Kis 2:14-21 “Penggenapan janji Roh Kudus” (27 Mei 2012; Pentakosta/Hari Lansia)

Mei 24, 2012

Peristiwa pencurahan Roh Kudus merupakan kejadian yang pokok dalam identitas gereja. Namun, maksudnya hanya dapat dilihat dengan tajam jika kita memperhatikan konteks dalam alur cerita Kisah Para Rasul, di mana Yesus telah menjelaskan maksud dari peristiwa itu.

Penggalian Teks

Yesus telah memberitahu murid-murid-Nya bahwa mereka akan menjadi bagian dari umat Kristus dengan “dibaptis” dengan Roh Kudus (1:5), sehingga mereka menerima kuasa untuk menjadi saksi (1:8). Roh disebut sebagai janji Allah, sesuatu yang menjadi jelas dalam nubuatan Yoel yang dikutip Petrus dalam perikop kita. Penggenapan janji itu ditandai dengan para murid Yesus berbicara dalam berbagai bahasa (2:4). Dua tanggapan disebutkan: sebagian tercengang-cengang (2:12), dan sebagian menyindir (2:13), sesuatu yang terjadi dalam pelayanan Yesus, dan juga lazim terhadap orang-orang benar dalam PL. Khotbah Petrus mulai dengan menanggapi sindiran itu (aa.14-15), tetapi pada dasarnya khotbahnya merupakan awal dari kesaksian para murid, dengan kuasa Roh Kudus. Dalam konteks seluruh khotbah Petrus, pencurahan Roh Kudus bukan pertama-tama tentang Roh Kudus melainkan tentang Yesus yang mencurahkan-Nya, bukti bahwa Dia telah ditinggikan (dinaikkan) oleh Allah Bapa (2:33), sehingga “seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” (a.36) Nubuatan dari Yoel menjadi dasar untuk kedua hal yang ditawarkan kepada pendengar Petrus jika mereka bertobat. Yang pertama, mereka akan diampuni dalam nama Yesus (2:38), Tuhan itu, karena “barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan” (a.21). Yang kedua, mereka akan diberi karunia Roh Kudus (2:38). Karunia itu yang diuraikan dalam aa.17-20.

Kitab Yoel berbicara tentang tulah belalang yang melanda Israel (Yoel 1:2-2:17), dan keselamatan yang menyusul setelah Israel bertobat (Yoel 2:12-27). Nubuatan itu berlanjut, “Kemudian dari pada itu” (Yoel 2:28), dan dalam ayat-ayat berikut menjadi jelas bahwa dia berbicara tentang akhir zaman, tindakan menentukan dari Allah demi keselamatan umat-Nya. Makanya, Lukas menafsir nubuat itu sebagai ucapan tentang “hari-hari terakhir”. Yesus telah bangkit, zaman baru sudah mulai, disertai penggenapan janji pencurahan Roh Allah atas “semua manusia”, tanpa membeda-bedakan orang (a.17), baik dari segi jenis kelamin, maupun dari segi usia. Dalam a.18a “hamba” juga disebut. Yoel sepertinya berbicara tentang hamba secara harfiah, karena kata yang dipakai untuk hamba perempuan tidak pernah dipakai dalam kaitan dengan Tuhan. Tetapi, Lukas menambahkan “-Ku” pada kata hamba, untuk menempatkan penerima-penerima Roh sebagai hamba Tuhan. (Gereja perdana tidak menghilangkan makna harfiah itu, karena jelas para hamba memiliki status yang sama di dalam Kristus, bdk. Gal 3:28.)

Pencurahan Roh berarti semua menjadi saluran penyataan dari Tuhan. Nubuatan membawa firman Tuhan untuk menerangi sesuatu dari perspektif Tuhan. Intinya bukan ramalan tetapi penyingkapan, entah itu dosa yang disembunyikan, entah itu harapan yang tidak kelihatan. Lukas menekankan aspek itu dengan mengulang “mereka akan bernubuat” pada akhir a.18. Kedua istilah lagi tidak jauh beda maksudnya. Penglihatan sering dikaitkan dengan nubuatan dalam PL (misalnya, 1 Sam 3:1; 2 Sam 7:17), karena biasanya Allah berbicara di dalam penglihatan itu (Mzm 89:20). Sedangkan mimpi seringkali harus ditafsir untuk memahami maknanya (Kej 28:11; 40:8; 41:8; Hak 7:15, tetapi mimpi Salomo mengikuti pola penglihatan, 1 Ki 3:15). Dengan berbagai cara ini, semua orang dapat menjadi saluran penyataan dari Allah.

Kedahsyatan kejadian ini disampaikan dalam aa.19-20, yang merupakan bahasa simbolis tentang kedahsyatan kedatangan hari Tuhan itu. Hal itu tidak menutup kemungkinan akan terjadinya berbagai tanda fisik, misalnya, matahari menjadi gelap ketika Yesus mati pada salib (satu bagian penting dari kedatangan hari Tuhan). Tetapi, pada hari Pentakosta, tanda yang ajaib itu adanya berbagai bahasa yang diucapkan, bukan matahari dsb. Namun, Petrus tetap melihat bahwa nubuatan ini digenapi pada hari itu juga.

Maksud bagi Pembaca

Petrus, serta Lukas yang menyampaikan pemberitaannya, mau meyakinkan kita bahwa zaman baru telah datang, sehingga siapapun kita, dapat menerima Kristus serta karunia Roh Kudus. Dengan demikian, kita akan menjadi bagian dari tubuh Kristus dan akan dimampukan menjadi saksi Kristus dan terlibat dalam misi Allah sampai di ujung bumi.

Makna

Fungsi pokok Roh Kudus dalam Kisah Para Rasul ialah pemberitaan Kristus sebagai Tuhan. Hal itu muncul-muncul dalam penceritaan Lukas, seperti 4:8, “Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus”, 4:31 “mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani”, dan 6:10 “Roh yang mendorong dia [Stefanus] berbicara”. Cara mereka berkhotbah mirip dengan para nabi, dengan menyingkapkan dosa dan menawarkan keselamatan yang tidak kelihatan. Mungkin juga kita bisa mengaitkan penglihatan dan mimpi dengan orang-orang dalam sejarah gereja yang memajukan kesaksian tentang Kristus karena melihat hal-hal yang tidak diperhatikan orang lain.

Tetapi hasil pemberitaan itu juga adalah jemaat (2:42-47). Di dalam jemaat itu, selain pengajaran yang membagikan pengajaran rasul-rasul (2:42), setiap anggota, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, bisa menjadi saluran penyataan dari Tuhan. Penyataan itu harus dibedakan dari pengajaran rasul-rasul, yang tertuang dalam PB dan merupakan dasar kepercayaan kita. Tetapi bila peran Roh Kudus dalam diri setiap anggota jemaat diabaikan, hasilnya bisa gereja yang pelayan-sentris, di mana hikmat untuk bertindak dalam persekutuan dan pemberitaan dianggap hanya ada pada golongan tertentu. Akibatnya, hanya pelayan yang bersaksi tentang Kristus, jemaat awam tidak tahu-menahu (padahal, jemaat awam banyak bergaul dengan orang yang belum mengenal Kristus); hanya pelayan yang menguatkan jemaat, jemaat awam tidak diberdayakan (padahal, jemaat yang selalu hadir saling menemani).


Rom 5:1-5 Bermegah dalam Allah karena Kristus [25 Desember 2011] (Natal Malam)

Desember 22, 2011

Perikop ini bukan perikop biasa untuk Natal. Namun, pada Natal kita perlu tidak hanya terharu oleh kelahiran Kristus yang sederhana serta bermakna, tetapi juga dikuatkan dalam makna bahwa Dia mengambil bagian dalam dunia kita. Perikop ini berbicara tentang harapan dan penderitaan, pengalaman biasa manusia dalam dunia ini.

Penggalian Teks

Struktur perikop ini harus mencakup aa.1-11. Dalam aa.1-2 kita bermegah dalam pengharapan; aa.3-5 meringkas mengapa kita bermegah dalam kesengsaraan; aa.6-10 menjadi bukti dari aa.1-5 tadi berdasarkan kematian Kristus; dan a.11 memberi kesimpulan bahwa kita bermegah dalam Allah. Bermegah dalam konteks ini merujuk pada apa yang paling berarti dalam kehidupan orang. Orang Yahudi bermegah dalam Allah karena memiliki Hukum Taurat (2:17, 23). Orang Toraja bermegah dalam tongkonan karena ada upacara orang mati yang hebat. Paulus bermegah dalam Allah dalam Kristus karena melalui kesengsaraannya dia akan mencapai kemuliaan Allah. Untuk memahami perikop ini lebih dalam, kita perlu melihat perikop ini dalam konteks lebih luas.

Rom 1:18-3:20 telah mengangkat dosa sebagai masalah mendasar manusia. Masalah dosa bisa dilihat dari tiga aspek: karena dosa berarti membelakangi Allah, dosa menimbulkan murka-Nya (1:18); dosa merugikan sesama (mis., 3:10-18); dan dosa berarti merusak gambar Allah di dalam dirinya sendiri (3:23, “kehilangan kemuliaan Allah”). Cara hidup yang tidak merugikan sesama akan dibahas dalam pp.12-15; pembaruan diri menjadi tema pp.6-8 (mis., 8:29 “menjadi serupa dengan Kristus”). Tetapi, yang pertama dibahas Paulus adalah pembenaran dalam 3:21-4:25, yaitu, bagaimana manusia berdosa diterima Allah sebagai orang benar. Bahasa Paulus mengejutkan: Allah “membenarkan orang durhaka”, “orang yang tidak bekerja, namun percaya” (4:5). Itulah cara Paulus untuk menegaskan bahwa amal manusia tidak ada sangkut paut dengan pembenarannya—pembenaran oleh iman adalah anugerah kepada orang yang tidak layak berdasarkan kasih karunia, yaitu, perkenan atau sikap baik Allah. Pemberian itu diterima dengan dipercayai, bukan diraih melalui perbuatan-perbuatan baik.

Jadi, perikop ini berfungsi sebagai peralihan dari soal pembenaran oleh iman ke soal implikasinya, yaitu, pembaruan diri. Implikasi itu mencakup soal kasih karunia yang mengalahkan dosa (5:12-8:16) serta penderitaan yang ditanggung dalam pengharapan (8:17-39).

Aa.1-2 menyimpulkan hasil dari pembenaran tadi: sebagai ganti dimurkai Allah, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Hal itu terjadi oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus, yang juga memungkinkan kita masuk ke kasih karunia, dan tidak hanya masuk tetapi juga berdiri di dalamnya. Kasih karunia diibaratkan zona aman di mana kita telah berdamai dengan Allah. Lebih lagi, di zona aman kasih karunia itu, kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah (2b). Jika aa.1-2a meringkas bagian sebelumnya, gagasan baru itu mengantarkan tema pp.6-8. Kerusakan gambar Allah akan dipulihkan di dalam orang-orang yang berdiri di zona kasih karunia yang dibentuk oleh Kristus.

Ayat yang berikut (3) pada awalnya mengejutkan: kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita. Ternyata pengharapan itu terjangkau melalui rangkaian di dalam aa.3-4: kesengsaraan, ketekunan, dan tahan uji. Pengharapan dapat merujuk pada apa yang diharapkan (pengharapan objektif) atau sifat berharap (pengharapan subjektif), dua segi yang tentunya tak terpisahkan. Dalam a.2 segi objektif yang dimaksud: kita bermegah dalam pengharapan akan perubahan yang akan terjadi (objektif), bukan dalam kemampuan kita untuk berharap akan perubahan (subjektif). Tetapi aa.3-5 berbicara tentang pewujudan segi subjektif, bagaimana pengharapan menjadi daya gerak yang kuat dalam kehidupan orang percaya. Pada umumnya kesengsaraan membuat manusia merasa dikutuk oleh Allah, hancur dalam dirinya, dan dibenarkan melakukan berbagai dosa untuk luput daripada sengsara itu. Dengan kata lain, kesengsaraan meneguhkan manusia dalam masalah dosa tadi. Tetapi dalam Kristus, kesengsaraan menjadi kesempatan untuk bertekun dalam zona kasih karunia itu, dan bertekun demikian membentuk karakter, kata lain untuk tahan uji, yakni sifat-sifat yang kuat di dalam diri seseorang. Dengan karakter seperti itu, pengharapan subjektif menjadi suatu daya gerak yang efektif, karena orangnya akan bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan, yakni, menjadi serupa dengan Kristus, bukan sesuai dengan kesusahan yang dihadapi.

Namun, membentuk pengharapan subjektif hanya berguna jika segi objektifnya layak diharapkan. Paulus menjawab soal itu dengan pembuktian tentang kasih Allah, tema yang muncul dengan jelas untuk pertama kalinya dalam kitab Roma di sini. Kasih itu dikenal dalam hati kita (secara subjektif) karena Roh Kudus yang diberikan kepada kita (5). Tetapi bukti objektifnya ada dalam pengorbanan Kristus (6-10). Dalam ayat-ayat ini Paulus meringkas apa yang sudah disampaikan dalam pasal-pasal sebelumnya, tetapi dalam rangka membuktikan kasih Allah, bukan keadilan-Nya sebagai Hakim. Kristus mati bagi orang berdosa yang tidak berdaya (6). Dia mati bagi bagi orang yang tidak layak, berbeda dengan kasih manusia yang membalas budi (7-8). Itulah dasar pembenaran. Dan karena kita sudah dibenarkan sekarang oleh darah-Nya, kita dapat yakin bahwa kita akan diselamatkan dari murka Allah pada penghakiman terakhir (9). Dengan kata lain, jika musuh telah menjadi sahabat karena kematian Kristus, lebih lagi Dia yang hidup akan membawa kita sampai selamat (10). Kematian Kristus, yang menjadi sarana Allah yang adil untuk membenarkan orang durhaka dalam pp.3-4, di sini menjadi bukti kasih Allah yang akan membawa orang sampai keselamatan eskatologis. Jadi, ada dasar untuk pengharapan bahwa kita akan mencapai kemuliaan Allah, sehingga bermegah dalam kesengsaraan yang menguatkan pengharapan itu masuk akal, lebih lagi mengingat bahwa Kristus telah berbagi dalam penderitaan kita di sini (tema itu menjadi lebih jelas dalam 8:17-18).

Oleh karena itu, Paulus mengajukan alasan untuk orang percaya bermegah dalam Allah: bukan karena Hukum Taurat menjadi landasan hidupnya melainkan karena Kristus telah membuka jalan pendamaian dengan Allah (a.11). Pp.6-8 akan menguraikan hal itu lebih lanjut.

Maksud bagi Pembaca

Setelah meyakinkan para pendengar surat di Roma bahwa status benar diterima sebagai anugerah di dalam Kristus (3:21-4:25), dalam perikop kita Paulus mau supaya mereka bermegah dalam Allah sesuai dengan dasar anugerah itu, bukan atas dasar yang lain. Ada dua segi yang diangkat Paulus. Yang pertama, dia mengajukan harapan akan pemulihan kerusakan gambar Allah dalam diri kita. Kerinduan yang dimiliki baik oleh orang Yahudi maupun oleh sebagian orang non-Yahudi untuk menjadi manusia yang baik itu akan diwujudkan dalam ranah kasih karunia, bukan Hukum Taurat (ataupun berbagai cara yang diajukan para filsuf Yunani). Yang kedua, dia menempatkan kesengsaraan sebagai bagian dari proses pemulihan itu. Yang khas di sini bukan bahwa penderitaan membentuk karakter, melainkan bahwa kasih Allah yang dialami oleh Roh dan terbukti dalam kematian Kristus menjadi penjamin pengharapan yang dikuatkan oleh kesengsaraan itu. Dengan demikian, Paulus secara ringkas telah menunjukkan bagaimana Injil kasih karunia adalah dasar untuk menjadikan Allah sebagai hal paling penting dan menarik dalam kehidupan kita, sekalipun di tengah berbagai pergumulan.

Makna

Soal bermegah adalah hal yang kunci dalam psikologi manusia. Sesuatu yang dimegahkan akan mengendalikan kehidupan kita, sesuatu yang tidak dimegahkan akan diabaikan jika dianggap mengganggu kepentingan kita. Adalah berguna kita bertanya, sejauh mana jemaat bermegah dalam adat, atau materi, atau gengsi, atau sesuatu yang lain. Perikop ini menyampaikan alasan yang kuat untuk bermegah dalam Allah melalui Kristus. Namun, saya melihat beberapa masalah dalam menyampaikan penguraian Paulus.

Yang pertama, di dalam jemaat ada yang sepertinya tidak rindu untuk mengenal Allah, dan tidak peduli tentang jarak antara keadaannya sebagai orang berdosa dan kemuliaan Allah yang diharapkan dalam a.2. Jika sikap itu muncul dalam sikap atau tindakan yang tidak disukai, pengkhotbah bisa tergoda untuk mengecam jemaat ketimbang membawa mereka kepada Kristus. Misalnya, pengkhotbah mengangkat kekurangan jemaat dibandingkan dengan standar kemuliaan Allah, dan menegor jemaat karena kurang saling mengasihi, menyumbang, atau entah apa lagi yang sedang mengganggu pengkhotbah. Padahal, dasar Paulus adalah Injil, berita tentang Kristus, dengan fokus di sini pada kematian-Nya sebagai dasar pembenaran dan bukti kasih Allah. Dia percaya bahwa berita kasih karunia itu menawarkan pengharapan yang kokoh akan kemuliaan Allah, dan di dalam kesusahan dan oleh kuasa Roh Kudus pengharapan itu akan menjadi daya yang kuat untuk mengubah kehidupan manusia sekarang. Pada hemat saya, tugas utama kita adalah menguatkan jemaat yang rindu akan Allah dengan pengharapan berdasarkan pengorbanan Kristus. Biar dengan kasih Allah dalam Kristus dijunjung tinggi, jemaat yang belum rindu akan dijamah oleh kuasa Roh Kudus sehingga bermegah dalam Kristus, bukan gengsi dsb. Hal itu tentu lebih mudah jika penghkotbah sendiri bermegah dalam Allah.

Yang kedua, soal bermegah itu menyangkut kemampuan untuk berpikir jangka panjang. Dalam budaya tradisional, orang Toraja yang sudah dewasa juga sudah mulai memikirkan upacara kematian-Nya, walaupun sisa hidupnya kemungkinan masih berpuluh-puluh tahun. Generasi muda mungkin lebih sulit berpikir jauh, tetapi dalam budaya Toraja bukannya tidak mungkin untuk orang bertindak berdasarkan suatu harapan yang masih jauh-jauh hari ke depan. Jadi, masalah dalam bertekun dalam pengharapan lebih terletak pada apa yang dimegahkan. Jika kasih Allah belum dirindukan, tentu kita tidak akan bertekun dalam kesengsaraan jika ada jalan pintas keluar. A.5 penting dalam konteks ini. Jika dalam Roh Kudus kita mencicipi kasih Allah sekarang, kita akan mencari lebih, walaupun dalam kesusahan. Seperti dikatakan di atas, hal itu akan terjadi karena orang menangkap kasih Allah dalam kematian Kristus. Seperti biasa, ketika Paulus berbicara tentang kasih Allah, bukan pemeliharaan Allah yang dia tonjolkan. Bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita (yakni, menjadi serupa dengan Kristus dan dimuliakan, bdk. 8:28-30 dalam rangka 8:17-18) hanya layak dipercayai karena 5:6-10 ini, dan hanya akan diimani dalam kesengsaraan jika 5:5 telah dialami.

Semoga peringatan masa Natal bahwa Allah Anak menjadi manusia sejati bagi kita membangkitkan kerinduan kita untuk menerima kemuliaan Allah.


Kis 10:1-8 Doa seorang kafir yang mulai dijawab [6 Nopember 2011]

November 2, 2011

Dalam p.8 Injil sudah mulai tersebar di Samaria. Dalam p.10 ini Allah mulai mempersiapkan gereja perdana untuk keluar lebih jauh dari zona amannya, yaitu dengan bermisi kepada orang-orang yang tidak bersunat.

Penggalian Teks

Aa.1-2 merupakan pendahuluan yang memperkenalkan salah satu tokoh kisah p.10, yaitu Kornelius. Perwira pasukan (hekatontarkhes, “pemimpin 100 orang”) adalah tentara reguler yang sudah naik pangkat. Dia disebut sebagai orang yang saleh dan takut akan Allah, yang langsung digambarkan dengan prakteknya memberi sedekah dan doa. “Seisi rumah” belum tentu tertentu isteri dan anak, karena tentara Romawi tidak boleh menikah sampai pensium (yang terjadi sebelum berumur 40), kecuali yang dimaksud adalah gundik (yang bisa dinikahi dengan sah ketika tentara itu pensiun). Yang pasti termasuk adalah beberapa hamba, dan kita tidak tahu siapa lagi. Tetapi ternyata kesalehan Kornelius berdampak juga pada mereka.

Aa.3-6 menceritakan perkunjungan malaikat. Penglihatan itu terjadi ketika masih siang (terang). Jam 3 petang adalah salah satu jam doa orang Yahudi, sehingga ada dugaan (yang diteguhkan dalam 10:30) bahwa Kornelius sedang berdoa. Penampilan malaikat itu tidak digambarkan di sini (bdk. 10:30), tetapi kepada sosok yang tidak dikenal yang masuk begitu saja ke dalam rumahnya ini Kornelius, perwira yang perkasa itu, tidak melontarkan hardikan melainkan takut. Kata “Tuhan” dapat juga diterjemahkan “tuan” (kurie), tetapi bagaimanapun juga Kornelius mengakui wibawa malaikat itu. Malaikat merujuk pada doa dan sedekah dalam a.2, yang telah naik ke hadirat Allah sehingga Allah memperhatikan Kornelius. Jadi, usulan untuk mencari Petrus dalam aa.5-6 adalah cara Kornelius untuk ikut dalam respons Allah terhadapnya. Mengingat cara Tuhan memakai Petrus yang begitu luar biasa pada akhir p.9 itu, kita para pendengar cerita ini pasti menduga bahwa ada sesuatu yang luar biasa yang akan terjadi pada Kornelius. Walaupun Kornelius belum mengenal Petrus, perintah ini juga pasti membawa harapan baginya.

Aa.7-8 menceritakan bagaimana Kornelius menanggapi usul malaikat itu. Lukas memberi tekanan sedikit bahwa orang-orang di sekitarnya terlibat juga dalam proses ini, dan isi rumah Kornelius disebut-sebut dalam cerita berikut.

Maksud bagi Pembaca

Sebenarnya nas ini hanya adegan pertama dalam kisah Kornelius dan Petrus ini, sehingga tafsirannya tergantung pada tafsiran seluruh cerita. Paling sedikit, Lukas memberi gambaran yang lazim tentang kesalehan, yaitu, doa, sedekah (perhatian bagi orang miskin) dan ketaatan pada perintah Tuhan (melalui malaikat). Peristiwa ini juga menjadi penting karena Kornelius menjadi orang non-Yahudi (tidak bersunat) pertama yang menjadi percaya kepada Kristus dan menerima Roh Kudus secara jelas. Untuk memahami maksudnya dengan tepat, kita perlu menyimak akhir dari cerita ini, yaitu laporan / pertanggungjawaban Petrus kepada jemaat di Yerusalem dalam p.11. Dalam 11:14 ada tambahan dari Petrus yang tidak disebut Lukas dalam 10:5-6, yaitu bahwa Petrus “akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu”. Jadi, Lukas mau menyampaikan bahwa semua, bahkan yang paling saleh, memerlukan berita tentang Yesus untuk memperoleh keselamatan.

Makna

Dalam budaya dan agama apa saja, ada yang lebih peka terhadap soal penghormatan kepada yang layak dihormati, entah orang tua, bangsawan, atau yang ilahi. Sikap itu disebut kesalehan (eusebeia), dan adalah sesuatu yang dihargai Lukas (bdk. Lukas 1, misalnya). Namun, kesalehan juga harus dilihat dari sasarannya. Hormat kepada raja yang sah dan hormat kepada kepala gerombolan mungkin saja mirip secara psikologis, tetapi tetap berbeda sifatnya. Kesalehan Kornelius sudah dipengaruhi oleh penyataan Allah kepada Israel, tetapi kita tidak tahu sejauh mana dia hanya beribadah kepada Allah saja, atau apakah selama itu dia juga saleh terhadap berbagai dewa-dewi yang lain. Bahasa “takut akan Allah” dipakai untuk orang non-Yahudi yang telah menganut keyakinan Yahudi, tetapi juga dapat dipakai lebih luas. Yang jelas, ada doa untuk mengenal Allah atau mendapat keselamatan yang dijawab oleh Allah (10:31).

Pengalaman seperti Kornelius mewakili cerita banyak orang di kemudian hari yang mencari Allah dari dalam pemahamannya sendiri lalu Allah berkenan memperjumpakan mereka dengan Kristus. Tentu, Kristus bukan sekadar puncak dari kesalehannya. Dari sedekah dan doanya saja, Kornelius tidak tahu-menahu tentang pelayanan, kematian dan kebangkitan Kristus. Hal-hal itu harus diberitahukan (atau dijelaskan, bdk. 10:37) kepada Kornelius melalui pemberitaan Petrus. Namun, Allah bisa berjumpa dengan orang yang mencari-Nya di tengah kesalehannya, sama seperti Dia bisa berjumpa dengan seorang fanatik seperti Paulus di tengah fanatismenya (p.9). Roh Kudus tidak terikat oleh kadar inisiatif dan kelayakan manusia untuk membawa orang kepada Kristus.

Jika demikian, nas ini tidak membuktikan bahwa seseorang bisa selamat di luar Kristus. Sikap Lukas disampaikan oleh Petrus dalam nas Kis 4:12 yang terkenal itu (kecuali Lukas mau dianggap bersikap ironis terhadap tokoh utamanya, sesuatu yang tidak masuk akal). Namun, fokus Lukas bukan pada teori tentang nasib orang yang tidak mengenal Kristus, melainkan implikasi praktisnya, yaitu pentingnya misi yang keluar dari zona aman untuk menjangkau semua orang, dari Yerusalem ke Samaria hingga ke ujung bumi. Bahkan orang seperti Kornelius akan berbahagia jika berjumpa dengan Kristus dan dikaruniakan Roh Kudus.


Yeh 18:25-32 Bertobatlah dan hidup [30 Oktober 2011]

Oktober 27, 2011

Setelah menegaskan bahwa nasib satu angkatan bergantung pada angkatan itu sendiri, bukan angkatan di atasnya, nubuatan dalam p.18 ini beralih dalam a.21 ke soal perubahan di dalam satu angkatan. Intinya bahwa Allah melihat akhir dari riwayat hidup, bukan awal. Ternyata prinsip itu adalah prinsip anugerah, bukan amal. (Untuk penjelasan tentang konteks pasal ini lihat posting ini tentang Yeh 18:1-13.)

Penggalian Teks

Aa.25-29 adalah bagian dari kiasmus dalam aa.21-28: A. Orang fasik bertobat (aa.21-22) + komentar Allah (a.23); B. Orang benar berbalik dari kebenaran (a.24); C. Penilaian Allah dan Israel (a.25); B’. Orang benar berbalik dari kebenaran (a.26); A’. Orang fasik bertobat (aa.27-28) + komentar (a.29, sama dengan C, a.25). Jadi, penilaian Allah dan Israel pertama-tama menyangkut a.24 dan a.26, yaitu, orang benar yang berbalik dari kebenaran. Israel tidak setuju bahwa “segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi” (a.24). Allah menjelaskan bahwa prinsip itu setara dengan prinsip yang membawa harapan, yaitu bahwa orang fasik dapat bertobat dan hidup, tetapi Israel belum puas (a.29).

Dalam aa.25 & 29, Allah menyerang balik Israel. Mereka menilai bahwa tindakan Tuhan tidak tepat. Kata “tindakan” menerjemahkan Ibrani derek yang secara harfiah berarti “jalan”. Bukan hanya satu tindakan Tuhan yang dipersoalkan tetapi cara-Nya. Sebaliknya, Tuhan menilai tidak tepat jalan-jalan (jamak) Israel. Kata yang diterjemahkan “tepat” dipakai untuk menimbang. Jadi, Israel menuduh bahwa Tuhan main curang: orang fasik yang bertobat luput dari hukuman, sedangkan jasa orang benar yang berbalik dari kebenaran dilupakan. Semestinya, perbuatan dihitung secara rata: dosa pada awal, pertengahan dan akhir kehidupan sama bobotnya, dan sama juga perbuatan baik. Tetapi Tuhan menuduh Israel balik. Jalan-jalan mereka, cara hidup mereka, adalah main curang. Seperti banyak dijelaskan dalam kebanyakan pp.1-24, mereka menduakan Allah. Sepertinya, Israel menganggap diri sebagai orang benar yang belum berbalik dari kebenaran, tetapi sebenarnya mereka telah berbalik dari kebenaran tetapi belum “insaf” (a.28), yaitu, belum melihat [ra’ah] kondisinya yang sebenarnya.

Oleh karena itu, mereka akan dihukum (a.30). Namun, masih ada tawaran untuk Israel menempatkan diri sebagai orang fasik dan berubah haluan, berdasarkan keinginan Allah supaya mereka hidup (aa.31b-32a). Kata “bertobat” berarti kembali [syub], dan kata “berpaling dari” [syub hifil] berarti berhenti dari kedurhakaan yang membuat mereka bersalah sehingga layak dihukum. Kata durhaka menangkap unsur pemberontakan melalui pelanggaran dalam kata pesya’, sehingga bukan hanya tindakan dipersoalkan tetapi juga sikap. Makanya, Israel memerlukan hati dan roh yang baru (a.31).

Maksud bagi Pembaca

Tujuan nubuatan ini adalah supaya Israel bertobat. Kendalanya bahwa Israel menganggap diri benar, dan diancam hukuman karena dosa ayah-ayahnya. Dalam bagian awal p.18 Allah menegaskan bahwa mereka akan dihukum karena dosanya sendiri. Mulai a.21 Allah menyerang pemahaman “amal” yang mereka anut: bahwa yang penting ialah kebenaran melebihi dosa. Dosa mereka sebenarnya jauh melebihi anggapan mereka, tetapi pengampunan Allah juga jauh melebihi anggapan mereka. Jalan hidup bukan mempertahankan kebenaran diri melainkan mengaku dan berubah haluan.

Makna

Banyak anggota jemaat menganut pemahaman amal dan pemahaman pertobatan yang sempit. Pemahaman amal yang saya maksud ialah pemahaman yang seakan-akan memberi bobot terhadap setiap perbuatan baik dan jahat sehingga dapat dijumlah menjadi total yang positif atau negatif. Tentu hanya Allah yang sanggup melakukan perhitungan itu, dan dapat diharapkan ada kelonggaran, tetapi yang penting totalnya positif. Dengan demikian, dosa besar pada masa lampau sulit ditutupi, dan sebaliknya banyak perbuatan baik pada masa lampau membuat keadaan sekarang lebih aman. Gejalanya bahwa banyak anggota jemaat merasa diri cukup benar (walaupun tentu ada kelemahan-kelemahan), tetapi jika ada yang pernah membuat pelanggaran yang besar, dia tidak akan diterima untuk suatu jabatan, meskipun dia menunjukkan pertobatan yang jelas.

Dengan demikian, pertobatan dikerdilkan menjadi sebatas meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Sedangkan yang dimaksud Yehezkiel adalah berubah haluan. Hidup yang dulunya terarah pada berhala-berhala, terutama diri sendiri tetapi dalam bentuk uang, harta, gengsi dsb, menjadi hidup yang terarah kepada Tuhan. Makanya, yang dibicarakan bukan hanya tindakan tetapi juga hati dan roh. Di balik konsep pertobatan itu ada konsep anugerah. Dosa kita ternyata jauh lebih dalam dari dugaan atau pengamatan kita. Yang kita anggap sebagai dosa kecil ternyata merupakan kedurhakaan, penyataan sikap masa bodoh ataupun marah terhadap Allah. Hal itu sepertinya terlalu berat untuk dihadapi, tetapi dapat dihadapi karena Allah tidak menghitung amal melainkan menghapus dosa masa lampau.

Jika konsep anugerah dan pertobatan yang menyeluruh ditangkap, maka penilaian kita terhadap orang lain akan berbeda. Kita akan melihat bagaimana perkembangan terakhir mereka, bukan bagaimana pencitraan diri mereka selama ini. Kita akan bisa menerima diri sendiri, karena percaya pada janji bahwa orang yang bertobat akan hidup.

Mengenai a.31, penting diamati bahwa dalam 36:25-27, yang disampaikan Allah setelah hukuman pembuangan sudah jatuh atas Israel, Allah sendiri yang akan membaharui hati dan roh Israel oleh Roh Allah sendiri. Jadi, a.31 bukan usaha kita, tetapi kerja sama kita dengan prakarsa Allah dalam kehidupan kita.

Semuanya diperjelas di dalam Kristus. Kematian Kristus menunjukkan bagaimana Allah dapat dengan adil mengampuni dosa masa lampau (bdk. Rom 3:25). Oleh karena pembenaran oleh iman itu, Paulus dapat melihat ke depan, tidak lagi terbelenggu oleh masa lampaunya (lihat Filipi p.3). Kemudian, Roh Kudus dicurahkan ke dalam hati kita sehingga ada hidup baru (Roma pp.5-8).

Satu catatan lebih teknis. Dalam perikop ini, Allah berbicara pertama-tama tentang nasib Israel, apakah Israel akan mati (Yerusalem dihancurkan dan umat dibuang) atau hidup (kembali berjaya di tanah perjanjian). Yang terjadi tentu adalah Israel dibuang. Namun, ada kesadaran bahwa Israel tidak seragam, ada yang setia kepada Allah dan yang tidak setia, bahkan dalam kitab Keluaran sudah ada kitab dengan nama-nama tercatat (Kel 32:32-33). Tetapi individualisme keselamatan hanya menjadi jelas ketika pemahaman tentang kebangkitan muncul, karena dengan demikian apa saja nasibnya sekarang, orang yang setia kepada Allah akan mendapat bagian dalam dunia baru yang dijanjikan berkaitan dengan pemulihan Israel, suatu janji yang dibuktikan dan diteguhkan dengan kebangkitan Yesus. Jadi, dalam terang Kristus kita boleh, malah harus, membaca perikop ini dalam rangka keselamatan individu. Hanya, pemahaman kolektif juga layak dipikirkan. Misalnya, lembaga gerejawi yang sudah menjadi duniawi karena mengandalkan kebenaran para pendirinya perlu bertobat, supaya tidak dibuang sebagai ranting yang tidak berbuah.


Yud 1:17-23 Tiga langkah dalam menghadapi kelompok yang sesat [9 Oktober 2011]

Oktober 8, 2011

Penggalian Teks

Para penerima surat ini menghadapi sekelompok orang yang membahayakan persekutuan mereka. Tidak jelas apakah kelompok ini memegang suatu ajaran yang sesat, tetapi yang jelas adalah gaya hidup mereka. Mereka percaya pada kasih karunia Allah, dan menerima Yesus sebagai Tuhan (kurios), tetapi menganggap kasih karunia sebagai izin untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan dengan demikian menyangkal dalam tindakan bahwa Yesus adalah Penguasa. (Penguasa = despotes, yang sama seperti kurios berarti “tuan”, tetapi menyoroti kuasa mutlak tuan ada budaknya, sedangkan kurios menyoroti wibawa seorang tuan. Sepertinya kelompok ini mengagumi Yesus, tetapi tidak menganggap penting menaati Yesus.) Tentang mereka Yudas menyampaikan serangkaian peringatan (yang isinya mirip dengan 2 Petrus 2) tentang hukuman yang akan menimpa mereka. Perikop kita adalah implikasinya bagi para penerima.

Ada tiga bagian yang cukup jelas di dalamnya. Aa.17-19 mengangkat peringatan rasul-rasul tentang para “pengejek”. Artinya bahwa yang terjadi bukan kejutan karena para rasul sudah memberitahu akan demikian (berdasarkan ajaran Yesus sendiri). Aa.20-21 menyuruh mereka untuk menjaga diri. Frase utama adalah “Peliharalah dirimu dalam kasih Allah” (a.21a), dengan a.20 sebagai dasar dan a.21b sebagai tujuan. Aa.22-23 menunjukkan tanggapan yang diperlukan kepada orang yang terlibat dalam masalah ini. Terjemahan LAI memberi kesan hanya dua kelompok, tetapi sebenarnya tiga kelompok yang berbeda dialamatkan di sini, di a.22, a.23a dan a.23b (dalam bahasa asli: hous men…hous de…hous de). Jadi, yang ragu-ragu bukannya sudah atau nyaris termasuk api, tetapi ada yang ragu-ragu (a.22), ada yang dalam keadaan sangat berbahaya (a.23a), dan ada yang sudah terpola dalam dosa, barangkali para nabi palsu sendiri (a.23b).

Ketiga bagian perikop kita saling berkaitan. Dalam a.19 kelompok itu menjadi pengacau karena keinginan yang berasal dari dunia, bukan dari Roh. Makanya, di atas dasar iman itu doa dalam Roh Kudus yang diperlukan untuk bertahan dalam kasih Allah (a.20). Roh Kudus yang dapat mengubah keinginan-keinganan duniawi. Kemudian, harapan yang menyertai pemeliharaan diri dalam kasih Allah terfokus pada rahmat Tuhan dalam memberi hidup yang kekal (a.22). Rahmat, yaitu belas kasihan (keduanya menerjemahkan kata eleos), yang harus menggerakkan penerima surat Yudas dalam relasi mereka dengan orang-orang yang bermasalah.

Maksud bagi Pembaca

Yudas mau menguatkan penerima suratnya untuk menghadapi ancaman kelompok yang sesat dengan tepat. Mereka perlu mengingat ancamannya, berjaga diri, serta menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang yang dalam bahaya sesuai dengan kondisi mereka.

Makna

Bahasa LAI “Menjelang akhir zaman” dapat memberi kesan bahwa keadaan akan memburuk pas sebelum Kristus datang. Tetapi kalau begitu, perkataan para rasul itu belum berlaku bagi zaman Yudas sendiri, karena belum menjelang apa-apa. Tetapi harfiahnya “pada waktu terakhir” lebih jelas. Zaman sejak pencurahan Roh Kudus adalah “waktu terakhir” (bdk. Kis 2:17). Bersamaan dengan Injil berkembang, kefasikan juga berkembang, dan / atau menjadi lebih kentara karena perbandingan dengan buah Roh dalam jemaat.

Kelompok macam apa yang harus diwaspadai sekarang? Di atas saya mengusulkan bahwa inti masalah adalah gaya hidup mereka. Mereka mungkin saja tampak sehat, tetapi hati mereka busuk. Di dunia Barat, gereja dihebohkan oleh pelayan (pastor, pendeta, gembala) yang menggunakan kepercayaan jemaat sebagai kedok untuk melecehkan anak. Di mana saja, ada pendeta dan majelis yang dikuasai oleh keinginan akan kuasa; biasanya pemecah-belah demikian. Juga terlalu banyak cerita tentang majelis atau pendeta yang memakai uang jemaat (saldo jemaat akhir tahun; proyek) sebagai tempat pencarian. Tetapi intinya bukan pada dosa-dosa tertentu melainkan pada apa yang sebenarnya menjadi kendali kehidupan orang. Jatuh ke dalam dosa tertentu tidak sama dengan hidup dalam dosa itu.

Peringatan Yudas ialah bahwa kalau seseorang dikuasai oleh keinginan dosa, hidup dalam dosa itu, dia tidak memiliki Roh Kudus. Tetapi, dalam a.22 ada beberapa tahap. Yang ragu-ragu itu saya artikan sebagai orang yang tertarik dengan kelompok sesat tetapi belum diyakinkan. Misalnya, majelis melihat pendeta beruntung dari proyek, sehingga mulai menganggap bahwa itu cara yang mungkin baik-baik saja. Yang perlu dirampas dari api adalah yang sudah mau mengikuti kelompok sesat itu. Kedua kelompok ini belum tentu kehilangan Roh Kudus, sehingga ada usaha untuk menyelamatkan mereka. Kelompok tiga adalah yang tidak memiliki Roh Kudus.

Belas kasihan (eleos) perlu diartikan dari rahmat (eleos) Tuhan, yaitu, bertujuan keselamatan (a.21). Kelompok ragu-ragu dirangkum supaya kembali yakin akan jalan yang benar. Kelompok yang sudah jatuh hampir sampai kehancuran perlu “dirampas”. Merampas sepertinya bertolakbelakang dengan belas kasihan, tetapi, misalnya, kita melihat anak menuju api, pasti kita sampai memakai kekerasan untuk menyelamatkan anak itu dari bahaya. Jadi, belas kasihan kepada orang yang mau tersesat bisa saja menuntut cara yang akan dianggap tidak sopan, tegoran yang keras, bahkan mengucilkan, supaya orangnya menjadi sadar, bertobat, dan dengan demikian diselamatkan. Untuk kelompok tiga, relasi tetap dibuka, tetapi kita harus menjaga diri supaya kita jangan terbawa oleh pendirian mereka yang sudah bulat berkanjang dalam dosa.

Tentu belas kasihan yang demikian tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang yang sudah menerapkan aa.20-21. Iman yang paling suci tidak merujuk pertama-tama pada kualitas iman sendiri, karena yang paling suci adalah Dia yang kita imani, yakni Kristus. Tetapi jika atas dasar iman kepada yang Mahasuci itu kita berdoa dalam Roh Kristus yang Kudus (Suci), maka hidup kita akan makin suci. Kasih Allah akan memulihkan berbagai keinginan kita, dan harapan rahmat Kristus akan memperbaiki tujuan-tujuan hidup kita. Dengan demikian kita akan terjaga dari kesesatan, dan disanggupkan untuk membantu orang yang terancam sesat. Sumbernya menjadi jelas dalam aa.24-25, Allah, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus.


Zakh 4:1-14 Kuasa Allah akan mewujudkan rencana Allah [24 Juli 2011]

Juli 21, 2011

Nabi Zakharia mulai bernubuat bersamaan dengan nabi Hagai, pada tahun kedua zaman Darius, yaitu tahun 520 sM, hampir 20 tahun setelah rombongan kembali dari Babel di bawah pemerintahan raja Koresh. Kisahnya dapat dibaca dalam kitab Ezra pp.1-6, khususnya bahwa pembangunan Bait Allah mandek selama zaman Koresh (Ezr 4:5). Raja yang kemudian, Darius, ternyata pemimpin yang lebih baik, dan Ezr 5:1-2 menceritakan bagaimana pembangunan itu didorong kembali oleh nabi Hagai, nabi Zakharia, serta Zerubabel, bupati Yehuda (Hag 1:1) dan Yosua, imam besar (Hag 1:1). Bait Allah itu selesai pada tahun keenam zaman Darius (Ezr 6:15), yaitu 516 sM.

Zakharia pp.1-6 menceritakan serangkaian penglihatan yang terjadi pada tahun kedua itu, pada saat Israel harus memilih antara mencari aman atau memegang pengharapan baru setelah hampir dua dekade frustrasi. Penglihatan pertama menyampaikan murka Allah terhadap bangsa-bangsa yang tenang (1:15). Penglihatan kedua dan ketiga diringkas dalam 2:12, “Dan TUHAN akan mengambil Yehuda sebagai milik-Nya di tanah yang kudus, dan Ia akan memilih Yerusalem pula”. Penglihatan keempat dam kelima menyemangati kedua tokoh yang mau dipakai Tuhan pada saat itu, yakni Yosua (p.3, tetapi juga disinggung dalam 4:14) dan Zerubabel (p.4, perikop kita, tetapi juga disinggung dalam 3:8b). Penglihatan keenam dan ketujuh berbicara tentang penyucian umat Allah melalui penghukuman (5:1-4) dan pembuangan dosa (5:5-11). Penglihatan kedelapan merujuk pada penglihatan yang pertama, tetapi sekarang roh Tuhan tenteram. Kedelapan penglihatan ini menyampaikan rencana Allah untuk memulihkan umat-Nya, suatu rencana yang mau diwujudkan melalui Yosua dan Zerubabel itu.

Penggalian Teks

Ada tiga bagian perikop ini. Isi penglihatan disampaikan dalam aa.1-3. Penjelasan pertama, mengenai “semuanya”, terdapat dalam aa.4-7, dengan suatu komentar dalam aa.8-10. Penjelasan kedua, tentang kedua pohon zaitun, terdapat dalam aa.11-14.

Penglihatannya terjadi dalam keadaan yang mirip dengan tidur (a.1). Yang dilihat Zakharia ialah sebuah kandil dengan empat puluh sembilan suluh, tersusun di atas tujuh pelita dengan tujuh corot masing-masing. Ketujuh pelita itu tersusun di atas tempat minyak, bahan bakarnya. Minyaknya dari pohon zaitun, yang disimbolkan dengan ukiran di sebelah kanan dan kiri.

Zakharia langsung menanyakan artian dari penglihatan itu (a.4). Penjelasan yang berikut berbicara tentang Zerubabel. Kuasa yang akan menjamin bahwa Zerubabel berhasil menyelesaikan pembangunan Bait Allah ialah roh Allah, bukan kemampuan Zerubabel (a.6). A.7a menegaskan hal itu dengan suatu gambaran: gunung tidak mungkin diratakan oleh Zerubabel, tetapi akan menjadi tanah rata oleh karena kuasa Allah itu. A.7b membayangkan sorak Israel ketika Bait Allah selesai. Batu utama mungkin mirip fungsinya dengan baru peringatan pada gedung modern yang di atasnya tertulis tanggal dan tokoh yang meresmikan gedung itu. Kalau begitu, yang dinubuatkan dalam a.7 itu adalah upacara peresmian Bait Allah. Pada zaman itu batu utama sering dilapisi dengan permata dan/atau logam mulia seperti emas. Ada usulan yang menarik yang mengaitkan permata yang bermata tujuh dalam 3:9 dengan batu utama dalam a.7, dan penglihatan dalam aa.2-3 dengan ukiran pada permata/batu itu. Kalau begitu, penjelasan aa.6-7 ini lebih nyambung. Penglihatan itu menyangkut batu utama yang melambangkan penyelesaian Bait Allah. Sama seperti pelita bersumber pada minyak, terang yang dibawa oleh penyelesaian Bait Allah akan bersumber pada roh Allah melalui Zerubabel.

Komentarnya mempertegas hal-hal itu. Zerubabel yang akan menyelesaikan apa yang dulunya dia mulai (a.9a). Hal itu akan membuktikan bahwa malaikat yang berbicara dengan Zerubabel memang adalah utusan Allah, sehingga Israel juga bisa percaya pada nubuatannya (a.9b). Sikap orang yang menjadi tawar hati atau putus asa karena lamanya tidak ada perkembangan akan menemukan semangat baru (a.10a). Akhirnya, ketujuh mata yang diukir pada batu utama itu (jika tafsiran tadi tepat) menyimbolkan mata Tuhan (a.10b). Tujuh adalah angka kelengkapan atau keseluruhan, dan mata Tuhan yang disimbolkan dengan tujuh itu melihat seluruh bumi. Tidak akan ada kejutan menggoyang rencana-Nya, Dia melihat semuanya.

Pertanyaan untuk penjelasan kedua diulang dalam a.12. Cairan emas merujuk pada minyak zaitun, dan sepertinya ada sistem penyaluran memakai pipa yang sekaligus merupakan bagian dari ukiran pohon zaitun itu, bahasanya tidak terlalu jelas. Hal itu mengaitkan kedua pohon zaitun itu sebagai penyambung pelita dengan minyak zaitun. A.14 mengungkapkan maknanya: kedua pohon adalah Yosua dan Zerubabel, karena baik imam maupun raja diurapi. Merekalah yang menjadi kunci sehingga kuasa roh Allah akan menghasilkan pembangunan Bait Allah.

Maksud bagi pembaca

Intinya terdapat dalam aa.6-10, yaitu janji bahwa oleh kuasa roh Allah Zerubabel akan menyelesaikan Bait Allah. Sebuah janji bermaksud untuk mengarahkan pendengarnya, misalnya untuk hadir pada waktu yang dijanjikan atau memenuhi syaratnya. Janji ini itu tentu mau menguatkan Zerubabel, dan orang-orang Yehuda di bawah pimpinannya, untuk tetap bertekun dalam pembangunan itu. Namun, tekanan dalam a.6 mengingatkan mereka bahwa sumber sukses bukan di dalam mereka melainkan Allah.

Mengapa inti itu disampaikan melalui penglihatan yang kabur dan sulit ditafsir? Aa.5 & 13 memberi suatu petunjuk, ketika malaikat bertanya tentang ketidaktahuan si nabi. Hal itu menegaskan bahwa si nabi tidak sanggup menerobos ke dalam makna penglihatan itu sendiri (a.5). Yang dibicarakan adalah rencana Allah, dan hanya Allah yang tahu dan dapat memberitahunya. Pendengar / pembaca penjelasan Zakharia harus bekerja keras untuk menangkap maksudnya. Tetapi kerja keras itu berarti bahwa gambarannya lebih menjadi bagian kita ketika mulai dimengerti. Siapkah jemaat-jemaat Tuhan dituntun oleh pembawa firman untuk bekerja keras memahami salah satu cara Tuhan dalam dunia ini?

Makna

Gambaran pelita yang begitu banyak yang diminyaki melalui saluran dahan kedua pohon zaitun itu memberi gambaran tentang peran Zerubabel dan Yosua dalam menyalurkan kuasa roh Allah supaya Bait Allah menjadi terang di tengah Israel dan bangsa-bangsa. Pasal sebelumnya menyoroti Yosua, yang disucikan (3:4) dan dikaitkan dengan penghapusan dosa seluruh bangsa (3:9). Pasal kita menyoroti peran Zerubabel sebagai pemimpin. Dia telah meletakkan dasar dan akan meletakkan batu utama, dan seluruh umat ikut dalam jejaknya. Jelas bahwa kedua peran ini tidak bisa dilakukan oleh kuasa mereka sendiri. Namun, sebagai pemimpin mereka berperan besar dalam penyaluran kuasa Allah itu.

Jika penggenapan pertama nubuatan ini terjadi pada tahun 516 sM, ketika pembangunan selesai, penggenapan utama dapat dilihat dalam Kristus. Dia adalah Imam Besar dan Raja yang diurapi oleh Roh Kudus untuk menghapus dosa dan mendirikan Bait Allah dalam tiga hari. Hal itu berdampak pada implikasinya bagi kita. Roh Allah yang dalam pengertian LAI dipahami oleh Zakharia sebagai kuasa Allah seperti angin, sehingga ditulis dengan “r” kecil, kita pahami sebagai Roh Kudus, yang berkuasa dalam Yesus dan sekarang berkuasa bukan hanya dalam para pemimpin tetapi dalam semua orang yang berada di dalam Yesus. Pembangunan Bait Allah sebagai pusat ibadah dan pengajaran dilihat sekarang bukan dalam gedung melainkan dalam pembangunan jemaat. Melalui penggunaan karunia-karunia Roh seluruh tubuh Kristus akan dibangun bersama (seperti Efesus 4).

Jadi, semboyan dalam a.6 merujuk pada perwujudan rencana Allah dalam rangka mengadakan umat yang beribadah kepada-Nya. Sekarang hal itu mencakup penginjilan ke luar dan ke dalam, dan seluruh pembinaan jemaat. Dalam pembahasan yang meningkat akhir-akhir ini tentang caranya, jangan sampai metode mulai menjadi lebih penting daripada kuasa Roh sendiri.  


Yes 63:7-14 Mengingat kasih setia Tuhan sebagai dasar doa yang sungguh-sungguh [26 Jun 2011]

Juni 22, 2011

Israel pasca-pembuangan mengalami krisis iman. Yesaya menyampaikan janji-janji yang luar biasa, tetapi sikap Israel belum juga berubah (Yes 63:17). Sang nabi kemudian berdoa bagi umat-Nya, suatu doa yang penuh pengajaran bagi kita yang diperhadapkan dengan keadaan yang tidak jauh beda.

Penggalian teks

Dalam posting ini saya menggambarkan kitab Yesaya secara keseluruhan. Hamba Tuhan dalam p.53 adalah kunci keselamatan Sion, simbol untuk umat Allah itu, dan keselamatan itu digambarkan dalam pp.60-62, tentang Yerusalem baru yang di dalamnya hamba Tuhan memulihkan (p.61). Keselamatan itu ditopang dengan hukuman Allah terhadap bangsa-bangsa dalam 63:1-6, pas sebelum perikop kita.

Perikop kita memulai sebuah doa yang berlangsung sampai akhir p.64, dan dibalas dengan janji-janji Tuhan pada pp.65-66. Perikop kita mengingat dasar kasih setia Tuhan sebagaimana dilihat dalam sejarah keselamatan. Berdasarkan perenungan itu, Yes 63:15-64:12 membawa doa yang penuh semangat dan desakan, seperti mazmur-mazmur protes. Perikop kita menjadi lebih tajam jika kita melihatnya sebagai dasar untuk doa yang sungguh-sungguh itu.

Aa.7-9 menceritakan asal usul hubungan Tuhan dengan Israel. “Kasih setia” (khesed) mengawali dan mengakhiri a.7, dalam bentuk jamak sehingga artinya “perbuatan-perbuatan yang menyatakan kasih setia”. Kasih sayang yang dengannya kasih setia itu dinyatakan menjadi dasar permohonon dalam 63:15. Dalam aa.8-9 kasih setia itu disampaikan sebagai kisah. A.8 adalah keputusan Tuhan untuk menjadi Juruselamat sehingga berulang kali menyelamatkan mereka dari kesesakan, mulai dengan zaman Musa. Israel disebut sebagai anak-anak-Nya, yang menjadi dasar permohonan kepada Tuhan sebagai Bapa (63:16; 64:8). Kembali perasaan Tuhan digambarkan dengan kata “kasih” dan “belas kasihan”. Soal relasi disoroti, bahwa “wajah” Tuhan (diterjemahan “Ia sendiri”) yang menyelamatkan Israel. Makanya, 64:7 mengeluh bahwa wajah Tuhan disembunyikan.

Sayangnya, kisah itu menemukan titik balik yang buruk (a.10). Titik balik itu digambarkan dengan bahasa militer / politik: Israel memberontak, sehingga Tuhan berperang melawan mereka. Tetapi ada juga unsur lain, yaitu Roh Kudus Tuhan yang didukakan. Roh Tuhan telah disebut dalam 59:21 sebagai janji, dan dalam 61:1 terkait dengan pelayanan hamba Tuhan dalam rangka keselamatan (bdk. Yes 11:2), tetapi belum dalam konteks masa lampau.

Aa.11-14 menggambarkan respons Israel. “Teringat” dalam a.11 memakai kata dasar yang sama dengan “menyebut-nyebut” dalam a.7. Sang nabi mau mengingatkan Israel tentang perbuatan-perbuatan Tuhan, tetapi dalam a.11 justru permusuhan Tuhan yang menjadikan mereka sadar. Yang diingat adalah masa Musa. Pada saat itu Roh Kudus berkarya di antara mereka, khususnya di dalam mujizat-mujizat yang dilakukan melalui Musa (a.12-13a) sampai Israel mencapai tempat perhentian, yaitu tanah Israel. Terhadap karya itulah Israel memberontak, sehingga Roh Kudus didukakan. Aa.12 & 14 juga mengangkat nama Tuhan sebagai tujuan Tuhan dalam menyelamatkan Israel. Nama itu menjadi satu dasar lagi dalam doa yang berikut, karena keadaan buruk yang dialami Israel bertentangan dengan tujuan itu. Pada akhir a.14 Tuhan mulai menjadi alamat langsung (“Engkau”) untuk mengantarkan doa itu.

Maksud bagi pembaca

Bagaimana semestinya mengartikan sebuah doa? Tentu ada makna teologis di dalamnya yang harus digali, tetapi doa sang nabi direkam untuk mengajar pembaca juga bagaimana berdoa. Ketika Israel merasa dijauhi oleh Allah, Israel harus mengingat dosanya tetapi lebih lagi mengingat kasih setia Tuhan, kemudian berdoa dengan semangat supaya Tuhan bertindak. Dalam Kristus harapan Yesaya 60-62 mulai terwujud, sehingga ada jaminan akan penggenapannya ketika Kristus kembali. Namun, gereja pun sering menjadi kacau karena mendukakan Roh Kudus. Semangat rohani akan dipicu jika kita mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan itu.

Menghadapi keadaan gereja yang sering memprihatinkan, kesimpulan itu perlu digarisbawahi. Solusi bagi masalah-masalah gereja jangan diawali dengan rencana, semboyan dan kecaman, melainkan dengan mengingat kembali dasarnya: kita adalah orang berdosa yang harapan satu-satunya ialah kasih setia Allah yang diwujudkan dalam Kristus. Mengingat hal itu, mungkinkah kita akan mulai dengan doa yang sungguh-sungguh? Bukan doa formalistik, bukan semangat yang mengada-ada, tetapi doa karena hanya jika Allah bergerak maka gereja bisa kembali menjadi alat yang membuat nama yang agung bagi Allah.

Makna

Banyak yang dapat dikatakan dari perikop yang kaya ini, tetapi hanya dua akan disoroti, yaitu soal relasi dengan Tuhan dan soal Roh Kudus.

Istilah “kasih setia” biasanya merujuk pada perbuatan di dalam relasi yang melampaui kewajiban tetapi menjawab kebutuhan. Misalnya, dalam Kej 47:29 Yakub meminta supaya dikuburkan di tanah Kanaan, bersama dengan nenek moyangnya. Yakub meminta dalam konteks relasi keluarga (“setia”), tetapi permintaan itu melampaui kewajiban (“kasih”). Yakub tentu tidak bisa memenuhi permintaan itu sendiri, sehingga membutuhkan kerja sama Yusuf. Tuhan memanggil Israel dalam sebuah perjanjian, dan menyebut mereka “anak-anak” yang disayangi dan digendong, sebuah relasi yang kuat dan akrab. Dalam relasi itu Dia terus-menerus berbuat lebih dari kewajiban-Nya dalam menyelamatkan mereka dari musuh yang terlalu kuat bagi mereka. Doa yang berikut menegaskan relasi itu dengan istilah “Bapa”, dan memohon kasih setia lebih lagi, yaitu pengampunan dan pemulihan.

Roh Tuhan muncul dengan paling jelas dalam kisah keluaran Israel terkait dengan Musa dan tua-tua (Bil 11:25). Kaitan Roh dengan tangan Tuhan yang menyertai Musa mungkin dapat dilihat dalam angin dalam Kel 14:21 dan Bil 11:31, karena kata ruakh dapat berarti roh, nafas atau angin. Apakah Yes 63:11 mengatakan bahwa Roh Kudus ada juga dalam setiap orang Israel? Bahasa aslinya berarti “di tengahnya” (beqirbo, “-nya” merujuk pada Israel). “Di tengah” dapat berarti di tengah setiap orang masing-masing (tafsiran LAI), atau juga “di antara mereka” (misalnya, NIV “among them”). Dalam Bil 11:29 dikatakan dengan jelas bahwa tidak pada seluruh umat Roh Tuhan itu ada, paling sedikit dalam artian yang sama dengan Musa dkk. Oleh karena itu, saya sepaham dengan terjemahan NIV itu. Israel mendukakan Roh Kudus yang berkarya di tengah mereka melalui Musa (dan pemimpin-pemimpin berikutnya). Penting diamati bahwa Roh disebut kudus dalam a.10 ini. Pemberontakan Israel menajiskan Israel sehingga menimbulkan reaksi Tuhan.

Namun, terjemahan LAI cocok untuk kita yang hidup pasca-Pentakosta. Roh Kudus berkarya di dalam hati setiap kita. Jika kita memberontak, kita mendukakan bukan hanya kebajikan Allah yang dinyatakan dalam karya Kristus, tetapi juga belas kasihan-Nya yang dicurahkan ke dalam hati kita (bdk Rom 5:5). Hubungan Allah yang akrab dengan Israel menjadi lebih akrab lagi dalam perjanjian baru yang diadakan Yesus. Karena Roh Kudus berada di dalam kita, kekudusan yang dituntut juga lebih dalam: Paulus mengutip istilah “mendukakan Roh Kudus” dalam Ef 4:30 di tengah nasihat tentang cara berkata-kata. Perkataan yang merendahkan mendukakan Roh yang membuat kita satu (Ef 4:4); sikap hati yang kacau mendukakan Roh yang berkarya di dalam hati kita (Ef 3:16).

Tentu, mendukakan Roh berbeda dengan menghujat Roh. Dalam Mt 12:32, hujat terhadap Roh Kudus merujuk pada keadaan orang Farisi yang menafsir karya Roh Kudus dalam perbuatan-perbuatan belas kasihan Yesus sebagai karya Iblis. Hujat ini tidak akan diampuni bukan karena dosa itu ekstra jahat, melainkan karena orang yang demikian tidak akan bertobat. Mendukakan Roh Kudus dapat diampuni, ketika kita menjadi sadar dan memohon pengampunan dan pembaruan. Bahkan, kesadaran bahwa kita mendukakan Roh Kudus dapat memicu semangat untuk berdoa demi pemulihan, seperti dalam perikop Yesaya itu. Tetapi tidak ada kesadaran tentang menghujat Roh Kudus. Orang-orang Farisi itu justru menganggap bahwa mereka benar.  


Kis 2:37-40 Bergabung dengan rencana keselamatan Allah

Juni 7, 2011

Dengan pencurahan Roh Kudus karya Kristus telah siap dilanjutkan dalam pelayanan gereja. Khotbah Petrus menunjukkan bagaimana caranya orang bergabung dengan rencana Allah pada tahap baru ini.

Penggalian Teks

Bagian ini adalah puncak dari khotbah Petrus. Khotbah itu beranjak dari peristiwa Pentakosta (2:14-15), yaitu mendengar dalam masing-masing bahasa, untuk menjawab pertanyaan orang banyak, “Apakah artinya ini?” (2:12). Kata Petrus, peristiwa itu menggenapi nubuatan Yoel tentang pencurahan Roh pada akhir zaman, yang dikutip sampai dengan janji bahwa “barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan [kurios] akan diselamatkan” (2:21). Ayat-ayat berikut berbicara tentang Yesus, dan menunjukkan dari Mzm 16:8-11 bahwa kebangkitan membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias (2:22-32). Kemudian, dari Mzm 110:1 Petrus menunjukkan bahwa kenaikan Yesus ke sorga menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan (kurios; kata itu di balik baik “Tuhan” maupun “Tuan” dalam Kis 2:34).

Perikopnya sendiri merupakan tanya jawab. Orang banyak sangat terharu (a.37; harfiahnya: “tertusuk hatinya”) mendengar bahwa Yesus yang mereka salibkan (sebagai bagian dari bangsa Israel) itu dibuat Kurios dan Mesias oleh Allah (2:26). Petrus menawarkan jalan keluar dalam a.38 dengan bertobat dan dibaptis, sama seperti Yohanes Pembaptis kepada Israel di awal pelayanan Yesus (Luk 3). Baptisan diperkuat dengan tambahan “masing-masing”, yaitu, pertobatan harus ditunjukkan oleh setiap orang. Hasilnya pengampunan dan Roh Kudus, sesuai dengan janji Yoel itu (a.39). A.40 meringkas maksud Petrus yang disampaikan dengan berbagai cara, yakni supaya mereka selamat dari angkatan yang jahat, sesuai dengan janji Yoel (2:21), karena Yesus adalah Tuhan yang menyelamatkan itu.

Seruan Petrus diberkati Tuhan, dan banyak yang bertobat (2:41). Dengan kuasa Roh Kudus mereka menjadi komunitas yang tampil beda (2:42-47), suatu alternatif bagi angkatan yang jahat itu.

Maksud bagi pembaca

Maksud Petrus dalam a.40 diringkas sebagai “memberi kesaksian” (diamarturomai) dan “mengecam dan menasihati” (parakaleo). Unsur kesaksian dilihat antara lain dalam soal bukti: pendengar Petrus tahu tentang mujizat Yesus (2:22), para rasul adalah saksi kebangkitan Yesus (2:32), dan pencurahan Roh yang dialami semua pada saat itu membuktikan kenaikan Yesus ke sorga (2:33). Kata mengecam adalah tafsiran LAI dari konteks, tetapi paling sedikit Petrus menasihati pendengarnya dengan desakan yang keras. Pembunuhan Yesus menempatkan Israel sebagai angkatan yang jahat, dan mereka harus bertindak dengan tegas untuk diselamatkan (2:40).

Pertanyaan mereka dalam a. 37 menunjukkan kesadaran akan hal itu, tetapi apa yang dapat diharapkan jika Israel telah membunuh Mesiasnya? Jawaban Petrus tidak hanya mengecam tetapi juga memberi harapan. Janji Allah dalam Yoel itu masih berlaku, meskipun Israel telah berdosa. Jangankan pengampunan, karunia Roh Kudus masih ditawarkan kepada orang-orang yang siap bertobat di depan umum dengan dibaptis.

Lukas menunjukkan bahwa maksud Petrus masih berlaku bagi pembaca non-Yahudi kitab ini dalam a.39, yang menerapkan “semua manusia” dalam 2:17 kepada “orang yang masih jauh”. Bukan hanya Israel yang menyalibkan Yesus, karena tangan “bangsa-bangsa durhaka” juga terlibat (2:23). Reaksi Israel terhadap Mesiasnya hanya menunjukkan bagaimana seluruh manusia adalah angkatan yang jahat. Jadi, Yesus adalah Kurios dan Mesias bagi semua yang mau bertobat dan menerima pengampunan dan pembaruan Roh Kudus.

Makna

Apa yang dinyatakan tentang Allah dalam seruan Petrus ini? Yang pertama, rencana Allah untuk memulihkan dunia memiliki dua segi. Segi yang satu adalah hukuman. Setelah perikop yang dikutip Petrus, Yoel berbicara tentang bangsa-bangsa, yaitu bagaimana bangsa-bangsa yang melawan Allah akan dihakimi (misalnya, Yoel 3:12). Penghakiman Allah dapat dilihat sebagai cara Allah memulihkan kekacauan akibat pemberontakan manusia. Tetapi ada segi lainnya, yaitu keselamatan yang terdapat di gunung Sion, tempat Bait Allah di Yerusalem (Yoel 2:32). Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan menempatkan diri pada keselamatan itu, sehingga terlepas dari hukuman Allah. Seperti biasa dalam Alkitab ada dua pilihan pada dasarnya: tetap menjadi bagian dari dunia yang melawan Allah, atau melarikan diri ke tempat keselamatan yang disediakan Allah. Yoel 2:12-17 memberi kita satu gambaran tentang proses pertobatan itu.

Yang kedua, rencana Allah itu berpusat pada Kristus. Dalam kitab Yoel mungkin tidak jelas apakah orang dari bangsa-bangsa dapat berseru dan diselamatkan (namun jika teologi PL dilihat secara umum pasti mereka bisa, Kej 12:3; Yesaya dll). Tetapi dalam khotbah Petrus, dalam terang Kristus, rujukan Yoel menjadi jelas. Yesus adalah tempat keselamatan, sebagai tempat Allah hadir (Bait Allah) dan umat Allah yang sejati (Yerusalem). Siapa saja dari mana saja dari angkatan manusia yang jahat dapat diselamatkan—diampuni dan menerima Roh Kudus—dengan berseru kepada Yesus.

Kalau begitu, siapakah Yesus itu? Kurios dan Mesias ditafsir dalam Gereja Toraja dengan rumusan “Tuhan dan Juruselamat”. Tafsiran itu tepat, asal diingat bahwa seorang kurios memiliki hamba, bukan penyembah. Ketuhanan Yesus merujuk pertama-tama pada otoritas-Nya atas kehidupan hamba-hamba-Nya, dan bertobat pertama-tama berarti menempatkan diri sebagai hamba-Nya. Bertobat tidak hanya berarti menyucikan diri dari berbagai dosa yang menodai kehidupan kita, tetapi juga berarti memberi diri diarahkan oleh kepentingan Yesus sebagai Kurios kita. Keilahian Yesus memang penting, antara lain karena kuasa seperti itu hanya cocok untuk Allah, tetapi adalah rancu percaya pada keilahian Yesus tanpa mencari kerajaan-Nya. Karya Roh Kudus adalah membentuk komunitas yang diarahkan demikian: bersatu dan berani bersaksi.

Pada hemat saya, kelemahan gereja di Indonesia sering terdapat pada titik itu. Tentu di mana saja di dunia ada yang belum sempat mendengar penawaran Petrus yang luar biasa itu, dan ada juga yang tetap melawan atau mengabaikan Yesus. Tetapi pertobatan sering lemah karena orang berbalik kepada Yesus sekadar sebagai Allah pelindung dan Juruselamat yang dapat membantu dalam pergumulan. Hal itu memang penting, bahwa kita mengandalkan Allah. Tetapi bahwa Allah memiliki rencana, bahwa kepentingan Tuhan Yesus tidak identik dengan kepentingan diri, kurang disadari. Soal kepentinganlah yang mendorong (wakil-wakil) Israel dan bangsa-bangsa untuk membunuh Yesus, dan hampir seluruh umat untuk ikut dengan mengolok-olok dsb. Soal kepentinganlah yang membuat orang sekarang tidak segan mencemarkan diri dengan dosa, tidak peduli tentang sesama dan acuh tak acuh terhadap rencana Allah supaya semua bangsa mendengar berita keselamatan itu. Yesus dapat meyelamatkan hamba-hamba-Nya yang berseru kepada-Nya itu dari hukuman Allah terhadap kepentingan-kepentingan yang jahat itu, sehingga kita menerima Roh Kudus yang memampukan kita menjadi saksi dalam perbuatan dan perkataan (2:42-47). Dengan demikian kita menjadi bagian dari rencana keselamatan Allah, bukan lagi lawan.


Kis 1:1-5 Diberdayakan oleh Roh Kudus

Mei 25, 2011

Bagian akhir Lukas 24 tidak menyebut Roh Kudus, tetapi pada awal kitab Kisah Para Rasul Lukas mulai menyoroti peran Roh Kudus. Perintah-perintah Yesus yang disampaikan dalam Luk 24:44-49 ternyata disampaikan oleh Roh Kudus (a.2), termasuk bahwa dalam Luk 24:45 Yesus dapat membuka pikiran mereka. Kekuasaan dari tempat tinggi (Luk 24:49) dijelaskan sebagai baptisan dengan (atau dalam) Roh Kudus (a.5). Lukas 24 mengakhiri apa yang ditulis tentang karya dan ajaran Yesus sampai Dia terangkat, sebagaimana diringkas dalam aa.1-2. Tetapi a.1 sebenarnya mengatakan “mulai dikerjakan dan diajarkan”. Roh Kudus akan meneruskan misi Allah yang diemban oleh Yesus. Yesus telah menderita dan bangkit (a.3), dan Roh Kudus akan membaptis murid-murid-Nya untuk memberitakan karya keselamatan Allah itu.

Jadi, a.5 adalah fokus dalam perikop ini, karena mengantarkan satu tema penting dalam Kisah Para Rasul. Sama seperti Yesus dibaptis oleh Roh pada awal pelayanan-Nya, para murid juga akan dibaptis untuk tahap berikut. Baptisan dengan air adalah tanda pengampunan bagi orang yang bertobat, dan simbol itu tidak ditiadakan. Tetapi baptisan dengan Roh Kudus yang memampukan kita untuk menjadi alat-alat dalam misi Allah, menjadi saksi Kristus yang berani. Karena Paulus mengatakan bahwa semua milik Kristus memiliki Roh Kudus (Rom 8:9dst), penerapan dari a.5 ini bukan bahwa kita harus mencari pengalaman khusus sebagai bukti baptisan Roh, tetapi bahwa jika kita sudah bertobat maka kita memiliki kuasa yang diperlukan untuk menjadi alat misi Allah.


Luk 24:44-49 Meneruskan pelayanan Yesus

Mei 16, 2011

Injil Lukas memberi perhatian pada soal bukti tentang kebangkitan Kristus. Dalam 24:36-43 Dia harus membuktikan bahwa Dia bukan hantu (apakah mereka mengira hantu itu datang untuk membalas dendam terhadap pengkhianatan mereka?) melainkan darah dan daging. Tetapi lebih penting lagi adalah membuktikan bahwa apa yang terjadi sesuai dengan tujuan Allah mengutus-Nya, bahwa Dia tidak hanya orang yang sama tetapi juga memiliki misi yang sama.

Dia mulai dengan mengingatkan mereka bahwa sebenarnya Dia sudah memberitahu bahwa Dia harus mati dan bangkit (9:22). Salah satu kata kunci di sini adalah kata “harus” (dei), yang dalam Injil-Injil merujuk pada rencana Allah. Yesus “harus” di rumah Bapa-Nya (2:49). Dia “harus” memberitakan Kerajaan Allah di kota-kota yang lain (4:43). Tetapi kata kunci itu juga terkait dengan kata “tertulis”. Rencana Allah bukan hal yang baru muncul dengan Yesus tetapi sudah tertuang dalam PL. Dalam a.44 Yesus merujuk pada ketiga bagian Alkitab dalam pembagian orang Yahudi, yakni kitab Taurat Musa (Kejadian-Ulangan), kitab nabi-nabi (Yosua-2 Raja-raja dan Yesaya-Maleakhi) dan kitab Mazmur (sebagai kitab pertama dari semua kitab yang lain).

Yang disampaikan dalam seluruh PL adalah pertama-tama penderitaan dan kebangkitan Mesias (a.46). Memang, dalam PL ada konsep yang jelas tentang seorang raja yang akan muncul menggenapi janji Allah kepada Daud bahwa akan ada keturunan Daud di takhta Israel selama-lamanya (2 Sam 7:12-16). Buku-buku sejarah, nabi-nabi dan Mazmur semua sering menyinggung konsep ini, dan Taurat dalam beberapa aspek melihat ke depan ke raja Daud, seperti nubuatan tentang Yehuda dalam Kej 49:10. Tetapi jika kita melihat bahwa Mesias adalah wakil umat Allah, maka riwayat Yesus menjadi jelas. Dalam kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus melaksanakan pembuangan dan kebangkitan Israel. Yesaya 53 menyatakan hal itu dengan paling jelas, tetapi pasal itu sesuai dengan apa yang tersirat lebih luas. Bahkan Taurat melihat pembuangan dan pemulihan Israel, terutama dalam Ulangan 28-30, termasuk janji akan hati yang baru (Ul 30:6). Jadi, selain menggenapi beberapa nubuatan Mesianis, Yesus menggenapi seluruh nasib umat Allah sebagai wakil umat manusia. Dia mengikuti manusia ke dalam ranah maut—keterpisahan dari Allah—supaya Dia bisa merintis jalan ke ranah hidup dalam kebangkitan-Nya.

Jika Mesias diperlakukan demikian, apa respons manusia terhadap hal itu? Dalam beberapa nabi, khususnya Yes 40-66, pelayanan hamba adalah dasar pengampunan bagi umat Allah (mis. Yes 40:2). Bangsa-bangsa sebagai tujuan juga jelas dalam seluruh Alkitab. Semua bangsa akan diberkati dalam Abraham; banyak nabi melihat berkat bagi semua bangsa (mis. Am 9:12); Mazmur juga sering menyerukan semua bangsa untuk memuji nama Tuhan (mis. 117). Perhatian Allah bagi semua bangsa bukan sesuatu yang dimulai dengan Yesus, tetapi berakar dalam pemahaman tentang Allah sebagai Pencipta semesta alam. Menurut Lukas 4:16dst pelayanan Yesus memiliki dasar yang sama, yaitu sebagai hamba Tuhan sesuai Yesaya 61. Yerusalem sebagai titik tolak pemberitaan dapat dilihat dalam Yes 2:1-4, dan juga Yesaya 60, 62, di sekitar Yesaya 61 itu.

Begitulah kerangka pemahaman yang disampaikan oleh Yesus kepada mereka, yang menunjukkan bahwa Yesus yang ada di depan mereka adalah hamba Tuhan yang memberitakan kabar baik kepada orang miskin sejak awal pelayanan-Nya (Luk 4:18). Yesus membuka pikiran mereka akan rencana Allah dalam seluruh PL (a.45), tetapi juga mengingatkan mereka bahwa mereka menjadi saksi bahwa rencana Allah itu terwujud dalam Yesus. Dia akan pergi, tetapi mereka akan meneruskan pelayanan Yesus dengan berita tentang puncak dari pelayanan-Nya, yakni kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam hal itu mereka tidak akan sendirian. Sama seperti Yesus dikuasai oleh Roh Kudus, mereka juga akan menerima kekuasaan dari tempat tinggi.

Kita bukan saksi mata sama seperti mereka, tetapi perintah Yesus tentang perlunya memberitakan pertobatan dan pengampunan tidak dikaitkan dengan kesaksian mereka melainkan dengan adanya bangsa-bangsa yang belum mendengar. Jadi, dua hal dapat menghalangi gereja meneruskan kesaksian para murid itu. Yang pertama, jika pikiran belum dibuka untuk melihat bahwa pemberitaan Kristus mewujudkan rencana Allah bagi bangsa-bangsa, kita akan malas merepotkan diri dengan misi ke luar. Pertobatan dan pengampunan sepertinya sepadan dengan baptisan dan pengajaran dalam Mt 28:19-20, saluran berkat bagi bangsa-bangsa. Yang kedua, kalaupun pikiran sudah dibuka, tanpa kekuasaan dari tempat tinggi, kita tidak dapat bertahan dalam misi itu. Roh Kudus yang akan menyertai para pemberita Kristus dalam Injil Lukas. Hal itu tidak bertentangan dengan penyertaan Kristus dalam Mt 28:20, karena Roh itu Roh Kristus. Dengan penyertaan Roh Kudus, sebagaimana dilihat dalam Kisah Para Rasul, pemberita Kristus akan meneruskan pelayanan Yesus sendiri.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.