Gal 3:10-14 Kristulah yang membuka jalan iman dengan menanggung kutuk hukum Taurat

Oktober 25, 2010

Dalam suratnya kepada jemaat-jemaat di Galatia, Paulus menghadapi ancaman yang besar terhadap Injil yang dia beritakan, yaitu kelompok yang mau supaya anggota-anggota jemaat menyunatkan diri dan menanggung hukum Taurat (HT). Paulus melihat bahwa hal itu mengancam kebenaran Injil. Kristus “telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” (1:4), tetapi mereka “begitu lekas berbalik” dari Injil anugerah itu (1:5), sehingga anugerah Allah ditolak (2:21) dan kelimpahan Roh Kudus diganti dengan usaha kekuatan sendiri (3:2-5). Alhasil, mereka saling membinasakan (5:15, bnd. 5:26) dan terancam binasa kekal (6:8).

Intisari penguraian Paulus melawan ajaran sesat itu terdapat dalam p.3 ini, di mana dia membuktikan bahwa “jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah” (a.29). Abraham penting karena dia diakui, oleh kelompok pengacaupun, sebagai asal usul orang Israel dan penerima janji yang mendasari perjanjian-perjianjian berikutnya dalam PL. Menjadi anak Abraham berarti berada dalam rencana Allah untuk memberkati dunia ini, menanggapi kutuk yang didatangkan oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa. Makanya, alur penguaraian Paulus mulai dengan Abraham dibenarkan oleh iman (a.6) sehingga berkat datang kepada orang-orang beriman (a.9). Sebaliknya, HT mendatangkan kutuk (aa.10-12), yang daripadanya Kristus meraih penebusan (a.13), sehingga berkat itu datang dalam Kristus (a.14). Janji kepada Abraham itu mendahului HT (aa.15-8), dan fungsi HT terkait dengan mengekang pelanggaran sampai Kristus datang (aa.19-22), seperti fungsi pengawal (a.23) atau penuntun bagi anak-anak (a.24-25). Makanya, cara sekarang menjadi anggota keluarga Allah bukan dalam HT melainkan dalam Kristus (aa.26-28).

Jadi, unsur baru yang dikembangkan dalam perikop kita ialah bahwa Kristulah yang membuka jalan iman itu dengan menanggung kutuk HT. Kutuk HT dijelaskan dalam aa.10-12. Frase “yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat” (a.10a) merujuk pada orang yang menjadikan HT dasar kehidupannya. Kelompok ini menganggap bahwa yang menjadi anak-anak Abraham adalah orang yang bersunat dan berusaha untuk menaati seluruh HT, termasuk menghindari makanan yang najis. Ada dua masalah pokok dengan pendirian mereka. Yang pertama ialah bahwa mereka tidak menaati HT secara menyeluruh (a.10b). Hal itu tidak berarti bahwa orang-orang Yahudi hampir sempurna tetapi gara-gara satu dua cacat HT mengutuk mereka. HT menyediakan penghapusan dosa melalui kurban-kurban untuk pelanggaran-pelanggaran kecil. Masalahnya bahwa ada maksud-maksud pokok dari HT yang diabaikan saja. Khususnya, dalam konteks surat ini, semangat dalam janji Allah supaya berkat-Nya sampai pada bangsa-bangsa alpa di antara mereka. Hal itu nampak dalam 2:11-14, di mana makanan menjadi pemisah antara orang-orang Yahudi dan orang-orang non-Yahudi. Contoh paling parah ialah Paulus sendiri yang sebagai orang yang dulu begitu bersemangat dalam agama Yahudi justru mau membinasakan gereja yang mencakup bangsa-bangsa (1:13-14). (Bandingkan juga kritikan Yesus terhadap kaum Farisi bahwa mereka menyempitkan artian “sesama”, Lk 10:25-37 dan meniadakan perintah-perintah Allah demi kepentingan adat-istiadat, Mk 7:13). HT menjadikan keberdosaan sikap hati mereka kentara (bnd. 3:22), dan menyatakan kutuk Allah atas keberdosaan itu. Masalah pokok kedua ialah bahwa HT tidak dimaksud sebagai ganti iman (aa.11-12), justru karena keberdosaan manusia itu (3:21-22). Untuk orang-orang Yahudi yang beriman, HT bisa saja menjadi cara untuk menghayati iman itu (seperti orang-orang Israel yang menyambut Yesus dengan baik dalam Lukas 1-2). Tetapi kelompok penyesat menjadikan ketaatan kepada aturan-aturan HT sebagai hal pokok, bukan lagi sebagai cara untuk menyatakan iman.

Kemudian, a.13 menjawab masalah pertama, yaitu keberdosaan manusia yang diungkapkan tetapi tidak dipecahkan oleh HT. (Masalah kedua adalah contoh keberdosaan itu, yaitu mengabaikan iman, tetapi juga dikembangkan dalam 3:19-25.) Kristus dikutuk HT bukan karena sikap hati yang mengabaikan semangat HT (seperti dalam a.10b), melainkan karena pada salib itu dia dihitung sebagai pemberontak yang layak dihukum mati. Ul 21:22-23 yang dikutip Paulus di sini mungkin membatasi kebiasaan di mana orang-orang yang dianggap sungguh jahat digantung dan tidak dikuburkan, supaya jangan roh mereka mendapat istirahat. Hal itu sama seperti jika dalam adat lama Toraja upacara Rambu Solo’ tidak diadakan supaya arwah orangnya dikutuk. Kristus tergolong dengan pendosa berat dan menanggung kutuk HT itu “karena kita” atau “demi” (huper) kita. Gambarannya mungkin bahwa kutuk itu terserap oleh Kristus, sehingga tidak lagi mengancam kita yang berlindung pada-Nya. Kutuk berada dalam wilayah maut, dan termasuk semua yang melawan damai sejahtera (bnd. Ul 28:1-14 dengan Ul 28:15dst). Kutuk yang diperjelas HT itu melatarbelakangi bahasa Paulus tentang “dunia jahat yang sekarang ini” (1:4), dan Kristuslah yang menebus kita dengan menetralisir kutuk itu. Korban-korban dalam adat Toraja memiliki fungsi yang searah dengan tafsiran ini.

Hasilnya, dalam a.14, ialah bahwa berkat Abraham itu sampai kepada bangsa-bangsa, terutama dalam hadirat Roh Kudus yang melakukan mujizat (3:5), berbuah kasih, sukacita dan damai sejahtera di dalam jemaat (5:22), dan menghasilkan hidup yang kekal (6:8).

Bagaimana penguraian Paulus ini dapat diterapkan dalam konteks sekarang? (Dalam bahasa homiletika, bagaimana sampai pada amanat khotbah?) Dari pembahasan di atas, berkat Roh Kudus dapat dimaknai baik untuk kehidupan sekarang (3:5, 5:22) maupun untuk keselamatan eskatologis (6:8). Lebih rumit adalah soal HT, karena sekarang tidak banyak yang mengusulkan sunat! Tetapi hidup dari perbuatan menjadi hal yang lebih luas daripada HT saja dalam Ef 2:8-9 dan Tit 3:4, sehingga bersama dengan para Reformator kita bisa melihat semua bentuk agama yang mementingkan aturan di atas iman sebagai hal yang mengancam anugerah di dalam Kristus. Termasuk aturan gereja. Kemudian, kita juga melihat sikap-sikap pada masa kini yang menyempitkan jangkauan anugerah Allah dalam Kristus hanya pada kelompok tertentu, atau merendahkan golongan tertentu walaupun mereka sama-sama berada di dalam Kristus. Kedua hal itu bisa saja bersatu. Gereja seringkali menganggap bahwa pemberitaan Kristus bermaksud untuk menjadikan orang sama seperti kita, dalam pola bergereja yang kebarat-baratan dan mengandaikan tingkat pendidikan yang lumayan. Tetapi bisa saja iman kepada Kristus yang sejati daapt dinyatakan dalam bentuk yang lebih kontekstual. Jangan sampai kekakuan bergereja menghambat berkat iman kepada Kristus sampai pada semua bangsa.

Penebusan Kristus juga perlu dikontekskan, bukan dalam artian mencari padanannya dalam konteks sekarang melainkan mencari penjelasannya dari konteks sekarang. Penebusan Kristus bukan sebuah contoh pendamaian antara Allah dan manusia melainkan kenyataan yang kepadanya contoh-contoh pendamaian yang lain merujuk, apakah itu sistem kurban dalam HT, ataupun pemahaman tentang pendamaian dalam budaya setempat sejauh mana itu dapat membantu jemaat untuk memahami peristiwa kunci ini. Penebusan Kristus semestinya menjadi pokok amanat khotbah, dengan tujuan supaya jangan kita mengandalkan usaha kita yang lain. Paulus heran bahwa jemaat berbalik dari anugerah Allah, dan semestinya setelah mendengar bagaimana Kristus menebus kita dari kutuk HT jemaat juga menghindari apapun yang menjadikan kematian Kristus sia-sia.


Gal 5:16-26 Hidup oleh Roh atau daging?

Oktober 11, 2010

Dalam kitab Galatia, Paulus menguraikan mengapa Kristus dan bukan Hukum Taurat adalah sumber pembenaran di hadapan Allah (2:16), sehingga berkat Allah sampai pada bangsa-bangsa sesuai dengan janji Allah kepada Abraham (3:14). Oleh karena itu, orang beriman hidup dalam kemerdekaan (5:1). Jika demikian, apakah mereka bebas untuk hidup seenaknya? Konon ada yang menafsir kasih karunia Allah demikian, sehingga sepanjang sejarah gereja ada kecenderungan untuk menekankan hukum sebagai kerangka hidup. Dari satu segi, adalah jelas bahwa kita butuh hikmat dari Allah untuk mengetahui jalan yang baik dan yang buruk. Tetapi bagi Paulus ada sumber kebenaran (hidup yang benar) yang lain dari usaha untuk menaati aturan-aturan hukum, yaitu hidup oleh Roh Kudus (5:5). Hidup itu adalah hidup “karena iman” (atas dasar iman) dalam harapan, dan iman itu bekerja oleh (melalui) kasih (5:6). Kasih merupakan inti hukum Taurat (5:14).

Jadi, perikop kita menjelaskan peran Roh Kudus dalam membentuk kebenaran yang berpusat pada kasih. Jadi, dambaan banyak pelayan (dalam wacana, paling sedikit) untuk melihat jemaat yang hidup dalam kasih mendapat jalan keluarnya di sini.

Alurnya tidak sulit diikuti. Dalam aa.16-18 ada nasihat inti: hiduplah oleh Roh (a.16a). Secara harfiah, Paulus mengatakan “berjalanlah oleh Roh”. Tetapi jalan ini bukan jalan yang diatur oleh aturan, melainkan oleh keinginan. Ada dua sumber keinginan: daging dan Roh. Keinginan dari kedua sumber ini bertentangan (a.17). Jika saya mau berbuat jahat, Roh melawan keinginan itu dengan keinginan yang baik. Jika saya mau berbuat baik, daging melawan keinginan itu dengan keinginan yang buruk. Jadi, nasihat Paulus berarti, berpihaklah pada keinginan Roh. Jika mau berbuat jahat, carilah keinginan Roh yang berlawanan dengan keinginan itu. Jika mau berbuat baik, teguhkanlah keinginan Roh itu. Jika kita berjalan sesuai dengan keinginan Roh, kita sama sekali tidak akan menuruti keinginan daging (a.16b).

Dalam a.18 Paulus mempertegas bahwa jalan ini berbeda dari jalan hukum Taurat. Kita dipimpin oleh Roh, artinya, hidup kita tidak kacau atau tanpa arah. Tetapi pengaturannya bukan dari hukum Taurat (lebih lagi hukum yang lain yang tidak berasal dari Allah).

Dalam aa.19-21 Paulus menggambarkan perbuatan macam apa yang ditimbulkan oleh keinginan daging. Dari daftar ini jelas bahwa Paulus menggunakan kata daging secara metaforis. Hal seperti perselisihan atau kepentingan diri sendiri atau roh pemecah bukan hawa nafsu dalam tubuh melainkan hal-hal yang menyangkut hati dan akal. Kata daging merujuk pada keberadaan manusia yang lemah dan terbatas (mis. 4:14, diterjemahkan LAI dengan kata “tubuh”). Hanya, karena kondisi manusia termasuk berada di bawah kuasa dosa (3:22), kata itu menjadi cocok untuk menggambarkan keberdosaan manusia. Aturan seperti hukum Taurat gagal bukan karena aturannya tidak baik tetapi karena kelemahan manusia itu. Istilah daging merujuk pada ketidakberdayaan manusia di hadapan dosa. Hal itu dapat dilihat dalam daftar ini. Siapa memilih untuk iri hati atau amarah? Pemecah biasanya tidak sadar bahwa dia memiliki roh pemecah, karena hanya sanggup melihat kelemahan pihak yang lain. Kita memilih untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang berasal dari keinginan-keinginan ini, tetapi keinginan-keinginan sendiri terasa normal saja, sampai dari perbuatan atau akibatnya kita menjadi sadar akan apa yang telah kita perbuat. Ketika kita sadar, kita juga akan setuju dengan a.21b, yaitu bahwa hal-hal seperti itu tidaklah cocok dengan kerajaan Allah, sehingga jika kehidupan kita diwarnai oleh hal-hal ini kita tidak cocok dengan kerajaan Allah.

Sebaliknya, dalam aa.22-23 buah Roh digambarkan. Adalah menarik bahwa lawan dari perbuatan daging bukan perbuatan Roh melainkan buah Roh. Keinganan yang baik berasal dari karakter yang dibentuk Roh. Karakter itu sesuai dengan hukum Taurat (a.23b), tetapi seperti dijelaskan di atas karakter itu tidak akan dihasilkan oleh hukum Taurat oleh karena keberdosaan kita. Kasih adalah buah pertama, sesuai dengan penjelasan Paulus bahwa kasih mencakup seluruh hukum Taurat (5:14). Iman dalam 5:6 bekerja melalui kasih karena Roh membuahkan kasih di dalam kita. Roh adalah perwujudan berkat Allah yang diterima oleh iman (3:14), dan pembaruan hidup dari dalam adalah salah satu berkat itu.

Sebagai kesimpulan, Paulus mengingatkan kita tentang hakikat kita yang sebenarnya dalam Kristus, yaitu bahwa kita adalah orang yang hidup oleh Roh dan bukan oleh daging (aa.24-25). Segi bukan oleh daging digambarkan sebagai penyaliban daging. Karena Kristus mati bagi dosa, berada di dalam Kristus berarti mematikan hawa nafsu dan keinginan yang berdosa. Hal itu dilakukan dengan hidup dipimpin oleh Roh.

Menarik bahwa dalam a.26 (seperti dalam a.15) Paulus merujuk pada keadaan jemaat yang kurang damai, yaitu saling menantang dan mendengki. Di situlah ironi hidup oleh hukum. Orang berharap bahwa hukum dapat mengubah umat menjadi lebih baik. Tetapi, jika hukum Taurat tidak sampai pada akar masalah, lebih lagi hukum-hukum yang lain. Jemaat tidak akan berubah karena aturan gereja makin ketat, karena tegoran dari mimbar makin berapi-api, karena sanksi makin berat. Hal-hal itu tidak sanggup mengurangi rasa bersaing, kedengkian, pelarian kepada dukun dsb. Jemaat akan berubah karena Kristus diberitakan sedemikian rupa sehingga mereka mau menyalibkan daging dan hidup oleh Roh. Baru pada saat itu nasihat, seperti yang banyak disampaikan Paulus sendiri, akan berguna, bukan untuk mengubah hati orang melainkan untuk mengatur semangat rohani yang sudah ada.


Mazmur 1 Individu, relasi atau kelompok?

Agustus 29, 2010

Satu ciri budaya yang makin lama makin ramai dibicarakan dalam teologi kontekstual adalah individualisme (“aku berpikir, maka aku berada”) dan dua alternatifnya, relasionalisme (“aku adalah anak si A, kakak si B, teman si C, maka aku berada”) dan kolektivisme (“aku adalah orang Toraja, maka aku berada”). Tentu, semua segi itu terlibat dalam identitas setiap manusia. Saya adalah individu: orang lain dapat membelikan atau memasakkan makanan bagi saya, tetapi orang lain tidak dapat memakankan makanan bagi saya. Tetapi, saya juga berada dalam jaringan relasi, yang daripadanya saya belajar bagaimana caranya makan dengan baik dan yang dengannya saya suka makan. Saya juga berada dalam kolektif (kelompok) yang cukup menentukan makanan apa yang tersedia dan kapan boleh dimakan (misalnya, di Toraja makan setelah acara, sedangkan di Australia biasanya makan dulu). Hanya, budaya individualis menyoroti manusia sebagai individu, sehingga sejak kecil seorang anak mendengar banyak pepatah, wacana, ilustrasi dan informasi menyampaikan bagaimana caranya menjadi orang yang lain dari yang lain. Budaya relasionalis menyoroti relasi, sehingga sejak kecil seorang anak mendapat banyak bekal budaya tentang bagaimana memperlancar relasi-relasi yang ada. Budaya kolektivis menyoroti kelompok. Saya berasal dari budaya yang sangat individualistis, tetapi tentu ada juga sorotan cukup besar terhadap relasi dan sedikit juga terhadap kolektif. Pada hemat saya, budaya Toraja itu lebih relasionalis daripada kolektif, tetapi mungkin budaya seperti budaya Jawa kuno terbalik. Bagaimanapun juga, salah satu dampak modernisasi adalah menguatnya unsur individualisme dalam budaya-budaya di Indonesia, lebih lagi dalam kaum muda.

Dalam bidang agama, budaya kolektif dan relasionalis akan lebih menonjolkan kegiatan bersama, alias ritus. Hubungan pribadi dengan kuasa gaib/ilahi bisa saja terjadi (khususnya dengan arwah leluhur), tetapi ada ahli dunia itu (seperti to minaa) yang bertugas untuk menguruskan hal-hal itu bagi masyarakat, seperti melacak dosa yang menyebabkan musibah tertentu dan menentukan tindakan yang diperlukan untuk menghapus dosa itu. Seperti sering diamati dalam konteks seperti itu, kepercayaan tidak terlalu penting, yang penting adalah melaksanakan ritus-ritusnya. Atau, apakah lebih tepat dikatakan bahwa dalam budaya yang di dalamnya pendapat “aku” tidak sebanding dengan hikmat orangtua atau kelompok, melakukan ritus adalah cara untuk percaya? Percaya bukan dalam artian memilih satu kepercayaan dari beberapa kemungkinan, tetapi percaya dalam artian mengandalkan hikmat dan kuasa yang melebihi hikmat dan kuasa saya sebagai individu. Pikiran seperti itu mungkin saja tetap ada dalam gereja, dan menjadi konteks yang menarik untuk memikirkan perikop kita.

Mzm 1 mulai dengan seorang individu (kata “orang” kata tunggal dalam bahasa Ibrani). Orang yang tunggal ini dibandingkan dengan keramaian orang fasik / berdosa / pencemooh (semuanya kata jamak, a.1). Orang ini tidak mengikuti keramaian itu, alias dia melawan arus. Budaya Israel kuno adalah budaya relasionalis. Bagaimana caranya satu orang dapat melawan keramaian orang yang dengannya dia berelasi dalam satu masyarakat? Jawabannya dalam a.2 adalah khas individualistis: orang ini merenungkan Taurat secara pribadi (kata tora juga dapat berarti “ajaran”, jadi bisa lebih luas daripada kelima kitab Musa saja). Kata “merenungkan” berarti bersuara, dan merujuk pada pembacaan Taurat dengan suara yang pelan, entah langsung dari naskah atau dari ingatan akan apa yang sudah dihafal, mengingat bahwa pada saat itu naskah itu mahal. Orang yang mengenal firman Tuhan ini tidak lagi mengandalkan orang-orang di sekitarnya saja untuk mendapat hikmat untuk hidup. Dalam firman Tuhan ada sumber lain, sumber yang lebih baik dan lebih berhikmat dari kelompok di sekitarnya.

Dengan demikian, diri orang ini menjadi kokoh, seperti pohon yang subur (a.3). Hasil pohon ini bukan soal berupaya tampil baik di hadapan orang, melainkan hasil dari hakikat orang yang dirinya sudah dibentuk oleh firman Tuhan. Sebaliknya, kaum fasik tidak ada bobotnya, mereka seperti sekam (a.4). Di situlah ada klaim yang luar biasa: Tuhan adalah lebih mendasar dari keluarga, suku dan negara. Mengingat bahwa kita dibesarkan dalam keadaan yang sangat bergantung pada kelompok, hal itu tidak mudah dipercaya. Tetapi orang yang merenungkan firman Allah akan berbahagia olehnya. Dia menjadi lebih individualistis dalam artian sanggup melawan keramaian orang karena ada sumber hidup yang lain, yaitu Tuhan. (Individualisme ini belum seperti individualisme Barat yang sudah meninggalkan relasi dengan Tuhan yang pada awalnya memungkinkan individualisme itu, seperti orang naik ke atas atap kemudian membuang tangga yang dipakai untuk naik.)

Dalam aa.5-6 individualisme tadi dibatasi lebih lagi. Ternyata, si orang dalam a.1, selain sebagai individu dalam relasi dengan Tuhan, termasuk juga dalam perkumpulan orang benar. Perkumpulan itu bukan pengarah hidupnya seperti kumpulan orang fasik menjadi pengarah hidup mereka dalam a.1. Tetapi, toh, ada kolektivitas dalam relasi dengan Tuhan. Tuhan akan menegakkan keadilan kepada kedua kolektivitas ini. Kaum orang fasik tidak akan bertahan (a.5) melainkan binasa (a.6), sedangkan jalan perkumpulan orang benar dikenal oleh Tuhan (a.6). Dalam aa.5-6 ini, keadaan terbalik dari a.1. Dalam a.1 kaum orang fasik yang menentukan apa yang lasim, sehingga si orang benar harus berjuang untuk melawan arus. Tetapi jika kita melihat ke akhir segala sesuatu dalam penghakiman Tuhan, kaum orang fasik yang tidak bisa ikut (a.5), dan jalan orang benar yang berkenan di hadapan Tuhan (a.6).

Yang mendasar dalam mazmur yang mengantarkan seluruh kitab Mazmur ini ialah relasi dengan Tuhan. Relasi dengan Tuhan akan mengurangi individualisme Barat, tetapi justru akan mendorong individualisme dalam budaya relasionalis atau kolektivis. Hal itu terjadi karena antara lain urusan agama tidak dapat didelegasikan kepada orang lain, seperti pendeta. Mungkin saja orang-orang fasik berharap bahwa para imam di Bait Allah akan menguruskan Tuhan bagi mereka, tetapi ternyata relasi dengan Tuhan adalah sesuatu yang tidak bisa didelegasikan. Sebuah pohon tidak dapat meminjamkan sebagian dari bobotnya kepada sekam. Jalan keluarnya adalah perenungan firman. Hal itu bukan sekadar soal pengetahuan (“aku mengetahui isi Alkitab, maka saya berada dalam relasi dengan Tuhan”), melainkan dengan isinya diingat berulangkali, entah dengan dibaca, didengar atau dihafal, firman itu mengubah diri kita. Aku mengenal Tuhan, maka saya sungguh berada, sekarang dan untuk selama-lamanya.

Cocokkah analisis saya tentang budaya Toraja di tempat pembaca? Silakan ditanggapi!


Kel 23:10-12 Hari Sabat untuk manusia

Juni 15, 2010

Perikop ini termasuk bagian pertama (Kel. 20:22-23:33) perincian Hukum Taurat setelah perjanjian diadakan dengan Israel (p.19) dan kesepuluh firman disampaikan (p.20). Artinya bahwa aturan-aturan ini termasuk cara Israel meresponsi anugerah Allah yang membawa mereka keluar dari Mesir (20:2). Bagian ini merupakan satu kali Musa menaiki gungung Sinai. Struktur bagian ini sebagai berikut:

A. Peringatan terhadap penyembahan ilah-ilah lain (20:22-23)

B. Cara menyembah Allah yang sah (20:24-26)

C. Peraturan-peraturan untuk diajukan (21:1)

D. Peraturan dimulai dengan rujukan ke tahun ketujuh (21:2)

E. Macam-macam aturan (21:3-23:9)

D’. Peraturan berakhir dengan rujukan ke tahun ketukuh (23:10-12)

C’. Peringatan untuk taat, serta peringatan terhadap ilah-ilah yang lain (23:13)

B’. Cara menyembah Allah yang sah (23:14-19)

A’. Peringatan terhadap pemyembahan ilah-ilah lain (23:20-33)

Apa gunanya analisis seperti ini? Kita melihat bahwa apa yang disebut peraturan, yang menyangkut kehidupan Israel bersama, berada dalam konteks relasi mereka dengan Tuhan. Jika dibaca dari awal sampai akhir (dan jarang hal itu dilakukan!), kita akan mulai dengan peringatan tentang ibadah kepada Allah, baru masuk ke dalam kehidupan sehari-hari, kemudian diingatkan kembali tentang ibadah kepada Allah. Pembacaan demikian akan membentuk kita untuk memahami kasih kepada sesama dalam konteks kasih kepada Allah.

Dalam renungan minggu yang lalu diusulkan bahwa hari ketujuh menyimbolkan kenikmatan Allah atas ciptaan-Nya, yang ke dalamnya Israel diajak masuk dengan memelihara hari dan tahun Sabat. Ciptaan yang baik itu ditawarkan kembali kepada Israel dalam bentuk tanah perjanjian. Jadi, bahwa peraturan-peraturan ini dimulai dan diakhiri dengan rujukan pada tahun dan hari ketujuh memaknai peraturan-peraturan itu sebagai cara Israel menikmati pemberian itu sebagai berkat Allah. Israel yang menaati Kel. 23:2-23:12 akan menikmati taman Eden yang kedua. Ul 5:12-15 membawa makna yang mirip. Ayat-ayat itu menafsir hukum keempat dalam Ul 20:8-11. Pembebasan dari Mesir terjadi supaya Israel dapat menikmati berkat Allah dalam tanah perjanjian. Dalam Kel 23:10-12 dan Ul 5:12-15 kenikmatan itu termasuk perhatian kepada kaum miskin dan kaum bawah.

PB tidak mengharuskan istirahat pada hari tertentu ataupun menganggur setiap tahun ketujuh, walaupun istirahat pada satu hari adalah disiplin yang berguna, untuk mengingatkan kita bahwa tujuan hidup lebih dari pekerjaan dan kesibukan kita. Namun, dalam Kristus dan oleh kuasa Roh Kudus, kita menikmati kehidupan bersama yang semestinya mencerminkan berkat Allah, walaupun kebaikan hidup seperti dalam taman Eden belum dinikmati sampai pembaruan segala sesuatu ketika Kristus kembali. Dalam kehidupan itu ada tempat untuk semua, bukan hanya yang menonjol atau dianggap penting, tetapi juga yang miskin dan rendah.


Rom 10:4-13 Keselamatan bagi semua

Mei 26, 2010

Dalam kitab Roma, peran bangsa-bangsa muncul sejak awalnya: dalam Rom 1:5 Paulus bercerita bahwa “kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”. Injil itu untuk semua bangsa, bukan hanya orang Yahudi. Hal itu sesuai dengan harapan PL itu sendiri (Rom 1:2; dalam 15:9-12 ada serangkaian kutipan PL yang membuktikan hal itu). Injil itu dibangun atas dasar PL, di mana Israel adalah penerima awal berkat-berkat Allah, seperti dikatakan dalam Rom 9:4-5 bahwa “mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu”. Yang dipersoalkan Paulus dalam pp.9-11 ialah, mengapa dari bangsa yang dikhususkan oleh Allah ini hanya sedikit yang percaya kepada Mesias mereka, yakni Yesus? Jawaban Paulus dimulai dalam pasal 9 dengan memperlihatkan kedaulatan Allah, yang memilih Isaak di atas Ismael dan Yakub di atas Esau. Pada akhir p.9 (aa.24-29) Paulus memperlihatkan dari PL bahwa Israel menolak Allah tetapi bangsa-bangsa akan menerima Allah, dan dalam p.11 dia sampai kesimpulan bahwa Allah menegarkan sebagian Israel “sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk” (11:25), tetapi pada akhirnya Israel juga akan bertobat. Sungguh benar bahwa jalan-jalan Allah tak terselami (11:33).

Namun, kedaulatan Allah tidak berjalan lepas dari kehendak manusia, melainkan di tengah kehendak-kehendak manusia (di situlah misteri kedaulatan Allah yang tidak meniadakan kehendak bebas manusia). Mulai dari 9:30 Paulus menguraikan masalah ketidakpercayaan Israel dari pihak Israel sendiri. Mereka mengejar kebenaran melalui usaha sendiri, daripada menerima pembenaran dari Allah (9:30-10:4). Perikop kita (10:4-13) menjelaskan keselamatan yang dinikmati bangsa-bangsa (dan sebagian Israel), dan aa.14 dst menjelaskan bagaimana keselamatan itu sampai pada bangsa-bangsa—karena ada yang membawa dan memberitakan Injil. Jadi, kedaulatan Allah yang mengerjakan maksud-Nya sampai “Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua” (11:32) diterapkan melalui manusia yang memberitakan Injil dan manusia yang menerima atau menolak pesan keselamatan itu.

Rom 10:4 menyimpulkan argumentasi Paulus bahwa cara Israel mengejar keselamatan itu salah, karena mereka tidak melihat bahwa Kristus adalah kegenapan hukum Taurat. Ayat itu juga menjadi dasar untuk penguraian Paulus yang berikut. Paulus memperlihatkan dari Taurat sendiri bahwa pembenaran terdapat dengan percaya. A.5, yang mengutip dari kitab Imamat, merujuk pada ritus-ritus yang dilakukan supaya Israel yang najis karena dosa dapat beroleh penyucian. Cara itu tepat pada waktunya (sebelum Kristus menjadi jalan pendamaian, 3:25), seandainya dilakukan dengan iman (9:32). Tetapi Taurat sendiri tidak menyembunyikan soal iman. Dalam aa.6-7 Paulus mengutip dari Ul 30:11-14 yang mengatakan bahwa firman Allah itu dekat, di dalam mulut dan hati. Maksud Musa ialah bahwa makna Taurat bukan sesuatu yang terlalu jauh atau tinggi untuk dipahami, dan hanya menuntut pengakuan di mulut dan hati yang mengasihi Allah. Mengapa Paulus menganggap bahwa firman yang dimaksud Musa sama dengan Injil? Karena Ul 30:11-14 menyusul Ul 30:1-10 yang berbicara tentang pemulihan Israel setelah dihukum Allah, termasuk pembaruan hati (Ul 30:6). Hal-hal itu yang digenapi oleh Kristus (bnd. di sini). Jadi, firman yang dimaksud Musa termasuk firman tentang Kristus.

Kedekatan firman itu dalam konteks Injil dijelaskan Paulus dalam kedua hal itu, yakni mulut dan hati. Pengakuan adalah pengakuan bahwa Kristus adalah Tuhan. Mengasihi Allah dalam hati disamakan dengan percaya bahwa Allah membangkitkan Kristus dari antara orang mati; hal itu sudah dibahas berkaitan dengan Abraham dalam p.4. Kesimpulan Paulus diteguhkan dengan dua nas dari para nabi dalam aa.11, 13. Dalam a.12, Paulus mengingatkan kita tentang konteks jalan keselamatan ini, yakni rencana Allah yang dimaksudkan untuk semua orang, Yahudi dan non-Yahudi.

Kita adalah penerima jalan kesemalatan itu. Kita percaya dan mengandalkan bahwa Allah bertindak untuk menyelamatkan dunia dalam Kristus, dan kita mengaku di hadapan dunia bahwa Dialah Tuhan dan Juruselamat. Kita dapat bersukacita karena kita tahu bahwa pada akhirat kita tidak akan dipermalukan melainkan diselamatkan. Oleh karena itu, kita bersyukur bahwa ada yang membawa berita Injil itu kepada kita, dan kita juga ingin supaya berita itu dibawa kepada semua orang, bukan hanya kepada kalangan sendiri. Kita juga bersyukur bahwa di balik semua kegiatan kita, Allah yang satu berkarya, yaitu Allah yang kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.


Neh 8:1-9 Menanggapi firman Allah dengan baik

Agustus 31, 2009

Pembacaan dan perenungan firman Allah (Alkitab) menjadi bagian pokok dalam kumpulan umat kristiani. Untuk pendeta, khotbah dapat memenuhi beberapa fungsi. Khotbah menjadi cara untuk menyerang oknum atau kelompok dalam jemaat. Khotbah menjadi ‘terapi’ yang di dalamnya pendeta bisa melampiaskan frustrasi atas tingkah laku jemaat—atau kadangkala tanpa sadar atas tingkah laku sendiri, karena manusia sering memproyeksikan dosa sendiri kepada orang lain. Bagi jemaat, khotbah adalah bagian ibadah yang (mudah-mudahan) berbeda setiap minggu, dan mungkin dapat menerangi pergumulan hidup. Karena duduk saja, khotbah juga memberi kesempatan untuk istirahat.

Tentu kita tahu bahwa gambaran yang (mudah-mudahan) melebih-lebihkan itu bukan yang semestinya, dan perikop Neh 8 ini memberi kita beberapa petunjuk yang lain. Yang pertama, konteks pembacaan Taurat oleh Ezra adalah selesainya pembangunan tembok (6:15). Jadi, kita bisa menyimpulkan bahwa tujuan dari suatu batas yang jelas (tembok untuk kota Yerusalem atau, misalnya, pengakuan gereja) ialah memungkinkan ibadah kepada Tuhan. Yang menarik di sini, umat meminta kepada Ezra supaya Taurat dibaca. Penyelesaian tembok memberi semangat yang baru.

Yang kedua, Ezra membaca di tempat umum supaya sebanyak mungkin dapat mendengarnya. Jadi, pembacaan bukan di tengah ibadah di Bait Allah. Semua ikut yang dapat mengerti, mungkin merujuk ke anak-anak di atas umur tertentu. Ibadah ini tidak mengesampingkan siapapun.

Yang ketiga, pembacaan Taurat disambut dengan sikap yang baik oleh jemaah. A.4 menyimpulkan hari itu, bahwa jemaah mendengar dengan penuh perhatian, sedangkan aa.5 dyb menjabarkan berbagai unsur dalam pembacaan itu. Ada jemaat berdiri untuk menghormati firman (a.6), serta pemujian dan penyembahan (a.7). Kadangkala pembacaan Alkitab dianggap bagian “otak” sedangkan menyanyi adalah bagian “hati”, tetapi di sini firman Allah disambut dengan hati yang penuh perasaan.

Yang keempat, pembacaan Taurat disertai penjelasan. Taurat berasal dari masa lampau, sehingga akan ada masalah bahasa dan budaya yang tidak jelas bagi jemaah. Di sini kita melihat salahnya gambaran awal tadi. Khotbah bukan untuk pengungkapan diri pengkhotbah melainkan pengungkapan makna firman.

Masalah kita dengan pembacaan dan perenungan firman bisa terletak pada jemaat dan/atau pada pengkhotbah. Jika bagi jemaat Allah ada di pinggir hidup, bukan “Allah yang mahabesar”, maka firman-Nya tidak akan mengasyikkan seperti bagi jemaah Israel dalam perikop ini. Tetapi bisa juga pengkhotbah mengaburkan daripada menjelaskan firman. Semoga Allah dimuliakan oleh khotbah yang jelas dan jemaat yang rindu mengenal-Nya.


Neh 9:1-5 Perbaikan batin

Maret 20, 2009

Pembaruan Nehemiah mulai dengan pembangunan tembok Yerusalem (pp.1-7). Tembok itu merupakan batas jasmani, suatu pertanda bahwa kelompok Yahudi berfungsi sebagai masyarakat dan berkuasa atas wilayah Yerusalem, termasuk simbol identitasnya, yakni Bait Allah.

Sehingga yang berikut adalah kegiatan yang membangun kembali batas rohani, yaitu pembacaan Taurat (p.8). Umat Yahudi yang mendengarkannya diingatkan akan identitasnya sebagai umat Allah, serta cara hidup yang sesuai dengannya. Oleh karena itu Perayaan Pondok Daun diadakan dengan sukacita.

Namun, pembacaan Taurat juga mengungkapkan ketidaktaatan mereka, sehingga setelah perayaan itu umat Yahudi bergabung kembali untuk bertobat (a.1). Puasa adalah petunjuk akan keadaan yang begitu dahsyat sehingga orang tidak mau makan. Kain kabung orang Israel adalah kain yang dipakai untuk karung yang kasar dan tidak nyaman dipakai sehingga mencerminkan perasaan batin. Kemudian ada Istilah “tanah di kepala”. Yang lebih biasa ialah debu di atas kepala yang menunjukkan dukacita secara umum. Istilah “tanah di kepala” hanya dipakai tiga kali yang lain (1 Sam 4:12; 2 Sam 1:2; 15:32), ketika Israel mengalami musibah dari tangan lawan. Kesimpulan dari a.1 ialah bahwa orang Israel merasa terpukul dan dalam bahaya karena firman Allah, sehingga pertobatan mendesak.

Dalam rangka itu mereka menentukan batas sosial dengan memisahkan diri dari orang asing (a.2), barangkali karena orang asing merupakan penggodaan utama untuk menyembah ilah yang lain. Lepas dari konteks penggodaan, mereka mengaku apa yang mereka lakukan, dan juga bahwa mereka lahir dalam tradisi dosa nenek moyangnya. Pengakuan itu terjadi sebagai respons akan pembacaan firman (a.3), dan juga disertai penyembahan kepada Tuhan, sebagaimana digambarkan dalam aa.4-5. Doa yang berikut (aa.6 dst) bersilih ganti menceritakan anugerah Tuhan dan dosa umat Israel, sampai akhirnya memohon pertolongan Tuhan (aa.32 dst) atas dasar anugerah itu.

Dalam Perjanjian Baru tidak ada gedung gereja disebut, sehingga jelas bahwa adanya gedung tidak pokok dalam kehidupan berjemaat. Namun, pembangunan atau perbaikan prasarana seperti gedung gereja di sebuah tempat sering menunjukkan adanya kekompakan dan semangat dalam sebuah jemaat. Tetapi semangat itu percuma kalau tidak diiringi oleh pembaruan batin. Kadangkala jemaat perlu begitu mendengarkan firman Allah sehingga hati tertusuk. Injil yang kita dengarkan yang menggenapi Taurat memang memberitakan tuntutan Allah untuk hidup kudus, khususnya dengan hidup dalam kasih. Tetapi Injil pada dasarnya menyampaikan anugerah Allah. Sama seperti Israel diselamatkan dari Mesir dan dituntun dan disabari Allah, demikian juga dalam Kristus Allah sudah menyelamatkan kita. Baik dosa kita maupun anugerah Allah menjadi dasar untuk pertobatan yang menyadari bahwa musibah terdahsyat adalah menjadi musuh Allah.


Mt 5:17-26 Taurat ala Yesus sebagai sarana misi Allah

Februari 13, 2009

Tempat hukum Taurat kadangkala menjadi pergumulan bagi orang Kristen, lebih lagi bagi orang Toraja jika Taurat dianggap sebagai pengganti Kristen dari aluk sola pemali (adat serta tabunya). Ajaran Yesus lebih halus. Taurat tidak tertinggal, tetapi juga harus dipahami melalui Kristus yang menggenapinya. Aa.17-20 memaparkan prinsip ini, kemudian aa.21-26 menyampaikan contoh pertama Taurat ala Kristus.

Contoh ini menarik, karena Yesus membantah tafsiran ‘hukum positif’ bahwa pembunuhan itu tindakan membunuh saja. Yesus mengajarkan bahwa memarahi dan meremehkan juga tercakup oleh perintah itu. Dasar hukum untuk jangan membunuh adalah Kej 9:6, yaitu karena manusia adalah gambar Allah. Memarahi dan meremehkan orang juga menghina gambar itu (bnd. Yak 3:9). Kemudian, dalam dua cerita pendek yang mengejutkan Yesus mengusulkan jalan lain jika bertentangan dengan orang: berdamai. Hal itu berlaku bagi saudara (aa.23-24) bahkan bagi lawan (aa.25-26). Cerita pertama mengejutkan karena perdamaian diprioritaskan di atas ibadah! Cerita kedua mengejutkan karena lawan itu adalah penagih, yang seringkali tergolong penindas di Galilea. Saya duga bahwa maksud Yesus bukan untuk membenarkan penagih melainkan untuk mengatakan bahwa permusuhan sama dahsyatnya dengan utang kepada penindas. Lebih baik menghargai sesama sebagai gambar Allah dan berdamai.

Nah, jika kita kembali ke posting kemarin, tidaklah sulit untuk mengaitkan ajaran ini dengan perselisihan dan percekcokan yang tidak asing dalam kehidupan sehari-hari di Toraja (dan tentu manusia yang lain—lihat saja komentar di berbagai blog atau koran di internet, bagaimana orang begitu cepat marah dan saling meremehkan). Tetapi hermeneutik misi yang diusulkan kemarin mau memberi kerangka misi Allah bagi nasihat etis ini. Dan saya rasa kerangka ini sangat perlu, karena pada umumnya ajaran etis Yesus dianggap indah tetapi tidak praktis. Hanya jika pengumuman Yesus tentang Kerajaan Allah (KA) dipahami, maka ajaran etis Yesus mulai masuk akal. (Itu bagian kognitif [cara berpikir] dari pertobatan.)

Kedatangan KA menyangkut pembaruan Israel yang bermuara pada keselamatan bagi bangsa-bangsa (lihat misalnya Yes 49:6) serta pemulihan seluruh ciptaan (mis. Yes 35). Kedatangan itu serta respons terhadapnya diangkat sebagai tema utama Yesus dalam Mt 4:17. Langsung Matius menceritakan bahwa ada beberapa orang yang dipanggil Yesus untuk menjadi inti dari Israel yang diperbaharui, seperti Yes 49:6a itu.

Kemudian, dari 4:23 sampai dengan 9:35 (yang sama dengan 4:23) Matius menggambarkan pelayanan Yesus dalam rangka KA itu. Ajaran Yesus dipaparkan dalam pp.5-7 (disebut khotbah di bukit karena 5:1), sedangkan tindakan-Nya digambarkan dalam pp.8-9. P.10 kembali ke para murid, yang diutus untuk melanjutkan pelayanan Yesus itu.

Jadi, khotbah di bukit menyangkut kedatangan Kerajaan Allah melalui Yesus. Itulah tempatnya dalam misi Allah. Yesus mau membentuk mereka supaya cocok untuk KA itu. Jadi, sifat-sifat murid Yesus digambarkan dalam 5:3-12. Perhatikan bahwa intinya adalah sifat yang cocok dengan KA yang akan datang. Tugas mereka digambarkan dalam 5:13-16. Garam dalam PL melestarikan perjanjian (Bil 18:19), jadi para murid Yesus yang sifatnya seperti aa.3-12 menjadi pertanda bahwa perjanjian Allah dengan Israel berlanjut (a.13). 5:14-16 menerapkan misi Israel untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa kepada para murid Yesus. Jadi, Yesus mengikuti pola seperti dalam Yes 49:6, yaitu pembaruan Israel sebagai dasar untuk misi Israel. Kita sebagai Israel plus (Israel ditambah bangsa-bangsa seperti Australia dan Toraja) harus tetap mengikuti pola ini—pembaruan ke dalam dan misi ke luar. Itulah bagian kita dalam misi Allah untuk mewujudkan Kerajaan Allah sampai Kristus datang.

Tetapi apa ukuran pembaruan itu? Bagi Israel dalam PL itu hukum Taurat, dan Tauratlah yang menjadi topik dari 5:17 sampai dengan kesimpulannya dalam 7:12. Dasar pemikiran Yesus disampaikan dalam 5:17-20. Yesus menanggapi kesan bahwa Dia meremehkan Taurat itu (a.17) dengan meneguhkan Taurat sebagai dasar umat Allah (aa.18-19). Hanya, Taurat harus dimengerti dalam rangka kedatangan Yesus sendiri (a.17b). Yesuslah yang akan mewujudkan harapan Taurat akan berkat bagi bangsa-bangsa (Kej 12:3) serta menjadi satu-satunya manusia yang hidup-Nya kudus seperti dituntut Taurat. Tetapi hanya Yesus juga yang sungguh memahami maksud yang sebenarnya dari Taurat, suatu pemahaman yang berlawanan dengan pemahaman para pengajar Taurat yang lain (a.20).

Kemudian, Yesus mengartikan kedua pemahaman ini sebagai dua versi kebenaran, dan 5:21-48 merupakan serangkaian pertentangan antara tafsiran pengajar Taurat dengan tafsiran Yesus. Yang bermunculan ialah pertentangan antara ‘hukum positif’ dengan etika karakter, misalnya antara jangan melakukan tindakan membunuh saja dengan menghargai manusia sebagai gambar Allah. Di balik pemaknaan itu adalah janji para nabi akan hati dan batin yang baru (Yeh 36:26-27; Yer 31:33). Datangnya KA dalam Kristus berarti bahwa umat Allah sudah siap untuk hidup baru, untuk hidup dalam kasih (7:12).

Barangkali, Allah memanggil orang Toraja untuk percaya kepada Yesus supaya mereka juga dapat ikut serta dalam pembaruan (kemudian misi) umat Allah menuju kedatangan Yesus kembali. Kematian dan kebangkitan Yesus meneguhkan janji KA, dan pencurahan Roh Kudus memperjelas bagaimana pembaruan itu dapat terwujud. Tetapi pembaruan itu akan terhambat jika ketaatan kepada Allah tidak dipahami dengan tepat. Jika Taurat ditafsir sebagai pemali (tabu) Kristen yang menjadi alat untuk mencegah musibah dan mendatangkan berkat, maka pembaruan diri dan pembaruan umat tidak akan dipahami. Yang diperlukan adalah mengalihkan harapan dari ketaatan ke janji Allah. Jika janji-janji KA dalam Mt 5:3-8 didambakan, jika ada kerinduan untuk mendapat Kerajaan Allah, untuk dipuaskan dengan kebenaran, untuk melihat Allah, maka ajaran Yesus menjadi cara untuk dibentuk dan diperbaharui, bukan alat untuk selamat.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 932 pengikut lainnya.