1 Raj 12:1-24 Kedaulatan Firman Allah

Agustus 24, 2009

Sebelum perikop ini yang menceritakan permulaan keterpisahan kerajaan Israel menjadi dua kerajaan, ada peristiwa yang sebenarnya memaknainya. Maksudnya, pertemuan antara Yeroboam dan nabi Ahia dalam 1 Raj 11:26-40. 1 Raj 11 menceritakan penyelewengan Salomo sebagai permulaan kegagalan Israel, setelah perkunjungan Ratu Syeba sebagai puncak keberhasilan Israel dalam 1 Raj 10. Oleh karena dosa Salomo, maka ada serangkaian masalah terjadi, terutama munculnya pemberontak dalam diri Yeroboam, anak emas Salomo itu. Soalnya, Yeroboam diangkat oleh Tuhan sendiri melalaui nabi Ahia tersebut. Yang menggerakkan peristiwa-peristiwa politik ini adalah firman Allah.

Memang, Allah bekerja melalui kebodohan manusia, dalam hal ini Rehabeam. Rehabeam menjadi contoh pemimpin yang tidak mempedulikan rakyatnya, dan juga contoh orang yang mengabaikan nasihat orang yang lebih tua. Mereka mengusulkan konsep kepemimpinan yang dikokohkan Yesus tetapi sebenarnya sudah ada di PL, yaitu pemimpin sebagai hamba (12:7). Namun, nasihat kebodohan yang diterima Rehabeam dan disampaikan kepada rakyat. Apa asal-usul kebodohan Rehabeam itu? Silakan dipikir-pikirkan, tetapi dalam a.15 ada jawaban yang lebih mendasar. Seandainya kita sudah lupa akan peristiwa 1 Raj 11:26-40 itu, kita diingatkan bahwa semua ini terjadi untuk menepati firman TUHAN.

Perikop ini kemudian menceritakan tuntasnya keluarnya suku-suku Israel kecuali Yehuda (dan Benyamin). Rehabeam tetap bodoh. Dia hampir ikut dibunuh (a.18), kemudian dia mau berperang. Hanya, ada firman lagi dari Allah untuk mencegahnya.

Kita perlu mendengarkan nilai kepemimpinan yang disampaikan oleh para penasihat Salomo dan ditegaskan melalui bodohnya gambaran yang terbalik dalam diri Rehabeam. Kita perlu juga memikirkan bagaimana menyikapi kepemimpinan yang kurang, karena itu kenyataan yang sering dihadapi sampai sekarang. Kebodohan yang jahat seperti Rehabeam seringkali memberatkan bukan hanya pemimpin melainkan bawahannya, dan selayaknya kita berduka atas hal itu. Tetapi Allah tetap berdaulat. Rencana-Nya lebih kuat daripada kebodohan dan kejahatan manusia. Jika dalam peristiwa ini rencana Allah berpusat pada Yerusalem dan keturunan Daud (11:32), rencana itu sudah berpuncak dalam Kristus. Ketika gereja yang penuh dengan orang yang imannya lemah mendapat kepemimpinan yang sama, firman Allah tetap berkuasa untuk memanggil orang kepada Kristus dan menguatkan mereka di dalam-Nya.


1 Yoh 2:18-27 Menghadapi antikristus yang berbobot

Juni 21, 2009

Kadangkala jemaat dihebohkan oleh pengajar yang mengajukan pendapat yang mau meniadakan ajaran yang sudah lama diterima oleh jemaat. Hal itu belum tentu salah. Sebagian jemaat di Yerusalem dihebohkan oleh penerimaan orang bukan Yahudi dalam Kristus tanpa disunat, tetapi penerimaan itu ternyata berasal dari Allah dan akhirnya diterima juga. Sekarang jemaat bisa gelisah tentang hal-hal yang merupakan tradisi saja. Tetapi sekarang ada juga banyak ajaran sesat yang beredar di gereja, yang misalnya meragukan kedudukan Kristus sebagai Anak Allah atau mengesampingkan karya-Nya dalam memperdamaikan kita dengan Allah. Ketika mendengarnya, jemaat biasa bisa bingung. Mereka merasa tidak nyaman, tetapi tidak sanggup membantah pendapat yang dikeluarkan orang yang berilmu atau berkedudukan. Dalam perikop ini penulis mau meyakinkan jemaat pembaca bahwa Allah telah menuntun mereka pada jalan yang benar.

Penulis mulai dengan menyebutkan pandangan yang menunggu akhir zaman ketika pemberontakan dunia akan berpuncak dalam rupa orang yang melawan Kristus sehingga disebut antikristus. Penulis setuju bahwa kita hidup dalam waktu terakhir, menjelang akhir zaman, tetapi dia juga mengusulkan bahwa sudah banyak orang yang berperan melawan Kristus (a.18). Yang dimaksud secara langsung adalah sekelompok orang yang pernah termasuk jemaat yang menerima surat ini. Mereka keluar dari jemaat, dan Yohanes mau meyakinkan jemaat bahwa jemaat yang ada pada jalan yang benar, bukan kelompok yang keluar (a.19).

Demi tujuan itu dia mengingatkan bahwa mereka sudah diurapi oleh Allah (a.20). Pengurapan itu barangkali merujuk ke mereka memiliki Roh Kudus. Pengurapan itu yang telah menjaga mereka sehingga mereka dapat membedakan apa yang benar dari apa yang sesat (a.21). Belum tentu mereka sanggup menjelaskannya secara ilmiah, tetapi ada nurani yang–kata Yohanes di sini–diberikan Allah.

Penulis mempertegas maksud itu dalam aa.22-25, dengan memperjelas apa inti dari ajaran sesat. Intinya menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus (a.22a). Dalam bagian sebelumnya dalam surat ini sudah ada dua hal yang disebutkan mengenai Yesus sebagai Kristus. Dalam 1:3 Yesus Kristus adalah Anak Allah, firman yang membawa hidup. Dalam 2:1 Yesus Kristus adalah perantara yang membawa pendamaian dengan Allah. 4:2 akan menyebutkan bahwa Yesus Kristus datang sebagai manusia. Mengakui Yesus sebagai Kristus adalah mengakui bahwa Allah mengutus-Nya untuk menjadi manusia yang mendatangkan hidup oleh pendamaian yang dikerjakan-Nya. Demikianlah kebenaran yang diketahui jemaat.

Pentingnya kebenaran itu dilihat dalam akibatnya. Menyangkal Yesus sebagai Kristus berarti menyangkal Anak Allah, sehingga Allah Bapa pun disangkal (a.22b). Sebagai Anak Allah, Yesus berasal dari Allah, dan tanggapan terhadap Kristus adalah tanggapan terhadap Bapa-Nya (a.23). Cara untuk tetap memiliki Anak dan Bapa ialah berpegang pada berita semula yang olehnya mereka jadi percaya kepada Kristus (a.24). Dengan demikian, mereka akan menerima janji hidup kekal. Jadi, ajaran sesat berakibat fatal bagi kehidupan rohani.

Kesimpulan bagian ini mengangkat kembali pengurapan itu (aa.26-27). Jika mereka tidak perlu diajar, mengapa Yohanes menulis kepada mereka? Barangkali dia menulis dalam rangka mengingatkan dan memperjelas apa yang sudah mereka pahami dari Roh Kudus. Nurani dikuatkan dan diperjelas oleh nasihat penulis.

Perlu diingat bahwa Yohanes menulis tentang hal-hal pokok, yaitu yang menyangkut kedudukan Kristus. Bukannya bahwa jemaat selalu benar dalam segala hal! Juga, Yohanes berbicara tentang jemaat secara keseluruhan, bukan pendapat satu orang saja. Namun, ajarannya tetap menguatkan kita untuk berpegang pada Injil yang telah kita terima, sekalipun diserang oleh pihak yang berbobot.


Yoh 6:60-66 Misteri ketidakpercayaan

Mei 24, 2009

Seluruh p.6 terkait dengan peristiwa Yesus memberi makan 5.000 orang serta akibatnya dalam pembahasan berikut. Serangkaian peristiwa ini adalah yang terakhir yang diceritakan di Galilea dalam Injil Yohanes, karena menunjukkan bagaimana Galilea diterangi oleh Yesus dan banyak yang memiliki kegelapan. Pasal-pasal berikut pindah ke Yerusalem, dengan hasil yang sama. Kadangkala pelayanan–bahkan kebenaran–diukur oleh keramaian. Adalah penting kita mengingat bahwa Yesus sendiri menimbulkan pemisahan antara orang yang menerima dan menolak. Walaupun kita tentu berupaya menerima semua orang, ternyata ada yang lebih penting dari keramaian.

Soalnya, mujizat memberi makan itu kelihatan puncak kejayaan Yesus, dengan banyak orang ikut bahkan mau menjadikan Yesus raja (6:15). Tetapi dalam a.26-27 Yesus memberitahu bahwa orang banyak tidak mencari Dia untuk hidup kekal yang dapat diberikan Yesus kepadanya melainkan untuk makanan jasmani saja. Namun, ketika Yesus mengajar tentang makanan rohani, yaitu bahwa orang harus makan daging dan darah Yesus untuk mendapat hidup kekal, orang banyak bingung dan tersinggung (a.60). Alhasil, banyak murid yang mengundurkan diri (a.66), walaupun ada sebagian yang tetap mengikuti Yesus (a.67dst). Yesus lebih memilih supaya ada sebagian yang sungguh mengenal Dia daripada ada banyak yang ramai-ramai saja.

Penolakan murid-murid yang dibahas dalam perikop ini. Keluhan mereka (a.60) ternyata diketahui Yesus, karena seperti biasa Dia mengenal hati orang (a.61). Dalam tanggapan-Nya, Yesus menunjukkan bahwa mereka belum memahami siapakah Dia. Andaikan mereka dapat melihat Dia naik kembali ke sorga mereka dapat lebih terima bahwa Dia adalah roti hidup yang turun dari sorga (a.35, 38), kunci pengenalan akan Allah yang berada di sorga (a.62).

Namun, masalahnya bukan bahwa mereka tidak melihat sesuatu, karena bukankah mereka sudah melihat Yesus memberi makan 5.000 orang? Masalahnya bahwa mereka tidak percaya akan apa yang dikatakan Yesus (a.64). Perkataan Yesus membawa hidup baru bagi manusia dalam kegelapan sama seperti roh manusia membawa hidup bagi tubuhnya (a.63). Sekali lagi, kita baca bahwa Yesus mengenal hati mereka, yaitu siapa yang percaya dan yang tidak (termasuk Yudas sebagai yang akan menyerahkan-Nya). Akhirnya, Yesus memberi jawaban-Nya terhadap keluhan mereka. Allah Bapa-lah yang memberikan kemampuan untuk datang kepada Yesus (a.65), seperti yang sudah Dia katakan (a.37 yang juga menjelaskan ketidakpercayaan dalam a.36). Yang sanggup mendengarkan perkataan Yesus ialah orang yang dimampukan oleh Allah.

Memang adalah misteri bagi saya mengapa Allah tidak menarik semua orang kepada Yesus. Perikop ini tidak menjelaskan misteri itu, tetapi menegaskan bahwa manusia menolak Yesus karena tidak percaya. Yang dapat menerima Yesus hanya dapat demikian karena anugerah Allah. Hal itu meniadakan kebanggaan diri, tetapi juga menguatkan jika dikaitkan dengan janji bahwa siapa saja yang diberikan kepada Yesus tidak akan hilang (a.39). Hal itu juga menunjukkan bahwa semestinya kita bersukacita atas orang-orang yang setia karena anugerah Allah daripada kecewa terhadap orang-orang lain yang tidak.

Kadangkala ada pelayan (atau aliran) yang mau memisahkan orang yang sungguh percaya dari yang tidak. Menarik bahwa walaupun Yesus mengetahui siapa yang tidak percaya, Dia membiarkan kebenaran membedakannya. Lebih lagi kita yang tidak mengenal hati orang. Namun, adalah bahaya juga jika kita mengaburkan kebenaran supaya keramaian tidak terganggu. Walaupun cara itu mungkin disebut cara damai, cara Yesus tidak demikian. Kita mau membawa orang kepada hidup, dan tidak ada cara yang lain kecuali melalui perkataan Yesus, betapapun kerasnya.


Mal 2:1-9 Pembaruan si pengajar

Januari 28, 2009

Pada masa Maleakhi masyarakat Israel sudah kembali dari pembuangan dan Bait Allah sudah dibangun kembali. Tetapi hidup Israel di hadapan Tuhan tidak pernah begitu bersemangat, sebagaimana disaksikan oleh nabi Hagai, Zakharia dan Maleakhi. Hagai dan Zakharia (pp.1-8) bernubuat di sekitar tahun 520-515 sM, tetapi tentang penarikhan Maleakhi tidak ada informasi, dan dia sering ditempatkan pada abad berikut, mungkin bersamaan dengan Esra atau Nehemia. Kemungkinan besar bahwa pesannya berlaku terus-menerus bagi Israel dalam abad-abad berikut, karena sampai masa Yesus Israel biasanya di bawah penjajahan, sehingga kasih Tuhan diragukan (Mal 1:2).

Dalam perikop ini keluhan Tuhan tertuju pada para imam. Tugas imam terkait dengan ibadah Bait Allah serta pengajaran hukum Taurat kepada masyarakat. Jadi istilah “perintah” untuk firman ini kepada mereka menyindir. Bukankah imam yang mengajar dan orang lain yang mendengar? Tetapi mereka harus mendengarkan perintah Tuhan (a.2). Karena mereka tidak, maka ucapan berkat mereka tidak berhasil, bahkan mereka akan dikotori oleh kotoran korbannya (a.3). Didikan itu sebagai peringatan (a.4).

Kemudian, Tuhan mengangkat asal-usul imamat Israel, yakni perjanjian dengan Lewi, untuk mengingatkan mereka tentang sikap dan tugas yang benar (aa.5-7). Tetapi mereka berlaku terbalik (a.8), sehingga ada akibatnya dari Tuhan (a.9).

Jika kita menafsir tugas seorang imam dalam PB, kita harus mengingat bahwa Bait Allah dan seluruh sistem pengorbanan di dalamnya sudah digenapi dalam Kristus. Soal imamat, tinggal Dia sebagai Imam yang Besar, dan itupun bukan menurut peraturan Lewi (lihat Ibr 7:11). Yesus juga menggenapi hukum Taurat sebagai pengajar (Mt 5:17-20), tetapi tugas mengajar diteruskan kepada pengajar jemaat, sebagai salah satu pemberian Roh Kudus bagi kedewasaan jemaat (Ef 4:11), atas dasar ajaran rasuli (Ef 3:1-6). Sebagai pemberian Roh, tugas mengajar tidak terbatas pada jabatan seperti pendeta, walaupun tentu pendeta dan sebagian majelis dipercayakan dengan tugas itu.

Oleh karena itu, sebaiknya kita yang mengaku sebagai pengajar jemaat mendengar baik-baik peringatan ini. Inti keluhannya ialah jika Tuhan menjadi kepinggiran dalam tugas kita. Kita lupa akan hidup dan damai sejahtera yang terdapat dalam Injil yang dipercayakan kepada kita, sehingga khotbah kita menjadi dangkal—hampir kosong dengan ajaran tentang Tuhan yang menjadi sumber harapan kita. Anehnya, a.7 memberitahu bahwa jemaat merindukan pengajaran itu! Mungkinkah Tuhan juga menjadi kepinggiran dalam kehidupan kita secara pribadi, sehingga kita takut akan manusia daripada Tuhan, sehingga memandang bulu dalam dosa yang dikhotbahkan dan juga disiplin gereja yang dilaksanakan. Alhasil, seringkali pendeta menjadi sorotan buruk daripada teladan, seperti a.9.

Tugas mengajar memang berat, dan jika sudah ditahbiskan maka tidak ada jalan keluar daripadanya. Namun, jika sudah sadar akan kekurangan sendiri (dan kebanyakan pendeta dan majelis memang demikian), solusinya bukan untuk menegor diri sendiri melainkan melihat dasar tugas itu. Lebih dari Lewi, Kristus menawarkan bukan hanya teladan mengajar yang hebat, tetapi juga menjadi Gembala bagi para gembala. Tentu, penyegaran bisa dialami melalui berbagai hal praktris, misalnya cukup tidur! Tetapi intinya terdapat dalam kembali kepada Dia serta percaya kembali bahwa Injil-Nyalah yang dibutuhkan oleh diri dan oleh jemaat.


Neh 4:1-14 Perjuangan di tengah ancaman

Januari 15, 2009

Nehemia bertugas untuk membangun kembali tembok Yerusalem, sesuatu yang sangat erat kaitannya dengan harga diri bangsa Israel (bnd. Neh 1:3 dan 2:17). P.3 merincikan semangat bangsa yang tinggi. Tetapi dalam p.4 ini, perlawanan yang pertama disebut pada 2:19-20 menjadi tema utama. Sikap para musuh itu disampaikan melalui perkataan Sanbalat dan Tobias (aa.1-3). Olok-olokan mereka mungkin cukup tepat. Pihak Nehemia lemah dan menghadapi perjuangan yang besar. Usaha iman sekarang cenderung mendapat reaksi yang sama: menurut ukuran dunia kelompok orang beriman tidak berharga dan usahanya bodoh saja.

Nehemia menyela penceritaannya dengan suatu doa supaya Allah membalas kejahatan mereka (aa.4-5). Kedengarannya agak jauh dari perintah Yesus untuk mengasihi dan mendoakan musuh, dan belum tentu pikiran Nehemia sampai ke pertobatan musuhnya. Namun, doanya pertama-tama adalah doa supaya Allah berpihak pada umat-Nya supaya usaha mereka dapat terwujud. Meskipun kita berdoa untuk, misalnya, kelompok teroris supaya bertobat, kita tidak berdoa supaya mereka dibiarkan melakukan kejahatan terus-menerus. Kita juga tidak berdoa supaya jika ditangkap kejahatan mereka dihapus pemerintah dan mereka dilepas untuk melanjutkan kejahatannya! Dalam konteks Nehemia, Allah merupakan satu-satunya pemerintah yang diharapkan bisa mewujudkan keadilan. Jadi, dia berdoa supaya keadilan terwujud. Keadilan itu mendasar, dan kasih kepada musuh yang lupa akan keadilan adalah garam yang sudah tawar.

Hasil pihak Nehemia dalam menyelesaikan tembok sampai setengah (a.6) menimbulkan reaksi lebih keras lagi dari musuh-musuhnya (aa.7-8). Ada permainan kata dalam bahasa aslinya. “Sampai ujung-ujungnya bertemu” dalam a.6 adalah kata yang sama dengan “mengadakan persepakatan” dalam a.8. Kerapatan tembok Yerusalem menjadikan musuhnya merapat untuk melawan. Kembali Nehemia berdoa dan juga bertindak (a.9). Dia tidak mengharapkan mujizat melainkan pekerjaan Allah melalui persiapan mereka.

Pertolongan Allah datang melalui sumber yang tak terduga. Dalam a.10 sepertinya banyak penduduk Yehuda mulai putus asa, seperti sudah diduga oleh Sanbalat sebelumnya (a.2). Namun, justru mereka yang mendengar persekongkolan para musuh untuk menyerang, sehingga Nehemia bisa bersiap-siap (a.12-13). Dengan demikian Allah menolong mereka, dan Nehemia menguatkan mereka untuk tidak takut (a.14).

Jika Bait Allah di tengah Yerusalem bermuara pada Kristus dalam Perjanjian Baru, sebagai titik temu antara Allah dengan umat-Nya, temboknya apa? Mungkinkah tembok berhubungan dengan identitas yang utuh sehingga harga diri terjaga di hadapan Allah? Dosa yang dibiarkan merajalela (termasuk mengesampingkan keadilan), pemahaman jemaat akan pokok-pokok iman yang minim, menjadikan jemaat rentan terhadap pengaruh buruk dari dunia. Usaha untuk membangun jemaat kembali atas dasar Kristus yang disalibkan memang akan dianggap bodoh oleh banyak orang, dan jemaat yang mulai kompak dalam iman dan kasih akan dianggap sebagai ancaman oleh sebagian penguasa (entah tokoh masyarakat, pemerintah atau pihak yang lain). Mari kita memiliki semangat Nehemia untuk berdoa dan bertindak dalam tugas yang mulia ini.


Kekerasan dalam Osmaba?

Juli 17, 2008

Osmaba (Orientasi Mahasiswa Baru) adalah istilah yang saya kenal untuk kegiatan sekolah untuk memperkenalkan kampus kepada mahasiswa baru. Saya pernah menemukan artikel ini mengenai kegiatan yang sama di salah satu sekolah yang lain. Satu alinea yang menarik bagi saya berbunyi demikian:

Sistem OKA yang di dalamnya ada dan diparadigmakan bahwa kekerasan yang terjadi di dalamnya adalah hal yang wajar, dan ini pada akhirnya menuntut selalu adanya seksi keamanan – lalu bagaimana fungsi satpam yang berada di universitas, bukankah kegiatan OKA tersebut berjalan dan diadakan dalam ruang lingkup universitas – Ini juga dibentuk oleh kultur di Indonesia dengan alasan menjaga keamanan dan stabilitas keadaan.

Soalnya, dalam kegiatan OKA yang dibahas, seksi keamanan justru menjadi pemicu konflik! Sama seperti konon militer / polisi pernah mendalangi kerusuhan untuk membenarkan kehadirannya di suatu tempat, seksi keamanan berkepentingan menemukan masalah.

Bagi saya, argumentasi para pendukung kekerasan dalam Osmaba menyedihkan—mereka bilang bahwa mereka tidak akan dihormati adik-adik tanpa kekerasan. Artinya, harga diri mereka begitu rendah sehingga tak terbayangkan ada respek karena mengasihi, hanya respek karena menakutkan. (Saya penasaran juga akan latar belakang keluarga dari orang yang berpendapat demikian—apakah model ayah yang mereka alami model yang mengandalkan kekerasan daripada kasih? Apakah budaya Indonesia lebih menonjolkan kuasa daripada kasih sebagai alasan untuk dihormati—mungkin saja pada masa Orba?) Semua itu menyedihkan karena respek karena mengasihi jauh lebih nikmat dan menguatkan daripada respek karena menakutkan (bukankah anjing ganas juga menakutkan?). Respek karena mengasihi berarti saya sudah berdampak positif dalam kehidupan orang.

Pengikut Yesus tidak ada pilihan. Sesuai dengan teladan diri-Nya sendiri, Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya:

Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.

Yesus tidak mengecam orang yang menjadi besar dan terkemuka, seperti Petrus, Paulus dsb. Dia menunjukkan cara yang tepat dalam Kerajaan Allah.


Neh 6:10-19 Seruan si pelayan

Juni 19, 2008

Nehemia tergerak untuk meninggalkan kesejahteraan sebagai juru minuman raja Persia (sekarang Iran) dan memimpin usaha untuk membangun tembok di Yerusalem, sesuatu yang akan sangat berdampak pada kesejahteraan dan keamanan kota itu. Begitu dia tiba sudah ada penentang. Sanbalat (2:10) adalah gubernur Samaria (bnd. 4:2). Tobias (2:10) mungkin adalah gubernur Amon, seperti cucunya seabad kemudian. Gesyem (2:19) adalah raja Kedar, dan mungkin menguasai perdagangan di daerah itu. Jadi, kedatangan Nehemia sebagai utusan sang raja Persia sendiri mengancam kuasa mereka. Pada awal p.6 mereka tetap berusaha supaya tugas Nehemia gagal.

Perikop ini menjelang puncak bagian pertama kitab Nehemia, karena tembok itu jadi dibangun. Keberanian dan kecerdikan Nehemia nampak ketika dia dapat mengenali muslihat musuh-musuhnya; barangkali sebagai juru mimuman raja dia sudah biasa berpolitik. Tetapi kemampuan itu dia pakai demi tujuan yang diembankan kepadanya oleh Allah.

Pada a.14 Nehemia mengeluhkan para penentangnya. Enam kali dia berdoa di tengah narasinya (5:19; 6:14; 13:14, 22, 29, 31). Soalnya, meskipun dia berhasil dalam tugas lahiriah untuk membangun tembok kembali, dia gagal dalam hal reformasi hati umat (demikian p.13). Ketika dia menulis, dia sadar bahwa upahnya hanya dari Tuhan, tidak ada hasil yang memuaskan. Kegagalannya bukan kesalahannya sendiri. Israel memang menunggu Dia yang akan membaptis dengan Roh Kudus.

Pemimpin dalam jemaat (umat Israel yang sudah diperbaharui oleh Roh Kudus) tentu berharap lebih banyak pengalaman seperti sukses Neh 6 daripada kekecewaan Neh 13. Namun kita harus siap juga untuk melihat bagaimana suatu sukses dirongrong oleh kelemahan orang percaya bahkan jemaat yang mungkin belum percaya. Upah kita adalah dari Tuhan. Itulah sumber keberanian kita dan pengarah kecerdikan kita.


Kis 15:35-41

April 16, 2008

Aduh! Paulus dan Barnabas baru berhasil menyatukan jemaat Yahudi di Yerusalem dengan jemaat-jemaat bangsa-bangsa (Kis 15:25). Kemudian mereka sendiri terpecah! Dan Lukas merekamnya!

Menarik untuk melihat kata Paulus dan Barnabas dalam konkordansi untuk pp.13-15. Barnabas tidak disebut tanpa Paulus, dan Paulus hampir tidak disebut tanpa Barnabas. Mereka sepertinya tak terpisahkan. Hal itu berarti bahwa perpisahan mereka pasti membawa duka. Namun, ada beberapa hal positif di dalamnya.

Baca entri selengkapnya »


2 Kor 3:7-18 Mengapa berani?

Februari 15, 2008

Pernah ada komentar tentang suatu acara antar-agama di Australia bahwa doa wakil agama-agama yang lain dalam acara itu jelas berbau agamanya masing-masing, tetapi doa wakil orang Kristen umum saja. Orang Kristen Barat sering merasa agak malu di depan penganut agama-agama yang menderita dan diremehkan di bawah penjajahan Barat.

Rasul Paulus tidak malu demikian (a.12), tetapi bukan karena kesanggupan Paulus sendiri (a.5). Sebaliknya, dalam 2 Kor 1 jelas bahwa Paulus hampir meninggal (1:8-11), dan juga mengecewakan jemaat di Korintus (1:15-24). Perikop kita mau menegaskan bahwa keberanian Paulus berasal dari Injil yang dilayankan.

Baca entri selengkapnya »