Yes 1:15-20 “Pertobatan yang sejati” (4 Mar 2012) [Sengsara III]

Februari 29, 2012

Pernah ada anjing yang dengan bangga membawa hasil buruannya kepada pemiliknya. Jika hasilnya berupa tikus mati belum tentu pemiliknya senang! Tetapi, maklum itu anjing. Lebih sulit diterima adalah pasangan yang membeli kado bagi pasangannya untuk menutupi perselingkuhan. Kado itu akan memperparah keadaannya daripada memulihkannya. Demikianlah ibadah Israel pada masa nabi Yesaya. Persembahan dan perayaan mereka tidak dapat mengelabui Tuhan mengenai keadaan mereka yang sebenarnya.

Penggalian Teks

Dalam Yes 1:2-2:4 pesan seluruh kitab Yesaya disampaikan secara ringkas. Pesan itu dimulai dengan sebuah peringatan. Yes 1:2-9 merujuk pada sebuah peristiwa (kemungkinan penyerangan Sanherib pada tahun 701sM yang diceritakan dalam pp.36-37) di mana Yerusalem nyaris hancur. Nasib Yerusalem hampir seperti Sodom dan Gomora (a.9), dan aa.10-20 menasihati umat Israel yang sifatnya ternyata sama dengan Sodom dan Gomora (a.10). Kemudian, rencana Allah disampaikan, yakni pemurnian Sion melalui hukuman (aa.21-31) sampai terwujudlah keadaan baru (keselamatan eskatologis) yang digambarkan dalam 2:1-4. Keselamatan itu yang menjadi alasan untuk bertobat (2:5).

Jadi, perikop 1:10-20 (dimulai pada a.15 karena di situlah disebutkan soal tangan berlumuran darah yang menjadi tema berdasarkan Ams 6:17) mau menyadarkan Israel akan keadaan mereka yang sesungguhnya. Aa.11-14 menyebutkan dosa Israel sedikit, tetapi yang disoroti ialah tanggapan Allah. Allah jemu dan tidak suka (a.11), jijik (a.13), benci dan payah (a.14) akan persembahan dan perayaan mereka. Mereka sepertinya rajin beragama, tetapi hal itu tidak berkenan di hadapan Allah. Justru sebaliknya, dengan menghadap kepada Allah dalam ritus, mereka membawa kejahatan mereka ke dalam hadirat-Nya. Oleh karena itu, hukuman Allah dinyatakan dalam a.15, yakni memalingkan muka-Nya.

Bagaimana semestinya respons Israel terhadap pernyataan sikap Allah itu? Aa.16-17 berbicara tentang pertobatan, mulai dengan yang paling umum sampai yang lebih konkret. Yang paling umum adalah perlunya Israel menjadi bersih. Hal itu secara prinsip berarti menjauhkan kejahatan dan memegang kebaikan. Secara konkret, keadilan yang paling hilang dalam masyarakat mereka, terutama dalam perlakuan terhadap yang tidak berdaya (yatim dan janda).

Pertobatan itu diteguhkan dengan janji dan akibat. Janji itu adalah janji anugerah: tangan mereka yang ternoda merah karena darah kekerasan dapat menjadi bersih (a.18). Janji yang mengejutkan itu merujuk pada karya Allah dalam memurnikan Sion (aa.25, 27), yang dalam keseluruhan kitab Yesaya dilaksanakan oleh Hamba Tuhan (pp.40-55, khususnya p.53). Janji itu menunjukkan bahwa masih ada kesempatan, bukannya sudah terlambat. Kemudian akibatnya disampaikan dalam aa.19-20. Berkat perjanjian Allah dengan Israel (bnd. Ul 28:1-14) diwakili oleh memakan hasil baik dari negeri perjanjian (a.19), sedangkan kutuk perjanjian (bnd. Ul 28:14dst) diwakili oleh dimakan pedang (a.20). Dalam konteks Yes 1:2-2:4, yang bertobatlah yang mengambil bagian dalam keselamatan eskatologis (2:1-4).

Maksud bagi Pembaca

Tujuan pemberitaan Yesaya pada saatnya adalah menawarkan pertobatan kepada Israel supaya bangsa Israel dapat hidup dan tidak mati dihukum pembuangan. Nubuatan Yesaya mulai diterima luas sebagai firman Tuhan ketika hukuman Allah memang terjadi, lebih dari 100 tahun kemudian (Yesaya bernubuat pada paruh kedua abad ke-7 SM, Yerusalem dihancurkan 587 SM). Perikop ini tetap berfungsi untuk menjelaskan pertobatan yang sejati sehingga kita bisa terlibat dalam rencana keselamatan Allah, bukan disingkirkan sebagai timah (a.25).

Makna

Tahap Israel dan kita dalam rencana keselamatan Allah itu tidak sama. Israel adalah bangsa di sebuah tempat tertentu, dan dasar untuk pengampunan baru disimbolkan dengan kurban-kurban di Bait Allah, kenyataannya dalam Kristus belum datang. Jadi, kita perlu meninjau ulang keempat unsur pemberitaan Yesaya, yaitu: perincian dosa, pertobatan, janji pengampunan dan akibat.

Inti dari perincian dosa (aa.11-14 yang disimpulkan dalam a.15) adalah semangat dalam ritus yang tidak dibarengi dengan kebenaran dan keadilan. Hal itu menjadi masalah pada zaman Yesus, dan tetap sampai sekarang. Tangan yang penuh dengan darah tidak sekadar oknum yang melakukan kekerasan. Suharto sebagai presiden mungkin tidak pernah langsung membunuh orang, tetapi tangannya tetap penuh darah. Ayat-ayat berikut juga melihat berbagai bentuk ketidakadilan. Kita bisa membayangkan betapa Allah jijik terhadap sebuah syukuran atas hasil korupsi, betapa Dia tidak berkenan pada pelayanan dari seorang majelis atau pendeta yang suka memukuli keluarganya, betapa Dia berduka atas perayaan kaum elit yang menerapkan kebijakan yang mengalihkan hasil orang miskin kepada orang kaya.

Aa.16-17 berbicara tentang tindakan nyata sebagai wujud pertobatan. Kejahatan tidak hanya dihentikan, tetapi juga kebaikan dipelajari dan keadilan diusahakan. Ini bukan sekadar kesadaran bahwa ada yang kurang, tetapi perubahan sikap. Dulunya orang miskin/kelas bawah/perempuan atau siapa lagi yang menjadi korban kekerasan, dianggap tidak layak, sampah, ancaman dsb. Sekarang, mereka dihargai sehingga diperlakukan dengan baik. Saya tertarik dengan ucapan “belajar berbuat baik”. Seringkali pertobatan menuntut hal-hal yang baru yang harus dipelajari. Jika dulu si suami menangani frustrasi dengan kekerasan, sekarang dia harus belajar cara-cara yang lain. Jika dulu orang besar pintar memeras rakyat, dia harus belajar bagaimana memerintah untuk kepentingan bersama. Pertobatan menyiratkan merendahkan diri—bukan hanya pengakuan akan kesalahan, tetapi juga menjadi orang bodoh yang harus belajar cara yang baik, yang sekarang didambakan oleh karena perubahan sikap adalah intisari pertobatan. Alasan untuk bertobat diperdalam dalam Kristus, tetapi sifat pertobatan tidak berubah.

Pengampunan yang digambarkan dengan begitu dramatis dalam a.18 justru digenapi di dalam Kristus. Jika Allah beperkara, semestinya Israel hancur. Tetapi yang ditawarkan adalah pembenaran: bukan untuk mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah tidak terlalu buruk, tetapi untuk menyampaikan berita yang luar biasa bahwa dosa mereka yang begitu berat dapat dihapus sehingga mereka diterima oleh Allah. Itulah yang dihasilkan oleh pengorbanan Kristus, sehingga Paulus berbicara tentang pembenaran oleh iman.

Di dalam Kristus, akibat yang akan dialami Israel juga mengalami perkembangan. Berkat Allah yang dijanjikan untuk jemaat dalam Kristus adalah Roh Kudus (Gal 3:14), termasuk buah-Nya seperti kasih, sukacita, damai dsb. Itulah yang hilang dalam jemaat yang tenggelam dalam kemunafikan. Tetapi dalam konteks lebih luas, jemaat yang munafik akan kehilangan keselamatan eskatologis, sehingga tidak menikmati pengenalan akan Allah yang sudah sempurna, melainkan kehancuran kekal yang di dalamnya tidak ada berkat apapun. Kalau menjemukan Allah tidak apa-apa bagi kita, mungkin hanya ancaman begitu yang dapat menerobos kedegilan hati kita!


1 Samuel 7:2-14 Mengalami Pertolongan Tuhan [20 November 2011] (Akhir Tahun Gerejawi)

November 16, 2011

Dalam cerita yang klasik ini, saya menyempatkan diri untuk memberi contoh agak terperinci akan tafsiran kristologis. Intinya (seperti biasa) dapat ditemukan di bawah alinea pertama “Maksud bagi Pembaca”. Selebihnya semoga bermanfaat; soli Deo gloria.

Penggalian Teks

Setelah Samuel dipanggil dan diakui oleh Israel sebagai nabi Tuhan (1 Sam 3:20), tabut perjanjian dirampas oleh orang Filistin ketika dipakai oleh orang Israel kurang lebih sebagai jimat. Israel direndahkan, tetapi orang Filistin, khususnya ilah terutama mereka, Dagon, juga jadi direndahkan: patungnya Dagon terjatuh di depan tabut perjanjian (5:1-5), dan orang-orang Filistin kena banyak tulah (pp.5-6). Sehingga tabut perjanjian dikembalikan ke daerah Israel tanpa andil sedikit pun dari orang Israel sendiri. Dengan demikian Allah telah membuktikan kuasa-Nya, tetapi keadaan Israel belum juga pulih.

Kemudian, kita masuk pola yang berulang kali terjadi dalam kitab Hakim-Hakim. Israel lama menderita di bawah musuh sehingga mengeluh (2) dan bertobat dari penyembahan ilah-ilah yang lain (3-6). Maka Allah mengangkat seorang hakim (6) yang mengalahkan musuh Israel (7-12) sehingga Israel dapat hidup damai (13-14). Aa.15-16 juga merupakan penutup yang cocok untuk seorang hakim.

A.2 merupakan pendahuluan cerita ini, dengan mengangkat intisari dari kondisi Israel sebagaimana dilihat dalam pasal-pasal sebelumnya (karena cerita ini adalah satu peristiwa di dalam kisah yang lebih besar). Yang menggerakkan cerita ini ialah keluhan Israel (2). Tuhan menjawab melalui Samuel (status Samuel sebagai nabi sudah jelas dari 3:20) bahwa mereka perlu menjauhkan ilah-ilah asing (3). Dalam budaya Israel yang masih kolektif, pertobatan itu dinyatakan melalui perubahan ritus. Secara harfiah mereka menjauhkan patung-patung yang disembah dan kembali kepada ritus-ritus yang diizinkan oleh Taurat (4).

Kemudian, Israel disuruh berkumpul—bukan di Kiryat-Yearim tempat tabut perjanjian ada melainkan di Mizpa. Di sana, sebagai nabi (bdk. Kej 20:7), Samuel akan berdoa bagi Israel (5). Di sana, pertobatan yang sudah dinyatakan dengan perubahan ritus juga dinyatakan dengan pencurahan air (tanda penyucian atau pertobatan?), acara puasa dan pengakuan dosa (6). Di sana, Samuel juga menjadi hakim (pemimpin) di atas mereka (6c). Dengan demikian, Israel sudah utuh kembali sebagai umat Allah.

Kiryat-Yearim terletak 22 km dari Ekron, kota Filistin yang paling dekat wilayah Israel. Mizpa berada 12 km lebih jauh, di tengah pegunungan Israel sedikit sebelah Selatan dari Betel, pada persimpangan dua jalan raya. Tempatnya mungkin lebih terjangkau oleh orang-orang Israel dari berbagai daerah, tetapi ternyata juga terjangkau oleh orang Filistin. Mereka mungkin tidak akan berani menuju tabut perjanjian di Kiryat-Yearim, tetapi sepertinya Mizpa dianggap aman (7a). Orang Israel tentu takut, tetapi tanpa “jimat” tabut perjanjian mereka hanya dapat mengandalkan janji Samuel untuk berdoa (8). Samuel pun berdoa melalui ritus yang kelihatan, yaitu korban bakaran, dan Tuhan menjawab doanya (9).

Andil Tuhan ditonjolkan dalam a.10, lebih lagi dalam bahasa aslinya yang mengatakan bahwa orang Filistin “terpukul kalah di hadapan orang Israel” (bukan “oleh orang Israel”). Setelah langkah yang menentukan dari Allah, Israel ikut berperang sampai Bet-Kar (a.11; letaknya tidak diketahui). Nama batu peringatan menyimpulkan pesannya bagi Israel, “Tuhan menolong kita” (12; Eben = batu, Ha = sang [dalam konteks ini], Ezer = penolong). “Sampai di sini” dapat berarti “sejauh tempat ini” (ruang) atau “sampai sekarang” (waktu).

Kemenangan itu cukup menentukan selama Samuel hidup (bdk. Hak 2:18). Ekron sampai Gat berjarak 5 km di perbatasan wilayah Filistin dengan Israel, pada salah satu jalan raya yang dipakai untuk perdagangan internasional.

Maksud bagi Pembaca

Cerita ini menuntun pembaca dalam proses keselamatan. Yang pertama adalah kesadaran bahwa Tuhanlah harapan orang yang berkeluhkesah (2). Kemudian, ada dua tahap pertobatan: menjauhkan sumber-sumber harapan yang lain (3-4), lalu disucikan di hadapan Tuhan (5-6, 9). Kemudian, kuasa Tuhan akan ditampakkan dengan perantaraan utusan-Nya sehingga musuh akan dikalahkan, sehingga umat yang suci dapat beribadah dalam damai.

Dalam cakupan lebih luas, untuk pembaca pada zaman pembuangan dan seterusnya, cerita ini membuktikan Samuel sebagai utusan Allah, sehingga pengurapan Daud, asal usul Mesias itu, jelas berasal dari Allah (1 Sam 16). Mesias itu yang akan menyelamatkan Israel kembali sehingga ibadah Israel tidak lagi terancam oleh musuh, jika Israel bertobat.

Makna

Saya sudah mengusulkan di atas bahwa perikop ini akan dibaca secara mesialogis oleh Israel pasca-pembuangan. Lebih lagi, kita yang mengenal kuasa Allah dalam penyaliban (1 Kor 1:23-24) dan kebangkitan Kristus (Ef 1:19-20) akan menafsir perikop ini secara kristologis. Musuh kita adalah dosa, Iblis, dan maut, dan Juruselamat kita adalah Kristus yang memperlihatkan kuasa Allah yang mengalahkan musuh-musuh itu. Cerita ini memberi gambaran konkret akan keselamatan yang tidak langsung kelihatan itu. Keselamatan itu bersifat eskatologis, yakni, hanya dalam dunia baru musuh tidak ada lagi sehingga kita beribadah kepada Allah dengan sempurna dan tanpa ancaman. Namun, PB melihat keselamatan secara berganda. Kita sudah memiliki jaminannya dalam bentuk Roh Kudus (Ef 1:14), sehingga keselamatan itu mulai terwujud dan dialami dalam kehidupan berjemaat (Efesus 4). Makanya, ada perjuangan rohani sekarang (Efesus 6), yang mengandaikan perang suci dalam PL, hanya bukan lagi melawan darah dan daging.

Namun, cerita ini tetap memiliki integritas sebagai firman Allah, sehingga kita harus tetap belajar dari perincian cerita ini. Jika harapan PB ialah bahwa semangat rohani kita selalu kuat (Rom 12:11), pada kenyataannya kita sering merosot sehingga tidak lagi menghadapi dunia dengan sukacita dalam Tuhan melainkan dengan sikap mengeluh. Pada saat itu, selayaknya kita memeriksa hati kita untuk mengetahui apa yang menjadi andalan atau penyelamat kita selain Allah. Hal itu bisa saja dalam bentuk fisik seperti jimat atau perkunjungan ke dukun, tetapi juga dalam bentuk lebih halus. Ketika Yesus memperingati kita tentang menduakan Allah, konteks langsungnya itu harta benda (Mt 6:24), sehingga Paulus menyamakan orang serakah dengan penyembah berhala (Ef 5:5). Tetapi Yesus juga baru selesai berbicara tentang ritus yang dilakukan untuk manusia, bukan Allah (Mt 6:1-18). Mamon dan Gengsi merupakan dua ilah besar di konteks Toraja, yang harus dijauhkan jika jemaat Tuhan di sini mau pulih. Kuncinya di sini “beribadah hanya kepada Tuhan” (4). Israel selalau memberi sebagian penyembahan mereka kepada Tuhan, tetapi Tuhan meminta segenap hati, jiwa dan akal budi kita.

Kemudian, penafsiran kristologis menegaskan bahwa mediator yang mendoakan kita sehingga selamat bukanlah si pendeta, dan bukanlah pimpinan gereja (lebih lagi bukanlah pemerintah!). Kristus yang menjadi Pembela kita di hadapan Allah (Rom 8:33). Pada hemat saya, jemaat sekarang lumayan menyadari bahwa mereka adalah orang berdosa (6). Saya tidak tahu sejauh mana jemaat sungguh mengandalkan Yesus sebagai Anak Domba yang disembelih untuk menyucikan mereka (9). Tetapi sepertinya masih kurang ketakutan yang menandai bahwa jemaat memahami besarnya tantangan yang dihadapi, seperti perpecahan, penyakit sosial, bahkan semua yang menuju ke ranah maut, bukan kehidupan. Secara pribadi sebagian jemaat sudah mengalami doa yang sungguh-sungguh. Tetapi secara berjemaat doa kita kepada Allah dalam nama Yesus Sang Mediator sering bersifat dangkal. Kita berdoa supaya hidup jemaat nyaman, bukan untuk melihat kuasa Allah membawa perubahan yang nyata.

Belum tentu jawaban Tuhan akan seperti dalam a.10, tetapi Tuhan tetap berkuasa sekarang. Sebagai contoh: pada waktu pembangkitan rohani di Inggris pada akhir abad ke-18, ada banyak tempat miras dan perjudian yang menjadi sepi karena pelanggannya bertobat dan menjadi sibuk dengan kegiatan rohani. Untuk waktu yang singkat fenomena Meko juga berdampak begitu, hanya, akarnya tidak terlalu kuat, mungkin karena sebagian orang hanya bertobat dari beberapa kebiasaan buruk, bukan berpaling dalam hati kepada Kristus sebagai satu-satunya harapan mereka. Perhatikan bahwa kedua fenomena ini tidak berasal dari program gereja pada tingkat apapun. Allah bekerja dalam kedaulatan-Nya, gereja hanya ikut serta (dan soal Meko, dengan kurang efektif, pada hemat saya, karena alasan tadi).

Gereja ikut serta sama seperti orang Israel dalam a.11: setelah kemenangan diraih mereka keluar berperang (11). Itulah pola Efesus 6 juga; kalau dilacak, perlengkapan senjata Allah berasal dari kemenangan Kristus (Ef 6:14-17), dan tugas kita adalah berdiri melawan serangan Iblis. Jadi, seluruh jemaat harus bertobat (a.5, “segenap orang Israel”), bukan hanya majelis, bukan hanya isteri-isteri yang pergi bergereja. Kemudian, seluruh jemaat akan berperan dalam melawan muslihat-muslihat Iblis, bukan hanya si pendeta, bukan hanya pimpinan gereja. Adalah penyakit ketika jemaat meng-Samuel-kan pendeta atau pimpinan gereja (menjadikannya juruselamat), dan lebih lagi ketika jemaat juga malas ikut berperan. Pembangkitan rohani di Inggris berdampak lama karena orang awam sangat terlibat; Meko berdampak singkat karena orang awam sudah puas dengan penyembuhan fisik.

Hasilnya bahwa Tuhan yang kepada-Nya kita mengeluh dan berbalik itu kita jadi kenal sebagai Penolong (12). Hasil dalam aa.13-14 akan bergantung pada masalah yang dihadapi. Ketika perpecahan dikalahkan, ada kesatuan di dalam jemaat. Ketika penyakit sosial diatasi melalui pertobatan para pendalangnya, ada damai di dalam masyarakat. Hasil-hasil itu selalu bersifat sementara. Israel akan menghadapi orang Filistin lagi, dan berbagai musuh lain lagi, dan akhirnya mereka menjadi jenuh bertobat sehingga mengalami pembuangan. Nasib satu lembaga seperti Gereja Toraja bisa saja demikian, tetapi selalu akan ada tubuh Kristus di bumi yang di hadapannya Tuhan menunjukkan kuasa-Nya, sampai Kristus datang kembali dan kita menikmati damai sejahtera yang kekal.


Yeh 18:25-32 Bertobatlah dan hidup [30 Oktober 2011]

Oktober 27, 2011

Setelah menegaskan bahwa nasib satu angkatan bergantung pada angkatan itu sendiri, bukan angkatan di atasnya, nubuatan dalam p.18 ini beralih dalam a.21 ke soal perubahan di dalam satu angkatan. Intinya bahwa Allah melihat akhir dari riwayat hidup, bukan awal. Ternyata prinsip itu adalah prinsip anugerah, bukan amal. (Untuk penjelasan tentang konteks pasal ini lihat posting ini tentang Yeh 18:1-13.)

Penggalian Teks

Aa.25-29 adalah bagian dari kiasmus dalam aa.21-28: A. Orang fasik bertobat (aa.21-22) + komentar Allah (a.23); B. Orang benar berbalik dari kebenaran (a.24); C. Penilaian Allah dan Israel (a.25); B’. Orang benar berbalik dari kebenaran (a.26); A’. Orang fasik bertobat (aa.27-28) + komentar (a.29, sama dengan C, a.25). Jadi, penilaian Allah dan Israel pertama-tama menyangkut a.24 dan a.26, yaitu, orang benar yang berbalik dari kebenaran. Israel tidak setuju bahwa “segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi” (a.24). Allah menjelaskan bahwa prinsip itu setara dengan prinsip yang membawa harapan, yaitu bahwa orang fasik dapat bertobat dan hidup, tetapi Israel belum puas (a.29).

Dalam aa.25 & 29, Allah menyerang balik Israel. Mereka menilai bahwa tindakan Tuhan tidak tepat. Kata “tindakan” menerjemahkan Ibrani derek yang secara harfiah berarti “jalan”. Bukan hanya satu tindakan Tuhan yang dipersoalkan tetapi cara-Nya. Sebaliknya, Tuhan menilai tidak tepat jalan-jalan (jamak) Israel. Kata yang diterjemahkan “tepat” dipakai untuk menimbang. Jadi, Israel menuduh bahwa Tuhan main curang: orang fasik yang bertobat luput dari hukuman, sedangkan jasa orang benar yang berbalik dari kebenaran dilupakan. Semestinya, perbuatan dihitung secara rata: dosa pada awal, pertengahan dan akhir kehidupan sama bobotnya, dan sama juga perbuatan baik. Tetapi Tuhan menuduh Israel balik. Jalan-jalan mereka, cara hidup mereka, adalah main curang. Seperti banyak dijelaskan dalam kebanyakan pp.1-24, mereka menduakan Allah. Sepertinya, Israel menganggap diri sebagai orang benar yang belum berbalik dari kebenaran, tetapi sebenarnya mereka telah berbalik dari kebenaran tetapi belum “insaf” (a.28), yaitu, belum melihat [ra’ah] kondisinya yang sebenarnya.

Oleh karena itu, mereka akan dihukum (a.30). Namun, masih ada tawaran untuk Israel menempatkan diri sebagai orang fasik dan berubah haluan, berdasarkan keinginan Allah supaya mereka hidup (aa.31b-32a). Kata “bertobat” berarti kembali [syub], dan kata “berpaling dari” [syub hifil] berarti berhenti dari kedurhakaan yang membuat mereka bersalah sehingga layak dihukum. Kata durhaka menangkap unsur pemberontakan melalui pelanggaran dalam kata pesya’, sehingga bukan hanya tindakan dipersoalkan tetapi juga sikap. Makanya, Israel memerlukan hati dan roh yang baru (a.31).

Maksud bagi Pembaca

Tujuan nubuatan ini adalah supaya Israel bertobat. Kendalanya bahwa Israel menganggap diri benar, dan diancam hukuman karena dosa ayah-ayahnya. Dalam bagian awal p.18 Allah menegaskan bahwa mereka akan dihukum karena dosanya sendiri. Mulai a.21 Allah menyerang pemahaman “amal” yang mereka anut: bahwa yang penting ialah kebenaran melebihi dosa. Dosa mereka sebenarnya jauh melebihi anggapan mereka, tetapi pengampunan Allah juga jauh melebihi anggapan mereka. Jalan hidup bukan mempertahankan kebenaran diri melainkan mengaku dan berubah haluan.

Makna

Banyak anggota jemaat menganut pemahaman amal dan pemahaman pertobatan yang sempit. Pemahaman amal yang saya maksud ialah pemahaman yang seakan-akan memberi bobot terhadap setiap perbuatan baik dan jahat sehingga dapat dijumlah menjadi total yang positif atau negatif. Tentu hanya Allah yang sanggup melakukan perhitungan itu, dan dapat diharapkan ada kelonggaran, tetapi yang penting totalnya positif. Dengan demikian, dosa besar pada masa lampau sulit ditutupi, dan sebaliknya banyak perbuatan baik pada masa lampau membuat keadaan sekarang lebih aman. Gejalanya bahwa banyak anggota jemaat merasa diri cukup benar (walaupun tentu ada kelemahan-kelemahan), tetapi jika ada yang pernah membuat pelanggaran yang besar, dia tidak akan diterima untuk suatu jabatan, meskipun dia menunjukkan pertobatan yang jelas.

Dengan demikian, pertobatan dikerdilkan menjadi sebatas meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Sedangkan yang dimaksud Yehezkiel adalah berubah haluan. Hidup yang dulunya terarah pada berhala-berhala, terutama diri sendiri tetapi dalam bentuk uang, harta, gengsi dsb, menjadi hidup yang terarah kepada Tuhan. Makanya, yang dibicarakan bukan hanya tindakan tetapi juga hati dan roh. Di balik konsep pertobatan itu ada konsep anugerah. Dosa kita ternyata jauh lebih dalam dari dugaan atau pengamatan kita. Yang kita anggap sebagai dosa kecil ternyata merupakan kedurhakaan, penyataan sikap masa bodoh ataupun marah terhadap Allah. Hal itu sepertinya terlalu berat untuk dihadapi, tetapi dapat dihadapi karena Allah tidak menghitung amal melainkan menghapus dosa masa lampau.

Jika konsep anugerah dan pertobatan yang menyeluruh ditangkap, maka penilaian kita terhadap orang lain akan berbeda. Kita akan melihat bagaimana perkembangan terakhir mereka, bukan bagaimana pencitraan diri mereka selama ini. Kita akan bisa menerima diri sendiri, karena percaya pada janji bahwa orang yang bertobat akan hidup.

Mengenai a.31, penting diamati bahwa dalam 36:25-27, yang disampaikan Allah setelah hukuman pembuangan sudah jatuh atas Israel, Allah sendiri yang akan membaharui hati dan roh Israel oleh Roh Allah sendiri. Jadi, a.31 bukan usaha kita, tetapi kerja sama kita dengan prakarsa Allah dalam kehidupan kita.

Semuanya diperjelas di dalam Kristus. Kematian Kristus menunjukkan bagaimana Allah dapat dengan adil mengampuni dosa masa lampau (bdk. Rom 3:25). Oleh karena pembenaran oleh iman itu, Paulus dapat melihat ke depan, tidak lagi terbelenggu oleh masa lampaunya (lihat Filipi p.3). Kemudian, Roh Kudus dicurahkan ke dalam hati kita sehingga ada hidup baru (Roma pp.5-8).

Satu catatan lebih teknis. Dalam perikop ini, Allah berbicara pertama-tama tentang nasib Israel, apakah Israel akan mati (Yerusalem dihancurkan dan umat dibuang) atau hidup (kembali berjaya di tanah perjanjian). Yang terjadi tentu adalah Israel dibuang. Namun, ada kesadaran bahwa Israel tidak seragam, ada yang setia kepada Allah dan yang tidak setia, bahkan dalam kitab Keluaran sudah ada kitab dengan nama-nama tercatat (Kel 32:32-33). Tetapi individualisme keselamatan hanya menjadi jelas ketika pemahaman tentang kebangkitan muncul, karena dengan demikian apa saja nasibnya sekarang, orang yang setia kepada Allah akan mendapat bagian dalam dunia baru yang dijanjikan berkaitan dengan pemulihan Israel, suatu janji yang dibuktikan dan diteguhkan dengan kebangkitan Yesus. Jadi, dalam terang Kristus kita boleh, malah harus, membaca perikop ini dalam rangka keselamatan individu. Hanya, pemahaman kolektif juga layak dipikirkan. Misalnya, lembaga gerejawi yang sudah menjadi duniawi karena mengandalkan kebenaran para pendirinya perlu bertobat, supaya tidak dibuang sebagai ranting yang tidak berbuah.


Amsal 17:7-15 “Cara Hikmat Bekerja” [18 September 2011]

September 15, 2011

Kitab amsal tidak memakai perikop, dan saya tidak yakin bahwa “struktur” yang saya temukan di bawah sungguh disengajakan ketika amsal-amsal dikumpulkan. Tetapi paling sedikit struktur itu memperhadapkan ayat-ayat yang menarik untuk dipertimbangkan bersama, dan prosesnya menggugah pikiran saya.

Penggalian Teks

A.7 adalah pertentangan yang dibangun atas kesamaan. Sama-sama tidak layak jika sifat orangnya bertentangan dengan sifat kata-katanya. Dalam aslinya bahasanya lebih enak: “Tidak cocok bagi orang bebal (nabal) bibir kelebihan; lebih lagi bagi orang mulia (nadib) bibir dusta”.

A.8 menggangu, karena sepertinya memuji suap. Mestika secara harfiah adalah “batu khen”. Khen berarti sikap berkenan atau suka, sehingga menjadi salah satu kata untuk anugerah Tuhan. Di sini, maksudnya batu yang membuat orang berkenan atas atau menyukai kita, semacam jimat. Kata “beruntung” (hashkil) memiliki konotasi “berhasil karena kejeliannya”, dan bentuk nominanya sering dipakai dalam kitab Amsal dengan terjemahan “orang yang berakal budi”. “Memalingkan muka” mungkin menonjolkan sukses di hadapan orang lain. Jadi, seakan-akan ada sindiran terhadap amsal-amsal biasa: anugerah membawa sukses di depan orang, hanya, anugerah ini bukan anugerah Tuhan melainkan efek “magik” dari suapan. Adakah petunjuk dalam ayat ini bahwa yang disindir bukan anugerah Tuhan melainkan suapan sendiri?

Aa.9-15 mungkin dapat dilihat dalam pola kiasmus, sebagai berikut. Aa.9, 15 membahas kejahatan yang tidak dihukum. Dalam a.9 hal itu merupakan pengampunan yang memulihkan relasi, dalam a.15 ketidakadilan yang menjadi kekejian bagi Tuhan.

Aa.11, 13 memakai kata ra’/ra’ah yang dapat diterjemahan “kejahatan” atau “kemalangan”. Dengan demikian, apa yang dicari orang durkaha (kejahatan = kemalangan) ternyata ditemukan dari utusan yang kejam itu. Dalam a.13 makna berganda itu bisa juga dipikirkan.

A.12 secara harfiah berarti, “Berjumpa beruang betina yang kehilangan anak dengan orang, tetapi jangan orang bebal dengan kebodohannya”. Kebodohan sejajar (pada hemat saya) dengan beruang itu, dan orang bebal sejajar dengan orang malang itu. Dari baris pertama, perjumpaan itu dahsyat. Tetapi, dari kata “jangan”, yang sekiranya dapat dihapus dari dunia itu perjumpaan kedua. Ternyata orang bodoh lebih dihancurkan oleh kebodohannya daripada orang yang berjumpa dengan beruang yang gusar itu. Ayat ini cocok sebagai suatu inti kiasmus, karena secara menyolok mengungkapkan bahaya kebodohan yang mendasari ayat-ayat yang lain.

Maksud bagi Pembaca

Aa.9-15 mengalir jika a.12 dilihat sebagai kuncinya. Aa.9-11 dapat dilihat dalam konteks persahabatan. Pemulihan atau pertahanan relasi dalam a.9 sangat dibantu jika berurusan dengan orang pengertian yang dapat menerima tegoran (a.10), tetapi jika berurusan dengan orang durhaka, kita hanya dapat menunggu akibatnya bagi mereka (a.11). Dalam a.13 kebodohannya malah meningkat, dengan tidak sekadar mencari kejahatan (a.11) melainkan membalas kebaikan dengan kejahatan (a.13). Jika a.10 menunjukkan bahwa tidak semua bisa menerima hardikan, a.14 menunjukkan akibatnya jika hardikan disampaikan kepada orang bebal: akibatnya perkara (diterjemahkan “perbantahan”). Konteks pengadilan itu yang tidak boleh memutarbalikkan keadilan dengan menyatakan tidak bersalah orang yang bersalah. Jadi, a.15 bukan soal menutupi pelanggaran dalam relasi pribadi tetapi membenarkan kefasikan dalam konteks pengadilan.

Lalu, bagaimana dengan aa.7-8? Di atas bibir seorang bebal, kata-kata bagus akan tetap membangkit-bangkit perkara, menangkis hardikan, dan menyembunyikan kejahatan. A.8 merupakan contoh yang tepat. Suapan, sama seperti semua jimat dsb dalam PL, menduakan Allah, dan menunjukkan keinginan untuk mencari muka, bukan menguntungkan sesama. Kita mau mengampuni orang seperti itu, andaikan mereka dapat disadarkan. Tetapi jangan lembaga memaafkan mereka, sehingga korban mereka diinjak dua kali.

Makna

Ada ketegangan tertentu antara a.9 dan a.15 yang merujuk ke sesuatu yang dalam, yakni, masalah pengampunan dan keadilan. A.15 berbunyi seperti Kel 23:9, “sebab Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah”. (Andaikan terjemahan dalam Ams 17:15 itu sama, bunyinya enak: “Membenarkan orang yang bersalah dan mempersalahkan orang benar”.) Bahasa itu disinggung Paulus ketika dia menyebut Allah sebagai “Dia yang membenarkan orang durhaka” (Rom 4:5). Dalam Kristus, a.9 diterapkan dalam relasi ilahi. Kebingungan banyak orang Kristen tentang anugerah berasal dari ketegangan yang sejajar dengan ketegangan antara a.9 dengan a.15, yaitu, Allah menutupi dosa padahal Dia adalah Hakim yang harus menegakkan keadilan. Makanya, anugerah ditafsir sebagai izin untuk berdosa, atau, sebaliknya, demi menakuti jemaat dikatakan bahwa keselamatan tergantung pada respons mereka.

Dengan cara yang detilnya melampaui jangkauan akal kita, Allah bisa mencampurkan hal-hal itu dengan menawarkan diri-Nya dalam Kristus sebagai pengganti kita. Dia melanggar a.15 dalam diri-Nya sendiri (makanya penting bahwa Kristus bukan pihak ketiga melainkan ada pada pihak Allah sendiri karena sama-sama Allah) supaya kita bisa diselamatkan, tetapi oleh Roh-Nya mengubah kita menjadi orang berpengertian yang siap menerima hardikan dan mau berubah. Dengan demikian, kita yang dibenarkan sebagai orang bersalah akhirnya menjadi orang benar, serupa dengan Kristus, sang Hikmat itu.

Namun, dalam kehidupan manusia kedua hal itu harus tetap terpisah. Secara pribadi kita tidak boleh main hakim, tetapi hakim (yaitu, jabatan atau kelompok yang kompeten untuk memutuskan perkara di dalam sebuah kelompok, entah gereja atau negara) harus berperan sebagai hakim. Lembaga kristen rawan mengampuni orang yang perlu ditindaki demi kesehatan seluruh tubuh Kristus, dan pengadilan negara lebih pemaaf lagi bagi orang kaya / berada.


Kis 2:37-40 Bergabung dengan rencana keselamatan Allah

Juni 7, 2011

Dengan pencurahan Roh Kudus karya Kristus telah siap dilanjutkan dalam pelayanan gereja. Khotbah Petrus menunjukkan bagaimana caranya orang bergabung dengan rencana Allah pada tahap baru ini.

Penggalian Teks

Bagian ini adalah puncak dari khotbah Petrus. Khotbah itu beranjak dari peristiwa Pentakosta (2:14-15), yaitu mendengar dalam masing-masing bahasa, untuk menjawab pertanyaan orang banyak, “Apakah artinya ini?” (2:12). Kata Petrus, peristiwa itu menggenapi nubuatan Yoel tentang pencurahan Roh pada akhir zaman, yang dikutip sampai dengan janji bahwa “barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan [kurios] akan diselamatkan” (2:21). Ayat-ayat berikut berbicara tentang Yesus, dan menunjukkan dari Mzm 16:8-11 bahwa kebangkitan membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias (2:22-32). Kemudian, dari Mzm 110:1 Petrus menunjukkan bahwa kenaikan Yesus ke sorga menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan (kurios; kata itu di balik baik “Tuhan” maupun “Tuan” dalam Kis 2:34).

Perikopnya sendiri merupakan tanya jawab. Orang banyak sangat terharu (a.37; harfiahnya: “tertusuk hatinya”) mendengar bahwa Yesus yang mereka salibkan (sebagai bagian dari bangsa Israel) itu dibuat Kurios dan Mesias oleh Allah (2:26). Petrus menawarkan jalan keluar dalam a.38 dengan bertobat dan dibaptis, sama seperti Yohanes Pembaptis kepada Israel di awal pelayanan Yesus (Luk 3). Baptisan diperkuat dengan tambahan “masing-masing”, yaitu, pertobatan harus ditunjukkan oleh setiap orang. Hasilnya pengampunan dan Roh Kudus, sesuai dengan janji Yoel itu (a.39). A.40 meringkas maksud Petrus yang disampaikan dengan berbagai cara, yakni supaya mereka selamat dari angkatan yang jahat, sesuai dengan janji Yoel (2:21), karena Yesus adalah Tuhan yang menyelamatkan itu.

Seruan Petrus diberkati Tuhan, dan banyak yang bertobat (2:41). Dengan kuasa Roh Kudus mereka menjadi komunitas yang tampil beda (2:42-47), suatu alternatif bagi angkatan yang jahat itu.

Maksud bagi pembaca

Maksud Petrus dalam a.40 diringkas sebagai “memberi kesaksian” (diamarturomai) dan “mengecam dan menasihati” (parakaleo). Unsur kesaksian dilihat antara lain dalam soal bukti: pendengar Petrus tahu tentang mujizat Yesus (2:22), para rasul adalah saksi kebangkitan Yesus (2:32), dan pencurahan Roh yang dialami semua pada saat itu membuktikan kenaikan Yesus ke sorga (2:33). Kata mengecam adalah tafsiran LAI dari konteks, tetapi paling sedikit Petrus menasihati pendengarnya dengan desakan yang keras. Pembunuhan Yesus menempatkan Israel sebagai angkatan yang jahat, dan mereka harus bertindak dengan tegas untuk diselamatkan (2:40).

Pertanyaan mereka dalam a. 37 menunjukkan kesadaran akan hal itu, tetapi apa yang dapat diharapkan jika Israel telah membunuh Mesiasnya? Jawaban Petrus tidak hanya mengecam tetapi juga memberi harapan. Janji Allah dalam Yoel itu masih berlaku, meskipun Israel telah berdosa. Jangankan pengampunan, karunia Roh Kudus masih ditawarkan kepada orang-orang yang siap bertobat di depan umum dengan dibaptis.

Lukas menunjukkan bahwa maksud Petrus masih berlaku bagi pembaca non-Yahudi kitab ini dalam a.39, yang menerapkan “semua manusia” dalam 2:17 kepada “orang yang masih jauh”. Bukan hanya Israel yang menyalibkan Yesus, karena tangan “bangsa-bangsa durhaka” juga terlibat (2:23). Reaksi Israel terhadap Mesiasnya hanya menunjukkan bagaimana seluruh manusia adalah angkatan yang jahat. Jadi, Yesus adalah Kurios dan Mesias bagi semua yang mau bertobat dan menerima pengampunan dan pembaruan Roh Kudus.

Makna

Apa yang dinyatakan tentang Allah dalam seruan Petrus ini? Yang pertama, rencana Allah untuk memulihkan dunia memiliki dua segi. Segi yang satu adalah hukuman. Setelah perikop yang dikutip Petrus, Yoel berbicara tentang bangsa-bangsa, yaitu bagaimana bangsa-bangsa yang melawan Allah akan dihakimi (misalnya, Yoel 3:12). Penghakiman Allah dapat dilihat sebagai cara Allah memulihkan kekacauan akibat pemberontakan manusia. Tetapi ada segi lainnya, yaitu keselamatan yang terdapat di gunung Sion, tempat Bait Allah di Yerusalem (Yoel 2:32). Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan menempatkan diri pada keselamatan itu, sehingga terlepas dari hukuman Allah. Seperti biasa dalam Alkitab ada dua pilihan pada dasarnya: tetap menjadi bagian dari dunia yang melawan Allah, atau melarikan diri ke tempat keselamatan yang disediakan Allah. Yoel 2:12-17 memberi kita satu gambaran tentang proses pertobatan itu.

Yang kedua, rencana Allah itu berpusat pada Kristus. Dalam kitab Yoel mungkin tidak jelas apakah orang dari bangsa-bangsa dapat berseru dan diselamatkan (namun jika teologi PL dilihat secara umum pasti mereka bisa, Kej 12:3; Yesaya dll). Tetapi dalam khotbah Petrus, dalam terang Kristus, rujukan Yoel menjadi jelas. Yesus adalah tempat keselamatan, sebagai tempat Allah hadir (Bait Allah) dan umat Allah yang sejati (Yerusalem). Siapa saja dari mana saja dari angkatan manusia yang jahat dapat diselamatkan—diampuni dan menerima Roh Kudus—dengan berseru kepada Yesus.

Kalau begitu, siapakah Yesus itu? Kurios dan Mesias ditafsir dalam Gereja Toraja dengan rumusan “Tuhan dan Juruselamat”. Tafsiran itu tepat, asal diingat bahwa seorang kurios memiliki hamba, bukan penyembah. Ketuhanan Yesus merujuk pertama-tama pada otoritas-Nya atas kehidupan hamba-hamba-Nya, dan bertobat pertama-tama berarti menempatkan diri sebagai hamba-Nya. Bertobat tidak hanya berarti menyucikan diri dari berbagai dosa yang menodai kehidupan kita, tetapi juga berarti memberi diri diarahkan oleh kepentingan Yesus sebagai Kurios kita. Keilahian Yesus memang penting, antara lain karena kuasa seperti itu hanya cocok untuk Allah, tetapi adalah rancu percaya pada keilahian Yesus tanpa mencari kerajaan-Nya. Karya Roh Kudus adalah membentuk komunitas yang diarahkan demikian: bersatu dan berani bersaksi.

Pada hemat saya, kelemahan gereja di Indonesia sering terdapat pada titik itu. Tentu di mana saja di dunia ada yang belum sempat mendengar penawaran Petrus yang luar biasa itu, dan ada juga yang tetap melawan atau mengabaikan Yesus. Tetapi pertobatan sering lemah karena orang berbalik kepada Yesus sekadar sebagai Allah pelindung dan Juruselamat yang dapat membantu dalam pergumulan. Hal itu memang penting, bahwa kita mengandalkan Allah. Tetapi bahwa Allah memiliki rencana, bahwa kepentingan Tuhan Yesus tidak identik dengan kepentingan diri, kurang disadari. Soal kepentinganlah yang mendorong (wakil-wakil) Israel dan bangsa-bangsa untuk membunuh Yesus, dan hampir seluruh umat untuk ikut dengan mengolok-olok dsb. Soal kepentinganlah yang membuat orang sekarang tidak segan mencemarkan diri dengan dosa, tidak peduli tentang sesama dan acuh tak acuh terhadap rencana Allah supaya semua bangsa mendengar berita keselamatan itu. Yesus dapat meyelamatkan hamba-hamba-Nya yang berseru kepada-Nya itu dari hukuman Allah terhadap kepentingan-kepentingan yang jahat itu, sehingga kita menerima Roh Kudus yang memampukan kita menjadi saksi dalam perbuatan dan perkataan (2:42-47). Dengan demikian kita menjadi bagian dari rencana keselamatan Allah, bukan lagi lawan.


Luk 24:44-49 Meneruskan pelayanan Yesus

Mei 16, 2011

Injil Lukas memberi perhatian pada soal bukti tentang kebangkitan Kristus. Dalam 24:36-43 Dia harus membuktikan bahwa Dia bukan hantu (apakah mereka mengira hantu itu datang untuk membalas dendam terhadap pengkhianatan mereka?) melainkan darah dan daging. Tetapi lebih penting lagi adalah membuktikan bahwa apa yang terjadi sesuai dengan tujuan Allah mengutus-Nya, bahwa Dia tidak hanya orang yang sama tetapi juga memiliki misi yang sama.

Dia mulai dengan mengingatkan mereka bahwa sebenarnya Dia sudah memberitahu bahwa Dia harus mati dan bangkit (9:22). Salah satu kata kunci di sini adalah kata “harus” (dei), yang dalam Injil-Injil merujuk pada rencana Allah. Yesus “harus” di rumah Bapa-Nya (2:49). Dia “harus” memberitakan Kerajaan Allah di kota-kota yang lain (4:43). Tetapi kata kunci itu juga terkait dengan kata “tertulis”. Rencana Allah bukan hal yang baru muncul dengan Yesus tetapi sudah tertuang dalam PL. Dalam a.44 Yesus merujuk pada ketiga bagian Alkitab dalam pembagian orang Yahudi, yakni kitab Taurat Musa (Kejadian-Ulangan), kitab nabi-nabi (Yosua-2 Raja-raja dan Yesaya-Maleakhi) dan kitab Mazmur (sebagai kitab pertama dari semua kitab yang lain).

Yang disampaikan dalam seluruh PL adalah pertama-tama penderitaan dan kebangkitan Mesias (a.46). Memang, dalam PL ada konsep yang jelas tentang seorang raja yang akan muncul menggenapi janji Allah kepada Daud bahwa akan ada keturunan Daud di takhta Israel selama-lamanya (2 Sam 7:12-16). Buku-buku sejarah, nabi-nabi dan Mazmur semua sering menyinggung konsep ini, dan Taurat dalam beberapa aspek melihat ke depan ke raja Daud, seperti nubuatan tentang Yehuda dalam Kej 49:10. Tetapi jika kita melihat bahwa Mesias adalah wakil umat Allah, maka riwayat Yesus menjadi jelas. Dalam kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus melaksanakan pembuangan dan kebangkitan Israel. Yesaya 53 menyatakan hal itu dengan paling jelas, tetapi pasal itu sesuai dengan apa yang tersirat lebih luas. Bahkan Taurat melihat pembuangan dan pemulihan Israel, terutama dalam Ulangan 28-30, termasuk janji akan hati yang baru (Ul 30:6). Jadi, selain menggenapi beberapa nubuatan Mesianis, Yesus menggenapi seluruh nasib umat Allah sebagai wakil umat manusia. Dia mengikuti manusia ke dalam ranah maut—keterpisahan dari Allah—supaya Dia bisa merintis jalan ke ranah hidup dalam kebangkitan-Nya.

Jika Mesias diperlakukan demikian, apa respons manusia terhadap hal itu? Dalam beberapa nabi, khususnya Yes 40-66, pelayanan hamba adalah dasar pengampunan bagi umat Allah (mis. Yes 40:2). Bangsa-bangsa sebagai tujuan juga jelas dalam seluruh Alkitab. Semua bangsa akan diberkati dalam Abraham; banyak nabi melihat berkat bagi semua bangsa (mis. Am 9:12); Mazmur juga sering menyerukan semua bangsa untuk memuji nama Tuhan (mis. 117). Perhatian Allah bagi semua bangsa bukan sesuatu yang dimulai dengan Yesus, tetapi berakar dalam pemahaman tentang Allah sebagai Pencipta semesta alam. Menurut Lukas 4:16dst pelayanan Yesus memiliki dasar yang sama, yaitu sebagai hamba Tuhan sesuai Yesaya 61. Yerusalem sebagai titik tolak pemberitaan dapat dilihat dalam Yes 2:1-4, dan juga Yesaya 60, 62, di sekitar Yesaya 61 itu.

Begitulah kerangka pemahaman yang disampaikan oleh Yesus kepada mereka, yang menunjukkan bahwa Yesus yang ada di depan mereka adalah hamba Tuhan yang memberitakan kabar baik kepada orang miskin sejak awal pelayanan-Nya (Luk 4:18). Yesus membuka pikiran mereka akan rencana Allah dalam seluruh PL (a.45), tetapi juga mengingatkan mereka bahwa mereka menjadi saksi bahwa rencana Allah itu terwujud dalam Yesus. Dia akan pergi, tetapi mereka akan meneruskan pelayanan Yesus dengan berita tentang puncak dari pelayanan-Nya, yakni kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam hal itu mereka tidak akan sendirian. Sama seperti Yesus dikuasai oleh Roh Kudus, mereka juga akan menerima kekuasaan dari tempat tinggi.

Kita bukan saksi mata sama seperti mereka, tetapi perintah Yesus tentang perlunya memberitakan pertobatan dan pengampunan tidak dikaitkan dengan kesaksian mereka melainkan dengan adanya bangsa-bangsa yang belum mendengar. Jadi, dua hal dapat menghalangi gereja meneruskan kesaksian para murid itu. Yang pertama, jika pikiran belum dibuka untuk melihat bahwa pemberitaan Kristus mewujudkan rencana Allah bagi bangsa-bangsa, kita akan malas merepotkan diri dengan misi ke luar. Pertobatan dan pengampunan sepertinya sepadan dengan baptisan dan pengajaran dalam Mt 28:19-20, saluran berkat bagi bangsa-bangsa. Yang kedua, kalaupun pikiran sudah dibuka, tanpa kekuasaan dari tempat tinggi, kita tidak dapat bertahan dalam misi itu. Roh Kudus yang akan menyertai para pemberita Kristus dalam Injil Lukas. Hal itu tidak bertentangan dengan penyertaan Kristus dalam Mt 28:20, karena Roh itu Roh Kristus. Dengan penyertaan Roh Kudus, sebagaimana dilihat dalam Kisah Para Rasul, pemberita Kristus akan meneruskan pelayanan Yesus sendiri.


Yak 1:1-8 Ingin menjadi berhikmat supaya pencobaan bermanfaat

Januari 17, 2011

Bagian pertama dari surat Yakobus, adik Kristus itu, berujung pada a.18. Atas kehendak, keputusan, rencana Allah Bapa, Dia telah “melahirkan” (harfiahnya) kita untuk menjadi buah sulung (harfiahnya) pembaruan ciptaan-Nya (LAI mungkin was-was dengan konsep “Allah melahirkan kita” sehingga dirumus kembali sebagai “menjadikan kita…untuk menjadi anak sulung”). Hal itu dihasilkan oleh “firman kebenaran”-Nya, yang menjadi pokok berikut (lihat aa.19 dst: dalam a.21 firman yang menyelamatkan diterima, dalam aa.22 dst dipraktekkan). Ayat ini menyampaikan bahwa Allah mengambil keputusan atau memiliki rencana yang jelas, sehingga mengubah kita secara mendalam pada titik tertentu (bnd. Yoh 3:6-7, “dilahirkan kembali”). Itulah dasar anugerah, bahwa keselamatan kita diprakarsai oleh Allah sendiri. Tetapi anugerah menjadi landasan untuk suatu proses yang di dalamnya kita makin diperbaharui sebagai perintisan (“buah sulung”) pembaruan seluruh ciptaan Allah. Jadi, dalam ayat ini kita melihat makna paling dalam dari pembahasan sebelumnya tentang pencobaan. Pencobaan ikut serta dalam proses pembaharuan itu. Perhatikan bahwa hal itu tidak hanya secara perorangan. Allah melahirkan kita (jamak) untuk kita menjadi buah sulung.

Para pendengar pertama surat ini mengalami langsung keburukan dunia yang membutuhkan pembaruan itu, karena pada umumnya mereka tergolong miskin (Yak 2:5-6). Bagian 1:1-18 ini menunjukkan kepada mereka bahwa walaupun mereka mengalami banyak masalah (aa.2-4), dianggap bodoh (aa.5-8), dan rendah kedudukannya (1:9-11), mereka sebenarnya berbahagia jika mereka bertahan dalam pencobaan (1:12) dengan tidak diseret oleh nafsu yang menyesatkan (aa.13-15) tetapi tetap mengharapkan apa yang baik hanya dari tangan Allah Bapa (aa.16-17). Mereka berbahagia karena sudah memiliki status yang tinggi di hadapan Allah (1:9) dan akan menerima mahkota kehidupan (a.12), yaitu pengakuan oleh Allah (“mahkota”) dan bagian dalam dunia yang sudah diperbaharui (“kehidupan”).

Jadi, perikop kita menunjukkan bagaimana pencobaan dapat membantu kita dalam proses pembaruan itu, yaitu membantu kita “menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun” (a.4). Kata “matang” dan “sempurna” dalam a.4 sama (Yunani teleios; mungkin terjemahan “kamu menjadi matang” tepat juga dalam konteks ini), dan Yakobus melihat bahwa tanpa kesulitan yang menguji, yang menuntut ketekunan, kita tidak bisa matang. Semua manusia menghadapi masalah, tetapi yang cepat menyerah tidak memetik hasil yang semestinya dari masalahnya. Sebaliknya, yang bertekun dalam iman kepada Kristus dapat bersukacita di tengah masalahnya, karena di dalamnya dimatangkan sehingga menjadi bagian dari pembaruan Allah, bukan penghalang.

“Tak kekurangan suatu apapun” tidak merujuk pada materi, tetapi pada karakter, dan ciri khas karakter yang matang ialah hikmat. Menghadapi pencobaan dengan baik dapat menghasilkan hikmat, tetapi juga membutuhkan hikmat! Jadi, kepada pendengar yang masih bergumul untuk bertekun dalam pencobaan (saya rasa itu kita semua!), Yakobus memberitahukan bahwa Allah akan mengabulkan doa untuk mendapat hikmat. Allah tidak akan mencari kesalahan kita sebagai alasan untuk menolak permintaan itu, tetapi dengan murah hati akan memberi kita hikmat yang begitu dibutuhkan itu.

Hanya, ada syarat, yaitu, jangan bimbang. Ada yang menafsir syarat itu bahwa peminta harus merasa sungguh yakin bahwa doa ini akan dikabulkan, baru boleh berharap bahwa doanya akan dikabulkan. Tetapi di sini keyakinan iman adalah soal tindakan bukan perasaan. Sebagai contoh, saya bisa merasa yakin bahwa pesawat terbang aman, tetapi jika saya selalu naik kapal apakah itu keyakinan yang sejati? Sebaliknya, jika saya merasa takut tetapi tetap menaiki pesawat itu (seperti beberapa kali penumpang di samping saya terdiam dan agak pucat ketika mau lepas landas), saya tidak bimbang dalam artian yang disampaikan dalam a.6. Bimbang berarti diombang-ambingkan, tidak memiliki pendirian yang jelas, minta pendapat teman tentang penerbangan tetapi ketika ke travel membeli tiket kapal. Bimbang berarti orangnya memohon hikmat kepada Allah, mungkin dengan semangat, teriakan dan puasa, tetapi dalam hati tidak ingin menjadi orang yang berhikmat, karena tahu bahwa hikmat membawa akibat perubahan sikap, misalnya tidak bisa lagi melemparkan tanggung jawab atas kegagalan dan dosa sendiri kepada keadaan atau Allah yang berkuasa atas keadaan itu.

Jadi, bimbang adalah mendua hati: memohon hikmat sebagai jalan keluar, tetapi tidak menginginkan hikmat dari Allah yang akan membawa pada pembaruan diri. Orang itu masih penghalang bagi rencana pembaruan Allah. Orang itu perlu bertobat dengan menerima firman kebenaran dengan jelas dan tegas, baru orang itu menjadi mitra Allah sehingga pasti akan dibekali dengan hikmat untuk berperan dalam rencana Allah.


Yeh 18:1-13 Kemungkinan untuk bertobat dan selamat

September 13, 2010

Yehezkiel, seperti sebagian besar nabi-nabi yang lain, berbicara tentang hukuman Israel karena memberontak terhadap Tuhan, dan keselamatan kemudian karena kesetiaan Tuhan di hadapan pemberontakan itu. Misalnya, dalam p.16 ada perumpamaan tentang Israel sebagai gadis yang diselamatkan dan dinikahi, kemudian berzinah dengan orang lain, sebagai gambaran Israel yang setelah diselamatkan dari Mesir mengandalkan bangsa-bangsa yang lain bukan Tuhan. Tentu, perumpamaan itu berbicara tentang Israel sebagai bangsa, artinya sebagai kolektif, yang di dalamnya semua orang senasib. Hal itu menarik perhatian karena kita tahu dalam PB bahwa manusia harus memberikan pertanggungjawaban kepada Allah secara perorangan (2 Kor 5:10). Namun, dalam sindiran yang dikutip dalam 18:3 yang dipersoalkan adalah soal perjalanan waktu, bahwa Israel dihukum sebagai bangsa yang ada berabad-abad. Mereka mengeluh bahwa nenek moyang berdosa, tetapi keturunannya yang dihukum. Dan memang, kalau kehancuran Yerusalem, hanya satu angkatan yang mengalaminya. Israel (atau golongan atas) di bawah raja Manasye, misalnya, hidup cukup tenteram walaupun di bawah pemerintahannya ada banyak pemberhalaan dan kejahatan (lih. 2 Raj 21).

Allah menjawab keluhan itu dengan pernyataan bahwa setiap orang akan mati karena dosanya sendiri (a.4). Contoh yang berikut menyangkut tiga generasi, yaitu perjalanan waktu. Yang satu baik, yang kedua jahat, yang ketiga baik, diukur oleh hukum Taurat yang merujuk ke kasih kepada Allah (makan daging persembahan, melihat kepada berhala-berhala) maupun berbagai aspek kasih kepada sesama. Karena p.17 berbicara tentang raja-raja Israel (secara tersirat Yoyakim dan Zedekia), mungkin saja contoh yang akan muncul dalam pikiran pendengar adalah Yosia (raja yang baik), Yoyakim (raja yang jahat), dan pertanyaan ialah, apakah Zedekia akan baik? Maksudnya bahwa seandainya Zedekia serta bangsa Israel bertobat, mereka tidak akan dihukum. Mereka dihukum karena mereka ikut dalam dosa nenek moyangnya, bukan karena dosa nenek moyangnya ditimpakan kepada mereka dengan sembarangan. (Kel 20:5 barangkali bermaksud sama, yaitu bahwa Allah membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya yang meniru dosa bapanya.)

Pemahaman tentang dosa yang diteruskan kepada generasi berikut masih penting bagi kita. Dosa yang paling tidak diperhatikan adalah dosa yang kita tiru dari orangtua dan budaya. Misalnya, sebagian cara berkorupsi yang sebenarnya merampas tidak dianggap salah karena dianggap biasa saja. Kelalaian terhadap yang lapar dan telanjang juga bisa tertanam dalam pola masyarakat sehingga tidak disadari sebagai dosa. Tetapi walaupun tidak disadari, hal-hal itu tetap bertentangan dengan kehendak Tuhan, sehingga seluruh bangsa atau budaya bisa saja berada di bawah hukuman Allah. Gerejapun berada di bawah hukuman Allah sejauh budaya gereja itu membiarkan dosa.

Dalam bagian berikut dalam pasal 18 ini (seluruh pasal sebenarnya merupakan satu bagian utuh yang sulit dipotong pada a.13) soal tanggung jawab secara perorangan muncul dengan jelas. Jika satu generasi dapat berbalik dari jalan generasi sebelumnya, satu orang pun bisa berubah haluan (bertobat) dan dengan demikian selamat (18:21-22). Tidak jelas bagi saya bagaimana seorang penduduk Yerusalem dapat selamat ketika Yerusalem dikepung dan dihancurkan. Tetapi dalam perkembangan teologi Alkitab, pemahaman tentang keselamatan secara perorangan itu bermuara pada pemahaman tentang keselamatan eskatologis, yaitu bahwa keselamatan tidak bisa hanya dalam kehidupan ini. Harus ada kebangkitan dari antara orang mati supaya orang yang setia kepada Allah tetapi mati sebelum pembaruan dunia terwujud tidak kehilangan bagiannya. Pengharapan itu yang diteguhkan oleh kebangkitan Yesus.

Kadangkala orang memakai budaya atau contoh orangtua sebagai alasan untuk membenarkan diri. Kalau di atas dijelaskan bahwa budaya bisa berada di bawah hukuman Allah, di sini kita melihat tetapi jalan menuju keselamatan bukan dengan membenarkan diri melainkan dengan bertobat. Sebenarnya, Yehezkiel pesimis tentang kemampuan orang Israel untuk bertobat, hanya dengan campur tangan Allah maka orang dapat memiliki hati yang baru (Yeh 18:31; 36:26-27). Tetapi kita hidup dalam zaman perjanjian yang baru, sehingga kita sudah diberi hati yang baru dan Roh Kudus.


Neh 13:1-9 Perlunya Perjanjian Baru

Agustus 17, 2009

Puncak cerita Nehemia terjadi pada 12:27-43, di mana penyelesaian tembok Yerusalem dirayakan. Puncak ini merupakan jawaban doa Nehemia yang tercantum pada awal kitab ini (Neh 1:3-11). Mungkin setelah puncak yang demikian kita mengharapkan akhir yang tenang, yang menunjukkan bagaimana bangsa yang sudah diberkati Tuhan menikmati berkat itu. Akhir p.12 memenuhi harapan itu—selama Nehemia ada.

Namun, mulai p.13 ada gambaran yang lain yang muncul. Ada pernikahan campur (aa.1-3) dan penyalahgunaan Bait Allah untuk kepentingan pribadi (aa.4-5) oleh Elyasib untuk Tobias. Dalam a.6 kita diberitahu bahwa pada saat itu Nehemia tidak ada di Yerusalem karena dipanggil ke istana. Begitu dia kembali ke Yerusalem dia membereskan masalah itu dengan tegas. Aa.1-3 ternyata juga terjadi ketika Nehemia kembali (lihat “sebelum masa itu” di a.4). Dalam ayat-ayat berikut ternyata banyak masalah yang pernah ditanggapi Nehemia pada masa jabatannya yang pertama yang harus ditanggapi kembali.

Ada dua hal umum yang dapat kita petik dari akhir kitab yang mengecewakan ini. Yang pertama ialah bahwa Allah berkenan mendukung pembangunan tembok melalui kepemimpinan Nehemia meskipun umat-Nya tidak layak. Hal itu adalah sifat Allah sejak Abraham sampai sekarang. Yang kedua ialah kegagalan Israel untuk bertahan dalam ketaatan. Hal itu justru tidak sama dalam Perjanjian Baru. Karena kita berada di dalam Kristus yang telah mengalahkan Iblis dalam pencobaan (Mt 4:1-11; bnd. Ibr 2:14-18) tidak ada alasan untuk kita gagal. Bukannya kita akan sempurna, tetapi Roh Kudus mengerjakan ciptaan yang baru di dalam diri kita. Jika jemaat sepertinya mirip sekali dengan keadaan Israel dalam p.13, ada kebutuhan yang mendesak untuk memperjumpakan jemaat kembali dengan Kristus. Mungkin mulai dengan kita sendiri…


Neh 9:38-10:31 Mempertahankan identitas

Agustus 10, 2009

Perikop ini sarat dengan kepentingan identitas, yaitu identitas sebagai umat Allah di tengah orang yang tidak mempedulikan firman Allah. Tentu ada nama-nama orang (10:1-27), juga gambaran tentang orang lain (aa.28-29a), serta serangkaian praktek (tingkah laku) yang akan membedakan mereka dari orang lain (“penduduk negeri” a.28). Penduduk negeri menerjemahkan “bangsa-bangsa tanah-tanah”, artinya bukan hanya orang yang tinggal di sekitar Yerusalem yang tidak ramah terhadap bangsa Yahudi dan Bait Allah, tetapi semua bangsa di bumi.

Sebenarnya praktek-praktek itu akan membedakan mereka juga dari masa lampau mereka sendiri. Nehemia 9 merupakan salah satu doa pengakuan dosa yang klasik dalam PL. Berdasarkan pengakuan dosa itulah mereka mengikat perjanjian yang terekam dalam pasal ini. Identitas orang yang ikut dalam perjanjian ini digambarkan dalam a.28: “segala orang yang memisahkan diri dari penduduk negeri untuk patuh kepada hukum Allah” (bnd. 9:2; doa pengakuan itu terjadi sebagai respons terhadap pembacaan kitab Taurat Musa dalam p.8). Para pemuka serta orang awam bergabung dan bersumpah kutuk untuk hidup menurut hukum Allah (a.29). Daftar praktek yang disoroti termasuk kawin campur (a.30); tidak berdagang pada hari Sabat dan tidak mengerjakan ladang pada tahun Sabat (a.31), dan serangkaian aturan terkait dengan pendukungan ibadah di Bait Allah (aa.32-39). Hal-hal itulah yang berbeda dari praktek bangsa-bangsa, dan juga yang tidak dilakukan oleh bangsa Israel sendiri sehingga Israel dihukum Allah.

Saya rasa jelas bahwa kita akan otomatis menafsir kembali peraturan-peraturan dalam aa.30-39 supaya sesuai dengan konteks gereja sekarang. Kita adalah umat Allah dalam Kristus sehingga tidak di bawah hukum Musa. Bagaimana juga dengan caranya? Mereka bersumpah kutuk untuk mentaati Allah, tetapi pada akhirnya tidak taat juga (p.13), karena hati mereka belum berubah. Kegagalan Israel (yang mewakili kegagalan manusia) adalah alasannya mengapa ada janji akan perjanjian baru (Gal 3:21-22). Dalam perjanjian baru Yesus melarang sumpah (Mt 5:33-37). Ya dan tidak kita harus sudah tegas, tanpa adanya sumpah untuk menegaskannya. Yesus bisa mengatakan hal itu karena harapan akan hati yang diperbaharui dalam perjanjian baru. Cara untuk mengubah orang dalam PB adalah untuk mengingatkan jemaat akan Injil, yaitu kasih Allah dalam Kristus (bnd. semua surat Paulus!).

Jadi identitas kita adalah Kristus, dan identitas itu perlu dipraktekkan dalam misi berdasarkan kasih. Oleh karena itu, mempertahankan identitas adalah penting, meskipun ada bahaya kesombongan kelompok dsb di dalamnya jika tujuan misi dalam kasih dilupakan. Kawin campur sering merongrong iman orang Kristen, dan mengurangi kesempatan mereka untuk terlibat dalam misi, sehingga kepada orang percaya yang dapat memilih pasangannya Paulus menganjurkan “asal orang itu adalah seorang yang percaya” (1 Kor 7:39). Cara kita berpartisipasi dalam ekonomi juga penting. Bagi Israel hari Sabat memprioritaskan ibadah dan keluarga di atas ekonomi, sehingga Tuhanlah diakui sebagai sumber pendapatan. Dunia globalisasi mementingkan keuntungan di atas segalanya, dan kita harus menunjukkan pola yang lain untuk bersaksi tentang Kristus.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.