Ef 1:3-14 Menghayati berkat-berkat Allah

November 9, 2009

Perikop ini kaya, sangat kaya. Jadi saya minta maaf jika “renungan” ini agak panjang dan sarat dengan ide. Dalam pendahuluan ini saya coba membahas satu dua hal yang mungkin mencegah kita memuji Allah sesuai dengan isi perikop ini. Kemudian ada komentar per bagian.

A.3 mengangkat tema utama perikop ini, yaitu berkat-berkat rohani yang menjadi alasan untuk memuji Allah. Berkat-berkat itu termasuk kekudusan (4), menjadi anak Allah (5), pengampunan (7), pengetahuan rencana Allah (9) dan Roh Kudus (13). Apakah berkat-berkat ini menarik bagi semua jemaat (termasuk sebagian yang berpendidikan teologi)? Untuk sebagian, saya dapat membayangkan tuduhan (dalam hati) bahwa “rohani” berarti “tidak praktis”, “tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari” dsb. Coba ada uang sekolah, penyembuhan, pemberantasan korupsi dsb, baru berkat dianggap berlimpah-limpah.

Bahwa pandangan itu ada benarnya cukup jelas dari gambaran berkat/kutuk dalam PL (misalnya Ul. 26). Ada yang mengatakan bahwa harapan yang “materialistis” itu sudah diganti dengan harapan yang “rohani”. Pembahasaan itu berbahaya. Jauh lebih tepat mengatakan bahwa harapan yang materialistis itu ditunda. Ketika semua dipersatukan dalam Kristus sebagai Kepala, keadaannya akan seperti dalam Why 21, dengan bumi yang baru yang di dalamnya tidak ada yang merusak kehidupan lagi.

Namun, dalam PL pun berkat utama adalah pengenalan akan Allah. Mengapa Israel dibebaskan dari Mesir? Supaya “menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu” (Kel 6:6). Berkat-berkat rohani yang diuraikan menyangkut berkat utama itu. Kita bisa menjadi anak Allah karena ditebus oleh darah Kristus sehingga kita memiliki jaminan atas warisan (LAI “bagian”) yang dijanjikan. Mengapa hal-hal itu terasa abstrak, terasa tidak menyentuh kehidupan nyata? Saya duga jawabannya dalam a.13. Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat itu bagian dari kehidupan kita, kebutuhan nyata. Sama seperti orang dari luar Toraja sulit memahami keasyikan pesta orang mati di Toraja [maaf kepada pembaca dari luar Toraja :)], orang tanpa Roh Kudus sulit memahami mengapa Allah begitu layak dipuji karena berkat-berkat-Nya dalam Kristus. (Mungkin perlu dicatat bahwa harapan dari Injil yang ditanam Roh Kudus ternyata sangat membantu kita untuk memaksimalkan keadaan yang ada, entah baik atau buruk, sehingga ada gunanya untuk sekarang. Khususnya, kita dimampukan untuk berjuang dalam kasih, seperti dalam pp.4-6.)

Dalam komentar di bawah, saya menebalkan kata-kata tentang kedaulatan Allah, menggarisbawahi kata-kata tentang kemuliaan Allah dan pujian, dan memiringkan kata-kata tentang anugerah (kasih karunia). Perikop ini dimulai dan diakhiri dengan panggilan untuk memuji Allah, dan inti perikop ini adalah anugerah Allah yang terwujud dalam Kristus (aa.7-8). Bagaimana dengan kedaulatan Allah? Orang suka pusing menghadapi pernyataan seperti dalam a.11 bahwa keputusan orang “dari semula ditentukan” dan bahwa Allah “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”. Di mana lagi kebebasan manusia kalau demikian? Sebagai jawaban, perlu diingat bahwa Allah adalah Pencipta, bukan salah satu kuasa di antara banyak kuasa yang lain dalam dunia ini. Jadi, dari satu segi semua kuasa dan kemampuan, termasuk kehendak kita, bergantung pada kuasa Allah yang menopang segala sesuatu. (Jadi, yang menjadi misteri ialah bahwa kita memiliki kehendak bebas, bukan bahwa Allah berdaulat.) Tetapi hal itu bukan fokus Paulus di sini. Rencana Allah diwujudkan dalam Kristus dan diterapkan oleh Roh Kudus. Kedaulatan Allah adalah pelayan rencana Allah itu. Jadi, kedaulatan Allah bukan suatu kehendak yang kabur (sehingga menakutkan), tetapi melayani rencana Allah yang sudah dinyatakan dalam Kristus (a.9).

Jadi, selayaknya perikop ini menjadi bahan untuk kita memuji Allah. Jika kita dimeteraikan dengan Roh Kudus sehingga berada di dalam Kristus maka semua berkat ini adalah milik kita, milik kita yang sangat berharga.

(3) Terpujilah Allah dan Bapa [dari] Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

Kata Bapa tidak merujuk ke Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan Allah adalah juga Bapa dari Tuhan Yesus Kristus [satu artikel (ho) dipakai untuk kedua kata Allah (theos) dan Bapa (pater)]. Perikop ini bersifat ketritunggalan, karena kata rohani merujuk ke karya Roh Kudus, atau paling sedikit dalam a.14 Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat rohani ini nyata dalam kehidupan.

(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, (6) supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

A.4 adalah pernyataan mendasar; a.5 memberi keterangan [kata kerjanya adalah partisip, bukan indikatif]; a.6 adalah tujuannya. Bahasa “kudus”, “tak bercacat” dan “anak” adalah bahasa yang dipakai dalam PL untuk umat Allah, sama seperti “menjadikan kita milik Allah” dalam a.14.

(7) Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, (8) yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. (9) Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus (10) sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

Aa.7-8 adalah pernyataan mendasar; a.9 memberi keterangan [juga partisip], mungkin atas kelimpahan kasih karunia Allah—bukan hanya bahwa kita ditebus oleh darah Kristus tetapi juga kita diberitahu mengenai rencana agung Allah; a.10 adalah tujuannya. Kali ini tujuannya bukan pujian melainkan pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Darah Kristus dalam a.7 adalah caranya untuk a.4, dan bagian ini (khususnya a.7 dan a.10) menjelaskan mengapa ada “di dalam Dia” terus-menerus dalam perikop ini. Kristus adalah pewujud rencana Allah.

(11) Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– (12) supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

Kata kami adalah tafsiran—dalam bahasa Yunani (dan Ibrani dan Inggris) tidak dibedakan anatara kita dan kami. Tafsiran itu tepat, tetapi bagi pembaca asli baru akan jelas dalam a.12 dalam perkataan “yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus” bahwa “kita/kami” merujuk pada kelompok Paulus, bukan pembaca. “Kami” adalah orang-orang Yahudi (lihat juga 2:1-3 dan 2:11-12), yang memang menjadi yang pertama percaya. Mereka adalah tahap pertama dalam pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Tujuannya pujian kembali (a.12b).

(13) Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. (14) Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Tahap berikut dalam pemersatuan segala sesuatu adalah orang non-Yahudi yang jadi percaya (bnd. 2:11-22). Kedua ayat ini adalah dasar ringkas untuk suatu urutan keselamatan (ordo salutis). Yang pertama adalah pendengaran Injil tentang keselamatan, sehingga ada yang percaya. Yang percaya dimeteraikan dengan Roh Kudus (yang menunjukkan bahwa mereka adalah milik Allah) yang menjadi jaminan bahwa mereka akan menerima segala yang dijanjikan Allah pada akhir zaman itu. Jadi, pemberitaan menjadi pintu masuk untuk keselamatan eskatologis (hidup kekal). Roh Kuduslah yang menerapkan dalam kehidupan orang percaya rencana Allah yang terwujud dalam Kristus. Namun, perlu diperhatikan apakah tujuan Allah. Bukan keselamatan saya saja (sebagai individu), melainkan kita sebagai umat milik Allah.


Kis 17:1-9 Siap menanggung risikonya

Oktober 10, 2008

Perjalanan misioner kedua yang dijalani Paulus dikisahkan dalam Kis 16-18, dengan serangkaian cerita dalam 16:11-18:16 yang mengikuti pola yang kurang lebih sebagai berikut: Paulus pergi ke tempat yang baru (di sini Tesalonika, a.1); dia menemukan orang Yahudi dalam ibadah dan memberitakan Kristus kepada mereka (a.2-3); ada yang jadi percaya (a.4); dan juga ada yang mengusir (aa.5-9), sehingga Paulus harus pergi ke tempat yang berikut (a.10). Dengan demikian berulang kali kita melihat semangat Paulus dalam menginjili serta keuletannya menghadapi perlawanan.

Dalam peristiwa ini Lukas hanya meringkas pemberitaan Paulus, barangkali karena lengkapnya mirip dengan yang disampaikan di Antiokia Pisidia (13:16-47). Di sini ada dua pokok. Dari PL, yang diterima sebagai kitab suci oleh orang Yahudi, dibuktikan bahwa Mesias harus menderita dan bangkit. Kemudian, diperlihatkan bahwa Yesuslah yang memenuhi nubuatan itu. Kepada orang di Atena Paulus akan memakai cara penyampaian yang lain (17:22dst), karena PL tidak ada artinya bagi mereka. Itulah sifat misioner Paulus yang kontekstual. Namun, tetap penting bagi kita orang non-Yahudi bahwa kedatangan Yesus bukanlah suatu kebetulan, tetapi sudah lama direncanakan Allah.

Yang menjadi soroton dalam perikop ini ialah reaksi orang Yahudi ketika cukup banyak anggotanya bergabung dengan Paulus, khususnya orang Yunani yang sudah lama bergabung di tempat ibadah itu. Cara mereka sudah lazim di Indonesia juga, yaitu mendesak sidang dengan keributan kelompok sewaan. Tuduhan mereka dibuat-buat (aa.6-7), tetapi saya rasa Lukas memuatnya karena ada benarnya juga. Maksudnya, Paulus dkk tidak memberontak terhadap Kaisar dengan mengikuti Yesus, malah orang Kristen justru dipanggil untuk menjadi taat kepada pemerintah. Tetapi pada segi yang lain, kesetiaan orang kristen pertama-tama tertuju kepada Allah, sehingga bukan Kaisar yang dianggap penyelamat, pelindung, sumber kehidupan.

Saya rasa pengalaman Paulus menjadi kemungkinan untuk semua yang memberitakan Kristus. Jika ada yang pindah keyakinan, yang ditinggalkan bisa saja cemburu. (Apakah itu yang melatarbelakangi sebagian penutupan jemaat di Jawa belakangan ini?) Juga, jika hati kita lebih mengandalkan Allah daripada pemerintah, bisa saja pemerintah gelisah. Syukur tidak selalu begitu, sebagaimana dilihat di Berea, kota berikut dalam perjalanan Paulus, di mana orang Yahudi baik hati. Tetapi kita harus siap menanggung risikonya.


1 Sam 14:44-46 Raja Saul tidak dapat diandalkan

Agustus 22, 2008

Israel dipilih Allah untuk mewakili bangsa-bangsa sebagai “kerajaan imam” (Kel 19:6) supaya janji berkat bagi bangsa-bangsa terwujud (bnd. Kej 12:2-3). Namun, dalam kenyataan Israel menjadi wakil manusia dalam artian yang lain, yakni sebagai pendosa. Terus-menerus Israel bersungut-sungut, tidak percaya dan memberontak. Permintaan untuk memiliki raja adalah bagian dari pola itu. Mereka ingin menjadi seperti bangsa-bangsa yang lain daripada bangsa yang kudus, dengan demikian menolak Allah (1 Sam 8:5-7).

Dalam pp.13-15 Saul tergambar sebagai raja yang tidak tegas, yang cepat mengalah jika rakyat mendesak. Dalam pp.13, 15 sifat itu bermuara pada ketidaktaatan kepada Allah. Dalam p.14 kegelisahan Saul ketika Israel terdesak dalam perang ditanggapi dengan kutuk yang bodoh. Dia tiba-tiba mau tegas pada awal nas kita, tetapi sekali lagi menyerah terhadap permintaan rakyat yang kali ini tepat. Kebodohan dan kelemahannya bercampur di sini. Saul sebagai raja ternyata satu watak dengan umat Israel. Meskipun dia diberkati Tuhan dalam perang (14:47-48), akhirnya dia ditolak Tuhan (p.15).

Sebaliknya, Yonatan adalah pemimpin yang berani dan mengandalkan Tuhan, seperti Daud yang menjadi sahabatnya. Namun, Daud juga jatuh ke dalam dosa, dan Salomo yang mengikutinya. Dalam cerita Alkitab secara keseluruhan, hanya satu yang menjadi orang Israel yang setia dan raja yang sejati, yakni Yesus Kristus.

Tentu melalui contoh buruk Saul dan teladan Yonatan kita dapat belajar tentang kepemimpinan yang semestinya dan menerapkannya kepada pemerintah dan gereja sekarang. Soalnya, kalau sekadar itu penerapannya, bukankah kita akan tenggelam dalam kekecewaan? Kalau seandainya koruptor diganti dengan orang yang lebih baik, toh orang itu juga terbatas. Kekurangan Israel terjawab bukan dengan negeri Indonesia (ataupun AS!) melainkan dengan Kerajaan Allah yang didatangkan oleh Yesus. Konsep kerajaan Allah bukan sekadar kiasan untuk pengalaman religius. Kristus yang bangkit dan diangkat ke sorga adalah Raja yang harus kita taati dan andalkan di atas pemerintah manusia. Dalam keberanian dan pengorbanan Dia seperti Yonatan dan Daud, malah lebih dari mereka karena Dia telah mengalahkan Iblis, dosa dan maut. Jika Dia adalah raja kita, mungkin saja kita akan berani seperti bujang Yonatan untuk ikut dalam perjuangan terhadap hal-hal yang melawan Allah meskipun perjuangan itu secara manusiawi tidak memiliki harapan (14:7).

Selamat berjuang!


Mzm 111 Pujilah Allah karena pemberian keselamatan!

Agustus 14, 2008

Salah satu alasan mendasar untuk Israel memuji Allah ialah perjanjian dengan Allah (111:5, 9). Mazmur pujian ini menceritakan dua segi dari berkat perjanjian-Nya, yakni perbuatan keselamatan-Nya (pemilikan tanah dalam a.6b, penebusan dari Mesir dalam a.9a) dan penyataan-Nya (aa.7b-8). Respons umat mulai dan berakhir dengan pujian (aa.1, 10c) serta menyelidiki perbuatan Allah dan menjadikannya dasar untuk takut akan Allah (aa.2-5, a.10).

Tentu, kita yang percaya kepada Kristus melihat perbuatan keselamatan dan penyataan Allah terpusat dalam Kristus dan karya-Nya. Milik pusaka kita adalah langit dan bumi yang baru (Why 21:1) yang menjadi pusat bangsa-bangsa (Why 21:24-26). Pada hari kemerdekaan Indonesia, kita bersyukur bahwa sebagai tomentiruran (pendatang) kita boleh menumpang di negeri ini untuk menyatakan perbuatan dan penyataan Allah yang ajaib!


Kej 35:1-15 Menyembah Allah

Juli 3, 2008

Pada awal perikop ini, Yakub telah melalui pergumulan dengan kakaknya Esau, sesuai dengan janji Allah yang dulu-dulu itu di Betel (Kej 28:15). Namun, dia belum sampai kembali kepada ayahnya (Kej 28:21) ketika keluarga perjanjian terancam lagi saking kecerobohan Simeon dan Lewi (34:30). Degan Yakub dan seisi rumahnya menghadapi musibah, Allah sekali lagi menampakkan diri.

Dia memanggil Yakub sekeluarga untuk pergi ke Betel dan menyembah-Nya di sana (a.1). Kali ini Allah tidak langsung menjanjikan perlindungan, Dia mengingatkan Yakub akan masalah Esau yang sudah dilalui dengan aman. Panggilan itu disampaikan Yakub kepada keluarga dengan satu perbedaan (a.3), yaitu Yakub langsung bersaksi tentang perlindungan Allah. Kesaksian itu menjadi alasan yang disampaikan Yakub untuk mereka meninggalkan dewa-dewa yang lain dan menahirkan diri. Dan memang Allah tetap menyertai dan melindungi mereka (a.5). Demikianlah ancaman itu diselesaikan.

Setelah mereka diam di Betel, Allah berfirman kembali kepada Yakub. Seperti Adam dan Hawa di taman Eden, Yakub dipanggil untuk bertambah banyak di tanah perjanjian (aa.11-12). Yakub kemudian membangun simbol akan hadirat Tuhan di sana. Dengan demikian Israel dipanggil untuk mendirikan kembali kerajaan Allah yang hilang ketika manusia berdosa.

Perikop ini menunjukkan bagaimana akhirnya melalui banyak pergumulan Yakub menjadi layak sebagai orang yang dipanggil Tuhan. Kita melihat kembali kesabaran Allah yang melindungi umat-Nya sambil menyempurnakannya. Untuk kita umat PB, perlindungan Allah sudah dibuktikan dalam kematian dan kebangkitan Kristus, dan hadirat-nya kita kenal melalui Roh Kudus sambil menantikan penggenapan janji langit dan bumi yang baru. Maka kita memiliki alasan yang lebih kuat lagi untuk meninggalkan berhala-berhala dan menyembah Allah saja.


Kis 7:1-53 Menafsir Sejarah Israel

Mei 27, 2008

Seperti dijelaskan di sini, Stefanus berkhotbah atas dorongan Roh Kudus sebagai pengikut Kristus yang sejati. Namun, jika dicermati Roh bekerja dengan hemat—Stefanus sudah sangat mengenal hasil Roh yang sebelumnya yakni Perjanjian Lama sehingga Roh tidak harus menyatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang telah Dia nyatakan, melainkan Dia menyatakan makna yang baru dari PL dalam terang Kristus. Hasilnya dianggap penting oleh Lukas, karena khotbah ini adalah yang paling panjang dalam kitab Kisah Para Rasul.

Tuduhan yang ditanggapi Stefanus itu dua: 1) Yesus akan merubuhkan Bait Allah; dan 2) Yesus akan mengubah adat istiadat orang Yahudi (6:14). Kedua hal itu dilihat sebagai hujatan. Stefanus tidak membantah tuduhan itu langsung, melainkan berusaha membuka pemahaman mereka tentang makna sejarah Israel. Pokok-pokok yang diangkat Stefanus dimulai dengan panggilan Abraham, kemudian Yusuf, Musa dan Israel di Mesir dan padang gurun, Daud dan Salomo, sampai dengan pembuangan (7:43). yang terakhir adalah Yesus sendiri. Kedua pokok ditanggapi demikian:

  • Soal Bait Allah dia menunjukkan bagaimana Allah bekerja di luar Israel. Abraham dipanggil di Mesopatamia dan dia bersama dengan keturunannya tinggal sebagai pendatang (2-5). Allah menyertai Yusuf di Mesir (9-10), mendidik Musa dengan hikmat Mesir (22) dan menampakkan diri-Nya kepadanya di padang gurun sehingga tempat itu menjadi kudus (30, 33). Tema ini berpuncak dengan Stefanus mengutip Yes 66:1-2 untuk menegaskan bahwa Allah jauh lebih besar daripada Bait Allah (49-50).
  • Soal Hukum Taurat dia menempatkan para penuduhnya pada aliran dalam sejarah Israel yang melawan Allah. Bapa-bapa leluhur Israel menjual Yusuf (9), dan Israel menolak Musa (35) yang menubuatkan Yesus sendiri (37), dan tidak taat setelah dia menjadi pemimpin Israel (38-39) sehingga membuat anak lembu (40-41). Tema ini berpuncak dengan tuduhan balik Stefanus bahwa mereka telah membunuh Yesus sama sepert para nabi sebelumnya (51-52). Maka merekalah yang tidak taat kepada Hukum Taurat (53).

Dengan demikian, kecaman Stefanus mirip dengan kecaman Yesus. Soal tempat bnd. Lk 4:16-30 yang menekankan Allah bekerja di luar Israel serta p.20 (penyucian Bait Allah). Soal Hukum Taurat bnd. Lk 11:37-54 serta perselisihan-Nya yang terus-menerus dengan orang Farisi soal penafsiran Hukum Taurat.

Apa bedanya antara Yesus dan Stefanus dengan orang-orang Yahudi yang lain? Sepertinya para penafsir Yahudi cenderung menafsir Kitab Suci (PL) sebagai seperangkat hukum yang tetap dan tidak bisa berubah. Sedangkan Yesus melihat Kisah Agung Kitab Suci sebagai intinya, yaitu apa tujuan Allah untuk dunia ini. Dengan demikian pemahaman Yesus dan Stefanus melihat peluang untuk perluasan misi Allah yang tidak mengutamakan lagi Bait Allah sebagai tempat dan Hukum Taurat sebagai aturan. Pemahaman itu yang meletakkan dasar untuk penyebaran Injil kepada bangsa-bangsa.

Mungkinkah jemaat-jemaat sekarang hilang semangat misinya karena Alkitab menjadi sumber aturan daripada Kisah tentang karya dan rencana Allah yang Agung?


Kis 6:8-15 Seorang pengikut Kristus

Mei 27, 2008

Ada yang mengusulkan bahwa kita harus mengikuti Yesus, bukan para pengikut Yesus. Bagi Lukas dalam perikop ini perbedaan itu tidak berlaku. Kisah Stefanus justru menunjukkan kesejajaran dengan Yesus. Stefanus melakukan berbagai tanda di depan umum sehingga menimbulkan perlawanan, namun lawannya tidak bisa mengalahkannya (Kis 6:8-10). Kemudian dia diseret ke hadapan Mahkamah Agung atas tuduhan palsu mengenai Bait Allah (6:13-14). Ketika dia mau meninggal dia berdoa supaya para pembunuhnya diampuni (7:60). Dalam kuasa Roh Kudus Stefanus menjadi pengikut Kristus yang sejati.

Namun ada juga perbedaan yang menunjukkan bahwa Stefanus hidup dalam tahap setelah Yesus dalam Kisah Agung Alkitab, yaitu zaman Roh dan pemberitaan yang merupakan hasil kematian dan kebangkitan Kristus. Mukanya “seperti seorang malaikat” (6:15) barangkali karena adanya Roh Kudus (6:10). Kemudian dia berbicara panjang lebar, beda dari Yesus yang kesaksian-Nya pada pengadilan-Nya pendek. Pun kematian Stefanus tidak membawa perjanjian baru seperti kematian Yesus (Lk 22:20). Pengikut Yesus seperti Stefanus menunjukkan bagaimana kita mengikuti Yesus bukan dengan peniruan tetapi dengan cara yang cocok dengan tahap kita dalam sejarah Kerajaan Allah, yaitu zaman Roh yang juga merupakan zaman pemberitaan.


Kis 2:1-13 Babel terbalik

Mei 8, 2008

Peristiwa pencurahan Roh Kudus boleh dikatakan sebagai penggerak kisah tentang kesaksian para rasul sesuai dengan perintah Yesus (1:4-5). Polanya muncul dalam 2:4, “penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata”. Pola itu sudah dilihat dalam Lk 1:41-42 (nyanyian Elisabet), dan diteruskan oleh Petrus kepada para pemimpin Yahudi (Kis 4:8), seluruh jemaat di hadapan tekanan (4:31), dan Paulus (13:9-10). Roh Kuduslah yang memungkinkan pemberitaan tentang perbuatan-perbuatan Allah.

Yang khas dalam perikop ini adalah semacam anti-Babel. Di dalam Kej 11:9, manusia tersebar dan menjadi bangsa-bangsa yang terpisah satu dengan yang lain oleh perbedaan bahasa. Di sini, orang-orang Yahudi dari bangsa-bangsa berkumpul kembali dan mendengar dalam bahasanya sendiri. Jadi, kunci perikop kita terdapat dalam a.11b, “kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” Jika kematian Yesus menghapus dosa dan kebangkitan-Nya mengalahkan maut, peristiwa anti-Babel ini menunjukkan bahwa pemberitaan kepada segala bangsa tentang karya keselamatan Allah itu tidak akan dihalangi oleh perbedaan bahasa. Syukur zending Eropa tidak menganggap bahwa suku yang lain tidak dapat dijangkau oleh Injil! Kalau gereja sekarang…


Kis 1:11-26 Mengatur dulu…

Mei 8, 2008

Kis 1-2 berbicara tentang munculnya jemaat sebagai wahana Kerajaan Allah yang telah didirikan oleh kematian dan kebangkitan Kristus. Misi jemaat dijelaskan dalam 1:1-11, yaitu bersaksi tentang Yesus oleh kuasa Roh Kudus. Keutuhan para rasul yang terganggu oleh pembunuhan diri Yudas diperbaiki oleh pemilihan Matias sebagai rasul dalam 1:11-26. Kis 2 menceritakan pencurahan Roh Kudus itu (2:1-13) serta kesaksian pertama tentang Yesus (2:14-40), sehingga suatu umat mulai terbentuk (2:41) yang sifatnya digambarkan sebagai contoh (2:42-47 dan pasal-pasal berikut).

Setelah penugasan para rasul oleh Yesus ketika Dia naik ke sorga, murid-murid-Nya bertekun bersama dalam doa. Tema kesehatian bermunculan dalam kitab ini. Ternyata dalam penantian mereka, ada dua tugas yang terkait dengan pengkhianatan Yudas. A.20 menjadi kuncinya, dengan dua nas yang dikutip Petrus. Kedua nas (Mzm 69:26; 109:8) menyangkut hukuman terhadap orang yang berbuat jahat kepada orang yang benar. Kedua nas diterapkan ke dalam konteks Yesus (Yesus adalah penderita yang benar, Yudas adalah yang berbuat jahat kepada-Nya) sesuai dengan ajaran Yesus sendiri bahwa Kitab Suci digenapi di dalam riwayat-Nya (Lk 24:44-45). Dalam konteks ini, barangkali Yesus dilihat sebagai penderita yang paling benar, yang pengalaman-Nya mencakup penderita-penderita yang lain yang menderita karena kebenaran, sehingga kedua nas lebih lagi berlaku untuk Yudas.

Nas pertama yang dikutip Petrus sudah digenapi dalam kematian Yudas yang mengerikan yang diceritakan sebelum a.20. Cerita Lukas sangat lain dari cerita Matius (Mt 27:3-9). Suatu harmonisasi dapat dibuat demikian: Lukas meringkas pembelian sebidang tanah oleh imam-imam kepala seakan-akan Yudas membeli; Yudas meninggal dengan cara yang mencakup menggantung diri dan perutnya terbelah; dan dua versi rakyat tentang artian “Tanah Darah” dipakai. Tetapi selalu yang lebih penting adalah alasan masing-masing penulis. Matius menonjolkan pengkhianatan Yudas ketimbang ketidakbersalahan Yesus, sedangkan Lukas menonjolkan hukuman yang jatuh ke atas Yudas. Hanya detail yang sesuai yang diceritakan.

Nas kedua yang dikutip Petrus memberi alasan untuk memilih pengganti Yudas. Lukas telah menyebutkan kesebelas rasul yang berkumpul (a.13, 26), sehingga kemungkinan besar Lukas (dan mereka) melihat pentingnya para rasul menjadi genap 12 sebagai wakil Israel (bnd. Lk 22:30). Prasyarat untuk menjadi pengganti memperjelas tugas kesaksian yang diembankan Yesus kepada mereka. Kebangkitan adalah inti kesaksian, tetapi tanpa konteks seluruh pelayanan Yesus mulai dengan pembaptisan-Nya, kesaksian itu tidak akan lengkap. Kesaksian itu diteruskan bukan dalam pengalaman kita melainkan dalam Alkitab. Pengalaman kita sebagai respons terhadap Injil memang penting, tetapi itu bukan Injil. Injil menyangkut Yesus, dan “kesaksian pribadi” harus selalu bermuara pada sumber itu.


Kis 1:6-11

April 28, 2008

Kerajaan adalah tema sentral dalam seluruh Alkitab. Pertanyaan para murid pada a.6 tentang pemulihan kerajaan bagi Israel bukannya tidak tepat. Kerajaan yang mereka maksudkan tidak lain dari Kerajaan Allah (KA) yang dibicarakan Yesus selama 40 hari. Dalam PL, patron KA terdapat dalam taman Eden sebagai tempat di mana Allah menjadi Raja atas umat-Nya. Israel dimaksud sebagai perwujudan kembali KA itu, tetapi gagal. Berbagai nabi mengharapkan pemulihan Israel sebagai inti dari pemulihan seluruh dunia (mis. Yes 2:1-4). Jadi, Yesus tidak membantah pertanyaan mereka, melainkan mengarahkannya ulang (a.7-8a). Pemulihan Israel yang diawali dengan seruan Yohanes Pembaptis untuk bertobat akan berpuncak dengan pencurahan Roh Kudus, janji Bapa itu (a.5, seperti dalam Yoel 2:28-32 yang dikutip Petrus pada hari Pentakosta, sepuluh hari kemudian).

Dengan demikian ada tugas bagi para murid Yesus sebelum mereka duduk di atas takhta menghakimi Israel (Lk 22:30)! Oleh kuasa Roh Kudus mereka akan menjadi saksi sampai ke ujung bumi. Itulah bentuk KA untuk sementara (sampai Dia kembali dengan mulia). Yesus naik ke sorga sebagai kurios (penguasa tertinggi) dan Kristus (Raja dan Juruselamat Israel yang dijanjikan PL). Dia memerintah melalui umat-Nya yang bersaksi tentang Dia, sehingga bangsa-bangsa bertobat dan tunduk kepada-Nya sebagai Raja—dengan sukarela karena diyakinkan oleh Roh, bukan karena dipaksakan. Seluruh kitab Kisah Para Rasul memberi kita gambarannya. Cara gereja hidup bersama, bersaksi oleh kuasa Roh dan mengikuti tuntunan Roh menerapkan makna Yesus sebagai Raja.