Lk 23:44-24:12 Yesus Mati dan Bangkit

April 4, 2012

Jumat Agung dan Hari Kebangkitan tentu terjadi pada hari yang berbeda, tetapi pesannya saya gabungkan karena keduanya saling berkaitan. Pada kedua hari ini kita paling berdosa jika kita merampas kemuliaan karya Kristus dengan berbicara sedikit tentang apa yang telah Dia lakukan dan banyak tentang apa yang seharusnya kita lakukan. Tentu, karya Allah menuntut respons. Tetapi, jika pengkhotbah sudah memaparkan karya Allah ini dengan jelas, apakah kita perlu membujuk-bujuk jemaat untuk menerimanya? Andaikan saya bilang, “Ada kue coklat berlapis, pakai coklat Belgia yang paling lembut, dengan kopi Toraja kualitas ekspor”, apakah perlu ditambah dengan pembujukan, “Ayo masuk, masakan kamu malas mengambilnya, tidak menghargai kerja keras isteri? Tahu dirilah!”? Bukankah memberi tahu di mana kue itu adalah cukup sebagai penerapan? Pembujukan justru menyiratkan bahwa kue itu sebenarnya kurang enak, hanya akan dimakan jika dipaksakan. Sama halnya, pada hemat saya, jika karya Kristus sudah disampaikan dengan baik; tinggal menunjukkan bagaimana caranya diterima (yakni, dengan percaya). Jika jemaat harus dibujuk, berarti pengkhotbah sendiri belum terlalu yakin akan kemuliaan dan daya tarik Yesus. Ada yang tidak suka coklat; ada juga, yang disayangkan, yang tidak suka Yesus. Tetapi kita berkhotbah atas keyakinan sendiri, bukan keraguan orang.

Penggalian Teks

Tema yang kuat dalam ketiga Injil Sinoptik ialah bahwa Yesus mati sebagai ganti orang bersalah. Hal itu terjadi secara harafiah dengan Barabas, dan juga muncul dalam pernyataan ironis para pemimpin Yahudi, bahwa Yesus menyelamatkan orang lain tetapi tidak bisa menyelamatkan diri-Nya sendiri (23:35). Lukas menitikberatkan ketidakbersalahan Yesus itu. Dia menegaskan kejahatan Barabas yang dibebaskan sebagai ganti Yesus (23:25), dan pencuri yang bertobat juga menegaskan layaknya dia dihukum mati ketimbang Yesus (23:41).

Jadi, kegelapan yang meliputi bumi selama tiga jam (44) bukanlah karena Yesus bersalah. Yesaya 60:1, salah satu janji luar biasa tentang datangnya Kerajaan Allah, berbicara tentang terang dan kemuliaan yang akan terbit, sampai matahari dan bulan tidak pernah akan surut (Yes 60:20; kata “surut” di situ dan kata “tidak bersinar” dalam Luk 23:45 sama-sama menerjemahkan kata ekleipo). Tetapi kondisi sebelumnya adalah kegelapan (Yes 60:2), seperti dikatakan Yesus sendiri setelah ditangkap (Luk 22:53). Dunia sudah sampai nadir kegelapan ketika Anak Allah yang benar disalibkan oleh umat Allah sendiri.

Dalam rangka itu, Lukas menyebutkan tabir Bait Allah terbelah dua (23:45; Injil Matius dan Markus menempatkannya setelah Yesus mati). Ada macam-macam penafsiran terhadap peristiwa itu, termasuk bahwa hal itu menyimbolkan kesedihan Allah. Tetapi, jika kita melacak semua pemakaian kata “tabir” dalam PL (Keluaran-Bilangan dan 1 Raj 6:23 dalam rangka pembangunan Bait Allah di bawah Salomo), selalu fungsinya adalah menutupi tempat maha kudus (Kel 26:33). Jadi, tafsiran bahwa Yesus telah membuka jalan masuk ke dalam hadirat Allah, seperti diuraikan dalam Ibrani 9, adalah tepat.

Makanya, Yesus menyerahkan nyawa-Nya dengan mengutip Mzm 31:6, sebuah Mazmur Daud. Dia telah melakukan tugas-Nya sebagai Mesias (anak Daud), yaitu menyelamatkan orang lain dengan tidak menyelamatkan diri-Nya. Kedua ayat berikut (23:47-48) menceritakan tanggapan dua kelompok, yang kembali menegaskan kebenaran Yesus. Kepala pasukan, wakil Pilatus yang telah menyerahkan Yesus untuk disalibkan, mengaku bahwa Yesus adalah benar. Orang banyak memukul-mukul diri. Istilah yang dipakai di sini berarti memukul dada, suatu pertanda kesedihan yang dalam bagi orang Yahudi. Istilah itu hanya dipakai satu kali lagi dalam Injil Lukas, yaitu dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Luk 18:9-14). Pemungut cukai memukul dadanya karena dia begitu sadar akan dosanya. Dia pulang dengan dibenarkan Allah, sedangkan orang Farisi tidak. Jadi, bagi Lukas, Yesus telah mati sebagai pengganti orang berdosa seperti Barabas, dan semua yang mengaku bahwa Yesus adalah benar dan dia bersalah, dapat dibernarkan (dibebaskan seperti Barabas) dan masuk ke dalam hadirat Allah yang jalan masuknya dibuka oleh kematian Yesus.

Tentu, cerita Lukas belum selesai. Perempuan-perempuan dari Galilea menyaksikan kematian Yesus (23:49), dan juga di mana Dia dikuburkan (23:55). Merekalah yang pergi pada pagi hari Minggu untuk mempersiapkan mayat-Nya. Dalam apa yang diceritakan Lukas selanjutnya, kita melihat betapa para murid Yesus belum siap untuk menerima karya Allah. Mereka termangu-mangu (24:4), bahkan tidak mau percaya (24:11). Kebangkitan Yesus adalah kejutan yang besar, sangat di luar dugaan.

Maksud bagi Pembaca

Lukas mau membawa kita untuk merasakan kegelapan kematian Yesus dan kekejutan kebangkitan-Nya, supaya kita memahami bahwa di dalam kedua peristiwa ini, keselamatan telah datang bagi semua yang akhirnya bisa percaya pada karya Allah yang mengejutkan itu (termasuk orang-orang bukan Yahudi seperti kepala pasukan itu).

Makna

Yesus telah memakai Mzm 31:6, “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku” yang berlanjut, “Engkau membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia.” Bagi Daud, doa ini adalah doa untuk dihindarkan dari maut, tetapi bagi Yesus yang mau mati, doa ini mengharapkan kebangkitan. Perbedaannya antara doa Daud dan penerapan Yesus besar: jika satu orang (seperti Daud) luput dari maut, hanya nyawanya sendiri yang diselamatkan. Tetapi jika ada orang yang merintis jalan melalui dunia maut sampai ke kebangkitan, maka banyak orang yang dapat diselamatkan. Makanya, seperti diingatkan oleh kedua malaikat kepada perempuan-perempuan itu, Yesus telah mengatakan bahwa sebagai Anak Manusia Dia harus mati bagi dosa untuk dibangkitkan pada hari ketiga (24:7). Hari ketiga adalah hari penentuan nasib dalam PL (misalnya: Kej 42:18 tentang nasib saudara-saudara Yusuf; Kel 19:11, 16 tentang nasib Israel dengan Allah; 2 Raj 20:5 (Hizkia); Est 5:1). Khususnya, pada hari ketiga Israel mengharapkan kebangkitan dari hukuman Allah (Hos 6:2). Jadi, dengan dibangkitkan, Yesus sendiri dibenarkan oleh Allah, sehingga kita ikut dibenarkan di dalam Dia. Dengan demikian, kegelapan sudah diganti oleh terang.

Selamat memberitakan kabar baik ini!


Fil 3:1-16 Supaya Memperoleh Kristus (22 Januari 2012)

Januari 20, 2012

Kesaksian Paulus dalam perikop ini luar biasa, dan bentuknya menantang dua kesalahan umum dalam menafsir. Kesalahan pertama mencari kebenaran teologis yang kemudian menjadi rumusan umum, padahal kita melihat bahwa dampaknya sangat besar pada seluruh hidup Paulus. Kesalahan kedua terbalik. Kebenaran teologis dianggap kulit saja, yang penting adalah suatu pengalaman iman. Tetapi pengalaman Paulus adalah berjumpa dengan Kristus yang sungguh telah bangkit, sehingga dia diterima (dibenarkan) dengan cuma-cuma, dan mengikuti pola hidup yang terpola oleh kematian dan kebangkitan-Nya. Teologi Alkitabiah semestinya begitu. Kita memang mau menarik kebenaran teologis dari perikop ini, bukan hanya pengalaman pribadi Paulus. Tetapi kebenaran itu hanya berguna bila kita juga mau memperoleh Kristus yang lebih mulia daripada segalanya.

Penggalian Teks

Setelah bercerita tentang Injil, dalam 3:1 Paulus memulai nasihatnya dengan seruan untuk bersukacita. Hal itu dilanjutkan dalam 4:1, setelah penguraian p.3. Oleh karena itu, pasal ini dapat memberi kesan sebagai interupsi. Hanya, penjelasannya begitu jelas tentang pembenaran dan tujuan hidup sehingga anjuran untuk bersukacita justru terasa lebih berdasar.

Dalam p.3 ini Paulus menanggapi kelompok yang dia sebut sebagai “penyunat palsu” (2). Kata yang dia pakai, katatome (pemotongan sampai hancur), merupakan sindiran terhadap kata peritome, sunat. Mereka memotong daging, tetapi menghancurkan orangnya. (Tidak disepakati antara para pakar, dan tidak terlalu penting, apakah kelompok ini adalah orang Yahudi yang melawan Injil seperti dalam 1 Tes 2:15, atau orang Kristen yang mau memaksakan sunat kepada orang-orang non-Yahudi seperti dalam kitab Galatia.) Paulus langsung membandingkan mereka dengan jemaat (3). Jemaatlah yang layak menyandang berbagai sifat yang mencirikan umat Allah. Jemaatlah yang disunat dalam hati (Rom 2:28-29), yang didiami oleh Roh Kudus sehingga merupakan Bait Allah (tempat ibadah) yang sebenarnya, yang bermegah bukan dalam hal-hal lahiriah seperti sunat dan tidak makan daging babi, melainkan dalam Kristus.

Dalam aa.18-21 Paulus akan kembali membandingkan kedua kelompok ini secara lebih dalam, setelah dalam aa.4-16 dia menyampaikan kesaksian hidupnya untuk diperhatikan (17). Kesaksian itu disampaikan dalam tiga tahap. Aa.4-6 menceritakan hidupnya yang dahulu dalam hukum Taurat, aa.7-10 perubahan setelah berjumpa dengan Kristus, dan aa.12-16 sikap melihat ke depan karena Kristus itu.

Dalam aa.4-6 Paulus mendaftar berbagai hal yang menjadi andalan untuk membuktikan keanggotaan dalam umat Allah. “Hal-hal lahiriah” menerjemahkan kata sarx yang berarti daging, di sini dalam artian apa yang kelihatan di depan semua (bdk. 1 Sam 16:7). Di sini sunat dan keturunan adalah langsung soal daging, tetapi keanggotaan dalam sekte Farisi juga merupakan sesuatu yang jelas dapat diandalkan sebagai bukti bahwa dia adalah bagian dari umat yang berkenan di hadapan Allah. Lebih lagi, Paulus membuktikan sikapnya terhadap Allah dengan menganiaya jemaat. “Kegiatan” menerjemahkan kata zelos yang menunjukkan suatu perasaan yang sangat kuat terhadap sesuatu, bisa rasa cemburu atau minat dan perhatian. Pinehas yang menjadi contoh utama zelos itu, ketika ia membunuh orang yang sedang berdosa sehingga rasa cemburu (zelos) Allah terhadap umat Israel yang sedang mengamuk itu berhenti (Bil 25:11). Paulus juga konsekuen, sama seperti Pinehas. Menganiaya orang harus tega, tetapi demi hormat Allah Paulus berani. Bahkan, dalam segala sesuatu Paulus pra-Kristus merasa menaati Hukum Taurat tanpa cacat. Hal itu tidak berarti bahwa dia merasa tidak pernah berdosa, hanya bahwa dia konsekuen dalam memperhatikan aturan-aturan Hukum Taurat, mempersembahkan kurban jika ada dosanya, dan mendapat bagian dalam penghapusan dosa umum pada Hari Pendamaian (Imamat 16). Ringkasnya, kelayakannya sebagai anggota umat Allah jelas di depan Allah maupun manusia.

A.7 mulai dengan kata “tetapi”, yang diulang dengan lebih keras pada awal a.8 (“tetapi sebaliknya”, LAI “malahan”). A.7 menyatakan intinya, perubahan sikap terhadap keuntungan lama karena Kristus. A.8 mempertegas semangat itu. Alasan karena Kristus diperjelas sebagai pengenalan akan Kristus. Tentu, ketika Paulus berjumpa dengan sosok yang harus disapa “Tuhan” (kurie), yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Yesus, menganiaya jemaat terungkap sebagai dosa besar. Tetapi bukan hanya dosa itu tetapi semua yang lain, yang tidak bersifat dosa, dianggap bukan hanya rugi melainkan sampah. Mengenal Kristus tidak hanya mengungkapkan kesalahannya, tetapi juga membawa sesuatu yang lebih mulia ke dalam hidupnya.

Makanya, mulai akhir a.8 sampai a.11 Paulus menjelaskan orientasi hidupnya yang baru, yaitu “supaya memperoleh Kristus” yang mulia itu. Memperoleh Kristus menyangkut pintu masuk dan proses. Pintu masuk, “berada dalam Dia”, adalah pembenaran oleh iman (9). Paulus telah meninggalkan cara lama, yaitu kebenaran yang melekat pada orangnya karena dia taat kepada Hukum Taurat, seperti Paulus pada akhir a.6. Kebenaran itu merujuk pada berbagai ciri yang nampak bagi manusia dan Allah sebagai bukti kelayakan sebagai anggota umat Allah yang diterima Allah. Tetapi sekarang kebenaran Paulus itu “karena kepercayaan kepada Kristus”, dan berasal dari Allah bagi orang yang percaya. Satu tafsiran lagi untuk “karena kepercayaan kepada Kristus” adalah “melalui kesetiaan Kristus”; tafsiran itu membuat jelas bahwa kelayakan ada bukan pada orangnya melainkan pada Kristus. Dari satu segi, pencarian Paulus tidak berubah; dia mau berkenan kepada Allah. Tetapi caranya berubah drastis. Dia menerima kebenaran itu sebagai anugerah dengan percaya kepada Kristus. Dengan demikian, semua bukti lama akan penerimaan Allah tidak lagi berarti.

Tetapi pembenaran itu hanya landasannya. Memperoleh Kristus juga berarti mengenal-Nya, dan dalam aa.10-11 kematian dan kebangkitan Kristus menjadi kerangkanya. Kebangkitan Kristus dikenal dalam bentuk kuasa dalam kehidupan Paulus. Hal itu mungkin termasuk mujizat (bdk. Gal 3:5), pasti termasuk kuasa Injil mengubah kehidupan orang (Rom 1:16), dan juga termasuk kuasa untuk bertahan dalam penderitaan (2 Kor 4:7-11). Pada titik terakhir itu persekutuan dengan Kristus mencapai titik paling kenal (10). Melalui kuasa yang dialami dalam kesusahan, Paulus menjadi serupa dengan kematian Kristus, artinya, Paulus menjadi sosok yang mencari kemuliaan melalui kerendahan (2:6-11) dan kuasa dalam kelemahan (2 Kor 12:9). Dengan demikian, Paulus akan ikut dibangkitkan (11). Dalam aa.20-21 menjadi jelas bahwa kebangkitan itu menjadi puncak kemuliaan dan persekutuan dengan Kristus.

Dalam aa.12-14 Paulus menjelaskan sikapnya terhadap tujuan yang mulia itu. Karena dasarnya adalah anugerah, “aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (12), Paulus tidak pusing dengan kekurangan masa lampau, tetapi tetap mengejar pengenalan akan Kristus itu, yang disebut sebagai panggilan sorgawi karena Kristus ada di sorga dan akan datang dari sana pada saat kebangkitan (21). Dalam aa.15-16 Paulus menerima perbedaan tingkat kedewasaan (“sempurna” berarti dewasa dalam konteks a.15). Yang penting bukan apa yang telah tercapai (itulah cara hukum) melainkan arah hidup yang ingin mengenal Kristus.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Filipi tidak mundur dengan jatuh ke dalam cara kebenaran diri sendiri melainkan maju di dalam pengenalan akan Kristus. Orang di Filipi diperhadapkan dengan Taurat sebagai cara untuk mamasang hal-hal lahiriah sebagai bukti nyata dari status sebagai anggota umat Allah. Reformasi melihat bahwa hal-hal gerejawi dapat berfungsi demikian juga. Orang mengandalkan status sebagai pastor atau biarawan, persembahan yang dianggap membeli pengurangan waktu di api penyucian untuk yang telah meninggal, atau kehadiran dalam ritus-ritus seperti misa, sebagai hal-hal nyata untuk membuktikan kelayakan sebagai anggota jemaat. Tetapi gereja-gereja reformatoris tidak luput dari masalah itu. Begitu sebuah gereja menjadi mapan, orang akan mencari hal-hal nyata yang menjadi andalan sebagai ganti mengenal Kristus. Hal itu selalu ada kemunduran, sedangkan Kristus yang mulia jauh lebih layak menjadi landasan dan tujuan hidup orang percaya.

Makna

Pembenaran oleh iman mengandaikan konteks pengadilan. Kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah/Kristus pada akhir zaman (Rom 14:10; 2 Kor 5:10). Dasar pengadilan itu adalah perbuatan, apakah orang mencari kemuliaan atau kepentingan diri sendiri (Rom 2:6-8). Dosa bisa berbentuk pemberhalaan (orang-orang kafir dalam Rom 1:18-25) atau kemunafikan (orang-orang Yahudi dalam Rom 2:17 dst). Pembenaran adalah keputusan “tidak bersalah” dari Hakim. Pembenaran oleh iman kepada Kristus berarti bahwa kematian Kristus yang dipercayai menjadi dasar keputusan “tidak bersalah” itu. Penting diamati bahwa selalu 3:10-11 menyusul 3:9, artinya, pembenaran dikaitkan dengan pertobatan, Yesus diterima sebagai Juruselamat dan juga sebagai Tuhan (kurios = tuan, penguasa). Tetapi perubahan hidup terjadi karena perubahan hati. Bagi Paulus, Yesus menjadi lebih mulia dari segala yang lain. Makanya, dia menerima penderitaan yang luar biasa dalam rangka pelayanan oleh karena persekutuan dengan Kristus yang ada di dalamnya.

Dalam gereja yang sudah mapan, ada banyak hal-hal lahiriah yang dapat membuat kita giat mendukung gereja itu, seperti Paulus dahulu. Kita memiliki surat baptisan dan sidi, sehingga dapat diberkati dan menerima surat nikah. Gereja Toraja (tempat saya melayani) adalah salah satu gereja suku, sehingga menjadi wadah untuk menyatakan kesukuan. Untuk warga gereja yang suka main aturan, tata gerejanya tebal dan—katanya—lebih mudah dimengerti daripada Alkitab. Kegiatan warganya memang bukan menganiaya, melainkan serangkaian kebaktian serta rapat, cukup untuk seseorang merasa bahwa dia berjasa untuk Tuhan. Di mana Kristus di dalam semuanya itu? Jika ditanya, Apakah tujuan hidup saudara adalah memperoleh Kristus?, berapa warga jemaat yang akan bingung saja? Tidak semua, puji Tuhan. Tetapi sebagai pelayan kita kadang-kadang kecolongan. Kita melihat kesibukan jemaat dan merasa puas, padahal akarnya belum tentu Kristus. (Perhatikan bahwa pola itu bukan kesalahan kemapanan gereja melainkan kesalahan orang-orang di dalamnya. Sukses selalu membawa bahaya pengandalan diri.)

Tentu, introspeksi itu harus mulai dengan diri sendiri. Dalam persiapan, saya tergelitik dengan frase “supaya memperoleh Kristus”. Dalam perikop ini, Paulus bukan teladan hidup etis melainkan teladan penerimaan anugerah yang mencetuskan tujuan baru, yaitu mengenal Kristus. Sejauh saya dapat menangkap ajaran Paulus, itulah intisari keteladanan Injili. Bukan, “lihatlah betapa baik hidup saya”, melainkan, “lihatlah betapa berharga Kristus”. Saya dapat membayangkan pengkhotbah yang mencari-cari penerapan “praktis” dari perikop ini, tetapi dampak dari perikop ini semestinya adalah penyegaran iman. Dengan demikian, banyak hal praktis akan dilakukan, tetapi atas dasar yang kokoh, yaitu karena Kristus lebih mulia dari segalanya.

Apa kemuliaan Kristus? Pertama, pengorbanan-Nya sehingga ada pembenaran oleh iman. Secara paradoks, pengorbanan itu menyangkut hal yang paling hina, yaitu mati pada salib (2:8). Tetapi, Kristus juga dibangkitkan dan diberi nama di atas segala nama (2:9). Paulus berjumpa dengan Dia dengan “tubuh-Nya yang mulia” itu (3:21). Jadi, ada dua segi, penderitaan dan kemuliaan. Pada hemat saya, hal yang paling sulit diterima dalam budaya apa pun adalah berita bahwa kedua segi itu tidak dapat dipisahkan. Yesus yang mulia sepadan dengan banyak konsep ilahi, seperti dewa pelindung atau leluhur yang menjadi ilahi dan membawa berkat. Tetapi bahwa Dia menunjukkan jalan ke sana itu melalui disalibkan—itulah yang tidak diterima banyak orang, termasuk orang Kristen. Tetapi apa lagi yang diharapkan—seperti kejujuran menghadapi korupsi, atau pelayanan yang merugikan pelayan—jika salib belum siap dipikul? Kemudian, untuk apa salib dipikul, kecuali untuk mengenal Kristus yang disalibkan itu?


Kejadian 49:1-18 Berkat melalui Sang Mesias [27 November 2011] (Adven I)

November 23, 2011

Adven adalah masa penantian. Kita merayakan kedatangan Kristus untuk pertama kalinya yang mendapatkan keselamatan bagi kita, dan menantikan kedatangan-Nya kembali untuk menyempurnakan keselamatan itu. Dalam perikop ini kita belajar bahwa kedatangan itu bukanlah rencana mendadak dari Tuhan.

Penggalian Teks

Menjelang wafatnya Yakub di Mesir (48:21), ke mana dia bersama dengan seluruh keturunannya pindah karena Yusuf berada di sana sebagai penguasa, Yakub memanggil anak-anaknya. Dalam a.1 dia berjanji akan menyampaikan petunjuk tentang masa depan mereka sebagai kepala suku. Urutannya Ruben (3-4), Simeon dan Lewi (5-7), Yehuda (8-12), Zebulon (13), Isakhar (14-15), yaitu anak-anak Yakub dari Lea, kemudian Dan (16-17), Gad (19), Asyer (20), Naftali (21), yaitu anak-anak Yakub dari kedua gundik, kemudian Yusuf (22-26) dan Benyamin (27), anak-anak Yakub dari Rahel. Di antara Dan dan Gad, Yakub mengucapkan harapan akan keselamatan (18). Dalam a.28 ucapan-ucapan ini disebut sebagai pemberkatan. Jika a.1 melihat ke depan, dan a.18 mengharapkan keselamatan, a.28 ini juga merujuk ke belakang. Berkat adalah tema besar dalam kitab Kejadian, mulai dengan penciptaan manusia (1:28) dan dilanjutkan sebagai puncak dari janji Allah kepada Abraham (12:3).

Jika disebut sebagai berkat, justru ketiga anak pertama, Ruben, Simeon dan Lewi, mendapat tegoran (lihat Kej 35:22 & Kejadian 34). Hanya mulai dengan Yehuda maka nada menjadi lebih positif pada umumnya. Jika dicermati, Yehuda mendapat porsi yang lebih panjang, hanya diungguli oleh porsi Yusuf (sama-sama lima ayat, tetapi agak lebih panjang untuk Yusuf). Pada Yusuf tema berkat menonjol—dialah yang menjadi saluran berkat bagi keturunan Yakub. Tetapi ternyata masa depan ada pada Yehuda. Dalam a.8, mimpi Yusuf bahwa saudara-saudaranya akan sujud kepadanya diterapkan kepada Yehuda. Dari Yehuda akan datang seorang raja yang bahkan bangsa-bangsa akan takluk kepadanya (10). Ada hal-hal lain yang juga disebutkan melalui anak-anak lainnya, seperti keadilan dari Dan (16). Tetapi ketika Yakub mengharapakan keselamatan sebagai wujud nyata berkat dari Tuhan, Yehuda adalah saluran utama.

Melihat secara terperinci, nas tentang Yehuda itu mencakup dua bagian. Aa.8-10 memaparkan kejayaannya. Dia akan dipuji oleh Israel, akan berjaya atas musuh, dan berkuasa atas Israel (8). Dia akan berjaya seperti singa yang ditakuti semua binatang tetapi tidak takut akan binatang apa saja; mungkin kenaikannya menyinggung Yerusalem (kota Daud) sebagai kota yang tinggi (9). A.10 jelas memaparkan harapan mesianis. Daud adalah awal dari Yehuda sebagai suku para raja Israel, dan ucapan “sampai dia datang yang berhak atasnya” mengandaikan seorang raja keturunan Daud lagi. Ketika raja itu datang, bangsa-bangsa akan takluk. Itulah cara mesianis bangsa-bangsa akan masuk ke dalam ranah berkat Israel, sesuai dengan Kej 12:3 tadi. Aa.11-12 menggambarkan kesejahteraannya. Dia akan memiliki begitu banyak pohon anggur sehingga dipakai untuk menambatkan keledainya, dan buahnya dipakai untuk mencuci (11). A.11b bisa juga merujuk pada kegiatan mengirik anggur, di mana baju pasti kena percikan anggur itu. A.12 versi LAI sepertinya menggambarkan bahwa dia akan minum anggur dan susu sepuasnya; tafsiran lain (seperti sebagian versi modern bahasa Inggris) mengaitkan warna mata dan giginya dengan warna anggur dan susu.

Maksud bagi Pembaca

Bagi Israel, selain memberi petunjuk tentang setiap suku, perikop ini menempatkan raja Daud, atau kemudian Mesias, sebagai saluran keselamatan bagi Israel. Masa depan umat Allah sebagai saluran berkat terjamin karena kedatangan singa dari suku Yehuda. Respons umat Allah ditunjukkan dalam a.18, yaitu menanti-nantikan keselamatan dari Tuhan.

Makna

Berkat Allah terjamin akan mengalir melalui keturunan Abraham, sesuai dengan janji Allah kepada Abraham. Yakub adalah penerima berkat itu—dia sekeluarga sedang menikmati kelimpahan di tanah Mesir oleh karena Yusuf—dan dalam pesan terakhir ini dia meneruskan berkat itu kepada generasi berikut sebagai asal-usul keduabelas suku Israel. Harapan akan keselamatan itu terwujud berulang kali. Ketika ada firaun yang tidak lagi mengenal Yusuf, Allah menyelamatkan Israel dari Mesir. Ketika Israel terpuruk dan tertekan di bawah para hakim, Allah mengangkat para raja, khususnya raja Daud, dari suku Yehuda, yang di bawahnya Israel mengalami kesejahteraan yang besar (2 Sam 7:1). Beberapa kali lagi ada raja yang bisa memulihkan keadaan Israel, seperti Hizkia dan Yosia. Sejak Yehuda dibuang pada abad ke-6, mereka tidak pernah merdeka secara politik, bahkan ketika mereka kembali dari pembuangan, seperti diceritakan dalam kitab Ezra dan Nehemia. Maka muncullah harapan mesianis, yakni bahwa nubuatan Yakub yang sudah berulangkali digenapi (dan diteguhkan oleh berbagai nubuatan para nabi, seperti Yesaya 9 & 11; Mikha 5 dsb) akan digenapi satu kali lagi.

PB ternyata berbagi dalam harapan Yakub ini, dan memahami bahwa singa dari suku Yehuda itu Kristus. Adalah penting untuk diamati bagaimana tema kejayaan itu ditafsir ulang. Dalam Why 5:5-6, singa dari suku Yehuda itu ternyata tampak sebagai “seekor Anak Domba seperti telah disembelih”. Bandingkan Mk 8:29-31 (“Engkau adalah Mesias…Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan”); PB selalu memadukan Mesias yang berjaya dengan Hamba yang menderita. Hal itu dapat dilihat jika kita melihat setiap pernyataan dalam Kej 49:8-12 dalam terang Kristus. Kepada Yesus ada pujian dan sujud dari keduabelas suku Israel dalam wujud murid-murid Yesus, setelah Dia mengalahkan dosa dan maut pada penyaliban dan kebangkitan-Nya (8). Dia telah mematahkan musuh-musuh itu dan naik ke sebelah kanan Allah (Yerusalem sorgawi) untuk menikmati kerajaan-Nya (9). Dari situ bangsa-bangsa ditaklukkan melalui pemberitaan Injil yang mengundang semua manusia untuk menjadi murid Yesus (10). Ketika Dia mau masuk ke Yerusalem (Mk 11:1-11), Yesus merujuk pada Zak 9:9 yang sepertinya sudah menafsir kembali soal keledai dari Kej 49:11 sebagai kelemahlembutan (ada kombinasi kata dalam Zak 9:9 dan Kej 49:11 yang hanya terdapat pada kedua ayat itu dalam seluruh PL). Soal minum anggur menjadi cara Yesus menjangkau orang-orang berdosa dalam Luk 7:34. Kejayaan Kristus tidak dikurangi (Dia mengirik anggur dalam rangka penghukuman di Why 19:15), tetapi caranya melalui penderitaan dan kerendahan.

Jadi, bagi kita sekarang, janji Allah dalam pernyataan Yakub ini makin teguh. Kristus telah datang, telah memperlihatkan Kerajaan Allah dalam pelayanan-Nya, dan telah bangkit dari antara orang mati. Tidak ada alasan untuk ragu-ragu bahwa Dia akan datang kembali untuk menyempurnakan berkat yang telah Dia datangkan bagi kita. Itulah pesan Adven yang khas. Sejauh mana janji itu menjadi harapan utama kita, kehidupan kita akan bersifat penantian. Penantian itu tidak pasif tetapi aktif: kita giat membawa berkat karena kita adalah bagian dari pengaliran berkat sama seperti Yakub.

Namun, saya dapat membayangkan ada pelayan yang mengambil tema pengharapan dan berbicara tentang berbagai harapan sementara: harapan sembuh, harapan anak lulus ujian dsb. Mengapa? Karena konon orang Toraja berpikir “praktis” dan tidak mau pusing dengan harapan yang muluk-muluk. Peduli amat jika Tuhan akan meyelamatkan dunia suatu kelak, yang penting bagaimana hasil panen tahun ini. Sejauh mana pengamatan itu benar, dapat dikaitkan dengan padangan siklis, yaitu bahwa manusia lahir untuk mati dan menjadi sumber berkat bagi keturunannya. Hal itu mungkin juga diperkuat oleh banyaknya janji yang muluk-muluk dari para calon orang besar. Bagaimana memberitakan harapan Adven kepada orang yang berpandangan wajar saja seperti ini? Dalam yang berikut pikiran saya ditolong oleh beberapa rekan yang kepadanya saya mengajukan pertanyaan itu.

Perhatikan bahwa kita tetap berbicara tentang berkat (dalam rangka perikop yang sebenarnya, yaitu sampai 49:28, meskipun uraian tentang berkat terdapat di luar batas bacaan yang ditentukan). PL juga melihat berkat dalam rangka ternak, panen, dan keturunan. Tetapi makin lama makin diperhatikan bahwa berkat itu rawan. Tahun ini panen bagus, tahun berikut belum tentu. Lebih lagi ketika ketidakadilan menjadi pengalaman umum dalam kerajaan Israel yang justru makmur; orang miskin yang tidak bersalah menderita karena keserakahan orang kaya, dan orang benar rugi jika mempertanyakan keadaan itu. Jadi, jika suatu pengharapan atau cita-cita disebut duniawi, hal itu belum tentu berarti salah, tetapi sudah pasti berarti sementara dan terbatas. Hal-hal itu adalah fondasi yang sangat lemah untuk bertahan dalam kesusahan yang melanda semua orang.

Sebaliknya, dalam Kristus ada janji berkat yang kokoh dan pasti. Ketika Dia datang kembali, semua yang melawan Kerajaan-Nya akan lenyap (nasib Ruben dan Simeon menjadi peringatan di sini karena mereka kehilangan berkat karena dosanya, tetapi menarik bahwa Lewi yang kemudian menjadi suku imam karena Pinehas [Bil 25:12-13] menunjukkan bahwa penolakan itu bukan takdir tetapi selalu ada kesempatan untuk bertobat), dan kita akan mengalami kesejahteraan yang tak terbatas. Janji itu kokoh karena berulangkali Allah menggenapinya kepada Israel, dan penggenapan terakhir adalah kebangkitan Yesus, buah sulung dari pembaruan seluruh dunia. Ketika kita mengalami berkat-berkat sementara, kita dapat menikmatinya sebagai cicipan dari berkat kekal itu. Ketika kita mengalami kesusahan, kita dapat bertahan dalam pengharapan, sambil bersukacita karena tetap ada cikal bakal dunia mendatang, yaitu pengampunan di dalam Kristus, penyertaan Allah, dan persekutuan gerejawi di dalam Roh Kudus.

Kiranya kita menanti-nantikan keselamatan itu, bukan hal-hal yang terbatas saja.


Daniel 12:1-4 “Yang akan bercahaya itu orang-orang bijaksana” [25 September 2011]

September 20, 2011

Nas ini dari satu segi sederhana: jadilah orang bijaksana karena itulah masa depan menurut Allah. Tetapi Daniel adalah kitab yang kaya tentang rencana Allah, jadi saya mencoba untuk menempatkannya dalam konteks rencana Allah itu.

Penggalian Teks

Daniel membayangkan serangkaian kerajaan yang akhirnya diganti dengan kerajaan kekal, yakni, kerajaan Allah. Daniel 7 menguraikan harapan itu, tetapi pp.8-11 mengisahkan masa-masa pergumulan saja. Perikop kita akhirnya menunjukkan bagaimana caranya Allah mendatangkan kerajaan-Nya.

Penglihatan yang di dalamnya nas kita termasuk mulai pada awal p.10. Waktunya tahun ketiga pemerintahan Koresh, yaitu, dua tahun setelah rombongan pertama kembali dari pembuangan ke tanah Israel (Ezra 1). P.10 menunjukkan bahwa di balik peristiwa-peristiwa dunia ada kuasa-kuasa yang lain, termasuk Mikhael, disebut sebagai “seorang pemimpin terkemuka” tetapi ternyata malaikat seperti malaikat yang berbicara kepada Daniel (mungkin Gabriel, 9:21). Malaikat Mikhael itu membela orang-orang Israel. P.11 menggambarkan sejarah di bawah kuasa orang Yunani (10:20), yaitu anak-anak Aleksander Agung yang saling merebutkan kerajaannya. Sejarah itu berpuncak pada suatu masa yang sangat sulit, yang di dalamnya orang-orang bijaksana akan teruji sampai tewas (11:33), dan akan ada raja penghujat (11:36).

Perikop kita merupakan puncak dari pergumulan itu. Dalam a.1 ada sesuatu dari bahasa aslinya yang berguna. Mikhael, yang disebut dalam p.10, “berdiri” (harfiahnya). Dia disebut kembali sebagai pemimpin yang besar, dan tugasnya disebut sebagai “berdiri di atas” bangsa Daniel (‘am, kata yang dipakai untuk bangsa Israel). Terjemahan LAI menangkap maksudnya, tetapi bahwa kata yang sama dipakai lebih memperlihatkan bahwa Mikhael muncul dalam rangka membantu Israel yang sedang tertekan. Tekanan itu disebut sebagai kesesakan terdahsyat sejak ada bangsa (goy, kata yang dipakai untuk bangsa-bangsa secara umum). Mengapa sejak Kejadian 10 (adanya bangsa-bangsa), bukan Kejadian 1 (penciptaan dunia)? Mungkin air bah (Kejadian 6) lebih dahsyat lagi, tetapi adalah lebih pokok bahwa kesesakan ini adalah masalah antar bangsa (itulah perspektif seluruh kitab Daniel). Namun, bangsa Daniel (‘am) akan luput. Yang luput lebih diperjelas sebagai orang yang namanya tertulis dalam Kitab. Dalam Kel 32:32-33 Musa dan Allah merujuk pada suatu Kitab yang sepertinya memuat nama-nama orang yang diterima Allah. Dalam konteks itu Musa sedang berseru kepada Allah untuk mengampuni umat-Nya yang baru membuat anak lembu emas. Jadi, Kitab itu menjadi suatu petunjuk bahwa tidak semua anggota bangsa Israel diterima Allah. Karena akhir Daniel 11 baru saja berbicara tentang orang Israel yang setia dan yang tidak, hal itu juga dimaksud di sini—bangsa Israel, yaitu, mereka yang setia kepada Allah.

Tetapi bagaimana dikatakan mereka akan luput jika dalam p.11 sudah jelas ada orang setia yang meninggal? Hal itu juga adalah pertanyaan dari p.7. Kerajaan Allah akan berdiri, tetapi bagaimana dengan orang-orang yang sudah mati sebelumnya? Aa.2-3 memberi jawaban. Fokus dalam ayat-ayat ini, pada hemat saya, adalah pembalikan nasib, sehingga hanya “banyak” yang bangun, bukan semua seperti dalam PB. Satu kelompok akan mendapat hidup yang kekal, yaitu mendapat bagian dalam kerajaan Allah. Satu kelompok lagi akan mendapat kehinaan. Yang mendapat hidup yang kekal termasuk orang-orang bijaksana yang telah mati syahid dalam 11:33, yang juga digambarkan sebagai orang-orang yang menuntun orang lain kepada kebenaran (a.3). Mereka dulunya dihina tetapi sekarang mendapat kemuliaan yang sangat. Yang mendapat kehinaan dalam a.2b pasti termasuk yang dulunya menghina orang-orang bijak ini.

Daniel disuruh untuk memeteraikan Kitabnya sampai pada akhir zaman (a.4; bdk. 8:26, yang menunjukkan bahwa yang dimeteraikan adalah penglihatan-penglihatan Daniel, bukan Kitab nama-nama orang). Meterai dipakai oleh juru tulis sebagai bukti bahwa apa yang telah ditulis tidak diubah lagi. Akan ada saatnya Kitab ini dibuka lagi dan banyak diteliti.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini mendorong pembaca untuk tetap menempuh jalan hikmat dan kebenaran, sekalipun dihina atau dibunuh, karena kehinaan sekarang akan diganti dengan kemuliaan ketika kerajaan Allah terwujud.

Makna

Kebangkitan muncul sebagai jawaban terhadap pertanyaan tentang janji Allah. Tulisan apokaliptik seperti kitab Daniel menekankan bahwa dunia ini rusak, dan hanya campur tangan Allah yang akan memulihkannya dengan pendirinya kerajaan Allah. Tetapi jika Allah adalah Allah Abraham, Ishak dan Yakub, apakah mereka tidak mendapat bagian dalam kerajaan itu? Termasuk orang-orang bijaksana yang menuntun sesama kepada kebenaran dan yang setia sampai mati? Jika dalam Dan 12:2 belum tegas bahwa semua akan dibangkitkan, dalam PB hal itu menjadi jelas. Semua akan bangkit, dan keputusan Allah tentang setiap orang seringkali akan bertentangan dengan penilaian manusia, lebih lagi manusia yang dikendalikan oleh kepentingan.

PB juga memperjelas caranya. Kristus boleh dikatakan membuka kembali kitab Daniel yang dimeteraikan, sehingga kita menyelidikinya dalam terang baru. Anak Manusia telah bangkit, dimuliakan dan berkuasa di sorga (bdk. p.7), sehingga kerajaan Allah sudah datang di dalam-Nya, tetapi kebangkitan semua yang lain masih ditunggu. Yang namanya tertulis dalam Kitab itu bukan hanya dari bangsa Israel tetapi semua yang bergabung dengan Anak Manusia itu, yakni semua yang percaya kepada Kristus. Mereka luput bukan dari pergumulan sekarang, melainkan dari kehinaan kekal. Jika neraka sering digambarkan sebagai tempat penyiksaan, ayat ini dapat memperjelas bahwa siksaan itu muncul dari dalam, merupakan kesadaran akan hidup yang dibuang dengan menyelepekan atau membelakangi Allah Mahapengasih dan Mahapengampun (bdk. p.9). Sedangkan yang selamat itu mendapat kemuliaan besar. Jika Dan 12:3 dikaitkan dengan Why 21:23, Allah dan Kristus menggantikan matahari dan bulan, sedangkan umat-Nya menggantikan bintang-bintang. Dalam Kej 1:14-18 penerang-penerang itu berkuasa atas waktu dan ruang ciptaan, dan Dan 7:27 sudah menyebutkan pemerintahan umat Allah. Yang tertindas menjadi penguasa dunia baru.

Harapan itu mendorong kita untuk menempuh jalan hikmat dan kebenaran. Bagaimana? Dengan membongkar pemahaman dunia tentang status. Dalam kitab Daniel, merujuk pada banyak pengalaman bangsa Israel dianiaya, yang ditindas belum tentu dihukum Allah. Dalam konteks kita, konsep yang menjunjung tinggi pendidikan, kekayaan, dan jabatan akan dibongkar. Yang berpendidikan belum tentu yang bijaksana, yang kaya belum tentu menuntun orang kepada kebenaran, yang memiliki jabatan tinggi sering menjadi penindas. Mereka yang dianggap bercahaya sekarang, tetapi Allah akan menyingkapkan status mereka yang sebenarnya pada kebangkitan pada akhir zaman. Sebaliknya, jika kita setia pada jalan hikmat walaupun diejek orang banyak, kita bisa yakin bahwa Allah akan menyingkapkan hal itu juga.


Luk 24:44-49 Meneruskan pelayanan Yesus

Mei 16, 2011

Injil Lukas memberi perhatian pada soal bukti tentang kebangkitan Kristus. Dalam 24:36-43 Dia harus membuktikan bahwa Dia bukan hantu (apakah mereka mengira hantu itu datang untuk membalas dendam terhadap pengkhianatan mereka?) melainkan darah dan daging. Tetapi lebih penting lagi adalah membuktikan bahwa apa yang terjadi sesuai dengan tujuan Allah mengutus-Nya, bahwa Dia tidak hanya orang yang sama tetapi juga memiliki misi yang sama.

Dia mulai dengan mengingatkan mereka bahwa sebenarnya Dia sudah memberitahu bahwa Dia harus mati dan bangkit (9:22). Salah satu kata kunci di sini adalah kata “harus” (dei), yang dalam Injil-Injil merujuk pada rencana Allah. Yesus “harus” di rumah Bapa-Nya (2:49). Dia “harus” memberitakan Kerajaan Allah di kota-kota yang lain (4:43). Tetapi kata kunci itu juga terkait dengan kata “tertulis”. Rencana Allah bukan hal yang baru muncul dengan Yesus tetapi sudah tertuang dalam PL. Dalam a.44 Yesus merujuk pada ketiga bagian Alkitab dalam pembagian orang Yahudi, yakni kitab Taurat Musa (Kejadian-Ulangan), kitab nabi-nabi (Yosua-2 Raja-raja dan Yesaya-Maleakhi) dan kitab Mazmur (sebagai kitab pertama dari semua kitab yang lain).

Yang disampaikan dalam seluruh PL adalah pertama-tama penderitaan dan kebangkitan Mesias (a.46). Memang, dalam PL ada konsep yang jelas tentang seorang raja yang akan muncul menggenapi janji Allah kepada Daud bahwa akan ada keturunan Daud di takhta Israel selama-lamanya (2 Sam 7:12-16). Buku-buku sejarah, nabi-nabi dan Mazmur semua sering menyinggung konsep ini, dan Taurat dalam beberapa aspek melihat ke depan ke raja Daud, seperti nubuatan tentang Yehuda dalam Kej 49:10. Tetapi jika kita melihat bahwa Mesias adalah wakil umat Allah, maka riwayat Yesus menjadi jelas. Dalam kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus melaksanakan pembuangan dan kebangkitan Israel. Yesaya 53 menyatakan hal itu dengan paling jelas, tetapi pasal itu sesuai dengan apa yang tersirat lebih luas. Bahkan Taurat melihat pembuangan dan pemulihan Israel, terutama dalam Ulangan 28-30, termasuk janji akan hati yang baru (Ul 30:6). Jadi, selain menggenapi beberapa nubuatan Mesianis, Yesus menggenapi seluruh nasib umat Allah sebagai wakil umat manusia. Dia mengikuti manusia ke dalam ranah maut—keterpisahan dari Allah—supaya Dia bisa merintis jalan ke ranah hidup dalam kebangkitan-Nya.

Jika Mesias diperlakukan demikian, apa respons manusia terhadap hal itu? Dalam beberapa nabi, khususnya Yes 40-66, pelayanan hamba adalah dasar pengampunan bagi umat Allah (mis. Yes 40:2). Bangsa-bangsa sebagai tujuan juga jelas dalam seluruh Alkitab. Semua bangsa akan diberkati dalam Abraham; banyak nabi melihat berkat bagi semua bangsa (mis. Am 9:12); Mazmur juga sering menyerukan semua bangsa untuk memuji nama Tuhan (mis. 117). Perhatian Allah bagi semua bangsa bukan sesuatu yang dimulai dengan Yesus, tetapi berakar dalam pemahaman tentang Allah sebagai Pencipta semesta alam. Menurut Lukas 4:16dst pelayanan Yesus memiliki dasar yang sama, yaitu sebagai hamba Tuhan sesuai Yesaya 61. Yerusalem sebagai titik tolak pemberitaan dapat dilihat dalam Yes 2:1-4, dan juga Yesaya 60, 62, di sekitar Yesaya 61 itu.

Begitulah kerangka pemahaman yang disampaikan oleh Yesus kepada mereka, yang menunjukkan bahwa Yesus yang ada di depan mereka adalah hamba Tuhan yang memberitakan kabar baik kepada orang miskin sejak awal pelayanan-Nya (Luk 4:18). Yesus membuka pikiran mereka akan rencana Allah dalam seluruh PL (a.45), tetapi juga mengingatkan mereka bahwa mereka menjadi saksi bahwa rencana Allah itu terwujud dalam Yesus. Dia akan pergi, tetapi mereka akan meneruskan pelayanan Yesus dengan berita tentang puncak dari pelayanan-Nya, yakni kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam hal itu mereka tidak akan sendirian. Sama seperti Yesus dikuasai oleh Roh Kudus, mereka juga akan menerima kekuasaan dari tempat tinggi.

Kita bukan saksi mata sama seperti mereka, tetapi perintah Yesus tentang perlunya memberitakan pertobatan dan pengampunan tidak dikaitkan dengan kesaksian mereka melainkan dengan adanya bangsa-bangsa yang belum mendengar. Jadi, dua hal dapat menghalangi gereja meneruskan kesaksian para murid itu. Yang pertama, jika pikiran belum dibuka untuk melihat bahwa pemberitaan Kristus mewujudkan rencana Allah bagi bangsa-bangsa, kita akan malas merepotkan diri dengan misi ke luar. Pertobatan dan pengampunan sepertinya sepadan dengan baptisan dan pengajaran dalam Mt 28:19-20, saluran berkat bagi bangsa-bangsa. Yang kedua, kalaupun pikiran sudah dibuka, tanpa kekuasaan dari tempat tinggi, kita tidak dapat bertahan dalam misi itu. Roh Kudus yang akan menyertai para pemberita Kristus dalam Injil Lukas. Hal itu tidak bertentangan dengan penyertaan Kristus dalam Mt 28:20, karena Roh itu Roh Kristus. Dengan penyertaan Roh Kudus, sebagaimana dilihat dalam Kisah Para Rasul, pemberita Kristus akan meneruskan pelayanan Yesus sendiri.


Mt 28:1-10 Dari Kecemasan sampai Pengharapan

April 22, 2011

Kedua Maria pergi ke kubur Yesus dalam dunia yang kita kenal, yaitu dunia yang di dalamnya kebenaran ditindas oleh kepentingan kuasa dan pengharapan hanya mengecewakan. Dalam dunia seperti ini, tinggal tindakan-tindakan kecil yang masih bermakna, seperti menengok kubur pemimpin rohani kekasih yang sudah menjadi korban dunia itu. Berbuat baik dalam dunia seperti ini sulit dipertahankan, karena kebaikannya lenyap dalam kegelapan, seperti dilambangkan oleh kegelapan yang meliputi bumi sambil Yesus di atas salib (27:44). Memang Matius sudah melaporkan dua petunjuk bahwa Yesus justru telah berhasil menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka, tetapi perempuan-perempuan itu belum tahu—yang satu terjadi di dalam Bait Allah, yang satu terjadi setelah kebangkitan Yesus.

Tetapi mereka pergi ke kubur menjelang menyingsingnya fajar (a.1) pada hari pertama, seakan-akan kita ada pada hari pertama penciptaan menunggu Allah berfirman, “Jadilah terang”. Dan itulah yang terjadi. Matius tidak memakai ketegangan seperti ketiga Injil yang lain, sehingga dia melewatkan bagian di mana penengok kubur melihat dulu kubur yang kosong baru diberitahu oleh malaikat (pedoman Gereja Toraja memuat penguraian tentang perbedaan-perbedaan antara keempat Injil soal kebangkitan Yesus). Dia langsung menceritakan suatu pertunjukan yang hebat dari Allah, lengkap dengan kuasa dan terang (aa.2-3). Dengan demikian, keadaan tiba-tiba terbalik. Para penjaga, wakil kepentingan-kepentingan yang membunuh Yesus, tidak dapat bicara lagi dan malah tergolong dengan orang mati (a.4). Sebagai lawan dan musuh Yesus, kebangkitan Yesus bukan kabar baik. (Jika kita melihat 28:16-20, satu hal yang menarik ialah bahwa kepada musuh Yesus ditawarkan kesempatan untuk bertobat, bukan pembalasan langsung.) Yang berada dan yang hidup adalah kedua perempuan itu, dan mereka tidak usah takut karena mereka tergolong orang yang mau menemukan Yesus, bukan meniadakan Dia (a.5).

Namun, mereka takut. Mengapa? Mereka mencari Yesus yang disalibkan, bukan yang telah bangkit; mereka lupa bahwa Dia sudah mengatakan bahwa Dia akan bangkit. Matius memperlihatkan suatu ironi di sini. Musuh-musuh Yesus mengingat pemberitahuan Yesus itu (27:63), tetapi teman-teman-Nya tidak. Namun, buktinya ada di depan mata mereka—tempat dia dibaringkan kosong (a.6). Jika sebagai Raja Israel Yesus harus mengalami pembuangan Israel dalam bentuk penghinaan dan kematian di kayu salib sebagai pengganti bagi orang berdosa, sekarang jelas bahwa Allah sudah menuntaskan proses keselamatan itu dengan membangkitkan Dia. Yesus masuk ke dalam ranah maut supaya semua yang bergabung dengan-Nya bisa dibawa keluar ke dalam hidup yang baru (bnd. Rom 6:4). Kegelapan sudah menjadi terang, kecemasan sudah dikalahkan oleh pengharapan baru: Allah tidak alpa dari dunia ini, tetapi sudah bertindak merintis pembaruannya dan menyelamatkan manusia di dalamnya. Makanya, mereka disuruh untuk mengabarkan berita itu kepada murid-murid Yesus, bahwa mereka dapat melihat Yesus kembali (a.7).

Mereka keluar dengan sukacita yang besar, dan semangat yang tinggi untuk mengabarkan berita ini, tetapi mengapa masih ada ketakutan (a.8)? Dugaan saya bahwa kita melihat bagaimana kecemasan itu sulit dilepaskan sepenuhnya. Kabar itu “too good to be true”, terlalu baik untuk dipercayai. Jangan sampai mereka dikecewakan kembali. Hanya dalam perjumpaan dengan Yesus, ketika mereka dapat memegang dan menyembah-Nya, berita tentang kebangkitan-Nya menjadi utuh. Pesan Yesus kepada mereka hanya ringkasan dari pesan malaikat, tetapi mereka mulai mengalami berkat utama dari kebangkitan, yaitu persekutuan dengan Yesus sendiri.

Dunia mereka tidak pernah sama lagi, dan jika kita menerima berita ini dan membiarkan diri berjumpa dengan Yesus, dunia kita juga tidak akan sama. Yesus adalah Raja Juruselamat: di dalam-Nya Allah sudah bertindak untuk memulihkan dunia ini, sehingga di tengah kegelapan yang teramat buruk ada pengharapan bahwa fajar mau menyingsing. Yesus adalah Bait Suci yang dibangun kembali: dengan kenaikan Yesus dan pengutusan Roh Kudus, kita semua bisa menyembah Yesus dan menikmati hadirat Allah langsung melalui-Nya. Tetapi, di manakah kita dalam cerita ini? Tentu bukan pada musuh Yesus. Tetapi apakah masih mencari Yesus yang disalibkan sehingga larut dalam kecemasan? Atau sudah menerima kabar kebangkitan-Nya, tetapi belum masuk hati sehingga plin-plan antara sukacita dengan kecemasan? Atau sudah bersekutu dengan Kristus sehingga siap memberitakan-Nya kepada orang lain?

Selamat merayakan harapan hari kebangkitan, dan persekutuan dengan Kristus yang telah bangkit.


Rom 10:9-15 Percaya dan mengaku

Oktober 4, 2010

Dalam salah satu renungan yang lalu saya menguraikan pemahaman saya tentang konteks perikop ini dalam Roma pp.9-11. Di tengah pembahasan tentang rencana Allah dalam penolakan Kristus oleh sebagian besar Israel, Paulus menjelaskan penerimaan dan penolakan Kristus dari perspektif manusia. Seperti dinubuatkan Musa (Rom 10:6-8, yang menjadi landasan untuk a.9 yang dimulai dengan kata “sebab”), pesan Injil tidaklah jauh dari manusia, dan hal itu diuraikan sampai pada akhir perikop kita. Jika hal itu menjadikan Israel pada zaman Paulus tanpa dalih (10:16 dst), lebih lagi kita yang hidup dalam kekristenan seperti anggota-anggota gereja. Makanya, kita mesti mempelajari jalan keselamatan yang di sini disampaikan secara ringkas oleh Paulus.

A.9 menyampaikan rumusan yang sederhana tetapi dalam. Cukup bagi seseorang untuk mengaku dan percaya. Pengakuan itu dilakukan dengan mulut, artinya di depan orang lain, dan isinya bahwa Yesus adalah Tuhan. Kata “Tuhan” dalam bahasa Yunani sama dengan kata “tuan” (kurios), dan merujuk pada kedudukan kita sebagai hamba-hamba Yesus. Dia adalah bos, kita adalah bawahan-Nya. Tetapi relasi hamba-tuan selalu timbal-balik, dalam artian bahwa seorang tuan tidak hanya menyuruh hambanya tetapi juga melindungi hambanya. Seorang hamba yang sejati akan setujuan dan senasib dengan tuannya. Mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan pada saat itu berarti bahwa Kristus dan bukan Kaisar (atau dewa-dewi yang lain) yang diharapkan untuk membawa keselamatan dalam dunia ini, dan bahwa Kristus bukan bos-bos manusia yang diharapkan untuk kesejahteraan hidup.

Tetapi selain mengaku Kristus sebagai bos tertinggi dalam kehidupan kita, juga dikatakan bahwa kita harus percaya dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Kristus. Perhatikan bahwa hal itu bukan soal percaya secara umum. Banyak orang dengan saleh mencoba mengandalkan Allah dalam pergumulan hidup, sekalipun mereka tidak tahu atau tidak percaya atau tidak peduli bahwa Kristus telah bangkit. Mengapa kebangkitan Kristus diangkat di sini?

Dalam a.10 Paulus menjelaskan bahwa hasil atau tujuan percaya ialah pembenaran. Ternyata dalam ayat ini keselamatan adalah tahap kedua yang mendasari pembenaran. Ayat ini menyimpulkan pembahasan Paulus dalam Roma p.4, tentang Abraham yang percaya pada janji Allah bahwa istrinya akan melahirkan seorang anak, lalu dibenarkan oleh iman itu. Dua hal tentang iman ditegaskan dalam perikop itu. Yang pertama, iman mengutamakan janji Allah di atas perbuatan manusia. Dalam Roma p.4 Paulus menegaskan bahwa yang mendasar bagi Abraham bukan hukum Taurat (atau bibitnya dalam hal sunat 4:10-11), melainkan janji Allah (4:13). Harus demikian, karena janji Allah bukan janji bersyarat atau janji akan suatu upah (4:4, 14). Seandainya janji Allah adalah janji bersyarat, maka kita semua akan gagal sehingga tidak ada harapan (4:15). Jadi, menurut Paulus iman adalah pertama-tama tentang janji Allah. Bagi Paulus, yang jauh lebih penting dari kadar ketaatan kita adalah kadar karya keselamatan Allah. Abraham percaya akan janji yang masih merupakan bibit dari penggenapannya dalam Kristus. Kita percaya bahwa puncaknya telah jadi dalam kebangkitan Kristus, yang membuktikan bahwa dosa telah ditebus dalam kematian-Nya dan maut telah dikalahkan.

Yang kedua, mengutamakan janji Allah berarti bahwa kita mengutamakan rencana Allah. Iman tidak berarti bahwa kita percaya bahwa Allah akan kasih stempel pada semua cita-cita dan harapan kita, tetapi berarti bahwa kita percaya bahwa rencana Allah yang berpusat pada Kristus akan terwujud. Percaya bahwa Kristus telah bangkit menyiratkan bahwa kita menginginkan apa yang dijanjikan Allah itu, yakni pelepasan dari dosa dan hidup kekal bersama dengan Allah. Hal-hal itulah yang diinginkan Allah untuk kita.

Paulus membuktikan kedua tahap itu dengan dua nas PL. Dalam a.11 dia mengutip Yes 28:16 yang sudah dikutip dalam Rom 9:33. Yes 28:16 berbicara tentang orang yang percaya kepada Allah sehingga tidak akan hancur ketika Allah menghukum Israel. Terkandung dalam hukuman Allah adalah rasa malu yang sangat, yaitu bahwa dosa kita diperlihatkan di depan umum. Semua dalih, bohong, dan penipuan kita akan ketahuan. Tetapi orang-orang yang percaya pada Allah tidak akan dipermalukan. Sebaliknya, karena dibenarkan oleh Allah dengan cuma-cuma, mereka terhitung sebagai umat-Nya, sebagai hamba Tuhan Yesus yang sejati dan layak dilindungi. Makanya, untuk semua macam orang yang percaya (a.12), Allah akan menyelamatkan mereka ketika mereka berseru kepada-Nya (a.13). Keselamatan itu terutama berarti keselamatan dari murka Allah sebagai akibat dari dosa kita (Rom 5:9), tetapi tidak lepas dari keselamatan dalam kehidupan ini (bnd. 2 Kor 1:9-11).

Jika keselamatan berdasarkan janji Allah yang luar biasa itu ditunjukkan untuk semua orang, bagaimana dengan orang-orang yang belum berjumpa dengan janji itu? Dalam aa.14-15 Paulus mengajukan dan menjawab pertanyaan itu. Berseru (sehingga diselamatkan) hanya munkin jika sudah percaya. Percaya hanya mungkin jika sudah mendengar tentang Kristus. Mengapa? Karena percaya berarti percaya bahwa Allah telah membangkitkan Kristus. Kebangkitan Kristus adalah peristiwa sejarah. Baik nalar maupun hati tidak bisa menjangkau peristiwa sejarah kecuali diberitahu. Budaya setempat bisa membawa banyak nilai Injili, tetapi tidak bisa memberitahu tentang kebangkitan Kristus. Makanya, perlu ada yang memberitakan Kristus. Siapa? Sama seperti Paulus dan Barnabas diutus (Kis 13:2-3), perlu ada yang diutus untuk membawa berita tentang Kristus kepada mereka yang belum mendengarnya. Dalam Rom 15:24 Paulus akan meminta dukungan mereka untuk dia melanjutkan misi itu.

Dalam perikop ini Paulus menjelaskan bagaimana semua orang, dari agama dan kelompok apapun, menerima keselamatan, yaitu dengan percaya pada karya dan rencana Allah yang berpuncak dalam kebangkitan Kristus sehingga mengandalkan Kristus sebagai Tuhan di depan umum. Jika perikop ini diberi judul “tidak sekadar percaya”, yang di atas percaya itu bukan perbuatan kita melainkan janji dan rencana Allah. Respons kita yang utama adalah percaya dan mengaku. Respons yang berikut adalah mengabarkan kabar baik itu.

Sebagai tambahan atau lampiran, mungkin ada dua pertanyaan yang perlu dijawab. 1) Apakah perbuatan baik tidak penting? Jawabannya: tetap penting, tetapi pentingnya diuraikan dalam Roma pp.6-8 dan pp.12-13, bukan dalam perikop kita. Berdisiplinlah menafsir teks yang ada! 2) Apakah semua orang yang tidak pernah terjangkau oleh pemberitaan Injil sudah pasti tidak selamat? Jawabannya: saya tidak tahu. Paulus menyampaikan logika iman Injili, yaitu bahwa kita harus percaya pada janji Allah, bukan pada bayangan kita, sehingga Kristus perlu diberitakan kepada semua. Bahwa Allah sedang menjangkau banyak orang di luar usaha-usaha lembaga kristiani tidak saya ragukan. Tetapi kita tidak bertindak atas pengandaian-pengandaian melainkan atas firman Allah yang jelas, yaitu indahnya kedatangan orang yang membawa kabar baik.


Gal 1:11-17 Pelajaran dari pertobatan Paulus

Juli 23, 2010

Dalam perikop ini Paulus menceritakan perubahan drastis yang terjadi ketika Kristus berjumpa dengan dia di jalan menuju ke Damsyik. Si penganiaya jemaat menjadi rasul yang mendiri-dirikan jemaat. Si pilar agama Yahudi memberitakan Mesias kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Perubahan itu begitu drastis sehingga kita bisa tertarik untuk menjadikannya sebagai pola pertobatan secara umum. Masalahnya, Paulus tidak mengangkat kisah hidupnya di sini sebagai contoh. Di beberapa tempat Paulus mengangkat berbagai aspek kehidupannya sebagai contoh (mis. 1 Kor 10:33), tetapi di sini dia mau membuktikan bahwa Injil yang dia beritakan berasal dari Allah. Hal itu penting oleh karena tempat Paulus dalam Kisah Agung Alkitab, dalam rencana Allah untuk menyelamatkan bangsa-bangsa. Jadi, kita perlu lebih dulu memahami tempat Paulus dalam rencana Allah, baru melacak relevansinya untuk kita.

Paulus dipanggil sebagai rasul kepada bangsa-bangsa (aa.15-16). Apa artinya seorang rasul? Dari argumentasi Paulus di sini, satu ciri seorang rasul ialah bahwa rasul tidak meneruskan tradisi melainkan menyampaikan penyataan baru tentang Kristus. Seperti disinggung Paulus dalam a.1, penyataan itu terkait dengan kebangkitan Kristus. Rasul-rasul yang lain menjadi rasul sebagai saksi kebangkitan Kristus; Paulus diperjumpakan dengan Kristus yang telah bangkit di jalan menuju ke Damsyik. Jadi, penyataan yang dimaksud bukan penyataan umum, seperti hikmat yang terdapat dalam setiap budaya dsb, melainkan penyataan khusus, tentang karya Allah dalam Yesus Kristus, puncak dari seluruh rencana keselamatan Allah.

Cerita Paulus di sini mengajar kita bahwa Injil bukan suatu filsafat yang dapat kita temukan sendiri, melainkan berita yang harus diberitahu. Kita dapat bersyukur bahwa Allah memanggil Paulus untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa, dan bahwa ada yang meneruskan pelayanan itu sampai Injil datang ke Australia dan Indonesia.

Paulus juga dipanggil di tengah giatnya sebagai penganut agama Yahudi. Agama Yahudi memiliki tempat yang khusus dalam rencana Allah. Dasarnya adalah Taurat dan seluruh PL yang dinyatakan Allah kepada Israel supaya Israel menunjukkan hidup yang sejati di bawah kerajaan Allah. Namun, Taurat itu tidak menghasilkan budaya yang baik, karena dilumpuhkan oleh dosa (3:21-22), sampai Kristus datang (3:23-24). Paulus sendiri membuktikan buruknya budaya Yahudi karena sebagai orang yang maju di dalamnya dia menganggap baik menganiaya jemaat-jemaat Kristus. Pertobatannya tidak membuktikan buruknya Taurat melainkan keberdosaan Paulus (serta angkatannya).

Budaya-budaya dunia pada umumnya tidak memiliki dasar sekuat Taurat, kecuali mau diklaim bahwa budaya Eropa didasarkan pada Injil. Tetapi budaya Eropa juga banyak menyatakan keberdosaan orang-orang Eropa, sama seperti semua budaya yang lain. Jadi, masalahnya bukan budaya (walaupun semua budaya ada segi buruknya) melainkan keberdosaan orangnya. Yang diperlukan adalah Injil, Injil tentang Kristus “yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita” (a.4).


Yoh 14:1-14 Jalan kepada Bapa

Mei 3, 2010

Kata Yesus, “Janganlah gelisah hatimu” (a.1). Padahal, besok Dia akan mati, dan Dia baru bernubuat bahwa Petrus akan menyangkal-Nya. Yoh pp.14-17 menunjukkan alasan-alasan Yesus mengapa murid-murid-Nya tidak perlu gelisah. Dalam perikop ini, yang disoroti adalah kepercayaan. “Percayalah kepada Allah, percayalah kepada-Ku.” Apa kaitannya antara percaya kepada Allah dengan percaya kepada Yesus? Hal itu yang diuraikan dalam perikop ini.

Yesus baru mengaitkan diri-Nya dengan Allah dalam rangka kemuliaan (Yoh 13:31-32). Anak Manusia (Yesus) akan dipermuliakan oleh Allah pada salib, dan Allah akan dipermuliakan dalam Yesus. Yesus juga memberitahu mereka bahwa Dia mau pergi ke tempat yang kepadanya mereka tidak bisa datang (13:33). Namun, dalam 13:36 dikatakan kepada Petrus bahwa kelak dia akan mengikuti Yesus ke sana. Tujuan dan jalan ke sana itu yang dibahas dalam bagian awal perikop ini (aa.2-6). Tujuan adalah “rumah Bapa” (a.2) atau dalam kata lain “Bapa” (a.6). Yesus pergi untuk menyediakan tempat di sana, dan Dia sendiri merupakan jalan ke sana. Cara-Nya menyediakan tempat tidak bisa lain dari salib yang segera akan Dia lalui. Cara-nya kembali dan membawa murid-murid-Nya diuraikan dalam aa.15dst, yakni dalam Roh Kudus. Jadi, jalan itu ditempuh dalam kehidupan sekarang; sebagai jalan kepada Bapa, Yesus adalah “kebenaran” dan “hidup”. Mengikuti Yesus berarti menemukan jalan hidup yang benar. Kita percaya kepada Allah sebagai tujuan, dan kepada Yesus sebagai jalan kepada tujuan itu.

Bagaimana Yesus berfungsi sebagai jalan? Jalan yang menuju ke desa belum tentu sama indahnya dengan desa itu. Tetapi Yesus tidak lain sifat-Nya dari Bapa-Nya. Dalam aa.7-9 Yesus menunjukkan eratnya hubungan antara Dia dengan Bapa-Nya. Mengenal Yesus adalah mengenal Bapa-Nya. Melihat Yesus adalah melihat Bapa-Nya. Hal itu terjadi karena Bapa di dalam Yesus dan Yesus di dalam Bapa. Yesus adalah Anak Tunggal Allah (monogenes theos) yang menyatakan Bapa (Yoh 1:18). Dia adalah jalan kepada Bapa sama seperti sinar adalah jalan untuk mengenal terang, atau perkataan (logos) adalah jalan untuk mengenal orang.

Agak sulit bagi murid-murid Yesus untuk menangkap maksud Yesus dan percaya, padahal sudah lama mereka bersama dengan-Nya. Oleh karena itu, Yesus kembali ke tema itu dalam aa.10-14. Semestinya mereka dapat melihat dalam perkataan dan pekerjaan Yesus bahwa Allah Bapa bergerak (a.10). Jika mereka tidak dapat langsung mempercayai perkataan Yesus, setidak-tidaknya pekerjaan Yesus dapat mereka percayai (a.11). Misalnya, dalam Yoh 5:19-20, Yesus sudah menyampaikan bahwa Dia mengerjakan apa yang ditunjukkan oleh Bapa-Nya, dan akan ada pekerjaan yang lebih besar, yakni membangkitkan orang mati. Dalam aa.29-30 pekerjaan itu dikaitkan dengan penghakiman terakhir: “semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya”. Tetapi, perkataan itu sudah dibuktikan ketika Yesus bersuara kepada Lazarus di dalam kuburannya dan dia hidup kembali (Yoh 11:43-44). Yesus mau supaya mereka percaya bahwa Dia di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia.

Tetapi Yesus juga mau supaya mereka percaya kepada-Nya, mengandalkan-Nya. Murid-murid Yesus juga akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berasal dari Allah Bapa dan memperlihatkan-Nya, termasuk yang lebih besar (a.12)—maksudnya, saya duga, menghidupkan kembali orang mati dengan memberitakan Yesus Sang Hidup. Mereka sanggup melakukan hal-hal itu karena berdoa kepada Yesus yang sudah pergi kepada Bapa-Nya (aa.13-14).

Ada dua kegelisahan yang dialamatkan dalam perikop ini. Yang satu menyangkut nasib kelak manusia, yang lainnya menyangkut kehidupan sehari-hari. Sudah ada tempat disediakan bagi kita bersama dengan Allah, dan sekarang ada kuasa melalui doa dalam nama Yesus untuk pergumulan hidup. Bukannya iman kristiani sekadar tentang hidup setelah mati, dan bukannya iman kristiani sekadar tentang perubahan moral/sosial sekarang.

Tetapi dua hal perlu diperhatikan, karena saya rasa banyak kepercayaan yang berurusan dengan kedua kegelisahan tadi. Yang pertama, kita percaya kepada Yesus karena Dialah yang menyatakan Allah, sehingga Dialah yang menjadi jalan kepada-Nya. Percaya kepada Allah tanpa percaya kepada Yesus adalah kerancuan. Salib dan kebangkitan Yesus membuktikan bahwa jalan itu sudah terbuka dan tujuan itu sudah terjamin. Yang kedua, kita mengandalkan Yesus bukan demi kepentingan kita melainkan demi kemuliaan Allah. Kita berdoa supaya pekerjaan-pekerjaan Allah, alias misi Allah, dapat terlaksana. Memang, misi Allah terlaksana di tengah kehidupan sehari-hari—di tengah rumah tangga, tempat kerja, pesta, sehingga tidak salah untuk berdoa tentang kebutuhan hidup. Tetapi jalan Yesus itu melalui salib, dan jalan itulah yang harus kita tempuh (bnd. Yoh 12:24-26). Belum tentu doa untuk luput dari jalan salib dapat dianggap doa dalam nama Yesus, walaupun nama itu tercantum ketika didoakan.


Yoh 19:16b-30 & 20:1-10 Kematian dan Kebangkitan

Maret 29, 2010

Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan pusat iman Kristiani. Peristiwa yang memiliki dua sisi ini memperjelas semua pemahaman gereja perdana tentang Allah dan kerajaan-Nya yang terdapat dalam PL, dan menjadi kerangka untuk teologi PB sendiri. Hal itu karena harapan PL tentang pemulihan dunia digenapi dalam kematian dan kebangkitan Kristus itu. Dalam kedua perikop kita (untuk Jumat Agung kemudian Paskah) soal penggenapan muncul dua kali. Yesus dimusuhi dan bangkit sesuai dengan isi Kitab Suci.

Soal Yesus dimusuhi muncul dengan kutipan dari Mzm 22:18 dalam Yoh 19:24 tentang pembagian pakaian Yesus. Dalam a.28 tentang Yesus haus, ayat 15 dari mazmur yang sama juga disinggung. Soal Yesus dibangkitkan sesuai dengan isi Kitab Suci muncul dalam Yoh 20:9. Tidak ada nas yang dikutip, tetapi mungkin Mazmur 22 masih dipikirkan (lihat juga posting ini). Dalam mazmur itu Daud membawa pergumulannya karena permusuhan dan kemudian pujiannya karena keselamatan dari tangan Tuhan. Yesus mengalami hal yang sama: dimusuhi musuh-musuh Allah, kemudian diselamatkan oleh Allah. Hanya, Yesus mengalaminya sampai mati dan dibangkitkan. Dia mencakup dan memaknai seluruh pengalaman PL tentang orang benar yang menderita dan dibenarkan Allah. Hal itu membawa keberanian bagi kita juga. Menderita karena kebenaran bukan pertanda kutuk, dan bukan alasan untuk malu. Kita juga dapat yakin akan pembenaran Allah, entah dalam kehidupan sekarang atau pada kebangkitan kelak.

Daud, tentu, menjadi raja Israel, dan menjadi contoh figur Mesias yang diharapkan kemudian. Kita mungkin akan membayangkan bahwa Yesus akan diakui sebagai raja ketika Dia sudah bangkit. Tetapi dalam kedua perikop ini kita melihat bahwa Yesus diakui sebagai raja ketika Dia disalibkan (Yoh 19:19-22). Pengakuan itu memang terjadi secara ironis. Pilatus mungkin hanya mau mengganggu orang Yahudi yang sudah berhasil membujuknya untuk menyalibkan Yesus. Tetapi yang tertulis di atas kayu salib itu benar. Yesus adalah raja Israel yang mengalahkan musuh-musuhnya, terutama dosa dan maut. Dia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh 1:29). Pada salib Dia ditinggikan, menjadi seperti ular Musa yang membawa pemulihan bagi setiap orang yang memandangnya (Yoh 3:14-15). Dia ditinggikan untuk menarik orang dari semua bangsa kepada-Nya (Yoh 12:23-33), dibantu (secara simbolis) oleh ketiga bahasa yang di dalamnya pengumuman itu tertulis. Ketika Dia mau mati, karya keselamatan-Nya sudah selesai (Yoh 19:30).

Jadi, kebangkitan Yesus pertama-tama berfungsi untuk membuktikan bahwa karya keselamatan Yesus memang terjadi. Murid yang dikasihi Yesus “melihat dan percaya” (Yoh 20:8). Tanpa ada kebangkitan akan sulit percaya bahwa penyaliban Yesus lain dari ribuan penyaliban yang lain yang terjadi pada zaman itu. Jadi, kebangkitan tidak bisa dilepaskan dari penyaliban. Sebagaimana dilihat dalam narasi selanjutnya, Yesus yang bangkit masih menanggung bekas-bekas penyaliban-Nya. Percaya bahwa Dia bangkit menurut isi Kitab Suci adalah percaya bahwa Dia harus mati untuk keselamatan kita, dan bahwa kita harus siap menempuh jalan yang sama sebagai pengikut-Nya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.