Ef 1:3-14 Menghayati berkat-berkat Allah

November 9, 2009

Perikop ini kaya, sangat kaya. Jadi saya minta maaf jika “renungan” ini agak panjang dan sarat dengan ide. Dalam pendahuluan ini saya coba membahas satu dua hal yang mungkin mencegah kita memuji Allah sesuai dengan isi perikop ini. Kemudian ada komentar per bagian.

A.3 mengangkat tema utama perikop ini, yaitu berkat-berkat rohani yang menjadi alasan untuk memuji Allah. Berkat-berkat itu termasuk kekudusan (4), menjadi anak Allah (5), pengampunan (7), pengetahuan rencana Allah (9) dan Roh Kudus (13). Apakah berkat-berkat ini menarik bagi semua jemaat (termasuk sebagian yang berpendidikan teologi)? Untuk sebagian, saya dapat membayangkan tuduhan (dalam hati) bahwa “rohani” berarti “tidak praktis”, “tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari” dsb. Coba ada uang sekolah, penyembuhan, pemberantasan korupsi dsb, baru berkat dianggap berlimpah-limpah.

Bahwa pandangan itu ada benarnya cukup jelas dari gambaran berkat/kutuk dalam PL (misalnya Ul. 26). Ada yang mengatakan bahwa harapan yang “materialistis” itu sudah diganti dengan harapan yang “rohani”. Pembahasaan itu berbahaya. Jauh lebih tepat mengatakan bahwa harapan yang materialistis itu ditunda. Ketika semua dipersatukan dalam Kristus sebagai Kepala, keadaannya akan seperti dalam Why 21, dengan bumi yang baru yang di dalamnya tidak ada yang merusak kehidupan lagi.

Namun, dalam PL pun berkat utama adalah pengenalan akan Allah. Mengapa Israel dibebaskan dari Mesir? Supaya “menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu” (Kel 6:6). Berkat-berkat rohani yang diuraikan menyangkut berkat utama itu. Kita bisa menjadi anak Allah karena ditebus oleh darah Kristus sehingga kita memiliki jaminan atas warisan (LAI “bagian”) yang dijanjikan. Mengapa hal-hal itu terasa abstrak, terasa tidak menyentuh kehidupan nyata? Saya duga jawabannya dalam a.13. Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat itu bagian dari kehidupan kita, kebutuhan nyata. Sama seperti orang dari luar Toraja sulit memahami keasyikan pesta orang mati di Toraja [maaf kepada pembaca dari luar Toraja :)], orang tanpa Roh Kudus sulit memahami mengapa Allah begitu layak dipuji karena berkat-berkat-Nya dalam Kristus. (Mungkin perlu dicatat bahwa harapan dari Injil yang ditanam Roh Kudus ternyata sangat membantu kita untuk memaksimalkan keadaan yang ada, entah baik atau buruk, sehingga ada gunanya untuk sekarang. Khususnya, kita dimampukan untuk berjuang dalam kasih, seperti dalam pp.4-6.)

Dalam komentar di bawah, saya menebalkan kata-kata tentang kedaulatan Allah, menggarisbawahi kata-kata tentang kemuliaan Allah dan pujian, dan memiringkan kata-kata tentang anugerah (kasih karunia). Perikop ini dimulai dan diakhiri dengan panggilan untuk memuji Allah, dan inti perikop ini adalah anugerah Allah yang terwujud dalam Kristus (aa.7-8). Bagaimana dengan kedaulatan Allah? Orang suka pusing menghadapi pernyataan seperti dalam a.11 bahwa keputusan orang “dari semula ditentukan” dan bahwa Allah “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”. Di mana lagi kebebasan manusia kalau demikian? Sebagai jawaban, perlu diingat bahwa Allah adalah Pencipta, bukan salah satu kuasa di antara banyak kuasa yang lain dalam dunia ini. Jadi, dari satu segi semua kuasa dan kemampuan, termasuk kehendak kita, bergantung pada kuasa Allah yang menopang segala sesuatu. (Jadi, yang menjadi misteri ialah bahwa kita memiliki kehendak bebas, bukan bahwa Allah berdaulat.) Tetapi hal itu bukan fokus Paulus di sini. Rencana Allah diwujudkan dalam Kristus dan diterapkan oleh Roh Kudus. Kedaulatan Allah adalah pelayan rencana Allah itu. Jadi, kedaulatan Allah bukan suatu kehendak yang kabur (sehingga menakutkan), tetapi melayani rencana Allah yang sudah dinyatakan dalam Kristus (a.9).

Jadi, selayaknya perikop ini menjadi bahan untuk kita memuji Allah. Jika kita dimeteraikan dengan Roh Kudus sehingga berada di dalam Kristus maka semua berkat ini adalah milik kita, milik kita yang sangat berharga.

(3) Terpujilah Allah dan Bapa [dari] Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

Kata Bapa tidak merujuk ke Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan Allah adalah juga Bapa dari Tuhan Yesus Kristus [satu artikel (ho) dipakai untuk kedua kata Allah (theos) dan Bapa (pater)]. Perikop ini bersifat ketritunggalan, karena kata rohani merujuk ke karya Roh Kudus, atau paling sedikit dalam a.14 Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat rohani ini nyata dalam kehidupan.

(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, (6) supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

A.4 adalah pernyataan mendasar; a.5 memberi keterangan [kata kerjanya adalah partisip, bukan indikatif]; a.6 adalah tujuannya. Bahasa “kudus”, “tak bercacat” dan “anak” adalah bahasa yang dipakai dalam PL untuk umat Allah, sama seperti “menjadikan kita milik Allah” dalam a.14.

(7) Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, (8) yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. (9) Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus (10) sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

Aa.7-8 adalah pernyataan mendasar; a.9 memberi keterangan [juga partisip], mungkin atas kelimpahan kasih karunia Allah—bukan hanya bahwa kita ditebus oleh darah Kristus tetapi juga kita diberitahu mengenai rencana agung Allah; a.10 adalah tujuannya. Kali ini tujuannya bukan pujian melainkan pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Darah Kristus dalam a.7 adalah caranya untuk a.4, dan bagian ini (khususnya a.7 dan a.10) menjelaskan mengapa ada “di dalam Dia” terus-menerus dalam perikop ini. Kristus adalah pewujud rencana Allah.

(11) Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– (12) supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

Kata kami adalah tafsiran—dalam bahasa Yunani (dan Ibrani dan Inggris) tidak dibedakan anatara kita dan kami. Tafsiran itu tepat, tetapi bagi pembaca asli baru akan jelas dalam a.12 dalam perkataan “yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus” bahwa “kita/kami” merujuk pada kelompok Paulus, bukan pembaca. “Kami” adalah orang-orang Yahudi (lihat juga 2:1-3 dan 2:11-12), yang memang menjadi yang pertama percaya. Mereka adalah tahap pertama dalam pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Tujuannya pujian kembali (a.12b).

(13) Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. (14) Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Tahap berikut dalam pemersatuan segala sesuatu adalah orang non-Yahudi yang jadi percaya (bnd. 2:11-22). Kedua ayat ini adalah dasar ringkas untuk suatu urutan keselamatan (ordo salutis). Yang pertama adalah pendengaran Injil tentang keselamatan, sehingga ada yang percaya. Yang percaya dimeteraikan dengan Roh Kudus (yang menunjukkan bahwa mereka adalah milik Allah) yang menjadi jaminan bahwa mereka akan menerima segala yang dijanjikan Allah pada akhir zaman itu. Jadi, pemberitaan menjadi pintu masuk untuk keselamatan eskatologis (hidup kekal). Roh Kuduslah yang menerapkan dalam kehidupan orang percaya rencana Allah yang terwujud dalam Kristus. Namun, perlu diperhatikan apakah tujuan Allah. Bukan keselamatan saya saja (sebagai individu), melainkan kita sebagai umat milik Allah.


Kebakaran di Australia

Februari 15, 2009

Sepertinya berita tentang kebakaran di Australia sampai di Indonesia. Lebih lagi, ada sejuta dolar dari pemerintah Indonesia yang dijanjikan untuk membantu korban. Banyak orang di Australia terperangah atas musibah ini. Saya sendiri kaget akan reaksi itu sampai saya membaca bahwa musibah ini yang terbesar sepanjang sejarah (orang putih di) Australia di luar masa perang. Mungkin saya terlalu lama di Indonesia, karena 200 lebih orang tergolong musibah sedang di Indonesia, sayangnya. Artinya bagi saya bahwa kedahsyatan yang dialami sekarang di Australia dialami berulang kali di Indonesia.

Musibah seperti ini menimbulkan pertanyaan tentang tangan Tuhan di dalamnya. Di antara orang sekuler (seperti dunia Barat) orang berbicara tentang korban yang tidak bersalah, kemudian menuding Tuhan sebagai tidak adil (jika Tuhan disebutkan). Di antara orang beragama ada anggapan bahwa korbannya justru dihukum Tuhan.

Untuk memecahkan masalah ini, nas yang paling penting bagi saya adalah Lk 13:1-5. Menanggapi dua musibah—yang satu karena kejahatan manusia, yang satu karena kecelakaan—Yesus membantah kedua pendapat di atas. “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain?”, kata-Nya. Pengandaian-Nya bahwa di hadapan Tuhan semua orang di Galilea adalah orang berdosa. Tidak ada korban yang tidak bersalah dalam artian tidak layak mati karena dosa. (Dalam artian tidak bertanggung jawab atas musibahnya, tentu ada korban tak bersalah.) Keadaan dunia yang secara umum sulit adalah akibat dosa manusia secara umum (demikian pesan Kej 3:17-19). Secara ekologis, teknologi manusia sudah menjadikan dosa kita (keserakahan, nafsu berkonsumpsi yang tak terkendali) penyebab langsung dari berbagai masalah bumi.

Tetapi yang dialamatkan Yesus di sini ialah orang beragama yang menganggap orang lain lebih berdosa karena kena musibah. Seakan-akan saya orang benar karena tidak kena! (Seringkali anggapan itu berlaku untuk musuh atau “orang lain”.) Tetapi menurut perkataan Yesus, mereka adalah orang berdosa, sama seperti kita. Hanya karena anugerah Tuhan sehingga kita masih diberi kesempatan untuk bertobat sebelum kita juga meninggal (a.3).

Pesan kitab Wahyu sama, walaupun bentuknya lebih mengerikan. Malapetaka demi malapetaka digambarkan di dalamnya. Salah satu kunci terdapat dalam Why 9:20—”Tetapi manusia lain, yang tidak mati oleh malapetaka itu, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan mereka”. Malapetaka bukan hukuman khusus untuk korbannya, melainkan peringatan bagi yang tersisa untuk kembali ke Tuhan.

Oleh karena itu, kasihan kepada korban itu tepat. Kita tidak layak untuk menambahkan hukuman kita atas hukuman Allah. Sebaliknya, semestinya kita tersadar, kemudian bertobat dan mulai mengasihi sesama, biar dia adalah musuh.


Gal 4,1-11 Setelah genap waktunya…

Desember 22, 2008

Kristus membawa kemerdekaan untuk menjadi anak-anak Allah yang dewasa, yang tidak harus dikawal oleh Hukum Taurat lagi karena dosa sudah diatasi. Sayangnya, kita lebih suka aman daripada merdeka, sehingga sistem-sistem keagamaan lebih dipentingkan di atas pengenalan akan Allah. Sifat itu pada gilirannya menghancurkan misi. Kita menjadi terlalu repot mengerjakan sistem untuk menjangkau sesama, dan terlalu kaku menuruti sistem untuk menerima orang yang berbeda dari kita.

Baca entri selengkapnya »


Kej 21:8-21 Kasih dalam pengertian

Oktober 27, 2008

Abraham menyayangi Ismael (17:18), anak sulungnya. Namun, janji Allah yang digenapi dalam aa.1-7 dengan jelas menempatkan Ishak sebagai penerus perjanjian. Di sini Abraham langsung mengalami ketegangan antara rencana Allah dengan keinginan sendiri. Allah memakai kekurangan isterinya untuk menempatkannya kembali di jalan yang tepat.

Cinta Abraham akan Ismael tidak mengherankan, karena Ismael adalah anak sulungnya. Dari percakapannya dengan Allah dalam p.17, ada kesan bahwa sebenarnya Abraham sudah puas dengan lahirnya Ismael. Saralah yang begitu mendambakan seorang anak sendiri. Setelah Ishak lahir, semestinya Abraham bertindak untuk mengokohkan warisannya kepada Ishak. (Pembawa cerita seperti meneguhkan tempat Ishak dalam pemikiran pembaca dengan tidak menyebutkan nama Ismael sama sekali dalam cerita ini!) Tetapi seperti biasa dalam kitab Kejadian, Allah yang harus bekerja melalui kekurangan umat-Nya untuk menggenapi rencananya. Dia memakai Sara dalam hal ini. Sara melihat Ismael bermain dengan Ishak, tetapi kata itu dapat juga diterjemahkan mempermainkan. Bisa saja Ismael bermain baik-baik saja, tetapi Sara menafsirnya sebagai permainan, mengingat kesusahan masa lampau dengan Hagar atau membayangkan persaingan pada masa depan. Bagaimanapun juga, dalam sikap itu dia melihat sesuatu yang belum diakui oleh Abraham, yaitu bahwa pewarisan kepada Ishak harus dikokohkan. Abraham menyayangi Ismael sehingga usulan itu menyebalkannya, tetapi Allah justru mendukung keputusan Sara. Belum tentu Allah mendukung sikapnya, tetapi Dia sanggup bekerja melalui kekurangan manusia untuk menggenapi rencana-Nya.

Tentu, perasaan Abraham bukannya tanpa alasan, dan meskipun Allah memilih Ishak, Dia mengulangi janji bahwa Ismael juga akan menjadi bangsa (a.13), dan meneguhkan janji itu dengan menyertai Hagar (a.19), seperti dalam p.16. Janji itu sebenarnya sudah pernah disampaikan kepada Hagar (16:10) dan Abraham (17:20), dan akhirnya diulangi juga kepada Hagar (a.18). Abraham harus justru melepaskan Ismael supaya Ismael dapat mengalami berkat Allah itu. Kemudian, adanya Ismael dan kemudian Esau membuat Abraham menjadi bapak dari beberapa bangsa (17:6), yang menjadi petunjuk akan maksud Allah untuk memberkati semua bangsa.

Bahwa Abraham menerima pelajaran supaya jangan rasa sayang menghambat rencana Allah menjadi jelas dalam p.22, di mana Abraham taat ketika disuruh mempersembahkan Ishak. Bagi kita, saya rasa bahwa perasaan tidak tega menjadi penghambat ketika, misalnya, pimpinan tidak tega menindaki penjahat, ketika orang tua tidak tega melepaskan anaknya melayani Tuhan di tempat yang rawan, ketika pendeta tidak tega menyampaikan tegoran dari Allah. Allah sendiri tega. Dia tidak menyayangkan anak-Nya sendiri demi keselamatan dunia. Semoga dengan melihat peristiwa ini kita dikuatkan untuk memahami rencana Allah yang berpuncak pada Kristus itu, sehingga kita mampu mempertahankan pendirian yang tegas pada saatnya. Seperti yang didoakan Paulus, “semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian” (Fil 1:9). “Kasih dalam pengertian” yang dipelajari Abraham di sini.


1 Tim 1:3-17 Menanggapi kekacauan dalam jemaat

September 14, 2008

Bagian ini merupakan pengantar Paulus sebelum nasihat khusus dalam pp.2-5. Ternyata ada masalah dengan ajaran palsu yang perlu ditangani oleh Timotius (1:1-3). Yang diharapkan Paulus adalah hidup jemaat berdasarkan iman, yang dia simpulkan dalam a.5 sebagai kasih. Apa dasar kasih itu? Ketiga “dari” dalam a.5 merujuk pada batin yang tidak terbagi-bagi. Soalnya, pengajar sesat tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Dalam ayat-ayat berikut Paulus memberi penjelasan.

Yang pertama adalah soal hukum Taurat. Paulus menegaskan bahwa Taurat tertuju bagi orang berdosa, bukan orang benar (a.9). Memang banyak dosa yang dilarang di dalamnya (a.10), tetapi Injil dari Allah yang mulia sudah memiliki dasar untuk menentang hal-hal itu (a.10b-11). Paulus kemudian bersaksi tentang kuasa Injil, yang mengubah dia dari seorang penganiaya menjadi pelayan Allah (aa.12-13). Anugerah Allah melimpah di atasnya, dengan iman dan kasih (a.14). Kasih berdasarkan iman adalah ringkasan dari tujuan Paulus dalam a.5; ternyata sumbernya adalah anugerah dari Injil, bukan hukum dari Taurat. A.15 menyimpulkan prinsipnya: Allah menyelamatkan orang berdosa. Paulus sendiri adalah contoh utama penerima hidup kekal (a.16), sehingga dia memuji kemuliaan Allah raja segala zaman. (Kata kekal dan kata zaman berasal dari kata dasar yang sama dalam bahasa aslinya.)

Bagi Paulus, orang yang menanggapi masalah dengan hukum daripada dengan Injil adalah pengajar sesat yang tidak tahu apa-apa. Soalnya, hukum menegor orang berdosa, tetapi tidak dapat menimbulkan hati nurani yang murni apalagi kasih yang sejati. Dasar perubahan yang sejati adalah Injil tentang pengampunan dan hidup kekal yang membawa kita untuk memuliakan Allah. Memang, jika dasar itu ada maka cara hidup perlu diberitahukan, sebagaimana disampaikan Paulus dalam pasal-pasal berikut. Tanpa dasar Injil, betapapun semangat kita menegor, tidak akan ada buah kasih dan iman.


12. Amsal

Agustus 25, 2008

Paulus berdoa untuk jemaat di Filipi, “semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian” (Fil 1:9). Mengasihi sesama adalah perintah Tuhan, tetapi kasih yang tidak mengetahui dan mengerti keadaan bisa berakibat buruk, sekalipun maksudnya baik. Kemampuan yang dimintakan Paulus itu dapat disebut hikmat.

Kitab Amsal, Ayub dan Pengkhotbah adalah pusat hikmat dalam PL. Sifatnya nampak dalam contoh klasik dari Ams 26:4-5:

Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.

Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.

Sudah jelas kedua ayat ini bukan perintah, karena kalau demikian maka ada kerancuan besar! Ternyata menanggapi orang bebal dengan tepat bukan soal hukum melainkan soal hikmat, soal mengetahui dan mengerti keadaan sehingga respons tepat untuk keadaan itu. Membaca kedua amsal ini memaksa kita untuk memikirkan kapan masing-masing keadaan yang dibayangkan. Kalau selama ini kita selalu menjawab atau selalu tidak menjawab orang bebal, maka kita akan belajar untuk lebih fleksibel.

Kitab Amsal mulai dengan sembilan pasal untuk memotivasi pembaca untuk menjadi berhikmat. Pasal 8:22dsb menarik, karena menceritakan bagaimana hikmat terlibat dalam dunia sejak dunia diciptakan. Jika dunia diciptakan dengan hikmat, maka cara hidup yang tepat di dunia adalah dengan hikmat. Banyak amsal disampaikan mulai p.10. Ada teka-teki seperti di atas, yang mendorong kita untuk berpikir. Banyak juga yang menyampaikan kebenaran umum, seperti pentingnya hidup dengan rajin (10:4). Kebenaran ini jangan dianggap sebagai janji mutlak—bukankah ada pemalas yang kaya dan orang miskin yang rajin? Tetapi dunia diciptakan sedemikian rupa sehingga pada umumnya pemalas tidak akan berhasil. Hidup rajin adalah hidup yang cocok dengan bagaimana dunia ini diciptakan.

Kitab Ayub dan Pengkhotbah menunjukkan keterbatasan hikmat manusia. Dalam kitab Pengkhotbah kita belajar bagaimana dunia “ditaklukkan kepada kesia-siaan” (Rom 8:20), sehingga hikmat tidak berhasil sebagaimana semestinya. Kitab Ayub menegaskan bahwa penderitaan atau ketidakberhasilan tidak selalu karena alasan yang jelas bagi manusia. Hikmat sangat perlu tetapi hikmat manusia selalu terbatas.

Ketiga kitab hikmat ini penuh dengan hikmat yang praktis dan mengena. Kadangkala khotbah berdasarkan tema mencari-cari nas untuk mendukung tema itu, sehingga cerita dengan makna teologis yang penting dibelokkan untuk melayani tema itu. Sementara tema itu dibahas dengan jelas dan tajam dalam beberapa ayat Amsal! Mencari amsal yang membahas tema tertentu begitu gampang jika memakai konkordansi, dan tinggal memilih dua atau tiga ayat untuk direnungkan dengan teliti. Tidak masalah kalau ketiga ayat tidak berturut-turut. Mulai p.10 dalam kitab Amsal konsep perikop pada umumnya tidak berlaku.

Seri Pemahaman PL


Yoh 21:15-19 Kasih kepada Yesus

Juni 13, 2008

Kebangkitan Yesus membawa sukacita ganti dukacita yang dialami para murid ketika Dia disalibkan (Yoh 16:20). Tetapi kebangkitan-Nya tidak meniadakan pengkhianatan para murid terhadap-Nya, khususnya Petrus yang telah berjanji, “Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” (Yoh 13:37) tetapi menyangkal Yesus tiga kali. Di sini Yesus menunjukkan bagaimana pengampunan bisa berlaku bagi mereka setelah kematian dan kebangkitan-Nya.

Percakapan itu terjadi di sekitar api arang yang dipasang Yesus, sama dengan api arang yang di sekitarnya Petrus menyangkal Yesus (18:18). Yesus bertanya tiga kali kepada Petrus, seperti ketiga kali di halaman istana Imam Besar itu. Soal murid-murid mengasihi Yesus dibahas Yesus dalam percakapan-Nya dengan para murid sebelum Dia disalibkan. Dia mengaitkan kasih dengan ketaatan (Yoh 14:21-24). Bisa saja bahwa perkataan seperti “Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku” membawa kesimpulan bahwa kalau tidak taat—seperti menyangkal Yesus—maka kasih itu habis atau tidak sah. Jadi, pertanyaan Yesus membawa pengampunan kepada Petrus serta membawa penafsiran bagi kita bahwa Yesus dalam Yoh 14 berbicara tentang arah hidup daripada sekali salah sudah habis.

Pengampunan Yesus juga mengandung pengutusan. Sebagai “Kefas” (batu karang), Petrus diutus untuk menjadi gembala perdana dalam kumpulan murid-murid Yesus. Tugasnya memberi makan domba-domba Yesus (bosko, aa.15, 17) dan juga menggembalakannya (a.16, LAI tidak membedakan kedua kata ini). Hal itu akan melibatkan penderitaan seperti Yesus sendiri (a.18-19). Tetapi kalau ada kasih kepada Yesus, harga seperti itu tidak terlalu mahal.

Sadar akan pengampunan Yesus, Petrus tidak lelah lagi mengemban panggilannya dalam gereja perdana. Apakah Saudara mengasihi Yesus?


Kis 2:41-47 Jemaat Perdana

Mei 22, 2008

Dalam bagian awal Kisah Para Rasul, perikop ini merupakan gambaran pertama tentang jemaat sebagai Israel yang mulai diperbarui oleh Roh Kudus. Gambaran itu mulai dan berakhir dengan penambahan jumlah orang percaya (41, 47b). Di dalamnya ada semacam kesimpulan dulu (42) yang dijelaskan dalam aa.43-47a.

Struktru tadi saya jelaskan supaya nyata bahwa persekutuan bagi Lukas bukan sebagai pengganti misi melainkan sebagai pendukungnya. Yang ditambahkan adalah mereka yang menerima khotbah Petrus yang berbicara tentang Kristus, dan mereka disebut sebagai orang-orang yang diselamatkan. Bahasa penginjilan seperti “menyelamatkan jiwa” justru berasal dari perikop seperti ini. Menawarkan Kristus supaya ada yang bergabung dengan jemaat-Nya adalah konsep misi Lukas di sini.

Ada empat hal dalam a.42. Pengajaran rasul-rasul (yang tertuang dalam PB sekarang) disebut pertama, karena memang definisi kelompok ini adalah mereka yang menerima Kristus, dan mereka perlu memahami siapa dan bagaimana Kristus itu. Kedudukan para rasul diteguhkan oleh mujizat dan tanda (43). Persekutuan diuraikan dalam rangka rezeki, supaya tidak ada yang kekurangan (44-45). Tetapi apa yang kita sebut sebagai persekutuan juga muncul, yaitu doa (di Bait Allah, 46) dan perjamuan (di rumah!–memecahkan roti merujuk pada Lk 22:19). Dalam kedua kegiatan itu mereka berbagi makanan dengan sikap hati yang baik (46b) dan hubungan dengan Allah dan masyarakat yang tepat (47a).

Tentu Lukas mau supaya kita mengikuti teladan mereka, tetapi nyata juga bahwa gambaran ini adalah contoh yang ideal, bukan aturan. Pendeta sekarang bukan rasul sehingga harus mengadakan mujizat, dan belum tentu kita harus menjual harta untuk mendukung yang miskin atau berdoa di sebuah gedung yang suci. Namun, hal itu bukan alasan untuk kita pelit, jarang berdoa dan cuek terhadap Alkitab. Jemaat seperti itu belum tentu akan melihat orang di sekitarnya mau bergabung!


5. Hukum Taurat: Etika

Mei 22, 2008

Saya hitung tiga macam kesulitan dalam memahami perintah-perintah Hukum Taurat (HT).

  1. Keadaan tidak lagi cocok, seperti Im 19:9 “Janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya”. Saya tidak memiliki ladang!
  2. Alasannya kurang jelas. Im 19:19 memberi perintah untuk tidak memakai pakaian yang dibuat dari dua jenis bahan. Mengapa?
  3. Perjanjian Baru menilai lain. Im 19:26 melarang memakan daging yang masih berdarah, sedangkan Paulus mengatakan bahwa “semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur” (1 Tim 4:4). Kategori ini juga termasuk “mata ganti mata” yang ditanggapi oleh Yesus (Im 24:20 & Mt 5:38-39), serta hari Sabat yang beralih satu hari (dan sifatnya berubah juga).

Kita bisa tambah bingung ketika kita membaca perkataan Yesus di Khotbah di Bukit bahwa satu titikpun tidak akan ditiadakan dari HT (Mt 5:18), padahal beberapa ayat kemudian Yesus sepertinya meniadakan sumpah (5:33) dan pembalasan (5:38).

Sekali lagi kita berhadapan dengan Alkitab yang dinamis, yang berkembang. Saya sudah mengusulkan bahwa “ketika Yesus menggenapi sistem kurban dalam PL, dia tidak meniadakan maknanya melainkan menerapkan maknanya dengan cara yang baru”. Saya mau mengusulkan bahwa prinsip itu berlaku untuk perintah-perintah etis juga. Yesus mengatakan bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan HT, melainkan untuk menggenapinya (Mt 5:17). Apa maknanya yang diterapkan dan bagaimana caranya yang baru?

Cara yang baru adalah oleh Roh Kudus. Khotbah di bukit ditujukan kepada murid-murid Yesus yang telah menerima panggilan Kerajaan Allah yang dekat. Satu harapan PL tentang Kerajaan Allah ialah hati yang baru (Yer 31:33; Yeh 36:26) oleh karena kehadiran Roh Allah (Yeh 36:27). Maka cocoklah ketika Yohanes Pembaptis menyampaikan bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus (Mt 3:11). Jadi, dalam Khotbah di Bukit Yesus menyampaikan makna HT kepada umat Allah yang mau diperbarui oleh Roh Kudus, atau dalam bahasa Paulus mau lulus dari pengawasan HT sebagai penuntun.

Makna HT yang mau diterapkan oleh umat yang baru itu disimpulkan oleh Yesus dengan Aturan Emas (Mt 7:12 “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”), dan kemudian secara lebih lengkap dalam kedua Perintah Agung, kasih kepada Allah dan sesama (Mt 21:37-40, yang mengutip HT sendiri!). Secara lebih terperinci, Yesus menguraikan berbagai perintah dalam Mt 5:21-48. Umat yang baru bukan hanya akan sanggup menahan diri dari pembunuhan, perzinahan, sumpah palsu dsb, tetapi juga akan sanggup tidak marah, tidak berhawa nafsu, selalu jujur dsb. Yesus menerapkan makna seluruh HT (tidak satu titikpun dibuang) dalam konteks umat yang baru. (Bnd. Rom 8:3-4; 13:8-9; Gal 5:22-23.)

Jika demikian, maka kita harus selalu menafsir HT sebagai anggota umat yang baru (jemaat). Kadangkala makna yang perlu diterapkan sudah jelas, seperti Im 19:10 yang menjelaskan bahwa penuaian harus meninggalkan sisa-sisa bagi orang miskin. Cara sekarang mungkin lain (seperti diakonia melalui jemaat), tetapi maknanya tetap berlaku, dan Im 19:9-18 mengingatkan kita bahwa kasih kepada sesama harus praktis. Jika maknanya tidak jelas bagi kita, seperti Im 19:19, maka kita bisa percaya bahwa maknanya akan muncul di tempat yang lain. Kadangkala maknanya cukup dalam. Makna hari Sabat mulai dengan kenikmatan Allah akan hasil penciptaan-Nya (Kej 2) sampai menjadi simbol harapan akan ciptaan yang baru (Ibr 4:9-11). Itu mengapa Yesus suka menyembuhkan pada hari Sabat. Berhenti dari pekerjaan hanya satu cara untuk diperbarui dalam harapan itu!

Seri Pemahaman PL


Yoh 20:1-18 Dia bangkit!

Maret 18, 2008

Cerita Yohanes di sekitar kebangkitan Yesus dapat dibagi tiga menurut tempat. Yoh 20:1-18 di sekitar kubur Yesus, Yoh 20:19-29 di dalam rumah di Yerusalem, dan Yoh 21 di Galilea. Yoh 20 menyangkut tema kesaksian. Harus ada yang melihat Yesus yang bangkit untuk bersaksi kepada orang lain. Memang Yesus mengatakan bahwa orang yang tidak melihat dan percaya akan diberkati (20:29). Namun, Tomas ditegor bukan karena dia melihat, tetapi karena dia tidak mempercayai kesaksian murid-murid yang lain bahwa mereka telah melihat Yesus. Kita yang percaya atas kesaksian murid-murid pertama akan diberkati.

Dalam Injil ini, saksi yang pertama ialah Maria Magdalena, yang hadir ketika Yesus disalibkan (19:25) dan barangkali ikut dalam persiapan tubuh Yesus (19:40-42). Dia yang melaporkan kehilangan mayat Yesus (20:2), dan juga bahwa Dia telah bangkit (20:18), sehingga bagian ini mulai dan berakhir dengan kesaksiannya. Adanya perempuan sebagai saksi kunci dalam konteks Yahudi selaras dengan salib, yaitu Allah memakai yang lemah dan dianggap hina.

Menarik untuk membandingkan pengalaman Maria dengan Petrus dan murid yang dikasihi. Kedua murid melihat bukti kain yang terletak dsb, dan satu percaya, walaupun kedua-duanya belum mengerti Kitab Suci (20:9). Mereka sepertinya harus dibimbing lewat nalar. Sedangkan Maria menjenguk ke dalam kubur dan disambut oleh malaikat, kemudian oleh Yesus sendiri. Dengan Yesus mengucapkan namanya dia mengerti. Dia dibimbing lewat relasi untuk percaya—sebagai domba yang dipanggil dengan namanya sehingga dia mengenali Gembalanya (bnd. 10:3).

Apakah perbedaan ini karena dia sudah mengasihi Yesus dengan tulus, sedangkan Petrus harus dituntun untuk mengaku kasihnya kepada Yesus (21:15-19)? Yang jelas, semua harus percaya sehingga memperoleh hidup (20:31), dan hidup (yang kekal) adalah mengenal Allah dan Kristus (17:3). Semoga kita percaya akan kesaksian Injil Yohanes, dan lebih lagi mengenal Kristus yang telah naik ke Bapa-Nya di sorga (20:17, LAI “pergi” adalah anabaino = pergi naik).

Komentar sedikit tentang perbedaan dalam cerita-cerita kebangkitan…

Baca entri selengkapnya »