Ef 5:1-21 “Mempergunakan waktu dalam kasih, kekudusan dan terang” (13 Mei 2012)

Mei 8, 2012

Kitab Efesus memuat teologi Paulus yang telah dirumuskan untuk konteks Asia Kecil (sekarang Turki) yang budayanya miriplah dengan Toraja lama, termasuk banyak roh, magis dsb. Dalam budaya siklis itu, Paulus tetap berbicara tentang rencana Tuhan, bahwa Tuhan menciptakan dunia dan mau membawa dunia itu kepada satu tujuan, dengan menempatkan segala sesuatu di bawah Kristus sebagai Kepala (1:10). Cara manusia bergabung dengan rencana itu ialah manusia bergabung dengan Kristus oleh iman (1:13-14), sehingga dihidupkan kembali (2:1-10) dan diperdamaikan di dalam tubuh Kristus (2:11-22). Dalam pasal 4, Paulus menguraikan tubuh Kristus itu (4:1-16), kemudian manusia baru yang dihasilkan oleh keselamatan di dalam Kristus (4:17-32).

Makanya, jangan sampai perikop ini dikerdilkan menjadi semacam tiruan Mario Teguh, tips-tips tentang bagaimana memakai waktu dengan efisien. Gaya Mario Teguh dilihat juga dalam kitab Amsal, dan tips-tips ada tempatnya, tetapi jika kita bertanya, “Waktu dipergunakan untuk apa?”, jawabannya harus terletak dalam Injil yang begitu ditekankan dalam surat ini. Bagi Paulus, implikasi Injil ada pertama-tama bukan pada tips-tips atau perintah-perintah, melainkan pada berbagai gambaran identitas kita. Jika identitas itu telah ditangkap, cara hidup yang semestinya akan menyusul.

Penggalian Teks

Ciri-ciri kehidupan baru dalam perikop ini ialah kasih (aa.1-2), kesucian (aa.3-7), dan terang/buah/bangun (aa.8-14). Itulah kerangka yang di dalamnya Paulus berbicara tentang hidup yang berhikmat (aa.15-17). Hikmat itupun tidak berdiri sendiri, tetapi perlu ditopang dengan saling berbagi dalam firman Tuhan oleh kuasa Roh Kudus (aa.18-21).

Soal kasih menyimpulkan penguraian tentang cara berbicara dan berelasi dalam tubuh Kristus dalam 4:25-31, sekaligus menjadi dasar untuk penguraian dalam perikop kita. Dasar kasih adalah Allah, terutama kasih Allah yang dilihat dalam pengorbanan Kristus. Pengorbanan itu adalah teladan (a.1, TB ed. 2 memakai terjemahan “teladanilah Allah”) bagi kita, tetapi jika kita meninjau penguraian Paulus, kita akan melihat bahwa maknanya lebih dalam dari itu. Selain kita berada di dalam Kristus, Kristus juga diam di dalam hati kita (3:17) sehingga dasar spiritualitas kristiani ialah menangkap besarnya kasih Kristus itu (3:18). Makanya, kita meneladani Allah bukan dengan kasih diri sendiri (suatu tuntutan yang mustahil), melainkan dengan kasih Kristus yang ada dalam hati kita. Kasih itu tertanam, antara lain, dengan merenungkan pengorbanan Kristus (a.2).

Jika Kristus adalah persembahan yang harum, kita juga harus menghindar dari kenajisan, hal-hal yang bertentangan dengan kekudusan. Dalam Paulus, kekudusan adalah pertama-tama kedudukan orang percaya yang telah dijadikan milik khusus Allah, sama seperti dalam PL. Tetapi implikasinya sudah dibatinkan, sehingga kekudusan menjadi cara untuk memandang martabat manusia yang hatinya bebas dari kekacauan, yang hawa nafsunya ada pada tempatnya. “Rupa-rupa kecemaran” dalam a.4 berarti maksud hati yang kacau, sehingga martabat orang itu anjlok. Contohnya dalam a.3 & a.5 adalah nafsu berahi dengan nafsu materi yang sudah melampaui batas. Contohnya dalam a.4 adalah berbagai cara berbicara yang meneguhkan “kewajaran” kekacauan itu. Mengapa orang suka perkataan yang kotor? Bukankah untuk membenarkan nafsu berahi yang tidak dikendalikan dengan baik? Mengapa orang suka omongan kosong? Bukankah untuk menjatuhkan sesama sehingga menutupi kelemahan diri dengan tampil lebih baik? Perkataan sembrono merujuk pada orang yang lidahnya fasih tetapi kepintarannya dipakai untuk merendahkan sesama atau tampil pintar. Lawan dari semua cara berkata itu ialah ucapan syukur. Ucapan syukur menjunjung tinggi Allah, dan mengakui semua pemberian-Nya yang baik di dalam dunia ini.

Sama juga dengan PL, kekudusan yang dilanggar menimbulkan murka Allah (a.6), sehingga pelanggar tidak akan ikut dipersatukan di bawah Kristus sebagai Kepala (a.5b). Tentu, maksudnya bukan orang yang sekali jatuh ke dalam sikap yang tidak baik. Jika kurban dalam PL membawa penghapusan dosa bagi orang Israel, lebih lagi kurban Kristus (a.2). Maksudnya bahwa Allah sudah turun tangan dalam Kristus untuk memulihkan dunia dari hal-hal yang demikian, sehingga adalah aneh dan sama sekali tidak menyambung jika orang percaya tetapi mau ikut di dalamnya (a.7, bdk. “sepatutnya bagi orang-orang kudus” a.3; “tidak pantas” a.4). Orang-orang yang didiami Kristus akan menyambut dengan gembira pemulihan Kristus dalam batin sehingga hidupnya dapat lebih baik.

Israel dipanggil untuk menjadi bangsa yang kudus, supaya dapat menjadi terang bagi bangsa-bangsa (Yes 42:6; 49:6). Paulus melanjutkan penguraiannya tentang identitas kita di dalam Kristus dengan tema itu (aa.8-14). Identitas kita di dalam Tuhan adalah terang (a.8). Terang berbuahkan kebaikan dsb (a.9), tetapi kegelapan tidak berbuah (a.11). Oleh karena itu, terang menelanjangi kegelapan. Misalnya, ternyata orang bisa setia kepada satu orang seumur hidup. Ternyata orang bisa bertahan hidup tanpa berkorupsi. Hidup kudus, hidup dalam kasih, membawa terang ke dalam tempat-tempat yang gelap (entah keluarga, kantor, dsb, a.13). Jadi, kata Paulus, kita harus bangun dari tidur sebagai manusia baru yang dibangkitkan dari kematian dalam dosa (2:1-10), supaya kita mengalami terang Kristus itu (a.14, yang mengartikan Yes 60:1 tentang pembaruan umat Allah).

Atas dasar itulah, aa.15-17 menganjurkan cara hidup yang arif dan mengerti kehendak Tuhan. Kejahatan hari-hari ini adalah bahasa lain untuk kegelapan tadi. Jika kita mau menjadi terang, kita harus mempergunakan kesempatan-kesempatan yang ada. Waktu banyak dipergunakan dunia untuk bertindak dalam kegelapan, dan kita harus mempergunakan waktu yang sama untuk membawa terang. Karena besarnya tantangan itu, Paulus menganjurkan untuk memperhatikan dengan saksama, karena dengan mudah kita akan dibawa ke dalam kebebalan dunia ini.

Bagaimana semuanya itu mungkin? Adalah fatal jika yang di atas dibebankan kepada jemaat untuk dilakukan seorang diri. Dalam aa.18-21 Paulus kembali ke soal persekutuan, bukan persekutuan yang terisi dengan perkataan yang kosong (seperti ketika orang kumpul minum-mimum), melainkan persekutuan yang dipenuhi oleh Roh, sehingga firman Allah, termasuk tentang kasih Kristus dan rencana Allah, dibagikan dengan berbagai cara.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Efesus menerapkan identitas mereka di dalam Kristus dengan menjadi kudus dalam kasih, sehingga menjadi terang. Dalam rangka itu, dia menasihati mereka untuk mempergunakan waktu yang ada dengan arif, dan saling menguatkan dalam kebenaran firman. Dengan demikian, mereka akan menjadi bagian dalam rencana Allah untuk mempersatukan segala sesuatu dalam Kristus, karena mereka sendiri ada di dalam Kristus, dan terang itu dapat membawa orang lain juga kepada Kristus.

Makna

Sepertinya, banyak jemaat memahami bahwa orang percaya “wajib” melakukan kasih kepada sesama, tetapi bagi mereka Allah adalah teladan di luar mereka, bukan Pribadi yang ada di dalam. Jika demikian, “kewajiban” itu akan dilakukan dengan bersungut-sungut dan menghitung-hitung. Jika muncul dari diri yang didiami Kristus, kasih itu akan seperti kasih Allah, berprakarsa dalam berbuat baik dan tidak reaktif. Tanpa kasih seperti itu, kekudusan juga akan menjadi semu. Orang Farisi, sebagaimana diceritakan dalam keempat Injil, mengejar kekudusan, tetapi dengan cara yang menajiskan orang banyak dan membanggakan diri. Jangan sampai “kekudusan” di dalam gereja juga demikian.

Pemahaman tentang kekudusan di atas dapat dikembangkan dengan mengatakan bahwa kecemaran itu semestinya menjadi pemali batin. Bagi saya, ini penting. Di dunia Barat, banyak orang, bahkan yang tidak bertuhan, tidak sampai hati berkorupsi, karena mereka akan merasa menjadi manusia kerdil jika melakukannya. (Tentu, ada banyak yang lain yang tega saja.) Di Indonesia, banyak orang yang tidak akan sampai hati mencuri dari orang miskin, tidak melihat ada masalah dengan mencuri uang negara, atau menyontek. Pertimbangan etis tentang hal-hal itu terlalu besar dan abstrak untuk mereka tangkap, sepertinya. Jadi, korupsi kecil hanya akan berkurang kalau hal-hal seperti itu menjadi pemali batin.

Ada banyak hal yang dapat dipikirkan tentang mempergunakan waktu. Pada satu segi, ada momen-momen keputusan: apakah saya membubuhkan tandatangan atau tidak, apakah saya masuk kamar calon selingkuhan ini atau tidak. Tetapi juga ada soal prioritas. Di dalam keluarga, ibadah keluarga, atau berdoa bersama, adalah penggunaan waktu yang baik yang sering dipinggirkan. Di dalam kantor, kejujuran hanya tahap pertama dalam menjadi terang. Kita juga perlu menjadi bawahan atau atasan yang berusaha untuk mengasihi sesama, melayani klien dengan baik, dsb.

Di dalam gereja, pendeta dan majelis ditempatkan di atas jemaat yang perlu didorong dan dikuatkan untuk menjadi kudus dan terang. Bagian mana dari pelayanan yang paling berguna untuk tujuan itu? Adakah pola-pola baru yang harus dipikirkan? Jika pendeta tenggelam dalam rutinitas, sehingga kehidupan rohaninya mati lemas, apakah itu penggunaan waktu yang baik? Banyak pendeta mengeluh bahwa mereka terpaksa sibuk dalam hal-hal yang tidak berguna, seakan-akan majelis dan jemaat menyewa preman atau tentara untuk mengawasi mereka. Sebenarnya, mereka takut akan jemaat. Padahal, bukan jemaat yang menjadi kurban bagi dosa Saudara.

Kembali perlu ditegaskan bahwa perjuangan ini (dan 6:10-12 jelas menggambarkan nasihat ini sebagai perjuangan) bukan sesuatu yang dapat dilakukan seorang diri. Semestinya OIG (kelompok pemuda, wanita, bapak dsb.) menjadi wadah untuk orang saling menguatkan dalam perjuangan ini. Pertemuan pendeta juga semestinya diisi bukan hanya dengan hal-hal administratif, tetapi saling menguatkan dalam pelayanan yang arif, yang mengerti kehendak Tuhan. Jangan sampai kita tidak membawa jemaat ke dalam terang, sehingga Allah memakai orang lain untuk menggenapi rencana-Nya.


Yud 1:17-23 Tiga langkah dalam menghadapi kelompok yang sesat [9 Oktober 2011]

Oktober 8, 2011

Penggalian Teks

Para penerima surat ini menghadapi sekelompok orang yang membahayakan persekutuan mereka. Tidak jelas apakah kelompok ini memegang suatu ajaran yang sesat, tetapi yang jelas adalah gaya hidup mereka. Mereka percaya pada kasih karunia Allah, dan menerima Yesus sebagai Tuhan (kurios), tetapi menganggap kasih karunia sebagai izin untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan dengan demikian menyangkal dalam tindakan bahwa Yesus adalah Penguasa. (Penguasa = despotes, yang sama seperti kurios berarti “tuan”, tetapi menyoroti kuasa mutlak tuan ada budaknya, sedangkan kurios menyoroti wibawa seorang tuan. Sepertinya kelompok ini mengagumi Yesus, tetapi tidak menganggap penting menaati Yesus.) Tentang mereka Yudas menyampaikan serangkaian peringatan (yang isinya mirip dengan 2 Petrus 2) tentang hukuman yang akan menimpa mereka. Perikop kita adalah implikasinya bagi para penerima.

Ada tiga bagian yang cukup jelas di dalamnya. Aa.17-19 mengangkat peringatan rasul-rasul tentang para “pengejek”. Artinya bahwa yang terjadi bukan kejutan karena para rasul sudah memberitahu akan demikian (berdasarkan ajaran Yesus sendiri). Aa.20-21 menyuruh mereka untuk menjaga diri. Frase utama adalah “Peliharalah dirimu dalam kasih Allah” (a.21a), dengan a.20 sebagai dasar dan a.21b sebagai tujuan. Aa.22-23 menunjukkan tanggapan yang diperlukan kepada orang yang terlibat dalam masalah ini. Terjemahan LAI memberi kesan hanya dua kelompok, tetapi sebenarnya tiga kelompok yang berbeda dialamatkan di sini, di a.22, a.23a dan a.23b (dalam bahasa asli: hous men…hous de…hous de). Jadi, yang ragu-ragu bukannya sudah atau nyaris termasuk api, tetapi ada yang ragu-ragu (a.22), ada yang dalam keadaan sangat berbahaya (a.23a), dan ada yang sudah terpola dalam dosa, barangkali para nabi palsu sendiri (a.23b).

Ketiga bagian perikop kita saling berkaitan. Dalam a.19 kelompok itu menjadi pengacau karena keinginan yang berasal dari dunia, bukan dari Roh. Makanya, di atas dasar iman itu doa dalam Roh Kudus yang diperlukan untuk bertahan dalam kasih Allah (a.20). Roh Kudus yang dapat mengubah keinginan-keinganan duniawi. Kemudian, harapan yang menyertai pemeliharaan diri dalam kasih Allah terfokus pada rahmat Tuhan dalam memberi hidup yang kekal (a.22). Rahmat, yaitu belas kasihan (keduanya menerjemahkan kata eleos), yang harus menggerakkan penerima surat Yudas dalam relasi mereka dengan orang-orang yang bermasalah.

Maksud bagi Pembaca

Yudas mau menguatkan penerima suratnya untuk menghadapi ancaman kelompok yang sesat dengan tepat. Mereka perlu mengingat ancamannya, berjaga diri, serta menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang yang dalam bahaya sesuai dengan kondisi mereka.

Makna

Bahasa LAI “Menjelang akhir zaman” dapat memberi kesan bahwa keadaan akan memburuk pas sebelum Kristus datang. Tetapi kalau begitu, perkataan para rasul itu belum berlaku bagi zaman Yudas sendiri, karena belum menjelang apa-apa. Tetapi harfiahnya “pada waktu terakhir” lebih jelas. Zaman sejak pencurahan Roh Kudus adalah “waktu terakhir” (bdk. Kis 2:17). Bersamaan dengan Injil berkembang, kefasikan juga berkembang, dan / atau menjadi lebih kentara karena perbandingan dengan buah Roh dalam jemaat.

Kelompok macam apa yang harus diwaspadai sekarang? Di atas saya mengusulkan bahwa inti masalah adalah gaya hidup mereka. Mereka mungkin saja tampak sehat, tetapi hati mereka busuk. Di dunia Barat, gereja dihebohkan oleh pelayan (pastor, pendeta, gembala) yang menggunakan kepercayaan jemaat sebagai kedok untuk melecehkan anak. Di mana saja, ada pendeta dan majelis yang dikuasai oleh keinginan akan kuasa; biasanya pemecah-belah demikian. Juga terlalu banyak cerita tentang majelis atau pendeta yang memakai uang jemaat (saldo jemaat akhir tahun; proyek) sebagai tempat pencarian. Tetapi intinya bukan pada dosa-dosa tertentu melainkan pada apa yang sebenarnya menjadi kendali kehidupan orang. Jatuh ke dalam dosa tertentu tidak sama dengan hidup dalam dosa itu.

Peringatan Yudas ialah bahwa kalau seseorang dikuasai oleh keinginan dosa, hidup dalam dosa itu, dia tidak memiliki Roh Kudus. Tetapi, dalam a.22 ada beberapa tahap. Yang ragu-ragu itu saya artikan sebagai orang yang tertarik dengan kelompok sesat tetapi belum diyakinkan. Misalnya, majelis melihat pendeta beruntung dari proyek, sehingga mulai menganggap bahwa itu cara yang mungkin baik-baik saja. Yang perlu dirampas dari api adalah yang sudah mau mengikuti kelompok sesat itu. Kedua kelompok ini belum tentu kehilangan Roh Kudus, sehingga ada usaha untuk menyelamatkan mereka. Kelompok tiga adalah yang tidak memiliki Roh Kudus.

Belas kasihan (eleos) perlu diartikan dari rahmat (eleos) Tuhan, yaitu, bertujuan keselamatan (a.21). Kelompok ragu-ragu dirangkum supaya kembali yakin akan jalan yang benar. Kelompok yang sudah jatuh hampir sampai kehancuran perlu “dirampas”. Merampas sepertinya bertolakbelakang dengan belas kasihan, tetapi, misalnya, kita melihat anak menuju api, pasti kita sampai memakai kekerasan untuk menyelamatkan anak itu dari bahaya. Jadi, belas kasihan kepada orang yang mau tersesat bisa saja menuntut cara yang akan dianggap tidak sopan, tegoran yang keras, bahkan mengucilkan, supaya orangnya menjadi sadar, bertobat, dan dengan demikian diselamatkan. Untuk kelompok tiga, relasi tetap dibuka, tetapi kita harus menjaga diri supaya kita jangan terbawa oleh pendirian mereka yang sudah bulat berkanjang dalam dosa.

Tentu belas kasihan yang demikian tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang yang sudah menerapkan aa.20-21. Iman yang paling suci tidak merujuk pertama-tama pada kualitas iman sendiri, karena yang paling suci adalah Dia yang kita imani, yakni Kristus. Tetapi jika atas dasar iman kepada yang Mahasuci itu kita berdoa dalam Roh Kristus yang Kudus (Suci), maka hidup kita akan makin suci. Kasih Allah akan memulihkan berbagai keinginan kita, dan harapan rahmat Kristus akan memperbaiki tujuan-tujuan hidup kita. Dengan demikian kita akan terjaga dari kesesatan, dan disanggupkan untuk membantu orang yang terancam sesat. Sumbernya menjadi jelas dalam aa.24-25, Allah, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus.


Yes 63:7-14 Mengingat kasih setia Tuhan sebagai dasar doa yang sungguh-sungguh [26 Jun 2011]

Juni 22, 2011

Israel pasca-pembuangan mengalami krisis iman. Yesaya menyampaikan janji-janji yang luar biasa, tetapi sikap Israel belum juga berubah (Yes 63:17). Sang nabi kemudian berdoa bagi umat-Nya, suatu doa yang penuh pengajaran bagi kita yang diperhadapkan dengan keadaan yang tidak jauh beda.

Penggalian teks

Dalam posting ini saya menggambarkan kitab Yesaya secara keseluruhan. Hamba Tuhan dalam p.53 adalah kunci keselamatan Sion, simbol untuk umat Allah itu, dan keselamatan itu digambarkan dalam pp.60-62, tentang Yerusalem baru yang di dalamnya hamba Tuhan memulihkan (p.61). Keselamatan itu ditopang dengan hukuman Allah terhadap bangsa-bangsa dalam 63:1-6, pas sebelum perikop kita.

Perikop kita memulai sebuah doa yang berlangsung sampai akhir p.64, dan dibalas dengan janji-janji Tuhan pada pp.65-66. Perikop kita mengingat dasar kasih setia Tuhan sebagaimana dilihat dalam sejarah keselamatan. Berdasarkan perenungan itu, Yes 63:15-64:12 membawa doa yang penuh semangat dan desakan, seperti mazmur-mazmur protes. Perikop kita menjadi lebih tajam jika kita melihatnya sebagai dasar untuk doa yang sungguh-sungguh itu.

Aa.7-9 menceritakan asal usul hubungan Tuhan dengan Israel. “Kasih setia” (khesed) mengawali dan mengakhiri a.7, dalam bentuk jamak sehingga artinya “perbuatan-perbuatan yang menyatakan kasih setia”. Kasih sayang yang dengannya kasih setia itu dinyatakan menjadi dasar permohonon dalam 63:15. Dalam aa.8-9 kasih setia itu disampaikan sebagai kisah. A.8 adalah keputusan Tuhan untuk menjadi Juruselamat sehingga berulang kali menyelamatkan mereka dari kesesakan, mulai dengan zaman Musa. Israel disebut sebagai anak-anak-Nya, yang menjadi dasar permohonan kepada Tuhan sebagai Bapa (63:16; 64:8). Kembali perasaan Tuhan digambarkan dengan kata “kasih” dan “belas kasihan”. Soal relasi disoroti, bahwa “wajah” Tuhan (diterjemahan “Ia sendiri”) yang menyelamatkan Israel. Makanya, 64:7 mengeluh bahwa wajah Tuhan disembunyikan.

Sayangnya, kisah itu menemukan titik balik yang buruk (a.10). Titik balik itu digambarkan dengan bahasa militer / politik: Israel memberontak, sehingga Tuhan berperang melawan mereka. Tetapi ada juga unsur lain, yaitu Roh Kudus Tuhan yang didukakan. Roh Tuhan telah disebut dalam 59:21 sebagai janji, dan dalam 61:1 terkait dengan pelayanan hamba Tuhan dalam rangka keselamatan (bdk. Yes 11:2), tetapi belum dalam konteks masa lampau.

Aa.11-14 menggambarkan respons Israel. “Teringat” dalam a.11 memakai kata dasar yang sama dengan “menyebut-nyebut” dalam a.7. Sang nabi mau mengingatkan Israel tentang perbuatan-perbuatan Tuhan, tetapi dalam a.11 justru permusuhan Tuhan yang menjadikan mereka sadar. Yang diingat adalah masa Musa. Pada saat itu Roh Kudus berkarya di antara mereka, khususnya di dalam mujizat-mujizat yang dilakukan melalui Musa (a.12-13a) sampai Israel mencapai tempat perhentian, yaitu tanah Israel. Terhadap karya itulah Israel memberontak, sehingga Roh Kudus didukakan. Aa.12 & 14 juga mengangkat nama Tuhan sebagai tujuan Tuhan dalam menyelamatkan Israel. Nama itu menjadi satu dasar lagi dalam doa yang berikut, karena keadaan buruk yang dialami Israel bertentangan dengan tujuan itu. Pada akhir a.14 Tuhan mulai menjadi alamat langsung (“Engkau”) untuk mengantarkan doa itu.

Maksud bagi pembaca

Bagaimana semestinya mengartikan sebuah doa? Tentu ada makna teologis di dalamnya yang harus digali, tetapi doa sang nabi direkam untuk mengajar pembaca juga bagaimana berdoa. Ketika Israel merasa dijauhi oleh Allah, Israel harus mengingat dosanya tetapi lebih lagi mengingat kasih setia Tuhan, kemudian berdoa dengan semangat supaya Tuhan bertindak. Dalam Kristus harapan Yesaya 60-62 mulai terwujud, sehingga ada jaminan akan penggenapannya ketika Kristus kembali. Namun, gereja pun sering menjadi kacau karena mendukakan Roh Kudus. Semangat rohani akan dipicu jika kita mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan itu.

Menghadapi keadaan gereja yang sering memprihatinkan, kesimpulan itu perlu digarisbawahi. Solusi bagi masalah-masalah gereja jangan diawali dengan rencana, semboyan dan kecaman, melainkan dengan mengingat kembali dasarnya: kita adalah orang berdosa yang harapan satu-satunya ialah kasih setia Allah yang diwujudkan dalam Kristus. Mengingat hal itu, mungkinkah kita akan mulai dengan doa yang sungguh-sungguh? Bukan doa formalistik, bukan semangat yang mengada-ada, tetapi doa karena hanya jika Allah bergerak maka gereja bisa kembali menjadi alat yang membuat nama yang agung bagi Allah.

Makna

Banyak yang dapat dikatakan dari perikop yang kaya ini, tetapi hanya dua akan disoroti, yaitu soal relasi dengan Tuhan dan soal Roh Kudus.

Istilah “kasih setia” biasanya merujuk pada perbuatan di dalam relasi yang melampaui kewajiban tetapi menjawab kebutuhan. Misalnya, dalam Kej 47:29 Yakub meminta supaya dikuburkan di tanah Kanaan, bersama dengan nenek moyangnya. Yakub meminta dalam konteks relasi keluarga (“setia”), tetapi permintaan itu melampaui kewajiban (“kasih”). Yakub tentu tidak bisa memenuhi permintaan itu sendiri, sehingga membutuhkan kerja sama Yusuf. Tuhan memanggil Israel dalam sebuah perjanjian, dan menyebut mereka “anak-anak” yang disayangi dan digendong, sebuah relasi yang kuat dan akrab. Dalam relasi itu Dia terus-menerus berbuat lebih dari kewajiban-Nya dalam menyelamatkan mereka dari musuh yang terlalu kuat bagi mereka. Doa yang berikut menegaskan relasi itu dengan istilah “Bapa”, dan memohon kasih setia lebih lagi, yaitu pengampunan dan pemulihan.

Roh Tuhan muncul dengan paling jelas dalam kisah keluaran Israel terkait dengan Musa dan tua-tua (Bil 11:25). Kaitan Roh dengan tangan Tuhan yang menyertai Musa mungkin dapat dilihat dalam angin dalam Kel 14:21 dan Bil 11:31, karena kata ruakh dapat berarti roh, nafas atau angin. Apakah Yes 63:11 mengatakan bahwa Roh Kudus ada juga dalam setiap orang Israel? Bahasa aslinya berarti “di tengahnya” (beqirbo, “-nya” merujuk pada Israel). “Di tengah” dapat berarti di tengah setiap orang masing-masing (tafsiran LAI), atau juga “di antara mereka” (misalnya, NIV “among them”). Dalam Bil 11:29 dikatakan dengan jelas bahwa tidak pada seluruh umat Roh Tuhan itu ada, paling sedikit dalam artian yang sama dengan Musa dkk. Oleh karena itu, saya sepaham dengan terjemahan NIV itu. Israel mendukakan Roh Kudus yang berkarya di tengah mereka melalui Musa (dan pemimpin-pemimpin berikutnya). Penting diamati bahwa Roh disebut kudus dalam a.10 ini. Pemberontakan Israel menajiskan Israel sehingga menimbulkan reaksi Tuhan.

Namun, terjemahan LAI cocok untuk kita yang hidup pasca-Pentakosta. Roh Kudus berkarya di dalam hati setiap kita. Jika kita memberontak, kita mendukakan bukan hanya kebajikan Allah yang dinyatakan dalam karya Kristus, tetapi juga belas kasihan-Nya yang dicurahkan ke dalam hati kita (bdk Rom 5:5). Hubungan Allah yang akrab dengan Israel menjadi lebih akrab lagi dalam perjanjian baru yang diadakan Yesus. Karena Roh Kudus berada di dalam kita, kekudusan yang dituntut juga lebih dalam: Paulus mengutip istilah “mendukakan Roh Kudus” dalam Ef 4:30 di tengah nasihat tentang cara berkata-kata. Perkataan yang merendahkan mendukakan Roh yang membuat kita satu (Ef 4:4); sikap hati yang kacau mendukakan Roh yang berkarya di dalam hati kita (Ef 3:16).

Tentu, mendukakan Roh berbeda dengan menghujat Roh. Dalam Mt 12:32, hujat terhadap Roh Kudus merujuk pada keadaan orang Farisi yang menafsir karya Roh Kudus dalam perbuatan-perbuatan belas kasihan Yesus sebagai karya Iblis. Hujat ini tidak akan diampuni bukan karena dosa itu ekstra jahat, melainkan karena orang yang demikian tidak akan bertobat. Mendukakan Roh Kudus dapat diampuni, ketika kita menjadi sadar dan memohon pengampunan dan pembaruan. Bahkan, kesadaran bahwa kita mendukakan Roh Kudus dapat memicu semangat untuk berdoa demi pemulihan, seperti dalam perikop Yesaya itu. Tetapi tidak ada kesadaran tentang menghujat Roh Kudus. Orang-orang Farisi itu justru menganggap bahwa mereka benar.  


Ef 1:3-14 Menghayati berkat-berkat Allah

November 9, 2009

Perikop ini kaya, sangat kaya. Jadi saya minta maaf jika “renungan” ini agak panjang dan sarat dengan ide. Dalam pendahuluan ini saya coba membahas satu dua hal yang mungkin mencegah kita memuji Allah sesuai dengan isi perikop ini. Kemudian ada komentar per bagian.

A.3 mengangkat tema utama perikop ini, yaitu berkat-berkat rohani yang menjadi alasan untuk memuji Allah. Berkat-berkat itu termasuk kekudusan (4), menjadi anak Allah (5), pengampunan (7), pengetahuan rencana Allah (9) dan Roh Kudus (13). Apakah berkat-berkat ini menarik bagi semua jemaat (termasuk sebagian yang berpendidikan teologi)? Untuk sebagian, saya dapat membayangkan tuduhan (dalam hati) bahwa “rohani” berarti “tidak praktis”, “tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari” dsb. Coba ada uang sekolah, penyembuhan, pemberantasan korupsi dsb, baru berkat dianggap berlimpah-limpah.

Bahwa pandangan itu ada benarnya cukup jelas dari gambaran berkat/kutuk dalam PL (misalnya Ul. 26). Ada yang mengatakan bahwa harapan yang “materialistis” itu sudah diganti dengan harapan yang “rohani”. Pembahasaan itu berbahaya. Jauh lebih tepat mengatakan bahwa harapan yang materialistis itu ditunda. Ketika semua dipersatukan dalam Kristus sebagai Kepala, keadaannya akan seperti dalam Why 21, dengan bumi yang baru yang di dalamnya tidak ada yang merusak kehidupan lagi.

Namun, dalam PL pun berkat utama adalah pengenalan akan Allah. Mengapa Israel dibebaskan dari Mesir? Supaya “menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu” (Kel 6:6). Berkat-berkat rohani yang diuraikan menyangkut berkat utama itu. Kita bisa menjadi anak Allah karena ditebus oleh darah Kristus sehingga kita memiliki jaminan atas warisan (LAI “bagian”) yang dijanjikan. Mengapa hal-hal itu terasa abstrak, terasa tidak menyentuh kehidupan nyata? Saya duga jawabannya dalam a.13. Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat itu bagian dari kehidupan kita, kebutuhan nyata. Sama seperti orang dari luar Toraja sulit memahami keasyikan pesta orang mati di Toraja [maaf kepada pembaca dari luar Toraja :)], orang tanpa Roh Kudus sulit memahami mengapa Allah begitu layak dipuji karena berkat-berkat-Nya dalam Kristus. (Mungkin perlu dicatat bahwa harapan dari Injil yang ditanam Roh Kudus ternyata sangat membantu kita untuk memaksimalkan keadaan yang ada, entah baik atau buruk, sehingga ada gunanya untuk sekarang. Khususnya, kita dimampukan untuk berjuang dalam kasih, seperti dalam pp.4-6.)

Dalam komentar di bawah, saya menebalkan kata-kata tentang kedaulatan Allah, menggarisbawahi kata-kata tentang kemuliaan Allah dan pujian, dan memiringkan kata-kata tentang anugerah (kasih karunia). Perikop ini dimulai dan diakhiri dengan panggilan untuk memuji Allah, dan inti perikop ini adalah anugerah Allah yang terwujud dalam Kristus (aa.7-8). Bagaimana dengan kedaulatan Allah? Orang suka pusing menghadapi pernyataan seperti dalam a.11 bahwa keputusan orang “dari semula ditentukan” dan bahwa Allah “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”. Di mana lagi kebebasan manusia kalau demikian? Sebagai jawaban, perlu diingat bahwa Allah adalah Pencipta, bukan salah satu kuasa di antara banyak kuasa yang lain dalam dunia ini. Jadi, dari satu segi semua kuasa dan kemampuan, termasuk kehendak kita, bergantung pada kuasa Allah yang menopang segala sesuatu. (Jadi, yang menjadi misteri ialah bahwa kita memiliki kehendak bebas, bukan bahwa Allah berdaulat.) Tetapi hal itu bukan fokus Paulus di sini. Rencana Allah diwujudkan dalam Kristus dan diterapkan oleh Roh Kudus. Kedaulatan Allah adalah pelayan rencana Allah itu. Jadi, kedaulatan Allah bukan suatu kehendak yang kabur (sehingga menakutkan), tetapi melayani rencana Allah yang sudah dinyatakan dalam Kristus (a.9).

Jadi, selayaknya perikop ini menjadi bahan untuk kita memuji Allah. Jika kita dimeteraikan dengan Roh Kudus sehingga berada di dalam Kristus maka semua berkat ini adalah milik kita, milik kita yang sangat berharga.

(3) Terpujilah Allah dan Bapa [dari] Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

Kata Bapa tidak merujuk ke Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan Allah adalah juga Bapa dari Tuhan Yesus Kristus [satu artikel (ho) dipakai untuk kedua kata Allah (theos) dan Bapa (pater)]. Perikop ini bersifat ketritunggalan, karena kata rohani merujuk ke karya Roh Kudus, atau paling sedikit dalam a.14 Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat rohani ini nyata dalam kehidupan.

(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, (6) supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

A.4 adalah pernyataan mendasar; a.5 memberi keterangan [kata kerjanya adalah partisip, bukan indikatif]; a.6 adalah tujuannya. Bahasa “kudus”, “tak bercacat” dan “anak” adalah bahasa yang dipakai dalam PL untuk umat Allah, sama seperti “menjadikan kita milik Allah” dalam a.14.

(7) Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, (8) yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. (9) Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus (10) sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

Aa.7-8 adalah pernyataan mendasar; a.9 memberi keterangan [juga partisip], mungkin atas kelimpahan kasih karunia Allah—bukan hanya bahwa kita ditebus oleh darah Kristus tetapi juga kita diberitahu mengenai rencana agung Allah; a.10 adalah tujuannya. Kali ini tujuannya bukan pujian melainkan pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Darah Kristus dalam a.7 adalah caranya untuk a.4, dan bagian ini (khususnya a.7 dan a.10) menjelaskan mengapa ada “di dalam Dia” terus-menerus dalam perikop ini. Kristus adalah pewujud rencana Allah.

(11) Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– (12) supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

Kata kami adalah tafsiran—dalam bahasa Yunani (dan Ibrani dan Inggris) tidak dibedakan anatara kita dan kami. Tafsiran itu tepat, tetapi bagi pembaca asli baru akan jelas dalam a.12 dalam perkataan “yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus” bahwa “kita/kami” merujuk pada kelompok Paulus, bukan pembaca. “Kami” adalah orang-orang Yahudi (lihat juga 2:1-3 dan 2:11-12), yang memang menjadi yang pertama percaya. Mereka adalah tahap pertama dalam pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Tujuannya pujian kembali (a.12b).

(13) Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. (14) Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Tahap berikut dalam pemersatuan segala sesuatu adalah orang non-Yahudi yang jadi percaya (bnd. 2:11-22). Kedua ayat ini adalah dasar ringkas untuk suatu urutan keselamatan (ordo salutis). Yang pertama adalah pendengaran Injil tentang keselamatan, sehingga ada yang percaya. Yang percaya dimeteraikan dengan Roh Kudus (yang menunjukkan bahwa mereka adalah milik Allah) yang menjadi jaminan bahwa mereka akan menerima segala yang dijanjikan Allah pada akhir zaman itu. Jadi, pemberitaan menjadi pintu masuk untuk keselamatan eskatologis (hidup kekal). Roh Kuduslah yang menerapkan dalam kehidupan orang percaya rencana Allah yang terwujud dalam Kristus. Namun, perlu diperhatikan apakah tujuan Allah. Bukan keselamatan saya saja (sebagai individu), melainkan kita sebagai umat milik Allah.


1 Tim 1:3-17 Menanggapi kekacauan dalam jemaat

September 14, 2008

Bagian ini merupakan pengantar Paulus sebelum nasihat khusus dalam pp.2-5. Ternyata ada masalah dengan ajaran palsu yang perlu ditangani oleh Timotius (1:1-3). Yang diharapkan Paulus adalah hidup jemaat berdasarkan iman, yang dia simpulkan dalam a.5 sebagai kasih. Apa dasar kasih itu? Ketiga “dari” dalam a.5 merujuk pada batin yang tidak terbagi-bagi. Soalnya, pengajar sesat tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Dalam ayat-ayat berikut Paulus memberi penjelasan.

Yang pertama adalah soal hukum Taurat. Paulus menegaskan bahwa Taurat tertuju bagi orang berdosa, bukan orang benar (a.9). Memang banyak dosa yang dilarang di dalamnya (a.10), tetapi Injil dari Allah yang mulia sudah memiliki dasar untuk menentang hal-hal itu (a.10b-11). Paulus kemudian bersaksi tentang kuasa Injil, yang mengubah dia dari seorang penganiaya menjadi pelayan Allah (aa.12-13). Anugerah Allah melimpah di atasnya, dengan iman dan kasih (a.14). Kasih berdasarkan iman adalah ringkasan dari tujuan Paulus dalam a.5; ternyata sumbernya adalah anugerah dari Injil, bukan hukum dari Taurat. A.15 menyimpulkan prinsipnya: Allah menyelamatkan orang berdosa. Paulus sendiri adalah contoh utama penerima hidup kekal (a.16), sehingga dia memuji kemuliaan Allah raja segala zaman. (Kata kekal dan kata zaman berasal dari kata dasar yang sama dalam bahasa aslinya.)

Bagi Paulus, orang yang menanggapi masalah dengan hukum daripada dengan Injil adalah pengajar sesat yang tidak tahu apa-apa. Soalnya, hukum menegor orang berdosa, tetapi tidak dapat menimbulkan hati nurani yang murni apalagi kasih yang sejati. Dasar perubahan yang sejati adalah Injil tentang pengampunan dan hidup kekal yang membawa kita untuk memuliakan Allah. Memang, jika dasar itu ada maka cara hidup perlu diberitahukan, sebagaimana disampaikan Paulus dalam pasal-pasal berikut. Tanpa dasar Injil, betapapun semangat kita menegor, tidak akan ada buah kasih dan iman.


1 Sam 14:44-46 Raja Saul tidak dapat diandalkan

Agustus 22, 2008

Israel dipilih Allah untuk mewakili bangsa-bangsa sebagai “kerajaan imam” (Kel 19:6) supaya janji berkat bagi bangsa-bangsa terwujud (bnd. Kej 12:2-3). Namun, dalam kenyataan Israel menjadi wakil manusia dalam artian yang lain, yakni sebagai pendosa. Terus-menerus Israel bersungut-sungut, tidak percaya dan memberontak. Permintaan untuk memiliki raja adalah bagian dari pola itu. Mereka ingin menjadi seperti bangsa-bangsa yang lain daripada bangsa yang kudus, dengan demikian menolak Allah (1 Sam 8:5-7).

Dalam pp.13-15 Saul tergambar sebagai raja yang tidak tegas, yang cepat mengalah jika rakyat mendesak. Dalam pp.13, 15 sifat itu bermuara pada ketidaktaatan kepada Allah. Dalam p.14 kegelisahan Saul ketika Israel terdesak dalam perang ditanggapi dengan kutuk yang bodoh. Dia tiba-tiba mau tegas pada awal nas kita, tetapi sekali lagi menyerah terhadap permintaan rakyat yang kali ini tepat. Kebodohan dan kelemahannya bercampur di sini. Saul sebagai raja ternyata satu watak dengan umat Israel. Meskipun dia diberkati Tuhan dalam perang (14:47-48), akhirnya dia ditolak Tuhan (p.15).

Sebaliknya, Yonatan adalah pemimpin yang berani dan mengandalkan Tuhan, seperti Daud yang menjadi sahabatnya. Namun, Daud juga jatuh ke dalam dosa, dan Salomo yang mengikutinya. Dalam cerita Alkitab secara keseluruhan, hanya satu yang menjadi orang Israel yang setia dan raja yang sejati, yakni Yesus Kristus.

Tentu melalui contoh buruk Saul dan teladan Yonatan kita dapat belajar tentang kepemimpinan yang semestinya dan menerapkannya kepada pemerintah dan gereja sekarang. Soalnya, kalau sekadar itu penerapannya, bukankah kita akan tenggelam dalam kekecewaan? Kalau seandainya koruptor diganti dengan orang yang lebih baik, toh orang itu juga terbatas. Kekurangan Israel terjawab bukan dengan negeri Indonesia (ataupun AS!) melainkan dengan Kerajaan Allah yang didatangkan oleh Yesus. Konsep kerajaan Allah bukan sekadar kiasan untuk pengalaman religius. Kristus yang bangkit dan diangkat ke sorga adalah Raja yang harus kita taati dan andalkan di atas pemerintah manusia. Dalam keberanian dan pengorbanan Dia seperti Yonatan dan Daud, malah lebih dari mereka karena Dia telah mengalahkan Iblis, dosa dan maut. Jika Dia adalah raja kita, mungkin saja kita akan berani seperti bujang Yonatan untuk ikut dalam perjuangan terhadap hal-hal yang melawan Allah meskipun perjuangan itu secara manusiawi tidak memiliki harapan (14:7).

Selamat berjuang!


Kej 35:1-15 Menyembah Allah

Juli 3, 2008

Pada awal perikop ini, Yakub telah melalui pergumulan dengan kakaknya Esau, sesuai dengan janji Allah yang dulu-dulu itu di Betel (Kej 28:15). Namun, dia belum sampai kembali kepada ayahnya (Kej 28:21) ketika keluarga perjanjian terancam lagi saking kecerobohan Simeon dan Lewi (34:30). Degan Yakub dan seisi rumahnya menghadapi musibah, Allah sekali lagi menampakkan diri.

Dia memanggil Yakub sekeluarga untuk pergi ke Betel dan menyembah-Nya di sana (a.1). Kali ini Allah tidak langsung menjanjikan perlindungan, Dia mengingatkan Yakub akan masalah Esau yang sudah dilalui dengan aman. Panggilan itu disampaikan Yakub kepada keluarga dengan satu perbedaan (a.3), yaitu Yakub langsung bersaksi tentang perlindungan Allah. Kesaksian itu menjadi alasan yang disampaikan Yakub untuk mereka meninggalkan dewa-dewa yang lain dan menahirkan diri. Dan memang Allah tetap menyertai dan melindungi mereka (a.5). Demikianlah ancaman itu diselesaikan.

Setelah mereka diam di Betel, Allah berfirman kembali kepada Yakub. Seperti Adam dan Hawa di taman Eden, Yakub dipanggil untuk bertambah banyak di tanah perjanjian (aa.11-12). Yakub kemudian membangun simbol akan hadirat Tuhan di sana. Dengan demikian Israel dipanggil untuk mendirikan kembali kerajaan Allah yang hilang ketika manusia berdosa.

Perikop ini menunjukkan bagaimana akhirnya melalui banyak pergumulan Yakub menjadi layak sebagai orang yang dipanggil Tuhan. Kita melihat kembali kesabaran Allah yang melindungi umat-Nya sambil menyempurnakannya. Untuk kita umat PB, perlindungan Allah sudah dibuktikan dalam kematian dan kebangkitan Kristus, dan hadirat-nya kita kenal melalui Roh Kudus sambil menantikan penggenapan janji langit dan bumi yang baru. Maka kita memiliki alasan yang lebih kuat lagi untuk meninggalkan berhala-berhala dan menyembah Allah saja.


Kis 5:1-11 Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan

Juni 25, 2008

Cerita tentang Ananias dan Safira yang menakutkan ini terletak antara gambaran tentang praktek membagi-bagikan harta kepada orang yang berkebutuhan dan komentar tentang tanda dan mujizat para rasul. Sama seperti peristiwa Akhan meperingati Israel di tengah suksesnya merebut tanah Kanaan (Yos 7), peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan (Gal 6:7). Sebagaimana pernah dikatakan, “di jemaat tempat orang lumpuh berjalan, pendusta mati”. Allah yang hadirat-Nya membawa keselamatan, pembaruan dan mujizat adalah Allah yang kudus.

Baca entri selengkapnya »


Kis 6:8-15 Seorang pengikut Kristus

Mei 27, 2008

Ada yang mengusulkan bahwa kita harus mengikuti Yesus, bukan para pengikut Yesus. Bagi Lukas dalam perikop ini perbedaan itu tidak berlaku. Kisah Stefanus justru menunjukkan kesejajaran dengan Yesus. Stefanus melakukan berbagai tanda di depan umum sehingga menimbulkan perlawanan, namun lawannya tidak bisa mengalahkannya (Kis 6:8-10). Kemudian dia diseret ke hadapan Mahkamah Agung atas tuduhan palsu mengenai Bait Allah (6:13-14). Ketika dia mau meninggal dia berdoa supaya para pembunuhnya diampuni (7:60). Dalam kuasa Roh Kudus Stefanus menjadi pengikut Kristus yang sejati.

Namun ada juga perbedaan yang menunjukkan bahwa Stefanus hidup dalam tahap setelah Yesus dalam Kisah Agung Alkitab, yaitu zaman Roh dan pemberitaan yang merupakan hasil kematian dan kebangkitan Kristus. Mukanya “seperti seorang malaikat” (6:15) barangkali karena adanya Roh Kudus (6:10). Kemudian dia berbicara panjang lebar, beda dari Yesus yang kesaksian-Nya pada pengadilan-Nya pendek. Pun kematian Stefanus tidak membawa perjanjian baru seperti kematian Yesus (Lk 22:20). Pengikut Yesus seperti Stefanus menunjukkan bagaimana kita mengikuti Yesus bukan dengan peniruan tetapi dengan cara yang cocok dengan tahap kita dalam sejarah Kerajaan Allah, yaitu zaman Roh yang juga merupakan zaman pemberitaan.


4. Hukum Taurat: Kurban dan Kenajisan

Mei 13, 2008

Kitab Imamat memiliki satu keunikan, yaitu hampir seluruh isi tidak dilanjutkan dalam Perjanjian Baru! Yesus (Mk 7:19) dan gereja perdana (Kis 10:15) menganggap bahwa makan daging babi boleh saja, dan gereja perdana menganggap bahwa kematian Yesus menjadikan kurban Bait Allah mubasir (Ibr 9:1-10:18; mungkin Yesus juga demikian jika Mk 2:10 dikaitkan dengan Mk 10:45).

Hal itu mengharuskan pemahaman yang saya usulkan bahwa Alkitab itu dinamis, berkembang. Tempat Hukum Taurat (HT) diuraikan Paulus dalam Gal 3. Uraian itu menyinggung panggilan Abraham dan pemberian HT (pada pembentukan Israel) dari kisah PL. Yang pokok ialah janji kepada Abraham, yang “tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian” (a.17). Jadi, HT berlaku sementara saja sebagai penuntun (a.24), sampai Kristus datang (a.25) membawa kedewasaan iman (4:1-7).

Apakah dengan demikian HT dibuang saja? “Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” kata Paulus (Rom 3:31). HT tetap “adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik” (Rom 7:12). HT adalah firman Allah yang tidak berlaku lagi. Bagaimana hal itu dapat dipahami?

Usulan saya begini. HT tidak berlaku lagi sebagai hukum, tetapi tetap berfungsi sebagai dasar penyataan yang tanpanya kita tidak dapat memahami puncaknya dalam Yesus. Soal kurban merupakan bagian HT di mana usulan itu paling jelas. Kematian Yesus meniadakan perlunya kurban-kurban Bait Allah, tetapi hanya dapat dipahami dalam terang kurban-kurban itu. Daftar yang berikut meringkas maksud beberapa jenis kurban (dari buku tafsiran Wenham):

  • Im 1. Korban bakaran membawa pendamaian dengan menyenangkan Allah. Paulus dalam Rom 3:25 merujuk pada darah Kristus sebagai jalan pendamaian, yang dalam Rom 5:9-10 dijelaskan sebagai diselamatkan dari murka Allah.
  • Im 2-3. Korban sajian & keselamatan menyangkut doa dan syukur (yang kita lakukan langsung, seperti Ibr 13:15, bnd. Im 7:13; Mzm 50:14).
  • Im 4-5:13. Korban penghapus dosa menyucikan noda dosa. Ibr 9:13-14 menjelaskan hasil darah Kristus dengan bahasa seperti itu.
  • Im 5:14dst Korban penebus salah melunasi hutang dosa, seperti juga darah Kristus (1 Kor 6:20)

Dalam bahasa lain, ketika Yesus menggenapi sistem kurban dalam PL, dia tidak meniadakan maknanya melainkan menerapkan maknanya dengan cara yang baru. Sistem kurban tetap berfungsi sebagai penyataan Allah, tetapi bukan lagi sebagai hukum. Jadi, kita menggunakan bahan Imamat 1-5 dan yang sejenis untuk menjelaskan makna kematian Kristus, bukan untuk dipraktekkan.

Bagaimana dengan sistem kenajisan? Penyataan apa yang ada di dalamnya? Im 11:44-45 mengusulkan bahwa sistem kenajisan mengajarkan kekudusan kepada Israel yang telah ditebus. Yang najis tidak boleh bersentuhan dengan Yang Kudus. Yesus dalam Mrk 7:20-23 mengartikan kenajisan sebagai simbol dosa, dan 1 Pet 1:18-19 (dalam konteks kekudusan, a.15) menawarkan darah Kristus sebagai solusinya. Salib Kristus yang mengajar kita betapa najisnya dosa, dan itulah yang mengajar kita untuk hidup kudus. Dengan bahasa lain: dosa lebih parah daripada pelanggaran tabu.

Seri Pemahaman PL


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.