Keating mengenai Suharto

Mantan Perdana Menteri Australia, Paul Keating, adalah salah satu dari hanya sedikit tokoh politis Australia yang menghadiri upacara pemakaman Soeharto. Dalam artikel di sini, dia memberi penilaian sbb.

  1. “Soeharto membawa bangsa sebanyak 120 juta orang, tertimpa oleh kekecauan politis dan kemiskinan, dari keadaan nyaris terpecah-pecah sampai menjadi bangsa sekarang yang tertib, teratur dan makmur.”
  2. Citra buruknya di Australia karena “Balibo Five”, yakni lima wartawan Australia yang tertembak mati di Timor Timur ketika meliputi masukya tentara Indonesia untuk mengambil alih negeri itu. Keating membela aksi itu karena warna komunis Fretilin. (Keating tidak menyinggung tingkah laku tentara di Timor Timur sesudahnya.)
  3. Keating menonjolkan sifat nasionalis Soeharto, yaitu bahwa dia membangun negara yang bukan negara Islam, dan juga stabilitas Indonesia sampai sekarang. Jelas, Indonesia yang kacau akan menjadi masalah besar untuk Australia.
  4. Dia menyangkal kalau Soeharto menjadi super-kaya karena korupsi dengan menunjukkan bahwa rumah Soeharto biasa saja. Dia menganggap bahwa keluarganya yang bandel dalam hal ini.
  5. Kelemahan Soeharto digambarkan Keating begini: “Yang terbesar adalah menilai kurang hakikat masyarakat yang dia bangun. Sementara pemeliharaan ekonomisnya bermuara pada kemandirian pakan, pendidikan, kesehatan dan berkurangnya tingkat kematian bayi, perubahan-perubahan itu bermuara pada kelas menengah dengan meningkatnya pendapatan. Soeharto semestinya membiarkan perwakilan rakyat bertumbuh dengan bertumbuhnya pendapatan. Tetapi dia kurang percaya terhadap kaum politis. Dia menganggap bahwa mereka tidak akan mengutamakan kepentingan nasional, tidak memiliki kompetensi administratif dan bersifat sangat ragu-ragu, bahkan korup. Hal itu dia sampaikan kepada saya berulang kali. Dia tidak mau melepaskan kendali. Sebagian karena dia tidak mau kehilangannya, sebagian karena dia tidak memiliki orang untuk menerimanya.”

Keating menulis dari perspektif kepentingan nasional Australia. Saya tertarik dengan no 5. Bagaimana dari perspektif Indonesia?

Pos ini dipublikasikan di Politik dan tag , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Keating mengenai Suharto

  1. Anna berkata:

    Love to hear what you wrote in English!

  2. zakaria berkata:

    Majalah Tempo edisi awal Pebruari memplesetkan The Last Supper (Leonardo da Vinci) dengan menaruh gambar Soeharto dan anak-anaknya di meja perjamuan akhir itu. Menarik perbincangan milis dan juga rekasi KWI, PGI dll.
    Romo Prior menulis:

    Zakaria dkk,

    Coba jangan “belokkan” dari siapakah itu Suharto.

    In his brilliant and hilarious short story ­ “Winding Road To Heaven” ­ Tongan writer Epeli
    Hau’ofa unwittingly described Indonesia: …”And not so long ago, when five very, very important men discovered that they had together helped themselves to half a million dollars of public money to which they had no right to help themselves, they prayed for God’s forgiveness, they forgave each other, and they neither had to resign from their very important jobs nor return any money to anyone.”

    Sayang, kini wacana dibelokkan dari Suharto sbg kleptomaniak & pembantai.

  3. abuchanan berkata:

    Anna, I summarised Keating’s SMH article, which is unusually favourable towards Soeharto. Keating’s only criticism (point 5) was that Soeharto didn’t trust Indonesia to develop democratic systems without him, and I asked for an Indonesian perpective. My colleague Zakaria (from STAKN Toraja where I worked, and experienced in grass-roots activism in Indonesia including during the Soeharto years) quotes a friend of his with that very apposite Tongan story and the final comment, “It’s a pity that the discussion has been diverted from Soeharto as kleptomaniac and mass-murderer”. I don’t think they agree with Keating! Part of the difference is that Soeharto wasn’t in a position to destroy Australian churches, universities and other institutions (let alone individuals) who opposed him.

  4. Ping balik: 1 Yoh 4:7-21 Definisi kasih menurut Allah « To Mentiruran

  5. Rahel berkata:

    kalo aku, terserah sih orang bisa menilai. yang pasti, biar giamnapun Suharto telah banyak berjasa dalam membangun Indonesia, saya rasa, hal itu tidakbisa dipungkiri, tetpai kita juga harus tetap ingat da berapa banyak korban politik beliau yang sampe sekarang ga ketahuan di mana rimbanya.

    jadi yah gitu dehh,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s