Mt 5:17-26 Taurat ala Yesus sebagai sarana misi Allah

Februari 13, 2009

Tempat hukum Taurat kadangkala menjadi pergumulan bagi orang Kristen, lebih lagi bagi orang Toraja jika Taurat dianggap sebagai pengganti Kristen dari aluk sola pemali (adat serta tabunya). Ajaran Yesus lebih halus. Taurat tidak tertinggal, tetapi juga harus dipahami melalui Kristus yang menggenapinya. Aa.17-20 memaparkan prinsip ini, kemudian aa.21-26 menyampaikan contoh pertama Taurat ala Kristus.

Contoh ini menarik, karena Yesus membantah tafsiran ‘hukum positif’ bahwa pembunuhan itu tindakan membunuh saja. Yesus mengajarkan bahwa memarahi dan meremehkan juga tercakup oleh perintah itu. Dasar hukum untuk jangan membunuh adalah Kej 9:6, yaitu karena manusia adalah gambar Allah. Memarahi dan meremehkan orang juga menghina gambar itu (bnd. Yak 3:9). Kemudian, dalam dua cerita pendek yang mengejutkan Yesus mengusulkan jalan lain jika bertentangan dengan orang: berdamai. Hal itu berlaku bagi saudara (aa.23-24) bahkan bagi lawan (aa.25-26). Cerita pertama mengejutkan karena perdamaian diprioritaskan di atas ibadah! Cerita kedua mengejutkan karena lawan itu adalah penagih, yang seringkali tergolong penindas di Galilea. Saya duga bahwa maksud Yesus bukan untuk membenarkan penagih melainkan untuk mengatakan bahwa permusuhan sama dahsyatnya dengan utang kepada penindas. Lebih baik menghargai sesama sebagai gambar Allah dan berdamai.

Nah, jika kita kembali ke posting kemarin, tidaklah sulit untuk mengaitkan ajaran ini dengan perselisihan dan percekcokan yang tidak asing dalam kehidupan sehari-hari di Toraja (dan tentu manusia yang lain—lihat saja komentar di berbagai blog atau koran di internet, bagaimana orang begitu cepat marah dan saling meremehkan). Tetapi hermeneutik misi yang diusulkan kemarin mau memberi kerangka misi Allah bagi nasihat etis ini. Dan saya rasa kerangka ini sangat perlu, karena pada umumnya ajaran etis Yesus dianggap indah tetapi tidak praktis. Hanya jika pengumuman Yesus tentang Kerajaan Allah (KA) dipahami, maka ajaran etis Yesus mulai masuk akal. (Itu bagian kognitif [cara berpikir] dari pertobatan.)

Kedatangan KA menyangkut pembaruan Israel yang bermuara pada keselamatan bagi bangsa-bangsa (lihat misalnya Yes 49:6) serta pemulihan seluruh ciptaan (mis. Yes 35). Kedatangan itu serta respons terhadapnya diangkat sebagai tema utama Yesus dalam Mt 4:17. Langsung Matius menceritakan bahwa ada beberapa orang yang dipanggil Yesus untuk menjadi inti dari Israel yang diperbaharui, seperti Yes 49:6a itu.

Kemudian, dari 4:23 sampai dengan 9:35 (yang sama dengan 4:23) Matius menggambarkan pelayanan Yesus dalam rangka KA itu. Ajaran Yesus dipaparkan dalam pp.5-7 (disebut khotbah di bukit karena 5:1), sedangkan tindakan-Nya digambarkan dalam pp.8-9. P.10 kembali ke para murid, yang diutus untuk melanjutkan pelayanan Yesus itu.

Jadi, khotbah di bukit menyangkut kedatangan Kerajaan Allah melalui Yesus. Itulah tempatnya dalam misi Allah. Yesus mau membentuk mereka supaya cocok untuk KA itu. Jadi, sifat-sifat murid Yesus digambarkan dalam 5:3-12. Perhatikan bahwa intinya adalah sifat yang cocok dengan KA yang akan datang. Tugas mereka digambarkan dalam 5:13-16. Garam dalam PL melestarikan perjanjian (Bil 18:19), jadi para murid Yesus yang sifatnya seperti aa.3-12 menjadi pertanda bahwa perjanjian Allah dengan Israel berlanjut (a.13). 5:14-16 menerapkan misi Israel untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa kepada para murid Yesus. Jadi, Yesus mengikuti pola seperti dalam Yes 49:6, yaitu pembaruan Israel sebagai dasar untuk misi Israel. Kita sebagai Israel plus (Israel ditambah bangsa-bangsa seperti Australia dan Toraja) harus tetap mengikuti pola ini—pembaruan ke dalam dan misi ke luar. Itulah bagian kita dalam misi Allah untuk mewujudkan Kerajaan Allah sampai Kristus datang.

Tetapi apa ukuran pembaruan itu? Bagi Israel dalam PL itu hukum Taurat, dan Tauratlah yang menjadi topik dari 5:17 sampai dengan kesimpulannya dalam 7:12. Dasar pemikiran Yesus disampaikan dalam 5:17-20. Yesus menanggapi kesan bahwa Dia meremehkan Taurat itu (a.17) dengan meneguhkan Taurat sebagai dasar umat Allah (aa.18-19). Hanya, Taurat harus dimengerti dalam rangka kedatangan Yesus sendiri (a.17b). Yesuslah yang akan mewujudkan harapan Taurat akan berkat bagi bangsa-bangsa (Kej 12:3) serta menjadi satu-satunya manusia yang hidup-Nya kudus seperti dituntut Taurat. Tetapi hanya Yesus juga yang sungguh memahami maksud yang sebenarnya dari Taurat, suatu pemahaman yang berlawanan dengan pemahaman para pengajar Taurat yang lain (a.20).

Kemudian, Yesus mengartikan kedua pemahaman ini sebagai dua versi kebenaran, dan 5:21-48 merupakan serangkaian pertentangan antara tafsiran pengajar Taurat dengan tafsiran Yesus. Yang bermunculan ialah pertentangan antara ‘hukum positif’ dengan etika karakter, misalnya antara jangan melakukan tindakan membunuh saja dengan menghargai manusia sebagai gambar Allah. Di balik pemaknaan itu adalah janji para nabi akan hati dan batin yang baru (Yeh 36:26-27; Yer 31:33). Datangnya KA dalam Kristus berarti bahwa umat Allah sudah siap untuk hidup baru, untuk hidup dalam kasih (7:12).

Barangkali, Allah memanggil orang Toraja untuk percaya kepada Yesus supaya mereka juga dapat ikut serta dalam pembaruan (kemudian misi) umat Allah menuju kedatangan Yesus kembali. Kematian dan kebangkitan Yesus meneguhkan janji KA, dan pencurahan Roh Kudus memperjelas bagaimana pembaruan itu dapat terwujud. Tetapi pembaruan itu akan terhambat jika ketaatan kepada Allah tidak dipahami dengan tepat. Jika Taurat ditafsir sebagai pemali (tabu) Kristen yang menjadi alat untuk mencegah musibah dan mendatangkan berkat, maka pembaruan diri dan pembaruan umat tidak akan dipahami. Yang diperlukan adalah mengalihkan harapan dari ketaatan ke janji Allah. Jika janji-janji KA dalam Mt 5:3-8 didambakan, jika ada kerinduan untuk mendapat Kerajaan Allah, untuk dipuaskan dengan kebenaran, untuk melihat Allah, maka ajaran Yesus menjadi cara untuk dibentuk dan diperbaharui, bukan alat untuk selamat.


4. Hukum Taurat: Kurban dan Kenajisan

Mei 13, 2008

Kitab Imamat memiliki satu keunikan, yaitu hampir seluruh isi tidak dilanjutkan dalam Perjanjian Baru! Yesus (Mk 7:19) dan gereja perdana (Kis 10:15) menganggap bahwa makan daging babi boleh saja, dan gereja perdana menganggap bahwa kematian Yesus menjadikan kurban Bait Allah mubasir (Ibr 9:1-10:18; mungkin Yesus juga demikian jika Mk 2:10 dikaitkan dengan Mk 10:45).

Hal itu mengharuskan pemahaman yang saya usulkan bahwa Alkitab itu dinamis, berkembang. Tempat Hukum Taurat (HT) diuraikan Paulus dalam Gal 3. Uraian itu menyinggung panggilan Abraham dan pemberian HT (pada pembentukan Israel) dari kisah PL. Yang pokok ialah janji kepada Abraham, yang “tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian” (a.17). Jadi, HT berlaku sementara saja sebagai penuntun (a.24), sampai Kristus datang (a.25) membawa kedewasaan iman (4:1-7).

Apakah dengan demikian HT dibuang saja? “Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” kata Paulus (Rom 3:31). HT tetap “adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik” (Rom 7:12). HT adalah firman Allah yang tidak berlaku lagi. Bagaimana hal itu dapat dipahami?

Usulan saya begini. HT tidak berlaku lagi sebagai hukum, tetapi tetap berfungsi sebagai dasar penyataan yang tanpanya kita tidak dapat memahami puncaknya dalam Yesus. Soal kurban merupakan bagian HT di mana usulan itu paling jelas. Kematian Yesus meniadakan perlunya kurban-kurban Bait Allah, tetapi hanya dapat dipahami dalam terang kurban-kurban itu. Daftar yang berikut meringkas maksud beberapa jenis kurban (dari buku tafsiran Wenham):

  • Im 1. Korban bakaran membawa pendamaian dengan menyenangkan Allah. Paulus dalam Rom 3:25 merujuk pada darah Kristus sebagai jalan pendamaian, yang dalam Rom 5:9-10 dijelaskan sebagai diselamatkan dari murka Allah.
  • Im 2-3. Korban sajian & keselamatan menyangkut doa dan syukur (yang kita lakukan langsung, seperti Ibr 13:15, bnd. Im 7:13; Mzm 50:14).
  • Im 4-5:13. Korban penghapus dosa menyucikan noda dosa. Ibr 9:13-14 menjelaskan hasil darah Kristus dengan bahasa seperti itu.
  • Im 5:14dst Korban penebus salah melunasi hutang dosa, seperti juga darah Kristus (1 Kor 6:20)

Dalam bahasa lain, ketika Yesus menggenapi sistem kurban dalam PL, dia tidak meniadakan maknanya melainkan menerapkan maknanya dengan cara yang baru. Sistem kurban tetap berfungsi sebagai penyataan Allah, tetapi bukan lagi sebagai hukum. Jadi, kita menggunakan bahan Imamat 1-5 dan yang sejenis untuk menjelaskan makna kematian Kristus, bukan untuk dipraktekkan.

Bagaimana dengan sistem kenajisan? Penyataan apa yang ada di dalamnya? Im 11:44-45 mengusulkan bahwa sistem kenajisan mengajarkan kekudusan kepada Israel yang telah ditebus. Yang najis tidak boleh bersentuhan dengan Yang Kudus. Yesus dalam Mrk 7:20-23 mengartikan kenajisan sebagai simbol dosa, dan 1 Pet 1:18-19 (dalam konteks kekudusan, a.15) menawarkan darah Kristus sebagai solusinya. Salib Kristus yang mengajar kita betapa najisnya dosa, dan itulah yang mengajar kita untuk hidup kudus. Dengan bahasa lain: dosa lebih parah daripada pelanggaran tabu.

Seri Pemahaman PL


Kej 28:10-22

Februari 29, 2008

Pada saat cerita ini, Yakub bermasalah. Dia harus melarikan diri dari kakaknya yang marah karena ditipu. Pelarian ini adalah ancaman terbesar selama itu terhadap janji Allah. Apakah Yakub, yang kelihatannya telah dipilih Allah sebagai penerus janjinya (Kej 25:23), akan sempat kembali ke tanah yang dijanjikan?

Dalam mimpi Allah menampakkan diri kepadanya. Janji-Nya diteguhkan, dengan beberapa tambahan yang cocok untuk keadaan Yakub. Dia berjanji untuk menyertai Yakub, sama seperti kepada Ishak pada suatu saat krisis (26:3). Dia juga berjanji bahwa Yakub akan kembali dari pembuangannya.

Yakub sadar bahwa tempatnya adalah “pintu gerbang sorga” (28:17). Setelah pengusiran manusia dari taman Eden tempat Allah berjalan-jalan, titik temu antara Allah dengan manusia menjadi langka. Fungsi titik temu itu diambil alih oleh Bait Allah (itu artinya Betel, walaupun tempatnya kemudian di Yerusalem), dan kemudian Yesus yang menjadi tangga yang menghubungkan sorga dan bumi (Yoh 1:51).

Tanggapan Yakub itu takut. Sebagai orang dari budaya Barat yang berusaha sekeras-kerasnya untuk menghilangkan semua misteri, saya harus belajar dari reaksi itu. Mungkin orang yang biasa takut akan pohon yang keramat harus belajar untuk takut akan Allah. Tetapi sama-sama jangan kita “menganggap sepi” kemurahan Allah (Rom 2:4) dengan dalih bahwa akibat sikap remeh kurang nampak.

Kemudian Yakub membangun sebuah tiruan dari pengalamannya. Batu yang di atasnya dia bermimpi didirikan seperti tangga dalam mimpi itu, dan “kepala” (ujung) batu itu diminyaki. Mungkin saja sebuah respons “psikomotorik” demikian bisa berguna untuk melestarikan signifikansi suatu pengalaman yang bermakna. Tetapi saya mau mengusulkan bahwa salib Kristus adalah tugu yang paling bermakna bahwa Tuhan akan menyertai kita melalui pengembaraan dalam dunia ini sampai kita kembali ke tahan yang dia janjikan, langit dan bumi yang baru itu.


2 Kor 3:7-18 Mengapa berani?

Februari 15, 2008

Pernah ada komentar tentang suatu acara antar-agama di Australia bahwa doa wakil agama-agama yang lain dalam acara itu jelas berbau agamanya masing-masing, tetapi doa wakil orang Kristen umum saja. Orang Kristen Barat sering merasa agak malu di depan penganut agama-agama yang menderita dan diremehkan di bawah penjajahan Barat.

Rasul Paulus tidak malu demikian (a.12), tetapi bukan karena kesanggupan Paulus sendiri (a.5). Sebaliknya, dalam 2 Kor 1 jelas bahwa Paulus hampir meninggal (1:8-11), dan juga mengecewakan jemaat di Korintus (1:15-24). Perikop kita mau menegaskan bahwa keberanian Paulus berasal dari Injil yang dilayankan.

Baca entri selengkapnya »


Kej 12:10-20

Februari 12, 2008

Setelah janji Tuhan yang hebat (12:1-3, 7) yang diresponsi dengan Abraham pergi ke tanah Kanaan (4-6, 8-9) dan mulai beribadah kepada Tuhan (7b, 8b), cerita ini adalah peristiwa pertama mengenai Abraham sebagai orang percaya. Bagaimana hasilnya? Singkatnya, Abraham gagal, tetapi janji Allah tetap berlaku.

Benarkah Abraham gagal? Dari perspektif PB jelas. Dia tidak mengasihi isterinya seperti Kristus mengasihi jemaat (Ef 5: ). Dia juga berbohong (tetapi bnd. Kej 20:12). Namun, hal-hal demikian tidak dikomentari oleh teks di sini. Alasan Abraham bahwa Sarai akan menarik perhatian orang Mesir memang dibenarkan oleh narator (14-15), tetapi kesimpulannya bahwa dia akan dibunuh janggal. Tuhan baru berjanji bahwa Abraham akan menjadi bangsa besar dsb. Masakan dia akan langsung dibunuh! Jadi, di sini Abraham kurang percaya. Itulah akar akibat buruk bagi isterinya dan Firaun.

Berlakunya janji Allah dilihat dalam hal tulah kepada Firaun yang mengancam Sarai (bnd. ayat 3a) dan dalam hal Abraham menjadi kaya (13:2, bnd. ayat 2a “Aku akan…memberkati engkau). Abraham tidak diberkati karena dia berbuat baik. Allah berpihak kepada Abraham sebagai penerima janjinya, bukan sebagai perintis moralitas. Itulah Injil yang diteguhkan dalam Perjanjian Baru (Rom 4:5, 8:31).

Tentu Abraham sudah meresponsi janji Allah, dan akhirnya belajar ketaatan yang dalam (Kej 22), sehingga Yakobus (dan Paulus, Rom 6) dengan tepat mengatakan bahwa iman yang sejati akan berbuah. Para teolog Pancasilais yang menganggap pembenahan moralitas rakyat sebagai fungsi utama agama boleh saja rileks. Tetapi cerita ini mengingatkan kita bahwa Tuhan lebih hebat daripada manusia, dan janji-Nya lebih penting daripada moralitas.

Baca entri selengkapnya »