Kebangkitan Yesus sebagai sejarah

Pada hari Jumat Agung, koran saya menerbitkan artikel oleh seorang pakar sejarah yang bernama John Dickson (adik kelas saya di bangku kuliah teologi abad yang lalu) yang menulis tentang historisitas penyaliban dan kebangkitan Kristus. Dia beranjak dari adanya berbagai pakar (seperti fisikawan Richard Dawkins, filsuf Michel Onfray) yang meragukan apakah Yesus pernah hidup, dan tanggapan tertentu dalam gereja yang meminggirkan soal historisitas dengan menekankan bagian-bagian pesan kristiani yang tidak bergantung pada sejarah, seperti ajaran Yesus. Tetapi, menurut dia, keraguan itu lebih marak di dalam gereja daripada di dalam kesarjanaan sejarah.

Ringkas kata, hampir semua pakar sejarah (bukan fisikawan atau filsuf yang sok tahu saja tentang sejarah sebagai ilmu), biar Kristen, ateis atau Yahudi (dia tidak berinteraksi dengan Islam) setuju bahwa Yesus hidup, bahwa Dia dianggap oleh masyarakat Israel sebagai pelaksana mujizat, bahwa Dia disalibkan di bawah Pontius Pilatus, dan bahwa murid-murid-Nya percaya bahwa mereka melihat Yesus yang bangkit. Memang ada pembedaan yang harus diperhatikan. Seorang sejarahwan dapat menilai historisitas adanya laporan kebangkitan Yesus, bahkan adanya kepercayaan akan laporan itu, sebagaimana dilihat dari semangat baru para rasul. Tetapi bukan tugasnya untuk menilai apakah suatu kejadian adalah mujizat. Itulah tugas filsafat atau teologi untuk berdebat apakah Tuhan ada dan bercampur tangan di dunia ini. Jika kita sudah yakin bahwa tidak ada campur tangan Tuhan, misalnya, maka kita akan tetap agnostik (mengaku tidak tahu) terhadap tafsiran suatu fenomena.

Perjanjian Baru cocok saja dengan gagasan di atas, karena kita diajak untuk menerima kesaksian para saksi pertama. Bahwa Yesus disaliban, kemudian kelompok murid-Nya memberitakan kebangkitan-Nya cukup kuat buktinya. Tetapi selalu ada kemungkinan bahwa mereka adalah penipu atau tertipu. Jika saya menolak campur tangan Allah, maka lebih mungkin semua rasul ikut dalam histeri kelompok daripada Yesus bangkit. Jika saya menolak Injil sebagai firman yang terakhir dari Allah, maka lebih mungkin murid-murid-Nya ditipu oleh Iblis daripada Yesus dinyatakan anak Allah oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Jika saya menolak bahwa ada harapan dalam dunia yang kacau ini, maka teori apa saja lebih mungkin daripada menerima bahwa Allah sudah merintis pembaruan dunia dalam Kristus.

Mungkin sedikit lagi tentang pemahaman tentang kebangkitan pada saat itu (diringkas dari sini). Kata anastasis (kebangkitan) berarti tubuh hidup kembali, bukan jiwa hidup setelah mati. Kebangkitan seperti itu dianggap mustahil, malah menjijikkan oleh orang Yunani, yang mengharapkan pembebasan jiwa tsb. Hanya orang Yahudi yang memiliki harapan akan kebangkitan, yaitu kebangkitan serentak yang dikaitkan dengan akhir zaman (seperti Dan 12:1-3). Kebangkitan satu orang lepas dari akhir zaman adalah kejutan belaka, sama sekali tak terduga. Sehingga penglihatan akan Yesus tidak akan ditafsir sebagai kebangkitan satu orang, sama seperti percakapan dengan arwah tidak akan ditafsir bahwa almarhum telah bangkit! Kesaksian para saksi pertama ialah bahwa Yesus bangkit. Penglihatan karena rasa rindu dsb tidak akan bermuara pada gagasan itu.

Pos ini dipublikasikan di Teologi dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s