Mt 25:31-46 Anak Manusia

Perikop yang terkenal ini pertama-tama mengenai Kristus, kemudian tentang Injil kerajaan, baru kemudian tentang bagaimana kita hidup (etika). Tafsiran itu tidak berarti bahwa etikanya tidak penting. Sebaliknya, tafsiran itu menjaga supaya jangan etikanya menjadi usaha mandiri atau usaha yang mencari imbalan dari Tuhan.

Perikop ini adalah puncak dari wacana Yesus dalam pp.24-25 kepada murid-murid-Nya pas sebelum Dia akan diadili dan disalibkan. Yesus sebagai Anak Manusia ala Dan 7:13-14 duduk di atas takhta-Nya (25:31) dan menerapkan penghakiman terakhir. Sama seperti dalam Daniel 7 dan PL secara umum, penghakiman itu menerapkan keadilan yang kelihatan tertunda dalam dunia ini, sekaligus membuang semua yang tidak layak bagi Kerajaan sebagai warisan umat Allah (34, “terimalah” lebih harfiah “warisilah”). Jadi, perumpamaan ini memberi tahu masa depan dunia yang sebenarnya. Bukan menjadi PNS melalui korupsi dan menginjak-injak sesama yang memiliki masa depan yang gemilang, melainkan kepedulian terhadap yang lemah.

Namun, ternyata Sang Mulia itu terdapat justru di dalam yang lemah (40, 45). Suatu wujud muncul dalam tahap berikut dalam Injil Matius, yakni kematian Yesus. Anak Manusia harus segera disalibkan sebelum Dia akan diberi “segala kuasa di sorga dan di bumi”. Dia menempuh jalan kelemahan sampai ujungnya. Saya rasa ada ketegangan di sini. Kadangkala gereja hanya ingin Kristus Pemenang sebagai penjamin usahanya. Tetapi sebaliknya Kristus yang hanya lemah tidak bisa menjamin menangnya Kerajaan Allah sebagai tempat berkat. Perumpamaan ini berbicara tentang Kristus Pemenang yang ditaati dan ditemui dalam pelayanan bagi sesama dalam kelemahannya.

Perumpamaan ini mengandung kejutan. Pendengar perumpamaan terkejut dengan gambaran Yesus yang mulia dan lemah. Pendengar di dalam perumpamaan terkejut dengan keputusan Sang Hakim. Mereka tidak sangka (“melihat”) kalau Yesus terdapat di dalam orang lemah. Hal itu penting. Tindakan “para domba” bukan amal untuk mendapatkan sorga, melainkan penyataan kasih. Kasih adalah buah yang menunjukkan baik buruknya orangnya (Mt 12:33), apakah dia sungguh bertobat menerima Kerajaan Allah atau hanya berpura-pura (Mt 7:21-23). Yesus memaparkan suatu cermin untuk kita merenungkan apakah kita telah bertobat dan apakah kita berbuah sebagaimana semestinya.

Di situlah etikanya. Kasih yang sejati adalah kasih yang praktis, yang melihat dan meresponsi kebutuhan riil orang hina sekalipun. Tetapi barangkali kita termotivasi untuk melakukannya bukan dengan ancaman untuk beramal, melainkan untuk berjumpa dengan Yesus yang mulia sekaligus rendah.

Pos ini dipublikasikan di Matius dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s