Neh 3:1-15 Kerja sama

Oktober 25, 2009

Pasal 3 ini mendaftar hasil usaha Nehemia untuk menggalang orang-orang di Yerusalem untuk membangun kembali tembok Yerusalem, sesuai doanya pada p.1. Yang terlibat mewakili banyak bagian masyarakat. Ada imam besar (a.1; juga orang-orang Lewi a.17), penguasa (aa.9, 12, 14, 15), dan pedagang (a.8). Ada masyarakat dari satu desa / kota (aa.2, 5, 7, ), dari satu bani (a.3), dan orang yang rumahnya pas di garis tembok itu (a.10). Ada juga yang hanya namanya disebut. Setiap orang atau kelompok diantar dengan perkataan “berdekatan dengan” (menjadi “di samping” mulai a.16). Masyarakat yang beraneka ragam ternyata bisa kompak dan menghasilkan proyek yang besar dengan kerja sama yang baik. Hanya satu kelompok tidak satu sikap dengan yang lain, yaitu pemuka-pemuka Tekoa dalam a.5; bandingkan dengan imam besar dan beberapa pembesar yang lain.

Jika tembok adalah batas kota Yerusalem yang kudus, yang di dalamnya Bait Allah adalah simbol kehadiran Allah, maka usaha ini sentral dalam perbaikan integritas bangsa Israel dalam keadaan sebagai taklukan pasca-pembuangan. Dengan datangnya Kristus, Kristus mengambil alih fungsi Bait Allah. Jadi, secara prinsip gedung dan prasarana fisik tidak lagi pokok dalam PB, dan ternyata tidak disinggung sama sekali dalam PB. Orang-orang yang berkumpul di sekitar Yesus itu yang merupakan “kota yang terletak di atas gunung [yang] tidak mungkin tersembunyi” (Mt 5:14, merujuk ke Yerusalem di atas gunung Sion). Integritas jemaat yang perlu dipertahankan atau diperbaiki, bahwa kita adalah garam yang tidak tawar, terang dan bukan gelap. Hal itu bukan tugas satu orang saja (seperti pendeta) melainkan tugas seluruh jemaat. Sama seperti tembok yang hanya 10% tidak dibangun adalah tembok yang sangat kurang dalam fungsinya, jemaat dengan hanya 10% anggotanya yang tidak menjaga integritas sebagai murid Yesus akan mengurangi fungsi jemaat dalam misi Yesus.

******

Sekian dari kitab Nehemia untuk tahun ini, kalau tidak salah, sebagai sorotan jadwal Membangun Jemaat Gereja Toraja. Kita bisa bersyukur bahwa sebagai sorotan kitab ini bisa lebih dikenal. Sorotan akan lebih berguna lagi seandainya urutannya mengikuti kitabnya sendiri. Soalnya, MJ mengikuti pola topikal murni: untuk setiap minggu ada topik, kemudian perikopnya dicari. Padahal, kita perlu juga pola ekspositori, yaitu mengikuti uraian satu kitab dalam beberapa minggu sehingga mempelajari kitabnya sendiri, dan juga mendengarkan topik-topik yang dianggap penting oleh Alkitab. Topikal perlu, karena ada hal-hal yang tidak terlalu disoroti oleh Alkitab yang tetap dapat dibahas dalam terang firman Allah. Tetapi Allah bukan hanya konselor yang memberi tanggapan terhadap masalah-masalah kehidupan kita. Dia juga adalah Tuhan dan Raja, dan ada hal-hal yang mau Dia sampaikan kepada kita yang tak akan terpikir oleh kita jika kita hanya mulai dengan pertanyaan kita. Jika benar bahwa pengenalan firman dalam jemaat lemah, maka pengembangan pengetahuan itu adalah hal yang penting dalam rangka membangun tembok kembali.


1 Kor 10:14-24 Persekutuan yang tidak dibagi-bagi

September 28, 2009

Di Korintus, seperti kota-kota yang lain di dunia kekaisaran Romawi pada abad pertama, kuil untuk dewa-dewi cukup pokok dalam kehidupan bermasyarakat. Ada upacara yang diadakan di kuilnya sendiri (atau di sekitarnya) yang jelas berfungsi sebagai penyembahan berhala. Banyak kuil juga berfungsi sebagai restoran, dengan beberapa ruangan di sebelah kuilnya yang dipakai untuk makan, satu meja dalam satu ruangan. Makanannya dipersiapkan di kuilnya, sehingga dagingnya sudah dipersembahkan kepada dewa kuil itu. Daging yang dipersembahkan juga dijual di pasar daging, walaupun ada juga daging yang dijual yang tidak ada sangkut pautnya dengan kuil.

Orang Yahudi yang ketat menghindari semuanya itu, supaya jangan sampai mereka bersentuhan dengan pemberhalaan. Dengan demikian mereka harus hidup agak terpisah dari masyarakat. Tetapi semangat kristiani adalah berbaur dengan masyarakat, terlibat di dalamnya untuk memenangkan orang bagi Kristus (bnd. 9:20-22). Di jemaat di Korintus ada sebagian orang yang disebut ‘kuat’—anggaplah orang mampu dan berpendidikan —yang menolak sikap berpisah itu. Mereka dengan sungguh-sungguh sudah menangkap bahwa hanya ada satu Allah yakni Bapa dari Yesus Kristus, sehingga semua berhala tidak ada (lihat 8:1-6). Mereka dengan berani berpartisipasi dalam upacara di kuil, di restorannya, dan membeli daging dengan bebas. Masalahnya, ada juga yang disebut ‘lemah’. Mereka pun percaya bahwa berhala itu tidak ada, tetapi identitas kristiani mereka masih agak rapuh sehingga dengan mudah mereka terbawa oleh suasana dalam upacara dan restoran untuk menyembah berhala kembali.

Dalam p.8 Paulus setuju dengan teologi kaum kuat (8:1-6), tetapi menegaskan bahwa teologi itu harus diterapkan dalam rangka kasih kepada yang lemah (8:7-13). Hal itu ditegaskan kembali pada akhir perikop kita (aa.23-24). Dalam p.9 dia menjelaskan bagiamana dia sendiri tidak menggunakan haknya sebagai rasul tetapi bertindak demi kepentingan orang lain. Namun, dalam bagian awal p.10, termasuk perikop kita, dia menyampaikan segi yang lebih menantang kelompok yang ‘kuat’. Ada yang dalam bahasa sekarang disebut sebagai sinkretisme, yaitu percampuran penyembahan yang sejati kepada Allah dengan penyembahan kepada yang bukan Allah. Sejarah Israel menjadi peringatan tentang hal itu (10:1-13), dan perikop ini menerapkan peringatan itu ke dalam konteks di Korintus.

Inti dari penerapan itu ialah bahwa upacara di kuil merupakan persekutuan dengan roh-roh jahat. Adanya roh jahat (bahasa Yunani daimonion) di balik berhala sudah jelas dalam PL (bnd. Ul 32:17 dan bahasa Yunaninya Mzm 96:5). Apakah dengan demikian berhala itu dianggap berada? Tidak (aa.19-20). Tetapi penyembahan kepada apa saja yang bukan Allah berarti berurusan dengan kuasa gelap. Kuasanya bukan dalam patungnya atau tempatnya, melainkan dalam orangnya. Itu alasannya Paulus mengusulkan bahwa daging yang dibeli atau dihidangkan tanpa diketahui asal usulnya tidak perlu dipersoalkan (10:25, 27). Tidak ada kuasa gelap yang melekat pada dagingnya, sekalipun daging itu sudah dipersembahkan kepada seribu patung berhala. (Hanya, mungkin menjadi agak busuk kalau sudah lewat seribu upacara. :)

Tetapi jika demikian apa salahnya orang-orang ‘kuat’ terlibat dalam acara itu, karena dalam hati mereka tidak menyembah berhala itu? Salahnya bahwa keterlibatan dalam upacara keagamaan merupakan persekutuan dengan dewa yang dihormati di dalamnya. Hal itu Paulus buktikan dari Perjamuan Kudus (aa.16-17) dan ritus dalam PL (a.18). Bagi saya, yang kunci di sini ialah memahami bahwa persekutuan itu bukan soal hati manusia melainkan makna di depan orang. Ritus, upacara, memiliki makna sosial, makna yang lepas dari maksud dalam hati. Sebagai contoh, upacara nikah berarti bahwa kedua pengantin terikat dalam pernikahan, sekalipun salah satunya hanya bermaksud untuk mendapat uang dari pasangannya. Maksud yang buruk itu tidak meniadakan makna sosial dari upacara nikah itu. Dalam konteks Korintus, mengikuti upacara untuk dewa berarti bersekutu dengan dewa, sekalipun maksud dalam hati sekadar bergaul. Dalam rumah pribadi pun, jika asal usul daging itu diberitahu, Paulus mengusulkan supaya daging itu jangan dimakan, karena yang memberitahu mungkin saja akan menyimpulkan bahwa orang kristen menganggap bahwa berhala itu sah (10:28-29a). Peringatan Paulus tegas: kita tidak mau membangkitkan kecemburuan Tuhan (a.22). Tuhan menuntut kesetiaan yang tidak dibagi-bagi dari pengikut-Nya.

Sejarah perjumpaan Injil dengan budaya Toraja tentu penuh dengan contoh-contoh yang mirip kasus ini. Seringkali yang dipersoalkan adalah apakah hati nurani jemaat terganggu karena makna lama yang terbawa oleh ritus tertentu. Dari aa.23-24 dan p.8 hal itu adalah pertimbangan yang penting. Tetapi jika tafsiran saya tentang makna sosial tepat, maka makna sosial harus juga dipertimbangkan. Jika di suatu tempat ritus tertentu memiliki makna yang terkait dengan kuasa selain Kristus, maka ritus itu tidak boleh diikuti orang percaya. Bedanya di Toraja bahwa karena masyarakat sudah mayoritas kristen maka makna sosial dari sebuah ritus bisa dipengaruhi oleh gereja. Tentu jemaat di Korintus sama sekali tidak bisa mempengaruhi ritus di kuil maupun maknanya. Di Toraja pun belum tentu bahwa pengumuman oleh majelis sudah berhasil mengubah pemaknaan oleh masyarakat.

Lebih rumit lagi adalah konteks yang sudah dipengaruhi sekularisasi, sehingga tidak ada dewa-dewi yang jelas. Namun, jika Paulus bisa menyamakan keserakahan dengan pemberhalaan (Ef 5:5), apakah sekarang ada penyembahan dewa Mamon? Apakah tempat seperti mal menjadi kuilnya? Adakah tindakan-tindakan dalam dunia global yang oleh masyarakat akan diartikan sebagai pemberhalaan uang, yang menunjukkan bahwa uang diandalkan di atas segalanya, ditempatkan sebagai yang paling utama? (Silakan kalau ada usulan untuk konteks Indonesia, siapa tahu dapat saya pakai dalam khotbah minggu depan di Australia. :) Jika ada, maka di situlah jangan orang percaya terlalu berani mengatakan bahwa karena sikap hatinya bersih (“bagi saya uang itu tidak ada artinya”) maka tidak ada masalah. Bukankah kecemburuan Tuhan akan dibangkitkan jika di depan dunia kita bersekutu dengan Mamon?


Kel 18:13-27 Hikmat Yitro tentang kepemimpinan

Juli 13, 2009

Pendelegasian berarti membagikan tanggung jawab dan pekerjaan kepada bawahan supaya tugas dilaksanakan dengan lebih baik. Perikop ini menceritakan contoh yang baik. Musa kewalahan mengadili segala perkara bangsa Israel (aa.13-14). Yitro melihatnya dan mengusulkan pembagian tugas. Ada tugas pokok yang hanya dapat dilakukan Musa sendiri (aa.19-20), tetapi ada banyak perkara yang kecil yang dapat ditangani oleh wakil-wakil. Sistem yang diterapkan (a.21) agak mirip dengan sistem pemerintahan Indonesia, dengan jenjangnya dari Presiden sampai dengan RT, mengingat bahwa dalam Israel pada saat itu fungsi hukum dan kepemimpinan terpadu. Syarat untuk para wakil ini masih cocok—cakap, takut akan Allah, dapat dipercaya dan benci kepada pengejaran suap (a.21). Perhatikan bahwa baik keterampilan maupun kebenaran diperlukan. Kasihan kalau keduanya alpa dalam seorang pemimpin!

Apa tugas pokok Musa? Dalam usulan Yitro ada tiga pokok. Yang pertama, Musa mewakili bangsa kepada Allah (a.19). Hal itu menjadi sangat nampak ketika Musa memohonkan pengampunan bagi bangsa dari Allah, seperti dalam 33:30-34 setelah pembuatan anak lembu emas. Yang kedua, dia yang akan menyampaikan kehendak Allah (a.20), pengajaran yang akhirnya tertuang dalam hukum Taurat. Yang ketiga, Musa tetap terlibat dalam perkara-perkara, tetapi hanya yang terlalu besar untuk para wakilnya (a.22).

Pokok pertama dan kedua adalah tugas khusus, yang sekarang diemban oleh Yesus Kristus. Selain mengajarkan jalan yang benar kepada kita sebagai murid-murid-Nya, Dia juga menjadi pengantara pada Allah sebagai pendamaian untuk dosa kita (1 Yoh 2:1-2). Tugas gereja adalah memberitakan dan mengajarkannya. Bagi yang ditugaskan, seperti pendeta, tugas itu tetap pokok.

Pokok ketiga yang dibagikan kepada para wakil Musa, dan dapat dilihat sebagai gambaran penggembalaan. Yang menarik diperhatikan ialah bahwa keterlibatan Musa dalam pergumulan-pergumulan bangsa membawa kesempatan untuk mengajar (a.16). Dengan demikian, pengajaran bukan sekadar teori umum saja tetapi jelas kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Artinya bahwa perkara dalam jemaat (adakah dalam jemaat Anda? :) menjadi kesempatan untuk mengajar.

Juga, jika tugas ini dibagikan kepada para wakil sampai beberapa tingkat, artinya bahwa tugas penggembalaan di bawah Sang Gembala tidak hanya ada pada si pendeta. Gambaran dalam PB adalah jemaat “dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain” (Kol 3:16). Tentu ada kasus yang lebih sukar yang di dalamnya hikmat pendeta dibutuhkan sebagai orang yang terampil dalam pengenalan akan Alkitab. Tetapi yang sering terjadi ialah bahwa semua terpusat pada pendeta, sehingga dia sibuk dengan perkara-perkara. Alhasil, pendeta dan jemaat lelah (a.17), dan tugas pemberitaan dan pengajaran hilang di tengah jalan. Alangkah baiknya jika jemaat bersama-sama dengan pendeta turut menanggung tugas penggembalaan itu (a.22).


1 Yoh 2:1-6 Dasar persekutuan dengan Allah

April 7, 2009

Kitab 1 Yohanes menawarkan persekutuan kepada para pembacanya, yakni persekutuan dengan Allah, Kristus dan umat-Nya (1 Yoh 1:3). Tetapi Firman hidup tentang persekutuan itu menyiratkan masalah besar, yaitu bahwa Allah itu terang, sementara kita adalah orang berdosa (1:5). Bagaimana caranya orang berdosa bisa menikmati persekutuan dengan Allah yang terang? Jawabannya hidup dalam terang (1:7). Ternyata artian hidup dalam terang bukan hidup tanpa dosa melainkan mengaku dosa sehingga menerima pengampunan dan penyucian (1:9). Kita mengaku dosa kita kepada Allah untuk menerima pengampunan-Nya, dan juga kepada sesama untuk memulihkan persekutuan dan mengalami penyucian (1:7, 9). Seorang yang menganggap diri selalu benar menolak penilaian Allah tentangnya, mencegah kebenaran berbuah di dalamnya (1:6), dan tidak mengalami persekutuan dengan Allah melalui Firman-Nya di dalamnya (1:10).

Jika kita menaati pola dalam p.1, maka kita akan makin mampu meninggalkan dosa (2:1). Tetapi Yohanes sadar bahwa dosa tidak akan lenyap. Jadi, selalu kita harus kembali ke dasar yang sudah disinggung dengan istilah “darah” (1:7), yaitu pengorbanan Kristus. Kristus yang adil (layak didengarkan Allah) menjadi pengantara dengan Allah Bapak. Sebagai pengantara tugas Yesus bukan untuk membujuk Allah untuk menyelamatkan kita. Sebaliknya Allah Bapak sendiri yang mengutus Anak-Nya. Tetapi pengampunan Allah tidak bisa sembarangan saja, tanpa dasar. Allah menyediakan Kristus sebagai pendamaian yang memungkinkan Allah untuk mengampuni kita sehingga kita menikmati persekutuan dengan Dia. Jadi, 2:1-2 merupakan dasar untuk hidup dalam terang.

Kemudian Yohanes kembali ke tema persekutuan. Bisa jadi bahwa ada orang yang mencari pengampunan tetapi tidak mencari persekutuan dengan Allah (misalnya karena takut neraka). Hal itu akan nampak dalam kehidupan yang tidak taat kepada Allah (2:3-4). Jadi, jika kita mengaku tidak berdosa kita menjadikan Allah pendusta (1:10), tetapi jika kita berjalan terus dalam dosa kita sendiri adalah pendusta. Ketegangan itu mungkin dapat digambarkan seperti kelompok orang yang dipanggil ke puncak gunung dari kegelapan di bawah. Orang yang sedang mendaki dan orang yang menetap di kaki gunung sama-sama belum sampai di puncak. Tetapi yang mendaki sudah menaati panggilan itu, dan sudah mulai menikmati terang yang lebih jelas. Sedangkan yang menetap di kaki gunung tidak usah mengaku sebagai pendaki gunung dan tetap dalam kekelaman.

Jadi, untuk menikmati persekutuan dengan Allah, harus ada pengampunan melalui darah Kristus, dan cara hidup yang menuju ke Allah, yaitu ketaatan. Apa hasilnya? Kasih (2:5-6). Hal itu mengingatkan kita bahwa ketaatan menyangkut lebih dari beberapa aturan jasmani saja, seperti tidak berzinah. Ketaatan yang sejati kepada Allah berarti hati yang makin mencerminkan Allah sebagai sumber kasih, sama seperti kehidupan Kristus sendiri (2:6).

Pada perayaan Jumat Agung banyak jemaat yang asyik dengan penderitaan Yesus, dan memang mengharukan bahwa Dia rela menanggung penderitaan salib demi keselamatan kita. Tetapi rasa terharu yang musiman saja bukan maksudnya! Yang ditawarkan Allah dalam Kristus ialah persekutuan dengan Sang Pencipta, sesuatu yang kekal dan tak ternilai harganya.