Yoh 18:38b-19:16a Kebenaran yang diungkapkan Mesias yang menderita

April 14, 2011

Injil Yohanes memberi fokus khusus ketimbang Injil-Injil yang lain pada perjumpaan antara Yesus dengan Pilatus. Pilatus tidak bodoh, dan mulai dengan alasan para pemimpin orang Yahudi yang kabur—“Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!” (18:30)—dia duga bahwa Yesus dibawa karena masalah intern bukan karena sungguh berbahaya. Walaupun mungkin semua kecuali Yesus sendiri menganggap bahwa Dia masuk ke dalam Yerusalem untuk memperjuangkan takhta Israel ala Daud, ternyata tidak ada jaringan militer-Nya atau sedikitpun yang lain terkait dengan hal itu. Ketika Pilatus bertanya tentang tuduhan politik bahwa Yesus mengklaim diri sebagai raja Yahudi, Yesus menjelaskan bahwa kerajaan-Nya bukan dari sini (18:36), melainkan terkait dengan kebenaran. Kata kebenaran (Inggris truth, Yunani aletheia) berarti apa yang sesungguhnya di balik permukaan yang kelihatan. Pilatus, dari budaya Roma yang pragmatis, mempertanyakan pernyataan Yesus. Yang berikut memperbandingan kebenaran yang disaksikan Yesus dengan pragmatisme Pilatus, kebenaran versi Yesus dan kebenaran versi Kaisar. Kebenaran versi Yesus (ala kerajaan “bukan dari dunia ini”, yakni dari Allah, 18:36) terpola oleh salib, sehingga banyak diungkapkan dengan ironi. Kebenaran versi Kaisar (kerajaan dunia, seperti Kaisar) penuh kerancuan. Tetapi yang menarik, para pemimpin Yahudi yang paling sempurna mempraktekkan pola Kaisar, dan Pilatus menjadi plin-plan di antaranya. Hal itu nampak dalam bolak-balik Pilatus: Yesus berbicara di dalam gedung, sedangkan para pemimpin Yahudi berbicara di luar gedung. Tetapi baik di dalam maupun di luar kita pembaca belajar tentang apa itu kebenaran.

Termasuk 18:28-38a, Pilatus keluar empat kali dan masuk tiga kali. Kali kedua dia keluar (tetapi kali pertama dalam perikop ini) dalam 18:38b-40. Ada dua kebenaran yang diucapkan oleh Pilatus, yakni bahwa Yesus tidak bersalah (18:38b) dan bahwa Yesus adalah raja orang Yahudi (18:39). Kedua kebenaran ini lebih dalam daripada pemahaman Pilatus. Yesus tidak hanya tidak bersalah dalam rangka memberontak, tetapi Dia adalah manusia sempurna yang siap untuk menjadi Anak Domba Allah yang tak tercacat. Yesus juga adalah raja Allah, Mesias yang diutus untuk menderita bagi umat Allah, walaupun saya duga Pilatus mengatakan hal itu untuk mengganggu para pemimpin Yahudi, bukan karena dia mengerti kerajaan Yesus. Penulis Injil melihat kedua kebenaran yang mendasari kematian Yesus itu disampaikan justru melalui wakil bangsa-bangsa, meskipun dengan tidak sadar. Sedangkan para pemimpin agama Yahudi mengungkapkan cara mereka dengan memilih seorang penyamun di atas Yesus.

Dalam 19:1-3, Pilatus masuk kembali. Dia menyuruh Yesus disesah, padahal dia baru menyatakan Yesus tidak bersalah. Kemungkinan dia berharap bahwa kebencian orang Yahudi bisa diredakan dengan Yesus disiksa, sehingga dia menganggap bahwa dia menyelamatkan nyawa Yesus. Begitulah kerancuan pola Kaisar. Namun, karakter tentara Romawi terungkap dalam perlakuan mereka kepada Yesus, sebagaimana dibahas minggu yang lalu (19:2-3). Tetapi mereka juga mengungkapkan kebenaran tentang Yesus secara ironis, yaitu bahwa Dia adalah raja.

Ketika Pilatus keluar (19:4), dia menegaskan bahwa Yesus tidak bersalah. Yesus diperlihatkan, dalam keadaan baru disesah dan sebagai raja main-mainan. Jika tafsiran tentang tujuan Pilatus untuk menyesah Yesus di atas tepat, ucapan Pilatus, “Lihatlah, manusia itu” kurang lebih berarti, “kasihan orangnya; cukup, bukan?” Tetapi oleh penulis Injil kita diajak untuk melihat kebenaran lebih dalam. Yesus adalah manusia sempurna, yang di sini terungkap baik sebagai raja yang rendah maupun sebagai manusia yang rela berkorban bagi orang lain. Yang berikut (19:5-7) memperpanjang pertengkaran antara Pilatus dengan mereka, hanya, alasan mereka dalam 19:7 belum berhasil membuat Pilatus menyerah. Walaupun istilah “anak Allah” dapat dipakai untuk raja Israel sehingga memiliki unsur politik, istilah itu akan didengar oleh Pilatus sebagai klaim keagamaan yang bukan wilayahnya.

Namun, Pilatus merasa makin terpojok (19:8). Jangan sampai Yesus memiliki hubungan dengan salah satu dewa! Jadi, Pilatus bertanya tentang asal usul Yesus yang “bukan dari dunia ini”, suatu pernyataan yang dia abaikan sebelumnya (18:37). Karena PIlatus barangkali tidak sanggup memahami jika dijawab Yesus, Yesus diam saja. Dalam kedua ayat berikut (19:10-11) ada kebenaran mendasar tentang Pilatus dan kerajaan Kaisar diungkapkan. Pilatus menganggap diri orang berkuasa. Tetapi Yesus melihat bahwa di hanya menerima kuasa “dari atas”. Pada satu segi, hal itu mengatakan bahwa Pilatus sebenarnya pesuruh saja. Ketika orang Yahudi mengancam “naik banding” ke Kaisar (19:12), Pilatus harus menyerah. Dia mau membebaskan Yesus tetapi tidak sanggup melakukannya. Pada segi yang lain, Allah sudah memiliki rencana, dan Pilatus maupun Kaisar tidak bisa bertindak di luar izin Allah.

Akhirnya PIlatus keluar untuk kali terakhir. Dalam adegan ini, sifat Pilatus dan para pemimpin Yahudi sungguh tersingkap. Jika para pemimpin Yahudi tadinya memilih kekerasan (penyamun) di atas kedamaian (Yesus), di sini mereka dengan terus terang memilih Kaisar di atas raja yang dipilih Allah (19:15). Setelah Pilatus berjuang sekeras-kerasnya, dia harus menyerah. Mengapa harus menyerah? Bukan karena dia lemah dalam karakternya, tetapi karena konsepnya tentang kebenaran salah. Dalam pola dunia, kepentingan Kaisar identik dengan kebenaran. Tidak mungkin kepentingan satu orang diangkat di atas kepentingan kaum berkuasa, sekalipun dia tidak bersalah (bnd. 11:50, dari pemimpin orang Yahudi!). Sebagai contoh, jika saya membawa motor pada jalan yang becek, dan harus memilih antara menggilas burung dengan motor tergelincir dan mungkin rusak, saya akan memilih menggilas burung, memang dengan rasa kasihan tetapi juga ungkapan, “apa boleh buat”. Begitulah Pilatus. Dia merasa kasihan, tetapi apa boleh buat.

Jadi, Yesus diungkapkan sebagai manusia sejati dan Raja umat Allah yang layak menjadi korban bagi manusia. Manusia (paling sedikit, kaum penguasa) diungkapkan sebagai kaum yang mengidentikkan kebenaran dengan kepentingan kelompok. Agama pun diungkapkan memiliki pola yang sama. Selalu dalam Injil Yohanes kita diperhadapkan dengan pilihan. Apakah kita memilih kerajaan Allah, yang menyatakan benar / salah berdasarkan kebenaran, bukan kepentingan? Meskipun jalan itu mengandaikan mengikuti Yesus dalam penghinaan dan pengorbanan, sampai Allah mewujudkan kerajaan-Nya di dunia ini juga.


Yoh 1:9 Terang yang sesungguhnya

Desember 16, 2010

Manusia takut akan kekacauan dan rindu akan keteraturan, tatanan dunia yang stabil. Tentu dunia bisa terlalu stabil sampai membosankan, tetapi kekacauan layak ditakuti: kekacauan bumi berbentuk bencana alam, kekacauan masyarakat berbentuk anarki, kekacauan dalam batin diri, semuanya mengancam kehidupan dan merusak rencana dan cita-cita. Makanya, semua budaya memiliki suatu konsep tentang tatanan dunia, mencakup bumi, masyarakat dan pribadi. Bagi orang Toraja masa lampau ada aluk to dolo. Bagi orang Yunani ada logos (firman), rasio yang semestinya mengatur dunia politik dan pribadi. Bagi orang Yahudi, Allah menciptakan dunia dengan berfirman, kemudian mengatur kehidupan umat-Nya dengan Taurat.

Mengancam kehidupan artinya berpihak pada maut. Merusak rencana dan cita-cita artinya membuat gelap. Jadi, Yohanes menjelaskan bahwa firman itu wadah kehidupan dan terang (a.4). Kegelapan mengancam terus, tetapi terang itu tetap ada (a.5), karena memang firman itu berakar dalam Yang Ilahi sendiri (a.1).

Sampai di situ bahasa perikop menyambung dengan mungkin hampir semua filsafat dunia. Tetapi dalam a.6 kita mulai melihat sesuatu yang konkret: ada saksi tentang terang ini. Dari satu segi adanya saksi tentang terang tidak masuk akal. Terang adalah hal yang paling mudah dilihat! Tetapi banyak filsafat dan agama sadar tentang kebutaan manusia yang justru sulit mengenali firman yang mendasari kehidupan ini. Saksi ini adalah Yohanes (disebut Pembaptis dalam Injil-Injil yang lain). Yang menarik, penulis Injil (yang menurut tradisi gereja juga bernama Yohanes, tetapi lain orangnya) membantah kalau Yohanes ini adalah terang. Bukankah seorang utusan Allah (a.6) yang membawa umat percaya pada firman Allah (a.7) itu layak dianggap sendiri sebagai pembawa terang? Seperti para nabi dalam PL, atau para filsuf Yunani, atau, mungkin (saya kurang tahu), to minaa dalam aluk, dia menerangi jalan hidup. Tetapi dia ditempatkan sebagai saksi saja. Terang yang sesungguhnya datang pada saat Yohanes bersaksi (itu maksudnya kata “sedang” dalam a.9, bukan masa kita tetapi masa Yohanes), tetapi Yohanes bukan terang itu.

Sebelum penulis Injil menjelaskan teka-teki itu, dia bercerita tentang penerimaan terang itu. Aa.10-11 menegaskan apa yang dikatakan di atas, bahwa banyak orang sulit mengenali firman yang mendasari hidup mereka. Nabi-nabi PL membuktikan bahwa Israel sulit hidup sesuai dengan terang Taurat, padahal mereka merupakan “kepunyaan” Taurat, artinya mereka dibentuk oleh Taurat itu sebagai umat Allah. Tersirat di dalam pernyataan ini adalah pemahaman bahwa firman itu tidak dapat diterima secara formal saja, tetapi perlu dipercayai, malah dihayati. Hal itu menjadi jelas dalam aa.12-13, yang menggambarkan orang yang menerima firman itu. Mereka dapat menjadi anak-anak Allah, artinya memiliki relasi yang akrab dengan Allah, bukan karena soal keturunan tetapi karena Allah membawa hidup baru ke dalam kehidupan mereka. Dengan mengenali tatanan dunia yang sebenarnya, yang menjadi dasar keteraturan dalam diri dan masyarakat, orangnya berubah pada tingkat paling mendasar dalam dirinya.

Gagasan itu sudah menantang agama seperti aluk to dolo, yang tidak banyak mencita-citakan relasi dengan yang ilahi (kecuali mungkin dalam bentuk leluhur yang sudah menjadi ilahi), dan lebih mementingkan kuasa untuk mengatur dunia ini daripada kuasa menjadi anak Allah yang diatur oleh firman Allah. Sebagian besar penganut agama apa saja juga demikian. Namun, dalam banyak agama ada aliran “mistis” yang mau memiliki hubungan yang erat dengan yang ilahi. Ayat berikut mengandung berita yang dahsyat bagi mereka: firman itu menjadi manusia tertentu, sehingga bisa dikenal dengan sangat jelas.

Secara harfiah, a.14 mengatakan bahwa firman itu menjadi daging. Tatanan dunia, wadah kehidupan, terang manusia, telah menjadi satu sosok manusia. Gagasan itu memang sulit diterima, entah dalam rangka kehormatan, bahwa firman terlalu mulia untuk menjadi manusia, atau dalam rangka rasio, bahwa yang universal tidak mungkin menjadi satu orang tertentu. Tetapi maknanya luar biasa. Terang itu diam di antara kita, dan ternyata terang itu bukan sekadar terang tentang tatanan dunia melainkan terang itu adalah kemuliaan Allah sendiri! Di dalam Dia yang disaksikan oleh Yohanes (a.15), maksudnya Yesus Kristus, kita melihat prinsip dunia dan sekaligus pribadi Allah. Dia menjadi perwujudan firman Allah, bagaimana Allah mengatur dunia yang diciptakan, dan menyatakan Allah sendiri sama seperti seorang anak menyatakan Bapanya. Dengan demikian, Allah sendiri hadir di dalam Kristus, dan kita diberi kuasa untuk sungguh-sungguh menjadi anak-anak Allah karena kita percaya dalam nama Sang Anak sejati itu.

Tantangan bagi kita ialah sejauh mana terang itu menjadi dasar kehidupan kita. Setiap kali seseorang pergi ke dukun, dia mencari keteraturan bukan dari Kristus tetapi dari kuasa yang lain. Setiap kali seseorang serakah, dia menjadikan duit itu sebagai pengatur kehidupan dan pencegah kekacauan dalam hidupnya. Orang yang menentang pembaruan lupa bahwa terang yang sesungguhnya mengubah air menjadi anggur. Orang yang khawatir tentang makanan dan minuman lupa bahwa Sang Sumber Hidup sanggup memberi makan 5.000 orang. Orang yang mengejar gengsi lupa bahwa terang ilahi—kemuliaan Allah—dinyatakan ketika Yesus naik salib yang hina. Mengenal Allah dalam terang yang sesungguhnya membawa dampak besar bilamana dijadikan dasar kehidupan kita.

Bagi pembaca yang melanjutkan pelayanan Yohanes, yaitu menjadi saksi tentang terang yang sesungguhnya pada musim Natal ini, kita mau supaya jemaat menjadikan Kristus terang mereka. Sumber kekacauan dalam kehidupan jemaat (secara kelompok dan individu) ialah bahwa Pengatur yang sesungguhnya masih sekadar embel-embel, formalitas. Daripada hanya menegor kekacauan itu terus-menerus sampai semua bosan, marilah kita menemukan cara untuk bersaksi tentang Kristus sampai jemaat dapat memahami apa artinya menerima-Nya sebagai Terang dan Hidup. Semoga banyak yang menerima-Nya Natal ini sehingga mulai menikmati hidup yang sesungguhnya sebagai anak-anak Allah dalam Sang Anak.


Bil 24:10-25 Allah menguasai penenung

November 24, 2010

Perikop ini adalah puncak dari kisah tentang Bileam dan Balak yang diceritakan dalam Bilangan 22-24. Balak adalah raja Moab (22:6), dan pada saat itu Israel baru saja memusnahkan orang Basan (21:33-35), dan berkemah di dataran Moab (22:1), siap untuk memasuki tanah perjanjian. Balak takut (22:4), sehingga, seperti orang yang habis akal sendiri sehingga berdoa atau pergi ke dukun, dia mencari kekuatan ilahi untuk mengalahkan Israel. Dia memanggil Bileam, seorang penenung (22:7), untuk mengutuk Israel (22:6).

Bileam dikenal sebagai orang yang berkatnya dan kutuknya manjur (22:6). Kuasa itu ada dalam kaitan dengan dewa-dewi, seperti biasa dalam dunia sihir. Namun, mulai dengan kedatangan rombongan kepada Bileam, Tuhan menunjukkan siapa yang sebenarnya memiliki kuasa. Tiga kali Bileam terpaksa mengucapkan berkat atas Israel, setiap kali dengan lebih jelas dan kuat. Sanjaknya yang pertama menyampaikan keengganan Bileam untuk mengutuk bangsa yang tidak dikutuk Tuhan (22:8). Sanjaknya yang kedua mengangkat janji Allah (23:19) yang membawa mereka keluar dari Mesir (23:22) sehingga mantera tidak berdaya terhadap mereka (23:23). Untuk kedua kali itu, Bileam menyendiri dan ditemui oleh Allah dengan perkataan untuk diucapkan (23:4-5, 16). Untuk kali ketiga, Bileam mungkin mau menghindar dari perintah langsung dari Allah, tetapi kali itu dia dihinggapi oleh Roh Allah (24:2), seakan-akan kesurupan (rebah dengan mata tersingkap 24:4). Sanjak ini berpuncak dengan kesadaran bahwa yang menjadi ukuran berkat dan kutuk bukan Bileam melainkan bangsa Israel (24:9), sesuai dengan janji Allah kepada Abraham (Kej 12:3).

Dengan demikian, cerita ini sudah sampai pada puncaknya. Allah telah menyelamatkan umat-Nya dari ancaman sihir itu. Perikop kita merupakan resolusi. Balak telah berusaha untuk mengutuk Israel. Apakah dia akan dikutuk, sesuai dengan janji Allah?

Kegagalan Balak disampaikan dalam perkataan Balak sendiri dalam 24:10-11, dengan peran Tuhan diakui (“Tuhan telah mencegah engkau memperolehnya”). Bileam membenarkan diri bahwa dia sudah berterus terang, tetapi menerima bahwa dia tidak akan menerima upah karena memang tidak memberi jasa yang diharapkan (aa.12-13), dan sekali lagi peran Tuhan juga diakui (a.13). Tetapi sekarang, untuk pertama kalinya, Bileam menawarkan ramalan tanpa diminta, lagipula gratis! Dalam beberapa sanjak yang berikut ini, kita melihat bahwa memang Tuhan akan melindungi umat-Nya, termasuk bahwa Moab, bangsa Balak itu, akan dikutuk.

Nubuatannya (disebut nubuatan karena dari kemiripan bahasa antara aa.15-17 dengan aa.4-5 dapat disimpulkan bahwa dia sekali lagi dihinggapi oleh Roh Allah) tentang Moab disampaikan dalam a.17 dan dilanjutkan dengan nubuatan tentang Edom. Edom berada di sebelah selatan dari Moab, dan menolak Israel melaluinya (20:14 dst). Kedua bangsa ini akan dihancurkan oleh seorang raja dari Israel (bnd. 22:7), yang disebut sebagai “bintang terbit dari Yakub” dan penguasa. Balak sebagai raja yang melawan Allah telah kalah, tetapi raja pilihan Allah akan menang. Kemudian orang Amalek (a.20) dan Keni (aa.21-22) menjadi sasaran nubuatan Bileam, dan terakhir sebuah nubuatan yang kurang jelas karena rujukan orang Kitim, Heber dan Asyur tidak bisa dipastikan.

Lalu, apa amanat teks ini? Dalam narasi ada gunanya berangkat dari tokoh utama. Kita mungkin bisa mengangkat Balak sebagai tokoh utama dalam cerita ini, karena dia yang mau memecahkan masalah bangsa Israel yang mengancam bangsa Moab. Jika demikian, amanat teks adalah bahwa Balak tidak hanya gagal mengutuk Israel tetapi malah dikutuk karena janji Allah kepada Israel. Tetapi, mungkin lebih tepat mengangkat Bileam sebagai tokoh utama karena dia yang ditugasi Balak untuk pengutukan itu. Jika demikian, amanat teks adalah bahwa Bileam menubuatkan kejayaan Israel atas bangsa Balak karena Tuhan lebih kuat daripadanya. Tetapi karena cerita ini terjadi dalam konteks Allah menuntun Israel ke tanah perjanjian, mungkin paling tepat kita melihat Allah sebagai pemeran utama. Allah menguasai Bileam, penenung yang mahir, untuk memberkati Israel dan mengutuk musuh Israel.

Amanat khotbah beranjak dari amanat teks, tetapi boleh menjadi lebih fokus. Khususnya, hari Minggu ini adalah Adven I, sehingga unsur tentang raja Israel dapat disoroti. Dalam konteks PL, raja itu adalah Daud (2 Sam 8:2). Dalam konteks PB, raja yang mengalahkan musuh-musuh Allah, yaitu terutama dosa dan maut, adalah Yesus, anak Daud itu. Sama seperti PB, kita mengartikan musuh Allah bukan sebagai kelompok tertentu tetapi sebagai Iblis. Rencana Iblis untuk menghancurkan gereja tidak pernah akan berhasil, dan siapa saja yang ikut di dalam rencana itu akan ikut hancur (1 Kor 3:17).  Tetapi, khususnya, kemenangan Allah atas kuasa gelap secara khusus dalam pribadi Bileam diulang secara umum pada salib (Kol 2:15).

Dalam konteks Indonesia, mungkin satu hal lagi perlu diperhatikan, yaitu Bileam sebagai tukang sihir. Salah satu bagian dari perlindungan Tuhan atas umat-Nya ialah bahwa kutuk tidak akan berhasil, malah akan menjadi bumerang bagi si pengutuk. Sebaliknya, mungkin perlu disadari bahwa Bileam dianggap penyesat dalam bagian lain dalam Alkitab (Bil 31:16; 2 Pet 2:15-16), sehingga tidak bisa dianggap contoh untuk “dukun kristiani”.


2 Kor 10:1-11 Rasul yang membangun dengan meruntuhkan

November 8, 2010

Maksud perikop ini tidak mudah dimengerti sepintas lalu. Makanya, proses membuat amanat khotbah dapat digambarkan. Saya akan menunjukkan struktur perikop, dengan menjelaskan beberapa perkataan Paulus yang mungkin membingungkan. Struktur itu didapatkan dengan menyusun kembali kalimat-kalimat sesuai dengan induk dan anak kalimat, dan dengan memperhatikan kata-kata (atau kelompok kata dengan maksud yang mirip atau berlawanan) yang diulang. (Tentu, proses ini lebih jelas dalam bahasa Yunani, tetapi dapat dilakukan dari terjemahan yang baik.) Kemudian saya akan coba merumuskan amanat teks. Baru setelah itu, ada usulan aplikasi, pertama-tama untuk pelayan (yaitu pembaca sasaran blog ini), kemudian untuk jemaat.

Soal dekat dan jauh bermunculan dalam aa.1-2 (a.1 “berhadapan muka”, “berjauhan” [apōn], a.2 “dekat” [parōn]), dan kemudian dalam aa.9-11 (a.9 “surat-surat”, a.10 “berhadapan muka”, a.11 “berhadapan muka”, “surat-surat”, “tidak berjauhan” [kembali parōn]). Makanya, aa.1-2 dan aa.9-11 merupakan bagian awal dan terakhir. Ternyata aa.9-11 diperlukan untuk memperjelas aa.1-2. Dalam a.1 Paulus sepertinya mengaku tidak berani di hadapan mereka tetapi berani jika jauh. A.9 memperjelas bahwa sikap Paulus jika jauh disampaikan melalui surat-surat, dan dalam a.10 kita melihat bahwa yang dikatakan dalam a.1 adalah tuduhan kelompok tertentu, yaitu orang-orang yang menganggap diri rasul (11:5). Makanya, a.1 adalah perkataan ironis, yaitu maksud Paulus kebalikan dari apa yang tersurat. Dia seakan-akan mengaku tidak berani dalam a.1, tetapi sebenarnya, seperti dia katakan dalam a.11, dia sanggup menindaki kelompok “super-rasul” itu. Jika ironi Paulus sudah disadari, kita akan memperhatikan pula bahwa dalam a.1 dia mencirikan Kristus “lemah lembut dan ramah”, bukan berani. Ironi itu lebih tajam dalam bahasa aslinya. “Tidak berani” menerjemahkan kata tapeinos. Dalam budaya Yunani yang menonjolkan persaingan dalam status, kata itu biasanya dipakai untuk menghina, tetapi dalam jemaat-jemaat Paulus kata itu menjadi pujian, sehingga diterjemahkan “rendah hati”, karena Kristus menunjukkan statusnya sebagai yang setara dengan Allah dengan jalan merendahkan diri sampai pada salib (Fil 2:5-11). Ketika dia berhadapan dengan mereka, Paulus bersikap sesuai dengan Injil, yaitu rendah hati, tetapi hal itu ditafsir sesuai dengan budaya setempat, yaitu sebagai ketidakberanian.

Satu tuduhan kelompok “super-rasul” itu ialah bahwa Paulus hidup secara duniawi (a.2). Aa.3-6 merupakan satu kalimat dalam bahasa Yunani, sebagai tanggapan Paulus terhadap tuduhan itu. Paulus memakai bahasa yang paling disukai budaya persaingan, yaitu bahasa perang (a.3 “berjuang”, a.4 “senjata”, “perjuangan”, “meruntuhkan benteng-benteng”, a.5 “mematahkan”, “menawan”, “menaklukkan”). Hanya, yang diperangi bukan manusia melainkan “siasat” dan “pikiran”, yaitu “keangkuhan yang menentang pengenalan akan Allah” (a.5) dan, dalam a.6, “kedurhakaan” sebagai lawan ketaatan. Senjata Paulus tidak diperincikan di sini, tetapi dari surat-menyurat dengan jemaat di Korintus senjata itu termasuk pemberitaan salib (1 Kor pp.1-2) dan kelemahan (2 Kor 12:10; bnd. juga Ef 6:10-20). Ternyata, cara yang mendapatkan kuasa Allah untuk melawan kedurhakaan bukan dengan menonjolkan kehebatan diri sendiri (sebagai orang yang lebih tahu atau lebih rohani) melainkan dengan jalan salib. Paulus, dalam penguraian berikutnya, bermegah dalam pelayanannya yang cuma-cuma kepada mereka (11:7) dan dalam penderitaannya (11:16 dst). Hal itu tidak menutup kemungkinan untuk disiplin gerejawi; saya duga bahwa “menghukum” dalam a.6 merujuk pada dikeluarkannya kelompok “super-rasul” dari jemaat, jika jemaat di Korintus sudah kembali pada jalur yang semestinya. Tetapi hal itu harus terjadi karena jemaat di Korintus sudah diyakinkan kembali tentang jalan salib itu, bukan karena dibujuk atau dipaksa oleh wibawa Paulus.

Setelah menjelaskan dan membela cara dia berjuang, dalam aa.7-8 Paulus kembali menegaskan statusnya. Sepertinya kelompok “super-rasul” itu (atau orang tertentu di dalamnya) menganggap diri memiliki relasi khusus dengan Kristus. Paulus menegaskan bahwa dia juga adalah milik Kristus. Malah, Pauluslah yang diberi kuasa oleh Allah (a.8), sebagai rasul kepada bangsa-bangsa (Gal 2:7-9) dan pendiri jemaat di Korintus (Kis 18). Hanya, kuasa itu diberikan untuk membangun bukan meruntuhkan. Paulus meruntuhkan gagasan dan keangkuhan, tetapi demi membangun orang. Dengan selesainya penjelasan itu, Paulus siap kembali pada soal sikap berani / lemah itu untuk meyakinkan mereka bahwa, dengan cara yang sesuai dengan Injil, dia dapat tegas.

Dari keempat bagian itu (1-2; 3-6; 7-8; 9-11), bagaimana sampai suatu amanat teks? Apakah inti pokok terkait dengan sikap Paulus yang dianggap plin-plan, peruntuhan keangkuhan, kerasulan Paulus, atau maksud Paulus untuk menindak kelompok “super-rasul” itu? Untuk mencari mana yang pokok, kita harus melihat bagian mana yang menopang. Aa.3-7 menjelaskan aa.1-2, artinya bahwa keberanian Paulus dipakai untuk meruntuhkan keangkuhan, tetapi kepada orangnya sendiri dia mau rendah hati sama seperti Kristus. Hal itu tidak mengesampingkan aa.3-7. Tanpa ayat-ayat itu aa.1-2 belum terlalu dalam. Aa.9-11 mengulang dan memperjelas aa.1-2. Tinggal apakah aa.7-8 menopang bagian-bagian lain atau sebaliknya. A.8 memang mengungkapkan satu masalah inti dalam pp.10-13, yaitu penerimaan kerasulan Paulus. Namun, hal itu justru dikaitkan dengan sikap ganda Paulus, yaitu membangun (dengan kerendahan hati) atau meruntuhkan (dengan sikap persaingan yang menjatuhkan). Dalam keempat pasal ini Paulus mau membela kerasulannya, tetapi bukan demi dirinya sendiri melainkan demi suatu pemahaman tentang Injil, yang sering kita sebut teologi salib, mengikuti Martin Luther.

Jadi, perikop ini menyampaikan bagaimana Paulus menunjukkan otoritasnya sebagai rasul, yaitu dengan meruntuhkan keangkuhan manusia demi membangun jemaat. Tujuannya supaya pembaca menerima kembali kerasulannya sesuai dengan pemahaman yang sehat tentang Injil.

Penerapan untuk para pelayan hendaknya sudah jelas. Ada cara pastoral yang suka menegor jemaat karena berbagai sikap dan tindakan yang tidak baik, tetapi justru tidak membongkar pikiran dan siasat yang mendasari sikap-sikap itu. Hal itu lebih parah lagi jika pelayan merasa diri hebat karena tidak bodoh / najis / kacau seperti jemaat. Cara Paulus melihat jemaat sebagai sangat sanggup dibangun, asal pikiran dan sikap yang menghalangi dapat dirombak dengan ajaran dan teladan yang berpusat pada Kristus yang disalibkan itu.

Untuk tujuan khotbah, kita mungkin memperluas soal otoritas Paulus untuk mencakup semua penggunaan kuasa dalam jemaat. Jika ada perselisihan di jemaat, cara apa yang dipakai? Cara yang mendasari Injil salib, sehingga orang mau saling membangun dengan saling membantu memahami bagaimana kebenaran Injil perlu diterapkan dalam kasus yang diperdebatkan? Atau cara persaingan, di mana gengsi orang terbungkus dalam soal kalah menang dalam argumentasi? Apakah kubu-kubu keangkuhan dipertahankan, atau dibongkar demi kesehatan bersama jemaat? Paulus memiliki kuasa sebagai rasul Allah, tetapi dia tetap mau meyakinkan dan membangun, daripada main kuasa. Lebih lagi kita jemaat biasa.


1 Pet 2:18-25 Harga diri di tengah penderitaan yang tidak adil

September 28, 2010

Surat Petrus mulai dengan menjelaskan status pembaca sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus” (2:9, sebagai kesimpulan 1:1-2:10). Oleh karena itu, “sebagai pendatang dan perantau” (2:11, tomentiruran dalam bahasa Toraja), pembaca harus melawan dosa dan hidup baik di tengah bangsa-bangsa, supaya Allah dimuliakan (2:12). Dalam 2:13-3:7 hal itu dijelaskan dalam rangka hierarki-hierarki masyarakat. Sebagai hamba Allah, orang percaya merdeka, tetapi bukan untuk berbuat jahat melainkan untuk berbuat baik (2:16), termasuk menghormati semua orang sesuai dengan kedudukannya (2:17).

Perikop kita dapat dibagi dua, yaitu nasihat (aa.18-20) serta dasarnya (aa.21-25). Nasihatnya memang sulit. Ketidakadilan yang diterima begitu saja mengancam harga diri, karena tersirat di dalam penerimaan itu adalah pesan bahwa hak saya (atau hak kami) tidak berarti. Sepertinya a.18 menyuruh hamba tunduk pada kebengisan dan hidup dalam ketakutan. Malah, dalam aa.19-20 hal itu disebut “kasih karunia pada Allah”. Banyak bagian Alkitab yang lain menyuarakan keadilan, karena semua manusia adalah gambar Allah sehingga semua manusia bermartabat di hadapan-Nya. Mengapa sebagai hamba yang percaya kepada Kristus saya sepertinya disuruh untuk tidak memperjuangkan keadilan untuk saya (ataupun sesama hamba)?

Oleh karena itu, saya memberi sorotan yang mudah-mudahan tidak dianggap berlebihan pada nas ini. Dua hal perlu diamati.

Yang pertama adalah konteks sosialnya. Sama sepert di Toraja ketika Injil datang, perhambaan dalam kekaisaran Romawi adalah hal yang menjadi landasan sistem perekonomian. Ada dua perbedaan dengan Toraja ketika Injil datang. Yang pertama, ketika Injil datang dengan zending, datang pula sistem perekonomian dunia Barat yang sudah meninggalkan perhambaan karena teknologi mengambil alih fungsi hamba. Pada abad pertama tidak ada alternatif yang terpikirkan. Bahwa inti perhambaan, yakni bahwa hamba adalah milik tuannya, sama menurut hukum dengan harta benda, itu salah, jelas karena gambar Allah terletak pada semua manusia. Tetapi, perhambaan di dalam kekaisaran Romawi juga tidak selalu buruk. Perbedaan kedua dengan perhambaan Toraja ialah bahwa hamba Romawi pada umumnya dapat berharap untuk dibebaskan pada usia tiga atau empat puluhan dan menjadi warga Roma, karena menjadi hamba adalah soal ekonomi, bukan kasta. Malah, status sosial seorang hamba dari tuan yang statusnya tinggi dapat lebih tinggi daripada orang merdeka yang statusnya rendah. Dokter, guru dan sebagainya adalah hamba. Jadi, pemberontakan terhadap sistem perhambaan tidak masuk akal pada saat itu, dan biasanya hamba akan lebih beruntung dalam jangka panjang jika dia bertahan, sekalipun tuannya bengis.

Jadi, kita dapat lebih memahami strategi PB soal perhambaan. Sistem itu tidak dapat diubah langsung. Tetapi, dalam persekutuan jemaat kesetaraan sebagai manusia yang ditebus oleh Kristus dapat memulihkan harga diri yang secara prinsip digilas oleh hukum yang mengatakan bahwa hamba adalah benda. Tetapi apakah nasihat Petrus ini menggilas harga diri itu?

Untuk beberapa kata terjemahan LAI bisa disalahpahami. Kata “tunduk” menerjemahkan hupotassomai yang berarti bahwa saya menempatkan diri (membiarkan diri ditempatkan) di bawah pengaturan atasan. Jadi, kata itu tidak semutlak “menaati”. Saya harus taat kepada Allah, dan anak (kecil) kepada orangtuanya, tetapi dalam hubungan hierarkis, seperti pemerintah, tempat kerja dsb, saya harus mengakui kuasa yang diberikan Allah kepada atasan. Pada umumnya hal itu berarti bahwa saya menaati atasan, tetapi, seperti Petrus sendiri kepada Mahkamah Agung Yahudi, ada saatnya saya harus menaati Allah daripada manusia (Kis 4:19). Kemudian, kata “ketakutan” (fobos) di sini merujuk pada rasa hormat. Tentang atasan, kata fobos dapat berarti “takut kena penyiksaan dari atasan” atau “takut mengecewakan atasan yang saya hormati”. Ketakutan yang pertama memang perasaan yang dialami jika ada tuan yang bengis. Tetapi ketakutan yang kedua yang dimaksud di sini, karena ketakutan ini juga dianjurkan kepada tuan yang peramah. Jadi, artinya sesuai dengan kata hupotassomai tadi; kita menghargai kedudukan tuan, sehingga kita tidak mau mengecewakannya.

Hal itu memang tidak mudah jika kita diperlakukan dengan tidak adil, tetapi Petrus mengarahkan kita untuk melihat Hakim yang sebenarnya. Dalam aa.19-20 terjemahan “kasih karunia” mungkin tidak optimal. Kata kharis berarti sikap yang baik kepada pihak lain. Seringkali kata kharis dipakai untuk sikap Allah yang baik kepada kita bukan karena perbuatan kita melainkan karena penebusan dalam Kristus, dan untuk artian itu terjemahan “kasih karunia” tepat. Tetapi di sini Petrus merujuk justru pada perbuatan atau sikap yang berkenan di hadapan Allah, yaitu menanggung penderitaan yang tidak adil. Allah melihat perlakuan yang tidak adil itu, dan memuji kita, bukan tuan yang bengis. Implikasinya jangan disepelekan. Atasan yang tidak adil adalah salah. Anda mungkin tidak terlalu dikejutkan oleh perkataan itu, tetapi pada hemat saya cara orang Toraja mengeluhkan keputusan orang-orang besar dalam gereja dan masyarakat menunjukkan bahwa dalam lubuk hati orang Toraja percaya bahwa atasan semestinya benar. Keluhan-keluhan kita berbelit-belit karena kita sebagai bawahan tidak yakin bahwa sudut pandang kita bisa lebih benar daripada atasan. Jika berhadapan dengan atasan, keluhan kita hilang, atau kadangkala berlebihan karena emosi. Kita belum percaya bahwa Allah berpihak kepada kita dalam penderitaan yang tidak adil itu.

Bagaimana kita tahu bahwa Allah berkenan atas penanggungan penderitaan yang tidak adil? Karena Kristus telah merintis jalan itu. Perlakuan terhadap Kristus ketika Dia ditangkap dan disalibkan adalah perlakuan paling tidak adil karena Kristus tidak ada dosa sama sekali (a.22). Namun, Kristus tidak membalas tetapi menyerahkan perlakuan itu kepada Sang Hakim yang adil (a.23). Yang menarik, dengan demikian harga diri-Nya sama sekali tidak terancam. Dia diterima oleh Allah, dan disembah oleh milyaran orang Kristen dan dihormati oleh jutaan orang lain. Dia diperlakukan sebagai penjahat, tetapi Allah, dan sebagian besar manusia sejak itu, justru mempersalahkan Pilatus dan Mahkamah Agung Yahudi, bukan Yesus. Sungguh, atasan belum tentu benar. Menanggung penderitaan yang tidak adil tidak harus menggilas harga diri kita jika harga diri kita kuat di dalam Tuhan.

Selain sebagai contoh sikap baik, penderitaan Kristus juga menjadi motivasi untuk berbuat baik (aa.24-25). Kematian pada salib adalah juga kematian kita terhadap dosa supaya kita hidup dalam kebenaran (a.24). Pada satu tingkat hal itu adalah logis saja. Jika kita mengklaim bahwa kita mengandalkan kematian Kristus, maka kita setuju bahwa dosa kita sangat buruk, sehingga tidak masuk akal jika kita tetap senang di dalam dosa itu. Tetapi Petrus sadar bahwa pikiran yang logis tidak cukup. Bilur-bilur Kristus membawa penyembuhan ke dalam hati dan batin (a.24). Kita dimampukan untuk mengenal Allah kembali sebagai gembala yang baik (a.25). Dalam kesesatan sebelum mengenal Kristus, tidak mungkin kita menanggung penderitaan yang tidak adil tanpa dendam yang pahit. Tetapi karena kita sudah mengenal kasih Allah yang diperlihatkan dalam pengorbanan Kristus, kita dapat membalas kejahatan dengan kebaikan. Dampak pada masyarakat di sekitarnya dijelaskan Petrus dalam bagian-bagian berikut (3:8 dst).


Yoh 11:45-57 Karya Allah di tengah kejahatan manusia

Maret 8, 2010

Kebangkitan Lazarus yang telah mati merupakan tanda terdahsyat yang dibuat oleh Yesus sebelum Dia sendiri bangkit. Seperti biasa dengan tanda-tanda Yesus, ada pembedaan antara yang percaya dan yang tidak (aa.45-46). Kali ini, ada dari yang menolak Yesus yang pergi kepada pemimpin-pemimpin agama Yahudi untuk melaporkan apa yang terjadi. Oleh karena itu, ada rapat khusus Mahkamah Agung Yahudi. Mereka mengambil keputusan yang masuk akal, yaitu bahwa Yesus mengancam keamanan bangsa yang dikuasai orang Romawi. Kekhawatiran Kayafas cukup dibuktikan hampir empat puluh tahun kemudian ketika Yerusalem dihancurkan oleh tentara Romawi karena orang-orang Yahudi memberontak. Tentu, kita sebagai pembaca tahu bahwa Yesus tidak bermaksud untuk memberontak terhadap kuasa Romawi. Juga, ada petunjuk dalam kata “bagimu” (a.50) bahwa sebenarnya kepentingan satu kelompok yang dijaga. Kayafas serta Mahkamah Agung dapat berkuasa karena dukungan orang Romawi, walaupun kuasanya juga terbatas. Oleh karena kepentingan itu, mereka menolak Yesus meskipun mereka menerima bahwa Yesus melakukan banyak mujizat (a.47).

Namun, di tengah maksud jahatnya, Kayafas tetap mengerjakan kehendak Allah. Pernyataannya menjadi salah satu penjelasan yang penting tentang makna kematian Kristus (a.51), yaitu bahwa kematian-Nya adalah cara Allah untuk keselamatan. Penjelasan itu diperluas oleh penulis Injil dalam a.52. Kematian Kristus akan berlaku bukan hanya untuk Israel melainkan untuk semua anak Allah, yaitu “mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh 1:12). Di sini kita melihat misteri kedaulatan Allah. Kristus diutus untuk menyelamatkan dunia melalui kematian-Nya. Hal itu menuntut bahwa Israel akan membunuh Dia. Apakah dengan demikian Allah menguasai para pemimpin Yahudi untuk membunuh Kristus? Ternyata tidak. Alasan mereka untuk membunuh Kristus sangat masuk akal. Tidak ada pemaksaan atau manipulasi oleh Allah. Kedaulatan Allah bekerja di tengah kehendak manusia, bukan melawan kehendak manusia.

Perikop berakhir dengan pembedaan kembali. Ada murid Yesus yang bersama dengan-Nya (a.54), orang Yahudi yang tertarik kepada-Nya (a.55-56), dan pemimpin Yahudi yang mau menangkap-Nya (a.57). Kita ditantang untuk merenungkan tempat kita. Jika kita adalah orang yang berkuasa, kita perlu merenungkan kepentingan apa yang kita berhalakan di atas Kristus. Kepentingan yang paling berbahaya adalah kepentingan lembaga gereja, di mana, misalnya, kita mendiamkan kebenaran untuk menjaga keamanan. Jika kita berada bersama dengan Kristus, kita dikuatkan bahwa Allah tetap bekerja di tengah niat jahat manusia.


Luk 22:39-46 Menang atas pencobaan

Maret 26, 2009

Setelah diutus oleh Bapa-Nya ketika dibaptis dalam air dan oleh Roh Kudus (Lk 3:21-22), yang pertama-tama dihadapi Yesus bukan manusia (keagamaan Yahudi yang korup, penindasan kekaisaran Romawi) melainkan Iblis. Iblis tentu adalah makhluk, bukan ilah yang bersaing dengan Allah. Tetapi dalam ciptaan ada dua lapisan. Di balik yang kelihatan ada yang tidak kelihatan (Kol 1: 16). Istilah yang dipakai Paulus (singgasana, kerajaan, pemerintah, penguasa) menempatkan yang tidak kelihatan ini di dalam struktur-struktur kekuasaan manusia. Hal-hal seperti pemerintahan, perusahaan, sistem ekonomi dan politik sering menuntut kesetiaan yang selayaknya kepada Allah saja. Oleh karena itu, yang setia kepada Allah akan menghadapi pencobaan, apakah setia kepada Duit, Kuasa dalam berbagai bentuknya, atau kepada Allah.

Jadi, doa yang diajarkan Yesus memohon keselamatan dari pencobaan (Lk 11:4), dan ajaran-Nya tentang kehidupan pada akhir zaman menunjukkan pentingnya doa dan sikap waspada (Lk 21:34-36). Tetapi Yesus sendiri harus mengalahkan pencobaan untuk membuka jalan keluarnya. Pada babak pertama di padang gurun (tempat Israel dicobai) Yesus menang. Menjelang kematian-Nya, Dia harus menghadapi pencobaan untuk menyimpang dari jalan Bapa-Nya, dan juga mengajar murid-murid-Nya bagaimana menghadapi pencobaan.

Murid-murid-Nya mengikuti Yesus (a.39) ke taman Getsemane itu. Mereka disuruh untuk berdoa supaya tidak jatuh ke dalam pencobaan. Perhatikan bahwa kata yang dipakai adalah “jatuh” bukan “terjatuh” (aslinya “masuk”, jadi aktif). Artinya bahwa akan ada pilihan, akan ada unsur kesengajaan, meskipun keadaan juga berpengaruh. Kemudian Yesus sendiri berpisah untuk menerapkan nasihat-Nya sendiri. Dia mengakui kedaulatan Allah yang bisa mengubah keadaan apapun, kemudian berserah pada kehendak Allah (a.42). Kehendak Allah berarti meminum cawan murka Allah (bnd. Yes 51:17 dan Yer 25:15; piala sama dengan cawan dalam bahasa aslinya). Aa.43-44 menggambarkan beratnya pencobaan ini, karena menghadapi murka Allah adalah menghadapi neraka. Setelah berdoa, Yesus berdiri dan sudah siap menghadapi apa yang akan terjadi. Tetapi murid-murid-Nya malah ketiduran. Mereka bisa mengikuti Yesus ke suatu tempat, tetapi belum sanggup mengikuti Yesus dalam menghadapi pencobaan. Sama seperti Israel, mereka gagal. Alhasil, banyak melarikan diri dan Petrus menyangkal Yesus.

Ketaatan kepada Allah bisa berarti bahwa kita akan menghadapi pencobaan yang berat. Dalam Kisah Para Rasul Lukas menunjukkan bahwa oleh kuasa Roh Kudus seorang murid bisa berani dan setia. Tetapi di sini kita belajar bahwa dasar harapan kita bukan kemampuan kita melainkan kemampuan Yesus, Juruselamat kita. Dia yang telah mengalahkan Iblis dan sebagai manusia sejati menempuh jalan ketaatan. Dia yang sudah meminum cawan murka Allah sebagai ganti kita. Oleh karena itu, kita berani belajar taat dan setia dalam menghadapi berbagai penguasa yang dipengaruhi oleh kuasa Iblis dan mencobai. Kemungkinan bahwa kita akan sering seperti Petrus yang menyangkali daripada Petrus pada Kis 5:41. Tetapi dalam kemenangan Yesus kita diampuni, dipulihkan dan dikuatkan untuk tetap berjuang dalam harapan.


1 Raj 2:1-4 Peralihan kuasa

November 20, 2008

Pesan Daud kepada anaknya Salomo yang sudah naik takhta mengandung harapan dan juga benih kegagalan. Pada pasal sebelumnya Salomo disambut rakyat dengan gembira, malah ada harapan bahwa kerajaan di bawah Salomo akan lebih sejahtera daripada di bawah Daud (1:47). Bagi Daud hal itu adalah penggenapan janji Allah bahwa keturunannya akan menduduki takhta Israel sampai selama-lamanya. Dalam kisah selanjutnya, itulah yang terjadi. Kerajaan di bawah Salomo mencapai puncak kejayaan dengan datangnya ratu negeri Syeba (p.10, lihat Menafsir Sejarah (2))

Namun, Daud harus mengingatkan Salomo bahwa janji Allah terkait dengan ketaatan manusia. Tentu, hal itu adalah tema dari awal sampai akhir Alkitab. Soalnya, berkat yang diterima dari Allah tetapi tidak dihayati dengan ketaatan bukan berkat lagi. Malah, jika manusia dilestarikan dalam keadaan tidak taat maka keadaannya justru menjadi kutuk. Barangkali gagasan itu merupakan salah satu cara untuk menjelaskan mengapa manusia harus diusir dari taman Eden.

Sayangnya, raja-raja Israel mewakili rakyatnya dalam berbuat dosa, sehingga akhirnya Israel juga harus dibuang dari tanah perjanjian. Kegagalan itu sudah disinyalir dengan perzinahan dan pembunuhan oleh Daud sendiri, dan menjadi tema yang menonjol dari pasal setelah pasal tentang ratu negeri Syeba itu, ketika diceritakan bagaimana Salomo gagal setia kepada Tuhan.

Saya duga bahwa dalam ayat-ayat berikut, yakni aa.5-9, kegagalan Israel itu disinyalir secara halus. Di situ kita lihat bagaimana kerajaan berdasarkan kekerasan, seperti dinubuatkan Samuel (lihat 1 Sam 8:11-18). Menarik bahwa riwayat Daud berakhir dengan kata-kata dalam aa.5-9 daripada kata-kata dalam aa.2-4. Bukankah dalam gereja sekarang banyak pemimpin yang efektif bagi Tuhan tetapi yang juga memiliki kekurangan dalam cara berkuasa?

Namun, janji Allah tidak digagalkan oleh kegagalan manusia. Walaupun keturunan Daud berhenti sebagai raja sejak pembuangan, namun Yesus Kristus, keturunan Daud, yang berkuasa sebagai hamba, telah menjadi raja yang kekal. Dialah raja yang sungguh taat sehingga berkat-Nya tidak bercacat. Dialah raja yang layak kita sambut dengan gembira.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.