1 Yoh 1:1-10 Persekutuan yang sejati

Desember 13, 2009

Sebagai pengantar, aa.1-4 menegaskan bahwa Firman yang ada sejak semula telah disaksikan oleh yang menyebut diri “kami”, yakni penulis dan para saksi mata Yesus selama Dia hidup di dunia dan juga pada kebangkitan-Nya (mis. Yoh 20:27). Dengan demikian penulis menguraikan maksud Yoh 1:14. Firman hidup (bnd. Yoh 1:1-3) telah menjadi sedemikian rupa sehingga dapat didengar, dilihat, diraba (a.1). Hal itu tidak masuk banyak akal. Suasana pluralisme mau menjadikan agama sekadar seperangkat gagasan dan nasihat. Suasana rasionalisme juga mau menjadikan klaim agama sebagai kiasan saja tentang prinsip-prinsip umum. Tetapi berita Adven dan Natal adalah bahwa Firman hidup itu berbentuk dalam sosok Yesus Kristus.

Oleh karena itu ada kesaksian dan pemberitaan (a.2). Kesaksian itu bukan dalam pola, “Dengarkan ide kami yang lebih hebat daripada ide orang lain” melainkan “Lihatlah Yesus Kristus, Sang Hidup Kekal yang datang dari Allah Bapa-Nya.” Ada kejadian, peristiwa, yaitu kehidupan Yesus. Manusia tidak dapat mengetahui tentang sebuah peristiwa tanpa pemberitaan. Jadi, kebenaran tentang Yesus hanya dapat diketahui orang jika diberitahukan kepadanya.

Hasil dari pemberitaan itu adalah persekutuan (a.3). Pintu masuk persekutuan itu adalah persekutuan dengan para rasul, karena berbagi dalam berita itu. Tetapi berita itu menyangkut persekutuan mereka dengan Kristus yang dilihat dan didengar itu, dan persekutuan Kristus sebagai Anak Allah adalah dengan Allah Bapa. Jadi, yang ditawarkan dalam berita itu adalah persekutuan dengan Allah, yang tidak dapat dipisahkan dari persekutuan dengan Anak-Nya Kristus. Membagikan berita itu meneguhkan sukacita penulis sendiri (a.4).

Implikasi dari berita itu menjadi isi seluruh surat ini, dan aa.5-10 merupakan dasar yang menguraikan makna dari tema persekutuan itu. Mulai a.6 kata “kami” menjadi kata “kita”—hal itu adalah tafsiran karena bahasa Yunani tidak membedakan “kami” dari “kita” (sama seperti bahasa Inggris “we”), tetapi tafsirannya tepat. Pembaca termasuk dalam tawaran persekutuan itu.

Dalam a.5, Allah yang dengan-Nya kita bersekutu adalah terang tanpa kegelapan. Jadi, persekutuan dengan Dia berarti hidup sesuai dengan kebenaran itu (“kebenaran” pada akhir a.6 menerjemahkan kata aletheia, “truth”, apa yang sebenarnya, bukan kata dikaiosune, “righteousness”, tingkah laku yang sesuai dengan norma).

Kemudian, a.7 agak mengejutkan. Yang pertama, hasil dari hidup dalam terang adalah persekutuan dengan sesama orang percaya, bukan (langsung) dengan Allah. Berulangkali dalam surat ini kasih kepada sesama dan Allah akan dikaitkan erat. Kejutan kedua ialah bahwa darah Kristus akan menyucikan kita dari kecemaran dosa. Mungkin sepintas lalu kita beranggapan bahwa artian “hidup dalam terang” adalah hidup tanpa dosa sama seperti Allah. Tetapi hidup dalam terang berarti penyucian dari dosa, bukan ketiadaannya.

Makna hidup dalam terang diperjelas dalam aa.8-10, yaitu keterbukaan. Jika kita menyangkali bahwa kita adalah orang berdosa, kita menipu diri (a.8) dan secara tersirat menyatakan bahwa penilaian Allah tentang kita adalah dusta (a.10). Bentuk jamak (“kita”) memperingatkan kita bahwa masalahnya bukan hanya bahwa secara perorangan kita mau tampil baik, tetapi juga bahwa budaya mendorong kita untuk bertindak demikian.

Jadi, hidup dalam terang berarti mengaku dosa yang ada. Kita mengaku kepada Allah yang mengampuni kita. Tetapi dari kosa kata yang dipakai (homologeo) pengakuan itu dilakukan di depan umum, seperti umat Israel dengan Yohanes Pembaptis (Mk 1:5), para pengguna sihir di Efesus (Kis 19:18), dan jemaat seorang kepada yang lain (Yak 5:16). Paling sedikit, dalam kebaktian kita mengaku bersama-sama bahwa kita adalah orang berdosa—hal itu bukan formalitas saja tetapi pernyataan yang mendasar. Semestinya kita juga siap mengaku bersalah kepada orang yang kepadanya kita berdosa. Lebih sulit lagi adalah mengaku dosa yang tersembunyi kepada orang lain supaya disinari Allah yang adalah terang.

Itulah cara hidup dalam terang. Allah telah membuka diri kepada kita dalam Kristus dan menawarkan persekutuan. Daripada berpura-pura tampil tanpa kecemaran, siapkah kita membuka diri kepada-Nya supaya disucikan dan mengalami persekutuan yang sejati?


Ef 1:3-14 Menghayati berkat-berkat Allah

November 9, 2009

Perikop ini kaya, sangat kaya. Jadi saya minta maaf jika “renungan” ini agak panjang dan sarat dengan ide. Dalam pendahuluan ini saya coba membahas satu dua hal yang mungkin mencegah kita memuji Allah sesuai dengan isi perikop ini. Kemudian ada komentar per bagian.

A.3 mengangkat tema utama perikop ini, yaitu berkat-berkat rohani yang menjadi alasan untuk memuji Allah. Berkat-berkat itu termasuk kekudusan (4), menjadi anak Allah (5), pengampunan (7), pengetahuan rencana Allah (9) dan Roh Kudus (13). Apakah berkat-berkat ini menarik bagi semua jemaat (termasuk sebagian yang berpendidikan teologi)? Untuk sebagian, saya dapat membayangkan tuduhan (dalam hati) bahwa “rohani” berarti “tidak praktis”, “tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari” dsb. Coba ada uang sekolah, penyembuhan, pemberantasan korupsi dsb, baru berkat dianggap berlimpah-limpah.

Bahwa pandangan itu ada benarnya cukup jelas dari gambaran berkat/kutuk dalam PL (misalnya Ul. 26). Ada yang mengatakan bahwa harapan yang “materialistis” itu sudah diganti dengan harapan yang “rohani”. Pembahasaan itu berbahaya. Jauh lebih tepat mengatakan bahwa harapan yang materialistis itu ditunda. Ketika semua dipersatukan dalam Kristus sebagai Kepala, keadaannya akan seperti dalam Why 21, dengan bumi yang baru yang di dalamnya tidak ada yang merusak kehidupan lagi.

Namun, dalam PL pun berkat utama adalah pengenalan akan Allah. Mengapa Israel dibebaskan dari Mesir? Supaya “menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu” (Kel 6:6). Berkat-berkat rohani yang diuraikan menyangkut berkat utama itu. Kita bisa menjadi anak Allah karena ditebus oleh darah Kristus sehingga kita memiliki jaminan atas warisan (LAI “bagian”) yang dijanjikan. Mengapa hal-hal itu terasa abstrak, terasa tidak menyentuh kehidupan nyata? Saya duga jawabannya dalam a.13. Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat itu bagian dari kehidupan kita, kebutuhan nyata. Sama seperti orang dari luar Toraja sulit memahami keasyikan pesta orang mati di Toraja [maaf kepada pembaca dari luar Toraja :)], orang tanpa Roh Kudus sulit memahami mengapa Allah begitu layak dipuji karena berkat-berkat-Nya dalam Kristus. (Mungkin perlu dicatat bahwa harapan dari Injil yang ditanam Roh Kudus ternyata sangat membantu kita untuk memaksimalkan keadaan yang ada, entah baik atau buruk, sehingga ada gunanya untuk sekarang. Khususnya, kita dimampukan untuk berjuang dalam kasih, seperti dalam pp.4-6.)

Dalam komentar di bawah, saya menebalkan kata-kata tentang kedaulatan Allah, menggarisbawahi kata-kata tentang kemuliaan Allah dan pujian, dan memiringkan kata-kata tentang anugerah (kasih karunia). Perikop ini dimulai dan diakhiri dengan panggilan untuk memuji Allah, dan inti perikop ini adalah anugerah Allah yang terwujud dalam Kristus (aa.7-8). Bagaimana dengan kedaulatan Allah? Orang suka pusing menghadapi pernyataan seperti dalam a.11 bahwa keputusan orang “dari semula ditentukan” dan bahwa Allah “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”. Di mana lagi kebebasan manusia kalau demikian? Sebagai jawaban, perlu diingat bahwa Allah adalah Pencipta, bukan salah satu kuasa di antara banyak kuasa yang lain dalam dunia ini. Jadi, dari satu segi semua kuasa dan kemampuan, termasuk kehendak kita, bergantung pada kuasa Allah yang menopang segala sesuatu. (Jadi, yang menjadi misteri ialah bahwa kita memiliki kehendak bebas, bukan bahwa Allah berdaulat.) Tetapi hal itu bukan fokus Paulus di sini. Rencana Allah diwujudkan dalam Kristus dan diterapkan oleh Roh Kudus. Kedaulatan Allah adalah pelayan rencana Allah itu. Jadi, kedaulatan Allah bukan suatu kehendak yang kabur (sehingga menakutkan), tetapi melayani rencana Allah yang sudah dinyatakan dalam Kristus (a.9).

Jadi, selayaknya perikop ini menjadi bahan untuk kita memuji Allah. Jika kita dimeteraikan dengan Roh Kudus sehingga berada di dalam Kristus maka semua berkat ini adalah milik kita, milik kita yang sangat berharga.

(3) Terpujilah Allah dan Bapa [dari] Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

Kata Bapa tidak merujuk ke Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan Allah adalah juga Bapa dari Tuhan Yesus Kristus [satu artikel (ho) dipakai untuk kedua kata Allah (theos) dan Bapa (pater)]. Perikop ini bersifat ketritunggalan, karena kata rohani merujuk ke karya Roh Kudus, atau paling sedikit dalam a.14 Roh Kuduslah yang menjadikan berkat-berkat rohani ini nyata dalam kehidupan.

(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, (6) supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

A.4 adalah pernyataan mendasar; a.5 memberi keterangan [kata kerjanya adalah partisip, bukan indikatif]; a.6 adalah tujuannya. Bahasa “kudus”, “tak bercacat” dan “anak” adalah bahasa yang dipakai dalam PL untuk umat Allah, sama seperti “menjadikan kita milik Allah” dalam a.14.

(7) Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, (8) yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. (9) Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus (10) sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

Aa.7-8 adalah pernyataan mendasar; a.9 memberi keterangan [juga partisip], mungkin atas kelimpahan kasih karunia Allah—bukan hanya bahwa kita ditebus oleh darah Kristus tetapi juga kita diberitahu mengenai rencana agung Allah; a.10 adalah tujuannya. Kali ini tujuannya bukan pujian melainkan pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Darah Kristus dalam a.7 adalah caranya untuk a.4, dan bagian ini (khususnya a.7 dan a.10) menjelaskan mengapa ada “di dalam Dia” terus-menerus dalam perikop ini. Kristus adalah pewujud rencana Allah.

(11) Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– (12) supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

Kata kami adalah tafsiran—dalam bahasa Yunani (dan Ibrani dan Inggris) tidak dibedakan anatara kita dan kami. Tafsiran itu tepat, tetapi bagi pembaca asli baru akan jelas dalam a.12 dalam perkataan “yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus” bahwa “kita/kami” merujuk pada kelompok Paulus, bukan pembaca. “Kami” adalah orang-orang Yahudi (lihat juga 2:1-3 dan 2:11-12), yang memang menjadi yang pertama percaya. Mereka adalah tahap pertama dalam pemersatuan segala sesuatu dalam Kristus. Tujuannya pujian kembali (a.12b).

(13) Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. (14) Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Tahap berikut dalam pemersatuan segala sesuatu adalah orang non-Yahudi yang jadi percaya (bnd. 2:11-22). Kedua ayat ini adalah dasar ringkas untuk suatu urutan keselamatan (ordo salutis). Yang pertama adalah pendengaran Injil tentang keselamatan, sehingga ada yang percaya. Yang percaya dimeteraikan dengan Roh Kudus (yang menunjukkan bahwa mereka adalah milik Allah) yang menjadi jaminan bahwa mereka akan menerima segala yang dijanjikan Allah pada akhir zaman itu. Jadi, pemberitaan menjadi pintu masuk untuk keselamatan eskatologis (hidup kekal). Roh Kuduslah yang menerapkan dalam kehidupan orang percaya rencana Allah yang terwujud dalam Kristus. Namun, perlu diperhatikan apakah tujuan Allah. Bukan keselamatan saya saja (sebagai individu), melainkan kita sebagai umat milik Allah.


Rom 2:17-24

Mei 4, 2009

Perikop ini menarik perhatian karena gambaran yang tajam terhadap kesombongan agama dalam aa.17-20. Namun, saya dapat membayangkan suatu tafsiran demikian: 1) Paulus mengecam kesombongan agama; 2) cara untuk tidak sombong adalah mengakui keabsahan agama lain; maka 3) semua agama sama martabatnya. Padahal, pada ayat sebelumnya Paulus sudah menempatkan hari kiamat dalam rangka Injil dan Yesus Kristus, dan dalam p.1 sudah mengecam kebanyakan manusia yang menyembah berhala. Maka, apa maksud Paulus yang sebenarnya?

Tujuan dari Paulus dalam bagian surat ini adalah menempatkan semua manusia di bawah kuasa dosa (3:20). Hal itu tidak sulit bagi bangsa-bangsa yang hidup dalam keberhalaan sehingga mengalami segala bentuk kekacauan hidup (Rom 1:18-31). Tetapi bagaimana dengan orang Yahudi? Pada awal pasal 2, Paulus membuktikan bahwa mengecam dosa (2:1) tidak meluputkan manusia dari hukuman Allah jika tetap melakukan dosa (2:2-16). Allah tidak memandang bulu (2:11).

Jadi, pada aa.17-23 Paulus menerapkan 2:1 kepada orang Yahudi. Aa.17-20 adalah cara orang Yahudi menghakimi orang lain, sedangkan aa.21-23 menyebutkan apa yang mereka lakukan yang sama. Cara orang Yahudi menghakimi itu halus. Aa.17-18 menyampaikan hal-hal yang justru baik. Paulus sendiri mengajar kita untuk bermegah dalam Allah (5:11) dan tahu akan kehendak-Nya (12:2). Memang dia bersandar kepada Kristus, bukan Taurat, tetapi dia mengakui Taurat sebagai firman Allah (7:12). Jadi, tidak ada keraguan Paulus terhadap penyataan Allah. Inti masalah muncul dalam aa.19-20. Mereka bukan hanya yakin akan Allah, tetapi juga akan diri sendiri. Firman Allah dianggap miliknya sendiri, dan mereka seakan-akan berbagi dalam keunggulan Firman itu.

Dalam aa.21-23 sikap sombong itu disertai kemunafikan. Walau tidak semua orang Yahudi melakukan semua dosa ini, Paulus tahu bahwa kehidupan mereka juga tidak beres. Pada a.24 dia mengutip bagian PL yang ditulis untuk Israel yang dihukum oleh pembuangan ke Babel (Yes 52:5, bnd. Yeh 36:20) untuk menunjukkan bahwa sejak lama Israel tidak sanggup melakukan Taurat. Orang Yahudi tidak berbeda dari Israel yang dibuang karena dosanya.

Jadi, Paulus bermaksud untuk membuktikan bahwa orang Yahudi termasuk manusia berdosa. Apakah dengan demikian tidak ada relevansi bagi kita? Tentu ada, tetapi kita sebagai jemaat Kristus semestinya terdapat bukan dalam perikop ini tetapi dalam ayat-ayat berikut, yaitu kelompok yang melakukan hukum Taurat walaupun tidak disunat (2:27-29). Kelompok itu yang menggenapi janji Allah dalam PL bahwa Dia akan memperbaharui hati umat-Nya oleh Roh Kudus (misalnya Yer 31:33 dan Ul 30:6). Kelompok itu tidak lain dari jemaat Kristus, yang hatinya diperbaharui (p.6) sehingga oleh kuasa Roh (pasal 8) dapat melakukan Taurat, yakni hidup dalam kasih (13:8).

Jadi, ketika jemaat menyombongkan diri seakan-akan berbagi dalam keunggulan Kristus, dia sebenarnya menempatkan diri dengan Israel dalam pembuangan, dengan Israel yang hatinya belum diubah oleh Roh Kudus. Sama halnya ketika jemaat menghakimi orang lain, sedangkan hidupnya sendiri tidak beres. Akibatnya sekarang mungkin juga sama dengan apa kata Paulus pada a.24, yakni nama Allah dihujat oleh karena kesombongan dan kemunafikan itu.

Hanya, jalan keluarnya bukan keraguan terhadap kebenaran iman kristen, melainkan pembaharuan hati dengan menyerap sikap Injil sendiri. Ketika Paulus berbicara tentang bermegah dalam Allah, hal itu disertai dua kemegahan yang lain, yaitu bermegah dalam pengharapan (5:2) dan bermegah dalam kesengsaraan (5:3). Dalam kata lain, kemegahan yang dimaksud Paulus adalah siap menderita bersama-sama dengan Kristus, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia (8:17). Hati yang demikian sudah bosan dengan kesombongan, dan sudah jijik terhadap kemunafikan.


Mal 3:13-18 Perbedaan yang menentukan

Februari 4, 2009

Perikop ini membahas salah satu sikap mendasar yang dihadapi Maleakhi. Umat tidak lagi melihat keuntungan dari menaati Tuhan. Hal itu karena umat tidak mengerti keuntungan macam apa yang semestinya diharapkan dari Tuhan.

Cara persoalan diangkat dalam aa.13-15 memang sudah biasa dalam kitab ini. Soalnya, umat menganggap diri cukup saleh, sehingga sikap yang sebenarnya harus digali. A.14-15 barangkali bukan kutipan, tetapi pengungkapan sikap hati yang dilihat dalam berbagai gejala yang dibahas sebelumnya dalam kitab ini. Sikap itu juga relevan sekarang. Kita melihat koruptor yang maju terus, sedangkan orang yang melaporkan korupsi dikesampingkan. Sudah banyak yang tidak melihat keuntungan bagi keluarga dan kalangan sendiri jika terlalu jujur.

Tanggapan Maleakhi (aa.16-18) mulai dengan laporan akan perkataan orang-orang yang takut akan Allah. Mereka saling menguatkan dengan mengingatkan bahwa pasti Ttuhan perhatikan dan ingat. Perkataan itu diteguhkan dengan firman dari Allah sendiri. Golongan itulah yang merupakan pewaris sejati identitas Israel sebagai milik kesayangan-Nya (bnd. Kel 19:5). Hal itu akan menjadi jelas pada suatu masa depan (a.18), seperti diceritakan dalam p.4.

Jadi, yang membedakan orang benar dan orang fasik di sini ialah soal menjadi milik Allah. Itulah keuntungan menaati Allah. Jika keuntungan yang lain yang dicari, pasti kita akan kecewa, seperti Israel pada masa itu. Tetapi jika Allah yang dicari, maka cukup bagi kita jika kita ingat bahwa Dia memperhatikan dan akan mengasihani kita.


Mzm 119:1-16 Perenungan firman

Oktober 23, 2008

Berisi 172 ayat, Mzm 119 adalah mazmur terpanjang dalam kitab Mazmur. Mazmur ini sangat teratur dalam bahasa aslinya, karena setiap ayat dalam satu bait (8 ayat per bait) mulai dengan huruf yang sama, secara berturut-turut. Jadi, dalam bacaan kita, aa.1-8 mulai dengan huruf א (aleph), dan aa.9-16 dengan huruf ב (beth). Oleh karena begitu teratur secara formal, dari segi isi puisi itu terasa berbelit-belit. Saya rasa tujuannya bukan untuk mengajukan argumentasi melainkan sebagai bahan untuk perenungan, sebagaimana diusulkan dalam a.15.

Permulaan dengan ucapan “berbahagia” menempatkan mazmur ini sebagai mazmur hikmat, yang berbicara tentang cara hidup yang baik dan buruk dalam dunia ini. Intinya adalah hidup menurut Taurat atau firman Tuhan. Ada 8 kata yang dipakai dalam mazmur ini untuk firman Tuhan. Firman adalah yang paling umum, yang dikenal dalam Taurat (hukum Musa). Taurat menyampaikan bagaimana Allah mengikatkan diri dalam perjanjian dengan umat-Nya, disertai berbagai saksi atau Peringatan. Perjanjian itu terdiri atas Janji, Perintah dan Hukum. Janji adalah dasarnya, karena Allah selalu telah memberi sebelum menuntut. Perintah (dan Titah) merujuk pada otoritas Allah untuk memerintah, sedangkan hukum menyangkut kasus-kasus yang menunjukkan keadilan firman-Nya yang mengatur kehidupan kita dengan baik. Ketetapan berasal dari kata yang berarti menulis dalam batu, sehingga merujuk pada firman Allah yang tidak berubah. Dalam Perjanjian Baru, Injil yang menggenapi Taurat juga adalah firman Allah yang menyampaikan janji-Nya untuk mengatur kehidupan kita. Adalah anugerah yang luar biasa bahwa Allah menyatakan firman-Nya kepada kita.

Bait pertama bertema hasil dari hidup menurut firman. Salah satunya adalah “tidak mendapat malu”. Jika seseorang hidup menurut firman Tuhan, maka dia layak untuk berdiri tegak di depan sesama. Memang, di bawah dalam mazmur ini nampak bahwa bisa saja orang benar dihina oleh orang fasik (aa.21-23). Tetapi rasa malu jangan ditentukan sepenuhnya oleh orang lain. Yang paling penting adalah pujian Allah.

Bait kedua mulai dengan pergumulan orang saleh akan kelemahannya (a.9). Jalan keluarnya terkait dengan membatinkan firman-Nya. Hal itu terjadi ketika firman Allah menjadi suatu kerinduan (a.10), sukacita (aa.12, 14) dan kegemaran (a.16). Hal itu dibantu dengan kegiatan meditasi, dengan menyimpan janji (a.11), membaca firman dengan teliti (a.13) dan perenungan dan pengamatan (a.15). Fokus pada firman Allah akan membentuk kebatinan orang sehingga firman menjadi pokok dalam hidupnya. Dengan demikian kebahagiaan sejati dari Allah akan menjadi makin nyata dalam kehidupan kita.


Kej 17:1-14 Allah menjadi Allah kita

Oktober 2, 2008

Dalam perikop ini janji Allah kepada Abraham dipertegas. Janji Allah pertama-tama disampaikan kepada Abraham ketika dia dipanggil. Kemudian, setelah pernyataan bahwa Abraham dibenarkan karena percaya akan janji Allah (Kej 15:6) Allah mengadakan perjanjian sebagai bentuk hubungan janji dan iman yang sudah dibangun. Selalu janjilah yang pertama dan mendasar. Janji itu adalah respons Allah terhadap keberdosaan manusia yang merusak berkat dan kebaikan ciptaan Allah. Dalam perikop ini berkat itu muncul dalam bentuk beranak cucu (a.6, bnd. Kej 1:28) dan mendiami tanah (kata tanah dan kata bumi dalam 1:28 sama).

Dua hal ditambahkan di sini. Yang pertama ialah adanya raja-raja dalam keturunan Abraham. Hal itu tidak terlepas dari berkat Allah, karena manusia dibuat untuk berkuasa atas bumi (Kej 1:28) tetapi hal itu hancur juga setelah berdosa. Jadi seorang raja dapat memulihkan kuasa manusia itu. Janji raja-raja kemudian dikaitkan dengan keturunan Yehuda (Kej 49:10), yang tentunya digenapi dalam raja Daud, dan setelah kerajaan Israel hancur dalam pembuangan berkembang menjadi harapan Mesias. Kristus Sang Rajalah yang sekarang berkuasa sebagai wakil manusia (bnd. Ibr 2:6-9).

Yang kedua ialah sifat kekal perjanjian itu (a.8, 13). Sifat itu mungkin agak membingungkan jika kita memikirkan bahwa umat Allah tidak lagi terbatas pada tanah Kanaan (sekarang negara Israel di Timur Tengah) ataupun orang Yahudi. Tetapi kitab Wahyu justru membayangkan “suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” (Why 7:9), yang mendapat berkat yang tak terhitung dalam langit dan bumi yang baru (Why 21). Kristus tidak meniadakan janji-janji Allah. Hanya, kita sekarang—seperti Abraham sendiri—ada pada masa penantian. Kita tetap diberkati dengan keturunan—entah lahiriah maupun rohani—sambil menantikan penggenapan janji-janji itu.

Selain menyampaikan janji, perjanjian yang diadakan Allah di sini mengandung bentuk respons Abraham, khususnya sunat sebagai “tanda” (a.11) di dalam daging. Jika janji itu akhirnya menyangkut seluruh dunia, respons ini terkait dengan Israel sebagai bangsa, dan terbatas pada satu tahap dalam sejarah keselamatan. Sekarang iman kepada Kristus yang menentukan siapa yang termasuk dalam tubuh Kristus (Gal 3:26). Memang baptisan berfungsi sebagai tanda keanggotaan itu. Tetapi Yesus mengusulkan saling mengasihi sebagai tanda pengenal yang baru (Yoh 13:34-35; bnd. Gal 5:6), dan barangkali itulah caranya sekarang untuk “hidup dengan tidak bercela” (a.2). Kemudian Paulus, dalam konteks perdebatan tentang sunat untuk bangsa-bangsa, memperlihatkan penderitaan lahiriahnya sebagai pertanda bahwa dia adalah milik Kristus (Gal 6:17).

Adalah suatu anugerah besar bahwa Allah berkenan disebut Allah kita (a.8) dan mengikatkan diri-Nya dengan kita dalam perjanjian, lebih lagi dalam Kristus. Sekiranya kita dapat menangkap dan menghayati identitas itu.


11. Mazmur: Syukur, Pujian, Hikmat

Agustus 10, 2008

Allah menjawab doa! Itulah pengalaman Israel, sehingga mazmur permohonan dibalas dengan mazmur syukur. Mzm 116 adalah contoh yang terkenal. Sebagaimana dijelaskan dalam aa.1-2, pemazmur pernah berseru kepada Tuhan dan didengar. Keluhan (a.3) dan permohonannya (a.4) diringkas, kemudian ada banyak pujian. Mazmur sendiri merupakan bagian dari nazar pujiannya (a.14). Jika mazmur permohonan menyangkut keadaan tergoyang, mazmur syukur menyatakan rasa syukur ketika Allah meluputkan kita daripadanya.

Mazmur pujian adalah respons umat yang sudah biasa ditemani Tuhan dalam suka maupun duka. Seringkali ada seruan untuk memuji Allah, dengan alasan untuk pujian itu (Mzm 117 adalah yang paling ringkas!). Mazmur seperti p.103 masih sadar akan berbagai pergumulan hidup (dalam aa.3-6 ada dosa, penyakit, ancaman maut, dan pemerasan), tetapi umat Allah yang biasa berseru dan bersyukur sudah mengenal kebaikan dan kesetiaan-Nya. Dengan datang-Nya melawan segala penyakit dan kebangkitan-Nya mengalahkan maut, Kristus menjadi alasan untuk kita selalu bersyukur dan memuji Allah.

Di antara banyak mazmur permohonan, syukur dan pujian adalah mazmur yang dekat dengan tulisan hikmat seperti Amsal. Mzm 1 memulai kitab Mazmur dengan mengingatkan kita akan dua cara hidup dengan dua akibatnya. Namun, sebagaimana dilihat dalam kitab-kitab sejarah dan juga para nabi, seringkali orang benar tidak berhasil karena diperas, dan orang fasik tidak seperti sekam melainkan berjaya. Mzm 37 membahas masalah ini dengan janji akan keadilan Allah yang akan datang (seperti 37:11 yang dikutip Yesus dalam Mt 5:5). Mzm 73 yang paling mendalam soal ini—kebingungan orang percaya disampaikan sejujur-jujurnya. Hasil pergumulannnya ialah bahwa Tuhan adalah bagiannya (73:26). “Bagian” (kheleq) adalah istilah untuk tanah yang dibagi-bagikan kepada setiap bani Israel sebagai tanda berkat Allah dalam kitab Yosua. Tetapi bani Lewi tidak memiliki bagian tanah, Tuhan adalah bagiannya (Bil 18:20). Maksudnya di sini, biar orang lain mendapat kekayaan dan kesehatan, jika pemazmur dekat dengan Tuhan itu cukup.

Jadi, lewat pergumulannya Israel belajar bahwa Tuhan setia, dan juga belajar berefleksi untuk memahami lebih mendalam apa inti janji-janji Tuhan, yakni Allah sendiri. Mazmur masih menolong kita dalam Kristus. Di dalam terang Injil, kita tahu bahwa ketika Kristus datang kembali, orang yang rendah hati sungguh akan mewarisi bumi yang baru (Mt 5:5). Untuk sementara, bagian kita adalah Roh Kudus. Di dalam Roh Kudus kita dibantu untuk berdoa dalam pergumulan (Rom 8:26) dan mengenal Allah sebagai Bapa (Rom 8:14).

Seri Pemahaman PL


1 Pet 3:8-12 Hidup yang mencerminkan berkat Allah

Juli 23, 2008

Kitab 1 Petrus membicarakan pergumulan orang percaya dalam keadaan tertekan. Setelah mengingatkan mereka tentang identitas mereka sebagai umat Allah dan pewaris janji-janji Allah (1:1-2:10), dia menasihati mereka tentang bagaimana caranya hidup dengan baik di dunia yang menentang kepercayaan mereka (2:11-12). 2:13 sampai dengan perikop ini membahas hubungan pribadi dengan menyoroti hamba (2:18-25) dan istri (3:1-7). Kristus yang menderita diangkat sebagai teladan dalam hal ini (2:21) sekaligus mengingatkan pembaca tentang kepedulian Allah (2:25). Bagian berikut (3:13dst) akan menerapkan hal-hal yang sama secara lebih luas di tengah masyarakat.

Sebagai kesimpulan dari nasihat sebelumnya, Petrus menganjurkan sikap mencari berkat. Hal itu dimulai dengan keharmonisan di jemaat (a.8, seia sekata hanya cocok dengan orang yang seiman). Kalau bukan di jemaat, di mana lagi? Tetapi dalam a.9 hubungan dengan musuh dibahas. Sebagai penerima berkat, hidup jemaat semestinya diilhami berkat. Jemaat dapat mengasihi musuh dengan mengucapkan berkat. Kutipan dari Mzm 34 yang berikut menegaskan hal itu. Pada umumnya kalau kita mencari berkat kita akan mendapatnya juga. Bahwa itu bukan hal mutlak sudah jelas dalam ayat berikut (a.13).

Memang dugaan Petrus ialah bahwa yang seia sekata adalah jemaat dan yang memusuhi ada di luar (walau tentu tidak semua di luar memusuhi). Tetapi kadangkala musuh yang harus diberkati justru di dalam jemaat, bukan di luar. Apakah hal itu adalah gejala identitas yang kurang berakar dalam berkat Injil, sehingga tidak mencari berkat bagi orang lain?


10. Mazmur Permohonan

Juni 27, 2008

Pernah ada anggota jemaat yang sangat bergumul karena berbagai keburukan dalam hidupnya. Untuk menghiburnya, beberapa sahabat dalam jemaat membagikan Mazmur pujian kepadanya, sekiranya dia memuji Allah untuk mendapat kekuatan. Saya memilih jalan yang lain. Saya membuka Mzm 13 yang mengeluh kepada Allah bahkan tentang Allah sendiri—”Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?”. Saya menjelaskan bahwa ini juga cara berdoa yang berkenan di hadapan Tuhan. Saya terkesan dengan tanggapannya, “Doa begini bisa saya doakan.” Yang dia perlukan bukan bahasa untuk berpura-pura ceriah melainkan sarana untuk berbicara dengan Tuhan di tengah pergumulan hati yang berat. Yang berikut melacal beberapa segi dari mazmur permohonan.

Baca entri selengkapnya »


Kis 5:1-11 Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan

Juni 25, 2008

Cerita tentang Ananias dan Safira yang menakutkan ini terletak antara gambaran tentang praktek membagi-bagikan harta kepada orang yang berkebutuhan dan komentar tentang tanda dan mujizat para rasul. Sama seperti peristiwa Akhan meperingati Israel di tengah suksesnya merebut tanah Kanaan (Yos 7), peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan (Gal 6:7). Sebagaimana pernah dikatakan, “di jemaat tempat orang lumpuh berjalan, pendusta mati”. Allah yang hadirat-Nya membawa keselamatan, pembaruan dan mujizat adalah Allah yang kudus.

Baca entri selengkapnya »