Yak 4:13-17 Tuhan Sang Penentu (1 Jan 2012)

Desember 30, 2011

Manusia diciptakan untuk berada, dan ingin berada secara nyata. Namun, manusia berdosa mau berada lepas dari Penciptanya. Dengan demikian dia menjadi justru tidak berada, dilihat dari perspektif kekekalan. Sikap itu yang dicap kecongkakan dalam perikop kita.

Penggalian Teks

Perikop 4:13-16 dan 5:1-6 diawali dengan seruan “Jadilah sekarang” (age nun). Seruan yang unik dalam kitab Yakobus itu dipakai karena kedua perikop ini dialamatkan bukan kepada jemaat melainkan kepada orang kaya yang menindas jemaat (2:6). A.17 diletakkan di antara kedua perikop ini sebagai peringatan bagi mereka.

Age nun secara harfiah berarti “datanglah sekarang”, dan dipakai untuk secara retoris mengajak kelompok yang dialamatkan untuk mendekat (“datanglah”) secara urgen (“sekarang”). Siapa kelompok itu? A.13 dan a.14a menyampaikan dua gambaran. A.13 menyampaikan suatu ucapan yang dianggap lazim dan mencirikan kelompok itu. Dilihat frase demi frase, mereka mampu melakukan perjalanan dan biasa berencana setahun dalam rangka berdagang, dengan harapan yang kuat akan keuntungannya. Begitulah konsep diri kelompok itu.

A.14a menyampaikan gambaran dari penulis, dengan alasannya dalam a.14b, yang ternyata lain. Jika mereka biasa berencana dengan penuh keyakinan, sebenarnya besok pun tidak diketahui dengan pasti. Kemudian, penulis menjelaskan bahwa mereka seperti uap. Kata atmis itu sering merujuk pada asap. Misalnya, Hos 13:3 (dalam terjemahan LXX) menggunakan kata itu untuk menggambarkan umat Allah seperti “asap dari tingkap”, kelihatan sebentar tetapi kemudian hilang. Dengan penjelasan dalam a.14b ini, tersirat bahwa kelompok ini menganggap diri “berada”. Mereka adalah orang yang berbobot secara materi dan kegiatan (“berada”) sehingga boleh dikatakan eksis (“berada”). Tetapi dalam dirinya sendiri manusia adalah uap, tidak memiliki bobot atau kuasa apa-apa.

Dalam a.15, penulis mengusulkan ucapan yang sesuai dengan pemahaman yang sebenarnya. Manusia “uap” mengaku bahwa Tuhan adalah penentu, baik penentu kelanjutan hidup maupun kegiatannya. Karena Tuhan diabaikan dalam ucapan a.13, dalam a.16 ucapan itu dicap sebagai kecongkakan. Kemegahan dalam ke-berada-an diri itu jahat. (Ayat ini adalah satu-satunya tempat kata poneros diterjemahkan dengan kata “salah”, padahal di hampir semua tempat yang lain diterjemahkan oleh LAI dengan kata “jahat”.)

A.17 berfungsi sebagai peringatan bagi mereka. Ucapan itu senada dengan 1:22 (“hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja”) dan 2:26 (“iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”), tetapi bahasanya lepas dari soal apakah mereka adalah orang percaya atau tidak. Mereka sekadar “tahu”, bukan beriman atau mendengar firman. Namun, pengetahuan itu cukup untuk membuktikan keberdosaan mereka.

Maksud bagi Pembaca

Yakobus mengalamatkan kaum orang berada secara retoris dengan dua tujuan: untuk menguatkan jemaat yang rendah kedudukannya; dan juga sebagai peringatan bagi jemaat yang mungkin tergoda untuk mengikuti atau mengejar kedudukan dan kekayaan sebagai ganti Tuhan. Jika 5:1-6 didengar dalam rangka perikop kita, maka jemaat akan dikuatkan bahwa hidup para penindas seperti uap di hadapan hukuman Tuhan. Tetapi bahkan di dalam jemaat yang rata-rata miskin, ada yang menganggap diri di atas yang lain (4:1-3). Mereka perlu diingatkan tentang sumber sebenarnya dari keberadaan manusia, yakni Tuhan, dan bahwa sikap yang menyangkal itu adalah dosa.

Makna

Adalah penting perikop ini ditafsir secara keseluruhan, karena jika hanya a.13 yang ditafsir, bisa saja kita sampai anggapan bahwa jalan-jalan, berencana, atau berdagang itu jahat. Yang jahat adalah sikap yang melihat dirinya berada di luar Tuhan, sehingga kehidupan dilihat berada dalam kendali tangan sendiri. Orang seperti itu tidak merasa dikendalikan oleh Tuhan, sehingga dengan mudah jatuh ke dalam kejahatan seperti dalam 5:1-6. Tetapi sikap yang baik dalam a.15 juga mengandaikan adanya rencana dan kegiatan. Bedanya bahwa orang itu sadar bahwa semuanya itu berasal dari Tuhan.

Pada hemat saya, sangat cocok dengan konteks di Indonesia jika perikop kita dikaitkan dengan perikop yang berikutnya, khususnya “mendapat untung” (a.13) dengan soal penindasan (5:4-6), karena bukan untung dari perdagangan yang sehat yang dipersoalkan. Tetapi mungkin dalam konteks budaya tradisional yang diambil alih oleh gengsi, ada ucapan-ucapan lain yang dapat juga menyatakan sikap bahwa sumber keberadaan kita di luar Tuhan: “Tahun ini atau tahun depan kita akan mengadakan pesta besar selama dua minggu sehingga keluarga termasyhur dan desa beroleh pemasukan banyak.”

Perikop ini merujuk pada satu tema besar dalam Alkitab, yaitu, kerapuhan keadaan manusia. 4:13-5:6 sudah disampaikan secara ringkas dalam 1:10-11 dengan kiasan manusia seperti bunga rumput. Yang membuat manusia berada dalam artian sebenarnya adalah Injil, firman kebenaran yang membuat kita menjadi anak sulung dari ciptaan Allah (1:18). Jika ciptaan itu adalah ciptaan baru (karena manusia justru muncul belakangan dalam ciptaan pertama), kita sudah masuk ke dalam ranah yang tidak fana lagi oleh Injil. Kita memiliki ke-berada-an yang sebenarnya, bukan berdasarkan hasil kita melainkan anugerah Allah.

Kehendak Tuhan dalam a.15 merujuk pada kedaulatan-Nya, bukan perintah-Nya. Maksudnya bukan suatu nazar untuk mencari apa kehendak Tuhan sebelum saya bertindak, melainkan suatu pengenalan bahwa segala sesuatu berada di bawah kendali Tuhan. Tafsiran itu jelas karena yang pertama-tama disebutkan adalah “hidup”. Kita tidak mencari petunjuk dari Tuhan apakah hari ini kita tetap hidup atau tidak. Jadi, ayat ini juga tidak berbicara tentang mencari petunjuk dari Tuhan tentang apa yang akan kita berbuat. Tentu saja, orang yang rendah hati di hadapan Allah akan mau bertindak sesuai denga perintah-perintah-Nya, tetapi biar kita melangkah dalam rencana yang sangat baik atau sangat buruk, hal itu hanya akan terlaksana jika Tuhan dalam kedaulatan-Nya mengizinkannya.

Pertanyaan yang kemudian muncul (tetapi sudah agak jauh dari perikop kita) ialah, Mengapa Allah mengizinkan rencana yang jahat terjadi? A.16 (serta 5:1-6) mempersalahkan niat manusia yang jahat itu, bukan Allah yang memberi ruang bagi kehendak manusia. Andaikan Allah membuat kejahatan mustahil, tanpa mengubah niat pelakunya, maka kehendak manusia sudah ditiadakan. Jadi, cara Allah menghadapi dosa adalah memulihkan pendosa yang bertobat dan menghukum penjahat yang tidak bertobat (4:6), suatu proses yang akan dituntaskan ketika Kristus datang kembali (5:7). Soal kehendak manusia, dari 4:6-8 itu, keputusan manusia yang paling penting adalah apakah dia tunduk di hadapan Allah atau tidak; soal ke kota mana dan kapan adalah hal yang sangat sepele ketimbang itu. Soal adanya penindasan, kita tidak mengerti mengapa kadangkala kejahatan digagalkan oleh Tuhan, dan kadangkala justru kelihatan berhasil.


Amsal 11:10-14 Mengapa masyarakat menyukai orang benar [7 Ag 2011]

Agustus 4, 2011

Penggalian Teks

Mulai pasal 10, amsal-amsal tidak tersusun secara sistematis. Hanya, seringkali ada hubungan antara amsal yang satu dengan amsal berikutnya, seperti kata kunci atau tema. Jadi, 11:9 berakhir dengan keselamatan orang benar, dan a.10 mengatakan bahwa hal itu menimbulkan keria-riaan. A.10 berbicara tentang tanggapan (rakyat) kota terhadap nasib orang, dan a.11 juga berbicara tentang kota, tetapi dalam rangka nasib kota sendiri. A.11 membandingkan dua cara bertutur, dan aa.12-14 merincikan kedua cara itu, dengan sorotan dalam a.14 tentang pentingnya kepemimpinan yang banyak mendengar. Jadi, setiap amsal dapat berdiri sendiri, tetapi seringkali ada tambahan makna jika dikaitkan dengan amsal-amsal di sekitarnya.

Analisis di atas menempatkan a.11 sebagai kuncinya. “Orang jujur” secara harfiah adalah “orang lurus”, yaitu orang yang caranya berelasi tidak berliku-liku. Apa yang mereka katakan membawa berkat bagi kota, sedangkan apa yang dikatakan orang fasik membawa banyak masalah. Orang fasiklah yang menghina sesamanya dan merusak nama orang dengan membuka rahasia, sehingga kota tidak lagi damai. Orang fasiklah yang menjadi pemimpin yang tidak mencari nasihat karena hanya kepentingan pribadi yang dikejar. Sebaliknya, orang jujur akan peka tentang waktunya berbicara, setia dalam menjaga rahasia, dan sebagai pemimpin terbuka pada nasihat orang lain. Semuanya itu menjelaskan mengapa rakyat begitu senang bila orang benar mujur dan orang fasik binasa (a.10).

Maksud bagi Pembaca

Kitab Amsal banyak memakai perbandingan antara orang benar dan orang fasik supaya kedua pola hidup dapat dilihat dengan jelas, dan pola yang baik dihayati. Dalam perikop ini kita melihat beberapa cara untuk membina pembaca. A.10 menyangkut tanggapan orang lain, yaitu dorongan sosial. Aa.11, 14, dan mungkin juga a.13 menyangkut akibat. A.12 langsung menyampaikan penilaian. Semestinya orang fasik yang mendengar amsal-amsal ini menjadi malu sendiri, sadar bahwa kebencian orang banyak terhadap gaya hidupnya searah dengan akibatnya dan juga dengan penilaian etis. Sedangkan orang benar semestinya dikuatkan untuk makin melakukan pola-pola yang baik.

Makna

Kitab Amsal mengungkapkan “bentuk etis” dunia ini, yaitu, cara hidup yang sesuai dengan hikmat yang dengannya Allah menciptakan dunia. Di balik perikop kita adalah bentuk sosial manusia (“kota”)—manusia sejahtera ketika bergabung dalam dunia. Orang fasik pada dasarnya egois dan tidak saleh, atau dengan kata lain, tidak peduli terhadap Allah atau sesama. Jadi, mereka mengancam kebersamaan itu. Malahan, mereka menjadi semacam parasit—mereka beruntung dari kota yang sejahtera, tetapi mengurangi kesejahteraan itu. Sebagai contoh, orang menjadi lurah, kepala sekolah dsb, untuk mengatur suatu bagian masyarakat. Jabatannya ada untuk tujuan itu, dan digaji karena fungsi itu penting. Ketika orang fasik menggunakannya untuk kepentingan lain, masyarakat rugi dua kali—gaji dibayar tetapi fungsinya tidak berjalan. Jika ada korupsi, runginya tiga kali! Perusahaan swasta yang diserang demikian akhirnya akan runtuh. Sayangnya, negara-negara yang kaya sumber daya alam terlindung dari akibat itu dalam jangka pendek. Namun, kefasikan tetap ada akibatnya dalam kinerja yang bobrok dan kuasa yang disalahgunakan. Sebaliknya, orang jujur searah dengan kebutuhan manusia untuk bekerja sama. Jika orang jujur menjabat, masyarakat tetap beruntung, karena manfaatnya jauh di atas gajinya.

Dalam negara “hukum positif” ini, perlu ditegaskan bahwa benar/fasik tidak sama dengan legal/tidak legal. Cara mengejar kepentingan diri yang paling ampuh ialah melalui jalur hukum, karena dengan demikian aparat negara akan mendukung usaha kita. Hukum yang kuat adalah berkat, tetapi bagi orang fasik bisa menjadi tantangan untuk menemukan cara yang lebih licik. Banyak kefasikan berada di luar jangkauan hukum, seperti yang digambarkan dalam aa.12-13.


Yoh 3:22-36 Meresponsi Anak Allah yang ada di atas semuanya

Desember 22, 2010

“Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya”—dua kali Yohanis mengucapkan pernyataan ini dalam a.31. Pernyataan ini meneguhkan penerimaan Yohanis bahwa Kristus harus makin besar dan Yohanis makin kecil (a.30), seperti digambarkan dalam aa.22-26. Yohanis tidak muncul lagi dalam Injil ini (hanya kesaksiannya disebutkan beberapa kali), dan aa.31-36 ini merupakan kesaksian terakhir sang saksi Terang yang sesungguhnya (1:7, 9).

Dalam aa.31-34 Yohanis berbicara tentang Yesus sebagai nabi, tetapi nabi yang datang dari sorga sehingga kesaksian-Nya tentang hal-hal sorgawi adalah sebagai saksi mata, beda dari Yohanis yang hanya dapat berbicara sebagai orang yang berasal dari bumi. Dalam a.34 Yesus adalah utusan Allah yang menyampaikan firman Allah, sama seperti Yohanis, sehingga menolak kesaksian Yesus adalah menolak kejujuran Allah sendiri (a.33). Hanya, Yesus melebihi nabi-nabi yang lain karena Dia dikaruniakan Roh Allah tanpa batas (bnd. 1:32-33). Hal itu terjadi karena Yesus juga adalah anak Allah yang kepada-Nya Allah memberi “segala sesuatu” tanpa batas (a.35). Istilah “anak Allah” dari satu segi sama dengan Mesias, yaitu utusan Allah yang mewakili kerajaan Allah di bumi. Sebagai Mesias Yesus dapat menerima bukan hanya Roh Kudus tetapi juga “segala sesuatu” yang diperlukan dalam rangka mewujudkan damai sejahtera Allah dalam dunia-Nya (bnd. Yes 9:1-6; 11:1-10). Dari “segala sesuatu” itu, Injil ini berfokus pada hidup yang kekal, yaitu kuasa untuk menjadi pewaris kerajaan Allah itu. Yang diberikan kepada Yesus bukan hanya firman Allah, tetapi juga hidup kekal itu (bnd. 10:28-29).

Namun, karena anak Allah ini datang dari sorga, artian keanakan-Nya melebihi apa yang diharapkan dari PL tentang Mesias. Hal itu sudah diangkat dalam 1:14-18 dan diuraikan lebih jauh dalam 5:19-47. Melihat Yesus adalah melihat Bapa-Nya. Kuasa untuk menjadi pewaris kerajaan Allah adalah kuasa untuk menjadi anak Allah di dalam Sang Anak itu (1:12-13). Dengan demikian, akibat dari dua respons terhadap Yesus masing-masing dahsyat. Orang yang percaya kepada Anak menerima hidup kekal (a.36a), artinya bukan hanya hidup tanpa batas tetapi hubungan dengan Allah sebagai anak, suatu hubungan yang akan menyatakan dan menyempurnakan harkat kita sebagai manusia. Sebaliknya, orang yang menolak kesaksian Yesus tidak hanya menolak seorang nabi tetapi menolak Anak Allah, sehingga tidak melihat hidup (alias berada dalam kegelapan dan kemanusiaannya makin lama makin hancur), karena berada di bawah murka Allah (a.36b).

Semoga Natal ini membawa penerimaan Yesus yang terwujud dalam cara hidup yang sudah mulai beraroma kekekalan. Sampai jumpa kembali dalam tahun baru.


Kej 35:1-15 Menyembah Allah

Juli 3, 2008

Pada awal perikop ini, Yakub telah melalui pergumulan dengan kakaknya Esau, sesuai dengan janji Allah yang dulu-dulu itu di Betel (Kej 28:15). Namun, dia belum sampai kembali kepada ayahnya (Kej 28:21) ketika keluarga perjanjian terancam lagi saking kecerobohan Simeon dan Lewi (34:30). Degan Yakub dan seisi rumahnya menghadapi musibah, Allah sekali lagi menampakkan diri.

Dia memanggil Yakub sekeluarga untuk pergi ke Betel dan menyembah-Nya di sana (a.1). Kali ini Allah tidak langsung menjanjikan perlindungan, Dia mengingatkan Yakub akan masalah Esau yang sudah dilalui dengan aman. Panggilan itu disampaikan Yakub kepada keluarga dengan satu perbedaan (a.3), yaitu Yakub langsung bersaksi tentang perlindungan Allah. Kesaksian itu menjadi alasan yang disampaikan Yakub untuk mereka meninggalkan dewa-dewa yang lain dan menahirkan diri. Dan memang Allah tetap menyertai dan melindungi mereka (a.5). Demikianlah ancaman itu diselesaikan.

Setelah mereka diam di Betel, Allah berfirman kembali kepada Yakub. Seperti Adam dan Hawa di taman Eden, Yakub dipanggil untuk bertambah banyak di tanah perjanjian (aa.11-12). Yakub kemudian membangun simbol akan hadirat Tuhan di sana. Dengan demikian Israel dipanggil untuk mendirikan kembali kerajaan Allah yang hilang ketika manusia berdosa.

Perikop ini menunjukkan bagaimana akhirnya melalui banyak pergumulan Yakub menjadi layak sebagai orang yang dipanggil Tuhan. Kita melihat kembali kesabaran Allah yang melindungi umat-Nya sambil menyempurnakannya. Untuk kita umat PB, perlindungan Allah sudah dibuktikan dalam kematian dan kebangkitan Kristus, dan hadirat-nya kita kenal melalui Roh Kudus sambil menantikan penggenapan janji langit dan bumi yang baru. Maka kita memiliki alasan yang lebih kuat lagi untuk meninggalkan berhala-berhala dan menyembah Allah saja.


10. Mazmur Permohonan

Juni 27, 2008

Pernah ada anggota jemaat yang sangat bergumul karena berbagai keburukan dalam hidupnya. Untuk menghiburnya, beberapa sahabat dalam jemaat membagikan Mazmur pujian kepadanya, sekiranya dia memuji Allah untuk mendapat kekuatan. Saya memilih jalan yang lain. Saya membuka Mzm 13 yang mengeluh kepada Allah bahkan tentang Allah sendiri—”Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?”. Saya menjelaskan bahwa ini juga cara berdoa yang berkenan di hadapan Tuhan. Saya terkesan dengan tanggapannya, “Doa begini bisa saya doakan.” Yang dia perlukan bukan bahasa untuk berpura-pura ceriah melainkan sarana untuk berbicara dengan Tuhan di tengah pergumulan hati yang berat. Yang berikut melacal beberapa segi dari mazmur permohonan.

Baca entri selengkapnya »


“Hasil” Menutupi

Maret 29, 2008

Berita tentang Adam Air cukup ramai di koran bahasa Inggris, barangkali ramai di Indo juga. Saya tertarik dengan komentar ini mengenai Adam Air tahun 2006 yang mendarat di Sumbawa, mungkin dengan masalah teknis yang sama (Pak Joni yang tahu tanggalnya karena Pak Kabanga’ terbang naik pesawat itu dan tidak sampai di upacara nikahnya. Menurut cerita Pak Kabanga’ kemudian, para penumpang cukup gelisah):

“Pengusutan kegagalan alat pesawat yang menyebabkan insiden itu dikecam sebagai formalitas dan bagian dari penutupan politik.”

Alat navigasi (IRS) gagal berulang kali dalam beberapa bulan sebelumnya, dan pilot-pilot seniorpun tidak dapat menjelaskannya dan tidak dilatih bagaimana kalau alat itu gagal.

Jadi, 102 sosok manusia tewas karena beberapa orang besar tidak mau malu (dan rugi), dan juga karena pelatihan pilot kurang.

Jika pendidikan teologi kurang, bukankah ada akibatnya juga?


Kej 1:26-27

Maret 26, 2008

Penciptaan manusia ditandai sebagai puncak penciptaan dunia dengan Allah merenung sebelum menciptakan (“mari Kita…”). Manusia diciptakan dengan fungsi yang lebih rumit dari ciptaan yang lain. Yang lain berada, bertumbuh, bergerak, paling berfungsi untuk menandai masa. Tetapi manusia berkuasa atas semua jenis binatang. Yang bertumbuh saja diberikan sebagai makanan (aa.29-31), dan yang lain-lain memungkinkan hidup. Sehingga setelah penciptaan manusia Allah baru menyatakan bahwa dunia amat baik (a.31).

Fungsi berkuasa itu yang paling cocok sebagai maksud langsung “gambar dan rupa” Allah. Fungsi itu mencakup usul-usul yang lain. Misalnya, tugas untuk berkuasa menyiratkan kemampuan untuk bernalar, berencana dsb. Tugas untuk berkuasa juga mempertajam bagaimana manusia berelasi dengan Allah–bukan sebagai mitra yang sederajat, tetapi sebagai hamba yang diberi wewenang yang mulia. Bagaimanapun juga, konsep kesegambaran menjadi dasar untuk martabat setiap manusia (tersurat di Kej 9:6 dan Yak 3:9), sekalipun gambar itu dicemari oleh dosa.

Tentu, martabat itu termasuk perempuan. Manusia menjadi gambar Allah sebagai laki-laki dan perempuan. Hal pertama di sini adalah sifat sosial manusia. “Mereka” berkuasa (a.26), bukan hanya satu orang. Hal kedua adalah pernikahan sebagai wadah untuk beranakcucu (a.28). Pelecehan perempuan baru masuk setelah kejatuhan ke dalam dosa ketika relasi laki-laki dan perempuan rusak (Kej 3:16).

Kejatuhan manusia ke dalam dosa juga merusak kuasanya (3:17-19), dan hanya Yesus Anak Manusia yang merintis pemulihannya (lihat Ibr 2:6-9dst yang merenungkan Mzm 8 yang merenungkan penciptaan manusia). Pemulihan itu dapat juga disebut pengudusan, bahkan pemuliaan (bnd. 2 Kor 3:18). Bagi saya itulah bagian yang seru dalam kabar baik Injil. Jangankan dosa kita diampunkan (itu sudah hebat), kerusakan dosa sedang dipulihkan. Jemaat dan persekutuan orang percaya (semestinya) adalah sentra pemulihan itu.


Kej 3:20-24

Februari 20, 2008

Meskipun akibat dosa yang disampaikan Allah kepada manusia berat, namun yang hebat ialah manusia masih memiliki masa depan. Sehingga dalam a.20 Hawa disebut ibu semua yang hidup. Kemudian, untuk menutupi rasa malu / kemaluan, ada pertanda anugerah dari Allah. Dia membuat penutup malu yang lebih mantap daripada daun (a.21). Kulit binatang menyiratkan kematian binatang tersebut, yang menunjuk pada sistem kurban Israel (dan kurban aluk?), dan tentu pada gilirannya pada kematian Yesus.

Manusia sudah menjadi sama seperti Allah (a.22), sesuai dengan janji Iblis (a.5). Tetapi ironisnya yang dialami adalah rasa malu (a.7)! Akibat terdahsyat dari pelanggaran mereka adalah diusir dari sumber hidup. Itulah mati! Mengapa mereka tidak dibiarkan hidup selama-lamanya dalam keadaan mereka? Mungkin reaksi mereka terhadap hadirat Allah (a.8) memberi petunjuk.

Lihat artikel ini untuk pembahasan pengusiran manusia dalam konteks Alkitab lebih luas.


Kej 6:1-8 Allah yang kecewa

Januari 29, 2008

Melihat struktur di sekitarnya, maka 6:1-8 merupakan komentar bagi keadaan keturunan manusia (5:1). Komentar itu dapat dibagi dua. 6:1-4 menggambarkan berkat yang dialami manusia, 6:5-8 melukiskan dosa dan hukuman. Begitulah masalah yang ditanggapi oleh Injil.

Berkat bagi manusia pada aa.1-4 yakni menjadi banyak (a.1, bnd. 1:28), nikah-menikah (a.2, bnd. 2:24) dan beberapa manusia yang menjadi gagah perkasa (a.4)–sehingga sanggup melakukan amanat Allah untuk menaklukkan bumi (1:28). Manusia dalam ayat-ayat ini digambarkan sebagai anak-anak [laki-laki] Allah dan anak-anak perempuan manusia. Istilah “anak-anak Allah” merujuk pada 5:1-3, tempat keturunan Adam dianggap serupa dengannya sama seperti manusia serupa dengan Allah (bnd. Lk 3:37). Jadi maksudnya manusia berasal dari Allah. Istilah “anak-anak perempuan manusia” mungkin menonjolkan soal keturunan. Jadi, ada gambaran di sini akan potensi manusia untuk menikmati pemberian Allah dengan semangat. Hanya a.3 yang mengingatkan bahwa nikmat manusia terbatas. Manusia adalah daging, fana, sehingga bergantung pada Roh Allah untuk hidup.

Sebaliknya, aa.5-8 menonjolkan hukuman. Jika dalam a.2 anak-anak Allah melihat sesuatu yang baik (tov, diterjemahkan cantik-cantik) yakni perempuan, akan tetapi dalam a.5 Allah melihat sesuatu yang buruk / jahat, yakni hati manusia. “Memilukan” dalam a.6 memakai kata dasar yang sama dengan “susah payah” dalam 5:29–bukan hanya manusia yang direpotkan oleh dosa! Ucapan hukuman Allah dalam a.7 berbicara tentang penciptaan langit dan bumi yang akan dikembalikan: manusia di muka bumi sampai dengan burung di langit akan dihapus. Hanya Nuh yang menjadi titik terang (a.8). 

Hidup sehari-hari adalah hal yang baik, tetapi Yesus sendiri mengatakan bahwa manusia pada zaman Nuh “kawin dan mengawinkan” tanpa menyadari dekatnya hukuman Allah (Mt 24:38-39). Soalnya, kita suka bicara tentang orang yang beritikad baik seakan-akan Tuhan pasti akan senang sama kita, tetapi a.6 mencurigai semua itikad manusia. Misalnya, menjadi kenamaan tidak salah, tetapi begitu mudah menjadi mencari nama (11:4). Giat bagi Allah adalah hal yang baik, tetapi dengan begitu mudah menjadi mendirikan kebenaran sendiri (Rom 10:3). Pantasan Allah kecewa, sehingga Dia menghukum untuk menghapus noda dari hati manusia.

Namun, tentu–dan selalu–ada titik terang anugerah Allah. Dalam 1 Pet 3:20-21 air bah malah menjadi gambar keselamatan dalam Kristus. Allah mau supaya kita tidak berbius oleh semangat hidup sehingga cuek terhadap hukuman-Nya melainkan percaya kepada Kristus yang kebangkitan-Nya merujuk pada sebuah ciptaan baru.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.