Gal 1:11-17 Pelajaran dari pertobatan Paulus

Juli 23, 2010

Dalam perikop ini Paulus menceritakan perubahan drastis yang terjadi ketika Kristus berjumpa dengan dia di jalan menuju ke Damsyik. Si penganiaya jemaat menjadi rasul yang mendiri-dirikan jemaat. Si pilar agama Yahudi memberitakan Mesias kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Perubahan itu begitu drastis sehingga kita bisa tertarik untuk menjadikannya sebagai pola pertobatan secara umum. Masalahnya, Paulus tidak mengangkat kisah hidupnya di sini sebagai contoh. Di beberapa tempat Paulus mengangkat berbagai aspek kehidupannya sebagai contoh (mis. 1 Kor 10:33), tetapi di sini dia mau membuktikan bahwa Injil yang dia beritakan berasal dari Allah. Hal itu penting oleh karena tempat Paulus dalam Kisah Agung Alkitab, dalam rencana Allah untuk menyelamatkan bangsa-bangsa. Jadi, kita perlu lebih dulu memahami tempat Paulus dalam rencana Allah, baru melacak relevansinya untuk kita.

Paulus dipanggil sebagai rasul kepada bangsa-bangsa (aa.15-16). Apa artinya seorang rasul? Dari argumentasi Paulus di sini, satu ciri seorang rasul ialah bahwa rasul tidak meneruskan tradisi melainkan menyampaikan penyataan baru tentang Kristus. Seperti disinggung Paulus dalam a.1, penyataan itu terkait dengan kebangkitan Kristus. Rasul-rasul yang lain menjadi rasul sebagai saksi kebangkitan Kristus; Paulus diperjumpakan dengan Kristus yang telah bangkit di jalan menuju ke Damsyik. Jadi, penyataan yang dimaksud bukan penyataan umum, seperti hikmat yang terdapat dalam setiap budaya dsb, melainkan penyataan khusus, tentang karya Allah dalam Yesus Kristus, puncak dari seluruh rencana keselamatan Allah.

Cerita Paulus di sini mengajar kita bahwa Injil bukan suatu filsafat yang dapat kita temukan sendiri, melainkan berita yang harus diberitahu. Kita dapat bersyukur bahwa Allah memanggil Paulus untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa, dan bahwa ada yang meneruskan pelayanan itu sampai Injil datang ke Australia dan Indonesia.

Paulus juga dipanggil di tengah giatnya sebagai penganut agama Yahudi. Agama Yahudi memiliki tempat yang khusus dalam rencana Allah. Dasarnya adalah Taurat dan seluruh PL yang dinyatakan Allah kepada Israel supaya Israel menunjukkan hidup yang sejati di bawah kerajaan Allah. Namun, Taurat itu tidak menghasilkan budaya yang baik, karena dilumpuhkan oleh dosa (3:21-22), sampai Kristus datang (3:23-24). Paulus sendiri membuktikan buruknya budaya Yahudi karena sebagai orang yang maju di dalamnya dia menganggap baik menganiaya jemaat-jemaat Kristus. Pertobatannya tidak membuktikan buruknya Taurat melainkan keberdosaan Paulus (serta angkatannya).

Budaya-budaya dunia pada umumnya tidak memiliki dasar sekuat Taurat, kecuali mau diklaim bahwa budaya Eropa didasarkan pada Injil. Tetapi budaya Eropa juga banyak menyatakan keberdosaan orang-orang Eropa, sama seperti semua budaya yang lain. Jadi, masalahnya bukan budaya (walaupun semua budaya ada segi buruknya) melainkan keberdosaan orangnya. Yang diperlukan adalah Injil, Injil tentang Kristus “yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita” (a.4).


Yoh 14:1-14 Jalan kepada Bapa

Mei 3, 2010

Kata Yesus, “Janganlah gelisah hatimu” (a.1). Padahal, besok Dia akan mati, dan Dia baru bernubuat bahwa Petrus akan menyangkal-Nya. Yoh pp.14-17 menunjukkan alasan-alasan Yesus mengapa murid-murid-Nya tidak perlu gelisah. Dalam perikop ini, yang disoroti adalah kepercayaan. “Percayalah kepada Allah, percayalah kepada-Ku.” Apa kaitannya antara percaya kepada Allah dengan percaya kepada Yesus? Hal itu yang diuraikan dalam perikop ini.

Yesus baru mengaitkan diri-Nya dengan Allah dalam rangka kemuliaan (Yoh 13:31-32). Anak Manusia (Yesus) akan dipermuliakan oleh Allah pada salib, dan Allah akan dipermuliakan dalam Yesus. Yesus juga memberitahu mereka bahwa Dia mau pergi ke tempat yang kepadanya mereka tidak bisa datang (13:33). Namun, dalam 13:36 dikatakan kepada Petrus bahwa kelak dia akan mengikuti Yesus ke sana. Tujuan dan jalan ke sana itu yang dibahas dalam bagian awal perikop ini (aa.2-6). Tujuan adalah “rumah Bapa” (a.2) atau dalam kata lain “Bapa” (a.6). Yesus pergi untuk menyediakan tempat di sana, dan Dia sendiri merupakan jalan ke sana. Cara-Nya menyediakan tempat tidak bisa lain dari salib yang segera akan Dia lalui. Cara-nya kembali dan membawa murid-murid-Nya diuraikan dalam aa.15dst, yakni dalam Roh Kudus. Jadi, jalan itu ditempuh dalam kehidupan sekarang; sebagai jalan kepada Bapa, Yesus adalah “kebenaran” dan “hidup”. Mengikuti Yesus berarti menemukan jalan hidup yang benar. Kita percaya kepada Allah sebagai tujuan, dan kepada Yesus sebagai jalan kepada tujuan itu.

Bagaimana Yesus berfungsi sebagai jalan? Jalan yang menuju ke desa belum tentu sama indahnya dengan desa itu. Tetapi Yesus tidak lain sifat-Nya dari Bapa-Nya. Dalam aa.7-9 Yesus menunjukkan eratnya hubungan antara Dia dengan Bapa-Nya. Mengenal Yesus adalah mengenal Bapa-Nya. Melihat Yesus adalah melihat Bapa-Nya. Hal itu terjadi karena Bapa di dalam Yesus dan Yesus di dalam Bapa. Yesus adalah Anak Tunggal Allah (monogenes theos) yang menyatakan Bapa (Yoh 1:18). Dia adalah jalan kepada Bapa sama seperti sinar adalah jalan untuk mengenal terang, atau perkataan (logos) adalah jalan untuk mengenal orang.

Agak sulit bagi murid-murid Yesus untuk menangkap maksud Yesus dan percaya, padahal sudah lama mereka bersama dengan-Nya. Oleh karena itu, Yesus kembali ke tema itu dalam aa.10-14. Semestinya mereka dapat melihat dalam perkataan dan pekerjaan Yesus bahwa Allah Bapa bergerak (a.10). Jika mereka tidak dapat langsung mempercayai perkataan Yesus, setidak-tidaknya pekerjaan Yesus dapat mereka percayai (a.11). Misalnya, dalam Yoh 5:19-20, Yesus sudah menyampaikan bahwa Dia mengerjakan apa yang ditunjukkan oleh Bapa-Nya, dan akan ada pekerjaan yang lebih besar, yakni membangkitkan orang mati. Dalam aa.29-30 pekerjaan itu dikaitkan dengan penghakiman terakhir: “semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya”. Tetapi, perkataan itu sudah dibuktikan ketika Yesus bersuara kepada Lazarus di dalam kuburannya dan dia hidup kembali (Yoh 11:43-44). Yesus mau supaya mereka percaya bahwa Dia di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia.

Tetapi Yesus juga mau supaya mereka percaya kepada-Nya, mengandalkan-Nya. Murid-murid Yesus juga akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berasal dari Allah Bapa dan memperlihatkan-Nya, termasuk yang lebih besar (a.12)—maksudnya, saya duga, menghidupkan kembali orang mati dengan memberitakan Yesus Sang Hidup. Mereka sanggup melakukan hal-hal itu karena berdoa kepada Yesus yang sudah pergi kepada Bapa-Nya (aa.13-14).

Ada dua kegelisahan yang dialamatkan dalam perikop ini. Yang satu menyangkut nasib kelak manusia, yang lainnya menyangkut kehidupan sehari-hari. Sudah ada tempat disediakan bagi kita bersama dengan Allah, dan sekarang ada kuasa melalui doa dalam nama Yesus untuk pergumulan hidup. Bukannya iman kristiani sekadar tentang hidup setelah mati, dan bukannya iman kristiani sekadar tentang perubahan moral/sosial sekarang.

Tetapi dua hal perlu diperhatikan, karena saya rasa banyak kepercayaan yang berurusan dengan kedua kegelisahan tadi. Yang pertama, kita percaya kepada Yesus karena Dialah yang menyatakan Allah, sehingga Dialah yang menjadi jalan kepada-Nya. Percaya kepada Allah tanpa percaya kepada Yesus adalah kerancuan. Salib dan kebangkitan Yesus membuktikan bahwa jalan itu sudah terbuka dan tujuan itu sudah terjamin. Yang kedua, kita mengandalkan Yesus bukan demi kepentingan kita melainkan demi kemuliaan Allah. Kita berdoa supaya pekerjaan-pekerjaan Allah, alias misi Allah, dapat terlaksana. Memang, misi Allah terlaksana di tengah kehidupan sehari-hari—di tengah rumah tangga, tempat kerja, pesta, sehingga tidak salah untuk berdoa tentang kebutuhan hidup. Tetapi jalan Yesus itu melalui salib, dan jalan itulah yang harus kita tempuh (bnd. Yoh 12:24-26). Belum tentu doa untuk luput dari jalan salib dapat dianggap doa dalam nama Yesus, walaupun nama itu tercantum ketika didoakan.


Yoh 12:30-36 Jalan yang diajarkan kepada bangsa-bangsa

Maret 15, 2010

Setelah perikop minggu yang lalu, Yesus tidak bersembunyi lama di kota Efraim (11:54). Pada awal p.12 diceritakan bagaimana Yesus diurapi “mengingat hari penguburan-Ku” (12:7) lalu Yesus memasuki Yerusalem dielu-elukan orang banyak. Menurut Injil ini, besarnya orang banyak yang menyongsong Yesus itu karena kebangkitan Lazarus (12:17-18). Dalam kecemasan, orang-orang Farisi mengeluh bahwa “seluruh dunia datang mengikuti Dia” (12:19). Perkataan itu ternyata merupakan nubuatan juga, sebagaimana dilihat dalam perikop kita. Bukan hanya orang Yahudi, tetapi semua manusia, akan datang mengikuti Dia.

Wakil manusia non-Yahudi itu muncul dalam a.20. Mereka mau bertemu dengan Yesus, dan mereka dibantu oleh dua murid yang memiliki nama Yunani (Filipus dan Andreas), walaupun mereka adalah orang Israel. Di antara para murid pun ada unsur dunia non-Yahudi. Yesus menanggapi permintaan itu dengan pernyataan bahwa “telah tiba saatnya Anak Manusia dipermuliakan” (a.23). Mengapa permintaan orang Yunani menimbulkan respons itu?

Di balik perikop ini ada perikop Yes 2:1-5, yang berbicara tentang “hari-hari terakhir”, ketika “segala bangsa akan berduyun-duyun” ke gunung Tuhan. Nubuatan itu menjadi kerangka perkataan Yesus. Yoh 12:23-26 menjawab datangnya bangsa-bangsa, dan menguraikan jalan Tuhan yang disebut dalam Yes 2:3. Kemudian, dalam aa.27-33 Yesus ditinggikan, sama seperti “gunung tempat rumah Tuhan” menjulang tinggi (istilahnya sama dalam bahasa Yunani Injil Yohanes dan terjemahan Yesaya dalam bahasa Yunani). Yesus sudah menyamakan tubuh-Nya dengan Bait Allah (Yoh 2:21). Di sini peninggian Bait Allah menjadi pusat dunia digenapi dalam peninggian tubuh Yesus pada salib. Akhirnya, dalam aa.34-36 ada seruan untuk berjalan dalam terang, sama seperti Yes 2:5.

Hal itu berarti bahwa ada definisi ulang kemuliaan (alias hormat). Yesaya pun sudah menafsir kemenangan Israel yang dinantikan sebagai kemenangan damai (Yes 2:4). Yesus lebih ke akar (radikal = ke akar) lagi. Anak Manusia akan dimuliakan dengan mati seperti biji, supaya menghasilkan banyak buah (Yoh 12:24). Bahwa Yesus mendefinisikan ulang kemuliaan secara umum dijelaskan dalam kedua ayat berikut. Kita juga harus siap mati atau berkorban demi hidup yang sejati, yaitu hidup kekal, hidup pada zaman yang akan datang (a.25). Jalan Yesus adalah jalan yang harus kita tempuh; tempat Yesus pada salib adalah tempat kita (a.26). Dengan demikian hormat kita datang dari Allah, bukan dari manusia (a.26b). Demikian jalan yang akan diajarkan kepada bangsa-bangsa yang berduyun-duyun kepada Yesus.

Jalan itu sama sekali tidak mudah. Yesus sendiri terharu (a.27, mungkin lebih tepat “gelisah”, seperti terjemahan kata yang sama pada Yoh 14:1, 27). Tetapi Dia sadar bahwa demikian tugas-Nya dari Allah Bapa. Allah meneguhkan maksud Yesus dengan perkataan dari sorga, bukan karena Yesus ragu tetapi karena konsepnya menjungkirbalikkan pehamanan manusia yang biasa. Kematian Yesus akan menghasilkan banyak buah: Iblis akan dikalahkan (a.31) dan bangsa-bangsa akan datang kepada Yesus (a.32).

Dalam a.34 orang banyak tetap bingung, sekarang tentang identitas “Anak Manusia”, yang memang bukan istilah yang sebiasa istilah “Mesias”. Yesus menjawab bahwa Dia (sebagai Anak Manusia) adalah terang, dan yang penting adalah percaya kepada-Nya dan berjalan di dalam-Nya.

Cara Yesus menantang kita semua. Kuasa dan hormat menurut Yesus berbeda dengan konsep yang berlaku di masyarakat. Gereja dianggap “berhasil” ketika dipuji pemerintah atau koran, atau ketika ada sesuatu yang kelihatan (gedung yang besar dsb). Terang menurut Yesus berbeda dengan akal yang berlaku di dunia modern. Gereja dianggap “berhasil” jika melalui analisis yang tajam ada program yang meningkatkan jumlah orang, pendapatan dari persembahan, atau ukuran-ukuran yang lain. Tetapi sejarah gereja membuktikan perkataan Yesus. Yang sangat berdampak bagi misi Allah dan dianggap paling terhormat adalah orang yang menderita, mati, dihina (seringkali oleh gereja sendiri pada awalnya). Di dalam pelayanan jemaat pun hal itu sudah jelas: kasih yang sejati akan siap berkorban.

Tetapi Yesus, sesuai dengan firman Allah dalam nubuatan Yesaya, mengharapkan pelayanan kepada semua manusia, termasuk yang di luar jangkauan Injil, entah karena jauh atau karena terpinggir. Hal itu tidak akan terjadi karena hormat atau kepintaran manusia. Hormat dan akal sangat mendasar dalam kehidupan kita, dan cara kita menghadapi dunia tidak akan sama setelah kita datang kepada Dia yang ditinggikan pada salib itu.


Ef 1:3-14 Menghayati berkat-berkat Allah

November 9, 2009

Perikop ini kaya, sangat kaya. Jadi saya minta maaf jika “renungan” ini agak panjang dan sarat dengan ide. Dalam pendahuluan ini saya coba membahas satu dua hal yang mungkin mencegah kita memuji Allah sesuai dengan isi perikop ini. Kemudian ada komentar per bagian.

A.3 mengangkat tema utama perikop ini, yaitu berkat-berkat rohani yang menjadi alasan untuk memuji Allah. Berkat-berkat itu termasuk kekudusan (4), menjadi anak Allah (5), pengampunan (7), pengetahuan rencana Allah (9) dan Roh Kudus (13). Apakah berkat-berkat ini menarik bagi semua jemaat (termasuk sebagian yang berpendidikan teologi)? Untuk sebagian, saya dapat membayangkan tuduhan (dalam hati) bahwa “rohani” berarti “tidak praktis”, “tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari” dsb. Coba ada uang sekolah, penyembuhan, pemberantasan korupsi dsb, baru berkat dianggap berlimpah-limpah.

Bahwa pandangan itu ada benarnya cukup jelas dari gambaran berkat/kutuk dalam PL (misalnya Ul. 26). Ada yang mengatakan bahwa harapan yang “materialistis” itu sudah diganti dengan harapan yang “rohani”. Pembahasaan itu berbahaya. Jauh lebih tepat mengatakan bahwa harapan yang materialistis itu ditunda. Ketika semua dipersatukan dalam Kristus sebagai Kepala, keadaannya akan seperti dalam Why 21, dengan bumi yang baru yang di dalamnya tidak ada yang merusak kehidupan lagi.

Namun, dalam PL pun berkat utama adalah pengenalan akan Allah. Mengapa Israel dibebaskan dari Mesir? Supaya “menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu” (Kel 6:6). Berkat-berkat rohani yang diuraikan menyangkut berkat utama itu. Kita bisa menjadi anak Allah karena ditebus oleh darah Kristus sehingga kita memiliki jaminan atas warisan (LAI “bagian”) yang dijanjikan. Mengapa hal-hal itu terasa abstrak, terasa tidak menyentuh kehidupan nyata? Saya duga jawabannya dalam a.13. Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat itu bagian dari kehidupan kita, kebutuhan nyata. Sama seperti orang dari luar Toraja sulit memahami keasyikan pesta orang mati di Toraja [maaf kepada pembaca dari luar Toraja :)], orang tanpa Roh Kudus sulit memahami mengapa Allah begitu layak dipuji karena berkat-berkat-Nya dalam Kristus. (Mungkin perlu dicatat bahwa harapan dari Injil yang ditanam Roh Kudus ternyata sangat membantu kita untuk memaksimalkan keadaan yang ada, entah baik atau buruk, sehingga ada gunanya untuk sekarang. Khususnya, kita dimampukan untuk berjuang dalam kasih, seperti dalam pp.4-6.)

Dalam komentar di bawah, saya menebalkan kata-kata tentang kedaulatan Allah, menggarisbawahi kata-kata tentang kemuliaan Allah dan pujian, dan memiringkan kata-kata tentang anugerah (kasih karunia). Perikop ini dimulai dan diakhiri dengan panggilan untuk memuji Allah, dan inti perikop ini adalah anugerah Allah yang terwujud dalam Kristus (aa.7-8). Bagaimana dengan kedaulatan Allah? Orang suka pusing menghadapi pernyataan seperti dalam a.11 bahwa keputusan orang “dari semula ditentukan” dan bahwa Allah “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”. Di mana lagi kebebasan manusia kalau demikian? Sebagai jawaban, perlu diingat bahwa Allah adalah Pencipta, bukan salah satu kuasa di antara banyak kuasa yang lain dalam dunia ini. Jadi, dari satu segi semua kuasa dan kemampuan, termasuk kehendak kita, bergantung pada kuasa Allah yang menopang segala sesuatu. (Jadi, yang menjadi misteri ialah bahwa kita memiliki kehendak bebas, bukan bahwa Allah berdaulat.) Tetapi hal itu bukan fokus Paulus di sini. Rencana Allah diwujudkan dalam Kristus dan diterapkan oleh Roh Kudus. Kedaulatan Allah adalah pelayan rencana Allah itu. Jadi, kedaulatan Allah bukan suatu kehendak yang kabur (sehingga menakutkan), tetapi melayani rencana Allah yang sudah dinyatakan dalam Kristus (a.9).

Jadi, selayaknya perikop ini menjadi bahan untuk kita memuji Allah. Jika kita dimeteraikan dengan Roh Kudus sehingga berada di dalam Kristus maka semua berkat ini adalah milik kita, milik kita yang sangat berharga.

(3) Terpujilah Allah dan Bapa [dari] Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

Kata Bapa tidak merujuk ke Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan Allah adalah juga Bapa dari Tuhan Yesus Kristus [satu artikel (ho) dipakai untuk kedua kata Allah (theos) dan Bapa (pater)]. Perikop ini bersifat ketritunggalan, karena kata rohani merujuk ke karya Roh Kudus, atau paling sedikit dalam a.14 Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat rohani ini nyata dalam kehidupan.

(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, (6) supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

A.4 adalah pernyataan mendasar; a.5 memberi keterangan [kata kerjanya adalah partisip, bukan indikatif]; a.6 adalah tujuannya. Bahasa “kudus”, “tak bercacat” dan “anak” adalah bahasa yang dipakai dalam PL untuk umat Allah, sama seperti “menjadikan kita milik Allah” dalam a.14.

(7) Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, (8) yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. (9) Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus (10) sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

Aa.7-8 adalah pernyataan mendasar; a.9 memberi keterangan [juga partisip], mungkin atas kelimpahan kasih karunia Allah—bukan hanya bahwa kita ditebus oleh darah Kristus tetapi juga kita diberitahu mengenai rencana agung Allah; a.10 adalah tujuannya. Kali ini tujuannya bukan pujian melainkan pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Darah Kristus dalam a.7 adalah caranya untuk a.4, dan bagian ini (khususnya a.7 dan a.10) menjelaskan mengapa ada “di dalam Dia” terus-menerus dalam perikop ini. Kristus adalah pewujud rencana Allah.

(11) Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– (12) supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

Kata kami adalah tafsiran—dalam bahasa Yunani (dan Ibrani dan Inggris) tidak dibedakan anatara kita dan kami. Tafsiran itu tepat, tetapi bagi pembaca asli baru akan jelas dalam a.12 dalam perkataan “yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus” bahwa “kita/kami” merujuk pada kelompok Paulus, bukan pembaca. “Kami” adalah orang-orang Yahudi (lihat juga 2:1-3 dan 2:11-12), yang memang menjadi yang pertama percaya. Mereka adalah tahap pertama dalam pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Tujuannya pujian kembali (a.12b).

(13) Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. (14) Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Tahap berikut dalam pemersatuan segala sesuatu adalah orang non-Yahudi yang jadi percaya (bnd. 2:11-22). Kedua ayat ini adalah dasar ringkas untuk suatu urutan keselamatan (ordo salutis). Yang pertama adalah pendengaran Injil tentang keselamatan, sehingga ada yang percaya. Yang percaya dimeteraikan dengan Roh Kudus (yang menunjukkan bahwa mereka adalah milik Allah) yang menjadi jaminan bahwa mereka akan menerima segala yang dijanjikan Allah pada akhir zaman itu. Jadi, pemberitaan menjadi pintu masuk untuk keselamatan eskatologis (hidup kekal). Roh Kuduslah yang menerapkan dalam kehidupan orang percaya rencana Allah yang terwujud dalam Kristus. Namun, perlu diperhatikan apakah tujuan Allah. Bukan keselamatan saya saja (sebagai individu), melainkan kita sebagai umat milik Allah.


Mk 7:24-30 Mencari tempat di meja Yesus

September 24, 2009

Cerita ini mendapat tempat yang menarik dalam alur cerita Markus. Yesus baru berdebat dengan para Farisi tentang kenajisan, dan Yesus mengajar mereka bahwa dosa yang menajiskan, bukan hal-hal lahiriah (7:14-23). Dalam perikop ini, ternyata kebangsaanpun tidak menajiskan, karena permohonan perempuan non-Yahudi ini bisa dikabulkan. Hanya, jika maksud Yesus adalah mengajarkan hal itu, mengapa Yesus sendiri menyusahkan pendekatan perempuan itu?

Dalam perikop yang sejajar dalam Injil Matius (15:21-28) soal kebangsaan memang menonjol. Kebangsaan perempuan adalah informasi pertama yang disebut tentang orangnya, dan Yesus mengabaikannya serta mengulang apa yang Dia katakan pada para murid sebelum mereka diutus ke desa-desa Israel bahwa Dia datang untuk domba-domba yang hilang dari bangsa Israel (Mt 10:5-6; 15:24). Sikap-Nya terhadap perempuan itu adalah soal fokus, tetapi oleh karena imannya yang kuat Yesus bisa memberi pengecualian baginya. Dalam Injil Matius fokus itu menyangkut sejarah keselamatan. Berdasarkan nas seperti Yes 49:5-6 Yesus harus memulihkan Israel dulu, baru menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Jadi, dalam kematian dan kebangkitan-Nya, sang Israel sejati, yaitu Yesus, memulihkan Israel. Baru setelah itu Yesus menyuruh murid-murid-Nya pergi ke seluruh dunia. Sebagai catatan, bagi saya harapan yang luas dalam PL (dan dalam kalangan orang Yahudi juga, bnd. Mt 23:15) bahwa bangsa-bangsa akan masuk ke dalam Kerajaan Allah membuat satu tafsiran yang populer kurang meyakinkan, yaitu tafsiran bahwa Yesus baru menjadi sadar dalam peristiwa ini bahwa Kerajaan Allah dapat merangkul orang-orang non-Yahudi. Sikap Yesus adalah soal strategi teologis, bukan kekurangan kesadaran.

Dalam penyampaian Injil Markus yang pertama muncul tentang perempuan itu adalah soal anaknya yang kerasukan. Soal kebangsaan muncul hanya sebagai latar belakang untuk jawaban Yesus yang mengejutkan itu. Soal anak dan anjing memang merujuk ke Israel dan bangsa-bangsa, tetapi tema yang menonjol dalam Injil Matius itu hanya sedikit dalam Injil Markus. Mungkin yang lebih relevan dalam Injil Markus adalah redefinisi Yesus tentang “keluarga Allah” pada akhir p.3, di mana keluarga Yesus adalah orang-orang yang duduk belajar daripada-Nya untuk melakukan kehendak Allah. Dengan demikian pernyataan Yesus tentang hak anak untuk mendapat makanan bermaksud untuk menguji iman perempuan itu. Apakah dia bertanya sekadar untuk mendapatkan sesuatu, atau apakah dia menganggap diri bagian dari keluarga yang dibentuk Yesus? Jawabannya cerdik. Tanpa menyangkali statusnya sebagai non-Yahudi dia menempatkan diri sebagai anjing peliharaan yang tetap adalah bagian dari keluarga (dan dalam versi Markus mendapat sisa dari bagian anak-anak). Yesus yang melihat imannya dalam kata-kata itu mengabulkan permintaannya.

Memang, untuk kita pasca-kebangkitan jelas bahwa Injil terbuka untuk semua bangsa. Tinggal apakah kita datang kepada Yesus sekadar untuk mendapatkan sesuatu, atau karena kita mau mendapat tempat di meja-Nya, biarpun kedudukan kita di dalam-Nya serendah anjing.


Mk 14:12-16 Menghadapi panggilan-Nya dengan sengaja

Agustus 3, 2009

Perikop ini merupakan satu adegan dalam alur cerita kesengsaraan Kristus. Dalam nubuatan Yesus pada p.13, Dia berbicara tentang berbagai unsur terkait dengan kedatangan Kerajaan Allah, seperti siksaan terberat serta pemuliaan Anak Manusia, yang antara lain mengungkapkan makna kematian dan kebangkitan-Nya (untuk penjelasan lebih lanjut lihat bagian akhir dari Mt 24 Bait Allah dirobohkan). Yesus menuju puncak dari panggilan-Nya untuk “memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mk 10:45). Salah satu tema dalam penceritaan Markus ialah bahwa bahwa Yesus menuju puncak itu dengan sengaja, bukan sebagai korban yang tidak berdaya. Perikop ini mendukung tema itu.

Kematian Yesus mulai dikaitkan dengan Paskah pada 14:1, dengan Markus menyampaikan keputusan pimpinan Yahudi untuk membunuh Yesus, dua hari sebelum Paskah. Pengurapan Yesus dengan minyak oleh seorang perempuan mendukung bahwa Yesus melihat kematian-Nya mendekat (14:8), dan sepertinya menggerakkan Yudas untuk pergi untuk mengkhianati Yesus (14:10). Karena penawaran Yudas itu, rencana pembunuhan itu dapat dipercepat (a.2, 11).

Pada a.12 sudah tiba waktunya untuk merayakan Paskah. Domba-domba Paskah disembelih pada siang hari di Bait Allah, kemudian dibawa pulang untuk dimakan di rumah antara petang dan tengah malam. Paskah itu harus dimakan di dalam tembok Yerusalem. Ternyata Yesus sudah merencanakannya dengan tepat. Ada penghuni Yerusalem yang sudah diminta untuk mempersiapkan suatu tempat. Ada lambang yang sudah diatur, yaitu seorang (laki-laki) yang membawa kendi berisi air. (Biasanya perempuan yang membawa air.) Yesus mengatur semuanya tanpa sepengetahuan murid-murid-Nya, kemungkinan besar karena Dia tidak mau supaya si pengkhianat mengetahui tempatnya (bahwa Yesus tahu Dia akan diserahkan jelas dalam a.18; bnd. Mk 9:31 dan 10:33). Paskah harus dirayakan dengan murid-murid-Nya tanpa halangan, baru setelah itu Yesus akan membiarkan diri-Nya ditangkap.

Salah satu maksud utama Markus dalam p.14 ini adalah pengajaran tentang makna kematian Yesus, termasuk bahwa Yesus menujunya dengan sengaja. Tetapi mungkin dalam a.16 tema kemuridan muncul juga. Para murid tidak mempertanyakan pesan Yesus melainkan melakukannya. Dengan demikian rencana Yesus, termasuk penyampaian ajaran tentang makna kematian-Nya (aa.22-25), dapat terwujud. Semoga ketaatan kita juga ikut serta dalam rencana-rencana-Nya sekarang.


Neh 7:1-3 Pembangunan selesai…

April 22, 2009

Dalam Nehemia pasal 6 kita membaca tentang perlawanan terhadap Nehemia dan pembangunan tembok, termasuk pembocoran berita kepada Tobia oleh orang-orang Israel yang masih setia kepadanya (6:17-18). Namun, akhirnya tugas pembangunan itu tuntas dengan pemasangan pintu (7:1a).

Namun, pekerjaan Nehemia belum selesai. Yang pertama, dia mengangkat berbagai petugas terkait dengan Bait Allah (7:1b). Keamanan karena adanya tembok hanya bermakna jika ada umat yang memuji Allah. Soal umat yang sedikit menjadi topik ayat-ayat berikut, dan soal ibadah diceritakan dalam pp.8-9.

Keamanan tidak juga terjamin tanpa ada kewaspadaan manusia. Tembok tetap membutuhkan penjaga. Jadi Nehemia mengangkat pemimpin untuk keamanan kota (7:2) yang harus ketat (7:3). Disebut bahwa orang itu adalah saudara Nehemia sendiri, Hanani. Apakah ini nepotisme? Hanani yang membawa rombongan kepada Nehemia pada awalnya (1:2), sehingga jelas bahwa dia sudah dipercayai oleh rakyat sebelumnya. Lebih lagi, ada kemungkinan bahwa ayat 2 semestinya diterjemahkan “yaitu kepada Hananya”. Dengan demikian Hanani dan Hananya merujuk ke orang yang sama (nama Hanani adalah bentuk pendek dari Hananya). Bagaimanapun juga, dalam konteks seperti itu masuk akal kalau Nehemia mengangkat saudara sendiri yang akan setia kepadanya daripada kepada Tobia. Yang penting orangnya mampu.

Dalam PB umat Allah tidak lagi mendiami kota tertentu atau gedung khusus. Prasarana seperti tata gereja atau gedung bisa saja penting sebagai pertanda semangat dan pendukung misi dan kadangkala ada gerakan yang baik yang jatuh karena hal-hal seperti itu diabaikan. Namun percuma kalau Allah bukan lagi pusatnya, dan saya rasa di situlah gereja atau organisasi yang mapan lebih sering jatuh.


Neh 5:14-19 Sikap seorang pembesar

April 16, 2009

Perikop ini menunjukkan teladan Nehemia yang memakai kedudukan dan kekayaannya untuk kesejahteraan rakyat daripada memberatkan mereka. Kebiasaan para pendahulunya adalah mendapatkan sebanyak mungkin keuntungan dari kedudukannya–empat puluh syikal perak (yang diambil dari seluruh rakyat dalam satu hari, a.15) bisa membeli kurang lebih tiga ekor kerbau. Sebaliknya, Nehemia tidak menerima pajak yang menjadi haknya (a.18), karena dia melihat bahwa rakyat sudah terbeban dengan pekerjaan membangun tembok itu. Mungkin dukungan raja lebih luas daripada yang disebutkan dalam 2:8 (misalnya untuk gaji anak-anak buahnya), tetapi kesannya bahwa dia juga memakai kekayaan pribadi, mungkin dari kedudukannya sebagai juru minuman raja. Dia tidak memberatkan rakyat karena dia takut akan Allah (a.15), tetapi dia merelakan duitnya sendiri karena dia menganggap itu kesempatan untuk memakai uang yang dianugerahkan Allah kepadanya untuk pekerjaan Allah.

Teladan Nehemia diangkat sebagai perbandingan bukan hanya terhadap para pendahulunya tetapi terhadap rakyat Israel sendiri. Perikop sebelumnya menceritakan bagaimana ada yang memberatkan sesama orang Israel yang dipaksa menjual ladangnya, padahal tanah Israel adalah warisan Allah (bnd. Im 25). Saya teringat bahwa sekarang bukan hanya para pembesar yang main korupsi jika ada kesempatan!

Jika Nehemia adalah teladan untuk penguasa sekarang, lebih lagi dia adalah teladan untuk gereja. Selain praktek gereja yang bisa memberatkan kaum miskin (seperti menuntut uang untuk surat ala pemerintah), sering ada kepelitan di antara warga gereja. Pekerjaan Allah ditempatkan pada jenjang rendah dalam skala prioritas. Kita perlu menjadi takut akan Allah dan giat dalam memperluas kerajaan-Nya.


12 langkah berteologi dalam misi

Februari 17, 2009

Menurut van Engan, Charles E., ‘Toward a Contextually Appropriate Methodology in Mission Theology’ dalam Appropriate Christianity ed. Charles Kraft (Pasadena, Calif: William Carey Library, 2005), 203-226.

Van Engan mendaftar 12 langkah dalam 5 golongan yang merupakan putaran yang tidak berakhir untuk berteologi dalam misi.

  • Memahami Injil Yesus Kristus

1. Menggali Alkitab yang menyatakan Allah yang misioner.

2. Memahami (secara kritis) tradisi gereja. Sikap kritis bertambah penting di luar dunia Barat karena tradisi teologi berkembang dalam konteks Barat.

3. Mengenali keadaan dan pengalaman pribadi yang menjadi konteks pribadi.

4. Memahami konteks lokal (termasuk memakai ilmu sosial).

5. Menentukan Ide Pemersatu (Integrating Idea), yang menjadi kerangka bagi hasil berteologi (misalnya bagi William Carey itu Amanat Agung, bagi gerakan Pietisme itu kesesatan manusia, bagi DGD Uppsala 1968 itu Memanusiakan)

  • Mendekati Konteks Baru

6. Bergantung pada Roh Kudus dan Doa. Apa yang telah dan sedang dilakukan Roh di sini?

7. Sejarah perbuatan misi di sini selama ini (hampir tidak ada konteks dunia sekarang yang belum tersentuh oleh misi).

8. Sejarah teologi misi di sini, termasuk interaksi antara gereja/misi dengan masyarakat.

  • Bersiap untuk Tindakan Baru

9. Inkarnasi adalah hati Teologi Misi. Van Engen menawarkan matriks dengan kolom seperti Misi Allah, Misi manusia, Misi gereja, Misi di dunia, Misi Kristus, Misi Roh Kudus (yaitu tindakan Allah), serta baris untuk konteks, pelaku, cara, hasil, struktur dsb (konteks manusia). Maskudnya bahwa setiap sel dalam matriks itu dapat memicu pertanyaan misiologis, tetapi tidak ada contohnya dan tidak jelas bagi saya pertanyaan macam apa yang akan muncul!

  • Menghidupi Injil dalam Aksi yang Tepat

10. Persiapan untuk bertindak. Di luar dampak dari keberadaan jemaat dalam konteks tertentu, misi Allah menuntut tindakan dari umat-Nya. Tindakan menimbulkan refleksi yang menimbulkan refleksi baru. (Pernyataan itu sebenarnya menyimpulkan seluruh putaran.)

11. Tindakan misiologis. Dia memakai konsep Paul Hiebert tentang “himpunan yang berpusat” (centred set). Daripada menentukan himpunan orang kristen menurut beberapa ciri (biasanya daftar doktrin dan perilaku), orang kristen didefinisikan menurut relasinya dengan Kristus, apakah menuju apa menjauh. Contohnya (dari saya, bukan van Engen), jemaat yang doktrinnya murni, liturginya rapih, organisasinya mantap tetapi tidak lagi berpusat pada Kristus bisa saja sedang menjauh daripada-Nya, sedangkan jemaat orang kristen baru yang belum keluar dari berbagai sinkretisme tetapi mengasihi Kristus mendekati-Nya. Konsep ini memberi lebih banyak ruang bagi konteks, karena daftar doktrin dan perilaku biasanya terambil dari konteks lain (misalnya dunia Barat kalau misionaris).

  • Praksis: Membentuk Ulang Pemahaman Injil

12. Refleksi atas tindakan. Van Engen menyebutkan lingkaran hermenuetik Segundo (teolog pembebasan), yaitu konteks “dieksegese”, kemudian Alkitab digali ulang dengan pertanyaan yang baru untuk menerangi konteks itu kembali. Langkah 1-4 yang dipikirkan ulang dalam terang tindakan yang sudah dilakukan.

Proposal di atas saya nilai belum tajam, tetapi semangatnya bagus, yaitu menunjukkan cara untuk mempraktekkan teologi kontekstual. Jika ada saran/komentar, silakan!


9. Nubuatan keselamatan

Juni 20, 2008

Nubuatan keselamatan membawa kita untuk mengarahkan kehidupan kita berdasarkan kebangkitan Kristus. Bagaimana caranya?

Di balik hukuman Allah semua kitab nabi menyampaikan suatu harapan. Nubuatan hukuman terdiri atas dua bagian: alasan dan akibat. Soal akibat, tentu nubuatan keselamatan merupakan janji, bukan ancaman. Tetapi soal alasan, tidak ada yang berasal dari pihak Israel sendiri! Misalnya, sembilan pasal nubuatan hukuman dalam kitab Amos berakhir dengan Amos 9:10 yang berbicara tentang orang berdosa yang akan mati terbunuh. Ayat berikut mulai bukan dengan cerita tentang pertobatan dsb melainkan dengan janji mutlak, “Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh”. Cara itu berbeda dengan cara Hukum Taurat. Janji berkat dalam Ul 28 bersyarat (“Jika engkau baik-baik mendengarkan suara Tuhan, Allahmu…”). Kalaupun pertobatan disebutkan dalam nabi-nabi, hal itu adalah karya Allah:

Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 932 pengikut lainnya.