Rom 5:1-5 Bermegah dalam Allah karena Kristus [25 Desember 2011] (Natal Malam)

Desember 22, 2011

Perikop ini bukan perikop biasa untuk Natal. Namun, pada Natal kita perlu tidak hanya terharu oleh kelahiran Kristus yang sederhana serta bermakna, tetapi juga dikuatkan dalam makna bahwa Dia mengambil bagian dalam dunia kita. Perikop ini berbicara tentang harapan dan penderitaan, pengalaman biasa manusia dalam dunia ini.

Penggalian Teks

Struktur perikop ini harus mencakup aa.1-11. Dalam aa.1-2 kita bermegah dalam pengharapan; aa.3-5 meringkas mengapa kita bermegah dalam kesengsaraan; aa.6-10 menjadi bukti dari aa.1-5 tadi berdasarkan kematian Kristus; dan a.11 memberi kesimpulan bahwa kita bermegah dalam Allah. Bermegah dalam konteks ini merujuk pada apa yang paling berarti dalam kehidupan orang. Orang Yahudi bermegah dalam Allah karena memiliki Hukum Taurat (2:17, 23). Orang Toraja bermegah dalam tongkonan karena ada upacara orang mati yang hebat. Paulus bermegah dalam Allah dalam Kristus karena melalui kesengsaraannya dia akan mencapai kemuliaan Allah. Untuk memahami perikop ini lebih dalam, kita perlu melihat perikop ini dalam konteks lebih luas.

Rom 1:18-3:20 telah mengangkat dosa sebagai masalah mendasar manusia. Masalah dosa bisa dilihat dari tiga aspek: karena dosa berarti membelakangi Allah, dosa menimbulkan murka-Nya (1:18); dosa merugikan sesama (mis., 3:10-18); dan dosa berarti merusak gambar Allah di dalam dirinya sendiri (3:23, “kehilangan kemuliaan Allah”). Cara hidup yang tidak merugikan sesama akan dibahas dalam pp.12-15; pembaruan diri menjadi tema pp.6-8 (mis., 8:29 “menjadi serupa dengan Kristus”). Tetapi, yang pertama dibahas Paulus adalah pembenaran dalam 3:21-4:25, yaitu, bagaimana manusia berdosa diterima Allah sebagai orang benar. Bahasa Paulus mengejutkan: Allah “membenarkan orang durhaka”, “orang yang tidak bekerja, namun percaya” (4:5). Itulah cara Paulus untuk menegaskan bahwa amal manusia tidak ada sangkut paut dengan pembenarannya—pembenaran oleh iman adalah anugerah kepada orang yang tidak layak berdasarkan kasih karunia, yaitu, perkenan atau sikap baik Allah. Pemberian itu diterima dengan dipercayai, bukan diraih melalui perbuatan-perbuatan baik.

Jadi, perikop ini berfungsi sebagai peralihan dari soal pembenaran oleh iman ke soal implikasinya, yaitu, pembaruan diri. Implikasi itu mencakup soal kasih karunia yang mengalahkan dosa (5:12-8:16) serta penderitaan yang ditanggung dalam pengharapan (8:17-39).

Aa.1-2 menyimpulkan hasil dari pembenaran tadi: sebagai ganti dimurkai Allah, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Hal itu terjadi oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus, yang juga memungkinkan kita masuk ke kasih karunia, dan tidak hanya masuk tetapi juga berdiri di dalamnya. Kasih karunia diibaratkan zona aman di mana kita telah berdamai dengan Allah. Lebih lagi, di zona aman kasih karunia itu, kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah (2b). Jika aa.1-2a meringkas bagian sebelumnya, gagasan baru itu mengantarkan tema pp.6-8. Kerusakan gambar Allah akan dipulihkan di dalam orang-orang yang berdiri di zona kasih karunia yang dibentuk oleh Kristus.

Ayat yang berikut (3) pada awalnya mengejutkan: kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita. Ternyata pengharapan itu terjangkau melalui rangkaian di dalam aa.3-4: kesengsaraan, ketekunan, dan tahan uji. Pengharapan dapat merujuk pada apa yang diharapkan (pengharapan objektif) atau sifat berharap (pengharapan subjektif), dua segi yang tentunya tak terpisahkan. Dalam a.2 segi objektif yang dimaksud: kita bermegah dalam pengharapan akan perubahan yang akan terjadi (objektif), bukan dalam kemampuan kita untuk berharap akan perubahan (subjektif). Tetapi aa.3-5 berbicara tentang pewujudan segi subjektif, bagaimana pengharapan menjadi daya gerak yang kuat dalam kehidupan orang percaya. Pada umumnya kesengsaraan membuat manusia merasa dikutuk oleh Allah, hancur dalam dirinya, dan dibenarkan melakukan berbagai dosa untuk luput daripada sengsara itu. Dengan kata lain, kesengsaraan meneguhkan manusia dalam masalah dosa tadi. Tetapi dalam Kristus, kesengsaraan menjadi kesempatan untuk bertekun dalam zona kasih karunia itu, dan bertekun demikian membentuk karakter, kata lain untuk tahan uji, yakni sifat-sifat yang kuat di dalam diri seseorang. Dengan karakter seperti itu, pengharapan subjektif menjadi suatu daya gerak yang efektif, karena orangnya akan bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan, yakni, menjadi serupa dengan Kristus, bukan sesuai dengan kesusahan yang dihadapi.

Namun, membentuk pengharapan subjektif hanya berguna jika segi objektifnya layak diharapkan. Paulus menjawab soal itu dengan pembuktian tentang kasih Allah, tema yang muncul dengan jelas untuk pertama kalinya dalam kitab Roma di sini. Kasih itu dikenal dalam hati kita (secara subjektif) karena Roh Kudus yang diberikan kepada kita (5). Tetapi bukti objektifnya ada dalam pengorbanan Kristus (6-10). Dalam ayat-ayat ini Paulus meringkas apa yang sudah disampaikan dalam pasal-pasal sebelumnya, tetapi dalam rangka membuktikan kasih Allah, bukan keadilan-Nya sebagai Hakim. Kristus mati bagi orang berdosa yang tidak berdaya (6). Dia mati bagi bagi orang yang tidak layak, berbeda dengan kasih manusia yang membalas budi (7-8). Itulah dasar pembenaran. Dan karena kita sudah dibenarkan sekarang oleh darah-Nya, kita dapat yakin bahwa kita akan diselamatkan dari murka Allah pada penghakiman terakhir (9). Dengan kata lain, jika musuh telah menjadi sahabat karena kematian Kristus, lebih lagi Dia yang hidup akan membawa kita sampai selamat (10). Kematian Kristus, yang menjadi sarana Allah yang adil untuk membenarkan orang durhaka dalam pp.3-4, di sini menjadi bukti kasih Allah yang akan membawa orang sampai keselamatan eskatologis. Jadi, ada dasar untuk pengharapan bahwa kita akan mencapai kemuliaan Allah, sehingga bermegah dalam kesengsaraan yang menguatkan pengharapan itu masuk akal, lebih lagi mengingat bahwa Kristus telah berbagi dalam penderitaan kita di sini (tema itu menjadi lebih jelas dalam 8:17-18).

Oleh karena itu, Paulus mengajukan alasan untuk orang percaya bermegah dalam Allah: bukan karena Hukum Taurat menjadi landasan hidupnya melainkan karena Kristus telah membuka jalan pendamaian dengan Allah (a.11). Pp.6-8 akan menguraikan hal itu lebih lanjut.

Maksud bagi Pembaca

Setelah meyakinkan para pendengar surat di Roma bahwa status benar diterima sebagai anugerah di dalam Kristus (3:21-4:25), dalam perikop kita Paulus mau supaya mereka bermegah dalam Allah sesuai dengan dasar anugerah itu, bukan atas dasar yang lain. Ada dua segi yang diangkat Paulus. Yang pertama, dia mengajukan harapan akan pemulihan kerusakan gambar Allah dalam diri kita. Kerinduan yang dimiliki baik oleh orang Yahudi maupun oleh sebagian orang non-Yahudi untuk menjadi manusia yang baik itu akan diwujudkan dalam ranah kasih karunia, bukan Hukum Taurat (ataupun berbagai cara yang diajukan para filsuf Yunani). Yang kedua, dia menempatkan kesengsaraan sebagai bagian dari proses pemulihan itu. Yang khas di sini bukan bahwa penderitaan membentuk karakter, melainkan bahwa kasih Allah yang dialami oleh Roh dan terbukti dalam kematian Kristus menjadi penjamin pengharapan yang dikuatkan oleh kesengsaraan itu. Dengan demikian, Paulus secara ringkas telah menunjukkan bagaimana Injil kasih karunia adalah dasar untuk menjadikan Allah sebagai hal paling penting dan menarik dalam kehidupan kita, sekalipun di tengah berbagai pergumulan.

Makna

Soal bermegah adalah hal yang kunci dalam psikologi manusia. Sesuatu yang dimegahkan akan mengendalikan kehidupan kita, sesuatu yang tidak dimegahkan akan diabaikan jika dianggap mengganggu kepentingan kita. Adalah berguna kita bertanya, sejauh mana jemaat bermegah dalam adat, atau materi, atau gengsi, atau sesuatu yang lain. Perikop ini menyampaikan alasan yang kuat untuk bermegah dalam Allah melalui Kristus. Namun, saya melihat beberapa masalah dalam menyampaikan penguraian Paulus.

Yang pertama, di dalam jemaat ada yang sepertinya tidak rindu untuk mengenal Allah, dan tidak peduli tentang jarak antara keadaannya sebagai orang berdosa dan kemuliaan Allah yang diharapkan dalam a.2. Jika sikap itu muncul dalam sikap atau tindakan yang tidak disukai, pengkhotbah bisa tergoda untuk mengecam jemaat ketimbang membawa mereka kepada Kristus. Misalnya, pengkhotbah mengangkat kekurangan jemaat dibandingkan dengan standar kemuliaan Allah, dan menegor jemaat karena kurang saling mengasihi, menyumbang, atau entah apa lagi yang sedang mengganggu pengkhotbah. Padahal, dasar Paulus adalah Injil, berita tentang Kristus, dengan fokus di sini pada kematian-Nya sebagai dasar pembenaran dan bukti kasih Allah. Dia percaya bahwa berita kasih karunia itu menawarkan pengharapan yang kokoh akan kemuliaan Allah, dan di dalam kesusahan dan oleh kuasa Roh Kudus pengharapan itu akan menjadi daya yang kuat untuk mengubah kehidupan manusia sekarang. Pada hemat saya, tugas utama kita adalah menguatkan jemaat yang rindu akan Allah dengan pengharapan berdasarkan pengorbanan Kristus. Biar dengan kasih Allah dalam Kristus dijunjung tinggi, jemaat yang belum rindu akan dijamah oleh kuasa Roh Kudus sehingga bermegah dalam Kristus, bukan gengsi dsb. Hal itu tentu lebih mudah jika penghkotbah sendiri bermegah dalam Allah.

Yang kedua, soal bermegah itu menyangkut kemampuan untuk berpikir jangka panjang. Dalam budaya tradisional, orang Toraja yang sudah dewasa juga sudah mulai memikirkan upacara kematian-Nya, walaupun sisa hidupnya kemungkinan masih berpuluh-puluh tahun. Generasi muda mungkin lebih sulit berpikir jauh, tetapi dalam budaya Toraja bukannya tidak mungkin untuk orang bertindak berdasarkan suatu harapan yang masih jauh-jauh hari ke depan. Jadi, masalah dalam bertekun dalam pengharapan lebih terletak pada apa yang dimegahkan. Jika kasih Allah belum dirindukan, tentu kita tidak akan bertekun dalam kesengsaraan jika ada jalan pintas keluar. A.5 penting dalam konteks ini. Jika dalam Roh Kudus kita mencicipi kasih Allah sekarang, kita akan mencari lebih, walaupun dalam kesusahan. Seperti dikatakan di atas, hal itu akan terjadi karena orang menangkap kasih Allah dalam kematian Kristus. Seperti biasa, ketika Paulus berbicara tentang kasih Allah, bukan pemeliharaan Allah yang dia tonjolkan. Bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita (yakni, menjadi serupa dengan Kristus dan dimuliakan, bdk. 8:28-30 dalam rangka 8:17-18) hanya layak dipercayai karena 5:6-10 ini, dan hanya akan diimani dalam kesengsaraan jika 5:5 telah dialami.

Semoga peringatan masa Natal bahwa Allah Anak menjadi manusia sejati bagi kita membangkitkan kerinduan kita untuk menerima kemuliaan Allah.


Selamat Natal

Desember 16, 2011

Kepada rekan-rekan yang sudah memeriahkan blog ini, baik pembaca (akhir-akhir ini di atas 2.000 hits per bulan) maupun pemberi komentar, terima kasih atas minat dan perhatian. Blog ini diperuntukkan bagi para pelayan untuk persiapan khotbah. Makanya, susunannya dan bahasanya tidak cocok untuk dipakai di mimbar, dan isinya tidak mudah dicerna seperti renungan harian. Saya berharap isinya dapat memperkaya para pembaca, baik untuk khotbah yang dikerjakan, maupun dalam pemahaman lebih dalam akan makna firman Tuhan. Semoga kelebihannya dapat dimanfaatkan, dan kekurangannya dimaafkan.

Saya tidak akan banyak posting lagi tahun ini. Tentang renungan hari Natal pagi pernah ada posting sederhana (Matius 1:18-25). Posting untuk hari Natal malam (Rom 5:1-5) kemungkinan akan muncul karena akan saya khotbahkan. Sama halnya untuk tgl 1 Januari. Tetapi beberapa yang lain tidak akan disinggung. Semoga prinsip-prinsip khotbah ekspositori tetap diterapkan, yaitu memakai teks untuk menyampaikan pesan yang muncul dari teks, dengan tidak mengabaikan Allah yang menjadi sasaran iman kita, sumber kasih kita, dan penjamin harapan kita. Di tengah kesibukan Natal yang amat padat untuk para pelayan, semoga Tuhan yang memberi sukacita karena kita diperkenan mengajak orang untuk mengenal Dia di dalam Kristus yang lahir di antara kita.

Selamat Natal.


Yoh 3:22-36 Meresponsi Anak Allah yang ada di atas semuanya

Desember 22, 2010

“Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya”—dua kali Yohanis mengucapkan pernyataan ini dalam a.31. Pernyataan ini meneguhkan penerimaan Yohanis bahwa Kristus harus makin besar dan Yohanis makin kecil (a.30), seperti digambarkan dalam aa.22-26. Yohanis tidak muncul lagi dalam Injil ini (hanya kesaksiannya disebutkan beberapa kali), dan aa.31-36 ini merupakan kesaksian terakhir sang saksi Terang yang sesungguhnya (1:7, 9).

Dalam aa.31-34 Yohanis berbicara tentang Yesus sebagai nabi, tetapi nabi yang datang dari sorga sehingga kesaksian-Nya tentang hal-hal sorgawi adalah sebagai saksi mata, beda dari Yohanis yang hanya dapat berbicara sebagai orang yang berasal dari bumi. Dalam a.34 Yesus adalah utusan Allah yang menyampaikan firman Allah, sama seperti Yohanis, sehingga menolak kesaksian Yesus adalah menolak kejujuran Allah sendiri (a.33). Hanya, Yesus melebihi nabi-nabi yang lain karena Dia dikaruniakan Roh Allah tanpa batas (bnd. 1:32-33). Hal itu terjadi karena Yesus juga adalah anak Allah yang kepada-Nya Allah memberi “segala sesuatu” tanpa batas (a.35). Istilah “anak Allah” dari satu segi sama dengan Mesias, yaitu utusan Allah yang mewakili kerajaan Allah di bumi. Sebagai Mesias Yesus dapat menerima bukan hanya Roh Kudus tetapi juga “segala sesuatu” yang diperlukan dalam rangka mewujudkan damai sejahtera Allah dalam dunia-Nya (bnd. Yes 9:1-6; 11:1-10). Dari “segala sesuatu” itu, Injil ini berfokus pada hidup yang kekal, yaitu kuasa untuk menjadi pewaris kerajaan Allah itu. Yang diberikan kepada Yesus bukan hanya firman Allah, tetapi juga hidup kekal itu (bnd. 10:28-29).

Namun, karena anak Allah ini datang dari sorga, artian keanakan-Nya melebihi apa yang diharapkan dari PL tentang Mesias. Hal itu sudah diangkat dalam 1:14-18 dan diuraikan lebih jauh dalam 5:19-47. Melihat Yesus adalah melihat Bapa-Nya. Kuasa untuk menjadi pewaris kerajaan Allah adalah kuasa untuk menjadi anak Allah di dalam Sang Anak itu (1:12-13). Dengan demikian, akibat dari dua respons terhadap Yesus masing-masing dahsyat. Orang yang percaya kepada Anak menerima hidup kekal (a.36a), artinya bukan hanya hidup tanpa batas tetapi hubungan dengan Allah sebagai anak, suatu hubungan yang akan menyatakan dan menyempurnakan harkat kita sebagai manusia. Sebaliknya, orang yang menolak kesaksian Yesus tidak hanya menolak seorang nabi tetapi menolak Anak Allah, sehingga tidak melihat hidup (alias berada dalam kegelapan dan kemanusiaannya makin lama makin hancur), karena berada di bawah murka Allah (a.36b).

Semoga Natal ini membawa penerimaan Yesus yang terwujud dalam cara hidup yang sudah mulai beraroma kekekalan. Sampai jumpa kembali dalam tahun baru.


Yoh 1:9 Terang yang sesungguhnya

Desember 16, 2010

Manusia takut akan kekacauan dan rindu akan keteraturan, tatanan dunia yang stabil. Tentu dunia bisa terlalu stabil sampai membosankan, tetapi kekacauan layak ditakuti: kekacauan bumi berbentuk bencana alam, kekacauan masyarakat berbentuk anarki, kekacauan dalam batin diri, semuanya mengancam kehidupan dan merusak rencana dan cita-cita. Makanya, semua budaya memiliki suatu konsep tentang tatanan dunia, mencakup bumi, masyarakat dan pribadi. Bagi orang Toraja masa lampau ada aluk to dolo. Bagi orang Yunani ada logos (firman), rasio yang semestinya mengatur dunia politik dan pribadi. Bagi orang Yahudi, Allah menciptakan dunia dengan berfirman, kemudian mengatur kehidupan umat-Nya dengan Taurat.

Mengancam kehidupan artinya berpihak pada maut. Merusak rencana dan cita-cita artinya membuat gelap. Jadi, Yohanes menjelaskan bahwa firman itu wadah kehidupan dan terang (a.4). Kegelapan mengancam terus, tetapi terang itu tetap ada (a.5), karena memang firman itu berakar dalam Yang Ilahi sendiri (a.1).

Sampai di situ bahasa perikop menyambung dengan mungkin hampir semua filsafat dunia. Tetapi dalam a.6 kita mulai melihat sesuatu yang konkret: ada saksi tentang terang ini. Dari satu segi adanya saksi tentang terang tidak masuk akal. Terang adalah hal yang paling mudah dilihat! Tetapi banyak filsafat dan agama sadar tentang kebutaan manusia yang justru sulit mengenali firman yang mendasari kehidupan ini. Saksi ini adalah Yohanes (disebut Pembaptis dalam Injil-Injil yang lain). Yang menarik, penulis Injil (yang menurut tradisi gereja juga bernama Yohanes, tetapi lain orangnya) membantah kalau Yohanes ini adalah terang. Bukankah seorang utusan Allah (a.6) yang membawa umat percaya pada firman Allah (a.7) itu layak dianggap sendiri sebagai pembawa terang? Seperti para nabi dalam PL, atau para filsuf Yunani, atau, mungkin (saya kurang tahu), to minaa dalam aluk, dia menerangi jalan hidup. Tetapi dia ditempatkan sebagai saksi saja. Terang yang sesungguhnya datang pada saat Yohanes bersaksi (itu maksudnya kata “sedang” dalam a.9, bukan masa kita tetapi masa Yohanes), tetapi Yohanes bukan terang itu.

Sebelum penulis Injil menjelaskan teka-teki itu, dia bercerita tentang penerimaan terang itu. Aa.10-11 menegaskan apa yang dikatakan di atas, bahwa banyak orang sulit mengenali firman yang mendasari hidup mereka. Nabi-nabi PL membuktikan bahwa Israel sulit hidup sesuai dengan terang Taurat, padahal mereka merupakan “kepunyaan” Taurat, artinya mereka dibentuk oleh Taurat itu sebagai umat Allah. Tersirat di dalam pernyataan ini adalah pemahaman bahwa firman itu tidak dapat diterima secara formal saja, tetapi perlu dipercayai, malah dihayati. Hal itu menjadi jelas dalam aa.12-13, yang menggambarkan orang yang menerima firman itu. Mereka dapat menjadi anak-anak Allah, artinya memiliki relasi yang akrab dengan Allah, bukan karena soal keturunan tetapi karena Allah membawa hidup baru ke dalam kehidupan mereka. Dengan mengenali tatanan dunia yang sebenarnya, yang menjadi dasar keteraturan dalam diri dan masyarakat, orangnya berubah pada tingkat paling mendasar dalam dirinya.

Gagasan itu sudah menantang agama seperti aluk to dolo, yang tidak banyak mencita-citakan relasi dengan yang ilahi (kecuali mungkin dalam bentuk leluhur yang sudah menjadi ilahi), dan lebih mementingkan kuasa untuk mengatur dunia ini daripada kuasa menjadi anak Allah yang diatur oleh firman Allah. Sebagian besar penganut agama apa saja juga demikian. Namun, dalam banyak agama ada aliran “mistis” yang mau memiliki hubungan yang erat dengan yang ilahi. Ayat berikut mengandung berita yang dahsyat bagi mereka: firman itu menjadi manusia tertentu, sehingga bisa dikenal dengan sangat jelas.

Secara harfiah, a.14 mengatakan bahwa firman itu menjadi daging. Tatanan dunia, wadah kehidupan, terang manusia, telah menjadi satu sosok manusia. Gagasan itu memang sulit diterima, entah dalam rangka kehormatan, bahwa firman terlalu mulia untuk menjadi manusia, atau dalam rangka rasio, bahwa yang universal tidak mungkin menjadi satu orang tertentu. Tetapi maknanya luar biasa. Terang itu diam di antara kita, dan ternyata terang itu bukan sekadar terang tentang tatanan dunia melainkan terang itu adalah kemuliaan Allah sendiri! Di dalam Dia yang disaksikan oleh Yohanes (a.15), maksudnya Yesus Kristus, kita melihat prinsip dunia dan sekaligus pribadi Allah. Dia menjadi perwujudan firman Allah, bagaimana Allah mengatur dunia yang diciptakan, dan menyatakan Allah sendiri sama seperti seorang anak menyatakan Bapanya. Dengan demikian, Allah sendiri hadir di dalam Kristus, dan kita diberi kuasa untuk sungguh-sungguh menjadi anak-anak Allah karena kita percaya dalam nama Sang Anak sejati itu.

Tantangan bagi kita ialah sejauh mana terang itu menjadi dasar kehidupan kita. Setiap kali seseorang pergi ke dukun, dia mencari keteraturan bukan dari Kristus tetapi dari kuasa yang lain. Setiap kali seseorang serakah, dia menjadikan duit itu sebagai pengatur kehidupan dan pencegah kekacauan dalam hidupnya. Orang yang menentang pembaruan lupa bahwa terang yang sesungguhnya mengubah air menjadi anggur. Orang yang khawatir tentang makanan dan minuman lupa bahwa Sang Sumber Hidup sanggup memberi makan 5.000 orang. Orang yang mengejar gengsi lupa bahwa terang ilahi—kemuliaan Allah—dinyatakan ketika Yesus naik salib yang hina. Mengenal Allah dalam terang yang sesungguhnya membawa dampak besar bilamana dijadikan dasar kehidupan kita.

Bagi pembaca yang melanjutkan pelayanan Yohanes, yaitu menjadi saksi tentang terang yang sesungguhnya pada musim Natal ini, kita mau supaya jemaat menjadikan Kristus terang mereka. Sumber kekacauan dalam kehidupan jemaat (secara kelompok dan individu) ialah bahwa Pengatur yang sesungguhnya masih sekadar embel-embel, formalitas. Daripada hanya menegor kekacauan itu terus-menerus sampai semua bosan, marilah kita menemukan cara untuk bersaksi tentang Kristus sampai jemaat dapat memahami apa artinya menerima-Nya sebagai Terang dan Hidup. Semoga banyak yang menerima-Nya Natal ini sehingga mulai menikmati hidup yang sesungguhnya sebagai anak-anak Allah dalam Sang Anak.


Ibr 1:1-14 Firman yang mendasari, menopang dan memulihkan

Desember 14, 2010

Alur penyampaian 1:1-2:4 tidak sulit secara garis besar. 1:1-4 menyampaikan bagaimana Allah telah berbicara kepada kita dalam Anak-Nya dengan cara yang berbeda dari dulu-dulu, yang dalam hal ini diwakili oleh malaikat yang menjadi perantara Hukum Taurat (2:2) yang merupakan dasar Perjanjian Lama. 1:5-14 membuktikan klaim dalam 1:4 bahwa Anak itu lebih mulia daripada malaikat-malaikat. Kesimpulannya dalam 2:1-4 ialah bahwa kita harus mendengarkan firman tentang Anak itu dengan lebih serius lagi daripada firman dalam Hukum Taurat. Demikian penulis mulai meyakinkan pendengarnya untuk bertahan dalam iman kepada Kristus dan jangan kembali ke kepercayaan lama, yaitu agama Yahudi.

Kesimpulan itu sudah terkandung dalam 1:1-4, yang dapat diringkas, “Ia berbicara kepada kita dalam Anak-Nya, yang duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar” (mengikuti susunan kalimat dalam bahasa aslinya). Dalam seluruh surat, keutamaan Kristus menjadi dasar untuk tetap mendengarkan berita tentang Kristus yang utama itu. Terhadap pokok ini, cabang-cabangnya menyampaikan suatu kisah tentang rencana Allah. Kepelbagaian penyataan PL sudah digenapi (dirangkum, berpuncak) dalam penyataan dalam Kristus (1-2a). Sebagai Anak yang dilantik sebagai Mesias, raja yang dijanjikan Allah (lihat 1:5; soal memperanakkan tidak merujuk pada hakikat Kristus sebagai Allah Anak tetapi pada peran-Nya sebagai Mesias), Kristus menjadi tujuan rencana Allah untuk dunia ini (“menerima segala yang ada”), sama seperti sebagai (secara tersirat) firman Allah Dia menjadi penggerak rencana Allah dalam penciptaan (2b); akhir dan awal, omega dan alfa. Jika kita mau memahami dunia, termasuk dari mana kita dan ke mana kita, kita harus melihat pada Kristus.

Dalam a.3 Kristus (Anak) menjadi subjek. Mungkin tetap sebagai firman, Dia menyatakan kemuliaan Allah dan wujud Allah dengan sempurna. Tetapi Dia juga menopang segala yang ada dengan firman-Nya—seperti seorang raja. Dengan gambaran demikian tentang Kristus, kita mendengar kisah-Nya: Dia mengadakan penyucian dosa baru duduk di sebelah kanan Allah. Mengadakan penyucian dosa tentu merujuk pada pengorbanan-Nya, dan penderitaan Kristus menjadi contoh untuk pengikut-Nya di beberapa tempat (misalnya 2:10 dan 12:2-3). Satu implikasi ialah bahwa jalan menuju ke kemuliaan ditempuh melalui penghinaan (bnd. 13:12-13). Kita menjadi terampil dengan menjadi bodoh dan kerja keras lebih dulu; kita membawa perubahan dengan disalahpahami dan bersabar lebih dulu; kita diselamatkan dengan mendengar dan bertekun lebih dulu (2:1). Menjadikan kisah Kristus mitos kita, artinya kisah mendasar yang di dalamnya kita menafsir dunia ini, memiliki implikasi yang menyeluruh.

Di sini Kristus adalah firman (melebihi nabi-nabi), Anak/Raja, dan, pada titik penyucian, Imam. Aa.5-13 paling banyak mendukung status-Nya sebagai Anak/Raja, tetapi peran Kristus dalam penciptaan dibuktikan dalam aa.10-12, and a.13 mengutip Mzm 110 yang daripadanya penulis surat akan membahas keimamat Kristus (lihat pp.7-10). Setiap peran menaungi serangkaian kegiatan dan tujuan, tetapi kekayaan diri dan karya Kristus hanya dapat disampaikan dalam sebuah gabungan dari peran-peran ini. Sebagai firman Dia memberi struktur dan makna bagi dunia ini. Sebagai Raja Dia meneguhkan struktur itu dengan menegakkan keadilan, termasuk hukuman (1:8-9; bnd. 12:25-29). Sebagai Imam, Dia memulihkan struktur itu melalui penyucian dosa.

Sungguh, firman ini layak kita dengarkan dan muliakan, sehingga Kristus menjadi dasar, kerangka dan pengarah kehidupan kita.


Selamat Natal 2009

Desember 19, 2009

Posting ini yang terakhir untuk 2009. Saya akan memulai posting kembali pada pertengahan Januari dengan jadwal Membangun Jemaat Gereja Toraja untuk tahun 2010. Terima kasih kepada semua yang telah membaca, berkomentar, menyampaikan dukungan, dan terumata yang memanfaatkan materi dalam bog ini untuk pelayanan dan secara pribadi. “Hits”-nya (terhitung setiap kali halaman blog diakses) kurang lebih seribu per bulan atau di atas 30 per hari.

Semoga minggu-minggu Adven dan Natal mengingatkan kita semua tentang harapan kita dalam Yesus Kristus. Hal itu saya ucapkan lebih lagi untuk para pelayan yang pada musim ini menjadi begitu sibuk sehingga makna Natal terpuruk di bawah kelelahan. Semoga jerih payah dalam ladang Tuhan tidak sia-sia.

Sampai berjumpa kembali dalam Tahun baru.


Mt 1:18-25 Imanuel

Desember 19, 2008

Im = beserta, -anu adalah akhiran “kita”, El berarti “Allah”. Janji Yesaya (7:14) tentang penyertaan Allah menyangkut peristiwa yang di dalamnya Yehuda (sebutan untuk kerajaan selatan setelah perpecahan Israel setelah Salomo) terancam oleh Israel (kerajaan utara) serta Aram (bangsa kafir). Kepada raja Ahas yang tidak beriman Allah menyampaikan janji bahwa sebelum anak yang mau dilahirkan melewati masa kecilnya, ancaman terhadap Yehuda akan lenyap (7:16). Allah menyertai umat-Nya yang terancam lenyap.

Janji Yesaya, yang barangkali menyangkut anak tertentu pada masa itu, kemudian dikembangkan dalam p.9 dan p.11 menjadi janji akan seorang raja yang akan setia dan membawa berkat Allah—beda dari Ahas. Sosok demikian yang kemudian disebut Mesias. Di balik hukuman Allah terhadap dosa Israel yang banyak dibahas Yesaya ada maksud keselamatan. Keselamatan dari dosa yang disoroti malaikat Tuhan kepada Yusuf (Mt 1:21). Mesias ternyata harus dinamai Yesus, yaitu Yosua (bentuk Iesous dalam bahasa Yunani dipakai untuk Yosua), pemimpin Israel yang membawa Israel ke dalam tanah perjanjian. Tetapi cara Yesus bukan untuk melawan pemerintahan Roma melainkan mengalahkan Iblis. Dia menggabungkan Mesias yang berjaya dengan Hamba Tuhan yang menderita.

Janji Yesaya itu barangkali dipilih malaikat karena dua hal. Relevansi pertama bagi Yusuf adalah untuk membuktikan bahwa Maria memang masih perawan. Hal itu adalah kejutan—Yesaya barangkali bermaksud seorang yang pada saat nubuatannya masih perawan tetapi akan menikah dan kemudian melahirkan. Tetapi untuk kelahiran Yesus, penggenapan melampaui nubuatannya. Relevansi kedua adalah bagi kita semua. Barangkali yang dimaksud Yesaya dengan julukan “Imanuel” ialah bahwa anak itu adalah pertanda penyertaan Allah. Tetapi dalam alur cerita Injil Matius, Yesus makin membawa hadirat Allah sendiri, misalnya ketika mengampuni dosa. Pada akhir Injil, setelah kebangkitan-Nya, Yesuslah yang menyertai murid-murid-Nya. Yesus sendiri merupakan penyertaan Allah, tidak sekadar pertanda.

Makna penyertaan Allah dalam Yesus dikembangkan dalam seluruh Injil Matius. Dia memberi gambaran tentang dunia tanpa penyakit atau kuasa gelap, dan Dia mengalami sepenuhnya penderitaan karena perlawanan terhadap kehendak Allah. Akhirnya, Dia sampai mengalami maut tetapi mengalahkannya dalam kebangkitan-Nya. Penyertaan Allah tidak ada batasnya dan keselamatannya juga tidak terbatas.


Titus 2:12 “Pelajaran yang sejati dari kasih karunia”

November 29, 2007

Pengantar

Bayangkan seorang budak yang dipasang dengan topeng yang menghalangi dia menoleh ke belakang dan menghambat penglihatannya ke depan, sehingga dia hanya dapat melihat tanah di depan kakinya. Dia dapat berjalan tetapi tidak tahu dari mana atau ke mana. Itulah keadaan kita kalau kita menafsir a.12 lepas dari konteksnya.

Pertobatan

A.12 memang berbicara tentang apa yang ada di depan kaki kita, yaitu pertobatan yang terus-menerus: menolak sikap cuek terhadap Allah dan kekacauan dalam hati, sehingga hidup kita tertib kepada sesama dan terarah kepada Allah. Jelas, toh, dan penerapannya tidak sulit dicari. Namun, ayat ini tidak dapat berdiri sendiri. Siapakah yang mendidik pada awal ayat ini? Dan dunia apa lagi yang disinggung pada akhir ayat ini?

Pelajaran yang sejati dari kasih karunia

Terjemahan LAI membagi satu kalimat dalam bahasa Yunani, yaitu dari a.11 sampai a.14, menjadi dua supaya lebih terbaca. Dengan demikian, rujukan kata ia tidak jelas. Tentu yang mendidik bukan pendeta! Tetapi juga bukan (langsung) Allah! Yang mendidik ialah kasih karunia. Ya, betul! Kasih karunia mendidik untuk bertobat. Banyak pelayan menganggap bahwa kasih karunia akan mendidik jemaat untuk tetap dalam dosa, sehingga mereka lebih menekankan pentingnya perbuatan. Tetapi bagi Paulus kasih karunia adalah kuncinya. Kekacauan jemaat yang merembes dari lingkungan ke dalam jemaat (1:10-12) perlu ditanggapi oleh nasihat (2:1-10) yang didasari oleh kasih karunia (“Karena” a.11). Bagaimana kasih karunia itu mendidik?

Penantian

Seandainya topeng yang mengawali renungan ini sungguh dipakai, saya rasa itu akan melanggar hukum HAM. Kita menjadi gelisah dan kurang berani ketika kita hanya dapat melihat yang di depan kaki saja. Tetapi kasih karunia mendidik kita dengan menunjukkan akhir dari segala sesuatu (a.13). Kefasikan tidak mempunyai masa depan. Kebahagian yang sejati dan kekal akan kita nikmati ketika kemuliaan Allah dinyatakan pada kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Sejauh mana pengharapan itu menjadi pengharapan hati kita, sejauh itu kita akan terdidik untuk bertobat. Tetapi apakah pengharapan itu riil? Seriilkah saldo setelah membagikan hasil korupsi? Seriilkah hormat masyarakat ketika anak kita diangkat, rumah kita makin bagus?

Menoleh ke belakang

Dalam Filipi 3:13 Paulus mengakatan bahwa dia justru tidak menoleh ke belakang. Tetapi hal itu dalam rangka mengingat-ingat kekurangannya (Fil 3:12). Ada satu hal di belakang yang perlu dirujuk terus, yaitu karya Kristus. Pengharapan kita terjamin karena jaminannya adalah pengorbanan Kristus sendiri (a.14). Motivasi-Nya jangan diragukan—Dia menyerahkan diri-Nya! Hasil-Nya jangan diragukan—Dia merindukan umat yang layak, dan Dia akan menyelesaikan pekerjaan itu (cara-Nya lebih diperincikan dalam 3:4-8). Tujuan Kristus itu turut mendidik kita. Kata rajin (dalam “rajin berbuat baik”) bukan rajin karena diwajibkan, tetapi rajin karena semangat. Kasih karunia Allah mengubah keinginan kita, dari kefasikan menuju kebenaran.

Kesimpulan

Menurut Paulus kasih karunia menjadikan kita ingin berbuat baik dengan menoleh ke belakang melihat pengorbanan Kristus, sekaligus melihat ke depan menantikan kedatangan-Nya kembali. Lepaskanlah topeng moralisme, hai orang-orang merdeka di dalam Kristus, supaya berjalan maju dengan tegas!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.