Mk 14:3-9 Kasih atau kepentingan

Maret 19, 2011

Markus 14 memulai cerita tentang kematian Kristus dengan persekongkolan pimpinan Yahudi untuk menangkap dan membunuh Yesus (14:1-2). Rencana itu mulai terwujud ketika Yudas pergi kepada mereka (14:10). Di antara kedua peristiwa itu, Markus menceritakan suatu cerita tentang seseorang yang mengasihi Yesus. Perempuan itu datang dan meminyaki kepala Yesus dengan minyak yang sangat berharga. Meminyaki kepala adalah cara untuk menyambut tamu dengan baik (Lk 7:46), dan perempuan ini menunjukkan rasa kasih dan hormat yang besar kepada Yesus dengan tindakannya. Dia belum tentu tahu kalau Yesus akan mati, tetapi sikapnya sama dengan orang yang meminyaki mayat, sehingga Yesus menerima tindakannya sebagai persiapan untuk kematian-Nya (a.9).

Berharga dalam rangka apa? Perhatikan bahwa yang memikirkan harga minyak narwastu itu para murid (aslinya jamak di balik LAI “ada orang” dalam a.4), bukan Yesus ataupun perempuan itu. Perempuan itu tidak menyumbang 300 dinar kepada Yesus melainkan menyatakan relasinya dengan Yesus yang dalam. Ketika perikop ini dipakai untuk berbicara tentang persembahan, kita seakan-akan mengambil pola berpikir para murid, yang mengukur kasih kepada Yesus dengan nilai uang, bukan dalam rangka relasi.

Terkait dengan pola berpikir para murid adalah pola tanggapan mereka. Mereka marah-marah, mengecam tanpa bertanya dulu kepada si perempuan apa maksudnya. Andaikan buli-buli pualam itu adalah warisan dari nenek yang sudah meninggal, apa yang lebih menghormati nenek itu, diuangkan atau dipakai untuk meminyaki Sang Mesias Israel? Dalam pengalaman saya (termasuk pengalaman pribadi), sikap marah-marah berkorelasi dengan sikap menghitung-hitung. Dalam keadaan stres seperti dialami para murid yang sedang menghadapi bahaya yang besar, kita lupa akan apa yang terpenting dan berpikir dengan apa yang terjangkau oleh akal yang lagi tertekan, yakni angka. Mereka tiba-tiba prihatin akan orang miskin, tetapi Yesus yang ada di depan mereka tidak mereka perhatikan (a.7). Atau, apakah tindakan perempuan itu justru terlalu dekat dengan meminyaki mayat, sehingga reaksi mereka mencerminkan ketakutan bahwa Yesus akan kalah, karena mereka belum menangkap bahwa Yesus harus mati dan dibangkitkan?

Respons si perempuan terhadap Yesus menjadi kesaksian bagi seluruh dunia (a.9), sebagaimana terjamin ketika cerita ini dimuat dalam tiga Injil, dan sebagaiman terwujud ketika kita merenungkannya sekarang. Bagi perempuan itu Yesus lebih penting dari masalah yang dihadapi-Nya, sedangkan para murid Yesus adalah sarana untuk kepentingan mereka.


1 Kor 10:14-24 Persekutuan yang tidak dibagi-bagi

September 28, 2009

Di Korintus, seperti kota-kota yang lain di dunia kekaisaran Romawi pada abad pertama, kuil untuk dewa-dewi cukup pokok dalam kehidupan bermasyarakat. Ada upacara yang diadakan di kuilnya sendiri (atau di sekitarnya) yang jelas berfungsi sebagai penyembahan berhala. Banyak kuil juga berfungsi sebagai restoran, dengan beberapa ruangan di sebelah kuilnya yang dipakai untuk makan, satu meja dalam satu ruangan. Makanannya dipersiapkan di kuilnya, sehingga dagingnya sudah dipersembahkan kepada dewa kuil itu. Daging yang dipersembahkan juga dijual di pasar daging, walaupun ada juga daging yang dijual yang tidak ada sangkut pautnya dengan kuil.

Orang Yahudi yang ketat menghindari semuanya itu, supaya jangan sampai mereka bersentuhan dengan pemberhalaan. Dengan demikian mereka harus hidup agak terpisah dari masyarakat. Tetapi semangat kristiani adalah berbaur dengan masyarakat, terlibat di dalamnya untuk memenangkan orang bagi Kristus (bnd. 9:20-22). Di jemaat di Korintus ada sebagian orang yang disebut ‘kuat’—anggaplah orang mampu dan berpendidikan —yang menolak sikap berpisah itu. Mereka dengan sungguh-sungguh sudah menangkap bahwa hanya ada satu Allah yakni Bapa dari Yesus Kristus, sehingga semua berhala tidak ada (lihat 8:1-6). Mereka dengan berani berpartisipasi dalam upacara di kuil, di restorannya, dan membeli daging dengan bebas. Masalahnya, ada juga yang disebut ‘lemah’. Mereka pun percaya bahwa berhala itu tidak ada, tetapi identitas kristiani mereka masih agak rapuh sehingga dengan mudah mereka terbawa oleh suasana dalam upacara dan restoran untuk menyembah berhala kembali.

Dalam p.8 Paulus setuju dengan teologi kaum kuat (8:1-6), tetapi menegaskan bahwa teologi itu harus diterapkan dalam rangka kasih kepada yang lemah (8:7-13). Hal itu ditegaskan kembali pada akhir perikop kita (aa.23-24). Dalam p.9 dia menjelaskan bagiamana dia sendiri tidak menggunakan haknya sebagai rasul tetapi bertindak demi kepentingan orang lain. Namun, dalam bagian awal p.10, termasuk perikop kita, dia menyampaikan segi yang lebih menantang kelompok yang ‘kuat’. Ada yang dalam bahasa sekarang disebut sebagai sinkretisme, yaitu percampuran penyembahan yang sejati kepada Allah dengan penyembahan kepada yang bukan Allah. Sejarah Israel menjadi peringatan tentang hal itu (10:1-13), dan perikop ini menerapkan peringatan itu ke dalam konteks di Korintus.

Inti dari penerapan itu ialah bahwa upacara di kuil merupakan persekutuan dengan roh-roh jahat. Adanya roh jahat (bahasa Yunani daimonion) di balik berhala sudah jelas dalam PL (bnd. Ul 32:17 dan bahasa Yunaninya Mzm 96:5). Apakah dengan demikian berhala itu dianggap berada? Tidak (aa.19-20). Tetapi penyembahan kepada apa saja yang bukan Allah berarti berurusan dengan kuasa gelap. Kuasanya bukan dalam patungnya atau tempatnya, melainkan dalam orangnya. Itu alasannya Paulus mengusulkan bahwa daging yang dibeli atau dihidangkan tanpa diketahui asal usulnya tidak perlu dipersoalkan (10:25, 27). Tidak ada kuasa gelap yang melekat pada dagingnya, sekalipun daging itu sudah dipersembahkan kepada seribu patung berhala. (Hanya, mungkin menjadi agak busuk kalau sudah lewat seribu upacara. :)

Tetapi jika demikian apa salahnya orang-orang ‘kuat’ terlibat dalam acara itu, karena dalam hati mereka tidak menyembah berhala itu? Salahnya bahwa keterlibatan dalam upacara keagamaan merupakan persekutuan dengan dewa yang dihormati di dalamnya. Hal itu Paulus buktikan dari Perjamuan Kudus (aa.16-17) dan ritus dalam PL (a.18). Bagi saya, yang kunci di sini ialah memahami bahwa persekutuan itu bukan soal hati manusia melainkan makna di depan orang. Ritus, upacara, memiliki makna sosial, makna yang lepas dari maksud dalam hati. Sebagai contoh, upacara nikah berarti bahwa kedua pengantin terikat dalam pernikahan, sekalipun salah satunya hanya bermaksud untuk mendapat uang dari pasangannya. Maksud yang buruk itu tidak meniadakan makna sosial dari upacara nikah itu. Dalam konteks Korintus, mengikuti upacara untuk dewa berarti bersekutu dengan dewa, sekalipun maksud dalam hati sekadar bergaul. Dalam rumah pribadi pun, jika asal usul daging itu diberitahu, Paulus mengusulkan supaya daging itu jangan dimakan, karena yang memberitahu mungkin saja akan menyimpulkan bahwa orang kristen menganggap bahwa berhala itu sah (10:28-29a). Peringatan Paulus tegas: kita tidak mau membangkitkan kecemburuan Tuhan (a.22). Tuhan menuntut kesetiaan yang tidak dibagi-bagi dari pengikut-Nya.

Sejarah perjumpaan Injil dengan budaya Toraja tentu penuh dengan contoh-contoh yang mirip kasus ini. Seringkali yang dipersoalkan adalah apakah hati nurani jemaat terganggu karena makna lama yang terbawa oleh ritus tertentu. Dari aa.23-24 dan p.8 hal itu adalah pertimbangan yang penting. Tetapi jika tafsiran saya tentang makna sosial tepat, maka makna sosial harus juga dipertimbangkan. Jika di suatu tempat ritus tertentu memiliki makna yang terkait dengan kuasa selain Kristus, maka ritus itu tidak boleh diikuti orang percaya. Bedanya di Toraja bahwa karena masyarakat sudah mayoritas kristen maka makna sosial dari sebuah ritus bisa dipengaruhi oleh gereja. Tentu jemaat di Korintus sama sekali tidak bisa mempengaruhi ritus di kuil maupun maknanya. Di Toraja pun belum tentu bahwa pengumuman oleh majelis sudah berhasil mengubah pemaknaan oleh masyarakat.

Lebih rumit lagi adalah konteks yang sudah dipengaruhi sekularisasi, sehingga tidak ada dewa-dewi yang jelas. Namun, jika Paulus bisa menyamakan keserakahan dengan pemberhalaan (Ef 5:5), apakah sekarang ada penyembahan dewa Mamon? Apakah tempat seperti mal menjadi kuilnya? Adakah tindakan-tindakan dalam dunia global yang oleh masyarakat akan diartikan sebagai pemberhalaan uang, yang menunjukkan bahwa uang diandalkan di atas segalanya, ditempatkan sebagai yang paling utama? (Silakan kalau ada usulan untuk konteks Indonesia, siapa tahu dapat saya pakai dalam khotbah minggu depan di Australia. :) Jika ada, maka di situlah jangan orang percaya terlalu berani mengatakan bahwa karena sikap hatinya bersih (“bagi saya uang itu tidak ada artinya”) maka tidak ada masalah. Bukankah kecemburuan Tuhan akan dibangkitkan jika di depan dunia kita bersekutu dengan Mamon?


Neh 9:38-10:31 Mempertahankan identitas

Agustus 10, 2009

Perikop ini sarat dengan kepentingan identitas, yaitu identitas sebagai umat Allah di tengah orang yang tidak mempedulikan firman Allah. Tentu ada nama-nama orang (10:1-27), juga gambaran tentang orang lain (aa.28-29a), serta serangkaian praktek (tingkah laku) yang akan membedakan mereka dari orang lain (“penduduk negeri” a.28). Penduduk negeri menerjemahkan “bangsa-bangsa tanah-tanah”, artinya bukan hanya orang yang tinggal di sekitar Yerusalem yang tidak ramah terhadap bangsa Yahudi dan Bait Allah, tetapi semua bangsa di bumi.

Sebenarnya praktek-praktek itu akan membedakan mereka juga dari masa lampau mereka sendiri. Nehemia 9 merupakan salah satu doa pengakuan dosa yang klasik dalam PL. Berdasarkan pengakuan dosa itulah mereka mengikat perjanjian yang terekam dalam pasal ini. Identitas orang yang ikut dalam perjanjian ini digambarkan dalam a.28: “segala orang yang memisahkan diri dari penduduk negeri untuk patuh kepada hukum Allah” (bnd. 9:2; doa pengakuan itu terjadi sebagai respons terhadap pembacaan kitab Taurat Musa dalam p.8). Para pemuka serta orang awam bergabung dan bersumpah kutuk untuk hidup menurut hukum Allah (a.29). Daftar praktek yang disoroti termasuk kawin campur (a.30); tidak berdagang pada hari Sabat dan tidak mengerjakan ladang pada tahun Sabat (a.31), dan serangkaian aturan terkait dengan pendukungan ibadah di Bait Allah (aa.32-39). Hal-hal itulah yang berbeda dari praktek bangsa-bangsa, dan juga yang tidak dilakukan oleh bangsa Israel sendiri sehingga Israel dihukum Allah.

Saya rasa jelas bahwa kita akan otomatis menafsir kembali peraturan-peraturan dalam aa.30-39 supaya sesuai dengan konteks gereja sekarang. Kita adalah umat Allah dalam Kristus sehingga tidak di bawah hukum Musa. Bagaimana juga dengan caranya? Mereka bersumpah kutuk untuk mentaati Allah, tetapi pada akhirnya tidak taat juga (p.13), karena hati mereka belum berubah. Kegagalan Israel (yang mewakili kegagalan manusia) adalah alasannya mengapa ada janji akan perjanjian baru (Gal 3:21-22). Dalam perjanjian baru Yesus melarang sumpah (Mt 5:33-37). Ya dan tidak kita harus sudah tegas, tanpa adanya sumpah untuk menegaskannya. Yesus bisa mengatakan hal itu karena harapan akan hati yang diperbaharui dalam perjanjian baru. Cara untuk mengubah orang dalam PB adalah untuk mengingatkan jemaat akan Injil, yaitu kasih Allah dalam Kristus (bnd. semua surat Paulus!).

Jadi identitas kita adalah Kristus, dan identitas itu perlu dipraktekkan dalam misi berdasarkan kasih. Oleh karena itu, mempertahankan identitas adalah penting, meskipun ada bahaya kesombongan kelompok dsb di dalamnya jika tujuan misi dalam kasih dilupakan. Kawin campur sering merongrong iman orang Kristen, dan mengurangi kesempatan mereka untuk terlibat dalam misi, sehingga kepada orang percaya yang dapat memilih pasangannya Paulus menganjurkan “asal orang itu adalah seorang yang percaya” (1 Kor 7:39). Cara kita berpartisipasi dalam ekonomi juga penting. Bagi Israel hari Sabat memprioritaskan ibadah dan keluarga di atas ekonomi, sehingga Tuhanlah diakui sebagai sumber pendapatan. Dunia globalisasi mementingkan keuntungan di atas segalanya, dan kita harus menunjukkan pola yang lain untuk bersaksi tentang Kristus.


Neh 5:14-19 Sikap seorang pembesar

April 16, 2009

Perikop ini menunjukkan teladan Nehemia yang memakai kedudukan dan kekayaannya untuk kesejahteraan rakyat daripada memberatkan mereka. Kebiasaan para pendahulunya adalah mendapatkan sebanyak mungkin keuntungan dari kedudukannya–empat puluh syikal perak (yang diambil dari seluruh rakyat dalam satu hari, a.15) bisa membeli kurang lebih tiga ekor kerbau. Sebaliknya, Nehemia tidak menerima pajak yang menjadi haknya (a.18), karena dia melihat bahwa rakyat sudah terbeban dengan pekerjaan membangun tembok itu. Mungkin dukungan raja lebih luas daripada yang disebutkan dalam 2:8 (misalnya untuk gaji anak-anak buahnya), tetapi kesannya bahwa dia juga memakai kekayaan pribadi, mungkin dari kedudukannya sebagai juru minuman raja. Dia tidak memberatkan rakyat karena dia takut akan Allah (a.15), tetapi dia merelakan duitnya sendiri karena dia menganggap itu kesempatan untuk memakai uang yang dianugerahkan Allah kepadanya untuk pekerjaan Allah.

Teladan Nehemia diangkat sebagai perbandingan bukan hanya terhadap para pendahulunya tetapi terhadap rakyat Israel sendiri. Perikop sebelumnya menceritakan bagaimana ada yang memberatkan sesama orang Israel yang dipaksa menjual ladangnya, padahal tanah Israel adalah warisan Allah (bnd. Im 25). Saya teringat bahwa sekarang bukan hanya para pembesar yang main korupsi jika ada kesempatan!

Jika Nehemia adalah teladan untuk penguasa sekarang, lebih lagi dia adalah teladan untuk gereja. Selain praktek gereja yang bisa memberatkan kaum miskin (seperti menuntut uang untuk surat ala pemerintah), sering ada kepelitan di antara warga gereja. Pekerjaan Allah ditempatkan pada jenjang rendah dalam skala prioritas. Kita perlu menjadi takut akan Allah dan giat dalam memperluas kerajaan-Nya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.