Kis 7:1-53 Menafsir Sejarah Israel

Mei 27, 2008

Seperti dijelaskan di sini, Stefanus berkhotbah atas dorongan Roh Kudus sebagai pengikut Kristus yang sejati. Namun, jika dicermati Roh bekerja dengan hemat—Stefanus sudah sangat mengenal hasil Roh yang sebelumnya yakni Perjanjian Lama sehingga Roh tidak harus menyatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang telah Dia nyatakan, melainkan Dia menyatakan makna yang baru dari PL dalam terang Kristus. Hasilnya dianggap penting oleh Lukas, karena khotbah ini adalah yang paling panjang dalam kitab Kisah Para Rasul.

Tuduhan yang ditanggapi Stefanus itu dua: 1) Yesus akan merubuhkan Bait Allah; dan 2) Yesus akan mengubah adat istiadat orang Yahudi (6:14). Kedua hal itu dilihat sebagai hujatan. Stefanus tidak membantah tuduhan itu langsung, melainkan berusaha membuka pemahaman mereka tentang makna sejarah Israel. Pokok-pokok yang diangkat Stefanus dimulai dengan panggilan Abraham, kemudian Yusuf, Musa dan Israel di Mesir dan padang gurun, Daud dan Salomo, sampai dengan pembuangan (7:43). yang terakhir adalah Yesus sendiri. Kedua pokok ditanggapi demikian:

  • Soal Bait Allah dia menunjukkan bagaimana Allah bekerja di luar Israel. Abraham dipanggil di Mesopatamia dan dia bersama dengan keturunannya tinggal sebagai pendatang (2-5). Allah menyertai Yusuf di Mesir (9-10), mendidik Musa dengan hikmat Mesir (22) dan menampakkan diri-Nya kepadanya di padang gurun sehingga tempat itu menjadi kudus (30, 33). Tema ini berpuncak dengan Stefanus mengutip Yes 66:1-2 untuk menegaskan bahwa Allah jauh lebih besar daripada Bait Allah (49-50).
  • Soal Hukum Taurat dia menempatkan para penuduhnya pada aliran dalam sejarah Israel yang melawan Allah. Bapa-bapa leluhur Israel menjual Yusuf (9), dan Israel menolak Musa (35) yang menubuatkan Yesus sendiri (37), dan tidak taat setelah dia menjadi pemimpin Israel (38-39) sehingga membuat anak lembu (40-41). Tema ini berpuncak dengan tuduhan balik Stefanus bahwa mereka telah membunuh Yesus sama sepert para nabi sebelumnya (51-52). Maka merekalah yang tidak taat kepada Hukum Taurat (53).

Dengan demikian, kecaman Stefanus mirip dengan kecaman Yesus. Soal tempat bnd. Lk 4:16-30 yang menekankan Allah bekerja di luar Israel serta p.20 (penyucian Bait Allah). Soal Hukum Taurat bnd. Lk 11:37-54 serta perselisihan-Nya yang terus-menerus dengan orang Farisi soal penafsiran Hukum Taurat.

Apa bedanya antara Yesus dan Stefanus dengan orang-orang Yahudi yang lain? Sepertinya para penafsir Yahudi cenderung menafsir Kitab Suci (PL) sebagai seperangkat hukum yang tetap dan tidak bisa berubah. Sedangkan Yesus melihat Kisah Agung Kitab Suci sebagai intinya, yaitu apa tujuan Allah untuk dunia ini. Dengan demikian pemahaman Yesus dan Stefanus melihat peluang untuk perluasan misi Allah yang tidak mengutamakan lagi Bait Allah sebagai tempat dan Hukum Taurat sebagai aturan. Pemahaman itu yang meletakkan dasar untuk penyebaran Injil kepada bangsa-bangsa.

Mungkinkah jemaat-jemaat sekarang hilang semangat misinya karena Alkitab menjadi sumber aturan daripada Kisah tentang karya dan rencana Allah yang Agung?


0b. Kisah Agung Alkitab

Mei 8, 2008

Bagian sebelumnya menempatkan pemahaman saya tentang Alkitab antara liberal dengan fundamentalis, yaitu bahwa melalui kepelbagaiannya, Alkitab menyampaikan firman yang satu, yakni Kristus. Lebih tajam lagi, saya mau mengusulkan bahwa Kristus disampaikan dalam konteks suatu Kisah Agung. Kisah itu merupakan usaha Allah untuk mewujudkan suatu umat milik-Nya sendiri (Kel 6:6, Why 21:3).

  • Pendahuluan Kisah itu adalah Kej 1-2, yang di dalamnya kedua tokoh besar (Allah dan manusia) diperkenalkan dan latar seluruh kisah (dunia yang diciptakan Allah untuk manusia diam di dalamnya sebagai umat-Nya).
  • Kisah itu digerakkan oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kej 3) yang akibatnya diuraikan dalam Kej 3-11. Perisitiwa itu merupakan halangan besar untuk tujuan Allah karena manusia harus diusir dari hadapan-Nya.
  • Panggilan Abraham (Kej 12), pembentukan Israel (Kel 19) dan kerajaan Daud (2 Sam 7) merupakan tahap-tahap penting dalam usaha Allah untuk mewujudkan kembali umat itu, tetapi pembuangan ke Babel menunjukkan bahwa usaha-usaha itu belum berhasil (Yer 31:31-34).
  • Kristuslah yang menjadi titik balik sebagai Israel / manusia yang sejati ketika Dia mendatangkan kerajaan Allah dalam kematian dan kebangkitan-Nya.
  • Kedatagan-Nya kembali akan menjadi puncak Kisah Agung ini, dengan ciptaan baru sebagai resolusi yang di dalam-Nya cita-cita Allah sudah terwujud (Why 21-22).

Beberapa implikasi dari usulan di atas:

  1. Penyataan Allah dinamis. Pemahaman tentang siapakah Allah, bagaimana berelasi dengan-Nya, apa kehendak-Nya berkembang dalam kisah Alkitab.
  2. Dengan demikian, satu bagian harus ditafsir sesuai dengan tempatnya dalam Kisah Agung itu. Yang berlaku untuk Israel belum tentu tepat dalam zaman gereja (seperti soal daging babi dan perang suci).
  3. Hal itu memberi ruang untuk kepelbagaian, yang dapat dihargai dalam tempatnya masing-masing dalam Kisah Agung itu. Perang suci ala kitab Yosua tidak ditolak begitu saja, tetapi juga tidak diterima tanpa melihat bagaimana bentuk kerajaan Allah pada masa gereja.
  4. Alkitab berbentuk misi, yaitu rencana Allah (missio Dei) yang mengarahkan hidup kita.

Seri Pemahaman PL


Kis 3:1-10

April 8, 2008

Dalam kisah ini kita melihat satu segi dari gambaran umum dalam Kis 2:42-47, termasuk 2:43b dan 2:46a. Hal itu perlu diamati, karena yang dilakukan para rasul adalah bagian dari kesaksian seluruh jemaat, suatu pertanda—seperti kesatuan jemaat dan pembagian harta milik—bahwa ciptaan baru (“kerajaan” 1:6) mulai didirikan. Meskipun kehebatan tanda dan mujizat dan keberanian bersaksi mendapat sorotan besar dalam kitab ini, kesatuan juga mendapat sorotan (doa bersama 4:23-31), serta pembagian harta milik dalam pelanggarannya (Ananias dan Safira dalam 5:1dst).

Sebaliknya, bukan hanya keharmonisan tetapi juga keberanian gereja perdana yang diberi tekanan oleh Lukas. Petrus ternyata sudah belajar dari pelatihannya seperti dalam Luk 10, dan tanpa ragu menawarkan penyembuhan dalam nama Kristus (3:6), kemudian mengambil kesempatan untuk berkhotbah (3:12dst). Mungkin hanya sedikit orang sejak zaman para rasul yang diberi karunia penyembuhan sehebat mereka, tetapi kesempatan untuk memberi pertolongan yang mengubah hidup dalam nama Kristus tetap ada. Kadangkala memberi sedekah dan berjalan terus justru lebih gampang.

Kasih karunia Allah ditunjukkan oleh ketidakmengertian si pengemis, yang menatap kepada Petrus dalam harapan yang sangat sempit. Namun, Allah tetap menolongnya lewat Petrus. Tanggapannya cocok sekali—berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah. Pujian itu menjadi kesaksian tersendiri (3:9-10). Kalau saya memikirkan bagaimana sempitnya dan lumpuhnya hidup saya tanpa Kristus, semestinya saya juga siap gembira dan bersaksi!


Kis 4:23-31 Mazmur 2 dan Gereja

Maret 25, 2008

Pemakaian Mazmur 2 oleh jemaat perdana menarik. Tentu, Yesus ditafsir sebagai Mesias, hamba Tuhan (seperti Daud) yang kudus, yang diurapi dan diberi kuasa atas bangsa-bangsa. Persekongkolan bangsa-bangsa diterapkan pada persekongkolan Herodes dan Pilatus, sehingga Israel ikut di dalamnya! Dan tentu Israel yang sedang meneruskannya terhadap gereja perdana.

Bagaimana balasan Sang Mesias, seperti Mzm 2:9 (“Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi”)? Gagasan itu tidak hilang dalam PB dalam rangka kedatangan Yesus kembali (bnd. Why 19:15, atau 1 Kor 15:24-26 yang mengutip Mzm 110:1). Tetapi dalam Kisah Para Rasul (dan barangkali sepanjang zaman gereja) kerajaan Kristus diterapkan dengan penyembuhan, tanda dan mujizat (4:30), termasuk kesatuan jemaat sendiri (4:32-37). Kekerasan terhadap para musuh Allah adalah cara terakhir yang dilakukan Allah sendiri, setelah semua pertunjukan kasih-Nya ditolak. Cara yang diizinkan bagi kita adalah pemberitaan dalam kuasa Roh.


Kis 7:54-8:1a Akibat Khotbah Stefanus

Maret 13, 2008

Khotbah Stefanus mengutamakan kebenaran di atas kedamaian, malahan kebenaran bukan tentang ketidakadilan atau masalah sosial lainnya melainkan tentang Allah. Para pemimpin Yahudi salah dan sesat, dan Stefanus dengan gamblang dan tajam menelanjangi hati mereka. Banyak di dalam gereja modern yang akan menilai cara Stefanus kurang bijak, apalagi mengingat penganiayaan yang menyusul. Tetapi menurut Lukas Stefanus berbicara menurut Roh Allah sendiri (7:55) sebagai orang yang terserah kepada Allah (7:59) dan yang kepadanya sorga terbuka sebelum dia meninggal.

Stefanus berbicara dalam rangka pernyataan Yesus dalam Lk 21:12-15 bahwa murid-murid-Nya akan ditangkap, dan bahwa hal itu adalah kesempatan untuk bersaksi dengan hikmat dari Yesus sendiri. Lukas menekankan bagaimana kuasa Allah mengiringi Stefanus (Kis 6:15; 7:55). Oleh karena kuasa itu, ada suatu kejutan. Dalam perikop kita khotbah Stefanus yang gamblang dan menusuk itu dinyatakan sebagai pelampiasan kasih, bukan pelampiasan amarah. “Taat kepada Allah, bukan manusia” (5:29) yang menjiwai khotbah Stefanus bermuara pada penglihatan kemuliaan Allah dan Yesus yang berdiri (untuk menyambut hamba-Nya yang setia?). Kasih kepada sesama (supaya mereka bertobat dan hidup) bermuara pada doa agar mereka diampuni (5:60), sesuai teladan Yesus sendiri.

Bandingkan para pemimpin Yahudi, yang juga mengutamakan kebenaran di atas kedamaian tetapi dalam amarah, bukan dalam kasih. Mereka seakan-akan mengikuti aturan Taurat mengenai penghujat (Im 24:16; Ul 13:6-11), tetapi telinga yang tertutup menggambarkan hati mereka yang keras. Hikmat Gamaliel (Kis 5:38-39) telah diabaikan dalam amarah mereka. Mereka “berseru dengan suara nyaring” (7:57 secara harfiah) untuk membunuh, sementara Stefanus berseru untuk pengampunan (7:60).

Berpegang pada kebenaran Kristus sekalipun hal itu bermuara pada konflik selalu sulit. Apalagi melakukannya dalam kasih kepada Allah dan manusia seperti Stefanus! Pada hemat saya, gereja sering jatuh ke dalam dua kesalahan: asal damai (PGI?), dan asal bersuara (Pentakosta?). Cara yang tepat dimungkinkan oleh Roh Kudus. Jika bukan Roh Kudus yang memenuhi kita dalam menyuarakan suatu kebenaran, maka kita akan menjadi seperti para pemimpin Yahudi, dengan telinga tertutup dan penuh amarah.


Kis 9 Allah memanggil alat pilihan-Nya

Maret 7, 2008

Sebelum Dia naik ke sorga, Yesus mengutus para murid-Nya untuk menjadi saksi-Nya dari Yerusalem sampai ke ujung bumi. Namun, sampai dengan khotbah Stefanus, tidak ada sedikitpun gejala bahwa jemaat di Yerusalem mau ke mana-mana. Sama seperti khotbah Yesus dalam Luk 4, khotbah Stefanus dengan tajam menunjukkan bahwa Allah berkarya di luar Israel. Stefanus juga mengulangi tuduhan bahwa pimpinan Yahudi membunuh utusan Allah. Ternyata kesabaran pemimpin Yahudi sudah cukup habis sehingga seorang pemuda yang sangat giat bagi Allah dan tega menganiaya jemaat diberi keleluasaan untuk mengejar jemaat. Alhasil, Injil sampai di Samaria bahkan Etiopia!

Tetapi hal-hal itu belum cukup bagi Allah dalam rangka menuai kebaikan dari badai. Dia justru memanggil penganiaya itu menjadi tokoh terpenting dalam penyebaran Injil. Yes 40-55 antara lain menawarkan harapan bahwa bangsa-bangsa dan raja-raja akan melihat karya Tuhan (mis. Yes 52:15), dan Paulus yang menjadi alat untuk hal itu. Sama seperti hamba Tuhan dalam Yesaya, dan Kristus sendiri, Paulus harus menderita, suatu pertanda bahwa dia mendapat bagian dalam rencana Allah (bnd. Yes 49:1-7; 51:4-7; Kis 5:41).

Lukas tidak merincikan doa Paulus selama dia berpuasa. Kita hanya dapat membayangkan pergumulan Paulus menemukan bahwa selama itu dia hidup “tanpa pengetahuan yaitu di luar iman” (1 Tim 1:13). Menurut Paulus sendiri, perjumpaannya dengan Kristus adalah “agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya…aku menjadi contoh” (1 Tim 1:16). Jadi, dia mengalami secara jasmani penerangan yang dia gambarkan dalam 2 Kor 4:6. Dia buta dan berpuasa total selama tiga hari seakan-akan dia dikuburkan dengan Kristus sampai dia bangkit (LAI bangun) pada hari ketiga (bnd. Rom 6:4). Itu semua gambaran dari pertobatan yang menyeluruh dan mendalam. Contohnya bukan adanya cahaya dsb secara harfiah, tetapi kesadaran akan siapakah Kristus sehingga kita tidak dapat memandang dunia ini sama lagi.

Ananias menjadi yang pertama dari sederetan orang percaya yang memungkinkan pelayanan Paulus. Yang berikut adalah orang-orang percaya di Damsyik yang menolong Paulus melarikan diri, kemudian Barnabas yang berani menerima Paulus di Yerusalem. Rekan-rekan Paulus yang disebutkan dalam surat-suratnya berjumlah berpuluh-puluh. Dalam rangka panggilannya, Paulus tidak pernah menjadi lebih dari sebuah alat yang dipakai Tuhan sebagai bagian dari tubuh-Nya. (Tentu saja juga, sebagai anak Allah Paulus berharga dan dikasihi!)


Kis 5 Hidup dan misi jemaat

Maret 7, 2008

Gambaran tentang gereja perdana dalam pasal-pasal awal Kisah Para Rasul menonjolkan hidup jemaat dan misi pemberitaan. Kedua segi itu saling berkaitan. Dua kali Lukas mengatakan bahwa jemaat disukai dan jumlahnya bertambah (2:47; 5:13-14). Kedua kali itu mengantarkan dua cerita tentang pemberitaan Petrus dan Yohanes di Bait Allah. Di antara kedua kali itu ada doa jemaat (hidup bersama) tentang misi pemberitaan (4:23-31). Cerita tentang Ananias dan Safira (5:1-11)—yang sepadan dengan peristiwa mengenai Akhan di Yerikho—mengingatkan bahwa jemaat perdana tidak sempurna. Namun, para rasul tetap takut akan Allah.

Kemudian, golongan Saduki yang termasuk pimpinan tertinggi “bangkit” untuk menanggapi gerakan yang makin populer ini (5:17). Terjemahan biasa mengatakan bahwa mereka iri hati, maksudnya terhadap sukses jemaat perdana. Tetapi kata zelos dapat juga berarti sangat giat (lihat Rom 10:2) dalam membela iman Yahudi, seperti gerekan Zelot. Apakah mereka mengingini “kesuksesan” para rasul, atau mereka merasa terancam dan harus bertindak (seperti a.28)? Saya teringat akan reaksi gereja-gereja mapan terhadap gerakan-gerakan baru (seperti Pentakosta), bahkan akan reaski agama dominan ketika agama lain menarik pengikut baru.

Allah bermain-main dengan mereka melalui malaikat yang membawa para rasul keluar dari penjara, sehingga mereka kebingungan. Apakah hal itu memicukan nasihat Gamaliel yang berhikmat itu? Gamaliel menganggap bahwa Allah akan bertindak dalam sejarah untuk menunjukkan siapakah Mesias palsu, tetapi bukankah Allah sudah bertindak dengan melepaskan para rasul dari penjara? Kalaupun ironi usulan Gamaliel disadari oleh Gamaliel sendiri, hal itu sama sekali tidak disadarkan oleh sidang itu. Mereka sempat melampiaskan kemarahan mereka dengan penyesahan, tetapi para rasul dilepaskan dan “jumlah murid makin bertambah” (6:1).

Di pertengahan cerita ini ada jawaban Petrus. Secara ringkas Petrus memberitakan Injil, yaitu tindakan Allah dalam Kristus sehingga pertobatan dan pengampunan ditawarkan kepada Israel. Walaupun berhadapan dengan ybs, Petrus tidak mengurangi tuduhannya tentang ketidakadilan mereka “membereskan” Yesus. Dia menunjukkan suara kenabian sekaligus pemberitaan Injil.

Petrus memiliki misi. Mahkamah Agung hanya mau mempertahankan kedudukan. Kita bagaimana?


Membangun persekutuan dalam misi

Februari 4, 2008

Saya bisa melayani di Toraja selama enam tahun karena banyak pendukung di Australia yang mendoakan saya dan memberikan sumbangan kepada misi saya. Di konferensi yang saya ikuti saya ketemu beberapa dari mereka. Selama beberapa bulan ke depan, saya akan mengunjungi 9 jemaat yang menopang saya selama tujuh tahun di Indonesia. Pada umumnya, saya diberi kesempatan untuk berkhotbah pada hari Minggu tentang misi Allah, dan juga untuk berbicara dengan berbagai kelompok (OIG, kelompok kecil dsb) sepanjang minggu berikutnya.

Tujuan saya yang pertama adalan membangun kesadaran jemaat tentang karya Allah yang jauh lebih luas daripada Sydney. Termasuk mendoakan STAKN, GT, Perkantas dsb! Yang kedua, saya mau supaya orang memahami bagaimana mendukung misi saya adalah mendukung misi Allah. Maksudnya, supaya mereka berdoa demi kemuliaan Allah dan memberi demi kerajaan-Nya, bukan dalam rangka saya secara pribadi. Perkunjungan ini enak karena banyak yang sudah memiliki visi begitu.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 918 pengikut lainnya.