Kis 7:1-53 Menafsir Sejarah Israel

Seperti dijelaskan di sini, Stefanus berkhotbah atas dorongan Roh Kudus sebagai pengikut Kristus yang sejati. Namun, jika dicermati Roh bekerja dengan hemat—Stefanus sudah sangat mengenal hasil Roh yang sebelumnya yakni Perjanjian Lama sehingga Roh tidak harus menyatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang telah Dia nyatakan, melainkan Dia menyatakan makna yang baru dari PL dalam terang Kristus. Hasilnya dianggap penting oleh Lukas, karena khotbah ini adalah yang paling panjang dalam kitab Kisah Para Rasul.

Tuduhan yang ditanggapi Stefanus itu dua: 1) Yesus akan merubuhkan Bait Allah; dan 2) Yesus akan mengubah adat istiadat orang Yahudi (6:14). Kedua hal itu dilihat sebagai hujatan. Stefanus tidak membantah tuduhan itu langsung, melainkan berusaha membuka pemahaman mereka tentang makna sejarah Israel. Pokok-pokok yang diangkat Stefanus dimulai dengan panggilan Abraham, kemudian Yusuf, Musa dan Israel di Mesir dan padang gurun, Daud dan Salomo, sampai dengan pembuangan (7:43). yang terakhir adalah Yesus sendiri. Kedua pokok ditanggapi demikian:

  • Soal Bait Allah dia menunjukkan bagaimana Allah bekerja di luar Israel. Abraham dipanggil di Mesopatamia dan dia bersama dengan keturunannya tinggal sebagai pendatang (2-5). Allah menyertai Yusuf di Mesir (9-10), mendidik Musa dengan hikmat Mesir (22) dan menampakkan diri-Nya kepadanya di padang gurun sehingga tempat itu menjadi kudus (30, 33). Tema ini berpuncak dengan Stefanus mengutip Yes 66:1-2 untuk menegaskan bahwa Allah jauh lebih besar daripada Bait Allah (49-50).
  • Soal Hukum Taurat dia menempatkan para penuduhnya pada aliran dalam sejarah Israel yang melawan Allah. Bapa-bapa leluhur Israel menjual Yusuf (9), dan Israel menolak Musa (35) yang menubuatkan Yesus sendiri (37), dan tidak taat setelah dia menjadi pemimpin Israel (38-39) sehingga membuat anak lembu (40-41). Tema ini berpuncak dengan tuduhan balik Stefanus bahwa mereka telah membunuh Yesus sama sepert para nabi sebelumnya (51-52). Maka merekalah yang tidak taat kepada Hukum Taurat (53).

Dengan demikian, kecaman Stefanus mirip dengan kecaman Yesus. Soal tempat bnd. Lk 4:16-30 yang menekankan Allah bekerja di luar Israel serta p.20 (penyucian Bait Allah). Soal Hukum Taurat bnd. Lk 11:37-54 serta perselisihan-Nya yang terus-menerus dengan orang Farisi soal penafsiran Hukum Taurat.

Apa bedanya antara Yesus dan Stefanus dengan orang-orang Yahudi yang lain? Sepertinya para penafsir Yahudi cenderung menafsir Kitab Suci (PL) sebagai seperangkat hukum yang tetap dan tidak bisa berubah. Sedangkan Yesus melihat Kisah Agung Kitab Suci sebagai intinya, yaitu apa tujuan Allah untuk dunia ini. Dengan demikian pemahaman Yesus dan Stefanus melihat peluang untuk perluasan misi Allah yang tidak mengutamakan lagi Bait Allah sebagai tempat dan Hukum Taurat sebagai aturan. Pemahaman itu yang meletakkan dasar untuk penyebaran Injil kepada bangsa-bangsa.

Mungkinkah jemaat-jemaat sekarang hilang semangat misinya karena Alkitab menjadi sumber aturan daripada Kisah tentang karya dan rencana Allah yang Agung?

Pos ini dipublikasikan di Kisah Para Rasul dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kis 7:1-53 Menafsir Sejarah Israel

  1. Ping balik: Kis 6:8-15 Seorang pengikut Kristus « To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s