Kekerasan dalam Osmaba?

Osmaba (Orientasi Mahasiswa Baru) adalah istilah yang saya kenal untuk kegiatan sekolah untuk memperkenalkan kampus kepada mahasiswa baru. Saya pernah menemukan artikel ini mengenai kegiatan yang sama di salah satu sekolah yang lain. Satu alinea yang menarik bagi saya berbunyi demikian:

Sistem OKA yang di dalamnya ada dan diparadigmakan bahwa kekerasan yang terjadi di dalamnya adalah hal yang wajar, dan ini pada akhirnya menuntut selalu adanya seksi keamanan – lalu bagaimana fungsi satpam yang berada di universitas, bukankah kegiatan OKA tersebut berjalan dan diadakan dalam ruang lingkup universitas – Ini juga dibentuk oleh kultur di Indonesia dengan alasan menjaga keamanan dan stabilitas keadaan.

Soalnya, dalam kegiatan OKA yang dibahas, seksi keamanan justru menjadi pemicu konflik! Sama seperti konon militer / polisi pernah mendalangi kerusuhan untuk membenarkan kehadirannya di suatu tempat, seksi keamanan berkepentingan menemukan masalah.

Bagi saya, argumentasi para pendukung kekerasan dalam Osmaba menyedihkan—mereka bilang bahwa mereka tidak akan dihormati adik-adik tanpa kekerasan. Artinya, harga diri mereka begitu rendah sehingga tak terbayangkan ada respek karena mengasihi, hanya respek karena menakutkan. (Saya penasaran juga akan latar belakang keluarga dari orang yang berpendapat demikian—apakah model ayah yang mereka alami model yang mengandalkan kekerasan daripada kasih? Apakah budaya Indonesia lebih menonjolkan kuasa daripada kasih sebagai alasan untuk dihormati—mungkin saja pada masa Orba?) Semua itu menyedihkan karena respek karena mengasihi jauh lebih nikmat dan menguatkan daripada respek karena menakutkan (bukankah anjing ganas juga menakutkan?). Respek karena mengasihi berarti saya sudah berdampak positif dalam kehidupan orang.

Pengikut Yesus tidak ada pilihan. Sesuai dengan teladan diri-Nya sendiri, Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya:

Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.

Yesus tidak mengecam orang yang menjadi besar dan terkemuka, seperti Petrus, Paulus dsb. Dia menunjukkan cara yang tepat dalam Kerajaan Allah.

Pos ini dipublikasikan di Politik dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s