Neh 8:1-9 Menanggapi firman Allah dengan baik

Agustus 31, 2009

Pembacaan dan perenungan firman Allah (Alkitab) menjadi bagian pokok dalam kumpulan umat kristiani. Untuk pendeta, khotbah dapat memenuhi beberapa fungsi. Khotbah menjadi cara untuk menyerang oknum atau kelompok dalam jemaat. Khotbah menjadi ‘terapi’ yang di dalamnya pendeta bisa melampiaskan frustrasi atas tingkah laku jemaat—atau kadangkala tanpa sadar atas tingkah laku sendiri, karena manusia sering memproyeksikan dosa sendiri kepada orang lain. Bagi jemaat, khotbah adalah bagian ibadah yang (mudah-mudahan) berbeda setiap minggu, dan mungkin dapat menerangi pergumulan hidup. Karena duduk saja, khotbah juga memberi kesempatan untuk istirahat.

Tentu kita tahu bahwa gambaran yang (mudah-mudahan) melebih-lebihkan itu bukan yang semestinya, dan perikop Neh 8 ini memberi kita beberapa petunjuk yang lain. Yang pertama, konteks pembacaan Taurat oleh Ezra adalah selesainya pembangunan tembok (6:15). Jadi, kita bisa menyimpulkan bahwa tujuan dari suatu batas yang jelas (tembok untuk kota Yerusalem atau, misalnya, pengakuan gereja) ialah memungkinkan ibadah kepada Tuhan. Yang menarik di sini, umat meminta kepada Ezra supaya Taurat dibaca. Penyelesaian tembok memberi semangat yang baru.

Yang kedua, Ezra membaca di tempat umum supaya sebanyak mungkin dapat mendengarnya. Jadi, pembacaan bukan di tengah ibadah di Bait Allah. Semua ikut yang dapat mengerti, mungkin merujuk ke anak-anak di atas umur tertentu. Ibadah ini tidak mengesampingkan siapapun.

Yang ketiga, pembacaan Taurat disambut dengan sikap yang baik oleh jemaah. A.4 menyimpulkan hari itu, bahwa jemaah mendengar dengan penuh perhatian, sedangkan aa.5 dyb menjabarkan berbagai unsur dalam pembacaan itu. Ada jemaat berdiri untuk menghormati firman (a.6), serta pemujian dan penyembahan (a.7). Kadangkala pembacaan Alkitab dianggap bagian “otak” sedangkan menyanyi adalah bagian “hati”, tetapi di sini firman Allah disambut dengan hati yang penuh perasaan.

Yang keempat, pembacaan Taurat disertai penjelasan. Taurat berasal dari masa lampau, sehingga akan ada masalah bahasa dan budaya yang tidak jelas bagi jemaah. Di sini kita melihat salahnya gambaran awal tadi. Khotbah bukan untuk pengungkapan diri pengkhotbah melainkan pengungkapan makna firman.

Masalah kita dengan pembacaan dan perenungan firman bisa terletak pada jemaat dan/atau pada pengkhotbah. Jika bagi jemaat Allah ada di pinggir hidup, bukan “Allah yang mahabesar”, maka firman-Nya tidak akan mengasyikkan seperti bagi jemaah Israel dalam perikop ini. Tetapi bisa juga pengkhotbah mengaburkan daripada menjelaskan firman. Semoga Allah dimuliakan oleh khotbah yang jelas dan jemaat yang rindu mengenal-Nya.


Neh 9:1-5 Perbaikan batin

Maret 20, 2009

Pembaruan Nehemiah mulai dengan pembangunan tembok Yerusalem (pp.1-7). Tembok itu merupakan batas jasmani, suatu pertanda bahwa kelompok Yahudi berfungsi sebagai masyarakat dan berkuasa atas wilayah Yerusalem, termasuk simbol identitasnya, yakni Bait Allah.

Sehingga yang berikut adalah kegiatan yang membangun kembali batas rohani, yaitu pembacaan Taurat (p.8). Umat Yahudi yang mendengarkannya diingatkan akan identitasnya sebagai umat Allah, serta cara hidup yang sesuai dengannya. Oleh karena itu Perayaan Pondok Daun diadakan dengan sukacita.

Namun, pembacaan Taurat juga mengungkapkan ketidaktaatan mereka, sehingga setelah perayaan itu umat Yahudi bergabung kembali untuk bertobat (a.1). Puasa adalah petunjuk akan keadaan yang begitu dahsyat sehingga orang tidak mau makan. Kain kabung orang Israel adalah kain yang dipakai untuk karung yang kasar dan tidak nyaman dipakai sehingga mencerminkan perasaan batin. Kemudian ada Istilah “tanah di kepala”. Yang lebih biasa ialah debu di atas kepala yang menunjukkan dukacita secara umum. Istilah “tanah di kepala” hanya dipakai tiga kali yang lain (1 Sam 4:12; 2 Sam 1:2; 15:32), ketika Israel mengalami musibah dari tangan lawan. Kesimpulan dari a.1 ialah bahwa orang Israel merasa terpukul dan dalam bahaya karena firman Allah, sehingga pertobatan mendesak.

Dalam rangka itu mereka menentukan batas sosial dengan memisahkan diri dari orang asing (a.2), barangkali karena orang asing merupakan penggodaan utama untuk menyembah ilah yang lain. Lepas dari konteks penggodaan, mereka mengaku apa yang mereka lakukan, dan juga bahwa mereka lahir dalam tradisi dosa nenek moyangnya. Pengakuan itu terjadi sebagai respons akan pembacaan firman (a.3), dan juga disertai penyembahan kepada Tuhan, sebagaimana digambarkan dalam aa.4-5. Doa yang berikut (aa.6 dst) bersilih ganti menceritakan anugerah Tuhan dan dosa umat Israel, sampai akhirnya memohon pertolongan Tuhan (aa.32 dst) atas dasar anugerah itu.

Dalam Perjanjian Baru tidak ada gedung gereja disebut, sehingga jelas bahwa adanya gedung tidak pokok dalam kehidupan berjemaat. Namun, pembangunan atau perbaikan prasarana seperti gedung gereja di sebuah tempat sering menunjukkan adanya kekompakan dan semangat dalam sebuah jemaat. Tetapi semangat itu percuma kalau tidak diiringi oleh pembaruan batin. Kadangkala jemaat perlu begitu mendengarkan firman Allah sehingga hati tertusuk. Injil yang kita dengarkan yang menggenapi Taurat memang memberitakan tuntutan Allah untuk hidup kudus, khususnya dengan hidup dalam kasih. Tetapi Injil pada dasarnya menyampaikan anugerah Allah. Sama seperti Israel diselamatkan dari Mesir dan dituntun dan disabari Allah, demikian juga dalam Kristus Allah sudah menyelamatkan kita. Baik dosa kita maupun anugerah Allah menjadi dasar untuk pertobatan yang menyadari bahwa musibah terdahsyat adalah menjadi musuh Allah.


Mt 5:17-26 Taurat ala Yesus sebagai sarana misi Allah

Februari 13, 2009

Tempat hukum Taurat kadangkala menjadi pergumulan bagi orang Kristen, lebih lagi bagi orang Toraja jika Taurat dianggap sebagai pengganti Kristen dari aluk sola pemali (adat serta tabunya). Ajaran Yesus lebih halus. Taurat tidak tertinggal, tetapi juga harus dipahami melalui Kristus yang menggenapinya. Aa.17-20 memaparkan prinsip ini, kemudian aa.21-26 menyampaikan contoh pertama Taurat ala Kristus.

Contoh ini menarik, karena Yesus membantah tafsiran ‘hukum positif’ bahwa pembunuhan itu tindakan membunuh saja. Yesus mengajarkan bahwa memarahi dan meremehkan juga tercakup oleh perintah itu. Dasar hukum untuk jangan membunuh adalah Kej 9:6, yaitu karena manusia adalah gambar Allah. Memarahi dan meremehkan orang juga menghina gambar itu (bnd. Yak 3:9). Kemudian, dalam dua cerita pendek yang mengejutkan Yesus mengusulkan jalan lain jika bertentangan dengan orang: berdamai. Hal itu berlaku bagi saudara (aa.23-24) bahkan bagi lawan (aa.25-26). Cerita pertama mengejutkan karena perdamaian diprioritaskan di atas ibadah! Cerita kedua mengejutkan karena lawan itu adalah penagih, yang seringkali tergolong penindas di Galilea. Saya duga bahwa maksud Yesus bukan untuk membenarkan penagih melainkan untuk mengatakan bahwa permusuhan sama dahsyatnya dengan utang kepada penindas. Lebih baik menghargai sesama sebagai gambar Allah dan berdamai.

Nah, jika kita kembali ke posting kemarin, tidaklah sulit untuk mengaitkan ajaran ini dengan perselisihan dan percekcokan yang tidak asing dalam kehidupan sehari-hari di Toraja (dan tentu manusia yang lain—lihat saja komentar di berbagai blog atau koran di internet, bagaimana orang begitu cepat marah dan saling meremehkan). Tetapi hermeneutik misi yang diusulkan kemarin mau memberi kerangka misi Allah bagi nasihat etis ini. Dan saya rasa kerangka ini sangat perlu, karena pada umumnya ajaran etis Yesus dianggap indah tetapi tidak praktis. Hanya jika pengumuman Yesus tentang Kerajaan Allah (KA) dipahami, maka ajaran etis Yesus mulai masuk akal. (Itu bagian kognitif [cara berpikir] dari pertobatan.)

Kedatangan KA menyangkut pembaruan Israel yang bermuara pada keselamatan bagi bangsa-bangsa (lihat misalnya Yes 49:6) serta pemulihan seluruh ciptaan (mis. Yes 35). Kedatangan itu serta respons terhadapnya diangkat sebagai tema utama Yesus dalam Mt 4:17. Langsung Matius menceritakan bahwa ada beberapa orang yang dipanggil Yesus untuk menjadi inti dari Israel yang diperbaharui, seperti Yes 49:6a itu.

Kemudian, dari 4:23 sampai dengan 9:35 (yang sama dengan 4:23) Matius menggambarkan pelayanan Yesus dalam rangka KA itu. Ajaran Yesus dipaparkan dalam pp.5-7 (disebut khotbah di bukit karena 5:1), sedangkan tindakan-Nya digambarkan dalam pp.8-9. P.10 kembali ke para murid, yang diutus untuk melanjutkan pelayanan Yesus itu.

Jadi, khotbah di bukit menyangkut kedatangan Kerajaan Allah melalui Yesus. Itulah tempatnya dalam misi Allah. Yesus mau membentuk mereka supaya cocok untuk KA itu. Jadi, sifat-sifat murid Yesus digambarkan dalam 5:3-12. Perhatikan bahwa intinya adalah sifat yang cocok dengan KA yang akan datang. Tugas mereka digambarkan dalam 5:13-16. Garam dalam PL melestarikan perjanjian (Bil 18:19), jadi para murid Yesus yang sifatnya seperti aa.3-12 menjadi pertanda bahwa perjanjian Allah dengan Israel berlanjut (a.13). 5:14-16 menerapkan misi Israel untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa kepada para murid Yesus. Jadi, Yesus mengikuti pola seperti dalam Yes 49:6, yaitu pembaruan Israel sebagai dasar untuk misi Israel. Kita sebagai Israel plus (Israel ditambah bangsa-bangsa seperti Australia dan Toraja) harus tetap mengikuti pola ini—pembaruan ke dalam dan misi ke luar. Itulah bagian kita dalam misi Allah untuk mewujudkan Kerajaan Allah sampai Kristus datang.

Tetapi apa ukuran pembaruan itu? Bagi Israel dalam PL itu hukum Taurat, dan Tauratlah yang menjadi topik dari 5:17 sampai dengan kesimpulannya dalam 7:12. Dasar pemikiran Yesus disampaikan dalam 5:17-20. Yesus menanggapi kesan bahwa Dia meremehkan Taurat itu (a.17) dengan meneguhkan Taurat sebagai dasar umat Allah (aa.18-19). Hanya, Taurat harus dimengerti dalam rangka kedatangan Yesus sendiri (a.17b). Yesuslah yang akan mewujudkan harapan Taurat akan berkat bagi bangsa-bangsa (Kej 12:3) serta menjadi satu-satunya manusia yang hidup-Nya kudus seperti dituntut Taurat. Tetapi hanya Yesus juga yang sungguh memahami maksud yang sebenarnya dari Taurat, suatu pemahaman yang berlawanan dengan pemahaman para pengajar Taurat yang lain (a.20).

Kemudian, Yesus mengartikan kedua pemahaman ini sebagai dua versi kebenaran, dan 5:21-48 merupakan serangkaian pertentangan antara tafsiran pengajar Taurat dengan tafsiran Yesus. Yang bermunculan ialah pertentangan antara ‘hukum positif’ dengan etika karakter, misalnya antara jangan melakukan tindakan membunuh saja dengan menghargai manusia sebagai gambar Allah. Di balik pemaknaan itu adalah janji para nabi akan hati dan batin yang baru (Yeh 36:26-27; Yer 31:33). Datangnya KA dalam Kristus berarti bahwa umat Allah sudah siap untuk hidup baru, untuk hidup dalam kasih (7:12).

Barangkali, Allah memanggil orang Toraja untuk percaya kepada Yesus supaya mereka juga dapat ikut serta dalam pembaruan (kemudian misi) umat Allah menuju kedatangan Yesus kembali. Kematian dan kebangkitan Yesus meneguhkan janji KA, dan pencurahan Roh Kudus memperjelas bagaimana pembaruan itu dapat terwujud. Tetapi pembaruan itu akan terhambat jika ketaatan kepada Allah tidak dipahami dengan tepat. Jika Taurat ditafsir sebagai pemali (tabu) Kristen yang menjadi alat untuk mencegah musibah dan mendatangkan berkat, maka pembaruan diri dan pembaruan umat tidak akan dipahami. Yang diperlukan adalah mengalihkan harapan dari ketaatan ke janji Allah. Jika janji-janji KA dalam Mt 5:3-8 didambakan, jika ada kerinduan untuk mendapat Kerajaan Allah, untuk dipuaskan dengan kebenaran, untuk melihat Allah, maka ajaran Yesus menjadi cara untuk dibentuk dan diperbaharui, bukan alat untuk selamat.