Gal 5:16-26 Hidup oleh Roh atau daging?

Oktober 11, 2010

Dalam kitab Galatia, Paulus menguraikan mengapa Kristus dan bukan Hukum Taurat adalah sumber pembenaran di hadapan Allah (2:16), sehingga berkat Allah sampai pada bangsa-bangsa sesuai dengan janji Allah kepada Abraham (3:14). Oleh karena itu, orang beriman hidup dalam kemerdekaan (5:1). Jika demikian, apakah mereka bebas untuk hidup seenaknya? Konon ada yang menafsir kasih karunia Allah demikian, sehingga sepanjang sejarah gereja ada kecenderungan untuk menekankan hukum sebagai kerangka hidup. Dari satu segi, adalah jelas bahwa kita butuh hikmat dari Allah untuk mengetahui jalan yang baik dan yang buruk. Tetapi bagi Paulus ada sumber kebenaran (hidup yang benar) yang lain dari usaha untuk menaati aturan-aturan hukum, yaitu hidup oleh Roh Kudus (5:5). Hidup itu adalah hidup “karena iman” (atas dasar iman) dalam harapan, dan iman itu bekerja oleh (melalui) kasih (5:6). Kasih merupakan inti hukum Taurat (5:14).

Jadi, perikop kita menjelaskan peran Roh Kudus dalam membentuk kebenaran yang berpusat pada kasih. Jadi, dambaan banyak pelayan (dalam wacana, paling sedikit) untuk melihat jemaat yang hidup dalam kasih mendapat jalan keluarnya di sini.

Alurnya tidak sulit diikuti. Dalam aa.16-18 ada nasihat inti: hiduplah oleh Roh (a.16a). Secara harfiah, Paulus mengatakan “berjalanlah oleh Roh”. Tetapi jalan ini bukan jalan yang diatur oleh aturan, melainkan oleh keinginan. Ada dua sumber keinginan: daging dan Roh. Keinginan dari kedua sumber ini bertentangan (a.17). Jika saya mau berbuat jahat, Roh melawan keinginan itu dengan keinginan yang baik. Jika saya mau berbuat baik, daging melawan keinginan itu dengan keinginan yang buruk. Jadi, nasihat Paulus berarti, berpihaklah pada keinginan Roh. Jika mau berbuat jahat, carilah keinginan Roh yang berlawanan dengan keinginan itu. Jika mau berbuat baik, teguhkanlah keinginan Roh itu. Jika kita berjalan sesuai dengan keinginan Roh, kita sama sekali tidak akan menuruti keinginan daging (a.16b).

Dalam a.18 Paulus mempertegas bahwa jalan ini berbeda dari jalan hukum Taurat. Kita dipimpin oleh Roh, artinya, hidup kita tidak kacau atau tanpa arah. Tetapi pengaturannya bukan dari hukum Taurat (lebih lagi hukum yang lain yang tidak berasal dari Allah).

Dalam aa.19-21 Paulus menggambarkan perbuatan macam apa yang ditimbulkan oleh keinginan daging. Dari daftar ini jelas bahwa Paulus menggunakan kata daging secara metaforis. Hal seperti perselisihan atau kepentingan diri sendiri atau roh pemecah bukan hawa nafsu dalam tubuh melainkan hal-hal yang menyangkut hati dan akal. Kata daging merujuk pada keberadaan manusia yang lemah dan terbatas (mis. 4:14, diterjemahkan LAI dengan kata “tubuh”). Hanya, karena kondisi manusia termasuk berada di bawah kuasa dosa (3:22), kata itu menjadi cocok untuk menggambarkan keberdosaan manusia. Aturan seperti hukum Taurat gagal bukan karena aturannya tidak baik tetapi karena kelemahan manusia itu. Istilah daging merujuk pada ketidakberdayaan manusia di hadapan dosa. Hal itu dapat dilihat dalam daftar ini. Siapa memilih untuk iri hati atau amarah? Pemecah biasanya tidak sadar bahwa dia memiliki roh pemecah, karena hanya sanggup melihat kelemahan pihak yang lain. Kita memilih untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang berasal dari keinginan-keinginan ini, tetapi keinginan-keinginan sendiri terasa normal saja, sampai dari perbuatan atau akibatnya kita menjadi sadar akan apa yang telah kita perbuat. Ketika kita sadar, kita juga akan setuju dengan a.21b, yaitu bahwa hal-hal seperti itu tidaklah cocok dengan kerajaan Allah, sehingga jika kehidupan kita diwarnai oleh hal-hal ini kita tidak cocok dengan kerajaan Allah.

Sebaliknya, dalam aa.22-23 buah Roh digambarkan. Adalah menarik bahwa lawan dari perbuatan daging bukan perbuatan Roh melainkan buah Roh. Keinganan yang baik berasal dari karakter yang dibentuk Roh. Karakter itu sesuai dengan hukum Taurat (a.23b), tetapi seperti dijelaskan di atas karakter itu tidak akan dihasilkan oleh hukum Taurat oleh karena keberdosaan kita. Kasih adalah buah pertama, sesuai dengan penjelasan Paulus bahwa kasih mencakup seluruh hukum Taurat (5:14). Iman dalam 5:6 bekerja melalui kasih karena Roh membuahkan kasih di dalam kita. Roh adalah perwujudan berkat Allah yang diterima oleh iman (3:14), dan pembaruan hidup dari dalam adalah salah satu berkat itu.

Sebagai kesimpulan, Paulus mengingatkan kita tentang hakikat kita yang sebenarnya dalam Kristus, yaitu bahwa kita adalah orang yang hidup oleh Roh dan bukan oleh daging (aa.24-25). Segi bukan oleh daging digambarkan sebagai penyaliban daging. Karena Kristus mati bagi dosa, berada di dalam Kristus berarti mematikan hawa nafsu dan keinginan yang berdosa. Hal itu dilakukan dengan hidup dipimpin oleh Roh.

Menarik bahwa dalam a.26 (seperti dalam a.15) Paulus merujuk pada keadaan jemaat yang kurang damai, yaitu saling menantang dan mendengki. Di situlah ironi hidup oleh hukum. Orang berharap bahwa hukum dapat mengubah umat menjadi lebih baik. Tetapi, jika hukum Taurat tidak sampai pada akar masalah, lebih lagi hukum-hukum yang lain. Jemaat tidak akan berubah karena aturan gereja makin ketat, karena tegoran dari mimbar makin berapi-api, karena sanksi makin berat. Hal-hal itu tidak sanggup mengurangi rasa bersaing, kedengkian, pelarian kepada dukun dsb. Jemaat akan berubah karena Kristus diberitakan sedemikian rupa sehingga mereka mau menyalibkan daging dan hidup oleh Roh. Baru pada saat itu nasihat, seperti yang banyak disampaikan Paulus sendiri, akan berguna, bukan untuk mengubah hati orang melainkan untuk mengatur semangat rohani yang sudah ada.


Yoh 14:1-14 Jalan kepada Bapa

Mei 3, 2010

Kata Yesus, “Janganlah gelisah hatimu” (a.1). Padahal, besok Dia akan mati, dan Dia baru bernubuat bahwa Petrus akan menyangkal-Nya. Yoh pp.14-17 menunjukkan alasan-alasan Yesus mengapa murid-murid-Nya tidak perlu gelisah. Dalam perikop ini, yang disoroti adalah kepercayaan. “Percayalah kepada Allah, percayalah kepada-Ku.” Apa kaitannya antara percaya kepada Allah dengan percaya kepada Yesus? Hal itu yang diuraikan dalam perikop ini.

Yesus baru mengaitkan diri-Nya dengan Allah dalam rangka kemuliaan (Yoh 13:31-32). Anak Manusia (Yesus) akan dipermuliakan oleh Allah pada salib, dan Allah akan dipermuliakan dalam Yesus. Yesus juga memberitahu mereka bahwa Dia mau pergi ke tempat yang kepadanya mereka tidak bisa datang (13:33). Namun, dalam 13:36 dikatakan kepada Petrus bahwa kelak dia akan mengikuti Yesus ke sana. Tujuan dan jalan ke sana itu yang dibahas dalam bagian awal perikop ini (aa.2-6). Tujuan adalah “rumah Bapa” (a.2) atau dalam kata lain “Bapa” (a.6). Yesus pergi untuk menyediakan tempat di sana, dan Dia sendiri merupakan jalan ke sana. Cara-Nya menyediakan tempat tidak bisa lain dari salib yang segera akan Dia lalui. Cara-nya kembali dan membawa murid-murid-Nya diuraikan dalam aa.15dst, yakni dalam Roh Kudus. Jadi, jalan itu ditempuh dalam kehidupan sekarang; sebagai jalan kepada Bapa, Yesus adalah “kebenaran” dan “hidup”. Mengikuti Yesus berarti menemukan jalan hidup yang benar. Kita percaya kepada Allah sebagai tujuan, dan kepada Yesus sebagai jalan kepada tujuan itu.

Bagaimana Yesus berfungsi sebagai jalan? Jalan yang menuju ke desa belum tentu sama indahnya dengan desa itu. Tetapi Yesus tidak lain sifat-Nya dari Bapa-Nya. Dalam aa.7-9 Yesus menunjukkan eratnya hubungan antara Dia dengan Bapa-Nya. Mengenal Yesus adalah mengenal Bapa-Nya. Melihat Yesus adalah melihat Bapa-Nya. Hal itu terjadi karena Bapa di dalam Yesus dan Yesus di dalam Bapa. Yesus adalah Anak Tunggal Allah (monogenes theos) yang menyatakan Bapa (Yoh 1:18). Dia adalah jalan kepada Bapa sama seperti sinar adalah jalan untuk mengenal terang, atau perkataan (logos) adalah jalan untuk mengenal orang.

Agak sulit bagi murid-murid Yesus untuk menangkap maksud Yesus dan percaya, padahal sudah lama mereka bersama dengan-Nya. Oleh karena itu, Yesus kembali ke tema itu dalam aa.10-14. Semestinya mereka dapat melihat dalam perkataan dan pekerjaan Yesus bahwa Allah Bapa bergerak (a.10). Jika mereka tidak dapat langsung mempercayai perkataan Yesus, setidak-tidaknya pekerjaan Yesus dapat mereka percayai (a.11). Misalnya, dalam Yoh 5:19-20, Yesus sudah menyampaikan bahwa Dia mengerjakan apa yang ditunjukkan oleh Bapa-Nya, dan akan ada pekerjaan yang lebih besar, yakni membangkitkan orang mati. Dalam aa.29-30 pekerjaan itu dikaitkan dengan penghakiman terakhir: “semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya”. Tetapi, perkataan itu sudah dibuktikan ketika Yesus bersuara kepada Lazarus di dalam kuburannya dan dia hidup kembali (Yoh 11:43-44). Yesus mau supaya mereka percaya bahwa Dia di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia.

Tetapi Yesus juga mau supaya mereka percaya kepada-Nya, mengandalkan-Nya. Murid-murid Yesus juga akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berasal dari Allah Bapa dan memperlihatkan-Nya, termasuk yang lebih besar (a.12)—maksudnya, saya duga, menghidupkan kembali orang mati dengan memberitakan Yesus Sang Hidup. Mereka sanggup melakukan hal-hal itu karena berdoa kepada Yesus yang sudah pergi kepada Bapa-Nya (aa.13-14).

Ada dua kegelisahan yang dialamatkan dalam perikop ini. Yang satu menyangkut nasib kelak manusia, yang lainnya menyangkut kehidupan sehari-hari. Sudah ada tempat disediakan bagi kita bersama dengan Allah, dan sekarang ada kuasa melalui doa dalam nama Yesus untuk pergumulan hidup. Bukannya iman kristiani sekadar tentang hidup setelah mati, dan bukannya iman kristiani sekadar tentang perubahan moral/sosial sekarang.

Tetapi dua hal perlu diperhatikan, karena saya rasa banyak kepercayaan yang berurusan dengan kedua kegelisahan tadi. Yang pertama, kita percaya kepada Yesus karena Dialah yang menyatakan Allah, sehingga Dialah yang menjadi jalan kepada-Nya. Percaya kepada Allah tanpa percaya kepada Yesus adalah kerancuan. Salib dan kebangkitan Yesus membuktikan bahwa jalan itu sudah terbuka dan tujuan itu sudah terjamin. Yang kedua, kita mengandalkan Yesus bukan demi kepentingan kita melainkan demi kemuliaan Allah. Kita berdoa supaya pekerjaan-pekerjaan Allah, alias misi Allah, dapat terlaksana. Memang, misi Allah terlaksana di tengah kehidupan sehari-hari—di tengah rumah tangga, tempat kerja, pesta, sehingga tidak salah untuk berdoa tentang kebutuhan hidup. Tetapi jalan Yesus itu melalui salib, dan jalan itulah yang harus kita tempuh (bnd. Yoh 12:24-26). Belum tentu doa untuk luput dari jalan salib dapat dianggap doa dalam nama Yesus, walaupun nama itu tercantum ketika didoakan.


Yoh 19:16b-30 & 20:1-10 Kematian dan Kebangkitan

Maret 29, 2010

Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan pusat iman Kristiani. Peristiwa yang memiliki dua sisi ini memperjelas semua pemahaman gereja perdana tentang Allah dan kerajaan-Nya yang terdapat dalam PL, dan menjadi kerangka untuk teologi PB sendiri. Hal itu karena harapan PL tentang pemulihan dunia digenapi dalam kematian dan kebangkitan Kristus itu. Dalam kedua perikop kita (untuk Jumat Agung kemudian Paskah) soal penggenapan muncul dua kali. Yesus dimusuhi dan bangkit sesuai dengan isi Kitab Suci.

Soal Yesus dimusuhi muncul dengan kutipan dari Mzm 22:18 dalam Yoh 19:24 tentang pembagian pakaian Yesus. Dalam a.28 tentang Yesus haus, ayat 15 dari mazmur yang sama juga disinggung. Soal Yesus dibangkitkan sesuai dengan isi Kitab Suci muncul dalam Yoh 20:9. Tidak ada nas yang dikutip, tetapi mungkin Mazmur 22 masih dipikirkan (lihat juga posting ini). Dalam mazmur itu Daud membawa pergumulannya karena permusuhan dan kemudian pujiannya karena keselamatan dari tangan Tuhan. Yesus mengalami hal yang sama: dimusuhi musuh-musuh Allah, kemudian diselamatkan oleh Allah. Hanya, Yesus mengalaminya sampai mati dan dibangkitkan. Dia mencakup dan memaknai seluruh pengalaman PL tentang orang benar yang menderita dan dibenarkan Allah. Hal itu membawa keberanian bagi kita juga. Menderita karena kebenaran bukan pertanda kutuk, dan bukan alasan untuk malu. Kita juga dapat yakin akan pembenaran Allah, entah dalam kehidupan sekarang atau pada kebangkitan kelak.

Daud, tentu, menjadi raja Israel, dan menjadi contoh figur Mesias yang diharapkan kemudian. Kita mungkin akan membayangkan bahwa Yesus akan diakui sebagai raja ketika Dia sudah bangkit. Tetapi dalam kedua perikop ini kita melihat bahwa Yesus diakui sebagai raja ketika Dia disalibkan (Yoh 19:19-22). Pengakuan itu memang terjadi secara ironis. Pilatus mungkin hanya mau mengganggu orang Yahudi yang sudah berhasil membujuknya untuk menyalibkan Yesus. Tetapi yang tertulis di atas kayu salib itu benar. Yesus adalah raja Israel yang mengalahkan musuh-musuhnya, terutama dosa dan maut. Dia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh 1:29). Pada salib Dia ditinggikan, menjadi seperti ular Musa yang membawa pemulihan bagi setiap orang yang memandangnya (Yoh 3:14-15). Dia ditinggikan untuk menarik orang dari semua bangsa kepada-Nya (Yoh 12:23-33), dibantu (secara simbolis) oleh ketiga bahasa yang di dalamnya pengumuman itu tertulis. Ketika Dia mau mati, karya keselamatan-Nya sudah selesai (Yoh 19:30).

Jadi, kebangkitan Yesus pertama-tama berfungsi untuk membuktikan bahwa karya keselamatan Yesus memang terjadi. Murid yang dikasihi Yesus “melihat dan percaya” (Yoh 20:8). Tanpa ada kebangkitan akan sulit percaya bahwa penyaliban Yesus lain dari ribuan penyaliban yang lain yang terjadi pada zaman itu. Jadi, kebangkitan tidak bisa dilepaskan dari penyaliban. Sebagaimana dilihat dalam narasi selanjutnya, Yesus yang bangkit masih menanggung bekas-bekas penyaliban-Nya. Percaya bahwa Dia bangkit menurut isi Kitab Suci adalah percaya bahwa Dia harus mati untuk keselamatan kita, dan bahwa kita harus siap menempuh jalan yang sama sebagai pengikut-Nya.


Yoh 15:9-17 Sukacita dalam kasih

Maret 22, 2010

Pada malam sebelum Dia disalibkan, Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya untuk kepergian-Nya. Pada awal p.15 fungsi para murid dijelaskan, yaitu berbuah. Yesus memakai kiasan yang berasal dari PL tentang umat Allah sebagai pokok anggur (bnd. Israel sebagai kebun anggur dalam Yes 5:1-7). Yesus sendiri adalah pokoknya, kita adalah rantingnya. Walaupun Dia akan pergi, firman-Nya (ajaran-Nya) akan tinggal di dalam kita, sehingga melalui doa, kita dapat berbuah (berbeda dengan Israel) sesuai dengan fungsi kita sebagai murid, demi kemuliaan Allah Bapa (aa.7-8).

Perikop kita merupakan penjelasan lebih lanjut dari kiasan itu. Intinya bahwa tinggal di dalam Yesus berarti saling mengasihi. Namun, kesimpulan yang sederhana itu diberi landasan yang mendalam, dan Yesus mau supaya kita sadar atas landasan itu.

Aa.9-10 menempatkan kasih di dalam Allah sendiri. Dalam a.9, kita mengenal apa itu kasih melalui Yesus, sehingga kita disuruh untuk tinggal di dalam kasih Yesus itu. Maksudnya bahwa kita menjadi penerima kasih Yesus sebelum kita menjadi pelakunya. Namun, kasih yang kita terima dari Yesus adalah sama dengan kasih Bapa kepada Yesus. Seperti biasa dalam Injil Yohanes, Kristus mencerminkan (membawa, meneruskan) sifat Allah Bapa, dalam hal ini sifat kasih. Hal itu sesuai dengan Yoh 1:1, bahwa Kristus adalah Firman Allah, atau dalam kata lain, Yoh 1:18, bahwa Kristus adalah Anak Tunggal Allah yang menyatakan Bapa-Nya. Saling mengasihi bukan soal berbagi dalam kasih manusia, melainkan berbagi dalam kasih Allah.

Jika dalam a.9 Yesus adalah Anak yang menyatakan Allah, dalam a.10, Yesus adalah manusia yang menjadi teladan kita dalam hal ketaatan. Cara untuk tinggal dalam kasih Yesus atau Bapa adalah menuruti perintah-perintah-Nya (bentuknya jamak dalam bahasa aslinya). Yesus menjadi teladan menaati Bapa, yang kita ikuti dengan menaati Yesus. Ketaatan itu menggenapkan aliran kasih. Kasih mengalir dari Bapa kepada Yesus kepada kita, dan mengalir balik dengan kita menuruti perintah Yesus yang menuruti perintah-perintah Bapa. Menurut a.11, lingkaran kasih dan ketaatan itu membawa sukacita untuk Yesus, dan tujuan dari ajaran ini ialah supaya kita juga berbagian dalam sukacita itu. Jika kita tidak menerima kasih Yesus, dan / atau tidak menuruti perintah-perintah-Nya, kita memutuskan lingkaran itu dan kehilangan sukacita.

Jika dalam a.9 kita tinggal di dalam kasih Yesus, dalam a.12 baru kita menjadi pelaku kasih Yesus. Perintah dalam a.12 berbentuk tunggal, sehingga kasih merupakan bentuk tunggal dari perintah-perintah dalam a.10. Ketaatan supaya tinggal di dalam kasih Kristus ternyata berbentuk kasih. Aliran kasih (Bapa kepada Yesus kepada kita) diteruskan kepada sesama, dan penerusan itu sekaligus merupakan ketaatan yang menggenapkan lingkaran kasih / ketaatan tadi.

Adakah perbedaan antara berbicara tentang kasih Allah (seperti banyak agama dan filsafat) dan berbicara tentang kasih Yesus? Dalam a.13 ada. Besoknya Yesus akan memberikan nyawa-Nya bagi murid-murid-Nya. Hal itu memberikan gambaran yang sangat tajam tentang kasih, baik kasih Allah kepada kita maupun kasih kita kepada sesama. Kasih itu bukan basa-basi saja.

Dengan menggunakan kata “sahabat” pada akhir a.13, Yesus masuk ke dalam penjelasan tentang sifat relasi-Nya dengan murid-murid-Nya. Yang sudah disampaikan luar biasa implikasinya, bahwa murid-murid Yesus akan berbuah demi kemuliaan Allah, bahwa tujuan itu akan tercapai dengan lingkaran kasih ilahi antara Allah Bapa dan Anak diperbesar untuk mencakup manusia. Mengapa kita diberitahu semuanya itu? Yesus menjawab dengan istilah sahabat itu. A.14 menegaskan bahwa istilah ini tidak membuat kita setara dengan Dia. Kaum sahabat Yesus adalah sama dengan kaum penerima kasih-Nya, yaitu yang menuruti perintah-Nya. Tetapi penyampaian Yesus membuktikan bahwa kita bukan sekadar pesuruh, melainkan mitra dalam rencana Bapa (a.15).

Aa.16-17 menyimpulkan pembahasan sejak a.1 tentang identitas murid-murid Yesus. Kita dipilih oleh Yesus, artinya bahwa Yesus yang menentukan agenda kita. Seandainya kita memilih Yesus, artinya bahwa Yesus menjadi bagian dari agenda kita, seperti konon banyak orang Toraja dulu-dulu yang memilih Yesus karena kekristenan dianggap cocok dengan dunia modern. Sebaliknya, Yesus memilih kita untuk agenda Dia, yaitu berbuah. Sekali lagi, agenda itu akan digenapi melalui doa. Dalam a.17 ujungnya diulang: semuanya akan terwujud dalam kasih kepada sesama.

Menurut adat lama Toraja (aluk), orang mengalami kehidupan ilahi dalam ritus-ritus tertentu, seperti ritus maro yang di dalamnya banyak orang kerasukan deata (roh, ilah) sehingga menjadi to ma’langi’ (“orang langit”; Volkman Feasts of Honor hlm. 55, di daerah Sesean tahun ’70an). Orang juga mau menjamin kesuburan melalui ritus dan melalui menghindar dari pemali (tabu). Kedua tujuan itu mungkin merupakan dua kerinduan terbesar yang mau dipenuhi oleh sebuah agama. Dalam Yohanes 15, keduanya tercapai dalam kasih. Saling mengasihi atas dasar menerima kasih Kristus adalah mengalami kehidupan ilahi. Saling mengasihi adalah berbuah. Jika kita adalah sahabat Yesus yang dipilih-Nya, mari kita memenuhi kedua kerinduan itu sesuai dengan ajaran-Nya, sehingga sukacita kita penuh dan Allah Bapa dimuliakan.


Luk 9:43b-45 Mendengar pesan yang sulit didengar

Februari 15, 2010

Sebelum perikop ini, salah satu mujizat Yesus diceritakan yang membuat semua takjub karena kebesaran Allah (Luk 9:43a). Takjub bagaimana Allah melalui Yesus dapat menghapus penderitaan seorang manusia, membuat seorang anak yang dalam keadaan kacau karena roh jahat menjadi anak yang sembuh. Sisi itu dari pelayanan Yesus sangat populer sampai sekarang. Dalam jiwa kita mengingat (dari taman Eden) bahwa keadaan manusia semestinya penuh kebahagiaan dan sukacita. Hal itu memang dijanjikan dalam dunia yang baru, tetapi kita berharap bahwa iman kita bisa menjamin hal serupa dalam dunia sekarang.

Minggu-minggu sengsara, sesuai dengan namanya, membawa pesan yang lain. Membangun Jemaat mengangkat serangkaian bacaan yang akan mengupas makna pengorbanan Yesus. Minggu ini sederhana tetapi cocok sebagai pengantar untuk mengarahkan kita. Intinya adalah pertentangan antara harapan manusia dengan rencana Allah. Dalam a.43b “semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya”. Kita biasanya puas jika jemaat atau masyarakat heran atau takjub kepada Allah. Tetapi bagi Yesus ada segi lain yang harus disampaikan. Hal itu penting, karena Yesus mengantarkan pemberitahuan-Nya dengan seruan untuk menaruh perkataan-Nya ke dalam telinga (a.44a, artian harfiahnya). Pemberitahuan ini akan sulit ditangkap, sehingga perlu perhatian yang sungguh-sungguh.

Pemberitahuan ini merupakan yang kedua dalam Injil Lukas, dan isinya sangat ringkas. Dalam Luk. 9:22 Yesus sudah memberitahu mereka bahwa “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kali ini hanya dikatakan bahwa “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Hal itu menangkap satu segi yang paling sulit dibayangkan, yaitu bahwa utusan Allah, Mesias-Nya, tidak akan berjaya melainkan akan jatuh ke dalam kuasa manusia. Jika Luk. 9:23 masih berlaku, yaitu bahwa pengikut Yesus “harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”, maka jalan dikuasai manusia daripada menguasai manusia tidak dapat dihindari. Mengenai hukuman Allah, kita akan melihat bahwa Yesus menggantikan kita, tetapi mengenai cara hidup kita di bumi, Yesus merintis jalan yang harus kita tempuh. Ternyata, untuk pengikut Yesus bukan saja kita belum luput dari penderitaan umum dunia ini, tetapi juga kita harus memilih jalan seperti Yesus yang akan membawa kita ke dalam penderitaan di bawah tangan manusia.

Murid-murid Yesus tidak mengerti, dan belum sanggup mengerti, dan tidak berani bertanya untuk mengerti. Mereka seperti orang yang di bawah sadar tahu bahwa sesuatu mengancam cita-citanya, sehingga di bawah sadar memilih untuk tidak tahu. Perikop berikut menunjukkan satu segi dari cita-cita mereka, yaitu siapakah yang akan terbesar (a.46). Sepertinya, mereka asyik dengan kebesaran Allah, tetapi tuli terhadap jalan rendah yang ditempuh utusan Allah. Hanya pencurahan Roh Kudus setelah kebangkitan Yesus yang memampukan mereka untuk mengerti (bnd. Kis. 5:41, “Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus”).

Gereja Indonesia berasal dari gereja Eropa yang berabad-abad berjaya di masyarakat Eropa. Katanya, dalam sejarah Indonesia juga gereja tidak segan bermain politik untuk mempertahankan kedudukan. Ketika gereja terbakar, anggota gereja dibunuh, izin membangun dipersulit, kita harus mengingat bahwa Allah menempatkan kita di bawah kuasa manusia, sama seperti Yesus. Rencana Allah dikerjakan bukan melalui kejayaan gereja (yang sering menjadi sejahat penguasa yang lain), melainkan melalui kerendahan pengikut-pengikut Kristus.

Lebih lagi di dalam gereja, kerendahan adalah jalan yang perlu ditempuh. Ketika perkataan Yesus tidak masuk ke dalam telinga para murid, yang masuk di antara mereka adalah pertengkaran. Ancaman terbesar terhadap gereja bukan perlawanan dari luar melainkan perebutan hormat dan kuasa di dalam. Semoga pada minggu-minggu sengsara ini kita menjadi sanggup mendengarkan pesan Yesus ini, dan makin rindu bersekutu dengan Dia pada jalan yang Dia tempuh.


Pemberitahuan pertama sampai ketiga penderitaan Yesus

Maret 4, 2009

Perikop yang dipilih dalam Membangun Jemaat untuk keempat minggu sengsara yang pertama adalah ketiga kali Yesus memberitahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan menderita dan dibunuh. Tiga kali dalam empat hari Minggu? Ya, kali kedua diambil dari Injil Markus (9:30-32) kemudian dari perikop yang sejajar dalam Injil Matius (17:22-23).

Jadi, empat minggu berturut-turut sepertinya pendeta Gereja Toraja diharapkan mengkhotbahkan hal yang sama, yaitu penderitaan Kristus, pembunuhan dan kebangkitan Yesus. Variasi isi hanya menyangkut detilnya (tetapi ada, seperti baru kali ketiga campur tangan orang non-Israel disebut).

Mengapa ada tiga kali pemberitahuan dalam Injil Matius dan Markus? Yang pertama, hal itu menegaskan bahwa Yesus tahu nasib-Nya, sehingga jelas bahwa Dia menderita dengan rela, bukan secara terpaksa.

Yang kedua, dengan demikian Yesus menjadi teladan utama dari ajaran-Nya tentang kemuridan. Dalam Matius pp.16-20 (yang sejajar dengan Markus pp.8-10) Yesus meninggalkan keramaian pelayanan di Galilea untuk mengajari murid-murid-Nya tentang bagaimana caranya mengikuti-Nya. Tidak kebetulan saja bahwa ketiga kali pemberitahuan terjadi di dalam bagian ini. Setiap kali pemberitahuan Yesus menjadi dasar untuk ajaran kepada murid-murid-Nya yang belum memahami implikasi mengikuti Mesias yang menderita.

Kali pertama, Mt 16:21, sudah saya bahas, dan dengan tepat disambung dengan 16:22-28. Jika kita dipanggil untuk memikul salib dan kehilangan nyawa, kita tahu bahwa Yesus sudah memikul salib-Nya, dibunuh lalu dibangkitkan. Kita hanya ikut dalam jejak-Nya.

Kali kedua, Mt 17:22-23 didahului dengan perkataan tentang iman. Jadi, iman yang dimaksud adalah iman yang dapat melihat kebangkitan di balik salib, yang mengimani perkataan Yesus dalam 16:25 itu. Nas itu kemudian diikuti dengan peristiwa yang menegaskan bahwa para murid adalah anggota Kerajaan Allah (17:24-27). Tetapi pertanyaan dalam 18:1, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?”, menunjukkan bahwa para murid belum memahami cara berstatus dalam Kerajaan Allah. Kebesaran dicapai melalui kerendahan—serendah seorang anak, sama seperti kebangkitan Sang Raja dicapai melalui kematian pada salib—kematian yang terhina.

Kali ketiga, Mk 10:32-34 (sejajar dengan Mt 20:18-19), didahului dengan ucapan Yesus (10:31) tentang penjungkirbalikan dalam Kerajaan Allah. Yang terakhir (disalibkan) memang menjadi yang terdahulu (bangkit), dan murid-murid-Nya harus mengingat hal itu ketika memikirkan upah Kerajaan Allah (topik pembahasan dalam 10:28-30). Kemudian, ada murid mencari pangkat, yaitu duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus (seakan-akan mau menjadi “wakil Mesias”). Pangkat tidak identik dengan status. Pangkat menyangkut kuasa dan tanggung jawab, sedangkan status menyangkut tingkat kehormatan di depan orang. Jadi, Yesus menegaskan bahwa berkuasa berarti melayani, tentu berdasarkan teladan-Nya sendiri (a.45).

Dengan demikian, cara Yesus mendirikan Kerajaan Allah—penderitaan, kematian dan kebangkitan—berimplikasi sangat mendasar bagi kehidupan kita, yaitu cara beriman, mencari status, dan menggunakan kuasa. Semoga fokus pada Yesus dalam keempat minggu ini membawa para pendengar di GT untuk menghayatinya dengan kemuridan yang demikian.


Mt 16:21-28 Misi secara misi Yesus

Februari 20, 2009

Perkataan Yesus tentang menyangkal diri, memikul salib dsb mengganggu. Sebagai manusia kita mencari yang aman, nyaman dan nikmat. Kita juga mencari ilah yang bisa menjamin hal-hal itu, alias dewa pelindung.

Soalnya, dunia itu rusak. Kesetiaan kepada Allah dalam dunia yang demikian melibatkan penderitaan. Mencari aman adalah menghindari kenyataan.

Tetapi, bukankah Yesus adalah Mesias? Demikian pengakuan Petrus pas sebelum awal perikop ini. Harapan PL adalah kehancuran semua perlawanan terhadap Allah sehingga umat-Nya berbahagia dalam dunia yang baru. Jika ada masa penderitaan, bukankah itu hanya seketika, sampai Kerajaan Allah terwujud dan berjaya?

Ternyata jalan Yesus menuju kemuliaan adalah melalui penderitaan dan kematian, baru kebangkitan (a.21). Dari beberapa penjelasan kemudian (seperti Mt 20:28 dan Mt 26:26-28) kematian-Nya terjadi supaya jalan keselamatan terwujud dari kehancuran perlawanan itu melalui pengampunan dosa. Kerusakan manusia begitu dahsyat sehingga tidak ada jalan lain untuk manusia luput.

Petrus mewakili kekagetan kita bahwa Allah hanya dapat mengalahkan kejahatan melalui penderitaan yang begitu berat (a.22). Tetapi bukan hanya Mesias yang harus siap menderita. Pengikut-pengikut-Nya harus mengikuti-Nya dalam jalan penderitaan itu. Cita-cita untuk berjaya menurut ukuran dunia ini harus diganti dengan kerelaan untuk memikul penderitaan dan penghinaan sama seperti Yesus (a.24). Menyangkal diri dan memikul salib terjadi karena melawan dosa dalam diri, karena melawan dosa dalam orang lain, dan karena mengasihi sesama korban dosa.

Alasan untuk nasihat yang tidak nyaman ini disampaikan dalam aa.25-27. Sebenarnya, Yesus mendukung pemahaman PL, malah dalam a.27 Dia sebagai anak manusia (bnd. Dan 7:13-14) yang akan melaksanakan hukuman Allah. Sehingga yang sesungguhnya paling aman ialah yang setia kepada Yesus, walaupun dia kehilangan segalanya pada zaman ini. Seperti kata Paulus, “kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Rom 8:17)

Jadi, Allah bukan dewa pelindung tetapi Allah yang bermisi. Misi Allah melalui Yesus hanya dapat terwujud melalui penderitaan, dan misi Allah melalui pengikut Yesus tidak akan lain. Bergabung dengan misi-Nya bukan hanya yang aman, tetapi dalam anugerah Allah menjadi jalan untuk memperoleh hidup.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 935 pengikut lainnya.