Mzm 104:10-23 Memuji Allah Sang Pemelihara

Mei 31, 2010

Mazmur 104 adalah pujian Allah yang tidak hanya menjadikan dunia ini dengan hikmat (a.24) dan mengokohkannya (a.5), tetapi juga memeliharanya. Pemeliharaan bumi dalam konteks sukacita Allah (a.31), yang berdiam di atas cakrawala dan bergerak di langit (a.3—air dalam ayat ini adalah air di atas cakrawala, bnd. Kej 1:7).

Pemeliharaan Allah digambarkan terkait dengan air (aa.10-13), makanan (aa.14-15), pegunungan sebagai tempat perlindungan (aa.16-18) dan siklus hidup (aa.19-23). Dalam Kejadian 1, mahkota ciptaan adalah manusia, dan seluruhnya dapat dilihat berkaitan dengan menjadikan tempat yang cocok untuk manusia. Tema itu muncul di sini juga: pemeliharaan Allah memungkinkan manusia hidup dan bersukacita (misalnya, a.15). Tetapi sebagian besar penguraian ini tidak langsung dikaitkan dengan manusia. Allah bersukacita bukan hanya atas manusia yang benar (aa.34-35) tetapi juga atas segala perbuatan-perbuatan-Nya (a.31). Ciptaan tidak hanya berarti sejauh ada manfaatnya bagi manusia.

Selayaknya kita memuliakan dan memuji Allah karena ciptaan-Nya, bersama dengan si pemazmur. Jika demikian, semestinya kita menghargai ciptaan-Nya, bukan hanya memanfaatkannya. Sekarang, manusia berhasil begitu tidak menghargainya sehingga manfaatnya juga terancam! Pantasan pemazmur berdoa supaya orang-orang fasik tidak ada lagi (a.35). Doa itu karena tindakan-tindakan mereka mengancam sukacita Tuhan atas bumi. Lebih lagi sekarang ketika akibat-akibat ulah manusia begitu dahsyat. Kita dapat bersyukur bahwa perhatian Allah terhadap ciptaan-Nya akan berpuncak pada langit dan bumi yang baru. Hal itu adalah harapan kita, bukan upaya-upaya kita untuk mempedulikan lingkungan hidup. Apakah hal itu berarti kita dapat masa bodoh terhadap masalah-masalah lingkungan? Hanya jika kita sudah lupa bahwa Allah bersukacita atas ciptaan ini. Hanya jika kita sudah berhenti memuji-Nya karenanya.


Zef 3:9-20 Hukuman dan Keselamatan

Desember 7, 2009

Zefanya bernubuat tentang hukuman Allah terhadap seluruh bumi, baik bangsa-bangsa (p.2) maupun Israel (3:1-7). Keduanya akan dihukum Allah (3:8).

Namun, di balik hukuman itu ada keselamatan, baik untuk bangsa-bangsa (aa.9-10) maupun Israel (aa.11-13). Hukuman itu berupa pemurnian. Untuk bangsa-bangsa pemurnian itu merupakan pembersihan bibir sehingga mereka beribadah kepada Tuhan, bukan pada dewa-dewi (a.9). Untuk Israel pemurnian itu merupakan penyingkiran orang-orang yang ria congkak (a.11). Yang luput dari penyingkiran itu adalah yang rendah hati dan lemah (a.12) sehingga berbuat baik (a.13). Kata-kata “yang rendah hati” dan “lemah” itu sering merujuk kepada kaum orang yang miskin atau tak berdaya, sehingga mencari perlindungan pada Tuhan. Sikap itulah yang cocok dengan Kerajaan Allah (bnd. Mt 5:3).

Di dalam Kristus hukuman yang merupakan pemurnian itu bertahap dua. Pada tahap pertama Allah menjatuhkan hukuman di atas Kristus, sehingga ada umat dari bangsa-bangsa yang telah berbalik dari dewa-dewi untuk beribadah kepada Allah, sehingga bibirnya sedang dibersihkan. Itulah kedatangan Kristus yang pertama. Tahap kedua terjadi ketika Kristus datang kembali. Pada saat itu akan ada penyingkiran orang-orang yang menolak keselamatan Allah dan tidak berlindung pada Kristus. Kedua kedatangan Kristus itulah yang dirayakan pada masa Adven. Peringatan di sini ialah bahwa yang diterima Allah bukan orang yang aktivis atau berjabatan di lembaga gereja, melainkan orang yang sadar dalam hati bahwa mereka tidak memiliki apa-apa di hadapan Allah, dan dalam kerendahan hati itu bertobat dari kejahatan.

Oleh karena keselamatan itu, ada pujian yang seru dan penuh semangat kepada Tuhan. Ada seruan untuk memuji Allah (a.14), disertai alasan (a.15), perkataan yang menguatkan (aa.16-18a), dan janji dari Allah (aa.18b-20). Keadaan yang diandaikan di sini adalah Israel dalam pembuangan (“membawa kamu pulang”, a.20). Pembuangan adalah hukuman yang perlu disingkirkan itu (a.15) dan alasan Sion / Yerusalem menjadi takut dan lesu (a.16). Yang menjadi dasar pujian dan pengharapan adalah Tuhan. Dia adalah raja di antara umat-Nya (a.15) dan pahlawan yang memberi kemenangan (a.17). Dia juga bergirang atas dan mengasihi umat-Nya (a.18).

Nubuatan ini digenapi dalam Sang Israel yang sejati, yakni Kristus. Pembuangan Israel tercakup dalam kematian-Nya, dan kepulangan Israel tercakup dalam kebangkitan-Nya (bnd. Nubuatan keselamatan). Hukuman maut (dibuang dari hadirat Allah) sudah disingkirkan karena ditanggung Kristus. Musuh dosa dan maut telah dikalahkan. Tentu, penggenapan nubuatan ini juga bertahap dua—malapetaka dan kejahatan belum dilenyapkan. Namun, dalam Kristus kita telah dibawa pulang, dan pada masa Adven ini selayaknya kita memuji Allah yang telah dan akan menyelamatkan kita.


Mzm 27:1-6 Tuhan benteng hidupku

November 17, 2009

Mazmur ini sebenarnya dapat digolongkan sebagai Mazmur Permohonan, karena mulai a.7 ada seruan kepada Tuhan. Jadi, pujian dalam aa.1-6 merupakan pengakuan percaya. Pemazmur memulai doanya dengan mengingat keandalan Tuhan, Tuhan yang adalah terang, keselamatan dan benteng hidupnya.

Konteks pengakuan percaya ini adalah serangan musuh. Ada yang secara manusiawi sangat layak ditakuti (aa.2-3), tetapi karena kepercayaan kepada Tuhan pemazmur tidak merasa takut. Bagaimana bisa? Karena dengan mengalami hadirat Tuhan, dia mengenal perlindungan Tuhan (aa.4-5). Malah, dia mengalami harga dirinya dijaga oleh Tuhan di hadapan musuhnya (a.6a). Oleh karena itu, dia mau bersyukur kepada Tuhan (a.6b).

Perhatikan bahwa yang terjadi terhadap musuh dalam mazmur ini bukan bahwa mereka lenyap atau hancur (makanya tetap ada permohonan dalam aa.7dyb), tetapi bahwa mereka tidak berhasil melenyapkan pemazmur. Raja Daud sendiri (yang olehnya atau untuknya mazmur ini dikarang, a.1a) tidak memusnahkan musuh Israel, ataupun musuh di dalam Israel, tetapi Allah tetap memelihara dia sehingga kepalanya tegak (harga dirinya terjaga) sampai akhir hidupnya. Kristus, anak Daud itu, kelihatan dikalahkan malah dipermalukan oleh musuh pada salib itu, akan tetapi Dia ditinggikan oleh Allah dalam kebangkitan-Nya dan diberi nama di atas segala nama.

Kristuslah yang menjadi bait Allah, tempat hadirat Allah, bagi kita. Di dalam-Nya kita tahu bahwa meskipun kita dihancurkan, harapan kita akan dunia yang baru tidak sirna. Tetapi pada umumnya jika kita diserang bukannya kita akan hancur melainkan harga diri kita yang terancam. Makin kita berlindung pada Kristus, makin kita akan menyadari bahwa di dalam Dia kepala kita akan tetap tegak, sekalipun kita difitnah atau diremehkan. Hal itu semestinya didukung dan dikuatkan dalam persekutuan, yang juga merupakan bait Allah / tempat hadirat Allah. Ketika kita membawa persembahan syukur / pengakuan percaya kita atas perlindungan Tuhan, harga diri kita dikuatkan oleh dukungan saudara-saudara kita berdasarkan Allah sebagai terang, keselamatan dan benteng hidup kita.

Penguatan seperti itu saya alami dalam ibadah hari Minggu secara umum, maksudnya, di tengah dunia yang meminggirkan Allah dan meremehkan iman saya, saya dikuatkan oleh ibadah sebagai konteks beriman. Tetapi dalam kelompok kecil dinamikanya jauh lebih jelas dalam pengalaman saya, karena pergumulan yang konkrit dapat dibagikan, dibahas dalam terang firman, dan didoakan. Semoga hadirat Tuhan di tengah-tengah kita menguatkan kita untuk tetap percaya di tengah semua ancaman.


Kel 15:1-21 Meresponsi anugerah Tuhan

November 1, 2009

Nyanyian ini adalah nyanyian pertama yang direkam dalam Alkitab (kalau tidak salah—adakah sebelumnya?). Hal itu sangat cocok. Allah sudah menyelesaikan penyelamatan mereka dari kuasa Firaun, sehingga mereka sudah dimampukan menjadi umat Allah untuk beribadah kepada-Nya. Jadi, sebelum ada Taurat sebagai kerangka hidup untuk merespons anugerah keselamatan itu, ada pujian. Pujian adalah respons utama kepada Allah, ketaatan menyusul (bnd. Rom 1:21). Aa.20-21 menceritakan bahwa perempuan ikut juga dalam nyanyian ini, dipimpin Miryam yang disebut sebagai nabiah.

A.1b mengantarkan kedua tema utama, yakni sifat Tuhan serta perbuatan-Nya. Menurut analisis di Expositor’s Bible Commentary, ada empat bait dalam nyanyian ini, yaitu aa.1b-5, 6-10, 11-16a, 16b-18. Pembagian itu berdasarkan adanya batu/timah pada akhir ketiga bait yang pertama (aa.5, 10, 16a), dan juga pengulangan beberapa kata (bukan hanya pengulangan ide) pada aa.6, 11, 16b. Setiap bait dibagi lagi: ada pengantarnya (ayat pertama masing-masing, yang mengangkat tema), kemudian ada satu-dua ayat tentang Tuhan dan sisanya menyangkut orang di luar Israel (ringkasnya: 1b/2-3/4-5; 6/7-8/9-10; 11/12-13/14-16a; 16b/17/18).

Bait pertama (aa.1b-5) menguraikan alasan orang Israel untuk menyanyi (a.1b), jadi pujian tentang Allah (aa.2-3) menyangkut “aku” (Musa dan setiap orang Israel), yang baginya Tuhan menjadi keselamatan karena apa yang terjadi terhadap pasukan Firaun (aa.4-5). Bait kedua (aa.6-10) menguraikan “tangan kanan” Tuhan (a.6), yaitu kuasa-Nya untuk campur tangan dalam dunia ini (aa.7-8) untuk menghukum musuh-Nya (aa.9-10). Bait ini lebih pada sudut pandang musuh. Kedua bait ini menceritakan kembali kehancuran pasukan Firaun.

Kedua bait berikut melihat ke depan, ketika tujuan dari keselamatan itu akan tercapai. Bait ketiga (aa.11-16a) melihat “ketiadataraan” Tuhan di atas dewa-dewi bangsa-bangsa (a.11). Hanya Tuhan yang dapat meniadakan musuh-Nya (a.12) dan menuntun umat-Nya (a.13), sehingga bangsa-bangsa yang akan dihadapi Israel dalam perjalanan ke tanah Kanaan takut (aa.14-16a). Bait keempat (aa.16b-18) menyangkut penyeberangan ke tanah Kanaan (a.16b), sehingga Israel berada di sekitar tempat kudus Tuhan (a.17), akhirnya Bait Allah di Yerusalem. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan adalah raja yang kekal (a.18), baca: di atas seluruh bumi.

Kemenangan Kristus di kayu salib tidak kalah dahsyatnya dengan peristiwa ini. Dari Kristus kita juga belajar bahwa Allah layak dipuji, bahwa tangan-Nya kuat, bahwa Dia tiada bertara, bahwa kita adalah umat-Nya yang akan dibawa pulang. Kita juga ada di antara kemenangan yang dahsyat itu dan penggenapannya pada masa depan, ketika kita akan “menyeberang” ke langit dan bumi yang baru. Masalahnya bahwa kadangkala kemenangan atas dosa dan maut terasa abstrak, sehingga rasa syukur yang meliputi Israel pada saat itu tidak terasa oleh kita. Karena perikop ini menceritakan keadaan yang konkret, yang dengan mudah kita bayangkan, maka kita dapat belajar bagaimana rasa syukur yang selayaknya. Soalnya, kita luput dari nasib yang lebih parah dari nasib Israel seandainya Tuhan tidak campur tangan, yaitu larut dalam dosa dan menghadapi maut tanpa harapan.


Neh 12:27-43 Bersukaria atas pemulihan Allah

Juni 29, 2009

Pembangunan tembok di Yerusalem sudah selesai pada Nehemia p. 7, tetapi baru dalam perikop ini temboknya ditahbiskan. Di antaranya “tembok rohani” umat dibangun. Hal itu termasuk identitas sebagai keturunan Abraham melalui daftar orang yang kembali dari pembuangan (p.7), pembacaan Taurat (p. 8), pertobatan (p. 9), perjanjian (p. 10) dan daftar orang-orang di Yerusalem (p. 11) serta para imam dan orang Lewi (p. 12). Sehingga perayaan pada pentahbisan tembok bukan soal formalitas saja, tetapi merupakan perayaan atas pemulihan umat secara jasmani dan rohani.

Susunan acara yang diceritakan termasuk pentahiran dan dua perarakan (termasuk berbagai petinggi) yang menjalani tembok sebelum berjumpa di Bait Allah. Pentahiran merujuk ke anugerah Allah yang menerima manusia yang sebenarnya tidak layak (ketidaklayakan umat Israel pada saat itu menjadi nampak dalam p. 13). Perarakan yang berakhir di Bait Allah menunjukkan bahwa tembok itu berarti karena hadirat Allah di tengah kota yang dibentengi.

Semua itu diawali dan diakhiri dengan nyanyian. Dalam a. 27 ada kemeriahan, ucapan syukur dan berbagai alat musik. Dalam a. 43 sukaria seluruh umat “terdengar sampai jauh”.

Dalam PL hanya imam dan orang Lewi yang termasuk paduan suara, tetapi dalam PB kita semua adalah imam yang memuji Allah (1 Pet 2:9). Kita memuji Allah karena Allah sudah memulihkan keadaan kita sebagai umat Allah. Secara rohani dosa kita diampuni, dan secara jasmani ada janji kebangkitan yang terjamin oleh kebangkitan Kristus. Jadi, setiap kali kebaktian ada alasan yang melebihi Israel pada saat itu untuk bersukaria.


Ezra 7 Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN

Agustus 25, 2008

Israel mulai kembali dari pembuangan ketika Darius, raja Persia, mengalahkan Babel (539 sM). Persia memiliki kebijakan yang ramah terhadap bangsa-bangsa taklukannya. Pengungsi dibantu untuk pulang, dan budaya (termasuk agama) di setiap daerah dihargai, agak seperti hukum adat diakui di Indonesia. Ezra 1-6 menceritakan pembangunan Bait Allah di Yerusalem oleh rombongan yang pertama yang kembali dari pembuangan. Ezra 6:22 menganggap bahwa kebijakan yang memungkinkan selesainya pembangunan itu adalah karya Allah sendiri.

Ezra 7 memulai tahap yang baru dalam cerita kitab Ezra, yakni munculnya tokoh Ezra sendiri pada tahun 458 sM, hampir 60 tahun sesudah pembangunan Bait Allah selesai (yaitu 515 sM). Ezra sendiri adalah imam dari keluarga imam (lihat 1 Taw 6:4-14 untuk daftar yang lebih lengkap). Dia mahir dalam Taurat, yaitu adat Israel, sehingga dia didukung raja Artahsasta sesuai kebijakan tadi, barangkali supaya adat Israel diterapkan dengan tepat di Yudea. Perginya Ezra dalam rangka itu merupakan kesempatan yang besar bagi Israel, sehingga ada rombongan lagi yang mengikutinya. Sekali lagi, kebijakan raja dianggap karya Allah (7:27).

Artahsasta bukan penganut Allah Israel, melainkan penganut pluralitas adat. Suratnya mencerminkan kebijakan mencari damai daripada iman akan janji-janji Allah untuk menyelamatkan umat-Nya. Namun, hal itu tidak mengurangi campur tangan Allah di dalamnya. Allah tidak terbatas oleh ada tidaknya iman dalam hati manusia. Ams 21:1 mengatakan bahwa hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan, dan itulah yang dilihat di sini. Kebijakan raja Artahsasta yang menghargai minoritas adalah tepat. Tetapi Allah berkarya di dalamnya dengan maksud sendiri, yaitu supaya umat-Nya diselamatkan dan nama-Nya dipuji.

Hati para pemimpin di Indonesia tetap ada dalam tangan Allah. Pada umumnya (dan menurut UUD) pemerintah menghargai minoritas sama seperti Artahsasta. Dalam keadaan demikian, semestinya kita memuji Allah dan mengambil kesempatan untuk bekerja bagi rencana keselamatan Allah sama seperti Ezra.


Mzm 111 Pujilah Allah karena pemberian keselamatan!

Agustus 14, 2008

Salah satu alasan mendasar untuk Israel memuji Allah ialah perjanjian dengan Allah (111:5, 9). Mazmur pujian ini menceritakan dua segi dari berkat perjanjian-Nya, yakni perbuatan keselamatan-Nya (pemilikan tanah dalam a.6b, penebusan dari Mesir dalam a.9a) dan penyataan-Nya (aa.7b-8). Respons umat mulai dan berakhir dengan pujian (aa.1, 10c) serta menyelidiki perbuatan Allah dan menjadikannya dasar untuk takut akan Allah (aa.2-5, a.10).

Tentu, kita yang percaya kepada Kristus melihat perbuatan keselamatan dan penyataan Allah terpusat dalam Kristus dan karya-Nya. Milik pusaka kita adalah langit dan bumi yang baru (Why 21:1) yang menjadi pusat bangsa-bangsa (Why 21:24-26). Pada hari kemerdekaan Indonesia, kita bersyukur bahwa sebagai tomentiruran (pendatang) kita boleh menumpang di negeri ini untuk menyatakan perbuatan dan penyataan Allah yang ajaib!


10. Mazmur Permohonan

Juni 27, 2008

Pernah ada anggota jemaat yang sangat bergumul karena berbagai keburukan dalam hidupnya. Untuk menghiburnya, beberapa sahabat dalam jemaat membagikan Mazmur pujian kepadanya, sekiranya dia memuji Allah untuk mendapat kekuatan. Saya memilih jalan yang lain. Saya membuka Mzm 13 yang mengeluh kepada Allah bahkan tentang Allah sendiri—”Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?”. Saya menjelaskan bahwa ini juga cara berdoa yang berkenan di hadapan Tuhan. Saya terkesan dengan tanggapannya, “Doa begini bisa saya doakan.” Yang dia perlukan bukan bahasa untuk berpura-pura ceriah melainkan sarana untuk berbicara dengan Tuhan di tengah pergumulan hati yang berat. Yang berikut melacal beberapa segi dari mazmur permohonan.

Baca entri selengkapnya »


Mazmur 42-43 “Kerinduan akan Allah”

Desember 12, 2007

Mzm 42-43 merupakan satu buah Mazmur yang menyatakan kerinduan seorang dalam pembuangan untuk menikmati hadirat Allah. Tiga bagian mengandung keluhan (42:2-5, 7-11; 43:1-4) yang diakhiri dengan seruan kepada jiwa pemazmur untuk berharap (42:6, 12; 43:5). Jadinya dapat dikatakan dialogis, artinya baik keluhan maupun harapan diakui, diungkapkan, bahkan saling melengkapi.

Bagian pertama (42:2-6): Kerinduan yang dibentuk oleh ibadah kepada Allah (masa lampau)

Hadirat Allah menjadi tema utama di sini. Allah dikenal oleh si pemazmur sebagai Allah yang hidup (a.3), sesuai pengalamannya sebagai seorang pemimpin dalam ibadah Bait Allah yang ramai (a.5). Keadaannya pahit terutama karena Allah terasa jauh (a.4)–memang hal itu dikatakan oleh musuh, tetapi barangkali perkataan itu menusuk hati karena terasa benar. Hasrat pemazmur teosentris.Terhadap “nostalgia” ini si pemazmur berseru kepada jiwanya sendiri untuk berharap. Harapannya bahwa dia akan bersyukur lagi kepada Allah (barangkali dalam ibadah Bait Allah). Harapan itu menjadi alasan untuk mempertanyakan tertekannya jiwanya. 

Bagian kedua (42:7-12): Relasi yang dibangun atas dasar firman Allah (masa kini)

Seruan a.6 sama sekali tidak bermuara pada upaya untuk berpura-pura senang (a.7a). A.7b mungkin merujuk pada daerah hulu sungai Yordan, sehingga kiasannya menjungkirbalikkan a.2. Daripada aliran sungai yang menyegarkan, pemazmur mengalami gelora air terjun yang menjadikannya kewalahan (a.8).Namun, di tengah gelora itu Allah adalah gunung batunya (a.10a) oleh karena firman-Nya (a.9). Pada satu segi firman Allah mengungkapkan kasih setia Allah yang sepasti sebuah perintah (bnd. Mzm 33:9; 133:3), sehingga kasih setia itu dapat diandalkan meskipun belum nyata. Pada segi yang lain, firman Allah menyediakan nyanyian-nyanyian doa yang menjadi sarana untuk si pemazmur menyampaikan perasaannya sejujur-jujurnya kepada Allah (a.10-11). Firman Allah menjadi pengangan pemazmur di tengah masa pahit antara berkat masa lampau dengan berkat masa depan.Refrein a.12 tidak persis sama dengan refrein a.6. Seperti dalam terjemahan LAI, kata mengapa diulang dalam a.12. Apakah pemazmur mau mempertanyakan kegelisahannya dengan lebih tegas? Namun, perubahan kedua dalam LAI, yaitu “aku akan bersyukur” menjadi “aku bersyukur”, tidak tepat. Bahasa aslinya sama (tetap tens imperfek yang cocok untuk masa depan), dan keadaan pemazmur belum berubah. 

Bagian ketiga (Mzm 43:1-5): Arah hidup berdasarkan harapan

Pada bagian ketiga semangat pemazmur makin bangkit. Pada bagian ini pemazmur meminta kepada Allah supaya Dia sebagai Sang Hakim mengambil keputusan bagi pihak pemazmur terhadap orang-orang yang melawan Allah (a.1). Pada a.2 si pemazmur masuk kembali ke dalam doa protes (a.2), tetapi bukan dalam rangka keluhan melainkan sebagai perbandingan untuk permintaannya yang tegas (a.3). Kerinduan yang cemas pada awal pasal 42 sudah menjadi kerinduan yang bersemangat untuk menjadikan terang dan kesetiaan Allah sebagai penuntun dalam kehidupannya. Itulah yang akan membawa dia kembali kepada hadirat Allah.

Kesimpulan

Tubuh Kristus adalah Bait Allah yang sejati (Yoh 2:21; Ef 1:22-23), dan setiap kali kita beribadah bersama-sama dalam tubuh-Nya semestinya kerinduan kita makin terbentuk sehingga tertuju kepada Allah. Namun, sama seperti pemazmur kita hidup dalam harapan. Banyak orang di sekitar kita hidup cuek terhadap Allah, bahkan mencela orang yang mau setia. Oleh karena itu, makin kita rindu akan Tuhan, makin kita akan merasa kepahitan hidup dalam dunia yang di dalamnya keadilan dan kebenaran belum terwujud. Tetapi oleh karena kita “akan bersyukur lagi” ketika Kristus datang kembali, maka langkah-langkah kita perlu dibentuk bukan oleh kecemasan dunia tetapi oleh terang zaman baru. Harapan itu sama sekali tidak menghapus keluh kesah kita–jangan sampai dalam dunia baru tidak ada air mata untuk dihapus karena kita sudah menjadi batu! Seperti si pemazmur kita akan berjalan terus antara kecemasan dan harapan, antara protes dan pujian. Maranata! 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.