Ef 5:1-21 “Mempergunakan waktu dalam kasih, kekudusan dan terang” (13 Mei 2012)

Mei 8, 2012

Kitab Efesus memuat teologi Paulus yang telah dirumuskan untuk konteks Asia Kecil (sekarang Turki) yang budayanya miriplah dengan Toraja lama, termasuk banyak roh, magis dsb. Dalam budaya siklis itu, Paulus tetap berbicara tentang rencana Tuhan, bahwa Tuhan menciptakan dunia dan mau membawa dunia itu kepada satu tujuan, dengan menempatkan segala sesuatu di bawah Kristus sebagai Kepala (1:10). Cara manusia bergabung dengan rencana itu ialah manusia bergabung dengan Kristus oleh iman (1:13-14), sehingga dihidupkan kembali (2:1-10) dan diperdamaikan di dalam tubuh Kristus (2:11-22). Dalam pasal 4, Paulus menguraikan tubuh Kristus itu (4:1-16), kemudian manusia baru yang dihasilkan oleh keselamatan di dalam Kristus (4:17-32).

Makanya, jangan sampai perikop ini dikerdilkan menjadi semacam tiruan Mario Teguh, tips-tips tentang bagaimana memakai waktu dengan efisien. Gaya Mario Teguh dilihat juga dalam kitab Amsal, dan tips-tips ada tempatnya, tetapi jika kita bertanya, “Waktu dipergunakan untuk apa?”, jawabannya harus terletak dalam Injil yang begitu ditekankan dalam surat ini. Bagi Paulus, implikasi Injil ada pertama-tama bukan pada tips-tips atau perintah-perintah, melainkan pada berbagai gambaran identitas kita. Jika identitas itu telah ditangkap, cara hidup yang semestinya akan menyusul.

Penggalian Teks

Ciri-ciri kehidupan baru dalam perikop ini ialah kasih (aa.1-2), kesucian (aa.3-7), dan terang/buah/bangun (aa.8-14). Itulah kerangka yang di dalamnya Paulus berbicara tentang hidup yang berhikmat (aa.15-17). Hikmat itupun tidak berdiri sendiri, tetapi perlu ditopang dengan saling berbagi dalam firman Tuhan oleh kuasa Roh Kudus (aa.18-21).

Soal kasih menyimpulkan penguraian tentang cara berbicara dan berelasi dalam tubuh Kristus dalam 4:25-31, sekaligus menjadi dasar untuk penguraian dalam perikop kita. Dasar kasih adalah Allah, terutama kasih Allah yang dilihat dalam pengorbanan Kristus. Pengorbanan itu adalah teladan (a.1, TB ed. 2 memakai terjemahan “teladanilah Allah”) bagi kita, tetapi jika kita meninjau penguraian Paulus, kita akan melihat bahwa maknanya lebih dalam dari itu. Selain kita berada di dalam Kristus, Kristus juga diam di dalam hati kita (3:17) sehingga dasar spiritualitas kristiani ialah menangkap besarnya kasih Kristus itu (3:18). Makanya, kita meneladani Allah bukan dengan kasih diri sendiri (suatu tuntutan yang mustahil), melainkan dengan kasih Kristus yang ada dalam hati kita. Kasih itu tertanam, antara lain, dengan merenungkan pengorbanan Kristus (a.2).

Jika Kristus adalah persembahan yang harum, kita juga harus menghindar dari kenajisan, hal-hal yang bertentangan dengan kekudusan. Dalam Paulus, kekudusan adalah pertama-tama kedudukan orang percaya yang telah dijadikan milik khusus Allah, sama seperti dalam PL. Tetapi implikasinya sudah dibatinkan, sehingga kekudusan menjadi cara untuk memandang martabat manusia yang hatinya bebas dari kekacauan, yang hawa nafsunya ada pada tempatnya. “Rupa-rupa kecemaran” dalam a.4 berarti maksud hati yang kacau, sehingga martabat orang itu anjlok. Contohnya dalam a.3 & a.5 adalah nafsu berahi dengan nafsu materi yang sudah melampaui batas. Contohnya dalam a.4 adalah berbagai cara berbicara yang meneguhkan “kewajaran” kekacauan itu. Mengapa orang suka perkataan yang kotor? Bukankah untuk membenarkan nafsu berahi yang tidak dikendalikan dengan baik? Mengapa orang suka omongan kosong? Bukankah untuk menjatuhkan sesama sehingga menutupi kelemahan diri dengan tampil lebih baik? Perkataan sembrono merujuk pada orang yang lidahnya fasih tetapi kepintarannya dipakai untuk merendahkan sesama atau tampil pintar. Lawan dari semua cara berkata itu ialah ucapan syukur. Ucapan syukur menjunjung tinggi Allah, dan mengakui semua pemberian-Nya yang baik di dalam dunia ini.

Sama juga dengan PL, kekudusan yang dilanggar menimbulkan murka Allah (a.6), sehingga pelanggar tidak akan ikut dipersatukan di bawah Kristus sebagai Kepala (a.5b). Tentu, maksudnya bukan orang yang sekali jatuh ke dalam sikap yang tidak baik. Jika kurban dalam PL membawa penghapusan dosa bagi orang Israel, lebih lagi kurban Kristus (a.2). Maksudnya bahwa Allah sudah turun tangan dalam Kristus untuk memulihkan dunia dari hal-hal yang demikian, sehingga adalah aneh dan sama sekali tidak menyambung jika orang percaya tetapi mau ikut di dalamnya (a.7, bdk. “sepatutnya bagi orang-orang kudus” a.3; “tidak pantas” a.4). Orang-orang yang didiami Kristus akan menyambut dengan gembira pemulihan Kristus dalam batin sehingga hidupnya dapat lebih baik.

Israel dipanggil untuk menjadi bangsa yang kudus, supaya dapat menjadi terang bagi bangsa-bangsa (Yes 42:6; 49:6). Paulus melanjutkan penguraiannya tentang identitas kita di dalam Kristus dengan tema itu (aa.8-14). Identitas kita di dalam Tuhan adalah terang (a.8). Terang berbuahkan kebaikan dsb (a.9), tetapi kegelapan tidak berbuah (a.11). Oleh karena itu, terang menelanjangi kegelapan. Misalnya, ternyata orang bisa setia kepada satu orang seumur hidup. Ternyata orang bisa bertahan hidup tanpa berkorupsi. Hidup kudus, hidup dalam kasih, membawa terang ke dalam tempat-tempat yang gelap (entah keluarga, kantor, dsb, a.13). Jadi, kata Paulus, kita harus bangun dari tidur sebagai manusia baru yang dibangkitkan dari kematian dalam dosa (2:1-10), supaya kita mengalami terang Kristus itu (a.14, yang mengartikan Yes 60:1 tentang pembaruan umat Allah).

Atas dasar itulah, aa.15-17 menganjurkan cara hidup yang arif dan mengerti kehendak Tuhan. Kejahatan hari-hari ini adalah bahasa lain untuk kegelapan tadi. Jika kita mau menjadi terang, kita harus mempergunakan kesempatan-kesempatan yang ada. Waktu banyak dipergunakan dunia untuk bertindak dalam kegelapan, dan kita harus mempergunakan waktu yang sama untuk membawa terang. Karena besarnya tantangan itu, Paulus menganjurkan untuk memperhatikan dengan saksama, karena dengan mudah kita akan dibawa ke dalam kebebalan dunia ini.

Bagaimana semuanya itu mungkin? Adalah fatal jika yang di atas dibebankan kepada jemaat untuk dilakukan seorang diri. Dalam aa.18-21 Paulus kembali ke soal persekutuan, bukan persekutuan yang terisi dengan perkataan yang kosong (seperti ketika orang kumpul minum-mimum), melainkan persekutuan yang dipenuhi oleh Roh, sehingga firman Allah, termasuk tentang kasih Kristus dan rencana Allah, dibagikan dengan berbagai cara.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Efesus menerapkan identitas mereka di dalam Kristus dengan menjadi kudus dalam kasih, sehingga menjadi terang. Dalam rangka itu, dia menasihati mereka untuk mempergunakan waktu yang ada dengan arif, dan saling menguatkan dalam kebenaran firman. Dengan demikian, mereka akan menjadi bagian dalam rencana Allah untuk mempersatukan segala sesuatu dalam Kristus, karena mereka sendiri ada di dalam Kristus, dan terang itu dapat membawa orang lain juga kepada Kristus.

Makna

Sepertinya, banyak jemaat memahami bahwa orang percaya “wajib” melakukan kasih kepada sesama, tetapi bagi mereka Allah adalah teladan di luar mereka, bukan Pribadi yang ada di dalam. Jika demikian, “kewajiban” itu akan dilakukan dengan bersungut-sungut dan menghitung-hitung. Jika muncul dari diri yang didiami Kristus, kasih itu akan seperti kasih Allah, berprakarsa dalam berbuat baik dan tidak reaktif. Tanpa kasih seperti itu, kekudusan juga akan menjadi semu. Orang Farisi, sebagaimana diceritakan dalam keempat Injil, mengejar kekudusan, tetapi dengan cara yang menajiskan orang banyak dan membanggakan diri. Jangan sampai “kekudusan” di dalam gereja juga demikian.

Pemahaman tentang kekudusan di atas dapat dikembangkan dengan mengatakan bahwa kecemaran itu semestinya menjadi pemali batin. Bagi saya, ini penting. Di dunia Barat, banyak orang, bahkan yang tidak bertuhan, tidak sampai hati berkorupsi, karena mereka akan merasa menjadi manusia kerdil jika melakukannya. (Tentu, ada banyak yang lain yang tega saja.) Di Indonesia, banyak orang yang tidak akan sampai hati mencuri dari orang miskin, tidak melihat ada masalah dengan mencuri uang negara, atau menyontek. Pertimbangan etis tentang hal-hal itu terlalu besar dan abstrak untuk mereka tangkap, sepertinya. Jadi, korupsi kecil hanya akan berkurang kalau hal-hal seperti itu menjadi pemali batin.

Ada banyak hal yang dapat dipikirkan tentang mempergunakan waktu. Pada satu segi, ada momen-momen keputusan: apakah saya membubuhkan tandatangan atau tidak, apakah saya masuk kamar calon selingkuhan ini atau tidak. Tetapi juga ada soal prioritas. Di dalam keluarga, ibadah keluarga, atau berdoa bersama, adalah penggunaan waktu yang baik yang sering dipinggirkan. Di dalam kantor, kejujuran hanya tahap pertama dalam menjadi terang. Kita juga perlu menjadi bawahan atau atasan yang berusaha untuk mengasihi sesama, melayani klien dengan baik, dsb.

Di dalam gereja, pendeta dan majelis ditempatkan di atas jemaat yang perlu didorong dan dikuatkan untuk menjadi kudus dan terang. Bagian mana dari pelayanan yang paling berguna untuk tujuan itu? Adakah pola-pola baru yang harus dipikirkan? Jika pendeta tenggelam dalam rutinitas, sehingga kehidupan rohaninya mati lemas, apakah itu penggunaan waktu yang baik? Banyak pendeta mengeluh bahwa mereka terpaksa sibuk dalam hal-hal yang tidak berguna, seakan-akan majelis dan jemaat menyewa preman atau tentara untuk mengawasi mereka. Sebenarnya, mereka takut akan jemaat. Padahal, bukan jemaat yang menjadi kurban bagi dosa Saudara.

Kembali perlu ditegaskan bahwa perjuangan ini (dan 6:10-12 jelas menggambarkan nasihat ini sebagai perjuangan) bukan sesuatu yang dapat dilakukan seorang diri. Semestinya OIG (kelompok pemuda, wanita, bapak dsb.) menjadi wadah untuk orang saling menguatkan dalam perjuangan ini. Pertemuan pendeta juga semestinya diisi bukan hanya dengan hal-hal administratif, tetapi saling menguatkan dalam pelayanan yang arif, yang mengerti kehendak Tuhan. Jangan sampai kita tidak membawa jemaat ke dalam terang, sehingga Allah memakai orang lain untuk menggenapi rencana-Nya.


Mat 15:7-20 Kenajisan yang sebenarnya (11 Mar 2012) [Sengsara IV]

Maret 10, 2012

Perikop ini menyangkut dua pola berpikir, yang satu diwakili oleh orang Farisi, yang satu diwakili oleh Yesus. Perbedaan itu dapat diringkas sebagai pendekatan batiniah (dosa di hati) melawan jasmani (kenajisan lahiriah), tetapi bagi saya perbandingan itu belum tajam. Bahkan, saya akhirnya mengusulkan bagaimana konsep kenajisan (terkait dengan pemali) tetap bisa dipakai. Sebagai catatan, pembacaan Membangun Jemaat dimulai pada a.7, tetapi agar perikopnya dapat dimengerti, pembahasan harus dimulai dari a.1, karena a.20 menjawab pertanyaan orang Farisi dalam a.2.

Penggalian Teks

Perikop ini terdapat dalam bagian 11:2-16:12, yang menguraikan berbagai respons terhadap Yesus, setelah agenda Yesus (yakni, Kerajaan Allah) dipaparkan dalam pp.4-10. Pada satu segi ada perlawanan dari orang-orang Farisi meningkat, pada segi yang lain pemahaman para murid meningkat, walaupun dengan sangat lamban. 11:25-27 meringkas maksud Allah di balik itu—orang bijak tidak dapat menangkap siapakah Yesus, sedangkan orang kecil bisa. Di antara para murid Yesus dengan orang Farisi terdapat orang banyak. Kepada mereka Yesus menggunakan perumpamaan untuk memberitakan Kerajaan Allah, sesuai dengan nubuatan PL (13:10-17 yang mengutip Yes 6:9-10; 13:34-35 yang mengutip Mzm 78:2). Yang degil hati tidak akan memahami Yesus, sedangkan yang siap (tanah yang baik, 13:23) akan menerima pemberitaan Yesus dengan baik. Dengan demikian, perumpamaan menjadi semacan penyaring, sehingga kehadiran Yesus membedakan antara lalang dan gandum (13:24-30); antara ikan yang baik dan yang tidak baik (13:47-50). Perikop kita melanjutkan tema pembedaan ini.

Perikop ini terdiri atas empat adegan. Dalam aa.1-9 Yesus dan orang Farisi bertengkar soal adat istiadat. Dalam aa.10-11 Yesus menyampaikan perumpamaan kepada orang banyak. Dalam aa.12-14 para murid dan Yesus membicarakan orang-orang Farisi. Dalam aa.15-20 perumpamaan itu dijelaskan kepada para murid.

Inti persoalan adalah kenajisan. Dalam a.2 ternyata murid-murid Yesus tidak membasuh tangan sebelum makan, suatu tindakan yang dianggap najis oleh orang Farisi. Orang Farisi mau menerapkan standar kekudusan untuk imam (bdk. Kel 30:18-21) kepada semua umat Israel, dengan harapan bahwa dengan demikian Allah akan menerima Israel dan menyelamatkannya. Kepada para pengajar itu Yesus menyerang cara mereka berteologi sehingga tradisi turun-temurun mereka meminggirkan firman yang tertulis dalam Alkitab (3). Orang Farisi percaya bahwa tradisi itu berasal dari Musa dan sepadan dengan Taurat, tetapi Yesus memperlihatkan contoh orangtua di mana ketentuan-ketentuan itu meniadakan perintah Allah (4-6). Dengan demikian mereka menjadi orang munafik, sama seperti Israel pada zaman Yesaya (7). Hormat bagi Allah ada di bibir mereka, tetapi hatinya jauh (8). Ternyata, adat istiadat itu tidaklah netral, tetapi berfungsi untuk menyatakan kejauhan dari Allah. Perintah Allah yang tidak disukai diganti dengan ketentuan manusia (9). Jadi, di sini Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan orang Farisi, tetapi menjawab dasar yang salah dari pertanyaan itu. Yang menolak Yesus, menolak karena hatinya jauh dari Allah. Orang bijak (seperti dalam 11:25 tadi) menolak Yesus karena kepintarannya dipakai untuk menghindar dari Allah.

Kepada orang banyak Dia menawarkan perumpamaan, sesuai dengan 13:10-17 tadi. Pokok dari perumpamaan ini adalah kenajisan. Bagian pertama cukup jelas. Yesus menyangkal bahwa apa yang masuk ke dalam mulut, yaitu, makanan haram, atau makanan yang dimakan dengan tangan yang tidak dicuci, dapat menajiskan. Bagian kedua perumpamaan ini kurang jelas. Apa itu yang “keluar dari mulut”? Ludah? Muntahan? Nafas? Perkataan? Artiannya tidak disampaikan kepada orang banyak, tetapi sesuai dengan 13:11, Yesus menjelaskannya kepada para murid dalam aa.12-20. Orang banyak yang rindu untuk belajar harus bergabung dengan Yesus untuk dapat mengerti.

Yang pertama, Dia menjelaskan sikap-Nya tentang orang Farisi (aa.12-14). Para murid kelihatan kaget bahwa Yesus berbicara begitu keras sehingga orang Farisi tersinggung dan marah (itu maksudnya “batu sandungan” di sini), tetapi Yesus menjelaskan bahwa mereka telah kehilangan tempatnya dalam rencana Allah. Menurut Rom 2:19, orang Yahudi menganggap diri “penuntun orang buta”, dan tugasnya adalah menuntun orang keluar dari “lobang”, tempat hukuman Allah menurut Yes 24:17-18. Anggapan itu sesuai dengan tugas Israel dalam PL untuk menjadi terang. Tetapi karena kaum Farisi ini buta, mereka malah membawa orang kepada hukuman itu. Mereka termasuk lalang yang tidak ditanam Allah, bukan gandum yang ditanam Allah (13:24-25). Mereka kehilangan bagian mereka dalam kedatangan Kerajaan Allah.

Yang kedua, Yesus menjelaskan kepada para murid makna dari perumpamaan itu. Pertanyaan Petrus memicu teguran sedikit, sesuai dengan kelambanan para murid untuk menangkap siapa Yesus. Namun, Yesus dengan sabar memberi penjelasan. Yang masuk ke dalam mulut memang adalah makanan, yang berjalan sampai dibuang lagi. Yang keluar dari mulut berasal dari hati, jadi, maksudnya kata-kata. Kata-kata adalah luapan dari hati, tetapi perlu diperhatikan bahwa a.18 berbicara tentang berbagai dosa, bukan hanya dosa perkataan. Jadi, perumpamaan itu memang adalah perumpamaan. Semua hal yang terkait dengan kenajisan lahiriah diwakili oleh makanan yang masuk ke dalam mulut, sedangkan semua hal yang terkait dengan hati diwakili oleh perkataan yang keluar dari mulut.

Sesuai dengan penekanan-Nya terhadap firman Allah, Yesus beranjak dari hukum keenam sampai kesembilan (a.19). Hukum kelima sudah Dia bela dalam aa.4-6. Menarik bahwa zinah ditambah dengan percabulan, sehingga jelas bahwa hukum ketujuh menyangkut semua dosa seksual. Sumpah palsu juga ditambah dengan hujat. Maksud dari hukum kesembilan ini adalah kedudukan atau reputasi orang di dalam masyarakat. Kesaksian palsu (disertai dengan sumpah dalam konteks pengadilan) menjatuhkan orang yang tidak bersalah, dan hujat (termasuk fitnah, kutuk dsb) bermaksud sama. Sama seperti dalam Yak 3:9, orang memuji Allah dengan bibirnya, tetapi menghujat sesama. Pelanggaran-pelanggaran ini berasal dari hati, bukan dari apa yang dimakan, dan tidak bersangkut paut dengan soal mencuci tangan (a.20).

Demikianlah penjelasan Yesus kepada para murid. Dari bagian-bagian sebelumnya, kita dapat melihat bahwa bahkan terhadap Taurat, khususnya di sini aturan-aturan tentang kenajisan, Yesus membawa pola baru. Otoritas-Nya atas penyakit, setan-setan, dosa, kelaparan, bahkan badai, ternyata sampai mencakup hukum Allah sendiri. Makanya, tidak mengejutkan jika tidak lama kemudian Petrus dapat mengaku bahwa Yesus adalah “Mesias, Anak Allah yang hidup” (16:16). Makanya, Yesus sendiri akan memerintah para murid untuk mengajar bangsa-bangsa untuk melakukan segala sesuatu yang telah Dia perintahkan.

Maksud bagi Pembaca

Matius mau memperlihatkan otoritas Yesus untuk menentukan hukum Kerajaan Allah, dalam hal ini terkait dengan soal kenajisan. Dia mau supaya pembaca memilih jalan Yesus, yaitu, mencari penyucian hati sehingga hukum Allah terwujud dalam kehidupannya. Dia juga memberi peringatan kepada semua orang “bijak”, termasuk para pemimpin jemaat, untuk tidak meniadakan firman Allah dengan pemahaman lunak yang membenarkan dosa.

Makna

Perikop ini termasuk kritikan agama yang paling keras dalam Alkitab, yaitu bahwa agama dapat dipakai untuk justru tidak taat kepada Allah. Sebagai makhluk, manusia membutuhkan Allah, tetapi tidak mau menyerahkan kendali kehidupan kepada-Nya, alias percaya. Tetapi Allah tidak berdiam diri terhadap hal itu. Nabi-nabi dalam Perjanjian Lama, dan lebih lagi Anak-Nya, Yesus Kristus, memberitahu manusia supaya memperbaiki apa yang sebenarnya rusak, yaitu hati, bukan memasang sistem manusia di mana ada bayangan dari pertobatan yang tidak menyentuh hati yang sakit itu. Ajaran lisan yang diwarisi oleh orang Farisi menyangkut banyak hal, seperti tidak memetik gandum atau menyembuhkan orang pada hari Sabat, yang sebenarnya tidak salah. Ketika orang melanggar aturan itu dan “bertobat”, dan lebih lagi ketika hal-hal itu tidak dilanggar, orangnya merasa bahwa dia menyatakan ketaatan kepada Allah. Tetapi, pada saat yang sama dia merendahkan orang-orang “berdosa” (orang-orang yang tidak mengikuti perangkat aturan itu), membenci musuhnya, dan mencari pujian manusia. Dia rajin dalam menaati peraturan manusia, tetapi hatinya busuk. Gambaran tentang orang Farisi itu menyampaikan suatu pola beragama yang tidak asing dalam sejarah Gereja, bahkan semestinya menggelitik kita semua. Semangat untuk menjadi “orang beres” harus selalu diuji, apakah berasal dari iman kepada Allah karena dibenarkan secara cuma-cuma atau dari keinginan untuk menjadi beres karena mau memiliki kebenaran sendiri. Jika berasal dari iman, kita akan mengasihi orang-orang yang tidak beres dan menyerang hal-hal dalam hati sendiri yang menghalangi kasih itu. Jika berasal dari keinginan untuk beres, kita akan takut terhadap keberadaan orang-orang yang tidak beres sehingga menjadi sangat sulit untuk mengasihi mereka.

Para antropolog mengartikan “semangat untuk menjadi orang beres” sebagai kerinduan, bahkan kebutuhan, akan keteraturan. Manusia tidak dapat hidup dalam kekacauan dan kerancuan makna. Budaya lisan (sering disebut primitif, tetapi sebenarnya budaya-budaya itu kompleks, hanya tidak ada atau tidak banyak yang dapat membaca) cenderung menyimbolkan ketertiban dan kekacauan dalam bentuk tabu (pemali dalam bahasa Toraja) yang pelanggarannya menimbulkan kekacauan, dan ritusnya menghapus kekacauan itu. Walaupun dari satu segi tabu-tabu itu terasa sembarang (mengapa daging babi dilarang, dan bukan daging kambing?), akan tetapi biasanya ada berbagai nilai tertanam di dalamnya. Kitab Imamat mencerminkan pola berpikir budaya lisan, tetapi semua “tabu” dikaitkan dengan Allah yang Esa, bukan lagi dengan roh-roh, nenek moyang dan berbagai dewa-dewi. Kemudian, kondisi manusia di hadapan Allah digambarkan dengan tiga tingkat: najis, tahir dan kudus. Najis adalah kondisi kacau yang mengancam keberadaan Allah di tengah umat-Nya. Tahir adalah kondisi manusia yang sudah dapat diterima oleh Allah. Kudus adalah kondisi manusia yang bisa dekat dengan Allah. Yang disimbolkan dengan kenajisan bukan hanya dosa tetapi juga maut, seperti penyakit kulit yang mirip dengan mayat. Melalui apa yang disimbolkan dalam sistem kenajisan, Israel bisa belajar tentang Allah yang kudus dan pro-hidup, dan bisa juga ikut berperang terhadap kuasa dosa dan maut.

Sistem dalam Imamat tidak bermaksud untuk menyampaikan cara beribadah yang lepas dari ketulusan hati dan kepedulian terhadap sesama (bdk. Imamat 19). Tetapi manusia memiliki kemampuan yang hebat untuk melupakan jiwa dari perangkat peraturan dan menerapkan hukum positif. Bagi orang Farisi, sebagaimana digambarkan dalam Injil-Injil sebagai peringatan bagi kita, sistem kenajisan telah menjadi pokok. Bahkan, tradisi lisan menambahkan aturan-aturan baru, baik untuk memagari peraturan yang sudah ada, maupun untuk menerapkan kekudusan para imam kepada seluruh umat. Simbolnya dikembangkan, sementara apa yang disimbolkan, perjuangan pro-hidup dan melawan dosa dan maut, dipinggirkan. Menjadi orang yang beres diartikan sebagai menaati berbagai aturan, sedangkan intinya ada kasih sebagaimana dilihat dalam kesepuluh perintah. Perhatikan bahwa ini bukan soal rohaniah melawan lahiriah. Hukum positif dapat diterapkan dengan semangat yang sungguh-sungguh, dan kasih selalu akan berwujud dalam tindakan konkret. Tetapi keteraturan apa yang dicari? Sistem orang Farisi membentuk keteraturan yang rapuh (karena belum memulihkan hati diri sendiri) sehingga harus mengusir kekacauan dengan keras. Keteraturan yang ditunjukkan oleh Yesus menghadapi dan berusaha memulihkan kekacauan (dosa, penyakit, setan, badai) dalam kasih. Usaha itu tidak selalu berhasil, karena selalu ada seperti orang Farisi yang menempatkan diri di luar rencana Allah (15:13). Tetapi bukan kita yang mengusirnya karena kita sendiri takut.

Contoh klasik hukum positif adalah sikap sebagian majelis (dan pendeta?) terhadap tata gereja, di mana tata gereja ditafsir menurut huruf, bukan menurut maksud etis-teologis yang ada di belakangnya. Jika tata gereja memperbolehkan nikah ulang, maka siapa saja yang mau menikah diizinkan, padahal Alkitab paling memberi celah sedikit.

Contoh semangat untuk menjadi orang beres dapat muncul dalam kekhawatiran tentang penyakit sosial. Tentu saja kita prihatin dengan berbagai gejala, tetapi apakah kita mau mengasihi dan membantu pelakunya, atau mereka mau diusir karena dianggap sumber kekacauan, entah karena kita rawan tergoda, entah karena kita malu jika Toraja tampil lebih jorok daripada tetangga, atau karena alasan yang lain yang menyangkut kita, bukan orang-orang yang terjebak di dalam dosa. Kepada keluarga sendiri mungkin masih ada pendekatan kasih, atau malahan kita masih kurang tegas. Tetapi pendatang juga adalah manusia, dan bahkan jika dianggap musuh tetap harus dikasihi dengan dibawa kepada Kristus Sang Pemulih.

Usul terakhir (selamat kalau bertekun sampai di sini), jika konsep pemali masih kuat di Toraja, apakah konsep itu dapat dipakai untuk menjelaskan dosa. Pemali Yesus/Allah adalah berzinah, mencuri dsb, dengan akibat hati yang jauh dari Allah sehingga berkat-Nya tidak dinikmati, baik secara pribadi maupun bersama dalam jemaat.


Yoh 15:9-17 Sukacita dalam kasih

Maret 22, 2010

Pada malam sebelum Dia disalibkan, Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya untuk kepergian-Nya. Pada awal p.15 fungsi para murid dijelaskan, yaitu berbuah. Yesus memakai kiasan yang berasal dari PL tentang umat Allah sebagai pokok anggur (bnd. Israel sebagai kebun anggur dalam Yes 5:1-7). Yesus sendiri adalah pokoknya, kita adalah rantingnya. Walaupun Dia akan pergi, firman-Nya (ajaran-Nya) akan tinggal di dalam kita, sehingga melalui doa, kita dapat berbuah (berbeda dengan Israel) sesuai dengan fungsi kita sebagai murid, demi kemuliaan Allah Bapa (aa.7-8).

Perikop kita merupakan penjelasan lebih lanjut dari kiasan itu. Intinya bahwa tinggal di dalam Yesus berarti saling mengasihi. Namun, kesimpulan yang sederhana itu diberi landasan yang mendalam, dan Yesus mau supaya kita sadar atas landasan itu.

Aa.9-10 menempatkan kasih di dalam Allah sendiri. Dalam a.9, kita mengenal apa itu kasih melalui Yesus, sehingga kita disuruh untuk tinggal di dalam kasih Yesus itu. Maksudnya bahwa kita menjadi penerima kasih Yesus sebelum kita menjadi pelakunya. Namun, kasih yang kita terima dari Yesus adalah sama dengan kasih Bapa kepada Yesus. Seperti biasa dalam Injil Yohanes, Kristus mencerminkan (membawa, meneruskan) sifat Allah Bapa, dalam hal ini sifat kasih. Hal itu sesuai dengan Yoh 1:1, bahwa Kristus adalah Firman Allah, atau dalam kata lain, Yoh 1:18, bahwa Kristus adalah Anak Tunggal Allah yang menyatakan Bapa-Nya. Saling mengasihi bukan soal berbagi dalam kasih manusia, melainkan berbagi dalam kasih Allah.

Jika dalam a.9 Yesus adalah Anak yang menyatakan Allah, dalam a.10, Yesus adalah manusia yang menjadi teladan kita dalam hal ketaatan. Cara untuk tinggal dalam kasih Yesus atau Bapa adalah menuruti perintah-perintah-Nya (bentuknya jamak dalam bahasa aslinya). Yesus menjadi teladan menaati Bapa, yang kita ikuti dengan menaati Yesus. Ketaatan itu menggenapkan aliran kasih. Kasih mengalir dari Bapa kepada Yesus kepada kita, dan mengalir balik dengan kita menuruti perintah Yesus yang menuruti perintah-perintah Bapa. Menurut a.11, lingkaran kasih dan ketaatan itu membawa sukacita untuk Yesus, dan tujuan dari ajaran ini ialah supaya kita juga berbagian dalam sukacita itu. Jika kita tidak menerima kasih Yesus, dan / atau tidak menuruti perintah-perintah-Nya, kita memutuskan lingkaran itu dan kehilangan sukacita.

Jika dalam a.9 kita tinggal di dalam kasih Yesus, dalam a.12 baru kita menjadi pelaku kasih Yesus. Perintah dalam a.12 berbentuk tunggal, sehingga kasih merupakan bentuk tunggal dari perintah-perintah dalam a.10. Ketaatan supaya tinggal di dalam kasih Kristus ternyata berbentuk kasih. Aliran kasih (Bapa kepada Yesus kepada kita) diteruskan kepada sesama, dan penerusan itu sekaligus merupakan ketaatan yang menggenapkan lingkaran kasih / ketaatan tadi.

Adakah perbedaan antara berbicara tentang kasih Allah (seperti banyak agama dan filsafat) dan berbicara tentang kasih Yesus? Dalam a.13 ada. Besoknya Yesus akan memberikan nyawa-Nya bagi murid-murid-Nya. Hal itu memberikan gambaran yang sangat tajam tentang kasih, baik kasih Allah kepada kita maupun kasih kita kepada sesama. Kasih itu bukan basa-basi saja.

Dengan menggunakan kata “sahabat” pada akhir a.13, Yesus masuk ke dalam penjelasan tentang sifat relasi-Nya dengan murid-murid-Nya. Yang sudah disampaikan luar biasa implikasinya, bahwa murid-murid Yesus akan berbuah demi kemuliaan Allah, bahwa tujuan itu akan tercapai dengan lingkaran kasih ilahi antara Allah Bapa dan Anak diperbesar untuk mencakup manusia. Mengapa kita diberitahu semuanya itu? Yesus menjawab dengan istilah sahabat itu. A.14 menegaskan bahwa istilah ini tidak membuat kita setara dengan Dia. Kaum sahabat Yesus adalah sama dengan kaum penerima kasih-Nya, yaitu yang menuruti perintah-Nya. Tetapi penyampaian Yesus membuktikan bahwa kita bukan sekadar pesuruh, melainkan mitra dalam rencana Bapa (a.15).

Aa.16-17 menyimpulkan pembahasan sejak a.1 tentang identitas murid-murid Yesus. Kita dipilih oleh Yesus, artinya bahwa Yesus yang menentukan agenda kita. Seandainya kita memilih Yesus, artinya bahwa Yesus menjadi bagian dari agenda kita, seperti konon banyak orang Toraja dulu-dulu yang memilih Yesus karena kekristenan dianggap cocok dengan dunia modern. Sebaliknya, Yesus memilih kita untuk agenda Dia, yaitu berbuah. Sekali lagi, agenda itu akan digenapi melalui doa. Dalam a.17 ujungnya diulang: semuanya akan terwujud dalam kasih kepada sesama.

Menurut adat lama Toraja (aluk), orang mengalami kehidupan ilahi dalam ritus-ritus tertentu, seperti ritus maro yang di dalamnya banyak orang kerasukan deata (roh, ilah) sehingga menjadi to ma’langi’ (“orang langit”; Volkman Feasts of Honor hlm. 55, di daerah Sesean tahun ’70an). Orang juga mau menjamin kesuburan melalui ritus dan melalui menghindar dari pemali (tabu). Kedua tujuan itu mungkin merupakan dua kerinduan terbesar yang mau dipenuhi oleh sebuah agama. Dalam Yohanes 15, keduanya tercapai dalam kasih. Saling mengasihi atas dasar menerima kasih Kristus adalah mengalami kehidupan ilahi. Saling mengasihi adalah berbuah. Jika kita adalah sahabat Yesus yang dipilih-Nya, mari kita memenuhi kedua kerinduan itu sesuai dengan ajaran-Nya, sehingga sukacita kita penuh dan Allah Bapa dimuliakan.


Mt 5:17-26 Taurat ala Yesus sebagai sarana misi Allah

Februari 13, 2009

Tempat hukum Taurat kadangkala menjadi pergumulan bagi orang Kristen, lebih lagi bagi orang Toraja jika Taurat dianggap sebagai pengganti Kristen dari aluk sola pemali (adat serta tabunya). Ajaran Yesus lebih halus. Taurat tidak tertinggal, tetapi juga harus dipahami melalui Kristus yang menggenapinya. Aa.17-20 memaparkan prinsip ini, kemudian aa.21-26 menyampaikan contoh pertama Taurat ala Kristus.

Contoh ini menarik, karena Yesus membantah tafsiran ‘hukum positif’ bahwa pembunuhan itu tindakan membunuh saja. Yesus mengajarkan bahwa memarahi dan meremehkan juga tercakup oleh perintah itu. Dasar hukum untuk jangan membunuh adalah Kej 9:6, yaitu karena manusia adalah gambar Allah. Memarahi dan meremehkan orang juga menghina gambar itu (bnd. Yak 3:9). Kemudian, dalam dua cerita pendek yang mengejutkan Yesus mengusulkan jalan lain jika bertentangan dengan orang: berdamai. Hal itu berlaku bagi saudara (aa.23-24) bahkan bagi lawan (aa.25-26). Cerita pertama mengejutkan karena perdamaian diprioritaskan di atas ibadah! Cerita kedua mengejutkan karena lawan itu adalah penagih, yang seringkali tergolong penindas di Galilea. Saya duga bahwa maksud Yesus bukan untuk membenarkan penagih melainkan untuk mengatakan bahwa permusuhan sama dahsyatnya dengan utang kepada penindas. Lebih baik menghargai sesama sebagai gambar Allah dan berdamai.

Nah, jika kita kembali ke posting kemarin, tidaklah sulit untuk mengaitkan ajaran ini dengan perselisihan dan percekcokan yang tidak asing dalam kehidupan sehari-hari di Toraja (dan tentu manusia yang lain—lihat saja komentar di berbagai blog atau koran di internet, bagaimana orang begitu cepat marah dan saling meremehkan). Tetapi hermeneutik misi yang diusulkan kemarin mau memberi kerangka misi Allah bagi nasihat etis ini. Dan saya rasa kerangka ini sangat perlu, karena pada umumnya ajaran etis Yesus dianggap indah tetapi tidak praktis. Hanya jika pengumuman Yesus tentang Kerajaan Allah (KA) dipahami, maka ajaran etis Yesus mulai masuk akal. (Itu bagian kognitif [cara berpikir] dari pertobatan.)

Kedatangan KA menyangkut pembaruan Israel yang bermuara pada keselamatan bagi bangsa-bangsa (lihat misalnya Yes 49:6) serta pemulihan seluruh ciptaan (mis. Yes 35). Kedatangan itu serta respons terhadapnya diangkat sebagai tema utama Yesus dalam Mt 4:17. Langsung Matius menceritakan bahwa ada beberapa orang yang dipanggil Yesus untuk menjadi inti dari Israel yang diperbaharui, seperti Yes 49:6a itu.

Kemudian, dari 4:23 sampai dengan 9:35 (yang sama dengan 4:23) Matius menggambarkan pelayanan Yesus dalam rangka KA itu. Ajaran Yesus dipaparkan dalam pp.5-7 (disebut khotbah di bukit karena 5:1), sedangkan tindakan-Nya digambarkan dalam pp.8-9. P.10 kembali ke para murid, yang diutus untuk melanjutkan pelayanan Yesus itu.

Jadi, khotbah di bukit menyangkut kedatangan Kerajaan Allah melalui Yesus. Itulah tempatnya dalam misi Allah. Yesus mau membentuk mereka supaya cocok untuk KA itu. Jadi, sifat-sifat murid Yesus digambarkan dalam 5:3-12. Perhatikan bahwa intinya adalah sifat yang cocok dengan KA yang akan datang. Tugas mereka digambarkan dalam 5:13-16. Garam dalam PL melestarikan perjanjian (Bil 18:19), jadi para murid Yesus yang sifatnya seperti aa.3-12 menjadi pertanda bahwa perjanjian Allah dengan Israel berlanjut (a.13). 5:14-16 menerapkan misi Israel untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa kepada para murid Yesus. Jadi, Yesus mengikuti pola seperti dalam Yes 49:6, yaitu pembaruan Israel sebagai dasar untuk misi Israel. Kita sebagai Israel plus (Israel ditambah bangsa-bangsa seperti Australia dan Toraja) harus tetap mengikuti pola ini—pembaruan ke dalam dan misi ke luar. Itulah bagian kita dalam misi Allah untuk mewujudkan Kerajaan Allah sampai Kristus datang.

Tetapi apa ukuran pembaruan itu? Bagi Israel dalam PL itu hukum Taurat, dan Tauratlah yang menjadi topik dari 5:17 sampai dengan kesimpulannya dalam 7:12. Dasar pemikiran Yesus disampaikan dalam 5:17-20. Yesus menanggapi kesan bahwa Dia meremehkan Taurat itu (a.17) dengan meneguhkan Taurat sebagai dasar umat Allah (aa.18-19). Hanya, Taurat harus dimengerti dalam rangka kedatangan Yesus sendiri (a.17b). Yesuslah yang akan mewujudkan harapan Taurat akan berkat bagi bangsa-bangsa (Kej 12:3) serta menjadi satu-satunya manusia yang hidup-Nya kudus seperti dituntut Taurat. Tetapi hanya Yesus juga yang sungguh memahami maksud yang sebenarnya dari Taurat, suatu pemahaman yang berlawanan dengan pemahaman para pengajar Taurat yang lain (a.20).

Kemudian, Yesus mengartikan kedua pemahaman ini sebagai dua versi kebenaran, dan 5:21-48 merupakan serangkaian pertentangan antara tafsiran pengajar Taurat dengan tafsiran Yesus. Yang bermunculan ialah pertentangan antara ‘hukum positif’ dengan etika karakter, misalnya antara jangan melakukan tindakan membunuh saja dengan menghargai manusia sebagai gambar Allah. Di balik pemaknaan itu adalah janji para nabi akan hati dan batin yang baru (Yeh 36:26-27; Yer 31:33). Datangnya KA dalam Kristus berarti bahwa umat Allah sudah siap untuk hidup baru, untuk hidup dalam kasih (7:12).

Barangkali, Allah memanggil orang Toraja untuk percaya kepada Yesus supaya mereka juga dapat ikut serta dalam pembaruan (kemudian misi) umat Allah menuju kedatangan Yesus kembali. Kematian dan kebangkitan Yesus meneguhkan janji KA, dan pencurahan Roh Kudus memperjelas bagaimana pembaruan itu dapat terwujud. Tetapi pembaruan itu akan terhambat jika ketaatan kepada Allah tidak dipahami dengan tepat. Jika Taurat ditafsir sebagai pemali (tabu) Kristen yang menjadi alat untuk mencegah musibah dan mendatangkan berkat, maka pembaruan diri dan pembaruan umat tidak akan dipahami. Yang diperlukan adalah mengalihkan harapan dari ketaatan ke janji Allah. Jika janji-janji KA dalam Mt 5:3-8 didambakan, jika ada kerinduan untuk mendapat Kerajaan Allah, untuk dipuaskan dengan kebenaran, untuk melihat Allah, maka ajaran Yesus menjadi cara untuk dibentuk dan diperbaharui, bukan alat untuk selamat.


4. Hukum Taurat: Kurban dan Kenajisan

Mei 13, 2008

Kitab Imamat memiliki satu keunikan, yaitu hampir seluruh isi tidak dilanjutkan dalam Perjanjian Baru! Yesus (Mk 7:19) dan gereja perdana (Kis 10:15) menganggap bahwa makan daging babi boleh saja, dan gereja perdana menganggap bahwa kematian Yesus menjadikan kurban Bait Allah mubasir (Ibr 9:1-10:18; mungkin Yesus juga demikian jika Mk 2:10 dikaitkan dengan Mk 10:45).

Hal itu mengharuskan pemahaman yang saya usulkan bahwa Alkitab itu dinamis, berkembang. Tempat Hukum Taurat (HT) diuraikan Paulus dalam Gal 3. Uraian itu menyinggung panggilan Abraham dan pemberian HT (pada pembentukan Israel) dari kisah PL. Yang pokok ialah janji kepada Abraham, yang “tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian” (a.17). Jadi, HT berlaku sementara saja sebagai penuntun (a.24), sampai Kristus datang (a.25) membawa kedewasaan iman (4:1-7).

Apakah dengan demikian HT dibuang saja? “Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” kata Paulus (Rom 3:31). HT tetap “adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik” (Rom 7:12). HT adalah firman Allah yang tidak berlaku lagi. Bagaimana hal itu dapat dipahami?

Usulan saya begini. HT tidak berlaku lagi sebagai hukum, tetapi tetap berfungsi sebagai dasar penyataan yang tanpanya kita tidak dapat memahami puncaknya dalam Yesus. Soal kurban merupakan bagian HT di mana usulan itu paling jelas. Kematian Yesus meniadakan perlunya kurban-kurban Bait Allah, tetapi hanya dapat dipahami dalam terang kurban-kurban itu. Daftar yang berikut meringkas maksud beberapa jenis kurban (dari buku tafsiran Wenham):

  • Im 1. Korban bakaran membawa pendamaian dengan menyenangkan Allah. Paulus dalam Rom 3:25 merujuk pada darah Kristus sebagai jalan pendamaian, yang dalam Rom 5:9-10 dijelaskan sebagai diselamatkan dari murka Allah.
  • Im 2-3. Korban sajian & keselamatan menyangkut doa dan syukur (yang kita lakukan langsung, seperti Ibr 13:15, bnd. Im 7:13; Mzm 50:14).
  • Im 4-5:13. Korban penghapus dosa menyucikan noda dosa. Ibr 9:13-14 menjelaskan hasil darah Kristus dengan bahasa seperti itu.
  • Im 5:14dst Korban penebus salah melunasi hutang dosa, seperti juga darah Kristus (1 Kor 6:20)

Dalam bahasa lain, ketika Yesus menggenapi sistem kurban dalam PL, dia tidak meniadakan maknanya melainkan menerapkan maknanya dengan cara yang baru. Sistem kurban tetap berfungsi sebagai penyataan Allah, tetapi bukan lagi sebagai hukum. Jadi, kita menggunakan bahan Imamat 1-5 dan yang sejenis untuk menjelaskan makna kematian Kristus, bukan untuk dipraktekkan.

Bagaimana dengan sistem kenajisan? Penyataan apa yang ada di dalamnya? Im 11:44-45 mengusulkan bahwa sistem kenajisan mengajarkan kekudusan kepada Israel yang telah ditebus. Yang najis tidak boleh bersentuhan dengan Yang Kudus. Yesus dalam Mrk 7:20-23 mengartikan kenajisan sebagai simbol dosa, dan 1 Pet 1:18-19 (dalam konteks kekudusan, a.15) menawarkan darah Kristus sebagai solusinya. Salib Kristus yang mengajar kita betapa najisnya dosa, dan itulah yang mengajar kita untuk hidup kudus. Dengan bahasa lain: dosa lebih parah daripada pelanggaran tabu.

Seri Pemahaman PL


Kej 28:10-22

Februari 29, 2008

Pada saat cerita ini, Yakub bermasalah. Dia harus melarikan diri dari kakaknya yang marah karena ditipu. Pelarian ini adalah ancaman terbesar selama itu terhadap janji Allah. Apakah Yakub, yang kelihatannya telah dipilih Allah sebagai penerus janjinya (Kej 25:23), akan sempat kembali ke tanah yang dijanjikan?

Dalam mimpi Allah menampakkan diri kepadanya. Janji-Nya diteguhkan, dengan beberapa tambahan yang cocok untuk keadaan Yakub. Dia berjanji untuk menyertai Yakub, sama seperti kepada Ishak pada suatu saat krisis (26:3). Dia juga berjanji bahwa Yakub akan kembali dari pembuangannya.

Yakub sadar bahwa tempatnya adalah “pintu gerbang sorga” (28:17). Setelah pengusiran manusia dari taman Eden tempat Allah berjalan-jalan, titik temu antara Allah dengan manusia menjadi langka. Fungsi titik temu itu diambil alih oleh Bait Allah (itu artinya Betel, walaupun tempatnya kemudian di Yerusalem), dan kemudian Yesus yang menjadi tangga yang menghubungkan sorga dan bumi (Yoh 1:51).

Tanggapan Yakub itu takut. Sebagai orang dari budaya Barat yang berusaha sekeras-kerasnya untuk menghilangkan semua misteri, saya harus belajar dari reaksi itu. Mungkin orang yang biasa takut akan pohon yang keramat harus belajar untuk takut akan Allah. Tetapi sama-sama jangan kita “menganggap sepi” kemurahan Allah (Rom 2:4) dengan dalih bahwa akibat sikap remeh kurang nampak.

Kemudian Yakub membangun sebuah tiruan dari pengalamannya. Batu yang di atasnya dia bermimpi didirikan seperti tangga dalam mimpi itu, dan “kepala” (ujung) batu itu diminyaki. Mungkin saja sebuah respons “psikomotorik” demikian bisa berguna untuk melestarikan signifikansi suatu pengalaman yang bermakna. Tetapi saya mau mengusulkan bahwa salib Kristus adalah tugu yang paling bermakna bahwa Tuhan akan menyertai kita melalui pengembaraan dalam dunia ini sampai kita kembali ke tahan yang dia janjikan, langit dan bumi yang baru itu.


2 Kor 3:7-18 Mengapa berani?

Februari 15, 2008

Pernah ada komentar tentang suatu acara antar-agama di Australia bahwa doa wakil agama-agama yang lain dalam acara itu jelas berbau agamanya masing-masing, tetapi doa wakil orang Kristen umum saja. Orang Kristen Barat sering merasa agak malu di depan penganut agama-agama yang menderita dan diremehkan di bawah penjajahan Barat.

Rasul Paulus tidak malu demikian (a.12), tetapi bukan karena kesanggupan Paulus sendiri (a.5). Sebaliknya, dalam 2 Kor 1 jelas bahwa Paulus hampir meninggal (1:8-11), dan juga mengecewakan jemaat di Korintus (1:15-24). Perikop kita mau menegaskan bahwa keberanian Paulus berasal dari Injil yang dilayankan.

Baca entri selengkapnya »


Kej 12:10-20

Februari 12, 2008

Setelah janji Tuhan yang hebat (12:1-3, 7) yang diresponsi dengan Abraham pergi ke tanah Kanaan (4-6, 8-9) dan mulai beribadah kepada Tuhan (7b, 8b), cerita ini adalah peristiwa pertama mengenai Abraham sebagai orang percaya. Bagaimana hasilnya? Singkatnya, Abraham gagal, tetapi janji Allah tetap berlaku.

Benarkah Abraham gagal? Dari perspektif PB jelas. Dia tidak mengasihi isterinya seperti Kristus mengasihi jemaat (Ef 5: ). Dia juga berbohong (tetapi bnd. Kej 20:12). Namun, hal-hal demikian tidak dikomentari oleh teks di sini. Alasan Abraham bahwa Sarai akan menarik perhatian orang Mesir memang dibenarkan oleh narator (14-15), tetapi kesimpulannya bahwa dia akan dibunuh janggal. Tuhan baru berjanji bahwa Abraham akan menjadi bangsa besar dsb. Masakan dia akan langsung dibunuh! Jadi, di sini Abraham kurang percaya. Itulah akar akibat buruk bagi isterinya dan Firaun.

Berlakunya janji Allah dilihat dalam hal tulah kepada Firaun yang mengancam Sarai (bnd. ayat 3a) dan dalam hal Abraham menjadi kaya (13:2, bnd. ayat 2a “Aku akan…memberkati engkau). Abraham tidak diberkati karena dia berbuat baik. Allah berpihak kepada Abraham sebagai penerima janjinya, bukan sebagai perintis moralitas. Itulah Injil yang diteguhkan dalam Perjanjian Baru (Rom 4:5, 8:31).

Tentu Abraham sudah meresponsi janji Allah, dan akhirnya belajar ketaatan yang dalam (Kej 22), sehingga Yakobus (dan Paulus, Rom 6) dengan tepat mengatakan bahwa iman yang sejati akan berbuah. Para teolog Pancasilais yang menganggap pembenahan moralitas rakyat sebagai fungsi utama agama boleh saja rileks. Tetapi cerita ini mengingatkan kita bahwa Tuhan lebih hebat daripada manusia, dan janji-Nya lebih penting daripada moralitas.

Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.