Hag 1:1-11 Membangun jemaat

Juli 27, 2009

Bayangkan jemaat yang sedang mengumpulkan uang untuk membangun gedung gereja. Ada orang yang sebenarnya mampu tetapi pemberiannya tidak seperti yang diharapkan. Kemudian dia ditimpa musibah keuangan. Lalu, jemaat membaca perikop ini dan sepertinya langsung mendapat penjelasannya. Sama seperti Israel pasca-pembuangan pelit terhadap Tuhan dalam bentuk tidak membantu pembangunan Bait Allah sehingga mengalami kekurangan oleh karenanya, orang itu juga dihukum Allah. Benarkah tafsiran itu?

Perikopnya memang memberitahu kita bahwa Israel mengalami kekurangan karena belum membangun Bait Allah. Pada saat Hagai bernubuat, gelombang pertama orang yang kembali dari pembuangan sudah hampir 20 tahun di Yerusalem. Menurut Ezra 3:1-3 mezbah sudah didirikan, tetapi Ezra 4:1-5 menceritakan perlawanan dari penduduk aslinya sehingga pembangunan gedung terhambat. Dengan meninggalnya raja Koresh (10 tahun sebelum Hagai, yakni 530 sM), pembangunan mandek sama sekali. Tetapi pada saat Hagai bernubuat seorang raja yang lain sudah naik takhta yang sama sifat terbukanya dengan Koresh, yaitu raja Darius (a.1). Tujuan semula adalah membangun Bait Allah, seperti mereka sendiri ketahui (a.2), dan keadaan dengan jelas sudah memungkinkan karena mereka bisa membangun rumah masing-masing (aa.4, 9b). Tetapi umat Allah belum bergerak. Jadi, sebagaimana dinyatakan Allah melalui nabi Hagai, kekurangan yang dialami (aa.5-6, 9-11) adalah usaha Allah untuk menyadarkan mereka. Usaha Allah melalui keadaan itu disertai firman Allah melalui nubuatan Hagai. Firman itu bertanya (a.4), menantang (aa.5, 7) dan memerintah (a.8a). Tanpa firman itu, keadaan masih kabur.

Di pertengahan firman itu ada janji Allah (a.8b). Janji di sini bukan bahwa Allah akan berkenan kepada mereka dengan menghentikan kekeringan dsb (lihat 2:19-20 untuk janji seperti itu). Janji di sini ialah bahwa Allah akan berkenan pada Bait Allah yang dibangun. Soalnya, kemampuan mereka jelas tidak sepadan dengan kemampuan Salomo pada puncak kejayaan Israel, dan memang hasil mereka kemudian tidak seperti Bait Allah yang pertama (2:4). Tetapi Allah tetap berjanji bahwa Dia akan berkenan kepada apa yang mereka bangun sehingga Dia dimuliakan olehnya. Jika itulah janji Allah, maka semestinya itulah kerinduan mereka. Dalam ayat-ayat berikut ternyata demikian, karena mereka tergerak dan pembangunan dimulai.

Bagaimana firman itu bagi kita umat Allah dalam Kristus? Satu hal yang perlu diingat ialah bahwa bentuk janji Allah sudah berubah. Dalam PL janji Allah kepada Israel termasuk keturunan, hasil bumi dsb (misalnya Ul 28:1-14). Namun dalam PB, janjinya baik lebih mulia maupun lebih susah. Kita dijanjikan dunia tanpa kesusahan sama sekali kelak, tetapi untuk sementara janjinya sekadar pencukupan untuk mencari Kerajaan Allah (Mt 6:33), disertai berbagai kesusahan (Kis 14:22). Kesusahan bisa saja pertanda bahwa kita setia, bukan hukuman karena dosa. Oleh karena itu, saya cukup meragukan absahnya kesimpulan jemaat di atas. Saya juga meragukannya karena gedung gereja tidak sepadan dengan Bait Allah. Kristus adalah Bait Allah (Yoh 2:21), dan tubuh-Nya, yaitu jemaat, ikut juga sebagai Bait Allah (Ef 2:21-22). Gedungnya hanya sarana.

Jadi, firman ini mempertanyakan sikap kita terhadap kemuliaan Allah sebagaimana dinyatakan dalam jemaat. Jika kita menyimak kehidupan jemaat kita akan sadar bahwa kita tidak layak sebagai tubuh Kristus, tempat Allah hadir oleh Roh Kudus-Nya. Hanya perkenan Allah–yang disampaikan dalam firman Injil–sehingga kita berani mengharapkan bahwa Allah akan dimuliakan dalam jemaat. Sekali lagi, janji itu semestinya kerinduan kita. Kita membangun jemaat dalam pengharapan bahwa Allah akan berkenan dan menyatakan kemuliaan-Nya. Semoga kita juga tergerak oleh firman Allah ini.


Rom 2:17-24

Mei 4, 2009

Perikop ini menarik perhatian karena gambaran yang tajam terhadap kesombongan agama dalam aa.17-20. Namun, saya dapat membayangkan suatu tafsiran demikian: 1) Paulus mengecam kesombongan agama; 2) cara untuk tidak sombong adalah mengakui keabsahan agama lain; maka 3) semua agama sama martabatnya. Padahal, pada ayat sebelumnya Paulus sudah menempatkan hari kiamat dalam rangka Injil dan Yesus Kristus, dan dalam p.1 sudah mengecam kebanyakan manusia yang menyembah berhala. Maka, apa maksud Paulus yang sebenarnya?

Tujuan dari Paulus dalam bagian surat ini adalah menempatkan semua manusia di bawah kuasa dosa (3:20). Hal itu tidak sulit bagi bangsa-bangsa yang hidup dalam keberhalaan sehingga mengalami segala bentuk kekacauan hidup (Rom 1:18-31). Tetapi bagaimana dengan orang Yahudi? Pada awal pasal 2, Paulus membuktikan bahwa mengecam dosa (2:1) tidak meluputkan manusia dari hukuman Allah jika tetap melakukan dosa (2:2-16). Allah tidak memandang bulu (2:11).

Jadi, pada aa.17-23 Paulus menerapkan 2:1 kepada orang Yahudi. Aa.17-20 adalah cara orang Yahudi menghakimi orang lain, sedangkan aa.21-23 menyebutkan apa yang mereka lakukan yang sama. Cara orang Yahudi menghakimi itu halus. Aa.17-18 menyampaikan hal-hal yang justru baik. Paulus sendiri mengajar kita untuk bermegah dalam Allah (5:11) dan tahu akan kehendak-Nya (12:2). Memang dia bersandar kepada Kristus, bukan Taurat, tetapi dia mengakui Taurat sebagai firman Allah (7:12). Jadi, tidak ada keraguan Paulus terhadap penyataan Allah. Inti masalah muncul dalam aa.19-20. Mereka bukan hanya yakin akan Allah, tetapi juga akan diri sendiri. Firman Allah dianggap miliknya sendiri, dan mereka seakan-akan berbagi dalam keunggulan Firman itu.

Dalam aa.21-23 sikap sombong itu disertai kemunafikan. Walau tidak semua orang Yahudi melakukan semua dosa ini, Paulus tahu bahwa kehidupan mereka juga tidak beres. Pada a.24 dia mengutip bagian PL yang ditulis untuk Israel yang dihukum oleh pembuangan ke Babel (Yes 52:5, bnd. Yeh 36:20) untuk menunjukkan bahwa sejak lama Israel tidak sanggup melakukan Taurat. Orang Yahudi tidak berbeda dari Israel yang dibuang karena dosanya.

Jadi, Paulus bermaksud untuk membuktikan bahwa orang Yahudi termasuk manusia berdosa. Apakah dengan demikian tidak ada relevansi bagi kita? Tentu ada, tetapi kita sebagai jemaat Kristus semestinya terdapat bukan dalam perikop ini tetapi dalam ayat-ayat berikut, yaitu kelompok yang melakukan hukum Taurat walaupun tidak disunat (2:27-29). Kelompok itu yang menggenapi janji Allah dalam PL bahwa Dia akan memperbaharui hati umat-Nya oleh Roh Kudus (misalnya Yer 31:33 dan Ul 30:6). Kelompok itu tidak lain dari jemaat Kristus, yang hatinya diperbaharui (p.6) sehingga oleh kuasa Roh (pasal 8) dapat melakukan Taurat, yakni hidup dalam kasih (13:8).

Jadi, ketika jemaat menyombongkan diri seakan-akan berbagi dalam keunggulan Kristus, dia sebenarnya menempatkan diri dengan Israel dalam pembuangan, dengan Israel yang hatinya belum diubah oleh Roh Kudus. Sama halnya ketika jemaat menghakimi orang lain, sedangkan hidupnya sendiri tidak beres. Akibatnya sekarang mungkin juga sama dengan apa kata Paulus pada a.24, yakni nama Allah dihujat oleh karena kesombongan dan kemunafikan itu.

Hanya, jalan keluarnya bukan keraguan terhadap kebenaran iman kristen, melainkan pembaharuan hati dengan menyerap sikap Injil sendiri. Ketika Paulus berbicara tentang bermegah dalam Allah, hal itu disertai dua kemegahan yang lain, yaitu bermegah dalam pengharapan (5:2) dan bermegah dalam kesengsaraan (5:3). Dalam kata lain, kemegahan yang dimaksud Paulus adalah siap menderita bersama-sama dengan Kristus, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia (8:17). Hati yang demikian sudah bosan dengan kesombongan, dan sudah jijik terhadap kemunafikan.


Kej 17:1-14 Allah menjadi Allah kita

Oktober 2, 2008

Dalam perikop ini janji Allah kepada Abraham dipertegas. Janji Allah pertama-tama disampaikan kepada Abraham ketika dia dipanggil. Kemudian, setelah pernyataan bahwa Abraham dibenarkan karena percaya akan janji Allah (Kej 15:6) Allah mengadakan perjanjian sebagai bentuk hubungan janji dan iman yang sudah dibangun. Selalu janjilah yang pertama dan mendasar. Janji itu adalah respons Allah terhadap keberdosaan manusia yang merusak berkat dan kebaikan ciptaan Allah. Dalam perikop ini berkat itu muncul dalam bentuk beranak cucu (a.6, bnd. Kej 1:28) dan mendiami tanah (kata tanah dan kata bumi dalam 1:28 sama).

Dua hal ditambahkan di sini. Yang pertama ialah adanya raja-raja dalam keturunan Abraham. Hal itu tidak terlepas dari berkat Allah, karena manusia dibuat untuk berkuasa atas bumi (Kej 1:28) tetapi hal itu hancur juga setelah berdosa. Jadi seorang raja dapat memulihkan kuasa manusia itu. Janji raja-raja kemudian dikaitkan dengan keturunan Yehuda (Kej 49:10), yang tentunya digenapi dalam raja Daud, dan setelah kerajaan Israel hancur dalam pembuangan berkembang menjadi harapan Mesias. Kristus Sang Rajalah yang sekarang berkuasa sebagai wakil manusia (bnd. Ibr 2:6-9).

Yang kedua ialah sifat kekal perjanjian itu (a.8, 13). Sifat itu mungkin agak membingungkan jika kita memikirkan bahwa umat Allah tidak lagi terbatas pada tanah Kanaan (sekarang negara Israel di Timur Tengah) ataupun orang Yahudi. Tetapi kitab Wahyu justru membayangkan “suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” (Why 7:9), yang mendapat berkat yang tak terhitung dalam langit dan bumi yang baru (Why 21). Kristus tidak meniadakan janji-janji Allah. Hanya, kita sekarang—seperti Abraham sendiri—ada pada masa penantian. Kita tetap diberkati dengan keturunan—entah lahiriah maupun rohani—sambil menantikan penggenapan janji-janji itu.

Selain menyampaikan janji, perjanjian yang diadakan Allah di sini mengandung bentuk respons Abraham, khususnya sunat sebagai “tanda” (a.11) di dalam daging. Jika janji itu akhirnya menyangkut seluruh dunia, respons ini terkait dengan Israel sebagai bangsa, dan terbatas pada satu tahap dalam sejarah keselamatan. Sekarang iman kepada Kristus yang menentukan siapa yang termasuk dalam tubuh Kristus (Gal 3:26). Memang baptisan berfungsi sebagai tanda keanggotaan itu. Tetapi Yesus mengusulkan saling mengasihi sebagai tanda pengenal yang baru (Yoh 13:34-35; bnd. Gal 5:6), dan barangkali itulah caranya sekarang untuk “hidup dengan tidak bercela” (a.2). Kemudian Paulus, dalam konteks perdebatan tentang sunat untuk bangsa-bangsa, memperlihatkan penderitaan lahiriahnya sebagai pertanda bahwa dia adalah milik Kristus (Gal 6:17).

Adalah suatu anugerah besar bahwa Allah berkenan disebut Allah kita (a.8) dan mengikatkan diri-Nya dengan kita dalam perjanjian, lebih lagi dalam Kristus. Sekiranya kita dapat menangkap dan menghayati identitas itu.


Ezra 7 Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN

Agustus 25, 2008

Israel mulai kembali dari pembuangan ketika Darius, raja Persia, mengalahkan Babel (539 sM). Persia memiliki kebijakan yang ramah terhadap bangsa-bangsa taklukannya. Pengungsi dibantu untuk pulang, dan budaya (termasuk agama) di setiap daerah dihargai, agak seperti hukum adat diakui di Indonesia. Ezra 1-6 menceritakan pembangunan Bait Allah di Yerusalem oleh rombongan yang pertama yang kembali dari pembuangan. Ezra 6:22 menganggap bahwa kebijakan yang memungkinkan selesainya pembangunan itu adalah karya Allah sendiri.

Ezra 7 memulai tahap yang baru dalam cerita kitab Ezra, yakni munculnya tokoh Ezra sendiri pada tahun 458 sM, hampir 60 tahun sesudah pembangunan Bait Allah selesai (yaitu 515 sM). Ezra sendiri adalah imam dari keluarga imam (lihat 1 Taw 6:4-14 untuk daftar yang lebih lengkap). Dia mahir dalam Taurat, yaitu adat Israel, sehingga dia didukung raja Artahsasta sesuai kebijakan tadi, barangkali supaya adat Israel diterapkan dengan tepat di Yudea. Perginya Ezra dalam rangka itu merupakan kesempatan yang besar bagi Israel, sehingga ada rombongan lagi yang mengikutinya. Sekali lagi, kebijakan raja dianggap karya Allah (7:27).

Artahsasta bukan penganut Allah Israel, melainkan penganut pluralitas adat. Suratnya mencerminkan kebijakan mencari damai daripada iman akan janji-janji Allah untuk menyelamatkan umat-Nya. Namun, hal itu tidak mengurangi campur tangan Allah di dalamnya. Allah tidak terbatas oleh ada tidaknya iman dalam hati manusia. Ams 21:1 mengatakan bahwa hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan, dan itulah yang dilihat di sini. Kebijakan raja Artahsasta yang menghargai minoritas adalah tepat. Tetapi Allah berkarya di dalamnya dengan maksud sendiri, yaitu supaya umat-Nya diselamatkan dan nama-Nya dipuji.

Hati para pemimpin di Indonesia tetap ada dalam tangan Allah. Pada umumnya (dan menurut UUD) pemerintah menghargai minoritas sama seperti Artahsasta. Dalam keadaan demikian, semestinya kita memuji Allah dan mengambil kesempatan untuk bekerja bagi rencana keselamatan Allah sama seperti Ezra.