Kis 5:1-11 Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan

Juni 25, 2008

Cerita tentang Ananias dan Safira yang menakutkan ini terletak antara gambaran tentang praktek membagi-bagikan harta kepada orang yang berkebutuhan dan komentar tentang tanda dan mujizat para rasul. Sama seperti peristiwa Akhan meperingati Israel di tengah suksesnya merebut tanah Kanaan (Yos 7), peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan (Gal 6:7). Sebagaimana pernah dikatakan, “di jemaat tempat orang lumpuh berjalan, pendusta mati”. Allah yang hadirat-Nya membawa keselamatan, pembaruan dan mujizat adalah Allah yang kudus.

Baca entri selengkapnya »


Mt 24 Bait Allah dirobohkan

April 21, 2008

Bait Allah menjadi sentrum agama Israel karena Allah hadir di dalamnya. Namun, anugerah itu dijimatkan oleh Israel, maksudnya hadirat Allah dihargai karena perlindungan-Nya, bukan dihargai sebagai kesempatan untuk berelasi dengan-Nya sebagai umat-Nya yang kudus. Sikap itu banyak dikecam oleh para nabi (Yer 7 termasuk perikop yang terkenal). Akhirnya, pada abad ke-6 sM, Bait Allah serta seluruh Yerusalem dihancurkan.

Setelah menyucikan Bait Allah (p.21) dan mengencam pimpinan Yahudi (p.23), Yesus di sini menubuatkan bahwa Bait Allah akan dihancurkan kembali. Murid-murid Yesus, dengan tepat, menafsir perkataan Yesus itu sebagai nubuatan tentang akhir zaman. Para nabi PL melihat datangnya Mesias terkait erat dengan akhir zaman (seperti Yes 9:6-7). Namun, pendirian Kerajaan Allah yang dipersoalkan dalam pp.24-25 ini lebih baik dilihat dalam tiga tahap: yang pertama kenaikan Yesus, yang kedua kehancuran Yerusalem, dan yang ketiga ketika Yesus datang kembali. Pencampuran tahap demikian biasa dalam nubuatan PL, dan sering diibaratkan dengan pegungunan, di mana dua puncak (kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua) nampak berdekatan padahal sebenarnya jauh di antaranya.

Baca entri selengkapnya »


Yoh 4:1-42

Maret 28, 2008

Kristus telah dinyatakan sebagai Firman yang oleh-Nya dunia dijadikan (Yoh 1:10) dan penyataan kasih Allah bagi seluruh dunia (3:16), tetapi toh Dia masih berfokus pada Israel bahkan Bait Allah (2:13-25). Dalam pendahuluan kisah ini kita membaca bahwa Yesus “harus” melalui Samaria, mungkin karena keamanan. Ada sedikit petunjuk bahwa penolakan Yesus oleh orang Yahudi di sini bermuara pada keselamatan orang lain (bnd. Kis 8:4; Rom 11:11).

Kisah digerakkan dengan pertanyaan Yesus kepada perempuan Samaria yang minta tolong. Besarnya jarak antara orang Yahudi dan Samaria, diperbesar oleh perbedaan jenis, nampak dari jawabannya yang mempersoalkannya, padahal Yesus adalah manusia yang sendirian, lelah, dan di samping sebuah sumur tanpa timba! Tetapi ucapannya mengangkat masalah tadi, apakah kasih Allah bisa menembus ke luar umat Israel?

Jawaban Yesus (a.10) mengangkat dua pokok, karunia (pemberian) Allah (yakni air hidup) dan identitas Yesus, serta menunjukkan responsnya, meminta pemberian itu daripada-Nya. Perempuan salah paham akan maksud air hidup itu, dengan melihat harfiahnya, bukan kiasannya. (Sama seperti melihat salib Kristus sebagai kekalahan, bukan kemuliaan.) Tetapi pertanyaannya (a.12) tentang identitas Yesus lebih tepat dari yang dia sadari. Yesus menjelaskan air hidup itu, adanya konsep hidup kekal sudah memperjelas bahwa dia berbicara secara kiasan. Perempuan itu merespons (a.15) dengan tepat–meminta air itu–walaupun dia belum terlalu mengerti.

Dengan respons itu Yesus melangkah dalam rangka pemberian air hidup itu dengan mengungkapkan bagian hidupnya yang paling kacau dan juga dengan menunjukkan pengetahuan terperinci atas hidupnya (16-18). Hal itu menjadi titik balik dalam tugas Yesus untuk memperkenalkan identitasnya kepada (wakil) bangsa-bangsa. Bukan karena ada penyadarana akan dosa–kesan saya ialah perempuan itu sudah sadar akan dosanya, sehingga hal itu tidak dikejar oleh Yesus. Tetapi pengetahuan Yesus akan hidupnya membawa perempuan itu ke pokok kedua, yaitu identitas Yesus. Pertanyaan si perempuan bukan pengalihan perhatian dari dosanya, melainkan kembali ke pokok seluruh perikop, yakni bagaimana seorang nabi / Mesias Yahudi adalah Juruselamat seluruh dunia. Yesus mengaminkan bahwa Yerusalem adalah pusat keselamatan, tetapi dalam perkembangan sejarah keselamatan (“saatnya akan datang” a.23) Yerusalem akan direlatifkan, sehingga semua bangsa dapat menyembah Allah. Sekali lagi tidak jelas bahwa perempuan itu mengerti seluruh maksud Yesus di sini (dan banyak pendapat para teolog sekarang, lihat di bawah!). Tetapi dia menangkap bahwa Yesus mengenal dia dan mengenal hal-hal terkait dengan Allah, sesuai dengan pemahamannya tentang Kristus. Kisah ini berpuncak dengan dia menjadi saksi pertama kepada penduduk kotanya.

Berpuncak tetapi tidak berakhir, karena ada dua pesan terakhir. Yang pertama, kepada para rasul (dan semua dalam gereja yang akan menjadi penuai manusia) Yesus menjadikan respons perempuan Samaria (dan kota) sebagi pelajaran. Tidak semua yang tidak menerima terang yang datang ke dalam dunia (1:11). Sebenarnya ada banyak yang siap untuk menjadi anak-anak Allah (4:35 dengan 1:12). Menarik bahwa para murid sama salah pahamnya dengan si perempuan, hanya tentang roti, bukan air.

Pesan kedua muncul dari para penduduk kota Sikhar. Mereka juga meminta air hidup (yakni Yesus) untuk tinggal bersama dengan mereka, sampai mereka sendiri dapat “mendengar dan tahu” (a.42). Sebagai orang di luar lingkup Israel, yang ditahu bukan hanya bahwa Yesus adalah Juruselamat, tetapi bahwa Dia adalah Juruselamat dunia.

Beberapa hal tekhnis…

Baca entri selengkapnya »


Kisah Keturunan Ishak

Februari 26, 2008

Kisah ini mulai pada Kej 25:19 (dengan rumusan toledot) dan berakhir dengan kematian Ishak pada Kej 35:29 (yang langsung disusul oleh toledot Esau (36:1]) kemudian toledot Yakub (37:2)). Temanya kelangsungan janji Allah kepada keturunan Abraham (25:19). Hal itu terancam pertama-tama oleh kemandulan Ribka (25:21), tetapi yang menggerakkan kisah ini adalah pertentangan sejak sekandung antara kedua kembar yang diberikan kepada Ribka (25:22). Sampai 28:9 pertentangan itu diceritakan dengan Yakub memanipulasi Esau dan ayahnya untuk mendapatkan berkat ayahnya. Bagian kedua kisah ini, pp.29-32, menceritakan “pembuangan” Yakub, di luar tanah perjanjian. Dia mulai belajar berdamai dengan Laban, tetapi pertentangan yang jauh lebih berat dengan Esau belum dihadapi. Dalam bagian ketiga, pp.33-35, dia berdamai dengan Esau kemudian mengatasi ancaman terakhir, yaitu melebur dengan atau dimusnahkan oleh orang Sikhem (p.34) dengan berpindah ke Betel. Akhirnya dia kembali kepada Ishak di Hebron, dan Yakub dan Esau bersama-sama menguburkan dia.

Disisipkan antara ketiga bagian itu adalah perjumpaan Yakub dengan Allah. Dalam 28:10-22 Allah meneguhkan janji-Nya dan Yakub bernazar. Namun, bagian berikut menunjukkan bahwa Yakub belum belajar hidup beriman. Dalam 32:22-32 Yakub bergumul dengan Allah–seperti sebenarnya dia selalu bergumul dengan manusia dan Allah (32:28)–dan dia mengalami perubahan. Antara lain, dia menjadi mampu berdamai.

Dalam kisah ini ada banyak lapisan. Kita melihat hidup berkeluarga yang rusak, mulai dari orang tua yang pilih kasih sampai anak-anak yang menyukai kekerasan. Kita juga melihat perkembangan dalam karakter Yakub (dan juga dalam Esau), yang intinya adalah lebih mengenal Allah. Yang terdalam adalah janji Allah. Kisah ini adalah toledot–kisah keturunan–Ishak karena pokok utama adalah bagaimana janji Allah kepada Ishak berlaku dalam keturunannya. Intinya Allah. Jika hal itu disadari, maka setiap perikop dalam bagian ini dapat diberitakan dengan cara yang membangun iman, karena di balik seluk-beluk Yakub dsb yang sama lemahnya dengan kita ada rencana Allah (yang bermuara dalam Kristus) untuk diimani.


2 Kor 3:7-18 Mengapa berani?

Februari 15, 2008

Pernah ada komentar tentang suatu acara antar-agama di Australia bahwa doa wakil agama-agama yang lain dalam acara itu jelas berbau agamanya masing-masing, tetapi doa wakil orang Kristen umum saja. Orang Kristen Barat sering merasa agak malu di depan penganut agama-agama yang menderita dan diremehkan di bawah penjajahan Barat.

Rasul Paulus tidak malu demikian (a.12), tetapi bukan karena kesanggupan Paulus sendiri (a.5). Sebaliknya, dalam 2 Kor 1 jelas bahwa Paulus hampir meninggal (1:8-11), dan juga mengecewakan jemaat di Korintus (1:15-24). Perikop kita mau menegaskan bahwa keberanian Paulus berasal dari Injil yang dilayankan.

Baca entri selengkapnya »


Dapatkah Allah dibicarakan?

Februari 9, 2008

Teologi apofatis meragukan kemampuan bahasa manusia untuk menjangkau keberadaan Allah. Tentu pemahaman ini mengandung kebenaran yang penting. Tidak ada seperti Allah, dan berbahaya jika kita menganggap bahwa kita sudah menangkap Allah seperti kita menangkap bagaimana memakai HP kita.

Namun, Alkitab berbicara tentang Allah, dan iman yang mencari pemahaman tidak dapat tidak berkonsep tentang Allah. Tetapi bagaimana?

Jika kita mau mengetahui sesuatu, kita tidak mulai dengan definisi abstrak atau rumusan-rumusan, melainkan dengan definisi ostensif, yaitu menunjuk ke barangnya (“itu mobil”). Bidang seabstrak matematika dimengerti dulu dari pengalaman (1 + 1 = 2 dialami banyak kali sebelum dipelajari di sekolah).

Jika kita mau mengenal seseorang, lebih lagi kita tidak mulai dengan definisi abstrak atau rumusan-rumusan, melainkan melalui cerita-cerita bersama. Tentu kita tidak pernah akan menangkap manusia sama seperti kita (mungkin) dapat menangkap barang. Tetapi pengenalan pribadi adalah hal yang sangat mendasar bagi kita. Bagaimana dengan Allah?

Tahu-tahu, dalam Alkitab rumusan-rumusan teologis didasarkan pada hal-hal konkret. Dalam PL Allah diperkenalkan melalui cerita-cerita, sama seperti Yesus diperkenalkan dalam keempat Injil, dan bimbingan Roh Kudus diperlihatkan dalam Kisah Para Rasul. Yesus dapat disebut definisi ostensif dari Allah: Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yoh 1:18) Misalnya, untuk memahami kasih Allah, kita melihat (antara lain) salib Kristus (1 Yoh 4:10, Rom 5:8). Untuk memahami kuasa Allah, kita melihat (antara lain) kebangkitan Kristus (Eph 1:19-20). Hikmat Allah dan kebenaran Allah juga diberi definisi ostensif dengan menunjuk kepada Kristus. Roh Kuduslah yang menjadikan definisi ostensif itu nyata dalam kehidupan, misalnya mencurahkan kasih Allah (Rom 5:5), bnd. kuasa (Kis 1:8), hikmat (1 Kor 2:10) dan kebenaran (Rom 8:4).

Atas dasar hal-hal konkret itu tentu ada rumusan-rumusan untuk menjelaskannya, baik dalam Alkitab maupun dalam perkembangan teologi gereja. Dalam pemahaman yang saya kembangkan di sini, rumusan teologis bukan suatu alat untuk memperbaiki tingkah laku jemaat, melainkan untuk memahami Allah. Pendekatan seperti “ada masalah X dalam dunia sekarang yang memerlukan respons Y, maka teologi Z yang harus diajarkan (dan kalau perlu dipaksakan dari Alkitab) supaya jemaat melakukan Y” menjadikan teologi propoganda (saya rasa semua sayap gereja jatuh ke dalam dosa ini, tetapi teologi apofatis sulit menghindarinya karena kenyataan Allah tidak menjadi kontrol). Pendekatan itu hanya mengakui satu realitas yang dapat dikenal, yakni masalah X. Padahal, jika Allah telah memperkenalkan diri kepada Israel dan dalam Kristus, maka masalah X harus didialogkan dengan realitas Allah yang diwakili oleh rumusan-rumusan teologis.

Sebaliknya, rumusan-rumusan teologis bukan substansinya. Itu mengapa ada berbagai gambaran dalam Alkitab sendiri tentang misalnya makna kematian Kristus (seperti kemenangan, penebusan, penyucian, pembenaran, pendamaian). Itu mengapa Alkitab sendiri dapat diterjemahkan: meskipun ada makna yang hilang akan tetapi Kristus tetap nyata sebagai isi Alkitab terjemahan itu dan Roh Kudus tetap mampu memakainya untuk memperjumpakan manusia dengan Kristus. Itu mengapa teologi harus terus-menerus merumuskan diri ulang dalam dialog dengan berbagai konteks dan pertanyaan baru, sambil tetap setia pada isinya, Kristus.

Lihat Brueggemann, Theology of the Old Testament untuk pendekatan yang mulai dengan tindakan Allah (verba), berlanjut dengan sifat-sifat Allah dan berakhir dengan kata-kata benda tentang Allah. Maskudnya, Allah dikenal pertama-tama dalam kisah-kisah Alkitab, yang dirumuskan dalam kata sifat dan kata benda. Colin Gunton, Act and Being membahas sifat-sifat Allah dari perspektif Kristologis dan pneumatologis.


Struktur Kejadian

Januari 29, 2008

Kitab Kejadian mengukur tokoh-tokoh bukan hanya oleh hidupnya sendiri tetapi juga oleh riwayat keturunannya. Kata toledot (“keturunan” atau “riwayat”) berasal dari kata yld, melahirkan / memperanakkan. Misalnya, istilah “keturunan Terah” (11:27) mengantarkan riwayat Abraham (pp.12-25), “keturunan Ishak” (25:19) mengantarkan riwayat Yakub dan Esau (pp.25-36), dan “keturunan Yakub” (37:2) mengantarkan riwayat Yusuf (pp.37-50). 

Dengan demikian Kej 2:4 “toledot langit dan bumi” merujuk pada riwayat manusia pada pp.2-4, beberapa cerita yang menentukan keadaan manusia di bumi yang diciptakan pada p.1. 

Pada Kej 5:1 “toledot Adam” mengantarkan beberapa tokoh (seperti Henokh yang hidup bergaul dengan Allah 5:22-24) sampai dengan Nuh. Ringkasan informasi tentang Nuh terdapat pada 5:29, 32 dan 9:28-29. Dalam 9:28 air bah (yang diceritakan mulai 6:9 dengan rumusan toledot sendiri) menjadi titik balik dalam kehidupan Nuh. 

P.10 menyusul dengan toledot anak-anak Nuh yang menjadi bangsa-bangsa “setelah air bah itu” (10:1, 32). Kisah menara Babel memberi alasan untuk berpencarnya bangsa-bangsa yang disebut dalam 10:32. Semua itu persiapan untuk toledot Sem (11:10-26) yang bermuara pada toledot Terah tadi. Begitulah Abraham digabungkan dengan Adam, dan janji berkat pada 12:1-3 mencolok sebagi kontras terhadap toledot Adam, Nuh dan bangsa-bangsa yang begitu mengandung kutuk.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.