Kis 22:30-23:11 Hati nurani yang murni adalah dasar kesaksian yang berani

Januari 24, 2011

Tugas Paulus dalam kisah pendek ini secara tersirat dapat diambil dari Kis 20:24, yaitu, “memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah” di tengah penjara dan sengsara sekalipun (20:23). Hal itu sudah dia lakukan di hadapan rakyat di Yerusalem dengan menceritakan perjumpaannya dengan Kristus di jalan menuju Damsyik, tetapi begitu dia menyebutkan bahwa dia diutus kepada bangsa-bangsa lain, huru-hara mulai kembali dan dia harus diamankan di markas (22:21-22). Dengan Paulus ketahuan sebagai warga Rum, kepala pasukan memutuskan untuk mencari penjelasan dari Mahkamah Agung (22:30). Maka muncullah kesempatan kedua Paulus untuk bersaksi kepada orang-orang di Yerusalem, kali ini kepada mantan rekan-rekannya (dan mungkin ada mantan atasan yang belum pensiun, tetapi peristiwa ini kurang lebih 25 tahun setelah Paulus bertobat). Apakah Paulus akan setia pada panggilannya?

Ternyata, jangankan tidak takut, Paulus yang pertama menyerang, tetapi bukan dengan menuduh, tetapi dengan kesaksian tentang hati nurani yang murni (23:1). Hal itu bukan pengakuan bahwa dia bebas dari dosa (bnd. 1 Kor 4:4). Tentang ketaatannya menurut hukum Taurat dia pernah menulis kepada jemaat di Filipi bahwa sebelum dia berjumpa dengan Kristus dia tidak bercacat (Fil 3:6)—tidak bercacat tetapi salah haluan karena menentang Kristus! Jadi, di sini dia menegaskan dari awalnya bahwa perubahan jalan yang begitu drastis dari Saulus yang menganiaya jemaat menjadi Paulus rasul Kristus itu perubahan yang dia amini sepenuhnya sebagai karya Allah dalam hidupnya. Tentu, tersirat di dalamnya adalah implikasi bahwa jalan yang dia tinggalkan, dan tetap mereka anut, adalah jalan menentang Allah. Makanya, Imam Besar menyuruh Paulus ditampar (Kis 23:2). Dengan pernyataan ini Paulus sudah mulai bersaksi tentang Kristus, sebagaimana dibuktikan oleh penolakan yang keras.

Reaksi Paulus menarik (20:3), karena di tempat yang lain dia menasihati jemaat di Roma untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (Rom 12:17-21). Orang yang dekat Paulus menuduh bahwa dia mengejek (Kis 22:4), tetapi Paulus sendiri hanya mengaku bahwa jabatan Imam Besar perlu dihormati (22:5). Walaupun nadanya terlalu keras dalam ukuran budaya Indonesia (ataupun Australia), dalam konteksnya Paulus membela haknya untuk diperlakukan dengan adil, sesuai dengan tuntutan hukum Taurat sendiri. Kita melihat bahwa tidak membalas tidak sama dengan membiarkan diri ditindas.

Tindakan Paulus yang berikut cerdik, tetapi juga tepat (22:6). Kebangkitan orang mati adalah inti kesaksian tentang Kristus dalam Kisah Para Rasul, sebagaimana dilihat dalam semua khotbah yang diceritakan Lukas. Walaupun Kristus tidak sempat disebutkan dalam konteks ini, mereka semua pasti sudah mendengar langsung atau lewat laporan kisah Paulus kepada rakyat, selain pemberitaan jemaat di Yerusalem, sehingga jelas bahwa kebangkitan Kristus yang dimaksud. Perpecahan yang timbul menunjukkan sifat yang sebenarnya dari kumpulan ini. Bukannya mereka mempertahankan visi yang jelas, melainkan menyerang ajaran yang akan merongrong kuasa mereka seandainya diterima luas. Hal itu disoroti Lukas dengan penjelasannya tentang perbedaan yang mendasar antara kelompok Saduki dan Farisi (22:8), dan juga refrain “timbul/terjadi perpecahan/keributan” (22:7, 9, 10) yang menunjukkan bahwa mereka sama saja dengan rakyat yang ribut dalam pasal sebelumnya. Sama seperti Yesus, kehadiran Paulus di Mahkamah Agung mengadili Mahkamah Agung itu, bukan sebaliknya. Sayangnya, sudah banyak gereja yang menunjukkan gejala yang sama karena kehilangan arah yang jelas.

Sebagai pembaca, atau paling sedikit sebagai pembaca orang Indonesia yang sangat menghargai keharmonisan, kita mungkin ragu apakah Paulus sudah memberi kesaksian yang tepat. Lukas mengakhiri kisah pendek ini dengan penilaian otoritas tertinggi, yakni Kristus sendiri. Paulus sudah menunaikan tugasnya untuk memberi kesaksian tentang Kristus di Yerusalem, baik kepada rakyat maupun kepada para pemimpin. Ternyata tugasnya belum selesai, karena dia harus juga bersaksi di Roma. Tetapi itu kisah lain.

Kita di mana dalam kisah pendek ini? Dengan Mahkamah Agung, menghalangi pemberitaan Kristus karena kepentingan-kepentingan lembaga, seperti kepentingan untuk berdamai dengan pemerintah atau tokoh adat setempat? Atau dengan Paulus, yang berani mengemban panggilannya dan bersaksi tentang Kristus? Atau mungkin di antaranya. Simpatik, malah kagum, akan Paulus, tetapi kurang berani atau kurang berkeyakinan untuk menanggung risiko yang terjadi ketika kita bersaksi dengan jelas. Jangan sampai kekurangan itu terjadi karena kita tidak mampu mengatakan “sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah”.


Yoh 3:22-36 Meresponsi Anak Allah yang ada di atas semuanya

Desember 22, 2010

“Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya”—dua kali Yohanis mengucapkan pernyataan ini dalam a.31. Pernyataan ini meneguhkan penerimaan Yohanis bahwa Kristus harus makin besar dan Yohanis makin kecil (a.30), seperti digambarkan dalam aa.22-26. Yohanis tidak muncul lagi dalam Injil ini (hanya kesaksiannya disebutkan beberapa kali), dan aa.31-36 ini merupakan kesaksian terakhir sang saksi Terang yang sesungguhnya (1:7, 9).

Dalam aa.31-34 Yohanis berbicara tentang Yesus sebagai nabi, tetapi nabi yang datang dari sorga sehingga kesaksian-Nya tentang hal-hal sorgawi adalah sebagai saksi mata, beda dari Yohanis yang hanya dapat berbicara sebagai orang yang berasal dari bumi. Dalam a.34 Yesus adalah utusan Allah yang menyampaikan firman Allah, sama seperti Yohanis, sehingga menolak kesaksian Yesus adalah menolak kejujuran Allah sendiri (a.33). Hanya, Yesus melebihi nabi-nabi yang lain karena Dia dikaruniakan Roh Allah tanpa batas (bnd. 1:32-33). Hal itu terjadi karena Yesus juga adalah anak Allah yang kepada-Nya Allah memberi “segala sesuatu” tanpa batas (a.35). Istilah “anak Allah” dari satu segi sama dengan Mesias, yaitu utusan Allah yang mewakili kerajaan Allah di bumi. Sebagai Mesias Yesus dapat menerima bukan hanya Roh Kudus tetapi juga “segala sesuatu” yang diperlukan dalam rangka mewujudkan damai sejahtera Allah dalam dunia-Nya (bnd. Yes 9:1-6; 11:1-10). Dari “segala sesuatu” itu, Injil ini berfokus pada hidup yang kekal, yaitu kuasa untuk menjadi pewaris kerajaan Allah itu. Yang diberikan kepada Yesus bukan hanya firman Allah, tetapi juga hidup kekal itu (bnd. 10:28-29).

Namun, karena anak Allah ini datang dari sorga, artian keanakan-Nya melebihi apa yang diharapkan dari PL tentang Mesias. Hal itu sudah diangkat dalam 1:14-18 dan diuraikan lebih jauh dalam 5:19-47. Melihat Yesus adalah melihat Bapa-Nya. Kuasa untuk menjadi pewaris kerajaan Allah adalah kuasa untuk menjadi anak Allah di dalam Sang Anak itu (1:12-13). Dengan demikian, akibat dari dua respons terhadap Yesus masing-masing dahsyat. Orang yang percaya kepada Anak menerima hidup kekal (a.36a), artinya bukan hanya hidup tanpa batas tetapi hubungan dengan Allah sebagai anak, suatu hubungan yang akan menyatakan dan menyempurnakan harkat kita sebagai manusia. Sebaliknya, orang yang menolak kesaksian Yesus tidak hanya menolak seorang nabi tetapi menolak Anak Allah, sehingga tidak melihat hidup (alias berada dalam kegelapan dan kemanusiaannya makin lama makin hancur), karena berada di bawah murka Allah (a.36b).

Semoga Natal ini membawa penerimaan Yesus yang terwujud dalam cara hidup yang sudah mulai beraroma kekekalan. Sampai jumpa kembali dalam tahun baru.


Yoh 1:9 Terang yang sesungguhnya

Desember 16, 2010

Manusia takut akan kekacauan dan rindu akan keteraturan, tatanan dunia yang stabil. Tentu dunia bisa terlalu stabil sampai membosankan, tetapi kekacauan layak ditakuti: kekacauan bumi berbentuk bencana alam, kekacauan masyarakat berbentuk anarki, kekacauan dalam batin diri, semuanya mengancam kehidupan dan merusak rencana dan cita-cita. Makanya, semua budaya memiliki suatu konsep tentang tatanan dunia, mencakup bumi, masyarakat dan pribadi. Bagi orang Toraja masa lampau ada aluk to dolo. Bagi orang Yunani ada logos (firman), rasio yang semestinya mengatur dunia politik dan pribadi. Bagi orang Yahudi, Allah menciptakan dunia dengan berfirman, kemudian mengatur kehidupan umat-Nya dengan Taurat.

Mengancam kehidupan artinya berpihak pada maut. Merusak rencana dan cita-cita artinya membuat gelap. Jadi, Yohanes menjelaskan bahwa firman itu wadah kehidupan dan terang (a.4). Kegelapan mengancam terus, tetapi terang itu tetap ada (a.5), karena memang firman itu berakar dalam Yang Ilahi sendiri (a.1).

Sampai di situ bahasa perikop menyambung dengan mungkin hampir semua filsafat dunia. Tetapi dalam a.6 kita mulai melihat sesuatu yang konkret: ada saksi tentang terang ini. Dari satu segi adanya saksi tentang terang tidak masuk akal. Terang adalah hal yang paling mudah dilihat! Tetapi banyak filsafat dan agama sadar tentang kebutaan manusia yang justru sulit mengenali firman yang mendasari kehidupan ini. Saksi ini adalah Yohanes (disebut Pembaptis dalam Injil-Injil yang lain). Yang menarik, penulis Injil (yang menurut tradisi gereja juga bernama Yohanes, tetapi lain orangnya) membantah kalau Yohanes ini adalah terang. Bukankah seorang utusan Allah (a.6) yang membawa umat percaya pada firman Allah (a.7) itu layak dianggap sendiri sebagai pembawa terang? Seperti para nabi dalam PL, atau para filsuf Yunani, atau, mungkin (saya kurang tahu), to minaa dalam aluk, dia menerangi jalan hidup. Tetapi dia ditempatkan sebagai saksi saja. Terang yang sesungguhnya datang pada saat Yohanes bersaksi (itu maksudnya kata “sedang” dalam a.9, bukan masa kita tetapi masa Yohanes), tetapi Yohanes bukan terang itu.

Sebelum penulis Injil menjelaskan teka-teki itu, dia bercerita tentang penerimaan terang itu. Aa.10-11 menegaskan apa yang dikatakan di atas, bahwa banyak orang sulit mengenali firman yang mendasari hidup mereka. Nabi-nabi PL membuktikan bahwa Israel sulit hidup sesuai dengan terang Taurat, padahal mereka merupakan “kepunyaan” Taurat, artinya mereka dibentuk oleh Taurat itu sebagai umat Allah. Tersirat di dalam pernyataan ini adalah pemahaman bahwa firman itu tidak dapat diterima secara formal saja, tetapi perlu dipercayai, malah dihayati. Hal itu menjadi jelas dalam aa.12-13, yang menggambarkan orang yang menerima firman itu. Mereka dapat menjadi anak-anak Allah, artinya memiliki relasi yang akrab dengan Allah, bukan karena soal keturunan tetapi karena Allah membawa hidup baru ke dalam kehidupan mereka. Dengan mengenali tatanan dunia yang sebenarnya, yang menjadi dasar keteraturan dalam diri dan masyarakat, orangnya berubah pada tingkat paling mendasar dalam dirinya.

Gagasan itu sudah menantang agama seperti aluk to dolo, yang tidak banyak mencita-citakan relasi dengan yang ilahi (kecuali mungkin dalam bentuk leluhur yang sudah menjadi ilahi), dan lebih mementingkan kuasa untuk mengatur dunia ini daripada kuasa menjadi anak Allah yang diatur oleh firman Allah. Sebagian besar penganut agama apa saja juga demikian. Namun, dalam banyak agama ada aliran “mistis” yang mau memiliki hubungan yang erat dengan yang ilahi. Ayat berikut mengandung berita yang dahsyat bagi mereka: firman itu menjadi manusia tertentu, sehingga bisa dikenal dengan sangat jelas.

Secara harfiah, a.14 mengatakan bahwa firman itu menjadi daging. Tatanan dunia, wadah kehidupan, terang manusia, telah menjadi satu sosok manusia. Gagasan itu memang sulit diterima, entah dalam rangka kehormatan, bahwa firman terlalu mulia untuk menjadi manusia, atau dalam rangka rasio, bahwa yang universal tidak mungkin menjadi satu orang tertentu. Tetapi maknanya luar biasa. Terang itu diam di antara kita, dan ternyata terang itu bukan sekadar terang tentang tatanan dunia melainkan terang itu adalah kemuliaan Allah sendiri! Di dalam Dia yang disaksikan oleh Yohanes (a.15), maksudnya Yesus Kristus, kita melihat prinsip dunia dan sekaligus pribadi Allah. Dia menjadi perwujudan firman Allah, bagaimana Allah mengatur dunia yang diciptakan, dan menyatakan Allah sendiri sama seperti seorang anak menyatakan Bapanya. Dengan demikian, Allah sendiri hadir di dalam Kristus, dan kita diberi kuasa untuk sungguh-sungguh menjadi anak-anak Allah karena kita percaya dalam nama Sang Anak sejati itu.

Tantangan bagi kita ialah sejauh mana terang itu menjadi dasar kehidupan kita. Setiap kali seseorang pergi ke dukun, dia mencari keteraturan bukan dari Kristus tetapi dari kuasa yang lain. Setiap kali seseorang serakah, dia menjadikan duit itu sebagai pengatur kehidupan dan pencegah kekacauan dalam hidupnya. Orang yang menentang pembaruan lupa bahwa terang yang sesungguhnya mengubah air menjadi anggur. Orang yang khawatir tentang makanan dan minuman lupa bahwa Sang Sumber Hidup sanggup memberi makan 5.000 orang. Orang yang mengejar gengsi lupa bahwa terang ilahi—kemuliaan Allah—dinyatakan ketika Yesus naik salib yang hina. Mengenal Allah dalam terang yang sesungguhnya membawa dampak besar bilamana dijadikan dasar kehidupan kita.

Bagi pembaca yang melanjutkan pelayanan Yohanes, yaitu menjadi saksi tentang terang yang sesungguhnya pada musim Natal ini, kita mau supaya jemaat menjadikan Kristus terang mereka. Sumber kekacauan dalam kehidupan jemaat (secara kelompok dan individu) ialah bahwa Pengatur yang sesungguhnya masih sekadar embel-embel, formalitas. Daripada hanya menegor kekacauan itu terus-menerus sampai semua bosan, marilah kita menemukan cara untuk bersaksi tentang Kristus sampai jemaat dapat memahami apa artinya menerima-Nya sebagai Terang dan Hidup. Semoga banyak yang menerima-Nya Natal ini sehingga mulai menikmati hidup yang sesungguhnya sebagai anak-anak Allah dalam Sang Anak.


1 Pet 3:1-7 Rumah tangga sebagai wadah kesaksian dan spiritualitas

November 3, 2010

Sepintas lalu perikop ini menyangkut hubungan timbal-balik antara suami dan istri. Tetapi jika dicermati, nasihat Petrus menyangkut dua keadaan yang berbeda. Aa.1-6 menyangkut seorang istri dengan pasangan yang belum percaya, sedangkan dalam a.7 pasangan si suami adalah sesama pewaris kasih karunia. Jadi, kedua-duanya merupakan penerapan dari 2:13-17, yang menyampaikan bahwa dalam kemerdekaan sebagai hamba-hamba Allah, orang-orang Kristen semestinya menjadi lebih baik dan berguna dalam masyarakat, bukan lebih kacau. Lembaga-lembaga seperti pemerintahan hanya disinggung di situ, tetapi kemudian Petrus menyoroti lembaga-lembaga dalam rumah tangga, yakni perhambaan (bnd. 1 Pet 2:18-25 yang dibahas beberapa minggu yang lalu), dan dalam perikop kita pernikahan. Kemudian, dalam 3:8 dst Petrus kembali ke soal persekutuan di tengah dunia yang tidak ramah, melanjutkan tema 2:12, “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa”. Tema itu adalah penerapan dari identitas jemaat sebagai umat Allah (2:9-10) sebagai puncak penguaraian Petrus tentang Injil. Jadi, perikop kita adalah bagian dari penguraian Petrus tentang cara hidup yang baik sebagai kesaksian tentang Kristus.

Latar belakang budaya juga perlu dijelaskan sedikit. Pernikahan dalam budaya Yunani abad pertama tidak terlalu mengandung unsur persahabatan. Bagi laki-laki, istri menyangkut keturunan yang sah, sedangkan seringkali ada isteri muda untuk penghiburan dan/atau pelacur untuk kesenangan. Istri tidak sama dengan hamba, tetapi tetap dituntut taat kepada suami. Hal itu termasuk agama, dan seorang isteri dituntut mengikuti pola agama suaminya. Makanya, Petrus mengalamatkan isteri yang suaminya belum percaya, tetapi bukan sebaliknya karena jarang ada suami yang isterinya tidak mengaku ikut percaya. Jadi, dalam aa.1-6 kita belajar tentang cara bersaksi oleh bawahan dalam hubungan yang tidak seimbang, dan dalam a.7 kita belajar tentang pernikahan kristiani.

Kedua bagian itu masing-masing memiliki tujuan. Isteri menempatkan diri di bawah kuasa (artian harfiah dari kata yang diterjemahkan “tunduk”) suami yang belum percaya itu untuk memenangkan dia (a.1). Suami hidup dengan bijaksana, artinya, dalam pengetahuan bahwa isterinya teman pewaris dari kasih karunia, supaya doa jangan terhalang. (Apakah doa suami, doa suami dan isteri secara terpisah, atau justru doa keluarga yang dirujuk di sini tidaklah jelas, tetapi semuanya mungkin.) Aa.2-6 merupakan penjelasan dari a.1, yaitu menguraikan apa itu cara hidup yang baik. Oleh karena itu, usulan amanat teks sbb: Cara hidup yang baik dalam pernikahan dapat memenangkan suami yang belum percaya dan memperlancar doa keluarga. Judul “Rumah tangga sebagai wadah kesaksian dan spiritualitas” bisa menjadi bibit amanat khotbah.

Beberapa catatan sbb. 1) Bahasa “cara hidup yang baik” diambil dari 2:12, sebagai latar belakang dari perikop ini, di mana penempatan diri dari isteri dan hidup dengan bijaksana dari suami dicakup dalam bahasa itu. Satu alternatif ialah “Menghormati pasangan dalam pernikahan” dst. Kata hormat diambil dari 2:17, dan bisa mencakup penempatan diri oleh isteri, dan juga soal hidup dengan bijaksana oleh suami. “Cara hidup” dalam 2:12 merupakan terjemahan bahasa Yunani anastrofe yang dalam 3:1 ini diterjemahan “kelakuan”.

2) “Tunduklah” dalam a.1 berarti “menempatkan diri di bawah”, artinya, mengakui wewenang atasan. Dari akhir penjelasan dalam a.6, “tidak takut akan ancaman”, kita melihat bahwa maksudnya bukan bahwa isteri disuruh pasrah saja karena terlalu takut untuk melawan. Sebaliknya, dalam kasih kepada suami, yaitu dengan keinginan supaya dia dimenangkan bagi Kristus, isteri, dalam takut akan Allah, berusaha untuk menjadi isteri yang baik. Penguraian dalam aa.2-4 menunjukkan bahwa “isteri yang baik” diartikan sesuai dengan budaya pada saat itu, karena nasihat Petrus mirip dengan nasihat umum pada saat itu tentang perhiasan dsb. Tentu, nasihat umum itu sesuatu yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Injil, dan Petrus melihat bahwa intisari nasihat itu cocok dengan apa yang diinginkan Allah (a.4 “di mata Allah”), dan juga sikap isteri-isteri dalam PL (aa.5-6a, perhatikan bahwa “-nya” dalam “anak-anaknya” dalam bahasa aslinya merujuk pada Sara, bukan Abraham). Tetapi dalam paling sedikit satu hal dia harus siap tidak taat kepada suaminya, yaitu dengan tidak ikut agamanya. Jadi, menjadi isteri yang dianggap baik oleh suami bukan soal ketakutan melainkan kesaksian.

3) Hal itu berarti bahwa nasihat bagi isteri itu bersifat kontekstual. Tidak tepat, misalnya, kalau a.3 dianggap melarang perempuan berdandan, karena yang ditujukan dalam nasihat umum di budaya itu bukan soal perhiasan an sich melainkan pencarian perhatian melalui berdandan. Orang bijak dalam budaya Yunani dapat membedakan karakter yang membawa keindahan ke dalam keluarga dari penampilan yang menarik perhatian bagi perempuan. Lebih lagi orang kristen yang mengalami pembaruan dalam batin. Namun, tidak semua perhiasan dapat dianggap penonjolan diri.

4) Sekali lagi, aa.1-6 tidak berbicara tentang keluarga kristen, melainkan tentang keluarga yang bercampur agama. Barangkali, isteri dan suami pernah seagama, entah agama Yahudi atau keagamaan Yunani-Romawi, tetapi isteri sudah jadi percaya kepada Kristus. Hal itu bisa juga terjadi di Indonesia, entah aluk todolo atau Islam atau agama yang lain. Tetapi, dalam konteks kekristenan sering ada suami yang mengaku kristen tetapi juga “tidak taat kepada Firman”, alias kristen KTP. Nasihat Petrus supaya tindakan dibiarkan berbicara lebih dulu mungkin bisa berguna sebagai alternatif dari isteri menegor suaminya terus. Rumah tangga adalah tempat orang paling ketahuan sifatnya. Jika Kristus terpancar di dalam kehidupan isteri, hal itu sulit diabaikan oleh suami (walaupun sebagian suami ternyata berhasil mengabaikannya).

5) Ada istilah “kekerasan rohani”, di mana (biasanya) suami tampil sangat saleh tetapi melecehkan isterinya terus melalui kritikan yang tidak berdasar. Suami yang dipengaruhi oleh budaya patriarkhis bisa sulit untuk menerima isterinya yang lemah dalam kedudukan sosial sebagai setara dalam pewarisan kasih karunia. Tetapi doa-doa suami seperti itu tidak akan diterima Allah (bnd. 3:12), dan ibadah keluarga tidak dapat dilakukan dengan tulus dalam suasana seperti itu.


Rom 10:9-15 Percaya dan mengaku

Oktober 4, 2010

Dalam salah satu renungan yang lalu saya menguraikan pemahaman saya tentang konteks perikop ini dalam Roma pp.9-11. Di tengah pembahasan tentang rencana Allah dalam penolakan Kristus oleh sebagian besar Israel, Paulus menjelaskan penerimaan dan penolakan Kristus dari perspektif manusia. Seperti dinubuatkan Musa (Rom 10:6-8, yang menjadi landasan untuk a.9 yang dimulai dengan kata “sebab”), pesan Injil tidaklah jauh dari manusia, dan hal itu diuraikan sampai pada akhir perikop kita. Jika hal itu menjadikan Israel pada zaman Paulus tanpa dalih (10:16 dst), lebih lagi kita yang hidup dalam kekristenan seperti anggota-anggota gereja. Makanya, kita mesti mempelajari jalan keselamatan yang di sini disampaikan secara ringkas oleh Paulus.

A.9 menyampaikan rumusan yang sederhana tetapi dalam. Cukup bagi seseorang untuk mengaku dan percaya. Pengakuan itu dilakukan dengan mulut, artinya di depan orang lain, dan isinya bahwa Yesus adalah Tuhan. Kata “Tuhan” dalam bahasa Yunani sama dengan kata “tuan” (kurios), dan merujuk pada kedudukan kita sebagai hamba-hamba Yesus. Dia adalah bos, kita adalah bawahan-Nya. Tetapi relasi hamba-tuan selalu timbal-balik, dalam artian bahwa seorang tuan tidak hanya menyuruh hambanya tetapi juga melindungi hambanya. Seorang hamba yang sejati akan setujuan dan senasib dengan tuannya. Mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan pada saat itu berarti bahwa Kristus dan bukan Kaisar (atau dewa-dewi yang lain) yang diharapkan untuk membawa keselamatan dalam dunia ini, dan bahwa Kristus bukan bos-bos manusia yang diharapkan untuk kesejahteraan hidup.

Tetapi selain mengaku Kristus sebagai bos tertinggi dalam kehidupan kita, juga dikatakan bahwa kita harus percaya dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Kristus. Perhatikan bahwa hal itu bukan soal percaya secara umum. Banyak orang dengan saleh mencoba mengandalkan Allah dalam pergumulan hidup, sekalipun mereka tidak tahu atau tidak percaya atau tidak peduli bahwa Kristus telah bangkit. Mengapa kebangkitan Kristus diangkat di sini?

Dalam a.10 Paulus menjelaskan bahwa hasil atau tujuan percaya ialah pembenaran. Ternyata dalam ayat ini keselamatan adalah tahap kedua yang mendasari pembenaran. Ayat ini menyimpulkan pembahasan Paulus dalam Roma p.4, tentang Abraham yang percaya pada janji Allah bahwa istrinya akan melahirkan seorang anak, lalu dibenarkan oleh iman itu. Dua hal tentang iman ditegaskan dalam perikop itu. Yang pertama, iman mengutamakan janji Allah di atas perbuatan manusia. Dalam Roma p.4 Paulus menegaskan bahwa yang mendasar bagi Abraham bukan hukum Taurat (atau bibitnya dalam hal sunat 4:10-11), melainkan janji Allah (4:13). Harus demikian, karena janji Allah bukan janji bersyarat atau janji akan suatu upah (4:4, 14). Seandainya janji Allah adalah janji bersyarat, maka kita semua akan gagal sehingga tidak ada harapan (4:15). Jadi, menurut Paulus iman adalah pertama-tama tentang janji Allah. Bagi Paulus, yang jauh lebih penting dari kadar ketaatan kita adalah kadar karya keselamatan Allah. Abraham percaya akan janji yang masih merupakan bibit dari penggenapannya dalam Kristus. Kita percaya bahwa puncaknya telah jadi dalam kebangkitan Kristus, yang membuktikan bahwa dosa telah ditebus dalam kematian-Nya dan maut telah dikalahkan.

Yang kedua, mengutamakan janji Allah berarti bahwa kita mengutamakan rencana Allah. Iman tidak berarti bahwa kita percaya bahwa Allah akan kasih stempel pada semua cita-cita dan harapan kita, tetapi berarti bahwa kita percaya bahwa rencana Allah yang berpusat pada Kristus akan terwujud. Percaya bahwa Kristus telah bangkit menyiratkan bahwa kita menginginkan apa yang dijanjikan Allah itu, yakni pelepasan dari dosa dan hidup kekal bersama dengan Allah. Hal-hal itulah yang diinginkan Allah untuk kita.

Paulus membuktikan kedua tahap itu dengan dua nas PL. Dalam a.11 dia mengutip Yes 28:16 yang sudah dikutip dalam Rom 9:33. Yes 28:16 berbicara tentang orang yang percaya kepada Allah sehingga tidak akan hancur ketika Allah menghukum Israel. Terkandung dalam hukuman Allah adalah rasa malu yang sangat, yaitu bahwa dosa kita diperlihatkan di depan umum. Semua dalih, bohong, dan penipuan kita akan ketahuan. Tetapi orang-orang yang percaya pada Allah tidak akan dipermalukan. Sebaliknya, karena dibenarkan oleh Allah dengan cuma-cuma, mereka terhitung sebagai umat-Nya, sebagai hamba Tuhan Yesus yang sejati dan layak dilindungi. Makanya, untuk semua macam orang yang percaya (a.12), Allah akan menyelamatkan mereka ketika mereka berseru kepada-Nya (a.13). Keselamatan itu terutama berarti keselamatan dari murka Allah sebagai akibat dari dosa kita (Rom 5:9), tetapi tidak lepas dari keselamatan dalam kehidupan ini (bnd. 2 Kor 1:9-11).

Jika keselamatan berdasarkan janji Allah yang luar biasa itu ditunjukkan untuk semua orang, bagaimana dengan orang-orang yang belum berjumpa dengan janji itu? Dalam aa.14-15 Paulus mengajukan dan menjawab pertanyaan itu. Berseru (sehingga diselamatkan) hanya munkin jika sudah percaya. Percaya hanya mungkin jika sudah mendengar tentang Kristus. Mengapa? Karena percaya berarti percaya bahwa Allah telah membangkitkan Kristus. Kebangkitan Kristus adalah peristiwa sejarah. Baik nalar maupun hati tidak bisa menjangkau peristiwa sejarah kecuali diberitahu. Budaya setempat bisa membawa banyak nilai Injili, tetapi tidak bisa memberitahu tentang kebangkitan Kristus. Makanya, perlu ada yang memberitakan Kristus. Siapa? Sama seperti Paulus dan Barnabas diutus (Kis 13:2-3), perlu ada yang diutus untuk membawa berita tentang Kristus kepada mereka yang belum mendengarnya. Dalam Rom 15:24 Paulus akan meminta dukungan mereka untuk dia melanjutkan misi itu.

Dalam perikop ini Paulus menjelaskan bagaimana semua orang, dari agama dan kelompok apapun, menerima keselamatan, yaitu dengan percaya pada karya dan rencana Allah yang berpuncak dalam kebangkitan Kristus sehingga mengandalkan Kristus sebagai Tuhan di depan umum. Jika perikop ini diberi judul “tidak sekadar percaya”, yang di atas percaya itu bukan perbuatan kita melainkan janji dan rencana Allah. Respons kita yang utama adalah percaya dan mengaku. Respons yang berikut adalah mengabarkan kabar baik itu.

Sebagai tambahan atau lampiran, mungkin ada dua pertanyaan yang perlu dijawab. 1) Apakah perbuatan baik tidak penting? Jawabannya: tetap penting, tetapi pentingnya diuraikan dalam Roma pp.6-8 dan pp.12-13, bukan dalam perikop kita. Berdisiplinlah menafsir teks yang ada! 2) Apakah semua orang yang tidak pernah terjangkau oleh pemberitaan Injil sudah pasti tidak selamat? Jawabannya: saya tidak tahu. Paulus menyampaikan logika iman Injili, yaitu bahwa kita harus percaya pada janji Allah, bukan pada bayangan kita, sehingga Kristus perlu diberitakan kepada semua. Bahwa Allah sedang menjangkau banyak orang di luar usaha-usaha lembaga kristiani tidak saya ragukan. Tetapi kita tidak bertindak atas pengandaian-pengandaian melainkan atas firman Allah yang jelas, yaitu indahnya kedatangan orang yang membawa kabar baik.


Titus 2:1-10 Pelayan, ajaran dan jemaat yang sehat

September 20, 2010

Titus 1 menugasi Titus untuk menghadapi masalah ajaran yang tidak sehat dalam jemaat-jemaat di Kreta (1:5). Ajaran itu berdampak pada kekacauan (1:10) dan jemaat yang rentan terhadap penipu (1:11). Dalam p.2 Paulus memberitahu Titus apa yang harus diajarkan untuk menanggapi ajaran yang tidak sehat itu (lihat “beritakanlah” dalam a.1 dan a.15 untuk membuktikan bahwa aa.1-15 merupakan satu kesatuan). Nasihat Paulus terbagi dua. Perikop kita (aa.1-10) menguraikan gambaran tentang hidup yang tertib untuk berbagai kelompok: laki-laki yang tua (a.2); perempuan yang tua (aa.3-4a); perempuan yang muda (aa.4b-5); pemuda (a.6) dan hamba (aa.9-10). Dalam penguraian itu kelompok pertama (a.2) menunjukkan pola mendasar, karena beberapa kali kemudian ada kata “demikian…demikian” (aa.3, 5). Jadi, nasihat mendasar adalah hidup sederhana (secara harfiah bukan peminum, tetapi secara kiasan bukan seperti peminum yang tidak dapat mengendalikan diri), terhormat (karena kebaikannya), bijaksana dan akhirnya sehat dalam iman, kasih dan ketekunan (wujud nyata dari pengharapan, artinya, jika kita berpengharapan kita dapat bertekun). Yang terakhir ini menunjukkan bahwa yang diharapkan bukan sifat saja, tetapi sifat yang berasal dari Injil. Hal itu menjadi jelas dalam bagian kedua, yaitu aa.11-14, yang mendasarkan sifat baik dalam a.12 pada karya Allah dalam Kristus (aa.11, 13-14). Jadi, Titus harus menanggapi ajaran yang tidak sehat itu dengan nasihat tentang sifat hidup yang tertib serta dasar teologisnya.

Nasihat itu mendasari Injil, tetapi juga memperhatikan konteks. Dalam a.2 kata “terhormat” merujuk pada sesuatu yang dianggap sangat layak dikagumi, dan dipakai untuk dewa dan kaisar selain juga untuk manusia biasa yang dianggap terhormat. Artinya bahwa nilai-nilai setempat berperan dalam tingkah laku orang percaya. Bukan menentukan, karena Injil yang menentukan, tetapi kita hendak menghayati nilai-nilai Injil sedemikian rupa sehingga orang-orang di sekitar kita dapat melihat bahwa cara hidup itu terhormat. Makanya, nasihat kepada perempuan dan kepada hamba disesuaikan dengan budaya setempat, agar Firman Allah jangan dihujat orang (a.5) melainkan dimuliakan (a.10). Belum tentu di budaya modern bahwa hanya perempuan yang mengatur rumah tangga, atau bahwa karyawan harus taat dalam segala hal, karena karyawan bukan hamba. Tetapi kita tetap mau menunjukkan rumah tangga yang dapat dilihat sebagai sesuatu yang terhormat oleh orang di sekitar kita, dan menjadi karyawan yang memuliakan ajaran Allah.

Jika jemaat mau dijadikan wujud nyata Firman Allah bagi masyarakat di sekitarnya, pelayan juga harus menjadi teladan pemberitaannya kepada jemaat (aa.7-8). Menarik bagi saya bahwa soal keteladanan diangkat pada bagian tentang pemuda. Apakah pada saat itu juga pemuda lebih memperhatikan cara hidup daripada wacana? Tentu, soal keteladanan penting untuk semua kelompok.

Nasihat kepada kelompok-kelompok tidak sulit untuk disampaikan, tetapi apa relevansinya nasihat kepada Titus sebagai pelayan bagi jemaat biasa? Yang pertama, sebagian mereka melayani, entah sebagai majelis atau dalam salah satu OIG. Yang kedua, orang tua semestinya melayani dalam rumah tangga, dan kita semua dapat melayani teman-teman. Tetapi juga, jemaat dapat belajar dan memahami bagaimana semestinya pelayanan kepada mereka. Apakah pendeta dan majelis menjadi teladan firman yang dia sampaikan, contoh orang yang sehat dalam iman, kasih serta ketekunan? Jika tidak, mengapa dipilih?

Singkatnya, amanat teks dapat dirumuskan begini: Cara menghadapi dampak buruk ajaran yang tidak sehat pada kesaksian jemaat ialah pemberitaan nasihat yang dihayati oleh pelayan untuk hidup tertib berdasarkan Injil dan sesuai dengan konteks. Dengan kata lain, pelayan yang sehat memberitakan ajaran yang sehat supaya jemaat menjadi sehat dan membawa kemuliaan bagi firman Allah di masyarakat. Amanat khotbah dapat berfokus pada soal kualitas pelayanan ataupun pada penghayatan iman oleh jemaat.


Gal 1:11-17 Pelajaran dari pertobatan Paulus

Juli 23, 2010

Dalam perikop ini Paulus menceritakan perubahan drastis yang terjadi ketika Kristus berjumpa dengan dia di jalan menuju ke Damsyik. Si penganiaya jemaat menjadi rasul yang mendiri-dirikan jemaat. Si pilar agama Yahudi memberitakan Mesias kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Perubahan itu begitu drastis sehingga kita bisa tertarik untuk menjadikannya sebagai pola pertobatan secara umum. Masalahnya, Paulus tidak mengangkat kisah hidupnya di sini sebagai contoh. Di beberapa tempat Paulus mengangkat berbagai aspek kehidupannya sebagai contoh (mis. 1 Kor 10:33), tetapi di sini dia mau membuktikan bahwa Injil yang dia beritakan berasal dari Allah. Hal itu penting oleh karena tempat Paulus dalam Kisah Agung Alkitab, dalam rencana Allah untuk menyelamatkan bangsa-bangsa. Jadi, kita perlu lebih dulu memahami tempat Paulus dalam rencana Allah, baru melacak relevansinya untuk kita.

Paulus dipanggil sebagai rasul kepada bangsa-bangsa (aa.15-16). Apa artinya seorang rasul? Dari argumentasi Paulus di sini, satu ciri seorang rasul ialah bahwa rasul tidak meneruskan tradisi melainkan menyampaikan penyataan baru tentang Kristus. Seperti disinggung Paulus dalam a.1, penyataan itu terkait dengan kebangkitan Kristus. Rasul-rasul yang lain menjadi rasul sebagai saksi kebangkitan Kristus; Paulus diperjumpakan dengan Kristus yang telah bangkit di jalan menuju ke Damsyik. Jadi, penyataan yang dimaksud bukan penyataan umum, seperti hikmat yang terdapat dalam setiap budaya dsb, melainkan penyataan khusus, tentang karya Allah dalam Yesus Kristus, puncak dari seluruh rencana keselamatan Allah.

Cerita Paulus di sini mengajar kita bahwa Injil bukan suatu filsafat yang dapat kita temukan sendiri, melainkan berita yang harus diberitahu. Kita dapat bersyukur bahwa Allah memanggil Paulus untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa, dan bahwa ada yang meneruskan pelayanan itu sampai Injil datang ke Australia dan Indonesia.

Paulus juga dipanggil di tengah giatnya sebagai penganut agama Yahudi. Agama Yahudi memiliki tempat yang khusus dalam rencana Allah. Dasarnya adalah Taurat dan seluruh PL yang dinyatakan Allah kepada Israel supaya Israel menunjukkan hidup yang sejati di bawah kerajaan Allah. Namun, Taurat itu tidak menghasilkan budaya yang baik, karena dilumpuhkan oleh dosa (3:21-22), sampai Kristus datang (3:23-24). Paulus sendiri membuktikan buruknya budaya Yahudi karena sebagai orang yang maju di dalamnya dia menganggap baik menganiaya jemaat-jemaat Kristus. Pertobatannya tidak membuktikan buruknya Taurat melainkan keberdosaan Paulus (serta angkatannya).

Budaya-budaya dunia pada umumnya tidak memiliki dasar sekuat Taurat, kecuali mau diklaim bahwa budaya Eropa didasarkan pada Injil. Tetapi budaya Eropa juga banyak menyatakan keberdosaan orang-orang Eropa, sama seperti semua budaya yang lain. Jadi, masalahnya bukan budaya (walaupun semua budaya ada segi buruknya) melainkan keberdosaan orangnya. Yang diperlukan adalah Injil, Injil tentang Kristus “yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita” (a.4).


Kis 26:24-31 Yang berilmu mesti bersaksi

April 27, 2010

Dalam Luk 21:12 Yesus mengatakan bahwa “sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku.” Dalam Kis pp.23-25 kita melihat bagaimana Paulus menggunakan kesempatan ketika diadili untuk bersaksi tentang nama Yesus.

Paulus belum lama naik banding ke Kaisar supaya tidak dibawa lagi ke Yerusalem, karena jika ke sana kemungkinan besar orang Yahudi akan berhasil membunuhnya (Kis 25:11). Tetapi Festus, yang baru saja tiba sebagai wali negeri Yudea, menggantikan Feliks, tidak tahu-menahu tentang agama Yahudi, sehingga tidak memahami mengapa orang Yahudi memusuhi Paulus, dan juga bingung tentang apa yang mau ditulis kepada Kaisar mengenai Paulus. Raja Agripa (dan adik perempuannya Bernike) adalah cicit Herodes Agung, orang keturunan Yahudi, dan dianggap ahli tentang agama Yahudi oleh orang-orang Romawi. Jadi, Agripa diminta untuk mendengarkan perkara Paulus. Jadi, Paulus diberi kesempatan untuk bersaksi bukan saja kepada Feliks dan Festus, tetapi sekarang kepada Agripa dan Bernike juga. Dalam a.29 kita melihat bahwa kesaksian Paulus bermaksud supaya semua yang mendengar bisa menjadi orang percaya sama seperti dia.

Dalam 26:2-23 kesaksian Paulus termasuk cara hidupnya sebelum berjumpa dengan Kristus, kemudian bagaimana Kristus mengubah hidupnya secara menyeluruh, kemudian apa yang dia lakukan setelah bertobat. Festus pasti kewalahan mendengar tentang Musa dan para nabi, tetapi soal kebangkitan dapat dia pahami—semua orang tahu bahwa manusia yang sudah mati tidak bangkit kembali. Jadi, dia menganggap Paulus gila saja. Oleh karena itu, Paulus berpaling kepada Agripa, yang memiliki latar belakang untuk memahami kesaksian Paulus. Akhirnya, baik Festus maupun Agripa setuju bahwa Paulus tidak berbahaya dan tidak bersalah (aa.30-32), sesuai dengan salah satu tujuan Lukas supaya pembaca memahami bahwa kekristenan bukan kelompok pemberontak atau pengacau.

Seperti dikatakan Festus, Paulus adalah orang yang berilmu—bukan saja tentang agama Yahudi tetapi juga tentang budaya Helenis, yaitu budaya kekaisaran Romawi. Dalam minggu pendidikan perlu diingat bahwa ilmu bukan untuk memajukan diri sendiri atau mengejar status. Ilmu kita bisa menjadi salah satu bekal untuk kita bersaksi tentang Yesus di tempat kerja atau di depan masyarakat. Mungkin ada yang bersaksi tentang Yesus dengan pikiran yang kurang sehat, seperti mau menang, merendahkan orang lain dsb. Tetapi jangan kita takut dianggap gila oleh orang yang tidak dapat menangkap kebenaran dalam Kristus, kalau memang kebenaran itu disampaikan dengan pikiran yang sehat.


Ef 1:3-14 Menghayati berkat-berkat Allah

November 9, 2009

Perikop ini kaya, sangat kaya. Jadi saya minta maaf jika “renungan” ini agak panjang dan sarat dengan ide. Dalam pendahuluan ini saya coba membahas satu dua hal yang mungkin mencegah kita memuji Allah sesuai dengan isi perikop ini. Kemudian ada komentar per bagian.

A.3 mengangkat tema utama perikop ini, yaitu berkat-berkat rohani yang menjadi alasan untuk memuji Allah. Berkat-berkat itu termasuk kekudusan (4), menjadi anak Allah (5), pengampunan (7), pengetahuan rencana Allah (9) dan Roh Kudus (13). Apakah berkat-berkat ini menarik bagi semua jemaat (termasuk sebagian yang berpendidikan teologi)? Untuk sebagian, saya dapat membayangkan tuduhan (dalam hati) bahwa “rohani” berarti “tidak praktis”, “tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari” dsb. Coba ada uang sekolah, penyembuhan, pemberantasan korupsi dsb, baru berkat dianggap berlimpah-limpah.

Bahwa pandangan itu ada benarnya cukup jelas dari gambaran berkat/kutuk dalam PL (misalnya Ul. 26). Ada yang mengatakan bahwa harapan yang “materialistis” itu sudah diganti dengan harapan yang “rohani”. Pembahasaan itu berbahaya. Jauh lebih tepat mengatakan bahwa harapan yang materialistis itu ditunda. Ketika semua dipersatukan dalam Kristus sebagai Kepala, keadaannya akan seperti dalam Why 21, dengan bumi yang baru yang di dalamnya tidak ada yang merusak kehidupan lagi.

Namun, dalam PL pun berkat utama adalah pengenalan akan Allah. Mengapa Israel dibebaskan dari Mesir? Supaya “menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu” (Kel 6:6). Berkat-berkat rohani yang diuraikan menyangkut berkat utama itu. Kita bisa menjadi anak Allah karena ditebus oleh darah Kristus sehingga kita memiliki jaminan atas warisan (LAI “bagian”) yang dijanjikan. Mengapa hal-hal itu terasa abstrak, terasa tidak menyentuh kehidupan nyata? Saya duga jawabannya dalam a.13. Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat itu bagian dari kehidupan kita, kebutuhan nyata. Sama seperti orang dari luar Toraja sulit memahami keasyikan pesta orang mati di Toraja [maaf kepada pembaca dari luar Toraja :)], orang tanpa Roh Kudus sulit memahami mengapa Allah begitu layak dipuji karena berkat-berkat-Nya dalam Kristus. (Mungkin perlu dicatat bahwa harapan dari Injil yang ditanam Roh Kudus ternyata sangat membantu kita untuk memaksimalkan keadaan yang ada, entah baik atau buruk, sehingga ada gunanya untuk sekarang. Khususnya, kita dimampukan untuk berjuang dalam kasih, seperti dalam pp.4-6.)

Dalam komentar di bawah, saya menebalkan kata-kata tentang kedaulatan Allah, menggarisbawahi kata-kata tentang kemuliaan Allah dan pujian, dan memiringkan kata-kata tentang anugerah (kasih karunia). Perikop ini dimulai dan diakhiri dengan panggilan untuk memuji Allah, dan inti perikop ini adalah anugerah Allah yang terwujud dalam Kristus (aa.7-8). Bagaimana dengan kedaulatan Allah? Orang suka pusing menghadapi pernyataan seperti dalam a.11 bahwa keputusan orang “dari semula ditentukan” dan bahwa Allah “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”. Di mana lagi kebebasan manusia kalau demikian? Sebagai jawaban, perlu diingat bahwa Allah adalah Pencipta, bukan salah satu kuasa di antara banyak kuasa yang lain dalam dunia ini. Jadi, dari satu segi semua kuasa dan kemampuan, termasuk kehendak kita, bergantung pada kuasa Allah yang menopang segala sesuatu. (Jadi, yang menjadi misteri ialah bahwa kita memiliki kehendak bebas, bukan bahwa Allah berdaulat.) Tetapi hal itu bukan fokus Paulus di sini. Rencana Allah diwujudkan dalam Kristus dan diterapkan oleh Roh Kudus. Kedaulatan Allah adalah pelayan rencana Allah itu. Jadi, kedaulatan Allah bukan suatu kehendak yang kabur (sehingga menakutkan), tetapi melayani rencana Allah yang sudah dinyatakan dalam Kristus (a.9).

Jadi, selayaknya perikop ini menjadi bahan untuk kita memuji Allah. Jika kita dimeteraikan dengan Roh Kudus sehingga berada di dalam Kristus maka semua berkat ini adalah milik kita, milik kita yang sangat berharga.

(3) Terpujilah Allah dan Bapa [dari] Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

Kata Bapa tidak merujuk ke Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan Allah adalah juga Bapa dari Tuhan Yesus Kristus [satu artikel (ho) dipakai untuk kedua kata Allah (theos) dan Bapa (pater)]. Perikop ini bersifat ketritunggalan, karena kata rohani merujuk ke karya Roh Kudus, atau paling sedikit dalam a.14 Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat rohani ini nyata dalam kehidupan.

(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, (6) supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

A.4 adalah pernyataan mendasar; a.5 memberi keterangan [kata kerjanya adalah partisip, bukan indikatif]; a.6 adalah tujuannya. Bahasa “kudus”, “tak bercacat” dan “anak” adalah bahasa yang dipakai dalam PL untuk umat Allah, sama seperti “menjadikan kita milik Allah” dalam a.14.

(7) Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, (8) yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. (9) Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus (10) sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

Aa.7-8 adalah pernyataan mendasar; a.9 memberi keterangan [juga partisip], mungkin atas kelimpahan kasih karunia Allah—bukan hanya bahwa kita ditebus oleh darah Kristus tetapi juga kita diberitahu mengenai rencana agung Allah; a.10 adalah tujuannya. Kali ini tujuannya bukan pujian melainkan pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Darah Kristus dalam a.7 adalah caranya untuk a.4, dan bagian ini (khususnya a.7 dan a.10) menjelaskan mengapa ada “di dalam Dia” terus-menerus dalam perikop ini. Kristus adalah pewujud rencana Allah.

(11) Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– (12) supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

Kata kami adalah tafsiran—dalam bahasa Yunani (dan Ibrani dan Inggris) tidak dibedakan anatara kita dan kami. Tafsiran itu tepat, tetapi bagi pembaca asli baru akan jelas dalam a.12 dalam perkataan “yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus” bahwa “kita/kami” merujuk pada kelompok Paulus, bukan pembaca. “Kami” adalah orang-orang Yahudi (lihat juga 2:1-3 dan 2:11-12), yang memang menjadi yang pertama percaya. Mereka adalah tahap pertama dalam pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Tujuannya pujian kembali (a.12b).

(13) Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. (14) Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Tahap berikut dalam pemersatuan segala sesuatu adalah orang non-Yahudi yang jadi percaya (bnd. 2:11-22). Kedua ayat ini adalah dasar ringkas untuk suatu urutan keselamatan (ordo salutis). Yang pertama adalah pendengaran Injil tentang keselamatan, sehingga ada yang percaya. Yang percaya dimeteraikan dengan Roh Kudus (yang menunjukkan bahwa mereka adalah milik Allah) yang menjadi jaminan bahwa mereka akan menerima segala yang dijanjikan Allah pada akhir zaman itu. Jadi, pemberitaan menjadi pintu masuk untuk keselamatan eskatologis (hidup kekal). Roh Kuduslah yang menerapkan dalam kehidupan orang percaya rencana Allah yang terwujud dalam Kristus. Namun, perlu diperhatikan apakah tujuan Allah. Bukan keselamatan saya saja (sebagai individu), melainkan kita sebagai umat milik Allah.


Kis 17:1-9 Siap menanggung risikonya

Oktober 10, 2008

Perjalanan misioner kedua yang dijalani Paulus dikisahkan dalam Kis 16-18, dengan serangkaian cerita dalam 16:11-18:16 yang mengikuti pola yang kurang lebih sebagai berikut: Paulus pergi ke tempat yang baru (di sini Tesalonika, a.1); dia menemukan orang Yahudi dalam ibadah dan memberitakan Kristus kepada mereka (a.2-3); ada yang jadi percaya (a.4); dan juga ada yang mengusir (aa.5-9), sehingga Paulus harus pergi ke tempat yang berikut (a.10). Dengan demikian berulang kali kita melihat semangat Paulus dalam menginjili serta keuletannya menghadapi perlawanan.

Dalam peristiwa ini Lukas hanya meringkas pemberitaan Paulus, barangkali karena lengkapnya mirip dengan yang disampaikan di Antiokia Pisidia (13:16-47). Di sini ada dua pokok. Dari PL, yang diterima sebagai kitab suci oleh orang Yahudi, dibuktikan bahwa Mesias harus menderita dan bangkit. Kemudian, diperlihatkan bahwa Yesuslah yang memenuhi nubuatan itu. Kepada orang di Atena Paulus akan memakai cara penyampaian yang lain (17:22dst), karena PL tidak ada artinya bagi mereka. Itulah sifat misioner Paulus yang kontekstual. Namun, tetap penting bagi kita orang non-Yahudi bahwa kedatangan Yesus bukanlah suatu kebetulan, tetapi sudah lama direncanakan Allah.

Yang menjadi soroton dalam perikop ini ialah reaksi orang Yahudi ketika cukup banyak anggotanya bergabung dengan Paulus, khususnya orang Yunani yang sudah lama bergabung di tempat ibadah itu. Cara mereka sudah lazim di Indonesia juga, yaitu mendesak sidang dengan keributan kelompok sewaan. Tuduhan mereka dibuat-buat (aa.6-7), tetapi saya rasa Lukas memuatnya karena ada benarnya juga. Maksudnya, Paulus dkk tidak memberontak terhadap Kaisar dengan mengikuti Yesus, malah orang Kristen justru dipanggil untuk menjadi taat kepada pemerintah. Tetapi pada segi yang lain, kesetiaan orang kristen pertama-tama tertuju kepada Allah, sehingga bukan Kaisar yang dianggap penyelamat, pelindung, sumber kehidupan.

Saya rasa pengalaman Paulus menjadi kemungkinan untuk semua yang memberitakan Kristus. Jika ada yang pindah keyakinan, yang ditinggalkan bisa saja cemburu. (Apakah itu yang melatarbelakangi sebagian penutupan jemaat di Jawa belakangan ini?) Juga, jika hati kita lebih mengandalkan Allah daripada pemerintah, bisa saja pemerintah gelisah. Syukur tidak selalu begitu, sebagaimana dilihat di Berea, kota berikut dalam perjalanan Paulus, di mana orang Yahudi baik hati. Tetapi kita harus siap menanggung risikonya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.