Mzm 27:1-6 Tuhan benteng hidupku

November 17, 2009

Mazmur ini sebenarnya dapat digolongkan sebagai Mazmur Permohonan, karena mulai a.7 ada seruan kepada Tuhan. Jadi, pujian dalam aa.1-6 merupakan pengakuan percaya. Pemazmur memulai doanya dengan mengingat keandalan Tuhan, Tuhan yang adalah terang, keselamatan dan benteng hidupnya.

Konteks pengakuan percaya ini adalah serangan musuh. Ada yang secara manusiawi sangat layak ditakuti (aa.2-3), tetapi karena kepercayaan kepada Tuhan pemazmur tidak merasa takut. Bagaimana bisa? Karena dengan mengalami hadirat Tuhan, dia mengenal perlindungan Tuhan (aa.4-5). Malah, dia mengalami harga dirinya dijaga oleh Tuhan di hadapan musuhnya (a.6a). Oleh karena itu, dia mau bersyukur kepada Tuhan (a.6b).

Perhatikan bahwa yang terjadi terhadap musuh dalam mazmur ini bukan bahwa mereka lenyap atau hancur (makanya tetap ada permohonan dalam aa.7dyb), tetapi bahwa mereka tidak berhasil melenyapkan pemazmur. Raja Daud sendiri (yang olehnya atau untuknya mazmur ini dikarang, a.1a) tidak memusnahkan musuh Israel, ataupun musuh di dalam Israel, tetapi Allah tetap memelihara dia sehingga kepalanya tegak (harga dirinya terjaga) sampai akhir hidupnya. Kristus, anak Daud itu, kelihatan dikalahkan malah dipermalukan oleh musuh pada salib itu, akan tetapi Dia ditinggikan oleh Allah dalam kebangkitan-Nya dan diberi nama di atas segala nama.

Kristuslah yang menjadi bait Allah, tempat hadirat Allah, bagi kita. Di dalam-Nya kita tahu bahwa meskipun kita dihancurkan, harapan kita akan dunia yang baru tidak sirna. Tetapi pada umumnya jika kita diserang bukannya kita akan hancur melainkan harga diri kita yang terancam. Makin kita berlindung pada Kristus, makin kita akan menyadari bahwa di dalam Dia kepala kita akan tetap tegak, sekalipun kita difitnah atau diremehkan. Hal itu semestinya didukung dan dikuatkan dalam persekutuan, yang juga merupakan bait Allah / tempat hadirat Allah. Ketika kita membawa persembahan syukur / pengakuan percaya kita atas perlindungan Tuhan, harga diri kita dikuatkan oleh dukungan saudara-saudara kita berdasarkan Allah sebagai terang, keselamatan dan benteng hidup kita.

Penguatan seperti itu saya alami dalam ibadah hari Minggu secara umum, maksudnya, di tengah dunia yang meminggirkan Allah dan meremehkan iman saya, saya dikuatkan oleh ibadah sebagai konteks beriman. Tetapi dalam kelompok kecil dinamikanya jauh lebih jelas dalam pengalaman saya, karena pergumulan yang konkrit dapat dibagikan, dibahas dalam terang firman, dan didoakan. Semoga hadirat Tuhan di tengah-tengah kita menguatkan kita untuk tetap percaya di tengah semua ancaman.


Ef 1:3-14 Menghayati berkat-berkat Allah

November 9, 2009

Perikop ini kaya, sangat kaya. Jadi saya minta maaf jika “renungan” ini agak panjang dan sarat dengan ide. Dalam pendahuluan ini saya coba membahas satu dua hal yang mungkin mencegah kita memuji Allah sesuai dengan isi perikop ini. Kemudian ada komentar per bagian.

A.3 mengangkat tema utama perikop ini, yaitu berkat-berkat rohani yang menjadi alasan untuk memuji Allah. Berkat-berkat itu termasuk kekudusan (4), menjadi anak Allah (5), pengampunan (7), pengetahuan rencana Allah (9) dan Roh Kudus (13). Apakah berkat-berkat ini menarik bagi semua jemaat (termasuk sebagian yang berpendidikan teologi)? Untuk sebagian, saya dapat membayangkan tuduhan (dalam hati) bahwa “rohani” berarti “tidak praktis”, “tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari” dsb. Coba ada uang sekolah, penyembuhan, pemberantasan korupsi dsb, baru berkat dianggap berlimpah-limpah.

Bahwa pandangan itu ada benarnya cukup jelas dari gambaran berkat/kutuk dalam PL (misalnya Ul. 26). Ada yang mengatakan bahwa harapan yang “materialistis” itu sudah diganti dengan harapan yang “rohani”. Pembahasaan itu berbahaya. Jauh lebih tepat mengatakan bahwa harapan yang materialistis itu ditunda. Ketika semua dipersatukan dalam Kristus sebagai Kepala, keadaannya akan seperti dalam Why 21, dengan bumi yang baru yang di dalamnya tidak ada yang merusak kehidupan lagi.

Namun, dalam PL pun berkat utama adalah pengenalan akan Allah. Mengapa Israel dibebaskan dari Mesir? Supaya “menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu” (Kel 6:6). Berkat-berkat rohani yang diuraikan menyangkut berkat utama itu. Kita bisa menjadi anak Allah karena ditebus oleh darah Kristus sehingga kita memiliki jaminan atas warisan (LAI “bagian”) yang dijanjikan. Mengapa hal-hal itu terasa abstrak, terasa tidak menyentuh kehidupan nyata? Saya duga jawabannya dalam a.13. Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat itu bagian dari kehidupan kita, kebutuhan nyata. Sama seperti orang dari luar Toraja sulit memahami keasyikan pesta orang mati di Toraja [maaf kepada pembaca dari luar Toraja :)], orang tanpa Roh Kudus sulit memahami mengapa Allah begitu layak dipuji karena berkat-berkat-Nya dalam Kristus. (Mungkin perlu dicatat bahwa harapan dari Injil yang ditanam Roh Kudus ternyata sangat membantu kita untuk memaksimalkan keadaan yang ada, entah baik atau buruk, sehingga ada gunanya untuk sekarang. Khususnya, kita dimampukan untuk berjuang dalam kasih, seperti dalam pp.4-6.)

Dalam komentar di bawah, saya menebalkan kata-kata tentang kedaulatan Allah, menggarisbawahi kata-kata tentang kemuliaan Allah dan pujian, dan memiringkan kata-kata tentang anugerah (kasih karunia). Perikop ini dimulai dan diakhiri dengan panggilan untuk memuji Allah, dan inti perikop ini adalah anugerah Allah yang terwujud dalam Kristus (aa.7-8). Bagaimana dengan kedaulatan Allah? Orang suka pusing menghadapi pernyataan seperti dalam a.11 bahwa keputusan orang “dari semula ditentukan” dan bahwa Allah “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”. Di mana lagi kebebasan manusia kalau demikian? Sebagai jawaban, perlu diingat bahwa Allah adalah Pencipta, bukan salah satu kuasa di antara banyak kuasa yang lain dalam dunia ini. Jadi, dari satu segi semua kuasa dan kemampuan, termasuk kehendak kita, bergantung pada kuasa Allah yang menopang segala sesuatu. (Jadi, yang menjadi misteri ialah bahwa kita memiliki kehendak bebas, bukan bahwa Allah berdaulat.) Tetapi hal itu bukan fokus Paulus di sini. Rencana Allah diwujudkan dalam Kristus dan diterapkan oleh Roh Kudus. Kedaulatan Allah adalah pelayan rencana Allah itu. Jadi, kedaulatan Allah bukan suatu kehendak yang kabur (sehingga menakutkan), tetapi melayani rencana Allah yang sudah dinyatakan dalam Kristus (a.9).

Jadi, selayaknya perikop ini menjadi bahan untuk kita memuji Allah. Jika kita dimeteraikan dengan Roh Kudus sehingga berada di dalam Kristus maka semua berkat ini adalah milik kita, milik kita yang sangat berharga.

(3) Terpujilah Allah dan Bapa [dari] Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

Kata Bapa tidak merujuk ke Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan Allah adalah juga Bapa dari Tuhan Yesus Kristus [satu artikel (ho) dipakai untuk kedua kata Allah (theos) dan Bapa (pater)]. Perikop ini bersifat ketritunggalan, karena kata rohani merujuk ke karya Roh Kudus, atau paling sedikit dalam a.14 Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat rohani ini nyata dalam kehidupan.

(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, (6) supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

A.4 adalah pernyataan mendasar; a.5 memberi keterangan [kata kerjanya adalah partisip, bukan indikatif]; a.6 adalah tujuannya. Bahasa “kudus”, “tak bercacat” dan “anak” adalah bahasa yang dipakai dalam PL untuk umat Allah, sama seperti “menjadikan kita milik Allah” dalam a.14.

(7) Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, (8) yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. (9) Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus (10) sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

Aa.7-8 adalah pernyataan mendasar; a.9 memberi keterangan [juga partisip], mungkin atas kelimpahan kasih karunia Allah—bukan hanya bahwa kita ditebus oleh darah Kristus tetapi juga kita diberitahu mengenai rencana agung Allah; a.10 adalah tujuannya. Kali ini tujuannya bukan pujian melainkan pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Darah Kristus dalam a.7 adalah caranya untuk a.4, dan bagian ini (khususnya a.7 dan a.10) menjelaskan mengapa ada “di dalam Dia” terus-menerus dalam perikop ini. Kristus adalah pewujud rencana Allah.

(11) Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– (12) supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

Kata kami adalah tafsiran—dalam bahasa Yunani (dan Ibrani dan Inggris) tidak dibedakan anatara kita dan kami. Tafsiran itu tepat, tetapi bagi pembaca asli baru akan jelas dalam a.12 dalam perkataan “yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus” bahwa “kita/kami” merujuk pada kelompok Paulus, bukan pembaca. “Kami” adalah orang-orang Yahudi (lihat juga 2:1-3 dan 2:11-12), yang memang menjadi yang pertama percaya. Mereka adalah tahap pertama dalam pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Tujuannya pujian kembali (a.12b).

(13) Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. (14) Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Tahap berikut dalam pemersatuan segala sesuatu adalah orang non-Yahudi yang jadi percaya (bnd. 2:11-22). Kedua ayat ini adalah dasar ringkas untuk suatu urutan keselamatan (ordo salutis). Yang pertama adalah pendengaran Injil tentang keselamatan, sehingga ada yang percaya. Yang percaya dimeteraikan dengan Roh Kudus (yang menunjukkan bahwa mereka adalah milik Allah) yang menjadi jaminan bahwa mereka akan menerima segala yang dijanjikan Allah pada akhir zaman itu. Jadi, pemberitaan menjadi pintu masuk untuk keselamatan eskatologis (hidup kekal). Roh Kuduslah yang menerapkan dalam kehidupan orang percaya rencana Allah yang terwujud dalam Kristus. Namun, perlu diperhatikan apakah tujuan Allah. Bukan keselamatan saya saja (sebagai individu), melainkan kita sebagai umat milik Allah.


Neh 3:1-15 Kerja sama

Oktober 25, 2009

Pasal 3 ini mendaftar hasil usaha Nehemia untuk menggalang orang-orang di Yerusalem untuk membangun kembali tembok Yerusalem, sesuai doanya pada p.1. Yang terlibat mewakili banyak bagian masyarakat. Ada imam besar (a.1; juga orang-orang Lewi a.17), penguasa (aa.9, 12, 14, 15), dan pedagang (a.8). Ada masyarakat dari satu desa / kota (aa.2, 5, 7, ), dari satu bani (a.3), dan orang yang rumahnya pas di garis tembok itu (a.10). Ada juga yang hanya namanya disebut. Setiap orang atau kelompok diantar dengan perkataan “berdekatan dengan” (menjadi “di samping” mulai a.16). Masyarakat yang beraneka ragam ternyata bisa kompak dan menghasilkan proyek yang besar dengan kerja sama yang baik. Hanya satu kelompok tidak satu sikap dengan yang lain, yaitu pemuka-pemuka Tekoa dalam a.5; bandingkan dengan imam besar dan beberapa pembesar yang lain.

Jika tembok adalah batas kota Yerusalem yang kudus, yang di dalamnya Bait Allah adalah simbol kehadiran Allah, maka usaha ini sentral dalam perbaikan integritas bangsa Israel dalam keadaan sebagai taklukan pasca-pembuangan. Dengan datangnya Kristus, Kristus mengambil alih fungsi Bait Allah. Jadi, secara prinsip gedung dan prasarana fisik tidak lagi pokok dalam PB, dan ternyata tidak disinggung sama sekali dalam PB. Orang-orang yang berkumpul di sekitar Yesus itu yang merupakan “kota yang terletak di atas gunung [yang] tidak mungkin tersembunyi” (Mt 5:14, merujuk ke Yerusalem di atas gunung Sion). Integritas jemaat yang perlu dipertahankan atau diperbaiki, bahwa kita adalah garam yang tidak tawar, terang dan bukan gelap. Hal itu bukan tugas satu orang saja (seperti pendeta) melainkan tugas seluruh jemaat. Sama seperti tembok yang hanya 10% tidak dibangun adalah tembok yang sangat kurang dalam fungsinya, jemaat dengan hanya 10% anggotanya yang tidak menjaga integritas sebagai murid Yesus akan mengurangi fungsi jemaat dalam misi Yesus.

******

Sekian dari kitab Nehemia untuk tahun ini, kalau tidak salah, sebagai sorotan jadwal Membangun Jemaat Gereja Toraja. Kita bisa bersyukur bahwa sebagai sorotan kitab ini bisa lebih dikenal. Sorotan akan lebih berguna lagi seandainya urutannya mengikuti kitabnya sendiri. Soalnya, MJ mengikuti pola topikal murni: untuk setiap minggu ada topik, kemudian perikopnya dicari. Padahal, kita perlu juga pola ekspositori, yaitu mengikuti uraian satu kitab dalam beberapa minggu sehingga mempelajari kitabnya sendiri, dan juga mendengarkan topik-topik yang dianggap penting oleh Alkitab. Topikal perlu, karena ada hal-hal yang tidak terlalu disoroti oleh Alkitab yang tetap dapat dibahas dalam terang firman Allah. Tetapi Allah bukan hanya konselor yang memberi tanggapan terhadap masalah-masalah kehidupan kita. Dia juga adalah Tuhan dan Raja, dan ada hal-hal yang mau Dia sampaikan kepada kita yang tak akan terpikir oleh kita jika kita hanya mulai dengan pertanyaan kita. Jika benar bahwa pengenalan firman dalam jemaat lemah, maka pengembangan pengetahuan itu adalah hal yang penting dalam rangka membangun tembok kembali.


3 Yoh 1:1-4 Menyikapi Kebenaran

September 7, 2009

Kitab 3 Yoh ini memberi gambaran tentang bagaimana kebenaran diterapkan secara praktis. Ada pertolongan kepada yang memberitakannya (5-8) serta gambaran tentang orang yang menentangnya (9-10). Intinya, yang memang mewakili tema utama dalam tulisan-tulisan Yohanes yang lain, terdapat dalam a.11, yaitu berasal dari dan mengenal Allah.

Dalam bagian awal surat ini, yakni aa.1-4, kita menemukan satu segi lagi, yaitu sikap orang terhadap kebenaran. Kasihnya berbasis kebenaran (1). Doanya menyangkut bukan hanya kesejahteraan umum, tetapi kesejahteraan jiwa (2). Dalam konteks surat ini hal itu paling sedikit merujuk ke jiwa yang benar. Dalam kedua ayat berikut, kita melihat lebih lagi bahwa ada sukacita dalam penulis atas kebenaran dalam diri orang lain.

Banyak doa kita seperti dalam a.2a, yaitu menyangkut kesejahteraan umum. Akhir-akhir ini saya berbicara dengan sekelompok orang yang menghadapi pergumulan. Salah satunya berkomentar bahwa melaluinya mereka dikuatkan untuk perjuangan berikut. Saya jadi berpikir, apakah saya akan lebih bersukacita ketika mereka bertumbuh dalam kenyamanan atau ketika mereka bertumbuh dalam kebenaran. Jika yang pertama, apakah karena saya sendiri lebih suka akan kenyamanan daripada kebenaran. Tetapi sebenarnya kita tahu bahwa yang membawa sukacita yang lebih besar adalah melihat teman, jemaat, keluarga bertekun dalam kebenaran. Semoga kebenaran yang dikerjakan Allah dalam diri orang lain menjadi pokok doa dan sukacita kita juga.


1 Raj 12:1-24 Kedaulatan Firman Allah

Agustus 24, 2009

Sebelum perikop ini yang menceritakan permulaan keterpisahan kerajaan Israel menjadi dua kerajaan, ada peristiwa yang sebenarnya memaknainya. Maksudnya, pertemuan antara Yeroboam dan nabi Ahia dalam 1 Raj 11:26-40. 1 Raj 11 menceritakan penyelewengan Salomo sebagai permulaan kegagalan Israel, setelah perkunjungan Ratu Syeba sebagai puncak keberhasilan Israel dalam 1 Raj 10. Oleh karena dosa Salomo, maka ada serangkaian masalah terjadi, terutama munculnya pemberontak dalam diri Yeroboam, anak emas Salomo itu. Soalnya, Yeroboam diangkat oleh Tuhan sendiri melalaui nabi Ahia tersebut. Yang menggerakkan peristiwa-peristiwa politik ini adalah firman Allah.

Memang, Allah bekerja melalui kebodohan manusia, dalam hal ini Rehabeam. Rehabeam menjadi contoh pemimpin yang tidak mempedulikan rakyatnya, dan juga contoh orang yang mengabaikan nasihat orang yang lebih tua. Mereka mengusulkan konsep kepemimpinan yang dikokohkan Yesus tetapi sebenarnya sudah ada di PL, yaitu pemimpin sebagai hamba (12:7). Namun, nasihat kebodohan yang diterima Rehabeam dan disampaikan kepada rakyat. Apa asal-usul kebodohan Rehabeam itu? Silakan dipikir-pikirkan, tetapi dalam a.15 ada jawaban yang lebih mendasar. Seandainya kita sudah lupa akan peristiwa 1 Raj 11:26-40 itu, kita diingatkan bahwa semua ini terjadi untuk menepati firman TUHAN.

Perikop ini kemudian menceritakan tuntasnya keluarnya suku-suku Israel kecuali Yehuda (dan Benyamin). Rehabeam tetap bodoh. Dia hampir ikut dibunuh (a.18), kemudian dia mau berperang. Hanya, ada firman lagi dari Allah untuk mencegahnya.

Kita perlu mendengarkan nilai kepemimpinan yang disampaikan oleh para penasihat Salomo dan ditegaskan melalui bodohnya gambaran yang terbalik dalam diri Rehabeam. Kita perlu juga memikirkan bagaimana menyikapi kepemimpinan yang kurang, karena itu kenyataan yang sering dihadapi sampai sekarang. Kebodohan yang jahat seperti Rehabeam seringkali memberatkan bukan hanya pemimpin melainkan bawahannya, dan selayaknya kita berduka atas hal itu. Tetapi Allah tetap berdaulat. Rencana-Nya lebih kuat daripada kebodohan dan kejahatan manusia. Jika dalam peristiwa ini rencana Allah berpusat pada Yerusalem dan keturunan Daud (11:32), rencana itu sudah berpuncak dalam Kristus. Ketika gereja yang penuh dengan orang yang imannya lemah mendapat kepemimpinan yang sama, firman Allah tetap berkuasa untuk memanggil orang kepada Kristus dan menguatkan mereka di dalam-Nya.


Hag 1:1-11 Membangun jemaat

Juli 27, 2009

Bayangkan jemaat yang sedang mengumpulkan uang untuk membangun gedung gereja. Ada orang yang sebenarnya mampu tetapi pemberiannya tidak seperti yang diharapkan. Kemudian dia ditimpa musibah keuangan. Lalu, jemaat membaca perikop ini dan sepertinya langsung mendapat penjelasannya. Sama seperti Israel pasca-pembuangan pelit terhadap Tuhan dalam bentuk tidak membantu pembangunan Bait Allah sehingga mengalami kekurangan oleh karenanya, orang itu juga dihukum Allah. Benarkah tafsiran itu?

Perikopnya memang memberitahu kita bahwa Israel mengalami kekurangan karena belum membangun Bait Allah. Pada saat Hagai bernubuat, gelombang pertama orang yang kembali dari pembuangan sudah hampir 20 tahun di Yerusalem. Menurut Ezra 3:1-3 mezbah sudah didirikan, tetapi Ezra 4:1-5 menceritakan perlawanan dari penduduk aslinya sehingga pembangunan gedung terhambat. Dengan meninggalnya raja Koresh (10 tahun sebelum Hagai, yakni 530 sM), pembangunan mandek sama sekali. Tetapi pada saat Hagai bernubuat seorang raja yang lain sudah naik takhta yang sama sifat terbukanya dengan Koresh, yaitu raja Darius (a.1). Tujuan semula adalah membangun Bait Allah, seperti mereka sendiri ketahui (a.2), dan keadaan dengan jelas sudah memungkinkan karena mereka bisa membangun rumah masing-masing (aa.4, 9b). Tetapi umat Allah belum bergerak. Jadi, sebagaimana dinyatakan Allah melalui nabi Hagai, kekurangan yang dialami (aa.5-6, 9-11) adalah usaha Allah untuk menyadarkan mereka. Usaha Allah melalui keadaan itu disertai firman Allah melalui nubuatan Hagai. Firman itu bertanya (a.4), menantang (aa.5, 7) dan memerintah (a.8a). Tanpa firman itu, keadaan masih kabur.

Di pertengahan firman itu ada janji Allah (a.8b). Janji di sini bukan bahwa Allah akan berkenan kepada mereka dengan menghentikan kekeringan dsb (lihat 2:19-20 untuk janji seperti itu). Janji di sini ialah bahwa Allah akan berkenan pada Bait Allah yang dibangun. Soalnya, kemampuan mereka jelas tidak sepadan dengan kemampuan Salomo pada puncak kejayaan Israel, dan memang hasil mereka kemudian tidak seperti Bait Allah yang pertama (2:4). Tetapi Allah tetap berjanji bahwa Dia akan berkenan kepada apa yang mereka bangun sehingga Dia dimuliakan olehnya. Jika itulah janji Allah, maka semestinya itulah kerinduan mereka. Dalam ayat-ayat berikut ternyata demikian, karena mereka tergerak dan pembangunan dimulai.

Bagaimana firman itu bagi kita umat Allah dalam Kristus? Satu hal yang perlu diingat ialah bahwa bentuk janji Allah sudah berubah. Dalam PL janji Allah kepada Israel termasuk keturunan, hasil bumi dsb (misalnya Ul 28:1-14). Namun dalam PB, janjinya baik lebih mulia maupun lebih susah. Kita dijanjikan dunia tanpa kesusahan sama sekali kelak, tetapi untuk sementara janjinya sekadar pencukupan untuk mencari Kerajaan Allah (Mt 6:33), disertai berbagai kesusahan (Kis 14:22). Kesusahan bisa saja pertanda bahwa kita setia, bukan hukuman karena dosa. Oleh karena itu, saya cukup meragukan absahnya kesimpulan jemaat di atas. Saya juga meragukannya karena gedung gereja tidak sepadan dengan Bait Allah. Kristus adalah Bait Allah (Yoh 2:21), dan tubuh-Nya, yaitu jemaat, ikut juga sebagai Bait Allah (Ef 2:21-22). Gedungnya hanya sarana.

Jadi, firman ini mempertanyakan sikap kita terhadap kemuliaan Allah sebagaimana dinyatakan dalam jemaat. Jika kita menyimak kehidupan jemaat kita akan sadar bahwa kita tidak layak sebagai tubuh Kristus, tempat Allah hadir oleh Roh Kudus-Nya. Hanya perkenan Allah–yang disampaikan dalam firman Injil–sehingga kita berani mengharapkan bahwa Allah akan dimuliakan dalam jemaat. Sekali lagi, janji itu semestinya kerinduan kita. Kita membangun jemaat dalam pengharapan bahwa Allah akan berkenan dan menyatakan kemuliaan-Nya. Semoga kita juga tergerak oleh firman Allah ini.


Neh 7:1-3 Pembangunan selesai…

April 22, 2009

Dalam Nehemia pasal 6 kita membaca tentang perlawanan terhadap Nehemia dan pembangunan tembok, termasuk pembocoran berita kepada Tobia oleh orang-orang Israel yang masih setia kepadanya (6:17-18). Namun, akhirnya tugas pembangunan itu tuntas dengan pemasangan pintu (7:1a).

Namun, pekerjaan Nehemia belum selesai. Yang pertama, dia mengangkat berbagai petugas terkait dengan Bait Allah (7:1b). Keamanan karena adanya tembok hanya bermakna jika ada umat yang memuji Allah. Soal umat yang sedikit menjadi topik ayat-ayat berikut, dan soal ibadah diceritakan dalam pp.8-9.

Keamanan tidak juga terjamin tanpa ada kewaspadaan manusia. Tembok tetap membutuhkan penjaga. Jadi Nehemia mengangkat pemimpin untuk keamanan kota (7:2) yang harus ketat (7:3). Disebut bahwa orang itu adalah saudara Nehemia sendiri, Hanani. Apakah ini nepotisme? Hanani yang membawa rombongan kepada Nehemia pada awalnya (1:2), sehingga jelas bahwa dia sudah dipercayai oleh rakyat sebelumnya. Lebih lagi, ada kemungkinan bahwa ayat 2 semestinya diterjemahkan “yaitu kepada Hananya”. Dengan demikian Hanani dan Hananya merujuk ke orang yang sama (nama Hanani adalah bentuk pendek dari Hananya). Bagaimanapun juga, dalam konteks seperti itu masuk akal kalau Nehemia mengangkat saudara sendiri yang akan setia kepadanya daripada kepada Tobia. Yang penting orangnya mampu.

Dalam PB umat Allah tidak lagi mendiami kota tertentu atau gedung khusus. Prasarana seperti tata gereja atau gedung bisa saja penting sebagai pertanda semangat dan pendukung misi dan kadangkala ada gerakan yang baik yang jatuh karena hal-hal seperti itu diabaikan. Namun percuma kalau Allah bukan lagi pusatnya, dan saya rasa di situlah gereja atau organisasi yang mapan lebih sering jatuh.


Neh 4:1-14 Perjuangan di tengah ancaman

Januari 15, 2009

Nehemia bertugas untuk membangun kembali tembok Yerusalem, sesuatu yang sangat erat kaitannya dengan harga diri bangsa Israel (bnd. Neh 1:3 dan 2:17). P.3 merincikan semangat bangsa yang tinggi. Tetapi dalam p.4 ini, perlawanan yang pertama disebut pada 2:19-20 menjadi tema utama. Sikap para musuh itu disampaikan melalui perkataan Sanbalat dan Tobias (aa.1-3). Olok-olokan mereka mungkin cukup tepat. Pihak Nehemia lemah dan menghadapi perjuangan yang besar. Usaha iman sekarang cenderung mendapat reaksi yang sama: menurut ukuran dunia kelompok orang beriman tidak berharga dan usahanya bodoh saja.

Nehemia menyela penceritaannya dengan suatu doa supaya Allah membalas kejahatan mereka (aa.4-5). Kedengarannya agak jauh dari perintah Yesus untuk mengasihi dan mendoakan musuh, dan belum tentu pikiran Nehemia sampai ke pertobatan musuhnya. Namun, doanya pertama-tama adalah doa supaya Allah berpihak pada umat-Nya supaya usaha mereka dapat terwujud. Meskipun kita berdoa untuk, misalnya, kelompok teroris supaya bertobat, kita tidak berdoa supaya mereka dibiarkan melakukan kejahatan terus-menerus. Kita juga tidak berdoa supaya jika ditangkap kejahatan mereka dihapus pemerintah dan mereka dilepas untuk melanjutkan kejahatannya! Dalam konteks Nehemia, Allah merupakan satu-satunya pemerintah yang diharapkan bisa mewujudkan keadilan. Jadi, dia berdoa supaya keadilan terwujud. Keadilan itu mendasar, dan kasih kepada musuh yang lupa akan keadilan adalah garam yang sudah tawar.

Hasil pihak Nehemia dalam menyelesaikan tembok sampai setengah (a.6) menimbulkan reaksi lebih keras lagi dari musuh-musuhnya (aa.7-8). Ada permainan kata dalam bahasa aslinya. “Sampai ujung-ujungnya bertemu” dalam a.6 adalah kata yang sama dengan “mengadakan persepakatan” dalam a.8. Kerapatan tembok Yerusalem menjadikan musuhnya merapat untuk melawan. Kembali Nehemia berdoa dan juga bertindak (a.9). Dia tidak mengharapkan mujizat melainkan pekerjaan Allah melalui persiapan mereka.

Pertolongan Allah datang melalui sumber yang tak terduga. Dalam a.10 sepertinya banyak penduduk Yehuda mulai putus asa, seperti sudah diduga oleh Sanbalat sebelumnya (a.2). Namun, justru mereka yang mendengar persekongkolan para musuh untuk menyerang, sehingga Nehemia bisa bersiap-siap (a.12-13). Dengan demikian Allah menolong mereka, dan Nehemia menguatkan mereka untuk tidak takut (a.14).

Jika Bait Allah di tengah Yerusalem bermuara pada Kristus dalam Perjanjian Baru, sebagai titik temu antara Allah dengan umat-Nya, temboknya apa? Mungkinkah tembok berhubungan dengan identitas yang utuh sehingga harga diri terjaga di hadapan Allah? Dosa yang dibiarkan merajalela (termasuk mengesampingkan keadilan), pemahaman jemaat akan pokok-pokok iman yang minim, menjadikan jemaat rentan terhadap pengaruh buruk dari dunia. Usaha untuk membangun jemaat kembali atas dasar Kristus yang disalibkan memang akan dianggap bodoh oleh banyak orang, dan jemaat yang mulai kompak dalam iman dan kasih akan dianggap sebagai ancaman oleh sebagian penguasa (entah tokoh masyarakat, pemerintah atau pihak yang lain). Mari kita memiliki semangat Nehemia untuk berdoa dan bertindak dalam tugas yang mulia ini.