Kej 6:9-22

Perikop ini melanjutkan cerita Nuh yang diantarkan dalam Kej 6:5-8. Nas itu menegaskan bahwa keselamatan itu anugerah, sedangkan perikop ini menunjukkan respons manusia sehingga keselamatan terwujud. Partisipasi Nuh dilihat terutama dalam dia mengenal Allah (a.9), sehingga dia mendengarkan Allah dan melakukan kehendak-Nya (a.22). Petrus (1 Pet 3:20-21) menunjukkan pola yang sama. Di tengah menceritakan karya Allah dalam Kristus (3:18, 22) Petrus menyisipkan cerita Nuh yang dikaitkan dengan baptisan sebagai permohonan kepada Allah. Keselamatan sudah terwujud dalam Kristus, tinggal kita mau terlibat atau tidak.

Kej 6:5-13 berpola silang [kiasmus]: Allah (5-7); Nuh (8); Nuh (9-10); Allah (11-13). 5-7 berbicara tentang hati manusia yang jahat sehingga hati Allah berduka. 11-13 berbicara tentang akibat tindakan manusia sehingga dunia Allah tidak berguna lagi.

Di antaranya ada dua perkataan tentang Nuh (jelas dua karena a.9 memulai bagian baru). A.8 menonjolkan pilihan Allah, tanpa alasan, alias kasih karunia. Tetapi a.9 menonjolkan kesalehan Nuh sebagai seorang yang tampil beda dan mengenal Allah. Kata yang diterjemahkan “bergaul dengan Allah” secara harfiah berarti “berjalan-jalan dengan Allah” (bnd. Henokh 5:22), dan dipakai dalam 3:8 untuk Allah berjalan-jalan di taman Eden. Nuh dan Henokh menikmati apa yang dihilangkan oleh dosa Adam.

Bagaimana memahami tekanan yang berbeda ini? Satu pendekatan mengatakan ada dua sumber, sehingga masing-masing diuraikan. Kalaupun pernah ada dua sumber, namun pernah juga ada yang menggabungkannya menjadi satu, yang diterima oleh umat Allah sebagai Kita Suci. Bagi saya lebih menarik kalau memikirkan kedua tekanan bersama-sama, daripada memilih salah satu saja (itu keluhan saya tentang sebagian teologi liberal: apa saja yang sulit–tritunggal, kedaulatan Allah dsb.–digampangkan saja dengan memilih hanya bagian data Alkitab yang disukai).

Cara saya (kali ini) adalah melihat 5-8 sebagai inti masalah, dan aa.9 dst sebagai wujudnya. Hati manusia adalah sumber tindakannya yang rusak, dan kepiluan hati Allah menunjukkan bahwa hukuman-Nya dilakukan dengan hati yang berat, bukan seperti orang membuang piring yang pecah. Tentang Nuh, saya melihat a.8 sebagai yang mendasar (inti). Nuh adalah benar, tampil beda dan bergaul dengan Allah oleh karena anugerah Allah, bukan sebaliknya.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kejadian. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s