Fil 3:1-16 Supaya Memperoleh Kristus (22 Januari 2012)

Januari 20, 2012

Kesaksian Paulus dalam perikop ini luar biasa, dan bentuknya menantang dua kesalahan umum dalam menafsir. Kesalahan pertama mencari kebenaran teologis yang kemudian menjadi rumusan umum, padahal kita melihat bahwa dampaknya sangat besar pada seluruh hidup Paulus. Kesalahan kedua terbalik. Kebenaran teologis dianggap kulit saja, yang penting adalah suatu pengalaman iman. Tetapi pengalaman Paulus adalah berjumpa dengan Kristus yang sungguh telah bangkit, sehingga dia diterima (dibenarkan) dengan cuma-cuma, dan mengikuti pola hidup yang terpola oleh kematian dan kebangkitan-Nya. Teologi Alkitabiah semestinya begitu. Kita memang mau menarik kebenaran teologis dari perikop ini, bukan hanya pengalaman pribadi Paulus. Tetapi kebenaran itu hanya berguna bila kita juga mau memperoleh Kristus yang lebih mulia daripada segalanya.

Penggalian Teks

Setelah bercerita tentang Injil, dalam 3:1 Paulus memulai nasihatnya dengan seruan untuk bersukacita. Hal itu dilanjutkan dalam 4:1, setelah penguraian p.3. Oleh karena itu, pasal ini dapat memberi kesan sebagai interupsi. Hanya, penjelasannya begitu jelas tentang pembenaran dan tujuan hidup sehingga anjuran untuk bersukacita justru terasa lebih berdasar.

Dalam p.3 ini Paulus menanggapi kelompok yang dia sebut sebagai “penyunat palsu” (2). Kata yang dia pakai, katatome (pemotongan sampai hancur), merupakan sindiran terhadap kata peritome, sunat. Mereka memotong daging, tetapi menghancurkan orangnya. (Tidak disepakati antara para pakar, dan tidak terlalu penting, apakah kelompok ini adalah orang Yahudi yang melawan Injil seperti dalam 1 Tes 2:15, atau orang Kristen yang mau memaksakan sunat kepada orang-orang non-Yahudi seperti dalam kitab Galatia.) Paulus langsung membandingkan mereka dengan jemaat (3). Jemaatlah yang layak menyandang berbagai sifat yang mencirikan umat Allah. Jemaatlah yang disunat dalam hati (Rom 2:28-29), yang didiami oleh Roh Kudus sehingga merupakan Bait Allah (tempat ibadah) yang sebenarnya, yang bermegah bukan dalam hal-hal lahiriah seperti sunat dan tidak makan daging babi, melainkan dalam Kristus.

Dalam aa.18-21 Paulus akan kembali membandingkan kedua kelompok ini secara lebih dalam, setelah dalam aa.4-16 dia menyampaikan kesaksian hidupnya untuk diperhatikan (17). Kesaksian itu disampaikan dalam tiga tahap. Aa.4-6 menceritakan hidupnya yang dahulu dalam hukum Taurat, aa.7-10 perubahan setelah berjumpa dengan Kristus, dan aa.12-16 sikap melihat ke depan karena Kristus itu.

Dalam aa.4-6 Paulus mendaftar berbagai hal yang menjadi andalan untuk membuktikan keanggotaan dalam umat Allah. “Hal-hal lahiriah” menerjemahkan kata sarx yang berarti daging, di sini dalam artian apa yang kelihatan di depan semua (bdk. 1 Sam 16:7). Di sini sunat dan keturunan adalah langsung soal daging, tetapi keanggotaan dalam sekte Farisi juga merupakan sesuatu yang jelas dapat diandalkan sebagai bukti bahwa dia adalah bagian dari umat yang berkenan di hadapan Allah. Lebih lagi, Paulus membuktikan sikapnya terhadap Allah dengan menganiaya jemaat. “Kegiatan” menerjemahkan kata zelos yang menunjukkan suatu perasaan yang sangat kuat terhadap sesuatu, bisa rasa cemburu atau minat dan perhatian. Pinehas yang menjadi contoh utama zelos itu, ketika ia membunuh orang yang sedang berdosa sehingga rasa cemburu (zelos) Allah terhadap umat Israel yang sedang mengamuk itu berhenti (Bil 25:11). Paulus juga konsekuen, sama seperti Pinehas. Menganiaya orang harus tega, tetapi demi hormat Allah Paulus berani. Bahkan, dalam segala sesuatu Paulus pra-Kristus merasa menaati Hukum Taurat tanpa cacat. Hal itu tidak berarti bahwa dia merasa tidak pernah berdosa, hanya bahwa dia konsekuen dalam memperhatikan aturan-aturan Hukum Taurat, mempersembahkan kurban jika ada dosanya, dan mendapat bagian dalam penghapusan dosa umum pada Hari Pendamaian (Imamat 16). Ringkasnya, kelayakannya sebagai anggota umat Allah jelas di depan Allah maupun manusia.

A.7 mulai dengan kata “tetapi”, yang diulang dengan lebih keras pada awal a.8 (“tetapi sebaliknya”, LAI “malahan”). A.7 menyatakan intinya, perubahan sikap terhadap keuntungan lama karena Kristus. A.8 mempertegas semangat itu. Alasan karena Kristus diperjelas sebagai pengenalan akan Kristus. Tentu, ketika Paulus berjumpa dengan sosok yang harus disapa “Tuhan” (kurie), yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Yesus, menganiaya jemaat terungkap sebagai dosa besar. Tetapi bukan hanya dosa itu tetapi semua yang lain, yang tidak bersifat dosa, dianggap bukan hanya rugi melainkan sampah. Mengenal Kristus tidak hanya mengungkapkan kesalahannya, tetapi juga membawa sesuatu yang lebih mulia ke dalam hidupnya.

Makanya, mulai akhir a.8 sampai a.11 Paulus menjelaskan orientasi hidupnya yang baru, yaitu “supaya memperoleh Kristus” yang mulia itu. Memperoleh Kristus menyangkut pintu masuk dan proses. Pintu masuk, “berada dalam Dia”, adalah pembenaran oleh iman (9). Paulus telah meninggalkan cara lama, yaitu kebenaran yang melekat pada orangnya karena dia taat kepada Hukum Taurat, seperti Paulus pada akhir a.6. Kebenaran itu merujuk pada berbagai ciri yang nampak bagi manusia dan Allah sebagai bukti kelayakan sebagai anggota umat Allah yang diterima Allah. Tetapi sekarang kebenaran Paulus itu “karena kepercayaan kepada Kristus”, dan berasal dari Allah bagi orang yang percaya. Satu tafsiran lagi untuk “karena kepercayaan kepada Kristus” adalah “melalui kesetiaan Kristus”; tafsiran itu membuat jelas bahwa kelayakan ada bukan pada orangnya melainkan pada Kristus. Dari satu segi, pencarian Paulus tidak berubah; dia mau berkenan kepada Allah. Tetapi caranya berubah drastis. Dia menerima kebenaran itu sebagai anugerah dengan percaya kepada Kristus. Dengan demikian, semua bukti lama akan penerimaan Allah tidak lagi berarti.

Tetapi pembenaran itu hanya landasannya. Memperoleh Kristus juga berarti mengenal-Nya, dan dalam aa.10-11 kematian dan kebangkitan Kristus menjadi kerangkanya. Kebangkitan Kristus dikenal dalam bentuk kuasa dalam kehidupan Paulus. Hal itu mungkin termasuk mujizat (bdk. Gal 3:5), pasti termasuk kuasa Injil mengubah kehidupan orang (Rom 1:16), dan juga termasuk kuasa untuk bertahan dalam penderitaan (2 Kor 4:7-11). Pada titik terakhir itu persekutuan dengan Kristus mencapai titik paling kenal (10). Melalui kuasa yang dialami dalam kesusahan, Paulus menjadi serupa dengan kematian Kristus, artinya, Paulus menjadi sosok yang mencari kemuliaan melalui kerendahan (2:6-11) dan kuasa dalam kelemahan (2 Kor 12:9). Dengan demikian, Paulus akan ikut dibangkitkan (11). Dalam aa.20-21 menjadi jelas bahwa kebangkitan itu menjadi puncak kemuliaan dan persekutuan dengan Kristus.

Dalam aa.12-14 Paulus menjelaskan sikapnya terhadap tujuan yang mulia itu. Karena dasarnya adalah anugerah, “aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (12), Paulus tidak pusing dengan kekurangan masa lampau, tetapi tetap mengejar pengenalan akan Kristus itu, yang disebut sebagai panggilan sorgawi karena Kristus ada di sorga dan akan datang dari sana pada saat kebangkitan (21). Dalam aa.15-16 Paulus menerima perbedaan tingkat kedewasaan (“sempurna” berarti dewasa dalam konteks a.15). Yang penting bukan apa yang telah tercapai (itulah cara hukum) melainkan arah hidup yang ingin mengenal Kristus.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Filipi tidak mundur dengan jatuh ke dalam cara kebenaran diri sendiri melainkan maju di dalam pengenalan akan Kristus. Orang di Filipi diperhadapkan dengan Taurat sebagai cara untuk mamasang hal-hal lahiriah sebagai bukti nyata dari status sebagai anggota umat Allah. Reformasi melihat bahwa hal-hal gerejawi dapat berfungsi demikian juga. Orang mengandalkan status sebagai pastor atau biarawan, persembahan yang dianggap membeli pengurangan waktu di api penyucian untuk yang telah meninggal, atau kehadiran dalam ritus-ritus seperti misa, sebagai hal-hal nyata untuk membuktikan kelayakan sebagai anggota jemaat. Tetapi gereja-gereja reformatoris tidak luput dari masalah itu. Begitu sebuah gereja menjadi mapan, orang akan mencari hal-hal nyata yang menjadi andalan sebagai ganti mengenal Kristus. Hal itu selalu ada kemunduran, sedangkan Kristus yang mulia jauh lebih layak menjadi landasan dan tujuan hidup orang percaya.

Makna

Pembenaran oleh iman mengandaikan konteks pengadilan. Kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah/Kristus pada akhir zaman (Rom 14:10; 2 Kor 5:10). Dasar pengadilan itu adalah perbuatan, apakah orang mencari kemuliaan atau kepentingan diri sendiri (Rom 2:6-8). Dosa bisa berbentuk pemberhalaan (orang-orang kafir dalam Rom 1:18-25) atau kemunafikan (orang-orang Yahudi dalam Rom 2:17 dst). Pembenaran adalah keputusan “tidak bersalah” dari Hakim. Pembenaran oleh iman kepada Kristus berarti bahwa kematian Kristus yang dipercayai menjadi dasar keputusan “tidak bersalah” itu. Penting diamati bahwa selalu 3:10-11 menyusul 3:9, artinya, pembenaran dikaitkan dengan pertobatan, Yesus diterima sebagai Juruselamat dan juga sebagai Tuhan (kurios = tuan, penguasa). Tetapi perubahan hidup terjadi karena perubahan hati. Bagi Paulus, Yesus menjadi lebih mulia dari segala yang lain. Makanya, dia menerima penderitaan yang luar biasa dalam rangka pelayanan oleh karena persekutuan dengan Kristus yang ada di dalamnya.

Dalam gereja yang sudah mapan, ada banyak hal-hal lahiriah yang dapat membuat kita giat mendukung gereja itu, seperti Paulus dahulu. Kita memiliki surat baptisan dan sidi, sehingga dapat diberkati dan menerima surat nikah. Gereja Toraja (tempat saya melayani) adalah salah satu gereja suku, sehingga menjadi wadah untuk menyatakan kesukuan. Untuk warga gereja yang suka main aturan, tata gerejanya tebal dan—katanya—lebih mudah dimengerti daripada Alkitab. Kegiatan warganya memang bukan menganiaya, melainkan serangkaian kebaktian serta rapat, cukup untuk seseorang merasa bahwa dia berjasa untuk Tuhan. Di mana Kristus di dalam semuanya itu? Jika ditanya, Apakah tujuan hidup saudara adalah memperoleh Kristus?, berapa warga jemaat yang akan bingung saja? Tidak semua, puji Tuhan. Tetapi sebagai pelayan kita kadang-kadang kecolongan. Kita melihat kesibukan jemaat dan merasa puas, padahal akarnya belum tentu Kristus. (Perhatikan bahwa pola itu bukan kesalahan kemapanan gereja melainkan kesalahan orang-orang di dalamnya. Sukses selalu membawa bahaya pengandalan diri.)

Tentu, introspeksi itu harus mulai dengan diri sendiri. Dalam persiapan, saya tergelitik dengan frase “supaya memperoleh Kristus”. Dalam perikop ini, Paulus bukan teladan hidup etis melainkan teladan penerimaan anugerah yang mencetuskan tujuan baru, yaitu mengenal Kristus. Sejauh saya dapat menangkap ajaran Paulus, itulah intisari keteladanan Injili. Bukan, “lihatlah betapa baik hidup saya”, melainkan, “lihatlah betapa berharga Kristus”. Saya dapat membayangkan pengkhotbah yang mencari-cari penerapan “praktis” dari perikop ini, tetapi dampak dari perikop ini semestinya adalah penyegaran iman. Dengan demikian, banyak hal praktis akan dilakukan, tetapi atas dasar yang kokoh, yaitu karena Kristus lebih mulia dari segalanya.

Apa kemuliaan Kristus? Pertama, pengorbanan-Nya sehingga ada pembenaran oleh iman. Secara paradoks, pengorbanan itu menyangkut hal yang paling hina, yaitu mati pada salib (2:8). Tetapi, Kristus juga dibangkitkan dan diberi nama di atas segala nama (2:9). Paulus berjumpa dengan Dia dengan “tubuh-Nya yang mulia” itu (3:21). Jadi, ada dua segi, penderitaan dan kemuliaan. Pada hemat saya, hal yang paling sulit diterima dalam budaya apa pun adalah berita bahwa kedua segi itu tidak dapat dipisahkan. Yesus yang mulia sepadan dengan banyak konsep ilahi, seperti dewa pelindung atau leluhur yang menjadi ilahi dan membawa berkat. Tetapi bahwa Dia menunjukkan jalan ke sana itu melalui disalibkan—itulah yang tidak diterima banyak orang, termasuk orang Kristen. Tetapi apa lagi yang diharapkan—seperti kejujuran menghadapi korupsi, atau pelayanan yang merugikan pelayan—jika salib belum siap dipikul? Kemudian, untuk apa salib dipikul, kecuali untuk mengenal Kristus yang disalibkan itu?


Mazmur 46:1-12 “Allah sumber perlindungan dan penyegaran” [28 Agustus 2011]

Agustus 24, 2011

Ayat 11 dari mazmur ini terkenal, tetapi pesan mazmur ini lebih dari sekadar berhenti dari kesibukan. Melalui puisi yang padat, kita diajak untuk mengenal sumber perlindungan dan penyegaran.

Penggalian Teks

Syair ini, yang dipakai dalam ibadah Israel (a.1), terdiri atas tiga bait, setiap bait diakhiri dengan sela. (Kata “sela” sebenarnya adalah transliterasi dari bahasa Ibrani, tetapi satu teori kuat tentang artinya adalah sela, misalnya, untuk meditasi atau renungan.) Bait pertama mengungkapkan tema: keandalan Allah dalam masalah. Bait kedua menyampaikan caranya: Allah hadir di Yerusalem. Bait ketiga mengajak perhatian peserta ibadah terhadap karya Allah.

Kedua bait pertama dikaitkan oleh pola kiasmus. A.2 dan a.8 merupakan pernyataan tentang Allah sebagai tempat perlindungan / kota benteng. Dalam aa.3-4 ada gunung-gunung yang “goncang” (a.3) baru air laut yang “ribut” (a.4); dalam a.7 bangsa-bangsa “ribut” dan kerajaan-kerajaan “goncang” (perhatikan bahwa urutan kedua kata kunci itu juga terbalik). Dengan demikian aa.5-6 menjadi pusat: karena hadirat Allah, kota tidak akan goncang sebab Allah menolong (seperti dalam a.2).

Jadi, bait pertama membawa peserta ibadah kepada pusat itu. A.2 mengungkapkan skenario: “kita” yang beribadah mengalami kesesakan, tetapi Allah menjadi tempat perlindungan dan penolong. Dalam a.3a implikasinya disampaikan, kita tidak akan takut. Kemudian, kesesakan itu diperincikan dalam empat “sekalipun” (a.3b-4). Intinya adalah “bumi berubah”, dan, pada hemat saya, yang digambarkan dalam frasa berikut ialah air bah, karena hanya dalam air bah gunung-gunung goncang di dalam laut. A.4 menggambarkan prosesnya air bah itu. Bagaimanapun juga, yang dimaksud adalah bencana paling dahsyat. Oleh karena siapa Allah, kita tidak akan takut dalam keadaan apapun.

A.5 (awal bait kedua dan pusat dari kedua bait pertama) mulai dengan air yang lain, yaitu, sungai (kata pertama dalam bahasa aslinya). Aliran-aliran sungai ini tidak menakutkan, melainkan menyukakan. Mengingat bahwa tidak ada sungai di Yerusalem (hanya sebuah mata air), sungai ini adalah kiasan untuk hadirat Allah (a.6). Terbalik dari akibat air laut dalam aa.3-4, sungai ini membuat kota Allah (Yerusalem) tidak goncang. Di tengah kesesakan (“menjelang pagi”) Allah menolong umat-Nya (bkd. a.2). Kesesakan diperjelas dalam a.7, yaitu, gelora politik (bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan). Jika belum jelas bagi peserta ibadah sebelumnya, air bah dalam aa.3-4 adalah kiasan untuk gelora politik. Pertolongan Allah digambarkan dengan dahsyat dalam a.7b: cukup Dia berfirman dan bumi (bangsa-bangsa yang bergelora) hancur. A.8 mengulang semangat a.2, tetapi dengan kata-kata yang diwarnai oleh aa.5-6, yakni, kota Allah (“kota benteng”) tempat Allah hadir (“menyertai kita”). Namun, penting diamati bahwa yang dijunjung tinggi sebagai perlindungan ialah Allah, bukan tembok-tembok Yerusalem.

A.7 memiliki satu ciri khas dalam mazmur ini, yaitu semua kata kerja kecuali yang terakhir memakai bentuk perfek. Satu penjelasan untuk ciri itu ialah bahwa ayat ini menyampaikan suatu peristiwa. Sebagai contoh peristiwa yang cocok dengan semangat ayat ini, pada tahun 701 sM Yerusalem dikepung dan sepertinya tidak ada harapan, tetapi tiba-tiba tentara Asyur terpaksa pulang (lih. Yesaya 36-37). Tuhan berfirman dan tentara yang begitu kuat tiba-tiba menghilang.

Aa.9-11 (bait ketiga) memakai kata kerja perintah. Aa.9-10 merupakan seruan dari pemazmur, sedangkan a.11 adalah seruan dari Allah sendiri. Seruan pemazmur adalah untuk memandang pekerjaan Tuhan. Pekerjaan itu digambarkan mulai dari yang paling umum sampai yang lebih konkret. Tuhan mengadakan pemusnahan di bumi (bdk. a.7b), hal itu diperjelas sebagai penghentian peperangan, yang kemudian diperincikan dalam a.10b. Seruan Allah dialamatkan kepada orang yang pergi untuk memandang pekerjaan Tuhan. Pekerjaan itu semestinya membuat kita berdiam diri dan mengakui ketuhanan Allah. Karya keselamatan Allah bagi umat-Nya akan bermuara pada seluruh bumi meninggikan Dia. Dengan mengikuti kedua seruan itu, a.12 (yang mengulang a.8) diakui dengan semakin yakin.

Maksud bagi Pembaca

Mazmur ini menjunjung tinggi Allah supaya umat Israel mengandalkan-Nya di tengah kekacauan politik internasional. Aa.2-8 memberi kesaksian tentang keandalan Allah, dan aa.9-11 mengajak peserta ibadah untuk merenungkan kesaksian itu. Allah adalah tempat perlindungan dan sumber penyegaran di tengah kesesakan, dan Dia juga bermaksud untuk menghapus segala kekacauan dalam dunia politik manusia (a.10) supaya seluruh bumi meninggikan Dia.

Makna

Kota Yerusalem menjadi simbol penting akan umat Allah, di mana umat Allah tinggal bersama di bawah kuasa raja keturunan Daud yang diurapi dan di sekitar hadirat Allah di dalam Bait Allah. Bentuk umat Allah sekarang agak lain, karena raja keturunan Daud, Yesus, bertakhta di sorga, dan Allah hadir lewat Roh Kudus-Nya di mana saja orang-orang beriman berkumpul. Namun, mazmur ini tetap memberi janji yang luar biasa. Dunia tidak berkurang geloranya—Yesus malah berjanji bahwa akan ada sampai pada akhir zaman—tetapi Tuhan juga tidak berkurang sebagai tempat perlindungan. Ajakan dalam a.9 menjadi justru lebih jelas bagi kita. Ketika kita memandang pekerjaan Allah dalam Kristus, berpuncak pada kematian dan kebangkitan-Nya, kita melihat bagaimana Tuhan membuat sebuah kerajaan yang berkembang melalui pemberitaan, bukan pedang. Kita juga memiliki janji yang kuat bahwa segala perang dan permusuhan akan berakhir ketika Kristus datang kembali. Makanya, cocok juga kita berdiam diri dan mengingat ketuhanan Allah kita, dan berdoa dan bersaksi supaya Dia ditinggikan di seluruh bumi.

Air menjadi simbol ganda dalam mazmur ini. Ada air bah yang mengancam, ada juga sungai yang menyegarkan. Secara fisik, jika kota dikepung temboknya penting, tetapi sumber air tidak kalah penting jika kota mau bertahan. Allah adalah kota benteng sekaligus sumber air bagi umat-Nya. Hadirat Allah di kota Allah seperti sungai dalam Kej 2:10 yang membasahi taman Eden. Hadirat Allah dalam PB, yaitu melalui Roh Kudus, juga digambarkan Yesus sebagai aliran air (Yoh 7:37-39). Ketika gereja terancam, Allah tidak hanya melindungi dari ancaman dari luar, Dia juga menyegarkan umat-Nya ke dalam.

Ibadah bersama menjadi tempat yang sangat cocok untuk mengingat dan merenungkan semuanya itu. Jemaat dikuatkan bukan dengan himbauan untuk bersemangat, melainkan dengan mengetahui siapakah Allah.


Pkh 4:7-12 “Bersama-sama di dalam dunia yang sia-sia” [14 Agustus 2011]

Agustus 8, 2011

Kitab Pengkhotbah mau meniadakan khayalan yang terjadi ketika teori kita tentang dunia menjadi lebih penting daripada realitas. Oleh karena itu, dia biasanya melawan anggapan umum dengan contoh lain. Nas kita menarik, karena dia mau mendukung suatu anggapan umum, yakni, pentingnya kebersamaan.

Penggalian teks

Ayat 7 menghubungkan nas ini dengan kata kunci kitab ini, yakni, “kesia-siaan”. Kata hebel pada dasarnya berarti “nafas, angin”, tetapi biasanya dipakai dalam Alkitab secara kiasan. Berhala tidak lebih dari sehembusan nafas, dan kata hebel menjadi istilah untuk berhala. Mzm 144:4 membandingkan manusia dengan angin (hebel) dan bayang-bayang. Kitab Pengkhotbah mengambil alih kata hebel yang fleksibel ini untuk menyatakan jarak antara apa yang semestinya dan apa yang terjadi. Sebagai contoh, pengetahuan membawa terang, tetapi juga membawa susah hati (1:18).

A.8 memaparkan satu contoh lagi hebel ini. Orang ini tidak memiliki pewaris, yaitu, saudara laki-laki atau anak laki-laki. Dia kelihatan rajin mengumpulkan kekayaan, tetapi karena tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimiliki. Di balik kegiatan itu ada pertanyaan yang menghantuinya. Tidak ada pewaris yang akan menikmati kekayaannya, dan dia juga menolak kesenangan dalam mengejar kekayaan itu. Jadi, kerja keras itu untuk siapa? Kerja keras semestinya dinikmati (bdk. 3:22) dan juga membawa kesejahteraan yang bagi orang lain, tetapi dalam kasus ini kedua sasaran itu tidak terjangkau sehingga dinilai “kesia-siaan dan hal yang menyusahkan”.

Aa.9-12 merupakan refleksi umum terhadap kasus itu. Kemitraan atau kebersamaan menguntungkan dalam pekerjaan (a.9), kesusahan (a.10), kehidupan bersama (a.11), dan perang (a.12). Dengan gaya sastra hikmat, angka dua menjadi tiga pada akhir a.12, untuk menunjukkan bahwa kemitraan tidak hanya terbatas pada dua orang.

Maksud bagi pembaca

Dengan berbagai contoh konkret Pengkhotbah mau mendorong pembaca untuk menghargai kebersamaan. Jika pertanyaan si kaya dalam a.8 dianggap terjadi setelah lama mengikuti pola yang digambarkan, contoh pertama dapat dilihat sebagai sebuah cerita pendek, di mana secara tragis kesadaran muncul belakangan dengan penilaian baru terhadap pola kehidupan selama itu. Hal itu mengungkapkan kebodohan hidup sendirian. Contoh-contoh berikut menunjukkan keuntungan kebersamaan. Kebersamaan termasuk hanya sedikit hal dalam kitab Pengkhotbah yang luput dari penilaian “sia-sia”.

Makna

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang juga berdiri sendiri di hadapan Tuhan. Keberdosaan membuat hati manusia cenderung membelokkan individualisme yang sejati itu menjadi kemandirian yang fasik dan egois. Tetapi tidak kebetulan bahwa orang yang sendiri dalam a.8 itu kaya. Orang miskin diperhadapkan dengan kebergantungan mereka pada orang lain dan pada Tuhan terus-menerus. Hanya orang kaya yang bisa mengejar mimpi keluar dari kebergantungan. (Dalam rangka itu, menarik bahwa dalam budaya-budaya dunia, yang paling kuat korelasinya dengan individualisme ialah kekayaan.)

Mungkin hanya sedikit orang yang mau sungguh sendirian, dan keegoisan lebih sering muncul dalam satu dua bidang kehidupan saja. Misalnya, banyak laki-laki Barat senang bermitra dalam pekerjaan (a.9), tetapi lebih sulit membagikan masalah (a.10).  


1 Yoh 3:11-18 (& 19-24) Gambaran kasih yang sejati [3 Jul 2011]

Juni 28, 2011

Jemaat atau kelompok yang kepadanya Yohanes menulis pernah mengalami perpecahan yang mengguncang (2:19). Dengan berbagai perbandingan penulis mau menguatkan mereka supaya jangan mereka disesatkan oleh keguncangan itu. Dalam ayat-ayat sebelum perikop kita (3:9-10) dia membandingkan anak-anak Allah karena lahir dari Allah dengan anak-anak Iblis. Perikop setelah perikop kita membandingkan Roh dari Allah (3:24) dan roh-roh yang lain (4:1-6). Dalam seluruh surat salah satu ukuran utama adalah kasih. Dalam perikop kita aa.11-18 memberi gambaran negatif dan positif tentang kasih itu, dan aa.19-24 membahas bagaimana kita bisa tahu kita hidup dalam kasih itu.

Penggalian Teks

A.11 mengulang apa yang sudah dibahas pada 2:7 dst, yaitu bahwa saling mengasihi adalah perintah Allah. Aa.12-15 membahas lawan dari kasih, yaitu kebencian. Kain membunuh adiknya karena adiknya mengungkapkan kejahatan hati Kain (a.12). Orang-orang yang berbuat benar bisa saja mengundang reaksi yang sama dari dunia, misalnya, orang yang tidak mau ikut main judi / curang / mabok-mabokan dsb (a.13). Tentu, penulis tidak membayangkan bahwa dunia akan selalu membunuh orang benar, tetapi, sesuai dengan ajaran Yesus dalam Mt 5:21-22, tindakan membunuh dilihat sebagai ujung dari sikap marah atau benci yang sudah merupakan dosa. Namun, jemaat semestinya tidak mengikuti pola dunia itu, karena jemaat sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup (a.14). Ranah maut dicirikan oleh tidak mengasihi, sedangkan ranah hidup dicirikan oleh mengasihi saudara-saudara. A.15 mempertegas bahwa kebencian adalah satu bentuk pembunuhan, sehingga jelas bertentangan dengan hidup kekal, yaitu hidup yang cocok dengan zaman mendatang, hidup yang mengenal Allah.

Bentuk positif dari kasih dinyatakan dalam a.16a: Kristus telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Sikap itu harus langsung diteladani (a.16b). Tetapi, sama seperti kebencian belum tentu berarti ada yang meninggal, penyerahan diri juga belum tentu berarti ada yang meninggal. Membagikan harta duniawi kepada saudara yang membutuhkannya adalah juga bentuk penyerahan diri (a.17), sama seperti membenci adalah bentuk pembunuhan. Dan mungkin saja penulis secara tersirat mengatakan bahwa “menutup pintu hati” adalah bentuk kebencian. “Pintu hati” menerjemahkan kata untuk perut yang menjadi kiasan untuk perasaan kasihan yang kuat. Yohanes mempertanyakan apakah orang yang tidak tahu kasihan masih hidup dalam terang pengorbanan Kristus.

Kesimpulannya dalam a.18 memperlawankan perkataan dan lidah dengan tindakan dan kebenaran. Perkataan dan lidah merujuk pada konsep dan wacana. Banyak orang suka berbicara tentang kasih. Dan hal itu tidak salah; surat 1 Yohanes ini adalah wacana tentang kasih! Tetapi wacana kasih belum “kasih dalam kebenaran”, artinya, kasih yang sebenarnya. Kata aletheia (“kebenaran”) berarti apa yang sesuai dengan kenyataan, dan dalam konteks ini merujuk pada kesesuaian antara perkataan dengan tindakan. Kasih yang sekadar wacana belum menjadi kasih yang sebenarnya. Tetapi aletheia itu merujuk lebih luas pada kenyataan di dalam Allah. A.18 ini tetap kesimpulan dari a.16. Kristus tidak mengasihi dengan wacana saja, melainkan berkorban secara sangat konkret untuk melayani kebutuhan paling mendasar kita, yakni akan hidup yang kekal.

Jadi, hidup dalam kasih membuktikan bahwa kita berasal dari kebenaran (a.19a). Jika kita sadar akan kegagalan kita, kita mesti mengingat bahwa perspektif Allah lebih luas dari perspektif kita, seperti sudah disampaikan dalam 1:9 dan 2:1-2 tentang penebusan yang ada di dalam Kristus (aa.19b-20). Namun, ada keuntungan jika kita jelas hidup dalam kasih, yaitu kita memiliki keberanian dalam doa (aa.21-22). Jadi, dalam a.23 dia meringkas perintah Allah, yaitu percaya akan Kristus dan saling mengasihi. Dengan demikian ada persekutuan dengan Allah yang dibawa oleh Roh Kudus (a.24).

Maksud bagi pembaca

Tujuan utama di sini adalah mendorong pembaca untuk saling mengasihi. Dari contoh Kain kebencian dikaitkan dengan ranah maut. Membenci sama buruknya dengan membunuh, sama-sama bertentangan dengan tujuan Allah dalam menyelamatkan manusia (a.15). Dari teladan Kristus hakikat kasih diperlihatkan, yaitu menyerahkan nyawa bagi sesama, yang diartikan sebagai memberi bantuan konkret, bukan wacana saja.

Namun, di balik tujuan itu tujuan utama surat ini masih tampak, lebih lagi dalam aa.19-24, yaitu supaya kita mengenal Allah dalam Kristus dan menikmati hidup di dalam-Nya. Tidak ada keberanian di hadapan Allah jika kita hidup dengan hati tertutup terhadap saudara.

Makna

Yohanes memperlawankan wacana tentang kasih dengan tindakan konkret. (Perhatikan bahwa ada banyak perkataan yang merupakan tindakan kasih yang konkret, misalnya menjawab pertanyaan, memberi tanggapan yang berguna, mengajarkan firman Allah. Perkataan dalam a.18 merujuk pada pernyataan kasih.) Tetapi apa kaitan aletheia (“kebenaran”) dengan tindakan konkret? Ternyata maksud Yohanes bukan pragmatis saja. Bukannya yang penting ada tindakannya saja. Kasih harus muncul dari kebenaran, dari kenyataan. Yang pertama, tindakan kasih harus muncul dari kenyataan dalam hati, dari hati yang terbuka. Yang kedua, tindakan kasih harus sesuai dengan kenyataan sumber kasih, yaitu Allah. Banyak yang disebut kasih tidak lulus kriteria ini. Ada kasih karena pemberi berharap beruntung. Ada kasih hanya karena rasa kasihan (misalnya, membantu orang mencontek). Kasih yang sejati muncul dari pengenalan akan Allah yang adalah terang, dan Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya.

Kemudian, seluruh perikop ini berbicara tentang saudara, entah saudara-saudara seiman atau Kain dan Habel yang bersaudara. Maksudnya jemaat yang saling mengenal, suatu komunitas iman. Apakah dengan demikian kasih hanya terbatas pada kelompok sendiri?

Kasih dalam surat-surat Yohanes berakar dalam Allah. Allah telah memperlihatkan kasih yang sejati dalam Kristus, dan lebih lagi, pertunjukan itu menyatakan hakikat Allah sendiri, Allah adalah kasih (4:16). Jika fokus Yohanes ada pada kasih Allah kepada jemaat, namun dalam satu ayat kita melihat bahwa kasih Allah lebih luas, yaitu 2:2 di mana dikatakan bahwa Kristus mati bagi seluruh dunia, bukan hanya jemaat. Di situ kita melihat Allah mengasihi semua orang, termasuk musuh (orang berdosa), sesuai dengan ajaran Yesus. Yohanes tidak mau menyangkal ajaran itu. Jadi, mengapa fokusnya pada saling mengasihi?

Hal itu sejalan dengan tekanan seluruh surat, yaitu persekutuan. Persekutuan antara orang percaya adalah juga persekutuan dengan Allah Bapa dan Anak-Nya, Yesus Kristus (1:3). Persekutuan berarti hubungan yang erat, sehingga memiliki kepentingan atau perhatian yang sama. Orang-orang yang bersekutu dengan Allah mau hidup dalam terang seperti Dia adalah terang (1:7), mau hidup sama seperti Kristus (2:6), dan mau hidup dalam kasih karena Allah adalah kasih (4:16). Dalam jemaat keakraban yang memungkinkan persekutuan seperti itu dapat dialami. Namun, keakraban itu yang juga paling memungkinkan kebencian, dan membuat paling kentara sikap acuh tak acuh terhadap orang yang berkebutuhan. Wacana tentang kasih sering mencakup seluruh dunia, tetapi kasih hanya dapat dipraktekkan kepada orang yang dengannya saya berhadapan. Tidak salah berbicara tentang suku-suku yang belum terjangkau dengan Injil Kristus, tetapi apakah saya bersaksi tentang Kristus kepada orang di hadapan saya? Tidak salah mengingat orang yang berkekurangan dalam doa makan, tetapi apakah saya terbuka pada kebutuhan orang-orang di sekitar saya?

Ada kesimpulan yang luar biasa dari istilah “dengan perbuatan dan dalam kebenaran” itu. Jika saya membantu sesama karena mencontoh Kristus, tindakan sederhana itu berbagi dalam kenyataan paling mendalam, yaitu hakikat Allah sebagai kasih.


Yer 31:21-26 Meresponsi harapan

Oktober 19, 2010

Aa.21-22 secara sederhana dapat diartikan sebagai seruan untuk berani mengambil dengan tidak ragu-ragu (22a) kesempatan yang diciptakan Tuhan (22b) dengan memperhatikan jalan yang telah ditempuh (21). Pertanyaan ialah, kesempatan apa yang dimaksud? Atau apakah kita dengan bebas mengartikannya sesuai dengan kebutuhan kita, misalnya, “berikan uang banyak-banyak untuk pendirian gedung gereja karena IMB sudah ada”. Memperhatikan konteks akan memberi kita pemahaman yang lebih tajam dan dalam dari sekadar seruan untuk berani.

Yeremia 30-31 merupakan serangkaian nubuatan keselamatan. Setelah pembuangan, Allah akan membawa Israel pulang dari pembuangan (30:10; 31:8) dan memulihkan mereka di hadapan musuh-musuh (30:16) sehingga keadaan mereka pulih (mis. 31:11-14), luka-luka batin diobati (mis. 30:17; 31:15-17) dan ada kesadaran dan pertobatan yang baru (31:18-20). Alasannya supaya relasi perjanjian terwujud, yaitu bahwa Tuhan menjadi Allah Israel dan Israel menjadi umat-Nya (30:22; 31:1, 33b). Setelah sela dalam a.26, pasal 31 berakhir dengan serangkaian nubuatan tentang zaman baru, ditandai dengan frase “waktunya akan datang” (31:27, 31, 38). Bagian itu mungkin bermaksud bukan lagi akan proses keselamatan melainkan akan keadaan yang terwujud olehnya.

Jadi, seruan aa.21-22 ini merupakan seruan untuk masuk ke dalam zaman baru itu, satu-satunya seruan dalam pp.30-31 untuk bertindak (yang lain adalah seruan untuk mendengar dan tidak takut). Israel dipanggil untuk mengingat jalan ke dalam pembuangan supaya kembali ke kota-kotanya di Israel (21). Kota-kota di sini berarti hidup sebagai komunitas, alias umat Allah. Untuk hal itu, tidak usah ragu-ragu, karena keadaan berubah, Tuhan menciptakan sesuatu yang baru. Apa persis yang dimaksud dengan “perempuan merangkul laki-laki” tidak jelas. Beberapa kemungkinan dicantumkan di bawah.[1] Tetapi dari konteks (atau koteks, teks di sekitarnya), yang baru yang diciptakan Tuhan ialah keselamatan, seperti digambarkan dalam aa.23-25 dan seluruh pp.30-31. Artinya bahwa karya keselamatan Tuhan bagi Israel yang menjadi landasan untuk Israel berencana dan berani pulang ke tanah suci.

Lalu, bagaimana dengan kita yang bukan orang Israel dalam pembuangan? Memang, kata keselamatan, yang dipakai dalam koteks (30:7, 10, 11; 31:7) bisa langsung kita maknai sebagai pengikut Kristus. Perlu diingat bahwa pemaknaan itu tidak sembarang. Sebagaimana saya uraikan di sini, pembuangan Israel sejajar dengan pengusiran manusia dari taman Eden dan kematian Kristus, sehingga pengembalian dari pembuangan sejajar dengan hidup dan kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus memecahkan keterasingan Israel dari Allah yang melambangkan keterasingan manusia dari Allah. Jadi, seruan ini mengajak kita sebagai orang-orang berdosa untuk kembali kepada Tuhan dengan bergabung kembali dengan persekutuan orang percaya.

Apakah dengan demikian perikop ini hanya berbicara tentang jiwa kembali kepada Tuhan? Tidak. Gambaran-gambaran PL tentang syalom yang dijanjikan Tuhan tetap melatarbelakangi harapan PB tentang kehidupan jemaat yang terarah oleh harapan ciptaan baru. Syalom dalam jemaat yang sedang ditindas belum tentu mengalami kelimpahan materi—mungkin untuk hal itu ciptaan baru harus ditunggu—tetapi soal menikmati persekutan sebagai umat Allah semestinya sudah dialami, dan peningkatan ekonomi jemaat searah dengan harapan itu sejauh dimungkinkan, seperti di Indonesia pada umumnya. Tetapi banyak yang mundur maju dalam iman, tidak menolak tetapi tidak siap untuk menjadikan keselamatan Allah pengarah dan tujuan hidupnya. Apakah hal itu karena harapan jemaat masih kabur? Saya menghitung 44 ayat tentang harapan sebagai landasan seruan dalam aa.21-22. Landasan seruan untuk kembali dan tidak ragu berada bukan dalam semangat penyeruan melainkan dalam karya keselamatan Allah yang disampaikan secara panjang lebar.

[1] Kata “merangkul” menerjemahkan kata yang berarti “berada di sekitar”. Tafsiran tradisional mengartikannya sebagai nubuatan Maria mengandung Yesus. Dari perspektif PB tafsiran itu masuk akal, tetapi tidak ada petunjuk bahwa kalimat ini adalah nubuatan Mesias. Ada juga yang mengaitkan perempuan dengan Rahel (31:15) yang dapat kembali merangkul anak-anaknya yang dibuang (yaitu, Efraim, Manasye dan Benyamin) karena sudah pulang. Satu alternatif lagi beranjak dari kemiripan “tidak taat” dan “merangkul” dalam bahasa aslinya, sehingga mungkin ada permainan kata. Dengan demikian, anak dara Israel yang tidak taat adalah perempuan yang kembali merangkul Tuhan sebagai pahlawan yang sudah menyelamatkannya (kata geber sering berarti laki-laki yang gagah perkasa, dan dalam rangka itu dapat dipakai untuk Tuhan). Tidak satupun tafsiran tanpa kelemahan yang signifikan.


Mazmur 1 Individu, relasi atau kelompok?

Agustus 29, 2010

Satu ciri budaya yang makin lama makin ramai dibicarakan dalam teologi kontekstual adalah individualisme (“aku berpikir, maka aku berada”) dan dua alternatifnya, relasionalisme (“aku adalah anak si A, kakak si B, teman si C, maka aku berada”) dan kolektivisme (“aku adalah orang Toraja, maka aku berada”). Tentu, semua segi itu terlibat dalam identitas setiap manusia. Saya adalah individu: orang lain dapat membelikan atau memasakkan makanan bagi saya, tetapi orang lain tidak dapat memakankan makanan bagi saya. Tetapi, saya juga berada dalam jaringan relasi, yang daripadanya saya belajar bagaimana caranya makan dengan baik dan yang dengannya saya suka makan. Saya juga berada dalam kolektif (kelompok) yang cukup menentukan makanan apa yang tersedia dan kapan boleh dimakan (misalnya, di Toraja makan setelah acara, sedangkan di Australia biasanya makan dulu). Hanya, budaya individualis menyoroti manusia sebagai individu, sehingga sejak kecil seorang anak mendengar banyak pepatah, wacana, ilustrasi dan informasi menyampaikan bagaimana caranya menjadi orang yang lain dari yang lain. Budaya relasionalis menyoroti relasi, sehingga sejak kecil seorang anak mendapat banyak bekal budaya tentang bagaimana memperlancar relasi-relasi yang ada. Budaya kolektivis menyoroti kelompok. Saya berasal dari budaya yang sangat individualistis, tetapi tentu ada juga sorotan cukup besar terhadap relasi dan sedikit juga terhadap kolektif. Pada hemat saya, budaya Toraja itu lebih relasionalis daripada kolektif, tetapi mungkin budaya seperti budaya Jawa kuno terbalik. Bagaimanapun juga, salah satu dampak modernisasi adalah menguatnya unsur individualisme dalam budaya-budaya di Indonesia, lebih lagi dalam kaum muda.

Dalam bidang agama, budaya kolektif dan relasionalis akan lebih menonjolkan kegiatan bersama, alias ritus. Hubungan pribadi dengan kuasa gaib/ilahi bisa saja terjadi (khususnya dengan arwah leluhur), tetapi ada ahli dunia itu (seperti to minaa) yang bertugas untuk menguruskan hal-hal itu bagi masyarakat, seperti melacak dosa yang menyebabkan musibah tertentu dan menentukan tindakan yang diperlukan untuk menghapus dosa itu. Seperti sering diamati dalam konteks seperti itu, kepercayaan tidak terlalu penting, yang penting adalah melaksanakan ritus-ritusnya. Atau, apakah lebih tepat dikatakan bahwa dalam budaya yang di dalamnya pendapat “aku” tidak sebanding dengan hikmat orangtua atau kelompok, melakukan ritus adalah cara untuk percaya? Percaya bukan dalam artian memilih satu kepercayaan dari beberapa kemungkinan, tetapi percaya dalam artian mengandalkan hikmat dan kuasa yang melebihi hikmat dan kuasa saya sebagai individu. Pikiran seperti itu mungkin saja tetap ada dalam gereja, dan menjadi konteks yang menarik untuk memikirkan perikop kita.

Mzm 1 mulai dengan seorang individu (kata “orang” kata tunggal dalam bahasa Ibrani). Orang yang tunggal ini dibandingkan dengan keramaian orang fasik / berdosa / pencemooh (semuanya kata jamak, a.1). Orang ini tidak mengikuti keramaian itu, alias dia melawan arus. Budaya Israel kuno adalah budaya relasionalis. Bagaimana caranya satu orang dapat melawan keramaian orang yang dengannya dia berelasi dalam satu masyarakat? Jawabannya dalam a.2 adalah khas individualistis: orang ini merenungkan Taurat secara pribadi (kata tora juga dapat berarti “ajaran”, jadi bisa lebih luas daripada kelima kitab Musa saja). Kata “merenungkan” berarti bersuara, dan merujuk pada pembacaan Taurat dengan suara yang pelan, entah langsung dari naskah atau dari ingatan akan apa yang sudah dihafal, mengingat bahwa pada saat itu naskah itu mahal. Orang yang mengenal firman Tuhan ini tidak lagi mengandalkan orang-orang di sekitarnya saja untuk mendapat hikmat untuk hidup. Dalam firman Tuhan ada sumber lain, sumber yang lebih baik dan lebih berhikmat dari kelompok di sekitarnya.

Dengan demikian, diri orang ini menjadi kokoh, seperti pohon yang subur (a.3). Hasil pohon ini bukan soal berupaya tampil baik di hadapan orang, melainkan hasil dari hakikat orang yang dirinya sudah dibentuk oleh firman Tuhan. Sebaliknya, kaum fasik tidak ada bobotnya, mereka seperti sekam (a.4). Di situlah ada klaim yang luar biasa: Tuhan adalah lebih mendasar dari keluarga, suku dan negara. Mengingat bahwa kita dibesarkan dalam keadaan yang sangat bergantung pada kelompok, hal itu tidak mudah dipercaya. Tetapi orang yang merenungkan firman Allah akan berbahagia olehnya. Dia menjadi lebih individualistis dalam artian sanggup melawan keramaian orang karena ada sumber hidup yang lain, yaitu Tuhan. (Individualisme ini belum seperti individualisme Barat yang sudah meninggalkan relasi dengan Tuhan yang pada awalnya memungkinkan individualisme itu, seperti orang naik ke atas atap kemudian membuang tangga yang dipakai untuk naik.)

Dalam aa.5-6 individualisme tadi dibatasi lebih lagi. Ternyata, si orang dalam a.1, selain sebagai individu dalam relasi dengan Tuhan, termasuk juga dalam perkumpulan orang benar. Perkumpulan itu bukan pengarah hidupnya seperti kumpulan orang fasik menjadi pengarah hidup mereka dalam a.1. Tetapi, toh, ada kolektivitas dalam relasi dengan Tuhan. Tuhan akan menegakkan keadilan kepada kedua kolektivitas ini. Kaum orang fasik tidak akan bertahan (a.5) melainkan binasa (a.6), sedangkan jalan perkumpulan orang benar dikenal oleh Tuhan (a.6). Dalam aa.5-6 ini, keadaan terbalik dari a.1. Dalam a.1 kaum orang fasik yang menentukan apa yang lasim, sehingga si orang benar harus berjuang untuk melawan arus. Tetapi jika kita melihat ke akhir segala sesuatu dalam penghakiman Tuhan, kaum orang fasik yang tidak bisa ikut (a.5), dan jalan orang benar yang berkenan di hadapan Tuhan (a.6).

Yang mendasar dalam mazmur yang mengantarkan seluruh kitab Mazmur ini ialah relasi dengan Tuhan. Relasi dengan Tuhan akan mengurangi individualisme Barat, tetapi justru akan mendorong individualisme dalam budaya relasionalis atau kolektivis. Hal itu terjadi karena antara lain urusan agama tidak dapat didelegasikan kepada orang lain, seperti pendeta. Mungkin saja orang-orang fasik berharap bahwa para imam di Bait Allah akan menguruskan Tuhan bagi mereka, tetapi ternyata relasi dengan Tuhan adalah sesuatu yang tidak bisa didelegasikan. Sebuah pohon tidak dapat meminjamkan sebagian dari bobotnya kepada sekam. Jalan keluarnya adalah perenungan firman. Hal itu bukan sekadar soal pengetahuan (“aku mengetahui isi Alkitab, maka saya berada dalam relasi dengan Tuhan”), melainkan dengan isinya diingat berulangkali, entah dengan dibaca, didengar atau dihafal, firman itu mengubah diri kita. Aku mengenal Tuhan, maka saya sungguh berada, sekarang dan untuk selama-lamanya.

Cocokkah analisis saya tentang budaya Toraja di tempat pembaca? Silakan ditanggapi!


Ezra 3 Pendamaian dan Persekutuan dengan Allah

Juni 23, 2010

Israel mulai kembali dari pembuangan ketika Darius, raja Persia, mengalahkan Babel (539 sM). Persia memiliki kebijakan yang ramah terhadap bangsa-bangsa taklukannya. Pengungsi dibantu untuk pulang, dan budaya (termasuk agama) di setiap daerah dihargai, agak seperti hukum adat diakui di Indonesia. Ezra 1-6 menceritakan pembangunan Bait Allah di Yerusalem oleh rombongan yang pertama yang kembali dari pembuangan. (Ezra sendiri hidup hampir seabad kemudian, dan baru diceritakan pada p.7.)

Pada awal p.3 rombongan itu sudah menetap di kota-kota masing-masing sehingga siap untuk berkumpul dan memulai proyek yang besar itu. Kegiatan utama Bait Allah ialah persembahan-persembahan di mezbah. Mezbah itu berada di luar gedung Bait Allah, sehingga mezbah itu dapat dibangun sebelum gedungnya dan persembahan-persembahan langsung dimulai. Itulah yang diceritakan dalam aa.2-6. Persembahan utama ialah korban bakaran (aa.2, 6). Korban yang dibakar habis itu bermaksud untuk “mengadakan pendamaian” (Im 1:4). Korban itu dipersembahkan secara teratur pada waktu pagi dan waktu petang (a.3) untuk menyatakan kehadiran Tuhan di tengah Israel yang dimungkinkan oleh pendamaian itu (Kel 29:38-43). Persekutuan dengan Allah begitu penting bagi mereka sehingga mereka tidak menghiraukan rasa takut karena penduduk di sekitarnya (a.3). Ada juga yang membawa persembahan sukarela untuk menyatakan rasa syukur kepada Allah (a.4).

Namun, tujuannya adalah pembangungan seluruhnya, dan hal itu dilanjutkan dengan pemberian untuk materi pembangunan (a.7). Dalam aa.8-13 ada acara terkait dengan perletakan dasar Bait Allah. Masih ada banyak pergumulan yang akan dihadapi yang diceritakan dalam pp.4-6, tetapi mereka memuji Allah oleh karena pertanda awal ini.

Bait Allah merupakan tempat pendamaian dan tempat persekutuan dengan Allah dan dengan sesama orang percaya. Kristus sendiri berbicara tentang Bait Allah yang dirombak dan didirikan kembali dalam tiga hari, yakni tubuh-Nya sendiri yang mati dan dibangkitkan (Yoh 2:19-20). Dan memang, Dia adalah tempat pendamaian dan persekutuan kita dengan Allah. Perkumpulan jemaat juga disebut “tubuh Kristus”, karena di dalam Kristus kita bersekutu dengan sesama orang percaya untuk menyembah Allah (1 Kor 3:16-17).

Oleh karena itu, kita dapat memuji Allah karena pendamaian sudah diadakan dan kita dapat bersekutu dengan Allah dalam Kristus. Dalam persekutuan jemaat kita juga dapat membawa persembahan sukarela, dalam bentuk apapun yang cocok, entah pemberian atau syukur atau nyanyian. Dari satu segi tidak ada lagi yang dapat kita lakukan untuk membangun Bait Allah, karena Kristus sudah bangkit. Hanya ini yang dapat kita lakukan, yaitu membangun jemaat-jemaat di mana Kristus dipercaya dan dipuji (1 Kor 3:9-15). Semoga keberanian dan semangat rombongan Israel pada saat itu mendorong kita untuk mendirikan persekutuan-persekutuan baru dan menguatkan persekutuan-persekutuan lama supaya pujian kepada Allah makin bertambah.


Luk 9:43b-45 Mendengar pesan yang sulit didengar

Februari 15, 2010

Sebelum perikop ini, salah satu mujizat Yesus diceritakan yang membuat semua takjub karena kebesaran Allah (Luk 9:43a). Takjub bagaimana Allah melalui Yesus dapat menghapus penderitaan seorang manusia, membuat seorang anak yang dalam keadaan kacau karena roh jahat menjadi anak yang sembuh. Sisi itu dari pelayanan Yesus sangat populer sampai sekarang. Dalam jiwa kita mengingat (dari taman Eden) bahwa keadaan manusia semestinya penuh kebahagiaan dan sukacita. Hal itu memang dijanjikan dalam dunia yang baru, tetapi kita berharap bahwa iman kita bisa menjamin hal serupa dalam dunia sekarang.

Minggu-minggu sengsara, sesuai dengan namanya, membawa pesan yang lain. Membangun Jemaat mengangkat serangkaian bacaan yang akan mengupas makna pengorbanan Yesus. Minggu ini sederhana tetapi cocok sebagai pengantar untuk mengarahkan kita. Intinya adalah pertentangan antara harapan manusia dengan rencana Allah. Dalam a.43b “semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya”. Kita biasanya puas jika jemaat atau masyarakat heran atau takjub kepada Allah. Tetapi bagi Yesus ada segi lain yang harus disampaikan. Hal itu penting, karena Yesus mengantarkan pemberitahuan-Nya dengan seruan untuk menaruh perkataan-Nya ke dalam telinga (a.44a, artian harfiahnya). Pemberitahuan ini akan sulit ditangkap, sehingga perlu perhatian yang sungguh-sungguh.

Pemberitahuan ini merupakan yang kedua dalam Injil Lukas, dan isinya sangat ringkas. Dalam Luk. 9:22 Yesus sudah memberitahu mereka bahwa “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kali ini hanya dikatakan bahwa “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Hal itu menangkap satu segi yang paling sulit dibayangkan, yaitu bahwa utusan Allah, Mesias-Nya, tidak akan berjaya melainkan akan jatuh ke dalam kuasa manusia. Jika Luk. 9:23 masih berlaku, yaitu bahwa pengikut Yesus “harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”, maka jalan dikuasai manusia daripada menguasai manusia tidak dapat dihindari. Mengenai hukuman Allah, kita akan melihat bahwa Yesus menggantikan kita, tetapi mengenai cara hidup kita di bumi, Yesus merintis jalan yang harus kita tempuh. Ternyata, untuk pengikut Yesus bukan saja kita belum luput dari penderitaan umum dunia ini, tetapi juga kita harus memilih jalan seperti Yesus yang akan membawa kita ke dalam penderitaan di bawah tangan manusia.

Murid-murid Yesus tidak mengerti, dan belum sanggup mengerti, dan tidak berani bertanya untuk mengerti. Mereka seperti orang yang di bawah sadar tahu bahwa sesuatu mengancam cita-citanya, sehingga di bawah sadar memilih untuk tidak tahu. Perikop berikut menunjukkan satu segi dari cita-cita mereka, yaitu siapakah yang akan terbesar (a.46). Sepertinya, mereka asyik dengan kebesaran Allah, tetapi tuli terhadap jalan rendah yang ditempuh utusan Allah. Hanya pencurahan Roh Kudus setelah kebangkitan Yesus yang memampukan mereka untuk mengerti (bnd. Kis. 5:41, “Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus”).

Gereja Indonesia berasal dari gereja Eropa yang berabad-abad berjaya di masyarakat Eropa. Katanya, dalam sejarah Indonesia juga gereja tidak segan bermain politik untuk mempertahankan kedudukan. Ketika gereja terbakar, anggota gereja dibunuh, izin membangun dipersulit, kita harus mengingat bahwa Allah menempatkan kita di bawah kuasa manusia, sama seperti Yesus. Rencana Allah dikerjakan bukan melalui kejayaan gereja (yang sering menjadi sejahat penguasa yang lain), melainkan melalui kerendahan pengikut-pengikut Kristus.

Lebih lagi di dalam gereja, kerendahan adalah jalan yang perlu ditempuh. Ketika perkataan Yesus tidak masuk ke dalam telinga para murid, yang masuk di antara mereka adalah pertengkaran. Ancaman terbesar terhadap gereja bukan perlawanan dari luar melainkan perebutan hormat dan kuasa di dalam. Semoga pada minggu-minggu sengsara ini kita menjadi sanggup mendengarkan pesan Yesus ini, dan makin rindu bersekutu dengan Dia pada jalan yang Dia tempuh.


Ibr 10:19-27 Menikmati Karya Kristus

Januari 13, 2010

Ibr 10:19-25 merupakan klimaks dari seluruh penguraian khotbah sebelumnya, dan khususnya penguraian tentang Kristus sebagai Imam Besar yang berkembang dalam pp.7-10. Kerangkanya adalah tiga seruan dalam aa.22-24 (“marilah”) yang menyangkut iman (a.22), pengharapan (a.23) dan kasih (a.24). Seruan etis itu mungkin saja bisa ditafsir lepas dari dasar teologisnya, tetapi jika demikian tafsirannya tidak lagi benar. Argumentasi dalam pp.7-10 disampaikan supaya ketiga seruan ini mempunyai dasar yang kuat. Dengan kata lain, ketiga seruan adalah implikasi dari ayat-ayat sebelumnya (bnd. kata “jadi” dalam a.19).

Sebagian argumentasi sebelumnya diringkas dalam aa.19-20 dan a.21. Di balik aa.19-20 ada penggenapan Kristus terhadap tempat kudus dan ibadah Israel. Tempat kudus terdiri atas dua kemah, dan yang paling inti mewakili hadirat Allah, tetapi jalan ke dalamnya terbatas (9:1-10). Kristuslah yang telah merintis (6:19-20) jalan ke dalam tempat kudus di sorga dengan darah-Nya sendiri (9:12, 23). A.21 merujuk ke 3:1-6, yaitu bahwa kita termasuk umat di bawah Kristus, sama seperti Israel berada di bawah Musa. Artinya bahwa apa yang dirintis oleh Yesus berlaku untuk kita. Iman, pengharapan dan kasih kita adalah respons terhadap karya Allah dalam Kristus.

Seruan pertama (a.22) adalah untuk menghadap Allah. Artinya sama dengan 4:16 “menghampiri takhta kasih karunia”, yaitu menggunakan jalan yang dirintis Kristus itu. Syaratnya memang hati yang tulus dan iman yang teguh. Tetapi langsung penulis menyampaikan dasar untuk sifat-sifat itu. Hati kita bisa tulus ikhlas karena “dibersihkan dari hati nurani yang jahat”. Hal itu merujuk ke 9:14 (hati nurani disucikan), yang mewujudkan janji Allah dalam 8:10 (=Yer 31:33) tentang pembaruan hati. Pembasuhan tubuh pada akhir a.22 kemungkinan besar merujuk ke pembaptisan, yang melambangkan bahwa kita termasuk umat Allah di dalam Kristus. Jadi, keyakinan kita bukan bahwa kita telah berbuat baik ataupun sudah mengaku dosa dengan tangisan yang dahsyat, melainkan bahwa darah Kristus telah meresap ke dalam lubuk hati untuk membersihkan noda dosa yang mencemarkannya.

Menghadap Allah adalah seruan inti, karena umat-Nya berada bersama Allah adalah tujuan-Nya dalam rencana keselamatan (8:10b, bnd. 8:11 “karena mereka semua…akan mengenal Aku”). Tetapi untuk menikmati janji itu kedua seruan berikut sangat penting. Kita harus berpegang pada pengakuan kita (a.23). Sekali lagi, dasarnya bukan semacam optimisme yang dibuat-buat dalam hati kita, melainkan janji Allah. Janji Allah dilihat dalam kutipan dari Yer 31:31-34 dalam 8:8-12, dan penggenapannya sudah dijelaskan dalam 9:1-10:18. Jadi, Kristus menjadi alasan untuk tetap berharap kepada Allah. Juga, kita harus saling mendorong dalam wujud praktis dari hati yang baru, yaitu kasih kepada sesama (a.24). Kedua seruan ini tidak bisa dilakukan sendiri, sehingga ditambahkan dengan nasihat untuk berkumpul supaya saling menasihati, dan juga peringatan tentang hari Tuhan (a.25). Tema itu juga merujuk ke peringatan dalam 3:12-13 dalam konteks menuju ke keselamatan.

Dengan demikian, saya berharap pembaca sudah dapat melihat betapa seruan tentang iman, pengharapan dan kasih ini berakar dalam Kisah Agung Allah, yaitu janji keselamatan dalam PL yang diwujudkan dalam Kristus dan akan berakhir ketika Kristus datang kembali (9:28). Namun, keselamatan itu tidak otomatis. Seruan itu begitu bersemangat karena ada alternatifnya, yaitu nasib yang mengerikan bagi orang yang tidak berpegang pada pengakuan dengan saling menguatkan sehingga tidak lagi menghadap Allah. Kita harus menafsir “sengaja berbuat dosa” dalam a.26 sesuai dengan 6:6 (“murtad”). Maksudnya orang yang mengaku percaya tetapi kemudian menolak keselamatan dalam Kristus, bukan orang yang jatuh ke dalam dosa tertentu tetapi tetap mau bertobat. Penulis tidak menganggap bahwa pembaca akan demikian. Jika saya berada di atas kapal di tengah badai ada dua bahaya. Jika kapalnya tidak kuat saya bisa mati tenggelam, dan jika saya panik dan melompat ke dalam laut saya juga bisa mati tenggelam. Kristus adalah kapal yang serba aman, dan jika saya berada di dalam-Nya tidak ada kuasa yang bisa melemparkan saya ke dalam laut. Penguatan dalam aa.19-25 dan peringatan dalam aa.26dst supaya kita tidak panik dan melompat keluar.


Neh 3:1-15 Kerja sama

Oktober 25, 2009

Pasal 3 ini mendaftar hasil usaha Nehemia untuk menggalang orang-orang di Yerusalem untuk membangun kembali tembok Yerusalem, sesuai doanya pada p.1. Yang terlibat mewakili banyak bagian masyarakat. Ada imam besar (a.1; juga orang-orang Lewi a.17), penguasa (aa.9, 12, 14, 15), dan pedagang (a.8). Ada masyarakat dari satu desa / kota (aa.2, 5, 7, ), dari satu bani (a.3), dan orang yang rumahnya pas di garis tembok itu (a.10). Ada juga yang hanya namanya disebut. Setiap orang atau kelompok diantar dengan perkataan “berdekatan dengan” (menjadi “di samping” mulai a.16). Masyarakat yang beraneka ragam ternyata bisa kompak dan menghasilkan proyek yang besar dengan kerja sama yang baik. Hanya satu kelompok tidak satu sikap dengan yang lain, yaitu pemuka-pemuka Tekoa dalam a.5; bandingkan dengan imam besar dan beberapa pembesar yang lain.

Jika tembok adalah batas kota Yerusalem yang kudus, yang di dalamnya Bait Allah adalah simbol kehadiran Allah, maka usaha ini sentral dalam perbaikan integritas bangsa Israel dalam keadaan sebagai taklukan pasca-pembuangan. Dengan datangnya Kristus, Kristus mengambil alih fungsi Bait Allah. Jadi, secara prinsip gedung dan prasarana fisik tidak lagi pokok dalam PB, dan ternyata tidak disinggung sama sekali dalam PB. Orang-orang yang berkumpul di sekitar Yesus itu yang merupakan “kota yang terletak di atas gunung [yang] tidak mungkin tersembunyi” (Mt 5:14, merujuk ke Yerusalem di atas gunung Sion). Integritas jemaat yang perlu dipertahankan atau diperbaiki, bahwa kita adalah garam yang tidak tawar, terang dan bukan gelap. Hal itu bukan tugas satu orang saja (seperti pendeta) melainkan tugas seluruh jemaat. Sama seperti tembok yang hanya 10% tidak dibangun adalah tembok yang sangat kurang dalam fungsinya, jemaat dengan hanya 10% anggotanya yang tidak menjaga integritas sebagai murid Yesus akan mengurangi fungsi jemaat dalam misi Yesus.

******

Sekian dari kitab Nehemia untuk tahun ini, kalau tidak salah, sebagai sorotan jadwal Membangun Jemaat Gereja Toraja. Kita bisa bersyukur bahwa sebagai sorotan kitab ini bisa lebih dikenal. Sorotan akan lebih berguna lagi seandainya urutannya mengikuti kitabnya sendiri. Soalnya, MJ mengikuti pola topikal murni: untuk setiap minggu ada topik, kemudian perikopnya dicari. Padahal, kita perlu juga pola ekspositori, yaitu mengikuti uraian satu kitab dalam beberapa minggu sehingga mempelajari kitabnya sendiri, dan juga mendengarkan topik-topik yang dianggap penting oleh Alkitab. Topikal perlu, karena ada hal-hal yang tidak terlalu disoroti oleh Alkitab yang tetap dapat dibahas dalam terang firman Allah. Tetapi Allah bukan hanya konselor yang memberi tanggapan terhadap masalah-masalah kehidupan kita. Dia juga adalah Tuhan dan Raja, dan ada hal-hal yang mau Dia sampaikan kepada kita yang tak akan terpikir oleh kita jika kita hanya mulai dengan pertanyaan kita. Jika benar bahwa pengenalan firman dalam jemaat lemah, maka pengembangan pengetahuan itu adalah hal yang penting dalam rangka membangun tembok kembali.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.