Luk 9:43b-45 Mendengar pesan yang sulit didengar

Februari 15, 2010

Sebelum perikop ini, salah satu mujizat Yesus diceritakan yang membuat semua takjub karena kebesaran Allah (Luk 9:43a). Takjub bagaimana Allah melalui Yesus dapat menghapus penderitaan seorang manusia, membuat seorang anak yang dalam keadaan kacau karena roh jahat menjadi anak yang sembuh. Sisi itu dari pelayanan Yesus sangat populer sampai sekarang. Dalam jiwa kita mengingat (dari taman Eden) bahwa keadaan manusia semestinya penuh kebahagiaan dan sukacita. Hal itu memang dijanjikan dalam dunia yang baru, tetapi kita berharap bahwa iman kita bisa menjamin hal serupa dalam dunia sekarang.

Minggu-minggu sengsara, sesuai dengan namanya, membawa pesan yang lain. Membangun Jemaat mengangkat serangkaian bacaan yang akan mengupas makna pengorbanan Yesus. Minggu ini sederhana tetapi cocok sebagai pengantar untuk mengarahkan kita. Intinya adalah pertentangan antara harapan manusia dengan rencana Allah. Dalam a.43b “semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya”. Kita biasanya puas jika jemaat atau masyarakat heran atau takjub kepada Allah. Tetapi bagi Yesus ada segi lain yang harus disampaikan. Hal itu penting, karena Yesus mengantarkan pemberitahuan-Nya dengan seruan untuk menaruh perkataan-Nya ke dalam telinga (a.44a, artian harfiahnya). Pemberitahuan ini akan sulit ditangkap, sehingga perlu perhatian yang sungguh-sungguh.

Pemberitahuan ini merupakan yang kedua dalam Injil Lukas, dan isinya sangat ringkas. Dalam Luk. 9:22 Yesus sudah memberitahu mereka bahwa “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kali ini hanya dikatakan bahwa “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Hal itu menangkap satu segi yang paling sulit dibayangkan, yaitu bahwa utusan Allah, Mesias-Nya, tidak akan berjaya melainkan akan jatuh ke dalam kuasa manusia. Jika Luk. 9:23 masih berlaku, yaitu bahwa pengikut Yesus “harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”, maka jalan dikuasai manusia daripada menguasai manusia tidak dapat dihindari. Mengenai hukuman Allah, kita akan melihat bahwa Yesus menggantikan kita, tetapi mengenai cara hidup kita di bumi, Yesus merintis jalan yang harus kita tempuh. Ternyata, untuk pengikut Yesus bukan saja kita belum luput dari penderitaan umum dunia ini, tetapi juga kita harus memilih jalan seperti Yesus yang akan membawa kita ke dalam penderitaan di bawah tangan manusia.

Murid-murid Yesus tidak mengerti, dan belum sanggup mengerti, dan tidak berani bertanya untuk mengerti. Mereka seperti orang yang di bawah sadar tahu bahwa sesuatu mengancam cita-citanya, sehingga di bawah sadar memilih untuk tidak tahu. Perikop berikut menunjukkan satu segi dari cita-cita mereka, yaitu siapakah yang akan terbesar (a.46). Sepertinya, mereka asyik dengan kebesaran Allah, tetapi tuli terhadap jalan rendah yang ditempuh utusan Allah. Hanya pencurahan Roh Kudus setelah kebangkitan Yesus yang memampukan mereka untuk mengerti (bnd. Kis. 5:41, “Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus”).

Gereja Indonesia berasal dari gereja Eropa yang berabad-abad berjaya di masyarakat Eropa. Katanya, dalam sejarah Indonesia juga gereja tidak segan bermain politik untuk mempertahankan kedudukan. Ketika gereja terbakar, anggota gereja dibunuh, izin membangun dipersulit, kita harus mengingat bahwa Allah menempatkan kita di bawah kuasa manusia, sama seperti Yesus. Rencana Allah dikerjakan bukan melalui kejayaan gereja (yang sering menjadi sejahat penguasa yang lain), melainkan melalui kerendahan pengikut-pengikut Kristus.

Lebih lagi di dalam gereja, kerendahan adalah jalan yang perlu ditempuh. Ketika perkataan Yesus tidak masuk ke dalam telinga para murid, yang masuk di antara mereka adalah pertengkaran. Ancaman terbesar terhadap gereja bukan perlawanan dari luar melainkan perebutan hormat dan kuasa di dalam. Semoga pada minggu-minggu sengsara ini kita menjadi sanggup mendengarkan pesan Yesus ini, dan makin rindu bersekutu dengan Dia pada jalan yang Dia tempuh.


Pemberitahuan pertama sampai ketiga penderitaan Yesus

Maret 4, 2009

Perikop yang dipilih dalam Membangun Jemaat untuk keempat minggu sengsara yang pertama adalah ketiga kali Yesus memberitahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan menderita dan dibunuh. Tiga kali dalam empat hari Minggu? Ya, kali kedua diambil dari Injil Markus (9:30-32) kemudian dari perikop yang sejajar dalam Injil Matius (17:22-23).

Jadi, empat minggu berturut-turut sepertinya pendeta Gereja Toraja diharapkan mengkhotbahkan hal yang sama, yaitu penderitaan Kristus, pembunuhan dan kebangkitan Yesus. Variasi isi hanya menyangkut detilnya (tetapi ada, seperti baru kali ketiga campur tangan orang non-Israel disebut).

Mengapa ada tiga kali pemberitahuan dalam Injil Matius dan Markus? Yang pertama, hal itu menegaskan bahwa Yesus tahu nasib-Nya, sehingga jelas bahwa Dia menderita dengan rela, bukan secara terpaksa.

Yang kedua, dengan demikian Yesus menjadi teladan utama dari ajaran-Nya tentang kemuridan. Dalam Matius pp.16-20 (yang sejajar dengan Markus pp.8-10) Yesus meninggalkan keramaian pelayanan di Galilea untuk mengajari murid-murid-Nya tentang bagaimana caranya mengikuti-Nya. Tidak kebetulan saja bahwa ketiga kali pemberitahuan terjadi di dalam bagian ini. Setiap kali pemberitahuan Yesus menjadi dasar untuk ajaran kepada murid-murid-Nya yang belum memahami implikasi mengikuti Mesias yang menderita.

Kali pertama, Mt 16:21, sudah saya bahas, dan dengan tepat disambung dengan 16:22-28. Jika kita dipanggil untuk memikul salib dan kehilangan nyawa, kita tahu bahwa Yesus sudah memikul salib-Nya, dibunuh lalu dibangkitkan. Kita hanya ikut dalam jejak-Nya.

Kali kedua, Mt 17:22-23 didahului dengan perkataan tentang iman. Jadi, iman yang dimaksud adalah iman yang dapat melihat kebangkitan di balik salib, yang mengimani perkataan Yesus dalam 16:25 itu. Nas itu kemudian diikuti dengan peristiwa yang menegaskan bahwa para murid adalah anggota Kerajaan Allah (17:24-27). Tetapi pertanyaan dalam 18:1, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?”, menunjukkan bahwa para murid belum memahami cara berstatus dalam Kerajaan Allah. Kebesaran dicapai melalui kerendahan—serendah seorang anak, sama seperti kebangkitan Sang Raja dicapai melalui kematian pada salib—kematian yang terhina.

Kali ketiga, Mk 10:32-34 (sejajar dengan Mt 20:18-19), didahului dengan ucapan Yesus (10:31) tentang penjungkirbalikan dalam Kerajaan Allah. Yang terakhir (disalibkan) memang menjadi yang terdahulu (bangkit), dan murid-murid-Nya harus mengingat hal itu ketika memikirkan upah Kerajaan Allah (topik pembahasan dalam 10:28-30). Kemudian, ada murid mencari pangkat, yaitu duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus (seakan-akan mau menjadi “wakil Mesias”). Pangkat tidak identik dengan status. Pangkat menyangkut kuasa dan tanggung jawab, sedangkan status menyangkut tingkat kehormatan di depan orang. Jadi, Yesus menegaskan bahwa berkuasa berarti melayani, tentu berdasarkan teladan-Nya sendiri (a.45).

Dengan demikian, cara Yesus mendirikan Kerajaan Allah—penderitaan, kematian dan kebangkitan—berimplikasi sangat mendasar bagi kehidupan kita, yaitu cara beriman, mencari status, dan menggunakan kuasa. Semoga fokus pada Yesus dalam keempat minggu ini membawa para pendengar di GT untuk menghayatinya dengan kemuridan yang demikian.


Mt 16:21-28 Misi secara misi Yesus

Februari 20, 2009

Perkataan Yesus tentang menyangkal diri, memikul salib dsb mengganggu. Sebagai manusia kita mencari yang aman, nyaman dan nikmat. Kita juga mencari ilah yang bisa menjamin hal-hal itu, alias dewa pelindung.

Soalnya, dunia itu rusak. Kesetiaan kepada Allah dalam dunia yang demikian melibatkan penderitaan. Mencari aman adalah menghindari kenyataan.

Tetapi, bukankah Yesus adalah Mesias? Demikian pengakuan Petrus pas sebelum awal perikop ini. Harapan PL adalah kehancuran semua perlawanan terhadap Allah sehingga umat-Nya berbahagia dalam dunia yang baru. Jika ada masa penderitaan, bukankah itu hanya seketika, sampai Kerajaan Allah terwujud dan berjaya?

Ternyata jalan Yesus menuju kemuliaan adalah melalui penderitaan dan kematian, baru kebangkitan (a.21). Dari beberapa penjelasan kemudian (seperti Mt 20:28 dan Mt 26:26-28) kematian-Nya terjadi supaya jalan keselamatan terwujud dari kehancuran perlawanan itu melalui pengampunan dosa. Kerusakan manusia begitu dahsyat sehingga tidak ada jalan lain untuk manusia luput.

Petrus mewakili kekagetan kita bahwa Allah hanya dapat mengalahkan kejahatan melalui penderitaan yang begitu berat (a.22). Tetapi bukan hanya Mesias yang harus siap menderita. Pengikut-pengikut-Nya harus mengikuti-Nya dalam jalan penderitaan itu. Cita-cita untuk berjaya menurut ukuran dunia ini harus diganti dengan kerelaan untuk memikul penderitaan dan penghinaan sama seperti Yesus (a.24). Menyangkal diri dan memikul salib terjadi karena melawan dosa dalam diri, karena melawan dosa dalam orang lain, dan karena mengasihi sesama korban dosa.

Alasan untuk nasihat yang tidak nyaman ini disampaikan dalam aa.25-27. Sebenarnya, Yesus mendukung pemahaman PL, malah dalam a.27 Dia sebagai anak manusia (bnd. Dan 7:13-14) yang akan melaksanakan hukuman Allah. Sehingga yang sesungguhnya paling aman ialah yang setia kepada Yesus, walaupun dia kehilangan segalanya pada zaman ini. Seperti kata Paulus, “kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Rom 8:17)

Jadi, Allah bukan dewa pelindung tetapi Allah yang bermisi. Misi Allah melalui Yesus hanya dapat terwujud melalui penderitaan, dan misi Allah melalui pengikut Yesus tidak akan lain. Bergabung dengan misi-Nya bukan hanya yang aman, tetapi dalam anugerah Allah menjadi jalan untuk memperoleh hidup.


Mrk 10:13-16 Makna menjadi seperti anak

September 12, 2008

Mengapa murid-murid Yesus memarahi orang yang membawa anak-anaknya? Pembaca Injil langsung teringat akan pasal sebelumnya. Setelah Yesus memberitahu (untuk kedua kalinya) bahwa Dia akan mati baru bangkit, murid-murid-Nya bertengkar soal status. Yesus menjawab dengan menempatkan diri dengan seorang anak (9:37). Hadirat-Nya bukannya ditemukan dalam yang dianggap agung melainkan dalam yang kecil. Status dalam Kerajaan Allah berlaku lain dari dunia. Allah disambut dengan menyambut utusan-Nya Yesus, yang disambut dengan menyambut anak kecil.

Seperti biasa, para murid sudah lupa akan pelajaran Yesus. Daripada menyambut anak dalam nama Yesus, mereka menolaknya. Barangkali mereka menegor orang-orang itu dengan keras karena Yesus berstatus terlalu tinggi untuk direpotkan dengan anak-anak kecil (dan bukankah status mereka bergantung pada status Yesus?).

Kelupaan mereka akan hal yang begitu pokok menjadikan Yesus marah. Soalnya, Dia juga sudah mulai menegaskan kepada mereka pentingnya pertobatan yang sejati supaya masuk ke dalam hidup alias Kerajaan Allah daripada neraka (9:43-48). Ajaran itu juga didahului dengan peringatan agar jangan menyesatkan “salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini” (9:42), yang mulai menempatkan murid sebagai anak kecil. Soal menjadi seperti pelayan dsb bukan sesuatu yang sepele saja.

Oleh karena itu, Yesus memperluas gambaran-Nya tentang anak. Dalam ayat 9:37 menyambut anak adalah menyambut Allah, tetapi di sini menjadi anak adalah menyambut (Kerajaan) Allah. Anak berstatus rendah karena bergantung sepenuhnya, sehingga menjadi cocok sebagai gambaran manusia yang tidak berdaya untuk menyelamatkan diri (bnd. 10:45). Saya duga contoh konkritnya terdapat dalam cerita berikut. Seorang kaya mencari hidup yang kekal, tetapi tidak sanggup melepaskan kebergantungan pada hartanya supaya bergantung pada Allah seperti anak kecil bergantung pada orang tuanya. Atau mungkin dia tidak mau melepaskan statusnya sebagai orang kaya untuk menjadi rendah seperti anak kecil. Atau kedua-duanya! Alhasil, kekayaannya menjadi tangan, kaki atau mata yang menyesatkan tetapi tidak dipotong (9:43-48), sehingga dia tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Kemudian Yesus memeluk dan memberkati anak-anak itu. Dengan demikian Dia sendiri menyambut anak kecil, sekaligus memeperlihatkan sikap Ayah-Nya kepada semua yang menyambut Kerajaan-Nya seperti anak kecil.

Jika seandainya ada jemaat yang mengadakan pelayanan sekolah minggu yang asal-asalan dan kurang lebih alasannya supaya anak tidak mengganggu orang tua di kebaktian, apakah hal itu akan menunjukkan hati jemaat yang tidak mau menjadi pelayan kepada yang rendah? Bukan hanya anak, tetapi sikap kita terhadap yang bercacat, kurang waras, tidak berstatus dsb menjadi petunjuk apakah kita sudah menjadi rendah dan bergantung seperti anak. Tidak ada cara lain untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dan menerima berkat Kristus.


4. Hukum Taurat: Kurban dan Kenajisan

Mei 13, 2008

Kitab Imamat memiliki satu keunikan, yaitu hampir seluruh isi tidak dilanjutkan dalam Perjanjian Baru! Yesus (Mk 7:19) dan gereja perdana (Kis 10:15) menganggap bahwa makan daging babi boleh saja, dan gereja perdana menganggap bahwa kematian Yesus menjadikan kurban Bait Allah mubasir (Ibr 9:1-10:18; mungkin Yesus juga demikian jika Mk 2:10 dikaitkan dengan Mk 10:45).

Hal itu mengharuskan pemahaman yang saya usulkan bahwa Alkitab itu dinamis, berkembang. Tempat Hukum Taurat (HT) diuraikan Paulus dalam Gal 3. Uraian itu menyinggung panggilan Abraham dan pemberian HT (pada pembentukan Israel) dari kisah PL. Yang pokok ialah janji kepada Abraham, yang “tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian” (a.17). Jadi, HT berlaku sementara saja sebagai penuntun (a.24), sampai Kristus datang (a.25) membawa kedewasaan iman (4:1-7).

Apakah dengan demikian HT dibuang saja? “Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” kata Paulus (Rom 3:31). HT tetap “adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik” (Rom 7:12). HT adalah firman Allah yang tidak berlaku lagi. Bagaimana hal itu dapat dipahami?

Usulan saya begini. HT tidak berlaku lagi sebagai hukum, tetapi tetap berfungsi sebagai dasar penyataan yang tanpanya kita tidak dapat memahami puncaknya dalam Yesus. Soal kurban merupakan bagian HT di mana usulan itu paling jelas. Kematian Yesus meniadakan perlunya kurban-kurban Bait Allah, tetapi hanya dapat dipahami dalam terang kurban-kurban itu. Daftar yang berikut meringkas maksud beberapa jenis kurban (dari buku tafsiran Wenham):

  • Im 1. Korban bakaran membawa pendamaian dengan menyenangkan Allah. Paulus dalam Rom 3:25 merujuk pada darah Kristus sebagai jalan pendamaian, yang dalam Rom 5:9-10 dijelaskan sebagai diselamatkan dari murka Allah.
  • Im 2-3. Korban sajian & keselamatan menyangkut doa dan syukur (yang kita lakukan langsung, seperti Ibr 13:15, bnd. Im 7:13; Mzm 50:14).
  • Im 4-5:13. Korban penghapus dosa menyucikan noda dosa. Ibr 9:13-14 menjelaskan hasil darah Kristus dengan bahasa seperti itu.
  • Im 5:14dst Korban penebus salah melunasi hutang dosa, seperti juga darah Kristus (1 Kor 6:20)

Dalam bahasa lain, ketika Yesus menggenapi sistem kurban dalam PL, dia tidak meniadakan maknanya melainkan menerapkan maknanya dengan cara yang baru. Sistem kurban tetap berfungsi sebagai penyataan Allah, tetapi bukan lagi sebagai hukum. Jadi, kita menggunakan bahan Imamat 1-5 dan yang sejenis untuk menjelaskan makna kematian Kristus, bukan untuk dipraktekkan.

Bagaimana dengan sistem kenajisan? Penyataan apa yang ada di dalamnya? Im 11:44-45 mengusulkan bahwa sistem kenajisan mengajarkan kekudusan kepada Israel yang telah ditebus. Yang najis tidak boleh bersentuhan dengan Yang Kudus. Yesus dalam Mrk 7:20-23 mengartikan kenajisan sebagai simbol dosa, dan 1 Pet 1:18-19 (dalam konteks kekudusan, a.15) menawarkan darah Kristus sebagai solusinya. Salib Kristus yang mengajar kita betapa najisnya dosa, dan itulah yang mengajar kita untuk hidup kudus. Dengan bahasa lain: dosa lebih parah daripada pelanggaran tabu.

Seri Pemahaman PL


Mt 25:31-46 Anak Manusia

April 23, 2008

Perikop yang terkenal ini pertama-tama mengenai Kristus, kemudian tentang Injil kerajaan, baru kemudian tentang bagaimana kita hidup (etika). Tafsiran itu tidak berarti bahwa etikanya tidak penting. Sebaliknya, tafsiran itu menjaga supaya jangan etikanya menjadi usaha mandiri atau usaha yang mencari imbalan dari Tuhan.

Baca entri selengkapnya »


Mt 24 Bait Allah dirobohkan

April 21, 2008

Bait Allah menjadi sentrum agama Israel karena Allah hadir di dalamnya. Namun, anugerah itu dijimatkan oleh Israel, maksudnya hadirat Allah dihargai karena perlindungan-Nya, bukan dihargai sebagai kesempatan untuk berelasi dengan-Nya sebagai umat-Nya yang kudus. Sikap itu banyak dikecam oleh para nabi (Yer 7 termasuk perikop yang terkenal). Akhirnya, pada abad ke-6 sM, Bait Allah serta seluruh Yerusalem dihancurkan.

Setelah menyucikan Bait Allah (p.21) dan mengencam pimpinan Yahudi (p.23), Yesus di sini menubuatkan bahwa Bait Allah akan dihancurkan kembali. Murid-murid Yesus, dengan tepat, menafsir perkataan Yesus itu sebagai nubuatan tentang akhir zaman. Para nabi PL melihat datangnya Mesias terkait erat dengan akhir zaman (seperti Yes 9:6-7). Namun, pendirian Kerajaan Allah yang dipersoalkan dalam pp.24-25 ini lebih baik dilihat dalam tiga tahap: yang pertama kenaikan Yesus, yang kedua kehancuran Yerusalem, dan yang ketiga ketika Yesus datang kembali. Pencampuran tahap demikian biasa dalam nubuatan PL, dan sering diibaratkan dengan pegungunan, di mana dua puncak (kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua) nampak berdekatan padahal sebenarnya jauh di antaranya.

Baca entri selengkapnya »


Renungan Jumat Agung

Maret 19, 2008

(Ini diambil dan diterjemahkan dari sebuah milis doa untuk gereja teraniaya. Komentar Murray adalah renungan terhadap Ibr 13:10-13, yang merujuk pada Ibr 9-10, misalnya Ibr 10:19-20.)

Andrew Murray (1828-1917) … mencatat bahwa darah Kristus yang menebus diterima di sorga dan menjamin tempat kita di sana, sementara tubuh-Nya yang menderita ditolak oleh dunia dan menggambarkan tempat kita di sini. “Sorga menerima Dia dan kita di dalam-Nya; itulah tempat kita. Dunia melemparkan dia ke luar perkemahan, dan kita bersama dengan Dia. Itulah tempat kita. Di sorga kita berbagi kemuliaan-Nya; di dunia kehinaan-Nya. … Ada dua tempat yang ditentukan bagi orang percaya di dalam kuasa penebusan Kristus — di dalam tabir untuk menyembah, dan di luar pintu gerbang untuk bersaksi.” Pada kedua tempatlah, catat Murray, orang percaya ada bersama dengan Kristus, dan makin tempat yang satu didalami oleh orang percaya, makin tempat yang satu lagi akan dia wujudkan.

Aslinya…

Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 918 pengikut lainnya.