini merupakan kesimpulan penguraian Paulus kepada jemaat-jemaat di kawasan Efesus. Jika pada umumnya konteks penting diperhatikan, dalam perikop ini setiap kalimat merujuk pada hal-hal yang telah dibahas dalam surat ini. Makanya, ada banyak ayat rujukan yang, jika dibaca, dapat memperjelas maksud Paulus. Saya memberi fokus pada satu nas, yaitu a.15, cocok dengan tema Pekabaran Injil dalam Gereja Toraja.

Penggalian Teks

Bahwa perikop ini adalah kesimpulan dilihat dalam kata awal, “akhirnya”. Aa.10-12 menyampaikan bahwa kita berada dalam sebuah perjuangan. Apa perjuangan itu? Ternyata bukan melawan manusia melainkan “pemerintah-pemerintah” dsb. Kata “pemerintah”, “penguasa” dan “penghulu dunia” biasanya dipakai untuk pemerintah dan lembaga-lembaga yang lain yang berpengaruh dalam masyarakat. Tetapi dalam a.11, Paulus berbicara tentang tipu muslihat Iblis. Hubungannya dapat dilihat dalam 2:2. Iblis bekerja melalui kehidupan “orang-orang durhaka”. Lembaga-lembaga duniawi adalah pemberian Allah untuk kebaikan kita (bdk. Rom 13), tetapi karena terdiri atas manusia, selalu terpengaruh oleh kuasa jahat. Hal itu jelas ketika kita melihat pemimpin yang baik tetap tidak berdaya untuk membersihkan pemerintahannya sendiri. Jadi, kita melawan bukan oknum-oknum melainkan kejahatan yang tersistem karena kepentingan manusia yang diilhami kuasa Iblis. Dilihat demikan, adalah jelas mengapa kita tidak bisa berhasil dalam kuasa sendiri.

Jika perjuangan itu melawan kuasa Iblis, apa tujuannya? Dalam 1:10 Paulus memberitahu rencana Allah untuk “mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu”. Kita menjadi bagian dari rencana itu dengan percaya pada berita Injil (1:13) sehingga dimeteraikan di dalam Kristus oleh Roh Kudus (1:14). Dengan demikian, ada kuasa kebangkitan Kristus yang bekerja di dalam kita yang memegang harapan di dalam Kristus (1:18-21). Halangan untuk rencana itu adalah dosa, dosa karena dunia, Iblis dan hawa nafsu sendiri (2:1-3). Tetapi Kristus telah menyelamatkan kita oleh kasih karunia (2:8), sehingga kita diperdamaikan dengan Allah dan seorang dengan yang lain (2:11-22). Dengan Kristus diberitakan, hikmat Allah diperlihatkan kepada penguasa-penguasa dalam jemaat sebagai hasil penginjilan (3:10). Oleh karena semuanya itu, Paulus berdoa supaya mereka dikuatkan dengan mengenal kasih Kristus (3:14-21), kemudian memberitahu bagaimana hidup sebagai tubuh, hidup jujur sesuai kebenaran di dalam Kristus (p.4:25), dan berjuang terhadap kegelapan (p.5).

Jadi, seluruh surat berbicara tentang Injil dan implikasinya, sehingga tidak kebetulan jika perlengkapan senjata dalam aa.13-17 menyangkut Injil: kebenaran, keadilan, Injil, iman, keselamatan, dan firman Allah. Kita berperan di dalam rencana Allah dengan senjata Allah sendiri; kita melawan semangat Iblis yang muncul melalui hawa nafsu pribadi dan kepentingan sosial/politik, dengan cara Allah sendiri melawannya, yakni, dengan Kristus sebagai pusat.

Dari segi penyusunan kalimat dalam bahasa aslinya, ada dua kata kerja utama yang menyangkut perlengkapan senjata Allah itu. Yang pertama adalah “berdirilah” (a.14). Pada perintah ini tergantung empat partisip: berikatpinggangkan, berbajuzirahkan, berkasutkan dan pergunakan. Ketiga kata kerja yang berbentuk “ber…kan” menyangkut tiga pakaian yang dikenakan pada dirinya sendiri (makanya bentuknya aoris midel, antara aktif dan pasif), atau dengan kata lain, sifat orang. Mengatakan apa yang benar (LAI “kebenaran” = aletheia, dipakai dalam 4:25) dan melakukan apa yang benar (LAI “keadilan” = dikaiosune, biasanya diterjemahkan “kebenaran”) menjadi dasar untuk kesiapan (LAI “kerelaan”, tetapi kata hetoimasia menyangkut persiapan atau perlengkapan, bukan sekadar kerelaan) pergi memberitakan Injil (a.15). Tetapi sifat-sifat itu akan percuma kecuali dengan iman kita menangkis godaan-godaan Iblis, seringkali dalam bentuk tuduhan dan keraguan yang merongrong semangat dan fokus.

Kata kerja kedua adalah “terimalah” (a.16). Keselamatan (bdk. 2:8) dan firman Allah (bkd. 3:3-5) bukanlah sifat kita melainkan pemberian dari Allah. Keselamatan kita tidak bergantung pada keberhasilan kita dalam perjuangan ini; rencana Allah juga tidak bergantung pada keberhasilan kita. Namun, jika kita percaya kepada Kristus, kita menjadi sasaran Iblis—apakah dalam bentuk hawa nafsu yang tidak mau diam, atau kepentingan politik/sosial yang terancam oleh kebenaran di dalam Kristus. Tanpa keyakinan tentang keselamatan dalam Kristus, kita akan rentan. Akhirnya, senjata kita adalah firman Allah—bukan koneksi politik, bukan uang, bukan kedudukan dalam masyarakat. Senjata ini mulai dengan kebenaran dan berakhir dengan sumber kebenaran, yaitu firman Allah.

Adalah cocok bahwa kesimpulan yang mulai dengan seruan untuk kuat di dalam Tuhan berakhir dengan seruan untuk berdoa (aa.18-20). Allah melibatkan manusia dalam rencana-Nya untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus, dengan memakai mulut manusia untuk memberitakan Injil. Tidak semua dapat pergi, tetapi semua dapat berdoa. Doa di sini bukan manusia membujuk Allah untuk memajukan kepentingan manusia, melainkan manusia bekerja sama dengan Allah untuk memajukan kepentingan Allah, baik dalam pertumbuhan gereja (a.18 “untuk segala orang Kudus”) maupun untuk para penginjil (aa.19-20). Tentu, maksud saya adalah kepentingan manusia yang diilhami Iblis (hawa nafsu, dunia), karena dalam Kristus kepentingan manusia yang sejati justru ditemukan.

Maksud bagi Pembaca

Dalam konteks rencana Allah untuk segala sesuatu, yakni dipersatukan di dalam Kristus, Paulus menyampaikan gambaran yang mencolok tentang peran kita. Iblis melawan rencana Allah, dan mau tidak mau kita terlibat. Dibungkus kekuatan Allah dan doa, diperlengkapi dengan implikasi-implikasi Injil, kita akan dimampukan untuk terlibat dengan baik dalam kemajuan rencana Allah itu dengan memberitakan Kristus, walaupun diganggu terus-menerus oleh tipu muslihat Iblis.

Makna

Satu latar belakang untuk a.15 adalah Yes 52:7. Yesaya membayangkan seorang pembawa berita yang memberitakan bahwa Allah itu Raja, karena Israel akan segera kembali dari pembuangan. Pembuangan Israel itu karena dosa, dan PB memahami bahwa semua dosa adalah pembuangan, penjauhan dari Allah. Yesus sendiri merujuk pada nas ini ketika Dia memberitakan bahwa Kerajaan Allah itu dekat. Efesus 2 yang dibahas tadi menunjukkan bagaimana Allah telah mengalahkan dosa sehingga Kerajaan Allah sedang diwujudkan di dalam Kristus.

Jadi, “kerelaan [kesiapan] untuk memberitakan Injil” menyangkut dua hal. Yang pertama ialah hidup yang telah diubah oleh Injil sehingga dicirikan oleh perkataan dan tingkah laku yang benar, seperti dibahas di atas. Yang kedua adalah hati yang menganggap berita itu indah, seperti dalam Yes 52:7.

Satu aspek lagi dalam rangka kesiapan adalah kemampuan untuk menjelaskan Injil. Terlalu banyak orang terbatas pada kesaksian hidup karena tidak sanggup menguraikan iman mereka, dan jika demikian, ada kemungkinan bahwa kesaksian hidup mereka juga tidak terlalu jelas. Satu jawaban terhadap masalah itu ialah program pembinaan seperti Kambium, yang sedang dikembangkan di kalangan Gereja Toraja.


2 Pet 1:3-11 “Mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (5 Feb 2012)

Februari 2, 2012

Perikop ini sangat kaya, baik dalam teologinya dalam aa.3-4 dan aa.8-11, tetapi juga dalam daftar sifat-sifat manusia yang perlu dikembangkan dalam aa.5-7. Kala memberitakannya, kita bisa menjadi asyik membahas rencana Allah, atau membahas pertumbuhan karakter manusia, tetapi adalah penting bahwa keduanya mendapat tempat, karena saling mengisi. Bahkan, pada akhir bagian makna, saya mencatat bagaimana khotbah bisa beranjak dari aa.5-7 saja (cocokkah untuk jemaat yang konon berpikir praktis?), untuk menunjukkan bagaimana etika dan teologi saling menopang. Jika “buta dan picik” menggambarkan perasaan Pembaca tentang sebagian gereja sekarang, perikop ini akan membawa banyak hikmat.

Penggalian Teks

Dalam bagian salam (aa.1-2) Petrus telah menyinggung dua aspek dari para pendengar surat ini.[1] A.1 mencirikan penerima surat sebagai orang beriman. Iman adalah cara menjadi bagian dari “keadilan” Allah, yaitu, niat-Nya untuk memulihkan (sebagai “Juruselamat”) dunia ini. Hasil iman adalah “kasih karunia dan damai sejahtera” (a.2), yang dialami “oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus”. Pengenalan akan Allah dan Yesus adalah wadah yang di didalamnya kita akan mengalami anugerah dan damai sejahtera. Banyak isi dari surat ini akan membahas berbagai ancaman terhadap damai sejahtera ini dari ajaran yang sesat, tetapi dalam p.1 Petrus menyampaikan pola yang benar. Dasarnya, apa yang diimani, adalah kesaksian para rasul dan nabi-nabi (1:12-21).

Tetapi yang pertama diuraikan dalam perikop kita ialah pengenalan yang membawa kepada keselamatan. Pengenalan akan Kristus dibahas dalam aa.3-9 dalam rangka hidup yang berhasil (perhatikan bahwa kata pengenalan dipakai dalam a.3 dan a.8). Dalam aa.10-11 Petrus berfokus kembali pada tujuannya, yaitu memasuki Kerajaan kekal yang untuknya kita dipanggil. Strukturisasi itu membuat kiasmus dengan bagian salam: A) Keselamatan (a.1); B) Pengenalan (a.2); B’) Pengenalan (aa.3-9); A’) Keselamatan (aa.10-11). Tetapi ada strukturisasi yang lain yang beranjak dari kata “sungguh-sungguh” (mewakili kata dasar spoud-) dalam a.5 dan a.10, dan melihat bahwa a.4 juga menyangkut tujuan hidup: A) Pengenalan dan Panggilan (aa.3-4); B) Mengusahakan pengenalan akan Kristus (aa.5-9); C) Mengusahakan panggilan Kristus (aa.10-11). Jika Pembaca (maksudnya, Anda sebagai Pembaca blog) berusaha menangkap dan membandingkan kedua struktur ini, Pembaca akan terhindar dari tafsiran yang dangkal dan melupakan Tuhan. Aa.5-7 yang berbicara tentang pengembangan karakter terletak dalam rencana Tuhan untuk dunia. Etika berakar dalam teologi (etos dalam mitos, untuk Pembaca yang biasa dengan bahasa seperti itu).

Aa.3-4 menonjol karena istilah “ilahi”. “Kuasa ilahi” Allah/Yesus bermuara pada “bagian dalam kodrat ilahi”. Untuk menangkap maksud Petrus, kita perlu mengamati bahasanya. Dalam a.3, tujuannya “hidup yang saleh”.[2] Tujuan itu hanya dimungkinkan dengan “segala sesuatu yang berguna”, yang sumbernya adalah kuasa ilahi dan salurannya adalah pengenalan akan Allah/Yesus. Kata “pengenalan” menerjemahkan epignosis yang berarti pengetahuan yang dalam. Kesalehan kristiani terjadi bukan dengan mengetahui berbagai hal tentang Allah, tetapi dengan menjadi mengenal Allah. Bagaimana kita mengenal Allah? Karena Dia telah memanggil kita. Hal itu terjadi “oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib”. Secara harfiah, frase itu berarti “dengan/oleh kemuliaan [doxa] dan kebajikan yang mengagumkan [arete]“. Kata arete memang dapat dipakai untuk mujizat, sebagai suatu kebajikan yang mengagumkan, tetapi fokusnya tetap pada unsur kekaguman bukan kuasa. Jadi, baik kata doxa maupun arete mengarah kepada kehormatan yang melekat pada Allah/Yesus sehingga kita menerima panggilan-Nya untuk beriman kepada-Nya. Walaupun kemuliaan Allah dilihat dalam ciptaan-Nya, Petrus hampir pasti merujuk pada kemuliaan Allah sebagaimana dilihat dalam kehidupan Yesus, seperti dia ceritakan dalam 1:16-18, dan sesuai dengan tekanan pada Yesus dalam 1:1-2,[3] Yesus memungkinkan orang percaya untuk mengenal Allah secara dalam, sehingga ada kuasa ilahi yang dilepaskan dalam kehidupannya, sehingga hidup mereka tampil saleh.

Tetapi kesalehan bukan tujuan akhir bagi manusia di dalam Kristus. Dalam a.4, “dengan jalan itu”, artinya, melalui (dia + genitif) doxa dan arete Yesus itu, Allah juga menyampaikan janji-janji-Nya. Janji-janji itu juga sangat layak dihormati, karena “berharga” dan “sangat besar”. Melalui janji-janji itu, kita sampai pada mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Frase itu memakai bahasa yang lazim pada zaman itu untuk menyatakan harapan bahwa jiwa akan luput dari dunia yang kotor atau fana ini dan mencapai kesempurnaan di dunia surgawi (dipahami sebagai dunia yang di luar lingkaran bulan). Pemahaman tradisional budaya Toraja tidak jauh beda: seorang leluhur yang sudah diupacarakan dengan tepat menjadi semacam dewa sehingga menjadi sumber berkat bagi keturunannya. Tetapi maksud Petrus lain. Masalah dengan dunia bukan kefanaannya melainkan dosa, “nafsu duniawi yang membinasakan dunia”. Kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi dengan menjadi makin seperti Yesus, Allah dan Juruselamat kita. Dengan kata lain, kita tidak luput dari kemanusiaan dengan menjadi ilah, tetapi kita luput dari dosa sehingga menjadi suci. Hal itu terjadi karena di dalam Yesus kita mengenal Allah, dan dikuatkan oleh janji-janji Injil sehingga kita makin seperti Yesus.

Dalam aa.5-7 Petrus mendaftar serangkaian sifat yang akan mempraktekkan pemahaman tersebut. Iman adalah dasarnya, dan kasih adalah hasilnya. Di antaranya, Petrus menyebut kebajikan (arete kembali), yaitu, sifat-sifat yang layak dihormati, serta pengetahuan. Kedua hal itu adalah bagian dari kedewasaan umum, tetapi dibangun kembali atas dasar iman. Dengan kedua hal itu kita dimampukan menguasai diri, baik dalam menghindar dari hawa nafsu yang tidak baik, maupun dalam bertekun dalam penderitaan. Dengan demikian, kita akan menunjukkan sikap dan tingkah laku yang cocok sebagai orang yang taat kepada Allah. Di atas itu, Petrus melihat sifat utama yang mencirikan orang percaya, yaitu, kasih, dilihat dari perspektif kasih di dalam persekutuan, dan kasih akan semua orang (“akan semua orang” adalah tambahan dari LAI, tetapi cocok dalam konteksnya). Perlu diingat bahwa daftar ini tidak berdiri sendiri, tetapi terdapat dalam pembahasan tentang kuasa ilahi dan janji sebagai sumber dan dasar iman.

Aa.8-9 memberi motivatsi dengan menawarkan dua akibat, yaitu berhasil dalam pengenalan akan Yesus Kristus, atau menjadi buta dan picik. Frase “dengan berlimpah-limpah” merujuk pada aa.5-7 sebagai proses. Sifat-sifat itu tidak jadi dengan tiba-tiba, dan juga tidak jadi satu per satu, tetapi akan berkembang bersama. Karena selalu berkembang, kita selalu segar dalam hidup beriman kita. Pengenalan akan Yesus tidak mandek, tetapi mengalir ke dalam seluruh kehidupan dan relasi kita. Alternatifnya buta dan picik. Dari akhir a.9, adalah jelas bahwa Petrus tidak melihat keselamatan itu bergantung pada keberhasilan dalam pertumbuhan, karena dosanya tetap dihapuskan. Hanya, dia melihat kehidupan yang picik itu sebagai akibat bahwa penghapusan itu tidak diingat dan tidak menjadi landasan kehidupan seseorang. Kembali kita melihat bahwa bagi Petrus, sumber perubahan hidup adalah anugerah Allah, usaha manusia adalah respons belaka.

Aa.10-11 melihat lebih luas, yaitu pada rencana keselamatan Allah. Usaha dalam aa.5-7 akan membuat panggilan dan pilihan Allah akan kita makin teguh–bukan bagi Allah, melainkan bagi kita sendiri, karena perubahan hidup sudah nyata. Kita akan kurang rentan digoyang oleh pencobaan dan tantangan. Terjemahan a.11 agak sulit. Kata kerja utama yang diterjemahkan “dikaruniakan” (epikhoregeo) adalah sama dengan kata kerja yang diterjemahkan “menambahkan” dalam a.5. Kata itu dipakai untuk pemberian, khususnya dalam rangka membekali atau membiayai. Dalam a.5, iman ibarat rumah yang masih kosong yang harus dibekali dengan berbagai sifat yang lain. Dalam a.11, yang dibekali adalah kita, dan kita dibekali dengan hak memasuki Kerajaan kekal. Hak di sini berarti izin yang dikaruniakan, bukan hak karena layak secara hukum. Bekal yang kita tambahkan pada iman kita dibalas dengan bekal untuk masuk ke surga, bukan sebagai upah tetapi karena Kerajaan itu makin menjadi kerinduan dan tujuan kita.

Maksud bagi Pembaca

Di hadapan berbagai tantangan, termasuk ajaran sesat, Petrus mau mempersiapkan para penerima surat supaya mereka mengambil bagian yang berguna dalam rencana keselamatan Allah. Pengenalan akan Kristus yang mulia memungkinkan kuasa Allah mengubah kehidupan kita sehingga usaha yang tepat dalam perkembangan karakter berhasil, dan kita mencapai Kerajaan Kristus tanpa hambatan. Jadi, hasil yang diharapkan Petrus adalah perkembangan karakter. Untuk memotivasi tujuan itu, dia menjelaskan 1) bekal Allah berupa kuasa dan janji-janji; lalu 2) akibat, yakni: a) akibat sementara, berbuah atau picik, dan b) akibat kekal, tersandung atau masuk Kerajaan Tuhan dengan lancar.

Makna

Satu analisis dari lemahnya gereja di daerah seperti Toraja adalah bahwa etos budaya yang ditopang dengan kuat oleh mitos lama telah runtuh karena mitosnya runtuh, tetapi etos baru yang berakar dalam Injil belum menghasilkan etos budaya yang baru. Dulunya, konon, orang Toraja rata-rata saleh, patuh terhadap nilai-nilai yang dilindungi oleh adat dan tabu (aluk sola pemali). Kedatangan kekristenan serta modernisasi merongrong kepercayaan lama, sehingga banyak tabu dan nilai lama tidak lagi kuat, tetapi Injil belum ditangkap dengan jelas untuk menopang nilai-nilai baru (yang dalam banyak hal akan mirip dengan nilai lama, hanya memang akan lebih fleksibel untuk dunia modern).

Makanya, saya tertarik untuk melihat sejauh mana aa.5-7 dapat dikaitkan dengan Injil. Ayat-ayat itu jelas terletak dalam konteks Injil, tetapi sejauh mana sifat-sifat itu masing-masing dapat dilihat berakar dalam Injil? Yang saya temukan, seluruh perikop dapat disampaikan beranjak dari ayat-ayat ini. Yang pertama, iman, jelas berarti iman kepada Kristus. Iman adalah respons kita terhadap panggilan Allah (a.3), dan aa.5-7 menunjukkan bagaimana caranya panggilan Allah dapat diteguhkan (a.10). Kebajikan kita akan mencontoh kebajikan (arete) Yesus yang dipakai Allah untuk menarik kita kepada Kristus; kita mau menjadi seperti Kristus yang mulia itu (a.3). Pengetahuan jelas termasuk pengetahuan akan Injil Kristus; bagaimana mengenal Kristus (aa.3, 8) jika pengetahuan isi Alkitab sangat minim? Penguasaan diri jelas menjadi lebih menantang dalam iman kepada Kristus ketimbang budaya Yunani pada umumnya ataupun budaya lama Toraja, karena motivasi dan pikiran juga harus dikendalikan, bukan hanya tindakan dan perasaan yang meluap. Tetapi karena anugerah Allah dalam penghapusan dosa, dan dengan memandang kemuliaan Kristus, hawa nafsu duniawi tidak lagi terasa cocok, sehingga kuasa ilahi dicari untuk membangun keserupaan dengan Kristus dan luput dari hawa nafsu duniawi (a.4). Ketaatan kepada Allah juga menjadikan ketekunan lebih sering diperlukan. Namun, janji Allah (a.4) membuat ketekunan masuk akal, karena ada harapan yang mulia, yakni, bergabung dengan Kristus dalam Kerajaan-Nya (a.11). Hal-hal itu memungkinkan hidup yang saleh (a.3), karena kita tidak mudah terpeleset oleh nafsu dari dalam atau tekanan dari luar. Tetapi, kesalehan bukan hal terakhir. Di dalam kasih kita berbagi dalam kodrat ilahi dengan menjadi serupa dengan Kristus. Dari seluruh perikop, tinggal dijelaskan bahwa semua sifat-sifat ini adalah pemberian kuasa ilahi (a.3), dan akibatnya jika sifat-sifat ini diusahakan atau tidak (aa.8-11).

Satu pintu masuk untuk membicarakan soal itu adalah soal kemuliaan dalam a.3. Sebagian warga jemaat sangat asyik dengan kesemarakan upacara orang mati, jauh lebih asyik daripada Yesus yang mulia dan layak dikagumi. Sebagian yang lain asyik dengan harta benda, sebagian pemuda asyik dengan menjadi “keren”, dsb. Pokoknya, apa yang kita kagumi, yang kita anggap mengasyikkan, yang membuat hidup kita berarti dan tidak tawar, bagi Petrus adalah pertama-tama Yesus.

Melangkah lebih jauh dari maksud perikop, menarik untuk mengamati bahwa Petrus juga berpikir secara Tritunggal, jika “kuasa ilahi” merujuk pada kuasa Roh Kudus. Allah adalah sumber, pengenalan akan Yesus adalah sarana, dan Roh yang bekerja di tengah usaha kita. Kita juga dapat melihat ketiga “kebajikan teologis” di sini, yakni, iman, kasih dan pengharapan. Di sini pengharapan (aa.3, 11) adalah kerangka yang di dalamnya iman (a.5) bekerja dalam kasih (a.7).

[1] Ingat bahwa hanya segelintir orang yang dapat membaca, sebagian besar jemaat akan mendengarkan surat ini dibacakan dalam perkumpulan.

[2] Kesalehan (eusebeia) pada dasarnya menggambarkan sikap religius seperti terdapat dalam agama Yunani tradisional, dan juga agama/adat tradisional orang Toraja, yaitu, ketaatan yang teliti terhadap ritus dan tabu karena menghargai kuasa ilahi. Kata itu jarang ditemukan dalam terjemahan Yunani dari PL, karena kepada Allah yang esa penyerahan seluruh diri dituntut, bukan sekadar ketaatan terhadap berbagai aturan. Namun, dalam surat-surat Penggembalaan (1 Timotius – Titus) dan surat 2 Petrus, kata itu dipakai untuk menegaskan bahwa iman yang sejati akan kelihatan dalam tingkah laku. Iman kepada Kristus semestinya lebih efektif daripada keyakinan yang lain.

[3] A.1 adalah salah satu dari hanya beberapa ayat yang langsung menggelari Yesus “Allah” (theos). A.2 memakai pola yang lebih biasa, yaitu membedakan oknum Allah (theos) dengan Yesus sebagai Tuhan (kurios). Jadi, rujukan “Nya” dan “Dia” dalam a.3 bisa Allah atau Yesus. Ingat bahwa kurios dan theos bukanlah sinonim seperti Allah dan Tuhan. Theos adalah jenis–oknum yang ilahi, sedangkan kurios adalah jabatan, tuan atau yang dipertuan. Bahwa a.1 langsung menggelari Yesus sebagai Allah diperdebatkan, tetapi penyusunan kalimat persis sama dengan a.11 yang jelas hanya merujuk pada satu oknum, Yesus Kristus.


Yud 1:17-23 Tiga langkah dalam menghadapi kelompok yang sesat [9 Oktober 2011]

Oktober 8, 2011

Penggalian Teks

Para penerima surat ini menghadapi sekelompok orang yang membahayakan persekutuan mereka. Tidak jelas apakah kelompok ini memegang suatu ajaran yang sesat, tetapi yang jelas adalah gaya hidup mereka. Mereka percaya pada kasih karunia Allah, dan menerima Yesus sebagai Tuhan (kurios), tetapi menganggap kasih karunia sebagai izin untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan dengan demikian menyangkal dalam tindakan bahwa Yesus adalah Penguasa. (Penguasa = despotes, yang sama seperti kurios berarti “tuan”, tetapi menyoroti kuasa mutlak tuan ada budaknya, sedangkan kurios menyoroti wibawa seorang tuan. Sepertinya kelompok ini mengagumi Yesus, tetapi tidak menganggap penting menaati Yesus.) Tentang mereka Yudas menyampaikan serangkaian peringatan (yang isinya mirip dengan 2 Petrus 2) tentang hukuman yang akan menimpa mereka. Perikop kita adalah implikasinya bagi para penerima.

Ada tiga bagian yang cukup jelas di dalamnya. Aa.17-19 mengangkat peringatan rasul-rasul tentang para “pengejek”. Artinya bahwa yang terjadi bukan kejutan karena para rasul sudah memberitahu akan demikian (berdasarkan ajaran Yesus sendiri). Aa.20-21 menyuruh mereka untuk menjaga diri. Frase utama adalah “Peliharalah dirimu dalam kasih Allah” (a.21a), dengan a.20 sebagai dasar dan a.21b sebagai tujuan. Aa.22-23 menunjukkan tanggapan yang diperlukan kepada orang yang terlibat dalam masalah ini. Terjemahan LAI memberi kesan hanya dua kelompok, tetapi sebenarnya tiga kelompok yang berbeda dialamatkan di sini, di a.22, a.23a dan a.23b (dalam bahasa asli: hous men…hous de…hous de). Jadi, yang ragu-ragu bukannya sudah atau nyaris termasuk api, tetapi ada yang ragu-ragu (a.22), ada yang dalam keadaan sangat berbahaya (a.23a), dan ada yang sudah terpola dalam dosa, barangkali para nabi palsu sendiri (a.23b).

Ketiga bagian perikop kita saling berkaitan. Dalam a.19 kelompok itu menjadi pengacau karena keinginan yang berasal dari dunia, bukan dari Roh. Makanya, di atas dasar iman itu doa dalam Roh Kudus yang diperlukan untuk bertahan dalam kasih Allah (a.20). Roh Kudus yang dapat mengubah keinginan-keinganan duniawi. Kemudian, harapan yang menyertai pemeliharaan diri dalam kasih Allah terfokus pada rahmat Tuhan dalam memberi hidup yang kekal (a.22). Rahmat, yaitu belas kasihan (keduanya menerjemahkan kata eleos), yang harus menggerakkan penerima surat Yudas dalam relasi mereka dengan orang-orang yang bermasalah.

Maksud bagi Pembaca

Yudas mau menguatkan penerima suratnya untuk menghadapi ancaman kelompok yang sesat dengan tepat. Mereka perlu mengingat ancamannya, berjaga diri, serta menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang yang dalam bahaya sesuai dengan kondisi mereka.

Makna

Bahasa LAI “Menjelang akhir zaman” dapat memberi kesan bahwa keadaan akan memburuk pas sebelum Kristus datang. Tetapi kalau begitu, perkataan para rasul itu belum berlaku bagi zaman Yudas sendiri, karena belum menjelang apa-apa. Tetapi harfiahnya “pada waktu terakhir” lebih jelas. Zaman sejak pencurahan Roh Kudus adalah “waktu terakhir” (bdk. Kis 2:17). Bersamaan dengan Injil berkembang, kefasikan juga berkembang, dan / atau menjadi lebih kentara karena perbandingan dengan buah Roh dalam jemaat.

Kelompok macam apa yang harus diwaspadai sekarang? Di atas saya mengusulkan bahwa inti masalah adalah gaya hidup mereka. Mereka mungkin saja tampak sehat, tetapi hati mereka busuk. Di dunia Barat, gereja dihebohkan oleh pelayan (pastor, pendeta, gembala) yang menggunakan kepercayaan jemaat sebagai kedok untuk melecehkan anak. Di mana saja, ada pendeta dan majelis yang dikuasai oleh keinginan akan kuasa; biasanya pemecah-belah demikian. Juga terlalu banyak cerita tentang majelis atau pendeta yang memakai uang jemaat (saldo jemaat akhir tahun; proyek) sebagai tempat pencarian. Tetapi intinya bukan pada dosa-dosa tertentu melainkan pada apa yang sebenarnya menjadi kendali kehidupan orang. Jatuh ke dalam dosa tertentu tidak sama dengan hidup dalam dosa itu.

Peringatan Yudas ialah bahwa kalau seseorang dikuasai oleh keinginan dosa, hidup dalam dosa itu, dia tidak memiliki Roh Kudus. Tetapi, dalam a.22 ada beberapa tahap. Yang ragu-ragu itu saya artikan sebagai orang yang tertarik dengan kelompok sesat tetapi belum diyakinkan. Misalnya, majelis melihat pendeta beruntung dari proyek, sehingga mulai menganggap bahwa itu cara yang mungkin baik-baik saja. Yang perlu dirampas dari api adalah yang sudah mau mengikuti kelompok sesat itu. Kedua kelompok ini belum tentu kehilangan Roh Kudus, sehingga ada usaha untuk menyelamatkan mereka. Kelompok tiga adalah yang tidak memiliki Roh Kudus.

Belas kasihan (eleos) perlu diartikan dari rahmat (eleos) Tuhan, yaitu, bertujuan keselamatan (a.21). Kelompok ragu-ragu dirangkum supaya kembali yakin akan jalan yang benar. Kelompok yang sudah jatuh hampir sampai kehancuran perlu “dirampas”. Merampas sepertinya bertolakbelakang dengan belas kasihan, tetapi, misalnya, kita melihat anak menuju api, pasti kita sampai memakai kekerasan untuk menyelamatkan anak itu dari bahaya. Jadi, belas kasihan kepada orang yang mau tersesat bisa saja menuntut cara yang akan dianggap tidak sopan, tegoran yang keras, bahkan mengucilkan, supaya orangnya menjadi sadar, bertobat, dan dengan demikian diselamatkan. Untuk kelompok tiga, relasi tetap dibuka, tetapi kita harus menjaga diri supaya kita jangan terbawa oleh pendirian mereka yang sudah bulat berkanjang dalam dosa.

Tentu belas kasihan yang demikian tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang yang sudah menerapkan aa.20-21. Iman yang paling suci tidak merujuk pertama-tama pada kualitas iman sendiri, karena yang paling suci adalah Dia yang kita imani, yakni Kristus. Tetapi jika atas dasar iman kepada yang Mahasuci itu kita berdoa dalam Roh Kristus yang Kudus (Suci), maka hidup kita akan makin suci. Kasih Allah akan memulihkan berbagai keinginan kita, dan harapan rahmat Kristus akan memperbaiki tujuan-tujuan hidup kita. Dengan demikian kita akan terjaga dari kesesatan, dan disanggupkan untuk membantu orang yang terancam sesat. Sumbernya menjadi jelas dalam aa.24-25, Allah, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus.


Mazmur 46:1-12 “Allah sumber perlindungan dan penyegaran” [28 Agustus 2011]

Agustus 24, 2011

Ayat 11 dari mazmur ini terkenal, tetapi pesan mazmur ini lebih dari sekadar berhenti dari kesibukan. Melalui puisi yang padat, kita diajak untuk mengenal sumber perlindungan dan penyegaran.

Penggalian Teks

Syair ini, yang dipakai dalam ibadah Israel (a.1), terdiri atas tiga bait, setiap bait diakhiri dengan sela. (Kata “sela” sebenarnya adalah transliterasi dari bahasa Ibrani, tetapi satu teori kuat tentang artinya adalah sela, misalnya, untuk meditasi atau renungan.) Bait pertama mengungkapkan tema: keandalan Allah dalam masalah. Bait kedua menyampaikan caranya: Allah hadir di Yerusalem. Bait ketiga mengajak perhatian peserta ibadah terhadap karya Allah.

Kedua bait pertama dikaitkan oleh pola kiasmus. A.2 dan a.8 merupakan pernyataan tentang Allah sebagai tempat perlindungan / kota benteng. Dalam aa.3-4 ada gunung-gunung yang “goncang” (a.3) baru air laut yang “ribut” (a.4); dalam a.7 bangsa-bangsa “ribut” dan kerajaan-kerajaan “goncang” (perhatikan bahwa urutan kedua kata kunci itu juga terbalik). Dengan demikian aa.5-6 menjadi pusat: karena hadirat Allah, kota tidak akan goncang sebab Allah menolong (seperti dalam a.2).

Jadi, bait pertama membawa peserta ibadah kepada pusat itu. A.2 mengungkapkan skenario: “kita” yang beribadah mengalami kesesakan, tetapi Allah menjadi tempat perlindungan dan penolong. Dalam a.3a implikasinya disampaikan, kita tidak akan takut. Kemudian, kesesakan itu diperincikan dalam empat “sekalipun” (a.3b-4). Intinya adalah “bumi berubah”, dan, pada hemat saya, yang digambarkan dalam frasa berikut ialah air bah, karena hanya dalam air bah gunung-gunung goncang di dalam laut. A.4 menggambarkan prosesnya air bah itu. Bagaimanapun juga, yang dimaksud adalah bencana paling dahsyat. Oleh karena siapa Allah, kita tidak akan takut dalam keadaan apapun.

A.5 (awal bait kedua dan pusat dari kedua bait pertama) mulai dengan air yang lain, yaitu, sungai (kata pertama dalam bahasa aslinya). Aliran-aliran sungai ini tidak menakutkan, melainkan menyukakan. Mengingat bahwa tidak ada sungai di Yerusalem (hanya sebuah mata air), sungai ini adalah kiasan untuk hadirat Allah (a.6). Terbalik dari akibat air laut dalam aa.3-4, sungai ini membuat kota Allah (Yerusalem) tidak goncang. Di tengah kesesakan (“menjelang pagi”) Allah menolong umat-Nya (bkd. a.2). Kesesakan diperjelas dalam a.7, yaitu, gelora politik (bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan). Jika belum jelas bagi peserta ibadah sebelumnya, air bah dalam aa.3-4 adalah kiasan untuk gelora politik. Pertolongan Allah digambarkan dengan dahsyat dalam a.7b: cukup Dia berfirman dan bumi (bangsa-bangsa yang bergelora) hancur. A.8 mengulang semangat a.2, tetapi dengan kata-kata yang diwarnai oleh aa.5-6, yakni, kota Allah (“kota benteng”) tempat Allah hadir (“menyertai kita”). Namun, penting diamati bahwa yang dijunjung tinggi sebagai perlindungan ialah Allah, bukan tembok-tembok Yerusalem.

A.7 memiliki satu ciri khas dalam mazmur ini, yaitu semua kata kerja kecuali yang terakhir memakai bentuk perfek. Satu penjelasan untuk ciri itu ialah bahwa ayat ini menyampaikan suatu peristiwa. Sebagai contoh peristiwa yang cocok dengan semangat ayat ini, pada tahun 701 sM Yerusalem dikepung dan sepertinya tidak ada harapan, tetapi tiba-tiba tentara Asyur terpaksa pulang (lih. Yesaya 36-37). Tuhan berfirman dan tentara yang begitu kuat tiba-tiba menghilang.

Aa.9-11 (bait ketiga) memakai kata kerja perintah. Aa.9-10 merupakan seruan dari pemazmur, sedangkan a.11 adalah seruan dari Allah sendiri. Seruan pemazmur adalah untuk memandang pekerjaan Tuhan. Pekerjaan itu digambarkan mulai dari yang paling umum sampai yang lebih konkret. Tuhan mengadakan pemusnahan di bumi (bdk. a.7b), hal itu diperjelas sebagai penghentian peperangan, yang kemudian diperincikan dalam a.10b. Seruan Allah dialamatkan kepada orang yang pergi untuk memandang pekerjaan Tuhan. Pekerjaan itu semestinya membuat kita berdiam diri dan mengakui ketuhanan Allah. Karya keselamatan Allah bagi umat-Nya akan bermuara pada seluruh bumi meninggikan Dia. Dengan mengikuti kedua seruan itu, a.12 (yang mengulang a.8) diakui dengan semakin yakin.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur ini menjunjung tinggi Allah supaya umat Israel mengandalkan-Nya di tengah kekacauan politik internasional. Aa.2-8 memberi kesaksian tentang keandalan Allah, dan aa.9-11 mengajak peserta ibadah untuk merenungkan kesaksian itu. Allah adalah tempat perlindungan dan sumber penyegaran di tengah kesesakan, dan Dia juga bermaksud untuk menghapus segala kekacauan dalam dunia politik manusia (a.10) supaya seluruh bumi meninggikan Dia.

Makna

Kota Yerusalem menjadi simbol penting akan umat Allah, di mana umat Allah tinggal bersama di bawah kuasa raja keturunan Daud yang diurapi dan di sekitar hadirat Allah di dalam Bait Allah. Bentuk umat Allah sekarang agak lain, karena raja keturunan Daud, Yesus, bertakhta di sorga, dan Allah hadir lewat Roh Kudus-Nya di mana saja orang-orang beriman berkumpul. Namun, mazmur ini tetap memberi janji yang luar biasa. Dunia tidak berkurang geloranya—Yesus malah berjanji bahwa akan ada sampai pada akhir zaman—tetapi Tuhan juga tidak berkurang sebagai tempat perlindungan. Ajakan dalam a.9 menjadi justru lebih jelas bagi kita. Ketika kita memandang pekerjaan Allah dalam Kristus, berpuncak pada kematian dan kebangkitan-Nya, kita melihat bagaimana Tuhan membuat sebuah kerajaan yang berkembang melalui pemberitaan, bukan pedang. Kita juga memiliki janji yang kuat bahwa segala perang dan permusuhan akan berakhir ketika Kristus datang kembali. Makanya, cocok juga kita berdiam diri dan mengingat ketuhanan Allah kita, dan berdoa dan bersaksi supaya Dia ditinggikan di seluruh bumi.

Air menjadi simbol ganda dalam mazmur ini. Ada air bah yang mengancam, ada juga sungai yang menyegarkan. Secara fisik, jika kota dikepung temboknya penting, tetapi sumber air tidak kalah penting jika kota mau bertahan. Allah adalah kota benteng sekaligus sumber air bagi umat-Nya. Hadirat Allah di kota Allah seperti sungai dalam Kej 2:10 yang membasahi taman Eden. Hadirat Allah dalam PB, yaitu melalui Roh Kudus, juga digambarkan Yesus sebagai aliran air (Yoh 7:37-39). Ketika gereja terancam, Allah tidak hanya melindungi dari ancaman dari luar, Dia juga menyegarkan umat-Nya ke dalam.

Ibadah bersama menjadi tempat yang sangat cocok untuk mengingat dan merenungkan semuanya itu. Jemaat dikuatkan bukan dengan himbauan untuk bersemangat, melainkan dengan mengetahui siapakah Allah.


Yakub 1:19-27 Firman yang menjadi cermin dan kuasa pembaruan [21 Agustus 2011]

Agustus 16, 2011

Walaupun surat dari Yakobus, adik Yesus itu, sering dianggap sangat praktis, Yakobus berbicara dalam kerangka Injil yang sama dengan kitab-kitab PB yang lainnya. Kristus adalah Tuhan (1:1) yang akan datang kembali (5:7-8), dan kita diselamatkan oleh iman kepada-Nya (2:1, 14—ingat bahwa maksudnya dalam 2:14 dst bukan bahwa perbuatan menyelamatkan melainkan bahwa iman yang menyelamatkan adalah iman yang dilengkapi dengan perbuatan). Allah memiliki rencana bagi ciptaan-Nya, dan oleh firman kebenaran kita dijadikan bagian dari rencana itu (1:18—lihat Yak 1:1-8 Ingin menjadi berhikmat supaya pencobaan bermanfaat). Namun, adalah betul bahwa Yakobus menekankan implikasi dari kerangka Injil itu dalam kehidupan sehari-hari. Perikop kita menunjukkan bagaimana firman itu berfungsi untuk membuat kita “anak sulung di antara semua ciptaan-Nya”.

Penggalian Teks

Ada tiga bagian dalam perikop ini. Aa.19-21 menguraikan sikap untuk penerimaan firman kebenaran dalam a.18. Aa.22-25 menjelaskan bagaimana penerimaan firman berdampak dalam tindakan. Aa.26-27 memberi beberapa contoh konkret.

Setelah a.18, yang menutup bagian tentang pencobaan, a.19 sepertinya berubah haluan, berbicara tentang relasi manusia. Dan memang a.19 merupakan nasihat yang baik dan berguna, sebuah pengingat yang selalu diperlukan. Dalam a.20 sorotan bergeser ke soal amarah. Manusia biasanya menganggap diri paling benar waktu marah, tetapi Yakobus mengatakan bahwa amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran dari perspektif Allah. Dalam a.21 perspektif Allah yang menjadi pokok. Sikap cepat bicara dan amarah menghambat kinerja firman dalam hati manusia. Ternyata aa.19-21 merupakan lanjutan dari a.18. A.18 berbicara tentang awal keselamatan: oleh firman kebenaran Allah “melahirkan” atau “membuahkan” (apokuo, LAI “dijadikan”) kita. Aa.19-21 berbicara tentang sikap yang menghambat atau membiarkan firman melanjutkan karya itu. Jadi, kata “menyelamatkan” (sozo) bisa diartikan “memulihkan”.

Pesan dalam a.22 jelas, yaitu, mempraktekkan firman yang didengar. Jika tidak, kita menipu diri sendiri. Menarik bahwa ilustrasi dalam aa.23-24 berbicara bukan tentang mendengar melainkan tentang memandang. Firman Tuhan ibarat cermin yang di dalamnya kita melihat diri sendiri dengan jernih. Dalam a.25 firman itu disebut sebagai “hukum”. Jika berbicara tentang firman Allah, kata nomos ini biasanya merujuk pada kelima kitab Musa, yakni, Kejadian sampai dengan Ulangan. Perlu diperhatikan bahwa isinya bukan sekadar peraturan-peraturan. Yakobus mengutip dari Dasa Titah dalam 2:11, misalnya, tetapi dia juga menguraikan riwayat hidup Abraham dalam 2:21-23. Makanya, kata “Torah” (Taurat) yang dipakai orang Yahudi untuk menamai kelima kitab Musa berarti pengajaran, lebih luas dari peraturan saja. Kata itu yang diterjemahkan dengan nomos (“hukum”). Maksud Yakobus mungkin lebih luas lagi, karena dia juga banyak menyinggung ajaran Yesus, termasuk dari khotbah di bukit. Semuanya itu berfungsi sebagai cermin yang memampukan kita melihat realita karakter kita, dan juga kuasa Allah untuk memerdekakan (seperti keluaran Israel). Dengan demikian, ketaatan menjadi sebuah berkat.

Sebagai semacam pengukur, mengingat mudahnya kita menipu diri, Yakobus menyampaikan beberapa contoh dalam aa.26-27. Contohnya luas. Mengujungi yatim dan janda adalah yang paling praktis; mengekang lidah praktis tetapi lebih umum; menjaga untuk tidak dicemarkan dan tidak menipu diri sendiri justru menyangkut batin. Yakobus tidak menekankan tindakan sebagai ganti hati yang beres, tetapi menekankan hati dan tindakan yang sejalan. Semuanya berarti karena merupakan ibadah kepada Allah, sumber setiap pemberian yang baik (a.17).

Maksud bagi Pembaca

Yakobus mau supaya para pendengar suratnya diubah oleh firman kebenaran, sehingga menjadi bagian dari pembaruan ciptaan Allah. Dia mengangkat bodohnya orang yang lekas bicara dan amarah sebagai cermin bagi orang yang malas mendengar firman Tuhan. Kemudian, dia mengangkat kiasan firman sebagai cermin supaya kita menghargai pembaruan yang ditawarkan jika kita mempraktekkannya. Akhirnya, dia mengadakan semacam tes kecil supaya kita bisa mengukur apakah kehidupan kita sudah tertuju kepada Allah (alias merupakan ibadah) atau belum.

Makna

Kiasan cermin yang menjadi pokok menurut tafsiran di atas perlu dikaitkan dengan soal muka. Kapan seseorang memandang cermin? Bukankah sebelum keluar? Kita memandang cermin supaya jika ada sesuatu yang memalukan, yang tidak pantas dalam penampilan kita, hal itu bisa diperbaiki sebelum kita mendapat malu. Makanya, orang yang langsung lupa kita anggap bodoh. Suatu kesempatan yang berguna dibuang.

Tetapi kita dinilai bukan hanya menurut penampilan fisik, tetapi juga menurut tingkah laku kita, yang dianggap menyatakan karakter kita. Dari apa yang kita lakukan, orang lain menilai apakah kita adalah orang baik atau tidak. Semestinya kita senang andaikan ada cermin karakter, sehingga noda-noda dapat dibereskan sebelum kita tampil di depan orang. Taurat (hukum) Allah, yaitu berbagai perintah tetapi juga berbagai kisah tentang Allah dan manusia, dapat berfungsi sebagai cermin itu.

Hanya, ada satu perbedaan pokok. Sebuah cermin memberitahu kita tentang berbagai cacat, tetapi tidak mengubah kita. Firman Allah tertanam di dalam hati kita, dan berkuasa untuk memulihkan jiwa kita (a.21). Kita menjadi bagian dari rencana Allah dengan mengesampingkan sikap yang buruk—keegoisan (suka bicara/amarah) dan berbagai kecemaran hati (aa.19-21)—kemudian dengan mempraktekkan firman itu (aa.22-25). Sebagai contoh, andaikan ada orang yang sudah lama berbaring karena sakit tetapi akhirnya ada obat yang tepat. Untuk menjadi sungguh pulih, orang itu perlu mengesampingkan sikap yang buruk, misalnya sikap yang menempatkannya sebagai orang yang tidak berdaya, atau sikap tidak mau mendengar nasihat dokter dsb. Tetapi untuk sungguh pulih, orang itu juga perlu berdiri dan berjalan. Tanpa obat dia tidak bisa berdiri, tetapi minum obat yang tidak disertai oleh tindakan juga tidak akan berguna. Pengajaran firman Allah memberitahu kita tentang berbagai cacat kita dan juga berkuasa untuk memulihkan cacat-cacat itu.

Tanpa pemahaman seperti itu kita akan jatuh ke dalam semacam moralisme: lakukan ini dan itu sebagai kewajiban keagamaanmu. Dengan demikian, hukum Allah tidak membawa kemerdekaan atau kebahagiaan (a.25). Tetapi jika kita bekerja sama dengan firman dengan cara mempraktekkannya, seluruh hidup kita menjadi ibadah yang berkenan di hadapan Allah.

Soal ibadah mengingatkan kita tentang hal yang paling pokok. Kita tampil bukan hanya di depan manusia melainkan di depan Allah. Kadangkala penilaian sesama mendukung penilaian Allah, tetapi kadangkala kedua penilaian bertentangan, sebagaimana dilihat dalam pasal berikut di mana Yakobus berbicara tentang keberpihakan jemaat kepada orang kaya. Orang yang percaya bahwa sumber semua pemberian yang baik itu Allah Bapa kita akan memilih untuk mencari muka di hadapan Allah, bukan manusia, sehingga firman Allah sebagai cermin dan kuasa pembaruan menjadi pokok dalam kehidupannya.


Luk 4:1-13 Yesus telah mengalahkan Iblis

Maret 3, 2011

Walaupun kita dapat belajar dari pencobaan Yesus, ada sesuatu yang lebih dalam lagi di dalamnya. Setelah dibaptis dalam Roh dan diutus oleh Bapa-Nya di sorga (Luk 3:21-22), Yesus, sebagai anak Daud (3:31) harus melawan musuh umat Allah yang terlalu kuat untuk umat Allah, sama seperti Daud melawan Goliat. Sebagai anak Abraham (3:34) ketaatan-Nya harus diuji sama seperti Abraham diuji (Kej 22:1; cerita itu disinggung dalam 3:22 dalam kata “Anak-Ku yang Kukasihi”). Pencobaan pada dasarnya adalah keadaan dari dalam atau dari luar yang menjadi alasan (dalih) untuk tidak taat kepada Allah. Sebagai anak Manusia (3:38), musuh yang harus Dia lawan tidak lain dari si Pemfitnah, si Iblis, yang menggoda Adam dan Hawa. Semuanya dilakukan di padang gurun selama 40 hari, tempat Israel dicobai selama 40 tahun dan gagal. Bagaimana hasilnya Mesias yang baru diurapi ini?

Dari pemakaian present tense untuk kata “dicobai” ada kesan bahwa pencobaan itu berlangsung selama 40 hari. Bagaimanapun juga, setelah 40 hari Yesus lapar. Katanya kalau berpuasa lama, setelah beberapa hari pertama rasa lapar itu hilang selama hanya lemak yang dibakar untuk kebutuhan tubuh. Tetapi jika lemak dalam tubuh sudah habis, ototlah yang mulai dimakan tubuh, dan rasa lapar yang dahsyat muncul, dahsyat karena menyangkut hidup dan mati. Rasa lapar itu yang melanda Yesus pada saat ini. Selain bahwa hal itu menjadi pintu masuk untuk pencobaan yang pertama, kita melihat bahwa Yesus sudah masuk ke ranah paling rawan untuk dicobai, yaitu pada keadaan lemas dan terganggu oleh kebutuhan yang besar. Dalam konteks seperti itu saya dengan paling mudah membenarkan kegagalan saya. Dalam konteks itulah ketaatan Yesus dicobai.

Pencobaan pertama menyangkut kelaparan tadi. Yesus mengutip dari Ul 8:3, di mana dijelaskan bahwa Allah menguji Israel selama 40 tahun di padang gurun, termasuk membiarkan mereka lapar supaya mereka sadar bahwa dasar kehidupan adalah firman Allah, bukan makanan. Kita menganggap bahwa jika orang bisa makan dia bisa hidup. Tetapi Allah mau Israel belajar bahwa jika Israel taat kepada firman Allah baru Israel bisa hidup. Hawa gagal di situ: buah pohon dianggap “baik untuk dimakan” (Kej 3:6) walaupun dilarang. Kelaparan mewakili semua nafsu, hal-hal yang baik pada tempatnya tetapi ketika mendesak bisa membenarkan banyak hal. Yesus membuktikan bahwa manusia bukanlah budak dari nafsu-nafsunya.

Pencobaan kedua dalam urutan Lukas adalah penawaran kuasa duniawi kepada Yesus. Karena si Iblis adalah pembohong, tidak usah dipercaya bahwa dia berhak untuk memberikan kerajaan-kerajaan dunia kepada Yesus. Yang diperlihatkan adalah kemuliaan kerajaan-kerajaan. Jika pencobaan pertama menyangkut pribadi, pencobaan ini menyangkut ranah sosial. Yang tidak diperlihatkan ialah sisi gelap kerajaan-kerajaan itu, tanggung jawab sebagai pemimpin dsb, yang menuntut jalan lain, yaitu salib. Tetapi yang memang muncul adalah syaratnya, yaitu Iblis disembah. Ul 6:13 menjadi tangkisan Yesus. Dengan demikian, kita melihat bahwa mengejar kesemarakan adalah penyembahan berhala. Sejak Hawa melihat bahwa buah pohon itu “sedap kelihatannya” hal itu menjadi penggodaan manusia. Tetapi Yesus membuktikan bahwa manusia dapat menyembah Allah saja.

Pencobaan ketiga menyangkut apakah Yesus akan mencobai Allah. Yesus mengutip dari Ul 6:16, di tengah penegasan Musa tentang pentingnya beribadah kepada Tuhan saja seperti di atas, bukan kepada ilah-ilah yang lain. Ul 6:16 merujuk pada peristiwa di Masa yang diceritakan dalam Kel 17:1-7. Israel baru diselamatkan dari tentara Mesir (Kel 15), dan juga sudah mulai menerima berkat manna sebagai makanan (Kel 16). Air yang dipersoalkan dan dijawab Tuhan pada awal p.17. Dalam kesimpulan Kel 17:7, inti mencobai adalah pertanyaan, “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” Orang yang mempertanyakan kehadiran Allah, ia sudah siap pindah kepada ilah lain. Itulah inti pencobaan dalam ranah religius: beranjak dari keraguan yang mau membuktikan kehadiran Allah. Di tengah kelaparan yang dahsyat Yesus tetapi yakin bahwa Allah hadir dan menyertai-Nya.

Jadi, sebagai Anak Allah, Mesias, Yesus telah mengalahkan musuh besar umat Allah. Ternyata Iblis tidak berkuasa mutlak atas kerajaan-kerajaan manusia, karena ada satu manusia, Yesus, yang dalam kuasa Roh Kudus telah mengalahkannya. Kita ikut di dalam kemenangan Kristus itu. Sebagai anak Abraham, Yesus sudah menempuh ketaatan dalam jalan yang berat menuju salib. Di mana Israel, bahkan seluruh Israel, gagal, Yesus berhasil.

Setelah gagal tiga kali Iblis mundur, menunggu waktu yang baik. Dalam Luk 22:3 Satan masuk ke dalam Yudas. Menghadapi salib Yesus dicobai kembali. Tetapi Dia sudah diuji dan menang pada awal pelayanan-Nya. Semoga dalam kuasa Roh Kudus kita ikut dalam jejak-Nya.


Yak 1:1-8 Ingin menjadi berhikmat supaya pencobaan bermanfaat

Januari 17, 2011

Bagian pertama dari surat Yakobus, adik Kristus itu, berujung pada a.18. Atas kehendak, keputusan, rencana Allah Bapa, Dia telah “melahirkan” (harfiahnya) kita untuk menjadi buah sulung (harfiahnya) pembaruan ciptaan-Nya (LAI mungkin was-was dengan konsep “Allah melahirkan kita” sehingga dirumus kembali sebagai “menjadikan kita…untuk menjadi anak sulung”). Hal itu dihasilkan oleh “firman kebenaran”-Nya, yang menjadi pokok berikut (lihat aa.19 dst: dalam a.21 firman yang menyelamatkan diterima, dalam aa.22 dst dipraktekkan). Ayat ini menyampaikan bahwa Allah mengambil keputusan atau memiliki rencana yang jelas, sehingga mengubah kita secara mendalam pada titik tertentu (bnd. Yoh 3:6-7, “dilahirkan kembali”). Itulah dasar anugerah, bahwa keselamatan kita diprakarsai oleh Allah sendiri. Tetapi anugerah menjadi landasan untuk suatu proses yang di dalamnya kita makin diperbaharui sebagai perintisan (“buah sulung”) pembaruan seluruh ciptaan Allah. Jadi, dalam ayat ini kita melihat makna paling dalam dari pembahasan sebelumnya tentang pencobaan. Pencobaan ikut serta dalam proses pembaharuan itu. Perhatikan bahwa hal itu tidak hanya secara perorangan. Allah melahirkan kita (jamak) untuk kita menjadi buah sulung.

Para pendengar pertama surat ini mengalami langsung keburukan dunia yang membutuhkan pembaruan itu, karena pada umumnya mereka tergolong miskin (Yak 2:5-6). Bagian 1:1-18 ini menunjukkan kepada mereka bahwa walaupun mereka mengalami banyak masalah (aa.2-4), dianggap bodoh (aa.5-8), dan rendah kedudukannya (1:9-11), mereka sebenarnya berbahagia jika mereka bertahan dalam pencobaan (1:12) dengan tidak diseret oleh nafsu yang menyesatkan (aa.13-15) tetapi tetap mengharapkan apa yang baik hanya dari tangan Allah Bapa (aa.16-17). Mereka berbahagia karena sudah memiliki status yang tinggi di hadapan Allah (1:9) dan akan menerima mahkota kehidupan (a.12), yaitu pengakuan oleh Allah (“mahkota”) dan bagian dalam dunia yang sudah diperbaharui (“kehidupan”).

Jadi, perikop kita menunjukkan bagaimana pencobaan dapat membantu kita dalam proses pembaruan itu, yaitu membantu kita “menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun” (a.4). Kata “matang” dan “sempurna” dalam a.4 sama (Yunani teleios; mungkin terjemahan “kamu menjadi matang” tepat juga dalam konteks ini), dan Yakobus melihat bahwa tanpa kesulitan yang menguji, yang menuntut ketekunan, kita tidak bisa matang. Semua manusia menghadapi masalah, tetapi yang cepat menyerah tidak memetik hasil yang semestinya dari masalahnya. Sebaliknya, yang bertekun dalam iman kepada Kristus dapat bersukacita di tengah masalahnya, karena di dalamnya dimatangkan sehingga menjadi bagian dari pembaruan Allah, bukan penghalang.

“Tak kekurangan suatu apapun” tidak merujuk pada materi, tetapi pada karakter, dan ciri khas karakter yang matang ialah hikmat. Menghadapi pencobaan dengan baik dapat menghasilkan hikmat, tetapi juga membutuhkan hikmat! Jadi, kepada pendengar yang masih bergumul untuk bertekun dalam pencobaan (saya rasa itu kita semua!), Yakobus memberitahukan bahwa Allah akan mengabulkan doa untuk mendapat hikmat. Allah tidak akan mencari kesalahan kita sebagai alasan untuk menolak permintaan itu, tetapi dengan murah hati akan memberi kita hikmat yang begitu dibutuhkan itu.

Hanya, ada syarat, yaitu, jangan bimbang. Ada yang menafsir syarat itu bahwa peminta harus merasa sungguh yakin bahwa doa ini akan dikabulkan, baru boleh berharap bahwa doanya akan dikabulkan. Tetapi di sini keyakinan iman adalah soal tindakan bukan perasaan. Sebagai contoh, saya bisa merasa yakin bahwa pesawat terbang aman, tetapi jika saya selalu naik kapal apakah itu keyakinan yang sejati? Sebaliknya, jika saya merasa takut tetapi tetap menaiki pesawat itu (seperti beberapa kali penumpang di samping saya terdiam dan agak pucat ketika mau lepas landas), saya tidak bimbang dalam artian yang disampaikan dalam a.6. Bimbang berarti diombang-ambingkan, tidak memiliki pendirian yang jelas, minta pendapat teman tentang penerbangan tetapi ketika ke travel membeli tiket kapal. Bimbang berarti orangnya memohon hikmat kepada Allah, mungkin dengan semangat, teriakan dan puasa, tetapi dalam hati tidak ingin menjadi orang yang berhikmat, karena tahu bahwa hikmat membawa akibat perubahan sikap, misalnya tidak bisa lagi melemparkan tanggung jawab atas kegagalan dan dosa sendiri kepada keadaan atau Allah yang berkuasa atas keadaan itu.

Jadi, bimbang adalah mendua hati: memohon hikmat sebagai jalan keluar, tetapi tidak menginginkan hikmat dari Allah yang akan membawa pada pembaruan diri. Orang itu masih penghalang bagi rencana pembaruan Allah. Orang itu perlu bertobat dengan menerima firman kebenaran dengan jelas dan tegas, baru orang itu menjadi mitra Allah sehingga pasti akan dibekali dengan hikmat untuk berperan dalam rencana Allah.


Yoh 1:9 Terang yang sesungguhnya

Desember 16, 2010

Manusia takut akan kekacauan dan rindu akan keteraturan, tatanan dunia yang stabil. Tentu dunia bisa terlalu stabil sampai membosankan, tetapi kekacauan layak ditakuti: kekacauan bumi berbentuk bencana alam, kekacauan masyarakat berbentuk anarki, kekacauan dalam batin diri, semuanya mengancam kehidupan dan merusak rencana dan cita-cita. Makanya, semua budaya memiliki suatu konsep tentang tatanan dunia, mencakup bumi, masyarakat dan pribadi. Bagi orang Toraja masa lampau ada aluk to dolo. Bagi orang Yunani ada logos (firman), rasio yang semestinya mengatur dunia politik dan pribadi. Bagi orang Yahudi, Allah menciptakan dunia dengan berfirman, kemudian mengatur kehidupan umat-Nya dengan Taurat.

Mengancam kehidupan artinya berpihak pada maut. Merusak rencana dan cita-cita artinya membuat gelap. Jadi, Yohanes menjelaskan bahwa firman itu wadah kehidupan dan terang (a.4). Kegelapan mengancam terus, tetapi terang itu tetap ada (a.5), karena memang firman itu berakar dalam Yang Ilahi sendiri (a.1).

Sampai di situ bahasa perikop menyambung dengan mungkin hampir semua filsafat dunia. Tetapi dalam a.6 kita mulai melihat sesuatu yang konkret: ada saksi tentang terang ini. Dari satu segi adanya saksi tentang terang tidak masuk akal. Terang adalah hal yang paling mudah dilihat! Tetapi banyak filsafat dan agama sadar tentang kebutaan manusia yang justru sulit mengenali firman yang mendasari kehidupan ini. Saksi ini adalah Yohanes (disebut Pembaptis dalam Injil-Injil yang lain). Yang menarik, penulis Injil (yang menurut tradisi gereja juga bernama Yohanes, tetapi lain orangnya) membantah kalau Yohanes ini adalah terang. Bukankah seorang utusan Allah (a.6) yang membawa umat percaya pada firman Allah (a.7) itu layak dianggap sendiri sebagai pembawa terang? Seperti para nabi dalam PL, atau para filsuf Yunani, atau, mungkin (saya kurang tahu), to minaa dalam aluk, dia menerangi jalan hidup. Tetapi dia ditempatkan sebagai saksi saja. Terang yang sesungguhnya datang pada saat Yohanes bersaksi (itu maksudnya kata “sedang” dalam a.9, bukan masa kita tetapi masa Yohanes), tetapi Yohanes bukan terang itu.

Sebelum penulis Injil menjelaskan teka-teki itu, dia bercerita tentang penerimaan terang itu. Aa.10-11 menegaskan apa yang dikatakan di atas, bahwa banyak orang sulit mengenali firman yang mendasari hidup mereka. Nabi-nabi PL membuktikan bahwa Israel sulit hidup sesuai dengan terang Taurat, padahal mereka merupakan “kepunyaan” Taurat, artinya mereka dibentuk oleh Taurat itu sebagai umat Allah. Tersirat di dalam pernyataan ini adalah pemahaman bahwa firman itu tidak dapat diterima secara formal saja, tetapi perlu dipercayai, malah dihayati. Hal itu menjadi jelas dalam aa.12-13, yang menggambarkan orang yang menerima firman itu. Mereka dapat menjadi anak-anak Allah, artinya memiliki relasi yang akrab dengan Allah, bukan karena soal keturunan tetapi karena Allah membawa hidup baru ke dalam kehidupan mereka. Dengan mengenali tatanan dunia yang sebenarnya, yang menjadi dasar keteraturan dalam diri dan masyarakat, orangnya berubah pada tingkat paling mendasar dalam dirinya.

Gagasan itu sudah menantang agama seperti aluk to dolo, yang tidak banyak mencita-citakan relasi dengan yang ilahi (kecuali mungkin dalam bentuk leluhur yang sudah menjadi ilahi), dan lebih mementingkan kuasa untuk mengatur dunia ini daripada kuasa menjadi anak Allah yang diatur oleh firman Allah. Sebagian besar penganut agama apa saja juga demikian. Namun, dalam banyak agama ada aliran “mistis” yang mau memiliki hubungan yang erat dengan yang ilahi. Ayat berikut mengandung berita yang dahsyat bagi mereka: firman itu menjadi manusia tertentu, sehingga bisa dikenal dengan sangat jelas.

Secara harfiah, a.14 mengatakan bahwa firman itu menjadi daging. Tatanan dunia, wadah kehidupan, terang manusia, telah menjadi satu sosok manusia. Gagasan itu memang sulit diterima, entah dalam rangka kehormatan, bahwa firman terlalu mulia untuk menjadi manusia, atau dalam rangka rasio, bahwa yang universal tidak mungkin menjadi satu orang tertentu. Tetapi maknanya luar biasa. Terang itu diam di antara kita, dan ternyata terang itu bukan sekadar terang tentang tatanan dunia melainkan terang itu adalah kemuliaan Allah sendiri! Di dalam Dia yang disaksikan oleh Yohanes (a.15), maksudnya Yesus Kristus, kita melihat prinsip dunia dan sekaligus pribadi Allah. Dia menjadi perwujudan firman Allah, bagaimana Allah mengatur dunia yang diciptakan, dan menyatakan Allah sendiri sama seperti seorang anak menyatakan Bapanya. Dengan demikian, Allah sendiri hadir di dalam Kristus, dan kita diberi kuasa untuk sungguh-sungguh menjadi anak-anak Allah karena kita percaya dalam nama Sang Anak sejati itu.

Tantangan bagi kita ialah sejauh mana terang itu menjadi dasar kehidupan kita. Setiap kali seseorang pergi ke dukun, dia mencari keteraturan bukan dari Kristus tetapi dari kuasa yang lain. Setiap kali seseorang serakah, dia menjadikan duit itu sebagai pengatur kehidupan dan pencegah kekacauan dalam hidupnya. Orang yang menentang pembaruan lupa bahwa terang yang sesungguhnya mengubah air menjadi anggur. Orang yang khawatir tentang makanan dan minuman lupa bahwa Sang Sumber Hidup sanggup memberi makan 5.000 orang. Orang yang mengejar gengsi lupa bahwa terang ilahi—kemuliaan Allah—dinyatakan ketika Yesus naik salib yang hina. Mengenal Allah dalam terang yang sesungguhnya membawa dampak besar bilamana dijadikan dasar kehidupan kita.

Bagi pembaca yang melanjutkan pelayanan Yohanes, yaitu menjadi saksi tentang terang yang sesungguhnya pada musim Natal ini, kita mau supaya jemaat menjadikan Kristus terang mereka. Sumber kekacauan dalam kehidupan jemaat (secara kelompok dan individu) ialah bahwa Pengatur yang sesungguhnya masih sekadar embel-embel, formalitas. Daripada hanya menegor kekacauan itu terus-menerus sampai semua bosan, marilah kita menemukan cara untuk bersaksi tentang Kristus sampai jemaat dapat memahami apa artinya menerima-Nya sebagai Terang dan Hidup. Semoga banyak yang menerima-Nya Natal ini sehingga mulai menikmati hidup yang sesungguhnya sebagai anak-anak Allah dalam Sang Anak.


Luk 1:26-38 Menyambut baik peran dalam rencana Allah

November 30, 2010

Cerita ini terkenal. Aa.26-27 menempatkan cerita ini dalam konteks ruang dan waktu, dan memperkenalkan Maria. Selebihnya adalah percakapan antara Gabriel dengan Maria, yang di dalamnya Gabriel memberitahukan kelahiran Yesus sebagai Mesias (aa.31-33), dan, menjawab pertanyaan Maria, bahwa hal itu akan terjadi karena kuasa Allah (a.35), sama seperti sudah Dia lakukan bagi Elisabet (a.36). Akhirnya, Maria setuju, dan Gabriel pergi (a.38).

Cerita ini mulai dengan rujukan pada cerita sebelumnya, yaitu, dalam a.26, “bulan yang keenam” merujuk pada kehamilan Elisabet, dan malaikat Gabriel tidak perlu diperkenalkan karena sudah dikenal dari perjumpaannya dengan Zakharia. Hal itu diteguhkan pada a.36 di mana Elisabet disebut kembali. Makanya, cerita ini perlu dipahami dalam perbandingan dengan cerita sebelumnya.

Sebenarnya, kedua cerita sangat sejajar. Setiap cerita mulai dengan perkenalan (1:5-6 || a.26-27). Elisabet mandul dan akhirnya mengandung; ketika dikatakan bahwa Maria perawan, apakah dia juga akan mengandung? Kemudian ada penampakan Gabriel (1:8-11 || a.28). Caranya memang berbeda. Karena Zakharia sedang di Bait Allah, dia harus menafsir bahwa yang tampak adalah malaikat. Tetapi malaikat bisa tampil sebagai manusia biasa, dan barangkali Gabriel masuk ke dalam rumah Maria seperti itu. Kemudian ada reaksi masing-masing. Zakharia terkejut dan takut (1:12), sedangkan Maria terkejut oleh sapaan yang aneh dan ada rasa ingin tahu (a.29). Apakah di situ kita mulai melihat perbedaan dalam penerimaan mereka? Atau memang malaikat lebih lembut kepada Maria daripada Zakharia?

Kemudian, malaikat mengatakan “Jangan takut”. Hal itu sepertinya menjadi kebiasaan, karena pada umumnya manusia takut berhadapan dengan malaikat, jika sudah disadari. Bagi Zakharia ucapan itu mau menenangkan hatinya yang sudah takut supaya dia dapat mendengar berita yang sangat menyenangkan, tetapi bagi Maria ucapan itu mempersiapkan Maria untuk berita yang mungkin saja menakutkan jika implikasinya disadari (hamil sebelum menikah; tanggung jawab mengasuh Mesias). Dalam penjelasan Gabriel yang berikut kelahiran dan nama bayi disebutkan (1:13-14 || a.30-31), kemudian gambaran tentang anak masing-masing (1:15-17 || aa.32-33). Kedua gambaran itu menjadi cara Lukas untuk memberitahu pembaca tentang kedua tokoh dalam cerita berikut, yakni Yohanes dan Yesus. Jadi, aa.32-33 menjadi inti tentang siapakah Yesus ini (ditambah dengan a.35b), suatu tema yang kunci dalam seluruh Injil Lukas. Perhatikan bahwa malaikat menyampaikan pesan itu dalam bahasa yang dapat dimengerti Maria, yaitu terkait dengan harapan Mesianis Israel, sebagaimana dilihat dari nas-nas PL yang dirujuk oleh Gabriel. Hanya dalam pelayanan Yesus sendiri kita mulai melihat bahwa musuh sebenarnya bukan orang Roma melainkan Iblis, dan dengan kematian dan kebangkitan-Nya kita melihat bagaimana caranya Dia mengalahkan musuh itu dan menjadi raja di atas segala raja.

Kemudian, baik Zakharia maupun Maria bertanya tentang pemberitahuan Gabriel (1:18 || a.34). Perbedaan antara pertanyaan mereka halus: Zakharia bertanya bagaimana dia dapat tahu, sedangkan Maria bertanya soal kemungkinannya sebagai perawan. Tanggapan Gabriel kepada kedua pertanyaan mereka sangat lain. Mengapa? Apakah karena berita kepada Zakharia sesuatu yang sudah terjadi beberapa kali dalam PL (misalnya, Sarai), sedangkan kehamilan pada perawan memang unik? Apakah pertanyaan tentang mengetahui sebenarnya mempertanyakan kemungkinan untuk hal itu terjadi, sedangkan pertanyaan Maria menerima janji itu dan hanya bertanya tentang caranya? Yang jelas, kedua cerita ini menjadi lain pada titik ini. Gabriel menjawab pertanyaan Zakharia dengan tegoran dan semacam didikan (menjadi bisu, 1:19-20), sedangkan Maria dikuatkan dengan pernyataan tentang kuasa Tuhan (aa.35, 37) yang ditopang dengan contoh Elisabet (a.36). Akhirnya, Zakharia bisu dan tidak bisa berbicara (1:21-23) sedangkan Maria menjawab dengan penuh penyerahan diri (a.38).

Singkatnya, kabar baik yang disampaikan malaikat Allah tidak dipercayai oleh Zakaria (1:20), si imam yang saleh itu (1:5-6), tetapi disambut dengan baik oleh perempuan yang masih muda ini (a.38), meskipun banyak risikonya. Dalam cerita berikut, ketika Maria pergi menemui Elisabet, sambutan itu menjadi pujian yang dahsyat (1:46-55).

Dilihat demikian, perikop ini kaya dengan tema yang layak diberitakan, termasuk penyataan Allah, kuasa Allah, penggenapan janji Allah dan Yesus sebagai Mesias. Tetapi, dalam perbandingan dengan cerita sebelumnya, satu tema lagi adalah penerimaan Maria. Jenis sastra naratif menjamin bahwa pemberitaan tentang Yesus sebagai kunci rencana keselamatan Allah sebagai raja Kerajaan Allah selalu dikaitkan dengan respons manusia, apakah itu tidak percaya, belum percaya (Zakharia) atau menyambut dengan baik (Maria). Yang mana mau dijadikan topik dan yang mana pelengkap? Jika karya Allah, maka amanat teks bisa begini: penggenapan harapan PL dalam kelahiran Yesus terwujud melalui seorang perawan yang menyambut baik perannya dalam rencana Allah. Jika respons Maria, maka amanat teks bisa begini: Maria menyambut baik perannya dalam rencana Allah untuk melahirkan Mesias sebagai penggenapan janji Allah. Dalam amanat khotbah berbagai aspek dapat ditonjolkan, entah kuasa Allah, kerendahan status Maria yang dipilih Allah, penggenapan PL dsb, asalkan jemaat dikuatkan oleh janji kelahiran Yesus dan diajak untuk menyambut baik karya itu, sama seperti Maria. Dengan demikian, tema Adven II sudah diwakili.

Khususnya untuk kalangan Gereja Toraja, hari Minggu ini adalah HUT PWGT (persekutuan wanita). Bahwa Allah memilih seorang perempuan untuk melahirkan Mesias tidak terlalu mengejutkan. Tetapi Injil Lukas khususnya menonjolkan Maria sebagai perempuan yang langsung disapa Tuhan, dan yang menjadi teladan iman, lebih dari Zakharia, seorang laki-laki dan imam.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.