Mazmur 1 Individu, relasi atau kelompok?

Agustus 29, 2010

Satu ciri budaya yang makin lama makin ramai dibicarakan dalam teologi kontekstual adalah individualisme (“aku berpikir, maka aku berada”) dan dua alternatifnya, relasionalisme (“aku adalah anak si A, kakak si B, teman si C, maka aku berada”) dan kolektivisme (“aku adalah orang Toraja, maka aku berada”). Tentu, semua segi itu terlibat dalam identitas setiap manusia. Saya adalah individu: orang lain dapat membelikan atau memasakkan makanan bagi saya, tetapi orang lain tidak dapat memakankan makanan bagi saya. Tetapi, saya juga berada dalam jaringan relasi, yang daripadanya saya belajar bagaimana caranya makan dengan baik dan yang dengannya saya suka makan. Saya juga berada dalam kolektif (kelompok) yang cukup menentukan makanan apa yang tersedia dan kapan boleh dimakan (misalnya, di Toraja makan setelah acara, sedangkan di Australia biasanya makan dulu). Hanya, budaya individualis menyoroti manusia sebagai individu, sehingga sejak kecil seorang anak mendengar banyak pepatah, wacana, ilustrasi dan informasi menyampaikan bagaimana caranya menjadi orang yang lain dari yang lain. Budaya relasionalis menyoroti relasi, sehingga sejak kecil seorang anak mendapat banyak bekal budaya tentang bagaimana memperlancar relasi-relasi yang ada. Budaya kolektivis menyoroti kelompok. Saya berasal dari budaya yang sangat individualistis, tetapi tentu ada juga sorotan cukup besar terhadap relasi dan sedikit juga terhadap kolektif. Pada hemat saya, budaya Toraja itu lebih relasionalis daripada kolektif, tetapi mungkin budaya seperti budaya Jawa kuno terbalik. Bagaimanapun juga, salah satu dampak modernisasi adalah menguatnya unsur individualisme dalam budaya-budaya di Indonesia, lebih lagi dalam kaum muda.

Dalam bidang agama, budaya kolektif dan relasionalis akan lebih menonjolkan kegiatan bersama, alias ritus. Hubungan pribadi dengan kuasa gaib/ilahi bisa saja terjadi (khususnya dengan arwah leluhur), tetapi ada ahli dunia itu (seperti to minaa) yang bertugas untuk menguruskan hal-hal itu bagi masyarakat, seperti melacak dosa yang menyebabkan musibah tertentu dan menentukan tindakan yang diperlukan untuk menghapus dosa itu. Seperti sering diamati dalam konteks seperti itu, kepercayaan tidak terlalu penting, yang penting adalah melaksanakan ritus-ritusnya. Atau, apakah lebih tepat dikatakan bahwa dalam budaya yang di dalamnya pendapat “aku” tidak sebanding dengan hikmat orangtua atau kelompok, melakukan ritus adalah cara untuk percaya? Percaya bukan dalam artian memilih satu kepercayaan dari beberapa kemungkinan, tetapi percaya dalam artian mengandalkan hikmat dan kuasa yang melebihi hikmat dan kuasa saya sebagai individu. Pikiran seperti itu mungkin saja tetap ada dalam gereja, dan menjadi konteks yang menarik untuk memikirkan perikop kita.

Mzm 1 mulai dengan seorang individu (kata “orang” kata tunggal dalam bahasa Ibrani). Orang yang tunggal ini dibandingkan dengan keramaian orang fasik / berdosa / pencemooh (semuanya kata jamak, a.1). Orang ini tidak mengikuti keramaian itu, alias dia melawan arus. Budaya Israel kuno adalah budaya relasionalis. Bagaimana caranya satu orang dapat melawan keramaian orang yang dengannya dia berelasi dalam satu masyarakat? Jawabannya dalam a.2 adalah khas individualistis: orang ini merenungkan Taurat secara pribadi (kata tora juga dapat berarti “ajaran”, jadi bisa lebih luas daripada kelima kitab Musa saja). Kata “merenungkan” berarti bersuara, dan merujuk pada pembacaan Taurat dengan suara yang pelan, entah langsung dari naskah atau dari ingatan akan apa yang sudah dihafal, mengingat bahwa pada saat itu naskah itu mahal. Orang yang mengenal firman Tuhan ini tidak lagi mengandalkan orang-orang di sekitarnya saja untuk mendapat hikmat untuk hidup. Dalam firman Tuhan ada sumber lain, sumber yang lebih baik dan lebih berhikmat dari kelompok di sekitarnya.

Dengan demikian, diri orang ini menjadi kokoh, seperti pohon yang subur (a.3). Hasil pohon ini bukan soal berupaya tampil baik di hadapan orang, melainkan hasil dari hakikat orang yang dirinya sudah dibentuk oleh firman Tuhan. Sebaliknya, kaum fasik tidak ada bobotnya, mereka seperti sekam (a.4). Di situlah ada klaim yang luar biasa: Tuhan adalah lebih mendasar dari keluarga, suku dan negara. Mengingat bahwa kita dibesarkan dalam keadaan yang sangat bergantung pada kelompok, hal itu tidak mudah dipercaya. Tetapi orang yang merenungkan firman Allah akan berbahagia olehnya. Dia menjadi lebih individualistis dalam artian sanggup melawan keramaian orang karena ada sumber hidup yang lain, yaitu Tuhan. (Individualisme ini belum seperti individualisme Barat yang sudah meninggalkan relasi dengan Tuhan yang pada awalnya memungkinkan individualisme itu, seperti orang naik ke atas atap kemudian membuang tangga yang dipakai untuk naik.)

Dalam aa.5-6 individualisme tadi dibatasi lebih lagi. Ternyata, si orang dalam a.1, selain sebagai individu dalam relasi dengan Tuhan, termasuk juga dalam perkumpulan orang benar. Perkumpulan itu bukan pengarah hidupnya seperti kumpulan orang fasik menjadi pengarah hidup mereka dalam a.1. Tetapi, toh, ada kolektivitas dalam relasi dengan Tuhan. Tuhan akan menegakkan keadilan kepada kedua kolektivitas ini. Kaum orang fasik tidak akan bertahan (a.5) melainkan binasa (a.6), sedangkan jalan perkumpulan orang benar dikenal oleh Tuhan (a.6). Dalam aa.5-6 ini, keadaan terbalik dari a.1. Dalam a.1 kaum orang fasik yang menentukan apa yang lasim, sehingga si orang benar harus berjuang untuk melawan arus. Tetapi jika kita melihat ke akhir segala sesuatu dalam penghakiman Tuhan, kaum orang fasik yang tidak bisa ikut (a.5), dan jalan orang benar yang berkenan di hadapan Tuhan (a.6).

Yang mendasar dalam mazmur yang mengantarkan seluruh kitab Mazmur ini ialah relasi dengan Tuhan. Relasi dengan Tuhan akan mengurangi individualisme Barat, tetapi justru akan mendorong individualisme dalam budaya relasionalis atau kolektivis. Hal itu terjadi karena antara lain urusan agama tidak dapat didelegasikan kepada orang lain, seperti pendeta. Mungkin saja orang-orang fasik berharap bahwa para imam di Bait Allah akan menguruskan Tuhan bagi mereka, tetapi ternyata relasi dengan Tuhan adalah sesuatu yang tidak bisa didelegasikan. Sebuah pohon tidak dapat meminjamkan sebagian dari bobotnya kepada sekam. Jalan keluarnya adalah perenungan firman. Hal itu bukan sekadar soal pengetahuan (“aku mengetahui isi Alkitab, maka saya berada dalam relasi dengan Tuhan”), melainkan dengan isinya diingat berulangkali, entah dengan dibaca, didengar atau dihafal, firman itu mengubah diri kita. Aku mengenal Tuhan, maka saya sungguh berada, sekarang dan untuk selama-lamanya.

Cocokkah analisis saya tentang budaya Toraja di tempat pembaca? Silakan ditanggapi!


Yes 60-62 Harapan dunia

November 27, 2008

Maaf, posting ini agak panjang karena dua perikop (60:1-14 dan p.62) ditempatkan dalam konteks kitab Yesaya dan penggenapannya dalam Kristus. Soalnya, saya mau menghargai teksnya sebagai hasil seorang nabi Israel yang dikarang bagi Israel, sekaligus nubuatan dasar bagi iman Kristen. Bagi saya, dengan demikian kekayaan penyataan Allah justru menjadi lebih tampak. Hanya, penjelasannya agak lebih rumit juga…

Pesan kitab Yesaya diperkenalkan secara ringkas dalam 1:1-2:4, yaitu pembaruan Sion sebagai pusat hadirat Allah dengan manusia. P.1 menggambarkan keberdosaan Sion, yang akan dipulihkan oleh pemurnian (1:21-26) sehingga Sion menjadi pusat dunia yang membawa berkat Allah kepada seluruh dunia (2:1-4). Dalam kitab selanjutnya, pemurnian dilaksanakan oleh Hamba Tuhan (pp.40-55), yang menjadi korban penebus salah (p.53). Hasilnya bagi Sion digambarkan dalam pp.60-62 ini. Jadi, dalam pasal-pasal ini kita melihat rencana Allah sebagaimana dinyatakan bagi Israel sebelum Kristus datang.

Bagian ini mulai dengan penyataan Tuhan atas Sion (60:1-2), sehingga bangsa-bangsa tertarik datang (a.3). Dalam aa.4-14 kedatangan bangsa-bangsa itu menyangkut tiga tema. Yang pertama adalah pengembalian orang-orang Israel yang dibuang, yang disebut anak-anak Sion. Yang kedua mereka membawa serta kekayaan bangsa-bangsa. Hal itu disampaikan dua kali, dalam aa.4-7 dan lebih lengkap dalam aa.8-14 dengan penambahan tema ketiga, yaitu pertukaran keadaan Israel dan bangsa-bangsa. Israel yang dibuang akan menjadi tuan atas bangsa-bangsa (10-12); penindas-penindas Israel akan tunduk kepadanya (14).

Di balik pemulihan keadaan Israel adalah hadirat Allah, sehingga Allah dimuliakan di dalam pemulihan Israel itu, bahkan oleh bangsa-bangsa (6, 9). Allah adalah sumber terang Israel (1-2, 14), dan hadirat-Nya merupakan pusat Israel (7, 13). Pemulihan Israel adalah akibat dari perubahan sikap Allah, dari murka sampai kasihan (10). Hadirat Allah dan perubahan keadaan Israel menjadi tema aa.15-22.

Dalam p.61 kabar baik dari p.60 mau diberitakan kepada Israel yang tertindas. Jadi, perhatian beralih dari hasil yang dijanjikan Allah ke proses pewujudannya. Dalam p.62 pemulihan Israel digambarkan dalam rangka relasi yang baru dengan Allah (1-7), diiringi seruan bagi nabi dan semua yang berdoa untuk berseru kepada Allah (1, 6-7). Atas dasar itu ada seruan untuk berjalan, yang dalam konteks aslinya bagi Israel yang dibuang berarti kembali dan menikmati janji-janji Tuhan. Jadi, pemberitaan, doa dan pengembalian kepada hadirat Tuhan merupakan proses dalam terwujudnya janji Tuhan itu.

Meskipun pembaca-pembaca awal nubuatan Yesaya mungkin berpikir bahwa semuanya akan terwujud ketika Israel kembali dari pembuangan pada akhir abad ke-6 sM, namun kenyataan lain, dan ketika Yesus datang memberitakan Kerajaan Allah, janji-janji itu masih menantikan penggenapan. Yesus memakai p.61 sebagai deskripsi tugas-Nya sendiri (Lk 4:18dst), dan kemudian menunaikan tugas Hamba Tuhan dengan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan (Mk 10:45). Dengan demikian, kerajaan Allah mulai terwujud. Perwujudan sepenuhnya digambarkan dalam Why 21-22, yang memakai gambaran Sion dalam p.60 sebagai salah satu latar belakangnya, termasuk masuknya kekayaan bangsa-bangsa dan hadirat Allah sebagai penerang yang mengganti bulan dan matahari. Demikianlah rencana Allah yang disampaikan kepada Israel disampaikan juga kepada jemaat dalam terang Kristus.

Kemudian, apa bagian kita di dalamnya? Ketika Yesus berbicara tentang terang dan kota yang terletak di atas gunung (Mt 5:14) kemungkinan besar Dia memikirkan nas-nas seperti 60:1-3. Jemaat yang di tengahnya Kristus diam oleh Roh-Nya adalah Sion yang di dalamnya Tuhan hadir. Melalui pemberitaan, doa dan berbalik kepada Tuhan (pertobatan), jemaat menghayati terang dalam Kristus dan menarik bangsa-bangsa. Barangkali, masuknya kekayaan bangsa-bangsa sudah mulai dengan kekayaan budaya-budaya menjadi bagian dari ibadah dan pujian jemaat (bnd. 60:6-7).

Jadi, kita diingatkan tentang identitas kita di tengah, dan misi kita kepada, semua orang di dunia ini, berdasarkan rencana Allah yang sudah lama berkembang. Oleh karena itu, sukacita yang mewarnai pp.60-62 ini selayaknya bagian kita juga.


Yes 1:10-20 Mengapa menjemukan Allah?

Juli 11, 2008

Pernah ada anjing yang dengan bangga membawa hasil pemburuannya kepada pemiliknya. Jika hasilnya berupa tikus yang mati belum tentu pemiliknya senang! Namun, maklum itu anjing. Lebih sulit diterima adalah pasangan yang membeli kado bagi pasangannya untuk menutupi perselingkuhan. Kado itu akan memperparah keadaannya daripada memulihkannya. Demikianlah ibadah Israel pada masa nabi Yesaya. Persembahan dan perayaan mereka tidak mengelabui Tuhan mengenai keadaan mereka yang sebenarnya.

Baca entri selengkapnya »


Kej 35:1-15 Menyembah Allah

Juli 3, 2008

Pada awal perikop ini, Yakub telah melalui pergumulan dengan kakaknya Esau, sesuai dengan janji Allah yang dulu-dulu itu di Betel (Kej 28:15). Namun, dia belum sampai kembali kepada ayahnya (Kej 28:21) ketika keluarga perjanjian terancam lagi saking kecerobohan Simeon dan Lewi (34:30). Degan Yakub dan seisi rumahnya menghadapi musibah, Allah sekali lagi menampakkan diri.

Dia memanggil Yakub sekeluarga untuk pergi ke Betel dan menyembah-Nya di sana (a.1). Kali ini Allah tidak langsung menjanjikan perlindungan, Dia mengingatkan Yakub akan masalah Esau yang sudah dilalui dengan aman. Panggilan itu disampaikan Yakub kepada keluarga dengan satu perbedaan (a.3), yaitu Yakub langsung bersaksi tentang perlindungan Allah. Kesaksian itu menjadi alasan yang disampaikan Yakub untuk mereka meninggalkan dewa-dewa yang lain dan menahirkan diri. Dan memang Allah tetap menyertai dan melindungi mereka (a.5). Demikianlah ancaman itu diselesaikan.

Setelah mereka diam di Betel, Allah berfirman kembali kepada Yakub. Seperti Adam dan Hawa di taman Eden, Yakub dipanggil untuk bertambah banyak di tanah perjanjian (aa.11-12). Yakub kemudian membangun simbol akan hadirat Tuhan di sana. Dengan demikian Israel dipanggil untuk mendirikan kembali kerajaan Allah yang hilang ketika manusia berdosa.

Perikop ini menunjukkan bagaimana akhirnya melalui banyak pergumulan Yakub menjadi layak sebagai orang yang dipanggil Tuhan. Kita melihat kembali kesabaran Allah yang melindungi umat-Nya sambil menyempurnakannya. Untuk kita umat PB, perlindungan Allah sudah dibuktikan dalam kematian dan kebangkitan Kristus, dan hadirat-nya kita kenal melalui Roh Kudus sambil menantikan penggenapan janji langit dan bumi yang baru. Maka kita memiliki alasan yang lebih kuat lagi untuk meninggalkan berhala-berhala dan menyembah Allah saja.


Kebaktian penghiburan oleh jemaat Ortodoks yang misioner!

Desember 12, 2007

Nenek saya (adik perempuan dari ayah dari ayah saya = great-aunt) meninggal pada usia 95 tahun beberapa hari sebelum saya kembali ke Australia. Dia adalah kedua terakhir dari semua keturunanan neneknya yang masih hidup, sehingga tinggal satu saudara sepupu yang belum meninggal. Dia sendiri adalah seorang janda. Suaminya meninggal pada Perang Dunia Kedua di Singapura, dan kedua anak yang dia lahirkan meninggal sebelum mencapai usia 5 hari (ya, hari!). Di hadapan kekecewaan yang sangat itu, nenek saya dapat memegang iman kepada Kristus dan ternyata menjadi terlibat dalam banyak kegiatan, sebagian yang tidak terduga oleh keluarga dan baru terungkap setelah dia meninggal!

Kalau orang Barat keturunan Inggris meninggal, biasanya ada acara paling satu minggu kemudian. Acara itu bisa sekuler (semacam acara mengenang orangnya) tetapi seringkali ada kebaktian di dalamnya, walaupun keluarga jarang beribadah pada waktu yang lain. Tetapi untuk orang percaya seperti nenek saya, jemaatnya mengadakan kebaktian, biasanya satu saja dan paling dua kalau ada acara terpisah pada pemakaman (atau kremasi).Berapa peserta akan mengikuti acara itu? Bagi orang yang meninggal muda, beberapa ratus tidak mustahil. Tetapi bagi orang yang sudah pensiun, apalagi kalau usia yang sangat lanjut seperti nenek saya, puluhan lebih biasa. Malah, belum tentu akan genap 10! Nenek saya ramai mengingat usianya. Kurang lebih 50 orang ikut, baik keluarga, jemaat, maupun dari beberapa lembaga lain yang di dalamnya nenek saya terlibat. Mungkin ada 10 orang lagi yang berminat tetapi berhalangan. Sekali lagi, kami senang melihat bahwa acara itu cukup ramai!

Yang menarik juga, nenek saya adalah penganut aliran Ortodoks, yang mengklaim sebagai keturunan gereja mula-mula (dan memang kurang lebih begitu). Saya pernah mengikuti acara pernikahan ala Ortodoks Yunani, dan seluruh acara diadakan dalam bahasa Yunani sehingga tidak banyak yang saya tangkap! Tetapi jemaat nenek saya adalah jemaat Ortodoks yang misioner. Pastornya (atau pendeta, saya tidak tahu mana yang cocok untuk gereja Ortodoks) menyapa kami dengan ramah dan menjelaskan apa yang akan terjadi, dengan demikian menghargai bahwa kami adalah tamu yang mungkin belum terlalu biasa dengan gaya Ortodoks. Liturginya dalam bahasa Inggris, sehingga dapat dimengerti. (Oleh kami yang hadir, maksudnya.:)

Hanya, isi liturgi kayaknya tidak diupdate sama sekali. Selama kurang lebih 100 menit kami mendengarkan berbagai Mazmur dan nyanyian kuno Ortodoks dinyanyikan sambil berdiri terus. Dari satu segi saya menikmati ibadah itu. Hampir seluruhnya diambil langsung dari Alkitab atau syair yang Alkitabiah. Dan suasana dari kemenyan yang dibakar terus serta cara menyanyi cukup meditatif! Dalam rangka menjangkau orang yang belum percaya, ada bagian penduduk Australia yang bisa saja responsif terhadap cara begitu. Namun, ada satu perbedaan dengan acara Protestan yang cukup mencolok. Jelas bahwa ritus itu bukan ucapan syukur saja, tetapi dianggap sebagai bagian dari penyelamatan jiwa. Kebaktian Protestan merayakan bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus sudah istirahat di dalam Kristus. Mereka berdoa (7 kali, kalau tidak salah) supaya dosa almarhumah diampuni supaya diterima oleh Allah. Dalam rangka itu semangatnya dekat Katolik Roma. Saya tidak tahu apakah secara pribadi atau dalam konteks pastoral mereka akan menunjukkan keyakinan akan keselamatan yang lebih kuat.

Yang terakhir, setelah ibadah ada snack (bukan makan siang!) yang diikuti (bukan SMP–soalnya kalau orang Barat lapar konsentrasinya terganggu sehingga dianggap lebih baik kalau makan dulu) oleh beberapa refleksi singkat. Tahu-tahu, banyak dari jemaat nenek saya tahu kalau ada cucunya yang menjadi misionaris di Indonesia. Surat doa saya dia sebarkan kepada mereka. Dalam percakapan informal setelah refleksi saya menikmati persekutuan dengan mereka.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.