Luk 22:39-46 Menang atas pencobaan

Maret 26, 2009

Setelah diutus oleh Bapa-Nya ketika dibaptis dalam air dan oleh Roh Kudus (Lk 3:21-22), yang pertama-tama dihadapi Yesus bukan manusia (keagamaan Yahudi yang korup, penindasan kekaisaran Romawi) melainkan Iblis. Iblis tentu adalah makhluk, bukan ilah yang bersaing dengan Allah. Tetapi dalam ciptaan ada dua lapisan. Di balik yang kelihatan ada yang tidak kelihatan (Kol 1: 16). Istilah yang dipakai Paulus (singgasana, kerajaan, pemerintah, penguasa) menempatkan yang tidak kelihatan ini di dalam struktur-struktur kekuasaan manusia. Hal-hal seperti pemerintahan, perusahaan, sistem ekonomi dan politik sering menuntut kesetiaan yang selayaknya kepada Allah saja. Oleh karena itu, yang setia kepada Allah akan menghadapi pencobaan, apakah setia kepada Duit, Kuasa dalam berbagai bentuknya, atau kepada Allah.

Jadi, doa yang diajarkan Yesus memohon keselamatan dari pencobaan (Lk 11:4), dan ajaran-Nya tentang kehidupan pada akhir zaman menunjukkan pentingnya doa dan sikap waspada (Lk 21:34-36). Tetapi Yesus sendiri harus mengalahkan pencobaan untuk membuka jalan keluarnya. Pada babak pertama di padang gurun (tempat Israel dicobai) Yesus menang. Menjelang kematian-Nya, Dia harus menghadapi pencobaan untuk menyimpang dari jalan Bapa-Nya, dan juga mengajar murid-murid-Nya bagaimana menghadapi pencobaan.

Murid-murid-Nya mengikuti Yesus (a.39) ke taman Getsemane itu. Mereka disuruh untuk berdoa supaya tidak jatuh ke dalam pencobaan. Perhatikan bahwa kata yang dipakai adalah “jatuh” bukan “terjatuh” (aslinya “masuk”, jadi aktif). Artinya bahwa akan ada pilihan, akan ada unsur kesengajaan, meskipun keadaan juga berpengaruh. Kemudian Yesus sendiri berpisah untuk menerapkan nasihat-Nya sendiri. Dia mengakui kedaulatan Allah yang bisa mengubah keadaan apapun, kemudian berserah pada kehendak Allah (a.42). Kehendak Allah berarti meminum cawan murka Allah (bnd. Yes 51:17 dan Yer 25:15; piala sama dengan cawan dalam bahasa aslinya). Aa.43-44 menggambarkan beratnya pencobaan ini, karena menghadapi murka Allah adalah menghadapi neraka. Setelah berdoa, Yesus berdiri dan sudah siap menghadapi apa yang akan terjadi. Tetapi murid-murid-Nya malah ketiduran. Mereka bisa mengikuti Yesus ke suatu tempat, tetapi belum sanggup mengikuti Yesus dalam menghadapi pencobaan. Sama seperti Israel, mereka gagal. Alhasil, banyak melarikan diri dan Petrus menyangkal Yesus.

Ketaatan kepada Allah bisa berarti bahwa kita akan menghadapi pencobaan yang berat. Dalam Kisah Para Rasul Lukas menunjukkan bahwa oleh kuasa Roh Kudus seorang murid bisa berani dan setia. Tetapi di sini kita belajar bahwa dasar harapan kita bukan kemampuan kita melainkan kemampuan Yesus, Juruselamat kita. Dia yang telah mengalahkan Iblis dan sebagai manusia sejati menempuh jalan ketaatan. Dia yang sudah meminum cawan murka Allah sebagai ganti kita. Oleh karena itu, kita berani belajar taat dan setia dalam menghadapi berbagai penguasa yang dipengaruhi oleh kuasa Iblis dan mencobai. Kemungkinan bahwa kita akan sering seperti Petrus yang menyangkali daripada Petrus pada Kis 5:41. Tetapi dalam kemenangan Yesus kita diampuni, dipulihkan dan dikuatkan untuk tetap berjuang dalam harapan.


1 Raj 2:1-4 Peralihan kuasa

November 20, 2008

Pesan Daud kepada anaknya Salomo yang sudah naik takhta mengandung harapan dan juga benih kegagalan. Pada pasal sebelumnya Salomo disambut rakyat dengan gembira, malah ada harapan bahwa kerajaan di bawah Salomo akan lebih sejahtera daripada di bawah Daud (1:47). Bagi Daud hal itu adalah penggenapan janji Allah bahwa keturunannya akan menduduki takhta Israel sampai selama-lamanya. Dalam kisah selanjutnya, itulah yang terjadi. Kerajaan di bawah Salomo mencapai puncak kejayaan dengan datangnya ratu negeri Syeba (p.10, lihat Menafsir Sejarah (2))

Namun, Daud harus mengingatkan Salomo bahwa janji Allah terkait dengan ketaatan manusia. Tentu, hal itu adalah tema dari awal sampai akhir Alkitab. Soalnya, berkat yang diterima dari Allah tetapi tidak dihayati dengan ketaatan bukan berkat lagi. Malah, jika manusia dilestarikan dalam keadaan tidak taat maka keadaannya justru menjadi kutuk. Barangkali gagasan itu merupakan salah satu cara untuk menjelaskan mengapa manusia harus diusir dari taman Eden.

Sayangnya, raja-raja Israel mewakili rakyatnya dalam berbuat dosa, sehingga akhirnya Israel juga harus dibuang dari tanah perjanjian. Kegagalan itu sudah disinyalir dengan perzinahan dan pembunuhan oleh Daud sendiri, dan menjadi tema yang menonjol dari pasal setelah pasal tentang ratu negeri Syeba itu, ketika diceritakan bagaimana Salomo gagal setia kepada Tuhan.

Saya duga bahwa dalam ayat-ayat berikut, yakni aa.5-9, kegagalan Israel itu disinyalir secara halus. Di situ kita lihat bagaimana kerajaan berdasarkan kekerasan, seperti dinubuatkan Samuel (lihat 1 Sam 8:11-18). Menarik bahwa riwayat Daud berakhir dengan kata-kata dalam aa.5-9 daripada kata-kata dalam aa.2-4. Bukankah dalam gereja sekarang banyak pemimpin yang efektif bagi Tuhan tetapi yang juga memiliki kekurangan dalam cara berkuasa?

Namun, janji Allah tidak digagalkan oleh kegagalan manusia. Walaupun keturunan Daud berhenti sebagai raja sejak pembuangan, namun Yesus Kristus, keturunan Daud, yang berkuasa sebagai hamba, telah menjadi raja yang kekal. Dialah raja yang sungguh taat sehingga berkat-Nya tidak bercacat. Dialah raja yang layak kita sambut dengan gembira.