Kejadian 49:1-18 Berkat melalui Sang Mesias [27 November 2011] (Adven I)

November 23, 2011

Adven adalah masa penantian. Kita merayakan kedatangan Kristus untuk pertama kalinya yang mendapatkan keselamatan bagi kita, dan menantikan kedatangan-Nya kembali untuk menyempurnakan keselamatan itu. Dalam perikop ini kita belajar bahwa kedatangan itu bukanlah rencana mendadak dari Tuhan.

Penggalian Teks

Menjelang wafatnya Yakub di Mesir (48:21), ke mana dia bersama dengan seluruh keturunannya pindah karena Yusuf berada di sana sebagai penguasa, Yakub memanggil anak-anaknya. Dalam a.1 dia berjanji akan menyampaikan petunjuk tentang masa depan mereka sebagai kepala suku. Urutannya Ruben (3-4), Simeon dan Lewi (5-7), Yehuda (8-12), Zebulon (13), Isakhar (14-15), yaitu anak-anak Yakub dari Lea, kemudian Dan (16-17), Gad (19), Asyer (20), Naftali (21), yaitu anak-anak Yakub dari kedua gundik, kemudian Yusuf (22-26) dan Benyamin (27), anak-anak Yakub dari Rahel. Di antara Dan dan Gad, Yakub mengucapkan harapan akan keselamatan (18). Dalam a.28 ucapan-ucapan ini disebut sebagai pemberkatan. Jika a.1 melihat ke depan, dan a.18 mengharapkan keselamatan, a.28 ini juga merujuk ke belakang. Berkat adalah tema besar dalam kitab Kejadian, mulai dengan penciptaan manusia (1:28) dan dilanjutkan sebagai puncak dari janji Allah kepada Abraham (12:3).

Jika disebut sebagai berkat, justru ketiga anak pertama, Ruben, Simeon dan Lewi, mendapat tegoran (lihat Kej 35:22 & Kejadian 34). Hanya mulai dengan Yehuda maka nada menjadi lebih positif pada umumnya. Jika dicermati, Yehuda mendapat porsi yang lebih panjang, hanya diungguli oleh porsi Yusuf (sama-sama lima ayat, tetapi agak lebih panjang untuk Yusuf). Pada Yusuf tema berkat menonjol—dialah yang menjadi saluran berkat bagi keturunan Yakub. Tetapi ternyata masa depan ada pada Yehuda. Dalam a.8, mimpi Yusuf bahwa saudara-saudaranya akan sujud kepadanya diterapkan kepada Yehuda. Dari Yehuda akan datang seorang raja yang bahkan bangsa-bangsa akan takluk kepadanya (10). Ada hal-hal lain yang juga disebutkan melalui anak-anak lainnya, seperti keadilan dari Dan (16). Tetapi ketika Yakub mengharapakan keselamatan sebagai wujud nyata berkat dari Tuhan, Yehuda adalah saluran utama.

Melihat secara terperinci, nas tentang Yehuda itu mencakup dua bagian. Aa.8-10 memaparkan kejayaannya. Dia akan dipuji oleh Israel, akan berjaya atas musuh, dan berkuasa atas Israel (8). Dia akan berjaya seperti singa yang ditakuti semua binatang tetapi tidak takut akan binatang apa saja; mungkin kenaikannya menyinggung Yerusalem (kota Daud) sebagai kota yang tinggi (9). A.10 jelas memaparkan harapan mesianis. Daud adalah awal dari Yehuda sebagai suku para raja Israel, dan ucapan “sampai dia datang yang berhak atasnya” mengandaikan seorang raja keturunan Daud lagi. Ketika raja itu datang, bangsa-bangsa akan takluk. Itulah cara mesianis bangsa-bangsa akan masuk ke dalam ranah berkat Israel, sesuai dengan Kej 12:3 tadi. Aa.11-12 menggambarkan kesejahteraannya. Dia akan memiliki begitu banyak pohon anggur sehingga dipakai untuk menambatkan keledainya, dan buahnya dipakai untuk mencuci (11). A.11b bisa juga merujuk pada kegiatan mengirik anggur, di mana baju pasti kena percikan anggur itu. A.12 versi LAI sepertinya menggambarkan bahwa dia akan minum anggur dan susu sepuasnya; tafsiran lain (seperti sebagian versi modern bahasa Inggris) mengaitkan warna mata dan giginya dengan warna anggur dan susu.

Maksud bagi Pembaca

Bagi Israel, selain memberi petunjuk tentang setiap suku, perikop ini menempatkan raja Daud, atau kemudian Mesias, sebagai saluran keselamatan bagi Israel. Masa depan umat Allah sebagai saluran berkat terjamin karena kedatangan singa dari suku Yehuda. Respons umat Allah ditunjukkan dalam a.18, yaitu menanti-nantikan keselamatan dari Tuhan.

Makna

Berkat Allah terjamin akan mengalir melalui keturunan Abraham, sesuai dengan janji Allah kepada Abraham. Yakub adalah penerima berkat itu—dia sekeluarga sedang menikmati kelimpahan di tanah Mesir oleh karena Yusuf—dan dalam pesan terakhir ini dia meneruskan berkat itu kepada generasi berikut sebagai asal-usul keduabelas suku Israel. Harapan akan keselamatan itu terwujud berulang kali. Ketika ada firaun yang tidak lagi mengenal Yusuf, Allah menyelamatkan Israel dari Mesir. Ketika Israel terpuruk dan tertekan di bawah para hakim, Allah mengangkat para raja, khususnya raja Daud, dari suku Yehuda, yang di bawahnya Israel mengalami kesejahteraan yang besar (2 Sam 7:1). Beberapa kali lagi ada raja yang bisa memulihkan keadaan Israel, seperti Hizkia dan Yosia. Sejak Yehuda dibuang pada abad ke-6, mereka tidak pernah merdeka secara politik, bahkan ketika mereka kembali dari pembuangan, seperti diceritakan dalam kitab Ezra dan Nehemia. Maka muncullah harapan mesianis, yakni bahwa nubuatan Yakub yang sudah berulangkali digenapi (dan diteguhkan oleh berbagai nubuatan para nabi, seperti Yesaya 9 & 11; Mikha 5 dsb) akan digenapi satu kali lagi.

PB ternyata berbagi dalam harapan Yakub ini, dan memahami bahwa singa dari suku Yehuda itu Kristus. Adalah penting untuk diamati bagaimana tema kejayaan itu ditafsir ulang. Dalam Why 5:5-6, singa dari suku Yehuda itu ternyata tampak sebagai “seekor Anak Domba seperti telah disembelih”. Bandingkan Mk 8:29-31 (“Engkau adalah Mesias…Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan”); PB selalu memadukan Mesias yang berjaya dengan Hamba yang menderita. Hal itu dapat dilihat jika kita melihat setiap pernyataan dalam Kej 49:8-12 dalam terang Kristus. Kepada Yesus ada pujian dan sujud dari keduabelas suku Israel dalam wujud murid-murid Yesus, setelah Dia mengalahkan dosa dan maut pada penyaliban dan kebangkitan-Nya (8). Dia telah mematahkan musuh-musuh itu dan naik ke sebelah kanan Allah (Yerusalem sorgawi) untuk menikmati kerajaan-Nya (9). Dari situ bangsa-bangsa ditaklukkan melalui pemberitaan Injil yang mengundang semua manusia untuk menjadi murid Yesus (10). Ketika Dia mau masuk ke Yerusalem (Mk 11:1-11), Yesus merujuk pada Zak 9:9 yang sepertinya sudah menafsir kembali soal keledai dari Kej 49:11 sebagai kelemahlembutan (ada kombinasi kata dalam Zak 9:9 dan Kej 49:11 yang hanya terdapat pada kedua ayat itu dalam seluruh PL). Soal minum anggur menjadi cara Yesus menjangkau orang-orang berdosa dalam Luk 7:34. Kejayaan Kristus tidak dikurangi (Dia mengirik anggur dalam rangka penghukuman di Why 19:15), tetapi caranya melalui penderitaan dan kerendahan.

Jadi, bagi kita sekarang, janji Allah dalam pernyataan Yakub ini makin teguh. Kristus telah datang, telah memperlihatkan Kerajaan Allah dalam pelayanan-Nya, dan telah bangkit dari antara orang mati. Tidak ada alasan untuk ragu-ragu bahwa Dia akan datang kembali untuk menyempurnakan berkat yang telah Dia datangkan bagi kita. Itulah pesan Adven yang khas. Sejauh mana janji itu menjadi harapan utama kita, kehidupan kita akan bersifat penantian. Penantian itu tidak pasif tetapi aktif: kita giat membawa berkat karena kita adalah bagian dari pengaliran berkat sama seperti Yakub.

Namun, saya dapat membayangkan ada pelayan yang mengambil tema pengharapan dan berbicara tentang berbagai harapan sementara: harapan sembuh, harapan anak lulus ujian dsb. Mengapa? Karena konon orang Toraja berpikir “praktis” dan tidak mau pusing dengan harapan yang muluk-muluk. Peduli amat jika Tuhan akan meyelamatkan dunia suatu kelak, yang penting bagaimana hasil panen tahun ini. Sejauh mana pengamatan itu benar, dapat dikaitkan dengan padangan siklis, yaitu bahwa manusia lahir untuk mati dan menjadi sumber berkat bagi keturunannya. Hal itu mungkin juga diperkuat oleh banyaknya janji yang muluk-muluk dari para calon orang besar. Bagaimana memberitakan harapan Adven kepada orang yang berpandangan wajar saja seperti ini? Dalam yang berikut pikiran saya ditolong oleh beberapa rekan yang kepadanya saya mengajukan pertanyaan itu.

Perhatikan bahwa kita tetap berbicara tentang berkat (dalam rangka perikop yang sebenarnya, yaitu sampai 49:28, meskipun uraian tentang berkat terdapat di luar batas bacaan yang ditentukan). PL juga melihat berkat dalam rangka ternak, panen, dan keturunan. Tetapi makin lama makin diperhatikan bahwa berkat itu rawan. Tahun ini panen bagus, tahun berikut belum tentu. Lebih lagi ketika ketidakadilan menjadi pengalaman umum dalam kerajaan Israel yang justru makmur; orang miskin yang tidak bersalah menderita karena keserakahan orang kaya, dan orang benar rugi jika mempertanyakan keadaan itu. Jadi, jika suatu pengharapan atau cita-cita disebut duniawi, hal itu belum tentu berarti salah, tetapi sudah pasti berarti sementara dan terbatas. Hal-hal itu adalah fondasi yang sangat lemah untuk bertahan dalam kesusahan yang melanda semua orang.

Sebaliknya, dalam Kristus ada janji berkat yang kokoh dan pasti. Ketika Dia datang kembali, semua yang melawan Kerajaan-Nya akan lenyap (nasib Ruben dan Simeon menjadi peringatan di sini karena mereka kehilangan berkat karena dosanya, tetapi menarik bahwa Lewi yang kemudian menjadi suku imam karena Pinehas [Bil 25:12-13] menunjukkan bahwa penolakan itu bukan takdir tetapi selalu ada kesempatan untuk bertobat), dan kita akan mengalami kesejahteraan yang tak terbatas. Janji itu kokoh karena berulangkali Allah menggenapinya kepada Israel, dan penggenapan terakhir adalah kebangkitan Yesus, buah sulung dari pembaruan seluruh dunia. Ketika kita mengalami berkat-berkat sementara, kita dapat menikmatinya sebagai cicipan dari berkat kekal itu. Ketika kita mengalami kesusahan, kita dapat bertahan dalam pengharapan, sambil bersukacita karena tetap ada cikal bakal dunia mendatang, yaitu pengampunan di dalam Kristus, penyertaan Allah, dan persekutuan gerejawi di dalam Roh Kudus.

Kiranya kita menanti-nantikan keselamatan itu, bukan hal-hal yang terbatas saja.


Kej 16:1-6 Pencobaan mengenai janji Allah

Desember 4, 2008

“Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak.” (a.1) Pas sebelum ayat ini Tuhan telah mengadakan perjanjian dengan Abraham yang meneguhkan janji-janji-Nya semula, yaitu janji tanah, keturunan dan nama (Kej 12:1-3). Lebih lagi, janji keturunan diteguhkan pada 15:4-5 dan diterima Abraham dengan iman (15:6). Namun, imannya langsung teruji.

Soalnya, janji itu tinggal janji. Hal itu pasti pahit bagi Sarai. A.1 dengan lebih harfiah berbunyi, “Adapun Sarai…tidak melahirkan baginya” (maksudnya bagi Abraham). Sarai belum menjadi isteri seutuhnya. Biar ada janji Allah tentang masa depan, masa kini sudah ada rasa pahit. Untuk menguranginya, Sarai mengambil langkah yang mungkin saja masuk akal menurut budaya setempat. Namun, penutur cerita tidak menganggapnya baik. Perhatikan dalam a.1 dan a.3 bagaimana status mereka sebagai suami-isteri disebut-sebut. Hal itu bukan informasi baru melainkan tekanan. Yang tersirat dalam tekanan itu adalah bahwa Sarai sebagai isteri Abraham adalah yang cocok untuk menjadi sarana penggenapan janji keturunan itu, dan juga bahwa semestinya pernikahan itu dua orang saja (sesuai dengan Kej 2:24).

Lebih lagi, usaha Sarai disejajarkan dengan usaha Hawa. Baik Abraham maupun manusia (Adam) “mendengarkan perkataan” isterinya (3:17; 16:2). Kemudian, baik Hawa maupun Sarai “mengambil” dan “memberikan” kepada suaminya (3:6; 16:3). Baik Sarai maupun Abraham tergoda untuk mengandalkan usaha sendiri daripada menunggu janji Allah.

Tahu-tahu, usaha Sarai berhasil, dan justru membawa kepahitan yang dia takutkan. Hamba Sarai yang subur memandang rendah nyonyanya yang tidak. Bukan hanya itu, Sarai mempersalahkan Abraham, yang pada gilirannya mengizinkan perlakuan sewenang-wenang oleh Sarai kepada Hagar, yang kemudian melarikan diri. Hanya campur tangan Tuhan yang memperbaiki sikap Hagar (16:7-13) sehingga ada damai kembali.

Kadangkala kita berpikir tentang usaha yang tidak beriman seperti penipuan atau memakai jimat atau gosip yang menjatuhkan dalam rangka apakah mencapai tujuan mengurangi rasa pahit (seperti miskin, sakit, iri hati). Dan bisa saja berhasil dalam rangka itu, meskipun sering juga ada akibat yang pahit. Tetapi jika kita mau lebih mengenal Allah, maka jalan satu-satunya adalah beriman: menerima dan berharap akan janji Allah. Jalan yang lain merupakan pencobaan belaka.


Kej 21:8-21 Kasih dalam pengertian

Oktober 27, 2008

Abraham menyayangi Ismael (17:18), anak sulungnya. Namun, janji Allah yang digenapi dalam aa.1-7 dengan jelas menempatkan Ishak sebagai penerus perjanjian. Di sini Abraham langsung mengalami ketegangan antara rencana Allah dengan keinginan sendiri. Allah memakai kekurangan isterinya untuk menempatkannya kembali di jalan yang tepat.

Cinta Abraham akan Ismael tidak mengherankan, karena Ismael adalah anak sulungnya. Dari percakapannya dengan Allah dalam p.17, ada kesan bahwa sebenarnya Abraham sudah puas dengan lahirnya Ismael. Saralah yang begitu mendambakan seorang anak sendiri. Setelah Ishak lahir, semestinya Abraham bertindak untuk mengokohkan warisannya kepada Ishak. (Pembawa cerita seperti meneguhkan tempat Ishak dalam pemikiran pembaca dengan tidak menyebutkan nama Ismael sama sekali dalam cerita ini!) Tetapi seperti biasa dalam kitab Kejadian, Allah yang harus bekerja melalui kekurangan umat-Nya untuk menggenapi rencananya. Dia memakai Sara dalam hal ini. Sara melihat Ismael bermain dengan Ishak, tetapi kata itu dapat juga diterjemahkan mempermainkan. Bisa saja Ismael bermain baik-baik saja, tetapi Sara menafsirnya sebagai permainan, mengingat kesusahan masa lampau dengan Hagar atau membayangkan persaingan pada masa depan. Bagaimanapun juga, dalam sikap itu dia melihat sesuatu yang belum diakui oleh Abraham, yaitu bahwa pewarisan kepada Ishak harus dikokohkan. Abraham menyayangi Ismael sehingga usulan itu menyebalkannya, tetapi Allah justru mendukung keputusan Sara. Belum tentu Allah mendukung sikapnya, tetapi Dia sanggup bekerja melalui kekurangan manusia untuk menggenapi rencana-Nya.

Tentu, perasaan Abraham bukannya tanpa alasan, dan meskipun Allah memilih Ishak, Dia mengulangi janji bahwa Ismael juga akan menjadi bangsa (a.13), dan meneguhkan janji itu dengan menyertai Hagar (a.19), seperti dalam p.16. Janji itu sebenarnya sudah pernah disampaikan kepada Hagar (16:10) dan Abraham (17:20), dan akhirnya diulangi juga kepada Hagar (a.18). Abraham harus justru melepaskan Ismael supaya Ismael dapat mengalami berkat Allah itu. Kemudian, adanya Ismael dan kemudian Esau membuat Abraham menjadi bapak dari beberapa bangsa (17:6), yang menjadi petunjuk akan maksud Allah untuk memberkati semua bangsa.

Bahwa Abraham menerima pelajaran supaya jangan rasa sayang menghambat rencana Allah menjadi jelas dalam p.22, di mana Abraham taat ketika disuruh mempersembahkan Ishak. Bagi kita, saya rasa bahwa perasaan tidak tega menjadi penghambat ketika, misalnya, pimpinan tidak tega menindaki penjahat, ketika orang tua tidak tega melepaskan anaknya melayani Tuhan di tempat yang rawan, ketika pendeta tidak tega menyampaikan tegoran dari Allah. Allah sendiri tega. Dia tidak menyayangkan anak-Nya sendiri demi keselamatan dunia. Semoga dengan melihat peristiwa ini kita dikuatkan untuk memahami rencana Allah yang berpuncak pada Kristus itu, sehingga kita mampu mempertahankan pendirian yang tegas pada saatnya. Seperti yang didoakan Paulus, “semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian” (Fil 1:9). “Kasih dalam pengertian” yang dipelajari Abraham di sini.


Kej 17:1-14 Allah menjadi Allah kita

Oktober 2, 2008

Dalam perikop ini janji Allah kepada Abraham dipertegas. Janji Allah pertama-tama disampaikan kepada Abraham ketika dia dipanggil. Kemudian, setelah pernyataan bahwa Abraham dibenarkan karena percaya akan janji Allah (Kej 15:6) Allah mengadakan perjanjian sebagai bentuk hubungan janji dan iman yang sudah dibangun. Selalu janjilah yang pertama dan mendasar. Janji itu adalah respons Allah terhadap keberdosaan manusia yang merusak berkat dan kebaikan ciptaan Allah. Dalam perikop ini berkat itu muncul dalam bentuk beranak cucu (a.6, bnd. Kej 1:28) dan mendiami tanah (kata tanah dan kata bumi dalam 1:28 sama).

Dua hal ditambahkan di sini. Yang pertama ialah adanya raja-raja dalam keturunan Abraham. Hal itu tidak terlepas dari berkat Allah, karena manusia dibuat untuk berkuasa atas bumi (Kej 1:28) tetapi hal itu hancur juga setelah berdosa. Jadi seorang raja dapat memulihkan kuasa manusia itu. Janji raja-raja kemudian dikaitkan dengan keturunan Yehuda (Kej 49:10), yang tentunya digenapi dalam raja Daud, dan setelah kerajaan Israel hancur dalam pembuangan berkembang menjadi harapan Mesias. Kristus Sang Rajalah yang sekarang berkuasa sebagai wakil manusia (bnd. Ibr 2:6-9).

Yang kedua ialah sifat kekal perjanjian itu (a.8, 13). Sifat itu mungkin agak membingungkan jika kita memikirkan bahwa umat Allah tidak lagi terbatas pada tanah Kanaan (sekarang negara Israel di Timur Tengah) ataupun orang Yahudi. Tetapi kitab Wahyu justru membayangkan “suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” (Why 7:9), yang mendapat berkat yang tak terhitung dalam langit dan bumi yang baru (Why 21). Kristus tidak meniadakan janji-janji Allah. Hanya, kita sekarang—seperti Abraham sendiri—ada pada masa penantian. Kita tetap diberkati dengan keturunan—entah lahiriah maupun rohani—sambil menantikan penggenapan janji-janji itu.

Selain menyampaikan janji, perjanjian yang diadakan Allah di sini mengandung bentuk respons Abraham, khususnya sunat sebagai “tanda” (a.11) di dalam daging. Jika janji itu akhirnya menyangkut seluruh dunia, respons ini terkait dengan Israel sebagai bangsa, dan terbatas pada satu tahap dalam sejarah keselamatan. Sekarang iman kepada Kristus yang menentukan siapa yang termasuk dalam tubuh Kristus (Gal 3:26). Memang baptisan berfungsi sebagai tanda keanggotaan itu. Tetapi Yesus mengusulkan saling mengasihi sebagai tanda pengenal yang baru (Yoh 13:34-35; bnd. Gal 5:6), dan barangkali itulah caranya sekarang untuk “hidup dengan tidak bercela” (a.2). Kemudian Paulus, dalam konteks perdebatan tentang sunat untuk bangsa-bangsa, memperlihatkan penderitaan lahiriahnya sebagai pertanda bahwa dia adalah milik Kristus (Gal 6:17).

Adalah suatu anugerah besar bahwa Allah berkenan disebut Allah kita (a.8) dan mengikatkan diri-Nya dengan kita dalam perjanjian, lebih lagi dalam Kristus. Sekiranya kita dapat menangkap dan menghayati identitas itu.


Kej 28:10-22

Februari 29, 2008

Pada saat cerita ini, Yakub bermasalah. Dia harus melarikan diri dari kakaknya yang marah karena ditipu. Pelarian ini adalah ancaman terbesar selama itu terhadap janji Allah. Apakah Yakub, yang kelihatannya telah dipilih Allah sebagai penerus janjinya (Kej 25:23), akan sempat kembali ke tanah yang dijanjikan?

Dalam mimpi Allah menampakkan diri kepadanya. Janji-Nya diteguhkan, dengan beberapa tambahan yang cocok untuk keadaan Yakub. Dia berjanji untuk menyertai Yakub, sama seperti kepada Ishak pada suatu saat krisis (26:3). Dia juga berjanji bahwa Yakub akan kembali dari pembuangannya.

Yakub sadar bahwa tempatnya adalah “pintu gerbang sorga” (28:17). Setelah pengusiran manusia dari taman Eden tempat Allah berjalan-jalan, titik temu antara Allah dengan manusia menjadi langka. Fungsi titik temu itu diambil alih oleh Bait Allah (itu artinya Betel, walaupun tempatnya kemudian di Yerusalem), dan kemudian Yesus yang menjadi tangga yang menghubungkan sorga dan bumi (Yoh 1:51).

Tanggapan Yakub itu takut. Sebagai orang dari budaya Barat yang berusaha sekeras-kerasnya untuk menghilangkan semua misteri, saya harus belajar dari reaksi itu. Mungkin orang yang biasa takut akan pohon yang keramat harus belajar untuk takut akan Allah. Tetapi sama-sama jangan kita “menganggap sepi” kemurahan Allah (Rom 2:4) dengan dalih bahwa akibat sikap remeh kurang nampak.

Kemudian Yakub membangun sebuah tiruan dari pengalamannya. Batu yang di atasnya dia bermimpi didirikan seperti tangga dalam mimpi itu, dan “kepala” (ujung) batu itu diminyaki. Mungkin saja sebuah respons “psikomotorik” demikian bisa berguna untuk melestarikan signifikansi suatu pengalaman yang bermakna. Tetapi saya mau mengusulkan bahwa salib Kristus adalah tugu yang paling bermakna bahwa Tuhan akan menyertai kita melalui pengembaraan dalam dunia ini sampai kita kembali ke tahan yang dia janjikan, langit dan bumi yang baru itu.


Kej 3:20-24

Februari 20, 2008

Meskipun akibat dosa yang disampaikan Allah kepada manusia berat, namun yang hebat ialah manusia masih memiliki masa depan. Sehingga dalam a.20 Hawa disebut ibu semua yang hidup. Kemudian, untuk menutupi rasa malu / kemaluan, ada pertanda anugerah dari Allah. Dia membuat penutup malu yang lebih mantap daripada daun (a.21). Kulit binatang menyiratkan kematian binatang tersebut, yang menunjuk pada sistem kurban Israel (dan kurban aluk?), dan tentu pada gilirannya pada kematian Yesus.

Manusia sudah menjadi sama seperti Allah (a.22), sesuai dengan janji Iblis (a.5). Tetapi ironisnya yang dialami adalah rasa malu (a.7)! Akibat terdahsyat dari pelanggaran mereka adalah diusir dari sumber hidup. Itulah mati! Mengapa mereka tidak dibiarkan hidup selama-lamanya dalam keadaan mereka? Mungkin reaksi mereka terhadap hadirat Allah (a.8) memberi petunjuk.

Lihat artikel ini untuk pembahasan pengusiran manusia dalam konteks Alkitab lebih luas.


Kej 12:10-20

Februari 12, 2008

Setelah janji Tuhan yang hebat (12:1-3, 7) yang diresponsi dengan Abraham pergi ke tanah Kanaan (4-6, 8-9) dan mulai beribadah kepada Tuhan (7b, 8b), cerita ini adalah peristiwa pertama mengenai Abraham sebagai orang percaya. Bagaimana hasilnya? Singkatnya, Abraham gagal, tetapi janji Allah tetap berlaku.

Benarkah Abraham gagal? Dari perspektif PB jelas. Dia tidak mengasihi isterinya seperti Kristus mengasihi jemaat (Ef 5: ). Dia juga berbohong (tetapi bnd. Kej 20:12). Namun, hal-hal demikian tidak dikomentari oleh teks di sini. Alasan Abraham bahwa Sarai akan menarik perhatian orang Mesir memang dibenarkan oleh narator (14-15), tetapi kesimpulannya bahwa dia akan dibunuh janggal. Tuhan baru berjanji bahwa Abraham akan menjadi bangsa besar dsb. Masakan dia akan langsung dibunuh! Jadi, di sini Abraham kurang percaya. Itulah akar akibat buruk bagi isterinya dan Firaun.

Berlakunya janji Allah dilihat dalam hal tulah kepada Firaun yang mengancam Sarai (bnd. ayat 3a) dan dalam hal Abraham menjadi kaya (13:2, bnd. ayat 2a “Aku akan…memberkati engkau). Abraham tidak diberkati karena dia berbuat baik. Allah berpihak kepada Abraham sebagai penerima janjinya, bukan sebagai perintis moralitas. Itulah Injil yang diteguhkan dalam Perjanjian Baru (Rom 4:5, 8:31).

Tentu Abraham sudah meresponsi janji Allah, dan akhirnya belajar ketaatan yang dalam (Kej 22), sehingga Yakobus (dan Paulus, Rom 6) dengan tepat mengatakan bahwa iman yang sejati akan berbuah. Para teolog Pancasilais yang menganggap pembenahan moralitas rakyat sebagai fungsi utama agama boleh saja rileks. Tetapi cerita ini mengingatkan kita bahwa Tuhan lebih hebat daripada manusia, dan janji-Nya lebih penting daripada moralitas.

Baca entri selengkapnya »


Kej 33:1-20 Melihat wajah Allah di dalam Saudara

Februari 7, 2008

Perjumpaan kembali Yakub dengan Esau terasa sebagai ancaman besar oleh Yakub (lihat semua persiapannya dalam p.32). Namun, untuk pertama kalinya dia berdoa kepada Allah dan mengandalkan janji-Nya (32: 9-12), dan Allah berjumpa sampai Yakub membuktikan bahwa dia minta berkat Allah di atas berkat yang lain (32: 26).

Di luar dugaan doa itu dikabulkan. Bagi Yakub penerimaan Esau “serasa melihat wajah Allah”. Yakub memang baru melihat wajah Allah (32:30), adakah hubungan antara kedua pengalaman ini? Yesus sepertinya menggunakan gambaran Esau berlari mendapatkan Yakub dalam perumpamaan-Nya tentang anak yang hilang. Bukannya Esau adalah Allah, tetapi pendamaian vertikal dan horisontal terkait erat.

Dalam struktur Kejadian, pasal ini adalah puncak kisah antara Yakub dan Esau. Kisah Abraham, Yakub dan Yusuf bermaksud antara lain untuk menggambarkan hidup beriman dalam kehidupan sehari-hari. Di sini, Esau–walaupun di luar garis perjanjian–menjadi saluran berkat Allah bagi Yakub. Berkat itu dialami seiring Yakub mulai rendah hati di hadapan Allah dan manusia.


Struktur Kejadian

Januari 29, 2008

Kitab Kejadian mengukur tokoh-tokoh bukan hanya oleh hidupnya sendiri tetapi juga oleh riwayat keturunannya. Kata toledot (“keturunan” atau “riwayat”) berasal dari kata yld, melahirkan / memperanakkan. Misalnya, istilah “keturunan Terah” (11:27) mengantarkan riwayat Abraham (pp.12-25), “keturunan Ishak” (25:19) mengantarkan riwayat Yakub dan Esau (pp.25-36), dan “keturunan Yakub” (37:2) mengantarkan riwayat Yusuf (pp.37-50). 

Dengan demikian Kej 2:4 “toledot langit dan bumi” merujuk pada riwayat manusia pada pp.2-4, beberapa cerita yang menentukan keadaan manusia di bumi yang diciptakan pada p.1. 

Pada Kej 5:1 “toledot Adam” mengantarkan beberapa tokoh (seperti Henokh yang hidup bergaul dengan Allah 5:22-24) sampai dengan Nuh. Ringkasan informasi tentang Nuh terdapat pada 5:29, 32 dan 9:28-29. Dalam 9:28 air bah (yang diceritakan mulai 6:9 dengan rumusan toledot sendiri) menjadi titik balik dalam kehidupan Nuh. 

P.10 menyusul dengan toledot anak-anak Nuh yang menjadi bangsa-bangsa “setelah air bah itu” (10:1, 32). Kisah menara Babel memberi alasan untuk berpencarnya bangsa-bangsa yang disebut dalam 10:32. Semua itu persiapan untuk toledot Sem (11:10-26) yang bermuara pada toledot Terah tadi. Begitulah Abraham digabungkan dengan Adam, dan janji berkat pada 12:1-3 mencolok sebagi kontras terhadap toledot Adam, Nuh dan bangsa-bangsa yang begitu mengandung kutuk.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.