Lk 23:44-24:12 Yesus Mati dan Bangkit

April 4, 2012

Jumat Agung dan Hari Kebangkitan tentu terjadi pada hari yang berbeda, tetapi pesannya saya gabungkan karena keduanya saling berkaitan. Pada kedua hari ini kita paling berdosa jika kita merampas kemuliaan karya Kristus dengan berbicara sedikit tentang apa yang telah Dia lakukan dan banyak tentang apa yang seharusnya kita lakukan. Tentu, karya Allah menuntut respons. Tetapi, jika pengkhotbah sudah memaparkan karya Allah ini dengan jelas, apakah kita perlu membujuk-bujuk jemaat untuk menerimanya? Andaikan saya bilang, “Ada kue coklat berlapis, pakai coklat Belgia yang paling lembut, dengan kopi Toraja kualitas ekspor”, apakah perlu ditambah dengan pembujukan, “Ayo masuk, masakan kamu malas mengambilnya, tidak menghargai kerja keras isteri? Tahu dirilah!”? Bukankah memberi tahu di mana kue itu adalah cukup sebagai penerapan? Pembujukan justru menyiratkan bahwa kue itu sebenarnya kurang enak, hanya akan dimakan jika dipaksakan. Sama halnya, pada hemat saya, jika karya Kristus sudah disampaikan dengan baik; tinggal menunjukkan bagaimana caranya diterima (yakni, dengan percaya). Jika jemaat harus dibujuk, berarti pengkhotbah sendiri belum terlalu yakin akan kemuliaan dan daya tarik Yesus. Ada yang tidak suka coklat; ada juga, yang disayangkan, yang tidak suka Yesus. Tetapi kita berkhotbah atas keyakinan sendiri, bukan keraguan orang.

Penggalian Teks

Tema yang kuat dalam ketiga Injil Sinoptik ialah bahwa Yesus mati sebagai ganti orang bersalah. Hal itu terjadi secara harafiah dengan Barabas, dan juga muncul dalam pernyataan ironis para pemimpin Yahudi, bahwa Yesus menyelamatkan orang lain tetapi tidak bisa menyelamatkan diri-Nya sendiri (23:35). Lukas menitikberatkan ketidakbersalahan Yesus itu. Dia menegaskan kejahatan Barabas yang dibebaskan sebagai ganti Yesus (23:25), dan pencuri yang bertobat juga menegaskan layaknya dia dihukum mati ketimbang Yesus (23:41).

Jadi, kegelapan yang meliputi bumi selama tiga jam (44) bukanlah karena Yesus bersalah. Yesaya 60:1, salah satu janji luar biasa tentang datangnya Kerajaan Allah, berbicara tentang terang dan kemuliaan yang akan terbit, sampai matahari dan bulan tidak pernah akan surut (Yes 60:20; kata “surut” di situ dan kata “tidak bersinar” dalam Luk 23:45 sama-sama menerjemahkan kata ekleipo). Tetapi kondisi sebelumnya adalah kegelapan (Yes 60:2), seperti dikatakan Yesus sendiri setelah ditangkap (Luk 22:53). Dunia sudah sampai nadir kegelapan ketika Anak Allah yang benar disalibkan oleh umat Allah sendiri.

Dalam rangka itu, Lukas menyebutkan tabir Bait Allah terbelah dua (23:45; Injil Matius dan Markus menempatkannya setelah Yesus mati). Ada macam-macam penafsiran terhadap peristiwa itu, termasuk bahwa hal itu menyimbolkan kesedihan Allah. Tetapi, jika kita melacak semua pemakaian kata “tabir” dalam PL (Keluaran-Bilangan dan 1 Raj 6:23 dalam rangka pembangunan Bait Allah di bawah Salomo), selalu fungsinya adalah menutupi tempat maha kudus (Kel 26:33). Jadi, tafsiran bahwa Yesus telah membuka jalan masuk ke dalam hadirat Allah, seperti diuraikan dalam Ibrani 9, adalah tepat.

Makanya, Yesus menyerahkan nyawa-Nya dengan mengutip Mzm 31:6, sebuah Mazmur Daud. Dia telah melakukan tugas-Nya sebagai Mesias (anak Daud), yaitu menyelamatkan orang lain dengan tidak menyelamatkan diri-Nya. Kedua ayat berikut (23:47-48) menceritakan tanggapan dua kelompok, yang kembali menegaskan kebenaran Yesus. Kepala pasukan, wakil Pilatus yang telah menyerahkan Yesus untuk disalibkan, mengaku bahwa Yesus adalah benar. Orang banyak memukul-mukul diri. Istilah yang dipakai di sini berarti memukul dada, suatu pertanda kesedihan yang dalam bagi orang Yahudi. Istilah itu hanya dipakai satu kali lagi dalam Injil Lukas, yaitu dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Luk 18:9-14). Pemungut cukai memukul dadanya karena dia begitu sadar akan dosanya. Dia pulang dengan dibenarkan Allah, sedangkan orang Farisi tidak. Jadi, bagi Lukas, Yesus telah mati sebagai pengganti orang berdosa seperti Barabas, dan semua yang mengaku bahwa Yesus adalah benar dan dia bersalah, dapat dibernarkan (dibebaskan seperti Barabas) dan masuk ke dalam hadirat Allah yang jalan masuknya dibuka oleh kematian Yesus.

Tentu, cerita Lukas belum selesai. Perempuan-perempuan dari Galilea menyaksikan kematian Yesus (23:49), dan juga di mana Dia dikuburkan (23:55). Merekalah yang pergi pada pagi hari Minggu untuk mempersiapkan mayat-Nya. Dalam apa yang diceritakan Lukas selanjutnya, kita melihat betapa para murid Yesus belum siap untuk menerima karya Allah. Mereka termangu-mangu (24:4), bahkan tidak mau percaya (24:11). Kebangkitan Yesus adalah kejutan yang besar, sangat di luar dugaan.

Maksud bagi Pembaca

Lukas mau membawa kita untuk merasakan kegelapan kematian Yesus dan kekejutan kebangkitan-Nya, supaya kita memahami bahwa di dalam kedua peristiwa ini, keselamatan telah datang bagi semua yang akhirnya bisa percaya pada karya Allah yang mengejutkan itu (termasuk orang-orang bukan Yahudi seperti kepala pasukan itu).

Makna

Yesus telah memakai Mzm 31:6, “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku” yang berlanjut, “Engkau membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia.” Bagi Daud, doa ini adalah doa untuk dihindarkan dari maut, tetapi bagi Yesus yang mau mati, doa ini mengharapkan kebangkitan. Perbedaannya antara doa Daud dan penerapan Yesus besar: jika satu orang (seperti Daud) luput dari maut, hanya nyawanya sendiri yang diselamatkan. Tetapi jika ada orang yang merintis jalan melalui dunia maut sampai ke kebangkitan, maka banyak orang yang dapat diselamatkan. Makanya, seperti diingatkan oleh kedua malaikat kepada perempuan-perempuan itu, Yesus telah mengatakan bahwa sebagai Anak Manusia Dia harus mati bagi dosa untuk dibangkitkan pada hari ketiga (24:7). Hari ketiga adalah hari penentuan nasib dalam PL (misalnya: Kej 42:18 tentang nasib saudara-saudara Yusuf; Kel 19:11, 16 tentang nasib Israel dengan Allah; 2 Raj 20:5 (Hizkia); Est 5:1). Khususnya, pada hari ketiga Israel mengharapkan kebangkitan dari hukuman Allah (Hos 6:2). Jadi, dengan dibangkitkan, Yesus sendiri dibenarkan oleh Allah, sehingga kita ikut dibenarkan di dalam Dia. Dengan demikian, kegelapan sudah diganti oleh terang.

Selamat memberitakan kabar baik ini!


Mt 27:32-56 Raja menunaikan tugas-Nya

April 20, 2011

Perikop ini menceritakan kisah yang penuh perasaan yang tidak akan diuraikan di sini lagi. Untuk menangkap makna dari apa yang terjadi, kita akan melihat apa yang dikatakan, walaupun sebagiannya sangat ironis. Di atas semuanya adalah tulisan yang terpasang, bahwa Yesus adalah raja orang Yahudi (a.37). Apa tugas seorang raja?

Masyarakat umum yang kebetulan lewat menyumbang pemahaman mereka dalam a.40, “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu.” Bait Suci memang termasuk urusan raja. Tetapi apa gunanya raja yang tidak bisa menyelamatkan diri? Daud, anak Allah selaku raja Israel (bnd. 2 Sam 7:14; Mzm 2:7), mulai memikirkan pembangunan Bait Suci ketika “Tuhan telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling” (2 Sam 7:1), artinya, pembangunan Bait Allah adalah buah dari keselamatan yang telah dia hasilkan bagi Israel. Andaikan Yesus dapat turun dari salib secara ajaib, klaimnya mulai masuk akal. Pertimbangan itu diulang oleh imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat dalam a.42, kemudian dikuatkan dalam a.43, “Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.” Nasib Yesus sepertinya adalah bukti bahwa Allah menolak Yesus sebagai Anak-Nya. Harapan Yesus adalah harapan yang semu.

Tetapi tunggu dulu. Siapakah Yesus menurut Injil Matius? Petunjuk pertama dilihat dalam perikop ini sendiri. “Orang yang lewat” dan “menggelengkan kepala” dalam a.30 terdapat juga dalam Rat. 2:15. Pada saat itu, Bait Suci telah roboh karena serangan orang Babel pada tahun 586 sM, sehingga Yerusalem menjadi sasaran penghinaan bangsa-bangsa. Yesus di salib adalah Bait Suci yang telah roboh. Bagaimana bisa disebut “Bait Suci”? Ingat bahwa malaikat menyampaikan kepada Yusuf bahwa Yesus merupakan Imanuel, “Allah menyertai kita” (1:23). Bait Suci adalah simbol hadirat Allah; Yesus adalah wujud nyatanya. Sebagai raja Israel (Matius p.2 sudah menegaskan benarnya gelar itu) Yesus tidak mengurus Bait Suci, Dia membawanya.

Namun, masalah keselamatan itu masih mendesak. Bukankah malaikat juga menyampaikan kepada Yusuf bahwa Yesus “akan menyelamatkan umat-Nya” (1:21). Tetapi dari apa? Dari “dosa mereka”. Memang, karena penjajahan Israel sering ditafsir sebagai hukuman Allah, keselamatan dari dosa bisa saja ditafsir sebagai keselamatan dari akibat dosa, yaitu penjajahan Israel. Namun, ternyata dalam rencana Allah, perkataan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat persis benar. Untuk menyelamatkan orang lain, Yesus tidak bisa menyelamatkan diri-Nya. Sebagai Anak Allah yang membawa hadirat Allah ala Bait Suci, Yesus harus dirobohkan supaya dibangun kembali sebagai wujud nyata bahwa pemulihan umat Israel telah mulai. Dengan demikian Dia mewujudkan tugas-Nya sebagai Anak Allah, raja Israel, untuk menyelamatkan umat-Nya dari yang paling mengancam keberadaan mereka, yakni dosa mereka.

Dengan demikian, kita dapat memahami ungkapan Yesus pada salib, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (a.46) Pada salib, Yesus mengambil tempat Israel yang dibuang, sungguh ditinggalkan Allah. Mzm 22:2 yang dikutip menunjukkan bahwa hal itupun termasuk tugas Mesias. Yesus mengambil tempat umat yang berdosa untuk membebaskan mereka dari dosa itu. Hasilnya dilihat dalam aa.51-52. Tabir Bait Suci terbelah dua, menunjukkan bahwa fungsinya telah roboh, diambil alih oleh Yesus. (Ada juga yang menafsirnya dalam rangka Ibr 9:1-10, di mana tabir menunjukkan bagaimana manusia terhalang menghadapi Allah karena dosanya, tetapi halangan itu tidak ada lagi karena pengorbanan Kristus.) Orang-orang kudus bangkit, menunjukkan bahwa maut, akibat dosa, telah dikalahkan. Oleh karena itu, seorang wakil dari bangsa-bangsa dapat mengaku bahwa Yesus sungguh adalah Anak Allah (a.54). Yesus tidak hanya menjalani tugas-Nya sebagai raja Israel untuk Israel, tetapi juga untuk segenap umat manusia yang dibuang dari hadirat Allah oleh karena dosanya.


Yoh 18:38b-19:16a Kebenaran yang diungkapkan Mesias yang menderita

April 14, 2011

Injil Yohanes memberi fokus khusus ketimbang Injil-Injil yang lain pada perjumpaan antara Yesus dengan Pilatus. Pilatus tidak bodoh, dan mulai dengan alasan para pemimpin orang Yahudi yang kabur—“Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!” (18:30)—dia duga bahwa Yesus dibawa karena masalah intern bukan karena sungguh berbahaya. Walaupun mungkin semua kecuali Yesus sendiri menganggap bahwa Dia masuk ke dalam Yerusalem untuk memperjuangkan takhta Israel ala Daud, ternyata tidak ada jaringan militer-Nya atau sedikitpun yang lain terkait dengan hal itu. Ketika Pilatus bertanya tentang tuduhan politik bahwa Yesus mengklaim diri sebagai raja Yahudi, Yesus menjelaskan bahwa kerajaan-Nya bukan dari sini (18:36), melainkan terkait dengan kebenaran. Kata kebenaran (Inggris truth, Yunani aletheia) berarti apa yang sesungguhnya di balik permukaan yang kelihatan. Pilatus, dari budaya Roma yang pragmatis, mempertanyakan pernyataan Yesus. Yang berikut memperbandingan kebenaran yang disaksikan Yesus dengan pragmatisme Pilatus, kebenaran versi Yesus dan kebenaran versi Kaisar. Kebenaran versi Yesus (ala kerajaan “bukan dari dunia ini”, yakni dari Allah, 18:36) terpola oleh salib, sehingga banyak diungkapkan dengan ironi. Kebenaran versi Kaisar (kerajaan dunia, seperti Kaisar) penuh kerancuan. Tetapi yang menarik, para pemimpin Yahudi yang paling sempurna mempraktekkan pola Kaisar, dan Pilatus menjadi plin-plan di antaranya. Hal itu nampak dalam bolak-balik Pilatus: Yesus berbicara di dalam gedung, sedangkan para pemimpin Yahudi berbicara di luar gedung. Tetapi baik di dalam maupun di luar kita pembaca belajar tentang apa itu kebenaran.

Termasuk 18:28-38a, Pilatus keluar empat kali dan masuk tiga kali. Kali kedua dia keluar (tetapi kali pertama dalam perikop ini) dalam 18:38b-40. Ada dua kebenaran yang diucapkan oleh Pilatus, yakni bahwa Yesus tidak bersalah (18:38b) dan bahwa Yesus adalah raja orang Yahudi (18:39). Kedua kebenaran ini lebih dalam daripada pemahaman Pilatus. Yesus tidak hanya tidak bersalah dalam rangka memberontak, tetapi Dia adalah manusia sempurna yang siap untuk menjadi Anak Domba Allah yang tak tercacat. Yesus juga adalah raja Allah, Mesias yang diutus untuk menderita bagi umat Allah, walaupun saya duga Pilatus mengatakan hal itu untuk mengganggu para pemimpin Yahudi, bukan karena dia mengerti kerajaan Yesus. Penulis Injil melihat kedua kebenaran yang mendasari kematian Yesus itu disampaikan justru melalui wakil bangsa-bangsa, meskipun dengan tidak sadar. Sedangkan para pemimpin agama Yahudi mengungkapkan cara mereka dengan memilih seorang penyamun di atas Yesus.

Dalam 19:1-3, Pilatus masuk kembali. Dia menyuruh Yesus disesah, padahal dia baru menyatakan Yesus tidak bersalah. Kemungkinan dia berharap bahwa kebencian orang Yahudi bisa diredakan dengan Yesus disiksa, sehingga dia menganggap bahwa dia menyelamatkan nyawa Yesus. Begitulah kerancuan pola Kaisar. Namun, karakter tentara Romawi terungkap dalam perlakuan mereka kepada Yesus, sebagaimana dibahas minggu yang lalu (19:2-3). Tetapi mereka juga mengungkapkan kebenaran tentang Yesus secara ironis, yaitu bahwa Dia adalah raja.

Ketika Pilatus keluar (19:4), dia menegaskan bahwa Yesus tidak bersalah. Yesus diperlihatkan, dalam keadaan baru disesah dan sebagai raja main-mainan. Jika tafsiran tentang tujuan Pilatus untuk menyesah Yesus di atas tepat, ucapan Pilatus, “Lihatlah, manusia itu” kurang lebih berarti, “kasihan orangnya; cukup, bukan?” Tetapi oleh penulis Injil kita diajak untuk melihat kebenaran lebih dalam. Yesus adalah manusia sempurna, yang di sini terungkap baik sebagai raja yang rendah maupun sebagai manusia yang rela berkorban bagi orang lain. Yang berikut (19:5-7) memperpanjang pertengkaran antara Pilatus dengan mereka, hanya, alasan mereka dalam 19:7 belum berhasil membuat Pilatus menyerah. Walaupun istilah “anak Allah” dapat dipakai untuk raja Israel sehingga memiliki unsur politik, istilah itu akan didengar oleh Pilatus sebagai klaim keagamaan yang bukan wilayahnya.

Namun, Pilatus merasa makin terpojok (19:8). Jangan sampai Yesus memiliki hubungan dengan salah satu dewa! Jadi, Pilatus bertanya tentang asal usul Yesus yang “bukan dari dunia ini”, suatu pernyataan yang dia abaikan sebelumnya (18:37). Karena PIlatus barangkali tidak sanggup memahami jika dijawab Yesus, Yesus diam saja. Dalam kedua ayat berikut (19:10-11) ada kebenaran mendasar tentang Pilatus dan kerajaan Kaisar diungkapkan. Pilatus menganggap diri orang berkuasa. Tetapi Yesus melihat bahwa di hanya menerima kuasa “dari atas”. Pada satu segi, hal itu mengatakan bahwa Pilatus sebenarnya pesuruh saja. Ketika orang Yahudi mengancam “naik banding” ke Kaisar (19:12), Pilatus harus menyerah. Dia mau membebaskan Yesus tetapi tidak sanggup melakukannya. Pada segi yang lain, Allah sudah memiliki rencana, dan Pilatus maupun Kaisar tidak bisa bertindak di luar izin Allah.

Akhirnya PIlatus keluar untuk kali terakhir. Dalam adegan ini, sifat Pilatus dan para pemimpin Yahudi sungguh tersingkap. Jika para pemimpin Yahudi tadinya memilih kekerasan (penyamun) di atas kedamaian (Yesus), di sini mereka dengan terus terang memilih Kaisar di atas raja yang dipilih Allah (19:15). Setelah Pilatus berjuang sekeras-kerasnya, dia harus menyerah. Mengapa harus menyerah? Bukan karena dia lemah dalam karakternya, tetapi karena konsepnya tentang kebenaran salah. Dalam pola dunia, kepentingan Kaisar identik dengan kebenaran. Tidak mungkin kepentingan satu orang diangkat di atas kepentingan kaum berkuasa, sekalipun dia tidak bersalah (bnd. 11:50, dari pemimpin orang Yahudi!). Sebagai contoh, jika saya membawa motor pada jalan yang becek, dan harus memilih antara menggilas burung dengan motor tergelincir dan mungkin rusak, saya akan memilih menggilas burung, memang dengan rasa kasihan tetapi juga ungkapan, “apa boleh buat”. Begitulah Pilatus. Dia merasa kasihan, tetapi apa boleh buat.

Jadi, Yesus diungkapkan sebagai manusia sejati dan Raja umat Allah yang layak menjadi korban bagi manusia. Manusia (paling sedikit, kaum penguasa) diungkapkan sebagai kaum yang mengidentikkan kebenaran dengan kepentingan kelompok. Agama pun diungkapkan memiliki pola yang sama. Selalu dalam Injil Yohanes kita diperhadapkan dengan pilihan. Apakah kita memilih kerajaan Allah, yang menyatakan benar / salah berdasarkan kebenaran, bukan kepentingan? Meskipun jalan itu mengandaikan mengikuti Yesus dalam penghinaan dan pengorbanan, sampai Allah mewujudkan kerajaan-Nya di dunia ini juga.


Mt 27:27-31 Pelantikan Raja Israel

April 7, 2011

[Catatan untuk pelayan GT: perikopnya ternyata Mt 27:27-31, dengan maksud tema seperti di bawah, sebagaimana telah saya konfirmasi kepada salah satu anggota tim MJ. Pilatus menjadi tema minggu depan.]

Untuk menafsir kisah satu cara yang paling sering berguna adalah beranjak dari tokoh-tokoh di dalamnya. Dua tokoh yang muncul dalam perikop ini adalah Yesus dan pasukan. Yang disebut pasukan adalah cohors, sepersepuluh dari sebuah legio yang berjumlah 6.000 orang. Belum tentu 600 orang yang mengelilingi Yesus, karena istilah itu dapat dipakai untuk sebagian dari satu cohors, tetapi sepertinya semua yang bertugas pada saat itu ikut mengolok-olokkan Yesus.

Jika dilihat dari segi pasukan, kita melihat pola yang melekat pada orang di pertengahan jenjang kuasa sampai pada saat ini. Tugas mereka adalah mengamankan Yesus. Pemimpin yang ada di atas jenjang itu sudah sepakat bahwa Yesus mengancam keamanan (keamanan bangsa atau keamanan kedudukan pemimpin biasanya tidak dibedakan oleh kelompok itu), sehingga harus dibereskan. Pasukan bertugas untuk membawa Yesus ke tempat penyaliban melalui orang banyak tanpa Yesus dibunuh atau melarikan diri. Walaupun orang banyak di halaman sudah dihasut untuk meminta Yesus disalibkan (27:20), bisa saja, setahu mereka, ada pendukung Yesus di luar yang akan membuat masalah. Jadi tugas itu tetap ada risikonya.

Berhadapan dengan ketegangan, mereka bertindak seperti banyak aparat sebelum dan sesudahnya, yaitu mereka bersenang-senang dengan mengolok-olokkan seorang kecil yang ada dalam kuasa mereka. Ingat bahwa mereka adalah bawahan, pesuruh dari semua di atas mereka dalam hierarki militer. Cara untuk menyelamatkan harga diri yang tertekan oleh kedudukan itu ialah menekan orang kecil ketika ada kesempatan. Makanya, secara teratur dilaporkan bahwa ada polisi dan militer di Indonesia menyiksa tawanan (tentu oknum-oknum tertentu). Makanya, tentara AS membuat foto-foto penganiayaan teroris tersangka di penjara Abu Ghraib dan Guantánamo Bay. Bahkan pejabat kecil bisa melampiaskan stres mereka kepada orang yang ada di bawah kuasa mereka, yang dianggap sepele dan sampah. Bagi pasukan pada saat itu, tuduhan bahwa Yesus mengaku sebagai Raja Israel amat lucu. Keadaan Yesus, seorang tukang dari pelosok yang baru disesah, hanya membuktikan bahwa yang berkuasa layak berkuasa, dan yang rendah layak direndahkan. Sikap mereka terhadap kuasa dan kedudukan adalah khas sikap dunia, sampai sekarang.

Soalnya, ternyata yang mereka aniaya tidak lain dari Anak Allah.

Ternyata, menurut Mt 25:41-46 (perikop PA minggu ini), setiap orang kecil adalah wakil Yesus. Sikap kita terhadap orang kecil adalah sikap kita terhadap Yesus. Pengolok-olokan pasukan itu mengungkapkan makna dari semua peremehan dan penindasan orang kecil, yaitu penghinaan terhadap Allah sendiri.

Kemudian, bagaimana jika dilihat dari segi Sang Korban, Yesus? Jika pada baptisan-Nya Yesus diurapi sebagai Mesias, alias raja Israel, di sini baru Yesus diakui sebagai raja. Menurut penulis Injil, yaitu menurut Roh Kudus yang mengilhami penulis itu, di sini Kristus dilantik sebagai raja. Dia dipakaikan jubah ungu, dimahkotai, diberi tongkat, dan pasukan itu berlutut di hadapan-Nya. Kemudian, pelantikan itu diumumkan dengan papan di salib, “Inilah Yesus Raja orang Yahudi” (Mt 27:37). Daud juga mengalami jangka waktu yang lama antara pengurapannya dengan pelantikannya sebagai raja. Tetapi, suasananya berbeda. Daud sudah melewati masa pergumulannya ketika dilantik. Yesus dilantik pas pada puncak pergumulan-Nya. Daud dilantik atas aklamasi seluruh Israel. Yesus dilantik dalam keadaan yang serba ironis. Semua yang mengaku-Nya sebagai Mesias dan raja mengolok-olokkan-Nya. Apa yang mereka katakan persis benar, tetapi hanya Yesus mengetahuinya, dan itulah hanya oleh iman—tidak ada petunjuk sedikitpun dalam keadaan-Nya untuk membuktikan bahwa Allah berpihak pada Dia. Baru ketika Dia bangkit menjadi jelas bahwa Yesus adalah Raja Israel, bahkan Raja di atas segala raja.

Dalam perikop ini unsur kehinaan dalam pengorbanan Yesus paling ditonjolkan. Unsur itu yang menjungkirbalikkan nilai budaya yang terlalu asyik dengan hormat. Apa kita lebih mulia daripada Kristus, sehingga kita tidak sampai gengsi ini dan itu, sedangkan Kristus dilantik dengan cara begitu demi keselamatan kita?


2 Kor 10:1-11 Rasul yang membangun dengan meruntuhkan

November 8, 2010

Maksud perikop ini tidak mudah dimengerti sepintas lalu. Makanya, proses membuat amanat khotbah dapat digambarkan. Saya akan menunjukkan struktur perikop, dengan menjelaskan beberapa perkataan Paulus yang mungkin membingungkan. Struktur itu didapatkan dengan menyusun kembali kalimat-kalimat sesuai dengan induk dan anak kalimat, dan dengan memperhatikan kata-kata (atau kelompok kata dengan maksud yang mirip atau berlawanan) yang diulang. (Tentu, proses ini lebih jelas dalam bahasa Yunani, tetapi dapat dilakukan dari terjemahan yang baik.) Kemudian saya akan coba merumuskan amanat teks. Baru setelah itu, ada usulan aplikasi, pertama-tama untuk pelayan (yaitu pembaca sasaran blog ini), kemudian untuk jemaat.

Soal dekat dan jauh bermunculan dalam aa.1-2 (a.1 “berhadapan muka”, “berjauhan” [apōn], a.2 “dekat” [parōn]), dan kemudian dalam aa.9-11 (a.9 “surat-surat”, a.10 “berhadapan muka”, a.11 “berhadapan muka”, “surat-surat”, “tidak berjauhan” [kembali parōn]). Makanya, aa.1-2 dan aa.9-11 merupakan bagian awal dan terakhir. Ternyata aa.9-11 diperlukan untuk memperjelas aa.1-2. Dalam a.1 Paulus sepertinya mengaku tidak berani di hadapan mereka tetapi berani jika jauh. A.9 memperjelas bahwa sikap Paulus jika jauh disampaikan melalui surat-surat, dan dalam a.10 kita melihat bahwa yang dikatakan dalam a.1 adalah tuduhan kelompok tertentu, yaitu orang-orang yang menganggap diri rasul (11:5). Makanya, a.1 adalah perkataan ironis, yaitu maksud Paulus kebalikan dari apa yang tersurat. Dia seakan-akan mengaku tidak berani dalam a.1, tetapi sebenarnya, seperti dia katakan dalam a.11, dia sanggup menindaki kelompok “super-rasul” itu. Jika ironi Paulus sudah disadari, kita akan memperhatikan pula bahwa dalam a.1 dia mencirikan Kristus “lemah lembut dan ramah”, bukan berani. Ironi itu lebih tajam dalam bahasa aslinya. “Tidak berani” menerjemahkan kata tapeinos. Dalam budaya Yunani yang menonjolkan persaingan dalam status, kata itu biasanya dipakai untuk menghina, tetapi dalam jemaat-jemaat Paulus kata itu menjadi pujian, sehingga diterjemahkan “rendah hati”, karena Kristus menunjukkan statusnya sebagai yang setara dengan Allah dengan jalan merendahkan diri sampai pada salib (Fil 2:5-11). Ketika dia berhadapan dengan mereka, Paulus bersikap sesuai dengan Injil, yaitu rendah hati, tetapi hal itu ditafsir sesuai dengan budaya setempat, yaitu sebagai ketidakberanian.

Satu tuduhan kelompok “super-rasul” itu ialah bahwa Paulus hidup secara duniawi (a.2). Aa.3-6 merupakan satu kalimat dalam bahasa Yunani, sebagai tanggapan Paulus terhadap tuduhan itu. Paulus memakai bahasa yang paling disukai budaya persaingan, yaitu bahasa perang (a.3 “berjuang”, a.4 “senjata”, “perjuangan”, “meruntuhkan benteng-benteng”, a.5 “mematahkan”, “menawan”, “menaklukkan”). Hanya, yang diperangi bukan manusia melainkan “siasat” dan “pikiran”, yaitu “keangkuhan yang menentang pengenalan akan Allah” (a.5) dan, dalam a.6, “kedurhakaan” sebagai lawan ketaatan. Senjata Paulus tidak diperincikan di sini, tetapi dari surat-menyurat dengan jemaat di Korintus senjata itu termasuk pemberitaan salib (1 Kor pp.1-2) dan kelemahan (2 Kor 12:10; bnd. juga Ef 6:10-20). Ternyata, cara yang mendapatkan kuasa Allah untuk melawan kedurhakaan bukan dengan menonjolkan kehebatan diri sendiri (sebagai orang yang lebih tahu atau lebih rohani) melainkan dengan jalan salib. Paulus, dalam penguraian berikutnya, bermegah dalam pelayanannya yang cuma-cuma kepada mereka (11:7) dan dalam penderitaannya (11:16 dst). Hal itu tidak menutup kemungkinan untuk disiplin gerejawi; saya duga bahwa “menghukum” dalam a.6 merujuk pada dikeluarkannya kelompok “super-rasul” dari jemaat, jika jemaat di Korintus sudah kembali pada jalur yang semestinya. Tetapi hal itu harus terjadi karena jemaat di Korintus sudah diyakinkan kembali tentang jalan salib itu, bukan karena dibujuk atau dipaksa oleh wibawa Paulus.

Setelah menjelaskan dan membela cara dia berjuang, dalam aa.7-8 Paulus kembali menegaskan statusnya. Sepertinya kelompok “super-rasul” itu (atau orang tertentu di dalamnya) menganggap diri memiliki relasi khusus dengan Kristus. Paulus menegaskan bahwa dia juga adalah milik Kristus. Malah, Pauluslah yang diberi kuasa oleh Allah (a.8), sebagai rasul kepada bangsa-bangsa (Gal 2:7-9) dan pendiri jemaat di Korintus (Kis 18). Hanya, kuasa itu diberikan untuk membangun bukan meruntuhkan. Paulus meruntuhkan gagasan dan keangkuhan, tetapi demi membangun orang. Dengan selesainya penjelasan itu, Paulus siap kembali pada soal sikap berani / lemah itu untuk meyakinkan mereka bahwa, dengan cara yang sesuai dengan Injil, dia dapat tegas.

Dari keempat bagian itu (1-2; 3-6; 7-8; 9-11), bagaimana sampai suatu amanat teks? Apakah inti pokok terkait dengan sikap Paulus yang dianggap plin-plan, peruntuhan keangkuhan, kerasulan Paulus, atau maksud Paulus untuk menindak kelompok “super-rasul” itu? Untuk mencari mana yang pokok, kita harus melihat bagian mana yang menopang. Aa.3-7 menjelaskan aa.1-2, artinya bahwa keberanian Paulus dipakai untuk meruntuhkan keangkuhan, tetapi kepada orangnya sendiri dia mau rendah hati sama seperti Kristus. Hal itu tidak mengesampingkan aa.3-7. Tanpa ayat-ayat itu aa.1-2 belum terlalu dalam. Aa.9-11 mengulang dan memperjelas aa.1-2. Tinggal apakah aa.7-8 menopang bagian-bagian lain atau sebaliknya. A.8 memang mengungkapkan satu masalah inti dalam pp.10-13, yaitu penerimaan kerasulan Paulus. Namun, hal itu justru dikaitkan dengan sikap ganda Paulus, yaitu membangun (dengan kerendahan hati) atau meruntuhkan (dengan sikap persaingan yang menjatuhkan). Dalam keempat pasal ini Paulus mau membela kerasulannya, tetapi bukan demi dirinya sendiri melainkan demi suatu pemahaman tentang Injil, yang sering kita sebut teologi salib, mengikuti Martin Luther.

Jadi, perikop ini menyampaikan bagaimana Paulus menunjukkan otoritasnya sebagai rasul, yaitu dengan meruntuhkan keangkuhan manusia demi membangun jemaat. Tujuannya supaya pembaca menerima kembali kerasulannya sesuai dengan pemahaman yang sehat tentang Injil.

Penerapan untuk para pelayan hendaknya sudah jelas. Ada cara pastoral yang suka menegor jemaat karena berbagai sikap dan tindakan yang tidak baik, tetapi justru tidak membongkar pikiran dan siasat yang mendasari sikap-sikap itu. Hal itu lebih parah lagi jika pelayan merasa diri hebat karena tidak bodoh / najis / kacau seperti jemaat. Cara Paulus melihat jemaat sebagai sangat sanggup dibangun, asal pikiran dan sikap yang menghalangi dapat dirombak dengan ajaran dan teladan yang berpusat pada Kristus yang disalibkan itu.

Untuk tujuan khotbah, kita mungkin memperluas soal otoritas Paulus untuk mencakup semua penggunaan kuasa dalam jemaat. Jika ada perselisihan di jemaat, cara apa yang dipakai? Cara yang mendasari Injil salib, sehingga orang mau saling membangun dengan saling membantu memahami bagaimana kebenaran Injil perlu diterapkan dalam kasus yang diperdebatkan? Atau cara persaingan, di mana gengsi orang terbungkus dalam soal kalah menang dalam argumentasi? Apakah kubu-kubu keangkuhan dipertahankan, atau dibongkar demi kesehatan bersama jemaat? Paulus memiliki kuasa sebagai rasul Allah, tetapi dia tetap mau meyakinkan dan membangun, daripada main kuasa. Lebih lagi kita jemaat biasa.


Gal 5:16-26 Hidup oleh Roh atau daging?

Oktober 11, 2010

Dalam kitab Galatia, Paulus menguraikan mengapa Kristus dan bukan Hukum Taurat adalah sumber pembenaran di hadapan Allah (2:16), sehingga berkat Allah sampai pada bangsa-bangsa sesuai dengan janji Allah kepada Abraham (3:14). Oleh karena itu, orang beriman hidup dalam kemerdekaan (5:1). Jika demikian, apakah mereka bebas untuk hidup seenaknya? Konon ada yang menafsir kasih karunia Allah demikian, sehingga sepanjang sejarah gereja ada kecenderungan untuk menekankan hukum sebagai kerangka hidup. Dari satu segi, adalah jelas bahwa kita butuh hikmat dari Allah untuk mengetahui jalan yang baik dan yang buruk. Tetapi bagi Paulus ada sumber kebenaran (hidup yang benar) yang lain dari usaha untuk menaati aturan-aturan hukum, yaitu hidup oleh Roh Kudus (5:5). Hidup itu adalah hidup “karena iman” (atas dasar iman) dalam harapan, dan iman itu bekerja oleh (melalui) kasih (5:6). Kasih merupakan inti hukum Taurat (5:14).

Jadi, perikop kita menjelaskan peran Roh Kudus dalam membentuk kebenaran yang berpusat pada kasih. Jadi, dambaan banyak pelayan (dalam wacana, paling sedikit) untuk melihat jemaat yang hidup dalam kasih mendapat jalan keluarnya di sini.

Alurnya tidak sulit diikuti. Dalam aa.16-18 ada nasihat inti: hiduplah oleh Roh (a.16a). Secara harfiah, Paulus mengatakan “berjalanlah oleh Roh”. Tetapi jalan ini bukan jalan yang diatur oleh aturan, melainkan oleh keinginan. Ada dua sumber keinginan: daging dan Roh. Keinginan dari kedua sumber ini bertentangan (a.17). Jika saya mau berbuat jahat, Roh melawan keinginan itu dengan keinginan yang baik. Jika saya mau berbuat baik, daging melawan keinginan itu dengan keinginan yang buruk. Jadi, nasihat Paulus berarti, berpihaklah pada keinginan Roh. Jika mau berbuat jahat, carilah keinginan Roh yang berlawanan dengan keinginan itu. Jika mau berbuat baik, teguhkanlah keinginan Roh itu. Jika kita berjalan sesuai dengan keinginan Roh, kita sama sekali tidak akan menuruti keinginan daging (a.16b).

Dalam a.18 Paulus mempertegas bahwa jalan ini berbeda dari jalan hukum Taurat. Kita dipimpin oleh Roh, artinya, hidup kita tidak kacau atau tanpa arah. Tetapi pengaturannya bukan dari hukum Taurat (lebih lagi hukum yang lain yang tidak berasal dari Allah).

Dalam aa.19-21 Paulus menggambarkan perbuatan macam apa yang ditimbulkan oleh keinginan daging. Dari daftar ini jelas bahwa Paulus menggunakan kata daging secara metaforis. Hal seperti perselisihan atau kepentingan diri sendiri atau roh pemecah bukan hawa nafsu dalam tubuh melainkan hal-hal yang menyangkut hati dan akal. Kata daging merujuk pada keberadaan manusia yang lemah dan terbatas (mis. 4:14, diterjemahkan LAI dengan kata “tubuh”). Hanya, karena kondisi manusia termasuk berada di bawah kuasa dosa (3:22), kata itu menjadi cocok untuk menggambarkan keberdosaan manusia. Aturan seperti hukum Taurat gagal bukan karena aturannya tidak baik tetapi karena kelemahan manusia itu. Istilah daging merujuk pada ketidakberdayaan manusia di hadapan dosa. Hal itu dapat dilihat dalam daftar ini. Siapa memilih untuk iri hati atau amarah? Pemecah biasanya tidak sadar bahwa dia memiliki roh pemecah, karena hanya sanggup melihat kelemahan pihak yang lain. Kita memilih untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang berasal dari keinginan-keinginan ini, tetapi keinginan-keinginan sendiri terasa normal saja, sampai dari perbuatan atau akibatnya kita menjadi sadar akan apa yang telah kita perbuat. Ketika kita sadar, kita juga akan setuju dengan a.21b, yaitu bahwa hal-hal seperti itu tidaklah cocok dengan kerajaan Allah, sehingga jika kehidupan kita diwarnai oleh hal-hal ini kita tidak cocok dengan kerajaan Allah.

Sebaliknya, dalam aa.22-23 buah Roh digambarkan. Adalah menarik bahwa lawan dari perbuatan daging bukan perbuatan Roh melainkan buah Roh. Keinganan yang baik berasal dari karakter yang dibentuk Roh. Karakter itu sesuai dengan hukum Taurat (a.23b), tetapi seperti dijelaskan di atas karakter itu tidak akan dihasilkan oleh hukum Taurat oleh karena keberdosaan kita. Kasih adalah buah pertama, sesuai dengan penjelasan Paulus bahwa kasih mencakup seluruh hukum Taurat (5:14). Iman dalam 5:6 bekerja melalui kasih karena Roh membuahkan kasih di dalam kita. Roh adalah perwujudan berkat Allah yang diterima oleh iman (3:14), dan pembaruan hidup dari dalam adalah salah satu berkat itu.

Sebagai kesimpulan, Paulus mengingatkan kita tentang hakikat kita yang sebenarnya dalam Kristus, yaitu bahwa kita adalah orang yang hidup oleh Roh dan bukan oleh daging (aa.24-25). Segi bukan oleh daging digambarkan sebagai penyaliban daging. Karena Kristus mati bagi dosa, berada di dalam Kristus berarti mematikan hawa nafsu dan keinginan yang berdosa. Hal itu dilakukan dengan hidup dipimpin oleh Roh.

Menarik bahwa dalam a.26 (seperti dalam a.15) Paulus merujuk pada keadaan jemaat yang kurang damai, yaitu saling menantang dan mendengki. Di situlah ironi hidup oleh hukum. Orang berharap bahwa hukum dapat mengubah umat menjadi lebih baik. Tetapi, jika hukum Taurat tidak sampai pada akar masalah, lebih lagi hukum-hukum yang lain. Jemaat tidak akan berubah karena aturan gereja makin ketat, karena tegoran dari mimbar makin berapi-api, karena sanksi makin berat. Hal-hal itu tidak sanggup mengurangi rasa bersaing, kedengkian, pelarian kepada dukun dsb. Jemaat akan berubah karena Kristus diberitakan sedemikian rupa sehingga mereka mau menyalibkan daging dan hidup oleh Roh. Baru pada saat itu nasihat, seperti yang banyak disampaikan Paulus sendiri, akan berguna, bukan untuk mengubah hati orang melainkan untuk mengatur semangat rohani yang sudah ada.


Yoh 14:1-14 Jalan kepada Bapa

Mei 3, 2010

Kata Yesus, “Janganlah gelisah hatimu” (a.1). Padahal, besok Dia akan mati, dan Dia baru bernubuat bahwa Petrus akan menyangkal-Nya. Yoh pp.14-17 menunjukkan alasan-alasan Yesus mengapa murid-murid-Nya tidak perlu gelisah. Dalam perikop ini, yang disoroti adalah kepercayaan. “Percayalah kepada Allah, percayalah kepada-Ku.” Apa kaitannya antara percaya kepada Allah dengan percaya kepada Yesus? Hal itu yang diuraikan dalam perikop ini.

Yesus baru mengaitkan diri-Nya dengan Allah dalam rangka kemuliaan (Yoh 13:31-32). Anak Manusia (Yesus) akan dipermuliakan oleh Allah pada salib, dan Allah akan dipermuliakan dalam Yesus. Yesus juga memberitahu mereka bahwa Dia mau pergi ke tempat yang kepadanya mereka tidak bisa datang (13:33). Namun, dalam 13:36 dikatakan kepada Petrus bahwa kelak dia akan mengikuti Yesus ke sana. Tujuan dan jalan ke sana itu yang dibahas dalam bagian awal perikop ini (aa.2-6). Tujuan adalah “rumah Bapa” (a.2) atau dalam kata lain “Bapa” (a.6). Yesus pergi untuk menyediakan tempat di sana, dan Dia sendiri merupakan jalan ke sana. Cara-Nya menyediakan tempat tidak bisa lain dari salib yang segera akan Dia lalui. Cara-nya kembali dan membawa murid-murid-Nya diuraikan dalam aa.15dst, yakni dalam Roh Kudus. Jadi, jalan itu ditempuh dalam kehidupan sekarang; sebagai jalan kepada Bapa, Yesus adalah “kebenaran” dan “hidup”. Mengikuti Yesus berarti menemukan jalan hidup yang benar. Kita percaya kepada Allah sebagai tujuan, dan kepada Yesus sebagai jalan kepada tujuan itu.

Bagaimana Yesus berfungsi sebagai jalan? Jalan yang menuju ke desa belum tentu sama indahnya dengan desa itu. Tetapi Yesus tidak lain sifat-Nya dari Bapa-Nya. Dalam aa.7-9 Yesus menunjukkan eratnya hubungan antara Dia dengan Bapa-Nya. Mengenal Yesus adalah mengenal Bapa-Nya. Melihat Yesus adalah melihat Bapa-Nya. Hal itu terjadi karena Bapa di dalam Yesus dan Yesus di dalam Bapa. Yesus adalah Anak Tunggal Allah (monogenes theos) yang menyatakan Bapa (Yoh 1:18). Dia adalah jalan kepada Bapa sama seperti sinar adalah jalan untuk mengenal terang, atau perkataan (logos) adalah jalan untuk mengenal orang.

Agak sulit bagi murid-murid Yesus untuk menangkap maksud Yesus dan percaya, padahal sudah lama mereka bersama dengan-Nya. Oleh karena itu, Yesus kembali ke tema itu dalam aa.10-14. Semestinya mereka dapat melihat dalam perkataan dan pekerjaan Yesus bahwa Allah Bapa bergerak (a.10). Jika mereka tidak dapat langsung mempercayai perkataan Yesus, setidak-tidaknya pekerjaan Yesus dapat mereka percayai (a.11). Misalnya, dalam Yoh 5:19-20, Yesus sudah menyampaikan bahwa Dia mengerjakan apa yang ditunjukkan oleh Bapa-Nya, dan akan ada pekerjaan yang lebih besar, yakni membangkitkan orang mati. Dalam aa.29-30 pekerjaan itu dikaitkan dengan penghakiman terakhir: “semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya”. Tetapi, perkataan itu sudah dibuktikan ketika Yesus bersuara kepada Lazarus di dalam kuburannya dan dia hidup kembali (Yoh 11:43-44). Yesus mau supaya mereka percaya bahwa Dia di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia.

Tetapi Yesus juga mau supaya mereka percaya kepada-Nya, mengandalkan-Nya. Murid-murid Yesus juga akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berasal dari Allah Bapa dan memperlihatkan-Nya, termasuk yang lebih besar (a.12)—maksudnya, saya duga, menghidupkan kembali orang mati dengan memberitakan Yesus Sang Hidup. Mereka sanggup melakukan hal-hal itu karena berdoa kepada Yesus yang sudah pergi kepada Bapa-Nya (aa.13-14).

Ada dua kegelisahan yang dialamatkan dalam perikop ini. Yang satu menyangkut nasib kelak manusia, yang lainnya menyangkut kehidupan sehari-hari. Sudah ada tempat disediakan bagi kita bersama dengan Allah, dan sekarang ada kuasa melalui doa dalam nama Yesus untuk pergumulan hidup. Bukannya iman kristiani sekadar tentang hidup setelah mati, dan bukannya iman kristiani sekadar tentang perubahan moral/sosial sekarang.

Tetapi dua hal perlu diperhatikan, karena saya rasa banyak kepercayaan yang berurusan dengan kedua kegelisahan tadi. Yang pertama, kita percaya kepada Yesus karena Dialah yang menyatakan Allah, sehingga Dialah yang menjadi jalan kepada-Nya. Percaya kepada Allah tanpa percaya kepada Yesus adalah kerancuan. Salib dan kebangkitan Yesus membuktikan bahwa jalan itu sudah terbuka dan tujuan itu sudah terjamin. Yang kedua, kita mengandalkan Yesus bukan demi kepentingan kita melainkan demi kemuliaan Allah. Kita berdoa supaya pekerjaan-pekerjaan Allah, alias misi Allah, dapat terlaksana. Memang, misi Allah terlaksana di tengah kehidupan sehari-hari—di tengah rumah tangga, tempat kerja, pesta, sehingga tidak salah untuk berdoa tentang kebutuhan hidup. Tetapi jalan Yesus itu melalui salib, dan jalan itulah yang harus kita tempuh (bnd. Yoh 12:24-26). Belum tentu doa untuk luput dari jalan salib dapat dianggap doa dalam nama Yesus, walaupun nama itu tercantum ketika didoakan.


Yoh 19:16b-30 & 20:1-10 Kematian dan Kebangkitan

Maret 29, 2010

Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan pusat iman Kristiani. Peristiwa yang memiliki dua sisi ini memperjelas semua pemahaman gereja perdana tentang Allah dan kerajaan-Nya yang terdapat dalam PL, dan menjadi kerangka untuk teologi PB sendiri. Hal itu karena harapan PL tentang pemulihan dunia digenapi dalam kematian dan kebangkitan Kristus itu. Dalam kedua perikop kita (untuk Jumat Agung kemudian Paskah) soal penggenapan muncul dua kali. Yesus dimusuhi dan bangkit sesuai dengan isi Kitab Suci.

Soal Yesus dimusuhi muncul dengan kutipan dari Mzm 22:18 dalam Yoh 19:24 tentang pembagian pakaian Yesus. Dalam a.28 tentang Yesus haus, ayat 15 dari mazmur yang sama juga disinggung. Soal Yesus dibangkitkan sesuai dengan isi Kitab Suci muncul dalam Yoh 20:9. Tidak ada nas yang dikutip, tetapi mungkin Mazmur 22 masih dipikirkan (lihat juga posting ini). Dalam mazmur itu Daud membawa pergumulannya karena permusuhan dan kemudian pujiannya karena keselamatan dari tangan Tuhan. Yesus mengalami hal yang sama: dimusuhi musuh-musuh Allah, kemudian diselamatkan oleh Allah. Hanya, Yesus mengalaminya sampai mati dan dibangkitkan. Dia mencakup dan memaknai seluruh pengalaman PL tentang orang benar yang menderita dan dibenarkan Allah. Hal itu membawa keberanian bagi kita juga. Menderita karena kebenaran bukan pertanda kutuk, dan bukan alasan untuk malu. Kita juga dapat yakin akan pembenaran Allah, entah dalam kehidupan sekarang atau pada kebangkitan kelak.

Daud, tentu, menjadi raja Israel, dan menjadi contoh figur Mesias yang diharapkan kemudian. Kita mungkin akan membayangkan bahwa Yesus akan diakui sebagai raja ketika Dia sudah bangkit. Tetapi dalam kedua perikop ini kita melihat bahwa Yesus diakui sebagai raja ketika Dia disalibkan (Yoh 19:19-22). Pengakuan itu memang terjadi secara ironis. Pilatus mungkin hanya mau mengganggu orang Yahudi yang sudah berhasil membujuknya untuk menyalibkan Yesus. Tetapi yang tertulis di atas kayu salib itu benar. Yesus adalah raja Israel yang mengalahkan musuh-musuhnya, terutama dosa dan maut. Dia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh 1:29). Pada salib Dia ditinggikan, menjadi seperti ular Musa yang membawa pemulihan bagi setiap orang yang memandangnya (Yoh 3:14-15). Dia ditinggikan untuk menarik orang dari semua bangsa kepada-Nya (Yoh 12:23-33), dibantu (secara simbolis) oleh ketiga bahasa yang di dalamnya pengumuman itu tertulis. Ketika Dia mau mati, karya keselamatan-Nya sudah selesai (Yoh 19:30).

Jadi, kebangkitan Yesus pertama-tama berfungsi untuk membuktikan bahwa karya keselamatan Yesus memang terjadi. Murid yang dikasihi Yesus “melihat dan percaya” (Yoh 20:8). Tanpa ada kebangkitan akan sulit percaya bahwa penyaliban Yesus lain dari ribuan penyaliban yang lain yang terjadi pada zaman itu. Jadi, kebangkitan tidak bisa dilepaskan dari penyaliban. Sebagaimana dilihat dalam narasi selanjutnya, Yesus yang bangkit masih menanggung bekas-bekas penyaliban-Nya. Percaya bahwa Dia bangkit menurut isi Kitab Suci adalah percaya bahwa Dia harus mati untuk keselamatan kita, dan bahwa kita harus siap menempuh jalan yang sama sebagai pengikut-Nya.


Yoh 15:9-17 Sukacita dalam kasih

Maret 22, 2010

Pada malam sebelum Dia disalibkan, Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya untuk kepergian-Nya. Pada awal p.15 fungsi para murid dijelaskan, yaitu berbuah. Yesus memakai kiasan yang berasal dari PL tentang umat Allah sebagai pokok anggur (bnd. Israel sebagai kebun anggur dalam Yes 5:1-7). Yesus sendiri adalah pokoknya, kita adalah rantingnya. Walaupun Dia akan pergi, firman-Nya (ajaran-Nya) akan tinggal di dalam kita, sehingga melalui doa, kita dapat berbuah (berbeda dengan Israel) sesuai dengan fungsi kita sebagai murid, demi kemuliaan Allah Bapa (aa.7-8).

Perikop kita merupakan penjelasan lebih lanjut dari kiasan itu. Intinya bahwa tinggal di dalam Yesus berarti saling mengasihi. Namun, kesimpulan yang sederhana itu diberi landasan yang mendalam, dan Yesus mau supaya kita sadar atas landasan itu.

Aa.9-10 menempatkan kasih di dalam Allah sendiri. Dalam a.9, kita mengenal apa itu kasih melalui Yesus, sehingga kita disuruh untuk tinggal di dalam kasih Yesus itu. Maksudnya bahwa kita menjadi penerima kasih Yesus sebelum kita menjadi pelakunya. Namun, kasih yang kita terima dari Yesus adalah sama dengan kasih Bapa kepada Yesus. Seperti biasa dalam Injil Yohanes, Kristus mencerminkan (membawa, meneruskan) sifat Allah Bapa, dalam hal ini sifat kasih. Hal itu sesuai dengan Yoh 1:1, bahwa Kristus adalah Firman Allah, atau dalam kata lain, Yoh 1:18, bahwa Kristus adalah Anak Tunggal Allah yang menyatakan Bapa-Nya. Saling mengasihi bukan soal berbagi dalam kasih manusia, melainkan berbagi dalam kasih Allah.

Jika dalam a.9 Yesus adalah Anak yang menyatakan Allah, dalam a.10, Yesus adalah manusia yang menjadi teladan kita dalam hal ketaatan. Cara untuk tinggal dalam kasih Yesus atau Bapa adalah menuruti perintah-perintah-Nya (bentuknya jamak dalam bahasa aslinya). Yesus menjadi teladan menaati Bapa, yang kita ikuti dengan menaati Yesus. Ketaatan itu menggenapkan aliran kasih. Kasih mengalir dari Bapa kepada Yesus kepada kita, dan mengalir balik dengan kita menuruti perintah Yesus yang menuruti perintah-perintah Bapa. Menurut a.11, lingkaran kasih dan ketaatan itu membawa sukacita untuk Yesus, dan tujuan dari ajaran ini ialah supaya kita juga berbagian dalam sukacita itu. Jika kita tidak menerima kasih Yesus, dan / atau tidak menuruti perintah-perintah-Nya, kita memutuskan lingkaran itu dan kehilangan sukacita.

Jika dalam a.9 kita tinggal di dalam kasih Yesus, dalam a.12 baru kita menjadi pelaku kasih Yesus. Perintah dalam a.12 berbentuk tunggal, sehingga kasih merupakan bentuk tunggal dari perintah-perintah dalam a.10. Ketaatan supaya tinggal di dalam kasih Kristus ternyata berbentuk kasih. Aliran kasih (Bapa kepada Yesus kepada kita) diteruskan kepada sesama, dan penerusan itu sekaligus merupakan ketaatan yang menggenapkan lingkaran kasih / ketaatan tadi.

Adakah perbedaan antara berbicara tentang kasih Allah (seperti banyak agama dan filsafat) dan berbicara tentang kasih Yesus? Dalam a.13 ada. Besoknya Yesus akan memberikan nyawa-Nya bagi murid-murid-Nya. Hal itu memberikan gambaran yang sangat tajam tentang kasih, baik kasih Allah kepada kita maupun kasih kita kepada sesama. Kasih itu bukan basa-basi saja.

Dengan menggunakan kata “sahabat” pada akhir a.13, Yesus masuk ke dalam penjelasan tentang sifat relasi-Nya dengan murid-murid-Nya. Yang sudah disampaikan luar biasa implikasinya, bahwa murid-murid Yesus akan berbuah demi kemuliaan Allah, bahwa tujuan itu akan tercapai dengan lingkaran kasih ilahi antara Allah Bapa dan Anak diperbesar untuk mencakup manusia. Mengapa kita diberitahu semuanya itu? Yesus menjawab dengan istilah sahabat itu. A.14 menegaskan bahwa istilah ini tidak membuat kita setara dengan Dia. Kaum sahabat Yesus adalah sama dengan kaum penerima kasih-Nya, yaitu yang menuruti perintah-Nya. Tetapi penyampaian Yesus membuktikan bahwa kita bukan sekadar pesuruh, melainkan mitra dalam rencana Bapa (a.15).

Aa.16-17 menyimpulkan pembahasan sejak a.1 tentang identitas murid-murid Yesus. Kita dipilih oleh Yesus, artinya bahwa Yesus yang menentukan agenda kita. Seandainya kita memilih Yesus, artinya bahwa Yesus menjadi bagian dari agenda kita, seperti konon banyak orang Toraja dulu-dulu yang memilih Yesus karena kekristenan dianggap cocok dengan dunia modern. Sebaliknya, Yesus memilih kita untuk agenda Dia, yaitu berbuah. Sekali lagi, agenda itu akan digenapi melalui doa. Dalam a.17 ujungnya diulang: semuanya akan terwujud dalam kasih kepada sesama.

Menurut adat lama Toraja (aluk), orang mengalami kehidupan ilahi dalam ritus-ritus tertentu, seperti ritus maro yang di dalamnya banyak orang kerasukan deata (roh, ilah) sehingga menjadi to ma’langi’ (“orang langit”; Volkman Feasts of Honor hlm. 55, di daerah Sesean tahun ’70an). Orang juga mau menjamin kesuburan melalui ritus dan melalui menghindar dari pemali (tabu). Kedua tujuan itu mungkin merupakan dua kerinduan terbesar yang mau dipenuhi oleh sebuah agama. Dalam Yohanes 15, keduanya tercapai dalam kasih. Saling mengasihi atas dasar menerima kasih Kristus adalah mengalami kehidupan ilahi. Saling mengasihi adalah berbuah. Jika kita adalah sahabat Yesus yang dipilih-Nya, mari kita memenuhi kedua kerinduan itu sesuai dengan ajaran-Nya, sehingga sukacita kita penuh dan Allah Bapa dimuliakan.


Luk 9:43b-45 Mendengar pesan yang sulit didengar

Februari 15, 2010

Sebelum perikop ini, salah satu mujizat Yesus diceritakan yang membuat semua takjub karena kebesaran Allah (Luk 9:43a). Takjub bagaimana Allah melalui Yesus dapat menghapus penderitaan seorang manusia, membuat seorang anak yang dalam keadaan kacau karena roh jahat menjadi anak yang sembuh. Sisi itu dari pelayanan Yesus sangat populer sampai sekarang. Dalam jiwa kita mengingat (dari taman Eden) bahwa keadaan manusia semestinya penuh kebahagiaan dan sukacita. Hal itu memang dijanjikan dalam dunia yang baru, tetapi kita berharap bahwa iman kita bisa menjamin hal serupa dalam dunia sekarang.

Minggu-minggu sengsara, sesuai dengan namanya, membawa pesan yang lain. Membangun Jemaat mengangkat serangkaian bacaan yang akan mengupas makna pengorbanan Yesus. Minggu ini sederhana tetapi cocok sebagai pengantar untuk mengarahkan kita. Intinya adalah pertentangan antara harapan manusia dengan rencana Allah. Dalam a.43b “semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya”. Kita biasanya puas jika jemaat atau masyarakat heran atau takjub kepada Allah. Tetapi bagi Yesus ada segi lain yang harus disampaikan. Hal itu penting, karena Yesus mengantarkan pemberitahuan-Nya dengan seruan untuk menaruh perkataan-Nya ke dalam telinga (a.44a, artian harfiahnya). Pemberitahuan ini akan sulit ditangkap, sehingga perlu perhatian yang sungguh-sungguh.

Pemberitahuan ini merupakan yang kedua dalam Injil Lukas, dan isinya sangat ringkas. Dalam Luk. 9:22 Yesus sudah memberitahu mereka bahwa “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kali ini hanya dikatakan bahwa “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Hal itu menangkap satu segi yang paling sulit dibayangkan, yaitu bahwa utusan Allah, Mesias-Nya, tidak akan berjaya melainkan akan jatuh ke dalam kuasa manusia. Jika Luk. 9:23 masih berlaku, yaitu bahwa pengikut Yesus “harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”, maka jalan dikuasai manusia daripada menguasai manusia tidak dapat dihindari. Mengenai hukuman Allah, kita akan melihat bahwa Yesus menggantikan kita, tetapi mengenai cara hidup kita di bumi, Yesus merintis jalan yang harus kita tempuh. Ternyata, untuk pengikut Yesus bukan saja kita belum luput dari penderitaan umum dunia ini, tetapi juga kita harus memilih jalan seperti Yesus yang akan membawa kita ke dalam penderitaan di bawah tangan manusia.

Murid-murid Yesus tidak mengerti, dan belum sanggup mengerti, dan tidak berani bertanya untuk mengerti. Mereka seperti orang yang di bawah sadar tahu bahwa sesuatu mengancam cita-citanya, sehingga di bawah sadar memilih untuk tidak tahu. Perikop berikut menunjukkan satu segi dari cita-cita mereka, yaitu siapakah yang akan terbesar (a.46). Sepertinya, mereka asyik dengan kebesaran Allah, tetapi tuli terhadap jalan rendah yang ditempuh utusan Allah. Hanya pencurahan Roh Kudus setelah kebangkitan Yesus yang memampukan mereka untuk mengerti (bnd. Kis. 5:41, “Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus”).

Gereja Indonesia berasal dari gereja Eropa yang berabad-abad berjaya di masyarakat Eropa. Katanya, dalam sejarah Indonesia juga gereja tidak segan bermain politik untuk mempertahankan kedudukan. Ketika gereja terbakar, anggota gereja dibunuh, izin membangun dipersulit, kita harus mengingat bahwa Allah menempatkan kita di bawah kuasa manusia, sama seperti Yesus. Rencana Allah dikerjakan bukan melalui kejayaan gereja (yang sering menjadi sejahat penguasa yang lain), melainkan melalui kerendahan pengikut-pengikut Kristus.

Lebih lagi di dalam gereja, kerendahan adalah jalan yang perlu ditempuh. Ketika perkataan Yesus tidak masuk ke dalam telinga para murid, yang masuk di antara mereka adalah pertengkaran. Ancaman terbesar terhadap gereja bukan perlawanan dari luar melainkan perebutan hormat dan kuasa di dalam. Semoga pada minggu-minggu sengsara ini kita menjadi sanggup mendengarkan pesan Yesus ini, dan makin rindu bersekutu dengan Dia pada jalan yang Dia tempuh.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.