1 Pet 2:1-10 Jati diri sebagai umat Allah [18 Agustus 2013]

Agustus 13, 2013

Konon ada yang berharap bahwa renungan-renungan ini dapat ditambah dengan hal-hal yang lebih praktis. Mengingat bahwa yang memakai blog ini melayani di kota besar sampai pelosok (jika sempat keluar untuk mendapat jaringan), pertanyaan balik saya ialah, praktis untuk siapa? Hanya pelayan setempat yang bisa sungguh praktis. Tetapi ada satu pertanyaan lagi. Jika blog ini banyak berbicara tentang Allah, tentang karya Kristus, tentang identitas kita di dalam Kristus, untuk siapa hal-hal itu tidak praktis? Suami yang hanya mencari apa yang bisa dia lakukan bagi isterinya tetapi tidak mau memahami isterinya adalah suami yang belum memahami kasih. Jangan sampai jemaat-jemaat kita belum mengasihi Allah, sehingga cepat bosan mendengar tentang sifat-sifat-Nya yang mulia dan karya-karya-Nya yang besar.

Penggalian Teks

Berbicara kepada jemaat-jemaat yang mengalami keterasingan dalam dunia (1:1-2), Petrus meletakkan dasar dalam 1:3-2:10 untuk suatu pola hidup yang berbeda (2:11-12). Dasar itu mulai dengan akhir dari segalanya, yaitu pengharapan akan warisan kekal yang dijamin dalam kebangkitan Kristus (1:3-9) sesuai dengan nubuatan PL (1:10-12). Itulah yang akan memampukan jemaat untuk bertahan dalam berbagai pencobaan. Setelah penguatan itu, dia beralih ke implikasi dari pengharapan itu bagi kehidupan jemaat. Implikasi itu dikaitkan dengan suatu identitas yang baru di dalam Kristus. Yang pertama ialah kekudusan (1:13-16). Kekudusan itu terwujud dalam kasih yang muncul dari pengharapan dan iman (1:17-22). Untuk pokok ini, selain kebangkitan Kristus, Petrus juga menyoroti mahalnya penebusan dari kehidupan yang lama (1:18-19), dan hasil penderitaan Kristus sesuai dengan rencana Allah (1:20), yaitu kemuliaan (1:21). Kebenaran-kebenaran itu mengena karena firman Allah (Injil) disampaikan (1:23-25). Dalam perikop kita, soal identitas makin jelas. Kristus adalah dasar dari umat yang tidak lain dari “umat kepunyaan Allah sendiri” (2:9). Dengan demikian, melawan hawa nafsu dan budaya yang buruk menjadi hal yang melekat pada identitas diri, bukan suatu kegiatan lanjutan bagi yang menganggap diri rohani.

Ada banyak gambaran yang dipakai Petrus dalam perikop kita. Pada awalnya, beberapa gambaran menyangkut pertumbuhan. Aa.1-3 menggambarkan jemaat sebagai bayi dan firman sebagai susu. Bayi yang sudah mengecap kebaikan susu dari ibunya pasti memiliki hasrat yang tinggi untuk menyusu lagi. Manusia mengisi kebutuhan jiwanya dengan berbagai makanan yang palsu; a.1 mendaftar beberapa sikap yang mencemarkan kasih persaudaraan (bdk. 1:22). Ada permainan kata antara a.1 dan a.2 yang menunjukkan perbandingan ini: kata “tipu muslihat” (dolos) dan kata “murni” (adolos, “a-“ berarti “tidak”). “Bertumbuh dan beroleh keselamatan” semestinya dipahami sebagai “mencapai” keselamatan; maksudnya bukan keselamatan sebagai upah melainkan keselamatan (di sini hati yang sudah murni) sebagai tujuan.

Aa.4-5 meneruskan tema pertumbuhan, tetapi beralih ke gambaran tentang bangunan. “Rumah rohani” merujuk kepada Bait Allah, dan kita bukan hanya menjadi batu-batunya tetapi juga menjadi imamat yang melayani di dalamnya! Hal ini merupakan satu aspek lagi dari identitas jemaat: mempersembahkan persembahan melekat pada diri seorang imam, bukan merupakan kegiatan lanjutan bagi yang berminat. Kembali, dasarnya ialah Kristus, yang dalam kematian membuktikan kesalahan manusia yang melawan Dia (dan sekarang jemaat) dan dalam kebangkitan-Nya membuktikan pilihan Allah atas Dia (dan sekarang jemaat). Hal-hal itu dibuktikan dalam dua kutipan dari PL (6-8). Yes 28:16 (dikutip dalam a.6) adalah ayat tunggal yang menawarkan keselamatan di tengah satu pasal yang menubuatkan kehancuran bagi Israel yang congkak; Yesus adalah batu keselamatan. Pemilihan Yesus oleh Allah dalam a.4 dibuktikan dari Mzm 118:22. Tetapi, batu tidak hanya menjadi tempat yang aman, tetapi bisa juga menjadi sandungan, dan hal itu diungkapkan dengan kutipan dari Yes 8:14-15. Nasib orang terungkap dalam sikap terhadap Yesus: bagi jemaat Dia “mahal” (a.7; “ia” merujuk kepada “batu”, yaitu, Yesus), tetapi bagi mereka yang tidak percaya, Dia hanya layak dibuang.

Akhirnya, dalam aa.9-10, Petrus menggambarkan jemaat langsung sebagai umat Allah. Jika kita melihat rujukan silang yang dicantumkan oleh LAI untuk a.9, kita melihat bagaimana Petrus menyampaikan bahwa identitas Israel sebagai umat Allah diterapkan kepada jemaat di dalam Kristus. Dalam a.9a, ada empat kata yang dipakai untuk jemaat sebagai kolektif. Kata genos (keturunan, LAI “bangsa”) merujuk kepada asal-usul Israel sebagai keturunan Abraham yang dipilih. Dalam a.4 yang dipilih ialah Kristus, dan kita dipilih di dalam-Nya sebagai batu-batu di sekitar Dia sebagai batu penjuru. Kata basileios (“rajani”) merujuk kepada peran Israel sebagai bangsa yang berkuasa, tetapi dengan cara yang khas, yaitu dengan menjadi imamat. Dalam PL, Israel memanggil bangsa-bangsa untuk memuji Allah (misalnya, Mazmur 117), dan berharap untuk menjadi saluran berkat bagi bangsa-bangsa (Kej 12:3); peran itu justru menonjol di dalam Kristus. Kata ethnos (“bangsa”) merujuk kepada jati diri Israel di tengah bangsa-bangsa yang lain, yaitu kekudusan yang disampaikan dalam Hukum Taurat. Bagi jemaat, teladan Yesus serta salib dan kebangkitan-Nya yang menentukan cara hidup dalam kasih yang berbeda dari orang-orang di sekitar kita (lihat penjelasan tentang 1:13-25 di atas). Akhirnya, kata laos (umat) merujuk kepada maksud Allah bagi jemaat, yaitu sebagai kepunyaan Allah sendiri. Kita adalah milik Allah, yang semestinya hidup searah dengan rencana Allah dan menjadi siap untuk dipakai Allah. Tugas pokok dari jemaat yang mencakup empat aspek tadi (asal-usul, peran, jati diri dan maksud) adalah memberitakan karya Allah. Hal itu bisa kita lakukan karena Allah telah memanggil kita untuk menikmati hasil penebusan oleh darah dan kebangkitan Kristus. Penebusan itu membuat suatu mujizat: yang bukan keturunan Abraham dan anggota Israel telah menjadi bagian dari umat kepunyaan Allah yang beroleh belas kasihan (10).

Maksud bagi Pembaca

Petrus mau supaya kita menangkap apa identitas kita di dalam Kristus, sebagai dasar untuk hidup di tengah dunia yang sesuai dengan identitas itu. Dia mau supaya kita rendah hati dalam menginginkan firman (1-3), tetap setia kepada Kristus bahkan dalam penolakan manusia (4-8), dan bersaksi tentang karya-Nya (9-10). Dia mau supaya kita bertumbuh secara pribadi (1-3) dan sebagai jemaat (4-8) untuk memenuhi panggilan Allah yang begitu kaya (9-10).

Makna

Hal identitas penting, karena banyak hal yang kita lakukan muncul dari identitas kita. Tingkah laku yang muncul dari identitas lebih dalam dan bertahan lebih lama daripada tingkah laku yang hanya muncul dari rasa wajib atau teguran. Tingkah laku itu dikuatkan dengan cara seperti Petrus di sini—meneguhkan identitas sambil mengingatkan tentang cara hidup yang sesuai dengan identitas itu.

Identitas kita berakar dalam Kristus. Oleh karena pengharapan dalam kebangkitan-Nya, ada “sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan” (1:8). Darah-Nya “mahal”, lebih berharga daripada emas (1:18-19). Tetapi bukan hanya karya-Nya yang sangat berharga; Yesus sendiri “mahal” (7). Mahalnya Yesus membuat kita siap untuk membayar harga ketaatan di tengah dunia yang tidak menyukai Yesus, seperti yang diuraikan selebihnya dalam surat Petrus ini.


Fil 4:2-9 Disiplin batin demi misi Allah (18 Nop 2012)

November 13, 2012

Perikop ini sering dianggap sekumpulan nas yang tidak terlalu erat kaitannya. Penilaian itu ada benarnya, tetapi saya berusaha untuk melihat benang merah yang bisa menghubungkannya. Saya beranjak dari 1:27-30 sebagai inti dari surat ini, yaitu, perjuangan jemaat di Filipi untuk hidup berpadanan dengan Injil di tengah perlawanan. Dengan demikian, perikop ini menjadi lebih dari sekadar nasihat untuk hidup lebih tenang.

Penggalian Teks

Flp 1:27-30 memang dapat dilihat sebagai inti. 1:12-26 menceritakan perjuangan Paulus karena Injil. Pasal 2 memperlihatkan pentingnya kesatuan berdasarkan pola Yesus sendiri (2:6-11). Pasal 3 menunjukkan bahaya dari dalam, yaitu ajaran yang tidak mengutamakan Kristus dan karya-Nya. 4:1 mengulang seruan Paulus dalam 3:1 untuk berdiri teguh dalam Tuhan.

Dalam aa.2-3, Euodia dan Sintikhe merupakan dua orang perempuan (jenis mereka jelas dalam bahasa Yunani dari bentuk kata “mereka” [autais]) yang telah berjuang bersama dengan Paulus dalam pekabaran Injil, seperti dalam 1:27-30, tetapi tidak lagi bersatu, seperti diharapkan dalam 2:1-5. Mengingat bahwa surat ini akan dibacakan kepada jemaat (atau jemaat-jemaat, mengingat mereka berkumpul di rumah-rumah orang mampu) di Filipi, cara Paulus tidak halus: dia menyebutkan nama, dan andaikan hal itu tidak cukup, dia menunjukkan orang untuk mengusahakan rekonsiliasi mereka. Demikian pentingnya kesatuan jemaat untuk perjuangan Injil.

Dalam kedua ayat berikut ada tiga hal: bersukacita (4), kebaikan umum (5a), dan kedekatan Tuhan (5b). Ketiga hal ini memang merupakan hal-hal yang umum, dan bahasa Paulus juga umum. Sukacita itu semestinya “senantiasa”, dan kebaikan itu diketahui “semua orang”. Kedekatan Tuhan juga bersifat universal. Tetapi, ketiga hal itu juga penting dalam rangka misi. Sukacita terjadi ketika manusia merasa keberkatan. Kesetiaan kepada Kristus justru dapat membawa penderitaan bukan berkat (1:27-30), sehingga orang tidak akan bertahan kecuali ada sumber perasaan berkat yang lain. Bagi Paulus, Kristus adalah berkat yang melampaui segala berkat duniawi (3:7-8). Jadi, sukacita dalam Tuhan akan membuat kita sanggup bertahan dalam perjuangan Injil di dunia.

Tentu, kebaikan hati adalah juga kesaksian hidup yang berarti. Istilah itu berarti sikap yang tidak menuntut hak secara kaku tetapi mampu memberi kelonggaran yang manusiawi. Sikap itu dijunjung tinggi oleh filsuf seperti Aristoteles, tetapi alpa sekali dari gaya agama yang dianut Paulus sebagai Farisi, yang tergolong garis keras. Tetapi di dalam Kristus, Allah tidak menuntut hak kepada Paulus melainkan menunjukkan kasih karunia yang luar biasa. Mungkin dalam konteks kota Filipi yang merupakan koloni Romawi dengan gaya yang cenderung legalistik/formalistik, Paulus melihat sikap ini sebagai pengantar untuk berbicara tentang kasih karunia itu.

Dasar dari misi adalah kedekatan Tuhan, entah maksudnya bahwa Tuhan yang menjadi seorang manusia (2:7) tidak jauh dari setiap orang, atau bahwa Dia akan segera datang kembali sehingga semua perlawanan terhadap-Nya akan berhenti (2:10-11). Bisa saja kedua-duanya yang dimaksud Paulus, dan kedua-duanya merupakan alasan untuk bersukacita dan berbaik hati.

Kedekatan Tuhan itu juga melandasi hal berikut, yaitu doa. Orang-orang yang setia kepada Kristus pasti akan mendapat banyak tantangan dan banyak alasan untuk khawatir (6a). Tetapi Paulus menyuruh jemaat untuk menyatakan permintaan mereka kepada Allah (a.6b; aitema berarti permintaan, bukan keinginan). Caranya dengan proseukhe dan deesis, dua kata yang selalau merujuk kepada perkataan kepada yang ilahi. Bedanya bahwa deesis memiliki unsur mendesak. Adanya desakan dalam doa mengandaikan bahwa ada pergumulan yang sungguh berat, penderitaan dan tangisan. Sukacita bukan sikap “happy-happy saja”. Menarik bahwa desakan itu juga disertai syukur. Sesuai dengan pola doa dalam kitab Mazmur, Paulus mengusulkan doa yang terus terang (mendesak) dan juga dikuatkan dengan kebaikan Allah di dalam Kristus (syukur). Hasilnya damai sejahtera (7). Damai sejahtera itu bisa saja dilihat sebagai keutuhan kembali. Hati yang bergejolak telah menjadi tenang, karena di dalam Kristus Allah sedang membawa keteraturan ke dalam dunia yang kacau. Damai sejahtera itu melampaui segala akal, artinya, lebih dari apa yang muncul dari akal manusia saja. Tujuan dari damai sejahtera ini ialah tetap teguh di dalam Kristus (7b), tidak tergoyahkan oleh perlawanan karena perjuangan Injil.

Jika doa dapat menangani gejolak hati yang khawatir, Paulus melihat lebih jauh, bagaimana membangun pola berpikir yang tidak cepat gelisah. A.8 meneguhkan banyak nilai yang terdapat dalam budaya Yunani, yang disimpulkan sebagai kebajikan (nilai universal) dan patut dipuji (nilai yang diakui masyarakat). “Benar” adalah kebajikan dalam bidang pengetahuan; “mulia” adalah kebajikan dalam bidang sosial/politik; “adil” adalah kebajikan dalam bidang relasi; “suci” adalah kebajikan dalam bidang moralitas. Nilai-nilai universal itu juga layak dipuji, tetapi kedua terakhir, “manis” dan “sedap didengar” memberi fokus pada gaya berelasi yang tidak kasar, yang tidak menjadi hambatan untuk berbagi dalam hidup, kasih, dan berita Injil. Memikirkan hal-hal itu akan meneguhkan damai sejahtera, ketimbang, misalnya, menerima gosip, mengagumi yang jelek, merencanakan kejatuhan sesama, mencari yang kotor, dan membual.

Hal-hal itu adalah kebajikan yang akan diterima luas, tetapi cara mempraktekkannya sebagai orang percaya harus dipelajari dari sesama orang percaya, yakni, bagi orang Filipi, diri Paulus (9). Ajaran, penyampaian tradisi tentang Yesus, cara berbicara dan cara bertindak Paulus layak dicontoh, termasuk keteladanannya di tengah pergumulan (pasal 1). Dengan berpikir dan bertindak demikian, penyertaan Allah akan sangat nyata bagi mereka, bahkan di tengah pergumulan mereka karena Injil.

Maksud bagi Pembaca

Paulus meneguhkan seruannya untuk hidup berpadanan dengan Injil dengan menunjukkan beberapa disiplin batin yang akan memampukan mereka bersatu (2-3) sesuai dengan teladan Paulus sendiri (8). Bersukacita, baik hati, berdoa, dan memikirkan kebajikan akan membentuk jemaat yang berguna dalam misi Allah. Dasarnya ialah bahwa Tuhan itu dekat.

Makna

Hal-hal ini dengan mudah menjadi terlepas dari tujuan misi. Bersukacita dalam Tuhan menjadi sikap optimis; berbaik hati menjadi cara untuk berhasil secara sosial; doa menjadi cara menangani stres; a.8 menjadi “positive thinking” saja. Hal-hal ini memang akan membantu kita untuk menikmati kemanusiaan yang lebih utuh dan lebih mampu, menjadi lebih dewasa (“sempurna”, 3:15). Tetapi konteks perikop ini adalah kesatuan dalam perjuangan dan dalam pengharapan (“tercantum dalam kitab kehidupan”). Kedewasaan dalam Kristus dibentuk bukan dalam sukses melainkain dalam kegagalan, bukan dalam kelegaan melainkan dalam pergumulan, seperti Kristus (3:10-11). Dengan kata lain, kedewasaan dalam Kristus dibentuk ketika kita terlibat dalam misi Allah sama seperti Kristus. Dalam konteks misi, sukacita, kebaikan hati, doa dan berpikir baik menjadi penting demi kemuliaan Allah sendiri.

Saya menyebut bersukacita dan sebagainya sebagai disiplin batin untuk menunjukkan bahwa ada kesengajaan di dalamnya. Paulus tidak mengatakan, “mudah-mudahan ada rasa sukacita dalam Tuhan, mudah-mudahan kamu merasa mau berbaik hati”. Dia menyuruh kita untuk menyandang sikap sukacita, mempraktekkan kebaikan hati, berdoa dengan desakan disertai syukur dan memikirkan apa yang baik. Hal itu hanya mungkin kita lakukan jika kita telah menangkap kasih dan anugerah Allah di dalam Kristus, bila kedekatan Kristus telah menjadi sesuatu yang dihargai dan dirindukan, bila Kristus makin menjadi berkat utama dalam kehidupan kita.


Mrk 5:18-20 Memberitakan karya Yesus (22 Juli 2012)

Juli 18, 2012

Nas yang ditentukan minggu ini tidaklah sulit untuk dimengerti dan diterapkan secara sederhana, dan penguraian ini tidak akan menambah banyak bagi kesimpulan yang sederhana itu. Namun, yang sederhana itu tetap dalam, dan kedalaman itu dilihat dengan lebih jelas jika nas ini diuraikan dalam konteks pelayanan Yesus, dan juga misi Allah.

Penggalian Teks

Cerita Mk 5:1-20 merupakan cerita kedua dari tiga cerita yang menunjukkan kuasa Yesus. Cerita sebelumnya menunjukkan kuasa Yesus atas alam; cerita ini menunjukkan kuasa-Nya atas Iblis; cerita berikut memuat pemulihan penyakit yang menajiskan, dan kebangkitan anak yang telah mati. Semuanya adalah bentuk kekacauan yang akan diatasi dalam Kerajaan Allah, sehingga kuasa Yesus yang mendatangkan ketenangan, kewarasan dan pemulihan memperlihatkan Kerajaan Allah. Ketiga cerita itu melanjutkan cerita tentang perumpamaan karena semuanya terjadi di sekitar danau Galilea. Di dalam ketiganya, kita melihat berbagai respons terhadap pemberitaan Yesus. Dalam cerita kedua ini, kita juga melihat biji kecil (satu orang gila) yang bertumbuh menjadi tempat orang-orang non-Yahudi dapat menikmati berita tentang Yesus, seperti dalam perumpamaan Yesus di Mk 4:31-32 (bdk. Dan 4:12 di mana pohon dan burung-burung menyangkut kerajaan kafir, bukan orang Yahudi saja).

Perikop ini adalah adegan terakhir dari cerita itu. Cerita itu sudah menyampaikan kontras yang besar antara kondisi orang yang kerasukan itu dalam aa.2-5 dengan kondisinya yang pulih dalam a.15. Dalam a.18, orang yang terakhir dalam masyarakat itu menjadi yang terlebih dulu mau mengikuti Yesus. Ternyata, tugasnya lain dari keduabelas murid. Yesus hanya mau singgah di daerah itu, karena tugas pokok-Nya adalah untuk Israel (7:27), sedangkan daerah itu adalah daerah dengan lebih banyak orang non-Yahudi. Jadi, orang itu diutus kembali ke kampung halamannya. Hal itu bagian dari pemulihannya: dia akan bergaul kembali dengan orang-orang yang terhadapnya dia pernah sangat terasing.

Tugasnya adalah memberitahukan karya Tuhan (a.19). Jika Yesus memberitakan datangnya Kerajaan Allah, orang itu akan menceritakan peristiwa yang memperlihatkan Kerajaan Allah dalam skala kecil. Dia telah pindah dari ranah maut—hidup di pekuburan, terasing dari masyarakat, di bawah kuasa setan-setan—ke dalam ranah hidup. Di dalam diri orang itu, Yesus telah mengalahkan Iblis, dosa dan maut, seperti yang akan Dia lakukan bagi seluruh dunia dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Karya itu diartikan sebagai “kasihan”, yang berarti pertolongan kepada orang yang tidak bisa menolong dirinya sendiri.

Jika Yesus berbicara tentang karya Allah, orang itu memberitakan Yesus (a.20). Melalui pemberitaannya, sikap masyarakat terhadap Yesus bisa berubah dari takut (a.15) menjadi heran.

Maksud bagi Pembaca

Respons yang cocok terhadap keselamatan ialah memberitakan karya Tuhan kepada orang lain, termasuk orang-orang yang belum mengenal Yesus, sumber keselamatan itu. Kebanyakan pembaca Injil Markus adalah orang non-Yahudi, seperti kita, dan cerita ini membuktikan bahwa kuasa Yesus tidak terbatas pada orang Yahudi, dan bahwa berita tentang Yesus bisa mengesankan bagi orang-orang non-Yahudi.

Makna

Pelayanan Yesus pertama-tama memperlihatkan Kerajaan Allah, bukan menunjukkan pola pelayanan para pengikut-Nya. Kalaupun gereja-gereja arus utama meremehkan kuasa-kuasa gaib karena rasionalisme zending-zending yang mendirikannya, aliran-aliran yang menyoroti hal-hal itu jelas tidak semapan Yesus dalam menyembuhkan, mengusir setan dsb. Dasar harapan kita selalu adalah karya Kristus yang hidup, mati dan bangkit, dan bukan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita. Jika kita memberitakan Kristus, kita mau membawa orang untuk melihat Dia sebagaimana dipaparkan di dalam Alkitab, karena di situlah Dia menyatakan diri-Nya dengan jelas. Namun, pengalaman kita seringkali merupakan pintu masuk dan bukti pertama bagi orang-orang yang kepadanya Kristus mengutus kita. Kekacauan dalam kehidupan kita yang dengan nyata dipulihkan oleh Yesus menjadi contoh kecil akan berita Injil bahwa Allah sedang mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus sebagai kepala (Ef 1:10).


Kis 22:30-23:11 Hati nurani yang murni adalah dasar kesaksian yang berani

Januari 24, 2011

Tugas Paulus dalam kisah pendek ini secara tersirat dapat diambil dari Kis 20:24, yaitu, “memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah” di tengah penjara dan sengsara sekalipun (20:23). Hal itu sudah dia lakukan di hadapan rakyat di Yerusalem dengan menceritakan perjumpaannya dengan Kristus di jalan menuju Damsyik, tetapi begitu dia menyebutkan bahwa dia diutus kepada bangsa-bangsa lain, huru-hara mulai kembali dan dia harus diamankan di markas (22:21-22). Dengan Paulus ketahuan sebagai warga Rum, kepala pasukan memutuskan untuk mencari penjelasan dari Mahkamah Agung (22:30). Maka muncullah kesempatan kedua Paulus untuk bersaksi kepada orang-orang di Yerusalem, kali ini kepada mantan rekan-rekannya (dan mungkin ada mantan atasan yang belum pensiun, tetapi peristiwa ini kurang lebih 25 tahun setelah Paulus bertobat). Apakah Paulus akan setia pada panggilannya?

Ternyata, jangankan tidak takut, Paulus yang pertama menyerang, tetapi bukan dengan menuduh, tetapi dengan kesaksian tentang hati nurani yang murni (23:1). Hal itu bukan pengakuan bahwa dia bebas dari dosa (bnd. 1 Kor 4:4). Tentang ketaatannya menurut hukum Taurat dia pernah menulis kepada jemaat di Filipi bahwa sebelum dia berjumpa dengan Kristus dia tidak bercacat (Fil 3:6)—tidak bercacat tetapi salah haluan karena menentang Kristus! Jadi, di sini dia menegaskan dari awalnya bahwa perubahan jalan yang begitu drastis dari Saulus yang menganiaya jemaat menjadi Paulus rasul Kristus itu perubahan yang dia amini sepenuhnya sebagai karya Allah dalam hidupnya. Tentu, tersirat di dalamnya adalah implikasi bahwa jalan yang dia tinggalkan, dan tetap mereka anut, adalah jalan menentang Allah. Makanya, Imam Besar menyuruh Paulus ditampar (Kis 23:2). Dengan pernyataan ini Paulus sudah mulai bersaksi tentang Kristus, sebagaimana dibuktikan oleh penolakan yang keras.

Reaksi Paulus menarik (20:3), karena di tempat yang lain dia menasihati jemaat di Roma untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (Rom 12:17-21). Orang yang dekat Paulus menuduh bahwa dia mengejek (Kis 22:4), tetapi Paulus sendiri hanya mengaku bahwa jabatan Imam Besar perlu dihormati (22:5). Walaupun nadanya terlalu keras dalam ukuran budaya Indonesia (ataupun Australia), dalam konteksnya Paulus membela haknya untuk diperlakukan dengan adil, sesuai dengan tuntutan hukum Taurat sendiri. Kita melihat bahwa tidak membalas tidak sama dengan membiarkan diri ditindas.

Tindakan Paulus yang berikut cerdik, tetapi juga tepat (22:6). Kebangkitan orang mati adalah inti kesaksian tentang Kristus dalam Kisah Para Rasul, sebagaimana dilihat dalam semua khotbah yang diceritakan Lukas. Walaupun Kristus tidak sempat disebutkan dalam konteks ini, mereka semua pasti sudah mendengar langsung atau lewat laporan kisah Paulus kepada rakyat, selain pemberitaan jemaat di Yerusalem, sehingga jelas bahwa kebangkitan Kristus yang dimaksud. Perpecahan yang timbul menunjukkan sifat yang sebenarnya dari kumpulan ini. Bukannya mereka mempertahankan visi yang jelas, melainkan menyerang ajaran yang akan merongrong kuasa mereka seandainya diterima luas. Hal itu disoroti Lukas dengan penjelasannya tentang perbedaan yang mendasar antara kelompok Saduki dan Farisi (22:8), dan juga refrain “timbul/terjadi perpecahan/keributan” (22:7, 9, 10) yang menunjukkan bahwa mereka sama saja dengan rakyat yang ribut dalam pasal sebelumnya. Sama seperti Yesus, kehadiran Paulus di Mahkamah Agung mengadili Mahkamah Agung itu, bukan sebaliknya. Sayangnya, sudah banyak gereja yang menunjukkan gejala yang sama karena kehilangan arah yang jelas.

Sebagai pembaca, atau paling sedikit sebagai pembaca orang Indonesia yang sangat menghargai keharmonisan, kita mungkin ragu apakah Paulus sudah memberi kesaksian yang tepat. Lukas mengakhiri kisah pendek ini dengan penilaian otoritas tertinggi, yakni Kristus sendiri. Paulus sudah menunaikan tugasnya untuk memberi kesaksian tentang Kristus di Yerusalem, baik kepada rakyat maupun kepada para pemimpin. Ternyata tugasnya belum selesai, karena dia harus juga bersaksi di Roma. Tetapi itu kisah lain.

Kita di mana dalam kisah pendek ini? Dengan Mahkamah Agung, menghalangi pemberitaan Kristus karena kepentingan-kepentingan lembaga, seperti kepentingan untuk berdamai dengan pemerintah atau tokoh adat setempat? Atau dengan Paulus, yang berani mengemban panggilannya dan bersaksi tentang Kristus? Atau mungkin di antaranya. Simpatik, malah kagum, akan Paulus, tetapi kurang berani atau kurang berkeyakinan untuk menanggung risiko yang terjadi ketika kita bersaksi dengan jelas. Jangan sampai kekurangan itu terjadi karena kita tidak mampu mengatakan “sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah”.


Yoh 3:22-36 Meresponsi Anak Allah yang ada di atas semuanya

Desember 22, 2010

“Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya”—dua kali Yohanis mengucapkan pernyataan ini dalam a.31. Pernyataan ini meneguhkan penerimaan Yohanis bahwa Kristus harus makin besar dan Yohanis makin kecil (a.30), seperti digambarkan dalam aa.22-26. Yohanis tidak muncul lagi dalam Injil ini (hanya kesaksiannya disebutkan beberapa kali), dan aa.31-36 ini merupakan kesaksian terakhir sang saksi Terang yang sesungguhnya (1:7, 9).

Dalam aa.31-34 Yohanis berbicara tentang Yesus sebagai nabi, tetapi nabi yang datang dari sorga sehingga kesaksian-Nya tentang hal-hal sorgawi adalah sebagai saksi mata, beda dari Yohanis yang hanya dapat berbicara sebagai orang yang berasal dari bumi. Dalam a.34 Yesus adalah utusan Allah yang menyampaikan firman Allah, sama seperti Yohanis, sehingga menolak kesaksian Yesus adalah menolak kejujuran Allah sendiri (a.33). Hanya, Yesus melebihi nabi-nabi yang lain karena Dia dikaruniakan Roh Allah tanpa batas (bnd. 1:32-33). Hal itu terjadi karena Yesus juga adalah anak Allah yang kepada-Nya Allah memberi “segala sesuatu” tanpa batas (a.35). Istilah “anak Allah” dari satu segi sama dengan Mesias, yaitu utusan Allah yang mewakili kerajaan Allah di bumi. Sebagai Mesias Yesus dapat menerima bukan hanya Roh Kudus tetapi juga “segala sesuatu” yang diperlukan dalam rangka mewujudkan damai sejahtera Allah dalam dunia-Nya (bnd. Yes 9:1-6; 11:1-10). Dari “segala sesuatu” itu, Injil ini berfokus pada hidup yang kekal, yaitu kuasa untuk menjadi pewaris kerajaan Allah itu. Yang diberikan kepada Yesus bukan hanya firman Allah, tetapi juga hidup kekal itu (bnd. 10:28-29).

Namun, karena anak Allah ini datang dari sorga, artian keanakan-Nya melebihi apa yang diharapkan dari PL tentang Mesias. Hal itu sudah diangkat dalam 1:14-18 dan diuraikan lebih jauh dalam 5:19-47. Melihat Yesus adalah melihat Bapa-Nya. Kuasa untuk menjadi pewaris kerajaan Allah adalah kuasa untuk menjadi anak Allah di dalam Sang Anak itu (1:12-13). Dengan demikian, akibat dari dua respons terhadap Yesus masing-masing dahsyat. Orang yang percaya kepada Anak menerima hidup kekal (a.36a), artinya bukan hanya hidup tanpa batas tetapi hubungan dengan Allah sebagai anak, suatu hubungan yang akan menyatakan dan menyempurnakan harkat kita sebagai manusia. Sebaliknya, orang yang menolak kesaksian Yesus tidak hanya menolak seorang nabi tetapi menolak Anak Allah, sehingga tidak melihat hidup (alias berada dalam kegelapan dan kemanusiaannya makin lama makin hancur), karena berada di bawah murka Allah (a.36b).

Semoga Natal ini membawa penerimaan Yesus yang terwujud dalam cara hidup yang sudah mulai beraroma kekekalan. Sampai jumpa kembali dalam tahun baru.


Yoh 1:9 Terang yang sesungguhnya

Desember 16, 2010

Manusia takut akan kekacauan dan rindu akan keteraturan, tatanan dunia yang stabil. Tentu dunia bisa terlalu stabil sampai membosankan, tetapi kekacauan layak ditakuti: kekacauan bumi berbentuk bencana alam, kekacauan masyarakat berbentuk anarki, kekacauan dalam batin diri, semuanya mengancam kehidupan dan merusak rencana dan cita-cita. Makanya, semua budaya memiliki suatu konsep tentang tatanan dunia, mencakup bumi, masyarakat dan pribadi. Bagi orang Toraja masa lampau ada aluk to dolo. Bagi orang Yunani ada logos (firman), rasio yang semestinya mengatur dunia politik dan pribadi. Bagi orang Yahudi, Allah menciptakan dunia dengan berfirman, kemudian mengatur kehidupan umat-Nya dengan Taurat.

Mengancam kehidupan artinya berpihak pada maut. Merusak rencana dan cita-cita artinya membuat gelap. Jadi, Yohanes menjelaskan bahwa firman itu wadah kehidupan dan terang (a.4). Kegelapan mengancam terus, tetapi terang itu tetap ada (a.5), karena memang firman itu berakar dalam Yang Ilahi sendiri (a.1).

Sampai di situ bahasa perikop menyambung dengan mungkin hampir semua filsafat dunia. Tetapi dalam a.6 kita mulai melihat sesuatu yang konkret: ada saksi tentang terang ini. Dari satu segi adanya saksi tentang terang tidak masuk akal. Terang adalah hal yang paling mudah dilihat! Tetapi banyak filsafat dan agama sadar tentang kebutaan manusia yang justru sulit mengenali firman yang mendasari kehidupan ini. Saksi ini adalah Yohanes (disebut Pembaptis dalam Injil-Injil yang lain). Yang menarik, penulis Injil (yang menurut tradisi gereja juga bernama Yohanes, tetapi lain orangnya) membantah kalau Yohanes ini adalah terang. Bukankah seorang utusan Allah (a.6) yang membawa umat percaya pada firman Allah (a.7) itu layak dianggap sendiri sebagai pembawa terang? Seperti para nabi dalam PL, atau para filsuf Yunani, atau, mungkin (saya kurang tahu), to minaa dalam aluk, dia menerangi jalan hidup. Tetapi dia ditempatkan sebagai saksi saja. Terang yang sesungguhnya datang pada saat Yohanes bersaksi (itu maksudnya kata “sedang” dalam a.9, bukan masa kita tetapi masa Yohanes), tetapi Yohanes bukan terang itu.

Sebelum penulis Injil menjelaskan teka-teki itu, dia bercerita tentang penerimaan terang itu. Aa.10-11 menegaskan apa yang dikatakan di atas, bahwa banyak orang sulit mengenali firman yang mendasari hidup mereka. Nabi-nabi PL membuktikan bahwa Israel sulit hidup sesuai dengan terang Taurat, padahal mereka merupakan “kepunyaan” Taurat, artinya mereka dibentuk oleh Taurat itu sebagai umat Allah. Tersirat di dalam pernyataan ini adalah pemahaman bahwa firman itu tidak dapat diterima secara formal saja, tetapi perlu dipercayai, malah dihayati. Hal itu menjadi jelas dalam aa.12-13, yang menggambarkan orang yang menerima firman itu. Mereka dapat menjadi anak-anak Allah, artinya memiliki relasi yang akrab dengan Allah, bukan karena soal keturunan tetapi karena Allah membawa hidup baru ke dalam kehidupan mereka. Dengan mengenali tatanan dunia yang sebenarnya, yang menjadi dasar keteraturan dalam diri dan masyarakat, orangnya berubah pada tingkat paling mendasar dalam dirinya.

Gagasan itu sudah menantang agama seperti aluk to dolo, yang tidak banyak mencita-citakan relasi dengan yang ilahi (kecuali mungkin dalam bentuk leluhur yang sudah menjadi ilahi), dan lebih mementingkan kuasa untuk mengatur dunia ini daripada kuasa menjadi anak Allah yang diatur oleh firman Allah. Sebagian besar penganut agama apa saja juga demikian. Namun, dalam banyak agama ada aliran “mistis” yang mau memiliki hubungan yang erat dengan yang ilahi. Ayat berikut mengandung berita yang dahsyat bagi mereka: firman itu menjadi manusia tertentu, sehingga bisa dikenal dengan sangat jelas.

Secara harfiah, a.14 mengatakan bahwa firman itu menjadi daging. Tatanan dunia, wadah kehidupan, terang manusia, telah menjadi satu sosok manusia. Gagasan itu memang sulit diterima, entah dalam rangka kehormatan, bahwa firman terlalu mulia untuk menjadi manusia, atau dalam rangka rasio, bahwa yang universal tidak mungkin menjadi satu orang tertentu. Tetapi maknanya luar biasa. Terang itu diam di antara kita, dan ternyata terang itu bukan sekadar terang tentang tatanan dunia melainkan terang itu adalah kemuliaan Allah sendiri! Di dalam Dia yang disaksikan oleh Yohanes (a.15), maksudnya Yesus Kristus, kita melihat prinsip dunia dan sekaligus pribadi Allah. Dia menjadi perwujudan firman Allah, bagaimana Allah mengatur dunia yang diciptakan, dan menyatakan Allah sendiri sama seperti seorang anak menyatakan Bapanya. Dengan demikian, Allah sendiri hadir di dalam Kristus, dan kita diberi kuasa untuk sungguh-sungguh menjadi anak-anak Allah karena kita percaya dalam nama Sang Anak sejati itu.

Tantangan bagi kita ialah sejauh mana terang itu menjadi dasar kehidupan kita. Setiap kali seseorang pergi ke dukun, dia mencari keteraturan bukan dari Kristus tetapi dari kuasa yang lain. Setiap kali seseorang serakah, dia menjadikan duit itu sebagai pengatur kehidupan dan pencegah kekacauan dalam hidupnya. Orang yang menentang pembaruan lupa bahwa terang yang sesungguhnya mengubah air menjadi anggur. Orang yang khawatir tentang makanan dan minuman lupa bahwa Sang Sumber Hidup sanggup memberi makan 5.000 orang. Orang yang mengejar gengsi lupa bahwa terang ilahi—kemuliaan Allah—dinyatakan ketika Yesus naik salib yang hina. Mengenal Allah dalam terang yang sesungguhnya membawa dampak besar bilamana dijadikan dasar kehidupan kita.

Bagi pembaca yang melanjutkan pelayanan Yohanes, yaitu menjadi saksi tentang terang yang sesungguhnya pada musim Natal ini, kita mau supaya jemaat menjadikan Kristus terang mereka. Sumber kekacauan dalam kehidupan jemaat (secara kelompok dan individu) ialah bahwa Pengatur yang sesungguhnya masih sekadar embel-embel, formalitas. Daripada hanya menegor kekacauan itu terus-menerus sampai semua bosan, marilah kita menemukan cara untuk bersaksi tentang Kristus sampai jemaat dapat memahami apa artinya menerima-Nya sebagai Terang dan Hidup. Semoga banyak yang menerima-Nya Natal ini sehingga mulai menikmati hidup yang sesungguhnya sebagai anak-anak Allah dalam Sang Anak.


1 Pet 3:1-7 Rumah tangga sebagai wadah kesaksian dan spiritualitas

November 3, 2010

Sepintas lalu perikop ini menyangkut hubungan timbal-balik antara suami dan istri. Tetapi jika dicermati, nasihat Petrus menyangkut dua keadaan yang berbeda. Aa.1-6 menyangkut seorang istri dengan pasangan yang belum percaya, sedangkan dalam a.7 pasangan si suami adalah sesama pewaris kasih karunia. Jadi, kedua-duanya merupakan penerapan dari 2:13-17, yang menyampaikan bahwa dalam kemerdekaan sebagai hamba-hamba Allah, orang-orang Kristen semestinya menjadi lebih baik dan berguna dalam masyarakat, bukan lebih kacau. Lembaga-lembaga seperti pemerintahan hanya disinggung di situ, tetapi kemudian Petrus menyoroti lembaga-lembaga dalam rumah tangga, yakni perhambaan (bnd. 1 Pet 2:18-25 yang dibahas beberapa minggu yang lalu), dan dalam perikop kita pernikahan. Kemudian, dalam 3:8 dst Petrus kembali ke soal persekutuan di tengah dunia yang tidak ramah, melanjutkan tema 2:12, “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa”. Tema itu adalah penerapan dari identitas jemaat sebagai umat Allah (2:9-10) sebagai puncak penguaraian Petrus tentang Injil. Jadi, perikop kita adalah bagian dari penguraian Petrus tentang cara hidup yang baik sebagai kesaksian tentang Kristus.

Latar belakang budaya juga perlu dijelaskan sedikit. Pernikahan dalam budaya Yunani abad pertama tidak terlalu mengandung unsur persahabatan. Bagi laki-laki, istri menyangkut keturunan yang sah, sedangkan seringkali ada isteri muda untuk penghiburan dan/atau pelacur untuk kesenangan. Istri tidak sama dengan hamba, tetapi tetap dituntut taat kepada suami. Hal itu termasuk agama, dan seorang isteri dituntut mengikuti pola agama suaminya. Makanya, Petrus mengalamatkan isteri yang suaminya belum percaya, tetapi bukan sebaliknya karena jarang ada suami yang isterinya tidak mengaku ikut percaya. Jadi, dalam aa.1-6 kita belajar tentang cara bersaksi oleh bawahan dalam hubungan yang tidak seimbang, dan dalam a.7 kita belajar tentang pernikahan kristiani.

Kedua bagian itu masing-masing memiliki tujuan. Isteri menempatkan diri di bawah kuasa (artian harfiah dari kata yang diterjemahkan “tunduk”) suami yang belum percaya itu untuk memenangkan dia (a.1). Suami hidup dengan bijaksana, artinya, dalam pengetahuan bahwa isterinya teman pewaris dari kasih karunia, supaya doa jangan terhalang. (Apakah doa suami, doa suami dan isteri secara terpisah, atau justru doa keluarga yang dirujuk di sini tidaklah jelas, tetapi semuanya mungkin.) Aa.2-6 merupakan penjelasan dari a.1, yaitu menguraikan apa itu cara hidup yang baik. Oleh karena itu, usulan amanat teks sbb: Cara hidup yang baik dalam pernikahan dapat memenangkan suami yang belum percaya dan memperlancar doa keluarga. Judul “Rumah tangga sebagai wadah kesaksian dan spiritualitas” bisa menjadi bibit amanat khotbah.

Beberapa catatan sbb. 1) Bahasa “cara hidup yang baik” diambil dari 2:12, sebagai latar belakang dari perikop ini, di mana penempatan diri dari isteri dan hidup dengan bijaksana dari suami dicakup dalam bahasa itu. Satu alternatif ialah “Menghormati pasangan dalam pernikahan” dst. Kata hormat diambil dari 2:17, dan bisa mencakup penempatan diri oleh isteri, dan juga soal hidup dengan bijaksana oleh suami. “Cara hidup” dalam 2:12 merupakan terjemahan bahasa Yunani anastrofe yang dalam 3:1 ini diterjemahan “kelakuan”.

2) “Tunduklah” dalam a.1 berarti “menempatkan diri di bawah”, artinya, mengakui wewenang atasan. Dari akhir penjelasan dalam a.6, “tidak takut akan ancaman”, kita melihat bahwa maksudnya bukan bahwa isteri disuruh pasrah saja karena terlalu takut untuk melawan. Sebaliknya, dalam kasih kepada suami, yaitu dengan keinginan supaya dia dimenangkan bagi Kristus, isteri, dalam takut akan Allah, berusaha untuk menjadi isteri yang baik. Penguraian dalam aa.2-4 menunjukkan bahwa “isteri yang baik” diartikan sesuai dengan budaya pada saat itu, karena nasihat Petrus mirip dengan nasihat umum pada saat itu tentang perhiasan dsb. Tentu, nasihat umum itu sesuatu yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Injil, dan Petrus melihat bahwa intisari nasihat itu cocok dengan apa yang diinginkan Allah (a.4 “di mata Allah”), dan juga sikap isteri-isteri dalam PL (aa.5-6a, perhatikan bahwa “-nya” dalam “anak-anaknya” dalam bahasa aslinya merujuk pada Sara, bukan Abraham). Tetapi dalam paling sedikit satu hal dia harus siap tidak taat kepada suaminya, yaitu dengan tidak ikut agamanya. Jadi, menjadi isteri yang dianggap baik oleh suami bukan soal ketakutan melainkan kesaksian.

3) Hal itu berarti bahwa nasihat bagi isteri itu bersifat kontekstual. Tidak tepat, misalnya, kalau a.3 dianggap melarang perempuan berdandan, karena yang ditujukan dalam nasihat umum di budaya itu bukan soal perhiasan an sich melainkan pencarian perhatian melalui berdandan. Orang bijak dalam budaya Yunani dapat membedakan karakter yang membawa keindahan ke dalam keluarga dari penampilan yang menarik perhatian bagi perempuan. Lebih lagi orang kristen yang mengalami pembaruan dalam batin. Namun, tidak semua perhiasan dapat dianggap penonjolan diri.

4) Sekali lagi, aa.1-6 tidak berbicara tentang keluarga kristen, melainkan tentang keluarga yang bercampur agama. Barangkali, isteri dan suami pernah seagama, entah agama Yahudi atau keagamaan Yunani-Romawi, tetapi isteri sudah jadi percaya kepada Kristus. Hal itu bisa juga terjadi di Indonesia, entah aluk todolo atau Islam atau agama yang lain. Tetapi, dalam konteks kekristenan sering ada suami yang mengaku kristen tetapi juga “tidak taat kepada Firman”, alias kristen KTP. Nasihat Petrus supaya tindakan dibiarkan berbicara lebih dulu mungkin bisa berguna sebagai alternatif dari isteri menegor suaminya terus. Rumah tangga adalah tempat orang paling ketahuan sifatnya. Jika Kristus terpancar di dalam kehidupan isteri, hal itu sulit diabaikan oleh suami (walaupun sebagian suami ternyata berhasil mengabaikannya).

5) Ada istilah “kekerasan rohani”, di mana (biasanya) suami tampil sangat saleh tetapi melecehkan isterinya terus melalui kritikan yang tidak berdasar. Suami yang dipengaruhi oleh budaya patriarkhis bisa sulit untuk menerima isterinya yang lemah dalam kedudukan sosial sebagai setara dalam pewarisan kasih karunia. Tetapi doa-doa suami seperti itu tidak akan diterima Allah (bnd. 3:12), dan ibadah keluarga tidak dapat dilakukan dengan tulus dalam suasana seperti itu.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 935 pengikut lainnya.