10. Mazmur Permohonan

Pernah ada anggota jemaat yang sangat bergumul karena berbagai keburukan dalam hidupnya. Untuk menghiburnya, beberapa sahabat dalam jemaat membagikan Mazmur pujian kepadanya, sekiranya dia memuji Allah untuk mendapat kekuatan. Saya memilih jalan yang lain. Saya membuka Mzm 13 yang mengeluh kepada Allah bahkan tentang Allah sendiri—”Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?”. Saya menjelaskan bahwa ini juga cara berdoa yang berkenan di hadapan Tuhan. Saya terkesan dengan tanggapannya, “Doa begini bisa saya doakan.” Yang dia perlukan bukan bahasa untuk berpura-pura ceriah melainkan sarana untuk berbicara dengan Tuhan di tengah pergumulan hati yang berat. Yang berikut melacal beberapa segi dari mazmur permohonan.

Mazmur 13 cocok untuk melihat beberapa unsur permohonan:

(2) Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?

(3) Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?

Bagian ini disebut Keluhan (“lament” dalam bahasa Inggris = ratapan, tetapi itu kurang tepat). Keadaan pemazmur dikeluhkan kepada Allah, tetapi belum ada permohonan. Perhatikan bahwa perincian historis tidak ada, sehingga mazmur begini dapat digunakan oleh seribu generasi orang percaya. Adapun tiga macam hal dikeluhkan: Aku (3a—kekuatiran dalam diriku dsb); Mereka (3b—biasanya musuh, seperti di sini) dan Engkau (2, yaitu Allah). Pemohon dilihat dalam tiga poros, sebagai manusia pribadi, sosial dan religius, sehingga masalahnya dapat dilihat menurut setiap poros itu.

(4) Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati,

(5) supaya musuhku jangan berkata: “Aku telah mengalahkan dia,” dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah.

Kemudian ada Permohonan, lengkap dengan berbagai argumentasi tambahan. Permohonan ini sejajar dengan keluhan, misalnya jika Tuhan memandang si pemamzmur (a.4) maka Dia sudah tidak menyembunyikan wajah-Nya lagi (a.2b). Dasar permohonan yang tersirat di sini barangkali adalah janji Allah seperti yang diungkapkan Mzm 1, yakni berkat bagi orang yang berharap kepada Tuhan dan kutuk bagi orang fasik. Jika pemazmur mati atau goyah, musuhnya akan menganggap bahwa janji Tuhan itu tidak berlaku.

(6a) Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu.

Di sini ada Pengakuan percaya. Pemazmur menempatkan diri sebagai orang percaya atau orang benar. Hal itu tidak berarti sempurna, tetapi berada pada pihak Allah sehingga berani menerima Mzm 1 sebagai janji. Di balik semua itu adalah hubungan Allah dengan Israel berdasarkan perjanjian Sinai.

(6b) Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.

Ini janji pujian jika Allah sudah mengabulkan doanya (kata “karena” dapat juga diterjemahkan dengan “jika”). Karena Allah empunya seluruh bumi, maka tidak ada pemberian manusia kepada-Nya yang bermakna kecuali pujian.

Dari perspektif PB, Yesus adalah Pemohon yang sejati, yang sebagai Anak Daud yang benar menderita dan berseru kepada Allah (terutama pada salib mengutip Mzm 22:2). Jadi, ketika kita berdoa, kita berani mengandalkan janji Allah karena berada dalam Kristus Sang Benar, dan Dia juga berdoa bersama dengan kita karena solidaritas-Nya dalam penderitaan kita. Kita juga bisa memakai mazmur permohonan untuk berdoa bagi anggota-anggota tubuh Kristus yang lain yang menderita.

Bagi saya, budaya gereja sekarang ditantang oleh poros Mereka dan Engkau. Soal musuh (poros Mereka), gereja sepertinya begitu giat bersahabat dengan semua pihak sehingga adanya musuh kurang mendapat perhatian. Kita khususnya bingung dengan pembalasan yang kadangkala didoakan terhadap musuh. Bahwa kita disuruh Yesus untuk mengasihi musuh memang benar. Tetapi kalau ada gedung gereja dibakar—lebih lagi anggota jemaat dibunuh—apakah kita disuruh untuk mengatakan bahwa hal itu tidak apa-apa? Mazmur-mazmur permohonan tetap mengajar kita untuk berdoa supaya Allah mengacaukan kelompok seperti FPI. Hal itu tidak bertentangan dengan doa supaya anggota kelompok tersebut berbalik dari kekerasan bahkan menerima Yesus sebagai Tuhan, dan itu mungkin doa yang belum kesampaian dalam kitab Mazmur. Tentu juga, tidak semua yang berbeda dari kita yang layak dianggap musuh, dan masalah SARA muncul ketika kelompok dimusuhi gara-gara ciri formal saja seperti etnis atau agama. Tetapi adanya musuh perlu dihadapi, bukan didiamkan.

Soal Allah sebagai musuh (poros Engkau, bnd. Rat 2:4), kita melihat di sini kejujuran orang Israel dalam berdoa kepada Allah. Sekali lagi, dasarnya janji Allah. Misalnya, Mzm 22:4-7 memuji Allah, bukan karena kelimpahan sukacita tetapi untuk mengingatkan Allah akan karya-Nya dulu-dulu yang belum nampak dalam pengalaman si pemazmur sekarang. Cocokkah seakan-akan menuduh Allah demikian? Yesus memperingati supaya jangan kita bertele-tele dalam doa kepada Allah (Mt 6:7). Banyak doa di Indonesia begitu. Orang berdoa seakan-akan sedang menghadapi si Bupati mencari dana! Tetapi doa sebagai anak kepada Bapa di sorga akan sejujur-jujurnya. Soalnya, orang yang berani jujur kepada Allah mungkin akan berani jujur kepada pemimpin—bahkan pemimpin di gereja! Mungkin lebih aman kita semua berpura-pura ceriah, ya?

Seri Pemahaman PL

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Seri Pemahaman PL dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke 10. Mazmur Permohonan

  1. Ping balik: 11. Mazmur: Syukur, Pujian, Hikmat « To Mentiruran

  2. Ping balik: Mzm 27:1-6 Tuhan benteng hidupku « To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s