Titus 2:12 “Pelajaran yang sejati dari kasih karunia”

Pengantar

Bayangkan seorang budak yang dipasang dengan topeng yang menghalangi dia menoleh ke belakang dan menghambat penglihatannya ke depan, sehingga dia hanya dapat melihat tanah di depan kakinya. Dia dapat berjalan tetapi tidak tahu dari mana atau ke mana. Itulah keadaan kita kalau kita menafsir a.12 lepas dari konteksnya.

Pertobatan

A.12 memang berbicara tentang apa yang ada di depan kaki kita, yaitu pertobatan yang terus-menerus: menolak sikap cuek terhadap Allah dan kekacauan dalam hati, sehingga hidup kita tertib kepada sesama dan terarah kepada Allah. Jelas, toh, dan penerapannya tidak sulit dicari. Namun, ayat ini tidak dapat berdiri sendiri. Siapakah yang mendidik pada awal ayat ini? Dan dunia apa lagi yang disinggung pada akhir ayat ini?

Pelajaran yang sejati dari kasih karunia

Terjemahan LAI membagi satu kalimat dalam bahasa Yunani, yaitu dari a.11 sampai a.14, menjadi dua supaya lebih terbaca. Dengan demikian, rujukan kata ia tidak jelas. Tentu yang mendidik bukan pendeta! Tetapi juga bukan (langsung) Allah! Yang mendidik ialah kasih karunia. Ya, betul! Kasih karunia mendidik untuk bertobat. Banyak pelayan menganggap bahwa kasih karunia akan mendidik jemaat untuk tetap dalam dosa, sehingga mereka lebih menekankan pentingnya perbuatan. Tetapi bagi Paulus kasih karunia adalah kuncinya. Kekacauan jemaat yang merembes dari lingkungan ke dalam jemaat (1:10-12) perlu ditanggapi oleh nasihat (2:1-10) yang didasari oleh kasih karunia (“Karena” a.11). Bagaimana kasih karunia itu mendidik?

Penantian

Seandainya topeng yang mengawali renungan ini sungguh dipakai, saya rasa itu akan melanggar hukum HAM. Kita menjadi gelisah dan kurang berani ketika kita hanya dapat melihat yang di depan kaki saja. Tetapi kasih karunia mendidik kita dengan menunjukkan akhir dari segala sesuatu (a.13). Kefasikan tidak mempunyai masa depan. Kebahagian yang sejati dan kekal akan kita nikmati ketika kemuliaan Allah dinyatakan pada kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Sejauh mana pengharapan itu menjadi pengharapan hati kita, sejauh itu kita akan terdidik untuk bertobat. Tetapi apakah pengharapan itu riil? Seriilkah saldo setelah membagikan hasil korupsi? Seriilkah hormat masyarakat ketika anak kita diangkat, rumah kita makin bagus?

Menoleh ke belakang

Dalam Filipi 3:13 Paulus mengakatan bahwa dia justru tidak menoleh ke belakang. Tetapi hal itu dalam rangka mengingat-ingat kekurangannya (Fil 3:12). Ada satu hal di belakang yang perlu dirujuk terus, yaitu karya Kristus. Pengharapan kita terjamin karena jaminannya adalah pengorbanan Kristus sendiri (a.14). Motivasi-Nya jangan diragukan—Dia menyerahkan diri-Nya! Hasil-Nya jangan diragukan—Dia merindukan umat yang layak, dan Dia akan menyelesaikan pekerjaan itu (cara-Nya lebih diperincikan dalam 3:4-8). Tujuan Kristus itu turut mendidik kita. Kata rajin (dalam “rajin berbuat baik”) bukan rajin karena diwajibkan, tetapi rajin karena semangat. Kasih karunia Allah mengubah keinginan kita, dari kefasikan menuju kebenaran.

Kesimpulan

Menurut Paulus kasih karunia menjadikan kita ingin berbuat baik dengan menoleh ke belakang melihat pengorbanan Kristus, sekaligus melihat ke depan menantikan kedatangan-Nya kembali. Lepaskanlah topeng moralisme, hai orang-orang merdeka di dalam Kristus, supaya berjalan maju dengan tegas!

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Titus dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Titus 2:12 “Pelajaran yang sejati dari kasih karunia”

  1. Ping balik: Titus 1:10-16 “Tegoran yang tegas” « To Mentiruran

  2. ekristiaman berkata:

    Kebenaran yang menolong saya untuk terus-menerus hidup melangkah dalam didikan kasih karunia. “Sejauh mana pengharapan itu menjadi pengharapan hati kita, sejauh itu kita akan terdidik untuk bertobat. Tetapi apakah pengharapan itu riil?” Betapa benar. Hidup terus-menerus di antara ke dua kedatangan-Nya, sungguh didikan kasih karunia yang menjaga kita hidup benar di hadapan-Nya.

  3. abuchanan berkata:

    Kalau usulan untuk menggunakan bahasa asli, saya terima saja. Terima kasih tanggapan yang baik.

  4. nove berkata:

    melihat pentingnya tafsiran-tafsiran yang baik dalam pembinaan warga kristen dan kurangnya tafsiran maka isi tulisan ini sangat BAIK DAN SUNGGUH MEMBANTU. Saran: agar diteruskan dengan tafsiran yang lebih baik penggaliannya melalui bahasa asli sehingga bisa lebih BERGUNA. BRAVO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s