Kis 7:54-8:1a Akibat Khotbah Stefanus

Khotbah Stefanus mengutamakan kebenaran di atas kedamaian, malahan kebenaran bukan tentang ketidakadilan atau masalah sosial lainnya melainkan tentang Allah. Para pemimpin Yahudi salah dan sesat, dan Stefanus dengan gamblang dan tajam menelanjangi hati mereka. Banyak di dalam gereja modern yang akan menilai cara Stefanus kurang bijak, apalagi mengingat penganiayaan yang menyusul. Tetapi menurut Lukas Stefanus berbicara menurut Roh Allah sendiri (7:55) sebagai orang yang terserah kepada Allah (7:59) dan yang kepadanya sorga terbuka sebelum dia meninggal.

Stefanus berbicara dalam rangka pernyataan Yesus dalam Lk 21:12-15 bahwa murid-murid-Nya akan ditangkap, dan bahwa hal itu adalah kesempatan untuk bersaksi dengan hikmat dari Yesus sendiri. Lukas menekankan bagaimana kuasa Allah mengiringi Stefanus (Kis 6:15; 7:55). Oleh karena kuasa itu, ada suatu kejutan. Dalam perikop kita khotbah Stefanus yang gamblang dan menusuk itu dinyatakan sebagai pelampiasan kasih, bukan pelampiasan amarah. “Taat kepada Allah, bukan manusia” (5:29) yang menjiwai khotbah Stefanus bermuara pada penglihatan kemuliaan Allah dan Yesus yang berdiri (untuk menyambut hamba-Nya yang setia?). Kasih kepada sesama (supaya mereka bertobat dan hidup) bermuara pada doa agar mereka diampuni (5:60), sesuai teladan Yesus sendiri.

Bandingkan para pemimpin Yahudi, yang juga mengutamakan kebenaran di atas kedamaian tetapi dalam amarah, bukan dalam kasih. Mereka seakan-akan mengikuti aturan Taurat mengenai penghujat (Im 24:16; Ul 13:6-11), tetapi telinga yang tertutup menggambarkan hati mereka yang keras. Hikmat Gamaliel (Kis 5:38-39) telah diabaikan dalam amarah mereka. Mereka “berseru dengan suara nyaring” (7:57 secara harfiah) untuk membunuh, sementara Stefanus berseru untuk pengampunan (7:60).

Berpegang pada kebenaran Kristus sekalipun hal itu bermuara pada konflik selalu sulit. Apalagi melakukannya dalam kasih kepada Allah dan manusia seperti Stefanus! Pada hemat saya, gereja sering jatuh ke dalam dua kesalahan: asal damai (PGI?), dan asal bersuara (Pentakosta?). Cara yang tepat dimungkinkan oleh Roh Kudus. Jika bukan Roh Kudus yang memenuhi kita dalam menyuarakan suatu kebenaran, maka kita akan menjadi seperti para pemimpin Yahudi, dengan telinga tertutup dan penuh amarah.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kisah Para Rasul dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kis 7:54-8:1a Akibat Khotbah Stefanus

  1. ferdy cunong berkata:

    Dizaman yg sedang berubah ini banyak orang hanya mencari kesenangan sendiri dan keselamatan diri, belajar dari tokoh Stefanus yg artinya “bunga karang” atau “mahkota” adalah seorang yg memiliki intregritas tinggi sebagai pengikut Yesus, dia memohon Rohkudus,hikmat dan karunia Tuhan untuk mempertahankan imannya walaupun akhirnya ia hrs mati dianiaya.Jangan kita takut akan kehilangan kekuasaan dan pangkat ataupun harta milik ketika kita menyatakan kebenaran Allah bagi dunia karena sangat terbukti bahwa Allah adalah sumber kebenaran dan kasih, sebagai pengikut Tuhan kita diminta untuk memberi contoh kongkrit dalam perbuatan dan perkataan Allah dengan cara yg aktual dan mengenalkan Allah yg membebaskan dan menyelamatkan umat tebusanNya.

  2. Ping balik: Kis 7:1-53 « To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s