Pemberitahuan pertama sampai ketiga penderitaan Yesus

Maret 4, 2009

Perikop yang dipilih dalam Membangun Jemaat untuk keempat minggu sengsara yang pertama adalah ketiga kali Yesus memberitahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan menderita dan dibunuh. Tiga kali dalam empat hari Minggu? Ya, kali kedua diambil dari Injil Markus (9:30-32) kemudian dari perikop yang sejajar dalam Injil Matius (17:22-23).

Jadi, empat minggu berturut-turut sepertinya pendeta Gereja Toraja diharapkan mengkhotbahkan hal yang sama, yaitu penderitaan Kristus, pembunuhan dan kebangkitan Yesus. Variasi isi hanya menyangkut detilnya (tetapi ada, seperti baru kali ketiga campur tangan orang non-Israel disebut).

Mengapa ada tiga kali pemberitahuan dalam Injil Matius dan Markus? Yang pertama, hal itu menegaskan bahwa Yesus tahu nasib-Nya, sehingga jelas bahwa Dia menderita dengan rela, bukan secara terpaksa.

Yang kedua, dengan demikian Yesus menjadi teladan utama dari ajaran-Nya tentang kemuridan. Dalam Matius pp.16-20 (yang sejajar dengan Markus pp.8-10) Yesus meninggalkan keramaian pelayanan di Galilea untuk mengajari murid-murid-Nya tentang bagaimana caranya mengikuti-Nya. Tidak kebetulan saja bahwa ketiga kali pemberitahuan terjadi di dalam bagian ini. Setiap kali pemberitahuan Yesus menjadi dasar untuk ajaran kepada murid-murid-Nya yang belum memahami implikasi mengikuti Mesias yang menderita.

Kali pertama, Mt 16:21, sudah saya bahas, dan dengan tepat disambung dengan 16:22-28. Jika kita dipanggil untuk memikul salib dan kehilangan nyawa, kita tahu bahwa Yesus sudah memikul salib-Nya, dibunuh lalu dibangkitkan. Kita hanya ikut dalam jejak-Nya.

Kali kedua, Mt 17:22-23 didahului dengan perkataan tentang iman. Jadi, iman yang dimaksud adalah iman yang dapat melihat kebangkitan di balik salib, yang mengimani perkataan Yesus dalam 16:25 itu. Nas itu kemudian diikuti dengan peristiwa yang menegaskan bahwa para murid adalah anggota Kerajaan Allah (17:24-27). Tetapi pertanyaan dalam 18:1, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?”, menunjukkan bahwa para murid belum memahami cara berstatus dalam Kerajaan Allah. Kebesaran dicapai melalui kerendahan—serendah seorang anak, sama seperti kebangkitan Sang Raja dicapai melalui kematian pada salib—kematian yang terhina.

Kali ketiga, Mk 10:32-34 (sejajar dengan Mt 20:18-19), didahului dengan ucapan Yesus (10:31) tentang penjungkirbalikan dalam Kerajaan Allah. Yang terakhir (disalibkan) memang menjadi yang terdahulu (bangkit), dan murid-murid-Nya harus mengingat hal itu ketika memikirkan upah Kerajaan Allah (topik pembahasan dalam 10:28-30). Kemudian, ada murid mencari pangkat, yaitu duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus (seakan-akan mau menjadi “wakil Mesias”). Pangkat tidak identik dengan status. Pangkat menyangkut kuasa dan tanggung jawab, sedangkan status menyangkut tingkat kehormatan di depan orang. Jadi, Yesus menegaskan bahwa berkuasa berarti melayani, tentu berdasarkan teladan-Nya sendiri (a.45).

Dengan demikian, cara Yesus mendirikan Kerajaan Allah—penderitaan, kematian dan kebangkitan—berimplikasi sangat mendasar bagi kehidupan kita, yaitu cara beriman, mencari status, dan menggunakan kuasa. Semoga fokus pada Yesus dalam keempat minggu ini membawa para pendengar di GT untuk menghayatinya dengan kemuridan yang demikian.


Mrk 10:13-16 Makna menjadi seperti anak

September 12, 2008

Mengapa murid-murid Yesus memarahi orang yang membawa anak-anaknya? Pembaca Injil langsung teringat akan pasal sebelumnya. Setelah Yesus memberitahu (untuk kedua kalinya) bahwa Dia akan mati baru bangkit, murid-murid-Nya bertengkar soal status. Yesus menjawab dengan menempatkan diri dengan seorang anak (9:37). Hadirat-Nya bukannya ditemukan dalam yang dianggap agung melainkan dalam yang kecil. Status dalam Kerajaan Allah berlaku lain dari dunia. Allah disambut dengan menyambut utusan-Nya Yesus, yang disambut dengan menyambut anak kecil.

Seperti biasa, para murid sudah lupa akan pelajaran Yesus. Daripada menyambut anak dalam nama Yesus, mereka menolaknya. Barangkali mereka menegor orang-orang itu dengan keras karena Yesus berstatus terlalu tinggi untuk direpotkan dengan anak-anak kecil (dan bukankah status mereka bergantung pada status Yesus?).

Kelupaan mereka akan hal yang begitu pokok menjadikan Yesus marah. Soalnya, Dia juga sudah mulai menegaskan kepada mereka pentingnya pertobatan yang sejati supaya masuk ke dalam hidup alias Kerajaan Allah daripada neraka (9:43-48). Ajaran itu juga didahului dengan peringatan agar jangan menyesatkan “salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini” (9:42), yang mulai menempatkan murid sebagai anak kecil. Soal menjadi seperti pelayan dsb bukan sesuatu yang sepele saja.

Oleh karena itu, Yesus memperluas gambaran-Nya tentang anak. Dalam ayat 9:37 menyambut anak adalah menyambut Allah, tetapi di sini menjadi anak adalah menyambut (Kerajaan) Allah. Anak berstatus rendah karena bergantung sepenuhnya, sehingga menjadi cocok sebagai gambaran manusia yang tidak berdaya untuk menyelamatkan diri (bnd. 10:45). Saya duga contoh konkritnya terdapat dalam cerita berikut. Seorang kaya mencari hidup yang kekal, tetapi tidak sanggup melepaskan kebergantungan pada hartanya supaya bergantung pada Allah seperti anak kecil bergantung pada orang tuanya. Atau mungkin dia tidak mau melepaskan statusnya sebagai orang kaya untuk menjadi rendah seperti anak kecil. Atau kedua-duanya! Alhasil, kekayaannya menjadi tangan, kaki atau mata yang menyesatkan tetapi tidak dipotong (9:43-48), sehingga dia tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Kemudian Yesus memeluk dan memberkati anak-anak itu. Dengan demikian Dia sendiri menyambut anak kecil, sekaligus memeperlihatkan sikap Ayah-Nya kepada semua yang menyambut Kerajaan-Nya seperti anak kecil.

Jika seandainya ada jemaat yang mengadakan pelayanan sekolah minggu yang asal-asalan dan kurang lebih alasannya supaya anak tidak mengganggu orang tua di kebaktian, apakah hal itu akan menunjukkan hati jemaat yang tidak mau menjadi pelayan kepada yang rendah? Bukan hanya anak, tetapi sikap kita terhadap yang bercacat, kurang waras, tidak berstatus dsb menjadi petunjuk apakah kita sudah menjadi rendah dan bergantung seperti anak. Tidak ada cara lain untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dan menerima berkat Kristus.