Mt 28:1-10 Dari Kecemasan sampai Pengharapan

April 22, 2011

Kedua Maria pergi ke kubur Yesus dalam dunia yang kita kenal, yaitu dunia yang di dalamnya kebenaran ditindas oleh kepentingan kuasa dan pengharapan hanya mengecewakan. Dalam dunia seperti ini, tinggal tindakan-tindakan kecil yang masih bermakna, seperti menengok kubur pemimpin rohani kekasih yang sudah menjadi korban dunia itu. Berbuat baik dalam dunia seperti ini sulit dipertahankan, karena kebaikannya lenyap dalam kegelapan, seperti dilambangkan oleh kegelapan yang meliputi bumi sambil Yesus di atas salib (27:44). Memang Matius sudah melaporkan dua petunjuk bahwa Yesus justru telah berhasil menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka, tetapi perempuan-perempuan itu belum tahu—yang satu terjadi di dalam Bait Allah, yang satu terjadi setelah kebangkitan Yesus.

Tetapi mereka pergi ke kubur menjelang menyingsingnya fajar (a.1) pada hari pertama, seakan-akan kita ada pada hari pertama penciptaan menunggu Allah berfirman, “Jadilah terang”. Dan itulah yang terjadi. Matius tidak memakai ketegangan seperti ketiga Injil yang lain, sehingga dia melewatkan bagian di mana penengok kubur melihat dulu kubur yang kosong baru diberitahu oleh malaikat (pedoman Gereja Toraja memuat penguraian tentang perbedaan-perbedaan antara keempat Injil soal kebangkitan Yesus). Dia langsung menceritakan suatu pertunjukan yang hebat dari Allah, lengkap dengan kuasa dan terang (aa.2-3). Dengan demikian, keadaan tiba-tiba terbalik. Para penjaga, wakil kepentingan-kepentingan yang membunuh Yesus, tidak dapat bicara lagi dan malah tergolong dengan orang mati (a.4). Sebagai lawan dan musuh Yesus, kebangkitan Yesus bukan kabar baik. (Jika kita melihat 28:16-20, satu hal yang menarik ialah bahwa kepada musuh Yesus ditawarkan kesempatan untuk bertobat, bukan pembalasan langsung.) Yang berada dan yang hidup adalah kedua perempuan itu, dan mereka tidak usah takut karena mereka tergolong orang yang mau menemukan Yesus, bukan meniadakan Dia (a.5).

Namun, mereka takut. Mengapa? Mereka mencari Yesus yang disalibkan, bukan yang telah bangkit; mereka lupa bahwa Dia sudah mengatakan bahwa Dia akan bangkit. Matius memperlihatkan suatu ironi di sini. Musuh-musuh Yesus mengingat pemberitahuan Yesus itu (27:63), tetapi teman-teman-Nya tidak. Namun, buktinya ada di depan mata mereka—tempat dia dibaringkan kosong (a.6). Jika sebagai Raja Israel Yesus harus mengalami pembuangan Israel dalam bentuk penghinaan dan kematian di kayu salib sebagai pengganti bagi orang berdosa, sekarang jelas bahwa Allah sudah menuntaskan proses keselamatan itu dengan membangkitkan Dia. Yesus masuk ke dalam ranah maut supaya semua yang bergabung dengan-Nya bisa dibawa keluar ke dalam hidup yang baru (bnd. Rom 6:4). Kegelapan sudah menjadi terang, kecemasan sudah dikalahkan oleh pengharapan baru: Allah tidak alpa dari dunia ini, tetapi sudah bertindak merintis pembaruannya dan menyelamatkan manusia di dalamnya. Makanya, mereka disuruh untuk mengabarkan berita itu kepada murid-murid Yesus, bahwa mereka dapat melihat Yesus kembali (a.7).

Mereka keluar dengan sukacita yang besar, dan semangat yang tinggi untuk mengabarkan berita ini, tetapi mengapa masih ada ketakutan (a.8)? Dugaan saya bahwa kita melihat bagaimana kecemasan itu sulit dilepaskan sepenuhnya. Kabar itu “too good to be true”, terlalu baik untuk dipercayai. Jangan sampai mereka dikecewakan kembali. Hanya dalam perjumpaan dengan Yesus, ketika mereka dapat memegang dan menyembah-Nya, berita tentang kebangkitan-Nya menjadi utuh. Pesan Yesus kepada mereka hanya ringkasan dari pesan malaikat, tetapi mereka mulai mengalami berkat utama dari kebangkitan, yaitu persekutuan dengan Yesus sendiri.

Dunia mereka tidak pernah sama lagi, dan jika kita menerima berita ini dan membiarkan diri berjumpa dengan Yesus, dunia kita juga tidak akan sama. Yesus adalah Raja Juruselamat: di dalam-Nya Allah sudah bertindak untuk memulihkan dunia ini, sehingga di tengah kegelapan yang teramat buruk ada pengharapan bahwa fajar mau menyingsing. Yesus adalah Bait Suci yang dibangun kembali: dengan kenaikan Yesus dan pengutusan Roh Kudus, kita semua bisa menyembah Yesus dan menikmati hadirat Allah langsung melalui-Nya. Tetapi, di manakah kita dalam cerita ini? Tentu bukan pada musuh Yesus. Tetapi apakah masih mencari Yesus yang disalibkan sehingga larut dalam kecemasan? Atau sudah menerima kabar kebangkitan-Nya, tetapi belum masuk hati sehingga plin-plan antara sukacita dengan kecemasan? Atau sudah bersekutu dengan Kristus sehingga siap memberitakan-Nya kepada orang lain?

Selamat merayakan harapan hari kebangkitan, dan persekutuan dengan Kristus yang telah bangkit.


Ibr 1:1-14 Firman yang mendasari, menopang dan memulihkan

Desember 14, 2010

Alur penyampaian 1:1-2:4 tidak sulit secara garis besar. 1:1-4 menyampaikan bagaimana Allah telah berbicara kepada kita dalam Anak-Nya dengan cara yang berbeda dari dulu-dulu, yang dalam hal ini diwakili oleh malaikat yang menjadi perantara Hukum Taurat (2:2) yang merupakan dasar Perjanjian Lama. 1:5-14 membuktikan klaim dalam 1:4 bahwa Anak itu lebih mulia daripada malaikat-malaikat. Kesimpulannya dalam 2:1-4 ialah bahwa kita harus mendengarkan firman tentang Anak itu dengan lebih serius lagi daripada firman dalam Hukum Taurat. Demikian penulis mulai meyakinkan pendengarnya untuk bertahan dalam iman kepada Kristus dan jangan kembali ke kepercayaan lama, yaitu agama Yahudi.

Kesimpulan itu sudah terkandung dalam 1:1-4, yang dapat diringkas, “Ia berbicara kepada kita dalam Anak-Nya, yang duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar” (mengikuti susunan kalimat dalam bahasa aslinya). Dalam seluruh surat, keutamaan Kristus menjadi dasar untuk tetap mendengarkan berita tentang Kristus yang utama itu. Terhadap pokok ini, cabang-cabangnya menyampaikan suatu kisah tentang rencana Allah. Kepelbagaian penyataan PL sudah digenapi (dirangkum, berpuncak) dalam penyataan dalam Kristus (1-2a). Sebagai Anak yang dilantik sebagai Mesias, raja yang dijanjikan Allah (lihat 1:5; soal memperanakkan tidak merujuk pada hakikat Kristus sebagai Allah Anak tetapi pada peran-Nya sebagai Mesias), Kristus menjadi tujuan rencana Allah untuk dunia ini (“menerima segala yang ada”), sama seperti sebagai (secara tersirat) firman Allah Dia menjadi penggerak rencana Allah dalam penciptaan (2b); akhir dan awal, omega dan alfa. Jika kita mau memahami dunia, termasuk dari mana kita dan ke mana kita, kita harus melihat pada Kristus.

Dalam a.3 Kristus (Anak) menjadi subjek. Mungkin tetap sebagai firman, Dia menyatakan kemuliaan Allah dan wujud Allah dengan sempurna. Tetapi Dia juga menopang segala yang ada dengan firman-Nya—seperti seorang raja. Dengan gambaran demikian tentang Kristus, kita mendengar kisah-Nya: Dia mengadakan penyucian dosa baru duduk di sebelah kanan Allah. Mengadakan penyucian dosa tentu merujuk pada pengorbanan-Nya, dan penderitaan Kristus menjadi contoh untuk pengikut-Nya di beberapa tempat (misalnya 2:10 dan 12:2-3). Satu implikasi ialah bahwa jalan menuju ke kemuliaan ditempuh melalui penghinaan (bnd. 13:12-13). Kita menjadi terampil dengan menjadi bodoh dan kerja keras lebih dulu; kita membawa perubahan dengan disalahpahami dan bersabar lebih dulu; kita diselamatkan dengan mendengar dan bertekun lebih dulu (2:1). Menjadikan kisah Kristus mitos kita, artinya kisah mendasar yang di dalamnya kita menafsir dunia ini, memiliki implikasi yang menyeluruh.

Di sini Kristus adalah firman (melebihi nabi-nabi), Anak/Raja, dan, pada titik penyucian, Imam. Aa.5-13 paling banyak mendukung status-Nya sebagai Anak/Raja, tetapi peran Kristus dalam penciptaan dibuktikan dalam aa.10-12, and a.13 mengutip Mzm 110 yang daripadanya penulis surat akan membahas keimamat Kristus (lihat pp.7-10). Setiap peran menaungi serangkaian kegiatan dan tujuan, tetapi kekayaan diri dan karya Kristus hanya dapat disampaikan dalam sebuah gabungan dari peran-peran ini. Sebagai firman Dia memberi struktur dan makna bagi dunia ini. Sebagai Raja Dia meneguhkan struktur itu dengan menegakkan keadilan, termasuk hukuman (1:8-9; bnd. 12:25-29). Sebagai Imam, Dia memulihkan struktur itu melalui penyucian dosa.

Sungguh, firman ini layak kita dengarkan dan muliakan, sehingga Kristus menjadi dasar, kerangka dan pengarah kehidupan kita.


Ezra 3 Pendamaian dan Persekutuan dengan Allah

Juni 23, 2010

Israel mulai kembali dari pembuangan ketika Darius, raja Persia, mengalahkan Babel (539 sM). Persia memiliki kebijakan yang ramah terhadap bangsa-bangsa taklukannya. Pengungsi dibantu untuk pulang, dan budaya (termasuk agama) di setiap daerah dihargai, agak seperti hukum adat diakui di Indonesia. Ezra 1-6 menceritakan pembangunan Bait Allah di Yerusalem oleh rombongan yang pertama yang kembali dari pembuangan. (Ezra sendiri hidup hampir seabad kemudian, dan baru diceritakan pada p.7.)

Pada awal p.3 rombongan itu sudah menetap di kota-kota masing-masing sehingga siap untuk berkumpul dan memulai proyek yang besar itu. Kegiatan utama Bait Allah ialah persembahan-persembahan di mezbah. Mezbah itu berada di luar gedung Bait Allah, sehingga mezbah itu dapat dibangun sebelum gedungnya dan persembahan-persembahan langsung dimulai. Itulah yang diceritakan dalam aa.2-6. Persembahan utama ialah korban bakaran (aa.2, 6). Korban yang dibakar habis itu bermaksud untuk “mengadakan pendamaian” (Im 1:4). Korban itu dipersembahkan secara teratur pada waktu pagi dan waktu petang (a.3) untuk menyatakan kehadiran Tuhan di tengah Israel yang dimungkinkan oleh pendamaian itu (Kel 29:38-43). Persekutuan dengan Allah begitu penting bagi mereka sehingga mereka tidak menghiraukan rasa takut karena penduduk di sekitarnya (a.3). Ada juga yang membawa persembahan sukarela untuk menyatakan rasa syukur kepada Allah (a.4).

Namun, tujuannya adalah pembangungan seluruhnya, dan hal itu dilanjutkan dengan pemberian untuk materi pembangunan (a.7). Dalam aa.8-13 ada acara terkait dengan perletakan dasar Bait Allah. Masih ada banyak pergumulan yang akan dihadapi yang diceritakan dalam pp.4-6, tetapi mereka memuji Allah oleh karena pertanda awal ini.

Bait Allah merupakan tempat pendamaian dan tempat persekutuan dengan Allah dan dengan sesama orang percaya. Kristus sendiri berbicara tentang Bait Allah yang dirombak dan didirikan kembali dalam tiga hari, yakni tubuh-Nya sendiri yang mati dan dibangkitkan (Yoh 2:19-20). Dan memang, Dia adalah tempat pendamaian dan persekutuan kita dengan Allah. Perkumpulan jemaat juga disebut “tubuh Kristus”, karena di dalam Kristus kita bersekutu dengan sesama orang percaya untuk menyembah Allah (1 Kor 3:16-17).

Oleh karena itu, kita dapat memuji Allah karena pendamaian sudah diadakan dan kita dapat bersekutu dengan Allah dalam Kristus. Dalam persekutuan jemaat kita juga dapat membawa persembahan sukarela, dalam bentuk apapun yang cocok, entah pemberian atau syukur atau nyanyian. Dari satu segi tidak ada lagi yang dapat kita lakukan untuk membangun Bait Allah, karena Kristus sudah bangkit. Hanya ini yang dapat kita lakukan, yaitu membangun jemaat-jemaat di mana Kristus dipercaya dan dipuji (1 Kor 3:9-15). Semoga keberanian dan semangat rombongan Israel pada saat itu mendorong kita untuk mendirikan persekutuan-persekutuan baru dan menguatkan persekutuan-persekutuan lama supaya pujian kepada Allah makin bertambah.


Ibr 10:19-27 Menikmati Karya Kristus

Januari 13, 2010

Ibr 10:19-25 merupakan klimaks dari seluruh penguraian khotbah sebelumnya, dan khususnya penguraian tentang Kristus sebagai Imam Besar yang berkembang dalam pp.7-10. Kerangkanya adalah tiga seruan dalam aa.22-24 (“marilah”) yang menyangkut iman (a.22), pengharapan (a.23) dan kasih (a.24). Seruan etis itu mungkin saja bisa ditafsir lepas dari dasar teologisnya, tetapi jika demikian tafsirannya tidak lagi benar. Argumentasi dalam pp.7-10 disampaikan supaya ketiga seruan ini mempunyai dasar yang kuat. Dengan kata lain, ketiga seruan adalah implikasi dari ayat-ayat sebelumnya (bnd. kata “jadi” dalam a.19).

Sebagian argumentasi sebelumnya diringkas dalam aa.19-20 dan a.21. Di balik aa.19-20 ada penggenapan Kristus terhadap tempat kudus dan ibadah Israel. Tempat kudus terdiri atas dua kemah, dan yang paling inti mewakili hadirat Allah, tetapi jalan ke dalamnya terbatas (9:1-10). Kristuslah yang telah merintis (6:19-20) jalan ke dalam tempat kudus di sorga dengan darah-Nya sendiri (9:12, 23). A.21 merujuk ke 3:1-6, yaitu bahwa kita termasuk umat di bawah Kristus, sama seperti Israel berada di bawah Musa. Artinya bahwa apa yang dirintis oleh Yesus berlaku untuk kita. Iman, pengharapan dan kasih kita adalah respons terhadap karya Allah dalam Kristus.

Seruan pertama (a.22) adalah untuk menghadap Allah. Artinya sama dengan 4:16 “menghampiri takhta kasih karunia”, yaitu menggunakan jalan yang dirintis Kristus itu. Syaratnya memang hati yang tulus dan iman yang teguh. Tetapi langsung penulis menyampaikan dasar untuk sifat-sifat itu. Hati kita bisa tulus ikhlas karena “dibersihkan dari hati nurani yang jahat”. Hal itu merujuk ke 9:14 (hati nurani disucikan), yang mewujudkan janji Allah dalam 8:10 (=Yer 31:33) tentang pembaruan hati. Pembasuhan tubuh pada akhir a.22 kemungkinan besar merujuk ke pembaptisan, yang melambangkan bahwa kita termasuk umat Allah di dalam Kristus. Jadi, keyakinan kita bukan bahwa kita telah berbuat baik ataupun sudah mengaku dosa dengan tangisan yang dahsyat, melainkan bahwa darah Kristus telah meresap ke dalam lubuk hati untuk membersihkan noda dosa yang mencemarkannya.

Menghadap Allah adalah seruan inti, karena umat-Nya berada bersama Allah adalah tujuan-Nya dalam rencana keselamatan (8:10b, bnd. 8:11 “karena mereka semua…akan mengenal Aku”). Tetapi untuk menikmati janji itu kedua seruan berikut sangat penting. Kita harus berpegang pada pengakuan kita (a.23). Sekali lagi, dasarnya bukan semacam optimisme yang dibuat-buat dalam hati kita, melainkan janji Allah. Janji Allah dilihat dalam kutipan dari Yer 31:31-34 dalam 8:8-12, dan penggenapannya sudah dijelaskan dalam 9:1-10:18. Jadi, Kristus menjadi alasan untuk tetap berharap kepada Allah. Juga, kita harus saling mendorong dalam wujud praktis dari hati yang baru, yaitu kasih kepada sesama (a.24). Kedua seruan ini tidak bisa dilakukan sendiri, sehingga ditambahkan dengan nasihat untuk berkumpul supaya saling menasihati, dan juga peringatan tentang hari Tuhan (a.25). Tema itu juga merujuk ke peringatan dalam 3:12-13 dalam konteks menuju ke keselamatan.

Dengan demikian, saya berharap pembaca sudah dapat melihat betapa seruan tentang iman, pengharapan dan kasih ini berakar dalam Kisah Agung Allah, yaitu janji keselamatan dalam PL yang diwujudkan dalam Kristus dan akan berakhir ketika Kristus datang kembali (9:28). Namun, keselamatan itu tidak otomatis. Seruan itu begitu bersemangat karena ada alternatifnya, yaitu nasib yang mengerikan bagi orang yang tidak berpegang pada pengakuan dengan saling menguatkan sehingga tidak lagi menghadap Allah. Kita harus menafsir “sengaja berbuat dosa” dalam a.26 sesuai dengan 6:6 (“murtad”). Maksudnya orang yang mengaku percaya tetapi kemudian menolak keselamatan dalam Kristus, bukan orang yang jatuh ke dalam dosa tertentu tetapi tetap mau bertobat. Penulis tidak menganggap bahwa pembaca akan demikian. Jika saya berada di atas kapal di tengah badai ada dua bahaya. Jika kapalnya tidak kuat saya bisa mati tenggelam, dan jika saya panik dan melompat ke dalam laut saya juga bisa mati tenggelam. Kristus adalah kapal yang serba aman, dan jika saya berada di dalam-Nya tidak ada kuasa yang bisa melemparkan saya ke dalam laut. Penguatan dalam aa.19-25 dan peringatan dalam aa.26dst supaya kita tidak panik dan melompat keluar.


Ef 1:3-14 Menghayati berkat-berkat Allah

November 9, 2009

Perikop ini kaya, sangat kaya. Jadi saya minta maaf jika “renungan” ini agak panjang dan sarat dengan ide. Dalam pendahuluan ini saya coba membahas satu dua hal yang mungkin mencegah kita memuji Allah sesuai dengan isi perikop ini. Kemudian ada komentar per bagian.

A.3 mengangkat tema utama perikop ini, yaitu berkat-berkat rohani yang menjadi alasan untuk memuji Allah. Berkat-berkat itu termasuk kekudusan (4), menjadi anak Allah (5), pengampunan (7), pengetahuan rencana Allah (9) dan Roh Kudus (13). Apakah berkat-berkat ini menarik bagi semua jemaat (termasuk sebagian yang berpendidikan teologi)? Untuk sebagian, saya dapat membayangkan tuduhan (dalam hati) bahwa “rohani” berarti “tidak praktis”, “tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari” dsb. Coba ada uang sekolah, penyembuhan, pemberantasan korupsi dsb, baru berkat dianggap berlimpah-limpah.

Bahwa pandangan itu ada benarnya cukup jelas dari gambaran berkat/kutuk dalam PL (misalnya Ul. 26). Ada yang mengatakan bahwa harapan yang “materialistis” itu sudah diganti dengan harapan yang “rohani”. Pembahasaan itu berbahaya. Jauh lebih tepat mengatakan bahwa harapan yang materialistis itu ditunda. Ketika semua dipersatukan dalam Kristus sebagai Kepala, keadaannya akan seperti dalam Why 21, dengan bumi yang baru yang di dalamnya tidak ada yang merusak kehidupan lagi.

Namun, dalam PL pun berkat utama adalah pengenalan akan Allah. Mengapa Israel dibebaskan dari Mesir? Supaya “menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu” (Kel 6:6). Berkat-berkat rohani yang diuraikan menyangkut berkat utama itu. Kita bisa menjadi anak Allah karena ditebus oleh darah Kristus sehingga kita memiliki jaminan atas warisan (LAI “bagian”) yang dijanjikan. Mengapa hal-hal itu terasa abstrak, terasa tidak menyentuh kehidupan nyata? Saya duga jawabannya dalam a.13. Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat itu bagian dari kehidupan kita, kebutuhan nyata. Sama seperti orang dari luar Toraja sulit memahami keasyikan pesta orang mati di Toraja [maaf kepada pembaca dari luar Toraja :)], orang tanpa Roh Kudus sulit memahami mengapa Allah begitu layak dipuji karena berkat-berkat-Nya dalam Kristus. (Mungkin perlu dicatat bahwa harapan dari Injil yang ditanam Roh Kudus ternyata sangat membantu kita untuk memaksimalkan keadaan yang ada, entah baik atau buruk, sehingga ada gunanya untuk sekarang. Khususnya, kita dimampukan untuk berjuang dalam kasih, seperti dalam pp.4-6.)

Dalam komentar di bawah, saya menebalkan kata-kata tentang kedaulatan Allah, menggarisbawahi kata-kata tentang kemuliaan Allah dan pujian, dan memiringkan kata-kata tentang anugerah (kasih karunia). Perikop ini dimulai dan diakhiri dengan panggilan untuk memuji Allah, dan inti perikop ini adalah anugerah Allah yang terwujud dalam Kristus (aa.7-8). Bagaimana dengan kedaulatan Allah? Orang suka pusing menghadapi pernyataan seperti dalam a.11 bahwa keputusan orang “dari semula ditentukan” dan bahwa Allah “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”. Di mana lagi kebebasan manusia kalau demikian? Sebagai jawaban, perlu diingat bahwa Allah adalah Pencipta, bukan salah satu kuasa di antara banyak kuasa yang lain dalam dunia ini. Jadi, dari satu segi semua kuasa dan kemampuan, termasuk kehendak kita, bergantung pada kuasa Allah yang menopang segala sesuatu. (Jadi, yang menjadi misteri ialah bahwa kita memiliki kehendak bebas, bukan bahwa Allah berdaulat.) Tetapi hal itu bukan fokus Paulus di sini. Rencana Allah diwujudkan dalam Kristus dan diterapkan oleh Roh Kudus. Kedaulatan Allah adalah pelayan rencana Allah itu. Jadi, kedaulatan Allah bukan suatu kehendak yang kabur (sehingga menakutkan), tetapi melayani rencana Allah yang sudah dinyatakan dalam Kristus (a.9).

Jadi, selayaknya perikop ini menjadi bahan untuk kita memuji Allah. Jika kita dimeteraikan dengan Roh Kudus sehingga berada di dalam Kristus maka semua berkat ini adalah milik kita, milik kita yang sangat berharga.

(3) Terpujilah Allah dan Bapa [dari] Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

Kata Bapa tidak merujuk ke Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan Allah adalah juga Bapa dari Tuhan Yesus Kristus [satu artikel (ho) dipakai untuk kedua kata Allah (theos) dan Bapa (pater)]. Perikop ini bersifat ketritunggalan, karena kata rohani merujuk ke karya Roh Kudus, atau paling sedikit dalam a.14 Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat rohani ini nyata dalam kehidupan.

(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, (6) supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

A.4 adalah pernyataan mendasar; a.5 memberi keterangan [kata kerjanya adalah partisip, bukan indikatif]; a.6 adalah tujuannya. Bahasa “kudus”, “tak bercacat” dan “anak” adalah bahasa yang dipakai dalam PL untuk umat Allah, sama seperti “menjadikan kita milik Allah” dalam a.14.

(7) Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, (8) yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. (9) Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus (10) sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

Aa.7-8 adalah pernyataan mendasar; a.9 memberi keterangan [juga partisip], mungkin atas kelimpahan kasih karunia Allah—bukan hanya bahwa kita ditebus oleh darah Kristus tetapi juga kita diberitahu mengenai rencana agung Allah; a.10 adalah tujuannya. Kali ini tujuannya bukan pujian melainkan pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Darah Kristus dalam a.7 adalah caranya untuk a.4, dan bagian ini (khususnya a.7 dan a.10) menjelaskan mengapa ada “di dalam Dia” terus-menerus dalam perikop ini. Kristus adalah pewujud rencana Allah.

(11) Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– (12) supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

Kata kami adalah tafsiran—dalam bahasa Yunani (dan Ibrani dan Inggris) tidak dibedakan anatara kita dan kami. Tafsiran itu tepat, tetapi bagi pembaca asli baru akan jelas dalam a.12 dalam perkataan “yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus” bahwa “kita/kami” merujuk pada kelompok Paulus, bukan pembaca. “Kami” adalah orang-orang Yahudi (lihat juga 2:1-3 dan 2:11-12), yang memang menjadi yang pertama percaya. Mereka adalah tahap pertama dalam pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Tujuannya pujian kembali (a.12b).

(13) Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. (14) Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Tahap berikut dalam pemersatuan segala sesuatu adalah orang non-Yahudi yang jadi percaya (bnd. 2:11-22). Kedua ayat ini adalah dasar ringkas untuk suatu urutan keselamatan (ordo salutis). Yang pertama adalah pendengaran Injil tentang keselamatan, sehingga ada yang percaya. Yang percaya dimeteraikan dengan Roh Kudus (yang menunjukkan bahwa mereka adalah milik Allah) yang menjadi jaminan bahwa mereka akan menerima segala yang dijanjikan Allah pada akhir zaman itu. Jadi, pemberitaan menjadi pintu masuk untuk keselamatan eskatologis (hidup kekal). Roh Kuduslah yang menerapkan dalam kehidupan orang percaya rencana Allah yang terwujud dalam Kristus. Namun, perlu diperhatikan apakah tujuan Allah. Bukan keselamatan saya saja (sebagai individu), melainkan kita sebagai umat milik Allah.


1 Yoh 2:18-27 Menghadapi antikristus yang berbobot

Juni 21, 2009

Kadangkala jemaat dihebohkan oleh pengajar yang mengajukan pendapat yang mau meniadakan ajaran yang sudah lama diterima oleh jemaat. Hal itu belum tentu salah. Sebagian jemaat di Yerusalem dihebohkan oleh penerimaan orang bukan Yahudi dalam Kristus tanpa disunat, tetapi penerimaan itu ternyata berasal dari Allah dan akhirnya diterima juga. Sekarang jemaat bisa gelisah tentang hal-hal yang merupakan tradisi saja. Tetapi sekarang ada juga banyak ajaran sesat yang beredar di gereja, yang misalnya meragukan kedudukan Kristus sebagai Anak Allah atau mengesampingkan karya-Nya dalam memperdamaikan kita dengan Allah. Ketika mendengarnya, jemaat biasa bisa bingung. Mereka merasa tidak nyaman, tetapi tidak sanggup membantah pendapat yang dikeluarkan orang yang berilmu atau berkedudukan. Dalam perikop ini penulis mau meyakinkan jemaat pembaca bahwa Allah telah menuntun mereka pada jalan yang benar.

Penulis mulai dengan menyebutkan pandangan yang menunggu akhir zaman ketika pemberontakan dunia akan berpuncak dalam rupa orang yang melawan Kristus sehingga disebut antikristus. Penulis setuju bahwa kita hidup dalam waktu terakhir, menjelang akhir zaman, tetapi dia juga mengusulkan bahwa sudah banyak orang yang berperan melawan Kristus (a.18). Yang dimaksud secara langsung adalah sekelompok orang yang pernah termasuk jemaat yang menerima surat ini. Mereka keluar dari jemaat, dan Yohanes mau meyakinkan jemaat bahwa jemaat yang ada pada jalan yang benar, bukan kelompok yang keluar (a.19).

Demi tujuan itu dia mengingatkan bahwa mereka sudah diurapi oleh Allah (a.20). Pengurapan itu barangkali merujuk ke mereka memiliki Roh Kudus. Pengurapan itu yang telah menjaga mereka sehingga mereka dapat membedakan apa yang benar dari apa yang sesat (a.21). Belum tentu mereka sanggup menjelaskannya secara ilmiah, tetapi ada nurani yang–kata Yohanes di sini–diberikan Allah.

Penulis mempertegas maksud itu dalam aa.22-25, dengan memperjelas apa inti dari ajaran sesat. Intinya menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus (a.22a). Dalam bagian sebelumnya dalam surat ini sudah ada dua hal yang disebutkan mengenai Yesus sebagai Kristus. Dalam 1:3 Yesus Kristus adalah Anak Allah, firman yang membawa hidup. Dalam 2:1 Yesus Kristus adalah perantara yang membawa pendamaian dengan Allah. 4:2 akan menyebutkan bahwa Yesus Kristus datang sebagai manusia. Mengakui Yesus sebagai Kristus adalah mengakui bahwa Allah mengutus-Nya untuk menjadi manusia yang mendatangkan hidup oleh pendamaian yang dikerjakan-Nya. Demikianlah kebenaran yang diketahui jemaat.

Pentingnya kebenaran itu dilihat dalam akibatnya. Menyangkal Yesus sebagai Kristus berarti menyangkal Anak Allah, sehingga Allah Bapa pun disangkal (a.22b). Sebagai Anak Allah, Yesus berasal dari Allah, dan tanggapan terhadap Kristus adalah tanggapan terhadap Bapa-Nya (a.23). Cara untuk tetap memiliki Anak dan Bapa ialah berpegang pada berita semula yang olehnya mereka jadi percaya kepada Kristus (a.24). Dengan demikian, mereka akan menerima janji hidup kekal. Jadi, ajaran sesat berakibat fatal bagi kehidupan rohani.

Kesimpulan bagian ini mengangkat kembali pengurapan itu (aa.26-27). Jika mereka tidak perlu diajar, mengapa Yohanes menulis kepada mereka? Barangkali dia menulis dalam rangka mengingatkan dan memperjelas apa yang sudah mereka pahami dari Roh Kudus. Nurani dikuatkan dan diperjelas oleh nasihat penulis.

Perlu diingat bahwa Yohanes menulis tentang hal-hal pokok, yaitu yang menyangkut kedudukan Kristus. Bukannya bahwa jemaat selalu benar dalam segala hal! Juga, Yohanes berbicara tentang jemaat secara keseluruhan, bukan pendapat satu orang saja. Namun, ajarannya tetap menguatkan kita untuk berpegang pada Injil yang telah kita terima, sekalipun diserang oleh pihak yang berbobot.


Zak 13:1-6 Tulisan Apokaliptik

Januari 23, 2009

Zak 9-14 agak sulit dipahami, karena tergolong tulisan apokaliptik, seperti yang juga ditemukan dalam kitab Wahyu (kata wahyu adalah terjemahan dari bahasa Yunani apokalypsis dalam Why 1:1) atau kitab Daniel. Sulitnya kadangkala bukan dalam gambaran yang dipakai, tetapi lebih pada persoalan rujukan. Misalnya, Zak 13:2-6 menyampaikan gambaran yang tidak terlalu sulit dibayangkan. Nama-nama berhala, serta nubuatan yang berkaitan dengannya, akan hilang karena sikap umat Israel yang sudah begitu berubah sehingga apa saja yang terkait dengannya dianggap memalukan. Seruan Hukum Taurat untuk melenyapkan nabi palsu (Ul 18:20) akan dijalankan oleh orang tua sendiri (a.3). Para nabi sendiri akan malu untuk mengaku bahwa mereka pernah terlibat dalam kegiatan itu, meskipun bekas lukanya mencurigakan (bnd. apa yang dilakukan nabi palsu dalam 1 Raj 18:28).

Sama juga, tidak terlalu sulit mengaitkan Zak 13:1 dengan salib Kristus, lebih lagi karena Yesus mengutip a.7 (lihat Mk 13:27). Tetapi, apa hubungan aa.2-6 dengan salib Kristus? Tidak jelas bahwa pada saat kematian Kristuslah hal-hal itu terjadi!

Seperti nubuatan PL yang lain, apokaliptik tidak digenapi pada saat tertentu saja, tetapi dapat digenapi berulang kali. Apokaliptik lebih memberi gambaran tentang sifat waktu daripada kronologi waktu. Sifat waktu yang ditekankan adalah perlindungan umat Allah di tengah dunia yang menentang Allah, seperti dilihat dalam Zak 12:1-9 dan p.14. Tetapi nubuatan Alkitab selalu mengakui keberdosaan umat Allah sendiri. Jadi, 12:10-13:9 membahas pemurnian umat Allah. Mereka akan menyesali kejahatan mereka (12:10-14), sehingga dosa dan noda dapat dihapus (13:1). Hal itu akan bermuara pada pertobatan yang meninggalkan pemberhalaan dengan tegas. Namun, akan tetap ada penderitaan untuk pemimpin dan para pengikutnya untuk menguji mereka (13:7-9).

Pola itu mungkin saja digenapi dalam berbagai gerakan pembaruan dalam sejarah Israel. Tentu, puncaknya terdapat dalam Yesus Sang Gembala, yang telah membuka sumber pembasuhan yang sungguh menanggapi soal dosa. Perhatikan bagaimana kedatangan-Nya dipersiapkan oleh seruan Yohanes untuk bertobat, dan dimulai dengan panggilan para murid Yesus yang diajar untuk meninggalkan berhala-berhala seperti uang dan kehormatan (lihat khotbah di bukit, Mt 6). Yesus sendiri memberi mereka ajaran yang bersifat apokaliptik sebelum Dia mati (lihat Mk 13), dan penangkapan dan pengadilan-Nya merupakan pengujian bagi murid-murid-Nya sesuai dengan semangat Zak 13:7-9.

Ajaran apokaliptik Yesus itu menunjukkan bahwa pola seperti Zak 13 ini masih berlaku bagi para pengikut-Nya sekarang. Jadi, “pada waktu itu” dalam aa.1, 2 & 4 merujuk pada waktu apa saja yang menuntut pertobatan umat Allah karena telah menyeleweng dari jalan-Nya. Dasarnya selalu adalah sumber pembasuhan seperti Zak 13:1, yaitu, kita berani bertobat karena Kristus telah mati bagi dosa kita. Yang mungkin paling tajam bagi kita adalah ketegasan pertobatan itu. Dosa terhadap Allah dianggap yang paling memalukan, dan begitu dibenci sehingga keluarga sendiri tidak luput. Ketika pengampunan Allah dianggap biasa saja dan rasa malu (jika masih ada) tertuju kepada keluarga dan masyarakat daripada Allah, perikop ini menjadi peringatan yang diperlukan.


Gal 4,1-11 Setelah genap waktunya…

Desember 22, 2008

Kristus membawa kemerdekaan untuk menjadi anak-anak Allah yang dewasa, yang tidak harus dikawal oleh Hukum Taurat lagi karena dosa sudah diatasi. Sayangnya, kita lebih suka aman daripada merdeka, sehingga sistem-sistem keagamaan lebih dipentingkan di atas pengenalan akan Allah. Sifat itu pada gilirannya menghancurkan misi. Kita menjadi terlalu repot mengerjakan sistem untuk menjangkau sesama, dan terlalu kaku menuruti sistem untuk menerima orang yang berbeda dari kita.

Baca entri selengkapnya »


Yes 60-62 Harapan dunia

November 27, 2008

Maaf, posting ini agak panjang karena dua perikop (60:1-14 dan p.62) ditempatkan dalam konteks kitab Yesaya dan penggenapannya dalam Kristus. Soalnya, saya mau menghargai teksnya sebagai hasil seorang nabi Israel yang dikarang bagi Israel, sekaligus nubuatan dasar bagi iman Kristen. Bagi saya, dengan demikian kekayaan penyataan Allah justru menjadi lebih tampak. Hanya, penjelasannya agak lebih rumit juga…

Pesan kitab Yesaya diperkenalkan secara ringkas dalam 1:1-2:4, yaitu pembaruan Sion sebagai pusat hadirat Allah dengan manusia. P.1 menggambarkan keberdosaan Sion, yang akan dipulihkan oleh pemurnian (1:21-26) sehingga Sion menjadi pusat dunia yang membawa berkat Allah kepada seluruh dunia (2:1-4). Dalam kitab selanjutnya, pemurnian dilaksanakan oleh Hamba Tuhan (pp.40-55), yang menjadi korban penebus salah (p.53). Hasilnya bagi Sion digambarkan dalam pp.60-62 ini. Jadi, dalam pasal-pasal ini kita melihat rencana Allah sebagaimana dinyatakan bagi Israel sebelum Kristus datang.

Bagian ini mulai dengan penyataan Tuhan atas Sion (60:1-2), sehingga bangsa-bangsa tertarik datang (a.3). Dalam aa.4-14 kedatangan bangsa-bangsa itu menyangkut tiga tema. Yang pertama adalah pengembalian orang-orang Israel yang dibuang, yang disebut anak-anak Sion. Yang kedua mereka membawa serta kekayaan bangsa-bangsa. Hal itu disampaikan dua kali, dalam aa.4-7 dan lebih lengkap dalam aa.8-14 dengan penambahan tema ketiga, yaitu pertukaran keadaan Israel dan bangsa-bangsa. Israel yang dibuang akan menjadi tuan atas bangsa-bangsa (10-12); penindas-penindas Israel akan tunduk kepadanya (14).

Di balik pemulihan keadaan Israel adalah hadirat Allah, sehingga Allah dimuliakan di dalam pemulihan Israel itu, bahkan oleh bangsa-bangsa (6, 9). Allah adalah sumber terang Israel (1-2, 14), dan hadirat-Nya merupakan pusat Israel (7, 13). Pemulihan Israel adalah akibat dari perubahan sikap Allah, dari murka sampai kasihan (10). Hadirat Allah dan perubahan keadaan Israel menjadi tema aa.15-22.

Dalam p.61 kabar baik dari p.60 mau diberitakan kepada Israel yang tertindas. Jadi, perhatian beralih dari hasil yang dijanjikan Allah ke proses pewujudannya. Dalam p.62 pemulihan Israel digambarkan dalam rangka relasi yang baru dengan Allah (1-7), diiringi seruan bagi nabi dan semua yang berdoa untuk berseru kepada Allah (1, 6-7). Atas dasar itu ada seruan untuk berjalan, yang dalam konteks aslinya bagi Israel yang dibuang berarti kembali dan menikmati janji-janji Tuhan. Jadi, pemberitaan, doa dan pengembalian kepada hadirat Tuhan merupakan proses dalam terwujudnya janji Tuhan itu.

Meskipun pembaca-pembaca awal nubuatan Yesaya mungkin berpikir bahwa semuanya akan terwujud ketika Israel kembali dari pembuangan pada akhir abad ke-6 sM, namun kenyataan lain, dan ketika Yesus datang memberitakan Kerajaan Allah, janji-janji itu masih menantikan penggenapan. Yesus memakai p.61 sebagai deskripsi tugas-Nya sendiri (Lk 4:18dst), dan kemudian menunaikan tugas Hamba Tuhan dengan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan (Mk 10:45). Dengan demikian, kerajaan Allah mulai terwujud. Perwujudan sepenuhnya digambarkan dalam Why 21-22, yang memakai gambaran Sion dalam p.60 sebagai salah satu latar belakangnya, termasuk masuknya kekayaan bangsa-bangsa dan hadirat Allah sebagai penerang yang mengganti bulan dan matahari. Demikianlah rencana Allah yang disampaikan kepada Israel disampaikan juga kepada jemaat dalam terang Kristus.

Kemudian, apa bagian kita di dalamnya? Ketika Yesus berbicara tentang terang dan kota yang terletak di atas gunung (Mt 5:14) kemungkinan besar Dia memikirkan nas-nas seperti 60:1-3. Jemaat yang di tengahnya Kristus diam oleh Roh-Nya adalah Sion yang di dalamnya Tuhan hadir. Melalui pemberitaan, doa dan berbalik kepada Tuhan (pertobatan), jemaat menghayati terang dalam Kristus dan menarik bangsa-bangsa. Barangkali, masuknya kekayaan bangsa-bangsa sudah mulai dengan kekayaan budaya-budaya menjadi bagian dari ibadah dan pujian jemaat (bnd. 60:6-7).

Jadi, kita diingatkan tentang identitas kita di tengah, dan misi kita kepada, semua orang di dunia ini, berdasarkan rencana Allah yang sudah lama berkembang. Oleh karena itu, sukacita yang mewarnai pp.60-62 ini selayaknya bagian kita juga.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.