1 Raj 2:1-4 Ketaatan karena janji Allah (15 Jan 2012)

Januari 10, 2012

Blog ini bermaksud untuk membantu Pembaca menyampaikan khotbah ekspositori, yaitu, khotbah yang amanatnya diambil dari teks dan disampaikan dengan teks sebagai bahan utama. Tentu, blog ini sama sekali bukan khotbah jadi, karena khotbah ekspositori juga harus menyambung dengan konteks jemaat pendengar, sedangkan blog ini hanya akan menyambung dengan pembaca yang berpendidikan teologi (formal atau non-formal) dan siap berkonsentrasi. Bagi rekan-rekan yang pernah menangkap visi khotbah ekspositori, jangan patah semangat bahwa firman Tuhan lebih berguna daripada pelampiasan kegelisahan hati pengkhotbah (alternatif biasa jika bukan teks yang menjadi materi utama). Jangan menerima kebohongan Iblis bahwa firman Tuhan terlalu rumit/susah/kontroversial untuk disampaikan, tetapi usahakan supaya firman itu yang muncul dengan jelas dalam penyampaian Saudara.

Sedemikian jauh pelampiasan kegelisahan hati saya. (Di dalam bagian pengantar dan pemaknaan, saya merasa bebas untuk mengeluarkan pendapat pribadi, karena namanya blog, bukan khotbah.)

Penggalian Teks

1 Raj 2:1-11 menyampaikan pesan Daud yang terakhir kepada Salomo, anaknya yang akan menggantikan dia menjadi raja Israel (1). Aa.3-4 merujuk pada sejarah keselamatan, yaitu perjanjian Allah dengan Israel di bawah Musa dan perjanjian Allah dengan Daud, dan kita dengan muda akan menggali pesan yang membangun daripadanya. Tetapi di sekitar perikop kita, kita diperhadapkan dengan kemelut peralihan kuasa. Pasal 1 menceritakan usaha Adonia, sepertinya anak tertua Daud yang masih hidup (bdk. 2 Sam 3:2-4: Amnon dibunuh Absalom, Kileab tidak pernah disebutkan lagi, Absalom dibunuh Yoab), untuk memperebutkan takhta Israel. Makanya, pesan pertama Daud adalah supaya Salomo kuat dan berani, karena jalannya tidak akan mulus (2). Dalam aa.5-9 ada daftar orang yang menurut Daud perlu dibereskan. Itulah yang dilakukan Salomo dalam 2:13-46 (dengan tambahan Adonia serta beberapa pendukungnya) sehingga kerajaannya kukuh (“kokoh”, 2:12 & 46 merupakan inklusio). Makna dari konteks yang kurang enak bagi kita manusia modern ini akan dibahas di bawah.

Aa.3-4 merupakan satu kalimat. Intinya adalah pesan untuk melakukan kewajibannya dengan setia kepada Tuhan. Tuhan (YHWH) adalah Allahnya; artinya, Tuhan tidak berada untuk dia, tetapi sebaliknya dia diangkat sebagai raja untuk melakukan berbagai tugas bagi Tuhan. Cara kewajiban itu dilakukan diuraikan dengan serangkaian frase yang biasa untuk menggambarkan ketaatan. Istilah-istilah ini merujuk pada hal yang sama, yaitu, apa “yang tertulis dalam hukum Musa”, tetapi masing-masing melihat hukum Musa dari perspektif yang berbeda. “Jalan” (derek) menunjukkan bahwa hukum Musa memberi umat Allah pola hidup yang memiliki tujuan. “Ketetapan” (khuqah, dari kata dasar khqq yang berarti mengukir) menyiratkan bahwa hukum itu tidak berubah-ubah. “Perintah” (mitswah) menyiratkan bahwa Tuhan yang menyuruh umat-Nya. “Peraturan” (misypat) berasal dari kata syapat yang berarti mengadili atau memerintah. Sebagian peraturan dalam Hukum Taurat bersifat kasuistik, berdasarkan keputusan Allah terhadap kasus tertentu (mis., Bilangan 36). Hukum Tuhan berfungsi untuk mengatur umat-Nya dengan baik, mencegah kekacauan. “Ketentuan” (‘edut) mengandung unsur kesaksian. Dalam konteks perjanjian Allah dengan Israel, ketentuan merupakan bagian Israel merespons keselamatan Allah. Hukum Musa, dilihat dari berbagai perspektif, menjadi pedoman bagi raja Israel dalam menunaikan tugasnya sebagai raja.

Kemudian, ada dua tujuan, yang pertama masih dalam a.3, yang kedua dalam a.4. Tujuan pertama adalah sukses. Kata “beruntung” merujuk pada hasil kejelian, kejelian yang diasah oleh hukum Musa itu. Tujuan kedua menyangkut rencana Allah. Janji kepada Daud (2 Sam 7) tentang selalu ada keturunannya di takhta kerajaan Israel itu bersyarat, yaitu ketaatan raja “dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa” (bdk. Ul 6:5). Dalam perjanjian Allah dengan Daud tentang kerajaan, raja menjadi contoh utama ketaatan umat Allah. Jadi, ketaatan Salomo adalah cara dia mengambil bagian dalam rencana Allah.

Maksud bagi Pembaca

Maksud Daud kepada Salomo adalah supaya dia menjadi raja yang sejati. Dasarnya adalah hukum Musa, prakteknya dalam konteks perebutan kuasa termasuk tindakan tegas terhadap berbagai pemberontak.

Pembaca (Israel pasca-pembuangan) dituntun untuk menantikan raja yang taat, yang memperlihatkan kesetiaan kepada Tuhan, sambil pembaca juga menerapkan hukum itu. Bagi kita, Raja itu telah datang, dan memperlihatkan dan menafsir hukum Musa dengan sempurna sehingga janji Allah digenapi, karena Kristus telah menjadi Raja kerajaan Allah selama-lamanya. Di dalam Kristus, kita juga diajak untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan, mengambil bagian kita dalam rencana Tuhan.

Makna

Saya menafsir aa.3-4 sebagai pesan kepada Salomo, yang dapat dilihat sebagai raja Israel, sehingga pesannya dapat dilihat sebagai model untuk Mesias, yaitu Kristus. Jadi, baru di dalam Kristus kita melihatnya sebagai pesan untuk kita.

Mengapa saya mengambil cara yang begitu repot? Mengapa Salomo tidak ditafsir langsung sebagai contoh orang beriman? Ada tiga alasan yang muncul untuk sementara.

1) A.4 tidak jelas khusus untuk keturunan Daud. Andaikan, misalnya, kita semua mau dianggap raja kecil dalam keluarga, pelayanan atau tempat kerja, tidak ada janji yang menyangkut anak-anak laki-laki kita menggantikan kita dalam posisi itu. Anak-anak kita tidak akan menjadi kepala kantor kita, tidak akan menggantikan kita sebagai bendahara kelompok anu. Tetapi mungkin kita mencari janji yang sejajar, misalnya, janji keselamatan (bkd. Kis 2:39, “kepada anak-anakmu”). Jadi, janji kepada Salomo diartikan sebagai janji kepada orang yang percaya kepada Kristus. Bagaimana? Justru itu yang mau saya jelaskan di atas. A.4 adalah janji bahwa rencana keselamatan Allah itu terjamin, sehingga kita boleh menerima janji keselamatan dalam Kristus dengan keyakinan penuh.

2) Aa.3-4 adalah janji bersyarat. Syaratnya menyangkut bukan bagaimana mendapatkan janji itu melainkan bagaimana tetap menikmatinya. Syarat itu juga bukan soal hidup tanpa pernah berdosa melainkan hidup dengan hati terarah kepada Allah. Apakah keturunan Daud memenuhi syarat itu? Tidak, para raja rata-rata menuntun umat Israel untuk membelakangi Allah, makanya Israel dibuang dan akhirnya menantikan Mesias yang akan memenuhi syarat itu. Apakah kita memenuhi syarat itu? Juga tidak, makanya kita lari kepada Sang Mesias Yesus yang telah menjadi manusia taat itu. Di luar Kristus, khotbah kita terancam jatuh ke dalam moralisme (kalian harus berusaha lebih keras berbuat baik, karena jelas kurang selama ini) atau kelonggaran (dikatakan “dengan segenap hati dan jiwa”, tetapi pokoknya ada usaha sedikitlah). Di dalam Kristus, aa.3-4 menjadi prinsip kita karena itulah jalan yang ditempuh Kristus sendiri, dan kita mengikuti-Nya dalam kuasa Roh Kudus dengan terus-menerus disegarkan oleh pengampunan atas kekurangan kita. Kristus, keturunan Salomo, yang telah memenuhi syarat itu, sehingga kita dapat menuju ketaatan itu dalam suasana anugerah, bukan ketakutan.

3) Salomo adalah bagian dari rencana Allah yang bertujuan, bukan contoh prinsip keagamaan yang statis. Dalam keagamaan statis (seperti agama-agama suku), dunia paling riil adalah dunia mitos yang tidak pernah berubah, dan manusia mengikuti pola nenek moyangnya dalam menerapkan pola kekal itu. Dalam Alkitab, Allah memiliki rencana sehingga cara-Nya dengan manusia berkembang dari zaman ke zaman. Dalam keagamaan statis, para dewa pelindung bertugas untuk menjamin kesuburan tanah, hewan dan manusia. Dalam Alkitab, manusia berada untuk rencana Allah, bukan sebaliknya. Aa.3-4 bukan suatu petunjuk tentang pemali (tabu) kristiani—lakukan ini supaya beruntung dan tidak kena malapetaka, melainkan salah satu tahap dalam rencana Allah untuk memulihkan dunia dari segala malapetaka dan dosa.

Pada hemat saya, mengajarkan rencana Allah akan membangun iman, sehingga ada landasan yang kuat untuk ketaatan yang bertahan, karena bahkan pada waktu kita susah atau gagal, rencana Allah tetap berlaku. Juga, kita akan taat bukan untuk kepentingan sendiri, melainkan untuk menjadi bagian dalam apa yang dilakukan Allah, sesuatu yang jauh lebih hebat, agung dan besar daripada kepentingan pribadi, karena menyangkut Allah.

Tentu, ketaatan tetap pokok dalam perikop kita, dan kelima istilah dalam a.3 dapat diartikan dalam terang Yesus. Jelas Yesus menunjukkan jalan hidup. Kemudian, Dia tidak mengubah hukum Taurat yang terukir itu, tetapi memberinya makna baru sehingga penerapannya tidak selalu sama dengan Israel, tetapi prinsipnya sama. Dia memiliki otoritas Allah dalam menyuruh para murid-Nya. Banyak ajaran-Nya disampaikan melalui kasus, seperti perempuan dalam Yohanes 8 dan sebagian cerita mujizat, yang selalu membawa orang kepada kehidupan yang lebih teratur. Seluruh riwayat hidup-Nya, sampai kematian dan kebangkitan-Nya, menjadi kesaksian tentang kemanusiaan yang sejati. Lebih lagi, di dalam Yesus kita melihat bahwa Allah tidak hanya menyuruh, tetapi Allah sendiri telah menempuh jalan itu. Apakah hidup kita terarah, konsisten, jelas taat kepada Allah, teratur, dan membawa kesaksian?

Akhirnya, sedikit tentang cara Daud dan Salomo berkuasa. Alkitab bukan tidak kritis terhadap Daud & Salomo, misalnya, 1:6 mempersalahkan cara Daud mendidik anaknya Adonia, dan kemungkinan p.2 ini mau menyampaikan bahwa Salomo melebihi mandat ayahnya dan mulai menjadi seperti raja-raja di sekitarnya (bdk. 1 Sam 8:10-18 yang banyak digenapi pada zaman Salomo). Namun, perlu diingat bahwa pada saat itu tidak ada pembagian kuasa antara eksekutif dan pengadilan. Raja merangkap semuanya. Hanya Taurat sebagai undang-undang yang membatasinya. Jadi, kita perlu memahami p.2 dalam rangka keadilan (mis., 2:9a): raja Daud menyampaikan beberapa vonis yang kemudian diterapkan oleh Salomo. Bahwa sistem modern lebih aman, tidak saya ragukan. Tetapi, kritik kita terhadap gaya Daud dan Salomo akan lebih meyakinkan andaikan kita menjalankan disiplin gerejawi dengan lebih tegas. Disiplin gerejawi adalah cara dalam Perjanjian Baru untuk menangani kejahatan yang mengancam kesucian umat Allah, sejajar dengan menghukum penjahat dalam Taurat. Tetapi karena kita terlalu memanjakan balok-balok dalam mata kita sehingga tidak mau dikeluarkan, kita tidak pernah sampai mengeluarkan selumbar dari mata saudara kita (Mt 7:5—ternyata Yesus tidak membayangkan bahwa tidak menghakimi akan ditafsir sebagai membiarkan dosa). Walaupun saya tetap tidak seluruhnya nyaman dengan cara Daud dan Salomo, ketegasan mereka perlu saya pelajari.


Ul 5:23-33 Taat karena Allah yang mulia dan besar

Januari 10, 2011

Jangan menyimpang, kata Musa kepada Israel (a.32). Itulah perintah yang disampaikan berulangkali dalam kitab Ulangan ini. Tetapi setiap kali dasar untuk perintah bisa berbeda-beda. Apa dasarnya, motivasinya, untuk ketaatan yang tidak menyimpang dalam perikop ini?

Sebagian besar kitab Ulangan adalah khotbah-khotbah Musa kepada Israel yang berada di dataran Moab, di seberang sungai Yordan, siap untuk memasuki tanah perjanjian (Ul 1:1). Dalam khotbah pertama, pp.1-4, Musa meninjau kembali riwayat Israel, dari gunung Horeb (alias Sinai) sampai di seberang sungai Yordan. Kisah itu menempatkan Israel pada saat itu dalam sebuah kisah yang sedang berjalan, yaitu kisah penyelamatan dari Mesir sampai masuk di tanah perjanjian (4:37-38). Musa juga mengingatkan mereka tentang pemeliharaan Allah yang telah mengalahkan musuh mereka, yakni kedua raja Amori, Sihon dan Og (2:31; 3:3). Dengan demikian, Israel sudah mengalami Tuhan sebagai Allah Penyayang, dan memahami bahwa tidak ada yang setara dengan Dia (4:30 dst).

Itulah konteks untuk khotbah yang berikut, yang menguraikan hukum Allah, mulai dengan kesepuluh firman (5:1-22). Perikop kita menceritakan reaksi umat Israel terhadap penyampaian itu. Dalam a.23 Musa bercerita kepada Israel di seberang sungai Yordan tentang Israel satu generasi sebelumnya di Horeb (Sinai). Dalam aa.24-27 Musa menceritakan perkataan semua kepala suku dan para tua-tua kepadanya di Sinai. Dalam aa.28b-31 Musa menceritakan perkataan Allah kepadanya di Sinai. Dalam aa.32-33 Musa kembali mengalamatkan Israel di seberang sungai Yordan dengan himbauan untuk jangan menyimpang. Cerita dari masa lampau ternyata menjadi dasar untuk himbauan itu. Baik perkataan para pemimpin Israel maupun respons Allah termasuk dasar itu.

Perkataan para pemimpin Israel dalam aa.24-27 bertujuan untuk membuat nyata kembali penampakan Allah yang dahsyat di Sinai itu bagi generasi-generasi berikut yang tidak menyaksikannya langsung, serta menjelaskan mengapa penampakan itu tidak terjadi berulangkali. Dahsyatnya ditunjukkan dengan keheranan mereka bahwa mereka bisa melihat kemuliaan Allah dan mendengar suara-Nya dan hidup (a.24). Makanya, mereka memohon Musa untuk menjadi perantara mereka (a.27, dikabulkan dalam a.31). Allah yang demikian yang memberi perintah yang daripadanya Israel dihimbau untuk tidak menyimpang. Jika Musa menjadi perantara, hal itu tidak mengurangi wibawa penyampaian Musa sebagai firman Allah. Sama halnya untuk seluruh Alkitab, yang ditulis oleh manusia tetapi harus kita hormati sebagai firman Allah.

Permohonan mereka dianggap baik oleh Tuhan (a.28), karena menunjukkan bahwa Israel takut akan Dia (a.29). Takut akan Allah adalah soal hati (“Kiranya hati mereka selalu begitu” a.29), hati yang sadar dan kagum akan kemuliaan dan kebesaran Allah. Hati yang demikian tidak memperlakukan Allah sebagai sekadar dewa pelindung yang tugas-Nya adalah memberkati cita-cita kita. Allah itu berbahaya (aa.24-26). Sebaliknya, hati yang demikian akan berpegang pada perintah-Nya (bukan Allah berpegang pada perintah kita), bukan hanya karena sadar akan kuasa Allah tetapi juga karena sadar bahwa hidup yang sejati didapat dari Allah yang dahsyat ini (“supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya”, diulang dalam a.33). Hati ini mensyukuri keselamatan yang telah dianugerahkan (penyelamatan dari Mesir, penebusan dalam Kristus), mengharapkan janji keselamatan (memasuki tanah perjanjian, kebangkitan ke dalam dunia baru), dan menempuh jalan hidupnya dalam ketaatan kepada Allah sebagai jalan yang indah.

Jadi, dasar untuk tidak menyimpang dari hukum Allah adalah bahwa yang disampaikan melalui Musa berasal dari Allah yang mulia dan besar, yang menawarkan hidup yang sejati, tetapi juga berbahaya. Allah itu tidak berubah ketika Dia mengutus Yesus Kristus, tetapi justru nampak makin mulia, besar dan berbahaya. Kristus menebus kita dari dosa dan maut, bukan hanya belenggu politik. Dunia baru adalah dunia hidup kekal, bukan hanya umur yang lanjut. Sebaliknya, karena hidup yang sejati adalah hidup yang kekal, kematian juga memiliki makna lebih dalam dan mengerikan, sebagaimana diperlihatkan oleh perumpamaan-perumpamaan Yesus tentang kesadaran orang yang tidak masuk ke dalam kerajaan Allah akan kehilangan mereka yang total. Dalam perjuangan rohani kita, Allah Roh Kudus yang menyertai kita dengan mengubah hati kita supaya takut akan Allah dan taat, serta berkarya dalam dunia sekarang. Makanya, bagi kita dalam Kristus makin kuat alasannya untuk kita mengagumi Allah, mensyukuri keselamatan-Nya dan hidup sesuai dengan Injil.


Ibr 1:1-14 Firman yang mendasari, menopang dan memulihkan

Desember 14, 2010

Alur penyampaian 1:1-2:4 tidak sulit secara garis besar. 1:1-4 menyampaikan bagaimana Allah telah berbicara kepada kita dalam Anak-Nya dengan cara yang berbeda dari dulu-dulu, yang dalam hal ini diwakili oleh malaikat yang menjadi perantara Hukum Taurat (2:2) yang merupakan dasar Perjanjian Lama. 1:5-14 membuktikan klaim dalam 1:4 bahwa Anak itu lebih mulia daripada malaikat-malaikat. Kesimpulannya dalam 2:1-4 ialah bahwa kita harus mendengarkan firman tentang Anak itu dengan lebih serius lagi daripada firman dalam Hukum Taurat. Demikian penulis mulai meyakinkan pendengarnya untuk bertahan dalam iman kepada Kristus dan jangan kembali ke kepercayaan lama, yaitu agama Yahudi.

Kesimpulan itu sudah terkandung dalam 1:1-4, yang dapat diringkas, “Ia berbicara kepada kita dalam Anak-Nya, yang duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar” (mengikuti susunan kalimat dalam bahasa aslinya). Dalam seluruh surat, keutamaan Kristus menjadi dasar untuk tetap mendengarkan berita tentang Kristus yang utama itu. Terhadap pokok ini, cabang-cabangnya menyampaikan suatu kisah tentang rencana Allah. Kepelbagaian penyataan PL sudah digenapi (dirangkum, berpuncak) dalam penyataan dalam Kristus (1-2a). Sebagai Anak yang dilantik sebagai Mesias, raja yang dijanjikan Allah (lihat 1:5; soal memperanakkan tidak merujuk pada hakikat Kristus sebagai Allah Anak tetapi pada peran-Nya sebagai Mesias), Kristus menjadi tujuan rencana Allah untuk dunia ini (“menerima segala yang ada”), sama seperti sebagai (secara tersirat) firman Allah Dia menjadi penggerak rencana Allah dalam penciptaan (2b); akhir dan awal, omega dan alfa. Jika kita mau memahami dunia, termasuk dari mana kita dan ke mana kita, kita harus melihat pada Kristus.

Dalam a.3 Kristus (Anak) menjadi subjek. Mungkin tetap sebagai firman, Dia menyatakan kemuliaan Allah dan wujud Allah dengan sempurna. Tetapi Dia juga menopang segala yang ada dengan firman-Nya—seperti seorang raja. Dengan gambaran demikian tentang Kristus, kita mendengar kisah-Nya: Dia mengadakan penyucian dosa baru duduk di sebelah kanan Allah. Mengadakan penyucian dosa tentu merujuk pada pengorbanan-Nya, dan penderitaan Kristus menjadi contoh untuk pengikut-Nya di beberapa tempat (misalnya 2:10 dan 12:2-3). Satu implikasi ialah bahwa jalan menuju ke kemuliaan ditempuh melalui penghinaan (bnd. 13:12-13). Kita menjadi terampil dengan menjadi bodoh dan kerja keras lebih dulu; kita membawa perubahan dengan disalahpahami dan bersabar lebih dulu; kita diselamatkan dengan mendengar dan bertekun lebih dulu (2:1). Menjadikan kisah Kristus mitos kita, artinya kisah mendasar yang di dalamnya kita menafsir dunia ini, memiliki implikasi yang menyeluruh.

Di sini Kristus adalah firman (melebihi nabi-nabi), Anak/Raja, dan, pada titik penyucian, Imam. Aa.5-13 paling banyak mendukung status-Nya sebagai Anak/Raja, tetapi peran Kristus dalam penciptaan dibuktikan dalam aa.10-12, and a.13 mengutip Mzm 110 yang daripadanya penulis surat akan membahas keimamat Kristus (lihat pp.7-10). Setiap peran menaungi serangkaian kegiatan dan tujuan, tetapi kekayaan diri dan karya Kristus hanya dapat disampaikan dalam sebuah gabungan dari peran-peran ini. Sebagai firman Dia memberi struktur dan makna bagi dunia ini. Sebagai Raja Dia meneguhkan struktur itu dengan menegakkan keadilan, termasuk hukuman (1:8-9; bnd. 12:25-29). Sebagai Imam, Dia memulihkan struktur itu melalui penyucian dosa.

Sungguh, firman ini layak kita dengarkan dan muliakan, sehingga Kristus menjadi dasar, kerangka dan pengarah kehidupan kita.


Gal 3:10-14 Kristulah yang membuka jalan iman dengan menanggung kutuk hukum Taurat

Oktober 25, 2010

Dalam suratnya kepada jemaat-jemaat di Galatia, Paulus menghadapi ancaman yang besar terhadap Injil yang dia beritakan, yaitu kelompok yang mau supaya anggota-anggota jemaat menyunatkan diri dan menanggung hukum Taurat (HT). Paulus melihat bahwa hal itu mengancam kebenaran Injil. Kristus “telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” (1:4), tetapi mereka “begitu lekas berbalik” dari Injil anugerah itu (1:5), sehingga anugerah Allah ditolak (2:21) dan kelimpahan Roh Kudus diganti dengan usaha kekuatan sendiri (3:2-5). Alhasil, mereka saling membinasakan (5:15, bnd. 5:26) dan terancam binasa kekal (6:8).

Intisari penguraian Paulus melawan ajaran sesat itu terdapat dalam p.3 ini, di mana dia membuktikan bahwa “jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah” (a.29). Abraham penting karena dia diakui, oleh kelompok pengacaupun, sebagai asal usul orang Israel dan penerima janji yang mendasari perjanjian-perjianjian berikutnya dalam PL. Menjadi anak Abraham berarti berada dalam rencana Allah untuk memberkati dunia ini, menanggapi kutuk yang didatangkan oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa. Makanya, alur penguaraian Paulus mulai dengan Abraham dibenarkan oleh iman (a.6) sehingga berkat datang kepada orang-orang beriman (a.9). Sebaliknya, HT mendatangkan kutuk (aa.10-12), yang daripadanya Kristus meraih penebusan (a.13), sehingga berkat itu datang dalam Kristus (a.14). Janji kepada Abraham itu mendahului HT (aa.15-8), dan fungsi HT terkait dengan mengekang pelanggaran sampai Kristus datang (aa.19-22), seperti fungsi pengawal (a.23) atau penuntun bagi anak-anak (a.24-25). Makanya, cara sekarang menjadi anggota keluarga Allah bukan dalam HT melainkan dalam Kristus (aa.26-28).

Jadi, unsur baru yang dikembangkan dalam perikop kita ialah bahwa Kristulah yang membuka jalan iman itu dengan menanggung kutuk HT. Kutuk HT dijelaskan dalam aa.10-12. Frase “yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat” (a.10a) merujuk pada orang yang menjadikan HT dasar kehidupannya. Kelompok ini menganggap bahwa yang menjadi anak-anak Abraham adalah orang yang bersunat dan berusaha untuk menaati seluruh HT, termasuk menghindari makanan yang najis. Ada dua masalah pokok dengan pendirian mereka. Yang pertama ialah bahwa mereka tidak menaati HT secara menyeluruh (a.10b). Hal itu tidak berarti bahwa orang-orang Yahudi hampir sempurna tetapi gara-gara satu dua cacat HT mengutuk mereka. HT menyediakan penghapusan dosa melalui kurban-kurban untuk pelanggaran-pelanggaran kecil. Masalahnya bahwa ada maksud-maksud pokok dari HT yang diabaikan saja. Khususnya, dalam konteks surat ini, semangat dalam janji Allah supaya berkat-Nya sampai pada bangsa-bangsa alpa di antara mereka. Hal itu nampak dalam 2:11-14, di mana makanan menjadi pemisah antara orang-orang Yahudi dan orang-orang non-Yahudi. Contoh paling parah ialah Paulus sendiri yang sebagai orang yang dulu begitu bersemangat dalam agama Yahudi justru mau membinasakan gereja yang mencakup bangsa-bangsa (1:13-14). (Bandingkan juga kritikan Yesus terhadap kaum Farisi bahwa mereka menyempitkan artian “sesama”, Lk 10:25-37 dan meniadakan perintah-perintah Allah demi kepentingan adat-istiadat, Mk 7:13). HT menjadikan keberdosaan sikap hati mereka kentara (bnd. 3:22), dan menyatakan kutuk Allah atas keberdosaan itu. Masalah pokok kedua ialah bahwa HT tidak dimaksud sebagai ganti iman (aa.11-12), justru karena keberdosaan manusia itu (3:21-22). Untuk orang-orang Yahudi yang beriman, HT bisa saja menjadi cara untuk menghayati iman itu (seperti orang-orang Israel yang menyambut Yesus dengan baik dalam Lukas 1-2). Tetapi kelompok penyesat menjadikan ketaatan kepada aturan-aturan HT sebagai hal pokok, bukan lagi sebagai cara untuk menyatakan iman.

Kemudian, a.13 menjawab masalah pertama, yaitu keberdosaan manusia yang diungkapkan tetapi tidak dipecahkan oleh HT. (Masalah kedua adalah contoh keberdosaan itu, yaitu mengabaikan iman, tetapi juga dikembangkan dalam 3:19-25.) Kristus dikutuk HT bukan karena sikap hati yang mengabaikan semangat HT (seperti dalam a.10b), melainkan karena pada salib itu dia dihitung sebagai pemberontak yang layak dihukum mati. Ul 21:22-23 yang dikutip Paulus di sini mungkin membatasi kebiasaan di mana orang-orang yang dianggap sungguh jahat digantung dan tidak dikuburkan, supaya jangan roh mereka mendapat istirahat. Hal itu sama seperti jika dalam adat lama Toraja upacara Rambu Solo’ tidak diadakan supaya arwah orangnya dikutuk. Kristus tergolong dengan pendosa berat dan menanggung kutuk HT itu “karena kita” atau “demi” (huper) kita. Gambarannya mungkin bahwa kutuk itu terserap oleh Kristus, sehingga tidak lagi mengancam kita yang berlindung pada-Nya. Kutuk berada dalam wilayah maut, dan termasuk semua yang melawan damai sejahtera (bnd. Ul 28:1-14 dengan Ul 28:15dst). Kutuk yang diperjelas HT itu melatarbelakangi bahasa Paulus tentang “dunia jahat yang sekarang ini” (1:4), dan Kristuslah yang menebus kita dengan menetralisir kutuk itu. Korban-korban dalam adat Toraja memiliki fungsi yang searah dengan tafsiran ini.

Hasilnya, dalam a.14, ialah bahwa berkat Abraham itu sampai kepada bangsa-bangsa, terutama dalam hadirat Roh Kudus yang melakukan mujizat (3:5), berbuah kasih, sukacita dan damai sejahtera di dalam jemaat (5:22), dan menghasilkan hidup yang kekal (6:8).

Bagaimana penguraian Paulus ini dapat diterapkan dalam konteks sekarang? (Dalam bahasa homiletika, bagaimana sampai pada amanat khotbah?) Dari pembahasan di atas, berkat Roh Kudus dapat dimaknai baik untuk kehidupan sekarang (3:5, 5:22) maupun untuk keselamatan eskatologis (6:8). Lebih rumit adalah soal HT, karena sekarang tidak banyak yang mengusulkan sunat! Tetapi hidup dari perbuatan menjadi hal yang lebih luas daripada HT saja dalam Ef 2:8-9 dan Tit 3:4, sehingga bersama dengan para Reformator kita bisa melihat semua bentuk agama yang mementingkan aturan di atas iman sebagai hal yang mengancam anugerah di dalam Kristus. Termasuk aturan gereja. Kemudian, kita juga melihat sikap-sikap pada masa kini yang menyempitkan jangkauan anugerah Allah dalam Kristus hanya pada kelompok tertentu, atau merendahkan golongan tertentu walaupun mereka sama-sama berada di dalam Kristus. Kedua hal itu bisa saja bersatu. Gereja seringkali menganggap bahwa pemberitaan Kristus bermaksud untuk menjadikan orang sama seperti kita, dalam pola bergereja yang kebarat-baratan dan mengandaikan tingkat pendidikan yang lumayan. Tetapi bisa saja iman kepada Kristus yang sejati daapt dinyatakan dalam bentuk yang lebih kontekstual. Jangan sampai kekakuan bergereja menghambat berkat iman kepada Kristus sampai pada semua bangsa.

Penebusan Kristus juga perlu dikontekskan, bukan dalam artian mencari padanannya dalam konteks sekarang melainkan mencari penjelasannya dari konteks sekarang. Penebusan Kristus bukan sebuah contoh pendamaian antara Allah dan manusia melainkan kenyataan yang kepadanya contoh-contoh pendamaian yang lain merujuk, apakah itu sistem kurban dalam HT, ataupun pemahaman tentang pendamaian dalam budaya setempat sejauh mana itu dapat membantu jemaat untuk memahami peristiwa kunci ini. Penebusan Kristus semestinya menjadi pokok amanat khotbah, dengan tujuan supaya jangan kita mengandalkan usaha kita yang lain. Paulus heran bahwa jemaat berbalik dari anugerah Allah, dan semestinya setelah mendengar bagaimana Kristus menebus kita dari kutuk HT jemaat juga menghindari apapun yang menjadikan kematian Kristus sia-sia.


Gal 5:16-26 Hidup oleh Roh atau daging?

Oktober 11, 2010

Dalam kitab Galatia, Paulus menguraikan mengapa Kristus dan bukan Hukum Taurat adalah sumber pembenaran di hadapan Allah (2:16), sehingga berkat Allah sampai pada bangsa-bangsa sesuai dengan janji Allah kepada Abraham (3:14). Oleh karena itu, orang beriman hidup dalam kemerdekaan (5:1). Jika demikian, apakah mereka bebas untuk hidup seenaknya? Konon ada yang menafsir kasih karunia Allah demikian, sehingga sepanjang sejarah gereja ada kecenderungan untuk menekankan hukum sebagai kerangka hidup. Dari satu segi, adalah jelas bahwa kita butuh hikmat dari Allah untuk mengetahui jalan yang baik dan yang buruk. Tetapi bagi Paulus ada sumber kebenaran (hidup yang benar) yang lain dari usaha untuk menaati aturan-aturan hukum, yaitu hidup oleh Roh Kudus (5:5). Hidup itu adalah hidup “karena iman” (atas dasar iman) dalam harapan, dan iman itu bekerja oleh (melalui) kasih (5:6). Kasih merupakan inti hukum Taurat (5:14).

Jadi, perikop kita menjelaskan peran Roh Kudus dalam membentuk kebenaran yang berpusat pada kasih. Jadi, dambaan banyak pelayan (dalam wacana, paling sedikit) untuk melihat jemaat yang hidup dalam kasih mendapat jalan keluarnya di sini.

Alurnya tidak sulit diikuti. Dalam aa.16-18 ada nasihat inti: hiduplah oleh Roh (a.16a). Secara harfiah, Paulus mengatakan “berjalanlah oleh Roh”. Tetapi jalan ini bukan jalan yang diatur oleh aturan, melainkan oleh keinginan. Ada dua sumber keinginan: daging dan Roh. Keinginan dari kedua sumber ini bertentangan (a.17). Jika saya mau berbuat jahat, Roh melawan keinginan itu dengan keinginan yang baik. Jika saya mau berbuat baik, daging melawan keinginan itu dengan keinginan yang buruk. Jadi, nasihat Paulus berarti, berpihaklah pada keinginan Roh. Jika mau berbuat jahat, carilah keinginan Roh yang berlawanan dengan keinginan itu. Jika mau berbuat baik, teguhkanlah keinginan Roh itu. Jika kita berjalan sesuai dengan keinginan Roh, kita sama sekali tidak akan menuruti keinginan daging (a.16b).

Dalam a.18 Paulus mempertegas bahwa jalan ini berbeda dari jalan hukum Taurat. Kita dipimpin oleh Roh, artinya, hidup kita tidak kacau atau tanpa arah. Tetapi pengaturannya bukan dari hukum Taurat (lebih lagi hukum yang lain yang tidak berasal dari Allah).

Dalam aa.19-21 Paulus menggambarkan perbuatan macam apa yang ditimbulkan oleh keinginan daging. Dari daftar ini jelas bahwa Paulus menggunakan kata daging secara metaforis. Hal seperti perselisihan atau kepentingan diri sendiri atau roh pemecah bukan hawa nafsu dalam tubuh melainkan hal-hal yang menyangkut hati dan akal. Kata daging merujuk pada keberadaan manusia yang lemah dan terbatas (mis. 4:14, diterjemahkan LAI dengan kata “tubuh”). Hanya, karena kondisi manusia termasuk berada di bawah kuasa dosa (3:22), kata itu menjadi cocok untuk menggambarkan keberdosaan manusia. Aturan seperti hukum Taurat gagal bukan karena aturannya tidak baik tetapi karena kelemahan manusia itu. Istilah daging merujuk pada ketidakberdayaan manusia di hadapan dosa. Hal itu dapat dilihat dalam daftar ini. Siapa memilih untuk iri hati atau amarah? Pemecah biasanya tidak sadar bahwa dia memiliki roh pemecah, karena hanya sanggup melihat kelemahan pihak yang lain. Kita memilih untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang berasal dari keinginan-keinginan ini, tetapi keinginan-keinginan sendiri terasa normal saja, sampai dari perbuatan atau akibatnya kita menjadi sadar akan apa yang telah kita perbuat. Ketika kita sadar, kita juga akan setuju dengan a.21b, yaitu bahwa hal-hal seperti itu tidaklah cocok dengan kerajaan Allah, sehingga jika kehidupan kita diwarnai oleh hal-hal ini kita tidak cocok dengan kerajaan Allah.

Sebaliknya, dalam aa.22-23 buah Roh digambarkan. Adalah menarik bahwa lawan dari perbuatan daging bukan perbuatan Roh melainkan buah Roh. Keinganan yang baik berasal dari karakter yang dibentuk Roh. Karakter itu sesuai dengan hukum Taurat (a.23b), tetapi seperti dijelaskan di atas karakter itu tidak akan dihasilkan oleh hukum Taurat oleh karena keberdosaan kita. Kasih adalah buah pertama, sesuai dengan penjelasan Paulus bahwa kasih mencakup seluruh hukum Taurat (5:14). Iman dalam 5:6 bekerja melalui kasih karena Roh membuahkan kasih di dalam kita. Roh adalah perwujudan berkat Allah yang diterima oleh iman (3:14), dan pembaruan hidup dari dalam adalah salah satu berkat itu.

Sebagai kesimpulan, Paulus mengingatkan kita tentang hakikat kita yang sebenarnya dalam Kristus, yaitu bahwa kita adalah orang yang hidup oleh Roh dan bukan oleh daging (aa.24-25). Segi bukan oleh daging digambarkan sebagai penyaliban daging. Karena Kristus mati bagi dosa, berada di dalam Kristus berarti mematikan hawa nafsu dan keinginan yang berdosa. Hal itu dilakukan dengan hidup dipimpin oleh Roh.

Menarik bahwa dalam a.26 (seperti dalam a.15) Paulus merujuk pada keadaan jemaat yang kurang damai, yaitu saling menantang dan mendengki. Di situlah ironi hidup oleh hukum. Orang berharap bahwa hukum dapat mengubah umat menjadi lebih baik. Tetapi, jika hukum Taurat tidak sampai pada akar masalah, lebih lagi hukum-hukum yang lain. Jemaat tidak akan berubah karena aturan gereja makin ketat, karena tegoran dari mimbar makin berapi-api, karena sanksi makin berat. Hal-hal itu tidak sanggup mengurangi rasa bersaing, kedengkian, pelarian kepada dukun dsb. Jemaat akan berubah karena Kristus diberitakan sedemikian rupa sehingga mereka mau menyalibkan daging dan hidup oleh Roh. Baru pada saat itu nasihat, seperti yang banyak disampaikan Paulus sendiri, akan berguna, bukan untuk mengubah hati orang melainkan untuk mengatur semangat rohani yang sudah ada.


Mazmur 1 Individu, relasi atau kelompok?

Agustus 29, 2010

Satu ciri budaya yang makin lama makin ramai dibicarakan dalam teologi kontekstual adalah individualisme (“aku berpikir, maka aku berada”) dan dua alternatifnya, relasionalisme (“aku adalah anak si A, kakak si B, teman si C, maka aku berada”) dan kolektivisme (“aku adalah orang Toraja, maka aku berada”). Tentu, semua segi itu terlibat dalam identitas setiap manusia. Saya adalah individu: orang lain dapat membelikan atau memasakkan makanan bagi saya, tetapi orang lain tidak dapat memakankan makanan bagi saya. Tetapi, saya juga berada dalam jaringan relasi, yang daripadanya saya belajar bagaimana caranya makan dengan baik dan yang dengannya saya suka makan. Saya juga berada dalam kolektif (kelompok) yang cukup menentukan makanan apa yang tersedia dan kapan boleh dimakan (misalnya, di Toraja makan setelah acara, sedangkan di Australia biasanya makan dulu). Hanya, budaya individualis menyoroti manusia sebagai individu, sehingga sejak kecil seorang anak mendengar banyak pepatah, wacana, ilustrasi dan informasi menyampaikan bagaimana caranya menjadi orang yang lain dari yang lain. Budaya relasionalis menyoroti relasi, sehingga sejak kecil seorang anak mendapat banyak bekal budaya tentang bagaimana memperlancar relasi-relasi yang ada. Budaya kolektivis menyoroti kelompok. Saya berasal dari budaya yang sangat individualistis, tetapi tentu ada juga sorotan cukup besar terhadap relasi dan sedikit juga terhadap kolektif. Pada hemat saya, budaya Toraja itu lebih relasionalis daripada kolektif, tetapi mungkin budaya seperti budaya Jawa kuno terbalik. Bagaimanapun juga, salah satu dampak modernisasi adalah menguatnya unsur individualisme dalam budaya-budaya di Indonesia, lebih lagi dalam kaum muda.

Dalam bidang agama, budaya kolektif dan relasionalis akan lebih menonjolkan kegiatan bersama, alias ritus. Hubungan pribadi dengan kuasa gaib/ilahi bisa saja terjadi (khususnya dengan arwah leluhur), tetapi ada ahli dunia itu (seperti to minaa) yang bertugas untuk menguruskan hal-hal itu bagi masyarakat, seperti melacak dosa yang menyebabkan musibah tertentu dan menentukan tindakan yang diperlukan untuk menghapus dosa itu. Seperti sering diamati dalam konteks seperti itu, kepercayaan tidak terlalu penting, yang penting adalah melaksanakan ritus-ritusnya. Atau, apakah lebih tepat dikatakan bahwa dalam budaya yang di dalamnya pendapat “aku” tidak sebanding dengan hikmat orangtua atau kelompok, melakukan ritus adalah cara untuk percaya? Percaya bukan dalam artian memilih satu kepercayaan dari beberapa kemungkinan, tetapi percaya dalam artian mengandalkan hikmat dan kuasa yang melebihi hikmat dan kuasa saya sebagai individu. Pikiran seperti itu mungkin saja tetap ada dalam gereja, dan menjadi konteks yang menarik untuk memikirkan perikop kita.

Mzm 1 mulai dengan seorang individu (kata “orang” kata tunggal dalam bahasa Ibrani). Orang yang tunggal ini dibandingkan dengan keramaian orang fasik / berdosa / pencemooh (semuanya kata jamak, a.1). Orang ini tidak mengikuti keramaian itu, alias dia melawan arus. Budaya Israel kuno adalah budaya relasionalis. Bagaimana caranya satu orang dapat melawan keramaian orang yang dengannya dia berelasi dalam satu masyarakat? Jawabannya dalam a.2 adalah khas individualistis: orang ini merenungkan Taurat secara pribadi (kata tora juga dapat berarti “ajaran”, jadi bisa lebih luas daripada kelima kitab Musa saja). Kata “merenungkan” berarti bersuara, dan merujuk pada pembacaan Taurat dengan suara yang pelan, entah langsung dari naskah atau dari ingatan akan apa yang sudah dihafal, mengingat bahwa pada saat itu naskah itu mahal. Orang yang mengenal firman Tuhan ini tidak lagi mengandalkan orang-orang di sekitarnya saja untuk mendapat hikmat untuk hidup. Dalam firman Tuhan ada sumber lain, sumber yang lebih baik dan lebih berhikmat dari kelompok di sekitarnya.

Dengan demikian, diri orang ini menjadi kokoh, seperti pohon yang subur (a.3). Hasil pohon ini bukan soal berupaya tampil baik di hadapan orang, melainkan hasil dari hakikat orang yang dirinya sudah dibentuk oleh firman Tuhan. Sebaliknya, kaum fasik tidak ada bobotnya, mereka seperti sekam (a.4). Di situlah ada klaim yang luar biasa: Tuhan adalah lebih mendasar dari keluarga, suku dan negara. Mengingat bahwa kita dibesarkan dalam keadaan yang sangat bergantung pada kelompok, hal itu tidak mudah dipercaya. Tetapi orang yang merenungkan firman Allah akan berbahagia olehnya. Dia menjadi lebih individualistis dalam artian sanggup melawan keramaian orang karena ada sumber hidup yang lain, yaitu Tuhan. (Individualisme ini belum seperti individualisme Barat yang sudah meninggalkan relasi dengan Tuhan yang pada awalnya memungkinkan individualisme itu, seperti orang naik ke atas atap kemudian membuang tangga yang dipakai untuk naik.)

Dalam aa.5-6 individualisme tadi dibatasi lebih lagi. Ternyata, si orang dalam a.1, selain sebagai individu dalam relasi dengan Tuhan, termasuk juga dalam perkumpulan orang benar. Perkumpulan itu bukan pengarah hidupnya seperti kumpulan orang fasik menjadi pengarah hidup mereka dalam a.1. Tetapi, toh, ada kolektivitas dalam relasi dengan Tuhan. Tuhan akan menegakkan keadilan kepada kedua kolektivitas ini. Kaum orang fasik tidak akan bertahan (a.5) melainkan binasa (a.6), sedangkan jalan perkumpulan orang benar dikenal oleh Tuhan (a.6). Dalam aa.5-6 ini, keadaan terbalik dari a.1. Dalam a.1 kaum orang fasik yang menentukan apa yang lasim, sehingga si orang benar harus berjuang untuk melawan arus. Tetapi jika kita melihat ke akhir segala sesuatu dalam penghakiman Tuhan, kaum orang fasik yang tidak bisa ikut (a.5), dan jalan orang benar yang berkenan di hadapan Tuhan (a.6).

Yang mendasar dalam mazmur yang mengantarkan seluruh kitab Mazmur ini ialah relasi dengan Tuhan. Relasi dengan Tuhan akan mengurangi individualisme Barat, tetapi justru akan mendorong individualisme dalam budaya relasionalis atau kolektivis. Hal itu terjadi karena antara lain urusan agama tidak dapat didelegasikan kepada orang lain, seperti pendeta. Mungkin saja orang-orang fasik berharap bahwa para imam di Bait Allah akan menguruskan Tuhan bagi mereka, tetapi ternyata relasi dengan Tuhan adalah sesuatu yang tidak bisa didelegasikan. Sebuah pohon tidak dapat meminjamkan sebagian dari bobotnya kepada sekam. Jalan keluarnya adalah perenungan firman. Hal itu bukan sekadar soal pengetahuan (“aku mengetahui isi Alkitab, maka saya berada dalam relasi dengan Tuhan”), melainkan dengan isinya diingat berulangkali, entah dengan dibaca, didengar atau dihafal, firman itu mengubah diri kita. Aku mengenal Tuhan, maka saya sungguh berada, sekarang dan untuk selama-lamanya.

Cocokkah analisis saya tentang budaya Toraja di tempat pembaca? Silakan ditanggapi!


Kel 23:10-12 Hari Sabat untuk manusia

Juni 15, 2010

Perikop ini termasuk bagian pertama (Kel. 20:22-23:33) perincian Hukum Taurat setelah perjanjian diadakan dengan Israel (p.19) dan kesepuluh firman disampaikan (p.20). Artinya bahwa aturan-aturan ini termasuk cara Israel meresponsi anugerah Allah yang membawa mereka keluar dari Mesir (20:2). Bagian ini merupakan satu kali Musa menaiki gungung Sinai. Struktur bagian ini sebagai berikut:

A. Peringatan terhadap penyembahan ilah-ilah lain (20:22-23)

B. Cara menyembah Allah yang sah (20:24-26)

C. Peraturan-peraturan untuk diajukan (21:1)

D. Peraturan dimulai dengan rujukan ke tahun ketujuh (21:2)

E. Macam-macam aturan (21:3-23:9)

D’. Peraturan berakhir dengan rujukan ke tahun ketukuh (23:10-12)

C’. Peringatan untuk taat, serta peringatan terhadap ilah-ilah yang lain (23:13)

B’. Cara menyembah Allah yang sah (23:14-19)

A’. Peringatan terhadap pemyembahan ilah-ilah lain (23:20-33)

Apa gunanya analisis seperti ini? Kita melihat bahwa apa yang disebut peraturan, yang menyangkut kehidupan Israel bersama, berada dalam konteks relasi mereka dengan Tuhan. Jika dibaca dari awal sampai akhir (dan jarang hal itu dilakukan!), kita akan mulai dengan peringatan tentang ibadah kepada Allah, baru masuk ke dalam kehidupan sehari-hari, kemudian diingatkan kembali tentang ibadah kepada Allah. Pembacaan demikian akan membentuk kita untuk memahami kasih kepada sesama dalam konteks kasih kepada Allah.

Dalam renungan minggu yang lalu diusulkan bahwa hari ketujuh menyimbolkan kenikmatan Allah atas ciptaan-Nya, yang ke dalamnya Israel diajak masuk dengan memelihara hari dan tahun Sabat. Ciptaan yang baik itu ditawarkan kembali kepada Israel dalam bentuk tanah perjanjian. Jadi, bahwa peraturan-peraturan ini dimulai dan diakhiri dengan rujukan pada tahun dan hari ketujuh memaknai peraturan-peraturan itu sebagai cara Israel menikmati pemberian itu sebagai berkat Allah. Israel yang menaati Kel. 23:2-23:12 akan menikmati taman Eden yang kedua. Ul 5:12-15 membawa makna yang mirip. Ayat-ayat itu menafsir hukum keempat dalam Ul 20:8-11. Pembebasan dari Mesir terjadi supaya Israel dapat menikmati berkat Allah dalam tanah perjanjian. Dalam Kel 23:10-12 dan Ul 5:12-15 kenikmatan itu termasuk perhatian kepada kaum miskin dan kaum bawah.

PB tidak mengharuskan istirahat pada hari tertentu ataupun menganggur setiap tahun ketujuh, walaupun istirahat pada satu hari adalah disiplin yang berguna, untuk mengingatkan kita bahwa tujuan hidup lebih dari pekerjaan dan kesibukan kita. Namun, dalam Kristus dan oleh kuasa Roh Kudus, kita menikmati kehidupan bersama yang semestinya mencerminkan berkat Allah, walaupun kebaikan hidup seperti dalam taman Eden belum dinikmati sampai pembaruan segala sesuatu ketika Kristus kembali. Dalam kehidupan itu ada tempat untuk semua, bukan hanya yang menonjol atau dianggap penting, tetapi juga yang miskin dan rendah.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 935 pengikut lainnya.