Ams 4:1-13 (1) Pentingnya hikmat

April 27, 2009

Amsal pp.1-9 mengkhotbahkan pentingnya memperoleh hikmat. Pasal-pasal ini berbentuk nasihat seorang ayah kepada anaknya, dan segi itu saya bahas di posting berikut. Posting ini berfokus pada hikmat sendiri.

Maksud hikmat dapat digambarkan dari lebah berjenis sphex yang bertelur di sarangnya, kemudian menyengat serangga sehingga lumpuh tetapi masih hidup. Lebah menyeret serangganya ke ambang sarang, lalu memeriksa di dalam lalu membawa serangga itu ke dalam untuk menjadi makanan bagi anak-anaknya setelah menetas. Tingkah laku lebah itu pintar, tetapi tidak berhikmat. Soalnya, jika serangganya digeser beberapa sentimeter dari sarang, ketika lebah keluar dari lobang sarang lebah akan mengulang tindakannya. Lebah akan kembali membawa serangganya ke ambang sarang, lalu masuk untuk memeriksanya. Ada peneliti yang mengulang menggeser serangga itu sampai 40 kali, dan setiap kali tindakan lebah sama. Lebah tidak dapat belajar dari pengalaman. Lebah tidak berhikmat, sama seperti manusia (jemaat, pelayan) yang membuat kesalahan yang sama dalam cara kerja dan berelasi berulang kali tanpa berubah.

Maka kita dianjurkan untuk memperoleh hikmat (aa.5, 7). Dengan demikian kita akan dipelihara (a.6), lebih lagi ditinggikan (a.8-9). Hikmat akan memberi kita kemampuan untuk belajar dari pengalaman dan dari orang lain (a.1) sehingga apa yang kita usahakan dapat terwujud (a.12). Hikmat membawa hidup (a.13). Dalam a.10 ada janji umur yang panjang seperti dalam hukum kelima. Salah satu alasan untuk menghormati orang tua adalah belajar dari hikmat mereka.

Tentu, kita harus selalu menempatkan janji hikmat dalam konteks perlawanan dunia terhadap Allah. Dalam Dan 11:33 orang berhikmat “jatuh oleh karena pedang dan api” karena setia kepada Allah. Yesus menegaskan bahwa kita akan mendapat perlawanan sama seperti Dia dilawan. Namun, janji hidup tetap berlaku. Dalam Dan 12:2-3 ada nubuatan bahwa orang bijaksana itu akan bangkit dari antara orang mati, dan kebangkitan Yesus menjamin hal itu juga. Untuk sementara, hikmat membantu kita untuk bertekun dalam kesusahan (Yak 1:2-5) dan untuk mengasihi sesama (Fil 1:9).

Sekarang, di Indonesia sama seperti di dunia Barat, banyak masyarakat kurang berhikmat. Di Toraja saya duga bahwa hikmat dalam aluk (adat lama Toraja) hilang, sementara penggantinya dalam kekristenan tidak dicari. Sehingga misalnya, gengsi mengganti hormat sebagai tujuan, rakyat gampang terpancing dan tertipu, dsb (tambahlah dengan keluhan favorit masing-masing :). Respons yang diperlukan saya bahas dalam posting berikut.


Kis 17:1-9 Siap menanggung risikonya

Oktober 10, 2008

Perjalanan misioner kedua yang dijalani Paulus dikisahkan dalam Kis 16-18, dengan serangkaian cerita dalam 16:11-18:16 yang mengikuti pola yang kurang lebih sebagai berikut: Paulus pergi ke tempat yang baru (di sini Tesalonika, a.1); dia menemukan orang Yahudi dalam ibadah dan memberitakan Kristus kepada mereka (a.2-3); ada yang jadi percaya (a.4); dan juga ada yang mengusir (aa.5-9), sehingga Paulus harus pergi ke tempat yang berikut (a.10). Dengan demikian berulang kali kita melihat semangat Paulus dalam menginjili serta keuletannya menghadapi perlawanan.

Dalam peristiwa ini Lukas hanya meringkas pemberitaan Paulus, barangkali karena lengkapnya mirip dengan yang disampaikan di Antiokia Pisidia (13:16-47). Di sini ada dua pokok. Dari PL, yang diterima sebagai kitab suci oleh orang Yahudi, dibuktikan bahwa Mesias harus menderita dan bangkit. Kemudian, diperlihatkan bahwa Yesuslah yang memenuhi nubuatan itu. Kepada orang di Atena Paulus akan memakai cara penyampaian yang lain (17:22dst), karena PL tidak ada artinya bagi mereka. Itulah sifat misioner Paulus yang kontekstual. Namun, tetap penting bagi kita orang non-Yahudi bahwa kedatangan Yesus bukanlah suatu kebetulan, tetapi sudah lama direncanakan Allah.

Yang menjadi soroton dalam perikop ini ialah reaksi orang Yahudi ketika cukup banyak anggotanya bergabung dengan Paulus, khususnya orang Yunani yang sudah lama bergabung di tempat ibadah itu. Cara mereka sudah lazim di Indonesia juga, yaitu mendesak sidang dengan keributan kelompok sewaan. Tuduhan mereka dibuat-buat (aa.6-7), tetapi saya rasa Lukas memuatnya karena ada benarnya juga. Maksudnya, Paulus dkk tidak memberontak terhadap Kaisar dengan mengikuti Yesus, malah orang Kristen justru dipanggil untuk menjadi taat kepada pemerintah. Tetapi pada segi yang lain, kesetiaan orang kristen pertama-tama tertuju kepada Allah, sehingga bukan Kaisar yang dianggap penyelamat, pelindung, sumber kehidupan.

Saya rasa pengalaman Paulus menjadi kemungkinan untuk semua yang memberitakan Kristus. Jika ada yang pindah keyakinan, yang ditinggalkan bisa saja cemburu. (Apakah itu yang melatarbelakangi sebagian penutupan jemaat di Jawa belakangan ini?) Juga, jika hati kita lebih mengandalkan Allah daripada pemerintah, bisa saja pemerintah gelisah. Syukur tidak selalu begitu, sebagaimana dilihat di Berea, kota berikut dalam perjalanan Paulus, di mana orang Yahudi baik hati. Tetapi kita harus siap menanggung risikonya.