1 Kor 5:1-13 “Pemurnian melalui pengucilan” (12 Feb 2012)

Februari 9, 2012

Disiplin gereja menjadi hal yang sangat sulit dalam dunia modern yang majemuk. Makanya, adalah penting untuk mengingat prinsip teologis yang ada di baliknya. Jemaat adalah bagian penting dalam rencana Allah, bahkan disebut tubuh Kristus. Jadi, pengucilan bukan suatu taktik praktis saja, melainkan salah satu cara kita bekerja sama dengan Allah. Sejauh mana hal itu belum ditangkap, disiplin gerejawi akan kacau dan rancu. Etika tanpa teologi adalah lumpuh.

Penggalian Teks

Jemaat di Korintus bermasalah karena mengikuti hikmat duniawi yang terpesona dengan keagungan dan tidak berpatokan pada salib. Oleh karena itu, lemahlah identitas mereka sebagai tubuh Kristus, bait Allah yang kudus (3:16-17). Makanya, Paulus bertanya apakah dia harus datang kepada mereka dengan cambuk (4:21). Perikop kita adalah yang pertama dari tiga perikop di mana Paulus mengangkat contoh-contoh konkret dari kelemahan itu, dan mengingatkan jemaat tentang kebenaran tentang Allah dan Kristus (alias teologi) yang diingkari oleh tingkah laku mereka. Mulai dengan 7:1 kita belajar bahwa ada surat dari jemaat yang menanyakan berbagai hal, tetapi ternyata hal-hal dalam pp.5-6 justru tidak mereka tanyakan. Memang, masalah dosa yang berat jarang disingkapkan oleh jemaat sendiri, tetapi informasinya diperoleh melalui orang lain.

Perkaranya tidak diperinci dalam a.1, karena tentu sudah diketahui jemaat. Tetapi, hubungan mesra dengan ibu atau ibu tiri sama saja dikecam berat oleh semua budaya pada zaman itu, sama seperti yang dikeluhkan oleh Paulus. Dalam aa.2-5 dia berbicara tentang tindakan yang semestinya terhadap orang berdosa itu, yaitu pengucilan. Hal itu demi kebaikan orang tersebut (a.5), tetapi juga demi kesucian jemaat (aa.6-8). Dalam aa.9-13 Paulus membedakan sikap terhadap orang yang mengaku sebagai saudara dan orang-orang di luar.

Jemaat di Korintus sombong, dalam artian, memiliki penilaian diri yang terlalu tinggi (a.2). Bisa saja Paulus merujuk ke sikap mereka secara umum, tetapi jika 6:12 (“Segala sesuatu halal bagiku”) adalah moto mereka, bisa juga mereka bangga bahwa mereka bebas dari larangan-larangan sempit khalayak ramai. Soalnya, hal yang dilarang budaya-budaya itu juga dilarang oleh Tuhan (Im 18:6-8). Sebaliknya, semestinya mereka berdukacita karena adanya dosa itu dan mengeluarkan orang tersebut dari persekutuan mereka. Dalam aa.3-5 Paulus melakukan proses itu walaupun dari jauh. Dia menyatakan hukumannya, dan menyuruh mereka untuk berkumpul, dengan dia seakan-akan hadir dalam roh. Tujuan pengucilan adalah “agar rohnya diselamatkan”. Dengan berada di luar persekutuan jemaat, diharapkan bahwa dia akan sadar bahwa tindakannya membuat dia sama dengan seorang durhaka, supaya dia bertobat. Dengan dibiarkan di dalam persekutuan jemaat, dia menganggap bahwa tindakannya baik-baik saja.

Tiadanya disiplin di jemaat juga akan menyampaikan pesan yang sama kepada anggota-anggota jemaat yang lain. Kembali dalam a.6 Paulus mengecam sikap mereka. Mereka bermegah atas sesuatu yang semestinya dianggap memalukan, sehingga seluruh jemaat terpengaruh. Kiasan ragi yang mengkhamiri seluruh adonan dikembangkan dalam aa.7-8 dalam kaitan dengan Paskah. Ketika mau keluar dari Mesir, orang Israel menyembelih domba Paskah, yang kemudian dimakan bersama dengan roti tidak beragi, karena terburu-buru. Ketika Paskah dirayakan, orang Israel harus membuang seluruh ragi yang ada selama tujuh hari (Kel 13:7). Kristus adalah domba Paskah kita, dosa adalah ragi, dan jemaat adalah roti yang semestinya tidak beragi itu, sehingga dosa harus dibuang. Dosa disimpulkan sebagai “keburukan” dan “kejahatan”, kedua kata ini (kakia dan poneria) masing-masing dapat berarti kejahatan atau maksud jahat (mau merugikan). Sikap yang sesuai dengan pengorbanan Kristus disimpulkan sebagai “kemurnian dan kebenaran”. Kata “kebenaran” adalah aletheia, yang di sini merujuk pada perkataan yang benar dan tidak munafik.

Dalam aa.9-11 Paulus meluruskan tafsiran mereka akan sesuatu yang pernah dia tulis kepada mereka. Orang di luar persekutuan adalah urusan Allah (a.13). Tetapi persekutuan harus bertanggung jawab atas orang-orang di dalam. Daftar hal yang mencemarkan jemaat lebih luas daripada percabulan saja. Dalam a.10 orang kikir (pleonektes) adalah orang yang ingin lebih, penipu (harpax, dipakai untuk serigala dalam Mt 7:15) adalah orang yang merampas harta orang lain; kedua kata itu menggambarkan kelompok yang sama. Dalam a.11 Paulus menyisipkan pemfitnah dan pemabuk ke dalam daftar tadi. Orang cabul merusak tatanan keluarga, orang kikir dan penipu merusak tatanan harta, penyembah berhala merusak tatanan rohani, pemfitnah dan pemabuk merusak tatanan sosial. Allah akan bertindak terhadap perusakan itu di luar jemaat, tetapi jemaat adalah tubuh Kristus yang telah disucikan, sehingga jemaat diberi wewenang dan tanggung jawab untuk bertindak terhadap perusakan itu di dalam jemaat.

Maksud bagi Pembaca

Dengan mengingatkan jemaat akan identitas mereka sebagai kelompok yang telah ditebus oleh Kristus, Paulus mau supaya mereka menjaga kemurnian jemaat dengan mengeluarkan orang yang dosanya mengancam jemaat, baik supaya orang berdosa itu bertobat, maupun supaya jemaat tidak terpengaruh. Dalam rangka itu, dia menegaskan wewenang mereka untuk mengambil keputusan, dan juga menguatkan pemahaman mereka tentang identitas jemaat.

Makna

Kata beberapa ahli bahwa pengucilan merupakan penerapan orang Yahudi terhadap perintah dalam Taurat untuk membunuh pelanggar berat. Hukuman itu jelas memiliki tujuan yang sama dengan tujuan kedua di atas, yaitu menjaga kekudusan umat Allah. Dilihat dari seluruh cerita Alkitab, artinya sama. Adam dan Hawa dikucilkan dari Eden; Isreal dikucilkan dari tanah Israel; kedua peristiwa itu ibarat kematian karena dijauhkan dari hadirat Allah. Hanya, dikucilkan masih memberi kesempatan bagi yang dihukum untuk bertobat dan diampuni.

Masalahnya bahwa sebagian jemaat yang jatuh ke dalam dosa tidak merasa berbahaya ketika dikucilkan, antara lain karena selalu ada denominasi yang lain tempat mereka dapat beragama (dan banyak yang tidak mau bertobat namun tetap mau beragama). Jika anggota jemaat di Korintus dikeluarkan dari persekutuan, tidak ada denominasi lain yang bisa dia ikuti. Jadi, konteks sekarang merongrong tujuan pertama pengucilan, yaitu pertobatan orang berdosa itu. Tetapi tujuan kedua, pengaruh pada jemaat, tetap berjalan. Masalahnya jika disiplin tidak pernah dijalankan (atau hanya pada hal-hal yang justru tidak pokok) ialah, jemaat menyimpulkan bahwa dosa tidak terlalu apa-apa. Sama seperti ketika pemerintah mengecam korupsi dengan keras tetapi ternyata yang mengecam itu juga terlibat, ajaran etis gereja dilihat sebagai sesuatu yang menyangkut penampilan saja, sesuatu yang idealis tetapi tidak realistis.

Mengapa sampai gereja begitu? Dalam individualisme Barat, individu adalah penentu utama nilai. Dalam pengertian itu, saya tidak berhak untuk mengatakan bahwa padanganmu itu salah, hanya bahwa pendirian saya berbeda. Dari satu segi, sikap itu berakar dalam Injil, karena Injil bermaksud untuk mengubah hati dan sikap, bukan sekadar memaksa penyesuaian dalam tingkah laku. Makanya, gereja hanya dapat bersaksi tentang nilai-nilai Injili, bukan memaksakannya kepada orang yang belum percaya kepada Yesus dan menerima kuasa Roh Kudus. Tetapi Allah memiliki visa tentang kemanusiaan yang sejati yang menentang berbagai bentuk kekacauan, seperti daftar Paulus tadi. Individu bukan penentu utama nilai. Jadi, adalah masalah besar ketika individualisme Barat yang ekstrim itu dibawa ke dalam gereja.

Tetapi bukankah Yesus sendiri melarang kita untuk menghakimi (Mt 7:1)? Dari ayat ini, ada yang menolak disiplin gerejawi dan bahkan menyimpulkan bahwa Allah tidak menghakimi. Jika maksudnya begitu, adalah jelas bahwa Paulus bertentangan dengan Yesus. Lebih lagi, Yesus sendiri jadi rancu, karena di beberapa ayat kemudian Dia “menghakimi” orang-orang tertentu sebagai nabi-nabi palsu (Mt 7:15), dan kemudian Dia berbicara tentang pengucilan melalui suatu proses di jemaat (Mt 18:15-20). Matius 18 menegaskan bahwa kemurnian jemaat penting bagi Yesus. Tetapi ada bahaya yang besar dalam menghakimi, yaitu kemunafikan (Mt 7:5). Kita harus sadar tentang dosa dalam diri kita dahulu, sebelum kita dapat melihat sesama dengan murni. Jika saya biasa memandang perempuan dengan tidak baik, saya akan menafsir semua pandangan laki-laki terhadap perempuan sama seperti saya. Jika saya adalah tukang gosip yang menjatuhkan, saya akan menafsir semua kritikan sebagai usaha untuk menjatuhkan. Tetapi jika saya telah mengeluarkan balok seperti itu dari mata saya dengan bertobat, maka saya dapat melihat dengan lebih jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudara saya (Mt 7:5). Dengan kata lain, menegor dosa dalam sesama adalah untuk membangun dia demi kemurnian jemaat, bukan untuk menutupi dosa dalam diri saya (dengan perhatian dialihkan kepada selumbar dalam mata orang lain, bukan baloknya dalam mata saya). Ajaran Yesus itu mau memurnikan disiplin gerejawi yang bertujuan untuk memurnikan, bukan meniadakannya.


1 Tim 3:14-16 “Gereja Tiang Kebenaran” (29 Jan 2012)

Januari 24, 2012

Kadangkala mengetahui bahasa aslinya berguna. Nas yang pendek ini adalah satu contoh. Terjemahan “kebenaran” tidak salah, hanya dengan mudah akan ditafsir lain dari maksudnya, lebih lagi jika konteks tidak diperhatikan. Bagaimanapun juga, nas ini menguatkan semua yang melayani di dalam gereja.

Penggalian Teks

Paulus menulis surat ini kepada Timotius untuk menguatkannya dalam tugas yang digambarkan dalam 1:3-7, yaitu, menghadapi berbagai ajaran sesat. Dalam rangka itu, Paulus memberi gambaran singkat tentang ibadah dalam jemaat (p.2), kemudian tentang sifat-sifat para pemimpin (p.3), kemudian tentang ajarannya sendiri dan respons Timotius terhadapnya (p.4). Perikop kita adalah sisipan yang menegaskan kembali dasar untuk nasihat Paulus (seperti juga dalam 1:15; 2:3-7).

Jadi, dalam aa.14-15a Paulus kembali berbicara tentang maksudnya menulis. Andaikan dia tidak berhalangan, Paulus akan memilih untuk langsung mengunjungi jemaat di Efesus. Menulis menjadi pengganti kehadirannya.

Yang dianggap pokok oleh Paulus disampaikan dalam aa.15: “bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah”. Frase itu memang menyimpulkan pp.2-3 tadi. Kata “keluarga” menerjemahkan kata oikos yang pada dasarnya berarti rumah, tetapi sudah dipakai dalam 3:4 & 12 untuk penghuni rumah, artinya, rumah tangga atau keluarga. Tetapi perlu diperhatikan bahwa maksud istilah oikos adalah orang-orang yang tinggal bersama, bukan keluarga besar yang mungkin tersebar. Jemaat pada saat itu masih berkumpul di rumah-rumah, tetapi bahasa “oikos Allah” berbicara lebih luas, tentang jemaat yang dalam rangka iman hidup bersama. Sebagaimana dilihat dalam 3:4 tadi, penilik berfungsi sebagai pemimpin (orang tua) dalam “rumah” jemaat itu.

Tentang oikos Allah itu, Paulus menambahkan dua deskripsi lagi. Yang pertama adalah “jemaat dari Allah yang hidup”. Kata “jemaat” (asli ekklesia) berarti sidang, dan justru berasal dari konteks sekuler (seperti Kis 19:39). Ekklesia Allah adalah orang-orang yang berkumpul di sekitar Allah dalam ibadah, seperti Israel berkumpul di sekitar Kemah Suci. Ekklesia itu berbeda dari sidang rakyat karena pusatnya adalah Allah yang hidup.

Oikos dan ekklesia Allah itu yang disebut “tiang penopang dan dasar kebenaran”. Kata “kebenaran” di sini menerjemahkan kata aletheia, apa yang sesungguhnya, bukan dikaiosune, tingkah laku yang benar. Dari a.16, jelas bahwa kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran tentang Kristus, kebenaran yang justru terancam oleh pengajar sesat. Jika keluarga dan jemaat itu kacau, kebenaran itu akan goyang atau runtuh. Tafsiran saya tentang maksud Paulus ialah bahwa kebenaran tentang Yesus itu menjadi kabur, baik di dalam jemaat maupun ke luar, sedangkan Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (2:4).

A.16 menyampaikan isi kebenaran itu. Kebenaran itu disebut sebagai rahasia yang agung. Bahasa “rahasia” dalam Ef 3:3 & 9 berarti sesuatu yang dulunya dirahasiakan tetapi sekarang dinyatakan. Rahasia itu menyangkut “ibadah”, artinya, bukan sekadar ibadah bersama tetapi bagaimana kita berhubungan dengan baik dengan Allah. Kuncinya adalah Kristus, Kristus yang menjadi manusia, dibangkitkan dan diterima di surga, diberitakan dan diimani di antara bangsa-bangsa, dan akan kembali dalam kemuliaan. Karena a.16 mengutip himne yang puitis, beberapa tafsiran tadi butuh penjelasan. “Menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia” merujuk pada seluruh pelayanan-Nya. “Rupa manusia” menerjemahkan kata daging, dan merujuk pada kemanusiaan-Nya yang sejati, bukan sekadar kemiripan. “Dibenarkan dalam Roh” paling jelas jika dibandingkan dengan Rom 1:4, “dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati”. Yesus dihukum oleh manusia, tetapi dalam kebangkitan-Nya oleh Roh Kudus Allah menyatakan bahwa Yesus yang benar, bukan Pilatus dan imam-imam Yahudi. “Menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat” agak kabur, tetapi cocok dengan kenaikan-Nya ke surga. Dengan demikian, kedua yang berikut juga terurut: setelah kenaikan Yesus diberitakan di antara bangsa-bangsa, dan pemberitaan itu menjadi cara orang percaya, karena “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rom 10:17). Pelayanan Timotius tentu terletak di sini. Jemaat adalah orang yang sudah mendengar dan percaya, dan pada gilirannya mau memberitakan Kristus supaya orang lain juga percaya. Dengan demikian, mengikuti urutan, “diangkat dalam kemuliaan” dikaitkan dengan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, di mana Dia akan dilihat dalam segala kemuliaan-Nya. Tidak semua penafsir sepaham, karena syair himne ini tidak selalu jelas. Tetapi yang dimaksud secara keseluruhan adalah bahwa kebenaran tentang Yesus yang memungkinkan kita menyembah Allah, dan kebenaran itu akan menjadi jelas ketika jemaat hidup sesuai dengan kebenaran itu. Dalam ayat-ayat berikutnya, Paulus langsung berbicara tentang ajaran sesat yang sedang mengancam jemaat di Efesus (p.4).

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya Timotius dikuatkan dalam tugas pelayanannya dengan mengingat tempat jemaat dalam rencana Allah sebagai penopang kebenaran yang agung tentang Kristus. Walaupun tugas kita tidak persis sama dengan Timotius, kita semua berperan dalam menguatkan atau melemahkan jemaat, sehingga kebenaran tentang Kristus menjadi lebih jelas atau lebih kabur.

Makna

Tidak kebetulan bahwa Paulus menempatkan pelayanan Titus di tengah riwayat karya Kristus. Kebenaran tentang Kristus bukan pertama-tama sebuah rumusan, misalnya tentang kasih Allah atau anugerah, melainkan pemberitahuan tentang apa yang telah dilakukan Allah di dalam Kristus. Dasarnya adalah inkarnasi, bahwa Kristus, Anak Allah, telah datang ke dalam dunia ini sebagai teladan dan saudara yang berbagi dalam pengalaman kita di dunia. Kemudian, ada dua pasangan. Yang pertama, Roh Kudus menyatakan bahwa Yesus benar, dan Dia disambut oleh malaikat-malaikat di surga. Yang kedua, berita kebangkitan disampaikan kepada bangsa-bangsa, dan diterima di dunia. Dengan demikian, Yesus dijunjung tinggi baik di surga maupun di bumi. Karena diterima di surga, kemuliaan Yesus tidak terancam oleh kekacauan jemaat, hanya, kebenaran itu akan menjadi kabur bagi bangsa-bangsa yang mendengar pemberitaan itu dari jemaat yang kacau.

Kembali, dari artian kata aslinya dan a.16, kebenaran di sini bukan “isi kehendak Allah” bagi manusia, melainkan berita tentang apa yang dilakukan Allah. Paulus di sini tidak mengklaim bahwa gereja adalah dasar keberesan masyarakat, tetapi bahwa gereja adalah dasar kejelasan kebenaran tentang Kristus bagi semua orang. Motivasi untuk perbaikan hidup di sini adalah bahwa kekacauan hidup mengaburkan berita itu, sesuatu yang tidak akan diinginkan jika kita mencintai Yesus dan mengagumi karya-Nya.

Kebenaran di sini juga bukan bahwa Allah memelihara hidup kita sehari-hari. Hal itu benar, tetapi di sini Paulus berbicara tentang Kristus dari inkarnasi sampai kedatangan kembali. Memang yang dilihat orang adalah kehidupan jemaat, tetapi hal itu hanya berguna kalau menunjuk kepada Kristus yang kita sembah.


Mazmur 46:1-12 “Allah sumber perlindungan dan penyegaran” [28 Agustus 2011]

Agustus 24, 2011

Ayat 11 dari mazmur ini terkenal, tetapi pesan mazmur ini lebih dari sekadar berhenti dari kesibukan. Melalui puisi yang padat, kita diajak untuk mengenal sumber perlindungan dan penyegaran.

Penggalian Teks

Syair ini, yang dipakai dalam ibadah Israel (a.1), terdiri atas tiga bait, setiap bait diakhiri dengan sela. (Kata “sela” sebenarnya adalah transliterasi dari bahasa Ibrani, tetapi satu teori kuat tentang artinya adalah sela, misalnya, untuk meditasi atau renungan.) Bait pertama mengungkapkan tema: keandalan Allah dalam masalah. Bait kedua menyampaikan caranya: Allah hadir di Yerusalem. Bait ketiga mengajak perhatian peserta ibadah terhadap karya Allah.

Kedua bait pertama dikaitkan oleh pola kiasmus. A.2 dan a.8 merupakan pernyataan tentang Allah sebagai tempat perlindungan / kota benteng. Dalam aa.3-4 ada gunung-gunung yang “goncang” (a.3) baru air laut yang “ribut” (a.4); dalam a.7 bangsa-bangsa “ribut” dan kerajaan-kerajaan “goncang” (perhatikan bahwa urutan kedua kata kunci itu juga terbalik). Dengan demikian aa.5-6 menjadi pusat: karena hadirat Allah, kota tidak akan goncang sebab Allah menolong (seperti dalam a.2).

Jadi, bait pertama membawa peserta ibadah kepada pusat itu. A.2 mengungkapkan skenario: “kita” yang beribadah mengalami kesesakan, tetapi Allah menjadi tempat perlindungan dan penolong. Dalam a.3a implikasinya disampaikan, kita tidak akan takut. Kemudian, kesesakan itu diperincikan dalam empat “sekalipun” (a.3b-4). Intinya adalah “bumi berubah”, dan, pada hemat saya, yang digambarkan dalam frasa berikut ialah air bah, karena hanya dalam air bah gunung-gunung goncang di dalam laut. A.4 menggambarkan prosesnya air bah itu. Bagaimanapun juga, yang dimaksud adalah bencana paling dahsyat. Oleh karena siapa Allah, kita tidak akan takut dalam keadaan apapun.

A.5 (awal bait kedua dan pusat dari kedua bait pertama) mulai dengan air yang lain, yaitu, sungai (kata pertama dalam bahasa aslinya). Aliran-aliran sungai ini tidak menakutkan, melainkan menyukakan. Mengingat bahwa tidak ada sungai di Yerusalem (hanya sebuah mata air), sungai ini adalah kiasan untuk hadirat Allah (a.6). Terbalik dari akibat air laut dalam aa.3-4, sungai ini membuat kota Allah (Yerusalem) tidak goncang. Di tengah kesesakan (“menjelang pagi”) Allah menolong umat-Nya (bkd. a.2). Kesesakan diperjelas dalam a.7, yaitu, gelora politik (bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan). Jika belum jelas bagi peserta ibadah sebelumnya, air bah dalam aa.3-4 adalah kiasan untuk gelora politik. Pertolongan Allah digambarkan dengan dahsyat dalam a.7b: cukup Dia berfirman dan bumi (bangsa-bangsa yang bergelora) hancur. A.8 mengulang semangat a.2, tetapi dengan kata-kata yang diwarnai oleh aa.5-6, yakni, kota Allah (“kota benteng”) tempat Allah hadir (“menyertai kita”). Namun, penting diamati bahwa yang dijunjung tinggi sebagai perlindungan ialah Allah, bukan tembok-tembok Yerusalem.

A.7 memiliki satu ciri khas dalam mazmur ini, yaitu semua kata kerja kecuali yang terakhir memakai bentuk perfek. Satu penjelasan untuk ciri itu ialah bahwa ayat ini menyampaikan suatu peristiwa. Sebagai contoh peristiwa yang cocok dengan semangat ayat ini, pada tahun 701 sM Yerusalem dikepung dan sepertinya tidak ada harapan, tetapi tiba-tiba tentara Asyur terpaksa pulang (lih. Yesaya 36-37). Tuhan berfirman dan tentara yang begitu kuat tiba-tiba menghilang.

Aa.9-11 (bait ketiga) memakai kata kerja perintah. Aa.9-10 merupakan seruan dari pemazmur, sedangkan a.11 adalah seruan dari Allah sendiri. Seruan pemazmur adalah untuk memandang pekerjaan Tuhan. Pekerjaan itu digambarkan mulai dari yang paling umum sampai yang lebih konkret. Tuhan mengadakan pemusnahan di bumi (bdk. a.7b), hal itu diperjelas sebagai penghentian peperangan, yang kemudian diperincikan dalam a.10b. Seruan Allah dialamatkan kepada orang yang pergi untuk memandang pekerjaan Tuhan. Pekerjaan itu semestinya membuat kita berdiam diri dan mengakui ketuhanan Allah. Karya keselamatan Allah bagi umat-Nya akan bermuara pada seluruh bumi meninggikan Dia. Dengan mengikuti kedua seruan itu, a.12 (yang mengulang a.8) diakui dengan semakin yakin.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur ini menjunjung tinggi Allah supaya umat Israel mengandalkan-Nya di tengah kekacauan politik internasional. Aa.2-8 memberi kesaksian tentang keandalan Allah, dan aa.9-11 mengajak peserta ibadah untuk merenungkan kesaksian itu. Allah adalah tempat perlindungan dan sumber penyegaran di tengah kesesakan, dan Dia juga bermaksud untuk menghapus segala kekacauan dalam dunia politik manusia (a.10) supaya seluruh bumi meninggikan Dia.

Makna

Kota Yerusalem menjadi simbol penting akan umat Allah, di mana umat Allah tinggal bersama di bawah kuasa raja keturunan Daud yang diurapi dan di sekitar hadirat Allah di dalam Bait Allah. Bentuk umat Allah sekarang agak lain, karena raja keturunan Daud, Yesus, bertakhta di sorga, dan Allah hadir lewat Roh Kudus-Nya di mana saja orang-orang beriman berkumpul. Namun, mazmur ini tetap memberi janji yang luar biasa. Dunia tidak berkurang geloranya—Yesus malah berjanji bahwa akan ada sampai pada akhir zaman—tetapi Tuhan juga tidak berkurang sebagai tempat perlindungan. Ajakan dalam a.9 menjadi justru lebih jelas bagi kita. Ketika kita memandang pekerjaan Allah dalam Kristus, berpuncak pada kematian dan kebangkitan-Nya, kita melihat bagaimana Tuhan membuat sebuah kerajaan yang berkembang melalui pemberitaan, bukan pedang. Kita juga memiliki janji yang kuat bahwa segala perang dan permusuhan akan berakhir ketika Kristus datang kembali. Makanya, cocok juga kita berdiam diri dan mengingat ketuhanan Allah kita, dan berdoa dan bersaksi supaya Dia ditinggikan di seluruh bumi.

Air menjadi simbol ganda dalam mazmur ini. Ada air bah yang mengancam, ada juga sungai yang menyegarkan. Secara fisik, jika kota dikepung temboknya penting, tetapi sumber air tidak kalah penting jika kota mau bertahan. Allah adalah kota benteng sekaligus sumber air bagi umat-Nya. Hadirat Allah di kota Allah seperti sungai dalam Kej 2:10 yang membasahi taman Eden. Hadirat Allah dalam PB, yaitu melalui Roh Kudus, juga digambarkan Yesus sebagai aliran air (Yoh 7:37-39). Ketika gereja terancam, Allah tidak hanya melindungi dari ancaman dari luar, Dia juga menyegarkan umat-Nya ke dalam.

Ibadah bersama menjadi tempat yang sangat cocok untuk mengingat dan merenungkan semuanya itu. Jemaat dikuatkan bukan dengan himbauan untuk bersemangat, melainkan dengan mengetahui siapakah Allah.


Zakh 4:1-14 Kuasa Allah akan mewujudkan rencana Allah [24 Juli 2011]

Juli 21, 2011

Nabi Zakharia mulai bernubuat bersamaan dengan nabi Hagai, pada tahun kedua zaman Darius, yaitu tahun 520 sM, hampir 20 tahun setelah rombongan kembali dari Babel di bawah pemerintahan raja Koresh. Kisahnya dapat dibaca dalam kitab Ezra pp.1-6, khususnya bahwa pembangunan Bait Allah mandek selama zaman Koresh (Ezr 4:5). Raja yang kemudian, Darius, ternyata pemimpin yang lebih baik, dan Ezr 5:1-2 menceritakan bagaimana pembangunan itu didorong kembali oleh nabi Hagai, nabi Zakharia, serta Zerubabel, bupati Yehuda (Hag 1:1) dan Yosua, imam besar (Hag 1:1). Bait Allah itu selesai pada tahun keenam zaman Darius (Ezr 6:15), yaitu 516 sM.

Zakharia pp.1-6 menceritakan serangkaian penglihatan yang terjadi pada tahun kedua itu, pada saat Israel harus memilih antara mencari aman atau memegang pengharapan baru setelah hampir dua dekade frustrasi. Penglihatan pertama menyampaikan murka Allah terhadap bangsa-bangsa yang tenang (1:15). Penglihatan kedua dan ketiga diringkas dalam 2:12, “Dan TUHAN akan mengambil Yehuda sebagai milik-Nya di tanah yang kudus, dan Ia akan memilih Yerusalem pula”. Penglihatan keempat dam kelima menyemangati kedua tokoh yang mau dipakai Tuhan pada saat itu, yakni Yosua (p.3, tetapi juga disinggung dalam 4:14) dan Zerubabel (p.4, perikop kita, tetapi juga disinggung dalam 3:8b). Penglihatan keenam dan ketujuh berbicara tentang penyucian umat Allah melalui penghukuman (5:1-4) dan pembuangan dosa (5:5-11). Penglihatan kedelapan merujuk pada penglihatan yang pertama, tetapi sekarang roh Tuhan tenteram. Kedelapan penglihatan ini menyampaikan rencana Allah untuk memulihkan umat-Nya, suatu rencana yang mau diwujudkan melalui Yosua dan Zerubabel itu.

Penggalian Teks

Ada tiga bagian perikop ini. Isi penglihatan disampaikan dalam aa.1-3. Penjelasan pertama, mengenai “semuanya”, terdapat dalam aa.4-7, dengan suatu komentar dalam aa.8-10. Penjelasan kedua, tentang kedua pohon zaitun, terdapat dalam aa.11-14.

Penglihatannya terjadi dalam keadaan yang mirip dengan tidur (a.1). Yang dilihat Zakharia ialah sebuah kandil dengan empat puluh sembilan suluh, tersusun di atas tujuh pelita dengan tujuh corot masing-masing. Ketujuh pelita itu tersusun di atas tempat minyak, bahan bakarnya. Minyaknya dari pohon zaitun, yang disimbolkan dengan ukiran di sebelah kanan dan kiri.

Zakharia langsung menanyakan artian dari penglihatan itu (a.4). Penjelasan yang berikut berbicara tentang Zerubabel. Kuasa yang akan menjamin bahwa Zerubabel berhasil menyelesaikan pembangunan Bait Allah ialah roh Allah, bukan kemampuan Zerubabel (a.6). A.7a menegaskan hal itu dengan suatu gambaran: gunung tidak mungkin diratakan oleh Zerubabel, tetapi akan menjadi tanah rata oleh karena kuasa Allah itu. A.7b membayangkan sorak Israel ketika Bait Allah selesai. Batu utama mungkin mirip fungsinya dengan baru peringatan pada gedung modern yang di atasnya tertulis tanggal dan tokoh yang meresmikan gedung itu. Kalau begitu, yang dinubuatkan dalam a.7 itu adalah upacara peresmian Bait Allah. Pada zaman itu batu utama sering dilapisi dengan permata dan/atau logam mulia seperti emas. Ada usulan yang menarik yang mengaitkan permata yang bermata tujuh dalam 3:9 dengan batu utama dalam a.7, dan penglihatan dalam aa.2-3 dengan ukiran pada permata/batu itu. Kalau begitu, penjelasan aa.6-7 ini lebih nyambung. Penglihatan itu menyangkut batu utama yang melambangkan penyelesaian Bait Allah. Sama seperti pelita bersumber pada minyak, terang yang dibawa oleh penyelesaian Bait Allah akan bersumber pada roh Allah melalui Zerubabel.

Komentarnya mempertegas hal-hal itu. Zerubabel yang akan menyelesaikan apa yang dulunya dia mulai (a.9a). Hal itu akan membuktikan bahwa malaikat yang berbicara dengan Zerubabel memang adalah utusan Allah, sehingga Israel juga bisa percaya pada nubuatannya (a.9b). Sikap orang yang menjadi tawar hati atau putus asa karena lamanya tidak ada perkembangan akan menemukan semangat baru (a.10a). Akhirnya, ketujuh mata yang diukir pada batu utama itu (jika tafsiran tadi tepat) menyimbolkan mata Tuhan (a.10b). Tujuh adalah angka kelengkapan atau keseluruhan, dan mata Tuhan yang disimbolkan dengan tujuh itu melihat seluruh bumi. Tidak akan ada kejutan menggoyang rencana-Nya, Dia melihat semuanya.

Pertanyaan untuk penjelasan kedua diulang dalam a.12. Cairan emas merujuk pada minyak zaitun, dan sepertinya ada sistem penyaluran memakai pipa yang sekaligus merupakan bagian dari ukiran pohon zaitun itu, bahasanya tidak terlalu jelas. Hal itu mengaitkan kedua pohon zaitun itu sebagai penyambung pelita dengan minyak zaitun. A.14 mengungkapkan maknanya: kedua pohon adalah Yosua dan Zerubabel, karena baik imam maupun raja diurapi. Merekalah yang menjadi kunci sehingga kuasa roh Allah akan menghasilkan pembangunan Bait Allah.

Maksud bagi pembaca

Intinya terdapat dalam aa.6-10, yaitu janji bahwa oleh kuasa roh Allah Zerubabel akan menyelesaikan Bait Allah. Sebuah janji bermaksud untuk mengarahkan pendengarnya, misalnya untuk hadir pada waktu yang dijanjikan atau memenuhi syaratnya. Janji ini itu tentu mau menguatkan Zerubabel, dan orang-orang Yehuda di bawah pimpinannya, untuk tetap bertekun dalam pembangunan itu. Namun, tekanan dalam a.6 mengingatkan mereka bahwa sumber sukses bukan di dalam mereka melainkan Allah.

Mengapa inti itu disampaikan melalui penglihatan yang kabur dan sulit ditafsir? Aa.5 & 13 memberi suatu petunjuk, ketika malaikat bertanya tentang ketidaktahuan si nabi. Hal itu menegaskan bahwa si nabi tidak sanggup menerobos ke dalam makna penglihatan itu sendiri (a.5). Yang dibicarakan adalah rencana Allah, dan hanya Allah yang tahu dan dapat memberitahunya. Pendengar / pembaca penjelasan Zakharia harus bekerja keras untuk menangkap maksudnya. Tetapi kerja keras itu berarti bahwa gambarannya lebih menjadi bagian kita ketika mulai dimengerti. Siapkah jemaat-jemaat Tuhan dituntun oleh pembawa firman untuk bekerja keras memahami salah satu cara Tuhan dalam dunia ini?

Makna

Gambaran pelita yang begitu banyak yang diminyaki melalui saluran dahan kedua pohon zaitun itu memberi gambaran tentang peran Zerubabel dan Yosua dalam menyalurkan kuasa roh Allah supaya Bait Allah menjadi terang di tengah Israel dan bangsa-bangsa. Pasal sebelumnya menyoroti Yosua, yang disucikan (3:4) dan dikaitkan dengan penghapusan dosa seluruh bangsa (3:9). Pasal kita menyoroti peran Zerubabel sebagai pemimpin. Dia telah meletakkan dasar dan akan meletakkan batu utama, dan seluruh umat ikut dalam jejaknya. Jelas bahwa kedua peran ini tidak bisa dilakukan oleh kuasa mereka sendiri. Namun, sebagai pemimpin mereka berperan besar dalam penyaluran kuasa Allah itu.

Jika penggenapan pertama nubuatan ini terjadi pada tahun 516 sM, ketika pembangunan selesai, penggenapan utama dapat dilihat dalam Kristus. Dia adalah Imam Besar dan Raja yang diurapi oleh Roh Kudus untuk menghapus dosa dan mendirikan Bait Allah dalam tiga hari. Hal itu berdampak pada implikasinya bagi kita. Roh Allah yang dalam pengertian LAI dipahami oleh Zakharia sebagai kuasa Allah seperti angin, sehingga ditulis dengan “r” kecil, kita pahami sebagai Roh Kudus, yang berkuasa dalam Yesus dan sekarang berkuasa bukan hanya dalam para pemimpin tetapi dalam semua orang yang berada di dalam Yesus. Pembangunan Bait Allah sebagai pusat ibadah dan pengajaran dilihat sekarang bukan dalam gedung melainkan dalam pembangunan jemaat. Melalui penggunaan karunia-karunia Roh seluruh tubuh Kristus akan dibangun bersama (seperti Efesus 4).

Jadi, semboyan dalam a.6 merujuk pada perwujudan rencana Allah dalam rangka mengadakan umat yang beribadah kepada-Nya. Sekarang hal itu mencakup penginjilan ke luar dan ke dalam, dan seluruh pembinaan jemaat. Dalam pembahasan yang meningkat akhir-akhir ini tentang caranya, jangan sampai metode mulai menjadi lebih penting daripada kuasa Roh sendiri.  


Mazmur 122 Doa bagi umat Allah demi sesama

Februari 22, 2011

Mengapa ada sukacita ketika ada usulan untuk pergi ke rumah Tuhan (a.1)? Ketika peziarah sampai di Yerusalem (a.2) jawabannya jelas. Yerusalem “bersambung rapat”, artinya, biar semua yang lain di dunia ini hancur, Yerusalem akan tetap berdiri (a.3). Rumah Tuhan juga adalah tempat yang ditentukan Allah untuk bersyukur kepadanya (a.4). Yang disyukuri ialah pengadilan Tuhan, yaitu bahwa melalui raja-Nya Allah menata kembali dunia yang kacau (a.5). Jadi, boleh disimpulkan bahwa dalam Mazmur ini Yerusalem adalah pusat dunia dan benteng terhadap kehancuran dunia.

Oleh karena kedudukan Yerusalem yang demikian, ada kerinduan untuk mendoakan Yerusalem (a.6a). Yerusalem adalah pusat sentosa dan kesejahteraan (syalom), sehingga mendoakan Yerusalem berarti mendoakan semua yang mencintai Yerusalem dan yang ada di dalam lingkungannya (a.6b-7). Dalam a.8 saudara-saudara si peziarah barangkali termasuk pencinta Yerusalem, tetapi teman-teman (= sesama, Ibrani rea’) yang belum tentu orang Israel juga akan beruntung dari kesejahteraan Yerusalem. Di balik semuanya, Allah hadir di tengah Yerusalem, sehingga kebaikan bagi Yerusalem berarti Allah tetap hadir dan memberkati (a.9).

Bagaimana memahami Mazmur yang Yerusalem-sentris ini? Kita perlu mengingat bahwa fungsi Rumah Tuhan sudah diambil alih oleh Kristus sebagai tempat Allah hadir dan menata kembali dunia yang kacau ini. Sekarang jemaat adalah umat yang tinggal di sekitar Rumah Tuhan itu. Jadi, berdoa bagi Yerusalam berarti berdoa untuk jemaat. Hal itu bukan hanya untuk kebaikan jemaat. Sebagai sarana pembaruan dunia, jemaat yang sentosa, artinya, yang hidupnya mencerminkan Kristus yang hadir di tengahnya, adalah harapan semua orang, entah di dalam atau di luar lingkup gereja. Kita mendoakan gereja karena Kristus hadir di tengahnya sebagai sumber berkat bagi dunia.

Sukacita dan doa kita mencerminkan di mana pusat cinta kita. Dalam mazmur ini pusat cinta si peziarah adalah hadirat Allah di Yerusalem, atau dalam konteks PB hadirat Allah dalam Kristus di tengah jemaat. Cinta itu tidak bertentangan dengan cinta kepada sesama melainkan mendukungnya, karena di dalam Kristus ada berkat dan ada pengharapan bagi dunia. Kristus tidak kelihatan dan jemaat-Nya tersebar luas, tetapi dalam mazmur ini melalui mata si peziarah kita bisa membayangkan sukacita dan rasa kagum atas hadirat Allah di tengah umat-Nya.


Titus 2:1-10 Pelayan, ajaran dan jemaat yang sehat

September 20, 2010

Titus 1 menugasi Titus untuk menghadapi masalah ajaran yang tidak sehat dalam jemaat-jemaat di Kreta (1:5). Ajaran itu berdampak pada kekacauan (1:10) dan jemaat yang rentan terhadap penipu (1:11). Dalam p.2 Paulus memberitahu Titus apa yang harus diajarkan untuk menanggapi ajaran yang tidak sehat itu (lihat “beritakanlah” dalam a.1 dan a.15 untuk membuktikan bahwa aa.1-15 merupakan satu kesatuan). Nasihat Paulus terbagi dua. Perikop kita (aa.1-10) menguraikan gambaran tentang hidup yang tertib untuk berbagai kelompok: laki-laki yang tua (a.2); perempuan yang tua (aa.3-4a); perempuan yang muda (aa.4b-5); pemuda (a.6) dan hamba (aa.9-10). Dalam penguraian itu kelompok pertama (a.2) menunjukkan pola mendasar, karena beberapa kali kemudian ada kata “demikian…demikian” (aa.3, 5). Jadi, nasihat mendasar adalah hidup sederhana (secara harfiah bukan peminum, tetapi secara kiasan bukan seperti peminum yang tidak dapat mengendalikan diri), terhormat (karena kebaikannya), bijaksana dan akhirnya sehat dalam iman, kasih dan ketekunan (wujud nyata dari pengharapan, artinya, jika kita berpengharapan kita dapat bertekun). Yang terakhir ini menunjukkan bahwa yang diharapkan bukan sifat saja, tetapi sifat yang berasal dari Injil. Hal itu menjadi jelas dalam bagian kedua, yaitu aa.11-14, yang mendasarkan sifat baik dalam a.12 pada karya Allah dalam Kristus (aa.11, 13-14). Jadi, Titus harus menanggapi ajaran yang tidak sehat itu dengan nasihat tentang sifat hidup yang tertib serta dasar teologisnya.

Nasihat itu mendasari Injil, tetapi juga memperhatikan konteks. Dalam a.2 kata “terhormat” merujuk pada sesuatu yang dianggap sangat layak dikagumi, dan dipakai untuk dewa dan kaisar selain juga untuk manusia biasa yang dianggap terhormat. Artinya bahwa nilai-nilai setempat berperan dalam tingkah laku orang percaya. Bukan menentukan, karena Injil yang menentukan, tetapi kita hendak menghayati nilai-nilai Injil sedemikian rupa sehingga orang-orang di sekitar kita dapat melihat bahwa cara hidup itu terhormat. Makanya, nasihat kepada perempuan dan kepada hamba disesuaikan dengan budaya setempat, agar Firman Allah jangan dihujat orang (a.5) melainkan dimuliakan (a.10). Belum tentu di budaya modern bahwa hanya perempuan yang mengatur rumah tangga, atau bahwa karyawan harus taat dalam segala hal, karena karyawan bukan hamba. Tetapi kita tetap mau menunjukkan rumah tangga yang dapat dilihat sebagai sesuatu yang terhormat oleh orang di sekitar kita, dan menjadi karyawan yang memuliakan ajaran Allah.

Jika jemaat mau dijadikan wujud nyata Firman Allah bagi masyarakat di sekitarnya, pelayan juga harus menjadi teladan pemberitaannya kepada jemaat (aa.7-8). Menarik bagi saya bahwa soal keteladanan diangkat pada bagian tentang pemuda. Apakah pada saat itu juga pemuda lebih memperhatikan cara hidup daripada wacana? Tentu, soal keteladanan penting untuk semua kelompok.

Nasihat kepada kelompok-kelompok tidak sulit untuk disampaikan, tetapi apa relevansinya nasihat kepada Titus sebagai pelayan bagi jemaat biasa? Yang pertama, sebagian mereka melayani, entah sebagai majelis atau dalam salah satu OIG. Yang kedua, orang tua semestinya melayani dalam rumah tangga, dan kita semua dapat melayani teman-teman. Tetapi juga, jemaat dapat belajar dan memahami bagaimana semestinya pelayanan kepada mereka. Apakah pendeta dan majelis menjadi teladan firman yang dia sampaikan, contoh orang yang sehat dalam iman, kasih serta ketekunan? Jika tidak, mengapa dipilih?

Singkatnya, amanat teks dapat dirumuskan begini: Cara menghadapi dampak buruk ajaran yang tidak sehat pada kesaksian jemaat ialah pemberitaan nasihat yang dihayati oleh pelayan untuk hidup tertib berdasarkan Injil dan sesuai dengan konteks. Dengan kata lain, pelayan yang sehat memberitakan ajaran yang sehat supaya jemaat menjadi sehat dan membawa kemuliaan bagi firman Allah di masyarakat. Amanat khotbah dapat berfokus pada soal kualitas pelayanan ataupun pada penghayatan iman oleh jemaat.


2 Kor 8:1-15 Memberi demi Allah

April 14, 2010

Dalam pasal berikut (9:1) menjadi jelas bahwa yang dibahas di sini adalah pemberian kepada jemaat di Yerusalem yang sedang mengalami kelaparan (bnd. juga Rom 15:26). Dari pasal berikut juga nampak bahwa Paulus memakai semangat awal jemaat-jemaat di Akhaya (Korintus adalah ibu kota propinsi Akhaya) untuk “merangsang” jemaat-jemaat di Makedonia (9:2; termasuk Tesalonika dan Filipi) untuk menyumbang dengan semangat. Makedonia menyambut usulan Paulus di luar harapan, dan sekarang Paulus memakai sambutan itu untuk merangsang kembali jemaat di Korintus, yang semangatnya mungkin terganggu oleh masalah yang muncul di antara Paulus dengan beberapa tokoh di jemaat, tetapi menurut 2 Kor 7:8-9 sudah diselesaikan.

Respons Makedonia seperti mereka menyumbang kepada keluarga sendiri—mereka mendesak untuk memberi di luar kemampuan (a.3)—padahal jemaat di Yerusalem tidak dikenal secara pribadi. Sambutan mereka adalah karena Allah (a.5). Karena Injil yang membawa mereka untuk mengenal Allah berasal dari jemaat di Yerusalem maka mereka mau mendukung jemaat itu.

Selain contoh jemaat-jemaat di Makedonia, Paulus juga menyebutkan kelebihan mereka untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki karakter untuk melakukan pelayanan kasih itu (aa.7-8). Contoh terutama adalah Kristus (a.9). Tetapi yang diminta kepada mereka tidak sebanyak yang dilakukan Kristus. Kristus menjadi miskin supaya mereka menjadi kaya. Kepada jemaat hanya kelebihan yang diminta, supaya ada keseimbangan (aa.12-13). Keseimbangan juga berarti bahwa yang menerima tidak menjadi kaya atas pemberian orang lain. Paulus mengangkat pengalaman Israel di padang gurun sebagai contohnya. Manna yang dikumpulkan menjadi sama cukupnya untuk semua.

Pengorbanan Kristus memang sungguh luar biasa, dan kita tidak mampu, dan juga tidak diminta, untuk menjadi sehebat Dia. Namun, contoh jemaat-jemaat di Makedonia tidak di luar kemampuan kita. Jika pemberian tidak seperti itu, bagaimana jalan keluarnya? Paulus jelas bahwa yang diberikan harus dengan sukarela. Jadi, yang dibutuhkan adalah jemaat yang menyadari bahwa mereka dijadikan kaya oleh pengorbanan Kristus sehingga ada kerinduan untuk memberi demi kebutuhan orang lain.

Perhatikan bahwa uang yang dikumpulkan Paulus bukan untuk kebutuhan jemaat setempat, melainkan untuk jemaat di tempat yang lain. Pemberian untuk pelayanan setempat adalah fungsi “rasa memiliki” jemaat terhadap pelayanan jemaat. Jika rasa itu kuat (dan sebaiknya demikian), jemaat sadar bahwa mereka membantu diri sendiri melalui pemberian kepada jemaat sendiri. Pemberian kepada saudara-saudara di luar lingkungan kita membuktikan bahwa kita memberi demi Allah (a.5).


Titus 1:10-16 “Tegoran yang tegas”

Februari 1, 2010

Perikop ini mengganggu saya, dengan bahasa seperti “harus ditutup mulutnya” (a.11) dan “tegorlah mereka dengan tegas” (a.13). Saya tidak terlalu suka menunjukkan sikap-sikap seperti itu, dan saya langsung curiga terhadap orang yang suka dengan sikap seperti itu. Kepekaan saya sepertinya bertentangan dengan firman Allah. Adakah resolusinya?

Perikop ini bagian dari surat Paulus kepada Titus yang sudah ditinggalkan di Kreta untuk mengatur kepemimpinan untuk jemaat-jemaat di sana (1:5). Salah satu syarat untuk seorang pemimpin adalah “sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran [yang sehat] dan sanggup meyakinkan [menegor] penentang-penentangnya” (1:9). (Kata dasar untuk “meyakinkan” sama dengan kata dasar untuk “tegorlah” dalam bahasa Yunani.) Sanggup belum tentu berarti melakukan, tetapi keadaan di Kreta ternyata menuntut tegoran. Aa.10-14 menguraikan berbagai masalah. Aa.10-11 menunjukkan adanya ajaran palsu yang diedarkan, dan lebih lagi diedarkan untuk membawa keuntungan bagi pengedar. A.12 menunjukkan bahwa karakter suku Kreta kurang bagus, seperti diakui salah satu tokohnya sendiri. Citra suku itu juga kurang bagus di mata berbagai penulis yang lain. Maksudnya bukan untuk mengecap semua orang Kreta tanpa kekecualian, tetapi menunjukkan budaya yang menjadikan jemaat di sana rawan terhadap pengajar palsu.

Khususnya, ajaran palsu itu berpegang pada unsur-unsur ajaran Yahudi, seperti sunat (a.10) dan berbagai dongeng Yahudi dan aturan manusia (a.14) sebagai keharusan untuk orang Kristen. Menurut Paulus, pegangan-pegangan itu berasal dari akal dan suara hati yang najis (a.15). Maksudnya bahwa kenajisan menjadi kaca mata yang melaluinya semuanya dilihat, karena saya menduga orang lain adalah sama seperti saya. Jika saya adalah pembohong, saya akan dengan mudah menafsir perkataan orang sebagai pembohong. Jika saya adalah pencuri, saya akan sedapat mungkin menafsir tindakan orang sebagai usaha mencuri. Sikap seperti itu kemudian bermuara pada usaha untuk membuat banyak aturan. Jika saya diilhami hawa nafsu terhadap perempuan, maka saya akan menuntut supaya perempuan itu tidak menunjukkan kulitnya, bahkan rambutnya, bahkan sebaiknya tidak keluar dari rumah sama sekali, supaya jangan saya diperhadapkan dengan hawa nafsu saya sendiri. Pengajar yang dihadapi di Kreta mengambil banyak unsur ajaran mereka dari orang Yahudi, tetapi dasarnya akal dan suara hati yang najis itu. Dalam a.16 dikatakan bahwa orang-orang ini mengaku saleh, tetapi perbuatan-perbuatan mereka berbicara lebih jujur tentang keadaan hati mereka yang sebetulnya.

Artinya bahwa ajaran itu membahayakan dan sangat layak ditentang. Mau tidak mau, orang seperti saya harus siap untuk menentang ajarannya dan juga orangnya. Saya tidak boleh “asal damai”, karena banyak jemaat biasa yang bisa jadi terancam oleh kediaman saya. Firman Allah harus saya taati, walaupun tidak terasa cocok dengan sifat saya.

Namun, cara menentangnya juga harus tepat. “Ditutup mulutnya” (a.11) tidak merujuk pada tindakan aparat, karena pada saat itu gereja tidak memiliki kuasa pemerintahan apa-apa, melainkan merujuk pada usaha untuk mencegah orang-orang itu diberi kesempatan. Caranya melalui pemimpin-pemimpin jemaat yang akan ditunjuk Titus. (Pada saat itu belum ada gedung gereja sehingga jemaat berkumpul di rumah orang.) Dan sifat pemimpin termasuk “tidak angkuh, bukan pemberang…bukan pemarah” (1:7; pemarah merujuk kepada orang yang suka menyelesaikan masalah dengan berkelahi). Jadi, perikop ini tidak mendukung orang yang suka menegor orang lain, yang mencari masalah. Semestinya, kesukaan pemimpin jemaat adalah “memberitakan apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat” (2:1). Tujuannya “supaya mereka menjadi sehat dalam iman” (a.13); menentang ajaran yang palsu adalah untuk mendukung tujuan itu.

Jadi, ternyata kepekaan saya ada gunanya juga. Tafsiran semula belum tepat, dan saya didorong untuk menafsir dengan lebih teliti. Hal itu penting, karena ada sebagian pemimpin yang terlalu keras. Tetapi mungkin sebagian besar pembaca condong ke terlalu lembut. Jemaat-jemaat kita kemungkinan tidak separah jemaat-jemaat di Kreta, tetapi selalu ada yang mau mengacaukan jemaat. Jemaat kita akan lemah jika kita tidak berani menentang apa yang perlu ditentang.


Ibr 10:19-27 Menikmati Karya Kristus

Januari 13, 2010

Ibr 10:19-25 merupakan klimaks dari seluruh penguraian khotbah sebelumnya, dan khususnya penguraian tentang Kristus sebagai Imam Besar yang berkembang dalam pp.7-10. Kerangkanya adalah tiga seruan dalam aa.22-24 (“marilah”) yang menyangkut iman (a.22), pengharapan (a.23) dan kasih (a.24). Seruan etis itu mungkin saja bisa ditafsir lepas dari dasar teologisnya, tetapi jika demikian tafsirannya tidak lagi benar. Argumentasi dalam pp.7-10 disampaikan supaya ketiga seruan ini mempunyai dasar yang kuat. Dengan kata lain, ketiga seruan adalah implikasi dari ayat-ayat sebelumnya (bnd. kata “jadi” dalam a.19).

Sebagian argumentasi sebelumnya diringkas dalam aa.19-20 dan a.21. Di balik aa.19-20 ada penggenapan Kristus terhadap tempat kudus dan ibadah Israel. Tempat kudus terdiri atas dua kemah, dan yang paling inti mewakili hadirat Allah, tetapi jalan ke dalamnya terbatas (9:1-10). Kristuslah yang telah merintis (6:19-20) jalan ke dalam tempat kudus di sorga dengan darah-Nya sendiri (9:12, 23). A.21 merujuk ke 3:1-6, yaitu bahwa kita termasuk umat di bawah Kristus, sama seperti Israel berada di bawah Musa. Artinya bahwa apa yang dirintis oleh Yesus berlaku untuk kita. Iman, pengharapan dan kasih kita adalah respons terhadap karya Allah dalam Kristus.

Seruan pertama (a.22) adalah untuk menghadap Allah. Artinya sama dengan 4:16 “menghampiri takhta kasih karunia”, yaitu menggunakan jalan yang dirintis Kristus itu. Syaratnya memang hati yang tulus dan iman yang teguh. Tetapi langsung penulis menyampaikan dasar untuk sifat-sifat itu. Hati kita bisa tulus ikhlas karena “dibersihkan dari hati nurani yang jahat”. Hal itu merujuk ke 9:14 (hati nurani disucikan), yang mewujudkan janji Allah dalam 8:10 (=Yer 31:33) tentang pembaruan hati. Pembasuhan tubuh pada akhir a.22 kemungkinan besar merujuk ke pembaptisan, yang melambangkan bahwa kita termasuk umat Allah di dalam Kristus. Jadi, keyakinan kita bukan bahwa kita telah berbuat baik ataupun sudah mengaku dosa dengan tangisan yang dahsyat, melainkan bahwa darah Kristus telah meresap ke dalam lubuk hati untuk membersihkan noda dosa yang mencemarkannya.

Menghadap Allah adalah seruan inti, karena umat-Nya berada bersama Allah adalah tujuan-Nya dalam rencana keselamatan (8:10b, bnd. 8:11 “karena mereka semua…akan mengenal Aku”). Tetapi untuk menikmati janji itu kedua seruan berikut sangat penting. Kita harus berpegang pada pengakuan kita (a.23). Sekali lagi, dasarnya bukan semacam optimisme yang dibuat-buat dalam hati kita, melainkan janji Allah. Janji Allah dilihat dalam kutipan dari Yer 31:31-34 dalam 8:8-12, dan penggenapannya sudah dijelaskan dalam 9:1-10:18. Jadi, Kristus menjadi alasan untuk tetap berharap kepada Allah. Juga, kita harus saling mendorong dalam wujud praktis dari hati yang baru, yaitu kasih kepada sesama (a.24). Kedua seruan ini tidak bisa dilakukan sendiri, sehingga ditambahkan dengan nasihat untuk berkumpul supaya saling menasihati, dan juga peringatan tentang hari Tuhan (a.25). Tema itu juga merujuk ke peringatan dalam 3:12-13 dalam konteks menuju ke keselamatan.

Dengan demikian, saya berharap pembaca sudah dapat melihat betapa seruan tentang iman, pengharapan dan kasih ini berakar dalam Kisah Agung Allah, yaitu janji keselamatan dalam PL yang diwujudkan dalam Kristus dan akan berakhir ketika Kristus datang kembali (9:28). Namun, keselamatan itu tidak otomatis. Seruan itu begitu bersemangat karena ada alternatifnya, yaitu nasib yang mengerikan bagi orang yang tidak berpegang pada pengakuan dengan saling menguatkan sehingga tidak lagi menghadap Allah. Kita harus menafsir “sengaja berbuat dosa” dalam a.26 sesuai dengan 6:6 (“murtad”). Maksudnya orang yang mengaku percaya tetapi kemudian menolak keselamatan dalam Kristus, bukan orang yang jatuh ke dalam dosa tertentu tetapi tetap mau bertobat. Penulis tidak menganggap bahwa pembaca akan demikian. Jika saya berada di atas kapal di tengah badai ada dua bahaya. Jika kapalnya tidak kuat saya bisa mati tenggelam, dan jika saya panik dan melompat ke dalam laut saya juga bisa mati tenggelam. Kristus adalah kapal yang serba aman, dan jika saya berada di dalam-Nya tidak ada kuasa yang bisa melemparkan saya ke dalam laut. Penguatan dalam aa.19-25 dan peringatan dalam aa.26dst supaya kita tidak panik dan melompat keluar.


Mzm 27:1-6 Tuhan benteng hidupku

November 17, 2009

Mazmur ini sebenarnya dapat digolongkan sebagai Mazmur Permohonan, karena mulai a.7 ada seruan kepada Tuhan. Jadi, pujian dalam aa.1-6 merupakan pengakuan percaya. Pemazmur memulai doanya dengan mengingat keandalan Tuhan, Tuhan yang adalah terang, keselamatan dan benteng hidupnya.

Konteks pengakuan percaya ini adalah serangan musuh. Ada yang secara manusiawi sangat layak ditakuti (aa.2-3), tetapi karena kepercayaan kepada Tuhan pemazmur tidak merasa takut. Bagaimana bisa? Karena dengan mengalami hadirat Tuhan, dia mengenal perlindungan Tuhan (aa.4-5). Malah, dia mengalami harga dirinya dijaga oleh Tuhan di hadapan musuhnya (a.6a). Oleh karena itu, dia mau bersyukur kepada Tuhan (a.6b).

Perhatikan bahwa yang terjadi terhadap musuh dalam mazmur ini bukan bahwa mereka lenyap atau hancur (makanya tetap ada permohonan dalam aa.7dyb), tetapi bahwa mereka tidak berhasil melenyapkan pemazmur. Raja Daud sendiri (yang olehnya atau untuknya mazmur ini dikarang, a.1a) tidak memusnahkan musuh Israel, ataupun musuh di dalam Israel, tetapi Allah tetap memelihara dia sehingga kepalanya tegak (harga dirinya terjaga) sampai akhir hidupnya. Kristus, anak Daud itu, kelihatan dikalahkan malah dipermalukan oleh musuh pada salib itu, akan tetapi Dia ditinggikan oleh Allah dalam kebangkitan-Nya dan diberi nama di atas segala nama.

Kristuslah yang menjadi bait Allah, tempat hadirat Allah, bagi kita. Di dalam-Nya kita tahu bahwa meskipun kita dihancurkan, harapan kita akan dunia yang baru tidak sirna. Tetapi pada umumnya jika kita diserang bukannya kita akan hancur melainkan harga diri kita yang terancam. Makin kita berlindung pada Kristus, makin kita akan menyadari bahwa di dalam Dia kepala kita akan tetap tegak, sekalipun kita difitnah atau diremehkan. Hal itu semestinya didukung dan dikuatkan dalam persekutuan, yang juga merupakan bait Allah / tempat hadirat Allah. Ketika kita membawa persembahan syukur / pengakuan percaya kita atas perlindungan Tuhan, harga diri kita dikuatkan oleh dukungan saudara-saudara kita berdasarkan Allah sebagai terang, keselamatan dan benteng hidup kita.

Penguatan seperti itu saya alami dalam ibadah hari Minggu secara umum, maksudnya, di tengah dunia yang meminggirkan Allah dan meremehkan iman saya, saya dikuatkan oleh ibadah sebagai konteks beriman. Tetapi dalam kelompok kecil dinamikanya jauh lebih jelas dalam pengalaman saya, karena pergumulan yang konkrit dapat dibagikan, dibahas dalam terang firman, dan didoakan. Semoga hadirat Tuhan di tengah-tengah kita menguatkan kita untuk tetap percaya di tengah semua ancaman.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.