Yes 45:1-8 Allah Pencipta gelap dan terang [9 Juni 2013]

Juni 4, 2013

Kemarin saya mengikuti pengurapan pendeta, dan mendengar kembali bahwa salah satu tugas pendeta ialah menyampaikan firman Allah “dengan saksama”. Semoga renungan di bawah ini membantu Saudara dalam menunaikan tugas itu.

Penggalian Teks

Mulai pasal 40, nubuatan Yesaya banyak berbicara tentang Israel dalam pembuangan. Ada dua penekanan pokok, yaitu, bahwa Allah tetap peduli tentang Israel, dan bahwa Allah sanggup untuk menolong Israel. Pokok kedua ini disampaikan dengan menegaskan keunikan Allah.

Perikop kita memiliki ciri khas yang berkaitan dengan kedua pokok tadi, yang menyangkut Koresh. Koresh adalah raja negeri Persia (Ezra 1:1), negeri adikuasa yang menggantikan negeri Babel yang membawa Israel ke dalam pembuangan. Yes 44:24-28 menjanjikan pembangunan Israel kembali, dan nama Koresh disebutkan sebagai puncak dalam 44:28. Koresh akan menjadi alat keselamatan bagi Israel, dan juga menunjukkan kuasa Allah yang tidak terbatas pada Israel saja.

Dalam a.1 ada dua pengantar. “Beginilah firmah TUHAN” adalah pengantar nabi. Sisa a.1 adalah pengantar Allah. Kepada siapa pengantar itu? Tentu, Israel. Allah menyampaikan berita yang mengejutkan bahwa Dia mengurapi Koresh untuk suatu tugas khusus (sama seperti raja atau imam diurapi), dan bahwa kemenangan-kemenangan Koresh adalah tindakan Allah: “Aku menundukkan…Aku membuka…”. Tentu, semuanya dalam rangka keselamatan Israel (44:28).

Aa.2-7 dialamatkan kepada Koresh. Kita tidak tahu apakah dia pernah mendengar tentang nubuatan ini—hal itu tidak mustahil karena Ezra 1:1 menunjukkan bahwa dia (atau jejaringannya) memiliki informasi tentang agama Israel. Namun, kita harus tetap mengandaikan bahwa sasaran utama firman ini adalah Israel, sama seperti perikop-perikop di sebelum maupun sesudahnya.

Firman Allah kepada Koresh dalam aa.2-7 mengandung berbagai janji dengan satu tujuan, yaitu pengenalan akan Allah. Allah akan menyertainya dalam semua usaha perangnya (2-3) supaya Koresh mengenal Tuhan. Dia memanggil Koresh dengan nama dalam nubuatan ini, artinya, nubuatan ini merupakan bukti bahwa Tuhan telah merancang kemenangan Koresh sebelum hal itu terjadi, dan nubuatan ini yang menggelari Koresh sebagai Yang Diurapi, penyelamat Israel. Namun, panggilan itu bukan karena Koresh yang tidak mengenal Allah melainkan karena Israel yang dipilih Allah (4). Panggilan Tuhan sebelum Koresh menang itu membuktikan keunikan Tuhan bukan hanya kepada Koresh melainkan kepada seluruh bumi (5-6).

Keunikan Tuhan ditegaskan dengan melihat nasib mujur dan malang ada dalam tangan-Nya. Jelas bahwa Koresh mengalami nasib mujur, dan musuh-musuhnya mengalami nasib malang, tetapi kita dapat juga melihat pesan bagi Israel. Mereka sedang dalam kegelapan pembuangan, tetapi melalui Koresh Tuhan akan menciptakan terang. Jadi, a.8 menyampaikan pengharapan keselamatan pertama-tama bagi Israel. Tentu, sudah ada petunjuk dalam 42:1 & 4 bahwa keselamatan Israel akan menjadi bibit keselamatan bagi seluruh dunia.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau mengangkat penglihatan Israel untuk memandang kisah mereka dari sudut pandang Allah. Kondisi pembuangan mereka akan menjadi kesempatan untuk Allah memperkenalkan diri kepada seluruh dunia dengan memakai seorang raja asing. Dengan demikian, Israel sendiri akan tahu bahwa Tuhan berkarya baik dalam gelap maupun terang. Gelapnya pembuangan akan diikuti oleh terang keselamatan.

Kesimpulan itu tidak memberi ruang untuk memakai Koresh sebagai teladan. Fokus terhadap Koresh saya ragukan karena dua hal. Yang pertama, Koresh tidak sengaja mengemban misi Allah, dia dipakai sebagai alat oleh Allah. Bagi saya itu teladan yang aneh. Yang kedua, aa.7-8 bermaksud untuk menguatkan Israel, bukan Koresh, dan saya tidak melihat cara yang baik untuk mencocokkan aa.7-8 dengan khotbah tentang Koresh sebagai teladan.

Makna

Apakah mengangkat penglihatan jemaat terlalu “menyurga” dan kurang “membumi”? Pertanyaan sebaliknya ialah, Bukankah jemaat rata-rata takut terhadap pemerintah yang dianggap makin tidak ramah terhadap kaum nasrani? Jangan sampai orang-orang kristen selama ini lebih mengandalkan kuasa para pembesar kristen daripada kuasa Allah, dan sedang menuai hasil dari ketidakpercayaan itu. Mereka tidak percaya bahwa Allah berdaulat bahkan atas Koresh-Koresh, mereka percaya bahwa baru jika ada menteri-menteri dan pejabat-pejabat tinggi yang beragama kristen, maka mereka akan aman. Kepada umat yang tidak percaya ini, saya rasa firman tentang kedaulatan Allah bahkan atas pembesar di luar umat-Nya akan berguna. Kepercayaan yang telah dibangun atas kebenaran juga adalah penerapan yang praktis.

Tentu, kita harus memahami keselamatan ini dalam rangka Yesus. Pembuangan menggambarkan kondisi umat Allah sebagai to mentiruran (pendatang), dan janji Allah adalah dunia baru (atau dunia yang telah diperbaharui). Janji dalam PB adalah kedamaian dengan Allah dan sesama orang percaya sekarang (tentu, kedamaian itu ditawarkan kepada semua orang), tetapi kesejahteraan hanya dijanjikan dalam dunia baru itu (walaupun tidak dilarang dan bisa dipakai Tuhan sekarang). Mengamati gereja sekarang saya bisa agak mengerti pola ini. Gereja di banyak tempat mendapat bagian dalam kemakmuran Indonesia yang bertambah-tambah, dan apa balasannya kepada Tuhan? Korupsi, gengsi, dan/atau keasyikan berlebihan dengan benda-benda elektronik. Bisa saja penganiayaan menjadi salah satu alat Allah untuk menyadarkan umat-Nya kembali. Allah menciptakan gelap dan terang, nasib mujur dan nasib malang. Dia tidak hanya berdaulat atas para pembesar ketika mereka berlaku adil. Bahkan dalam penganiayaan Dia berdaulat.

Tentu, kita tidak berdoa supaya kondisi di Indonesia memburuk, kita berdoa supaya datanglah kerajaan Allah. Gelap akan menjadi terang, dan janji dalam a.8 itu diteguhkan di dalam Kristus sehingga tetap memberi kita semangat dalam penantian kita.


Kejadian 49:1-18 Berkat melalui Sang Mesias [27 November 2011] (Adven I)

November 23, 2011

Adven adalah masa penantian. Kita merayakan kedatangan Kristus untuk pertama kalinya yang mendapatkan keselamatan bagi kita, dan menantikan kedatangan-Nya kembali untuk menyempurnakan keselamatan itu. Dalam perikop ini kita belajar bahwa kedatangan itu bukanlah rencana mendadak dari Tuhan.

Penggalian Teks

Menjelang wafatnya Yakub di Mesir (48:21), ke mana dia bersama dengan seluruh keturunannya pindah karena Yusuf berada di sana sebagai penguasa, Yakub memanggil anak-anaknya. Dalam a.1 dia berjanji akan menyampaikan petunjuk tentang masa depan mereka sebagai kepala suku. Urutannya Ruben (3-4), Simeon dan Lewi (5-7), Yehuda (8-12), Zebulon (13), Isakhar (14-15), yaitu anak-anak Yakub dari Lea, kemudian Dan (16-17), Gad (19), Asyer (20), Naftali (21), yaitu anak-anak Yakub dari kedua gundik, kemudian Yusuf (22-26) dan Benyamin (27), anak-anak Yakub dari Rahel. Di antara Dan dan Gad, Yakub mengucapkan harapan akan keselamatan (18). Dalam a.28 ucapan-ucapan ini disebut sebagai pemberkatan. Jika a.1 melihat ke depan, dan a.18 mengharapkan keselamatan, a.28 ini juga merujuk ke belakang. Berkat adalah tema besar dalam kitab Kejadian, mulai dengan penciptaan manusia (1:28) dan dilanjutkan sebagai puncak dari janji Allah kepada Abraham (12:3).

Jika disebut sebagai berkat, justru ketiga anak pertama, Ruben, Simeon dan Lewi, mendapat tegoran (lihat Kej 35:22 & Kejadian 34). Hanya mulai dengan Yehuda maka nada menjadi lebih positif pada umumnya. Jika dicermati, Yehuda mendapat porsi yang lebih panjang, hanya diungguli oleh porsi Yusuf (sama-sama lima ayat, tetapi agak lebih panjang untuk Yusuf). Pada Yusuf tema berkat menonjol—dialah yang menjadi saluran berkat bagi keturunan Yakub. Tetapi ternyata masa depan ada pada Yehuda. Dalam a.8, mimpi Yusuf bahwa saudara-saudaranya akan sujud kepadanya diterapkan kepada Yehuda. Dari Yehuda akan datang seorang raja yang bahkan bangsa-bangsa akan takluk kepadanya (10). Ada hal-hal lain yang juga disebutkan melalui anak-anak lainnya, seperti keadilan dari Dan (16). Tetapi ketika Yakub mengharapakan keselamatan sebagai wujud nyata berkat dari Tuhan, Yehuda adalah saluran utama.

Melihat secara terperinci, nas tentang Yehuda itu mencakup dua bagian. Aa.8-10 memaparkan kejayaannya. Dia akan dipuji oleh Israel, akan berjaya atas musuh, dan berkuasa atas Israel (8). Dia akan berjaya seperti singa yang ditakuti semua binatang tetapi tidak takut akan binatang apa saja; mungkin kenaikannya menyinggung Yerusalem (kota Daud) sebagai kota yang tinggi (9). A.10 jelas memaparkan harapan mesianis. Daud adalah awal dari Yehuda sebagai suku para raja Israel, dan ucapan “sampai dia datang yang berhak atasnya” mengandaikan seorang raja keturunan Daud lagi. Ketika raja itu datang, bangsa-bangsa akan takluk. Itulah cara mesianis bangsa-bangsa akan masuk ke dalam ranah berkat Israel, sesuai dengan Kej 12:3 tadi. Aa.11-12 menggambarkan kesejahteraannya. Dia akan memiliki begitu banyak pohon anggur sehingga dipakai untuk menambatkan keledainya, dan buahnya dipakai untuk mencuci (11). A.11b bisa juga merujuk pada kegiatan mengirik anggur, di mana baju pasti kena percikan anggur itu. A.12 versi LAI sepertinya menggambarkan bahwa dia akan minum anggur dan susu sepuasnya; tafsiran lain (seperti sebagian versi modern bahasa Inggris) mengaitkan warna mata dan giginya dengan warna anggur dan susu.

Maksud bagi Pembaca

Bagi Israel, selain memberi petunjuk tentang setiap suku, perikop ini menempatkan raja Daud, atau kemudian Mesias, sebagai saluran keselamatan bagi Israel. Masa depan umat Allah sebagai saluran berkat terjamin karena kedatangan singa dari suku Yehuda. Respons umat Allah ditunjukkan dalam a.18, yaitu menanti-nantikan keselamatan dari Tuhan.

Makna

Berkat Allah terjamin akan mengalir melalui keturunan Abraham, sesuai dengan janji Allah kepada Abraham. Yakub adalah penerima berkat itu—dia sekeluarga sedang menikmati kelimpahan di tanah Mesir oleh karena Yusuf—dan dalam pesan terakhir ini dia meneruskan berkat itu kepada generasi berikut sebagai asal-usul keduabelas suku Israel. Harapan akan keselamatan itu terwujud berulang kali. Ketika ada firaun yang tidak lagi mengenal Yusuf, Allah menyelamatkan Israel dari Mesir. Ketika Israel terpuruk dan tertekan di bawah para hakim, Allah mengangkat para raja, khususnya raja Daud, dari suku Yehuda, yang di bawahnya Israel mengalami kesejahteraan yang besar (2 Sam 7:1). Beberapa kali lagi ada raja yang bisa memulihkan keadaan Israel, seperti Hizkia dan Yosia. Sejak Yehuda dibuang pada abad ke-6, mereka tidak pernah merdeka secara politik, bahkan ketika mereka kembali dari pembuangan, seperti diceritakan dalam kitab Ezra dan Nehemia. Maka muncullah harapan mesianis, yakni bahwa nubuatan Yakub yang sudah berulangkali digenapi (dan diteguhkan oleh berbagai nubuatan para nabi, seperti Yesaya 9 & 11; Mikha 5 dsb) akan digenapi satu kali lagi.

PB ternyata berbagi dalam harapan Yakub ini, dan memahami bahwa singa dari suku Yehuda itu Kristus. Adalah penting untuk diamati bagaimana tema kejayaan itu ditafsir ulang. Dalam Why 5:5-6, singa dari suku Yehuda itu ternyata tampak sebagai “seekor Anak Domba seperti telah disembelih”. Bandingkan Mk 8:29-31 (“Engkau adalah Mesias…Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan”); PB selalu memadukan Mesias yang berjaya dengan Hamba yang menderita. Hal itu dapat dilihat jika kita melihat setiap pernyataan dalam Kej 49:8-12 dalam terang Kristus. Kepada Yesus ada pujian dan sujud dari keduabelas suku Israel dalam wujud murid-murid Yesus, setelah Dia mengalahkan dosa dan maut pada penyaliban dan kebangkitan-Nya (8). Dia telah mematahkan musuh-musuh itu dan naik ke sebelah kanan Allah (Yerusalem sorgawi) untuk menikmati kerajaan-Nya (9). Dari situ bangsa-bangsa ditaklukkan melalui pemberitaan Injil yang mengundang semua manusia untuk menjadi murid Yesus (10). Ketika Dia mau masuk ke Yerusalem (Mk 11:1-11), Yesus merujuk pada Zak 9:9 yang sepertinya sudah menafsir kembali soal keledai dari Kej 49:11 sebagai kelemahlembutan (ada kombinasi kata dalam Zak 9:9 dan Kej 49:11 yang hanya terdapat pada kedua ayat itu dalam seluruh PL). Soal minum anggur menjadi cara Yesus menjangkau orang-orang berdosa dalam Luk 7:34. Kejayaan Kristus tidak dikurangi (Dia mengirik anggur dalam rangka penghukuman di Why 19:15), tetapi caranya melalui penderitaan dan kerendahan.

Jadi, bagi kita sekarang, janji Allah dalam pernyataan Yakub ini makin teguh. Kristus telah datang, telah memperlihatkan Kerajaan Allah dalam pelayanan-Nya, dan telah bangkit dari antara orang mati. Tidak ada alasan untuk ragu-ragu bahwa Dia akan datang kembali untuk menyempurnakan berkat yang telah Dia datangkan bagi kita. Itulah pesan Adven yang khas. Sejauh mana janji itu menjadi harapan utama kita, kehidupan kita akan bersifat penantian. Penantian itu tidak pasif tetapi aktif: kita giat membawa berkat karena kita adalah bagian dari pengaliran berkat sama seperti Yakub.

Namun, saya dapat membayangkan ada pelayan yang mengambil tema pengharapan dan berbicara tentang berbagai harapan sementara: harapan sembuh, harapan anak lulus ujian dsb. Mengapa? Karena konon orang Toraja berpikir “praktis” dan tidak mau pusing dengan harapan yang muluk-muluk. Peduli amat jika Tuhan akan meyelamatkan dunia suatu kelak, yang penting bagaimana hasil panen tahun ini. Sejauh mana pengamatan itu benar, dapat dikaitkan dengan padangan siklis, yaitu bahwa manusia lahir untuk mati dan menjadi sumber berkat bagi keturunannya. Hal itu mungkin juga diperkuat oleh banyaknya janji yang muluk-muluk dari para calon orang besar. Bagaimana memberitakan harapan Adven kepada orang yang berpandangan wajar saja seperti ini? Dalam yang berikut pikiran saya ditolong oleh beberapa rekan yang kepadanya saya mengajukan pertanyaan itu.

Perhatikan bahwa kita tetap berbicara tentang berkat (dalam rangka perikop yang sebenarnya, yaitu sampai 49:28, meskipun uraian tentang berkat terdapat di luar batas bacaan yang ditentukan). PL juga melihat berkat dalam rangka ternak, panen, dan keturunan. Tetapi makin lama makin diperhatikan bahwa berkat itu rawan. Tahun ini panen bagus, tahun berikut belum tentu. Lebih lagi ketika ketidakadilan menjadi pengalaman umum dalam kerajaan Israel yang justru makmur; orang miskin yang tidak bersalah menderita karena keserakahan orang kaya, dan orang benar rugi jika mempertanyakan keadaan itu. Jadi, jika suatu pengharapan atau cita-cita disebut duniawi, hal itu belum tentu berarti salah, tetapi sudah pasti berarti sementara dan terbatas. Hal-hal itu adalah fondasi yang sangat lemah untuk bertahan dalam kesusahan yang melanda semua orang.

Sebaliknya, dalam Kristus ada janji berkat yang kokoh dan pasti. Ketika Dia datang kembali, semua yang melawan Kerajaan-Nya akan lenyap (nasib Ruben dan Simeon menjadi peringatan di sini karena mereka kehilangan berkat karena dosanya, tetapi menarik bahwa Lewi yang kemudian menjadi suku imam karena Pinehas [Bil 25:12-13] menunjukkan bahwa penolakan itu bukan takdir tetapi selalu ada kesempatan untuk bertobat), dan kita akan mengalami kesejahteraan yang tak terbatas. Janji itu kokoh karena berulangkali Allah menggenapinya kepada Israel, dan penggenapan terakhir adalah kebangkitan Yesus, buah sulung dari pembaruan seluruh dunia. Ketika kita mengalami berkat-berkat sementara, kita dapat menikmatinya sebagai cicipan dari berkat kekal itu. Ketika kita mengalami kesusahan, kita dapat bertahan dalam pengharapan, sambil bersukacita karena tetap ada cikal bakal dunia mendatang, yaitu pengampunan di dalam Kristus, penyertaan Allah, dan persekutuan gerejawi di dalam Roh Kudus.

Kiranya kita menanti-nantikan keselamatan itu, bukan hal-hal yang terbatas saja.


2 Kor 5:11-21 Menghayati dan melayankan pendamaian dalam Kristus [2 Oktober 2011]

September 28, 2011

Perikop ini adalah perikop yang kaya dengan makna bagi para pelayan, seperti sebagian besar pembaca blog saya. Isinya jauh melebihi apa yang dapat disampaikan dalam satu kali khotbah. Jadi, saya menghimbau pembaca untuk mengambil kesempatan ini untuk merenungkan pelayananya sendiri bersama dengan Rasul Paulus. Allah mau berfirman terlebih dulu kepada saudara. Kemudian, di bagian makna ada usaha sederhana untuk mengkontekskan teologi Paulus bagi budaya Toraja.

Penggalian Teks

Hubungan Paulus dengan jemaat di Korintus penuh ketegangan, sebagaimana dilihat dalam kedua surat yang kita miliki yang dia tulis kepada mereka. Dalam bagian pertama surat kedua ini (sampai p.7) Paulus menjelaskan pelayanannya, supaya jemaat di Korintus dapat lebih mengerti mengapa dia tidak menepati suatu janji untuk mengunjungi mereka (1:17). Masalah itu menjadi bahan untuk satu kelompok di jemaat yang menganggap Paulus tidak layak sebagai rasul. Yang ditegaskan Paulus bukan kelayakannya melainkan kemuliaan pelayanannya, yaitu pelayanan perjanjian baru dalam Roh (p.3), yang di dalamnya kemuliaan Allah dinampakkan dalam kelemahan para pelayan-Nya (p.4, bdk. 4:7 yang terkenal itu tentang bejana liat). Kemudian, Paulus membahas ujung atau cakrawala dari pelayanannya, yaitu harapan untuk berada bersama dengan Kristus dan pengadilan terakhir (5:7-10). Perikop kita merupakan inti dari apa yang dilakukan Paulus, diikuti oleh seruan kepada mereka untuk menerimanya (6:11; 7:2).

Alur penguraian Paulus dalam perikop kita diberi topik, “kami…meyakinkan orang”, dan mulai dengan komentar tentang relasi Paulus dengan mereka (11-13), yang dijelaskan (“sebab”) sebagai akibat dari kasih Kristus (14-15). Dua implikasi disampaikan, yang pertama tentang manusia baru (16-17), kemudian tentang pelayanan yang meyakinkan untuk membawa kepada pembaruan itu (18-21).

A.11 mulai dengan satu motivasi mendasar Paulus, yaitu takut akan Allah. Aa.11-13 membandingkan penilaian Allah dengan penilaian manusia. Bagi Paulus yang pokok ialah penilaian Allah. Di depan takhta pengadilan Kristus itu hati kita semua akan dinyatakan [fanerothenai, LAI “menghadap”] (10). Dia berharap bahwa jemaat sepaham dengan penilaian Allah [pefanerosthai, LAI “hati kami nyata dengan terang”] (11b), dan dia menjelaskan bagian surat ini sebagai usaha supaya mereka bisa kuat di hadapan kelompok penentang itu (12), suatu kelompok yang melihat lahir (harfiahnya, “muka”), bukan batin (“hati”). Kegiatan pokok Paulus adalah meyakinkan orang (11); jika dalam melakukan pelayanan itu ada yang sepertinya kurang waras, hal itu karena Paulus melayani Allah, jika Paulus menyesuaikan diri dengan harapan mereka, hal itu demi melayani mereka (13). Paulus diarahkan oleh penilaian Allah sekarang yang akan dinyatakan pada akhir zaman, bukan oleh pendapat orang.

Bagaimana bisa ada orang yang begitu bebas (13a) sekaligus terikat (13b)? Kasih Kristus sudah memegang Paulus dengan erat (14). Kasih Kristus berarti bahwa Kristus telah mati bagi semua orang, sehingga mereka telah mati bagi dosa untuk hidup bagi Kristus yang mati dan bangkit itu (menafsir aa.14-15 dalam terang Rom 6:3-4). Paulus tidak hanya menangkap kebenaran itu, ia ditangkap olehnya, karena di dalamnya ada implikasi penting bagi semua orang.

Implikasi pertama ialah Paulus sudah melihat manusia dengan mata baru. Jika dia pernah melihat Kristus sebagai penyesat, dan manusia berdosa sebagai sampah (16), sekarang dia melihat Kristus sebagai perintis ciptaan baru, dan semua orang di dalam-Nya sebagai bagian dari ciptaan itu (17).

Implikasi kedua menyangkut pelayanan Paulus. Paulus berubah karena dia sendiri telah didamaikan dengan Allah yang sekaligus mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepadanya (18; bdk. Kisah Para Rasul p.9). A.19 memperluas a.18: Allah mendamaikan bukan hanya Paulus atau “kita”, tetapi dunia. Yesus bukan hanya sarana [dia + genitif, LAI “dengan perantaraan”] tetapi wadah atau tempat [en, LAI “oleh” tetapi dalam banyak versi bahasa Inggris “di dalam”]. Caranya dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Jika dikaitkan dengan a.14 (“semua” = “dunia”), maksudnya sepertinya bahwa di dalam Kristus dunia telah mati sehingga pelanggaran mereka tidak berlaku lagi. Dengan demikian ada damai: pelanggaran kita bukan lagi penghalang dalam relasi dengan Allah, baik bagi Allah maupun bagi kita yang sadar akan keberdosaan kita. Itulah berita pendamaian yang dipercayakan kepada Paulus.

Kesimpulannya [oun, LAI “jadi”) bahwa Paulus (bersama dengan rekan-rekannya, paling sedikit Timotius, bdk. 1:1) adalah utusan Kristus (20). Seperti digambarkan Paulus di sini, seorang utusan menjadi penyambung lidah dari pengutusnya. Pesannya supaya jemaat di Korintus menerima pendamaian itu. Dua kali Paulus mengatakan “demi Kristus” [pertama kali tersirat dalam “utusan Kristus”, kedua kalinya “dalam nama Kristus”], dan a.21 memperjelas hal itu. Kristus tidak mengenal dosa, tetapi Allah memperhitungkan-Nya sebagai orang berdosa demi kita, supaya kita dapat diperhitungkan sebagai orang benar. Demikian kasih Kristus yang mendorong Paulus untuk meyakinkan bahkan jemaat di Korintus untuk didamaikan dengan Allah.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Korintus tetap menerima wibawa kerasulannya, dan demi tujuan itu dia menjelaskan bagaimana kematian dan kebangkitan Kristus mendorong dia untuk memandang manusia sebagai orang yang dipanggil untuk didamaikan dengan Allah.

Allah juga mau supaya kita menerima wibawa rasul Paulus, dalam bentuk surat-suratnya. Jika kita sudah ditangkap oleh kasih Kristus itu, kita juga akan memandang manusia sama seperti Paulus, walaupun peran kita tidak persis sebagai rasul. Bagi para pelayan, intinya mungkin bisa disampaikan begini: apakah saudara mencari damai dengan jemaat (tidak ada keluhan, ribut-ribut dsb, tafsiran utama “damai sejahtera bagi semua”, kadangkala), atau mencari jemaat didamaikan dengan Allah (intisari dari damai sejahtera yang sesungguhnya)? Apakah saudara mencari muka di hadapan manusia atau di hadapan Allah yang melihat ke dalam hati? Paulus mau memberi jemaat di Korintus alasan untuk memegahkannya, yaitu alasan bahwa dia semata-mata digerakkan oleh takut akan Tuhan dan kasih Kristus. Bukan alasan S.2nya, bukan dekatnya dengan pimpinan gereja.

Makna

Apa yang menjadi dasar hidup yang setia kepada Kristus? Kata Paulus, kasih Kristus. Kasih Kristus itu bagaimana? Jawab banyak pelayan dan anggota jemaat yang saya dengar, kasih Kristus dikenal dalam keseharian hidup, bahwa saya telah bangun, bahwa saya dapat makan, menikmati keluarga dsb. Apa jawab Paulus? Kasih Kristus dikenal karena Kristus telah mati dan bangkit. Mengapa saya menganggap jawaban Paulus jauh lebih unggul? Karena pemeliharaan Allah tidak menentu. Hari ini semuanya baik-baik saja, besok musibah melanda. Kalau begitu, kasih Kristus itu ke mana? Paulus tidak meragukan kasih Allah dalam keseharian hidupnya, tetapi selalu dalam surat-suratnya landasan harapannya ialah Kristus yang telah mati dan/atau bangkit. Hanya dengan landasan itulah kita boleh dengan mata terbuka dan tidak berpura-pura mengimani kebaikan Allah dalam duka sama seperti dalam suka. Landasan yang lain hanya merupakan basa-basi saja. Makanya, banyak jemaat yang lekas tergoyang oleh masalah.

Lalu, mengapa kematian dan kebangkitan Kristus dilihat sebagai tindakan kasih? Satu aspek adalah pengorbanan Yesus. Biasanya hal itu dilihat dari perspektif penderitaan Kristus, dan perspektif itu memang betul (misalnya, Rom 8:17). Tetapi dalam a.21 kita melihat Yesus masuk dalam keadaan yang pasti sangat menjijikkan, yaitu dibuat menjadi dosa. Yesus ditempatkan dengan, dan diperlakukan oleh Allah sebagai, orang berdosa, orang najis, orang yang layak disingkirkan dengan mati.

Aspek yang lain ialah bahwa ada hasil dari pengorbanan itu, yaitu pendamaian dengan Allah dan status sebagai ciptaan baru. Saya coba memikirkan hal it dari konteks adat lama Toraja, dan mohon perbaikan atau tambahan usul dari yang lebih tahu. Di berbagai tempat di Toraja, ada proses pendamaian yang disebut massuru’ (menyisir). Unsur pertama di dalamnya adalah pengakuan yang disebut dipassaluan (dalam Kamus Toraja-Indonesia), menyebut satu per satu pelanggaran. Setelah semua yang terkait sudah mengaku pelanggarannya dan semuanya sudah terungkap (paling sedikit menurut imamnya, to minaa) maka bisa juga ada kurban ditentukan. Dengan demikian kekacauan dipulihkan (seperti kutu disisir dari rambut). Tetapi, bagaimana jika pelanggaran terungkap oleh penelaahan to minaa, tetapi dibantah oleh yang bersangkutan? Apakah pembangkang itu harus dikeluarkan untuk memulihkan kekacauan?

Pola seperti itu tidak asing dalam banyak budaya, termasuk PL. Im 4:27-28 membayangkan dosa yang tidak disengajakan tetapi kemudian diberitahukan (terungkap lewat undi imam?) kemudian ada kurban. Dalam Yosua p.7 ada dosa yang sengaja yang diungkapkan melalui serangkaian petunjuk dari Tuhan (mungkin undi Urim dan Tumim itu), kemudian ada pengakuan dan kurban, dalam kasus ini pelanggar sendiri (Akhan). Bahkan pembuangan Israel dapat dilihat dalam perspektif pola itu. Tuhan mengungkapkan pelanggaran-pelanggaran Israel melalui nabi-nabi, tetapi hal itu ternyata tidak berhasil memulihkan kekacauan Israel. Dengan demikian Israel sendiri harus dibuang. Dalam Daniel p.9 pemulihan (pengembalian ke tanah Israel) bisa terjadi setelah ada pengakuan dosa dengan penghapusan kesalahan (Dan 9:24). Pola yang saya lihat di dalamnya, yang ada di dalam massuru’ juga, ialah perlunya dosa (kekacauan) diperjelas, dengan kurban sebagai penghapus dosa atau pelurus kekacauan itu.

Jelas dalam perikop kita bahwa kurban itu kematian Kristus. Malah, fungsi kurban itu diperjelas dalam perikop ini. Dalam pola yang satu tadi, kekacauan ditangani dengan disingkirkan—manusia diusir dari taman Eden, Israel dibuang dari tanah perjanjian, lebih umum lagi manusia mati. Kurban itu berfungsi sebagai wakil yang menggantikan. Jika Akhan harus dimatikan, orang Israel pada umumnya dapat menawarkan kurban penebus salah. Jadi, Yesus mati bagi semua orang—dosa dihapus di dalam dirinya. Kalau begitu, di mana dosa diperjelas, dipassaluan? Tuntasnya pada takhta pengadilan Kristus (a.10, ingat tadi usul artian “hati dinyatakan”). Pada saat itu akan ada dipassaluan yang lengkap, menyeluruh, dan serba betul dan adil. Setelah itu, kekacauan menjadi masa lampau dalam dunia baru, dengan semua di dalam Kristus dibenarkan (a.21), dan semua di luar Kristus dihancurkan (bdk. 1 Kor 15:20-24). Tetapi dengan bergabung dengan Kristus (“siapa yang ada di dalam Kristus”), kita bisa masuk dunia baru itu sekarang juga (“ia adalah ciptaan baru”, a.17). Melihat a.15 dan a.20, berada di dalam Kristus mengandaikan bahwa kita sudah mulai sadar tentang kekacauan dalam diri dan berubah haluan. Bertobat mengandaikan dipassaluan secara pribadi, paling sedikit di hadapan Allah, tetapi saya duga juga di depan sesama, seperti pengakuan dosa dalam baptisan (Yak 5:16 sepertinya juga mendukung intisari dari dipassaluan itu, tetapi itu cerita lain). Kita menjadi bagian dari penyisiran kekacauan dunia, hidup bagi Allah, bukan lagi pengacau yang hidup untuk dirinya sendiri.


Mt 28:16-20 Cara Allah memberkati bangsa-bangsa

Mei 11, 2011

Perikop ini adalah bagian akhir kisah Matius, yang merampungkan beberapa tema pokok dalam Injil yang melihat kembali ke panggilan Abraham (1:1) dan sampai pada akhir zaman (28:20). Jadi, di dalamnya kita melihat bukan hanya salah satu perintah Yesus tetapi kesimpulan tentang misi Allah.

Matius memulai Injilnya dengan silsilah yang menempatkan Yesus sebagai anak Daud, anak Abraham (1:1), dan pada waktu pembuangan (1:17). Abraham adalah jawaban Allah terhadap kehilangan berkat karena dosa manusia, dan Daud adalah patron (contoh sekaligus asal usul) cara Allah akan menyelamatkan dunia, yaitu dengan mendirikan kerajaan-Nya sebagai tempat berkat melalui seorang Raja. Dalam pembuangan, Israel kehilangan berkat itu karena dosa, sama seperti Adam dan Hawa. Oleh karena itu, para nabi membayangkan bukan hanya keselamatan Israel, tetapi juga keselamatan bangsa-bangsa. Yes 40:3, yang dikutip dalam Mt 3:3, menubuatkan jalan yang diluruskan bagi Israel dalam pembuangan untuk Israel kembali ke Israel bersama dengan Tuhan. Tetapi ketika Yesaya memperkenalkan hamba Tuhan yang akan menjadi alat Allah untuk karya keselamatan itu (Yes 42:1-4, dikutip dalam Mt 12:18-21), justru bangsa-bangsa yang berharap pada-Nya. Karena Israel dipanggil (dalam Abraham) sebagai jawaban Allah terhadap pemberontakan manusia, keselamatan Israel berarti pemulihan seluruh dunia. Jika Yesus pada umumnya membatasi pelayanan-Nya pada Israel (Mt 10:6; 15:24), hal itu tidak bertentangan dengan tekanan pada segala bangsa dalam perikop kita. Malaikat berjanji bahwa anak yang dikandung Maria “akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (1:21), dan penggenapan janji itu dinyatakan secara ironis oleh para pengolok ketika Yesus disalibkan (27:62, “orang lain Ia selamatkan”, bnd. Mt 27:32-56). Sebagai Israel yang sejati, Yesus dibuang dalam kematian-Nya dan dipulihkan dalam kebangkitan-Nya. Karena Israel sudah dipulihkan dalam Yesus, tahap berikut dalam recana Allah sudah siap dilaksanakan, yaitu keselamatan bagi bangsa-bangsa.

Kesebelas murid berangkat ke Galilea, ke “bukit yang telah ditunjukkan” (a.16). Apakah itu bukit yang daripadanya Yesus mengajarkan khotbah di bukit (Mt 5-7) atau dimuliakan (Mt 17:1-8) tidak dikatakan, tetapi bukit-bukit menjadi tempat penyataan dalam Injil Matius. Menurut Mt 26:32 Yesus memberitahu murid-murid-Nya sebelum Dia mati. Bagaimanapun juga, tempatnya jelas. Ketika mereka melihat Yesus, mereka menyembah, walaupun ada yang lain yang ragu-ragu (mungkin di luar kesebelas murid—ada yang mengaitkan pertemuan ini dengan penampakan kepada 500 orang dalam 1 Kor 15:6). Ternyata melihat Yesus langsung tidak otomatis menciptakan iman, dan ada yang butuh waktu untuk sungguh-sungguh percaya. Tetapi klimaks Injil ini bukan mengenai iman manusia melainkan amanat Yesus, yang menjelaskan bagaimana keselamatan yang sudah Dia datangkan dapat dinikmati oleh semua bangsa, bukan hanya orang-orang Yahudi yang selama itu percaya pada Yesus. Tidak ada andil manusia dalam kematian dan kebangkitan Yesus, kecuali kejahatan—keselamatan adalah anugerah belaka. Tetapi sama seperti motor yang dihibahkan tidak ada gunanya jika tidak dipakai, keselamatan juga perlu dihayati.

Amanat Yesus mendasari otoritas-Nya, yaitu segala kuasa di sorga dan bumi (a.18). Iblis pernah menawarkan segala kuasa di bumi (dari sebuah gunung juga, Mt 4:9), dan hal itu yang cocok untuk Mesias yang diharapkan orang Yahudi, tetapi kemuliaan Yesus setelah dibangkitkan jauh lebih besar. Otoritas itu yang menjadi dasar bagi amanat-Nya.

Kata kerja utama dalam amanat itu adalah “jadikanlah murid” (matheteuo). Karena bangsa-bangsa tidak ada di daerah Israel sendiri, mau tidak mau murid-murid harus pergi ke tempat yang lain. Kepergian bukan tujuannya, melainkan sarana. Jika yang belum menjadi murid Kristus adalah tetangga, cukup melangkah beberapa meter. Tetapi, jika di Indonesia sendiri masih ada banyak yang tidak mengenal orang yang dapat memperkenalkan Kristus kepadanya, mungkin ada yang harus melangkah lebih jauh.

Kedua kata kerja yang berikut bukan hanya sarana, tetapi menyampaikan isi pemuridan. Baptisan merujuk pada tahap awal, di mana seseorang mengambil identitas yang jelas di dalam Kristus (a.19). Hal itu biasanya dikaitkan dengan pertobatan, yaitu, meninggalkan identitas yang melawan Allah untuk menerima identitas baru sebagai pemberian Allah. Ketika Yesus sendiri dibaptis oleh Yohanes, Roh Kudus turun ke atas-Nya dan Allah menyapa Yesus sebagai Anak-Nya, yang sekaligus menempatkan Allah sebagai Bapa-Nya (Mt 3:16-17). Dalam baptisan, kita juga ternyata masuk relasi yang sama, mengenal Allah sebagai Bapa, menjadi adik-adik Yesus sebagai Anak Allah, dan didiami oleh Roh Kudus.

Tetapi identitas itu tidak tinggal sebagai ritus saja. Orang yang menjadi murid harus juga diajar untuk melakukan semua perintah Yesus (a.20). Injil Matius sepertinya didesain untuk membantu dalam hal itu, karena dia menyusun lima kumpulan ajaran Yesus dalam bentuk yang cocok untuk diajarkan (Kerajaan Allah pp.5-7, misi KA p.10, pertumbuhan KA p.13, komunitas KA p.18, akhir zaman pp.24-25). Identitas sebagai anugerah dalam Kristus tidak ada manfaatnya, dan saya mau mengusulkan tidak ada nikmatnya, kecuali dihayati dengan mengangkat ajaran Yesus sebagai hikmat yang paling ampuh menjadi tumpuan dalam dunia yang menantang ini (bdk. Mt 7:24-27).

Janji Yesus yang terakhir merupakan puncak dari seluruh Injil. Anak yang dinamai “Imanuel” itu berjanji untuk selalu menyertai murid-murid-Nya dalam amanat ini. Dia adalah wujud penyertaan Allah, karena Dia tergolong dengan Allah sendiri. Beberapa petunjuk dalam Injil, seperti pengampunan dosa (9:6), pengendalian angin ribut (8:27) dan pemuliaan di atas gunung (17:2), menjadi jelas setelah kebangkitan. Dia adalah Allah Anak, yang layak disembah bersama dengan Bapa dan Roh Kudus.

Demikian keselamatan yang didatangkan Yesus dapat dinikmati oleh semua bangsa. Ada yang pergi untuk memberitakan Yesus dan membangun mereka dalam identitas baru dalam ketaatan kepada Yesus sebagai pemilik kuasa di sorga dan bumi. Rencana Allah untuk memberkati bangsa-bangsa terwujud ketika orang-orang menjadi murid Yesus dan menghayati anugerah identitas baru dengan hidup sesuai dengan ajaran-Nya.

Tentu, kegiatan ini tidak terbatas pada lembaga gerejawi. Kadangkala ada kelompok yang masih secara formal menjadi anggota lembaga agamawi yang non-Kristen yang justru lebih berfokus pada menjadikan sesama orang yang memiliki identitas dalam Yesus dan menaati ajaran-Nya. Yang mutlak di sini bukan gereja melainkan Yesus. Segala kuasa diberikan kepada-Nya, supaya semua bangsa perlu menjadi murid-Nya dan menaati segala ajaran-Nya, sehingga menikmati penyertaan-Nya pada semua hari (“senantiasa”). Tetapi Dia mutlak bukan sebagai simbol, misalnya, simbol penyertaan Allah atau kasih Allah, sehingga kita bebas memilih simbol yang lain dengan makna yang sama (pendekatan pluralisme). Dia mutlak sebagai Yesus, seorang manusia yang lahir di Nazaret dan mati di bawah Pontius Pilatus. Di dalam atau di luar lembaga gerejawi, sampai pembaruan segala sesuatu pada akhir zaman, Allah memberkati bangsa-bangsa dengan mereka menjadi murid Anak-Nya Yesus.


Luk 18:31-34 Pola Allah bekerja

Februari 22, 2010

Di antara pemberitahuan yang kedua di Luk 9:43-45 dan perikop ini ada perjalanan Yesus menuju ke Yerusalem. Di dalamnya banyak ajaran yang menguraikan bagaimana murid yang mengikuti Mesias yang menderita itu harus hidup. Pas sebelum perikop ini ada pembahasan tentang “meninggalkan segala kepunyaan” yang disusuli dengan hidup kekal (Luk 18:28-30). Perikop kita menunjukkan bahwa Yesus sendiri akan merintis jalan itu: dibunuh lalu dibangkitkan.

Unsur yang baru dalam pemberitahuan ini adalah penggenapan. Yang akan terjadi sudah dinubuatkan oleh nabi-nabi. Kadangkala orang mempertanyakan mengapa Yesus tidak menunjukkan nas mana yang Dia maksud. Jawaban yang pertama ialah bahwa ada dalam ajaran Yesus di tempat yang lain dan kemudian dalam ajaran para rasul. Misalnya, Mzm 118:22 disebutkan oleh Yesus (Luk 20:17) dan juga oleh Petrus (Kis 4:11). Nas itu mengandung penolakan oleh penguasa-penguasa yang disusuli oleh pembenaran. Dalam Kis 2:25-28 Petrus membuktikan kebangkitan Yesus dari Mzm 16:8-11. Dalam Kis 8:32-35 Filipus menerapkan Yes 53:7-8 kepada Yesus.

Jawaban yang kedua ialah bahwa Yesus tidak hanya menggenapi beberapa nas, tetapi pola yang terdapat dalam seluruh nabi-nabi. Pola itu dibentuk oleh pembuangan Israel sebagai hukuman dan oleh janji keselamatan bahwa mereka akan kembali ke tanah perjanjian. Yeh 37:1-14 berbicara tentang kebangkitan Israel sebagai kiasan untuk pengembalian itu, dan dalam Yes 53 nasib Israel disimpulkan dalam sosok Hamba Tuhan (bnd. Yes 49:3). Jadi, kematian dan kebangkitan Yesus menggenapi pola itu (lihat penjelasan saya di sini). Jika demikian, Yesus diserahkan kepada bangsa-bangsa (artinya orang Romawi, diwakili Pilatus) untuk menggenapi bahwa Israel dibuang kepada bangsa-bangsa. Kemudian, soal “pada hari ketiga” diambil dari Hos 6:1-2 yang berbicara tentang kebangkitan bangsa Israel.

Sekali lagi, para murid Yesus tidak dapat menangkap maksud Yesus. Mereka belum memahami bahwa rencana Allah akan dicapai melalui penderitaan dan kematian Sang Mesias yang Dia utus. Minggu yang lalu saya menyoroti kerendahan berdasarkan unsur penderitaan yang disebutkan Yesus (diserahkan ke dalam tangan manusia) dan konteks perikopnya. Minggu ini, saya mau menyoroti pemahaman kita tentang rencana Allah. Pola kematian dan kebangkitan Yesus menyatakan cara Allah bekerja dalam dunia ini. Kehilangan dan kemiskinan seperti yang disebutkan dalam Luk 18:28-30 dengan mudah dilihat sebagai kegagalan, tetapi jika terjadi dalam ketaatan bisa menjadi cara Allah untuk mengerjakan rencana-Nya. Jadi, kita tidak usah merasa gagal jika demi kesetiaan kepada Kristus kita kehilangan sebagian jemaat, dukungan pemerintah, atau berbagai kenyamanan yang lain.

Pada perikop yang berikut, ada orang buta yang melihat kembali dan mengikuti Yesus. Dia menjadi perbandingan dengan para murid yang tidak paham. Bagaimana dengan kita?


Hag 1:1-11 Membangun jemaat

Juli 27, 2009

Bayangkan jemaat yang sedang mengumpulkan uang untuk membangun gedung gereja. Ada orang yang sebenarnya mampu tetapi pemberiannya tidak seperti yang diharapkan. Kemudian dia ditimpa musibah keuangan. Lalu, jemaat membaca perikop ini dan sepertinya langsung mendapat penjelasannya. Sama seperti Israel pasca-pembuangan pelit terhadap Tuhan dalam bentuk tidak membantu pembangunan Bait Allah sehingga mengalami kekurangan oleh karenanya, orang itu juga dihukum Allah. Benarkah tafsiran itu?

Perikopnya memang memberitahu kita bahwa Israel mengalami kekurangan karena belum membangun Bait Allah. Pada saat Hagai bernubuat, gelombang pertama orang yang kembali dari pembuangan sudah hampir 20 tahun di Yerusalem. Menurut Ezra 3:1-3 mezbah sudah didirikan, tetapi Ezra 4:1-5 menceritakan perlawanan dari penduduk aslinya sehingga pembangunan gedung terhambat. Dengan meninggalnya raja Koresh (10 tahun sebelum Hagai, yakni 530 sM), pembangunan mandek sama sekali. Tetapi pada saat Hagai bernubuat seorang raja yang lain sudah naik takhta yang sama sifat terbukanya dengan Koresh, yaitu raja Darius (a.1). Tujuan semula adalah membangun Bait Allah, seperti mereka sendiri ketahui (a.2), dan keadaan dengan jelas sudah memungkinkan karena mereka bisa membangun rumah masing-masing (aa.4, 9b). Tetapi umat Allah belum bergerak. Jadi, sebagaimana dinyatakan Allah melalui nabi Hagai, kekurangan yang dialami (aa.5-6, 9-11) adalah usaha Allah untuk menyadarkan mereka. Usaha Allah melalui keadaan itu disertai firman Allah melalui nubuatan Hagai. Firman itu bertanya (a.4), menantang (aa.5, 7) dan memerintah (a.8a). Tanpa firman itu, keadaan masih kabur.

Di pertengahan firman itu ada janji Allah (a.8b). Janji di sini bukan bahwa Allah akan berkenan kepada mereka dengan menghentikan kekeringan dsb (lihat 2:19-20 untuk janji seperti itu). Janji di sini ialah bahwa Allah akan berkenan pada Bait Allah yang dibangun. Soalnya, kemampuan mereka jelas tidak sepadan dengan kemampuan Salomo pada puncak kejayaan Israel, dan memang hasil mereka kemudian tidak seperti Bait Allah yang pertama (2:4). Tetapi Allah tetap berjanji bahwa Dia akan berkenan kepada apa yang mereka bangun sehingga Dia dimuliakan olehnya. Jika itulah janji Allah, maka semestinya itulah kerinduan mereka. Dalam ayat-ayat berikut ternyata demikian, karena mereka tergerak dan pembangunan dimulai.

Bagaimana firman itu bagi kita umat Allah dalam Kristus? Satu hal yang perlu diingat ialah bahwa bentuk janji Allah sudah berubah. Dalam PL janji Allah kepada Israel termasuk keturunan, hasil bumi dsb (misalnya Ul 28:1-14). Namun dalam PB, janjinya baik lebih mulia maupun lebih susah. Kita dijanjikan dunia tanpa kesusahan sama sekali kelak, tetapi untuk sementara janjinya sekadar pencukupan untuk mencari Kerajaan Allah (Mt 6:33), disertai berbagai kesusahan (Kis 14:22). Kesusahan bisa saja pertanda bahwa kita setia, bukan hukuman karena dosa. Oleh karena itu, saya cukup meragukan absahnya kesimpulan jemaat di atas. Saya juga meragukannya karena gedung gereja tidak sepadan dengan Bait Allah. Kristus adalah Bait Allah (Yoh 2:21), dan tubuh-Nya, yaitu jemaat, ikut juga sebagai Bait Allah (Ef 2:21-22). Gedungnya hanya sarana.

Jadi, firman ini mempertanyakan sikap kita terhadap kemuliaan Allah sebagaimana dinyatakan dalam jemaat. Jika kita menyimak kehidupan jemaat kita akan sadar bahwa kita tidak layak sebagai tubuh Kristus, tempat Allah hadir oleh Roh Kudus-Nya. Hanya perkenan Allah–yang disampaikan dalam firman Injil–sehingga kita berani mengharapkan bahwa Allah akan dimuliakan dalam jemaat. Sekali lagi, janji itu semestinya kerinduan kita. Kita membangun jemaat dalam pengharapan bahwa Allah akan berkenan dan menyatakan kemuliaan-Nya. Semoga kita juga tergerak oleh firman Allah ini.


Rom 2:17-24

Mei 4, 2009

Perikop ini menarik perhatian karena gambaran yang tajam terhadap kesombongan agama dalam aa.17-20. Namun, saya dapat membayangkan suatu tafsiran demikian: 1) Paulus mengecam kesombongan agama; 2) cara untuk tidak sombong adalah mengakui keabsahan agama lain; maka 3) semua agama sama martabatnya. Padahal, pada ayat sebelumnya Paulus sudah menempatkan hari kiamat dalam rangka Injil dan Yesus Kristus, dan dalam p.1 sudah mengecam kebanyakan manusia yang menyembah berhala. Maka, apa maksud Paulus yang sebenarnya?

Tujuan dari Paulus dalam bagian surat ini adalah menempatkan semua manusia di bawah kuasa dosa (3:20). Hal itu tidak sulit bagi bangsa-bangsa yang hidup dalam keberhalaan sehingga mengalami segala bentuk kekacauan hidup (Rom 1:18-31). Tetapi bagaimana dengan orang Yahudi? Pada awal pasal 2, Paulus membuktikan bahwa mengecam dosa (2:1) tidak meluputkan manusia dari hukuman Allah jika tetap melakukan dosa (2:2-16). Allah tidak memandang bulu (2:11).

Jadi, pada aa.17-23 Paulus menerapkan 2:1 kepada orang Yahudi. Aa.17-20 adalah cara orang Yahudi menghakimi orang lain, sedangkan aa.21-23 menyebutkan apa yang mereka lakukan yang sama. Cara orang Yahudi menghakimi itu halus. Aa.17-18 menyampaikan hal-hal yang justru baik. Paulus sendiri mengajar kita untuk bermegah dalam Allah (5:11) dan tahu akan kehendak-Nya (12:2). Memang dia bersandar kepada Kristus, bukan Taurat, tetapi dia mengakui Taurat sebagai firman Allah (7:12). Jadi, tidak ada keraguan Paulus terhadap penyataan Allah. Inti masalah muncul dalam aa.19-20. Mereka bukan hanya yakin akan Allah, tetapi juga akan diri sendiri. Firman Allah dianggap miliknya sendiri, dan mereka seakan-akan berbagi dalam keunggulan Firman itu.

Dalam aa.21-23 sikap sombong itu disertai kemunafikan. Walau tidak semua orang Yahudi melakukan semua dosa ini, Paulus tahu bahwa kehidupan mereka juga tidak beres. Pada a.24 dia mengutip bagian PL yang ditulis untuk Israel yang dihukum oleh pembuangan ke Babel (Yes 52:5, bnd. Yeh 36:20) untuk menunjukkan bahwa sejak lama Israel tidak sanggup melakukan Taurat. Orang Yahudi tidak berbeda dari Israel yang dibuang karena dosanya.

Jadi, Paulus bermaksud untuk membuktikan bahwa orang Yahudi termasuk manusia berdosa. Apakah dengan demikian tidak ada relevansi bagi kita? Tentu ada, tetapi kita sebagai jemaat Kristus semestinya terdapat bukan dalam perikop ini tetapi dalam ayat-ayat berikut, yaitu kelompok yang melakukan hukum Taurat walaupun tidak disunat (2:27-29). Kelompok itu yang menggenapi janji Allah dalam PL bahwa Dia akan memperbaharui hati umat-Nya oleh Roh Kudus (misalnya Yer 31:33 dan Ul 30:6). Kelompok itu tidak lain dari jemaat Kristus, yang hatinya diperbaharui (p.6) sehingga oleh kuasa Roh (pasal 8) dapat melakukan Taurat, yakni hidup dalam kasih (13:8).

Jadi, ketika jemaat menyombongkan diri seakan-akan berbagi dalam keunggulan Kristus, dia sebenarnya menempatkan diri dengan Israel dalam pembuangan, dengan Israel yang hatinya belum diubah oleh Roh Kudus. Sama halnya ketika jemaat menghakimi orang lain, sedangkan hidupnya sendiri tidak beres. Akibatnya sekarang mungkin juga sama dengan apa kata Paulus pada a.24, yakni nama Allah dihujat oleh karena kesombongan dan kemunafikan itu.

Hanya, jalan keluarnya bukan keraguan terhadap kebenaran iman kristen, melainkan pembaharuan hati dengan menyerap sikap Injil sendiri. Ketika Paulus berbicara tentang bermegah dalam Allah, hal itu disertai dua kemegahan yang lain, yaitu bermegah dalam pengharapan (5:2) dan bermegah dalam kesengsaraan (5:3). Dalam kata lain, kemegahan yang dimaksud Paulus adalah siap menderita bersama-sama dengan Kristus, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia (8:17). Hati yang demikian sudah bosan dengan kesombongan, dan sudah jijik terhadap kemunafikan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 934 pengikut lainnya.