Ef 5:1-21 “Mempergunakan waktu dalam kasih, kekudusan dan terang” (13 Mei 2012)

Mei 8, 2012

Kitab Efesus memuat teologi Paulus yang telah dirumuskan untuk konteks Asia Kecil (sekarang Turki) yang budayanya miriplah dengan Toraja lama, termasuk banyak roh, magis dsb. Dalam budaya siklis itu, Paulus tetap berbicara tentang rencana Tuhan, bahwa Tuhan menciptakan dunia dan mau membawa dunia itu kepada satu tujuan, dengan menempatkan segala sesuatu di bawah Kristus sebagai Kepala (1:10). Cara manusia bergabung dengan rencana itu ialah manusia bergabung dengan Kristus oleh iman (1:13-14), sehingga dihidupkan kembali (2:1-10) dan diperdamaikan di dalam tubuh Kristus (2:11-22). Dalam pasal 4, Paulus menguraikan tubuh Kristus itu (4:1-16), kemudian manusia baru yang dihasilkan oleh keselamatan di dalam Kristus (4:17-32).

Makanya, jangan sampai perikop ini dikerdilkan menjadi semacam tiruan Mario Teguh, tips-tips tentang bagaimana memakai waktu dengan efisien. Gaya Mario Teguh dilihat juga dalam kitab Amsal, dan tips-tips ada tempatnya, tetapi jika kita bertanya, “Waktu dipergunakan untuk apa?”, jawabannya harus terletak dalam Injil yang begitu ditekankan dalam surat ini. Bagi Paulus, implikasi Injil ada pertama-tama bukan pada tips-tips atau perintah-perintah, melainkan pada berbagai gambaran identitas kita. Jika identitas itu telah ditangkap, cara hidup yang semestinya akan menyusul.

Penggalian Teks

Ciri-ciri kehidupan baru dalam perikop ini ialah kasih (aa.1-2), kesucian (aa.3-7), dan terang/buah/bangun (aa.8-14). Itulah kerangka yang di dalamnya Paulus berbicara tentang hidup yang berhikmat (aa.15-17). Hikmat itupun tidak berdiri sendiri, tetapi perlu ditopang dengan saling berbagi dalam firman Tuhan oleh kuasa Roh Kudus (aa.18-21).

Soal kasih menyimpulkan penguraian tentang cara berbicara dan berelasi dalam tubuh Kristus dalam 4:25-31, sekaligus menjadi dasar untuk penguraian dalam perikop kita. Dasar kasih adalah Allah, terutama kasih Allah yang dilihat dalam pengorbanan Kristus. Pengorbanan itu adalah teladan (a.1, TB ed. 2 memakai terjemahan “teladanilah Allah”) bagi kita, tetapi jika kita meninjau penguraian Paulus, kita akan melihat bahwa maknanya lebih dalam dari itu. Selain kita berada di dalam Kristus, Kristus juga diam di dalam hati kita (3:17) sehingga dasar spiritualitas kristiani ialah menangkap besarnya kasih Kristus itu (3:18). Makanya, kita meneladani Allah bukan dengan kasih diri sendiri (suatu tuntutan yang mustahil), melainkan dengan kasih Kristus yang ada dalam hati kita. Kasih itu tertanam, antara lain, dengan merenungkan pengorbanan Kristus (a.2).

Jika Kristus adalah persembahan yang harum, kita juga harus menghindar dari kenajisan, hal-hal yang bertentangan dengan kekudusan. Dalam Paulus, kekudusan adalah pertama-tama kedudukan orang percaya yang telah dijadikan milik khusus Allah, sama seperti dalam PL. Tetapi implikasinya sudah dibatinkan, sehingga kekudusan menjadi cara untuk memandang martabat manusia yang hatinya bebas dari kekacauan, yang hawa nafsunya ada pada tempatnya. “Rupa-rupa kecemaran” dalam a.4 berarti maksud hati yang kacau, sehingga martabat orang itu anjlok. Contohnya dalam a.3 & a.5 adalah nafsu berahi dengan nafsu materi yang sudah melampaui batas. Contohnya dalam a.4 adalah berbagai cara berbicara yang meneguhkan “kewajaran” kekacauan itu. Mengapa orang suka perkataan yang kotor? Bukankah untuk membenarkan nafsu berahi yang tidak dikendalikan dengan baik? Mengapa orang suka omongan kosong? Bukankah untuk menjatuhkan sesama sehingga menutupi kelemahan diri dengan tampil lebih baik? Perkataan sembrono merujuk pada orang yang lidahnya fasih tetapi kepintarannya dipakai untuk merendahkan sesama atau tampil pintar. Lawan dari semua cara berkata itu ialah ucapan syukur. Ucapan syukur menjunjung tinggi Allah, dan mengakui semua pemberian-Nya yang baik di dalam dunia ini.

Sama juga dengan PL, kekudusan yang dilanggar menimbulkan murka Allah (a.6), sehingga pelanggar tidak akan ikut dipersatukan di bawah Kristus sebagai Kepala (a.5b). Tentu, maksudnya bukan orang yang sekali jatuh ke dalam sikap yang tidak baik. Jika kurban dalam PL membawa penghapusan dosa bagi orang Israel, lebih lagi kurban Kristus (a.2). Maksudnya bahwa Allah sudah turun tangan dalam Kristus untuk memulihkan dunia dari hal-hal yang demikian, sehingga adalah aneh dan sama sekali tidak menyambung jika orang percaya tetapi mau ikut di dalamnya (a.7, bdk. “sepatutnya bagi orang-orang kudus” a.3; “tidak pantas” a.4). Orang-orang yang didiami Kristus akan menyambut dengan gembira pemulihan Kristus dalam batin sehingga hidupnya dapat lebih baik.

Israel dipanggil untuk menjadi bangsa yang kudus, supaya dapat menjadi terang bagi bangsa-bangsa (Yes 42:6; 49:6). Paulus melanjutkan penguraiannya tentang identitas kita di dalam Kristus dengan tema itu (aa.8-14). Identitas kita di dalam Tuhan adalah terang (a.8). Terang berbuahkan kebaikan dsb (a.9), tetapi kegelapan tidak berbuah (a.11). Oleh karena itu, terang menelanjangi kegelapan. Misalnya, ternyata orang bisa setia kepada satu orang seumur hidup. Ternyata orang bisa bertahan hidup tanpa berkorupsi. Hidup kudus, hidup dalam kasih, membawa terang ke dalam tempat-tempat yang gelap (entah keluarga, kantor, dsb, a.13). Jadi, kata Paulus, kita harus bangun dari tidur sebagai manusia baru yang dibangkitkan dari kematian dalam dosa (2:1-10), supaya kita mengalami terang Kristus itu (a.14, yang mengartikan Yes 60:1 tentang pembaruan umat Allah).

Atas dasar itulah, aa.15-17 menganjurkan cara hidup yang arif dan mengerti kehendak Tuhan. Kejahatan hari-hari ini adalah bahasa lain untuk kegelapan tadi. Jika kita mau menjadi terang, kita harus mempergunakan kesempatan-kesempatan yang ada. Waktu banyak dipergunakan dunia untuk bertindak dalam kegelapan, dan kita harus mempergunakan waktu yang sama untuk membawa terang. Karena besarnya tantangan itu, Paulus menganjurkan untuk memperhatikan dengan saksama, karena dengan mudah kita akan dibawa ke dalam kebebalan dunia ini.

Bagaimana semuanya itu mungkin? Adalah fatal jika yang di atas dibebankan kepada jemaat untuk dilakukan seorang diri. Dalam aa.18-21 Paulus kembali ke soal persekutuan, bukan persekutuan yang terisi dengan perkataan yang kosong (seperti ketika orang kumpul minum-mimum), melainkan persekutuan yang dipenuhi oleh Roh, sehingga firman Allah, termasuk tentang kasih Kristus dan rencana Allah, dibagikan dengan berbagai cara.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Efesus menerapkan identitas mereka di dalam Kristus dengan menjadi kudus dalam kasih, sehingga menjadi terang. Dalam rangka itu, dia menasihati mereka untuk mempergunakan waktu yang ada dengan arif, dan saling menguatkan dalam kebenaran firman. Dengan demikian, mereka akan menjadi bagian dalam rencana Allah untuk mempersatukan segala sesuatu dalam Kristus, karena mereka sendiri ada di dalam Kristus, dan terang itu dapat membawa orang lain juga kepada Kristus.

Makna

Sepertinya, banyak jemaat memahami bahwa orang percaya “wajib” melakukan kasih kepada sesama, tetapi bagi mereka Allah adalah teladan di luar mereka, bukan Pribadi yang ada di dalam. Jika demikian, “kewajiban” itu akan dilakukan dengan bersungut-sungut dan menghitung-hitung. Jika muncul dari diri yang didiami Kristus, kasih itu akan seperti kasih Allah, berprakarsa dalam berbuat baik dan tidak reaktif. Tanpa kasih seperti itu, kekudusan juga akan menjadi semu. Orang Farisi, sebagaimana diceritakan dalam keempat Injil, mengejar kekudusan, tetapi dengan cara yang menajiskan orang banyak dan membanggakan diri. Jangan sampai “kekudusan” di dalam gereja juga demikian.

Pemahaman tentang kekudusan di atas dapat dikembangkan dengan mengatakan bahwa kecemaran itu semestinya menjadi pemali batin. Bagi saya, ini penting. Di dunia Barat, banyak orang, bahkan yang tidak bertuhan, tidak sampai hati berkorupsi, karena mereka akan merasa menjadi manusia kerdil jika melakukannya. (Tentu, ada banyak yang lain yang tega saja.) Di Indonesia, banyak orang yang tidak akan sampai hati mencuri dari orang miskin, tidak melihat ada masalah dengan mencuri uang negara, atau menyontek. Pertimbangan etis tentang hal-hal itu terlalu besar dan abstrak untuk mereka tangkap, sepertinya. Jadi, korupsi kecil hanya akan berkurang kalau hal-hal seperti itu menjadi pemali batin.

Ada banyak hal yang dapat dipikirkan tentang mempergunakan waktu. Pada satu segi, ada momen-momen keputusan: apakah saya membubuhkan tandatangan atau tidak, apakah saya masuk kamar calon selingkuhan ini atau tidak. Tetapi juga ada soal prioritas. Di dalam keluarga, ibadah keluarga, atau berdoa bersama, adalah penggunaan waktu yang baik yang sering dipinggirkan. Di dalam kantor, kejujuran hanya tahap pertama dalam menjadi terang. Kita juga perlu menjadi bawahan atau atasan yang berusaha untuk mengasihi sesama, melayani klien dengan baik, dsb.

Di dalam gereja, pendeta dan majelis ditempatkan di atas jemaat yang perlu didorong dan dikuatkan untuk menjadi kudus dan terang. Bagian mana dari pelayanan yang paling berguna untuk tujuan itu? Adakah pola-pola baru yang harus dipikirkan? Jika pendeta tenggelam dalam rutinitas, sehingga kehidupan rohaninya mati lemas, apakah itu penggunaan waktu yang baik? Banyak pendeta mengeluh bahwa mereka terpaksa sibuk dalam hal-hal yang tidak berguna, seakan-akan majelis dan jemaat menyewa preman atau tentara untuk mengawasi mereka. Sebenarnya, mereka takut akan jemaat. Padahal, bukan jemaat yang menjadi kurban bagi dosa Saudara.

Kembali perlu ditegaskan bahwa perjuangan ini (dan 6:10-12 jelas menggambarkan nasihat ini sebagai perjuangan) bukan sesuatu yang dapat dilakukan seorang diri. Semestinya OIG (kelompok pemuda, wanita, bapak dsb.) menjadi wadah untuk orang saling menguatkan dalam perjuangan ini. Pertemuan pendeta juga semestinya diisi bukan hanya dengan hal-hal administratif, tetapi saling menguatkan dalam pelayanan yang arif, yang mengerti kehendak Tuhan. Jangan sampai kita tidak membawa jemaat ke dalam terang, sehingga Allah memakai orang lain untuk menggenapi rencana-Nya.


Yoh 6:1-15 Pemberi roti yang berlimpah-limpah (29 Apr 2012)

April 27, 2012

Perikop ini adalah satu-satunya mujizat Yesus yang terdapat dalam keempat Injil. Jika kita tidak teliti sebagai penafsir, bisa jadi kita membawa perikop sejajar, bukan perikop yang kita pakai. Misalnya, kita tahu bahwa Yesus berbelaskasihan kepada orang banyak, karena mereka di tempat yang terpencil. Kemudian, kita tahu bahwa Dia membagi-bagikan makanan itu melalui murid-murid-Nya. Kita tahu, tetapi dari Injil Markus, bukan dari Injil Yohanes. Jika kedua hal itu mau dijadikan pokok dalam pesan khotbah, berkhotbahlah dari Mk 6:30-44, bukan dari Yoh 6:1-15 ini. Perikop kita memiliki penekanan tersendiri yang semestinya kita hargai dalam penafsiran kita, yaitu penekanan Kristologis, seperti dalam seluruh Injil Yohanes.

Penggalian Teks

Perikop ini menyampaikan peristiwa terakhir Yesus di Galilea dalam Injil Yohanes, dan juga puncak kepopuleran-Nya. Setelah peristiwa ini, ada pembahasan yang panjang antara Yesus dengan orang banyak itu. Di dalamnya, Yesus menyebut diri roti kehidupan, dan mengecam mereka karena mereka hanya melihat pada kebutuhan jasmani, bukan kepada Pemberi kebutuhan itu, yaitu, Yesus.

Yohanes menyampaikan latar belakang dari cerita ini dalam aa.1-3. Yesus makin populer, tetapi ternyata hal itu sekadar karena tanda-tanda penyembuhan yang dilakukan-Nya (a.2). Dua detil juga harus diperhatikan: Yesus naik gunung (a.3) dan waktunya dekat Paskah (a.4).

Rangkaian peristiwa mulai dengan Yesus memandang orang banyak (a.5). Aa.5-10a menyangkut Yesus dengan murid-murid-Nya. Dia mengangkat masalah yang sepertinya mustahil: memberi makan kepada orang yang sangat banyak. Adalah penting untuk diamati bahwa Yesus sudah tahu apa yang mau Dia lakukan. Dia menguji kemampuan para murid-Nya untuk peka terhadap rencana Tuhan, bukan kemampuan mereka untuk membuat rencana sendiri yang hebat-hebat. Dalam rangka itu, Filipus tidak terlalu berhasil: dia hanya dapat melihat kendala. (Satu dinar itu upah satu hari bekerja, jadi dua ratus dinar kurang lebih upah 8 bulan , mengingat orang tidak bekerja pada hari Sabat.) Tetapi Andreas paling sedikit dapat melihat adanya sesuatu (roti dan ikan), meskipun dia tidak dapat melihat bagaimana yang sedikit itu dapat berguna. Dia mungkin lupa akan pengalaman Elisa, yang memberi makan seratus orang dengan dua puluh roti jelai (2 Raj 4:42-44), atau dia terlalu memperhatikan bahwa lima ribu orang itu jauh lebih banyak.

Bagaimanapun juga, rencana Yesus tidak akan dihalangi oleh kelemahan murid-murid-Nya. Aa.10b-13 menceritakan kelimpahan yang terjadi setelah Yesus mensyukuri dan membagikan roti dan ikan itu. Kelimpahan itu membuat semua puas, kenyang. Israel makan bersama sampai kenyang, di bawah pemeliharaan Yesus, Mesiasnya, sama seperti Israel makan manna di padang gurun setelah dibebaskan dari Mesir, seperti yang dirayakan pada perayaan Paskah.

Gambaran atau pengalaman akan berkat yang disampaikan dalam peristiwa itu sangat mengesankan, tetapi apa kesannya yang ditangkap? Orang banyak melihat kesejajaran dengan Musa dan Israel dan menganggap bahwa Yesus adalah nabi yang dinubuatkan oleh Musa (a.14, bdk. Ul 18:15-18). Dengan demikian, mereka melihat bahwa Yesus itu akan sanggup untuk memenuhi kepentingan mereka, yaitu pembebasan dari kuk pemerintahan Romawi (a.15). Oleh karena itu, Yesus harus menyingkir. Dalam pembahasan berikut (perikop ini adalah bagian awal dari satu bagian utuh, yaitu seluruh pasal enam), Yesus menunjukkan apa yang Dia maksud dengan peristiwa itu, yakni, bahwa Dialah roti kehidupan yang berkelimpahan, yang membuat kenyang (6:48-51). Yesus mau supaya pemberian roti dan ikan dalam peristiwa itu membawa orang banyak kepada Pemberinya, tetapi wawasan mereka hanya sampai pada pemberian itu (6:26-27).

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini membawa kita untuk melihat kelimpahan yang ditawarkan oleh Yesus, yaitu bahwa Dia dapat membuat jiwa kita kenyang dan berkelimpahan.

Makna

Maksud tadi sepertinya “merohanikan” suatu cerita yang di dalamnya dengan jelas ada lima ribu orang yang diberi makan yang mengenyangkan perutnya. Ada berbagai penerapan etis yang sering diambil dari cerita ini. Ada kepedulian Yesus kepada orang banyak (walaupun hal itu tidak disebutkan oleh Yohanes). Ada usaha Yesus untuk membimbing murid-murid-Nya. Ada berbagai respons mereka. Ada keberanian anak yang tidak menyimpan makanannya untuk keluarganya sendiri. Tetapi, jika implikasi dalam Injil Yohanes dicermati, Yesus memberi tafsiran kristologis dari peristiwa itu, yakni bahwa Dialah roti kehidupan. Bagi saya, ada beberapa alasan mengapa fokus itu justru penting, bukan hanya untuk membangun iman, tetapi juga untuk membangun kasih yang sejati.

Yang pertama, jika kita sudah menangkap kelimpahan hidup yang kita miliki di dalam Kristus, sikap pelit cepat atau lambat akan terkikis. Banyak orang merasa kekurangan, walaupun sebenarnya berkecukupan. Tetapi sikap khawatir, atau sikap rakus, membuat apa yang ada dianggap kurang. Orang seperti itu tidak akan berubah dengan ditegur untuk memperhatikan sesama, karena teguran itu belum menanggapi akar sikap mereka, yaitu masalah iman.

Yang kedua, jika kita tidak melihat Yesus sebagai yang pokok, kita juga akan membelokkan apa yang Dia lakukan supaya sesuai dengan kepentingan kita. Orang banyak pada saat itu sudah “tahu” rencana Tuhan, yaitu, pembebasan dari kuasa Roma, dengan Israel menjadi berjaya dsb. Sekarang banyak warga jemaat sudah “tahu” rencana Tuhan, yaitu mereka pulih, lulus, dapat promosi dan lain sebagainya. Kuasa Yesus diakui, tetapi mau dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan kita. Pemberian-Nya dicari, bukan Dia sendiri. Kita bisa mengamati saja dunia Barat, yang diberkati dengan kemakmuran yang tidak pernah dialami manusia sebelumnya. Apakah rasa syukur mereka juga berlimpah-limpah? Justru sebaliknya. Ternyata betul, kekayaan membuat lebih sulit masuk ke dalam kerajaan Allah.

Yang ketiga, kita menjadi seperti Siapa yang kita kagumi. Seorang adik mau meniru kakaknya, bukan karena ditegur, tetapi karena mengagumi kakaknya. Sebagian calon pendeta dalam wawancara merujuk pada sosok pendeta yang pernah (atau masih) mereka kagumi sebagai alasan mereka mau menjadi pendeta. Barangkali, ada juga yang menekuni jalan korupsi karena mengagumi mobil mewah yang didapatkan oleh keluarga yang menempuh cara itu. Yohanes sama sekali tidak anti-tindakan (bdk. 1 Yoh 3:17), tetapi bagi dia, dasarnya adalah mengenal kasih Kristus (bdk. ayat sebelumnya, 1 Yoh 3:16). Salah satu maksud dari kiasan “makan tubuh-Ku” dan “minum darah-Ku” (Yoh 6:53-54) ialah bahwa kasih Kristus bukan sekadar contoh baik, tetapi menjadi salah satu sifat Yesus yang “mendarah-daging” dalam kehidupan kita. Dengan mencari Pemberinya, kita akan menjadi makin seperti Dia.

Jadi, pada hemat saya, mendorong orang untuk sekadar bertindak seperti Yesus dalam perikop ini tidak akan sama efeknya dengan memaparkan kemuliaan-Nya, kelimpahan-Nya, dan kelayakan-Nya untuk dipercayai. Tentu, ada bahaya kalau tidak pernah merujuk pada implikasi praktis dari iman. Tetapi yang jauh lebih sering terjadi, menurut pengamatan saya, ialah menegur tanpa dasar dalam anugerah Allah. Hal itu membangun rasa bersalah yang tidak berdaya; memberitakan Kristus membangun iman yang akan bermuara pada kasih.

Memaparkan Kristus dalam perikop ini juga akan membawa kemuliaan bagi nama-Nya di dalam jemaat. Semoga kita tidak jenuh melakukannya!


2 Pet 1:3-11 “Mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (5 Feb 2012)

Februari 2, 2012

Perikop ini sangat kaya, baik dalam teologinya dalam aa.3-4 dan aa.8-11, tetapi juga dalam daftar sifat-sifat manusia yang perlu dikembangkan dalam aa.5-7. Kala memberitakannya, kita bisa menjadi asyik membahas rencana Allah, atau membahas pertumbuhan karakter manusia, tetapi adalah penting bahwa keduanya mendapat tempat, karena saling mengisi. Bahkan, pada akhir bagian makna, saya mencatat bagaimana khotbah bisa beranjak dari aa.5-7 saja (cocokkah untuk jemaat yang konon berpikir praktis?), untuk menunjukkan bagaimana etika dan teologi saling menopang. Jika “buta dan picik” menggambarkan perasaan Pembaca tentang sebagian gereja sekarang, perikop ini akan membawa banyak hikmat.

Penggalian Teks

Dalam bagian salam (aa.1-2) Petrus telah menyinggung dua aspek dari para pendengar surat ini.[1] A.1 mencirikan penerima surat sebagai orang beriman. Iman adalah cara menjadi bagian dari “keadilan” Allah, yaitu, niat-Nya untuk memulihkan (sebagai “Juruselamat”) dunia ini. Hasil iman adalah “kasih karunia dan damai sejahtera” (a.2), yang dialami “oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus”. Pengenalan akan Allah dan Yesus adalah wadah yang di didalamnya kita akan mengalami anugerah dan damai sejahtera. Banyak isi dari surat ini akan membahas berbagai ancaman terhadap damai sejahtera ini dari ajaran yang sesat, tetapi dalam p.1 Petrus menyampaikan pola yang benar. Dasarnya, apa yang diimani, adalah kesaksian para rasul dan nabi-nabi (1:12-21).

Tetapi yang pertama diuraikan dalam perikop kita ialah pengenalan yang membawa kepada keselamatan. Pengenalan akan Kristus dibahas dalam aa.3-9 dalam rangka hidup yang berhasil (perhatikan bahwa kata pengenalan dipakai dalam a.3 dan a.8). Dalam aa.10-11 Petrus berfokus kembali pada tujuannya, yaitu memasuki Kerajaan kekal yang untuknya kita dipanggil. Strukturisasi itu membuat kiasmus dengan bagian salam: A) Keselamatan (a.1); B) Pengenalan (a.2); B’) Pengenalan (aa.3-9); A’) Keselamatan (aa.10-11). Tetapi ada strukturisasi yang lain yang beranjak dari kata “sungguh-sungguh” (mewakili kata dasar spoud-) dalam a.5 dan a.10, dan melihat bahwa a.4 juga menyangkut tujuan hidup: A) Pengenalan dan Panggilan (aa.3-4); B) Mengusahakan pengenalan akan Kristus (aa.5-9); C) Mengusahakan panggilan Kristus (aa.10-11). Jika Pembaca (maksudnya, Anda sebagai Pembaca blog) berusaha menangkap dan membandingkan kedua struktur ini, Pembaca akan terhindar dari tafsiran yang dangkal dan melupakan Tuhan. Aa.5-7 yang berbicara tentang pengembangan karakter terletak dalam rencana Tuhan untuk dunia. Etika berakar dalam teologi (etos dalam mitos, untuk Pembaca yang biasa dengan bahasa seperti itu).

Aa.3-4 menonjol karena istilah “ilahi”. “Kuasa ilahi” Allah/Yesus bermuara pada “bagian dalam kodrat ilahi”. Untuk menangkap maksud Petrus, kita perlu mengamati bahasanya. Dalam a.3, tujuannya “hidup yang saleh”.[2] Tujuan itu hanya dimungkinkan dengan “segala sesuatu yang berguna”, yang sumbernya adalah kuasa ilahi dan salurannya adalah pengenalan akan Allah/Yesus. Kata “pengenalan” menerjemahkan epignosis yang berarti pengetahuan yang dalam. Kesalehan kristiani terjadi bukan dengan mengetahui berbagai hal tentang Allah, tetapi dengan menjadi mengenal Allah. Bagaimana kita mengenal Allah? Karena Dia telah memanggil kita. Hal itu terjadi “oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib”. Secara harfiah, frase itu berarti “dengan/oleh kemuliaan [doxa] dan kebajikan yang mengagumkan [arete]“. Kata arete memang dapat dipakai untuk mujizat, sebagai suatu kebajikan yang mengagumkan, tetapi fokusnya tetap pada unsur kekaguman bukan kuasa. Jadi, baik kata doxa maupun arete mengarah kepada kehormatan yang melekat pada Allah/Yesus sehingga kita menerima panggilan-Nya untuk beriman kepada-Nya. Walaupun kemuliaan Allah dilihat dalam ciptaan-Nya, Petrus hampir pasti merujuk pada kemuliaan Allah sebagaimana dilihat dalam kehidupan Yesus, seperti dia ceritakan dalam 1:16-18, dan sesuai dengan tekanan pada Yesus dalam 1:1-2,[3] Yesus memungkinkan orang percaya untuk mengenal Allah secara dalam, sehingga ada kuasa ilahi yang dilepaskan dalam kehidupannya, sehingga hidup mereka tampil saleh.

Tetapi kesalehan bukan tujuan akhir bagi manusia di dalam Kristus. Dalam a.4, “dengan jalan itu”, artinya, melalui (dia + genitif) doxa dan arete Yesus itu, Allah juga menyampaikan janji-janji-Nya. Janji-janji itu juga sangat layak dihormati, karena “berharga” dan “sangat besar”. Melalui janji-janji itu, kita sampai pada mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Frase itu memakai bahasa yang lazim pada zaman itu untuk menyatakan harapan bahwa jiwa akan luput dari dunia yang kotor atau fana ini dan mencapai kesempurnaan di dunia surgawi (dipahami sebagai dunia yang di luar lingkaran bulan). Pemahaman tradisional budaya Toraja tidak jauh beda: seorang leluhur yang sudah diupacarakan dengan tepat menjadi semacam dewa sehingga menjadi sumber berkat bagi keturunannya. Tetapi maksud Petrus lain. Masalah dengan dunia bukan kefanaannya melainkan dosa, “nafsu duniawi yang membinasakan dunia”. Kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi dengan menjadi makin seperti Yesus, Allah dan Juruselamat kita. Dengan kata lain, kita tidak luput dari kemanusiaan dengan menjadi ilah, tetapi kita luput dari dosa sehingga menjadi suci. Hal itu terjadi karena di dalam Yesus kita mengenal Allah, dan dikuatkan oleh janji-janji Injil sehingga kita makin seperti Yesus.

Dalam aa.5-7 Petrus mendaftar serangkaian sifat yang akan mempraktekkan pemahaman tersebut. Iman adalah dasarnya, dan kasih adalah hasilnya. Di antaranya, Petrus menyebut kebajikan (arete kembali), yaitu, sifat-sifat yang layak dihormati, serta pengetahuan. Kedua hal itu adalah bagian dari kedewasaan umum, tetapi dibangun kembali atas dasar iman. Dengan kedua hal itu kita dimampukan menguasai diri, baik dalam menghindar dari hawa nafsu yang tidak baik, maupun dalam bertekun dalam penderitaan. Dengan demikian, kita akan menunjukkan sikap dan tingkah laku yang cocok sebagai orang yang taat kepada Allah. Di atas itu, Petrus melihat sifat utama yang mencirikan orang percaya, yaitu, kasih, dilihat dari perspektif kasih di dalam persekutuan, dan kasih akan semua orang (“akan semua orang” adalah tambahan dari LAI, tetapi cocok dalam konteksnya). Perlu diingat bahwa daftar ini tidak berdiri sendiri, tetapi terdapat dalam pembahasan tentang kuasa ilahi dan janji sebagai sumber dan dasar iman.

Aa.8-9 memberi motivatsi dengan menawarkan dua akibat, yaitu berhasil dalam pengenalan akan Yesus Kristus, atau menjadi buta dan picik. Frase “dengan berlimpah-limpah” merujuk pada aa.5-7 sebagai proses. Sifat-sifat itu tidak jadi dengan tiba-tiba, dan juga tidak jadi satu per satu, tetapi akan berkembang bersama. Karena selalu berkembang, kita selalu segar dalam hidup beriman kita. Pengenalan akan Yesus tidak mandek, tetapi mengalir ke dalam seluruh kehidupan dan relasi kita. Alternatifnya buta dan picik. Dari akhir a.9, adalah jelas bahwa Petrus tidak melihat keselamatan itu bergantung pada keberhasilan dalam pertumbuhan, karena dosanya tetap dihapuskan. Hanya, dia melihat kehidupan yang picik itu sebagai akibat bahwa penghapusan itu tidak diingat dan tidak menjadi landasan kehidupan seseorang. Kembali kita melihat bahwa bagi Petrus, sumber perubahan hidup adalah anugerah Allah, usaha manusia adalah respons belaka.

Aa.10-11 melihat lebih luas, yaitu pada rencana keselamatan Allah. Usaha dalam aa.5-7 akan membuat panggilan dan pilihan Allah akan kita makin teguh–bukan bagi Allah, melainkan bagi kita sendiri, karena perubahan hidup sudah nyata. Kita akan kurang rentan digoyang oleh pencobaan dan tantangan. Terjemahan a.11 agak sulit. Kata kerja utama yang diterjemahkan “dikaruniakan” (epikhoregeo) adalah sama dengan kata kerja yang diterjemahkan “menambahkan” dalam a.5. Kata itu dipakai untuk pemberian, khususnya dalam rangka membekali atau membiayai. Dalam a.5, iman ibarat rumah yang masih kosong yang harus dibekali dengan berbagai sifat yang lain. Dalam a.11, yang dibekali adalah kita, dan kita dibekali dengan hak memasuki Kerajaan kekal. Hak di sini berarti izin yang dikaruniakan, bukan hak karena layak secara hukum. Bekal yang kita tambahkan pada iman kita dibalas dengan bekal untuk masuk ke surga, bukan sebagai upah tetapi karena Kerajaan itu makin menjadi kerinduan dan tujuan kita.

Maksud bagi Pembaca

Di hadapan berbagai tantangan, termasuk ajaran sesat, Petrus mau mempersiapkan para penerima surat supaya mereka mengambil bagian yang berguna dalam rencana keselamatan Allah. Pengenalan akan Kristus yang mulia memungkinkan kuasa Allah mengubah kehidupan kita sehingga usaha yang tepat dalam perkembangan karakter berhasil, dan kita mencapai Kerajaan Kristus tanpa hambatan. Jadi, hasil yang diharapkan Petrus adalah perkembangan karakter. Untuk memotivasi tujuan itu, dia menjelaskan 1) bekal Allah berupa kuasa dan janji-janji; lalu 2) akibat, yakni: a) akibat sementara, berbuah atau picik, dan b) akibat kekal, tersandung atau masuk Kerajaan Tuhan dengan lancar.

Makna

Satu analisis dari lemahnya gereja di daerah seperti Toraja adalah bahwa etos budaya yang ditopang dengan kuat oleh mitos lama telah runtuh karena mitosnya runtuh, tetapi etos baru yang berakar dalam Injil belum menghasilkan etos budaya yang baru. Dulunya, konon, orang Toraja rata-rata saleh, patuh terhadap nilai-nilai yang dilindungi oleh adat dan tabu (aluk sola pemali). Kedatangan kekristenan serta modernisasi merongrong kepercayaan lama, sehingga banyak tabu dan nilai lama tidak lagi kuat, tetapi Injil belum ditangkap dengan jelas untuk menopang nilai-nilai baru (yang dalam banyak hal akan mirip dengan nilai lama, hanya memang akan lebih fleksibel untuk dunia modern).

Makanya, saya tertarik untuk melihat sejauh mana aa.5-7 dapat dikaitkan dengan Injil. Ayat-ayat itu jelas terletak dalam konteks Injil, tetapi sejauh mana sifat-sifat itu masing-masing dapat dilihat berakar dalam Injil? Yang saya temukan, seluruh perikop dapat disampaikan beranjak dari ayat-ayat ini. Yang pertama, iman, jelas berarti iman kepada Kristus. Iman adalah respons kita terhadap panggilan Allah (a.3), dan aa.5-7 menunjukkan bagaimana caranya panggilan Allah dapat diteguhkan (a.10). Kebajikan kita akan mencontoh kebajikan (arete) Yesus yang dipakai Allah untuk menarik kita kepada Kristus; kita mau menjadi seperti Kristus yang mulia itu (a.3). Pengetahuan jelas termasuk pengetahuan akan Injil Kristus; bagaimana mengenal Kristus (aa.3, 8) jika pengetahuan isi Alkitab sangat minim? Penguasaan diri jelas menjadi lebih menantang dalam iman kepada Kristus ketimbang budaya Yunani pada umumnya ataupun budaya lama Toraja, karena motivasi dan pikiran juga harus dikendalikan, bukan hanya tindakan dan perasaan yang meluap. Tetapi karena anugerah Allah dalam penghapusan dosa, dan dengan memandang kemuliaan Kristus, hawa nafsu duniawi tidak lagi terasa cocok, sehingga kuasa ilahi dicari untuk membangun keserupaan dengan Kristus dan luput dari hawa nafsu duniawi (a.4). Ketaatan kepada Allah juga menjadikan ketekunan lebih sering diperlukan. Namun, janji Allah (a.4) membuat ketekunan masuk akal, karena ada harapan yang mulia, yakni, bergabung dengan Kristus dalam Kerajaan-Nya (a.11). Hal-hal itu memungkinkan hidup yang saleh (a.3), karena kita tidak mudah terpeleset oleh nafsu dari dalam atau tekanan dari luar. Tetapi, kesalehan bukan hal terakhir. Di dalam kasih kita berbagi dalam kodrat ilahi dengan menjadi serupa dengan Kristus. Dari seluruh perikop, tinggal dijelaskan bahwa semua sifat-sifat ini adalah pemberian kuasa ilahi (a.3), dan akibatnya jika sifat-sifat ini diusahakan atau tidak (aa.8-11).

Satu pintu masuk untuk membicarakan soal itu adalah soal kemuliaan dalam a.3. Sebagian warga jemaat sangat asyik dengan kesemarakan upacara orang mati, jauh lebih asyik daripada Yesus yang mulia dan layak dikagumi. Sebagian yang lain asyik dengan harta benda, sebagian pemuda asyik dengan menjadi “keren”, dsb. Pokoknya, apa yang kita kagumi, yang kita anggap mengasyikkan, yang membuat hidup kita berarti dan tidak tawar, bagi Petrus adalah pertama-tama Yesus.

Melangkah lebih jauh dari maksud perikop, menarik untuk mengamati bahwa Petrus juga berpikir secara Tritunggal, jika “kuasa ilahi” merujuk pada kuasa Roh Kudus. Allah adalah sumber, pengenalan akan Yesus adalah sarana, dan Roh yang bekerja di tengah usaha kita. Kita juga dapat melihat ketiga “kebajikan teologis” di sini, yakni, iman, kasih dan pengharapan. Di sini pengharapan (aa.3, 11) adalah kerangka yang di dalamnya iman (a.5) bekerja dalam kasih (a.7).

[1] Ingat bahwa hanya segelintir orang yang dapat membaca, sebagian besar jemaat akan mendengarkan surat ini dibacakan dalam perkumpulan.

[2] Kesalehan (eusebeia) pada dasarnya menggambarkan sikap religius seperti terdapat dalam agama Yunani tradisional, dan juga agama/adat tradisional orang Toraja, yaitu, ketaatan yang teliti terhadap ritus dan tabu karena menghargai kuasa ilahi. Kata itu jarang ditemukan dalam terjemahan Yunani dari PL, karena kepada Allah yang esa penyerahan seluruh diri dituntut, bukan sekadar ketaatan terhadap berbagai aturan. Namun, dalam surat-surat Penggembalaan (1 Timotius – Titus) dan surat 2 Petrus, kata itu dipakai untuk menegaskan bahwa iman yang sejati akan kelihatan dalam tingkah laku. Iman kepada Kristus semestinya lebih efektif daripada keyakinan yang lain.

[3] A.1 adalah salah satu dari hanya beberapa ayat yang langsung menggelari Yesus “Allah” (theos). A.2 memakai pola yang lebih biasa, yaitu membedakan oknum Allah (theos) dengan Yesus sebagai Tuhan (kurios). Jadi, rujukan “Nya” dan “Dia” dalam a.3 bisa Allah atau Yesus. Ingat bahwa kurios dan theos bukanlah sinonim seperti Allah dan Tuhan. Theos adalah jenis–oknum yang ilahi, sedangkan kurios adalah jabatan, tuan atau yang dipertuan. Bahwa a.1 langsung menggelari Yesus sebagai Allah diperdebatkan, tetapi penyusunan kalimat persis sama dengan a.11 yang jelas hanya merujuk pada satu oknum, Yesus Kristus.


Rom 5:1-5 Bermegah dalam Allah karena Kristus [25 Desember 2011] (Natal Malam)

Desember 22, 2011

Perikop ini bukan perikop biasa untuk Natal. Namun, pada Natal kita perlu tidak hanya terharu oleh kelahiran Kristus yang sederhana serta bermakna, tetapi juga dikuatkan dalam makna bahwa Dia mengambil bagian dalam dunia kita. Perikop ini berbicara tentang harapan dan penderitaan, pengalaman biasa manusia dalam dunia ini.

Penggalian Teks

Struktur perikop ini harus mencakup aa.1-11. Dalam aa.1-2 kita bermegah dalam pengharapan; aa.3-5 meringkas mengapa kita bermegah dalam kesengsaraan; aa.6-10 menjadi bukti dari aa.1-5 tadi berdasarkan kematian Kristus; dan a.11 memberi kesimpulan bahwa kita bermegah dalam Allah. Bermegah dalam konteks ini merujuk pada apa yang paling berarti dalam kehidupan orang. Orang Yahudi bermegah dalam Allah karena memiliki Hukum Taurat (2:17, 23). Orang Toraja bermegah dalam tongkonan karena ada upacara orang mati yang hebat. Paulus bermegah dalam Allah dalam Kristus karena melalui kesengsaraannya dia akan mencapai kemuliaan Allah. Untuk memahami perikop ini lebih dalam, kita perlu melihat perikop ini dalam konteks lebih luas.

Rom 1:18-3:20 telah mengangkat dosa sebagai masalah mendasar manusia. Masalah dosa bisa dilihat dari tiga aspek: karena dosa berarti membelakangi Allah, dosa menimbulkan murka-Nya (1:18); dosa merugikan sesama (mis., 3:10-18); dan dosa berarti merusak gambar Allah di dalam dirinya sendiri (3:23, “kehilangan kemuliaan Allah”). Cara hidup yang tidak merugikan sesama akan dibahas dalam pp.12-15; pembaruan diri menjadi tema pp.6-8 (mis., 8:29 “menjadi serupa dengan Kristus”). Tetapi, yang pertama dibahas Paulus adalah pembenaran dalam 3:21-4:25, yaitu, bagaimana manusia berdosa diterima Allah sebagai orang benar. Bahasa Paulus mengejutkan: Allah “membenarkan orang durhaka”, “orang yang tidak bekerja, namun percaya” (4:5). Itulah cara Paulus untuk menegaskan bahwa amal manusia tidak ada sangkut paut dengan pembenarannya—pembenaran oleh iman adalah anugerah kepada orang yang tidak layak berdasarkan kasih karunia, yaitu, perkenan atau sikap baik Allah. Pemberian itu diterima dengan dipercayai, bukan diraih melalui perbuatan-perbuatan baik.

Jadi, perikop ini berfungsi sebagai peralihan dari soal pembenaran oleh iman ke soal implikasinya, yaitu, pembaruan diri. Implikasi itu mencakup soal kasih karunia yang mengalahkan dosa (5:12-8:16) serta penderitaan yang ditanggung dalam pengharapan (8:17-39).

Aa.1-2 menyimpulkan hasil dari pembenaran tadi: sebagai ganti dimurkai Allah, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Hal itu terjadi oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus, yang juga memungkinkan kita masuk ke kasih karunia, dan tidak hanya masuk tetapi juga berdiri di dalamnya. Kasih karunia diibaratkan zona aman di mana kita telah berdamai dengan Allah. Lebih lagi, di zona aman kasih karunia itu, kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah (2b). Jika aa.1-2a meringkas bagian sebelumnya, gagasan baru itu mengantarkan tema pp.6-8. Kerusakan gambar Allah akan dipulihkan di dalam orang-orang yang berdiri di zona kasih karunia yang dibentuk oleh Kristus.

Ayat yang berikut (3) pada awalnya mengejutkan: kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita. Ternyata pengharapan itu terjangkau melalui rangkaian di dalam aa.3-4: kesengsaraan, ketekunan, dan tahan uji. Pengharapan dapat merujuk pada apa yang diharapkan (pengharapan objektif) atau sifat berharap (pengharapan subjektif), dua segi yang tentunya tak terpisahkan. Dalam a.2 segi objektif yang dimaksud: kita bermegah dalam pengharapan akan perubahan yang akan terjadi (objektif), bukan dalam kemampuan kita untuk berharap akan perubahan (subjektif). Tetapi aa.3-5 berbicara tentang pewujudan segi subjektif, bagaimana pengharapan menjadi daya gerak yang kuat dalam kehidupan orang percaya. Pada umumnya kesengsaraan membuat manusia merasa dikutuk oleh Allah, hancur dalam dirinya, dan dibenarkan melakukan berbagai dosa untuk luput daripada sengsara itu. Dengan kata lain, kesengsaraan meneguhkan manusia dalam masalah dosa tadi. Tetapi dalam Kristus, kesengsaraan menjadi kesempatan untuk bertekun dalam zona kasih karunia itu, dan bertekun demikian membentuk karakter, kata lain untuk tahan uji, yakni sifat-sifat yang kuat di dalam diri seseorang. Dengan karakter seperti itu, pengharapan subjektif menjadi suatu daya gerak yang efektif, karena orangnya akan bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan, yakni, menjadi serupa dengan Kristus, bukan sesuai dengan kesusahan yang dihadapi.

Namun, membentuk pengharapan subjektif hanya berguna jika segi objektifnya layak diharapkan. Paulus menjawab soal itu dengan pembuktian tentang kasih Allah, tema yang muncul dengan jelas untuk pertama kalinya dalam kitab Roma di sini. Kasih itu dikenal dalam hati kita (secara subjektif) karena Roh Kudus yang diberikan kepada kita (5). Tetapi bukti objektifnya ada dalam pengorbanan Kristus (6-10). Dalam ayat-ayat ini Paulus meringkas apa yang sudah disampaikan dalam pasal-pasal sebelumnya, tetapi dalam rangka membuktikan kasih Allah, bukan keadilan-Nya sebagai Hakim. Kristus mati bagi orang berdosa yang tidak berdaya (6). Dia mati bagi bagi orang yang tidak layak, berbeda dengan kasih manusia yang membalas budi (7-8). Itulah dasar pembenaran. Dan karena kita sudah dibenarkan sekarang oleh darah-Nya, kita dapat yakin bahwa kita akan diselamatkan dari murka Allah pada penghakiman terakhir (9). Dengan kata lain, jika musuh telah menjadi sahabat karena kematian Kristus, lebih lagi Dia yang hidup akan membawa kita sampai selamat (10). Kematian Kristus, yang menjadi sarana Allah yang adil untuk membenarkan orang durhaka dalam pp.3-4, di sini menjadi bukti kasih Allah yang akan membawa orang sampai keselamatan eskatologis. Jadi, ada dasar untuk pengharapan bahwa kita akan mencapai kemuliaan Allah, sehingga bermegah dalam kesengsaraan yang menguatkan pengharapan itu masuk akal, lebih lagi mengingat bahwa Kristus telah berbagi dalam penderitaan kita di sini (tema itu menjadi lebih jelas dalam 8:17-18).

Oleh karena itu, Paulus mengajukan alasan untuk orang percaya bermegah dalam Allah: bukan karena Hukum Taurat menjadi landasan hidupnya melainkan karena Kristus telah membuka jalan pendamaian dengan Allah (a.11). Pp.6-8 akan menguraikan hal itu lebih lanjut.

Maksud bagi Pembaca

Setelah meyakinkan para pendengar surat di Roma bahwa status benar diterima sebagai anugerah di dalam Kristus (3:21-4:25), dalam perikop kita Paulus mau supaya mereka bermegah dalam Allah sesuai dengan dasar anugerah itu, bukan atas dasar yang lain. Ada dua segi yang diangkat Paulus. Yang pertama, dia mengajukan harapan akan pemulihan kerusakan gambar Allah dalam diri kita. Kerinduan yang dimiliki baik oleh orang Yahudi maupun oleh sebagian orang non-Yahudi untuk menjadi manusia yang baik itu akan diwujudkan dalam ranah kasih karunia, bukan Hukum Taurat (ataupun berbagai cara yang diajukan para filsuf Yunani). Yang kedua, dia menempatkan kesengsaraan sebagai bagian dari proses pemulihan itu. Yang khas di sini bukan bahwa penderitaan membentuk karakter, melainkan bahwa kasih Allah yang dialami oleh Roh dan terbukti dalam kematian Kristus menjadi penjamin pengharapan yang dikuatkan oleh kesengsaraan itu. Dengan demikian, Paulus secara ringkas telah menunjukkan bagaimana Injil kasih karunia adalah dasar untuk menjadikan Allah sebagai hal paling penting dan menarik dalam kehidupan kita, sekalipun di tengah berbagai pergumulan.

Makna

Soal bermegah adalah hal yang kunci dalam psikologi manusia. Sesuatu yang dimegahkan akan mengendalikan kehidupan kita, sesuatu yang tidak dimegahkan akan diabaikan jika dianggap mengganggu kepentingan kita. Adalah berguna kita bertanya, sejauh mana jemaat bermegah dalam adat, atau materi, atau gengsi, atau sesuatu yang lain. Perikop ini menyampaikan alasan yang kuat untuk bermegah dalam Allah melalui Kristus. Namun, saya melihat beberapa masalah dalam menyampaikan penguraian Paulus.

Yang pertama, di dalam jemaat ada yang sepertinya tidak rindu untuk mengenal Allah, dan tidak peduli tentang jarak antara keadaannya sebagai orang berdosa dan kemuliaan Allah yang diharapkan dalam a.2. Jika sikap itu muncul dalam sikap atau tindakan yang tidak disukai, pengkhotbah bisa tergoda untuk mengecam jemaat ketimbang membawa mereka kepada Kristus. Misalnya, pengkhotbah mengangkat kekurangan jemaat dibandingkan dengan standar kemuliaan Allah, dan menegor jemaat karena kurang saling mengasihi, menyumbang, atau entah apa lagi yang sedang mengganggu pengkhotbah. Padahal, dasar Paulus adalah Injil, berita tentang Kristus, dengan fokus di sini pada kematian-Nya sebagai dasar pembenaran dan bukti kasih Allah. Dia percaya bahwa berita kasih karunia itu menawarkan pengharapan yang kokoh akan kemuliaan Allah, dan di dalam kesusahan dan oleh kuasa Roh Kudus pengharapan itu akan menjadi daya yang kuat untuk mengubah kehidupan manusia sekarang. Pada hemat saya, tugas utama kita adalah menguatkan jemaat yang rindu akan Allah dengan pengharapan berdasarkan pengorbanan Kristus. Biar dengan kasih Allah dalam Kristus dijunjung tinggi, jemaat yang belum rindu akan dijamah oleh kuasa Roh Kudus sehingga bermegah dalam Kristus, bukan gengsi dsb. Hal itu tentu lebih mudah jika penghkotbah sendiri bermegah dalam Allah.

Yang kedua, soal bermegah itu menyangkut kemampuan untuk berpikir jangka panjang. Dalam budaya tradisional, orang Toraja yang sudah dewasa juga sudah mulai memikirkan upacara kematian-Nya, walaupun sisa hidupnya kemungkinan masih berpuluh-puluh tahun. Generasi muda mungkin lebih sulit berpikir jauh, tetapi dalam budaya Toraja bukannya tidak mungkin untuk orang bertindak berdasarkan suatu harapan yang masih jauh-jauh hari ke depan. Jadi, masalah dalam bertekun dalam pengharapan lebih terletak pada apa yang dimegahkan. Jika kasih Allah belum dirindukan, tentu kita tidak akan bertekun dalam kesengsaraan jika ada jalan pintas keluar. A.5 penting dalam konteks ini. Jika dalam Roh Kudus kita mencicipi kasih Allah sekarang, kita akan mencari lebih, walaupun dalam kesusahan. Seperti dikatakan di atas, hal itu akan terjadi karena orang menangkap kasih Allah dalam kematian Kristus. Seperti biasa, ketika Paulus berbicara tentang kasih Allah, bukan pemeliharaan Allah yang dia tonjolkan. Bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita (yakni, menjadi serupa dengan Kristus dan dimuliakan, bdk. 8:28-30 dalam rangka 8:17-18) hanya layak dipercayai karena 5:6-10 ini, dan hanya akan diimani dalam kesengsaraan jika 5:5 telah dialami.

Semoga peringatan masa Natal bahwa Allah Anak menjadi manusia sejati bagi kita membangkitkan kerinduan kita untuk menerima kemuliaan Allah.


Yud 1:17-23 Tiga langkah dalam menghadapi kelompok yang sesat [9 Oktober 2011]

Oktober 8, 2011

Penggalian Teks

Para penerima surat ini menghadapi sekelompok orang yang membahayakan persekutuan mereka. Tidak jelas apakah kelompok ini memegang suatu ajaran yang sesat, tetapi yang jelas adalah gaya hidup mereka. Mereka percaya pada kasih karunia Allah, dan menerima Yesus sebagai Tuhan (kurios), tetapi menganggap kasih karunia sebagai izin untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan dengan demikian menyangkal dalam tindakan bahwa Yesus adalah Penguasa. (Penguasa = despotes, yang sama seperti kurios berarti “tuan”, tetapi menyoroti kuasa mutlak tuan ada budaknya, sedangkan kurios menyoroti wibawa seorang tuan. Sepertinya kelompok ini mengagumi Yesus, tetapi tidak menganggap penting menaati Yesus.) Tentang mereka Yudas menyampaikan serangkaian peringatan (yang isinya mirip dengan 2 Petrus 2) tentang hukuman yang akan menimpa mereka. Perikop kita adalah implikasinya bagi para penerima.

Ada tiga bagian yang cukup jelas di dalamnya. Aa.17-19 mengangkat peringatan rasul-rasul tentang para “pengejek”. Artinya bahwa yang terjadi bukan kejutan karena para rasul sudah memberitahu akan demikian (berdasarkan ajaran Yesus sendiri). Aa.20-21 menyuruh mereka untuk menjaga diri. Frase utama adalah “Peliharalah dirimu dalam kasih Allah” (a.21a), dengan a.20 sebagai dasar dan a.21b sebagai tujuan. Aa.22-23 menunjukkan tanggapan yang diperlukan kepada orang yang terlibat dalam masalah ini. Terjemahan LAI memberi kesan hanya dua kelompok, tetapi sebenarnya tiga kelompok yang berbeda dialamatkan di sini, di a.22, a.23a dan a.23b (dalam bahasa asli: hous men…hous de…hous de). Jadi, yang ragu-ragu bukannya sudah atau nyaris termasuk api, tetapi ada yang ragu-ragu (a.22), ada yang dalam keadaan sangat berbahaya (a.23a), dan ada yang sudah terpola dalam dosa, barangkali para nabi palsu sendiri (a.23b).

Ketiga bagian perikop kita saling berkaitan. Dalam a.19 kelompok itu menjadi pengacau karena keinginan yang berasal dari dunia, bukan dari Roh. Makanya, di atas dasar iman itu doa dalam Roh Kudus yang diperlukan untuk bertahan dalam kasih Allah (a.20). Roh Kudus yang dapat mengubah keinginan-keinganan duniawi. Kemudian, harapan yang menyertai pemeliharaan diri dalam kasih Allah terfokus pada rahmat Tuhan dalam memberi hidup yang kekal (a.22). Rahmat, yaitu belas kasihan (keduanya menerjemahkan kata eleos), yang harus menggerakkan penerima surat Yudas dalam relasi mereka dengan orang-orang yang bermasalah.

Maksud bagi Pembaca

Yudas mau menguatkan penerima suratnya untuk menghadapi ancaman kelompok yang sesat dengan tepat. Mereka perlu mengingat ancamannya, berjaga diri, serta menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang yang dalam bahaya sesuai dengan kondisi mereka.

Makna

Bahasa LAI “Menjelang akhir zaman” dapat memberi kesan bahwa keadaan akan memburuk pas sebelum Kristus datang. Tetapi kalau begitu, perkataan para rasul itu belum berlaku bagi zaman Yudas sendiri, karena belum menjelang apa-apa. Tetapi harfiahnya “pada waktu terakhir” lebih jelas. Zaman sejak pencurahan Roh Kudus adalah “waktu terakhir” (bdk. Kis 2:17). Bersamaan dengan Injil berkembang, kefasikan juga berkembang, dan / atau menjadi lebih kentara karena perbandingan dengan buah Roh dalam jemaat.

Kelompok macam apa yang harus diwaspadai sekarang? Di atas saya mengusulkan bahwa inti masalah adalah gaya hidup mereka. Mereka mungkin saja tampak sehat, tetapi hati mereka busuk. Di dunia Barat, gereja dihebohkan oleh pelayan (pastor, pendeta, gembala) yang menggunakan kepercayaan jemaat sebagai kedok untuk melecehkan anak. Di mana saja, ada pendeta dan majelis yang dikuasai oleh keinginan akan kuasa; biasanya pemecah-belah demikian. Juga terlalu banyak cerita tentang majelis atau pendeta yang memakai uang jemaat (saldo jemaat akhir tahun; proyek) sebagai tempat pencarian. Tetapi intinya bukan pada dosa-dosa tertentu melainkan pada apa yang sebenarnya menjadi kendali kehidupan orang. Jatuh ke dalam dosa tertentu tidak sama dengan hidup dalam dosa itu.

Peringatan Yudas ialah bahwa kalau seseorang dikuasai oleh keinginan dosa, hidup dalam dosa itu, dia tidak memiliki Roh Kudus. Tetapi, dalam a.22 ada beberapa tahap. Yang ragu-ragu itu saya artikan sebagai orang yang tertarik dengan kelompok sesat tetapi belum diyakinkan. Misalnya, majelis melihat pendeta beruntung dari proyek, sehingga mulai menganggap bahwa itu cara yang mungkin baik-baik saja. Yang perlu dirampas dari api adalah yang sudah mau mengikuti kelompok sesat itu. Kedua kelompok ini belum tentu kehilangan Roh Kudus, sehingga ada usaha untuk menyelamatkan mereka. Kelompok tiga adalah yang tidak memiliki Roh Kudus.

Belas kasihan (eleos) perlu diartikan dari rahmat (eleos) Tuhan, yaitu, bertujuan keselamatan (a.21). Kelompok ragu-ragu dirangkum supaya kembali yakin akan jalan yang benar. Kelompok yang sudah jatuh hampir sampai kehancuran perlu “dirampas”. Merampas sepertinya bertolakbelakang dengan belas kasihan, tetapi, misalnya, kita melihat anak menuju api, pasti kita sampai memakai kekerasan untuk menyelamatkan anak itu dari bahaya. Jadi, belas kasihan kepada orang yang mau tersesat bisa saja menuntut cara yang akan dianggap tidak sopan, tegoran yang keras, bahkan mengucilkan, supaya orangnya menjadi sadar, bertobat, dan dengan demikian diselamatkan. Untuk kelompok tiga, relasi tetap dibuka, tetapi kita harus menjaga diri supaya kita jangan terbawa oleh pendirian mereka yang sudah bulat berkanjang dalam dosa.

Tentu belas kasihan yang demikian tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang yang sudah menerapkan aa.20-21. Iman yang paling suci tidak merujuk pertama-tama pada kualitas iman sendiri, karena yang paling suci adalah Dia yang kita imani, yakni Kristus. Tetapi jika atas dasar iman kepada yang Mahasuci itu kita berdoa dalam Roh Kristus yang Kudus (Suci), maka hidup kita akan makin suci. Kasih Allah akan memulihkan berbagai keinginan kita, dan harapan rahmat Kristus akan memperbaiki tujuan-tujuan hidup kita. Dengan demikian kita akan terjaga dari kesesatan, dan disanggupkan untuk membantu orang yang terancam sesat. Sumbernya menjadi jelas dalam aa.24-25, Allah, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus.


2 Kor 5:11-21 Menghayati dan melayankan pendamaian dalam Kristus [2 Oktober 2011]

September 28, 2011

Perikop ini adalah perikop yang kaya dengan makna bagi para pelayan, seperti sebagian besar pembaca blog saya. Isinya jauh melebihi apa yang dapat disampaikan dalam satu kali khotbah. Jadi, saya menghimbau pembaca untuk mengambil kesempatan ini untuk merenungkan pelayananya sendiri bersama dengan Rasul Paulus. Allah mau berfirman terlebih dulu kepada saudara. Kemudian, di bagian makna ada usaha sederhana untuk mengkontekskan teologi Paulus bagi budaya Toraja.

Penggalian Teks

Hubungan Paulus dengan jemaat di Korintus penuh ketegangan, sebagaimana dilihat dalam kedua surat yang kita miliki yang dia tulis kepada mereka. Dalam bagian pertama surat kedua ini (sampai p.7) Paulus menjelaskan pelayanannya, supaya jemaat di Korintus dapat lebih mengerti mengapa dia tidak menepati suatu janji untuk mengunjungi mereka (1:17). Masalah itu menjadi bahan untuk satu kelompok di jemaat yang menganggap Paulus tidak layak sebagai rasul. Yang ditegaskan Paulus bukan kelayakannya melainkan kemuliaan pelayanannya, yaitu pelayanan perjanjian baru dalam Roh (p.3), yang di dalamnya kemuliaan Allah dinampakkan dalam kelemahan para pelayan-Nya (p.4, bdk. 4:7 yang terkenal itu tentang bejana liat). Kemudian, Paulus membahas ujung atau cakrawala dari pelayanannya, yaitu harapan untuk berada bersama dengan Kristus dan pengadilan terakhir (5:7-10). Perikop kita merupakan inti dari apa yang dilakukan Paulus, diikuti oleh seruan kepada mereka untuk menerimanya (6:11; 7:2).

Alur penguraian Paulus dalam perikop kita diberi topik, “kami…meyakinkan orang”, dan mulai dengan komentar tentang relasi Paulus dengan mereka (11-13), yang dijelaskan (“sebab”) sebagai akibat dari kasih Kristus (14-15). Dua implikasi disampaikan, yang pertama tentang manusia baru (16-17), kemudian tentang pelayanan yang meyakinkan untuk membawa kepada pembaruan itu (18-21).

A.11 mulai dengan satu motivasi mendasar Paulus, yaitu takut akan Allah. Aa.11-13 membandingkan penilaian Allah dengan penilaian manusia. Bagi Paulus yang pokok ialah penilaian Allah. Di depan takhta pengadilan Kristus itu hati kita semua akan dinyatakan [fanerothenai, LAI “menghadap”] (10). Dia berharap bahwa jemaat sepaham dengan penilaian Allah [pefanerosthai, LAI “hati kami nyata dengan terang”] (11b), dan dia menjelaskan bagian surat ini sebagai usaha supaya mereka bisa kuat di hadapan kelompok penentang itu (12), suatu kelompok yang melihat lahir (harfiahnya, “muka”), bukan batin (“hati”). Kegiatan pokok Paulus adalah meyakinkan orang (11); jika dalam melakukan pelayanan itu ada yang sepertinya kurang waras, hal itu karena Paulus melayani Allah, jika Paulus menyesuaikan diri dengan harapan mereka, hal itu demi melayani mereka (13). Paulus diarahkan oleh penilaian Allah sekarang yang akan dinyatakan pada akhir zaman, bukan oleh pendapat orang.

Bagaimana bisa ada orang yang begitu bebas (13a) sekaligus terikat (13b)? Kasih Kristus sudah memegang Paulus dengan erat (14). Kasih Kristus berarti bahwa Kristus telah mati bagi semua orang, sehingga mereka telah mati bagi dosa untuk hidup bagi Kristus yang mati dan bangkit itu (menafsir aa.14-15 dalam terang Rom 6:3-4). Paulus tidak hanya menangkap kebenaran itu, ia ditangkap olehnya, karena di dalamnya ada implikasi penting bagi semua orang.

Implikasi pertama ialah Paulus sudah melihat manusia dengan mata baru. Jika dia pernah melihat Kristus sebagai penyesat, dan manusia berdosa sebagai sampah (16), sekarang dia melihat Kristus sebagai perintis ciptaan baru, dan semua orang di dalam-Nya sebagai bagian dari ciptaan itu (17).

Implikasi kedua menyangkut pelayanan Paulus. Paulus berubah karena dia sendiri telah didamaikan dengan Allah yang sekaligus mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepadanya (18; bdk. Kisah Para Rasul p.9). A.19 memperluas a.18: Allah mendamaikan bukan hanya Paulus atau “kita”, tetapi dunia. Yesus bukan hanya sarana [dia + genitif, LAI “dengan perantaraan”] tetapi wadah atau tempat [en, LAI “oleh” tetapi dalam banyak versi bahasa Inggris “di dalam”]. Caranya dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Jika dikaitkan dengan a.14 (“semua” = “dunia”), maksudnya sepertinya bahwa di dalam Kristus dunia telah mati sehingga pelanggaran mereka tidak berlaku lagi. Dengan demikian ada damai: pelanggaran kita bukan lagi penghalang dalam relasi dengan Allah, baik bagi Allah maupun bagi kita yang sadar akan keberdosaan kita. Itulah berita pendamaian yang dipercayakan kepada Paulus.

Kesimpulannya [oun, LAI “jadi”) bahwa Paulus (bersama dengan rekan-rekannya, paling sedikit Timotius, bdk. 1:1) adalah utusan Kristus (20). Seperti digambarkan Paulus di sini, seorang utusan menjadi penyambung lidah dari pengutusnya. Pesannya supaya jemaat di Korintus menerima pendamaian itu. Dua kali Paulus mengatakan “demi Kristus” [pertama kali tersirat dalam “utusan Kristus”, kedua kalinya “dalam nama Kristus”], dan a.21 memperjelas hal itu. Kristus tidak mengenal dosa, tetapi Allah memperhitungkan-Nya sebagai orang berdosa demi kita, supaya kita dapat diperhitungkan sebagai orang benar. Demikian kasih Kristus yang mendorong Paulus untuk meyakinkan bahkan jemaat di Korintus untuk didamaikan dengan Allah.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Korintus tetap menerima wibawa kerasulannya, dan demi tujuan itu dia menjelaskan bagaimana kematian dan kebangkitan Kristus mendorong dia untuk memandang manusia sebagai orang yang dipanggil untuk didamaikan dengan Allah.

Allah juga mau supaya kita menerima wibawa rasul Paulus, dalam bentuk surat-suratnya. Jika kita sudah ditangkap oleh kasih Kristus itu, kita juga akan memandang manusia sama seperti Paulus, walaupun peran kita tidak persis sebagai rasul. Bagi para pelayan, intinya mungkin bisa disampaikan begini: apakah saudara mencari damai dengan jemaat (tidak ada keluhan, ribut-ribut dsb, tafsiran utama “damai sejahtera bagi semua”, kadangkala), atau mencari jemaat didamaikan dengan Allah (intisari dari damai sejahtera yang sesungguhnya)? Apakah saudara mencari muka di hadapan manusia atau di hadapan Allah yang melihat ke dalam hati? Paulus mau memberi jemaat di Korintus alasan untuk memegahkannya, yaitu alasan bahwa dia semata-mata digerakkan oleh takut akan Tuhan dan kasih Kristus. Bukan alasan S.2nya, bukan dekatnya dengan pimpinan gereja.

Makna

Apa yang menjadi dasar hidup yang setia kepada Kristus? Kata Paulus, kasih Kristus. Kasih Kristus itu bagaimana? Jawab banyak pelayan dan anggota jemaat yang saya dengar, kasih Kristus dikenal dalam keseharian hidup, bahwa saya telah bangun, bahwa saya dapat makan, menikmati keluarga dsb. Apa jawab Paulus? Kasih Kristus dikenal karena Kristus telah mati dan bangkit. Mengapa saya menganggap jawaban Paulus jauh lebih unggul? Karena pemeliharaan Allah tidak menentu. Hari ini semuanya baik-baik saja, besok musibah melanda. Kalau begitu, kasih Kristus itu ke mana? Paulus tidak meragukan kasih Allah dalam keseharian hidupnya, tetapi selalu dalam surat-suratnya landasan harapannya ialah Kristus yang telah mati dan/atau bangkit. Hanya dengan landasan itulah kita boleh dengan mata terbuka dan tidak berpura-pura mengimani kebaikan Allah dalam duka sama seperti dalam suka. Landasan yang lain hanya merupakan basa-basi saja. Makanya, banyak jemaat yang lekas tergoyang oleh masalah.

Lalu, mengapa kematian dan kebangkitan Kristus dilihat sebagai tindakan kasih? Satu aspek adalah pengorbanan Yesus. Biasanya hal itu dilihat dari perspektif penderitaan Kristus, dan perspektif itu memang betul (misalnya, Rom 8:17). Tetapi dalam a.21 kita melihat Yesus masuk dalam keadaan yang pasti sangat menjijikkan, yaitu dibuat menjadi dosa. Yesus ditempatkan dengan, dan diperlakukan oleh Allah sebagai, orang berdosa, orang najis, orang yang layak disingkirkan dengan mati.

Aspek yang lain ialah bahwa ada hasil dari pengorbanan itu, yaitu pendamaian dengan Allah dan status sebagai ciptaan baru. Saya coba memikirkan hal it dari konteks adat lama Toraja, dan mohon perbaikan atau tambahan usul dari yang lebih tahu. Di berbagai tempat di Toraja, ada proses pendamaian yang disebut massuru’ (menyisir). Unsur pertama di dalamnya adalah pengakuan yang disebut dipassaluan (dalam Kamus Toraja-Indonesia), menyebut satu per satu pelanggaran. Setelah semua yang terkait sudah mengaku pelanggarannya dan semuanya sudah terungkap (paling sedikit menurut imamnya, to minaa) maka bisa juga ada kurban ditentukan. Dengan demikian kekacauan dipulihkan (seperti kutu disisir dari rambut). Tetapi, bagaimana jika pelanggaran terungkap oleh penelaahan to minaa, tetapi dibantah oleh yang bersangkutan? Apakah pembangkang itu harus dikeluarkan untuk memulihkan kekacauan?

Pola seperti itu tidak asing dalam banyak budaya, termasuk PL. Im 4:27-28 membayangkan dosa yang tidak disengajakan tetapi kemudian diberitahukan (terungkap lewat undi imam?) kemudian ada kurban. Dalam Yosua p.7 ada dosa yang sengaja yang diungkapkan melalui serangkaian petunjuk dari Tuhan (mungkin undi Urim dan Tumim itu), kemudian ada pengakuan dan kurban, dalam kasus ini pelanggar sendiri (Akhan). Bahkan pembuangan Israel dapat dilihat dalam perspektif pola itu. Tuhan mengungkapkan pelanggaran-pelanggaran Israel melalui nabi-nabi, tetapi hal itu ternyata tidak berhasil memulihkan kekacauan Israel. Dengan demikian Israel sendiri harus dibuang. Dalam Daniel p.9 pemulihan (pengembalian ke tanah Israel) bisa terjadi setelah ada pengakuan dosa dengan penghapusan kesalahan (Dan 9:24). Pola yang saya lihat di dalamnya, yang ada di dalam massuru’ juga, ialah perlunya dosa (kekacauan) diperjelas, dengan kurban sebagai penghapus dosa atau pelurus kekacauan itu.

Jelas dalam perikop kita bahwa kurban itu kematian Kristus. Malah, fungsi kurban itu diperjelas dalam perikop ini. Dalam pola yang satu tadi, kekacauan ditangani dengan disingkirkan—manusia diusir dari taman Eden, Israel dibuang dari tanah perjanjian, lebih umum lagi manusia mati. Kurban itu berfungsi sebagai wakil yang menggantikan. Jika Akhan harus dimatikan, orang Israel pada umumnya dapat menawarkan kurban penebus salah. Jadi, Yesus mati bagi semua orang—dosa dihapus di dalam dirinya. Kalau begitu, di mana dosa diperjelas, dipassaluan? Tuntasnya pada takhta pengadilan Kristus (a.10, ingat tadi usul artian “hati dinyatakan”). Pada saat itu akan ada dipassaluan yang lengkap, menyeluruh, dan serba betul dan adil. Setelah itu, kekacauan menjadi masa lampau dalam dunia baru, dengan semua di dalam Kristus dibenarkan (a.21), dan semua di luar Kristus dihancurkan (bdk. 1 Kor 15:20-24). Tetapi dengan bergabung dengan Kristus (“siapa yang ada di dalam Kristus”), kita bisa masuk dunia baru itu sekarang juga (“ia adalah ciptaan baru”, a.17). Melihat a.15 dan a.20, berada di dalam Kristus mengandaikan bahwa kita sudah mulai sadar tentang kekacauan dalam diri dan berubah haluan. Bertobat mengandaikan dipassaluan secara pribadi, paling sedikit di hadapan Allah, tetapi saya duga juga di depan sesama, seperti pengakuan dosa dalam baptisan (Yak 5:16 sepertinya juga mendukung intisari dari dipassaluan itu, tetapi itu cerita lain). Kita menjadi bagian dari penyisiran kekacauan dunia, hidup bagi Allah, bukan lagi pengacau yang hidup untuk dirinya sendiri.


1 Yoh 3:11-18 (& 19-24) Gambaran kasih yang sejati [3 Jul 2011]

Juni 28, 2011

Jemaat atau kelompok yang kepadanya Yohanes menulis pernah mengalami perpecahan yang mengguncang (2:19). Dengan berbagai perbandingan penulis mau menguatkan mereka supaya jangan mereka disesatkan oleh keguncangan itu. Dalam ayat-ayat sebelum perikop kita (3:9-10) dia membandingkan anak-anak Allah karena lahir dari Allah dengan anak-anak Iblis. Perikop setelah perikop kita membandingkan Roh dari Allah (3:24) dan roh-roh yang lain (4:1-6). Dalam seluruh surat salah satu ukuran utama adalah kasih. Dalam perikop kita aa.11-18 memberi gambaran negatif dan positif tentang kasih itu, dan aa.19-24 membahas bagaimana kita bisa tahu kita hidup dalam kasih itu.

Penggalian Teks

A.11 mengulang apa yang sudah dibahas pada 2:7 dst, yaitu bahwa saling mengasihi adalah perintah Allah. Aa.12-15 membahas lawan dari kasih, yaitu kebencian. Kain membunuh adiknya karena adiknya mengungkapkan kejahatan hati Kain (a.12). Orang-orang yang berbuat benar bisa saja mengundang reaksi yang sama dari dunia, misalnya, orang yang tidak mau ikut main judi / curang / mabok-mabokan dsb (a.13). Tentu, penulis tidak membayangkan bahwa dunia akan selalu membunuh orang benar, tetapi, sesuai dengan ajaran Yesus dalam Mt 5:21-22, tindakan membunuh dilihat sebagai ujung dari sikap marah atau benci yang sudah merupakan dosa. Namun, jemaat semestinya tidak mengikuti pola dunia itu, karena jemaat sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup (a.14). Ranah maut dicirikan oleh tidak mengasihi, sedangkan ranah hidup dicirikan oleh mengasihi saudara-saudara. A.15 mempertegas bahwa kebencian adalah satu bentuk pembunuhan, sehingga jelas bertentangan dengan hidup kekal, yaitu hidup yang cocok dengan zaman mendatang, hidup yang mengenal Allah.

Bentuk positif dari kasih dinyatakan dalam a.16a: Kristus telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Sikap itu harus langsung diteladani (a.16b). Tetapi, sama seperti kebencian belum tentu berarti ada yang meninggal, penyerahan diri juga belum tentu berarti ada yang meninggal. Membagikan harta duniawi kepada saudara yang membutuhkannya adalah juga bentuk penyerahan diri (a.17), sama seperti membenci adalah bentuk pembunuhan. Dan mungkin saja penulis secara tersirat mengatakan bahwa “menutup pintu hati” adalah bentuk kebencian. “Pintu hati” menerjemahkan kata untuk perut yang menjadi kiasan untuk perasaan kasihan yang kuat. Yohanes mempertanyakan apakah orang yang tidak tahu kasihan masih hidup dalam terang pengorbanan Kristus.

Kesimpulannya dalam a.18 memperlawankan perkataan dan lidah dengan tindakan dan kebenaran. Perkataan dan lidah merujuk pada konsep dan wacana. Banyak orang suka berbicara tentang kasih. Dan hal itu tidak salah; surat 1 Yohanes ini adalah wacana tentang kasih! Tetapi wacana kasih belum “kasih dalam kebenaran”, artinya, kasih yang sebenarnya. Kata aletheia (“kebenaran”) berarti apa yang sesuai dengan kenyataan, dan dalam konteks ini merujuk pada kesesuaian antara perkataan dengan tindakan. Kasih yang sekadar wacana belum menjadi kasih yang sebenarnya. Tetapi aletheia itu merujuk lebih luas pada kenyataan di dalam Allah. A.18 ini tetap kesimpulan dari a.16. Kristus tidak mengasihi dengan wacana saja, melainkan berkorban secara sangat konkret untuk melayani kebutuhan paling mendasar kita, yakni akan hidup yang kekal.

Jadi, hidup dalam kasih membuktikan bahwa kita berasal dari kebenaran (a.19a). Jika kita sadar akan kegagalan kita, kita mesti mengingat bahwa perspektif Allah lebih luas dari perspektif kita, seperti sudah disampaikan dalam 1:9 dan 2:1-2 tentang penebusan yang ada di dalam Kristus (aa.19b-20). Namun, ada keuntungan jika kita jelas hidup dalam kasih, yaitu kita memiliki keberanian dalam doa (aa.21-22). Jadi, dalam a.23 dia meringkas perintah Allah, yaitu percaya akan Kristus dan saling mengasihi. Dengan demikian ada persekutuan dengan Allah yang dibawa oleh Roh Kudus (a.24).

Maksud bagi pembaca

Tujuan utama di sini adalah mendorong pembaca untuk saling mengasihi. Dari contoh Kain kebencian dikaitkan dengan ranah maut. Membenci sama buruknya dengan membunuh, sama-sama bertentangan dengan tujuan Allah dalam menyelamatkan manusia (a.15). Dari teladan Kristus hakikat kasih diperlihatkan, yaitu menyerahkan nyawa bagi sesama, yang diartikan sebagai memberi bantuan konkret, bukan wacana saja.

Namun, di balik tujuan itu tujuan utama surat ini masih tampak, lebih lagi dalam aa.19-24, yaitu supaya kita mengenal Allah dalam Kristus dan menikmati hidup di dalam-Nya. Tidak ada keberanian di hadapan Allah jika kita hidup dengan hati tertutup terhadap saudara.

Makna

Yohanes memperlawankan wacana tentang kasih dengan tindakan konkret. (Perhatikan bahwa ada banyak perkataan yang merupakan tindakan kasih yang konkret, misalnya menjawab pertanyaan, memberi tanggapan yang berguna, mengajarkan firman Allah. Perkataan dalam a.18 merujuk pada pernyataan kasih.) Tetapi apa kaitan aletheia (“kebenaran”) dengan tindakan konkret? Ternyata maksud Yohanes bukan pragmatis saja. Bukannya yang penting ada tindakannya saja. Kasih harus muncul dari kebenaran, dari kenyataan. Yang pertama, tindakan kasih harus muncul dari kenyataan dalam hati, dari hati yang terbuka. Yang kedua, tindakan kasih harus sesuai dengan kenyataan sumber kasih, yaitu Allah. Banyak yang disebut kasih tidak lulus kriteria ini. Ada kasih karena pemberi berharap beruntung. Ada kasih hanya karena rasa kasihan (misalnya, membantu orang mencontek). Kasih yang sejati muncul dari pengenalan akan Allah yang adalah terang, dan Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya.

Kemudian, seluruh perikop ini berbicara tentang saudara, entah saudara-saudara seiman atau Kain dan Habel yang bersaudara. Maksudnya jemaat yang saling mengenal, suatu komunitas iman. Apakah dengan demikian kasih hanya terbatas pada kelompok sendiri?

Kasih dalam surat-surat Yohanes berakar dalam Allah. Allah telah memperlihatkan kasih yang sejati dalam Kristus, dan lebih lagi, pertunjukan itu menyatakan hakikat Allah sendiri, Allah adalah kasih (4:16). Jika fokus Yohanes ada pada kasih Allah kepada jemaat, namun dalam satu ayat kita melihat bahwa kasih Allah lebih luas, yaitu 2:2 di mana dikatakan bahwa Kristus mati bagi seluruh dunia, bukan hanya jemaat. Di situ kita melihat Allah mengasihi semua orang, termasuk musuh (orang berdosa), sesuai dengan ajaran Yesus. Yohanes tidak mau menyangkal ajaran itu. Jadi, mengapa fokusnya pada saling mengasihi?

Hal itu sejalan dengan tekanan seluruh surat, yaitu persekutuan. Persekutuan antara orang percaya adalah juga persekutuan dengan Allah Bapa dan Anak-Nya, Yesus Kristus (1:3). Persekutuan berarti hubungan yang erat, sehingga memiliki kepentingan atau perhatian yang sama. Orang-orang yang bersekutu dengan Allah mau hidup dalam terang seperti Dia adalah terang (1:7), mau hidup sama seperti Kristus (2:6), dan mau hidup dalam kasih karena Allah adalah kasih (4:16). Dalam jemaat keakraban yang memungkinkan persekutuan seperti itu dapat dialami. Namun, keakraban itu yang juga paling memungkinkan kebencian, dan membuat paling kentara sikap acuh tak acuh terhadap orang yang berkebutuhan. Wacana tentang kasih sering mencakup seluruh dunia, tetapi kasih hanya dapat dipraktekkan kepada orang yang dengannya saya berhadapan. Tidak salah berbicara tentang suku-suku yang belum terjangkau dengan Injil Kristus, tetapi apakah saya bersaksi tentang Kristus kepada orang di hadapan saya? Tidak salah mengingat orang yang berkekurangan dalam doa makan, tetapi apakah saya terbuka pada kebutuhan orang-orang di sekitar saya?

Ada kesimpulan yang luar biasa dari istilah “dengan perbuatan dan dalam kebenaran” itu. Jika saya membantu sesama karena mencontoh Kristus, tindakan sederhana itu berbagi dalam kenyataan paling mendalam, yaitu hakikat Allah sebagai kasih.


2 Yoh 7-11 Menolak penyesat demi kasih

Mei 5, 2011

Ketegasan merupakan hal yang bisa sulit dalam budaya Indonesia. Makanya, nasihat dalam a.10 kedengaran keras: “janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya.” Tidak memberi salam adalah tindakan penolakan, padahal gereja akhir-akhir ini justru berupaya keras untuk membangun penerimaan. Apa maksudnya?

Bertolak dari informasi dalam beberapa tulisan bapa-bapa gereja pada abad kedua dst, Yohanes kemungkinan besar tinggal di Efesus di Asia Kecil, dan menjadi pemimpin rohani dari sekelompok jemaat di kawasan itu. Namun, sudah ada perpecahan dalam mazhab itu, sampai ada yang keluar. 1 Yoh 2:18-25 menggambarkan hal itu: ada kelompok yang keluar, yang tidak mengaku bahwa Yesus adalah Kristus. Dari beberapa tulisan yang lain dari zaman itu, hal itu bukan penyangkalan akan adanya Kristus, tetapi ajaran yang membedakan Yesus sebagai manusia biasa dari Kristus sebagai oknum ilahi yang turun ke atas-Nya, kemudian meninggalkan-Nya sebelum Dia disalibkan dan dibangkitkan, karena yang ilahi itu tidak bisa menderita. Jika demikian, mungkin maksud 2 Yoh 7 ialah bahwa pengajar sesat tidak mengaku bahwa Yesus adalah Kristus yang datang dalam tubuh yang riil (kata “manusia” menerjemahkan kata “sarks” yang berarti “daging”). Mungkin juga pengajar sesat yang keluar dari komunitas Yohanes itu yang datang ke komunitas “Ibu yang terpilih” (barangkali kiasan untuk sebuah jemaat). Bagaimanapun juga, yang dibayangkan dalam a.10 adalah orang yang datang mengaku sebagai pengajar yang membawa kebenaran Injil.

Salam dalam aa.1-3 menekankan kasih dan kebenaran (aletheia, “truth”, yaitu, merujuk pada ajaran yang benar, bukan tingkah laku yang baik). Kebenaran adalah kebenaran yang tinggal dalam kita dan menyertai kita (a.2). Jika dikaitkan dengan Yoh 14-16, kita melihat bahwa kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran di dalam Kristus. Kebenaran ini tidak hanya diketahui melainkan dikenal, dikenal dalam Kristus. Adanya pengenalan itu dilihat dalam kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Anak. Kasih karunia adalah sikap Allah yang berkenan kepada kita—bukan karena kelayakan kita tetapi karena Kristus. Rahmat Allah adalah pertolongan Allah kepada orang yang tidak berdaya. Oleh karena kasih karunia dan rahmat Allah maka kita mengenal damai sejahtera. Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera itu muncul dari pengenalan akan kebenaran, dan memungkinkan kasih yang sejati. Walaupun pokok surat ini adalah kebenaran yang terancam, dalam a.1 Yohanes menyebut kasih sebelum kebenaran, dan dalam a.3 dia menutup dengan kasih. Ancaman terhadap kebenaran adalah ancaman terhadap kasih yang sejati.

Dalam aa.4-6 penghubung antara kebenaran dan kasih adalah perintah Allah. Perintah itu bagian dari kebenaran, dan isinya adalah untuk saling mengasihi. Perintah itu baru ketika disampaikan Yesus tetapi tidak lagi baru. Yohanes bersukacita oleh karena bagian jemaat yang tetap berpegang pada kebenaran ini, walaupun ada yang juga sudah jatuh.

Dalam a.7 kita sampai pada pokok, yaitu ajaran yang mengancam kebenaran. Kelompok yang menyangkal kemanusiaan Yesus yang sejati dicap penyesat dan antikristus. Apa kaitan ajaran ini dengan kasih?

Yang pertama, jika orang percaya pada ajaran yang menyesatkan itu, mereka akan kehilangan upah mereka (a.8), atau dalam kata lain, mereka tidak lagi memiliki Allah (a.9). Jadi, kasih untuk jemaat menuntut bahwa ajaran itu ditentang.

Yang kedua, jika Kristus tidak datang sebagai manusia sejati, kasih Allah yang Dia nyatakan menjadi kasih yang terbatas, bukan kasih yang sampai pada menyerahkan nyawa-Nya bagi kita (bnd. 1 Yoh 4:10). Ajaran itu tidak lagi menjadi kebenaran yang akan memotivasi kasih yang tak terbatas kepada sesama (bnd. 1 Yoh 3:16).

Yang ketiga, ajaran itu mengandaikan bahwa tubuh itu kurang penting, atau malah jahat. Allah hanya mencari jiwa, bukan manusia yang seutuhnya. Wujud kasih berdasarkan kebenaran ini juga akan terbatas, bukan seperti yang diharapkan dalam 1 Yoh 3:17-18.

Oleh karena itu, Yohanes tidak mau supaya pengajar yang demikian diterima dalam konteks yang akan merestui kehadiran mereka sebagai pengajar (a.10). Yang ditolak bukan orangnya, melainkan ajarannya. Penolakan itu demi kasih, bukan langsung kepada orangnya sendiri, melainkan kepada jemaat yang terancam.

Dua hal perlu ditegaskan di sini. Yang pertama, ada yang terlalu cepat menolak siapa saja yang tidak setuju dengannya. Hal itu bukan maksudnya di sini. Ajaran sesat di sini menyangkut sesuatu yang mendasar, yakni siapa Kristus, bukan soal seperti baptisan anak atau gaya lagu yang dipakai. Yang ditolak adalah pembawa ajaran itu, bukan orang biasa dan bukan orang luar. Orang biasa yang pemikirannya kacau, dan perlu dibimbing, bukan ditolak. Orang luar juga perlu dikabari Kristus, bukan ditolak. Kedua kelompok ini tidak memiliki kedudukan sebagai pengajar resmi untuk mengacaukan jemaat.

Yang kedua, ada waktunya kita harus menolak penyesat demi kasih kepada jemaat. Masih ada beberapa aliran yang jelas melangkah keluar dari ajaran Kristus, seperti Saksi Jehovah. Jika ada tetangga atau rekan kerja yang demikian, maksud a.10 bukan untuk tidak pernah memberi salam atau menerimanya di dalam rumah selaku pribadi. Tetapi jika mereka diterima dalam acara KPI bersama, misalnya, hal itu bisa saja memberi legitimasi bahwa mereka hanya sebuah denominasi seperti yang lain. Bahkan di dalam gereja arus utama, sewaktu-waktu ada pengajar yang mau menyangkal hal-hal mendasar tentang siapakah Kristus. Di dunia Barat ada denominasi yang ajarannya sudah begitu melenceng sehingga agak sulit dikenali sebagai lembaga Kristen.

Namun, pada umumnya di Indonesia masalah utama bukan orang melangkah keluar dari ajaran Kristus, melainkan Kristen KTP yang belum melangkah dengan jelas ke dalam ajaran Kristus. Kebenaran belum sungguh tinggal di dalamnya. Jika penyesat perlu diperlakukan seperti dalam a.10, hal itu menunjukkan betapa penting dan berharga ajaran yang benar itu.


Yoh 13:31-35 Kemuliaan dan kasih yang sejati

Maret 21, 2011

Ketika Yudas keluar dari perkumpulan Yesus dengan murid-murid-Nya (a.31a), penderitaan dan kematian Yesus sudah terjamin. Dalam Injil Yohanes waktu itu adalah waktu kemuliaan Yesus. Karena Yesus adalah utusan Allah, melaksanakan rencana keselamatan Allah dengan ditinggikan pada salib, maka kemuliaan Yesus juga adalah kemuliaan bagi Allah (a.31b). Makanya, Yesus yakin bahwa rencana itu akan segera terwujud (a.32). Dia akan mati, bangkit, dan kembali kepada Bapa-Nya di sorga.

Tetapi, ketika Yesus pergi, murid-murid-Nya akan tinggal di sini. Bagaimana keadaan mereka? Hal itu melatarbelakangi percakapan Yesus mulai dengan perikop ini sampai doa Yesus di p.17. Dalam a.34 Yesus memberi mereka perintah baru, yaitu untuk saling mengasihi. Perintah unuk mengasihi tidak baru, tetapi caranya baru. Mereka harus saling mengasihi sama seperti Yesus mengasihi mereka, yaitu, dengan pelayanan, pengorbanan dan kesabaran. Peristiwa membasuh kaki yang paling menonjol dalam teladan Yesus, karena sangat cocok dengan bagaimana caranya Yesus dimuliakan. Baik kemuliaan maupun kasih bukan dipraktekkan dalam rangka mencari status melainkan dengan mengutamakan kepentingan sesama.

Dalam a.35 ternyata perintah baru itu menjawab soal identitas mereka sebagai pengikut Yesus, yang terancam hilang ketika Dia tidak ada lagi untuk diikuti. Cara saling mengasihi yang baru itu begitu khas sehingga dapat menandai mereka sebagai pengikut Yesus, walaupun Dia tidak ada lagi.

Walaupun banyak hal dalam budaya Barat berasal dari budaya Yunani, semangat demokrasi yang mengesampingkan status dan keprihatinan untuk kaum lemah dan rendah berasal dari dampak Injil dalam budaya Eropa. Satu petunjuk sejauh mana kekristenan sungguh-sungguh masuk ke dalam budaya Toraja, atau budaya apapun, adalah sejauh mana status tidak lagi pokok dalam pikiran dan tindakan orang, sejauh mana orang mencari kemuliaan dalam pengabdian, sejauh mana orang prihatin dengan masyarakat yang tidak memliki status. Hal itu menunjukkan sejauh mana kisah Yesus ditangkap dan dicintai, Yesus yang dimuliakan pada sebuah salib yang paling hina, Yesus yang membasuh kaki murid-murid-Nya.


Mk 14:3-9 Kasih atau kepentingan

Maret 19, 2011

Markus 14 memulai cerita tentang kematian Kristus dengan persekongkolan pimpinan Yahudi untuk menangkap dan membunuh Yesus (14:1-2). Rencana itu mulai terwujud ketika Yudas pergi kepada mereka (14:10). Di antara kedua peristiwa itu, Markus menceritakan suatu cerita tentang seseorang yang mengasihi Yesus. Perempuan itu datang dan meminyaki kepala Yesus dengan minyak yang sangat berharga. Meminyaki kepala adalah cara untuk menyambut tamu dengan baik (Lk 7:46), dan perempuan ini menunjukkan rasa kasih dan hormat yang besar kepada Yesus dengan tindakannya. Dia belum tentu tahu kalau Yesus akan mati, tetapi sikapnya sama dengan orang yang meminyaki mayat, sehingga Yesus menerima tindakannya sebagai persiapan untuk kematian-Nya (a.9).

Berharga dalam rangka apa? Perhatikan bahwa yang memikirkan harga minyak narwastu itu para murid (aslinya jamak di balik LAI “ada orang” dalam a.4), bukan Yesus ataupun perempuan itu. Perempuan itu tidak menyumbang 300 dinar kepada Yesus melainkan menyatakan relasinya dengan Yesus yang dalam. Ketika perikop ini dipakai untuk berbicara tentang persembahan, kita seakan-akan mengambil pola berpikir para murid, yang mengukur kasih kepada Yesus dengan nilai uang, bukan dalam rangka relasi.

Terkait dengan pola berpikir para murid adalah pola tanggapan mereka. Mereka marah-marah, mengecam tanpa bertanya dulu kepada si perempuan apa maksudnya. Andaikan buli-buli pualam itu adalah warisan dari nenek yang sudah meninggal, apa yang lebih menghormati nenek itu, diuangkan atau dipakai untuk meminyaki Sang Mesias Israel? Dalam pengalaman saya (termasuk pengalaman pribadi), sikap marah-marah berkorelasi dengan sikap menghitung-hitung. Dalam keadaan stres seperti dialami para murid yang sedang menghadapi bahaya yang besar, kita lupa akan apa yang terpenting dan berpikir dengan apa yang terjangkau oleh akal yang lagi tertekan, yakni angka. Mereka tiba-tiba prihatin akan orang miskin, tetapi Yesus yang ada di depan mereka tidak mereka perhatikan (a.7). Atau, apakah tindakan perempuan itu justru terlalu dekat dengan meminyaki mayat, sehingga reaksi mereka mencerminkan ketakutan bahwa Yesus akan kalah, karena mereka belum menangkap bahwa Yesus harus mati dan dibangkitkan?

Respons si perempuan terhadap Yesus menjadi kesaksian bagi seluruh dunia (a.9), sebagaimana terjamin ketika cerita ini dimuat dalam tiga Injil, dan sebagaiman terwujud ketika kita merenungkannya sekarang. Bagi perempuan itu Yesus lebih penting dari masalah yang dihadapi-Nya, sedangkan para murid Yesus adalah sarana untuk kepentingan mereka.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.