Titus 2:1-10 Pelayan, ajaran dan jemaat yang sehat

September 20, 2010

Titus 1 menugasi Titus untuk menghadapi masalah ajaran yang tidak sehat dalam jemaat-jemaat di Kreta (1:5). Ajaran itu berdampak pada kekacauan (1:10) dan jemaat yang rentan terhadap penipu (1:11). Dalam p.2 Paulus memberitahu Titus apa yang harus diajarkan untuk menanggapi ajaran yang tidak sehat itu (lihat “beritakanlah” dalam a.1 dan a.15 untuk membuktikan bahwa aa.1-15 merupakan satu kesatuan). Nasihat Paulus terbagi dua. Perikop kita (aa.1-10) menguraikan gambaran tentang hidup yang tertib untuk berbagai kelompok: laki-laki yang tua (a.2); perempuan yang tua (aa.3-4a); perempuan yang muda (aa.4b-5); pemuda (a.6) dan hamba (aa.9-10). Dalam penguraian itu kelompok pertama (a.2) menunjukkan pola mendasar, karena beberapa kali kemudian ada kata “demikian…demikian” (aa.3, 5). Jadi, nasihat mendasar adalah hidup sederhana (secara harfiah bukan peminum, tetapi secara kiasan bukan seperti peminum yang tidak dapat mengendalikan diri), terhormat (karena kebaikannya), bijaksana dan akhirnya sehat dalam iman, kasih dan ketekunan (wujud nyata dari pengharapan, artinya, jika kita berpengharapan kita dapat bertekun). Yang terakhir ini menunjukkan bahwa yang diharapkan bukan sifat saja, tetapi sifat yang berasal dari Injil. Hal itu menjadi jelas dalam bagian kedua, yaitu aa.11-14, yang mendasarkan sifat baik dalam a.12 pada karya Allah dalam Kristus (aa.11, 13-14). Jadi, Titus harus menanggapi ajaran yang tidak sehat itu dengan nasihat tentang sifat hidup yang tertib serta dasar teologisnya.

Nasihat itu mendasari Injil, tetapi juga memperhatikan konteks. Dalam a.2 kata “terhormat” merujuk pada sesuatu yang dianggap sangat layak dikagumi, dan dipakai untuk dewa dan kaisar selain juga untuk manusia biasa yang dianggap terhormat. Artinya bahwa nilai-nilai setempat berperan dalam tingkah laku orang percaya. Bukan menentukan, karena Injil yang menentukan, tetapi kita hendak menghayati nilai-nilai Injil sedemikian rupa sehingga orang-orang di sekitar kita dapat melihat bahwa cara hidup itu terhormat. Makanya, nasihat kepada perempuan dan kepada hamba disesuaikan dengan budaya setempat, agar Firman Allah jangan dihujat orang (a.5) melainkan dimuliakan (a.10). Belum tentu di budaya modern bahwa hanya perempuan yang mengatur rumah tangga, atau bahwa karyawan harus taat dalam segala hal, karena karyawan bukan hamba. Tetapi kita tetap mau menunjukkan rumah tangga yang dapat dilihat sebagai sesuatu yang terhormat oleh orang di sekitar kita, dan menjadi karyawan yang memuliakan ajaran Allah.

Jika jemaat mau dijadikan wujud nyata Firman Allah bagi masyarakat di sekitarnya, pelayan juga harus menjadi teladan pemberitaannya kepada jemaat (aa.7-8). Menarik bagi saya bahwa soal keteladanan diangkat pada bagian tentang pemuda. Apakah pada saat itu juga pemuda lebih memperhatikan cara hidup daripada wacana? Tentu, soal keteladanan penting untuk semua kelompok.

Nasihat kepada kelompok-kelompok tidak sulit untuk disampaikan, tetapi apa relevansinya nasihat kepada Titus sebagai pelayan bagi jemaat biasa? Yang pertama, sebagian mereka melayani, entah sebagai majelis atau dalam salah satu OIG. Yang kedua, orang tua semestinya melayani dalam rumah tangga, dan kita semua dapat melayani teman-teman. Tetapi juga, jemaat dapat belajar dan memahami bagaimana semestinya pelayanan kepada mereka. Apakah pendeta dan majelis menjadi teladan firman yang dia sampaikan, contoh orang yang sehat dalam iman, kasih serta ketekunan? Jika tidak, mengapa dipilih?

Singkatnya, amanat teks dapat dirumuskan begini: Cara menghadapi dampak buruk ajaran yang tidak sehat pada kesaksian jemaat ialah pemberitaan nasihat yang dihayati oleh pelayan untuk hidup tertib berdasarkan Injil dan sesuai dengan konteks. Dengan kata lain, pelayan yang sehat memberitakan ajaran yang sehat supaya jemaat menjadi sehat dan membawa kemuliaan bagi firman Allah di masyarakat. Amanat khotbah dapat berfokus pada soal kualitas pelayanan ataupun pada penghayatan iman oleh jemaat.


1 Kor 10:14-24 Persekutuan yang tidak dibagi-bagi

September 28, 2009

Di Korintus, seperti kota-kota yang lain di dunia kekaisaran Romawi pada abad pertama, kuil untuk dewa-dewi cukup pokok dalam kehidupan bermasyarakat. Ada upacara yang diadakan di kuilnya sendiri (atau di sekitarnya) yang jelas berfungsi sebagai penyembahan berhala. Banyak kuil juga berfungsi sebagai restoran, dengan beberapa ruangan di sebelah kuilnya yang dipakai untuk makan, satu meja dalam satu ruangan. Makanannya dipersiapkan di kuilnya, sehingga dagingnya sudah dipersembahkan kepada dewa kuil itu. Daging yang dipersembahkan juga dijual di pasar daging, walaupun ada juga daging yang dijual yang tidak ada sangkut pautnya dengan kuil.

Orang Yahudi yang ketat menghindari semuanya itu, supaya jangan sampai mereka bersentuhan dengan pemberhalaan. Dengan demikian mereka harus hidup agak terpisah dari masyarakat. Tetapi semangat kristiani adalah berbaur dengan masyarakat, terlibat di dalamnya untuk memenangkan orang bagi Kristus (bnd. 9:20-22). Di jemaat di Korintus ada sebagian orang yang disebut ‘kuat’—anggaplah orang mampu dan berpendidikan —yang menolak sikap berpisah itu. Mereka dengan sungguh-sungguh sudah menangkap bahwa hanya ada satu Allah yakni Bapa dari Yesus Kristus, sehingga semua berhala tidak ada (lihat 8:1-6). Mereka dengan berani berpartisipasi dalam upacara di kuil, di restorannya, dan membeli daging dengan bebas. Masalahnya, ada juga yang disebut ‘lemah’. Mereka pun percaya bahwa berhala itu tidak ada, tetapi identitas kristiani mereka masih agak rapuh sehingga dengan mudah mereka terbawa oleh suasana dalam upacara dan restoran untuk menyembah berhala kembali.

Dalam p.8 Paulus setuju dengan teologi kaum kuat (8:1-6), tetapi menegaskan bahwa teologi itu harus diterapkan dalam rangka kasih kepada yang lemah (8:7-13). Hal itu ditegaskan kembali pada akhir perikop kita (aa.23-24). Dalam p.9 dia menjelaskan bagiamana dia sendiri tidak menggunakan haknya sebagai rasul tetapi bertindak demi kepentingan orang lain. Namun, dalam bagian awal p.10, termasuk perikop kita, dia menyampaikan segi yang lebih menantang kelompok yang ‘kuat’. Ada yang dalam bahasa sekarang disebut sebagai sinkretisme, yaitu percampuran penyembahan yang sejati kepada Allah dengan penyembahan kepada yang bukan Allah. Sejarah Israel menjadi peringatan tentang hal itu (10:1-13), dan perikop ini menerapkan peringatan itu ke dalam konteks di Korintus.

Inti dari penerapan itu ialah bahwa upacara di kuil merupakan persekutuan dengan roh-roh jahat. Adanya roh jahat (bahasa Yunani daimonion) di balik berhala sudah jelas dalam PL (bnd. Ul 32:17 dan bahasa Yunaninya Mzm 96:5). Apakah dengan demikian berhala itu dianggap berada? Tidak (aa.19-20). Tetapi penyembahan kepada apa saja yang bukan Allah berarti berurusan dengan kuasa gelap. Kuasanya bukan dalam patungnya atau tempatnya, melainkan dalam orangnya. Itu alasannya Paulus mengusulkan bahwa daging yang dibeli atau dihidangkan tanpa diketahui asal usulnya tidak perlu dipersoalkan (10:25, 27). Tidak ada kuasa gelap yang melekat pada dagingnya, sekalipun daging itu sudah dipersembahkan kepada seribu patung berhala. (Hanya, mungkin menjadi agak busuk kalau sudah lewat seribu upacara. :)

Tetapi jika demikian apa salahnya orang-orang ‘kuat’ terlibat dalam acara itu, karena dalam hati mereka tidak menyembah berhala itu? Salahnya bahwa keterlibatan dalam upacara keagamaan merupakan persekutuan dengan dewa yang dihormati di dalamnya. Hal itu Paulus buktikan dari Perjamuan Kudus (aa.16-17) dan ritus dalam PL (a.18). Bagi saya, yang kunci di sini ialah memahami bahwa persekutuan itu bukan soal hati manusia melainkan makna di depan orang. Ritus, upacara, memiliki makna sosial, makna yang lepas dari maksud dalam hati. Sebagai contoh, upacara nikah berarti bahwa kedua pengantin terikat dalam pernikahan, sekalipun salah satunya hanya bermaksud untuk mendapat uang dari pasangannya. Maksud yang buruk itu tidak meniadakan makna sosial dari upacara nikah itu. Dalam konteks Korintus, mengikuti upacara untuk dewa berarti bersekutu dengan dewa, sekalipun maksud dalam hati sekadar bergaul. Dalam rumah pribadi pun, jika asal usul daging itu diberitahu, Paulus mengusulkan supaya daging itu jangan dimakan, karena yang memberitahu mungkin saja akan menyimpulkan bahwa orang kristen menganggap bahwa berhala itu sah (10:28-29a). Peringatan Paulus tegas: kita tidak mau membangkitkan kecemburuan Tuhan (a.22). Tuhan menuntut kesetiaan yang tidak dibagi-bagi dari pengikut-Nya.

Sejarah perjumpaan Injil dengan budaya Toraja tentu penuh dengan contoh-contoh yang mirip kasus ini. Seringkali yang dipersoalkan adalah apakah hati nurani jemaat terganggu karena makna lama yang terbawa oleh ritus tertentu. Dari aa.23-24 dan p.8 hal itu adalah pertimbangan yang penting. Tetapi jika tafsiran saya tentang makna sosial tepat, maka makna sosial harus juga dipertimbangkan. Jika di suatu tempat ritus tertentu memiliki makna yang terkait dengan kuasa selain Kristus, maka ritus itu tidak boleh diikuti orang percaya. Bedanya di Toraja bahwa karena masyarakat sudah mayoritas kristen maka makna sosial dari sebuah ritus bisa dipengaruhi oleh gereja. Tentu jemaat di Korintus sama sekali tidak bisa mempengaruhi ritus di kuil maupun maknanya. Di Toraja pun belum tentu bahwa pengumuman oleh majelis sudah berhasil mengubah pemaknaan oleh masyarakat.

Lebih rumit lagi adalah konteks yang sudah dipengaruhi sekularisasi, sehingga tidak ada dewa-dewi yang jelas. Namun, jika Paulus bisa menyamakan keserakahan dengan pemberhalaan (Ef 5:5), apakah sekarang ada penyembahan dewa Mamon? Apakah tempat seperti mal menjadi kuilnya? Adakah tindakan-tindakan dalam dunia global yang oleh masyarakat akan diartikan sebagai pemberhalaan uang, yang menunjukkan bahwa uang diandalkan di atas segalanya, ditempatkan sebagai yang paling utama? (Silakan kalau ada usulan untuk konteks Indonesia, siapa tahu dapat saya pakai dalam khotbah minggu depan di Australia. :) Jika ada, maka di situlah jangan orang percaya terlalu berani mengatakan bahwa karena sikap hatinya bersih (“bagi saya uang itu tidak ada artinya”) maka tidak ada masalah. Bukankah kecemburuan Tuhan akan dibangkitkan jika di depan dunia kita bersekutu dengan Mamon?


Praanggapan yang melandasi teologi kontekstual

Maret 17, 2009

Di satu tempat (h.21) Bevans menyebutkan soal orientasi teologis yang mendasar. Maksudnya bahwa ada beberapa hal yang merupakan praanggapan yang melandasi banyak hal yang lain, termasuk pendekatan terhadap kontekstualisasi. Tempat konteks dan Alkitab dalam berteologi yang saya bahas waktu yang lalu adalah salah satunya. Praanggapan itu dibentuk oleh pengajaran dan pengalaman, tetapi dapat juga dibahas dan dipertimbangkan.

Hal itu dapat dilihat dalam sejarah teologi Barat. Renaisans mulai membangun semangat individualistis dalam masyarakat Eropa, sehingga otoritas (khususnya gereja) mulai dilihat sebagai ancaman terhadap otonomi manusia. Reformasi berupaya untuk menempatkan otoritas bukan pada gereja yang manusiawi melainkan pada Alkitab saja sebagai firman Allah, tetapi banyak wilayah Protestan sama otoriternya dengan wilayah Katolik. Kemudian permusuhan antara Katolik dan Protestan yang bermuara pada serangkaian perang pada abad ke-17 mengikis wibawa moral Alkitab yang diklaim sebagai landasan gereja. Hal itu membuka kesempatan untuk orang mempertanyakan etika Alkitab sendiri, seperti perang suci. Kemudian, kemajuan sains membuktikan kemampuan manusia untuk mendapat pengetahuan di luar penyataan Alkitab, dan menimbulkan pertanyaan tentang mujizat dalam Alkitab. Muncullah teologi liberal pada abad ke-19 sebagai usaha untuk mempertahankan nilai-nilai religius dan etis yang berkaitan dengan Kristus, sedangkan sebagian dasar iman tradisional (seperti kebangkitan-Nya atau keilahian-Nya) dianggap tidak meyakinkan lagi.

Sampai sekarang hal-hal yang serupa (penyalahgunaan Alkitab, kebobrokan gereja, bahan tertentu dari Alkitab sendiri, perkembangan dunia modern) menjadi alasan mengapa dianggap penting menyeimbangkan Alkitab dengan pengalaman manusia. Anggapan itu berfungsi sebagai praanggapan, suatu kecenderungan yang mempengaruhi apa yang masuk akal dan apa yang tidak. Sebagai contoh praanggapan, bagi saya sebagai orang Injili, tidak masuk akal percaya kepada Kristus dan berkecimpung dalam gereja kalau Yesus tidak bangkit. Bagi beberapa teolog kontekstual yang dibahas Bevans, kebangkitan tubuh Kristus tidak masuk akal dan dilihat sebagai metafora (cara membahasakan) semangat baru pada murid-murid-Nya setelah penyaliban-Nya. Karena menyangkut praanggapan, beradu argumentasi tidak akan mencapai persetujuan, namun dapat memperjelas perbedaannya.

Mengenali praanggapan yang berlaku dapat mengurangi rasa jengkel terhadap pendapat yang berbeda, dan memungkinkan kita untuk belajar dari orang lain. Belajar belum tentu berarti kita mengganti praanggapan kita dengan praanggapan mereka. Kita dapat menggunakan berbagai gagasannya setelah disesuaikan dengan praanggapan kita.

Tiga praanggapan yang mau saya bahas selanjutnya adalah soal epistemologi (bagaimana mengetahui), soal penciptaan atau penebusan, kemudian soal rujukan Alkitab.


Pengantar tentang teologi kontekstual

Maret 11, 2009

Kontekstualisasi menjadi topik yang hangat akhir-akhir ini. Buku Stephen Bevans, Models of Contextual Theology (New York: Orbis Books, 2002) menjadi klasik dalam analisis berbagai model kontekstualisasi. Dalam beberapa posting saya mau berinteraksi dengan pemandangannya, dan juga menempatkan diri dalam pemetaan model-model teologi kontekstual yang dia ajukan.

Apa itu teologi kontekstual? Kata konteks merujuk ke budaya, keadaan sosial dan politik, sejarah dsb di suatu tempat. Sebenarnya, teologi selalu mencerminkan konteksnya. Kita dapat melihat budaya Timur Tengah Kuno dalam Perjanjian Lama, dan budaya Helenis (Yunani) dalam berbagai kitab Perjanjian Baru. Agustinus memakai (secara kritis) filsafat Plato, Thomas Aquinas memakai (secara kritis) filsafat Aristoteles, Calvin memanfaatkan ilmu-ilmu kesastraan yang berkembang pada zaman Renaisans. Kemudian, teolog-teolog seperti itu berteologi demi kepentingan misi dan pastoral, yaitu untuk konteks tertentu. Tetapi semuanya berkarya atas praanggapan bahwa teologi mengungkapkan kebenaran tentang Allah berdasarkan Kitab Suci (ditambah Tradisi bagi kaum Katolik, seperti Stephen Bevans sendiri). Menurut Bevans, teologi kontekstual menambahkan satu sumber lagi, yaitu pengalaman manusia sekarang.

Usulan itu mengaburkan bahwa teologi liberal sejak abad ke-19 memakai pengalaman manusia sebagai salah satu sumber teologi. Contoh klasik adalah Schleiermacher yang berteologi dengan membahas pengalaman manusia akan Allah, bukan Allah sendiri. Dia mengikuti filsafat Imanuel Kant, yang mengajukan bahwa dunia tidak diketahui langsung, tetapi hanya melalui pemaknaan oleh akal budi. Misalnya, saya melihat beberapa kali bahwa babi yang ditusuk di jantung langsung mati. Tidak dapat dibuktikan secara mutlak bahwa tusuk menyebabkan kematian, tetapi akal budi manusia menafsir pengalaman seperti itu sebagai sebab-akibat. Jadi, pengetahuan tentang dunia dicari (sebagian) dalam akal budi manusia, bukan dalam dunia di luar. Demikian juga, teologi liberal menganggap bahwa pengetahuan tentang Allah dicari (sebagian) dalam pengalaman religius manusia. Bahkan Alkitab sendiri makin ditafsir sebagai hasil pengalaman religius manusia pada masa lampau, bukan sebagai wahyu langsung. Satu akibat (atau sebab?) ialah teologi liberal mengikuti semangat Pencerahan yang menempatkan rasio (akal budi) di atas otoritas.

Namun, pada abad ke-19 pengalaman manusia yang diteliti adalah pengalaman satu budaya saja, yaitu budaya Eropa. Pada abad ke-20, para antropolog makin menyadari kecanggihan budaya-budaya di luar dunia Barat, dan sosiologi makin menunjukkan sejauh mana akal budi manusia yang memaknai itu ditentukan oleh budaya. Sehingga kemajemukan pengalaman manusia berarti bahwa teologi yang mencakup pengalaman manusia harus menjadi majemuk juga. Timbullah teologi-teologi kontekstual.

Bagaimana dengan teologi konservatif, yang tetap berpegang pada Alkitab sebagai otoritas di atas akal budi dan pengalaman manusia (seperti aliran Injili yang saya anut)? Selama budaya Eropa dianggap puncak budaya manusia, unsur konteks (budaya dsb) dalam menafsir Alkitab tidak diperhatikan. Para teolog konservatif lebih sibuk mempertahankan Alkitab dan doktrin-doktrin kunci seperti ketuhanan Kristus terhadap tantangan teologi liberal. Tetapi gerakan misi tidak hanya membawa Injil ke pelosok-pelosok dunia, tetapi juga membawa budaya-budaya dunia ke dalam kesadaran Barat. Para misionaris makin menyadari bahwa budaya berpengaruh dalam, dan akhir-akhir ini gereja dunia ketiga makin bersuara. Sehingga lambat laun teologi Injili pun diperhadapkan dengan konteks sebagai faktor yang tidak dapat dipungkiri dalam berteologi.


12 langkah berteologi dalam misi

Februari 17, 2009

Menurut van Engan, Charles E., ‘Toward a Contextually Appropriate Methodology in Mission Theology’ dalam Appropriate Christianity ed. Charles Kraft (Pasadena, Calif: William Carey Library, 2005), 203-226.

Van Engan mendaftar 12 langkah dalam 5 golongan yang merupakan putaran yang tidak berakhir untuk berteologi dalam misi.

  • Memahami Injil Yesus Kristus

1. Menggali Alkitab yang menyatakan Allah yang misioner.

2. Memahami (secara kritis) tradisi gereja. Sikap kritis bertambah penting di luar dunia Barat karena tradisi teologi berkembang dalam konteks Barat.

3. Mengenali keadaan dan pengalaman pribadi yang menjadi konteks pribadi.

4. Memahami konteks lokal (termasuk memakai ilmu sosial).

5. Menentukan Ide Pemersatu (Integrating Idea), yang menjadi kerangka bagi hasil berteologi (misalnya bagi William Carey itu Amanat Agung, bagi gerakan Pietisme itu kesesatan manusia, bagi DGD Uppsala 1968 itu Memanusiakan)

  • Mendekati Konteks Baru

6. Bergantung pada Roh Kudus dan Doa. Apa yang telah dan sedang dilakukan Roh di sini?

7. Sejarah perbuatan misi di sini selama ini (hampir tidak ada konteks dunia sekarang yang belum tersentuh oleh misi).

8. Sejarah teologi misi di sini, termasuk interaksi antara gereja/misi dengan masyarakat.

  • Bersiap untuk Tindakan Baru

9. Inkarnasi adalah hati Teologi Misi. Van Engen menawarkan matriks dengan kolom seperti Misi Allah, Misi manusia, Misi gereja, Misi di dunia, Misi Kristus, Misi Roh Kudus (yaitu tindakan Allah), serta baris untuk konteks, pelaku, cara, hasil, struktur dsb (konteks manusia). Maskudnya bahwa setiap sel dalam matriks itu dapat memicu pertanyaan misiologis, tetapi tidak ada contohnya dan tidak jelas bagi saya pertanyaan macam apa yang akan muncul!

  • Menghidupi Injil dalam Aksi yang Tepat

10. Persiapan untuk bertindak. Di luar dampak dari keberadaan jemaat dalam konteks tertentu, misi Allah menuntut tindakan dari umat-Nya. Tindakan menimbulkan refleksi yang menimbulkan refleksi baru. (Pernyataan itu sebenarnya menyimpulkan seluruh putaran.)

11. Tindakan misiologis. Dia memakai konsep Paul Hiebert tentang “himpunan yang berpusat” (centred set). Daripada menentukan himpunan orang kristen menurut beberapa ciri (biasanya daftar doktrin dan perilaku), orang kristen didefinisikan menurut relasinya dengan Kristus, apakah menuju apa menjauh. Contohnya (dari saya, bukan van Engen), jemaat yang doktrinnya murni, liturginya rapih, organisasinya mantap tetapi tidak lagi berpusat pada Kristus bisa saja sedang menjauh daripada-Nya, sedangkan jemaat orang kristen baru yang belum keluar dari berbagai sinkretisme tetapi mengasihi Kristus mendekati-Nya. Konsep ini memberi lebih banyak ruang bagi konteks, karena daftar doktrin dan perilaku biasanya terambil dari konteks lain (misalnya dunia Barat kalau misionaris).

  • Praksis: Membentuk Ulang Pemahaman Injil

12. Refleksi atas tindakan. Van Engen menyebutkan lingkaran hermenuetik Segundo (teolog pembebasan), yaitu konteks “dieksegese”, kemudian Alkitab digali ulang dengan pertanyaan yang baru untuk menerangi konteks itu kembali. Langkah 1-4 yang dipikirkan ulang dalam terang tindakan yang sudah dilakukan.

Proposal di atas saya nilai belum tajam, tetapi semangatnya bagus, yaitu menunjukkan cara untuk mempraktekkan teologi kontekstual. Jika ada saran/komentar, silakan!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.