Mt 27:27-31 Pelantikan Raja Israel

April 7, 2011

[Catatan untuk pelayan GT: perikopnya ternyata Mt 27:27-31, dengan maksud tema seperti di bawah, sebagaimana telah saya konfirmasi kepada salah satu anggota tim MJ. Pilatus menjadi tema minggu depan.]

Untuk menafsir kisah satu cara yang paling sering berguna adalah beranjak dari tokoh-tokoh di dalamnya. Dua tokoh yang muncul dalam perikop ini adalah Yesus dan pasukan. Yang disebut pasukan adalah cohors, sepersepuluh dari sebuah legio yang berjumlah 6.000 orang. Belum tentu 600 orang yang mengelilingi Yesus, karena istilah itu dapat dipakai untuk sebagian dari satu cohors, tetapi sepertinya semua yang bertugas pada saat itu ikut mengolok-olokkan Yesus.

Jika dilihat dari segi pasukan, kita melihat pola yang melekat pada orang di pertengahan jenjang kuasa sampai pada saat ini. Tugas mereka adalah mengamankan Yesus. Pemimpin yang ada di atas jenjang itu sudah sepakat bahwa Yesus mengancam keamanan (keamanan bangsa atau keamanan kedudukan pemimpin biasanya tidak dibedakan oleh kelompok itu), sehingga harus dibereskan. Pasukan bertugas untuk membawa Yesus ke tempat penyaliban melalui orang banyak tanpa Yesus dibunuh atau melarikan diri. Walaupun orang banyak di halaman sudah dihasut untuk meminta Yesus disalibkan (27:20), bisa saja, setahu mereka, ada pendukung Yesus di luar yang akan membuat masalah. Jadi tugas itu tetap ada risikonya.

Berhadapan dengan ketegangan, mereka bertindak seperti banyak aparat sebelum dan sesudahnya, yaitu mereka bersenang-senang dengan mengolok-olokkan seorang kecil yang ada dalam kuasa mereka. Ingat bahwa mereka adalah bawahan, pesuruh dari semua di atas mereka dalam hierarki militer. Cara untuk menyelamatkan harga diri yang tertekan oleh kedudukan itu ialah menekan orang kecil ketika ada kesempatan. Makanya, secara teratur dilaporkan bahwa ada polisi dan militer di Indonesia menyiksa tawanan (tentu oknum-oknum tertentu). Makanya, tentara AS membuat foto-foto penganiayaan teroris tersangka di penjara Abu Ghraib dan Guantánamo Bay. Bahkan pejabat kecil bisa melampiaskan stres mereka kepada orang yang ada di bawah kuasa mereka, yang dianggap sepele dan sampah. Bagi pasukan pada saat itu, tuduhan bahwa Yesus mengaku sebagai Raja Israel amat lucu. Keadaan Yesus, seorang tukang dari pelosok yang baru disesah, hanya membuktikan bahwa yang berkuasa layak berkuasa, dan yang rendah layak direndahkan. Sikap mereka terhadap kuasa dan kedudukan adalah khas sikap dunia, sampai sekarang.

Soalnya, ternyata yang mereka aniaya tidak lain dari Anak Allah.

Ternyata, menurut Mt 25:41-46 (perikop PA minggu ini), setiap orang kecil adalah wakil Yesus. Sikap kita terhadap orang kecil adalah sikap kita terhadap Yesus. Pengolok-olokan pasukan itu mengungkapkan makna dari semua peremehan dan penindasan orang kecil, yaitu penghinaan terhadap Allah sendiri.

Kemudian, bagaimana jika dilihat dari segi Sang Korban, Yesus? Jika pada baptisan-Nya Yesus diurapi sebagai Mesias, alias raja Israel, di sini baru Yesus diakui sebagai raja. Menurut penulis Injil, yaitu menurut Roh Kudus yang mengilhami penulis itu, di sini Kristus dilantik sebagai raja. Dia dipakaikan jubah ungu, dimahkotai, diberi tongkat, dan pasukan itu berlutut di hadapan-Nya. Kemudian, pelantikan itu diumumkan dengan papan di salib, “Inilah Yesus Raja orang Yahudi” (Mt 27:37). Daud juga mengalami jangka waktu yang lama antara pengurapannya dengan pelantikannya sebagai raja. Tetapi, suasananya berbeda. Daud sudah melewati masa pergumulannya ketika dilantik. Yesus dilantik pas pada puncak pergumulan-Nya. Daud dilantik atas aklamasi seluruh Israel. Yesus dilantik dalam keadaan yang serba ironis. Semua yang mengaku-Nya sebagai Mesias dan raja mengolok-olokkan-Nya. Apa yang mereka katakan persis benar, tetapi hanya Yesus mengetahuinya, dan itulah hanya oleh iman—tidak ada petunjuk sedikitpun dalam keadaan-Nya untuk membuktikan bahwa Allah berpihak pada Dia. Baru ketika Dia bangkit menjadi jelas bahwa Yesus adalah Raja Israel, bahkan Raja di atas segala raja.

Dalam perikop ini unsur kehinaan dalam pengorbanan Yesus paling ditonjolkan. Unsur itu yang menjungkirbalikkan nilai budaya yang terlalu asyik dengan hormat. Apa kita lebih mulia daripada Kristus, sehingga kita tidak sampai gengsi ini dan itu, sedangkan Kristus dilantik dengan cara begitu demi keselamatan kita?


Yoh 13:31-35 Kemuliaan dan kasih yang sejati

Maret 21, 2011

Ketika Yudas keluar dari perkumpulan Yesus dengan murid-murid-Nya (a.31a), penderitaan dan kematian Yesus sudah terjamin. Dalam Injil Yohanes waktu itu adalah waktu kemuliaan Yesus. Karena Yesus adalah utusan Allah, melaksanakan rencana keselamatan Allah dengan ditinggikan pada salib, maka kemuliaan Yesus juga adalah kemuliaan bagi Allah (a.31b). Makanya, Yesus yakin bahwa rencana itu akan segera terwujud (a.32). Dia akan mati, bangkit, dan kembali kepada Bapa-Nya di sorga.

Tetapi, ketika Yesus pergi, murid-murid-Nya akan tinggal di sini. Bagaimana keadaan mereka? Hal itu melatarbelakangi percakapan Yesus mulai dengan perikop ini sampai doa Yesus di p.17. Dalam a.34 Yesus memberi mereka perintah baru, yaitu untuk saling mengasihi. Perintah unuk mengasihi tidak baru, tetapi caranya baru. Mereka harus saling mengasihi sama seperti Yesus mengasihi mereka, yaitu, dengan pelayanan, pengorbanan dan kesabaran. Peristiwa membasuh kaki yang paling menonjol dalam teladan Yesus, karena sangat cocok dengan bagaimana caranya Yesus dimuliakan. Baik kemuliaan maupun kasih bukan dipraktekkan dalam rangka mencari status melainkan dengan mengutamakan kepentingan sesama.

Dalam a.35 ternyata perintah baru itu menjawab soal identitas mereka sebagai pengikut Yesus, yang terancam hilang ketika Dia tidak ada lagi untuk diikuti. Cara saling mengasihi yang baru itu begitu khas sehingga dapat menandai mereka sebagai pengikut Yesus, walaupun Dia tidak ada lagi.

Walaupun banyak hal dalam budaya Barat berasal dari budaya Yunani, semangat demokrasi yang mengesampingkan status dan keprihatinan untuk kaum lemah dan rendah berasal dari dampak Injil dalam budaya Eropa. Satu petunjuk sejauh mana kekristenan sungguh-sungguh masuk ke dalam budaya Toraja, atau budaya apapun, adalah sejauh mana status tidak lagi pokok dalam pikiran dan tindakan orang, sejauh mana orang mencari kemuliaan dalam pengabdian, sejauh mana orang prihatin dengan masyarakat yang tidak memliki status. Hal itu menunjukkan sejauh mana kisah Yesus ditangkap dan dicintai, Yesus yang dimuliakan pada sebuah salib yang paling hina, Yesus yang membasuh kaki murid-murid-Nya.


1 Pet 2:18-25 Harga diri di tengah penderitaan yang tidak adil

September 28, 2010

Surat Petrus mulai dengan menjelaskan status pembaca sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus” (2:9, sebagai kesimpulan 1:1-2:10). Oleh karena itu, “sebagai pendatang dan perantau” (2:11, tomentiruran dalam bahasa Toraja), pembaca harus melawan dosa dan hidup baik di tengah bangsa-bangsa, supaya Allah dimuliakan (2:12). Dalam 2:13-3:7 hal itu dijelaskan dalam rangka hierarki-hierarki masyarakat. Sebagai hamba Allah, orang percaya merdeka, tetapi bukan untuk berbuat jahat melainkan untuk berbuat baik (2:16), termasuk menghormati semua orang sesuai dengan kedudukannya (2:17).

Perikop kita dapat dibagi dua, yaitu nasihat (aa.18-20) serta dasarnya (aa.21-25). Nasihatnya memang sulit. Ketidakadilan yang diterima begitu saja mengancam harga diri, karena tersirat di dalam penerimaan itu adalah pesan bahwa hak saya (atau hak kami) tidak berarti. Sepertinya a.18 menyuruh hamba tunduk pada kebengisan dan hidup dalam ketakutan. Malah, dalam aa.19-20 hal itu disebut “kasih karunia pada Allah”. Banyak bagian Alkitab yang lain menyuarakan keadilan, karena semua manusia adalah gambar Allah sehingga semua manusia bermartabat di hadapan-Nya. Mengapa sebagai hamba yang percaya kepada Kristus saya sepertinya disuruh untuk tidak memperjuangkan keadilan untuk saya (ataupun sesama hamba)?

Oleh karena itu, saya memberi sorotan yang mudah-mudahan tidak dianggap berlebihan pada nas ini. Dua hal perlu diamati.

Yang pertama adalah konteks sosialnya. Sama sepert di Toraja ketika Injil datang, perhambaan dalam kekaisaran Romawi adalah hal yang menjadi landasan sistem perekonomian. Ada dua perbedaan dengan Toraja ketika Injil datang. Yang pertama, ketika Injil datang dengan zending, datang pula sistem perekonomian dunia Barat yang sudah meninggalkan perhambaan karena teknologi mengambil alih fungsi hamba. Pada abad pertama tidak ada alternatif yang terpikirkan. Bahwa inti perhambaan, yakni bahwa hamba adalah milik tuannya, sama menurut hukum dengan harta benda, itu salah, jelas karena gambar Allah terletak pada semua manusia. Tetapi, perhambaan di dalam kekaisaran Romawi juga tidak selalu buruk. Perbedaan kedua dengan perhambaan Toraja ialah bahwa hamba Romawi pada umumnya dapat berharap untuk dibebaskan pada usia tiga atau empat puluhan dan menjadi warga Roma, karena menjadi hamba adalah soal ekonomi, bukan kasta. Malah, status sosial seorang hamba dari tuan yang statusnya tinggi dapat lebih tinggi daripada orang merdeka yang statusnya rendah. Dokter, guru dan sebagainya adalah hamba. Jadi, pemberontakan terhadap sistem perhambaan tidak masuk akal pada saat itu, dan biasanya hamba akan lebih beruntung dalam jangka panjang jika dia bertahan, sekalipun tuannya bengis.

Jadi, kita dapat lebih memahami strategi PB soal perhambaan. Sistem itu tidak dapat diubah langsung. Tetapi, dalam persekutuan jemaat kesetaraan sebagai manusia yang ditebus oleh Kristus dapat memulihkan harga diri yang secara prinsip digilas oleh hukum yang mengatakan bahwa hamba adalah benda. Tetapi apakah nasihat Petrus ini menggilas harga diri itu?

Untuk beberapa kata terjemahan LAI bisa disalahpahami. Kata “tunduk” menerjemahkan hupotassomai yang berarti bahwa saya menempatkan diri (membiarkan diri ditempatkan) di bawah pengaturan atasan. Jadi, kata itu tidak semutlak “menaati”. Saya harus taat kepada Allah, dan anak (kecil) kepada orangtuanya, tetapi dalam hubungan hierarkis, seperti pemerintah, tempat kerja dsb, saya harus mengakui kuasa yang diberikan Allah kepada atasan. Pada umumnya hal itu berarti bahwa saya menaati atasan, tetapi, seperti Petrus sendiri kepada Mahkamah Agung Yahudi, ada saatnya saya harus menaati Allah daripada manusia (Kis 4:19). Kemudian, kata “ketakutan” (fobos) di sini merujuk pada rasa hormat. Tentang atasan, kata fobos dapat berarti “takut kena penyiksaan dari atasan” atau “takut mengecewakan atasan yang saya hormati”. Ketakutan yang pertama memang perasaan yang dialami jika ada tuan yang bengis. Tetapi ketakutan yang kedua yang dimaksud di sini, karena ketakutan ini juga dianjurkan kepada tuan yang peramah. Jadi, artinya sesuai dengan kata hupotassomai tadi; kita menghargai kedudukan tuan, sehingga kita tidak mau mengecewakannya.

Hal itu memang tidak mudah jika kita diperlakukan dengan tidak adil, tetapi Petrus mengarahkan kita untuk melihat Hakim yang sebenarnya. Dalam aa.19-20 terjemahan “kasih karunia” mungkin tidak optimal. Kata kharis berarti sikap yang baik kepada pihak lain. Seringkali kata kharis dipakai untuk sikap Allah yang baik kepada kita bukan karena perbuatan kita melainkan karena penebusan dalam Kristus, dan untuk artian itu terjemahan “kasih karunia” tepat. Tetapi di sini Petrus merujuk justru pada perbuatan atau sikap yang berkenan di hadapan Allah, yaitu menanggung penderitaan yang tidak adil. Allah melihat perlakuan yang tidak adil itu, dan memuji kita, bukan tuan yang bengis. Implikasinya jangan disepelekan. Atasan yang tidak adil adalah salah. Anda mungkin tidak terlalu dikejutkan oleh perkataan itu, tetapi pada hemat saya cara orang Toraja mengeluhkan keputusan orang-orang besar dalam gereja dan masyarakat menunjukkan bahwa dalam lubuk hati orang Toraja percaya bahwa atasan semestinya benar. Keluhan-keluhan kita berbelit-belit karena kita sebagai bawahan tidak yakin bahwa sudut pandang kita bisa lebih benar daripada atasan. Jika berhadapan dengan atasan, keluhan kita hilang, atau kadangkala berlebihan karena emosi. Kita belum percaya bahwa Allah berpihak kepada kita dalam penderitaan yang tidak adil itu.

Bagaimana kita tahu bahwa Allah berkenan atas penanggungan penderitaan yang tidak adil? Karena Kristus telah merintis jalan itu. Perlakuan terhadap Kristus ketika Dia ditangkap dan disalibkan adalah perlakuan paling tidak adil karena Kristus tidak ada dosa sama sekali (a.22). Namun, Kristus tidak membalas tetapi menyerahkan perlakuan itu kepada Sang Hakim yang adil (a.23). Yang menarik, dengan demikian harga diri-Nya sama sekali tidak terancam. Dia diterima oleh Allah, dan disembah oleh milyaran orang Kristen dan dihormati oleh jutaan orang lain. Dia diperlakukan sebagai penjahat, tetapi Allah, dan sebagian besar manusia sejak itu, justru mempersalahkan Pilatus dan Mahkamah Agung Yahudi, bukan Yesus. Sungguh, atasan belum tentu benar. Menanggung penderitaan yang tidak adil tidak harus menggilas harga diri kita jika harga diri kita kuat di dalam Tuhan.

Selain sebagai contoh sikap baik, penderitaan Kristus juga menjadi motivasi untuk berbuat baik (aa.24-25). Kematian pada salib adalah juga kematian kita terhadap dosa supaya kita hidup dalam kebenaran (a.24). Pada satu tingkat hal itu adalah logis saja. Jika kita mengklaim bahwa kita mengandalkan kematian Kristus, maka kita setuju bahwa dosa kita sangat buruk, sehingga tidak masuk akal jika kita tetap senang di dalam dosa itu. Tetapi Petrus sadar bahwa pikiran yang logis tidak cukup. Bilur-bilur Kristus membawa penyembuhan ke dalam hati dan batin (a.24). Kita dimampukan untuk mengenal Allah kembali sebagai gembala yang baik (a.25). Dalam kesesatan sebelum mengenal Kristus, tidak mungkin kita menanggung penderitaan yang tidak adil tanpa dendam yang pahit. Tetapi karena kita sudah mengenal kasih Allah yang diperlihatkan dalam pengorbanan Kristus, kita dapat membalas kejahatan dengan kebaikan. Dampak pada masyarakat di sekitarnya dijelaskan Petrus dalam bagian-bagian berikut (3:8 dst).


Yoh 12:30-36 Jalan yang diajarkan kepada bangsa-bangsa

Maret 15, 2010

Setelah perikop minggu yang lalu, Yesus tidak bersembunyi lama di kota Efraim (11:54). Pada awal p.12 diceritakan bagaimana Yesus diurapi “mengingat hari penguburan-Ku” (12:7) lalu Yesus memasuki Yerusalem dielu-elukan orang banyak. Menurut Injil ini, besarnya orang banyak yang menyongsong Yesus itu karena kebangkitan Lazarus (12:17-18). Dalam kecemasan, orang-orang Farisi mengeluh bahwa “seluruh dunia datang mengikuti Dia” (12:19). Perkataan itu ternyata merupakan nubuatan juga, sebagaimana dilihat dalam perikop kita. Bukan hanya orang Yahudi, tetapi semua manusia, akan datang mengikuti Dia.

Wakil manusia non-Yahudi itu muncul dalam a.20. Mereka mau bertemu dengan Yesus, dan mereka dibantu oleh dua murid yang memiliki nama Yunani (Filipus dan Andreas), walaupun mereka adalah orang Israel. Di antara para murid pun ada unsur dunia non-Yahudi. Yesus menanggapi permintaan itu dengan pernyataan bahwa “telah tiba saatnya Anak Manusia dipermuliakan” (a.23). Mengapa permintaan orang Yunani menimbulkan respons itu?

Di balik perikop ini ada perikop Yes 2:1-5, yang berbicara tentang “hari-hari terakhir”, ketika “segala bangsa akan berduyun-duyun” ke gunung Tuhan. Nubuatan itu menjadi kerangka perkataan Yesus. Yoh 12:23-26 menjawab datangnya bangsa-bangsa, dan menguraikan jalan Tuhan yang disebut dalam Yes 2:3. Kemudian, dalam aa.27-33 Yesus ditinggikan, sama seperti “gunung tempat rumah Tuhan” menjulang tinggi (istilahnya sama dalam bahasa Yunani Injil Yohanes dan terjemahan Yesaya dalam bahasa Yunani). Yesus sudah menyamakan tubuh-Nya dengan Bait Allah (Yoh 2:21). Di sini peninggian Bait Allah menjadi pusat dunia digenapi dalam peninggian tubuh Yesus pada salib. Akhirnya, dalam aa.34-36 ada seruan untuk berjalan dalam terang, sama seperti Yes 2:5.

Hal itu berarti bahwa ada definisi ulang kemuliaan (alias hormat). Yesaya pun sudah menafsir kemenangan Israel yang dinantikan sebagai kemenangan damai (Yes 2:4). Yesus lebih ke akar (radikal = ke akar) lagi. Anak Manusia akan dimuliakan dengan mati seperti biji, supaya menghasilkan banyak buah (Yoh 12:24). Bahwa Yesus mendefinisikan ulang kemuliaan secara umum dijelaskan dalam kedua ayat berikut. Kita juga harus siap mati atau berkorban demi hidup yang sejati, yaitu hidup kekal, hidup pada zaman yang akan datang (a.25). Jalan Yesus adalah jalan yang harus kita tempuh; tempat Yesus pada salib adalah tempat kita (a.26). Dengan demikian hormat kita datang dari Allah, bukan dari manusia (a.26b). Demikian jalan yang akan diajarkan kepada bangsa-bangsa yang berduyun-duyun kepada Yesus.

Jalan itu sama sekali tidak mudah. Yesus sendiri terharu (a.27, mungkin lebih tepat “gelisah”, seperti terjemahan kata yang sama pada Yoh 14:1, 27). Tetapi Dia sadar bahwa demikian tugas-Nya dari Allah Bapa. Allah meneguhkan maksud Yesus dengan perkataan dari sorga, bukan karena Yesus ragu tetapi karena konsepnya menjungkirbalikkan pehamanan manusia yang biasa. Kematian Yesus akan menghasilkan banyak buah: Iblis akan dikalahkan (a.31) dan bangsa-bangsa akan datang kepada Yesus (a.32).

Dalam a.34 orang banyak tetap bingung, sekarang tentang identitas “Anak Manusia”, yang memang bukan istilah yang sebiasa istilah “Mesias”. Yesus menjawab bahwa Dia (sebagai Anak Manusia) adalah terang, dan yang penting adalah percaya kepada-Nya dan berjalan di dalam-Nya.

Cara Yesus menantang kita semua. Kuasa dan hormat menurut Yesus berbeda dengan konsep yang berlaku di masyarakat. Gereja dianggap “berhasil” ketika dipuji pemerintah atau koran, atau ketika ada sesuatu yang kelihatan (gedung yang besar dsb). Terang menurut Yesus berbeda dengan akal yang berlaku di dunia modern. Gereja dianggap “berhasil” jika melalui analisis yang tajam ada program yang meningkatkan jumlah orang, pendapatan dari persembahan, atau ukuran-ukuran yang lain. Tetapi sejarah gereja membuktikan perkataan Yesus. Yang sangat berdampak bagi misi Allah dan dianggap paling terhormat adalah orang yang menderita, mati, dihina (seringkali oleh gereja sendiri pada awalnya). Di dalam pelayanan jemaat pun hal itu sudah jelas: kasih yang sejati akan siap berkorban.

Tetapi Yesus, sesuai dengan firman Allah dalam nubuatan Yesaya, mengharapkan pelayanan kepada semua manusia, termasuk yang di luar jangkauan Injil, entah karena jauh atau karena terpinggir. Hal itu tidak akan terjadi karena hormat atau kepintaran manusia. Hormat dan akal sangat mendasar dalam kehidupan kita, dan cara kita menghadapi dunia tidak akan sama setelah kita datang kepada Dia yang ditinggikan pada salib itu.


Pemberitahuan pertama sampai ketiga penderitaan Yesus

Maret 4, 2009

Perikop yang dipilih dalam Membangun Jemaat untuk keempat minggu sengsara yang pertama adalah ketiga kali Yesus memberitahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan menderita dan dibunuh. Tiga kali dalam empat hari Minggu? Ya, kali kedua diambil dari Injil Markus (9:30-32) kemudian dari perikop yang sejajar dalam Injil Matius (17:22-23).

Jadi, empat minggu berturut-turut sepertinya pendeta Gereja Toraja diharapkan mengkhotbahkan hal yang sama, yaitu penderitaan Kristus, pembunuhan dan kebangkitan Yesus. Variasi isi hanya menyangkut detilnya (tetapi ada, seperti baru kali ketiga campur tangan orang non-Israel disebut).

Mengapa ada tiga kali pemberitahuan dalam Injil Matius dan Markus? Yang pertama, hal itu menegaskan bahwa Yesus tahu nasib-Nya, sehingga jelas bahwa Dia menderita dengan rela, bukan secara terpaksa.

Yang kedua, dengan demikian Yesus menjadi teladan utama dari ajaran-Nya tentang kemuridan. Dalam Matius pp.16-20 (yang sejajar dengan Markus pp.8-10) Yesus meninggalkan keramaian pelayanan di Galilea untuk mengajari murid-murid-Nya tentang bagaimana caranya mengikuti-Nya. Tidak kebetulan saja bahwa ketiga kali pemberitahuan terjadi di dalam bagian ini. Setiap kali pemberitahuan Yesus menjadi dasar untuk ajaran kepada murid-murid-Nya yang belum memahami implikasi mengikuti Mesias yang menderita.

Kali pertama, Mt 16:21, sudah saya bahas, dan dengan tepat disambung dengan 16:22-28. Jika kita dipanggil untuk memikul salib dan kehilangan nyawa, kita tahu bahwa Yesus sudah memikul salib-Nya, dibunuh lalu dibangkitkan. Kita hanya ikut dalam jejak-Nya.

Kali kedua, Mt 17:22-23 didahului dengan perkataan tentang iman. Jadi, iman yang dimaksud adalah iman yang dapat melihat kebangkitan di balik salib, yang mengimani perkataan Yesus dalam 16:25 itu. Nas itu kemudian diikuti dengan peristiwa yang menegaskan bahwa para murid adalah anggota Kerajaan Allah (17:24-27). Tetapi pertanyaan dalam 18:1, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?”, menunjukkan bahwa para murid belum memahami cara berstatus dalam Kerajaan Allah. Kebesaran dicapai melalui kerendahan—serendah seorang anak, sama seperti kebangkitan Sang Raja dicapai melalui kematian pada salib—kematian yang terhina.

Kali ketiga, Mk 10:32-34 (sejajar dengan Mt 20:18-19), didahului dengan ucapan Yesus (10:31) tentang penjungkirbalikan dalam Kerajaan Allah. Yang terakhir (disalibkan) memang menjadi yang terdahulu (bangkit), dan murid-murid-Nya harus mengingat hal itu ketika memikirkan upah Kerajaan Allah (topik pembahasan dalam 10:28-30). Kemudian, ada murid mencari pangkat, yaitu duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus (seakan-akan mau menjadi “wakil Mesias”). Pangkat tidak identik dengan status. Pangkat menyangkut kuasa dan tanggung jawab, sedangkan status menyangkut tingkat kehormatan di depan orang. Jadi, Yesus menegaskan bahwa berkuasa berarti melayani, tentu berdasarkan teladan-Nya sendiri (a.45).

Dengan demikian, cara Yesus mendirikan Kerajaan Allah—penderitaan, kematian dan kebangkitan—berimplikasi sangat mendasar bagi kehidupan kita, yaitu cara beriman, mencari status, dan menggunakan kuasa. Semoga fokus pada Yesus dalam keempat minggu ini membawa para pendengar di GT untuk menghayatinya dengan kemuridan yang demikian.


Mrk 10:13-16 Makna menjadi seperti anak

September 12, 2008

Mengapa murid-murid Yesus memarahi orang yang membawa anak-anaknya? Pembaca Injil langsung teringat akan pasal sebelumnya. Setelah Yesus memberitahu (untuk kedua kalinya) bahwa Dia akan mati baru bangkit, murid-murid-Nya bertengkar soal status. Yesus menjawab dengan menempatkan diri dengan seorang anak (9:37). Hadirat-Nya bukannya ditemukan dalam yang dianggap agung melainkan dalam yang kecil. Status dalam Kerajaan Allah berlaku lain dari dunia. Allah disambut dengan menyambut utusan-Nya Yesus, yang disambut dengan menyambut anak kecil.

Seperti biasa, para murid sudah lupa akan pelajaran Yesus. Daripada menyambut anak dalam nama Yesus, mereka menolaknya. Barangkali mereka menegor orang-orang itu dengan keras karena Yesus berstatus terlalu tinggi untuk direpotkan dengan anak-anak kecil (dan bukankah status mereka bergantung pada status Yesus?).

Kelupaan mereka akan hal yang begitu pokok menjadikan Yesus marah. Soalnya, Dia juga sudah mulai menegaskan kepada mereka pentingnya pertobatan yang sejati supaya masuk ke dalam hidup alias Kerajaan Allah daripada neraka (9:43-48). Ajaran itu juga didahului dengan peringatan agar jangan menyesatkan “salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini” (9:42), yang mulai menempatkan murid sebagai anak kecil. Soal menjadi seperti pelayan dsb bukan sesuatu yang sepele saja.

Oleh karena itu, Yesus memperluas gambaran-Nya tentang anak. Dalam ayat 9:37 menyambut anak adalah menyambut Allah, tetapi di sini menjadi anak adalah menyambut (Kerajaan) Allah. Anak berstatus rendah karena bergantung sepenuhnya, sehingga menjadi cocok sebagai gambaran manusia yang tidak berdaya untuk menyelamatkan diri (bnd. 10:45). Saya duga contoh konkritnya terdapat dalam cerita berikut. Seorang kaya mencari hidup yang kekal, tetapi tidak sanggup melepaskan kebergantungan pada hartanya supaya bergantung pada Allah seperti anak kecil bergantung pada orang tuanya. Atau mungkin dia tidak mau melepaskan statusnya sebagai orang kaya untuk menjadi rendah seperti anak kecil. Atau kedua-duanya! Alhasil, kekayaannya menjadi tangan, kaki atau mata yang menyesatkan tetapi tidak dipotong (9:43-48), sehingga dia tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Kemudian Yesus memeluk dan memberkati anak-anak itu. Dengan demikian Dia sendiri menyambut anak kecil, sekaligus memeperlihatkan sikap Ayah-Nya kepada semua yang menyambut Kerajaan-Nya seperti anak kecil.

Jika seandainya ada jemaat yang mengadakan pelayanan sekolah minggu yang asal-asalan dan kurang lebih alasannya supaya anak tidak mengganggu orang tua di kebaktian, apakah hal itu akan menunjukkan hati jemaat yang tidak mau menjadi pelayan kepada yang rendah? Bukan hanya anak, tetapi sikap kita terhadap yang bercacat, kurang waras, tidak berstatus dsb menjadi petunjuk apakah kita sudah menjadi rendah dan bergantung seperti anak. Tidak ada cara lain untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dan menerima berkat Kristus.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.