Dapatkah Allah dibicarakan?

Teologi apofatis meragukan kemampuan bahasa manusia untuk menjangkau keberadaan Allah. Tentu pemahaman ini mengandung kebenaran yang penting. Tidak ada seperti Allah, dan berbahaya jika kita menganggap bahwa kita sudah menangkap Allah seperti kita menangkap bagaimana memakai HP kita.

Namun, Alkitab berbicara tentang Allah, dan iman yang mencari pemahaman tidak dapat tidak berkonsep tentang Allah. Tetapi bagaimana?

Jika kita mau mengetahui sesuatu, kita tidak mulai dengan definisi abstrak atau rumusan-rumusan, melainkan dengan definisi ostensif, yaitu menunjuk ke barangnya (“itu mobil”). Bidang seabstrak matematika dimengerti dulu dari pengalaman (1 + 1 = 2 dialami banyak kali sebelum dipelajari di sekolah).

Jika kita mau mengenal seseorang, lebih lagi kita tidak mulai dengan definisi abstrak atau rumusan-rumusan, melainkan melalui cerita-cerita bersama. Tentu kita tidak pernah akan menangkap manusia sama seperti kita (mungkin) dapat menangkap barang. Tetapi pengenalan pribadi adalah hal yang sangat mendasar bagi kita. Bagaimana dengan Allah?

Tahu-tahu, dalam Alkitab rumusan-rumusan teologis didasarkan pada hal-hal konkret. Dalam PL Allah diperkenalkan melalui cerita-cerita, sama seperti Yesus diperkenalkan dalam keempat Injil, dan bimbingan Roh Kudus diperlihatkan dalam Kisah Para Rasul. Yesus dapat disebut definisi ostensif dari Allah: Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yoh 1:18) Misalnya, untuk memahami kasih Allah, kita melihat (antara lain) salib Kristus (1 Yoh 4:10, Rom 5:8). Untuk memahami kuasa Allah, kita melihat (antara lain) kebangkitan Kristus (Eph 1:19-20). Hikmat Allah dan kebenaran Allah juga diberi definisi ostensif dengan menunjuk kepada Kristus. Roh Kuduslah yang menjadikan definisi ostensif itu nyata dalam kehidupan, misalnya mencurahkan kasih Allah (Rom 5:5), bnd. kuasa (Kis 1:8), hikmat (1 Kor 2:10) dan kebenaran (Rom 8:4).

Atas dasar hal-hal konkret itu tentu ada rumusan-rumusan untuk menjelaskannya, baik dalam Alkitab maupun dalam perkembangan teologi gereja. Dalam pemahaman yang saya kembangkan di sini, rumusan teologis bukan suatu alat untuk memperbaiki tingkah laku jemaat, melainkan untuk memahami Allah. Pendekatan seperti “ada masalah X dalam dunia sekarang yang memerlukan respons Y, maka teologi Z yang harus diajarkan (dan kalau perlu dipaksakan dari Alkitab) supaya jemaat melakukan Y” menjadikan teologi propoganda (saya rasa semua sayap gereja jatuh ke dalam dosa ini, tetapi teologi apofatis sulit menghindarinya karena kenyataan Allah tidak menjadi kontrol). Pendekatan itu hanya mengakui satu realitas yang dapat dikenal, yakni masalah X. Padahal, jika Allah telah memperkenalkan diri kepada Israel dan dalam Kristus, maka masalah X harus didialogkan dengan realitas Allah yang diwakili oleh rumusan-rumusan teologis.

Sebaliknya, rumusan-rumusan teologis bukan substansinya. Itu mengapa ada berbagai gambaran dalam Alkitab sendiri tentang misalnya makna kematian Kristus (seperti kemenangan, penebusan, penyucian, pembenaran, pendamaian). Itu mengapa Alkitab sendiri dapat diterjemahkan: meskipun ada makna yang hilang akan tetapi Kristus tetap nyata sebagai isi Alkitab terjemahan itu dan Roh Kudus tetap mampu memakainya untuk memperjumpakan manusia dengan Kristus. Itu mengapa teologi harus terus-menerus merumuskan diri ulang dalam dialog dengan berbagai konteks dan pertanyaan baru, sambil tetap setia pada isinya, Kristus.

Lihat Brueggemann, Theology of the Old Testament untuk pendekatan yang mulai dengan tindakan Allah (verba), berlanjut dengan sifat-sifat Allah dan berakhir dengan kata-kata benda tentang Allah. Maskudnya, Allah dikenal pertama-tama dalam kisah-kisah Alkitab, yang dirumuskan dalam kata sifat dan kata benda. Colin Gunton, Act and Being membahas sifat-sifat Allah dari perspektif Kristologis dan pneumatologis.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pribadi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s