3 Yohanes 1:5-8 Mendukung kebenaran [16 Oktober 2011]

Oktober 13, 2011

Si “penatua” yang menulis surat ini biasanya dianggap rasul Yohanes, karena gaya dan bahasa mirip dengan 1 & 2 Yohanes dan Injil Yohanes. Selain itu penatua ini memiliki wibawa yang jelas. Diduga bahwa rasul Yohanes pernah pindah ke Efesus di mana pelayanannya dapat berkembang dan berbuah di kawasan Asia kecil, yakni jemaat-jemaat seperti dalam Wahyu pp.2-3. Kemungkinan besar Gayus adalah anggota salah satu jemaat dalam wilayah pelayanan Yohanes itu. Dalam surat yang intim ini kita mendapat wawasan tentang beberapa nilai yang penting bagi Yohanes berdasarkan “kebenaran”, yaitu kebenaran Injil.

Penggalian Teks

Nas kita merupakan inti dari surat ini. Aa.1-4 sudah menyatakan sukacitanya jika anak-anak rohaninya hidup dalam kebenaran. Aa.5-8 menjelaskan apa yang dilakukan dan memberi pujian atas hal itu. Ada kelompok orang yang berkeliling ke berbagai daerah dalam rangka pelayanan tertentu (a.7 “karena nama-Nya”) dengan hanya mengandalkan orang-orang percaya. Di kota tempat Gayus tinggal mereka diterima oleh Gayus (a.5) dan diberi bantuan untuk melanjutkan perjalanan mereka (a.6a). Mereka kemudian sampai di jemaat si penatua (apakah karena memang berasal dari jemaat itu, artinya, mereka adalah utusan-utusan jemaat induk itu?) dan memberi kesaksian tentang penerimaan itu (a.6a).

Penerimaan Gayus itu disebut sebagai tindakan orang percaya (a.5) yang sangat tepat (a.6b, “baik benar”). Dalam a.8 penerimaan itu disebut sebagai kewajiban, karena dengan demikian kita mengambil bagian dalam pekerjaan mereka.

Maksud bagi Pembaca

Dari a.11, kita melihat bahwa penulis mau menguatkan Gayus dalam jalan yang baik. Tujuan itu diusahakan dengan memuji tindakannya berdasarkan prinsip kunci dalam a.8b, yaitu bahwa dengan menolong seseorang dalam pelayanannya yang baik kita mengambil bagian di dalamnya.

Makna

Kata kebenaran menerjemahkan aletheia dalam surat ini, bukan dikaiosune. Dikaiosune merujuk pada tindakan yang tepat, sedangkan aletheia merujuk pada apa yang sesuai dengan kenyataan. Kenyataan itu bisa sesuatu yang tersirat di balik apa yang kelihatan atau di bawah permukaan. Konsep tentang aletheia ada dalam semua budaya. Jadi, dalam budaya lama Toraja orang menganggap bahwa di balik penyakit atau hama ada pelanggaran yang perlu diungkapkan. Para filsuf Yunani mengklaim bahwa di balik dunia yang fana dan labil ini ada dunia ide yang kekal. Alkitab mengklaim bahwa di balik kekacauan dunia yang berpuncak dalam kematian Anak Allah Yesus Kristus ada kemenangan Allah yang diwujudkan dalam kebangkitan Kristus. Konsep kita tentang aletheia selalu berpengaruh pada tingkah laku kita, sehingga dalam a.3 penulis mengatakan, “engkau hidup dalam aletheia”, artinya, hidup sesuai dengan kenyataan yang diungkapkan oleh Injil Kristus.

Makanya, prinsip dalam a.8b bukan prinsip umum tentang memberi tumpangan bagi orang-orang dalam kesusahan melainkan mendukung orang yang berkerja bagi kebenaran Injil Kristus. (Menolong orang dalam kesusahan tentu adalah hal yang baik, hanya, bukan itu yang dibahas dalam surat ini.) Dengan memberi dukungan tertentu kepada orang-orang tertentu, kita mendukung apa yang mereka lakukan dan dengan demikian mendukung kebenaran (aletheia) yang mereka saksikan. Satu implikasi adalah bahwa tidak semua orang layak didukung. Dalam 2 Yoh 10-11 penulis yang sama justru melarang dukungan bagi penyesat, karena dengan demikian “ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat”.

Apa yang tergolong dukungan dan apa yang tidak ada unsur budaya di dalamnya. Andaikan ada pendeta dari aliran yang sesat mengikuti konferensi yang bersifat umum saja (misalnya, menyangkut penyakit sosial), ada tempat yang lebih baik bila tidak pernah makan semeja dengan dia karena akan dianggap mendukung, tetapi di tempat lain (seperti dunia Barat pada umumnya) makan semeja tidak mempunyai artian demikian dalam konteks seperti itu. Yang penting, kita mendukung (sesuai dengan budaya setempat) pelayanan yang sesuai dengan kebenaran Injil, dan tidak mendukung apa yang tidak. Tentu, membedakan yang mana sesuai dan yang mana tidak bisa saja kontroversial (rekomendasi dari pihak yang dipercaya dapat menolong, a.11). Kerumitan dalam hal itu tidak meniadakan prinsipnya. Tidak semua orang dapat melakukan pekerjaan Tuhan dalam segala aspek, tetapi kita dapat membantu orang-orang yang dipanggil, untuk menjadi pelayan, penginjil dsb.


2 Kor 5:11-21 Menghayati dan melayankan pendamaian dalam Kristus [2 Oktober 2011]

September 28, 2011

Perikop ini adalah perikop yang kaya dengan makna bagi para pelayan, seperti sebagian besar pembaca blog saya. Isinya jauh melebihi apa yang dapat disampaikan dalam satu kali khotbah. Jadi, saya menghimbau pembaca untuk mengambil kesempatan ini untuk merenungkan pelayananya sendiri bersama dengan Rasul Paulus. Allah mau berfirman terlebih dulu kepada saudara. Kemudian, di bagian makna ada usaha sederhana untuk mengkontekskan teologi Paulus bagi budaya Toraja.

Penggalian Teks

Hubungan Paulus dengan jemaat di Korintus penuh ketegangan, sebagaimana dilihat dalam kedua surat yang kita miliki yang dia tulis kepada mereka. Dalam bagian pertama surat kedua ini (sampai p.7) Paulus menjelaskan pelayanannya, supaya jemaat di Korintus dapat lebih mengerti mengapa dia tidak menepati suatu janji untuk mengunjungi mereka (1:17). Masalah itu menjadi bahan untuk satu kelompok di jemaat yang menganggap Paulus tidak layak sebagai rasul. Yang ditegaskan Paulus bukan kelayakannya melainkan kemuliaan pelayanannya, yaitu pelayanan perjanjian baru dalam Roh (p.3), yang di dalamnya kemuliaan Allah dinampakkan dalam kelemahan para pelayan-Nya (p.4, bdk. 4:7 yang terkenal itu tentang bejana liat). Kemudian, Paulus membahas ujung atau cakrawala dari pelayanannya, yaitu harapan untuk berada bersama dengan Kristus dan pengadilan terakhir (5:7-10). Perikop kita merupakan inti dari apa yang dilakukan Paulus, diikuti oleh seruan kepada mereka untuk menerimanya (6:11; 7:2).

Alur penguraian Paulus dalam perikop kita diberi topik, “kami…meyakinkan orang”, dan mulai dengan komentar tentang relasi Paulus dengan mereka (11-13), yang dijelaskan (“sebab”) sebagai akibat dari kasih Kristus (14-15). Dua implikasi disampaikan, yang pertama tentang manusia baru (16-17), kemudian tentang pelayanan yang meyakinkan untuk membawa kepada pembaruan itu (18-21).

A.11 mulai dengan satu motivasi mendasar Paulus, yaitu takut akan Allah. Aa.11-13 membandingkan penilaian Allah dengan penilaian manusia. Bagi Paulus yang pokok ialah penilaian Allah. Di depan takhta pengadilan Kristus itu hati kita semua akan dinyatakan [fanerothenai, LAI “menghadap”] (10). Dia berharap bahwa jemaat sepaham dengan penilaian Allah [pefanerosthai, LAI “hati kami nyata dengan terang”] (11b), dan dia menjelaskan bagian surat ini sebagai usaha supaya mereka bisa kuat di hadapan kelompok penentang itu (12), suatu kelompok yang melihat lahir (harfiahnya, “muka”), bukan batin (“hati”). Kegiatan pokok Paulus adalah meyakinkan orang (11); jika dalam melakukan pelayanan itu ada yang sepertinya kurang waras, hal itu karena Paulus melayani Allah, jika Paulus menyesuaikan diri dengan harapan mereka, hal itu demi melayani mereka (13). Paulus diarahkan oleh penilaian Allah sekarang yang akan dinyatakan pada akhir zaman, bukan oleh pendapat orang.

Bagaimana bisa ada orang yang begitu bebas (13a) sekaligus terikat (13b)? Kasih Kristus sudah memegang Paulus dengan erat (14). Kasih Kristus berarti bahwa Kristus telah mati bagi semua orang, sehingga mereka telah mati bagi dosa untuk hidup bagi Kristus yang mati dan bangkit itu (menafsir aa.14-15 dalam terang Rom 6:3-4). Paulus tidak hanya menangkap kebenaran itu, ia ditangkap olehnya, karena di dalamnya ada implikasi penting bagi semua orang.

Implikasi pertama ialah Paulus sudah melihat manusia dengan mata baru. Jika dia pernah melihat Kristus sebagai penyesat, dan manusia berdosa sebagai sampah (16), sekarang dia melihat Kristus sebagai perintis ciptaan baru, dan semua orang di dalam-Nya sebagai bagian dari ciptaan itu (17).

Implikasi kedua menyangkut pelayanan Paulus. Paulus berubah karena dia sendiri telah didamaikan dengan Allah yang sekaligus mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepadanya (18; bdk. Kisah Para Rasul p.9). A.19 memperluas a.18: Allah mendamaikan bukan hanya Paulus atau “kita”, tetapi dunia. Yesus bukan hanya sarana [dia + genitif, LAI “dengan perantaraan”] tetapi wadah atau tempat [en, LAI “oleh” tetapi dalam banyak versi bahasa Inggris “di dalam”]. Caranya dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Jika dikaitkan dengan a.14 (“semua” = “dunia”), maksudnya sepertinya bahwa di dalam Kristus dunia telah mati sehingga pelanggaran mereka tidak berlaku lagi. Dengan demikian ada damai: pelanggaran kita bukan lagi penghalang dalam relasi dengan Allah, baik bagi Allah maupun bagi kita yang sadar akan keberdosaan kita. Itulah berita pendamaian yang dipercayakan kepada Paulus.

Kesimpulannya [oun, LAI “jadi”) bahwa Paulus (bersama dengan rekan-rekannya, paling sedikit Timotius, bdk. 1:1) adalah utusan Kristus (20). Seperti digambarkan Paulus di sini, seorang utusan menjadi penyambung lidah dari pengutusnya. Pesannya supaya jemaat di Korintus menerima pendamaian itu. Dua kali Paulus mengatakan “demi Kristus” [pertama kali tersirat dalam “utusan Kristus”, kedua kalinya “dalam nama Kristus”], dan a.21 memperjelas hal itu. Kristus tidak mengenal dosa, tetapi Allah memperhitungkan-Nya sebagai orang berdosa demi kita, supaya kita dapat diperhitungkan sebagai orang benar. Demikian kasih Kristus yang mendorong Paulus untuk meyakinkan bahkan jemaat di Korintus untuk didamaikan dengan Allah.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Korintus tetap menerima wibawa kerasulannya, dan demi tujuan itu dia menjelaskan bagaimana kematian dan kebangkitan Kristus mendorong dia untuk memandang manusia sebagai orang yang dipanggil untuk didamaikan dengan Allah.

Allah juga mau supaya kita menerima wibawa rasul Paulus, dalam bentuk surat-suratnya. Jika kita sudah ditangkap oleh kasih Kristus itu, kita juga akan memandang manusia sama seperti Paulus, walaupun peran kita tidak persis sebagai rasul. Bagi para pelayan, intinya mungkin bisa disampaikan begini: apakah saudara mencari damai dengan jemaat (tidak ada keluhan, ribut-ribut dsb, tafsiran utama “damai sejahtera bagi semua”, kadangkala), atau mencari jemaat didamaikan dengan Allah (intisari dari damai sejahtera yang sesungguhnya)? Apakah saudara mencari muka di hadapan manusia atau di hadapan Allah yang melihat ke dalam hati? Paulus mau memberi jemaat di Korintus alasan untuk memegahkannya, yaitu alasan bahwa dia semata-mata digerakkan oleh takut akan Tuhan dan kasih Kristus. Bukan alasan S.2nya, bukan dekatnya dengan pimpinan gereja.

Makna

Apa yang menjadi dasar hidup yang setia kepada Kristus? Kata Paulus, kasih Kristus. Kasih Kristus itu bagaimana? Jawab banyak pelayan dan anggota jemaat yang saya dengar, kasih Kristus dikenal dalam keseharian hidup, bahwa saya telah bangun, bahwa saya dapat makan, menikmati keluarga dsb. Apa jawab Paulus? Kasih Kristus dikenal karena Kristus telah mati dan bangkit. Mengapa saya menganggap jawaban Paulus jauh lebih unggul? Karena pemeliharaan Allah tidak menentu. Hari ini semuanya baik-baik saja, besok musibah melanda. Kalau begitu, kasih Kristus itu ke mana? Paulus tidak meragukan kasih Allah dalam keseharian hidupnya, tetapi selalu dalam surat-suratnya landasan harapannya ialah Kristus yang telah mati dan/atau bangkit. Hanya dengan landasan itulah kita boleh dengan mata terbuka dan tidak berpura-pura mengimani kebaikan Allah dalam duka sama seperti dalam suka. Landasan yang lain hanya merupakan basa-basi saja. Makanya, banyak jemaat yang lekas tergoyang oleh masalah.

Lalu, mengapa kematian dan kebangkitan Kristus dilihat sebagai tindakan kasih? Satu aspek adalah pengorbanan Yesus. Biasanya hal itu dilihat dari perspektif penderitaan Kristus, dan perspektif itu memang betul (misalnya, Rom 8:17). Tetapi dalam a.21 kita melihat Yesus masuk dalam keadaan yang pasti sangat menjijikkan, yaitu dibuat menjadi dosa. Yesus ditempatkan dengan, dan diperlakukan oleh Allah sebagai, orang berdosa, orang najis, orang yang layak disingkirkan dengan mati.

Aspek yang lain ialah bahwa ada hasil dari pengorbanan itu, yaitu pendamaian dengan Allah dan status sebagai ciptaan baru. Saya coba memikirkan hal it dari konteks adat lama Toraja, dan mohon perbaikan atau tambahan usul dari yang lebih tahu. Di berbagai tempat di Toraja, ada proses pendamaian yang disebut massuru’ (menyisir). Unsur pertama di dalamnya adalah pengakuan yang disebut dipassaluan (dalam Kamus Toraja-Indonesia), menyebut satu per satu pelanggaran. Setelah semua yang terkait sudah mengaku pelanggarannya dan semuanya sudah terungkap (paling sedikit menurut imamnya, to minaa) maka bisa juga ada kurban ditentukan. Dengan demikian kekacauan dipulihkan (seperti kutu disisir dari rambut). Tetapi, bagaimana jika pelanggaran terungkap oleh penelaahan to minaa, tetapi dibantah oleh yang bersangkutan? Apakah pembangkang itu harus dikeluarkan untuk memulihkan kekacauan?

Pola seperti itu tidak asing dalam banyak budaya, termasuk PL. Im 4:27-28 membayangkan dosa yang tidak disengajakan tetapi kemudian diberitahukan (terungkap lewat undi imam?) kemudian ada kurban. Dalam Yosua p.7 ada dosa yang sengaja yang diungkapkan melalui serangkaian petunjuk dari Tuhan (mungkin undi Urim dan Tumim itu), kemudian ada pengakuan dan kurban, dalam kasus ini pelanggar sendiri (Akhan). Bahkan pembuangan Israel dapat dilihat dalam perspektif pola itu. Tuhan mengungkapkan pelanggaran-pelanggaran Israel melalui nabi-nabi, tetapi hal itu ternyata tidak berhasil memulihkan kekacauan Israel. Dengan demikian Israel sendiri harus dibuang. Dalam Daniel p.9 pemulihan (pengembalian ke tanah Israel) bisa terjadi setelah ada pengakuan dosa dengan penghapusan kesalahan (Dan 9:24). Pola yang saya lihat di dalamnya, yang ada di dalam massuru’ juga, ialah perlunya dosa (kekacauan) diperjelas, dengan kurban sebagai penghapus dosa atau pelurus kekacauan itu.

Jelas dalam perikop kita bahwa kurban itu kematian Kristus. Malah, fungsi kurban itu diperjelas dalam perikop ini. Dalam pola yang satu tadi, kekacauan ditangani dengan disingkirkan—manusia diusir dari taman Eden, Israel dibuang dari tanah perjanjian, lebih umum lagi manusia mati. Kurban itu berfungsi sebagai wakil yang menggantikan. Jika Akhan harus dimatikan, orang Israel pada umumnya dapat menawarkan kurban penebus salah. Jadi, Yesus mati bagi semua orang—dosa dihapus di dalam dirinya. Kalau begitu, di mana dosa diperjelas, dipassaluan? Tuntasnya pada takhta pengadilan Kristus (a.10, ingat tadi usul artian “hati dinyatakan”). Pada saat itu akan ada dipassaluan yang lengkap, menyeluruh, dan serba betul dan adil. Setelah itu, kekacauan menjadi masa lampau dalam dunia baru, dengan semua di dalam Kristus dibenarkan (a.21), dan semua di luar Kristus dihancurkan (bdk. 1 Kor 15:20-24). Tetapi dengan bergabung dengan Kristus (“siapa yang ada di dalam Kristus”), kita bisa masuk dunia baru itu sekarang juga (“ia adalah ciptaan baru”, a.17). Melihat a.15 dan a.20, berada di dalam Kristus mengandaikan bahwa kita sudah mulai sadar tentang kekacauan dalam diri dan berubah haluan. Bertobat mengandaikan dipassaluan secara pribadi, paling sedikit di hadapan Allah, tetapi saya duga juga di depan sesama, seperti pengakuan dosa dalam baptisan (Yak 5:16 sepertinya juga mendukung intisari dari dipassaluan itu, tetapi itu cerita lain). Kita menjadi bagian dari penyisiran kekacauan dunia, hidup bagi Allah, bukan lagi pengacau yang hidup untuk dirinya sendiri.


Bil 27:12-23 Pemimpin dipilih Allah sebagai gembala [17 Juli 2011]

Juli 8, 2011

Dalam Bil 20:12 Musa dan Harun diberitahu bahwa mereka tidak akan masuk ke tanah perjanjian. Dalam 20:22-26, kematian Harun diceritakan serta penggantiannya dengan Eleazar. Pada awal p.26 perjalanan Israel selesai. Mereka sudah diantar Tuhan melalui berbagai ancaman dan bahaya dengan selamat, sehingga waktunya untuk memasuki tanah perjanjian dekat. Hal itu disinyalir dengan perhitungan Israel yang kedua kalinya dalam p.26, sebagai persiapan untuk pembagian tanah (26:52-27:11). Jadi, muncullah dalam perikop ini soal pengganti Musa.

Penggalian Teks

Setelah salah satu masalah pembagian diselesaikan dalam perikop sebelumnya, Tuhan mengingatkan Musa tentang keputusan-Nya dalam Bil 20:12 itu dengan tambahan bahwa Musa akan memandang negeri Israel dari jauh (aa.12-14). Hal itu baru diceritakan pada akhir kitab Ulangan, tetapi Musa langsung mengangkat masalah penggantinya. Aa.15-23 membahas soal itu, dengan permintaan Musa (aa.15-17), jawaban Tuhan (aa.18-21), dan pelantikan Yosua (aa.22-23).

Tentang soal itu Musa berdoa, artinya, membawa persoalan itu kepada Tuhan. Permintaan Musa mulai dengan mengingatkan Allah bahwa Dia menciptakan dan mengenal roh dari semua orang, sehingga Dia yang paling layak menentukan siapa penggantinya (a.16). Tetapi pula Musa tidak segan mengangkat kriteria untuk pemimpin ini (a.17). Kata “mengepalai” menerjemahkan kata “di depan”. Gambarannya bahwa pemimpin ini akan mendahului Israel dalam keluar dan masuk, sama seperti seorang gembala dengan domba-dombanya.

Allah segala roh itu menjawab bahwa Yosua adalah orang yang penuh roh (a.18). Acara untuk mengutus Yosua digambarkan dalam aa.18-22. Tujuannya muncul dalam a.20, yaitu supaya sebagian wibawa (biasa diterjemahan “keagungan”, tetapi “wibawa” cocok dalam konteks ini) Musa diserahkan kepada Yosua. Musa memperlihatkan perkenannya atas Yosua dengan memberi perintah dan meletakkan tangan di depan umat. Imam sebagai perantara keputusan Allah membuktikan perkenan Allah dengan memakai Urim. Pentingnya wibawa sederhana: supaya umat mendengarkan Yosua.

Aa.22-23 melaporkan pelaksanaan acara itu, dengan tekanan pada awal dan akhir bahwa semuanya sesuai dengan firman Tuhan. Namun, Yosua belum berperan aktif sampai Musa mati. Beda dengan Eleazar yang dilantik pas ketika Harun mati, Yosua dilantik ketika Musa masih aktif. Alasannya mungkin bahwa wibawa Musa begitu unik sehingga dia diperlukan untuk penggantian ke generasi kedua.

Maksud bagi pembaca

Secara khusus perikop ini menjunjung tinggi Musa dan Yosua, sebagai pemimpin perdana dan penerus pertama umat Israel yang diselamatkan dari Mesir. Padanannya dalam PB adalah Yesus, Dia yang lebih besar dari Musa itu (Ibr 3:3; antara lain karena tidak ada dosa-Nya seperti Musa sehingga dilarang untuk mencapai janji Allah). Dialah Gembala Agung, yang menjaga kawanan dombanya dalam segala keluar-masuknya.

Tetapi tentu di dalam teladan pemimpin pertama, Allah juga menyampaikan beberapa pokok umum tentang kepemimpinan seterusnya, yaitu, pemimpin dipilih oleh Allah sebagai gembala yang akan didengarkan oleh karena wibawanya yang datangnya dari Allah.

Di balik itu, kedaulatan Allah ditunjukkan dengan pola yang sangat lazim dalam Alkitab, yaitu suatu tindakan diperintah lebih dulu oleh Allah, baru dilaporkan pelaksanaannya “seperti yang difirmankan Allah”.

Makna

Penggembalaan menjadi kiasan yang lazim untuk kepemimpinan dalam PL. Gembala membawa kawanannya kepada rumput dan air, dan melindunginya dari bahaya (bdk. Mzm 23). Gembala diikuti karena kawanannya sadar bahwa kehidupan mereka bergantung pada gembalanya. Dengan demikian, kiasan ini merujuk pada gaya kepemimpinan yang tidak berdasarkan pemaksaan. Dengan demikian wibawa menjadi pokok. Tanpa domba percaya bahwa pemimpin akan memimpin ke tempat yang baik dan melindungi umat dari bahaya, mereka tidak akan mendengarkan. Apa itu “tempat yang baik” dan “melindungi” tergantung umat yang dipimpin. Bagi Israel sebagai bangsa yang teokratis, tempat yang baik adalah tanah perjanjian, dan perlindungan termasuk perlindungan dari bangsa-bangsa musuh disekitarnya. Tetapi Israel juga perlu dilindungi dari bahaya penyelewengan dari hukum Tuhan. Ketidaktaatan adalah musuh dari dalam yang lebih berbahaya daripada musuh dari luar. Gembala Agung memimpin jemaat ke tempat yang paling baik, yaitu dunia yang baru, dan membela kita dari serangan Iblis, dunia dan daging. Pemimpin (pelayan) jemaat bertugas untuk membawa jemaat kepada Gembala Agung, dan melindungi jemaat dari bahaya iman, misalnya ajaran palsu dan dosa yang dibiarkan berkembang.


2 Kor 10:1-11 Rasul yang membangun dengan meruntuhkan

November 8, 2010

Maksud perikop ini tidak mudah dimengerti sepintas lalu. Makanya, proses membuat amanat khotbah dapat digambarkan. Saya akan menunjukkan struktur perikop, dengan menjelaskan beberapa perkataan Paulus yang mungkin membingungkan. Struktur itu didapatkan dengan menyusun kembali kalimat-kalimat sesuai dengan induk dan anak kalimat, dan dengan memperhatikan kata-kata (atau kelompok kata dengan maksud yang mirip atau berlawanan) yang diulang. (Tentu, proses ini lebih jelas dalam bahasa Yunani, tetapi dapat dilakukan dari terjemahan yang baik.) Kemudian saya akan coba merumuskan amanat teks. Baru setelah itu, ada usulan aplikasi, pertama-tama untuk pelayan (yaitu pembaca sasaran blog ini), kemudian untuk jemaat.

Soal dekat dan jauh bermunculan dalam aa.1-2 (a.1 “berhadapan muka”, “berjauhan” [apōn], a.2 “dekat” [parōn]), dan kemudian dalam aa.9-11 (a.9 “surat-surat”, a.10 “berhadapan muka”, a.11 “berhadapan muka”, “surat-surat”, “tidak berjauhan” [kembali parōn]). Makanya, aa.1-2 dan aa.9-11 merupakan bagian awal dan terakhir. Ternyata aa.9-11 diperlukan untuk memperjelas aa.1-2. Dalam a.1 Paulus sepertinya mengaku tidak berani di hadapan mereka tetapi berani jika jauh. A.9 memperjelas bahwa sikap Paulus jika jauh disampaikan melalui surat-surat, dan dalam a.10 kita melihat bahwa yang dikatakan dalam a.1 adalah tuduhan kelompok tertentu, yaitu orang-orang yang menganggap diri rasul (11:5). Makanya, a.1 adalah perkataan ironis, yaitu maksud Paulus kebalikan dari apa yang tersurat. Dia seakan-akan mengaku tidak berani dalam a.1, tetapi sebenarnya, seperti dia katakan dalam a.11, dia sanggup menindaki kelompok “super-rasul” itu. Jika ironi Paulus sudah disadari, kita akan memperhatikan pula bahwa dalam a.1 dia mencirikan Kristus “lemah lembut dan ramah”, bukan berani. Ironi itu lebih tajam dalam bahasa aslinya. “Tidak berani” menerjemahkan kata tapeinos. Dalam budaya Yunani yang menonjolkan persaingan dalam status, kata itu biasanya dipakai untuk menghina, tetapi dalam jemaat-jemaat Paulus kata itu menjadi pujian, sehingga diterjemahkan “rendah hati”, karena Kristus menunjukkan statusnya sebagai yang setara dengan Allah dengan jalan merendahkan diri sampai pada salib (Fil 2:5-11). Ketika dia berhadapan dengan mereka, Paulus bersikap sesuai dengan Injil, yaitu rendah hati, tetapi hal itu ditafsir sesuai dengan budaya setempat, yaitu sebagai ketidakberanian.

Satu tuduhan kelompok “super-rasul” itu ialah bahwa Paulus hidup secara duniawi (a.2). Aa.3-6 merupakan satu kalimat dalam bahasa Yunani, sebagai tanggapan Paulus terhadap tuduhan itu. Paulus memakai bahasa yang paling disukai budaya persaingan, yaitu bahasa perang (a.3 “berjuang”, a.4 “senjata”, “perjuangan”, “meruntuhkan benteng-benteng”, a.5 “mematahkan”, “menawan”, “menaklukkan”). Hanya, yang diperangi bukan manusia melainkan “siasat” dan “pikiran”, yaitu “keangkuhan yang menentang pengenalan akan Allah” (a.5) dan, dalam a.6, “kedurhakaan” sebagai lawan ketaatan. Senjata Paulus tidak diperincikan di sini, tetapi dari surat-menyurat dengan jemaat di Korintus senjata itu termasuk pemberitaan salib (1 Kor pp.1-2) dan kelemahan (2 Kor 12:10; bnd. juga Ef 6:10-20). Ternyata, cara yang mendapatkan kuasa Allah untuk melawan kedurhakaan bukan dengan menonjolkan kehebatan diri sendiri (sebagai orang yang lebih tahu atau lebih rohani) melainkan dengan jalan salib. Paulus, dalam penguraian berikutnya, bermegah dalam pelayanannya yang cuma-cuma kepada mereka (11:7) dan dalam penderitaannya (11:16 dst). Hal itu tidak menutup kemungkinan untuk disiplin gerejawi; saya duga bahwa “menghukum” dalam a.6 merujuk pada dikeluarkannya kelompok “super-rasul” dari jemaat, jika jemaat di Korintus sudah kembali pada jalur yang semestinya. Tetapi hal itu harus terjadi karena jemaat di Korintus sudah diyakinkan kembali tentang jalan salib itu, bukan karena dibujuk atau dipaksa oleh wibawa Paulus.

Setelah menjelaskan dan membela cara dia berjuang, dalam aa.7-8 Paulus kembali menegaskan statusnya. Sepertinya kelompok “super-rasul” itu (atau orang tertentu di dalamnya) menganggap diri memiliki relasi khusus dengan Kristus. Paulus menegaskan bahwa dia juga adalah milik Kristus. Malah, Pauluslah yang diberi kuasa oleh Allah (a.8), sebagai rasul kepada bangsa-bangsa (Gal 2:7-9) dan pendiri jemaat di Korintus (Kis 18). Hanya, kuasa itu diberikan untuk membangun bukan meruntuhkan. Paulus meruntuhkan gagasan dan keangkuhan, tetapi demi membangun orang. Dengan selesainya penjelasan itu, Paulus siap kembali pada soal sikap berani / lemah itu untuk meyakinkan mereka bahwa, dengan cara yang sesuai dengan Injil, dia dapat tegas.

Dari keempat bagian itu (1-2; 3-6; 7-8; 9-11), bagaimana sampai suatu amanat teks? Apakah inti pokok terkait dengan sikap Paulus yang dianggap plin-plan, peruntuhan keangkuhan, kerasulan Paulus, atau maksud Paulus untuk menindak kelompok “super-rasul” itu? Untuk mencari mana yang pokok, kita harus melihat bagian mana yang menopang. Aa.3-7 menjelaskan aa.1-2, artinya bahwa keberanian Paulus dipakai untuk meruntuhkan keangkuhan, tetapi kepada orangnya sendiri dia mau rendah hati sama seperti Kristus. Hal itu tidak mengesampingkan aa.3-7. Tanpa ayat-ayat itu aa.1-2 belum terlalu dalam. Aa.9-11 mengulang dan memperjelas aa.1-2. Tinggal apakah aa.7-8 menopang bagian-bagian lain atau sebaliknya. A.8 memang mengungkapkan satu masalah inti dalam pp.10-13, yaitu penerimaan kerasulan Paulus. Namun, hal itu justru dikaitkan dengan sikap ganda Paulus, yaitu membangun (dengan kerendahan hati) atau meruntuhkan (dengan sikap persaingan yang menjatuhkan). Dalam keempat pasal ini Paulus mau membela kerasulannya, tetapi bukan demi dirinya sendiri melainkan demi suatu pemahaman tentang Injil, yang sering kita sebut teologi salib, mengikuti Martin Luther.

Jadi, perikop ini menyampaikan bagaimana Paulus menunjukkan otoritasnya sebagai rasul, yaitu dengan meruntuhkan keangkuhan manusia demi membangun jemaat. Tujuannya supaya pembaca menerima kembali kerasulannya sesuai dengan pemahaman yang sehat tentang Injil.

Penerapan untuk para pelayan hendaknya sudah jelas. Ada cara pastoral yang suka menegor jemaat karena berbagai sikap dan tindakan yang tidak baik, tetapi justru tidak membongkar pikiran dan siasat yang mendasari sikap-sikap itu. Hal itu lebih parah lagi jika pelayan merasa diri hebat karena tidak bodoh / najis / kacau seperti jemaat. Cara Paulus melihat jemaat sebagai sangat sanggup dibangun, asal pikiran dan sikap yang menghalangi dapat dirombak dengan ajaran dan teladan yang berpusat pada Kristus yang disalibkan itu.

Untuk tujuan khotbah, kita mungkin memperluas soal otoritas Paulus untuk mencakup semua penggunaan kuasa dalam jemaat. Jika ada perselisihan di jemaat, cara apa yang dipakai? Cara yang mendasari Injil salib, sehingga orang mau saling membangun dengan saling membantu memahami bagaimana kebenaran Injil perlu diterapkan dalam kasus yang diperdebatkan? Atau cara persaingan, di mana gengsi orang terbungkus dalam soal kalah menang dalam argumentasi? Apakah kubu-kubu keangkuhan dipertahankan, atau dibongkar demi kesehatan bersama jemaat? Paulus memiliki kuasa sebagai rasul Allah, tetapi dia tetap mau meyakinkan dan membangun, daripada main kuasa. Lebih lagi kita jemaat biasa.


Titus 2:1-10 Pelayan, ajaran dan jemaat yang sehat

September 20, 2010

Titus 1 menugasi Titus untuk menghadapi masalah ajaran yang tidak sehat dalam jemaat-jemaat di Kreta (1:5). Ajaran itu berdampak pada kekacauan (1:10) dan jemaat yang rentan terhadap penipu (1:11). Dalam p.2 Paulus memberitahu Titus apa yang harus diajarkan untuk menanggapi ajaran yang tidak sehat itu (lihat “beritakanlah” dalam a.1 dan a.15 untuk membuktikan bahwa aa.1-15 merupakan satu kesatuan). Nasihat Paulus terbagi dua. Perikop kita (aa.1-10) menguraikan gambaran tentang hidup yang tertib untuk berbagai kelompok: laki-laki yang tua (a.2); perempuan yang tua (aa.3-4a); perempuan yang muda (aa.4b-5); pemuda (a.6) dan hamba (aa.9-10). Dalam penguraian itu kelompok pertama (a.2) menunjukkan pola mendasar, karena beberapa kali kemudian ada kata “demikian…demikian” (aa.3, 5). Jadi, nasihat mendasar adalah hidup sederhana (secara harfiah bukan peminum, tetapi secara kiasan bukan seperti peminum yang tidak dapat mengendalikan diri), terhormat (karena kebaikannya), bijaksana dan akhirnya sehat dalam iman, kasih dan ketekunan (wujud nyata dari pengharapan, artinya, jika kita berpengharapan kita dapat bertekun). Yang terakhir ini menunjukkan bahwa yang diharapkan bukan sifat saja, tetapi sifat yang berasal dari Injil. Hal itu menjadi jelas dalam bagian kedua, yaitu aa.11-14, yang mendasarkan sifat baik dalam a.12 pada karya Allah dalam Kristus (aa.11, 13-14). Jadi, Titus harus menanggapi ajaran yang tidak sehat itu dengan nasihat tentang sifat hidup yang tertib serta dasar teologisnya.

Nasihat itu mendasari Injil, tetapi juga memperhatikan konteks. Dalam a.2 kata “terhormat” merujuk pada sesuatu yang dianggap sangat layak dikagumi, dan dipakai untuk dewa dan kaisar selain juga untuk manusia biasa yang dianggap terhormat. Artinya bahwa nilai-nilai setempat berperan dalam tingkah laku orang percaya. Bukan menentukan, karena Injil yang menentukan, tetapi kita hendak menghayati nilai-nilai Injil sedemikian rupa sehingga orang-orang di sekitar kita dapat melihat bahwa cara hidup itu terhormat. Makanya, nasihat kepada perempuan dan kepada hamba disesuaikan dengan budaya setempat, agar Firman Allah jangan dihujat orang (a.5) melainkan dimuliakan (a.10). Belum tentu di budaya modern bahwa hanya perempuan yang mengatur rumah tangga, atau bahwa karyawan harus taat dalam segala hal, karena karyawan bukan hamba. Tetapi kita tetap mau menunjukkan rumah tangga yang dapat dilihat sebagai sesuatu yang terhormat oleh orang di sekitar kita, dan menjadi karyawan yang memuliakan ajaran Allah.

Jika jemaat mau dijadikan wujud nyata Firman Allah bagi masyarakat di sekitarnya, pelayan juga harus menjadi teladan pemberitaannya kepada jemaat (aa.7-8). Menarik bagi saya bahwa soal keteladanan diangkat pada bagian tentang pemuda. Apakah pada saat itu juga pemuda lebih memperhatikan cara hidup daripada wacana? Tentu, soal keteladanan penting untuk semua kelompok.

Nasihat kepada kelompok-kelompok tidak sulit untuk disampaikan, tetapi apa relevansinya nasihat kepada Titus sebagai pelayan bagi jemaat biasa? Yang pertama, sebagian mereka melayani, entah sebagai majelis atau dalam salah satu OIG. Yang kedua, orang tua semestinya melayani dalam rumah tangga, dan kita semua dapat melayani teman-teman. Tetapi juga, jemaat dapat belajar dan memahami bagaimana semestinya pelayanan kepada mereka. Apakah pendeta dan majelis menjadi teladan firman yang dia sampaikan, contoh orang yang sehat dalam iman, kasih serta ketekunan? Jika tidak, mengapa dipilih?

Singkatnya, amanat teks dapat dirumuskan begini: Cara menghadapi dampak buruk ajaran yang tidak sehat pada kesaksian jemaat ialah pemberitaan nasihat yang dihayati oleh pelayan untuk hidup tertib berdasarkan Injil dan sesuai dengan konteks. Dengan kata lain, pelayan yang sehat memberitakan ajaran yang sehat supaya jemaat menjadi sehat dan membawa kemuliaan bagi firman Allah di masyarakat. Amanat khotbah dapat berfokus pada soal kualitas pelayanan ataupun pada penghayatan iman oleh jemaat.


Kis 20:28-38 Contoh Pelayanan Paulus

Juli 5, 2010

Pada akhir perjalanan misioner Paulus yang ketiga, sebelum dia ke Yerusalem, Paulus singgah di pelabuhan Miletus, 50 km dari Efesus, dan dari sana memanggil para penatua. Bahwa ada kelompok yang datang menunjukkan pentingnya Paulus, dan Injil yang Paulus bawa, bagi mereka.

Di tengah perpisahan yang penuh perasaan (aa.37-38), Paulus melakukan dua hal. Dia membela pelayanannya kepada mereka, dan mengingatkan mereka akan tanggung jawab mereka sebagai penatua. Paulus sadar bahwa kedudukan jemaat rentan. Ada dari luar, bahkan ada dari dalam jemaat, yang akan mengancam jemaat dengan gaya dan/atau ajaran yang bengkok (aa.29-30). Oleh karena itu, Paulus menceritakan hidupnya bersama dengan mereka, untuk membedakan dirinya dari pengajar-pengajar sesat, termasuk bahwa dia rela mempertaruhkan nyawanya asal dia setia kepada tugas yang diberikan Tuhan itu (aa.18-24). Karena pertemuan ini adalah kali terakhir bersama dengan mereka (a.25), dia bersaksi bahwa dia sudah menunaikan pelayanannya dengan penuh tanggung jawab (aa.26-27) dan tanpa pamrih (aa.33-34).

Oleh karena itu, dia berani mengangkat dirinya sebagai contoh bagi mereka (a.35). Hidupnya dapat disimpulkan sebagai membantu orang-orang lemah, sesuai dengan perkataan Yesus (yang tidak direkam di tempat yang lain) bahwa adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima. Membantu di sini mencakup kedua aspek tadi. Paulus membantu orang-orang yang imannya perlu dikuatkan (sebenarnya itu kita semua). Dia melakukan hal itu dengan memberitakan “seluruh maksud Allah” (a.27) sebagai cara untuk mempersiapkan jemaat untuk menghadapi ajaran-ajaran palsu. Dia juga membantu orang-orang yang kekurangan dalam kebutuhan hidup, seperti kawan-kawan seperjalanan. Contoh Paulus sangat tepat untuk para penatua itu. Mereka bukan pelayan penuh waktu yang berhak didukung jemaat (bnd. 1 Kor 9:4-11). Jadi, mereka memiliki tanggung jawab dalam pelayanan, dan juga rezeki untuk dijadikan berkat bagi orang lain. Paulus menjadi contoh untuk kedua hal itu.

Sekarang ada tiga kelompok yang membaca perikop ini. Yang pertama adalah pendeta, pelayan penuh waktu yang didukung jemaat. Yang kedua adalah para penatua yang bekerja dan juga turut bertanggung jawab atas pelayanan. Dalam sistem gerejawi kita pendeta lebih ahli, tetapi bersama-sama mereka bertanggungjawab untuk membantu jemaat menghadapi berbagai ajaran palsu. Hal “seluruh maksud Allah” tadi saya anggap penting di sini. Hal itu berarti bahwa seluruh Alkitab dikenal sebagai wadah untuk mengenal siapakah Allah melalui berbagai jenis sastra, tetapi terutama melalui kisah-kisah yang di dalamnya Allah bergerak, dan kisah agung yang dilihat dalam seluruh Alkitab. Jemaat yang sudah tertanam dalam kebenaran ini tidak mudah digoyangkan oleh ajaran yang menjanjikan kekayaan atau kesehatan, seakan-akan Yesus adalah dewa kesuburan atau penjamin jimat. Mereka juga tidak akan mudah digoyangkan oleh ajaran yang mengaburkan kasih karunia Allah sehingga Injil menjadi harapan bahwa jika orang berbuat baik, semua akan berjalan baik dan orangnya dapat lebih berharap akan masuk sorga (bnd. a.24). Tidak ada gunanya melawan hal-hal itu dengan kecaman saja. Ajaran (dan tingkah laku) yang tidak benar perlu dihadapi dengan pendalaman kebenaran Alkitab. Semua pengajar dalam gereja dapat membantu jemaat yang lemah dengan ajaran yang sehat.

Yang ketiga yang membaca perikop ini ialah jemaat biasa. Untuk kelompok ini, apakah yang bisa dianggap relevan hanya perkataan Yesus untuk memberi daripada hanya menerima? Hal itu memang penting. Tetapi betapa tugas para pengajar akan dilancarkan apabila jemaat memahami tugas itu dengan tepat. Sepertinya, jemaat kadangkala memahami tugas pelayan sebagai pelaksana ritus—entah di gedung gereja, pesta orang mati, atau di rumah—untuk membawa berkat dan mencegah kutuk. Ritus adalah hal yang baik, tetapi tujuan itu jauh dari tujuan di atas, yaitu supaya jemaat menikmati kasih karunia Allah. Pendeta kadangkala mengeluhkan jemaat yang harapannya tidak tepat. Dalam perikop ini ada kesempatan untuk memperbaiki pemahaman yang keliru.

Sebagai kesimpulan, perlu diingat bahwa semuanya bergantung pada kasih karunia Allah. Makanya, dalam a.32 Paulus menyerahkan mereka (dan saya juga menyerahkan pembaca yang setia membaca sampai ke sini!) “kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya”.


Kis 6:1-7 Bukan penunjang saja

April 5, 2010

Bagaimana prioritas antara pelayanan firman dan pelayanan sosial? Dalam perikop ini, para rasul mengatakan bahwa pelayanan firman dan doa tidak boleh diabaikan (aa.2, 4). Seandainya gereja ibarat tim sepak bola, pelayanan itu disamakan dengan permainannya. Memang perlu ada tim penunjang seperti pelatih, medis, administrasi dsb, tetapi tanpa tim yang bermain di lapangan semua yang lain tidak berarti. Tanpa firman dan doa, tidak ada gereja yang layak disebut gereja.

Gambaran itu menyatakan satu aspek dengan baik. Yang khas bagi gereja bukan pelayanan sosialnya tetapi pemberitaannya. Banyak lembaga umum yang melakukan upaya mewujudkan kasih. Tetapi yang menarik orang untuk menyerahkan diri dan percaya adalah firman tentang Kristus (a.7).

Namun, gambaran itu belum juga pas. Melayani meja bukan sekadar kegiatan penunjang yang hanya dibutuhkan karena alasan praktis. Kesatuan dalam persekutuan yang terwujud dalam diakonia merupakan bagian dari hakikat gereja. Yang dipilih untuk melakukan pelayanan itu orang yang penuh Roh Kudus dan hikmat (aa.3, 5). Mereka dilantik dengan peletakan tangan (a.6), sama seperti Paulus dan Barnabas sebelum pelayanan misi mereka (13:3). Artinya, mereka termasuk para pemain, bukan tim penunjang. Malah, mereka sanggup menjadi pemberita firman pada saatnya, seperti Stefanus dalam p. 7 dan Filipus dalam p. 8.

Kadangkala pencetak gol menarik lebih banyak perhatian sehingga dianggap lebih penting—oleh mereka yang belum memahami bahwa sepak bola adalah permainan tim. Pelayanan gereja dilakukan oleh satu tim yang melayani Tuhan dengan pemberitaan firman, doa, dan tindakan kasih. Jangan sampai diakonia diberikan kepada sembarang orang. Di hadapan Tuhan semua bentuk pelayanan membutuhkan orang yang penuh Roh dan hikmat.


Yoh 12:30-36 Jalan yang diajarkan kepada bangsa-bangsa

Maret 15, 2010

Setelah perikop minggu yang lalu, Yesus tidak bersembunyi lama di kota Efraim (11:54). Pada awal p.12 diceritakan bagaimana Yesus diurapi “mengingat hari penguburan-Ku” (12:7) lalu Yesus memasuki Yerusalem dielu-elukan orang banyak. Menurut Injil ini, besarnya orang banyak yang menyongsong Yesus itu karena kebangkitan Lazarus (12:17-18). Dalam kecemasan, orang-orang Farisi mengeluh bahwa “seluruh dunia datang mengikuti Dia” (12:19). Perkataan itu ternyata merupakan nubuatan juga, sebagaimana dilihat dalam perikop kita. Bukan hanya orang Yahudi, tetapi semua manusia, akan datang mengikuti Dia.

Wakil manusia non-Yahudi itu muncul dalam a.20. Mereka mau bertemu dengan Yesus, dan mereka dibantu oleh dua murid yang memiliki nama Yunani (Filipus dan Andreas), walaupun mereka adalah orang Israel. Di antara para murid pun ada unsur dunia non-Yahudi. Yesus menanggapi permintaan itu dengan pernyataan bahwa “telah tiba saatnya Anak Manusia dipermuliakan” (a.23). Mengapa permintaan orang Yunani menimbulkan respons itu?

Di balik perikop ini ada perikop Yes 2:1-5, yang berbicara tentang “hari-hari terakhir”, ketika “segala bangsa akan berduyun-duyun” ke gunung Tuhan. Nubuatan itu menjadi kerangka perkataan Yesus. Yoh 12:23-26 menjawab datangnya bangsa-bangsa, dan menguraikan jalan Tuhan yang disebut dalam Yes 2:3. Kemudian, dalam aa.27-33 Yesus ditinggikan, sama seperti “gunung tempat rumah Tuhan” menjulang tinggi (istilahnya sama dalam bahasa Yunani Injil Yohanes dan terjemahan Yesaya dalam bahasa Yunani). Yesus sudah menyamakan tubuh-Nya dengan Bait Allah (Yoh 2:21). Di sini peninggian Bait Allah menjadi pusat dunia digenapi dalam peninggian tubuh Yesus pada salib. Akhirnya, dalam aa.34-36 ada seruan untuk berjalan dalam terang, sama seperti Yes 2:5.

Hal itu berarti bahwa ada definisi ulang kemuliaan (alias hormat). Yesaya pun sudah menafsir kemenangan Israel yang dinantikan sebagai kemenangan damai (Yes 2:4). Yesus lebih ke akar (radikal = ke akar) lagi. Anak Manusia akan dimuliakan dengan mati seperti biji, supaya menghasilkan banyak buah (Yoh 12:24). Bahwa Yesus mendefinisikan ulang kemuliaan secara umum dijelaskan dalam kedua ayat berikut. Kita juga harus siap mati atau berkorban demi hidup yang sejati, yaitu hidup kekal, hidup pada zaman yang akan datang (a.25). Jalan Yesus adalah jalan yang harus kita tempuh; tempat Yesus pada salib adalah tempat kita (a.26). Dengan demikian hormat kita datang dari Allah, bukan dari manusia (a.26b). Demikian jalan yang akan diajarkan kepada bangsa-bangsa yang berduyun-duyun kepada Yesus.

Jalan itu sama sekali tidak mudah. Yesus sendiri terharu (a.27, mungkin lebih tepat “gelisah”, seperti terjemahan kata yang sama pada Yoh 14:1, 27). Tetapi Dia sadar bahwa demikian tugas-Nya dari Allah Bapa. Allah meneguhkan maksud Yesus dengan perkataan dari sorga, bukan karena Yesus ragu tetapi karena konsepnya menjungkirbalikkan pehamanan manusia yang biasa. Kematian Yesus akan menghasilkan banyak buah: Iblis akan dikalahkan (a.31) dan bangsa-bangsa akan datang kepada Yesus (a.32).

Dalam a.34 orang banyak tetap bingung, sekarang tentang identitas “Anak Manusia”, yang memang bukan istilah yang sebiasa istilah “Mesias”. Yesus menjawab bahwa Dia (sebagai Anak Manusia) adalah terang, dan yang penting adalah percaya kepada-Nya dan berjalan di dalam-Nya.

Cara Yesus menantang kita semua. Kuasa dan hormat menurut Yesus berbeda dengan konsep yang berlaku di masyarakat. Gereja dianggap “berhasil” ketika dipuji pemerintah atau koran, atau ketika ada sesuatu yang kelihatan (gedung yang besar dsb). Terang menurut Yesus berbeda dengan akal yang berlaku di dunia modern. Gereja dianggap “berhasil” jika melalui analisis yang tajam ada program yang meningkatkan jumlah orang, pendapatan dari persembahan, atau ukuran-ukuran yang lain. Tetapi sejarah gereja membuktikan perkataan Yesus. Yang sangat berdampak bagi misi Allah dan dianggap paling terhormat adalah orang yang menderita, mati, dihina (seringkali oleh gereja sendiri pada awalnya). Di dalam pelayanan jemaat pun hal itu sudah jelas: kasih yang sejati akan siap berkorban.

Tetapi Yesus, sesuai dengan firman Allah dalam nubuatan Yesaya, mengharapkan pelayanan kepada semua manusia, termasuk yang di luar jangkauan Injil, entah karena jauh atau karena terpinggir. Hal itu tidak akan terjadi karena hormat atau kepintaran manusia. Hormat dan akal sangat mendasar dalam kehidupan kita, dan cara kita menghadapi dunia tidak akan sama setelah kita datang kepada Dia yang ditinggikan pada salib itu.


Titus 1:10-16 “Tegoran yang tegas”

Februari 1, 2010

Perikop ini mengganggu saya, dengan bahasa seperti “harus ditutup mulutnya” (a.11) dan “tegorlah mereka dengan tegas” (a.13). Saya tidak terlalu suka menunjukkan sikap-sikap seperti itu, dan saya langsung curiga terhadap orang yang suka dengan sikap seperti itu. Kepekaan saya sepertinya bertentangan dengan firman Allah. Adakah resolusinya?

Perikop ini bagian dari surat Paulus kepada Titus yang sudah ditinggalkan di Kreta untuk mengatur kepemimpinan untuk jemaat-jemaat di sana (1:5). Salah satu syarat untuk seorang pemimpin adalah “sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran [yang sehat] dan sanggup meyakinkan [menegor] penentang-penentangnya” (1:9). (Kata dasar untuk “meyakinkan” sama dengan kata dasar untuk “tegorlah” dalam bahasa Yunani.) Sanggup belum tentu berarti melakukan, tetapi keadaan di Kreta ternyata menuntut tegoran. Aa.10-14 menguraikan berbagai masalah. Aa.10-11 menunjukkan adanya ajaran palsu yang diedarkan, dan lebih lagi diedarkan untuk membawa keuntungan bagi pengedar. A.12 menunjukkan bahwa karakter suku Kreta kurang bagus, seperti diakui salah satu tokohnya sendiri. Citra suku itu juga kurang bagus di mata berbagai penulis yang lain. Maksudnya bukan untuk mengecap semua orang Kreta tanpa kekecualian, tetapi menunjukkan budaya yang menjadikan jemaat di sana rawan terhadap pengajar palsu.

Khususnya, ajaran palsu itu berpegang pada unsur-unsur ajaran Yahudi, seperti sunat (a.10) dan berbagai dongeng Yahudi dan aturan manusia (a.14) sebagai keharusan untuk orang Kristen. Menurut Paulus, pegangan-pegangan itu berasal dari akal dan suara hati yang najis (a.15). Maksudnya bahwa kenajisan menjadi kaca mata yang melaluinya semuanya dilihat, karena saya menduga orang lain adalah sama seperti saya. Jika saya adalah pembohong, saya akan dengan mudah menafsir perkataan orang sebagai pembohong. Jika saya adalah pencuri, saya akan sedapat mungkin menafsir tindakan orang sebagai usaha mencuri. Sikap seperti itu kemudian bermuara pada usaha untuk membuat banyak aturan. Jika saya diilhami hawa nafsu terhadap perempuan, maka saya akan menuntut supaya perempuan itu tidak menunjukkan kulitnya, bahkan rambutnya, bahkan sebaiknya tidak keluar dari rumah sama sekali, supaya jangan saya diperhadapkan dengan hawa nafsu saya sendiri. Pengajar yang dihadapi di Kreta mengambil banyak unsur ajaran mereka dari orang Yahudi, tetapi dasarnya akal dan suara hati yang najis itu. Dalam a.16 dikatakan bahwa orang-orang ini mengaku saleh, tetapi perbuatan-perbuatan mereka berbicara lebih jujur tentang keadaan hati mereka yang sebetulnya.

Artinya bahwa ajaran itu membahayakan dan sangat layak ditentang. Mau tidak mau, orang seperti saya harus siap untuk menentang ajarannya dan juga orangnya. Saya tidak boleh “asal damai”, karena banyak jemaat biasa yang bisa jadi terancam oleh kediaman saya. Firman Allah harus saya taati, walaupun tidak terasa cocok dengan sifat saya.

Namun, cara menentangnya juga harus tepat. “Ditutup mulutnya” (a.11) tidak merujuk pada tindakan aparat, karena pada saat itu gereja tidak memiliki kuasa pemerintahan apa-apa, melainkan merujuk pada usaha untuk mencegah orang-orang itu diberi kesempatan. Caranya melalui pemimpin-pemimpin jemaat yang akan ditunjuk Titus. (Pada saat itu belum ada gedung gereja sehingga jemaat berkumpul di rumah orang.) Dan sifat pemimpin termasuk “tidak angkuh, bukan pemberang…bukan pemarah” (1:7; pemarah merujuk kepada orang yang suka menyelesaikan masalah dengan berkelahi). Jadi, perikop ini tidak mendukung orang yang suka menegor orang lain, yang mencari masalah. Semestinya, kesukaan pemimpin jemaat adalah “memberitakan apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat” (2:1). Tujuannya “supaya mereka menjadi sehat dalam iman” (a.13); menentang ajaran yang palsu adalah untuk mendukung tujuan itu.

Jadi, ternyata kepekaan saya ada gunanya juga. Tafsiran semula belum tepat, dan saya didorong untuk menafsir dengan lebih teliti. Hal itu penting, karena ada sebagian pemimpin yang terlalu keras. Tetapi mungkin sebagian besar pembaca condong ke terlalu lembut. Jemaat-jemaat kita kemungkinan tidak separah jemaat-jemaat di Kreta, tetapi selalu ada yang mau mengacaukan jemaat. Jemaat kita akan lemah jika kita tidak berani menentang apa yang perlu ditentang.


1 Raj 12:1-24 Kedaulatan Firman Allah

Agustus 24, 2009

Sebelum perikop ini yang menceritakan permulaan keterpisahan kerajaan Israel menjadi dua kerajaan, ada peristiwa yang sebenarnya memaknainya. Maksudnya, pertemuan antara Yeroboam dan nabi Ahia dalam 1 Raj 11:26-40. 1 Raj 11 menceritakan penyelewengan Salomo sebagai permulaan kegagalan Israel, setelah perkunjungan Ratu Syeba sebagai puncak keberhasilan Israel dalam 1 Raj 10. Oleh karena dosa Salomo, maka ada serangkaian masalah terjadi, terutama munculnya pemberontak dalam diri Yeroboam, anak emas Salomo itu. Soalnya, Yeroboam diangkat oleh Tuhan sendiri melalaui nabi Ahia tersebut. Yang menggerakkan peristiwa-peristiwa politik ini adalah firman Allah.

Memang, Allah bekerja melalui kebodohan manusia, dalam hal ini Rehabeam. Rehabeam menjadi contoh pemimpin yang tidak mempedulikan rakyatnya, dan juga contoh orang yang mengabaikan nasihat orang yang lebih tua. Mereka mengusulkan konsep kepemimpinan yang dikokohkan Yesus tetapi sebenarnya sudah ada di PL, yaitu pemimpin sebagai hamba (12:7). Namun, nasihat kebodohan yang diterima Rehabeam dan disampaikan kepada rakyat. Apa asal-usul kebodohan Rehabeam itu? Silakan dipikir-pikirkan, tetapi dalam a.15 ada jawaban yang lebih mendasar. Seandainya kita sudah lupa akan peristiwa 1 Raj 11:26-40 itu, kita diingatkan bahwa semua ini terjadi untuk menepati firman TUHAN.

Perikop ini kemudian menceritakan tuntasnya keluarnya suku-suku Israel kecuali Yehuda (dan Benyamin). Rehabeam tetap bodoh. Dia hampir ikut dibunuh (a.18), kemudian dia mau berperang. Hanya, ada firman lagi dari Allah untuk mencegahnya.

Kita perlu mendengarkan nilai kepemimpinan yang disampaikan oleh para penasihat Salomo dan ditegaskan melalui bodohnya gambaran yang terbalik dalam diri Rehabeam. Kita perlu juga memikirkan bagaimana menyikapi kepemimpinan yang kurang, karena itu kenyataan yang sering dihadapi sampai sekarang. Kebodohan yang jahat seperti Rehabeam seringkali memberatkan bukan hanya pemimpin melainkan bawahannya, dan selayaknya kita berduka atas hal itu. Tetapi Allah tetap berdaulat. Rencana-Nya lebih kuat daripada kebodohan dan kejahatan manusia. Jika dalam peristiwa ini rencana Allah berpusat pada Yerusalem dan keturunan Daud (11:32), rencana itu sudah berpuncak dalam Kristus. Ketika gereja yang penuh dengan orang yang imannya lemah mendapat kepemimpinan yang sama, firman Allah tetap berkuasa untuk memanggil orang kepada Kristus dan menguatkan mereka di dalam-Nya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.