Kembali ke pegunungan

Pemandangan dari tempat konferensiBukan hanya Toraja yang indah! The Blue Mountains, sekitar 100km dari Sydney pusat, memiliki cukup banyak pemandangan seindah ini. Awal bulan ini saya ikut konferensi untuk para utusan dari lembaga saya. Pemandangan ini dikutip dari tempat penginapan kami! Selain tempat yang indah, saya menikmati persekutuan dengan rekan-rekan yang melayankan Injil Kristus di banyak tempat di dunia.

Hutan di Blue MountainsMinggu kedua ada konferensi umum misi saya di daerah yang sama. Dua ribu lebih orang datang ke Blue Mountains untuk mendengarkan pemberitaan firman dari 1 Sam 8-12 dan juga para utusan berbicara tentang berbagai pengalaman dan pergumulan mereka. Pada salah satu sesi saya berbicara tentang bagaimana saya mempelajari pentingnya relasi dari teman-teman saya di Toraja. Pada salah satu sesi lagi saya berbicara sedikit tentang pergumulan korupsi dan bagaimana beberapa teman saya di Toraja menghindarinya. Saya nginap sama keluarga yang dekat tempat konferensi. Foto di samping adalah halaman di bawah rumahnya. Tentu lebih kering dari Toraja.

Minggu yang lalu dan minggu ini saya mulai memikirkan proposal untuk disertasi saya. Dua minggu lagi saya mulai mengunjungi jemaat-jemaat pendukung. Silakan lihat jadwalnya supaya didoakan. Banyak orang di sini yang senang mendengar bagaimana Tuhan bekerja di Toraja di antara berbagai kelompok di sana.

Pos ini dipublikasikan di Pribadi dan tag . Tandai permalink.

5 Balasan ke Kembali ke pegunungan

  1. Ping balik: Membangun persekutuan dalam misi « To Mentiruran

  2. Rahel dan Jekon berkata:

    Hai… ambek, Apa kabar? senang sekali toraja jadi bahan perbandingan. Sekarang saya sudah bisa SEDIKIT bangga menjadi orang Toraja :-)
    Kami akan selalu doakan supaya proposal bapak bisa lolos. Biar bisa cepat balik ke Toraja. Mat berjuang Pak,
    Tuhan Memberkati

    Salam dan Doa,
    Rahel,Jekon

  3. abuchanan berkata:

    Senang ketemu di blog lagi. Silakan lebih dari sedikit bangga, kalau mau. Bukankah suku Toraja termasuk “bangsa dan suku dan kaum dan bahasa berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba”? Jadi, boleh lumayan bangga, cukup bangga, bahkan begitu bangga di dalam Tuhan yang melayakkan.

    :,)

  4. Pong Dodo' berkata:

    Halo Om Andrew
    Gmana kabar di Australi?
    kita memang memerlukan orang lain untuk lebih melihat diri kita sebenarnya…. justru dalm perjumpaan dengan mereka kita semakin kaya…. asal mau menjadi kaya…..
    karena banyak juga orang yang tak mau belajar dari perbandingan dengan orang lain….

    kalau om Andrew bisa menikmati hidup di Toraja, kok banyak orang Toraja yang justru tidak bangga sebagai orang Toraja?

    identitas daerah kadang dilupakan dan disamarkan supaya kelihatan lebih mendunia…. padahal identitas pribadi haruslah memperkaya dan memperindah dunia yang lebih besar..

    Thanks om Andrew
    moga semakin bertumbuh dan berhikmat dalam Tuhan….
    Kalau datang Indonesia, mampir di jakarta dulu..
    salam
    (Pdt. Bernadus Randuk)

  5. Mengenal diri memang sangat penting walaupun tidak semudah membalik telapak tangan. Banggalah bahwa kita masih mengenal siapa diri kita dan dari mana kita berasal dan untuk apa kita di sana. jika kita berkesempatan berada di tempat lain di dunia ini, renungkanlah “mengapa dan untuk apa kita di sana”. Dunia adalah tempat kita berkarya (melayani) sejauh kuat yang Tuhan beri. Melayanilah dengan tulus, siapa pun dan di mana pun kita berada. om Andrew and om Pong Dodo’ trima kasih, kita bisa bertemu di blog ini. Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s