Fil 3:1-16 Supaya Memperoleh Kristus (22 Januari 2012)

Januari 20, 2012

Kesaksian Paulus dalam perikop ini luar biasa, dan bentuknya menantang dua kesalahan umum dalam menafsir. Kesalahan pertama mencari kebenaran teologis yang kemudian menjadi rumusan umum, padahal kita melihat bahwa dampaknya sangat besar pada seluruh hidup Paulus. Kesalahan kedua terbalik. Kebenaran teologis dianggap kulit saja, yang penting adalah suatu pengalaman iman. Tetapi pengalaman Paulus adalah berjumpa dengan Kristus yang sungguh telah bangkit, sehingga dia diterima (dibenarkan) dengan cuma-cuma, dan mengikuti pola hidup yang terpola oleh kematian dan kebangkitan-Nya. Teologi Alkitabiah semestinya begitu. Kita memang mau menarik kebenaran teologis dari perikop ini, bukan hanya pengalaman pribadi Paulus. Tetapi kebenaran itu hanya berguna bila kita juga mau memperoleh Kristus yang lebih mulia daripada segalanya.

Penggalian Teks

Setelah bercerita tentang Injil, dalam 3:1 Paulus memulai nasihatnya dengan seruan untuk bersukacita. Hal itu dilanjutkan dalam 4:1, setelah penguraian p.3. Oleh karena itu, pasal ini dapat memberi kesan sebagai interupsi. Hanya, penjelasannya begitu jelas tentang pembenaran dan tujuan hidup sehingga anjuran untuk bersukacita justru terasa lebih berdasar.

Dalam p.3 ini Paulus menanggapi kelompok yang dia sebut sebagai “penyunat palsu” (2). Kata yang dia pakai, katatome (pemotongan sampai hancur), merupakan sindiran terhadap kata peritome, sunat. Mereka memotong daging, tetapi menghancurkan orangnya. (Tidak disepakati antara para pakar, dan tidak terlalu penting, apakah kelompok ini adalah orang Yahudi yang melawan Injil seperti dalam 1 Tes 2:15, atau orang Kristen yang mau memaksakan sunat kepada orang-orang non-Yahudi seperti dalam kitab Galatia.) Paulus langsung membandingkan mereka dengan jemaat (3). Jemaatlah yang layak menyandang berbagai sifat yang mencirikan umat Allah. Jemaatlah yang disunat dalam hati (Rom 2:28-29), yang didiami oleh Roh Kudus sehingga merupakan Bait Allah (tempat ibadah) yang sebenarnya, yang bermegah bukan dalam hal-hal lahiriah seperti sunat dan tidak makan daging babi, melainkan dalam Kristus.

Dalam aa.18-21 Paulus akan kembali membandingkan kedua kelompok ini secara lebih dalam, setelah dalam aa.4-16 dia menyampaikan kesaksian hidupnya untuk diperhatikan (17). Kesaksian itu disampaikan dalam tiga tahap. Aa.4-6 menceritakan hidupnya yang dahulu dalam hukum Taurat, aa.7-10 perubahan setelah berjumpa dengan Kristus, dan aa.12-16 sikap melihat ke depan karena Kristus itu.

Dalam aa.4-6 Paulus mendaftar berbagai hal yang menjadi andalan untuk membuktikan keanggotaan dalam umat Allah. “Hal-hal lahiriah” menerjemahkan kata sarx yang berarti daging, di sini dalam artian apa yang kelihatan di depan semua (bdk. 1 Sam 16:7). Di sini sunat dan keturunan adalah langsung soal daging, tetapi keanggotaan dalam sekte Farisi juga merupakan sesuatu yang jelas dapat diandalkan sebagai bukti bahwa dia adalah bagian dari umat yang berkenan di hadapan Allah. Lebih lagi, Paulus membuktikan sikapnya terhadap Allah dengan menganiaya jemaat. “Kegiatan” menerjemahkan kata zelos yang menunjukkan suatu perasaan yang sangat kuat terhadap sesuatu, bisa rasa cemburu atau minat dan perhatian. Pinehas yang menjadi contoh utama zelos itu, ketika ia membunuh orang yang sedang berdosa sehingga rasa cemburu (zelos) Allah terhadap umat Israel yang sedang mengamuk itu berhenti (Bil 25:11). Paulus juga konsekuen, sama seperti Pinehas. Menganiaya orang harus tega, tetapi demi hormat Allah Paulus berani. Bahkan, dalam segala sesuatu Paulus pra-Kristus merasa menaati Hukum Taurat tanpa cacat. Hal itu tidak berarti bahwa dia merasa tidak pernah berdosa, hanya bahwa dia konsekuen dalam memperhatikan aturan-aturan Hukum Taurat, mempersembahkan kurban jika ada dosanya, dan mendapat bagian dalam penghapusan dosa umum pada Hari Pendamaian (Imamat 16). Ringkasnya, kelayakannya sebagai anggota umat Allah jelas di depan Allah maupun manusia.

A.7 mulai dengan kata “tetapi”, yang diulang dengan lebih keras pada awal a.8 (“tetapi sebaliknya”, LAI “malahan”). A.7 menyatakan intinya, perubahan sikap terhadap keuntungan lama karena Kristus. A.8 mempertegas semangat itu. Alasan karena Kristus diperjelas sebagai pengenalan akan Kristus. Tentu, ketika Paulus berjumpa dengan sosok yang harus disapa “Tuhan” (kurie), yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Yesus, menganiaya jemaat terungkap sebagai dosa besar. Tetapi bukan hanya dosa itu tetapi semua yang lain, yang tidak bersifat dosa, dianggap bukan hanya rugi melainkan sampah. Mengenal Kristus tidak hanya mengungkapkan kesalahannya, tetapi juga membawa sesuatu yang lebih mulia ke dalam hidupnya.

Makanya, mulai akhir a.8 sampai a.11 Paulus menjelaskan orientasi hidupnya yang baru, yaitu “supaya memperoleh Kristus” yang mulia itu. Memperoleh Kristus menyangkut pintu masuk dan proses. Pintu masuk, “berada dalam Dia”, adalah pembenaran oleh iman (9). Paulus telah meninggalkan cara lama, yaitu kebenaran yang melekat pada orangnya karena dia taat kepada Hukum Taurat, seperti Paulus pada akhir a.6. Kebenaran itu merujuk pada berbagai ciri yang nampak bagi manusia dan Allah sebagai bukti kelayakan sebagai anggota umat Allah yang diterima Allah. Tetapi sekarang kebenaran Paulus itu “karena kepercayaan kepada Kristus”, dan berasal dari Allah bagi orang yang percaya. Satu tafsiran lagi untuk “karena kepercayaan kepada Kristus” adalah “melalui kesetiaan Kristus”; tafsiran itu membuat jelas bahwa kelayakan ada bukan pada orangnya melainkan pada Kristus. Dari satu segi, pencarian Paulus tidak berubah; dia mau berkenan kepada Allah. Tetapi caranya berubah drastis. Dia menerima kebenaran itu sebagai anugerah dengan percaya kepada Kristus. Dengan demikian, semua bukti lama akan penerimaan Allah tidak lagi berarti.

Tetapi pembenaran itu hanya landasannya. Memperoleh Kristus juga berarti mengenal-Nya, dan dalam aa.10-11 kematian dan kebangkitan Kristus menjadi kerangkanya. Kebangkitan Kristus dikenal dalam bentuk kuasa dalam kehidupan Paulus. Hal itu mungkin termasuk mujizat (bdk. Gal 3:5), pasti termasuk kuasa Injil mengubah kehidupan orang (Rom 1:16), dan juga termasuk kuasa untuk bertahan dalam penderitaan (2 Kor 4:7-11). Pada titik terakhir itu persekutuan dengan Kristus mencapai titik paling kenal (10). Melalui kuasa yang dialami dalam kesusahan, Paulus menjadi serupa dengan kematian Kristus, artinya, Paulus menjadi sosok yang mencari kemuliaan melalui kerendahan (2:6-11) dan kuasa dalam kelemahan (2 Kor 12:9). Dengan demikian, Paulus akan ikut dibangkitkan (11). Dalam aa.20-21 menjadi jelas bahwa kebangkitan itu menjadi puncak kemuliaan dan persekutuan dengan Kristus.

Dalam aa.12-14 Paulus menjelaskan sikapnya terhadap tujuan yang mulia itu. Karena dasarnya adalah anugerah, “aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (12), Paulus tidak pusing dengan kekurangan masa lampau, tetapi tetap mengejar pengenalan akan Kristus itu, yang disebut sebagai panggilan sorgawi karena Kristus ada di sorga dan akan datang dari sana pada saat kebangkitan (21). Dalam aa.15-16 Paulus menerima perbedaan tingkat kedewasaan (“sempurna” berarti dewasa dalam konteks a.15). Yang penting bukan apa yang telah tercapai (itulah cara hukum) melainkan arah hidup yang ingin mengenal Kristus.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Filipi tidak mundur dengan jatuh ke dalam cara kebenaran diri sendiri melainkan maju di dalam pengenalan akan Kristus. Orang di Filipi diperhadapkan dengan Taurat sebagai cara untuk mamasang hal-hal lahiriah sebagai bukti nyata dari status sebagai anggota umat Allah. Reformasi melihat bahwa hal-hal gerejawi dapat berfungsi demikian juga. Orang mengandalkan status sebagai pastor atau biarawan, persembahan yang dianggap membeli pengurangan waktu di api penyucian untuk yang telah meninggal, atau kehadiran dalam ritus-ritus seperti misa, sebagai hal-hal nyata untuk membuktikan kelayakan sebagai anggota jemaat. Tetapi gereja-gereja reformatoris tidak luput dari masalah itu. Begitu sebuah gereja menjadi mapan, orang akan mencari hal-hal nyata yang menjadi andalan sebagai ganti mengenal Kristus. Hal itu selalu ada kemunduran, sedangkan Kristus yang mulia jauh lebih layak menjadi landasan dan tujuan hidup orang percaya.

Makna

Pembenaran oleh iman mengandaikan konteks pengadilan. Kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah/Kristus pada akhir zaman (Rom 14:10; 2 Kor 5:10). Dasar pengadilan itu adalah perbuatan, apakah orang mencari kemuliaan atau kepentingan diri sendiri (Rom 2:6-8). Dosa bisa berbentuk pemberhalaan (orang-orang kafir dalam Rom 1:18-25) atau kemunafikan (orang-orang Yahudi dalam Rom 2:17 dst). Pembenaran adalah keputusan “tidak bersalah” dari Hakim. Pembenaran oleh iman kepada Kristus berarti bahwa kematian Kristus yang dipercayai menjadi dasar keputusan “tidak bersalah” itu. Penting diamati bahwa selalu 3:10-11 menyusul 3:9, artinya, pembenaran dikaitkan dengan pertobatan, Yesus diterima sebagai Juruselamat dan juga sebagai Tuhan (kurios = tuan, penguasa). Tetapi perubahan hidup terjadi karena perubahan hati. Bagi Paulus, Yesus menjadi lebih mulia dari segala yang lain. Makanya, dia menerima penderitaan yang luar biasa dalam rangka pelayanan oleh karena persekutuan dengan Kristus yang ada di dalamnya.

Dalam gereja yang sudah mapan, ada banyak hal-hal lahiriah yang dapat membuat kita giat mendukung gereja itu, seperti Paulus dahulu. Kita memiliki surat baptisan dan sidi, sehingga dapat diberkati dan menerima surat nikah. Gereja Toraja (tempat saya melayani) adalah salah satu gereja suku, sehingga menjadi wadah untuk menyatakan kesukuan. Untuk warga gereja yang suka main aturan, tata gerejanya tebal dan—katanya—lebih mudah dimengerti daripada Alkitab. Kegiatan warganya memang bukan menganiaya, melainkan serangkaian kebaktian serta rapat, cukup untuk seseorang merasa bahwa dia berjasa untuk Tuhan. Di mana Kristus di dalam semuanya itu? Jika ditanya, Apakah tujuan hidup saudara adalah memperoleh Kristus?, berapa warga jemaat yang akan bingung saja? Tidak semua, puji Tuhan. Tetapi sebagai pelayan kita kadang-kadang kecolongan. Kita melihat kesibukan jemaat dan merasa puas, padahal akarnya belum tentu Kristus. (Perhatikan bahwa pola itu bukan kesalahan kemapanan gereja melainkan kesalahan orang-orang di dalamnya. Sukses selalu membawa bahaya pengandalan diri.)

Tentu, introspeksi itu harus mulai dengan diri sendiri. Dalam persiapan, saya tergelitik dengan frase “supaya memperoleh Kristus”. Dalam perikop ini, Paulus bukan teladan hidup etis melainkan teladan penerimaan anugerah yang mencetuskan tujuan baru, yaitu mengenal Kristus. Sejauh saya dapat menangkap ajaran Paulus, itulah intisari keteladanan Injili. Bukan, “lihatlah betapa baik hidup saya”, melainkan, “lihatlah betapa berharga Kristus”. Saya dapat membayangkan pengkhotbah yang mencari-cari penerapan “praktis” dari perikop ini, tetapi dampak dari perikop ini semestinya adalah penyegaran iman. Dengan demikian, banyak hal praktis akan dilakukan, tetapi atas dasar yang kokoh, yaitu karena Kristus lebih mulia dari segalanya.

Apa kemuliaan Kristus? Pertama, pengorbanan-Nya sehingga ada pembenaran oleh iman. Secara paradoks, pengorbanan itu menyangkut hal yang paling hina, yaitu mati pada salib (2:8). Tetapi, Kristus juga dibangkitkan dan diberi nama di atas segala nama (2:9). Paulus berjumpa dengan Dia dengan “tubuh-Nya yang mulia” itu (3:21). Jadi, ada dua segi, penderitaan dan kemuliaan. Pada hemat saya, hal yang paling sulit diterima dalam budaya apa pun adalah berita bahwa kedua segi itu tidak dapat dipisahkan. Yesus yang mulia sepadan dengan banyak konsep ilahi, seperti dewa pelindung atau leluhur yang menjadi ilahi dan membawa berkat. Tetapi bahwa Dia menunjukkan jalan ke sana itu melalui disalibkan—itulah yang tidak diterima banyak orang, termasuk orang Kristen. Tetapi apa lagi yang diharapkan—seperti kejujuran menghadapi korupsi, atau pelayanan yang merugikan pelayan—jika salib belum siap dipikul? Kemudian, untuk apa salib dipikul, kecuali untuk mengenal Kristus yang disalibkan itu?


2 Yoh 7-11 Menolak penyesat demi kasih

Mei 5, 2011

Ketegasan merupakan hal yang bisa sulit dalam budaya Indonesia. Makanya, nasihat dalam a.10 kedengaran keras: “janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya.” Tidak memberi salam adalah tindakan penolakan, padahal gereja akhir-akhir ini justru berupaya keras untuk membangun penerimaan. Apa maksudnya?

Bertolak dari informasi dalam beberapa tulisan bapa-bapa gereja pada abad kedua dst, Yohanes kemungkinan besar tinggal di Efesus di Asia Kecil, dan menjadi pemimpin rohani dari sekelompok jemaat di kawasan itu. Namun, sudah ada perpecahan dalam mazhab itu, sampai ada yang keluar. 1 Yoh 2:18-25 menggambarkan hal itu: ada kelompok yang keluar, yang tidak mengaku bahwa Yesus adalah Kristus. Dari beberapa tulisan yang lain dari zaman itu, hal itu bukan penyangkalan akan adanya Kristus, tetapi ajaran yang membedakan Yesus sebagai manusia biasa dari Kristus sebagai oknum ilahi yang turun ke atas-Nya, kemudian meninggalkan-Nya sebelum Dia disalibkan dan dibangkitkan, karena yang ilahi itu tidak bisa menderita. Jika demikian, mungkin maksud 2 Yoh 7 ialah bahwa pengajar sesat tidak mengaku bahwa Yesus adalah Kristus yang datang dalam tubuh yang riil (kata “manusia” menerjemahkan kata “sarks” yang berarti “daging”). Mungkin juga pengajar sesat yang keluar dari komunitas Yohanes itu yang datang ke komunitas “Ibu yang terpilih” (barangkali kiasan untuk sebuah jemaat). Bagaimanapun juga, yang dibayangkan dalam a.10 adalah orang yang datang mengaku sebagai pengajar yang membawa kebenaran Injil.

Salam dalam aa.1-3 menekankan kasih dan kebenaran (aletheia, “truth”, yaitu, merujuk pada ajaran yang benar, bukan tingkah laku yang baik). Kebenaran adalah kebenaran yang tinggal dalam kita dan menyertai kita (a.2). Jika dikaitkan dengan Yoh 14-16, kita melihat bahwa kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran di dalam Kristus. Kebenaran ini tidak hanya diketahui melainkan dikenal, dikenal dalam Kristus. Adanya pengenalan itu dilihat dalam kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Anak. Kasih karunia adalah sikap Allah yang berkenan kepada kita—bukan karena kelayakan kita tetapi karena Kristus. Rahmat Allah adalah pertolongan Allah kepada orang yang tidak berdaya. Oleh karena kasih karunia dan rahmat Allah maka kita mengenal damai sejahtera. Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera itu muncul dari pengenalan akan kebenaran, dan memungkinkan kasih yang sejati. Walaupun pokok surat ini adalah kebenaran yang terancam, dalam a.1 Yohanes menyebut kasih sebelum kebenaran, dan dalam a.3 dia menutup dengan kasih. Ancaman terhadap kebenaran adalah ancaman terhadap kasih yang sejati.

Dalam aa.4-6 penghubung antara kebenaran dan kasih adalah perintah Allah. Perintah itu bagian dari kebenaran, dan isinya adalah untuk saling mengasihi. Perintah itu baru ketika disampaikan Yesus tetapi tidak lagi baru. Yohanes bersukacita oleh karena bagian jemaat yang tetap berpegang pada kebenaran ini, walaupun ada yang juga sudah jatuh.

Dalam a.7 kita sampai pada pokok, yaitu ajaran yang mengancam kebenaran. Kelompok yang menyangkal kemanusiaan Yesus yang sejati dicap penyesat dan antikristus. Apa kaitan ajaran ini dengan kasih?

Yang pertama, jika orang percaya pada ajaran yang menyesatkan itu, mereka akan kehilangan upah mereka (a.8), atau dalam kata lain, mereka tidak lagi memiliki Allah (a.9). Jadi, kasih untuk jemaat menuntut bahwa ajaran itu ditentang.

Yang kedua, jika Kristus tidak datang sebagai manusia sejati, kasih Allah yang Dia nyatakan menjadi kasih yang terbatas, bukan kasih yang sampai pada menyerahkan nyawa-Nya bagi kita (bnd. 1 Yoh 4:10). Ajaran itu tidak lagi menjadi kebenaran yang akan memotivasi kasih yang tak terbatas kepada sesama (bnd. 1 Yoh 3:16).

Yang ketiga, ajaran itu mengandaikan bahwa tubuh itu kurang penting, atau malah jahat. Allah hanya mencari jiwa, bukan manusia yang seutuhnya. Wujud kasih berdasarkan kebenaran ini juga akan terbatas, bukan seperti yang diharapkan dalam 1 Yoh 3:17-18.

Oleh karena itu, Yohanes tidak mau supaya pengajar yang demikian diterima dalam konteks yang akan merestui kehadiran mereka sebagai pengajar (a.10). Yang ditolak bukan orangnya, melainkan ajarannya. Penolakan itu demi kasih, bukan langsung kepada orangnya sendiri, melainkan kepada jemaat yang terancam.

Dua hal perlu ditegaskan di sini. Yang pertama, ada yang terlalu cepat menolak siapa saja yang tidak setuju dengannya. Hal itu bukan maksudnya di sini. Ajaran sesat di sini menyangkut sesuatu yang mendasar, yakni siapa Kristus, bukan soal seperti baptisan anak atau gaya lagu yang dipakai. Yang ditolak adalah pembawa ajaran itu, bukan orang biasa dan bukan orang luar. Orang biasa yang pemikirannya kacau, dan perlu dibimbing, bukan ditolak. Orang luar juga perlu dikabari Kristus, bukan ditolak. Kedua kelompok ini tidak memiliki kedudukan sebagai pengajar resmi untuk mengacaukan jemaat.

Yang kedua, ada waktunya kita harus menolak penyesat demi kasih kepada jemaat. Masih ada beberapa aliran yang jelas melangkah keluar dari ajaran Kristus, seperti Saksi Jehovah. Jika ada tetangga atau rekan kerja yang demikian, maksud a.10 bukan untuk tidak pernah memberi salam atau menerimanya di dalam rumah selaku pribadi. Tetapi jika mereka diterima dalam acara KPI bersama, misalnya, hal itu bisa saja memberi legitimasi bahwa mereka hanya sebuah denominasi seperti yang lain. Bahkan di dalam gereja arus utama, sewaktu-waktu ada pengajar yang mau menyangkal hal-hal mendasar tentang siapakah Kristus. Di dunia Barat ada denominasi yang ajarannya sudah begitu melenceng sehingga agak sulit dikenali sebagai lembaga Kristen.

Namun, pada umumnya di Indonesia masalah utama bukan orang melangkah keluar dari ajaran Kristus, melainkan Kristen KTP yang belum melangkah dengan jelas ke dalam ajaran Kristus. Kebenaran belum sungguh tinggal di dalamnya. Jika penyesat perlu diperlakukan seperti dalam a.10, hal itu menunjukkan betapa penting dan berharga ajaran yang benar itu.


Ibr 1:1-14 Firman yang mendasari, menopang dan memulihkan

Desember 14, 2010

Alur penyampaian 1:1-2:4 tidak sulit secara garis besar. 1:1-4 menyampaikan bagaimana Allah telah berbicara kepada kita dalam Anak-Nya dengan cara yang berbeda dari dulu-dulu, yang dalam hal ini diwakili oleh malaikat yang menjadi perantara Hukum Taurat (2:2) yang merupakan dasar Perjanjian Lama. 1:5-14 membuktikan klaim dalam 1:4 bahwa Anak itu lebih mulia daripada malaikat-malaikat. Kesimpulannya dalam 2:1-4 ialah bahwa kita harus mendengarkan firman tentang Anak itu dengan lebih serius lagi daripada firman dalam Hukum Taurat. Demikian penulis mulai meyakinkan pendengarnya untuk bertahan dalam iman kepada Kristus dan jangan kembali ke kepercayaan lama, yaitu agama Yahudi.

Kesimpulan itu sudah terkandung dalam 1:1-4, yang dapat diringkas, “Ia berbicara kepada kita dalam Anak-Nya, yang duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar” (mengikuti susunan kalimat dalam bahasa aslinya). Dalam seluruh surat, keutamaan Kristus menjadi dasar untuk tetap mendengarkan berita tentang Kristus yang utama itu. Terhadap pokok ini, cabang-cabangnya menyampaikan suatu kisah tentang rencana Allah. Kepelbagaian penyataan PL sudah digenapi (dirangkum, berpuncak) dalam penyataan dalam Kristus (1-2a). Sebagai Anak yang dilantik sebagai Mesias, raja yang dijanjikan Allah (lihat 1:5; soal memperanakkan tidak merujuk pada hakikat Kristus sebagai Allah Anak tetapi pada peran-Nya sebagai Mesias), Kristus menjadi tujuan rencana Allah untuk dunia ini (“menerima segala yang ada”), sama seperti sebagai (secara tersirat) firman Allah Dia menjadi penggerak rencana Allah dalam penciptaan (2b); akhir dan awal, omega dan alfa. Jika kita mau memahami dunia, termasuk dari mana kita dan ke mana kita, kita harus melihat pada Kristus.

Dalam a.3 Kristus (Anak) menjadi subjek. Mungkin tetap sebagai firman, Dia menyatakan kemuliaan Allah dan wujud Allah dengan sempurna. Tetapi Dia juga menopang segala yang ada dengan firman-Nya—seperti seorang raja. Dengan gambaran demikian tentang Kristus, kita mendengar kisah-Nya: Dia mengadakan penyucian dosa baru duduk di sebelah kanan Allah. Mengadakan penyucian dosa tentu merujuk pada pengorbanan-Nya, dan penderitaan Kristus menjadi contoh untuk pengikut-Nya di beberapa tempat (misalnya 2:10 dan 12:2-3). Satu implikasi ialah bahwa jalan menuju ke kemuliaan ditempuh melalui penghinaan (bnd. 13:12-13). Kita menjadi terampil dengan menjadi bodoh dan kerja keras lebih dulu; kita membawa perubahan dengan disalahpahami dan bersabar lebih dulu; kita diselamatkan dengan mendengar dan bertekun lebih dulu (2:1). Menjadikan kisah Kristus mitos kita, artinya kisah mendasar yang di dalamnya kita menafsir dunia ini, memiliki implikasi yang menyeluruh.

Di sini Kristus adalah firman (melebihi nabi-nabi), Anak/Raja, dan, pada titik penyucian, Imam. Aa.5-13 paling banyak mendukung status-Nya sebagai Anak/Raja, tetapi peran Kristus dalam penciptaan dibuktikan dalam aa.10-12, and a.13 mengutip Mzm 110 yang daripadanya penulis surat akan membahas keimamat Kristus (lihat pp.7-10). Setiap peran menaungi serangkaian kegiatan dan tujuan, tetapi kekayaan diri dan karya Kristus hanya dapat disampaikan dalam sebuah gabungan dari peran-peran ini. Sebagai firman Dia memberi struktur dan makna bagi dunia ini. Sebagai Raja Dia meneguhkan struktur itu dengan menegakkan keadilan, termasuk hukuman (1:8-9; bnd. 12:25-29). Sebagai Imam, Dia memulihkan struktur itu melalui penyucian dosa.

Sungguh, firman ini layak kita dengarkan dan muliakan, sehingga Kristus menjadi dasar, kerangka dan pengarah kehidupan kita.


1 Pet 3:1-7 Rumah tangga sebagai wadah kesaksian dan spiritualitas

November 3, 2010

Sepintas lalu perikop ini menyangkut hubungan timbal-balik antara suami dan istri. Tetapi jika dicermati, nasihat Petrus menyangkut dua keadaan yang berbeda. Aa.1-6 menyangkut seorang istri dengan pasangan yang belum percaya, sedangkan dalam a.7 pasangan si suami adalah sesama pewaris kasih karunia. Jadi, kedua-duanya merupakan penerapan dari 2:13-17, yang menyampaikan bahwa dalam kemerdekaan sebagai hamba-hamba Allah, orang-orang Kristen semestinya menjadi lebih baik dan berguna dalam masyarakat, bukan lebih kacau. Lembaga-lembaga seperti pemerintahan hanya disinggung di situ, tetapi kemudian Petrus menyoroti lembaga-lembaga dalam rumah tangga, yakni perhambaan (bnd. 1 Pet 2:18-25 yang dibahas beberapa minggu yang lalu), dan dalam perikop kita pernikahan. Kemudian, dalam 3:8 dst Petrus kembali ke soal persekutuan di tengah dunia yang tidak ramah, melanjutkan tema 2:12, “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa”. Tema itu adalah penerapan dari identitas jemaat sebagai umat Allah (2:9-10) sebagai puncak penguaraian Petrus tentang Injil. Jadi, perikop kita adalah bagian dari penguraian Petrus tentang cara hidup yang baik sebagai kesaksian tentang Kristus.

Latar belakang budaya juga perlu dijelaskan sedikit. Pernikahan dalam budaya Yunani abad pertama tidak terlalu mengandung unsur persahabatan. Bagi laki-laki, istri menyangkut keturunan yang sah, sedangkan seringkali ada isteri muda untuk penghiburan dan/atau pelacur untuk kesenangan. Istri tidak sama dengan hamba, tetapi tetap dituntut taat kepada suami. Hal itu termasuk agama, dan seorang isteri dituntut mengikuti pola agama suaminya. Makanya, Petrus mengalamatkan isteri yang suaminya belum percaya, tetapi bukan sebaliknya karena jarang ada suami yang isterinya tidak mengaku ikut percaya. Jadi, dalam aa.1-6 kita belajar tentang cara bersaksi oleh bawahan dalam hubungan yang tidak seimbang, dan dalam a.7 kita belajar tentang pernikahan kristiani.

Kedua bagian itu masing-masing memiliki tujuan. Isteri menempatkan diri di bawah kuasa (artian harfiah dari kata yang diterjemahkan “tunduk”) suami yang belum percaya itu untuk memenangkan dia (a.1). Suami hidup dengan bijaksana, artinya, dalam pengetahuan bahwa isterinya teman pewaris dari kasih karunia, supaya doa jangan terhalang. (Apakah doa suami, doa suami dan isteri secara terpisah, atau justru doa keluarga yang dirujuk di sini tidaklah jelas, tetapi semuanya mungkin.) Aa.2-6 merupakan penjelasan dari a.1, yaitu menguraikan apa itu cara hidup yang baik. Oleh karena itu, usulan amanat teks sbb: Cara hidup yang baik dalam pernikahan dapat memenangkan suami yang belum percaya dan memperlancar doa keluarga. Judul “Rumah tangga sebagai wadah kesaksian dan spiritualitas” bisa menjadi bibit amanat khotbah.

Beberapa catatan sbb. 1) Bahasa “cara hidup yang baik” diambil dari 2:12, sebagai latar belakang dari perikop ini, di mana penempatan diri dari isteri dan hidup dengan bijaksana dari suami dicakup dalam bahasa itu. Satu alternatif ialah “Menghormati pasangan dalam pernikahan” dst. Kata hormat diambil dari 2:17, dan bisa mencakup penempatan diri oleh isteri, dan juga soal hidup dengan bijaksana oleh suami. “Cara hidup” dalam 2:12 merupakan terjemahan bahasa Yunani anastrofe yang dalam 3:1 ini diterjemahan “kelakuan”.

2) “Tunduklah” dalam a.1 berarti “menempatkan diri di bawah”, artinya, mengakui wewenang atasan. Dari akhir penjelasan dalam a.6, “tidak takut akan ancaman”, kita melihat bahwa maksudnya bukan bahwa isteri disuruh pasrah saja karena terlalu takut untuk melawan. Sebaliknya, dalam kasih kepada suami, yaitu dengan keinginan supaya dia dimenangkan bagi Kristus, isteri, dalam takut akan Allah, berusaha untuk menjadi isteri yang baik. Penguraian dalam aa.2-4 menunjukkan bahwa “isteri yang baik” diartikan sesuai dengan budaya pada saat itu, karena nasihat Petrus mirip dengan nasihat umum pada saat itu tentang perhiasan dsb. Tentu, nasihat umum itu sesuatu yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Injil, dan Petrus melihat bahwa intisari nasihat itu cocok dengan apa yang diinginkan Allah (a.4 “di mata Allah”), dan juga sikap isteri-isteri dalam PL (aa.5-6a, perhatikan bahwa “-nya” dalam “anak-anaknya” dalam bahasa aslinya merujuk pada Sara, bukan Abraham). Tetapi dalam paling sedikit satu hal dia harus siap tidak taat kepada suaminya, yaitu dengan tidak ikut agamanya. Jadi, menjadi isteri yang dianggap baik oleh suami bukan soal ketakutan melainkan kesaksian.

3) Hal itu berarti bahwa nasihat bagi isteri itu bersifat kontekstual. Tidak tepat, misalnya, kalau a.3 dianggap melarang perempuan berdandan, karena yang ditujukan dalam nasihat umum di budaya itu bukan soal perhiasan an sich melainkan pencarian perhatian melalui berdandan. Orang bijak dalam budaya Yunani dapat membedakan karakter yang membawa keindahan ke dalam keluarga dari penampilan yang menarik perhatian bagi perempuan. Lebih lagi orang kristen yang mengalami pembaruan dalam batin. Namun, tidak semua perhiasan dapat dianggap penonjolan diri.

4) Sekali lagi, aa.1-6 tidak berbicara tentang keluarga kristen, melainkan tentang keluarga yang bercampur agama. Barangkali, isteri dan suami pernah seagama, entah agama Yahudi atau keagamaan Yunani-Romawi, tetapi isteri sudah jadi percaya kepada Kristus. Hal itu bisa juga terjadi di Indonesia, entah aluk todolo atau Islam atau agama yang lain. Tetapi, dalam konteks kekristenan sering ada suami yang mengaku kristen tetapi juga “tidak taat kepada Firman”, alias kristen KTP. Nasihat Petrus supaya tindakan dibiarkan berbicara lebih dulu mungkin bisa berguna sebagai alternatif dari isteri menegor suaminya terus. Rumah tangga adalah tempat orang paling ketahuan sifatnya. Jika Kristus terpancar di dalam kehidupan isteri, hal itu sulit diabaikan oleh suami (walaupun sebagian suami ternyata berhasil mengabaikannya).

5) Ada istilah “kekerasan rohani”, di mana (biasanya) suami tampil sangat saleh tetapi melecehkan isterinya terus melalui kritikan yang tidak berdasar. Suami yang dipengaruhi oleh budaya patriarkhis bisa sulit untuk menerima isterinya yang lemah dalam kedudukan sosial sebagai setara dalam pewarisan kasih karunia. Tetapi doa-doa suami seperti itu tidak akan diterima Allah (bnd. 3:12), dan ibadah keluarga tidak dapat dilakukan dengan tulus dalam suasana seperti itu.


Gal 5:16-26 Hidup oleh Roh atau daging?

Oktober 11, 2010

Dalam kitab Galatia, Paulus menguraikan mengapa Kristus dan bukan Hukum Taurat adalah sumber pembenaran di hadapan Allah (2:16), sehingga berkat Allah sampai pada bangsa-bangsa sesuai dengan janji Allah kepada Abraham (3:14). Oleh karena itu, orang beriman hidup dalam kemerdekaan (5:1). Jika demikian, apakah mereka bebas untuk hidup seenaknya? Konon ada yang menafsir kasih karunia Allah demikian, sehingga sepanjang sejarah gereja ada kecenderungan untuk menekankan hukum sebagai kerangka hidup. Dari satu segi, adalah jelas bahwa kita butuh hikmat dari Allah untuk mengetahui jalan yang baik dan yang buruk. Tetapi bagi Paulus ada sumber kebenaran (hidup yang benar) yang lain dari usaha untuk menaati aturan-aturan hukum, yaitu hidup oleh Roh Kudus (5:5). Hidup itu adalah hidup “karena iman” (atas dasar iman) dalam harapan, dan iman itu bekerja oleh (melalui) kasih (5:6). Kasih merupakan inti hukum Taurat (5:14).

Jadi, perikop kita menjelaskan peran Roh Kudus dalam membentuk kebenaran yang berpusat pada kasih. Jadi, dambaan banyak pelayan (dalam wacana, paling sedikit) untuk melihat jemaat yang hidup dalam kasih mendapat jalan keluarnya di sini.

Alurnya tidak sulit diikuti. Dalam aa.16-18 ada nasihat inti: hiduplah oleh Roh (a.16a). Secara harfiah, Paulus mengatakan “berjalanlah oleh Roh”. Tetapi jalan ini bukan jalan yang diatur oleh aturan, melainkan oleh keinginan. Ada dua sumber keinginan: daging dan Roh. Keinginan dari kedua sumber ini bertentangan (a.17). Jika saya mau berbuat jahat, Roh melawan keinginan itu dengan keinginan yang baik. Jika saya mau berbuat baik, daging melawan keinginan itu dengan keinginan yang buruk. Jadi, nasihat Paulus berarti, berpihaklah pada keinginan Roh. Jika mau berbuat jahat, carilah keinginan Roh yang berlawanan dengan keinginan itu. Jika mau berbuat baik, teguhkanlah keinginan Roh itu. Jika kita berjalan sesuai dengan keinginan Roh, kita sama sekali tidak akan menuruti keinginan daging (a.16b).

Dalam a.18 Paulus mempertegas bahwa jalan ini berbeda dari jalan hukum Taurat. Kita dipimpin oleh Roh, artinya, hidup kita tidak kacau atau tanpa arah. Tetapi pengaturannya bukan dari hukum Taurat (lebih lagi hukum yang lain yang tidak berasal dari Allah).

Dalam aa.19-21 Paulus menggambarkan perbuatan macam apa yang ditimbulkan oleh keinginan daging. Dari daftar ini jelas bahwa Paulus menggunakan kata daging secara metaforis. Hal seperti perselisihan atau kepentingan diri sendiri atau roh pemecah bukan hawa nafsu dalam tubuh melainkan hal-hal yang menyangkut hati dan akal. Kata daging merujuk pada keberadaan manusia yang lemah dan terbatas (mis. 4:14, diterjemahkan LAI dengan kata “tubuh”). Hanya, karena kondisi manusia termasuk berada di bawah kuasa dosa (3:22), kata itu menjadi cocok untuk menggambarkan keberdosaan manusia. Aturan seperti hukum Taurat gagal bukan karena aturannya tidak baik tetapi karena kelemahan manusia itu. Istilah daging merujuk pada ketidakberdayaan manusia di hadapan dosa. Hal itu dapat dilihat dalam daftar ini. Siapa memilih untuk iri hati atau amarah? Pemecah biasanya tidak sadar bahwa dia memiliki roh pemecah, karena hanya sanggup melihat kelemahan pihak yang lain. Kita memilih untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang berasal dari keinginan-keinginan ini, tetapi keinginan-keinginan sendiri terasa normal saja, sampai dari perbuatan atau akibatnya kita menjadi sadar akan apa yang telah kita perbuat. Ketika kita sadar, kita juga akan setuju dengan a.21b, yaitu bahwa hal-hal seperti itu tidaklah cocok dengan kerajaan Allah, sehingga jika kehidupan kita diwarnai oleh hal-hal ini kita tidak cocok dengan kerajaan Allah.

Sebaliknya, dalam aa.22-23 buah Roh digambarkan. Adalah menarik bahwa lawan dari perbuatan daging bukan perbuatan Roh melainkan buah Roh. Keinganan yang baik berasal dari karakter yang dibentuk Roh. Karakter itu sesuai dengan hukum Taurat (a.23b), tetapi seperti dijelaskan di atas karakter itu tidak akan dihasilkan oleh hukum Taurat oleh karena keberdosaan kita. Kasih adalah buah pertama, sesuai dengan penjelasan Paulus bahwa kasih mencakup seluruh hukum Taurat (5:14). Iman dalam 5:6 bekerja melalui kasih karena Roh membuahkan kasih di dalam kita. Roh adalah perwujudan berkat Allah yang diterima oleh iman (3:14), dan pembaruan hidup dari dalam adalah salah satu berkat itu.

Sebagai kesimpulan, Paulus mengingatkan kita tentang hakikat kita yang sebenarnya dalam Kristus, yaitu bahwa kita adalah orang yang hidup oleh Roh dan bukan oleh daging (aa.24-25). Segi bukan oleh daging digambarkan sebagai penyaliban daging. Karena Kristus mati bagi dosa, berada di dalam Kristus berarti mematikan hawa nafsu dan keinginan yang berdosa. Hal itu dilakukan dengan hidup dipimpin oleh Roh.

Menarik bahwa dalam a.26 (seperti dalam a.15) Paulus merujuk pada keadaan jemaat yang kurang damai, yaitu saling menantang dan mendengki. Di situlah ironi hidup oleh hukum. Orang berharap bahwa hukum dapat mengubah umat menjadi lebih baik. Tetapi, jika hukum Taurat tidak sampai pada akar masalah, lebih lagi hukum-hukum yang lain. Jemaat tidak akan berubah karena aturan gereja makin ketat, karena tegoran dari mimbar makin berapi-api, karena sanksi makin berat. Hal-hal itu tidak sanggup mengurangi rasa bersaing, kedengkian, pelarian kepada dukun dsb. Jemaat akan berubah karena Kristus diberitakan sedemikian rupa sehingga mereka mau menyalibkan daging dan hidup oleh Roh. Baru pada saat itu nasihat, seperti yang banyak disampaikan Paulus sendiri, akan berguna, bukan untuk mengubah hati orang melainkan untuk mengatur semangat rohani yang sudah ada.


Yes 32:1-8 Pemulihan batin

Agustus 21, 2010

Dalam Yesaya 28-35 ada berbagai nubuatan tentang hukuman dan penyelamatan terhadap Israel. Perikop ini menyampaikan suatu gambaran tentang Israel yang sudah dipulihkan. Salah satu fungsinya adalah perbandingan dengan kenyataan pada saat Yesaya, supaya kekurangan Israel pada saat itu dapat lebih jelas.

Perikopnya berbicara tentang pemimpin dalam artian yang luas, dari orang-orang yang menjabat (a.1) sampai orang yang berbudi luhur, sehingga menunjukkan kepemimpinan moral / rohani dalam masyarakat. Tentu, harapannya bahwa raja dan penjabat-penjabat yang lain akan memiliki karakter itu juga, tetapi harapannya tidak terbatas pada kelompok itu.

Tentang pemimpin yang menjabat, a.2 menyampaikan empat ilustrasi tentang perlindungan berkat kepemimpinan yang baik. Aa.3-4 berbicara tentang pemulihan batin. Mata, telinga, hati dan lidah orang akan berfungsi sebagaimana semestinya. Fungsi itu saya tafsir sebagai berikut. Mata semestinya sanggup melihat hal-hal yang tidak beres (seperti dalam aa.5-7), tetapi tidak sanggup karena hati yang terburu nafsu itu. Telinga semestinya sanggup mendengar hal-hal yang tidak enak, seperti keluhan orang miskin (a.7), tetapi yang tertindas (baik secara rohani, a.6, maupun secara ekonomi, aa.6-7) pun “gagap” dalam menyampaikan keluhannya (a.4).

Hasil dari pemulihan batin adalah pengakuan tentang orang-orang yang berbudi luhur. Kata itu dipakai untuk orang yang memberi dengan sukarela, seperti dalam Kel 35:5. Masalahnya, jika mata orang tertutup dan telinga orang tidak memperhatikan, orang bebal bisa saja mengklaim sebagai orang yang berbudi luhur, dan seorang penipu bisa saja dihormati (a.5). Padahal sifat yang sebenarnya dari orang bebal dan penipu yang diuraikan dalam aa.6 & 7 masing-masing sangat kentara. Sifat orang yang berbudi luhur juga kentara. Dia merancang hal-hal yang luhur, dan berdiri tegak karena hal-hal itu (a.8).

Bahwa aa.5-7 menggambarkan keadaan di Indonesia (dan negara-negara yang lain) sangat jelas. Mengapa demikian? Karena banyak orang, termasuk pempimpin-pemimpin kecil yang mempengaruhi masyarakat, belum mengalami pemulihan batin seperti dalam aa.3-4. Janji semu dipercayai karena hati yang terburu nafsu, sedangkan keluhan orang terpinggir tidak diperhatikan. Dalam konteks Yesaya, pemulihan batin akan terjadi jika ada pertobatan (bnd. 31:6-7) karena percaya pada karya Tuhan untuk memulihkan dunia (31:8-9). Hal itu tidak berubah dalam PB. Karena karya-Nya pada salib, Kristus adalah hikmat kita (1 Kor 1:30), yang memampukan kita melihat dunia seadanya dan mendengarkan bahkan hal-hal yang mengancam kepentingan kita sebagai pemimpin.


Bil 1:1-16 & 26:52-65 Peringatan untuk percaya

Juli 29, 2010

Bil 1:1 terjadi dalam tahun yang kedua sesudah Israel keluar dari tanah Mesir. Israel sudah menjadi umat Tuhan melalui perjanjian (Keluaran 19-24), Kemah Pertemuan sudah dibuat sebagai tempat hadirat Tuhan (Keluaran 25-40), dan sistem persembahan sudah diatur supaya Tuhan dapat hadir di tengah umat yang berdosa (kitab Imamat). Sudah waktunya Israel berangkat ke tanah perjanjian untuk menerima janji-janji Tuhan. Untuk hal itu Musa disuruh untuk menghitung jumlah orang yang dapat berperang (aa.2-3). Israel berperang sebagai bagiannya dalam menikmati janji Allah. Pemberian tanah itu bukan upah dari perang, seperti uang adalah upah dari pekerjaan. Perang itu bukan andil Israel, seakan-akan Allah tidak sanggup untuk memberikan tanah itu tanpa pertolongan dari Israel. Sebaliknya, perang Israel hanya dapat berhasil jika Allah berperang bagi Israel. Perang adalah cara Israel terlibat dalam pemberian itu. Israel tidak dapat menikmati tanah Israel kecuali mereka masuk ke dalamnya, dan mereka tidak dapat memasukinya tanpa memerangi bangsa-bangsa yang ada di sana. Sama halnya untuk kita sekarang. Kita menuju tanah perjanjian kita, yaitu langit dan bumi yang baru. Hal itu hanya mungkin karena Kristus sudah berperang bagi kita pada salib. Cara kita terlibat dalam janji itu sekarang adalah perjuangan rohani seperti dalam Ef 6:10dst. Hanya, bukan hanya laki-laki yang dewasa yang dicatat, tetapi semua: suami dan isteri, orang tua dan anak, tuan dan hamba (bnd. Ef 5:21-6:9).

Bil 26:52 terjadi sesudah 40 tahun pengembaraan di padang gurun. Penggenapan janji Allah dalam bentuk pembagian tanah kepada suku-suku menjadi alasan untuk pencatatan lagi (a.53). Tetapi yang dicatat kali ini dan yang dicatat di atas lain. Satu angkatan mati di padang gurun (aa.64-65). Dalam pp.13-14 kita membaca bagaimana Israel takut menaati perintah Allah untuk memasuki tanah perjanjian. Karena ketakutan itu, pemberian Allah tidak dinikmati oleh angkatan itu. Apakah hal itu berlaku dalam PL saja? Tidak. Penulis kitab Ibrani mengangkat kejadian itu sebagai peringatan untuk kita juga (Ibr 3:16-19). Dalam PB juga tidak ada jalan yang lain untuk menikmati janji Allah kecuali melibatkan diri di dalamnya, yaitu dengan hidup yang tertuju pada taat dan percaya. Meskipun kita mengaku menerima janji Allah, pencatatan oleh Allah bukan jaminan mutlak jika secara tersirat kita menolaknya, dalam sikap dan tindakan yang sama seperti Israel dalam Bilangan 13-14 tidak percaya pada Allah.


Yoh 12:30-36 Jalan yang diajarkan kepada bangsa-bangsa

Maret 15, 2010

Setelah perikop minggu yang lalu, Yesus tidak bersembunyi lama di kota Efraim (11:54). Pada awal p.12 diceritakan bagaimana Yesus diurapi “mengingat hari penguburan-Ku” (12:7) lalu Yesus memasuki Yerusalem dielu-elukan orang banyak. Menurut Injil ini, besarnya orang banyak yang menyongsong Yesus itu karena kebangkitan Lazarus (12:17-18). Dalam kecemasan, orang-orang Farisi mengeluh bahwa “seluruh dunia datang mengikuti Dia” (12:19). Perkataan itu ternyata merupakan nubuatan juga, sebagaimana dilihat dalam perikop kita. Bukan hanya orang Yahudi, tetapi semua manusia, akan datang mengikuti Dia.

Wakil manusia non-Yahudi itu muncul dalam a.20. Mereka mau bertemu dengan Yesus, dan mereka dibantu oleh dua murid yang memiliki nama Yunani (Filipus dan Andreas), walaupun mereka adalah orang Israel. Di antara para murid pun ada unsur dunia non-Yahudi. Yesus menanggapi permintaan itu dengan pernyataan bahwa “telah tiba saatnya Anak Manusia dipermuliakan” (a.23). Mengapa permintaan orang Yunani menimbulkan respons itu?

Di balik perikop ini ada perikop Yes 2:1-5, yang berbicara tentang “hari-hari terakhir”, ketika “segala bangsa akan berduyun-duyun” ke gunung Tuhan. Nubuatan itu menjadi kerangka perkataan Yesus. Yoh 12:23-26 menjawab datangnya bangsa-bangsa, dan menguraikan jalan Tuhan yang disebut dalam Yes 2:3. Kemudian, dalam aa.27-33 Yesus ditinggikan, sama seperti “gunung tempat rumah Tuhan” menjulang tinggi (istilahnya sama dalam bahasa Yunani Injil Yohanes dan terjemahan Yesaya dalam bahasa Yunani). Yesus sudah menyamakan tubuh-Nya dengan Bait Allah (Yoh 2:21). Di sini peninggian Bait Allah menjadi pusat dunia digenapi dalam peninggian tubuh Yesus pada salib. Akhirnya, dalam aa.34-36 ada seruan untuk berjalan dalam terang, sama seperti Yes 2:5.

Hal itu berarti bahwa ada definisi ulang kemuliaan (alias hormat). Yesaya pun sudah menafsir kemenangan Israel yang dinantikan sebagai kemenangan damai (Yes 2:4). Yesus lebih ke akar (radikal = ke akar) lagi. Anak Manusia akan dimuliakan dengan mati seperti biji, supaya menghasilkan banyak buah (Yoh 12:24). Bahwa Yesus mendefinisikan ulang kemuliaan secara umum dijelaskan dalam kedua ayat berikut. Kita juga harus siap mati atau berkorban demi hidup yang sejati, yaitu hidup kekal, hidup pada zaman yang akan datang (a.25). Jalan Yesus adalah jalan yang harus kita tempuh; tempat Yesus pada salib adalah tempat kita (a.26). Dengan demikian hormat kita datang dari Allah, bukan dari manusia (a.26b). Demikian jalan yang akan diajarkan kepada bangsa-bangsa yang berduyun-duyun kepada Yesus.

Jalan itu sama sekali tidak mudah. Yesus sendiri terharu (a.27, mungkin lebih tepat “gelisah”, seperti terjemahan kata yang sama pada Yoh 14:1, 27). Tetapi Dia sadar bahwa demikian tugas-Nya dari Allah Bapa. Allah meneguhkan maksud Yesus dengan perkataan dari sorga, bukan karena Yesus ragu tetapi karena konsepnya menjungkirbalikkan pehamanan manusia yang biasa. Kematian Yesus akan menghasilkan banyak buah: Iblis akan dikalahkan (a.31) dan bangsa-bangsa akan datang kepada Yesus (a.32).

Dalam a.34 orang banyak tetap bingung, sekarang tentang identitas “Anak Manusia”, yang memang bukan istilah yang sebiasa istilah “Mesias”. Yesus menjawab bahwa Dia (sebagai Anak Manusia) adalah terang, dan yang penting adalah percaya kepada-Nya dan berjalan di dalam-Nya.

Cara Yesus menantang kita semua. Kuasa dan hormat menurut Yesus berbeda dengan konsep yang berlaku di masyarakat. Gereja dianggap “berhasil” ketika dipuji pemerintah atau koran, atau ketika ada sesuatu yang kelihatan (gedung yang besar dsb). Terang menurut Yesus berbeda dengan akal yang berlaku di dunia modern. Gereja dianggap “berhasil” jika melalui analisis yang tajam ada program yang meningkatkan jumlah orang, pendapatan dari persembahan, atau ukuran-ukuran yang lain. Tetapi sejarah gereja membuktikan perkataan Yesus. Yang sangat berdampak bagi misi Allah dan dianggap paling terhormat adalah orang yang menderita, mati, dihina (seringkali oleh gereja sendiri pada awalnya). Di dalam pelayanan jemaat pun hal itu sudah jelas: kasih yang sejati akan siap berkorban.

Tetapi Yesus, sesuai dengan firman Allah dalam nubuatan Yesaya, mengharapkan pelayanan kepada semua manusia, termasuk yang di luar jangkauan Injil, entah karena jauh atau karena terpinggir. Hal itu tidak akan terjadi karena hormat atau kepintaran manusia. Hormat dan akal sangat mendasar dalam kehidupan kita, dan cara kita menghadapi dunia tidak akan sama setelah kita datang kepada Dia yang ditinggikan pada salib itu.


Yoh 11:45-57 Karya Allah di tengah kejahatan manusia

Maret 8, 2010

Kebangkitan Lazarus yang telah mati merupakan tanda terdahsyat yang dibuat oleh Yesus sebelum Dia sendiri bangkit. Seperti biasa dengan tanda-tanda Yesus, ada pembedaan antara yang percaya dan yang tidak (aa.45-46). Kali ini, ada dari yang menolak Yesus yang pergi kepada pemimpin-pemimpin agama Yahudi untuk melaporkan apa yang terjadi. Oleh karena itu, ada rapat khusus Mahkamah Agung Yahudi. Mereka mengambil keputusan yang masuk akal, yaitu bahwa Yesus mengancam keamanan bangsa yang dikuasai orang Romawi. Kekhawatiran Kayafas cukup dibuktikan hampir empat puluh tahun kemudian ketika Yerusalem dihancurkan oleh tentara Romawi karena orang-orang Yahudi memberontak. Tentu, kita sebagai pembaca tahu bahwa Yesus tidak bermaksud untuk memberontak terhadap kuasa Romawi. Juga, ada petunjuk dalam kata “bagimu” (a.50) bahwa sebenarnya kepentingan satu kelompok yang dijaga. Kayafas serta Mahkamah Agung dapat berkuasa karena dukungan orang Romawi, walaupun kuasanya juga terbatas. Oleh karena kepentingan itu, mereka menolak Yesus meskipun mereka menerima bahwa Yesus melakukan banyak mujizat (a.47).

Namun, di tengah maksud jahatnya, Kayafas tetap mengerjakan kehendak Allah. Pernyataannya menjadi salah satu penjelasan yang penting tentang makna kematian Kristus (a.51), yaitu bahwa kematian-Nya adalah cara Allah untuk keselamatan. Penjelasan itu diperluas oleh penulis Injil dalam a.52. Kematian Kristus akan berlaku bukan hanya untuk Israel melainkan untuk semua anak Allah, yaitu “mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh 1:12). Di sini kita melihat misteri kedaulatan Allah. Kristus diutus untuk menyelamatkan dunia melalui kematian-Nya. Hal itu menuntut bahwa Israel akan membunuh Dia. Apakah dengan demikian Allah menguasai para pemimpin Yahudi untuk membunuh Kristus? Ternyata tidak. Alasan mereka untuk membunuh Kristus sangat masuk akal. Tidak ada pemaksaan atau manipulasi oleh Allah. Kedaulatan Allah bekerja di tengah kehendak manusia, bukan melawan kehendak manusia.

Perikop berakhir dengan pembedaan kembali. Ada murid Yesus yang bersama dengan-Nya (a.54), orang Yahudi yang tertarik kepada-Nya (a.55-56), dan pemimpin Yahudi yang mau menangkap-Nya (a.57). Kita ditantang untuk merenungkan tempat kita. Jika kita adalah orang yang berkuasa, kita perlu merenungkan kepentingan apa yang kita berhalakan di atas Kristus. Kepentingan yang paling berbahaya adalah kepentingan lembaga gereja, di mana, misalnya, kita mendiamkan kebenaran untuk menjaga keamanan. Jika kita berada bersama dengan Kristus, kita dikuatkan bahwa Allah tetap bekerja di tengah niat jahat manusia.


Ibr 12:18-29 Ibadah yang berkenan

Januari 19, 2010

Inti seruan yang dibahas minggu yang lalu adalah seruan untuk mengenal Allah berdasarkan jalan yang disediakan Kristus. Penguraian berikut dalam kitab Ibrani meneguhkan seruan itu dalam berbagai hal. Pasal 11 adalah daftar yang terkenal tentang saksi-saksi iman yang berpuncak pada Kristus dalam p.12. Topik itu beralih ke pentingnya menerima didikan Allah sebagai anak. Kemudian, dalam ayat-ayat sebelum perikop kita (aa.14-17), ada pentingnya tidak menolak anugerah Allah seperti Esau. Perikop kita memberi alasan untuk seruan itu (perhatikan kata “sebab” pada awal a.18).

Dalam bagian ini penulis kembali ke perbandingan yang dikembangkan dalam pp.3-4 antara Israel dalam pengembaraan di padang gurun dengan jemaat dalam pengembaraan di dunia. Peringatan di sana ialah bahwa ada banyak dari mereka yang berbagian dalam anugerah Allah tetapi tidak sampai pada tujuan yang dijanjikan Allah karena ketidaktaatan (4:1-3). Di sini perbandingannya antara titik awalnya setelah ditebus, masing-masing dilambangkan oleh sebuah gunung. Setelah Israel dibebaskan dari Mesir mereka berkumpul di gunung Sinai, seperti yang diceritakan dalam Kel 19. Pemandangan pada saat itu sangat menakutkan, menegaskan betapa Allah itu kudus sehingga berbahaya bagi umat yang najis seperti Israel (aa.18-20). Sebaliknya, gunung Sion di sorga dalam aa.21-24 memberi gambaran yang sangat menyemangatkan. Penulis menggambarkan kumpulan malaikat yang meriah dan orang-orang benar yang karena disempurnakan luput dari penghakiman Allah. Semua itu karena Yesus sudah mengadaan perjanjian baru oleh darah-Nya (a.24; bnd. p.8 & 9:15). Titik awal kita dalam Kristus adalah penuh harapan.

Jika darah Kristus berbicara, jangan janji itu ditolak, lebih lagi karena Kristus yang menyampaikannya berasal dari sorga, bukan dari bumi seperti Musa (a.25). Untuk mendukung itu penulis mengembangkan suatu implikasi dari kuasa dahsyat Allah. Di gunung Sinai bumi digoncangkan, tetapi ada janji dalam Hag 2:6 bahwa Allah akan menggoncangkan bumi dan langit. Ayat itu merujuk pada tujuan Allah untuk menempatkan bangsa-bangsa di bawah kedaulatan-Nya (Hag 2:7), tetapi penulis Ibrani hanya mengambil satu aspek, yaitu bahwa dalam janji itu penggoncangan tinggal satu lagi. Jika tidak ada penggoncangan lagi, maka yang dapat digoncangkan sudah diubah menjadi tak tergoncangkan (aa.26-27). Artinya bahwa kerajaan yang dijanjikan adalah mantap, kokoh, sangat layak disyukuri dengan rasa hormat dan takut (a.28).

Kalimat terakhir mungkin mengagetkan kita, karena sepertinya kembali ke gambaran gunung Sinai, daripada gambaran gugung Sion dsb. Tetapi sebenarnya penulis tidak menyampaikan dua gambaran Allah yang bertolak belakang. Allah adalah Allah yang dahsyat, hakim semua orang. Oleh karena itu, ada harapan bahwa Dia dapat menghanguskan semua yang jahat, bertentangan dengan kehendak Allah (aa.26-27). Gunung Sion lebih menjanjikan bukan karena keadilan Allah diganti dengan anugerah-Nya, melainkan karena dalam Kristus keadilan dan anugerah-Nya berjumpa. Orang-orang benar disempurnakan dalam darah Kristus sehingga dapat berdiri di hadapan Sang Hakim (aa.23-24).

Jadi, jika pada dasarnya penulis mau supaya pembaca tetap berpegang pada Kristus, dalam a.28 kita melihat respons yang diperlukan oleh yang berpegang. Intinya bersyukur. Kita bersyukur karena Kristus sudah membawa kita kepada tempat yang menyemangatkan; kita sudah dianggap sebagai umat Allah yang berada di sorga memuji Dia. Kita juga bersyukur karena tujuan kita adalah kerajaan yang kokoh, tak tergoncangkan. Bersyukur adalah cara beribadah yang berkenan. Dengan bersyukur kita menghormati Allah dan menunjukkan bahwa kita kagum atas semua yang Dia lakukan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.