Yes 32:15-20 Hasil dari pencurahan Roh Allah (20 Mei 2012)

Mei 19, 2012

Perikop ini berbicara tentang suatu harapan, dan beberapa nilai yang penting di tengah harapan itu. Jika cara saya menerangi hubungan antara kedua hal itu belum jelas, saya berharap Pembaca dapat menemukan cara yang lebih tepat (silakan dibagikan dalam komentar). Tetapi pemberitaan kita akan kurang jika salah satu unsur itu hilang.

Penggalian Teks

Perikop kita adalah lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya, yang berbicara tentang hukuman atas Israel, dilihat dari perspektif perempuan-perempuan yang hanya melihat ketenteraman di sekitarnya (32:9-14). Kota-kota tempat bergirang-girang akan menjadi kegirangan keledai hutan (32:13-14). Kemungkinan, peristiwa yang dirujuk di sini adalah penyerangan Sanherib pada tahun 701 SM, yang mengalahkan semua kota di Yudea kecuali Yerusalem (36:1). Meskipun Tuhan meluputkan Yerusalem, seperti telah disinggung dalam p.31 dan diceritakan secara terperinci dalam pp.36-37), akibatnya tetap berat. Perempuan-perempuan itu menganggap ada damai, tetapi kedamaian itu semu.

Mulai a.15, ada nubuatan tentang serangkaian peristiwa yang akan mengakhiri hukuman Allah (“sampai”) dan akan membawa damai yang sejati. Yang pertama ialah Roh dari atas, yang membawa pembaruan alam (a.15). Hal itu diiringi kebenaran dan keadilan (a.16, kedua hal itu dikaitkan dengan pembaruan pimpinan dalam 36:1), yang akan membawa damai sejahtera yang sejati (a.17) untuk seluruh umat Allah (a.18). Pemulihan alam dan pemulihan manusia berpadu untuk menciptakan damai sejahtera.

Kedua ayat berikut kurang jelas, tetapi mungkin terjemahan NIV yang cocok: “(19) Walaupun hutan akan runtuh dsb (20) namun berbahagialah kamu dsb”, artinya, di balik musibah yang akan terjadi di bawah Sanherib, Tuhan akan memberi Israel kelegaan. A.20 dapat dilihat sebagai keadaan yang bebas bahaya.

Maksud bagi Pembaca

Yesaya mau supaya Israel memahami sifat ketenteraman yang sejati, yaitu damai sejahtera (keadilan dan kebenaran serta pemulihan alam) yang disebabkan oleh karya Allah yang mencurahkan Roh-Nya.

Makna

Dalam PB, kedatangan Roh Kudus menjadi tanda bahwa zaman baru, yaitu, zaman keselamatan, sudah mulai. Tentu, tidak semua yang dijanjikan dalam perikop ini digenapi sekaligus. Pemulihan alam masih menunggu kebangkitan anak-anak Allah (Rom 8:21). Tetapi, pemulihan umat sudah mulai. Walaupun istilahnya tidak persis sama dalam bahasa aslinya, Ef 5:9 menyebutkan kebenaran dan keadilan sebagai buah terang, ciri jemaat yang telah dimeteraikan oleh Roh Kudus (Ef 1:13; Ef 4:30). Dalam harapan akan dunia baru (karena Roh Kudus adalah jaminan akan seluruhnya, Ef 1:14), kita hidup sekarang menurut dunia mendatang itu, yakni, dalam kebenaran dan keadilan. Dengan demikian ada damai sejahtera, yang dicicipi sekarang di dalam jemaat, dan yang akan dialami secara tuntas dalam dunia baru.

Sebagian orang tidak jauh dari perempuan-perempuan itu, terlalu puas karena tidak ada masalah yang besar, walaupun belum ada kebenaran yang jelas. Sebagian orang lain sadar akan kurangnya keadilan dan kebenaran, dan dapat melihat bahwa hal itu berdampak negatif pada kesejahteraan jemaat dan masyarakat. Namun, orang-orang itu menunggu “mereka” (pemerintah, pimipinan gereja, entah siapa lagi) untuk memperbaiki masalah itu, baru orang-orang itu akan berani ikut berlaku benar dan adil. Kondisi dunia yang belum tuntas dipulihkan menjadi dalih untuk hidup dalam kepentingan kelompok sendiri. Tetapi jika Allah sendiri telah mencurahkan Roh-Nya, zaman hidup menurut keadilan dan kebenaran ala perikop kita telah tiba. Yes 32:15-20 menggambarkan dunia baru untuk kita tangkap dengan mata iman supaya kita hidup di dalamnya.


2 Raj 4:1-7 Kepedulian Allah terhadap seorang janda (22 Apr 2012)

April 18, 2012

Cerita ini berbicara tentang seorang nabi yang menolong janda. Bisa saja kita terharu membaca cerita ini. Tetapi cerita ini juga adalah firman Allah. Dengan memperhatikan konteks dan latar belakang, kita dapat belajar tentang Allah dan kehendak-Nya bagi manusia.

Penggalian Teks

Elia dan Elisa dipakai Tuhan untuk memanggil Israel (khususnya kerajaan utara) kembali kepada Tuhan. Dalam pasal-pasal sebelumnya, kita melihat bagaimana raja Israel tidak mengandalkan Tuhan, ketika sakit (2 Raj 1:2), pun ketika dalam kesusahan (2 Raj 3:10). Padahal, sebagaimana dilihat dalam kemenangan tiga raja di p.3, Tuhan sangat layak diandalkan (3:18, “itu pun adalah perkara ringan di mata Tuhan”). Elisa adalah penerus Elia, dan dalam perikop ini, dia melakukan hal yang mirip dengan Elia dalam 1 Raja-raja 17. Selain kuasa Tuhan kelihatan dalam mujizat ini, kemungkinan juga ada perbandingan dengan raja-raja yang tidak hanya mengandalkan ilah yang lain, tetapi juga tidak mempedulikan orang kecil.

Jika janda di Sarfat yang dihadapi Elia dalam 1 Raj 17 berhadapan dengan kelaparan, janda dalam perikop kita berhadapan dengan penagih hutang (a.1), suatu pertanda adanya ketidakadilan. Dalam Imamat 25, harapan utama adalah kaum keluarga (khususnya, yang berperan sebagai penebus), tetapi selain itu ada dua cara untuk menghadapi hutang, yaitu, menjual tanah (Im 25:25) dan menjual dirinya, tetapi sebagai pekerja, bukan budak (Im 25:39-40). Raja-raja Israel yang menolak Tuhan juga menolak sistem Tuhan, sebagaimana Ahab mau mengambil kebun Nabot, walaupun bagi Nabot tanah itu adalah “milik pusaka nenek moyangku” (1 Raj 21:3). Janda dalam perikop kita mungkin sudah kehilangan tanah, sehingga tinggal anak-anaknya dijual. Hanya, mereka mau dibeli menjadi budak, pertanda bahwa sistem Tuhan tidak diberlakukan.

Lebih lagi, janda ini datang kepada Elisa, artinya, Elisa diharapkan berperan sebagai penebus, padahal tidak ada petunjuk bahwa dia adalah keluarga. Mungkin saja para nabi mengalami kerugian karena kesetiaannya kepada Tuhan, sehingga perlindungan keluarga tidak berfungsi seperti semestinya. Dengan demikian, sebagai janda, dia memang dalam kondisi yang paling rentan. Elisa menjadi cara Tuhan untuk membantu dia. Caranya mirip dengan Elia dalam 1 Raja-raja 17, hanya, karena menghadapi penagih hutang, kelimpahan ajaib harus terjadi langsung, bukan dicicil selama kelaparan. Tetapi, sama seperti janda di Sarfat itu, janda ini harus melakukan sesuatu yang menunjukkan imannya, yaitu, minta bejana-bejana banyak dari para tetangga. Mereka mengikuti petunjuk nabi sampai bejana habis. Baru pada saat itu, maksud nabi menjadi jelas, yaitu, minyak diuangkan untuk membayar hutang dan mendapat modal untuk hidup. Ternyata makin banyak bejana yang diambil dari tetangga, semakin banyak modal itu.

Maksud bagi Pembaca

Di dalam diri Elisa, nabi Allah, perikop ini menunjukkan perhatian dan kuasa Allah bagi orang miskin. Agak seperti mujizat Yesus, kita melihat sepintas lalu dunia yang semestinya dalam umat Allah, di mana janda pun dapat hidup bebas dari penindasan. Di dalam diri janda, kita melihat respons yang tepat terhadap firman Allah, yaitu, firman dipercayai walaupun belum masuk akal.

Makna

Perikop ini mulai dengan kematian seorang hamba Tuhan. Kematian itu kemudian mau merampas kedua anaknya, karena perbudakan termasuk ranah maut, bukan ranah hidup. Jadi, mujizat itu membawa keluarga dari ranah maut ke ranah hidup, seperti dikatakan dalam a.7. Maut sering bermuara pada kemiskinan, dan kemiskinan adalah bagian dari ranah maut, sesuatu yang akan dihapus dalam pembaruan dunia. Niat Tuhan itu sudah disampaikan dalam hukum Taurat, dalam bentuk tahun Yobel dsb. Tetapi karena manusia sudah gagal, Dia harus turun tangan bagi janda ini. Dia dapat turun tangan dalam pelayanan Yesus, Dia dapat turun tangan sekarang, dan pada akhir zaman Dia akan turun tangan untuk kali terakhir. Tetapi semestinya mujizat Tuhan tidak diperlukan, bila keadilan diterapkan oleh umat Tuhan.


Lk 23:44-24:12 Yesus Mati dan Bangkit

April 4, 2012

Jumat Agung dan Hari Kebangkitan tentu terjadi pada hari yang berbeda, tetapi pesannya saya gabungkan karena keduanya saling berkaitan. Pada kedua hari ini kita paling berdosa jika kita merampas kemuliaan karya Kristus dengan berbicara sedikit tentang apa yang telah Dia lakukan dan banyak tentang apa yang seharusnya kita lakukan. Tentu, karya Allah menuntut respons. Tetapi, jika pengkhotbah sudah memaparkan karya Allah ini dengan jelas, apakah kita perlu membujuk-bujuk jemaat untuk menerimanya? Andaikan saya bilang, “Ada kue coklat berlapis, pakai coklat Belgia yang paling lembut, dengan kopi Toraja kualitas ekspor”, apakah perlu ditambah dengan pembujukan, “Ayo masuk, masakan kamu malas mengambilnya, tidak menghargai kerja keras isteri? Tahu dirilah!”? Bukankah memberi tahu di mana kue itu adalah cukup sebagai penerapan? Pembujukan justru menyiratkan bahwa kue itu sebenarnya kurang enak, hanya akan dimakan jika dipaksakan. Sama halnya, pada hemat saya, jika karya Kristus sudah disampaikan dengan baik; tinggal menunjukkan bagaimana caranya diterima (yakni, dengan percaya). Jika jemaat harus dibujuk, berarti pengkhotbah sendiri belum terlalu yakin akan kemuliaan dan daya tarik Yesus. Ada yang tidak suka coklat; ada juga, yang disayangkan, yang tidak suka Yesus. Tetapi kita berkhotbah atas keyakinan sendiri, bukan keraguan orang.

Penggalian Teks

Tema yang kuat dalam ketiga Injil Sinoptik ialah bahwa Yesus mati sebagai ganti orang bersalah. Hal itu terjadi secara harafiah dengan Barabas, dan juga muncul dalam pernyataan ironis para pemimpin Yahudi, bahwa Yesus menyelamatkan orang lain tetapi tidak bisa menyelamatkan diri-Nya sendiri (23:35). Lukas menitikberatkan ketidakbersalahan Yesus itu. Dia menegaskan kejahatan Barabas yang dibebaskan sebagai ganti Yesus (23:25), dan pencuri yang bertobat juga menegaskan layaknya dia dihukum mati ketimbang Yesus (23:41).

Jadi, kegelapan yang meliputi bumi selama tiga jam (44) bukanlah karena Yesus bersalah. Yesaya 60:1, salah satu janji luar biasa tentang datangnya Kerajaan Allah, berbicara tentang terang dan kemuliaan yang akan terbit, sampai matahari dan bulan tidak pernah akan surut (Yes 60:20; kata “surut” di situ dan kata “tidak bersinar” dalam Luk 23:45 sama-sama menerjemahkan kata ekleipo). Tetapi kondisi sebelumnya adalah kegelapan (Yes 60:2), seperti dikatakan Yesus sendiri setelah ditangkap (Luk 22:53). Dunia sudah sampai nadir kegelapan ketika Anak Allah yang benar disalibkan oleh umat Allah sendiri.

Dalam rangka itu, Lukas menyebutkan tabir Bait Allah terbelah dua (23:45; Injil Matius dan Markus menempatkannya setelah Yesus mati). Ada macam-macam penafsiran terhadap peristiwa itu, termasuk bahwa hal itu menyimbolkan kesedihan Allah. Tetapi, jika kita melacak semua pemakaian kata “tabir” dalam PL (Keluaran-Bilangan dan 1 Raj 6:23 dalam rangka pembangunan Bait Allah di bawah Salomo), selalu fungsinya adalah menutupi tempat maha kudus (Kel 26:33). Jadi, tafsiran bahwa Yesus telah membuka jalan masuk ke dalam hadirat Allah, seperti diuraikan dalam Ibrani 9, adalah tepat.

Makanya, Yesus menyerahkan nyawa-Nya dengan mengutip Mzm 31:6, sebuah Mazmur Daud. Dia telah melakukan tugas-Nya sebagai Mesias (anak Daud), yaitu menyelamatkan orang lain dengan tidak menyelamatkan diri-Nya. Kedua ayat berikut (23:47-48) menceritakan tanggapan dua kelompok, yang kembali menegaskan kebenaran Yesus. Kepala pasukan, wakil Pilatus yang telah menyerahkan Yesus untuk disalibkan, mengaku bahwa Yesus adalah benar. Orang banyak memukul-mukul diri. Istilah yang dipakai di sini berarti memukul dada, suatu pertanda kesedihan yang dalam bagi orang Yahudi. Istilah itu hanya dipakai satu kali lagi dalam Injil Lukas, yaitu dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Luk 18:9-14). Pemungut cukai memukul dadanya karena dia begitu sadar akan dosanya. Dia pulang dengan dibenarkan Allah, sedangkan orang Farisi tidak. Jadi, bagi Lukas, Yesus telah mati sebagai pengganti orang berdosa seperti Barabas, dan semua yang mengaku bahwa Yesus adalah benar dan dia bersalah, dapat dibernarkan (dibebaskan seperti Barabas) dan masuk ke dalam hadirat Allah yang jalan masuknya dibuka oleh kematian Yesus.

Tentu, cerita Lukas belum selesai. Perempuan-perempuan dari Galilea menyaksikan kematian Yesus (23:49), dan juga di mana Dia dikuburkan (23:55). Merekalah yang pergi pada pagi hari Minggu untuk mempersiapkan mayat-Nya. Dalam apa yang diceritakan Lukas selanjutnya, kita melihat betapa para murid Yesus belum siap untuk menerima karya Allah. Mereka termangu-mangu (24:4), bahkan tidak mau percaya (24:11). Kebangkitan Yesus adalah kejutan yang besar, sangat di luar dugaan.

Maksud bagi Pembaca

Lukas mau membawa kita untuk merasakan kegelapan kematian Yesus dan kekejutan kebangkitan-Nya, supaya kita memahami bahwa di dalam kedua peristiwa ini, keselamatan telah datang bagi semua yang akhirnya bisa percaya pada karya Allah yang mengejutkan itu (termasuk orang-orang bukan Yahudi seperti kepala pasukan itu).

Makna

Yesus telah memakai Mzm 31:6, “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku” yang berlanjut, “Engkau membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia.” Bagi Daud, doa ini adalah doa untuk dihindarkan dari maut, tetapi bagi Yesus yang mau mati, doa ini mengharapkan kebangkitan. Perbedaannya antara doa Daud dan penerapan Yesus besar: jika satu orang (seperti Daud) luput dari maut, hanya nyawanya sendiri yang diselamatkan. Tetapi jika ada orang yang merintis jalan melalui dunia maut sampai ke kebangkitan, maka banyak orang yang dapat diselamatkan. Makanya, seperti diingatkan oleh kedua malaikat kepada perempuan-perempuan itu, Yesus telah mengatakan bahwa sebagai Anak Manusia Dia harus mati bagi dosa untuk dibangkitkan pada hari ketiga (24:7). Hari ketiga adalah hari penentuan nasib dalam PL (misalnya: Kej 42:18 tentang nasib saudara-saudara Yusuf; Kel 19:11, 16 tentang nasib Israel dengan Allah; 2 Raj 20:5 (Hizkia); Est 5:1). Khususnya, pada hari ketiga Israel mengharapkan kebangkitan dari hukuman Allah (Hos 6:2). Jadi, dengan dibangkitkan, Yesus sendiri dibenarkan oleh Allah, sehingga kita ikut dibenarkan di dalam Dia. Dengan demikian, kegelapan sudah diganti oleh terang.

Selamat memberitakan kabar baik ini!


1 Kor 5:1-13 “Pemurnian melalui pengucilan” (12 Feb 2012)

Februari 9, 2012

Disiplin gereja menjadi hal yang sangat sulit dalam dunia modern yang majemuk. Makanya, adalah penting untuk mengingat prinsip teologis yang ada di baliknya. Jemaat adalah bagian penting dalam rencana Allah, bahkan disebut tubuh Kristus. Jadi, pengucilan bukan suatu taktik praktis saja, melainkan salah satu cara kita bekerja sama dengan Allah. Sejauh mana hal itu belum ditangkap, disiplin gerejawi akan kacau dan rancu. Etika tanpa teologi adalah lumpuh.

Penggalian Teks

Jemaat di Korintus bermasalah karena mengikuti hikmat duniawi yang terpesona dengan keagungan dan tidak berpatokan pada salib. Oleh karena itu, lemahlah identitas mereka sebagai tubuh Kristus, bait Allah yang kudus (3:16-17). Makanya, Paulus bertanya apakah dia harus datang kepada mereka dengan cambuk (4:21). Perikop kita adalah yang pertama dari tiga perikop di mana Paulus mengangkat contoh-contoh konkret dari kelemahan itu, dan mengingatkan jemaat tentang kebenaran tentang Allah dan Kristus (alias teologi) yang diingkari oleh tingkah laku mereka. Mulai dengan 7:1 kita belajar bahwa ada surat dari jemaat yang menanyakan berbagai hal, tetapi ternyata hal-hal dalam pp.5-6 justru tidak mereka tanyakan. Memang, masalah dosa yang berat jarang disingkapkan oleh jemaat sendiri, tetapi informasinya diperoleh melalui orang lain.

Perkaranya tidak diperinci dalam a.1, karena tentu sudah diketahui jemaat. Tetapi, hubungan mesra dengan ibu atau ibu tiri sama saja dikecam berat oleh semua budaya pada zaman itu, sama seperti yang dikeluhkan oleh Paulus. Dalam aa.2-5 dia berbicara tentang tindakan yang semestinya terhadap orang berdosa itu, yaitu pengucilan. Hal itu demi kebaikan orang tersebut (a.5), tetapi juga demi kesucian jemaat (aa.6-8). Dalam aa.9-13 Paulus membedakan sikap terhadap orang yang mengaku sebagai saudara dan orang-orang di luar.

Jemaat di Korintus sombong, dalam artian, memiliki penilaian diri yang terlalu tinggi (a.2). Bisa saja Paulus merujuk ke sikap mereka secara umum, tetapi jika 6:12 (“Segala sesuatu halal bagiku”) adalah moto mereka, bisa juga mereka bangga bahwa mereka bebas dari larangan-larangan sempit khalayak ramai. Soalnya, hal yang dilarang budaya-budaya itu juga dilarang oleh Tuhan (Im 18:6-8). Sebaliknya, semestinya mereka berdukacita karena adanya dosa itu dan mengeluarkan orang tersebut dari persekutuan mereka. Dalam aa.3-5 Paulus melakukan proses itu walaupun dari jauh. Dia menyatakan hukumannya, dan menyuruh mereka untuk berkumpul, dengan dia seakan-akan hadir dalam roh. Tujuan pengucilan adalah “agar rohnya diselamatkan”. Dengan berada di luar persekutuan jemaat, diharapkan bahwa dia akan sadar bahwa tindakannya membuat dia sama dengan seorang durhaka, supaya dia bertobat. Dengan dibiarkan di dalam persekutuan jemaat, dia menganggap bahwa tindakannya baik-baik saja.

Tiadanya disiplin di jemaat juga akan menyampaikan pesan yang sama kepada anggota-anggota jemaat yang lain. Kembali dalam a.6 Paulus mengecam sikap mereka. Mereka bermegah atas sesuatu yang semestinya dianggap memalukan, sehingga seluruh jemaat terpengaruh. Kiasan ragi yang mengkhamiri seluruh adonan dikembangkan dalam aa.7-8 dalam kaitan dengan Paskah. Ketika mau keluar dari Mesir, orang Israel menyembelih domba Paskah, yang kemudian dimakan bersama dengan roti tidak beragi, karena terburu-buru. Ketika Paskah dirayakan, orang Israel harus membuang seluruh ragi yang ada selama tujuh hari (Kel 13:7). Kristus adalah domba Paskah kita, dosa adalah ragi, dan jemaat adalah roti yang semestinya tidak beragi itu, sehingga dosa harus dibuang. Dosa disimpulkan sebagai “keburukan” dan “kejahatan”, kedua kata ini (kakia dan poneria) masing-masing dapat berarti kejahatan atau maksud jahat (mau merugikan). Sikap yang sesuai dengan pengorbanan Kristus disimpulkan sebagai “kemurnian dan kebenaran”. Kata “kebenaran” adalah aletheia, yang di sini merujuk pada perkataan yang benar dan tidak munafik.

Dalam aa.9-11 Paulus meluruskan tafsiran mereka akan sesuatu yang pernah dia tulis kepada mereka. Orang di luar persekutuan adalah urusan Allah (a.13). Tetapi persekutuan harus bertanggung jawab atas orang-orang di dalam. Daftar hal yang mencemarkan jemaat lebih luas daripada percabulan saja. Dalam a.10 orang kikir (pleonektes) adalah orang yang ingin lebih, penipu (harpax, dipakai untuk serigala dalam Mt 7:15) adalah orang yang merampas harta orang lain; kedua kata itu menggambarkan kelompok yang sama. Dalam a.11 Paulus menyisipkan pemfitnah dan pemabuk ke dalam daftar tadi. Orang cabul merusak tatanan keluarga, orang kikir dan penipu merusak tatanan harta, penyembah berhala merusak tatanan rohani, pemfitnah dan pemabuk merusak tatanan sosial. Allah akan bertindak terhadap perusakan itu di luar jemaat, tetapi jemaat adalah tubuh Kristus yang telah disucikan, sehingga jemaat diberi wewenang dan tanggung jawab untuk bertindak terhadap perusakan itu di dalam jemaat.

Maksud bagi Pembaca

Dengan mengingatkan jemaat akan identitas mereka sebagai kelompok yang telah ditebus oleh Kristus, Paulus mau supaya mereka menjaga kemurnian jemaat dengan mengeluarkan orang yang dosanya mengancam jemaat, baik supaya orang berdosa itu bertobat, maupun supaya jemaat tidak terpengaruh. Dalam rangka itu, dia menegaskan wewenang mereka untuk mengambil keputusan, dan juga menguatkan pemahaman mereka tentang identitas jemaat.

Makna

Kata beberapa ahli bahwa pengucilan merupakan penerapan orang Yahudi terhadap perintah dalam Taurat untuk membunuh pelanggar berat. Hukuman itu jelas memiliki tujuan yang sama dengan tujuan kedua di atas, yaitu menjaga kekudusan umat Allah. Dilihat dari seluruh cerita Alkitab, artinya sama. Adam dan Hawa dikucilkan dari Eden; Isreal dikucilkan dari tanah Israel; kedua peristiwa itu ibarat kematian karena dijauhkan dari hadirat Allah. Hanya, dikucilkan masih memberi kesempatan bagi yang dihukum untuk bertobat dan diampuni.

Masalahnya bahwa sebagian jemaat yang jatuh ke dalam dosa tidak merasa berbahaya ketika dikucilkan, antara lain karena selalu ada denominasi yang lain tempat mereka dapat beragama (dan banyak yang tidak mau bertobat namun tetap mau beragama). Jika anggota jemaat di Korintus dikeluarkan dari persekutuan, tidak ada denominasi lain yang bisa dia ikuti. Jadi, konteks sekarang merongrong tujuan pertama pengucilan, yaitu pertobatan orang berdosa itu. Tetapi tujuan kedua, pengaruh pada jemaat, tetap berjalan. Masalahnya jika disiplin tidak pernah dijalankan (atau hanya pada hal-hal yang justru tidak pokok) ialah, jemaat menyimpulkan bahwa dosa tidak terlalu apa-apa. Sama seperti ketika pemerintah mengecam korupsi dengan keras tetapi ternyata yang mengecam itu juga terlibat, ajaran etis gereja dilihat sebagai sesuatu yang menyangkut penampilan saja, sesuatu yang idealis tetapi tidak realistis.

Mengapa sampai gereja begitu? Dalam individualisme Barat, individu adalah penentu utama nilai. Dalam pengertian itu, saya tidak berhak untuk mengatakan bahwa padanganmu itu salah, hanya bahwa pendirian saya berbeda. Dari satu segi, sikap itu berakar dalam Injil, karena Injil bermaksud untuk mengubah hati dan sikap, bukan sekadar memaksa penyesuaian dalam tingkah laku. Makanya, gereja hanya dapat bersaksi tentang nilai-nilai Injili, bukan memaksakannya kepada orang yang belum percaya kepada Yesus dan menerima kuasa Roh Kudus. Tetapi Allah memiliki visa tentang kemanusiaan yang sejati yang menentang berbagai bentuk kekacauan, seperti daftar Paulus tadi. Individu bukan penentu utama nilai. Jadi, adalah masalah besar ketika individualisme Barat yang ekstrim itu dibawa ke dalam gereja.

Tetapi bukankah Yesus sendiri melarang kita untuk menghakimi (Mt 7:1)? Dari ayat ini, ada yang menolak disiplin gerejawi dan bahkan menyimpulkan bahwa Allah tidak menghakimi. Jika maksudnya begitu, adalah jelas bahwa Paulus bertentangan dengan Yesus. Lebih lagi, Yesus sendiri jadi rancu, karena di beberapa ayat kemudian Dia “menghakimi” orang-orang tertentu sebagai nabi-nabi palsu (Mt 7:15), dan kemudian Dia berbicara tentang pengucilan melalui suatu proses di jemaat (Mt 18:15-20). Matius 18 menegaskan bahwa kemurnian jemaat penting bagi Yesus. Tetapi ada bahaya yang besar dalam menghakimi, yaitu kemunafikan (Mt 7:5). Kita harus sadar tentang dosa dalam diri kita dahulu, sebelum kita dapat melihat sesama dengan murni. Jika saya biasa memandang perempuan dengan tidak baik, saya akan menafsir semua pandangan laki-laki terhadap perempuan sama seperti saya. Jika saya adalah tukang gosip yang menjatuhkan, saya akan menafsir semua kritikan sebagai usaha untuk menjatuhkan. Tetapi jika saya telah mengeluarkan balok seperti itu dari mata saya dengan bertobat, maka saya dapat melihat dengan lebih jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudara saya (Mt 7:5). Dengan kata lain, menegor dosa dalam sesama adalah untuk membangun dia demi kemurnian jemaat, bukan untuk menutupi dosa dalam diri saya (dengan perhatian dialihkan kepada selumbar dalam mata orang lain, bukan baloknya dalam mata saya). Ajaran Yesus itu mau memurnikan disiplin gerejawi yang bertujuan untuk memurnikan, bukan meniadakannya.


1 Tim 3:14-16 “Gereja Tiang Kebenaran” (29 Jan 2012)

Januari 24, 2012

Kadangkala mengetahui bahasa aslinya berguna. Nas yang pendek ini adalah satu contoh. Terjemahan “kebenaran” tidak salah, hanya dengan mudah akan ditafsir lain dari maksudnya, lebih lagi jika konteks tidak diperhatikan. Bagaimanapun juga, nas ini menguatkan semua yang melayani di dalam gereja.

Penggalian Teks

Paulus menulis surat ini kepada Timotius untuk menguatkannya dalam tugas yang digambarkan dalam 1:3-7, yaitu, menghadapi berbagai ajaran sesat. Dalam rangka itu, Paulus memberi gambaran singkat tentang ibadah dalam jemaat (p.2), kemudian tentang sifat-sifat para pemimpin (p.3), kemudian tentang ajarannya sendiri dan respons Timotius terhadapnya (p.4). Perikop kita adalah sisipan yang menegaskan kembali dasar untuk nasihat Paulus (seperti juga dalam 1:15; 2:3-7).

Jadi, dalam aa.14-15a Paulus kembali berbicara tentang maksudnya menulis. Andaikan dia tidak berhalangan, Paulus akan memilih untuk langsung mengunjungi jemaat di Efesus. Menulis menjadi pengganti kehadirannya.

Yang dianggap pokok oleh Paulus disampaikan dalam aa.15: “bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah”. Frase itu memang menyimpulkan pp.2-3 tadi. Kata “keluarga” menerjemahkan kata oikos yang pada dasarnya berarti rumah, tetapi sudah dipakai dalam 3:4 & 12 untuk penghuni rumah, artinya, rumah tangga atau keluarga. Tetapi perlu diperhatikan bahwa maksud istilah oikos adalah orang-orang yang tinggal bersama, bukan keluarga besar yang mungkin tersebar. Jemaat pada saat itu masih berkumpul di rumah-rumah, tetapi bahasa “oikos Allah” berbicara lebih luas, tentang jemaat yang dalam rangka iman hidup bersama. Sebagaimana dilihat dalam 3:4 tadi, penilik berfungsi sebagai pemimpin (orang tua) dalam “rumah” jemaat itu.

Tentang oikos Allah itu, Paulus menambahkan dua deskripsi lagi. Yang pertama adalah “jemaat dari Allah yang hidup”. Kata “jemaat” (asli ekklesia) berarti sidang, dan justru berasal dari konteks sekuler (seperti Kis 19:39). Ekklesia Allah adalah orang-orang yang berkumpul di sekitar Allah dalam ibadah, seperti Israel berkumpul di sekitar Kemah Suci. Ekklesia itu berbeda dari sidang rakyat karena pusatnya adalah Allah yang hidup.

Oikos dan ekklesia Allah itu yang disebut “tiang penopang dan dasar kebenaran”. Kata “kebenaran” di sini menerjemahkan kata aletheia, apa yang sesungguhnya, bukan dikaiosune, tingkah laku yang benar. Dari a.16, jelas bahwa kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran tentang Kristus, kebenaran yang justru terancam oleh pengajar sesat. Jika keluarga dan jemaat itu kacau, kebenaran itu akan goyang atau runtuh. Tafsiran saya tentang maksud Paulus ialah bahwa kebenaran tentang Yesus itu menjadi kabur, baik di dalam jemaat maupun ke luar, sedangkan Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (2:4).

A.16 menyampaikan isi kebenaran itu. Kebenaran itu disebut sebagai rahasia yang agung. Bahasa “rahasia” dalam Ef 3:3 & 9 berarti sesuatu yang dulunya dirahasiakan tetapi sekarang dinyatakan. Rahasia itu menyangkut “ibadah”, artinya, bukan sekadar ibadah bersama tetapi bagaimana kita berhubungan dengan baik dengan Allah. Kuncinya adalah Kristus, Kristus yang menjadi manusia, dibangkitkan dan diterima di surga, diberitakan dan diimani di antara bangsa-bangsa, dan akan kembali dalam kemuliaan. Karena a.16 mengutip himne yang puitis, beberapa tafsiran tadi butuh penjelasan. “Menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia” merujuk pada seluruh pelayanan-Nya. “Rupa manusia” menerjemahkan kata daging, dan merujuk pada kemanusiaan-Nya yang sejati, bukan sekadar kemiripan. “Dibenarkan dalam Roh” paling jelas jika dibandingkan dengan Rom 1:4, “dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati”. Yesus dihukum oleh manusia, tetapi dalam kebangkitan-Nya oleh Roh Kudus Allah menyatakan bahwa Yesus yang benar, bukan Pilatus dan imam-imam Yahudi. “Menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat” agak kabur, tetapi cocok dengan kenaikan-Nya ke surga. Dengan demikian, kedua yang berikut juga terurut: setelah kenaikan Yesus diberitakan di antara bangsa-bangsa, dan pemberitaan itu menjadi cara orang percaya, karena “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rom 10:17). Pelayanan Timotius tentu terletak di sini. Jemaat adalah orang yang sudah mendengar dan percaya, dan pada gilirannya mau memberitakan Kristus supaya orang lain juga percaya. Dengan demikian, mengikuti urutan, “diangkat dalam kemuliaan” dikaitkan dengan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, di mana Dia akan dilihat dalam segala kemuliaan-Nya. Tidak semua penafsir sepaham, karena syair himne ini tidak selalu jelas. Tetapi yang dimaksud secara keseluruhan adalah bahwa kebenaran tentang Yesus yang memungkinkan kita menyembah Allah, dan kebenaran itu akan menjadi jelas ketika jemaat hidup sesuai dengan kebenaran itu. Dalam ayat-ayat berikutnya, Paulus langsung berbicara tentang ajaran sesat yang sedang mengancam jemaat di Efesus (p.4).

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya Timotius dikuatkan dalam tugas pelayanannya dengan mengingat tempat jemaat dalam rencana Allah sebagai penopang kebenaran yang agung tentang Kristus. Walaupun tugas kita tidak persis sama dengan Timotius, kita semua berperan dalam menguatkan atau melemahkan jemaat, sehingga kebenaran tentang Kristus menjadi lebih jelas atau lebih kabur.

Makna

Tidak kebetulan bahwa Paulus menempatkan pelayanan Titus di tengah riwayat karya Kristus. Kebenaran tentang Kristus bukan pertama-tama sebuah rumusan, misalnya tentang kasih Allah atau anugerah, melainkan pemberitahuan tentang apa yang telah dilakukan Allah di dalam Kristus. Dasarnya adalah inkarnasi, bahwa Kristus, Anak Allah, telah datang ke dalam dunia ini sebagai teladan dan saudara yang berbagi dalam pengalaman kita di dunia. Kemudian, ada dua pasangan. Yang pertama, Roh Kudus menyatakan bahwa Yesus benar, dan Dia disambut oleh malaikat-malaikat di surga. Yang kedua, berita kebangkitan disampaikan kepada bangsa-bangsa, dan diterima di dunia. Dengan demikian, Yesus dijunjung tinggi baik di surga maupun di bumi. Karena diterima di surga, kemuliaan Yesus tidak terancam oleh kekacauan jemaat, hanya, kebenaran itu akan menjadi kabur bagi bangsa-bangsa yang mendengar pemberitaan itu dari jemaat yang kacau.

Kembali, dari artian kata aslinya dan a.16, kebenaran di sini bukan “isi kehendak Allah” bagi manusia, melainkan berita tentang apa yang dilakukan Allah. Paulus di sini tidak mengklaim bahwa gereja adalah dasar keberesan masyarakat, tetapi bahwa gereja adalah dasar kejelasan kebenaran tentang Kristus bagi semua orang. Motivasi untuk perbaikan hidup di sini adalah bahwa kekacauan hidup mengaburkan berita itu, sesuatu yang tidak akan diinginkan jika kita mencintai Yesus dan mengagumi karya-Nya.

Kebenaran di sini juga bukan bahwa Allah memelihara hidup kita sehari-hari. Hal itu benar, tetapi di sini Paulus berbicara tentang Kristus dari inkarnasi sampai kedatangan kembali. Memang yang dilihat orang adalah kehidupan jemaat, tetapi hal itu hanya berguna kalau menunjuk kepada Kristus yang kita sembah.


3 Yohanes 1:5-8 Mendukung kebenaran [16 Oktober 2011]

Oktober 13, 2011

Si “penatua” yang menulis surat ini biasanya dianggap rasul Yohanes, karena gaya dan bahasa mirip dengan 1 & 2 Yohanes dan Injil Yohanes. Selain itu penatua ini memiliki wibawa yang jelas. Diduga bahwa rasul Yohanes pernah pindah ke Efesus di mana pelayanannya dapat berkembang dan berbuah di kawasan Asia kecil, yakni jemaat-jemaat seperti dalam Wahyu pp.2-3. Kemungkinan besar Gayus adalah anggota salah satu jemaat dalam wilayah pelayanan Yohanes itu. Dalam surat yang intim ini kita mendapat wawasan tentang beberapa nilai yang penting bagi Yohanes berdasarkan “kebenaran”, yaitu kebenaran Injil.

Penggalian Teks

Nas kita merupakan inti dari surat ini. Aa.1-4 sudah menyatakan sukacitanya jika anak-anak rohaninya hidup dalam kebenaran. Aa.5-8 menjelaskan apa yang dilakukan dan memberi pujian atas hal itu. Ada kelompok orang yang berkeliling ke berbagai daerah dalam rangka pelayanan tertentu (a.7 “karena nama-Nya”) dengan hanya mengandalkan orang-orang percaya. Di kota tempat Gayus tinggal mereka diterima oleh Gayus (a.5) dan diberi bantuan untuk melanjutkan perjalanan mereka (a.6a). Mereka kemudian sampai di jemaat si penatua (apakah karena memang berasal dari jemaat itu, artinya, mereka adalah utusan-utusan jemaat induk itu?) dan memberi kesaksian tentang penerimaan itu (a.6a).

Penerimaan Gayus itu disebut sebagai tindakan orang percaya (a.5) yang sangat tepat (a.6b, “baik benar”). Dalam a.8 penerimaan itu disebut sebagai kewajiban, karena dengan demikian kita mengambil bagian dalam pekerjaan mereka.

Maksud bagi Pembaca

Dari a.11, kita melihat bahwa penulis mau menguatkan Gayus dalam jalan yang baik. Tujuan itu diusahakan dengan memuji tindakannya berdasarkan prinsip kunci dalam a.8b, yaitu bahwa dengan menolong seseorang dalam pelayanannya yang baik kita mengambil bagian di dalamnya.

Makna

Kata kebenaran menerjemahkan aletheia dalam surat ini, bukan dikaiosune. Dikaiosune merujuk pada tindakan yang tepat, sedangkan aletheia merujuk pada apa yang sesuai dengan kenyataan. Kenyataan itu bisa sesuatu yang tersirat di balik apa yang kelihatan atau di bawah permukaan. Konsep tentang aletheia ada dalam semua budaya. Jadi, dalam budaya lama Toraja orang menganggap bahwa di balik penyakit atau hama ada pelanggaran yang perlu diungkapkan. Para filsuf Yunani mengklaim bahwa di balik dunia yang fana dan labil ini ada dunia ide yang kekal. Alkitab mengklaim bahwa di balik kekacauan dunia yang berpuncak dalam kematian Anak Allah Yesus Kristus ada kemenangan Allah yang diwujudkan dalam kebangkitan Kristus. Konsep kita tentang aletheia selalu berpengaruh pada tingkah laku kita, sehingga dalam a.3 penulis mengatakan, “engkau hidup dalam aletheia”, artinya, hidup sesuai dengan kenyataan yang diungkapkan oleh Injil Kristus.

Makanya, prinsip dalam a.8b bukan prinsip umum tentang memberi tumpangan bagi orang-orang dalam kesusahan melainkan mendukung orang yang berkerja bagi kebenaran Injil Kristus. (Menolong orang dalam kesusahan tentu adalah hal yang baik, hanya, bukan itu yang dibahas dalam surat ini.) Dengan memberi dukungan tertentu kepada orang-orang tertentu, kita mendukung apa yang mereka lakukan dan dengan demikian mendukung kebenaran (aletheia) yang mereka saksikan. Satu implikasi adalah bahwa tidak semua orang layak didukung. Dalam 2 Yoh 10-11 penulis yang sama justru melarang dukungan bagi penyesat, karena dengan demikian “ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat”.

Apa yang tergolong dukungan dan apa yang tidak ada unsur budaya di dalamnya. Andaikan ada pendeta dari aliran yang sesat mengikuti konferensi yang bersifat umum saja (misalnya, menyangkut penyakit sosial), ada tempat yang lebih baik bila tidak pernah makan semeja dengan dia karena akan dianggap mendukung, tetapi di tempat lain (seperti dunia Barat pada umumnya) makan semeja tidak mempunyai artian demikian dalam konteks seperti itu. Yang penting, kita mendukung (sesuai dengan budaya setempat) pelayanan yang sesuai dengan kebenaran Injil, dan tidak mendukung apa yang tidak. Tentu, membedakan yang mana sesuai dan yang mana tidak bisa saja kontroversial (rekomendasi dari pihak yang dipercaya dapat menolong, a.11). Kerumitan dalam hal itu tidak meniadakan prinsipnya. Tidak semua orang dapat melakukan pekerjaan Tuhan dalam segala aspek, tetapi kita dapat membantu orang-orang yang dipanggil, untuk menjadi pelayan, penginjil dsb.


Amsal 11:10-14 Mengapa masyarakat menyukai orang benar [7 Ag 2011]

Agustus 4, 2011

Penggalian Teks

Mulai pasal 10, amsal-amsal tidak tersusun secara sistematis. Hanya, seringkali ada hubungan antara amsal yang satu dengan amsal berikutnya, seperti kata kunci atau tema. Jadi, 11:9 berakhir dengan keselamatan orang benar, dan a.10 mengatakan bahwa hal itu menimbulkan keria-riaan. A.10 berbicara tentang tanggapan (rakyat) kota terhadap nasib orang, dan a.11 juga berbicara tentang kota, tetapi dalam rangka nasib kota sendiri. A.11 membandingkan dua cara bertutur, dan aa.12-14 merincikan kedua cara itu, dengan sorotan dalam a.14 tentang pentingnya kepemimpinan yang banyak mendengar. Jadi, setiap amsal dapat berdiri sendiri, tetapi seringkali ada tambahan makna jika dikaitkan dengan amsal-amsal di sekitarnya.

Analisis di atas menempatkan a.11 sebagai kuncinya. “Orang jujur” secara harfiah adalah “orang lurus”, yaitu orang yang caranya berelasi tidak berliku-liku. Apa yang mereka katakan membawa berkat bagi kota, sedangkan apa yang dikatakan orang fasik membawa banyak masalah. Orang fasiklah yang menghina sesamanya dan merusak nama orang dengan membuka rahasia, sehingga kota tidak lagi damai. Orang fasiklah yang menjadi pemimpin yang tidak mencari nasihat karena hanya kepentingan pribadi yang dikejar. Sebaliknya, orang jujur akan peka tentang waktunya berbicara, setia dalam menjaga rahasia, dan sebagai pemimpin terbuka pada nasihat orang lain. Semuanya itu menjelaskan mengapa rakyat begitu senang bila orang benar mujur dan orang fasik binasa (a.10).

Maksud bagi Pembaca

Kitab Amsal banyak memakai perbandingan antara orang benar dan orang fasik supaya kedua pola hidup dapat dilihat dengan jelas, dan pola yang baik dihayati. Dalam perikop ini kita melihat beberapa cara untuk membina pembaca. A.10 menyangkut tanggapan orang lain, yaitu dorongan sosial. Aa.11, 14, dan mungkin juga a.13 menyangkut akibat. A.12 langsung menyampaikan penilaian. Semestinya orang fasik yang mendengar amsal-amsal ini menjadi malu sendiri, sadar bahwa kebencian orang banyak terhadap gaya hidupnya searah dengan akibatnya dan juga dengan penilaian etis. Sedangkan orang benar semestinya dikuatkan untuk makin melakukan pola-pola yang baik.

Makna

Kitab Amsal mengungkapkan “bentuk etis” dunia ini, yaitu, cara hidup yang sesuai dengan hikmat yang dengannya Allah menciptakan dunia. Di balik perikop kita adalah bentuk sosial manusia (“kota”)—manusia sejahtera ketika bergabung dalam dunia. Orang fasik pada dasarnya egois dan tidak saleh, atau dengan kata lain, tidak peduli terhadap Allah atau sesama. Jadi, mereka mengancam kebersamaan itu. Malahan, mereka menjadi semacam parasit—mereka beruntung dari kota yang sejahtera, tetapi mengurangi kesejahteraan itu. Sebagai contoh, orang menjadi lurah, kepala sekolah dsb, untuk mengatur suatu bagian masyarakat. Jabatannya ada untuk tujuan itu, dan digaji karena fungsi itu penting. Ketika orang fasik menggunakannya untuk kepentingan lain, masyarakat rugi dua kali—gaji dibayar tetapi fungsinya tidak berjalan. Jika ada korupsi, runginya tiga kali! Perusahaan swasta yang diserang demikian akhirnya akan runtuh. Sayangnya, negara-negara yang kaya sumber daya alam terlindung dari akibat itu dalam jangka pendek. Namun, kefasikan tetap ada akibatnya dalam kinerja yang bobrok dan kuasa yang disalahgunakan. Sebaliknya, orang jujur searah dengan kebutuhan manusia untuk bekerja sama. Jika orang jujur menjabat, masyarakat tetap beruntung, karena manfaatnya jauh di atas gajinya.

Dalam negara “hukum positif” ini, perlu ditegaskan bahwa benar/fasik tidak sama dengan legal/tidak legal. Cara mengejar kepentingan diri yang paling ampuh ialah melalui jalur hukum, karena dengan demikian aparat negara akan mendukung usaha kita. Hukum yang kuat adalah berkat, tetapi bagi orang fasik bisa menjadi tantangan untuk menemukan cara yang lebih licik. Banyak kefasikan berada di luar jangkauan hukum, seperti yang digambarkan dalam aa.12-13.


2 Yoh 7-11 Menolak penyesat demi kasih

Mei 5, 2011

Ketegasan merupakan hal yang bisa sulit dalam budaya Indonesia. Makanya, nasihat dalam a.10 kedengaran keras: “janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya.” Tidak memberi salam adalah tindakan penolakan, padahal gereja akhir-akhir ini justru berupaya keras untuk membangun penerimaan. Apa maksudnya?

Bertolak dari informasi dalam beberapa tulisan bapa-bapa gereja pada abad kedua dst, Yohanes kemungkinan besar tinggal di Efesus di Asia Kecil, dan menjadi pemimpin rohani dari sekelompok jemaat di kawasan itu. Namun, sudah ada perpecahan dalam mazhab itu, sampai ada yang keluar. 1 Yoh 2:18-25 menggambarkan hal itu: ada kelompok yang keluar, yang tidak mengaku bahwa Yesus adalah Kristus. Dari beberapa tulisan yang lain dari zaman itu, hal itu bukan penyangkalan akan adanya Kristus, tetapi ajaran yang membedakan Yesus sebagai manusia biasa dari Kristus sebagai oknum ilahi yang turun ke atas-Nya, kemudian meninggalkan-Nya sebelum Dia disalibkan dan dibangkitkan, karena yang ilahi itu tidak bisa menderita. Jika demikian, mungkin maksud 2 Yoh 7 ialah bahwa pengajar sesat tidak mengaku bahwa Yesus adalah Kristus yang datang dalam tubuh yang riil (kata “manusia” menerjemahkan kata “sarks” yang berarti “daging”). Mungkin juga pengajar sesat yang keluar dari komunitas Yohanes itu yang datang ke komunitas “Ibu yang terpilih” (barangkali kiasan untuk sebuah jemaat). Bagaimanapun juga, yang dibayangkan dalam a.10 adalah orang yang datang mengaku sebagai pengajar yang membawa kebenaran Injil.

Salam dalam aa.1-3 menekankan kasih dan kebenaran (aletheia, “truth”, yaitu, merujuk pada ajaran yang benar, bukan tingkah laku yang baik). Kebenaran adalah kebenaran yang tinggal dalam kita dan menyertai kita (a.2). Jika dikaitkan dengan Yoh 14-16, kita melihat bahwa kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran di dalam Kristus. Kebenaran ini tidak hanya diketahui melainkan dikenal, dikenal dalam Kristus. Adanya pengenalan itu dilihat dalam kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Anak. Kasih karunia adalah sikap Allah yang berkenan kepada kita—bukan karena kelayakan kita tetapi karena Kristus. Rahmat Allah adalah pertolongan Allah kepada orang yang tidak berdaya. Oleh karena kasih karunia dan rahmat Allah maka kita mengenal damai sejahtera. Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera itu muncul dari pengenalan akan kebenaran, dan memungkinkan kasih yang sejati. Walaupun pokok surat ini adalah kebenaran yang terancam, dalam a.1 Yohanes menyebut kasih sebelum kebenaran, dan dalam a.3 dia menutup dengan kasih. Ancaman terhadap kebenaran adalah ancaman terhadap kasih yang sejati.

Dalam aa.4-6 penghubung antara kebenaran dan kasih adalah perintah Allah. Perintah itu bagian dari kebenaran, dan isinya adalah untuk saling mengasihi. Perintah itu baru ketika disampaikan Yesus tetapi tidak lagi baru. Yohanes bersukacita oleh karena bagian jemaat yang tetap berpegang pada kebenaran ini, walaupun ada yang juga sudah jatuh.

Dalam a.7 kita sampai pada pokok, yaitu ajaran yang mengancam kebenaran. Kelompok yang menyangkal kemanusiaan Yesus yang sejati dicap penyesat dan antikristus. Apa kaitan ajaran ini dengan kasih?

Yang pertama, jika orang percaya pada ajaran yang menyesatkan itu, mereka akan kehilangan upah mereka (a.8), atau dalam kata lain, mereka tidak lagi memiliki Allah (a.9). Jadi, kasih untuk jemaat menuntut bahwa ajaran itu ditentang.

Yang kedua, jika Kristus tidak datang sebagai manusia sejati, kasih Allah yang Dia nyatakan menjadi kasih yang terbatas, bukan kasih yang sampai pada menyerahkan nyawa-Nya bagi kita (bnd. 1 Yoh 4:10). Ajaran itu tidak lagi menjadi kebenaran yang akan memotivasi kasih yang tak terbatas kepada sesama (bnd. 1 Yoh 3:16).

Yang ketiga, ajaran itu mengandaikan bahwa tubuh itu kurang penting, atau malah jahat. Allah hanya mencari jiwa, bukan manusia yang seutuhnya. Wujud kasih berdasarkan kebenaran ini juga akan terbatas, bukan seperti yang diharapkan dalam 1 Yoh 3:17-18.

Oleh karena itu, Yohanes tidak mau supaya pengajar yang demikian diterima dalam konteks yang akan merestui kehadiran mereka sebagai pengajar (a.10). Yang ditolak bukan orangnya, melainkan ajarannya. Penolakan itu demi kasih, bukan langsung kepada orangnya sendiri, melainkan kepada jemaat yang terancam.

Dua hal perlu ditegaskan di sini. Yang pertama, ada yang terlalu cepat menolak siapa saja yang tidak setuju dengannya. Hal itu bukan maksudnya di sini. Ajaran sesat di sini menyangkut sesuatu yang mendasar, yakni siapa Kristus, bukan soal seperti baptisan anak atau gaya lagu yang dipakai. Yang ditolak adalah pembawa ajaran itu, bukan orang biasa dan bukan orang luar. Orang biasa yang pemikirannya kacau, dan perlu dibimbing, bukan ditolak. Orang luar juga perlu dikabari Kristus, bukan ditolak. Kedua kelompok ini tidak memiliki kedudukan sebagai pengajar resmi untuk mengacaukan jemaat.

Yang kedua, ada waktunya kita harus menolak penyesat demi kasih kepada jemaat. Masih ada beberapa aliran yang jelas melangkah keluar dari ajaran Kristus, seperti Saksi Jehovah. Jika ada tetangga atau rekan kerja yang demikian, maksud a.10 bukan untuk tidak pernah memberi salam atau menerimanya di dalam rumah selaku pribadi. Tetapi jika mereka diterima dalam acara KPI bersama, misalnya, hal itu bisa saja memberi legitimasi bahwa mereka hanya sebuah denominasi seperti yang lain. Bahkan di dalam gereja arus utama, sewaktu-waktu ada pengajar yang mau menyangkal hal-hal mendasar tentang siapakah Kristus. Di dunia Barat ada denominasi yang ajarannya sudah begitu melenceng sehingga agak sulit dikenali sebagai lembaga Kristen.

Namun, pada umumnya di Indonesia masalah utama bukan orang melangkah keluar dari ajaran Kristus, melainkan Kristen KTP yang belum melangkah dengan jelas ke dalam ajaran Kristus. Kebenaran belum sungguh tinggal di dalamnya. Jika penyesat perlu diperlakukan seperti dalam a.10, hal itu menunjukkan betapa penting dan berharga ajaran yang benar itu.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.